CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
MISTERI HUTAN LARANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61766aa334583767783a40d0/misteri-hutan-larangan

MISTERI HUTAN LARANGAN

Ada sesuatu yang berbeda dari hutan ini, desas-desus tentang angker dan berbahaya. Hutan
yang kata warga sekitar penuh dengan mistis dan cerita horor.

Aku Naya, seorang gadis pendiam yang berusia 22 tahun, bekerja di sebuah pabrik yang terletak di pinggir hutan. Tak menyangka, kemampuanku melihat mahluk tak kasat mata, membawa pada terungkapnya sebuah misteri dan rahasia besar di hutan itu. Pernyataan warga berbanding terbalik dengan apa yang kusaksikan, ada apakah sebenarnya?


Bisakah aku dan teman-teman menguak misteri di baliknya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Halaman 1 dari 2

Anak Indigo

"Bun ... Bunda ...!" Kuketuk pintu kamar orang tuaku sambil teriak memanggil-manggil dari depan pintu. Aku mengimpit paha menahan pipis.

Pintu kamar terbuka, bunda keluar sambil menggosok-gosok matanya, perempuan cantikku itu masih terlihat mengantuk.

"Hoaaaaam, ada apa, Sayang?" tanya Bunda yang heran melihatku berdiri di depan pintu.

"Anter pipis," jawabku sambil sedikit nyengir.

"Emm, Bunda juga mau pipis, sekalian."

Bunda mengantarku ke kamar mandi, pintunya sengaja tak kututup. Aku lumayan penakut, tapi kalau sedang dalam mode berani, aku pergi ke kamar mandi sendiri dan sekarang berada di mode manja. 

Sebenarnya aku bisa saja ke kamar mandi sendiri, tapi entahlah kalau di dekat Bunda, aku ingin bermanja. Padahal usiaku sudah menginjak 22 tahun. Hmmm ... intinya mah penakut saja sih, malu saja mau mengaku.

Selesai buang air kecil, aku mampir ke dapur. Kebetulan kamar mandi rumahku dan dapur tempatnya terpisah agak jauh. Ketika memasuki dapur, kulihat Darwis--adikku--sedang mengisi air ke dalam gelas, lalu meminumnya.

"Eh Darwis, haus ya, Dik? jam segini bangun," tanyaku pada Darwis yang masih menenggak air gelasnya. Namun adikku itu tak menjawab, menatapku dengan tatapan entah, wajahnya pucat. Belum sempat bertanya lebih banyak, dia langsung masuk ke kamarnya.

Bunda yang baru saja menyelesaikan hajatnya sudah keluar dari kamar mandi dan menghampiriku.

"Bicara sama siapa, Nay?" Bunda bertanya.

"Darwis, Bun. Dia juga bangun, haus paling," jawabku.

 Tak bercerita tentang wajah adikku yang aneh. Kuambil gelas, mengisinya dengan air. Aku duduk di kursi lalu minum. Bunda selalu mengajarkan kalau minum tak boleh sambil berdiri dan jangan menggunakan tangan kiri.

"Hah! Darwis? Kapan? Bunda nggak lihat siapa-siapa." Bunda terlihat heran dengan pandangan ke kanan dan kiri.

"Iya barusan, udah masuk lagi ke kamarnya sebelum Bunda keluar dari kamar mandi." Aku meyakinkan bunda, gelas masih kupegang.

Kulihat alis Bunda mengerut, lalu mengajakku berjalan menuju kamar Bunda dan membuka pintu.

"Lha. Ini Darwis masih tidur di kamar bunda. Tadi selesai salat isya dia bawa kasur lipat ke sini, katanya mau tidur di sini." jelasnya.

"Hah? Terus tadi yang masuk ke kamarnya itu ...?" Tak kulanjutkan ucapanku.

Bunda melangkah ke kamar Darwis yang letaknya bersebelahan dengan kamarku, setelah kamar dibuka, bunda menggeleng.

Bunda mendekat menghampiriku, lalu memeluk dan mengusap punggungku, orang tuaku sudah mengerti dengan apa yang terlihat tadi. Dari kecil aku memang punya kelebihan khusus, netraku bisa melihat hal-hal gaib, makhluk halus ataupun penampakan, tapi tak bisa membedakan antara keberadaan mereka. Seperti Darwis barusan, aku tak tahu kalau itu 'mahkluk yang lain', hanya bisa melihat saja.

Kata orang, indra ke enam itu adalah anugerah. Namun tidak bagiku, kemampuan melihat sesuatu yang lain ini merupakan kelemahan bagiku. Dulu waktu kecil, sering kali aku sakit gara-gara hal ini, melihat penampakan yang aneh dan menakutkan. Kadang sampai tak tidur berhari-hari, makan pun tak normal. Aku hidup dengan bayang-bayang ketakutan dan tak sama dengan anak lain.

Untungnya Ayah dan Bundaku mengerti dan percaya dengan semua yang kulihat, sadar anaknya punya kelainan. Ayah Bundaku membawa pindah ke kampung ini, untuk melindungi mental gadis kecilnya yang sering disebut anak gila oleh orang yang tak tahu apa yang tengah kualami.

Aku sering menyendiri, kadang menangis dan menjerit begitu saja saat melihat sosok aneh dan menakutkan. Ayah dan Bunda membawaku ke berbagai tempat untuk mengobati penyakit ini, tapi hingga saat ini perasaanku masih sama. Hanya saja, semakin bertambahnya usia, aku semakin mengerti hal ini adalah titipan dan aku harus menerimanya. Lama-lama, terbiasa juga dengan hal ini. Ya ... biarpun masih saja  penakut dan sering menyusahkan Bunda untuk sekadar ke kamar mandi.

Waktu itu aku masih kecil, masih belum mengerti dengan apa yang kualami. Dulu aku tinggal di pinggir kota yang lumayan ramai dengan hiruk pikuknya. Di sana aku sering diejek karena tingkahku yang menurut orang lain aneh dan sering halusinasi. Namun, Ayah Bunda yakin aku tak berhalusinasi, penglihatan nyata adanya dan mereka percaya itu.

Orang tuaku membawaku pindah ke kampung ini, membesar dan tumbuh di sini disembunyikan dari orang lain, menjaga dan melindungi agar tak terjadi lagi cemoohan dan ejekan. Semua mereka lakukan untuk melindungiku dari cercaan orang, mereka khawatir mentalku terganggu jika terus-terusan menghadapi ejekan.

"Ada apa? Jam segini udah pada bangun?" Ayah keluar kamar, mungkin terbangun mendengar kami berisik.

"Ini, Naya minta diantar ke kamar mandi," jawab Bunda melepaskan pelukannya yang sedari tadi memelukku.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, sudah menjadi kebiasaan ayah bangun untuk shalat tahajud. Aku memilih melanjutkan tidur di kamar Bunda. 

Ayah kalau sudah bangun, dia tak akan tidur lagi sampai subuh, lalu siap-siap untuk berangkat kerja.

Ayah dan bundaku bekerja di kios kami, letaknya di pinggir kota lumayan jauh dari rumah. Darwis sekolah SMP, letak sekolahnya tak jauh dari kios, makanya mereka kalau berangkat selalu sama-sama. Boncengan tiga orang, karena kami hanya punya satu motor.

***

Subuh Bunda membangunkanku, harus salat dan berangkat kerja. Aku bekerja di pabrik baju di kampung sebelah. Masuk kerja jam tujuh pagi dan harus tepat waktu. Jika telat, pekerja tak akan diizinkan masuk, karena pintu gerbang akan dikunci di jam kerja. 

Disebabkan jarak dari rumahku ke pabrik lumayan jauh, biasanya pukul enam pagi aku sudah harus berangkat, sengaja pergi lebuh awal agar bisa santai di perjalanan. Tiap hari, sengaja aku selalu membawa bekal dari rumah, meski ada kantin, Bunda telaten dan rajin memintaku membawa bekal.

Tid ... tid ...! 

Suara klakson motor memanggil. Biasanya aku jalan kaki menuju pabrik, tapi kalau Zul shift pagi, aku selalu menumpang padanya. Kami kerja di pabrik yang sama, Zul jadi pengawas. Temanku itu tinggal sekampung denganku, orangnya baik dan tengil. Nama lengkapnya Zulfikar.

"Sift pagi, Zul?" tanyaku menyapa.

"Iya, ayo bareng!"

Zul pasti tahu aku sering  berangkat lebih pagi, makanya dia sepagi ini sudah berada di sini untuk berangkat bersama.

Aku pamit pada Ayah dan Bunda, lalu mencium tangan mereka. Mereka pun berkata akan bersiap pergi ke kios dan sekalian mengantar Darwis sekolah.

"Hati-hati, Sayang!" Bundaku berpesan. Aku mengangguk dan melambaikan tangan.

"Zul, titip Naya, ya!" Pinta ayah pada Zul.

"Iya, Om. Siap," sahut Zul, lalu kami pun berangkat.

Dari rumah menuju pabrik, tak ada kendaraan umum. Hanya jalan kecil melewati rumah-rumah warga untuk menuju pabrik, jika mau lebih dekat, ada jalan pintas melewati persawahan. Sayangnya aku tak berani mengambil jalan itu, karena pasti sepi.

Jika tak diantar jemput oleh Zul, aku selalu berjalan kaki, sekalian olah raga dan memang harus berangkat lebih awal agar tak terlambat.

Sebenarnya orang tuaku tak mengizinkan bekerja, aku termasuk anak rumahan dan kesayangan mereka. Anak perempuan Ayah Bundaku satu-satunya. Namun aku merasa bosan selalu  di rumah sendiri, ingin menikah pun belum ada yang melamar. 

Eh... Jomlo ding. Dulu sudah ada juga yang melamar, tapi aku selalu menolak, alasan belum siap. Merasa umur belum cukup dewasa untuk mengarungi biduk rumah tangga dan hidup bersama orang lain yang tak mengenalku dan segala kekuranganku.

Pabrik ini baru buka setahun yang lalu, tapi operasionalnya baru berjalan lancar sekitar tiga-emapt bulan ini. Sebelumnya, pabrik ini hanya bangunan tua pinggir hutan, bangunan yang terbiar. Ada orang kota kaya raya yang membeli bangunan ini dan menjadikannya pabrik baju. Bangunannya cukup besar dan luas, mampu menampung ratusan karyawan.

Semua yang bisa menjahit dibolehkan bekerja di sini, asalkan yang bekerja harus perempuan berusia di bawah 25 tahun, kalau bisa belum menikah. Syaratnya memang agak aneh, tapi bagusnya lagi pendaftaran tanpa diminta ijazah. 

Hal ini membuat orang-orang kampung di sini yang kurang beruntung atau tak punya ijazah cukup terbantu, asalkan punya keahlian menjahit, itu sudah cukup. Satu lagi, syaratnya harus ikut aturan, karena pabrik berdekatan hutan, jangan ada yang berani masuk ke sana tanpa izin.

Proses pendaftarannya pun berjalan cepat dan lancar, sayangnya pekerja dibatasi sekitar 300 orang saja. Tak termasuk staf kantor, pengawas, security dan pekerja lainnya. Padahal bangunan lumayan besar dan luas, entah mungkin operasionalnya terbilang baru, hingga belum bisa merekrut banyak orang, ada yang bilang juga masih dalam tahap masa percobaan.

Cuma memang tempatnya rada menyeramkan, ada juga yang mungkin peka sepertiku mengalami kejadian aneh dan hal-hal mistis, termasuk aku yang memang dapat melihat sesuatu yang lain. Namun, karena kebutuhan, hal itu terpaksa ditepis, malah dijadikan obrolan dan candaan saat istirahat. Tak ada yang merasa takut, karena kebutuhan lebih utama, tapi ada juga yang penakut memilih untuk berhenti, tak mau terganggu oleh sosok yang pernah mereka lihat.

Awalnya sempat ragu bekerja di sini, sebab pabrik ini terletak tepat di pinggir hutan. Hutan yang disebut warga sekitar angker dan penuh misteri yang bertahun-tahun tak terungkap, hutan terlarang atau yang biasa di sebut... 

Hutan larangan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan

Keanehan Mulai Terasa

Aku dan Zul sampai di pabrik, lalu turun dari motor dan hendak membuka helm. Seperti biasa, helm yang kupakai selalu susah untuk dibuka talinya, terpaksa harus selalu meminta Zul yang membukanya.

"Agak macet ini talinya," tutur Zul saat tengah membuka helm yang masih berada di kepalaku.

Aku hanya tersenyum, hati agak gusar, ada yang aku takutkan.

Rentang-rentang kulihat gadis cantik berjalan menuju ke arahku dan Zul. Gadis itu berjalan lenggak lenggok layaknya model, rambutnya pendek berwarna pirang. Ah, benar saja, apa yang aku takutkan itu datang juga.

"Sayang..." Dia menghampiri Zul dan menggandeng tangan laki-laki yang masih berusaha membukakan helm di kepalaku. 

"Hmm," jawab Zul.

Gadis itu melirik padaku, seperti biasa, tatapannya kurang suka.

"Hey Naya! kamu itu manja banget sih. Udah numpang naik motor pacar orang, buka helm sendiri aja nggak bisa." Dia menggerutu. Bibirnya dimanyunkan satu senti, tampaknya sangat kesal padaku.

Tak kuindahkan ocehannya, kadang aku malas menerima ajakan Zul, tapi mau bagaimana, dia juga sering memaksa berangkat bersama jika memang sama-sama sift pagi.

"Kamu ini, Zul, mau-maunya kasih tumpangan." Sekarang kekesalan gadis itu berpindah pada Zul.

"Ratu ... aku 'kan sekampung sama Naya, dia juga temanku, kami satu arah. Apa salahnya kan kalau berangkat bareng, lagi pula nggak tiap hari," sela Zul. 

"Terus aja belain dia," sungut Ratu tak terima. 

"Mulai deh." Zul mendengkus, lalu melirikku, "maaf ya, Nay."

"Nggak apa-apa." Aku mengulas senyum membunyikan perasaan tak enak.

"Ayo Ratuku, kita masuk," rayu Zul pada Ratu. Kalu tak dibujuk, sudah pasti dia tak berhenti mengomel.

Iya... begitulah Ratu, gadis bernama asli Sarminah itu selalu bersikap jutek jika aku berangkat bersama Zul. Usia gadis itu sebaya denganku, dan lebih senang disebut Ratu. Ya, mirip dengan tingkahnya yang selalu ingin seperti ratu.

"Makasih ya, Zul," ucapku berterima kasih untuk tumpangan hari ini.

"Ok," jawabnya.

Ratu menggandeng tangan Zul berjalan masuk ke dalam pabrik, sekilas matanya mendelik padaku dan menjulurkan lidah. Aku cuma menggelengkan kepala, lalu berjalan pelan mengekori mereka.

Ada yang Zul sembunyikan, entah apa, tapi dapat kulihat, dia bersama Ratu itu seperti terpaksa. Ah, atau cuma perasaanku saja, jelas-jelas mereka pacaran, pasti saling suka, mana mungkin membangun sebuah hubungan karena terpaksa, kan?

Lilis dan Nining yang baru saja datang langsung menghampiri menggandeng tanganku, teman-teman satu ruangan yang cukup dekat denganku.

"Hei, Nay, berangkat sama Zul?"

"Iya." Aku tersenyum menyambut mereka.

"Eta si kuntilanak, ganjen pisan leumpang na digeol-geol kitu, meni geuleuh!" (itu si kuntilanak ganjen sekali jalannya lenggak lenggok), ujar Nining yang tak senang melihat tingkah Ratu.

"Hooh emang, kecentilan," sahut Lilis yang sama kurang suka dengan gadis itu.

"Hayang ka aksi, mending geulis mah, bengeut taplokan wedak lima senti oge balaga." Nining mengoceh lagi dengan bahasa khasnya.

"Huuus, nggak boleh gitu." Aku tertawa mendengar kata-kata Nining yang selalu tak jauh dari bahasa Sundanya.

"Geuleuh atuh da." (Sebel aja lihatnya)

"Eh, Tiyas mana?" tanyaku yang belum melihat temanku yang satu lagi, biasanya mereka bertiga tak terpisahkan.

"Tau tuh, biasanya paling pagi udah nunggu di pos depan, tadi nggak ada, udah masuk duluan mungkin," jawab Lilis. 

Kami pun berjalan menuju pabrik. Ternyata di dalam juga tak terlihat Tiyas, mungkin dia tak masuk hari ini, tapi biasanya kalau ada apa-apa gadis itu akan mengirim pesan.

Di ruanganku ini ada seratus orang karyawati, dan masih ada dua ruangan lagi, tiap ruangan sama berisi seratus orang pekerja. Di tiap ruangan ada empat pengawas, semua pengawas harus lelaki.

Aku, Lilis, Nining dan Tiyas di tempatkan di pojokan ruangan ini, tugas kami berempat memperbaiki jahitan yang gagal atau rusak. Meja kami pun agak jauh dari yang lain. Tiap ada komplainan atau baju yang gagal jahit, tugas kamilah yang harus memperbaiki.

Nining dan Lilis tampak menggerutu, melihat baju-baju yang harus mereka kerjakan, tumpukan baju yang terlihat menggunung sudah menanti kami. 

Clak! 

Tetesan merah pekat jatuh tepat di meja jahitku, kepalaku mendongak melihat ke arah tetesan itu. Cairan berwarna merah itu sedikit-sedikit terkumpul, setelah sebesar biji jagung, clak! Kembali jatuh di mejaku, seperti itu hingga beberapa kali.

Nining dan Lilis juga melihat hal itu, mereka menghampiriku.

"Itu darah, Nay?" tanya Lilis.

Tubuhnya sedikit condong ke arah meja, memandang tetesan warna merah itu lalu kepalanya di dongakkan ke atas melihat dari mana arah datangnya tetesan.

