CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/619f5937c87fa5558f17bfaa/bukan-inginku

Bukan Inginku

#BUKAN_INGINKU

“Dika! Ibu nggak setuju kamu menikah lagi!” teriak Ibu mertuaku lantang. Menolak keinginan anak lanangnya menikah lagi.

Kuremas baju dada ini. Sungguh sakit sekali ya Allah, saat lelaki yang telah sebelas tahun menikahiku itu, hari ini ijin untuk menikah lagi.

“Bu, Dika ingin punya anak. Sebelas tahun Dika menikah dengan Hilda, tak ada tanda-tanda kehamilan,” bantah Mas Dika. Semakin memperdalam luka di dalam sini. “Apa Ibu tak ingin memiliki cucu?”

Ibu terlihat membuang muka. Wajahnya terlihat sangat murka.

“Ibu ingin sekali memiliki cucu. Tapi anak kalian. Dari Rahim Hilda bukan dari rahim wanita lain!” ucap Ibu tajam.

Kupejamkan mata yang terus mengeluarkan air mata. Sungguh perasaan hancur di dalam sini tak bisa aku jelaskan dengan kata. Terus kuremas baju dada ini. Untuk mengontrol emosi yang siap naik ke ubun-ubun.

“Tapi, Bu! Sebelas tahun! Tapi, Hilda tak ada tanda-tanda kehamilan,” ucap Mas Dika masih kekeuh. Dia terus memojokanku, atas belum adanya zuriat dalam pernikahan ini.

Ya Allah ... kuatkan hamba!

“Dika! Ibu malu dengan sikapmu! Di mana hatimu! Kehamilan itu mutlak kuasa Allah. Bukan keinginan Hilda juga. Ibu yakin Hilda juga tak mau ada di posisi ini! Ibumu ini juga perempuan Dika! Ibu tahu persis bagaimana sakit dan perihnya perasaan Hilda saat kamu ijin meminta nikah lagi!” sungut Ibu dengan napas yang memburu.

Astagfirullah ... hati ini semakin terasa bergemuruh hebat. Sesak sekali ya Allah. Aku memang masih diam. Karena masih terus menata hati, yang terasa sangat sesak ini.

“Pokok Dika tetap kekeuh ingin menikah lagi. Karena Dika ingin punya anak. Dan kamu Hilda, jangan berpikir aku egois. Harusnya kamu yang jangan egois! Kalau kamu tak bisa punya anak, bukan berarti aku harus tak punya anak jugakan?” ucap Mas Dika. Semakin menghujam tajam di dalam sini. Semakin menggores hati yang selama ini setia akan suka dukanya pernikahan ini.

“Dika!” teriak Ibu dengan nada lantang. Matanya melotot tajam, mengarah ke Mas Dika. Anak laki-laki satu-satunya.

Saat ibu terlihat melotot tajam seperti itu, aku lihat ekspresi Mas Dika sedikit menciut. Ia nampak sedikit menunduk dan terlihat sedikit salah tingkah.

“Apa kamu lupa, siapa yang membiayaimu saat kamu terkena usus buntu? Apa kamu lupa, saat kamu kecelakaan empat tahun yang lalu, siapa yang setia mendampingimu? Apa kamu lupa, dana dari mana biaya terapi kamu pasca kecelakaan?” tanya Ibu dengan ekspresi melotot.

Mas Dika terlihat nyengir dan mengacak rambutnya kasar. Matanya terlihat tak fokus.

“Kamu lupa Dika? Siapa yang begitu tulus denganmu? Hilda! Bahkan ia sampai rela menjual tanah warisan orang tuanya, demi bisa melihatmu berjalan kembali! Demi bisa rutin membawamu terapi tanpa absen. Apa kamu lupa itu semua!” sungut Ibu lantang. Nada suara itu aku dengar sangat bergetar. Ada nada suara kecewa yang mendalam.

Mas Dika terlihat meneguk ludah. Mengacak kasar rambutnya lagi. Aku, masih memilih diam.

“Dika ingat itu semua, Bu! Dika nggak lupa. Tapi Dika menginginkan hadirnya seorang anak. Anak Dika, darah daging Dika!” balas Mas Dika, semakin terasa menggores luka di dalam sini.

