CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
ISTRI KEDUA - Kisah sedih di sekolah
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a021b6e02799038e2db500/istri-kedua---kisah-sedih-di-sekolah

ISTRI KEDUA - Kisah sedih di sekolah


 

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah

Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah

(Chrisye-Kisah kasih disekolah)

 

 

 

Betul kata profersor Gilderoy Lockhart dalam film Harry Potter yang mengatakan ‘Menakutkan melihat waktu berlalu kalau kita sedang senang’. Sejak ibu berjualan, kondisi ekonomi kami perlahan membaik. Dan waktu terasa sangat cepat sekali berlalu. Kini aku sudah lulus Sekolah Dasar.

 

Tak pernah terbayang sebelumnya, sekarang aku seorang anak kampung yang berkesempatan sekolah SMP di kota. Terimakasih Ibu yang berjuang keras, walaupun lagi-lagi harus dengan acara mengancam ‘cerai’ dulu agar ayah mau tanda tangan di surat pernyataan wali murid atas namaku.

 

Mungkin aku tidak bisa seperti siswa dan siswi lain, tapi sungguh aku bersyukur sekali bisa melanjutkan sekolah. Ya, aku tidak bisa seperti teman-temanku yang lain yang selalu bisa nongkrong sepulang sekolah, main ke mall, ke toko buku, ke tempat penyewaan game atau komik. Bahkan aku rasa aku tidak bisa puber seperti mereka, yang begitu bahagia mejalani kisah kasih di sekolah. Padahal kata Koes Plus, kisah kasih di sekolah itu kisah paling indah. Ah sudahlah, aku tidak sempat untuk semua itu.

 

Terlahir sebagai anak ayahku yang memiliki dua istri, dan sayangnya dia selalu lebih sayang pada istri pertama dan anak-anaknya dari sana, aku harus kuat dan berusaha keras untuk setiap hal yang aku inginkan, termasuk sekolah. Tidak ada anggaran biaya pendidikan untuk anak-anak ibuku dalam kamus hidup ayah. Jadi aku dan ibu harus berusaha ekstra supaya aku, kakaku dan juga adiku bisa sekolah. Itulah kenapa aku tidak bisa seperti teman-teman yang lain. Seperti manusia remaja pada umumnya, gak jarang aku merasa frustasi dengan kondisiku. Tapi, ya inilah kisah hidup yang harus aku jalani.

 

“Bu, kemarin ada anak SMK yang satu angkot denganku, kayanya sih dia anak kampung sebelah”

“Laki-laki apa perempuan?” rupanya ibuku menyimak perkataanku walaupun dia sambil sibuk menghitung hasil warung hari ini dan membuat list belanja ke pasar untukku besok.

“Perempuan. Perempuan bermulut jahat. Dia bilang angkot jadi tidak nyaman karena aku bawa-bawa belanjaan banyak sepulang sekolah. Katanya belanjaan aku ganggu penumpang lain.”

Mendengar ceritaku, ibu terdiam dengan tatapan fokus pada uang yang sedang di hitungnya dan list belanjaan untukku besok. “Mulai besok, kamu pulang sekolah naik ojek aja”

“Ojek kan mahal bu?”

“Gak apa-apa, kamu kan bawa belanjaan. Mungkin benar belanjaan kamu mengganggu orang lain,”

“...”

Kalimat terakhir ibu mebuatku sedikit kesal, bukannya membelaku ibu malah meng-iya-kan kata-kata perempuan bermulut jahat itu.

Sejujurnya sebelum ada perempuan bermulut jahat itupun, jauh di dalam hatiku aku malu. Bagaimana tidak malu. Pasar adalah hal memalukan di mata temen-temen sekolahku. Aku bahkan tidak bisa punya teman karena perkara belanja ke pasar ini. Buat mereka, pasar adalah tempat yang jorok.

“Ini list belanja kamu besok” ibu memberiku satu gulungan kertas, di dalamnya sudah ada uang yang ibu ikat dengan karet gelang.

Aku buka gulungan kertas list belanja untuk memastikan apa saja yang harus aku beli. Selain rokok, ada ayam, ikan asin, terigu, minyak goreng. Hampir saja aku akan mengeluh lagi karena list belanjaan dari ibu. Aku lihat ibu tengah bersiap menguleni uli untuk di jual besok. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan bersiap membantunya.

“Kamu tidur duluan aja, udah jam 11 malam. Besok kamu harus sekolah dan ke pasar.”

“Ibu kenapa mau bertahan dengan ayah? Apa gunanya punya ayah kalau semua beban keluarga kita harus ibu yang nanggung sendiri sementara ayah hidup senang dengan istri pertamanya” mendengar ucapanku, ibu hanya diam dan fokus menumbuk uli.

“Aku harap ibu cerai dengan ayah”.  Kali ini ucapanku berhasil mengalihkan perhatian ibu. Ibu berhenti menumbuk uli dan menatap fokus ke mataku beberapa detik.

“Kalau gak ada ayah kamu, gak akan ada kamu, kakak kamu dan adik kamu. Seburuk apapun ayahmu, dia ayahmu!”

Kata-kata ibu membuat aku marah, sedih dan gak berdaya. Aku beranjak pergi meninggalkan ibu dan uli nya.

“Aku juga gak pernah minta di lahirkan, apa lagi dari seorang istri kedua dan ayah yang memperlakukan ibuku dan aku selayaknya budak, pembantu, jongos, keset” gerutuku pelan, aku harap ibu tidak mendengarnya. 

Sekesal apapun aku sama ibu, aku selalu takut hatinya sedih dan terluka. Aku harap, suatu saat nanti aku akan bisa membahagiakan ibu. Mengganti setiap penderitaannya dengan kebahagiaan. Semoga.

***

 

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
Emmmmm
nyimak.
profile-picture
janahjoy35 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Post ini telah dihapus
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Jejak dulu ah biar gak ketinggalan


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di