"Getih naon, nya?" (Darah apa, ya?) Nining bertanya ikut penasaran.

"Muzi, sini!" panggil Lilis sedikit berteriak memanggil pengawas yang sedang kontrol di ruangan ini.

Muzi menghampiri kami.

"Ada apa," tanyanya.

Nining menunjuk tetesan darah di meja jahitku. Kening Muzi mengerut. Kepalanya mendongak ke arah datangnya tetesan itu.

"Tunggu sebentar ya, aku cek dulu ke atas, jangan berisik, biar orang lain nggak ngumpul," ujar Zul. Karena ini sudah masuk jam kerja, yang lain yak boleh panik dan sampai mengganggu aktivitas pagi ini.

Aku dah teman-teman belum memulai aktivitas, masih menunggu Muzi dan ingin tahu darah apa itu.

Tak lama kemudian, Muzi datang lagi menghampiri kami.

"Tadi aku sama satpam naik ke atas, tapi di atas nggak ada apa-apa, nggak tau darah tikus atau apa, dicari beberapa kali juga tetap nggak nemu apa-apa," ujarnya.

Kami semua saling tatap.

Kalau memang di atas tak ada apa-apa, lalu tetesan darah ini asalnya dari mana? Ah. Hatiku mulai tak enak.

"Terus eta getih naon atuh? Timana datang na?" (Terus itu darah apa? Datangnya dari mana?) Nining juga masih penasaran.

Muzi hanya mengangkat bahu. "Sudah, jangan dihiraukan, kerjakan saja tugas hari ini," ulas Muzi.

Nining dan Lilis berjalan ke meja masing-masing.

 "Nay, kamu lap aja darahnya, jangan khawatir, nggak ada apa-apa."

"Iya."

Darah itu sudah tak menetes, tapi di atas masih terlihat sisa tetesannya menempel di plafon. Aku mengambil tisu dan mengelap tetesan darah itu. Masih dengan rasa penasaran aku melanjutkan pekerjaan.

***

    Ruangan pabrik ini lebih mirip sekolah, mungkin saja tadinya bangunan ini adalah sekolah lama. Jendela kaca berjejer sepanjang bangunan, kaca yang kusam dan tak di pasangkan gorden. 

Dari dalam terlihat jelas pemandangan di luar. Termasuk pemandangan hutan dibagian samping bangunan ini. Hutan diberi pembatas kawat besi yang menjulang tinggi, pagarnya sangat panjang mengelilingi pinggiran hutan.

Netraku memandang keluar, menerawang menembus kaca. Terlihat jelas seseorang tepatnya di depan toilet sedang mondar-mandir, seorang perempuan berambut panjang, poninya sedikit menutup mata, dia mengenakan gaun berwarna merah. Sekilas dia menatapku, tatapannya menyedihkan.

Siapa itu? Karyawankah? Tapi kenapa dia belum masuk? Pikiranku mengundang tanya. Biasanya jam kerja begini tak ada yang berada di luar, kecuali ingin ke toilet. Ya, mungkin perempuan itu juga ke toilet, karena jelas dia terlihat di sana.

Toilet terletak sedikit jauh dari bangunan ini, tapi tetap terlihat jelas dari dalam sini, karena dinding bangunan yang banyak terpasang jendela kaca. 

Pandanganku hanya teralih sebentar untuk mengambil gunting, ketika melihat kembali ke arah perempuan tadi, dia sudah tak terlihat. Mataku mencari-cari ke mana perempuan itu pergi. Tak mungkin dia hilang dengan sekejap. Ah. Apa mungkin perempuan itu sama seperti makhluk yang sudah biasa kulihat? Entahlah. 

Biarpun sudah terbiasa melihat hal begini di bangunan ini, tetap saja aku merasa takut. Bulu-buluku mulai meremang melihat tatapannya tadi, tangan terasa dingin, aku mulai bergidik.



***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Jatuh dari Motor

Sudah masuk jam makan siang, karyawan pabrik berhambur keluar. Ada yang ke kantin untuk membeli makanan, ada yang menuju mushola untuk Salat.

Aku, Nining dan Lilis pun memilih untuk Shalat terlebih dahulu. Selesai salat, kami mencari tempat untuk makan siang, kami sudah biasa membawa bekal dari rumah, biar lebih irit.

Tempat yang biasa kami pilih, adalah di samping bangunan ini. Tempat yang cukup sepi, dengan pemandangan hutan yang menyejukkan biarpun di siang hari yang cukup terik.

"Eh, Tiyas ada kasih kabar nggak?" tanya Nining saat kami sudah berkumpul untuk makan siang.

"Aku udah telepon tadi, tapi Hpnya nggak aktif," jawabku.

"Sakit atau apa ya? Kok nggak ada kabar?" Lilis juga ikut bertanya.

Tak ada jawaban tentang Tiyas, kami melanjutkan makan dan beralih membicarakan hal lain.

"Kenapa ya, hutan ini disebut hutan larangan?" tanyaku ingin tahu asal usul hutan di samping pabrik ini. Pasalnya aku juga orang pindahan di kampungku, tak terlalu tahu seluk beluk dan asal-usul hutan di sini.

"Katanya sih, orang-orang kampung ini atau siapa pun di larang masuk ke hutan ini kalau sudah menjelang sore," jawab Lilis sambil mengunyah makanannya, mulutnya terlihat penuh.

"Kunaon kitu?" (Kenapa gituh?) Nining ikut bertanya.

"Kamu juga nggak tau, Ning? kirain kalau asli daerah sini pasti tau," ulasku.

"Nggak tau aku mah, Nay, dulu teu cicing di dieu, beda kota."

"Oh, pantesan."

"Kamu tahu, Lis?" tanyaku beralih pada Lilis.

"Konon katanya, kalau sore ada yang berani masuk hutan itu, nggak akan bisa balik lagi, biarpun di cari ke dalam hutan nggak akan ketemu, bukan hanya manusia, hewan juga kalau masuk ke sana menjelang malam, nggak akan balik lagi, tapi kalau masih siang mah nggak apa-apa, makanya sekeliling hutan yang deket perkampungan sengaja dipagar, sebelah sana ada pintu masuk satu saja, banyak juga warga yang nyari kayu bakar di siang hari di hutan ini, tapi harus izin sama kuncennya dulu," jawab Lilis panjang lebar.

"Kok serem, ya," sahutku.

"Nyaho ti mana maneh, Lis?" (Tau dari mana kamu, Lis?) tanya Nining lagi.

"Tau dari warga kampung ini lah, orang-orang disekitar kampung juga ssmua tahu soal hutan ini, termasuk orang tua," jawab Lilis.

"Cuma rumor apa gimana?" Aku makin penasaran, karena memang soal hutan ini tak terlalu digembar-gembor di kampungku.

"Bukan cuma rumor, pokoknya harus ikut aturan, pabrik ini juga kan pake aturan yang sama ke pekerja kalau mau selamat, jangan berani masuk ke sana kalau nggak ada urusan." Lilis meyakinkan.

Aku dan Nining mangut-mangut. Ya kalau dipikir, buat apa juga masuk ke hutan tanpa sebab. Setelah selesai makan, kami kembali ke dalam melanjutkan menjahit karena jam istirahat telah habis.

Jam lima sore kami beres-beres untuk pulang, kadang ada beberapa pekerja yang dilemburkan. Sore ini tak terlihat Zul, mungkin dia sudah lebih dulu mengantar Ratu. Aku menunggu lumayan lama, Zul sudah berpesan hari ini kami akan pulang bareng.

"Naya!" Serasa ada seseorang memanggil namaku, tapi samar, mungkin saja bukan untukku, karena teman-teman sudah pulang lebuh dulu. Aku anteng melihat ponsel, sambil menunggu Zul.

"Naya Cantika!"

Suara yang memanggil kini cukup lantang dan terdengar jelas. Aku menoleh.

"Kang Ali?" Dia Ali, pengawas di bangunan sebelah bersama Zul.

"Mana Zul?" tanyanya. "biasanya pulang bareng."

"Nggak tahu, nganterin pacarnya pulang dulu mungkin, Kang," jawabku.

"Nganterin Ratu?"

"Iya."

"Teman lain sudah pulang?"

"Sudah."

Aku kembali pada layar ponsel, lalu teringat sesuatu.

"Eh, Kang, tahu nggak kenapa hari ini Tiyas nggak masuk?" Aku bertanya pada Ali, karena kata Tiyas mereka satu kampung.

"Kata ibunya, dari kemarin Tiyas nggak pulang, di rumah mereka lagi ada maslah keluarga. Kemarin, Tiyas masuk kerja kan, tapi nggak pulang ke rumah, mungkin ikut ke rumah Muklis, dia juga hari ini nggak masuk," jawab Ali. Muklis adalah pacar Tiyas.

"Oh, tapi kok nggak nelpon atau SMS ya."

Tak biasanya Tiyas begitu, biasa kalau ada masalah apapun, dia akan cerita padaku atau pada Lilis dan Nining.

"Aku kurang tahu, mungkin lagi nggak mau diganggu."

"Iya, mungkin."

"Kamu mau pulang? Aku antar ya?" ajak Ali. "kalau nunggu Zul nanti keburu sore, rumah kamu jauh, keburu gelap sampai rumah."

"Kita 'kan beda arah, Kang." jawabku.

"Nggak apa-apa aku bisa anterin kamu, ayo!" ajaknya lagi.

"Beneran ni nggak apa-apa? Nanti aku ngerepotin." Aku masih segan. Ali memang baik, aku kenal dengannya karena dia satu bangunan dengan Zul, dan laki-laki itu juga yang mengenalkan kami.

"Nggak apa-apa, kamu SMS aja Zul bilang kalau aku antar pulang."

Aku mengangguk, karena hari sudah mulai senja. Belum tentu juga Zul balik lagi ke sini. Setelah mengirim pesan, aku naik motor Ali, menerima ajakannya.

Hari belum terlalu gelap, tapi di kejauhan terlihat awan menghitam, pertanda akan turun hujan. Ali mengebut motornya, takutnya keburu hujan.

Di sepanjang jalan sudah sepi, tak terlihat orang-orang yang pulang dari pabrik berjalan kaki, mungkin saja mereka sudah sampai ke rumah masing-masing, karena aku menunggu Zul di pabrik tadi cukup lama.

Bruk! Brak! Motor Ali hilang keseimbangan.

Aku tersentak, tubuhku terpental menggelinding jatuh ke aspal, tapi aku masih sadar dan beristigfar.

"Nay, kamu nggak apa-apa 'kan?"

Ali yang tadi terjatuh, bangkit berjalan dengan kaki beringsut menghampiriku.

Aku masih bergeming mengingat kejadian sebentar tadi. Rasanya tadi tak melihat ada yang menghalang jalan, kenapa motor Ali bisa terguling? Tangan dan kakiku terasa sakit dan perih.

"Maaf, Nay. Tadi ada kain hitam melayang, jatuh tepat menutup wajahku, aku kehilangan keseimbangan," jelasnya. Ali melihat kanan kiri, melihat-lihat sekitar, tapi tak ada apa-apa.

"Kain hitam?" Biasanya jika ada yang aneh aku pasti akan lihat, atau tadi aku tengah melamun?

"Iya, ayo kita pulang." Ali membantuku bangun.

Aku dan Ali bangkit berjalan perlahan menuju motor Ali yang tergeletak, lampu motornya pecah, kaca spionnya sudah tak terpasang entah terpental ke mana. Untung saja masih bisa dihidupkan.

"Bawa motornya pelan-pelan aja ya," pintaku pada Ali sesaat setelah duduk di belakangnya.

Ali mengangguk dan berkali-kali meminta maaf.

***

Bunda terkejut melihatku pulang dengan pipi baret, ketika aku menyingsing lengan baju gamis dan legging ternyata tangan dan kakiku ikut baret-baret, lututku juga luka. Ali menjelaskan kejadian kecelakaan tadi pada Bunda, berkali kali minta maaf pada ibuku itu dan dia pamit pulang.

"Nay, berhenti aja kerjanya ya, Sayang. Di pabrik itu angker," pinta Bunda, suaranya lirih dengan tangannya yang terus mengusap luka di pipiku.

"Kata siapa, Bun?"

"Waktu itu bunda ke warung, di sana banyak ngomongin pabrik itu, katanya itu efek dari hutan di sebelahnya itu."

Luka baretku diolesi anti septik, lututku yang lukanya agak dalam di tetesi obat merah lalu Bunda menutupnya dengan kain kasa

"Ini kecelakaan, Bun, nggak ada hubungannya sama pabrik yang angker, atau hutan sebelahnya, kecelakaannya juga di jalan, jauh dari pabrik," sahutku.

"Bunda cuma khawatir, Sayang, denger penjelasan temen Nay tadi," ucap bunda. Aku dipeluknya.

"InsyaAllah nggak ada apa-apa, Bun."

Padahal biasanya aku penakut, tapi sengaja menampik semua prasangka agar Bunda tak berpikir macam-macam, aku masuh ingin bekerja, senang punya banyak teman, tak terus-terusan tinggal di rumah

***

   

Dua hari aku izin pada Zul untuk tak masuk kerja, tangan dan kakiku masih terasa sakit. Hari minggu pabrik libur, teman-teman pabrik datang menjenguk.

"Cepet sembuh, Nay. Kalau kamu sakit, aku nggak bisa ngojek, cuma kamu penumpang langganan," goda Zul. Padahal tiap kali aku bayar juga dia menolak.

"Iya, Nay. Nggak ada kamu pabrik jadi sepi," sahut Lilis terkekeh.

"He'euh asa aya nu kurang eweuh si Nay mah, kurang sambel," timpah Nining tertawa. Aku memang selalu membawa sambel di setiap bekalku.

Tiyas menghampiriku, "cepet sembuh, Nay. Aku kangen pengen curhat."

"Hmmm, nomor kamu kenapa sering nggak aktif?" tanyaku pada Tiyas. "Waktu itu nggak masuk juga nggak kasih kabar."

"Nanti aku cerita, kamu cepat sembuh, biar bisa curhat lagi."

"Eh, Nay. Kontrakan deket pabrik itu udah jadi lho, orang-orang udah pada booking, bukan cuma yang kerja di pabrik tapi warga deket situ juga ikut daftar, daripada kita pulang pergi jauh, mending ngontrak aja rame-rame, iya nggak?" saran Tiyas, dia memang sudah lama nyari kontrakan sekitar pabrik.

Lilis dan Nining angguk mengiyakan.

Dari awal pabrik itu beroperasi, pemilik pabrik membangun rumah kontrakan khusus untuk pekerja, tempatnya tak terlalu jauh dari pabrik, dekat pemukiman warga juga. Kontrakannya cukup banyak dan baru saja selesai.

"Iya, aku juga dah pesen di sana, jadi nggak usah bolak balik pulang, lumayan kok tempatnya, satu ruangan bisa tidur empat sampai lima orang, patungan aja biar rame," sahut Zul.

Aku melirik Bunda, meminta persetujuan. Berharap bunda mengizinkan.

"Sekarang Naya pikir sembuh aja dulu, baru pikir soal ngontrak," ujar Bunda.

Selesai bergurau senda menghiburku, teman-teman pamit pulang.

***

    Keadaanku sudah membaik, luka sudah mulai sembuh. Aku minta izin pada Ayah dan Bunda untuk masuk kerja kembali dan ingin ikut tinggal di kontrakan.

Teman-temanku sudah memesan satu kamar untuk kami empat orang, selain irit, aku juga tak perlu bolak balik pulang ke rumah ini yang jaraknya lumayan jauh.

Sebagai anak perempuan satu-satunya yang tak pernah jauh dari orang tua, jelas bunda agak keberatan. Aku berkali-kali memujuk Bunda, akhirnya ia mengizinkan.



***



profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Sosok Menyeramkan

Hari ini aku jadi pindah ke kontrakan, Ayah, bunda, Zul, Nining dan Lilis--ikut membantuku mengangkut barang-barang yang akan kubawa, itu pun tak banyak-- hanya beberapa stel baju kerja, baju tidur, baju sehari-hari dan alat-alat mandi--juga sedikit peralatan dapur. 

Tiyas sudah terlebih dulu ada di sana untuk membersihkan kontrakan yang akan kami tempati. Sampainya di sana, aku, Lilis, Nining dan Bunda menempatkan dan menyusun rapi barang bawaan yang kubawa dari rumah tadi; ayah berjalan mengelilingi ruangan yang hanya satu petak ini, ayah juga melihat-lihat sekeliling sambil berzikir dan membacakan ayat-ayat alquran.

Kontrakan ini tak begitu besar, hanya ada satu ruangan berbentuk segi panjang, luasnya cukup lumayan untuk tidur kami berempat, masih muat satu lemari kecil dan meja televisi yang aku bawa dari kamar Bunda yang katanya sudah tak terlalu terpakai. Di belakang ada sedikit ruangan untuk dapur dan kamar mandi.

"Nanti malam kita ngaji rame-rame di sini, rumah yang baru ditempati harus dibacakan ayat-ayat alquran, apalagi ini baru dibangun, agar setan dan jin nggak ikut tinggal di dalam rumah," ajak Ayah pada kami.

"Sekalian ya, Om. Ngaji di kontrakan aku juga," pinta Zul pada ayah sambil cengengesan.

"Kamu juga jadi ngontrak Zul?" tanya Ayahku.

"Iya, Om, biar nggak bolak balik."

"Baguslah, sekalian bisa jaga Naya."

Temanku itu tampak mengangguk antusias.

"Nanti sekalian Om ngaji di rumah kontrakan kamu," lanjut Ayah sambil tersenyum.