Aku lihat dada Ibu terlihat naik turun. Emosinya aku lihat sudah sangat memuncak.

“Kalau kamu ingat, kenapa kamu tega melukai hati wanita yang sangat tulus mencintaimu, Dika! Kamu mungkin bisa memiliki anak dari perempuan lain. Tapi, kamu tak akan menemukan cinta setulus cinta Hilda padamu!” ucap Ibu yang masih terus membelaku.

Ibu Wiji Astuti. Ibu Mertua yang sangat baik menurutku. Mertua idaman para menantu yang memiliki masalah sama denganku. Masalah susahnya mendapatkan garis dua, tanda kehamilan.

“Apa kamu lupa, Dika! Saat kita di usir Bank, karena almarhum bapakmu terlilit hutang, hingga akhirnya semua di sita, siapa yang membantu kita saat itu? Almarhum orang tuanya Hilda, Dika! Apa kamu lupa itu? Hingga tega kamu melukai hati anak mereka? Hah? Ibu nggak habis pikir!” sungut Ibu lagi. Mencoba untuk mengingatkan anak lanangnya.

Aku perhatikan Mas Dika, matanya terlihat memerah. Kemudian mata itu terlihat berkaca-kaca.

“Dika ingat, Bu! Dika ingat semuanya ... tapi ....” ucap Mas Dika lirih, seraya menunduk. Tak melanjutkan ucapannya itu.

“Tapi kenapa kamu tega ingin menduakan cintanya?” sungut Ibu melanjutkan ucapan Mas Dika. Mas Dika terlihat menggeleng pelan. Kemudian terlihat air mata menetes begitu saja.

“Tapi Dika sudah menghamili perempuan lain, Bu. Dan dia memaksa akan menggugurkan jika Dika tak mau menikahinya. Tolong ijinkan aku menikahinya! Aku ingin memiliki anak. Anak dari darah dagingku,” jelas Mas Dika, cukup membuatku tercengang.

“Apa???” teriak Ibu.

Glegaaaarr ....

Bagai di sambar petir di siang hari, aku mendengar penjelasan itu. Aku lihat Ibu beranjak dan mendekati anak lanangnya.

Plaaaakkk ....

Satu tamparan mendarat begitu saja di pipi Mas Dika.

Plaaakk ....

Lagi. Dua kali ibu menamparnya. Sorot mata murka sangat terlihat jelas.

“Pergi kamu dari rumah ini! Ibu jijik melihatmu! Bahkan Ibu menyesal telah melahirkanmu! Mulai detik ini kamu bukan anakku! Anakku hanya Hilda! Dan kamu mulai detik ini Ibu anggap telah mati! Memalukan!” sungut Ibu.

Gleeegaaaarr .... saat Ibu baru saja menghentikan ucapannya, suara petir terdengar menyambar. Tak berselang lama, hujan turun dengan derasnya.

“PERGI!!!” teriak Ibu lagi, mengusir Mas Dika dalam keadaan baru saja turun hujan dengan sambaran kilat dan petir.

Mas Dika terlihat menganga. Kemudian dengan sangat berat ia beranjak. Semakin erat aku meremas baju dada ini. Sungguh hati ini sangat pilu.

“Mas ....” sapaku sebelum ia melangkah keluar. Ia terlihat menghentikan langkah kakinya. Kemudian menoleh pelan ke arahku.

“Aku pikir kamu tahu betul bagaimana hatiku. Bagaimana inginku. Kamu tahu sekali, kalau ini bukan inginku? Bukan kuasaku. Ini semua mutlak kuasa Allah dan kamu tahu itu.” Ucapku dengan nada yang sangat berat, seolah tercekat.

Aku menoleh ke arah Ibu, wanita yang sangat aku hormati itu nampak tegar, walau pipinya telah basah dengan air mata.

“Maafkan aku Hilda!” ucap Mas Dika, dengan berat aku menganggukan kepala ini.

“Aku pasti memaafkanmu! Tapi, aku hanya minta satu hal darimu, sebelum kamu menikahi perempuan yang telah hamil anakmu itu,” ucapku mengajukan syarat.

“Katakan syarat apa yang kamu minta? Aku pasti kabulkan, asal kamu memberiku ijin dan merestuiku, untuk menikah lagi Aku menginginkan anak itu Hilda,” tanya Mas Dika. Aku menoleh ke arah Ibu, ia nampak membelalakan mata memandangku.