Malamnya, kami semua mengaji seperti yang disarankan Ayah tadi siang. Setelah semua selesai, Ayah dan Bunda pamit pulang. Darwis tadi tak ikut, dia dititipkan di rumah tante yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kami. Entah seperti mau pergi jauh saja, Bunda menangis memelukku dan berpesan ini itu, harus begini dan begitu.

"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Kalau ada apa-apa telepon Bunda ya, Nak." Bunda mengusap-ngusap pipiku. Tampak matanya berkaca-kaca, sedih tak ingin berpisah denganku. 

Padahal rumah kontrakan ini bukan di luar kota, masih terbilang tak terlalu jauh dari rumah kami, hanya butuh waktu tiga puluh menit  perjalanan saja jika jalan kaki, malah lebih cepat jika naik motor. Kapan saja aku bisa pulang jika merasa rindu. Begitulah mungkin perasaan setiap orang tua, selalu merasa khawatir jika berjauhan dari anaknya.

"Bunda jangan sedih, nggak usah khawatir, aku di sini InsyaAllah baik-baik saja, di sini 'kan ramai orang, nanti kalau ada apa-apa, aku langsung hubungi Bunda," ujarku seraya memeluknya.

"Kamu belum pernah jauhan dari bunda sama Ayah, takutnya nanti nggak bisa tidur di tempat baru." Bunda masih tampak khawatir.

"Bunda doakan biar aku betah," bujukku.

Setelah meyakinkan Bunda agar tak terlalu bimbang, perempuan yang selalu memanjaku itu pun akhirnya mau pulang. Beberapa kali menelepon saat beliau sampai di rumah, aku sampai geleng-gelejng kepala dengan tingkah Bunda yang sulit melepas anak gadisnya.

  

Malam ini malam pertama aku dan teman-teman tidur di tempat baru, alhamdulillah semua aman dan baik-baik saja. Aku juga tak merasakan ada hawa negatif di dalam rumah ini. Dikarenakan kami cukup lelah beres-beres tadi siang, malam ini kami tidur sangat pulas.

***

     Subuh sekali kami sudah bangun, seperti biasa kami harus siap-siap untuk kerja. Dari sini ke pabrik jaraknya cukup dekat, hanya berjalan kaki beberapa menit saja, jadi tak terlalu terburu-buru. 

Di rumah ini hanya ada satu kamar mandi, sebab itu kami harus mengantri bergantian untuk membersihkan diri. Daripada waktuku dipakai hanya untuk menunggu saja, bergegas ke dapur bersiap untuk masak sarapan. Sekalian masak untuk makan siang nanti, kali ini tak perlu bawa bekal untuk makan siang, kami bisa pulang dulu ke kontrakan ini jika jam makan siang tiba nanti.

Ternyata di luar sudah ramai orang, orang-orang yang baru pindah ke kontrakan ini, sama seperti kami. Ada tetangga di depan rumahku sepasang suami istri yang baru menikah, mereka ramah menyapa mengenalkan diri ketika melihat kami keluar. Sedangkan di sebelahnya lagi suami-istri yang baru memiliki satu anak, suaminya terlihat judes, tatapannya sinis  pada kami, kurang menyapa saat bertemu muka.

Kontrakan samping kanan-kiriku masih kosong. Zul sengaja mengambil kontrakan paling ujung, masih satu baris dengan kontrakanku. Zul tinggal dengan temannya sama-sama pengawas, Muzi dan Ali. Kontrakan depan rumahku, semuanya sudah ada yang menempati, hanya blokku saja yang masih kosong tiga rumah.

Kontrakan  berjejer beberapa blok, tiap blok ada enam rumah saja. Yang sudah selesai hanya baru dua blok yang kami tempati ini, sementara blok yang lain masih dalam proses pembangunan.

Hari ini kami bekerja seperti biasa, waktu makan siang, kami pulang untuk makan di rumah kontrakan, dan sorenya seperti biasa aku dan teman-teman bersiap untuk pulang bersama.

"Nay, hari ini kamu harus lembur," ujar Muzi ketika melihat aku sedang bersiap untuk pulang.

"Aku sendirian?" tanyaku.

"Nggaklah, kalian berempat. Geng wonderfull girl," jawab Muzi mengusik, dia terkekeh.

"Semua baju sudah beres, memang apa yang mau dikerjakan?" tanyaku lagi.

"Masih ada di gudang, tadi belum sempat dikasih ke kalian, barang yang itu target harus beres semua hari ini, besok jadi nggak tercampur dengan barang baru, nggak banyak kok, Nay," jelas Muzi.

"Di bangunan lain nggak ada barang yang harus dirombak?" tanyaku lagi, berharap yang lembur bukan cuma kami. Aku dan teman-teman khusus mengerjakan barang yang dikerjakan karyawan bangunan tempatku saja, karena tiap bangunan sudah ada yang bekerja seperti kami, jadi punya bagian masing-masing.

"Cuma bangunan ini kerja karyawannya kurang tapi, makanya banyak barang yang ditolak, bangunan lain jarang, udah pada andal."

"Termasuk kurang beruntung kali ya aku kerja di bangunan ini, banyak barang kena rejek," usilku.

"Malah aku yang beruntung."

"Maksudnya?" Aku menautkan alis mendengar ucapan Muzi yang terdengar pelan tapi jelas.

"Ya beruntung lah, bisa lembur, nambah penghasilan." Muzi tersenyum lagi.

"Iya juga sih, tapi temen aku yang lain sudah keluar tadi, aku panggil dulu," kataku.

 Muzi mengangguk. 

"Terus yang jaga siapa?" tanyaku lagi pada Muzi  sebelum keluar memanggil yang lain.

"Aku sama Zul," jawabnya singkat.

"Zul nya mana?"

"Ke kantor, kasih laporan dulu."

"Belakangan ini nggak ada yang sift malam. Biasanya jika kejar target, sering ada karyawan yang harus lembur."

"Nggak ada, kalau udah mencapai target itu nggak ada sift malam, siang saja."

"Pantesan, bulan ini jarang lembur, nggak ada bonus," ucapku mengusik. Jika lembur itu sebenarnya sangat lumayan, menambah penghasilkan, karena hitungnya bukan dari barang yang dikerjakan, melainkan per jam.

Aku keluar menghampiri temanku yang sedang menunggu di luar dan mengatakan pada mereka hal yang tadi Muzi  perintahkan. Nining tampak kecewa, tapi ikut juga masuk kembali ke dalam. Langkahnya lunglai.

"Padahal geus nyareuri awak ieu teh," (padahal  badan sudah pegal) gerutunya.

"Barangnya cuma sedikit, pasti nggak lama kok," rayuku pada Nining. "Lumayan lho, tambah uang jajan."

"Iya, Ning, kumpulin buat modal nikah," timpal Tiyas.

Kali pun kembali bersiap untuk mengerjakan barang yang harus dirombak dan diperbaiki malam ini.

Beberapa helai baju selesai kami kerjakan, adzan magrib berkumandang. Zul dan Muzi meminta kami menghentikan dulu  pekerjaan untuk Salat Magrib dan kami bergegas mengambil air wudu ke toilet.

Di dalam toilet ada empat WC yang berjajar, tapi karena kami penakut, kami menggunakan satu WC saja bergantian dan saling menunggu. Setelah selesai, kami segera menuju ke mushola yang jaraknya tak jauh dari toilet.

Baru saja sampai mushola, kulihat pergelangan tanganku kosong, teringat tadi sebelum wudu melepas jam tanganku, dan pastinya tertinggal di toilet.

"Tunggu sebentar, ya. Jam tangan aku ketinggalan." 

"Ketinggalan? Mau diantar nggak?" tawar Tiyas.

"Nggak usah, bentar kok." Aku berlari anak menuju toilet.

Sampai di sana, ternyata benar, jam tanganku ada di sana.

Bruugghh!

Tanganku masih mengambang, belum sempat mengambil jam tangan itu. Terdengar suara bantingan pintu sangat kuat, membuatku tersentak kaget. 

"Tiyas?!" Aku memanggil salah satu temanku, karena tadi dia menawarkan mau mengantar. Mungkin itu dia. 

Namun, tak ada sahutan, toilet ini hening.

Atau mungkin itu angin, hingga pintu tertutup kencang? Tapi jika pintu terbuka arahnya kan ke dalam, lalu angin dari mana? Pertanyaan berputar-putar di kepalaku. 

Keteplak ... keteplak.

Terdengar suara hentakkan sepatu berjalan ke arah kamar mandi tempatku mengambil jam tangan. Anehnya tadi saat aku memanggil tak ada yang menyahut, tak mungkin jika itu pengawas, karena ini toilet khusus wanita.

 Aku yang masih tertegun dengan suara bantingan pintu dan langkah sepatu mengernyitkan kening. Mungkin saja salah seorang temanku yang datang mencari dan sengaja mengerjai. Segera kuraih jam tangan lalu keluar dari WC, tapi...

Hening!

Tak ada siapa pun di toilet ini, pintu juga terbuka lebar, masih sama saat aku masuk tadi. Lalu tadi suara apa? Jantungku berdetak kencang, cepat-cepat aku keluar dari toilet. Teman-temanku masih berdiri menunggu di depan mushola, tak kuceritakan kejadian di toilet tadi. Bimbang jika mereka malah ketakutan, karena yang lembur cuma kami.

Memang ada juga orang-orang kantor yang biasa lembur dan pulang malam, begitu juga pengawas, tapi kalau sampai teman-tamanku ketakutan gara-gara ceritaku, nanti kerja malah tak akan lancar dan tak tenang.

Kami masuk ke mushola lalu salat, setelah selesai kami kembali masuk ke pabrik melanjutkan pekerjaan. 

Untuk menghilangkan jenuh dan sunyi selama bekerja lembur, kami bergurau senda, Nining yang suka sekali bercanda terus saja mengoceh.

"Ngenes pisan hidupku, pengen mah ada yang melamar, tapi boro-boro dilamar, kabogoh ge teu boga (pacar juga  nggak punya)kerja wae bosen," Keluhnya, tangannya tangkas memainkan mesin jahit. Birapun begitu Nining tetap saja tertawa.

"Nggak usah sedih, sama aku juga jomlo," sahutku. Aku ikut tertawa.

Lilis dan Tiyas menggeleng sambil tersenyum geli mendengar celotehan aku dan Nining

Muzi datang menengok kami, kulihat Zul juga menyusul dari belakang lalu menghampiri ke arahku.

"Nay, kalau nanti kemalaman, Ratu nginep di kontrakan kalian ya, boleh kan?" tanya Zul.

"Iya boleh." Aku menjawab.

Nining tampak tak setuju dengan permintaan Zul, mukanya ditekuk, bibirnya manyun ke depan. Aku hanya tersenyum  melihat tingkah Nining.

"Di kantor ada siapa aja, Zi?" tanya Lilis menatap lekat ke arah Muzi yang berdiri di sebelahnya.

"Banyak, 'kan masih ada yang lembur," jawabnya datar tanpa menoleh ke arah Lilis.

Kami pun mengobrol sambil cerita apa saja, memecah suasana malam yang makin sunyi.

Tap...Srek! Tap...Srrrek! 

Suara di luar seperti orang yang sedang berjalan menyeret kaki, mirip orang pincang ketika suara sepatunya mengentak lantai, langkahnya lambat. 

"Kalian dengar nggak?" tanyaku pada teman-teman yang tengah mengobrol.

"Dengar apa, Nay?" tanya Zul.

"Coba dengan deh, kayak ada suara di luar."

Kami semua tak bicara, mendengar suara yang aku dengar tadi dan suara itu makin jelas terdengar mendekat.

Suara langkah kaki itu makin mendekat ke bangunan ini

Pandangan kami menoleh ke arah jendela kaca. Jika ada orang, setelah melewati tembok pasti orang itu akan terlihat berjalan melewati jendela kaca bangunan ini. 

Namun setelah ditunggu beberapa saat, tak juga kunjung terlihat ada orang yang lewat sedangkan langkah kaki itu tepat ada di depan bangunan ini. Kami semua saling tatap, suara orang berjalan masih terdengar semakin mendekat, tapi sosoknya entah di mana.

Tiba-tiba mataku menangkap sesuatu di balik kaca itu, menyeramkan.

"Aaaragggggghhhhh!"

"Nay, ada apa? Kamu kenapa?" Zul dan teman-teman turut kaget mendengar aku menjerit.

"I-itu." Telunjukku mengambang menunjuk ke arah jendela kaca seraya diliputi rasa takut.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Anak Hilang

Teman-tamanku keheranan, katanya mereka tak melihat apa yang tengah kulihat saat ini, mereka saling tatap bertanya-tanya.

"Mana ih? Aku nggak ada apa-apa juga." Lilis celingukan mendekati jendala kaca.

"Ta-tadi." Telunjukku mengambang di udara, di sana tak ada siapa-siapa, tapi jelas tadi aku melihat seseorang di luar sana. Apa itu makhluk tak kasat mata?

"Minum, Nay." Zul menyerahkan minuman yang ia bawa.

"Kamu ngantuk, Nay?"

"Iya mungkin, aku tadi kayak lihat ... ah atau mungkin cuma halusinasi." Aku yakin dengan apa yang aku lihat, tapi jika diperpanjang malah akan membuat teman-temanku gusar.

"Eh, tapi dengar deh, suara itu masih ada, itu suara sepatu kan?" Tiyas menatap kami, dan aku juga sama mendengar hal itu, cuma sekarang jauh.

Zul dan Muzi bergegas ke luar untuk melihat, tak lama kemudian mereka kembali.

"Nggak ada orang," kata Muzi menggelengkan kepalanya.

Aku yang masih tak percaya mengusap dada yang detaknya tak beraturan melihat sosok perempuan gaun merah yang pernah kulihat di toilet waktu itu, tapi kali ini wajahnya menakutkan, penuh belatung.

"Kok aku merinding ya, jangan-jangan...." Zul menakuti lalu dia tergelak  melihat wajah kami yang tegang karena ketakutan.

"Zul, jangan bercanda. Tadi siapa sih? Beneran nggak ada orang? tanya Tiyas.

"Nggak tau, memang di luar nggak ada orang kok. Sudahlah nggak usah dipikirin, mungkin kucing narik-narik kresek," tandasnya. Zul mengajak kami ngobrol untuk menghilangkan ketegangan.

***

     Jam sembilan malam pekerjaan kami selesai, aku membereskan meja dan alat-alat tempurku. Setelah semua selesai, kami berjalan keluar.

Ratu datang menghampiri kami. Ya kata Zul dia juga masih ada kerja di kantor, jadi ikut kerja lembur.

"Aku nggak jadi nginep di kontrakan mereka ah Zul, masih belum larut kok.  Anterin aku pulang ke rumah aja ya, Sayang?" Ratu merengek pada Zul, tangannya menggandeng erat tangan Zul.

"Nanti aku sampai ke kontrakan aku kemalaman, Ratu. Cuma malam ini aja kamu tidur di kontrakan mereka, ya?" pinta Zul, memasang wajah memelas.

Ratu merungut tanda tak setuju. "Aku nggak mau, pokoknya mau pulang!" kukuhnya.

"Ih, saha oge nu hayang kaendongan ku jelama ganjen," (siapa juga yang mau dia nginep) gerutu Nining berisik padaku.

Aku meletakkan telunjuk di bibir sambil menahan tawa, agar Nining tak cari masalah dengan Ratu.

"Ya sudah, ayo aku antar," sungut Zul terpaksa ketika melihat Ratu merengut.

"Makasih, Sayang." Ratu tersenyum manja.

"Hueeek!" Nining mengejek.

"Apa Lo?" Ratu melihat Nining.

Nining mengedikkan bahu. Lilis dan Tiyas menahan tawa melihat gelagat teman kami satu itu.

"Ayo ah pulang, aku lapar," ajakku sambil melangkahkan kaki menuju ke arah pintu gerbang menarik tangan Nining dan teman-teman lain.

Kami berjalan beriringan, sedangkan pikiranku masih pada pemandangan di kaca jendela tadi. Aku menoleh ke arah kantor yang sudah sepi, sepertinya semua pekerja sudah pulang, lampu di dalam kantor sudah terlihat gelap.

Mataku menangkap sesuatu, sesosok perempuan berjalan menyeret kakinya di samping kantor. Langkahku terhenti, apa itu sosok perempuan tadi? Tapi kenapa dia menuju ke belakang, ke arah hutan, keningku bertaut. Sebenarnya siapa itu? Manusia atau?

"Zi, di kantor  masih ada orang kah?" tanyaku pada Muzi. Penasaran dengan apa yang aku lihat.

Semua yang berjalan terhenti menoleh ke arahku, lalu mereka ikut menoleh ke arah kantor mengikut arah kepalaku yang masih memandang ke sana.

"Nggak ada, tuh sudah sepi. Semua sudah pulang," jawab Muzi. "Kenapa memang?" lanjutnya.

"Ng-nggak, ayo pulang," ajakku.

Zul menatap, seakan menelisik tingkahku saat ini.

Aku membuang muka, lalu mengajak yang lain melanjutkan berjalan ke rumah kontrakan.

Mungkin saja itu salah satu makhluk yang bisa kulihat, harus bisa menahan takut agar tak menyebabkan geger di sekitar pabrik terutama teman-teman. Lagi pula hal itu sudah sering aku saksikan, dan biasanya tak mengganggu, hanya memperlihatkan diri dan hilang begitu saja.

-----------

    Keesokan harinya, kami beraktivitas seperti  biasa. Bergelut dengan kain yang  akan kami jahit, belum ada baju yang bisa kami kerjakan untuk di repair, kemarin sudah selesai semua.

Hari ini datang barang baru berupa kain yang siap untuk dijahit menjadi baju sesuai model yang sudah dicontohkan. 

Waktu makan siang tiba, aku dan teman-teman berjalan pulang untuk makan siang di kontrakan.

"Naya, tunggu!"

Aku menoleh ke arah suara  yang memanggilku.