“Silahkan menikah lagi! Karena perempuan itu sudah terlanjur hamil anakmu! Tapi, jatuhkan talak padaku! Agar kamu bisa leluasa untuk menikah lagi,” pintaku.

Aku lihat mata Mas Dika membulat. Dan aku lihat Ibu menjatuhkan badannya dengan lemas di sofa.

"Maaf ... aku jatuhkan talak satu untukmu!"

Gleegaaar ....

Lagi aku mendengar suara petir menyambar-nyambar. Ternyata Mas Dika memang menginginkan anak itu, yang entah dari rahim wanita mana.

Sebelas tahun pengorbananku, nampaknya sudah tak ia pikirkan lagi.

Ya Allah ... jika tak ada janin yang berkembang di rahimku, itu semua mutlak kuasaMU. Bukan inginku.

"PERGI KAMU! JANGAN BALIK LAGI KE RUMAH INI!!! BAHKAN SAAT IBUMU INI SUDAH TIADA NANTI, JANGAN DATANG KE MAKAMKU! HARAM BAGIMU MEMBAWA APAPUN KELUAR DARI RUMAH INI! KELUARLAH HANYA DENGAN APA YANG MENEMPEL DI BADANMU!"

Teriak Ibu lantang. Cukup membuatku tercengang. Hingga akhirnya aku lihat Mas Dika tetap memilih pergi.

Astagfirullah ... ini semua bukan inginku!

....................................
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 6 lainnya memberi reputasi
BUKAN INGINKU
BAB 2

"Ibu malu denganmu, Hilda! Ibu malu!" ucap Ibu sesenggukan. Hujan masih turun dengan derasnya.

Sedangkan Mas Dika, tetap dengan pendiriannya. Pergi dari rumah ini, tanpa membawa apapun, kecuali yang menempel di badannya.

Ya Allah ... kemarin aku masih merasakan, kalau rumah tanggaku masih baik-baik saja. Kemarin aku merasakan, aku wanita yang paling beruntung memiliki suami seperti Mas Dika. Karena selama ini ia tak pernah membahas anak.

Ya, selama ini ia selalu menjaga hati dan perasaanku.

Tapi hari ini? Sekali dia membahas keturunan, ia juga mengumumkan, kalau sudah ada janin dalam rahim wanita lain. Sejak kapan ia menyelingkuhiku? Sejak kapan dia bermain api di belakangku? Hingga ia rusak begitu saja, cinta suci ikatan pernikahan ini.

Astagfirullah ... sakit ... sakiiit sekali ... dan kini aku harus mengobati luka ini seorang diri.

"Hilda, ibu malu denganmu, ibu malu dengan ke dua orang tuamu. Apa yang harus ibu katakan jika ibu berjumpa dengan ke dua orang tuamu kelak? Karena Ibu juga merasa, umur ibu sudah tak lama lagi, apa yang akan Ibu sampaikan ke mereka? Sungguh Ibu malu! Ibu malu!" ucap Ibu masih sesenggukan.

Kupejamkan mata ini sejenak, untuk menata hati yang bergemuruh hebat di dalam sini.

Tangan yang sedari aku gunakan untuk meremas baju dada ini, akhirnya aku lepaskan.

Dengan tangan yang masih terasa gemetar, aku raih tangan Ibu mertuaku. Meremasnya pelan. Untuk sedikit saja menenangkan hatinya. Walau hati ini, juga butuh untuk ditenangkan.

"Ibu nggak perlu malu! Ibu masih sayang dengan Hilda, sudah sangat cukup bagi Hilda. Karena hanya Ibu yang Hilda punya sekarang," ucapku dengan nada gemetar.

"Allahu Akbar!" teriak Ibu seraya memelukku. Badannya bergoyang, tanda Ibu semakin menangis sesenggukan.

"Sungguh tak akan Ibu temukan, Anak menantu sebaik kamu Hilda! terimakasih masih menerima Ibu, walau Dika telah menjatuhkan talak untukmu!" ucap Ibu. Cukup membuat hati ini terenyuh.

"Sama, Bu. Juga tak akan Hilda temukan, mertua sebaik Ibu. Sekarang hanya Ibu yang Hilda punya, jadi biarlah Mas Dika menjatuhkan talak untuk Hilda, yang Hilda tahu, sampai kapanpun, Ibu tetap orang tua Hilda," balasku, hingga kami saling membalas erat pelukan ini.

"Terimakasih, Bu! Telah menyayangi Hilda hingga seperti ini," ucapku, setelah melepas pelukan kami.

Ibu terlihat manggut-manggut seraya menyeka air matanya.

"Kamu sabar, ya! Dika lagi tersesat! Biarkan dia memilih jalannya, karena memang itu maunya," ucap Ibu. Aku sedikit mengulas senyum.

"Ibu juga sabar, ya! Kita lihat saja, sejauh mana, Mas Dika bertahan di luar sana tanpa kita!" balasku. Ibu terlihat manggut-manggut.

"Iya, kamu benar, Hilda. Kita lihat saja, sejauh mana Dika bertahan tanpa kita. Apakah lebih bahagia, atau sebaliknya?" ucap Ibu.

Kutarik napas ini kuat-kuat dan melepaskannya pelan. Kuremas lagi tangan Ibu mertuaku itu. Hingga kami saling memeluk lagi.

***********

Pagi ini, masih merasa canggung saat tak kudapat kan Mas Dika di sisiku. Biasanya pagi subuh, aku membangunkan dia, untuk sholat subuh berjamaah.

Ya, Mas Dika sangat rajin sholatnya. Tapi, kenapa dia mau berzina? Mau tidur dengan perempuan yang bukan halalnya? Bahkan sampai terjadinya kehamilan? Astagfirullah, sungguh tak ku sangka.

Setelah selesai sholat subuh, aku segera keluar dari kamar. Melangkah ke arah dapur.

Saat melewatinya kamar Ibu, pintu kamarnya sudah terbuka.

Aku melongok ke kamar itu, tak kutemukan Ibu di dalam. Di mana Ibu?

Karena tak kutemukan Ibu, akhirnya aku tetap berjalan menuju ke dapur.

"Eh, Cah Ayu, sudah bangun!" ucap Ibu. Ternyata Ibu sudah masak di dapur. Nada suaranya sudah terdengar biasa saja.

"Sudah, Bu!" ucapku seraya mengedarkan pandang.

Aku lihat sudah tersedia tempe goreng. Makanan yang sangat tak di sukai Mas Dika.

"Tempe goreng," ucapku.

"Iya, selama ini kita tak pernah masak tempe goreng, karena Dika nggak suka. Karena Dika sudah pergi, ya, kita makan tempe goreng saja!" ucap Ibu. Aku sedikit mengulas senyum. Kemudian meraih tempe goreng itu. Masih terasa panas.

"Bu."

"Ya?"

"Hari ini Hilda ke butik, ya?!" pamitku. Ibu mengerutkan kening.

"Ke Butik?"

"Iya, karena Hilda mau mengambil alih. Bukan hanya butik saja, tapi juga yang lainnya, seperti laundry, Mega printing, dan rumah makan di ujung gang rumah kita, Hilda takutnya nanti di kuasai sama calon istri baru Mas Dika," ucapku.

"Astagfirullah ... iya kamu benar! Kamu harus segera ambil alih! Ibu nggak mau, mereka menguasai hartamu Hilda!" ucap Ibu. Aku mengangguk pelan.

Hartaku? Ya, selama ini memang warisan orang tuaku cukup banyak. Bahkan bisnis-bisnis orang tuaku, Mas Dika yang menjalankan.

Dari bisnis-bisnis peninggalan Papa itu lah, kami bertahan. Bahkan lebih dari cukup kalau hanya untuk sekedar makan.

Tapi, walau Mas Dika penuh yang menjalankan bisnis-bisnis almarhum Papa, bukan berarti aku tak tahu apa-apa. Justru aku yang memantau semuanya.

"Iya, Bu. Maafkan Hilda, jika Hilda harus mengambil alih semuanya. Karena Mas Dika sudah bukan suami Hilda lagi," pamitku.


Ibu terlihat meneguk ludah sejenak, kemudian mengangguk pelan.