"Ada apa, Zul?" tanyaku yang melihat Zul berlari ke arahku.

"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, kita makan siang bareng di kantin, aku traktir," sahut Zul, napasnya tersengal karena berlari tadi.

Aku melirik ke arah teman-temanku, solah-olah meminta pendapat tanpa bicara bahwa aku tak bisa pulang makan bareng dengan mereka.

"Yaudah, Nay, ikut saja, nggak apa-apa," ulas Tiyas seakan mengerti kode dariku.

"Ehem, roman-romannya ada sesuatu nih," usik Lilis.

"Kahade aya nu ngadat (hati-hati ada yang ngamuk)," timpal Nining mengusik sambil cekikikan.

Aku mengerti siapa yang mengamuk yang dimaksud Nining.

"Apaan sih kalian ini," kesalku pada isikan mereka.

"Kita duluan ya, Nay, moga sukses," goda Tiyas. Mereka tertawa lalu berjalan meninggalkanku dan Zul.

Aku dan Zul berjalan menuju kantin.

"Kamu pesan apa?" tanyanya.

"Apa aja."

"Ok, cari meja, aku ke sana pesan makanan." Lelaki itu memesankan makanan dan minuman untukku. Sedangkan aku mencari tempat duduk sesuai permintaannya.

Tak lama Zul datang membawa makanan yang dia pesan, satu porsi nasi campur dan segelas air teh manis dingin di serahkan ke arahku yang sudah duduk lebih dulu.

"Makasih, Zul."

"Sama-sama, selamat makan."

"Ada apa, Zul? Kamu bilang ada yang mau diomongin?" tanyaku memulai percakapan. Aku menyuap makanan ke mulutku menunggu sambil menunggu jawaban dari Zul.

"Ayo di makan dulu ," ajaknya belum menjawab pertanyaanku. Padahal tanpa dia suruh, aku sudah menyantap duluan.

"Malam tadi, aku lihat juga apa yang kami lihat."

Aku yang sedang mengunyah, berhenti seketika. "Maksud kamu suara sepatu sama yang ada di jendela?" tanyaku sedikit terkejut dengan pengakuan Zul.

"Iya, sama yang berjalan di dekat kantor."

"Jadi kamu juga...."

Aku menghentikan  pertanyaanku dan menatap penasaran pada Zul.

"Iya, aku juga bisa lihat," jawab Zul sambil terus menyuap makanan ke mulutnya. Dia seperti tak merasa heran.

"Sejak kapan?"

"Sejak kecil, sama seperti kamu, aku tahu kamu bisa lihat hal itu dari dulu. Kamu ingat kakek aku? Dulu aku sering ikut kakek kalau kebetulan Kakek dipanggil ke rumah kamu."

Aku tak terlalu ingat apa yang diceritakan Zul, tapi memang dulu Ayah dan Bunda sering memanggil seseorang untuk meruqiyah, dan itu Kakek Zul.

"Jadi kamu tahu kekurangan aku?" Ya bagiku itu suatu kelemahan.

"Kita sama kok, bisa melihat hal-hal seperti itu, malah mungkin aku lebih dari itu," lanjutnya. Zul menyeruput teh manis di hadapannya yang isi gelasnya penuh dengan es batu.

Aku yang tak mengerti dengan maksud Zul, aku bertanya. "Maksudnya gimana? Lebih apanya?"

"Kamu pernah nggak, melihat bayangan orang lain yang geraknya berbeda dengan si pemilik tubuh?"

"Aku nggak ngerti," jawabku yang memang masih belum bisa menangkap arah pembicaraan Zul.

"Begini ... kalau kita berdiri, bayangan  kita pasti ikut berdiri juga, kan? Kalau duduk, bayangan kita duduk, kan?"

Aku mengangguk mendengar  pernyataan Zul.

"Nah, aku pernah lihat beberapa kali orang yang kerja di pabrik ini, bayangannya bergerak-gerak nggak sejalan sama orangnya. Beberapa hari setelahnya, aku dengar ada orang tua yang mencari anaknya ke pabrik ini karena anaknya sudah tiga hari nggak pulang," jelas Zul yang masih saja mengunyah makanannya.

"Orang hilang?" Aku sama sekali tak pernah mendengar kabar itu.

"Iya, orang kantor bilang sama si ibu yang mencari anaknya itu, katanya si anak sudah tiga hari mengundurkan diri, sudah nggak kerja lagi di pabrik ini. Awalnya aku pikir biasa aja, mungkin anaknya minggat dari rumah karena ada masalah atau apa."

"Terus?" Aku penasaran dengan cerita Zul.

"Ternyata bukan sekali itu saja, Nay. Selama empat bulan ini sudah ada empat  orang yang datang ke pabrik, mencari anaknya yang nggak pulang, aneh nggak?" tanya Zul. Makan nya malah semakin lahap.

"Kok bisa? Berarti ... dalam satu bulan ada yang hilang satu orang, gitu?" tanyaku yang masih belum mengerti juga maksud pembicaraan ini.

"Iya, kamu percaya nggak, Nay. Mungkin saja kehilangan anak mereka ada hubungannya dengan hutan di belakang pabrik," ujarnya.

Ah, makin tak paham saja aku dengan cerita Zul.

"Selama ini warga percaya, orang yang pergi ke hutan itu nggak akan balik lagi. Tapi apa yang aku rasa, hal ini lebih dari itu, Nay."

"Maksud kamu, mereka yang hilang itu, pergi ke hutan dan nggak balik lagi? Seperti rumor warga selama ini?"

"Nanti deh aku sambung lagi ceritanya, kamu kayaknya masih bingung dan belum menangkap cerita aku," timpalnya menghabiskan makanan.

"Ya kamu cerita harus jelas, yang detail, biar aku ngerti." Memang aku belum juga mengerti apa yang dimaksud  oleh Zul.

"Iya nanti deh, aku jelaskan sejelasnya, waktunya harus tenang dan tepat, bukan di sini."

Aku dan Zul menyelesaikan makan siang kami, lalu kembali ke pabrik untuk Salat dzuhur. Kulihat Ratu sudah berkacak pinggang di pintu masuk, aku tak menghiraukannya.

Ratu menarik tanganku ketika lewat di dekatnya.

"Kamu ngapain jalan bareng sama pacar aku?" tanyanya ketus.

"Ada yang kami bincangkan, kami nggak ngapa-nagapain kok."

"Bohong! Kamu sengaja kan pengen selalu deket sama Zul?"

"Ratu! Aku sengaja ajak dia makan siang, ada kerjaan dari kantor untuk Naya sama teman-temannya." Zul yang datang barengan membantah tuduhan Ratu.

Perempuan itu tak mengindahkan ucapan Zul, ia terus memaksaku agar mengatakan kenapa kami bisa makan bersama.

Aku melepas paksa tanganku dari cengkeraman Ratu, dan berlalu tanpa menjawab pertanyaannya.

Seperti biasa dia berhambur ke arah Zul sambil merengek, sempat aku melirik ke arah mereka, sepet melihat Ratu.

Hueek. Kutiru gaya Nining. Kesal rasanya melihat Ratu dengan Zul hari ini. Apa aku cemburu? Ah, tak mungkin. Kenapa juga harus cemburu? Aku menggeleng-geleng kepala.

----------

      Aku dan teman-teman pulang kerja seperti biasa jam empat sore, berjalan pulang sambil bercerita hal-hal lucu, tak terasa kami sampai di  kontrakan. Di depan rumah tetangga depan rumah sudah berkumpul beberapa orang, mereka mengobrol satu sama lain, sementara Mbak Rani--tetangga depan rumah--terlihat menangis meraung-raung. Kami yang baru sampai, bergegas menghampiri.

"Ada apa ini, Pak?" Aku bertanya  pada  salah satu tetangga yang sedang berkumpul.

"Anaknya Mbak Rani hilang, sudah dicari ke tiap kampung terdekat, belum juga ketemu," jawabnya.

Aku dan teman-temanku keheranan dan saling bertanya.

Zul dan Muzi baru sampai, melihat kami berkumpul, dia menghampiri dan ikut bertanya. Aku ceritakan  pada Zul dan Muzi yang diceritakan tatangga tadi.

"Biar pun dia itu anak tiri, tapi Akang nggak pantes memarahinya begitu! Lihat  Kang, sekarang anakku pergi nggak tau ke mana!" ucap mbak Rani yang masih terus menangis dan terlihat kesal pada suaminya.

Kang Ujang hanya diam saja, anteng menghisap rokoknya tanpa peduli pada ocehan istrinya dan kerumunan warga.

Kesal rasanya melihat tingkah Kang Ujang yang tak acuh begitu saat melihat istrinya panik dan menangis.

"Ternyata Ardi itu anak tirinya kang Ujang ya, Nay. Pantesan aja sikapnya sama Ardi, hare-hare (tak peduli)," bisik Nining padaku.

Aku juga baru tahu kalau Ardi anak tirinya kang Ujang.

"Kira-kira Ardi ke mana ya?" Tiyas bertanya padaku yang jelas tak tahu jawabannya.

Seorang perempuan tua warga kampung ini, datang tergopoh-gopoh menuju ke arah kami. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.

"Tadi siang saya ke hutan cari kayu bakar, Neng. Di jalan ada seorang anak masuk ke dalam hutan, sudah dilarang sama mang Karta, tapi anak itu maksa dan lari masuk ke hutan, apa mungkin itu anaknya si Mbak yang hilang, ya?" ujar si Ibu sedikit  berbisik ke arah kami.

"Jadi Ibu lihat anak itu?" tanyaku.

"Nggak tau sih anak siapa, tapi emang ke hutan dan nggak bisa dilarang."

"Kira-kira anaknya umur berapa tahun, Bu?" tanya Zul membantu bertanya. Karena kami tau dari perkenalan hari itu, Mbak Rani bercerita usia anaknya sebelas tahun.

"Kira-kira sepuluh tahunan lah, kurang tau persisnya, tinggi kurus anaknya. Kalau bisa cari saja ke hutan sekarang mumpung  belum malam. Kalau nunggu besok pagi, takut udah nggak  bisa ketemu," jawab Ibu itu, seperti takut mau bicara.

Apa mungkin  anak yang masuk ke hutan itu adalah anak mbak Rani? Aku dan Zul saling tatap.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Rencana Mencari Anak yang Hilang

Untuk memastikan apakah benar anak Mbak Rani yang masuk ke hutan itu, kami  mengajak warga untuk sama-sama mencari anaknya. Warga yang sudah lama tinggal di kampung ini cukup ragu ikut ajakan kami. Mereka takut dengan rumor yang selama ini mereka dengar.

"Kita lapor dulu saja ke Pak RT, kita lihat bagaimana keputusan dari Pak RT," sahut seorang warga memberi saran.

"Iya, soalnya itu 'kan hutan larangan, kami nggak mau gegabah," sambung warga yang lain.

Kami pun sepakat melapor ke pak RT dulu, Pak RT yang sudah di beri tahu mengeluarkan imbauan dan arahan untuk mencari anak Mbak Rani sebelum malam. Setelah semua warga setuju, kami berjalan menuju arah hutan. Kulihat gerbang pabrik masih terbuka, sepertinya masih ada yang bekerja, biasanya di jam ini yang bekerja itu bagian kantor dan bagian gudang.

Kami berjalan melewati pabrik, sedikit jauh dari pabrik tampak satu pos jaga. Karena akses jalan ke hutan hanya satu-satunya melewati pos jaga dan di kunci oleh Kuncen yang berjaga pos tersebut, jika ingin masuk ke dalam hutan harus ada ijin. Setibanya di sana, Pak RT dan warga meminta ijin terlebih dahulu pada Kuncen yang sedang berjaga.

"Assalamualaikum, Pak," sapa Muzi pada Kuncen hutan ini.

"Eh, ZI, ada apa?"

"Ngomong saja sama warga, Mang, biar lebih jelas." Muzi tampak sudah mengenal laki-laki itu.

Laki-laki tua itu mendelik melihat banyak orang menuju ke arahnya, padahal hari sudah mulai gelap, sebentar lagi magrib.

Muzi kembali ke arahku.

"Itu kuncen di sini, Zi?" tanyaku.

"Iya, namanya Mang Karta."

Aku dan teman-teman pernah mendengar tentang kuncen ini, katanya dia penjaga tetap dari awal hutan ini ditutup.

"Ada apa ini rame-rame datang kemari?" Mang Karta langsung melempar pertanyaan pada warga.

"Begini, Pak. Kami dapat kabar kalau anak salah satu warga yang mengontrak di kampung ini hilang, ada saksi yang melihat katanya anak itu masuk ke dalam hutan larangan ini," kata Pak RT menjawab pertanyaan Mang Karta.

"Kata siapa? Dari pagi saya jaga di sini, nggak ada anak kecil yang masuk kecuali warga yang berkebun dan mencari kayu bakar." Mang Karta terlihat kesal. Tatapannya menyapu sinis pada warga yang datang.

"Tapi ... menurut saksi, Bapak juga melihat anak itu masuk ke hutan, malah Bapak sudah melarangnya dan anak itu tetap berlari masuk bebarengan dengan warga yang mau keluar dari pintu pagar itu," sambung warga yang lain. Tangannya menunjuk ke arah pintu pagar kawat yang sudah di kunci.

"Nggak ada! Saya nggak lihat, gimana anak-anak bisa masuk, pagarnya saya kunci kok, mending kalian pulang, kalu mau masuk ke hutan, tunggu besok pagi saja. Sekarang sudah lewat waktu yang sudah ditetapkan, saya nggak akan izinkan!" jawab Mang Karta, suaranya agak membentak.

"Tapi Pak ... kalau siang 'kan pintu hutan ini nggak pernah dikunci, warga bebas masuk kapan saja asal-"

"Sudah! Ini demi keselamatan warga, saya nggak mau ambil risiko, kalau kalian maksa, silakan. Jangan salahkan saya kalau kalian nggak bisa kembali dari hutan itu," sela Mang Karta pada Pak RT yang tak sempat melanjutkan perkataannya.

Mbak Rani malah meraung histeris mendengar penolakan Mang Karta.

"Tolong, Pak. Tolong anak saya, dia di hutan sendirian, hari sudah mulai gelap, anak saya pasti ketakutan," pinta Mbak Rani memohon pada Mang Karta, tapi permintaannya tak dihiraukan.

Setelah dibujuk berkali-kali oleh warga, Mang Karta tetap kukuh dengan ucapannya, dia tetap tak mengizinkan kami masuk ke hutan dan meminta besok pagi saja.

Warga memilih pulang, mereka juga takut jika memaksa masuk ke hutan, keselamatan mereka bisa terancam. Aku dan teman-teman lain pun ikut pulang, aku dan Nining menggandeng Mbak Rani yang jalannya sempoyongan, dia terus menangis.

"Besok saja Mbak, kita cari sama-sama, berdoa aja semoga Ardi baik-baik saja," ucapku pada Mbak Rani untuk menenangkan perasaannya.

"Bukannya menurut kepercayaan warga, kalau nggak dicari sekarang, anakku nggak akan bisa ketemu lagi, aku takut nggak bisa ketemu lagi sama Ardi"  jawab Mbak Rani,  tangisannya semakin sesenggukan.

"Kita pikirkan ini di rumah, Mbak tenang dulu, kalau dipaksakan juga tetap nggak bisa masuk ke sana."

Aku berpaling ke arah Zul dan Muzi, ingin tahu apa langkah yang harus kami lakukan, mereka hanya menggelengkan kepala tak bisa berbuat apa-apa.

***

        Kuantar Mbak Rani masuk ke kontrakannya, dari tadi Kang Ujang suami Mbak Rani hanya diam saja, tak merasa khawatir tak juga merasa kehilangan. Mbak Rani makin mengamuk pada suaminya itu sambil memaki, karena disebabkan suaminya itulah Ardi pergi dari rumah.

Ada tetangga terdekat yang menemani Mbak Rani untuk menghibur, sedangkan aku dan teman-teman pamit pulang. Badan sudah lelah bekerja, perut juga sudah sangat lapar.

Selesai mandi dan makan, terdengar adzan magrib berkumandang, kami bergegas gantian berwudu dan melaksanakan salat magrib. Selesai salat, kami berempat rebahan di depan TV menghilangkan penat setelah bekerja seharian.

Derrrrtt!

Suara getar dari ponselku, sengaja selalu memasang mode getar agar suara deringan tak mengganggu selama bekerja di pabrik. Aku beringsut mengambil ponsel yang masih di dalam tas, belum dikeluarkan semenjak pulang dari pabrik.

[Nay, bisa keluar sebentar? Jangan bilang temen-temen kamu, ada yang mau aku sampaikan, penting!] Pesan dari Zul.

Penting? Aku bertanya-tanya sendiri membaca pesan dari laki-laki itu. Kenapa Zul memintaku keluar secara diam-diam?

[Baiklah, aku keluar.] balasku.

"Aku mau ke warung beli camilan, ada yang mau nitip nggak?" tanyaku pada teman-teman yang sedang anteng menatap layar TV.

"Aku nitip snack kesukaanku ya, Nay," sahut Tiyas.

"Aku juga, samaan deh kayak Tiyas," timpal Lilis. Sembari menarik tasnya yang ada di meja TV dan mengambil selembar uang berwarna ungu pudar, lalu menyodorkannya padaku.

"Okey. Eh, kamu nggak mau ikut, Ning?" tanyaku pura-pura mengajak Nining agar mereka tak curiga.

"Moal ah, carape awak na (nggak ah, pegel badanya)aku juga nitip aja," jawab Nining.

Ah, aku lega,  Nining menolak ajakanku. Segera aku keluar dan menelpon Zul menanyakan di mana posisinya.

Zul menjawab dan mengatakan berada di blok kontrakan yang masih dalam proses pembangunan, tempatnya masih gelap, di blok bangunan tepat berada di belakang kontrakanku. Aku terheran kenapa Zul mengajakku ke tempat sepi?

"Ada apa Zul? Kenapa ngajak ketemuan di sini?" tanyaku segera setelah aku berhadapan dengan Zul. Aku melihat sekeliling yang sudah mulai gelap.

"Aku mau ngajak kamu nyari anaknya Mbak Rani ke hutan, kalau nunggu besok kasihan Ardi, belum tentu besok dia bisa ditemukan, seperti yang dikatakan warga," ucap Zul, tatapannya lurus ke mataku, raut wajahnya serius menunggu jawabanku.

Aku terperangah mendengar ajakan Zul.

"Hah? Ke hutan? Sekarang?"

"Iya, kamu mau ikut?"

"Ta-tapi 'kan ini udah lewat magrib, Zul," jawabku. Pikiranku berkecamuk. Tak tau apa maksud Zul mengajak mencari ke hutan malam ini dan memintaku merahasiakannya dari yang lain.

"Iya sekarang, cuma kita berdua saja. Kalau ngajak yang lain, malah nanti jadi  kacau, aku juga nggak percaya sama yang lain, aku takut kalau ramai orang yang ikut malah berisik dan ketahuan sama Mang Karta," ucapnya, tatapannya serius.

"Berdua aja? Kenapa harus sama aku? Aku takut ah, Zul. Kamu ajak Muzi dan Ali saja, mereka 'kan laki-laki, pasti lebih berani," tolakku baik-baik.

Aku benar-benar takut jika harus  masuk ke hutan itu malam-malam. Jangankan malam, siang saja aku belum tentu berani.

"Tadi Ali pulang dulu ke rumah ibunya sebentar, sementara Muzi ... aku kurang percaya dengan dia," ujarnya agak ragu-ragu.

"Kenapa dengan Muzi?" tanyaku heran.

Aku mengambil telepon genggam dari saku gamisku dan menyalakan lampu senter untuk menerangi bangunan kosong ini, keadaan sekeliling sudah tampak gelap, wajah Zul juga sudah tak terlihat jelas.

"Tadi sebelum pulang dari pos yang di jaga Mang Karta, aku berdiri di belakang Muzi, kudengar Mang Karta berbisik ke Muzi, 'perhatikan dan awasi warga kampung' begitu bisik Mang Karta itu ke Muzi," ucap Zul memberi tahu apa yang dia dengar.

"Terus, dia tahu nggak kamu mau ke hutan?"

"Aku tadi sengaja bohong sama Muzi kalau aku mau mengantar Ratu pulang, aku nggak mau Muzi curiga. Semenjak kami tinggal serumah, aku merasa aneh sama tingkah dia, aku ngerasa ada firasat kurang baik tentang si Muzi ini," timpalnya lagi.

"Terus gimana kita bisa masuk ke hutan itu? Pasti Mang Karta nggak bakal mengizinkan kita masuk, lagian kamu dengar tentang desas-desus nggak? Bukanya kalau kita ke sana lewat sore hari nggak akan bisa balik lagi?" Aku masih ragu untuk ikut ajakan Zul. Apalagi aku hanya perempuan dan juga cukup penakut.

"Aku cerita dikit sama kamu, Nay," ucap Zul menarik napas, lalu melanjutkan ucapan nya.

"Aku nggak percaya dengan rumor warga yang mengatakan hutan itu angker. Aku pernah coba masuk ke dalam hutan, Nay ...." Zul menghentikan perkataan nya sejenak.

Aku cukup kaget mendengar Zul pernah masuk ke hutan itu.

"Hah? Kamu masuk ke hutan itu, Zul? Kapan? Terus apa yang terjadi?" Aku memberondong Zul dengan pertanyaan dengan tatapan serius, mau tahu kelanjutan  cerita Zul.

"Iya, sekitar dua bulan yang lalu, Nay. Awalnya aku cuma mau menyusuri pagar kawat di pinggir hutan itu saja, penasaran dengan rumor warga sekitar. Aku cari di mana ujung pagar kawat itu, karena kata warga pagar kawat hutan itu terbentang sangat panjang hingga ke ujung gunung. Waktu itu masih sore, aku sendiri melihat-lihat pinggiran hutan, agak jauh dari batas kampung, ternyata pagar kawatnya ada yang terlepas dari besi penyangga, kawat seperti bekas guntingan atau potongan dan lumayan lebar. Aku coba  masuk, Nay." Zul menjeda ucapannya lagi, pandangannya melihat ke luar bangunan, lalu kembali ke arahku.

"Setelah aku masuk, aku melangkah menyusuri hutan, berjalan cukup jauh ke dalam hutan, Nay. Nggak ada apa-apa di sana, bahkan hewan buas juga nggak ada, aku duduk bersandar di bawah pohon, menunggu apa yang akan terjadi tapi nggak ada apa-apa. Sekitar dua jam aku berjalan-jalan melihat-lihat sekeliling hutan, aku keluar dengan selamat lewat jalan kawat tadi," ucap Zul menyelesaikan ceritanya.

Aku hanya mengedipkan mata berkali-kali, tak menyahut cerita Zul, entah aku harus percaya atau tidak pada cerita Zul.

"Gimana, kamu mau nggak nyari Ardi sama aku?" tanyanya lagi.

"Kenapa harus aku? Kenapa nggak sama Ratu aja? Dia 'kan pacar kamu," jawabku menolak. Entah cerita Zul itu nyata atau cuma rekayasa, tapi aku yakin laki-laki ini tak berbohong. Anehnya, dia iseng sampai masuk hutan, apa nggak takut?

"Nggak mungkin Ratu mau ikut, Nay. Mau pipis ke toilet siang bolong aja minta diantar. Aku juga nggak percaya sama dia," jelasnya.

"Kamu aneh, sama pacar saja nggak percaya."

"Beda lagi ceritanya, biar sama orang tua sekali pun, kalau nggak ada rasa percaya, nggak bisa dipaksa. Gimana? Kamu mau bantu cari Ardi?"

Aku terdiam masih berpikir dengan ajakan Zul, bagaimana kalau di hutan banyak hantunya? Biarpun aku sudah biasa melihat hal seperti itu, aku tetap saja takut. Bagaimana kalau di dalam sana betulan bahaya? Bagaimana kalau Ardi nggak ada di hutan itu? Ah, aku jadi parno sendiri.

"Nay?" Zul bertanya lagi saat belum juga ada jawaban dari bibirku.

"Jangan berdua, Zul. Aku takut," jawabku.

"Mmm, terus sama siapa? Ada yang kamu percaya?"

"Kang Ali gimana? Apa kamu percaya sama dia?"

"Baiklah. Aku coba SMS Ali saja, supaya dia cepat pulang ke kontrakan, semoga dia bisa dipercaya dan mau ikut mencari anak itu bersama kita."

Zul membuka ponselnya, jarinya lincah mengetik layar sentuh yang menerangi wajahnya. Setelah selesai dengan pesan, kembali digenggamnya ponsel itu, pandangannya kembali ke arahku. Zul membuka sandalnya, dia mengubah  posisinya yang tadi berdiri, kini duduk beralaskan sandal.

Tring!

Suara nada pesan ponsel Zul, mungkin itu balasan pesan dari Ali.

"Sebentar lagi Ali datang katanya, Ali menuju ke sini, kita tunggu saja, aku nggak bilang mau ajak ke hutan, biar di sini saja aku kasih tau kalau dia sudah datang" ujarnya padaku yang masih berdiri.

Aku angguk saja dan ikut menunggu. Lama-lama kakiku pegal juga, aku ikut duduk  berhadapan agak jauh dengan Zul sambil menunggu Ali datang.

Zul menatapku lekat, satu tangannya menyangga dagunya dan satunya lagi memeluk lutut, tubuhnya digerak-gerakan ke kanan dan ke kiri sementara matanya masih lekat ke arahku.

Aku yang merasakan pandangan Zul merasa salah tingkah, walaupun penerangan hanya dari senter ponsel milikku, tapi ruangan bangunan ini lumayan terang. Cukup untuk melihat jelas bahwa Zul terus menatap, aku pura-pura tak menyadari pandangannya, mataku sengaja menyapu mengelilingi ruangan yang belum selesai ini. Ujung-ujungnya mataku beradu juga dengan tatapan Zul, dia menunduk lalu tersenyum.

Ah, aku makin salah tingkah. Selama ini kami selalu pulang pergi ke pabrik bersama, bahkan dari sejak awal aku bekerja di pabrik, sudah sering bersama dengan Zul naik motornya. Namun malam ini rasanya lain, ada perasaan aneh yang kurasakan, jantungku dag dig dug tak karuan, hanya bisa tertunduk malu dengan rasa yang aneh. Lama sekali rasanya menunggu Ali datang.

Suara langkah kaki berjalan menuju ke arah kami, semakin lama semakin mendekat, aku dan Zul segera berdiri untuk melihat siapa yang menuju ke arah kami. Ternyata Ali yang datang menghampiri, mungkin tadi Zul sudah memberitahu Ali lewat pesan di mana posisi kami.

"Aku buru-buru datang ke sini, kamu mau minta bantuan apa Zul?" tanya Ali setibanya di hadapan kami.

Zul menjelaskan niatnya yang tadi dia ceritakan padaku, Ali menyimak semua yang diceritakan Zul.

"Gimana, Li? Kamu ikut nggak?" tanya Zul.

"Sama Naya?"

"Iya." Zul menjawab.

"Tapi dia perempuan, bahaya Zul." Aku tampak bimbang.

"Daripada cuma kita berdua, Naya juga setuju mau ikut kok."

"Bener kamu mau ikut, Nay?"

"I-iya." Sebenarnya aku ragu, tapi tak enak juga menolak ajakan Zul.

"Gimana, Li?" Zul bertanya lagi.

Ali mengangguk. "Baiklah, apa cuma kita bertiga saja? Nggak ada yang lain lagi?" tanya Ali.

"Kalau banyak orang, aku malah khawatir rencana kita gagal, apa lagi kalau yang ikut perempuan semua, bisa ambyar nanti," sahut Zul.

"Apa gini saja? Nggak bawa apa-apa?"

"Seadanya saja, aku ada bawa pisau lipat sama senter."

"Oklah, bismillah. Kita nggak bawa motor kan?" tanya Ali.

"Masa ke hutan bawa motor, kita kan ambil jalan pintas, jangan sampai ketahuan sama kuncen."

Sebelum berangkat, kami berdoa lebih dulu, entahlah, aku masih tak percaya malam ini akan masuk ke dalam hutan sana yang kata orang angker, bahaya dan menyeramkan. Pelik, aku tak busa menolak ajakan Zul.

Ada denganku? Biarpun ragu, aku tak mungkin menarik kesediaan untuk ikut.

***





profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Menyelamatkan Ardi

Kami bertiga berjalan menuju ke arah hutan, sengaja mencari jalan ke ujung kampung, agar tak ada warga yang melihat kami dan mengetahui kerugian kami ke hutan. Aku berjalan di tengah, diapit dua pemuda gagah dan berani, penerangan seadanya dari senter yang Ali dan Zul bawa.

Setelah berjalan keluar dari kampung, kami melihat pagar kawat yang mengelilingi hutan ini, kami bertiga menyusuri pagar kawat mencari jalan masuk yang diceritakan Zul padaku tadi.

"Moga aja belum diperbaiki kawat yang terbuka itu, kalau nggak salah, di depan sana," ucap Zul setengah berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. Dia menunjuk ke arah kawat yang pernah dilintasinya dulu, aku dan  Ali hanya mendengarkan, menyahut dengan anggukkan.

Kami terus berjalan beberapa meter ke arah kawat yang dituju, Zul menghentikan langkahnya, lalu berbisik lagi. "Nah, ini  kita sudah sampai."

Zul dan Ali mencoba membuka kawat yang terlihat tertutup, Zul menyerahkan teleponnya dan memintaku menggunakan sebagai senter dan memintaku memegang untuk menerangi mereka berdua yang sedang membuka kawat yang akan digunakan sebagai jalan kami masuk, ketika didorong kawat itu terbuka dan menganga.

"Syukurlah masih bisa dibuka," bisik Zul.

Aku yang berdiri di belakang menerangi mereka buru-buru menyela masuk ke antara keduanya, tak mau di belakang, takut. Telepon kuserahkan kembali pada Zul. Kami hanya menggunakan dua senter saja dari yang dipegang Ali dan Zul, Hap punyaku disimpan dalam saku gamis.

Kami melangkah masuk ke dalam hutan, semuanya terlihat gelap, langit sedang tak berbintang, bulan pun sedang bersembunyi di  balik awan. Hutan ini benar-benar gelap, hanya cahaya dari gawai saja yang menerangi jalan kami.

Hutan ini sangat rimbun oleh pepohonan, ranting dan dedaunan kering berserakan di atas tanah. Hutan terasa begitu dingin dan sunyi. Hanya terdengar suara hewan malam yang biasa bernyanyi di malam hari. Kami dapat mendengar suara langkah kaki kami yang menginjak daun kering, kami sudah berjalan sepelan mungkin, tetap saja terdengar cukup berisik.

Jauh di dalam hutan terdengar suara lolongan anjing, aku yang ketakutan memegang erat ujung baju Ali dan Zul. Sambil terus berjalan tanpa tujuan ini, aku terus merutuki kebodohan, kenapa mau saja ikut ajakan Zul masuk ke hutan yang menyeramkan ini. Ah, bodohnya aku. Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku? Ayah, bunda maafkan aku.

"Kamu merasakan hawa negatif nggak, Nay?" tanya Zul yang terus berjalan perlahan meredah hutan yang begitu gelap.

"Nggak," jawabku singkat, aku sangat takut hingga malas untuk bicara.

"Kalian ini kayak cenayang aja, bahas hawa negatif segala. Yang aku takut di hutan ini bukan makhluk halus atau hantu, aku lebih takut ada binatang buas," sahut Ali yang berjalan di belakangku, bajunya tetap aku pegang erat, biar pun aku jalan lebih depan.

Dug!

Tubuhku menubruk Zul yang berhenti tiba-tiba, hidungku terasa sakit menabrak punggung kekar Zul.

"Auhh!" Aku mengaduh sakit sambil menggosok hidung, jika hari terang, pasti terlihat hidungku sangat merah.

"Kenapa berhenti mendadak, hidungku sakit tau," gerutuku pada Zul.

Zul berbalik. "Maaf, Nay, sakit?"

"Sakitlah, ada apa sih?"

"Ssssssttttt, matikan senternya dulu," perintah Zul padaku dan Ali.

Sesaat senter dimatikan, aku tak bisa melihat apa-apa, hanya gelap mengelilingi penglihatanku. Tanganku semakin kuat mencengkeram baju Ali dan Zul.

"Ada apa, Zul?" tanya Ali berbisik yang melihat Zul berhenti tiba-tiba dan meminta mematikan senter.

"Coba dengar baik-baik, ada suara yang samar dari jauh," jawab Zul sama berbisik.

Sayup-sayup terdengar suara orang berbicara, suaranya cukup jauh dari tempat kami berdiri, suara langkah yang berisik menginjak ranting dan daun kering, seperti menarik sesuatu yang berat.

"Iya, aku dengar. Sepertinya itu suara manusia," sahut Ali.

"Nah makanya, kira-kira siapa yang masuk ke hutan selain kita?"

Pegangan semakin kueratkan, gelisah dan mulai diserang gundah, apa yang akan kami lakukan selanjutnya.

"Kayaknya mereka makin jauh, lihat cahaya senter mereka." Zul masih berbisik.

"Terus gimana? Kita mau ke mana?" tanya Ali.

"Kita ikuti mereka."

"Hah? Kamu yakin, Zul? Kita nggak tau siapa mereka, gimana kalau mereka jahat?"

"Kita nggak bakal tau kalau nggak cari tahu."

Zul memintaku untuk kembali menyalakan senter, kami berjalan mendekati arah suara. Aku semakin ketakutan dan menghentikan langkah. Zul dan Ali ikut berhenti karena baju mereka aku pegang, mereka menoleh ke arahku.

"Aku takut." Suaraku nyaris hilang karena menahan takut, kaki ini rasanya berat untuk melangkah.

"Jangan takut, aku akan jaga kamu," ucap Zul. Tanganku kini digenggamnya, untuk menghilangkan ketakutanku dan tubuhku yang semakin menggigil. Namun kutepis tangan Zul dan memilih memegang bajunya saja seperti tadi.

Kami sedikit berlari ke arah suara yang tadi kami dengar, dari jauh kami dapat melihat cahaya, sepertinya cahaya yang dibawa mereka semakin dekat. Semakin kami mendekati senter itu, tapi malah mati, cahayanya hilang entah ke mana. Terdengar suara kaki yang berlari menjauh meninggalkan kami.

"Siapa ya mereka? Kenapa mereka lari?" Ali bersuara.

"Kayaknya mereka tahu ada yang datang, pasti mereka juga melihat cahaya senter dari kita." Zul menjawab.

Kami teruskan berjalan, menyusuri hutan sambil mencari jejak orang-orang tadi.

Zul menghentikan langkahnya mendadak seperti tadi, untuk kedua kalinya aku terhantuk punggung laki-laki ini dan mengaduh lagi.

"Sorry, Nay, kamu nggak apa-apa?"

"Kebiasaan deh, kalau mau nge'rem itu bilang dulu." Aku menggerutu.

Zul mengarahkan senternya ke wajahku, ia tersenyum dan tangan mengusap hidungku. Refleks aku menepis.

"Jangan pegang-pegang, nggak boleh."

"Iya maaf." Laki-laki itu garuk-garuk kepala sambil tersenyum, entah kenapa.

"Aku lihat sesuatu, makanya berhenti mendadak."