"Tak perlu minta maaf. Di sini Dika yang salah. Seandainya Ibu ada di Posisi mu, pasti Ibu akan melakukan hal yang sama, Hilda!" ucap Ibu. Cukup membuatku terenyuh.

Alhamdulillah, Ibu mertuaku ini memang sangat bijaksana.

"Terimakasih, Bu!" lirihku.

"Lakukan apapun yang menjadi milikmu, Hilda! Itu hakmu! Doa Ibu selalu menyertaimu!" ucap Ibu. Semakin membuat hati ini terenyuh.

Aku tanggapi ucapan Ibu dengan anggukan.

Mas Dika! Mulai hari ini, siap-siap akan kehilangan semuanya! Aku akan ambil alih semuanya! Hingga tak ada satu rupiah pun, yang akan kamu terima, untuk menafkahi calon istri dan anakmu!

Nafkahilah mereka, dengan hasil murni jerih payah dan keringatmu. Bukan warisan bisnis dari almarhum orang tuaku.

********

profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 4 lainnya memberi reputasi
BUKAN INGINKU
BAB 3

Bismillahirrahmanirrahim

Segera aku turun dari mobil, yang aku kendarai sendiri. Aku menuju ke butik terlebih dahulu.

Kuedarkan pandang, Alhamdulillah, banyak mobil yang terparkir. Itu artinya, pembeli butik lumayan ramai.

Dengan langkah santai aku menuju ke Butik yang bernamakan Butik HilNa. Papa dulu yang memberikan nama itu. HilNa singkatan dari Hilda Namiroh. Namaku.

"Assalamualaikum," ucapku saat satpam membukan pintu.

"Waalaikum salam, Bu Hilda, tumben sendirian? Nggak bareng sama Bapak? Bapak sudah di dalam," tanya satpam itu ramah. Aku sedikit mengangkat alisku, harus tetap terlihat santai, karena jelas para pekerja di sini, tak tahu kemelut rumah tangga ku.

"Iya, biasa Ibu rumah tangga. Masih banyak pekerjaan di pagi hari. Mari!" balasku, seraya melanjutkan langkah untuk masuk ke butik HilNa ini.

"Silahkan, Bu!" balas satpam itu, seraya membungkukkan badan.

"Bu Hilda?" sapa Airin pekerja butik ini, kemudian menjabat tanganku. Aku lihat wajah Airin terlihat terkejut aku datang.

"Kamu baik-baik saja, Rin?" tanyaku.

"Eh, anu, Bu, iya, saya baik-baik saja," jawabnya nampak gelagapan.

Aku tetap mengulas senyum. Kemudian aku mengusap pelan lengannya.

"Alhamdulillah, butiknya ramai," ucapku, Airin terlihat manggut-manggut.

"Iya, Bu, Alhamdulillah," balasnya. Masih dengan nada yang tak seperti biasanya.

"Bapak ada di dalam?" tanyaku, masih aku perlihatkan biasa-biasa saja.

"Eh, anu, Bapak belum berangkat, iya, bapak belum berangkat," jawab Airin, aku melipat kening sejenak.

Bukannya kata Pak Satpam di depan, Mas Dika sudah berangkat? Kenapa berbeda dengan ucapan Airin? Ada apa ini?

Tenang Hilda, kamu jangan gegabah, jelas ini ada yang tak beres.

"Owh, mungkin Bapak ke Loundry dulu, untuk memeriksa pekerjaan di sana. Soalnya Bapak sudah berangkat duluan," ucapku asal, tapi tetap aku perlihatkan santai.

"Iya, Bu, mungkin seperti itu," balas Airin. Nggak tahu kenapa, hati ini merasa curiga dengan sikap Airin yang tak seperti biasanya. Aku tetap mengulas senyum manis, seolah percaya begitu saja dengan ucapan Airin.

"Saya masuk ke ruangan kerja saya dulu, ya!" pamitku.

"Eh, jangan, Bu!" cegah Airin yang terlihat refleks. Seketika aku melipat kening.

"Kenapa?" tanyaku dengan menatapnya lekat.

"Itu, Bu, anu ... ACnya rusak, masih di service. Jadi masih ada tukang service AC di dalam," jawab Airin, yang terlihat semakin bingung dan gelapan.

Sabar Hilda! Sabar! Aku semakin yakin, kalau ada yang tak beres. Ok, aku turuti saja dulu, apa mau mereka.

"Bu, kita duduk di sana saja! Sambil menunggu tukang AC nya keluar," pinta Airin.

"Ok, baiklah!" ucapku tetap aku perlihatkan biasa-biasa saja, seolah tak menaruh rasa curiga.

Aku melangkah mengikuti langkah Airin. Ia terlihat mengeluarkan gawainya dari dalam saku.

"Rin."

"Ya, Bu?"

"Ini waktunya kerja, jangan main hape dulu, ya! banyak pembeli yang datang, layani pembeli dengan sebaik mungkin, ya!" titahku.

"Owh, baikku," jawab Airin, kemudian memasukan kembali gawainya, tapi terlihat memaksa.

Aku sengaja memintanya untuk tak bermain gawai. Karena aku yakin ia akan menghubungi Mas Dika atau siapalah. Hati ini yakin , ada yang tak beres di dalam ruangan kerjaku.

Kalaupun AC rusak, ini juga masih pagi. Jadi belum panas. Tapi ok lah. Aku ikuti dulu saja apa maunya.

**********

Aku terus memantau Airin. Allah Maha Baik, terus di datangkan pembeli, jadi membuat Airin tak bisa memainkan gawainya.

Lagian juga ada aku, jadi dia juga segan mau mengeluarkan layar pipihnya.

Saat Airin sudah tak fokus lagi dengan ku, aku memilih keluar melalui pintu depan. Aku faham betul seluk beluk butikku ini.

Kenapa aku keluar lewat pintu depan? Biar Airin tak curiga. Pasti ia merasa lega, karena pasti ia mengira aku sudah pergi dari butik ini.

Aku pun sengaja keluar dengan mobilku, karena Butik ini berkaca. Jadi Airin semakin percaya aku memang pergi.

Saat mobilku sudah keluar dari butik, segera aku segera turun. Melangkah ke toko baju terdekat, untuk berganti baju. Karena aku ingin masuk lagi ke butik itu.

Setelah berganti baju, aku segera masuk lagi ke butik dengan ojek saja. Aku juga tak ingin masuk lewat pintu depan. Aku akan masuk lewat pintu belakang. Kebetulan kunci butik itu, aku juga memegangnya.

************

Hati ini berdegub saat aku masuk lewat pintu belakang. Padahal aku ini masuk ke butik ku sendiri, tapi seolah merasa mau mencuri.

Kakiku berhenti, saat telinga ini mendengar ada suara dua orang. Laki-laki dan perempuan. Mereka terdengar sangat serius berbicara.

Siapa yang di ajak bicara Mas Dika? Aku yakin itu suara Mas Dika di dalam ruangan kerjaku. Dan benar dugaanku, ada yang tak beres. Airin sedang menutupi sesuatu. Karena ia bilang, Mas Dika belum datang.

Karena penasaran akhirnya aku menguping, dari pintu samping yang mengarah ke pantry.

"Jadi kamu sudah menjatuhkan talak? Bagus! Memang harusnya dari dulu, kamu pisah dengan perempuan mandul itu!" ucap suara perempuan, yang mana telinga ini serasa tak asing, siapa pemilik suara itu.

"Tapi, aku menyesal telah menceraikan Hilda," ucap Mas Dika.

"Kok, menyesal? Dia itu tak bisa memberikan mu anak!" sungut perempuan itu. Aku semakin yakin itu suara Sisil Nabila. Musuhku dalam bisnis.

"Kamu tahu aku sangat mencintainya!" ucap Mas Dika. Deg, hati ini terasa bergetar mendengarnya.

"Beruntung sekali perempuan mandul itu! Bisa mendapatkan cintamu! Kamu harus ingat! Aku ini Hamil calon anakmu!" sungut perempuan yang aku duga Sisil itu.

"Iya, Sayang, aku ingat! Kalau nggak ingat calon anakku ini, aku tak akan menceraikan Hilda. Walau aku sangat dengan berat menjatuhkan talak untuknya," ucap Mas Dika.

"Baguslah! Selain itu, kamu harus segera ambil alih semua bisnis Hilda. Karena selama ini juga kamu yang mengembangkannya," hasut Sisil.

Astagfirullah ... ucapan Sisil barusan cukup membuat sesak dada ini.