"Lihat apa, Zul?" tanya Ali yang sedari tadi diam sambil memutar cahaya senternya ke sekeliling hutan.

Zul sedikit berjalan ke depan, dia jongkok lalu berdiri lagi berbalik ke arah aku dan Ali. Tangannya didekatkan ke arah senter yang dipegang Ali.

"Ini ada darah," tuturnya.

"Da-darah? Darah siapa?"

"Aku nggak tahu. Makanya kita cari tahu."

Kami melanjutkan berjalan lagi, mengikuti jejak darah yang ditemukan Zul, darah yang terlihat masih segar dengan bau anyir.

Suaraku rasanya tercekik, ingin menangis saking takutnya. Zul mengajak kami terus berjalan mengikuti jejak darah itu yang tercecer di dedaunan kering.

Darah tersebut sampai ke sebuah pohon dan langkah kami terhenti, pandangan terbeliak melihat di sana ada tergolek sesosok tubuh anak kecil yang bersimbah darah.

"Arrh!"

"Jangan berisik, Nay."

Jeritanku tertahan, tangan Ali sigap menutup mulutku, tubuhku lemas, aku terduduk lesu memegang lengan Ali yang masih mendekap mulutku agar tak teriak.

"Jangan panik, kita harus tenang, jangan sampai orang lain tau kalau kita yang ada di sini." Ali memintaku tenang dan perlahan melepas bekapan tanganya.

Zul menghampiri anak kecil itu dan membalik badannya.

"Ini Ardi," ucap Zul menoleh  arahku dan Ali.

Aku menutup mulut dan menggelengkan kepala, air mataku mengalir bersama senggukan tangisku yang tertahan. Aku perlahan beringsut menghampiri tubuh Ardi yang terbujur tak bergerak.

Kepalanya bersimbah darah, seperti dihantam benda keras, dari perutnya terus mengalir darah segar yang membasahi seluruh tubuhnya.

"A-apa Ardi masih hidup?" tanyaku disertai cerai air mata dan rasa takut yang makin membuncah.

Zul meletakan tangan di hidung Ardi dan membungkuk mendengarkan detak jantung anak itu.

"Dia masih bernafas."

"Kalau gitu, ayo kita bawa keluar dari hutan ini," ajak Ali.

Aku masih bersimpuh di tanah dan menarik baju Ali, menunjuk ke arah sesuatu di dekat tubuh Ardi, ada puntung rokok yang masih menyala yang mungkin tadi dibuang oleh orang yang membawa tubuh Ardi.

"Pelakunya jelas manusia, bukan setan ataupun hantu," ujar Ali setelah melihat puntung rokok yang kutunjukkan.

"Iya lah, mereka juga bawa senter, aku juga nggak percaya sama tumor mistis di hutan ini. Pasti ada sesuatu yang kita nggak tahu soal hutan  ini." Zul berspekulasi.

"Ya Sudah, itu kita bicarakan lain kali, sekarang Ardi harus kita selamatkan." Aku meminta agar kami segera ke luar dari hutan ini.

Kami bergegas membawa Ardi untuk meninggalkan hutan ini, Ali menggendong Ardi, sedangkan Zul memapahku yang masih berjalan lesu sambil terus menangis, suara tangisan tetap kutahan agar tak pecah.

Kami sampai di tempat asal kami masuk tadi, Zul berjalan lebih dulu menyingkapkan kawat untuk jalan Ali keluar. Giliranku ke luar melewati kawat, Zul di depan membukakan jalan untukku. Baru melangkah ke luar, bajuku seperti ada yang menarik dari belalang. Makin melangkah, terasa sulit? Siapa yang menarik bajuku?

"Aaagh! Jangan, tolong!" Aku menjerit menarik tangan Zul, meminta tolong ketakutan.

Zul mendekap mulutku. "Ssssstttt! Jangan berisik, Nay." Suara Zul berbisik memintaku agar tak teriak dan menoleh ke kanan kiri.

"Si-siapa di belakang aku, Zul?" Tak berani menoleh.

Zul sedikit terkekeh melihat tingkahku yang sangat ketakutan.

Dasar aneh, aku ketakutan, dia malah tertawa. Setelah membalik badan mengikuti langkah Zul ke belakang. Ternyata bajuku bukan ditarik orang dari dalam hutan, tapi tersangkut potongan kawat tempat kami keluar tadi.

Aku juga tertawa kecil, malu pada Zul dan geli oleh tingkahku sendiri.

"Kamu kenapa teriak, Nay?" tanya Ali yang tadi sudah berjalan lebih dulu menggendong Ardi dan menunggu aku dan Zul di bawah pohon.

"Baju dia ditarik hantu kawat, makanya teriak," seloroh Zul mengusik.

Dua laki-laki itu tertawa, tapi sambil ditahan agar tak terbahak karena kami masih  belum jauh dari lingkungan hutan.

Aku memegang pipi, malu rasanya ditertawakan gara-gara tingkah konyolku tadi.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Sosok itu Datang Lagi

Hutan larangan sudah kami tinggalkan, kami berjalan melewati sisi perkampungan. Sebelum melanjutkan langkah, Zul mengajak kami beristirahat sejenak di sebatang pohon pinggir kampung. Kakiku sangat pegal, tapi kami harus segera membawa Ardi ke rumah sakit.

"Jangan sampai ada yang tahu kita masuk ke hutan mencari Ardi, kita langsung saja ke rumah sakit. Aku minta kamu ke rumah Mbak Rani, Nay. Bawa dia ke rumah sakit tanpa orang tahu, sebisa mungkin kita rahasiakan dulu dari siapa pun," pinta Zul padaku dan Ali.

Kutatap Zul penuh tanda tanya, kenapa warga tak boleh tahu hal ini? Harusnya keadaan begini jadi pelajaran untuk mereka  agar semakin waspada dan tak percaya begitu saja pada rumor yang turun temurun dipercaya warga kampung.

"Kenapa warga nggak boleh tahu, Zul?" Kutanyakan juga akhirnya untuk menghilangkan rasa penasaran.

"Kita harus jaga rahasia dan keselamatan kita dulu, kalau hal ini sampai ramai yang membahas, dan kita pasti ketahuan sudah masuk ke dalam hutan. Kita harus tetap aman sampai tahu apa sebenarnya yang terjadi."

"Apa kamu mencurigai siapa yang melakukan ini sama Ardi?" tanyaku yang tak bisa menghilangkan rasa penasaran, tapi tak bisa menyimpulkan siapa pelakunya.

 "Aku belum tahu jawabannya Nay, nanti kita pasti tahu dan kita harus mencari tau," jawabnya seolah tak yakin.

Sekeliling kampung terlihat begitu sunyi, tak ada aktivitas warga di luar rumah.  Pemuda pemudi kampung ini tak pernah berkeliaran malam walaupun hanya sekedar nongkrong.

Karena dari Bada Isya, warung-warung kecil di kampung ini biasanya sudah tutup, mereka lebih memilih berkumpul dengan keluarga di rumah masing-masing. Jika ingin membeli makanan siap saji, harus pergi ke jalan utama, di sana masih banyak penjaja makanan sampai larut malam. Namun, letaknya lumayan jauh, membuat warga malas harus ke luar rumah.

Embusan angin dari arah hutan menghadirkan hawa dingin, membuat penduduk kampung ingin selalu berangkat tidur lebih awal. Tidur semakin lelap dibuai suara jangkrik dan binatang malam lainnya.

Kami melanjutkan berjalan, masih memilih jalan yang paling ujung dari perkampungan, menjauhi pemukiman warga agar tak curiga. Tak ada kendaraan umum yang masuk ke kampung ini, kendaraan umum biasa ada di jalan utama, jadi yang miliki rumah di sekitar sini harus punya motor untuk memudahkan keluar masuk kampung.

Untuk menuju ke jalan utama, kami harus berjalan jauh melewati jalan kampung yang di pinggirnya kebun-kebun dan hutan kecil. Rasanya tak mungkin kami sampai dengan cepat ke rumah sakit jika harus berjalan kaki ke jalan utama. 

"Nay, kamu ikut aku mengambil motor, dan kamu Li ... kamu tunggu di belokan jalan kampung ini. Di sana cukup sepi, kita harus cepat, Ardi sudah kehilangan banyak darah," perintah Zul membagi tugas.

Aku dan Ali mengangguk, ikut saja setiap arahan Zul. Di kontrakan sudah terlihat sepi, beberapa warga sedang menonton TV, nyala TV terlihat dari luar dari balik gorden yang tak begitu tebal. Entah sudah pukul berapa ini, aku tak sempat melihat jam di layar ponsel, dikejar waktu ingin segera membawa Ardi ke rumah sakit. 

Zul menarik pelan satu per satu motornya dan motor Ali keluar dari bangunan kosong. Sebelum ke hutan tadi, motor sengaja diparkir di dalam kontrakan yang bangunannya belum rampung tempat kami bertemu tadi. Motor di dorong Zul tanpa menghidupkan mesin, agar tak ada orang yang mendengar. Zul memarkir motor dan menungguku di ujung jalan kontrakan.

"Kamu hati-hati, jangan sampai ketahuan warga lain," pesan Zul. "Aku tunggu di sini."

"Ok." Dengan gemuruh di dada yang tak kunjung surut dari dalam hutan tadi, aku bergegas ke rumah Mbak Rani sesuai arahan Zul. Kuketuk perlahan pintu rumahnya, Mbak Rani keluar mendapatiku, matanya sembab, mungkin tangisnya tak berhenti semenjak tadi kehilangan anaknya.

"Naya? Ada apa?" tanyanya antara sedih dan mengantuk.

"Kami sudah temukan Ardi, Mbak."

"Apa Ardi ditemukan? Di mana?" tanyanya antara cemas dan khawatir.

"Pelan-pelan, Mbak, jangan sampai orang dengar."  Aku sedikit berbisik dengan tangan di bibir.

"Mbak ikut sekarang dan jangan bilang sama suami." Aku juga meminta pada Mbak Rani agar membawa salin untuk Ardi di rumah sakit. 

"Kenapa harus diam-diam, Nay?"

"Mbak tahu Ardi ditemukan di mana?"

Perempuan itu menggeleng.

"Di hutan, Mbak."

"Di hutan?" Mata perempuan itu terbelalak.

"Iya, dan Mbak tahu sendiri, kalau kita dilarang ke hutan malam-malam, aku minta Mbak rahasiakan ini dulu, demi keselamatan kami yang melanggar aturan masuk ke sana."

"Iya-iya, mbak ngerti, sekarang bawa mbak ke Ardi."

Aku angguk dan memintanya ikut.

Raut wajahnya berubah semringah mendengar kabar Ardi sudah ditemukan. Kang Ujang suaminya sudah tidur, atas permintaanku agar untuk sekarang suaminya juga yak tahu. Melihat sikapnya pada Ardi, aku tak yakin kalau keselamatan kami terjamin jika suaminya Mbak Rani tahu soal ini.

Kami berjalan mendekati Zul yang sudah menunggu, lalu kembali mendorong motor agar menjauh dari pemukiman rumah kontrakan. Mbak Rani dibonceng olehku, sementara Zul akan membonceng Ali membawa Ardi yang sudah menunggu di belokan sesuai rencana.

Kami sampai di temoat Ali menunggu, melihat Ardi terkulai lemas  bersimbah darah, Mbak Rani menangis histeris sambil memeluk memanggil anaknya. Aku coba menenangkannya Mbak Rani agar warga tak mendengar.

"Ayo, Mbak, kita bawa ke rumah sakit, kasihan Ardi."

Dengan tangisannya, ia membawa Ardi menuju motor yang sudah diduduki Ali. Aku menaiki motor Zul dan motor kami segera melaju menuju rumah sakit.

Sampai di sana, Ardi langsung ditangani dokter, keadaannya kritis. Benar saja, Ardi kehilangan banyak darah, karena jarak hutan ke rumah sakit cukup jauh.

"Sekarang kita lapor polisi," ajak Ali. "biar aparat tangani soal ini."

"Kita rencanakan dulu apa yang mau kita lakukan, jangan gegabah." Zul tak mengkonfirmasi permintaan Ali.

"Terus sekarang mau gimana?" Ali tampak kesal.

"Jangan lapor dulu ... bagaimana kalau kita tanyakan dulu ke Pak Wardani."

"Siapa Pak Wardani, Zul?" tanyaku.

"Dia masih saudara Ayah aku, dia juga bertugas di polsek kecamatan ini. Aku ajak kalian ke sana, biar tahu kita harus bagaimana," sahut Zul.

Aku lagi-lagi tak paham, kenapa Zul begitu ketakutan untuk sekedar melapor ke kantor polisi, padahal menurutku, jika sudah melapor kami pasti aman. Biarpun sedikit  kecewa, aku tetap ikut ajakan Zul.

Aku pun pamit pada Mbak Rani untuk mencari solusi tentang masalah ini. Berjanji nanti akan menjenguk Ardi di sini kalau urusan sudah selesai. Perempuan itu menangis dan sangat berterima kasih, setidaknya ia punya kesempatan bertemu dengan anaknya yang hilang.

Aku, Zul dan Ali gegas menuju rumah Pak Wardani, semoga saja ada jalan ke luar saat sudah bertemu beliau. Karena kami benar-benar awam akan hal ini, Zul juga masih takut jika sampai ada yang tahu kamu  melanggar aturan masuk ke hutan.

Zul menceritakan, Pak Wardani masih kerabat Ayahnya, sebelum melapor Zul ingin meminta saran terlebih dahulu pada beliau terkait kasus yang berhubungan dengan hutan itu. 

"Aku pernah mendengar desas-desus hutan itu dari Om Wardani, katanya polisi nggak mau ikut campur jika kasusnya berkaitan dengan mistis yang ada di hutan itu, karena sulit untuk mendapatkan barang bukti dan saksi. Makanya aku ajak ke rumah beliau dulu, memastikan lagi hal ini." Zul menerangkan tentang apa yang dia ketahui.

Patut lah jika begitu, ia kukuh tak mau melapor, sedikitnya Zul sudah tahu kabar dan rumor dari orang yang dia percaya.

"Ada apa, Zul. malam-malam kemari?" tanya pak Wardani sesaat setelah membukakan pintu untuk kami.

Zul menceritakan kejadian di hutan tadi secara gamblang pada beliau, Pak Wardani hanya menyimak dengan saksama. 

"Kalian masuk ke hutan?" Agak tercengang juga beliau mendengar kami masuk ke dalam hutan dan bisa keluar dengan selamat. 

"Iya, Om."

"Kalau menurut, Om. Rahasiakan hal ini dulu, demi keselamatan kalian. Sekalipun tetap melapor, kasus ini nggak akan diproses, bahkan bisa mengancam keselamatan kalian karena dianggap melanggar."

"Lho, kan tugas polisi mengayomi masyarakat, jika kejahatan dibiarkan, masyarakat harus bernaung pada siapa?" tanya Ali dengan sedikit kesal.

"Begini, Nak. Kejadian di hutan itu biasanya berkaitan dengan mistis, kami hanya menangkap manusia yang bersalah, bukan menangkap hantu."

"Kan tadi sudah diceritakan, pasti pelakunya manusia, Pak. mana mungkin hantu merokok," sahutku yang masih tak terima dengan saran Pak Wardani. Masih berharap Ardi mendapat keadilan.

"Intinya hutan itu ada yang melindungi, Om belum bisa menceritakannya pada kalian sekarang, khawatir ada simpang siur jika salah satu dari kalian yang buka suara. Saran Om, lupakan kasus ini dan jangan bicara pada siapa pun," tukasnya.

"Iya, Nay, Li, Om Wardani benar, kita harus cari aman, jangan sampai mau dapat keadilan untuk orang lain, nyawa kita sendiri dalam bahaya." Zul turut menimpali menyetujui keputusan Pak Wardani.

Keputusan Pak Wardani dan Zul membuatku sedikit kecewa, tapi jika semua demi keselamatan bersama, kami harus akur. Setelah perbincangan selesai, kami pamit pulang.

       "Aku akan ke rumah sakit, bantu Mbak Rani menyelesaikan urusan di sana. Kamu pulang ke kontrakan di antar Ali biar teman-teman sekamar kamu nggak curiga. Biar Ali juga pulang, Muzi tahunya Ali pulang ke rumah ibunya, jadi dia nggak akan curiga kalau Ali pulang sekarang ke kontrakan. Pokoknya, hal ini kita rahasiakan dari siapa pun," tutur Zul. 

Aku angguk dan beranjak menghampiri Ali. Kakiku sudah sangat lenguh, gara-gara berjalan jauh ke hutan tadi. Ingin segera istirahat merebahkan diri, mata sudah mulai berat ingin dipejamkan. Biasanya jam segini aku sudah tidur nyenyak.

"Hati-hati, Nay," pesan Zul memandangku lekat. Dia mengulas senyum padaku. 

Aish ... tatapannya itu, bikin irama jantungku menari. Dia itu manis sebenarnya, tepatnya tampan dan rupawan.

"Li, titip Naya, bawa motornya jangan ngebut," lanjutnya berpesan pada Ali. 

"Ok tenang aja, perhatiannya kurangin dikit Zul, ingat sama Ratu, Zul, nanti Ratu marah," usik Ali pada Zul. 

Zul tersenyum simpul mendengar usikkan Ali. Ali membisikan sesuatu ke telinga Zul. 

"Awas lu macem-macem," ancam Zul, telunjuknya diarahkan ke wajah Ali. Mereka tertawa, aku sudah mirip obat nyamuk, diam dan berasap tak diajak bercanda oleh mereka.

Aku dan Ali pamit pulang, berkali-kali aku menoleh ke arah Zul yang melambaikan tangannya padaku.

Setiba di kontrakan, ada dua orang berdiri di depan rumah. Muklis dan Tiyas, entah sedang apa mereka malam-malam begini di luar. Melihat aku turun dari motor, Tiyas mendekat ke arahku.