"Nggak bisa segampang itu, Sayang! Karena semuanya masih belum balik nama, masih nama almarhum orang tua Hilda," ucap Mas Dika.

"Gampang itu, Mas. Serahkan semua itu padaku! Itu urusan gampang bagi seorang Sisil Nabila."

Gelegaaaarrrrrr ....

Bagai di sambar petir aku mendengar ini semua. Tak akan aku biarkan kalian mengambil satu rupiah pun, dari harta peninggalan orang tuaku ini.

Airin? Kenapa kamu menutupi ini semua. Padahal kamu tahu, kalau Sisil Nabila adalah musuhku dalam berbisnis!

Dan kamu Mas Dika, kenapa musti Sisil? Kenapa musti perempuan itu yang kamu hamili?

Ok, aku turuti permainan kalian. Orang licik seperti kalian, memang harus di balas dengan cara yang licik juga.

*******



profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 3 lainnya memberi reputasi
BUKAN INGINKU
BAB 4

Aku segera bergegas keluar dari pintu belakang, saat telinga ini mendengar langkah kaki yang mendekat.

Untung tak ketahuan. Mungkin tadi Airin. Kalau pun ia melihat punggungku, aku yakin ia tak akan mengira itu aku. Karena penampilanku saat ini bukan berpenampilan layaknya Bu Hilda Namiroh, seperti biasanya.

Dengan langkah tergesa-gesa, aku menghampiri mobilku. Luruh air mataku di dalam mobil. Ya Allah ... kenapa harus Sisil Nabila? Kenapa harus dia, yang akan menjadi calon istri baru Mas Dika?

Mas Dika, aku tahu, tak akan gampang kamu melupakanku, pun aku. Tapi, kenapa kamu setega ini denganku? Hanya demi mendapatkan keturunan, kamu menghancurkan semua rencana indah kita, yang telah kita ikat dalam ikatan suci pernikahan.

Jika tak ada janin yang menempel dalam rahimku, sungguh itu bukan inginku, Mas. Jika aku boleh meminta, aku juga tak mau berada di dalam posisi ini.

Astagfirullah ... kutekan kuat dada yang naik turun ini. Sungguh terasa sesak sekali rasanya.

Om Hasan? Ya, aku harus menemui Om Hasan. Om Hasan ini adalah adik sepupu Mama. Cuma aku memang kurang akur dengan istrinya. Jadi, hubunganku dengan Om Hasan menjadi kurang hangat.

Tapi aku yakin, Om Hasan sangat menyayangiku, layaknya anaknya sendiri. Ya, walau usia kami, terpaut tak begitu jauh.

Selama ini Om Hasan tak begitu peduli dengan hidupku, karena mungkin ia pikir, aku sudah bahagia. Memiliki suami Mas Dika yang bisa di andalkan dalam mengelola bisnis Papa, dan memiliki Mertua yang sangat baik, layaknya orang tua kandung sendiri.

Segera aku meraih gawaiku, dan segera menghubungi nomor Om Hasan. Semoga beliau tak sibuk dan bisa di ajak ketemuan.

“Hallo ... assalamualaikum,” terdengar suara salam dari seberang sana. Suara khas Om Hasan.

“Waalaikum salam, Om,” sapaku, setelah bisa aku pastikan kalau nada suaraku sudah tak serak.

“Tumben, Da, nelpon, Om, ada apa?” tanya Om Hasan.

“Hilda kangen sama, Om. Emm, bisa kita ketemu?” jawab dan tanyaku balik.

“Emm, bisa-bisa saja, tapi kamu tahu sendirikan? Tantemu seperti apa? Om malas jika harus ribut dengan dia, apalagi ributnya gara-gara masalah kita ketemuan,” tanya balik Om Hasan.

“He he he, iya tahu, Om! Kalau gitu ketemuannya, jangan di rumah Om,” jelasku.

“Boleh. Atur saja, Om nurut. Karena Om juga kangen dengan keponakan Om yang cantik ini,” ledek Om Hasan.

“Sipp, Om, nanti Hilda share lokasi, ya!” ucapku.

“Siipp! Om tunggu!” balas Om Hasan.

“Siap, Om!”

Tit.