"Ke mana aja, Nay? Pamit ke warung, kok pulangnya jam segini?"

"Mmm aku ...." Bingung mau jawab apa. 

"Hmmm ternyata ...." Tiyas mendelik pada Ali.

Ali tak menggubris ucapan Tiyas, dia mengangguk pamit ke arahku, tanpa menjelaskan salah paham pada gadis itu, lalu melajukan motornya ke ujung blok, menuju rumah kontrakannya.

"Kapan Mukhlis ke sini?" tanyaku.

"Baru sampai, Nay," jawab kekasih Tiyas itu.

"Kalau gitu, aku masuk dulu." Tak ingin mengganggu pembicaraan mereka.

"Tunggu di sini sebentar, Nay." Tiyas melarang.

"Aku melakukan itu untuk melindungi kamu, Yas. Tolong kamu ngerti," rayu Muklis pada Tiyas. Dia coba menarik tangan kekasihnya.  

"Sudahlah, kamu pulang dulu, aku malas ngomong sama kamu."

"Aku mohon jangan marah, Yas, aku sayang sama kamu."

"Kamu pulang!" tegas Tiyas mengusir Mukhlis. Entah apa yang terjadi dengan dua sejoli ini, kelihatannya mereka tengah bertengkar.

"Besok aku ke sini lagi."

Tiyas mengabaikan Muklis yang mengajaknya bicara dan menggandengku masuk. Wajah Tiyas sendu, masih ada sisa-sisa air mata di pipi putihnya. Apa yang mereka permasalahkan?

Setelah membersihkan diri, aku kembali menghampiri Tiyas yang sedang bersandar di tempat tidur memeluk lutut, Nining dan Lilis sudah lelap, suara dengkuran mereka bersahutan. Aku menyodorkan uang yang tadi tak jadi kubelikan snack pesanan mereka.

"Maaf ya. Aku tadi pulang ke rumah, ada keperluan mendesak dan minta diantar Kang Ali," ucapku agar Tiyas tak bertanya-tanya.

"Diantar apa diantar? Jangan-jangan ....?"

"Jangan suudzon, aku sama Kang Ali nggak ada apa-apa," sanggahku seadanya.

"Padahal nggak apa-apa ada sesuatu juga, Kang Ali cakep, hitam manis."

"Ih apaan sih." Aku mendelik.

"Aku tau, pasti kamu maunya sama yang putih bersih kan? Si ...." Tiyas mengangkat-angkat dua alisnya menggodaku.

"Siapa ih, jangan fitnah deh." Aku menyanggah.

"Si Zul, dia yang kamu suka kan? Ngaku aja sama aku, nggak ada yang tau kok, aku janji jaga rahasia," bisiknya.

"Dia itu punya Ratu, bisa mati aku kalau dia dengar omongan kamu ini. Eh, Mukhlis ngapain malam-malam begini  ke sini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan agar Tiyas tak lagi mengusik soal laki-laki yang aku suka.

Dia tak menjawab, bersandar di tembok dengan wajah berubah sedih.

"Ada apa, Yas?" tanyaku ketika gadis itu semakin tampak bersedih.

"Aku takut, Nay." Tiyas menggenggam tanganku, pandangannya lekat.

Maniknya terlihat mengkilat, dan pelan-pelan air matanya mulai menetes.

"Takut kenapa, Yas? Apa ada yang perlu aku tahu? Kenapa nangis?" tanyaku. Kupandangi Tiyas, menunggu jawabannya. Padahal tadi dia asyik mengusik.

"Aku takut hamil, Nay." 

"Hamil? Maksudmu apa?"

 "Muklis paksa aku, Nay...." Tiyas terisak.

"Paksa gimana? Apa dia ...." Aku terperangah saat Tiyas bilang takut hamil.

Tiyas mengangguk, "Dia bilang itu semua dia lakukan demi melindungi aku, dia memaksaku, Nay. Sekarang aku nggak tau harus gimana, jika orang tuaku tahu, pasti aku ...." Tiyas terisak, suaranya tertahan tangisan.

"Itu bukan melindungi namanya, tapi merusak, itu termasuk pelecehan, Yas. Kalau dia lelaki baik-baik, dia nggak bakal ngerusak harga diri perempuan, apalagi kamu kekasihnya," gerutuku, kesal rasanya pada Muklis yang berbuat seenaknya pada Tiyas.

"Aku harus gimana, Nay? Gimana kalau aku hamil?"

"Kamu harus minta dia nanggung jawab, Yas, jangan sampai jadi aib buat keluarga."

"Aku nggak mungkin nikah sama dia, orang tuaku nggak merestui hubungan aku sama Muklis. Aku sering kabur dari rumah gara-gara berantem sama mereka yang selalu larang hubungan kami," tangisnya pecah, tangannya semakin erat menggenggam tanganku. 

"Aku nyesel nggak denger kata-kata orang tuaku, Nay."

Aku memeluknya untuk sedikit memberi ketenangan. Nining dan Lilis yang sedang tidur nyenyak terbangun mendengar tangisan Tiyas. Nining beringsut ke arahku dan Tiyas, sambil mengucek matanya yang masih terlihat mengantuk.

"Kunaon ceurik, Yas. Aya naon? (Kenapa nangis, Yas. Ada apa?)" tanya Nining panik.

"Iya ada apa?" Lilis ikut bertanya.

Aku menggeleng ke arah Nining dan Lilis, sedikit mendengkus membuang napas kesal. 

"Besok saja ceritanya, sekarang udah malam, kita tidur," ajakku pada mereka.  

Nining dan Lilis kembali tidur dengan pertanyaan yang belum terjawab, mereka kembali tertidur pulas. Cuaca malam begitu dingin, aku meringkuk dibalut selimut tebal, tetap saja dinginnya terasa sampai ke tulang.

"Tolong ... Nay, tolong."  Suara lirih seseorang memanggilku, dia menangis terisak.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Isyarat yang Datang Lewat Mimpi

Kulihat sosok itu berjalan ke arah hutan, tangannya melambai-lambai mengajakku ke sana, dari pergelangan tangan kirinya mengucur darah. Matanya tajam menatapku, seketika dia terbang ke arahku lalu menarik dan menyeret tubuhku ke dalam hutan.

Aku meronta, menjerit meminta pertolongan, tapi hutan begitu sunyi tak ada siapa pun. Lagi-lagi perempuan itu menangis.

"Toloong, tolong!" Aku teriak ketakutan.

"Hiks ... hiks. Tolong aku, Nay," lirih perempuan itu.

"Kamu siapa? Apa yang kamu mau dari aku?"

"Tolong ...." Kali ini suaranya garau, dari matanya keluar darah dan belatung, bau anyir menyeruak menusuk hidungku. Bau itu berganti menjadi bau yang sangat busuk, aku semakin menjerit-jerit ketakutan.

Huek! Aku muntah darah dan penuh belatung.

"Astagfirullah...."

Aku bangun terhenyak kaget, ternyata aku mimpi. Tubuhku dibasahi keringat, padahal cuaca pegunungan sangat dingin, aku gemetar mengingat mimpi tadi. Ada apa sebenarnya? Kenapa aku mimpi seperti itu?

Mengusap mulut dan melihat apa ada darah, ternyata itu cuma mimpi, tapi rasanya seperti nyata. Mengusap keringat yang mengucur, beringsut dari kasur untuk mengambil air minum. Aku menghela napas sambil istigfar berapa kali, mimpi itu sungguh aneh. Makhluk itu bukan hanya menunjukkan diri di alam nyata, tapi sampai ke alam mimpi. Berusaha tetap tenang, agar tak membangunkan teman-teman.

Hik ... hik ... hik.

Kali ini aku tak bermimpi, di luar ada suara isak tangis. Aku gegas kembali ke kasur dan memeluk selimut.

Terlihat dari celah jendela kaca, dari gorden yang sedikit tersibak tak menutup seluruh kaca. Seorang perempuan berdiri di sana, menatap ke arahku. Sudut matanya mengeluarkan air mata, air mata darah. 

Aku yang tidur paling ujung, beranjak menyela ke tengah teman-temanku yang sangat lelap dan meringkuk ketakutan di antara mereka. Memaksakan memejam mata, tak ingin lagi melirik ke arah jendela.

***

      Jam menunjukkan pukul lima pagi, aku bangun tak mendengar adzan subuh, tubuhku sakit dan pegal serasa dipukul setiap sendi-sendinya.

Teman-temanku masih nyenyak dibuai mimpi, jika aku tak bangun lebih dulu dan membangunkan mereka, sudah pasti hingga matahari di ubun-ubun pun mereka tak akan bangun.

Selesai bersiap, kami berangkat ke pabrik. Hari ini aku tak masak untuk makan siang, aku tak enak badan. Lelah akibat malam tadi pergi ke hutan masih sangat terasa, tambah lagi tak bisa tidur dengan nyenyak gara-gara terganggu mimpi aneh dan kedatangan makhluk yang entah apa maksudnya menggangguku.

Kulihat Muzi yang baru keluar dari kontrakannya menghampiriku, dan berjalan bersama kami. Lilis tersenyum ceria melihat kedatangan Muzi, dapat menebak kalau gadis itu menyimpan rasa pada laki-laki pengawas di bangunan kami itu.

"Kok lemes, Nay. Sakit ya?" tanya Muzi. Dia terus memandangiku.

Aku malas menjawab pertanyaannya, hanya tersenyum setengah dipaksakan.

"Abis kencan dia sama Akangnya malam tadi, Kang Ali," usik Tiyas.

"Nu bener, Nay. Kamu bobogohan jeung si Ali? (Yang bener, Nay. Kamu pacaran sama Ali?)" tanya Nining penasaran, tangannya bergelayut ditanganku yang lesu.

Lilis ikut menoleh dan menatap tajam ke arahku, raut wajahnya berubah ketika Muzi menanyaiku.

"Jangan fitnah, Yas. Aku cuma minta diantar pulang ke rumah, bukan pacaran," jawabku ketus, lelah badan membuatku tak ingin diajak bergurau.

Tiyas menertawakanku.

Muzi berjalan menghalangi jalanku, badannya berbalik dan berjalan mundur tepat di hadapanku.

"Lain kali, kalau mau pulang atau ada keperluan, kamu bisa minta anter sama aku, Nay. Nggak usah segan," ucap Muzi masih berjalan mundur.

"Iya, Zi, makasih," sahutku malas.

Lilis mempercepat jalannya meninggalkan kami.

"Woy Lis, gancang amat leumpang na," teriak Nining yang melihat Lilis berjalan lebih dulu.

Ah, sekarang aku tak enak pada temanku itu, pasti Lilis berpikir macam-macam.

Kulihat Zul berjalan menuju ke arahku. "Pagi Nay, nanti siang kita makan di kantin ya, ada sesuatu...."

Bibir Zul masih mancung tak melanjutkan kata-katanya, bola matanya dilirikkan ke kanan ke kiri. Aku mengerti kode darinya, ia pasti ingin membahas tentang Ardi dan memintaku merahasiakan dari yang lain. Aku angguk, Zul berlalu ke arah bidadarinya, Ratu.

Di susul Muzi mengekori dan mereka berjalan lebih dulu.

"Aku cemburu sama kamu, Nay. Malam diantar Kang Ali, pagi ditawari Muzi, diajak makan siang juga sama Zul, ulah sarakah atuh Nay, bikeun ka aku hiji (jangan serakah, Nay. Kasih ke aku satu)," kata Nining menggodaku.

"Apaan sih," jawabku tersenyum tipis. Tadi aku hilang semangat, tapi sejak Zul menghampiri, suasana hati berubah indah.

"Pagi, Nay, Nining, Tiyas," sapa Ali pada kami bertiga yang masih berjalan sama-sama.

Kami bertiga menjawab sapaan laki-laki itu yang mulai berjalan barengan.

"Nyenyak tidur, Nay?" tanya Ali lagi.

"Pasti nyenyak lah, kan malam diapelin sama Akang." Tiyas yang menjawab sambil mengusik.

Aku mencubit lengan gadis itu. Dia tanpa malu tertawa, sedangkan Ali juga ikut tersenyum tipis sambil geleng-geleng.

***

Waktu istirahat tiba, aku berjalan menuju kantin, mengingat ajakan Zul makan siang. Aku juga ingin menanyakan soal Ardi padanya yang tadi malam menemani Mbak Rani di rumah sakit.

Muzi menghampiriku. Dia menyerempet memilihkan tempat duduk.

"Kamu duduk aja di sini, Nay. Aku yang pesankan makanan, kamu mau makan apa? tanya Muzi.

Aku masih diam tak menjawab, niatku bukan bertemu Muzi tapi Zul. Mau tak mau, aku duduk dibangku yang dipilih Muzi, dia juga duduk di depanku, jari-jari tangannya bermain mengetuk-ngetuk meja, masih menunggu jawabanku.

Tiba-tiba Zul datang membawakan makanan dan duduk di sampingku. Di susul Ratu yang melenggang ke arah Zul dan duduk di sebelahnya. Matanya mendelik padaku. Kami berempat duduk satu meja.

"Ini makanan kamu Nay. Aku traktir," ujar Zul sambil mulai mengaduk gado-gado miliknya.

Muzi mendelik lalu melangkah untuk memesan makan siangnya. Tadinya aku dan Zul ingin makan berdua untuk membahas hal semalam, ternyata semua temanku duduk bersama satu meja.

"Muzi!" panggilku pada Muzi yang belum jauh melangkah.

Laki-laki itu menoleh. "Apa?"

"Pesankan minuman," pintaku. Semua ini untuk menghindari tatapan Ratu yang sinis.

"Ok, siap. Minum apa?"

"Teh es aja."

Muzi kembali membawa makanannya dan pesanan air minum milikku, kami makan saling diam, tak ada yang bersuara.

***

     Malam ini aku harus  lembur, yang mengawasi kami malam ini Muklis dan Ali. sebelum kerja dimulai aku menemui Zul, sebelum dia pulang mengantar Ratu.

"Ardi gimana Zul," tanyaku buru-buru. Sebentar lagi ratu keluar dari kantor. Tadi siang tak ada kesempatan bertanya.

"Ardi nggak tertolong, Nay. dia sudah meninggal, aku ikut Mbak Rani menguburkan Ardi di kampungnya tadi malam, aku juga semalam terpaksa nginap di Rumah ibunya Mbak Rani," jawab Zul.

"Innalillahi wa'inna ilaihi rajiun, kenapa kamu nggak kirim SMS?"

"Aku nggak mau ganggu kamu, nggak mau kamu khawatir juga."

"Ya Allah, Ardi. Pasti Mbak Rani sangat terpukul."

Aku ikut sedih mendengar Ardi tak tertolong, pasti Mbak Rani sangat terpukul melihat anaknya meninggal secara mengenaskan.

"Ardi kehabisan darah, luka dikepalanya cukup parah. Menurut dokter, kepala Ardi dipukul bekali-kali. Di perutnya ada tusukan benda tajam dan mengalami pendarahan hebat," sambung Zul.

"Astagfirullah, siapa yang tega melakukan hal sekejam itu? kasihan Ardi," sahutku.

Hatiku sakit mendengar anak sekecil itu dianiaya orang misterius. Mataku terasa panas, bulir bening menetes dari sudut mata. ketika lapor polisi malah tak di tanggapi, aku makin kecewa.

Zul terlihat tenang, aku tahu dia juga merasa simpati bahkan empati. Perasaan lelaki lebih kuat, jarang menunjukkan air mata. Beda denganku, sedikit saja merasa sedih dan kecewa air mataku mengalir begitu saja.

"Apa ada orang yang tahu kematian Ardi?"

"Nggak ada, Mbak Rani langsung ajak aku ke kampungnya, kayaknya suami dia juga belum tahu."

"Besok kamu bisa antar aku ke rumah Mbak Rani?"

"Bisa, nanti aku antar. Kamu hubungi saja."

"Kang Ali tahu masalah ini?"

"Dia tahu, aku SMS, tapi minta dia jangan datang ke rumah Mbak Rani, nanti ada yang curiga."

Ali juga tak cerita apa-apa pagi tadi, mungkin tak ingin temanku tahu.

"Zul, tadi malam aku bermimpi aneh, aku didatangi sesosok wanita menyeramkan yang meminta tolong. Bukan hanya di mimpi saja, malah aku lihat sosok perempuan itu di luar jendela," jelasku pada Zul.

"Sudah beberapa malam aku juga memimpikan wanita yang menyeret kakinya, yang kita lihat di dekat kantor waktu itu, Nay. Dia mengajakku ke hutan larangan. Entah apa maksudnya selalu mimpi begitu," tutur Zul.

"Kamu juga mimpi didatangi perempuan itu?" Ternyata dia juga punya mimpi seperti itu.

"Iya, Nay."

"Apa kamu bisa tahu maksud dari mimpi itu, Zul?"

"Aku kurang tahu, tapi karena kamu bukan didatangi cuma dari mimpi, aku yakin ada sesuatu yang mungkin coba mereka sampaikan, tapi...."

"Tapi apa?"

"Tapi aku nggak tau apa jelasnya, bingung juga harus cari tahu dari mana."

Misteri apa sebenarnya yang ada di hutan itu? Apa mimpi itu sebuah pertanda? Atau seseorang yang sedang meminta tolong dan memberi tahu kami lewat mimpi?

Kenapa hanya aku dan Zul? Apa karena kami sama -sama bisa melihat makhluk halus? Entahlah, seperti sebuah teka teki yang sulit kami jawab.

***



profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Zul Mengajak ke Hutan Lagi

Zul pamit untuk pulang, dia seperti biasa harus mengantar pulang sang kekasih. Terlihat Ratu yang mendekat dengan tatapan marah.