Komunikasi terputus, aku yang memutuskan. Segera aku melajukan mobilku ini, untuk menuju ke suatu tempat, di mana akan aku ceritakan masalahku ini dengan Om Hasan. Semoga Om Hasan bisa membantu menyelesaikan masalahku.

........... .

Aku telah sampai di caffe Asmara. Sudah aku share lokasi ke Om Hasan. Caffe Asmara ini tak jauh juga dari rumah Om Hasan. Jadi, ia tak akan lama dalam perjalanan.

“Hai!” Sapa Om Hasan tak berselang lama.

“Hai, Om!” balasku, kemudian aku cium punggung tangannya.

“Sudah lama?” tanya Om Hasan seraya duduk di kursi depanku.

“Nggak, Om, belum lama lah,” balasku. “Mau pesan makanan atau minuman? Atau keduanya?”

“Emm, minuman saja. Kopi hitam kental. Om habis makan,” jelasnya.

“Ok, Om,” balasku, segera aku pesankan minuman untuk Om Hasan dan diriku. Kalau aku, memesan Jus Buah Naga saja. Biar seger. Karena cuaca semakin siang, semakin menyengat.

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

“Gimana keadaanmu? Apakah sudah ada tanda-tanda, kalau Om akan punya cucu?” tanya Om Hasan. Aku segera menggeleng.

“Emang Om mau di panggil Kakek? Selisih umur kitakan nggak begitu jauh,” ledekku.

“Ya, mau nggak mau, siap nggak siap, anakmu akan manggil aku kakek,” jelas Om Hasan. Seketika aku tertawa lirih.

“Emm, ada apa? Tumben ngajak Om ketemuan? Kalau tantemu tahu, bisa cemburu nggak jelas dia,” tanya Om Hasan. Aku tertawa lirih lagi.

“Emm, Om, Mas Dika, kemarin telah menjatuhkanku talak,” ucapku akhirnya. Om Hasan terlihat melipat kening.

“Jangan bercanda kamu, Da!” balas Om Hasan.

“Emang Hilda terlihat bercanda kah, Om? Nggak mungkin juga masalah seperti ini, Hilda buat bercandaan,” jelasku.

Om Hasan terlihat menghela napas sejenak, kemudian mengusap wajahnya pelan.

“Apa masalahnya? Sehingga Dika menjatuhkan talak padamu?” tanya Om Hasan. Gantian aku yang menghela napas panjang. Mengatur hati yang bergemuruh hebat ini.

“Mas Dika menghamili perempuan lain, Om. Dan Hilda yang memintanya untuk menjatuhkan talak,” jelasku. Om Hasan, terlihat menganga, terlihat sangat terkejut dengan penjelasan yang baru saja aku dengar.

“Yang Om tahu, Dika itu tak pernah tinggalkan sholat. Tak mungkin dia berani tidur dengan perempuan yang bukan halalnya,” ucap Om Hasan. Aku sedikit mengulas senyum.

“Hilda juga berpikiran seperti itu, Om. Tapi faktanya memang seperti itu. Dan Om tahu siapa yang wanita yang di hamili Mas Dika?” tanyaku. Om Hasan terlihat melipat kening.

“Siapa?”

“Sisil Nabila.”

“Hah? Sisil Nabila?”

“Iya. Sisil Nabila, musuh bisnis Hilda,” jelasku.

Om Hasan terlihat mengusap kasar wajahnya. “Om sungguh tak menyangka Dika seperti itu. Kenapa harus perempuan musuh istrinya yang ia hamili?”

“Dan yang paling mengejutkan lagi, Om, Sisil meminta Mas Dika untuk mengambil semua milik Hilda,” jelasku.

“Owh, tak bisa semudah itu. Apakah sudah kamu balik nama semua sertifikat bisnis dan aset orang tuamu?” tanya Om Hasan. Aku menggeleng pelan. “Belum!”

“Baguslah! Om ada ide jahil untuk mengerjai mereka,” jawab Om Hasan.

“Ide jahil? Apa?” tanyaku penasaran. Om Hasan terlihat tersenyum dengan memainkan alisnya.

. . . . . . . .
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
titip sandal gan,, nanti balik lagi
Izin baca dulu ganemoticon-Cool
nitip jejak gan
nice, lanjut.
Quote:


emoticon-Blue Guy Cendol (L)


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di