"Kamu cari-cari kesempatan, Nay? Mau lembur aja sempat-sempatnya nemuin pacar aku!"

"Aku sama Zul ada urusan penting, dan itu nggak ada hubungannya sama perasaan. Apa menurut kamu kalau sudah punya pacar  itu harus putus hubungan sama orang lain? Apalagi itu teman dari kecil?" sindirku.

"Alah, banyak alasan."

"Sudah, Ratu, kita pulang."

"Kamu ini anggap aku pacar nggak sih, Zul? Kenapa kamu malah belain Naya?"

"Bukannya kamu tahu sandiri jawabannya?"

"Zul!"

"Sudah, aku nggak mau kita bertengkar." Zul beranjak meninggalkan Ratu dan berjalan lebih dulu.

"Awas kamu, Nay!"

Aku melengos dan kembali masuk ke dalam pabrik. Sikap Ratu selalu menyebalkan, dia mamang pacaran dengan Zul, tapi apa harus sampai segalanya dibatasi termasuk pertemanan? Ada-ada saja.

Malam ini yang lembur bukan hanya di bangunan tempatku saja, di sebelah juga sama tengah lembur dan katanya ada yang sift malam juga. Itu membuatku tak terlalu takut melihat sosok aneh lagi, karena Ali dan Muzi tak pernah jauh.

***

Hari gajian yang ke empat kali pun tiba, empat bulan sudah aku bekerja di pabrik ini. Kebetulan hari ini hari Sabtu, nanti aku bisa pulang dan menginap di rumah Bunda. Teman-temanku juga sama, mereka akan menginap di rumah orang tua masing-masing. Cuma satu minggu sekali saja kami bisa menghabiskan waktu bersama orang tua, dan pastinya jadi kebahagiaan tersendiri jika bertepatan dengan hari gajian.

Entah dengan Tiyas, semenjak mengontrak dia tak pernah ingin pulang ke rumahnya, apa lagi semenjak kejadiannya dengan Muklis hari itu, Tiyas semakin takut pulang ke rumah orang tuanya.

Di pabrik ramai yang sedang menunggu gajian, termasuk aku dan teman-teman. Kata orang kantor kemungkinan gajian kali ini agak sedikit telat. Di sela-sela kerumunan pekerja yang sedang berkumpul menunggu, kulihat seorang gadis berbaju putih, ada warna merah yang tersebar di bagian bajunya. Darahkah? Kepalanya menunduk, sama sekali tak menunjukkan wajah.

Mata kupicingkan, berusaha fokus ke arahnya, penampilannya lain dari yang lain, rasanya bukan pekerja dari bangunanku. Mungkin dari dua bangunan yang lain, tapi penampilannya terlihat aneh, ia juga tak bicara dengan orang lain, hanya menunduk tanpa ada teman yang mengajak bercengkerama.

"Hey, Nay," sapa Muzi menepuk pundakku.

Sapaan Muzi membuatku tersentak kaget, karena sedang fokus ke arah gadis berbaju putih, aku menoleh ke arah Muzi.

"Apa?"

"Nanti pulang bareng ya, ada yang pengen aku omongin," ucapnya, bibirnya tersimpul seulas senyum.

"Aku mau pulang ke kampungku hari ini, mau nginep," jawabku datar.

"Aku antar," tawarnya.

"Serah nanti aja, tunggu apa kata Zul," jawabku singkat.

Aku menunggu keputusan Zul lebih dulu, entah hari ini dia pulang ke kampung kami atau tidak. Jika Zul tak pulang, aku bisa terima ajakan Muzi.

Pandanganku kembali mencari gadis tadi, kuputar kepala ke sana kemari mengamati kerumunan, tapi sudah tak tampak. Padahal aku tak lama bicara dengan Muzi.

Atau jangan-jangan itu ...

Ah, masa iya siang-siang gini mereka muncul? Kutepis perasanku, mungkin saja itu benar-benar pekerja yang sama-sama menunggu gajian, mungkin saja dia ke toilet saat aku ngobrol dengan Muzi tadi.

"Cari siapa, Nay?" tanya Muzi, dia penasaran melihatku celingukan mencari seseorang.

"Ng-nggak, cuma lihat-lihat aja," jawabku, coba sembunyikan yang kulihat tadi.

"Kenapa mau pulang bareng aja harus nunggu Zul?" tanya Muzi.

"Dia itu sekampung sama aku, dulu tiap hari pulang bareng. Apa salahnya aku menunggu? Kami juga satu arah." Aku sedikit kesal.

"Zul sudah punya pacar, Nay, kalau kamu terus mengandalkan Zul, nanti Ratu berpikiran lain sama kamu."

Kata-kata Muzi memang tak ada yang salah, tapi aku dekat dengan Zul bjkan berati  punya hubungan lebih dari sekadar teman.

Belakangan ini Muzi juga terlihat begitu perhatian, sering bertanya, menyapa, bahkan mentraktir makan siang, tak segan dia menawariku untuk diantar pulang.

Namun aku sering menolak tawarannya, aku malah merasa risi, tak biasa dengan semua kebaikannya yang mendadak, orang lain bisa saja merasa senang jika diperhatikan seorang pria yang tampan dan ramah, tapi tidak denganku.

Setelah selesai gajian, pabrik berangsur sepi. Aku masih menunggu Zul, tampaknya dia masih di kantor bersama Ratu. Tiyas dan Nining mengajakku pulang, hanya Lilis yang tak bicara apa-apa, dia berlalu begitu saja pulang lebih dulu.

Kenapa dengan Lilis? Sikapnya tak biasa.

Aku Nining dan Tiyas melangkah, hendak keluar dari pabrik, terlihat Zul digandeng oleh Ratu, mereka berjalan ke arahku.

"Hari ini jadi pulang ke rumah, Nay?" tanyanya

"Iya aku mau pulang, bareng nggak?" tanyaku.

"Aku antar Ratu dulu, kalau mau pulang bareng, kamu tunggu aja di kontrakan," ulas Zul. Tangannya masih erat digandeng Ratu.

"Ya sudah," sahutku.

"Pulang sendiri aja napa, cari tumpangan lain," dengus Ratu. "Awas aja ya, kalau godain Zul, aku pites kamu."

Aku tak pernah berminat melayani tingkah gadis berambut merah itu, dia sengaja menarik tangan Zul menjauh dari hadapanku. Jalannya dilenggak-lenggokan mirip model profesional, kepalanya disandarkan di bahu Zul.

Damai saja dia, tak peduli orang yang masih ada di pabrik ini menatap keganjenannya.

Zul menoleh ke arahku, memberi isyarat. 

[Tunggu sebentar, Nay.] Begitu kuartikan kode dari Zul.

Aku membalikkan badan, berjalan ke arah berlawanan, pulang ke kontrakan dan menunggu Zul di sana.

Hari ini rasanya tak semangat, di jalan Nining dan Tiyas mengoceh heboh bahas soal gaji mereka, aku hanya berjalan lesu. Sampainya di kontrakan, aku mundur ke belakang Nining, biar dia saja yang buka pintu. Ternyata tak dikunci, sudah ada Lilis di dalam. Kami punya kunci kontrakan masing-masing dan anehnya gadis itu sudah pulang lebih dulu, tapi malah sengaja mengunci pintu dari dalam.

Baru saja aku akan masuk ke dalam kontrakan, Zul sudah memarkirkan motornya tepat di belakangku, langkahnya terburu-buru.

Tanpa bertanya dia menarik tanganku menjauh dari kontrakan, kepalanya menoleh ke segala arah. Lalu fokus ke arahku. Teman-temanku sempat menoleh ke arah kami, mereka tak menghiraukan dan masuk ke dalam.

Aku menghempaskan tangan Zul yang menggenggam.

"Maaf, Nay," ucapnya setelah cengkeraman tangannya aku lepas kasar.

Sengaja kupasang muka masam, dia terlihat salah tingkah. Ah, entah kenapa kok aku jadi kesal sendiri ya sama si Zul ni, mood mendadak hilang.

"Ada apa?" tanyaku datar, sangat malas untuk bicara dengannya hari ini.

"Tadi di jalan waktu mengantar Ratu, aku lihat perempuan yang baru pulang dari pabrik berjalan kaki, bayangannya bergerak-gerak, Nay. Seperti yang pernah kulihat sebelumnya. Apa mungkin akan ada kejadian yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya?" Suaranya gelisah.

"Jadi maksud kamu, orang itu bakal hilang juga, seperti yang pernah kamu lihat?" tanyaku ragu.

Aku ingin tahu, penasaran juga kan akhirnya. Marahku padanya hilang. Huh.

"Aku harap jangan sampai deh," tukas zul

"Malah ada yang aneh lho, Nay, orang yang kerja di pabrik hilang hampir tiap bulan, tapi pekerja masih sama 300 orang. Aku lihat sendiri dari buku catatan kantor, berarti tiap ada orang yang hilang, pabrik ini memasukkan karyawan lain, padahal aku nggak pernah dengar pabrik buka lowongan baru," jelas Zul. Kegusaran tampak dari raut wajahnya.

"Terus, apa kamu punya rencana?" tanyaku ikut bimbang juga.

"Kalau sore ini kita ke hutan lagi gimana? Mumpung belum gelap," ajak Zul.

"Ngapain? Orangnya 'kan masih ada, belum hilang, nggak mau ah," jawabku, lagi pula aku sudah berencana akan pulang, takut juga jika harus ke hutan itu lagi, aku kapok.

"Cari yang udah hilang, Nay. mimpiku hampir tiap hari tentang wanita itu, aku makin penasaran, mungkin saja itu petunjuk buat kita," ucap Zul berusaha meyakinkannya. "Dan empat bulan, sudah ada orang tua yang mengabarkan kehilang anaknya, sudah empat orang, tapi kok belum lama ini malah ada bayangan lagu. Berarti empat bulan ini akan ada lima orang yang hilang."

"Masa sih?"

"Iya, Nay, apa salahnya kita buktikan ke hutan sana, kita cari bukti. Aku penasaran."

"Takut ah," tolakku, tak mau cari penyakit.

"Kita pergi bertiga lagi, gimana?"

"Aku takut, Zul, lagian aku sudah janji sama Bunda mau pulang hari ini."

"Malam nanti pulang dari hutan, aku antar pulang ke rumah kamu."

"Kamu ini maksa, Zul, kenapa harus ajak aku terus. Kamu tahu aku penakut."

"Cuma kamu yang bisa aku andalkan dan aku percaya, Nay."

Aku menghela napas kasar. Sayangnya, tak bisa menolak setiap permintaan Zul, rasa takut kalah dengan suatu rasa yang menghadirkan binar bahagia di dalam dada tanpa ia sadari.

"Tapi Kang Ali kayaknya sudah pulang, tadi aku lihat dia lewat."

"Aku bakal jemput Ali, nggak lama kok, tunggu sebentar, mau ya. Cuma kamu dan Ali yang aku percaya," pintanya lagi.

Zul buru-buru pamit untuk menjeput Ali yang sudah lebih dulu pulang ke rumah orang tuanya.

***






profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Masuk ke dalam Hutan

Setelah Zul pergi, aku melenggang masuk ke kontrakan, kututup pintu. Nining dan Lilis sedang bersiap untuk pulang ke rumah mereka, hanya Tiyas yang masih santai, tengkurap, mengacungkan kaki di belakang, disilang-silangkan ke kanan dan ke kiri mengikut irama sesuka hati.

"Yas, kamu nggak pulang?" tanyaku seraya menghampirinya.

Aku merangkak ke atas kasur, kaki kuselonjorkan, membuang penat sekejap sambil menunggu Zul.

Gagal sudah rencanaku pulang sore ini, apa besok pagi saja aku pulang setelah selesai membantu Zul? Kadang aku merasa bodoh, mau saja ikut ajakan laki-laki itu, anehnya sulit sekali untuk menolak, Zul orangnya kukuh dan setengah memaksa. Atau sebenarnya aku yang ... ah, tak mungkin.

Nining dan Lilis pamit padaku dan Tiyas, Lilis tampak tak begitu ramah padaku belakangan ini, dia berjalan ke luar. Segera kutahan dengan meraih tangannya.

"Kamu kenapa, Lis? Kamu marah ya sama aku?" tanyaku yang masih memegang tangannya sebelum dia pulang.

Tak ada jawaban dari Lilis, dia tunduk dengan bibir tercakup rapat, tak ada tanda-tanda akan keluar kata-kata dari mulutnya.

"Lis, kalau ada masalah ceritakan, biar kita selesaikan." 

Aku sedikit mengguncang tangannya, tak ingin dia marah berlama-lama, aku  harus menyelesaikannya hari ini juga. Aku tak betah bermusuhan. Lilis memang tak berkata benci atau marah padaku, tapi dari sikapnya, aku tahu kalau ada unek-unek yang dia sembunyikan.

"Nggak ada apa-apa, Nay. Aku pulang dulu," jawabnya lesu.

Ada yang aneh dengan temanku ini, aku berpikir dan mencari penyebabnya, otakku berkeliling mencari-cari apa pemicunya, kapan dan di mana, karena kekesalannya itu hanya ditujukan padaku.

Apa mungkin?

"Kamu suka sama Muzi, Lis?" tanya ku langsung saja setelah kuingat-ingat pandangannya selalu lain pada pengawas ganteng satu itu.

Lilis terkesiap mendengar pertanyaanku, dia melepas genggamanku.

"A-apan sih, ng-nggak kok," jawabnya gugup dan terbata.

Aku sudah bisa menebak, karena tanpa sadar dia sendiri yang menunjukkan rasa sukanya lewat tindakan ketika berhadapan dengan Muzi, hanya saja sebagai seorang gadis tentunya dia enggan mengungkapkan, bahkan untuk mengakui padaku saja dia malu.

"Aku nggak suka kok sama Muzi, tenang aja," timpalku, memang benar adanya aku tak penyimpan rasa apa pun pada Muzi.

Lilis mengangkat wajahnya sejajar dengan wajahku, tak lama Lilis tunduk lagi.

"Ada orang lain yang aku suka, dan itu bukan Muzi, kamu jangan gini sama aku, kita temen, Lis."

"A-aku nggak ngapa-ngapain sama kamu, jangan mikir yang aneh-aneh," sanggahnya.

"Kita belum berteman bertahun-tahun, tapi aku tahu gimana perasaan kamu sama Muzi."

"A-aku...."

"Sekuat apa pun kami sembunyikan, aku bisa melihat dan menilai, jadi jangan sembunyikan lagi. Urusan Muzi yang bersikap baik sama aku, itu bukan kemauan aku, Lis, aku nggak bisa maksa dia untuk nggak deketin aku. Kamu pasti tau kalau aku sudah berusaha menolak dan menghindar."

"Iya, Nay, maaf."

"Aku cuma mau kita nggak musuhan, jangan biarkan urusan hati menghancurkan pertemanan kita."

"Iya, Nay, aku pamit, kalau kamu pulang juga, nanti salam sama Ayah Bundamu," ucapnya membelokkan pembicaraan sembari menyimpulkan sedikit senyum.

"Iya hati-hati, aku juga titip salam buat Abah sama Ambu," sahutku. "Kamu jangan marah lagi."

"Aku nggak marah kok, cuma ...."

"Aku ngerti." Cukup lega jika sudah diungkapkan.

Tak perlu dijelaskan lagi, hati Lilis pasti sudah lega mendengar pengakuanku tentang orang yang diam-diam dia sukai. Lilis dan Nining pulang lebih dulu, aku masih di sini bersama Tiyas.

Lama sekali aku menunggu Zul, hingga waktu hampir jelang magrib, dia masih saja tak muncul. Untungnya ada Tiyas yang menemaniku.

"Yas, kamu nggak apa-apa di rumah sendiri?" tanyaku memulai pembicaraan. 

Dia asyik saja cekikikan dengan ponselnya, seperti sedang mengajak bercanda benda pipih itu.

"Nggak apa-apa kok, aku berani," sahutnya tanpa menoleh ke arahku. 

"Beneran?"

"Iya, kalau kamu nggak ada, aku bisa ajak Muklis ke sini." Tiyas tertawa.

Hm dasar. Sudah baikkan ternyata mereka. Ah, begitulah cinta, sudah merasa kecewa, tapi tetap sulit melepas jika masih cinta.

Terdengar suara ketukan di pintu rumah ini, mungkin itu Zul dan Ali. Aku bangkit untuk membuka pintu.

"Naya? Katanya kamu mau pulang sama Zul, udah magrib kok masih di sini?" tanya Muzi. 

Ternyata yang datang bukan Zul.

"Iya, Zul antar Ratu pulang dulu, nanti baru kami pulang bareng," jawabku bohong, karena Zul tengah menjemput Ali.

"Tiyas ada?"

"Tuh." Bibir kumancungkan ke arah Tiyas. 

"Yas, suruh Muklis ke sini dong! Ada penting, aku nggak bisa nelpon dia, belum isi pulsa, kuotaku juga sekarat!" jerit Muzi dari depan pintu. 

Aku tak mempersilakannya masuk, di dalam cuma ada aku dan Tiyas tak berani memasukkan laki-laki ke dalam rumah.

"Huh dasar, baru gajian aja udah kayak orang bokek, isi pulsa berapa juta sih." Tiyas ikut berteriak, sama sekali tak mengubah posisinya yang masih tengkurap seperti tadi.

"Ah kamu kayak nggak ngerti aja."

"Iya, aku suruh Muklis ke sini nanti, kamu tunggu saja."

"Ok, makasih, Yas."

Laki-laki itu beralih padaku.

"Nay, sini sebentar, aku mau ngomong sama kamu," pinta Muzi padaku, tatapannya serius.

"Ngomong apa?" 

Aku melangkah ke luar dan menutup pintu.

"Aku dah lama merhatiin kamu, Nay."

"Terus?" Apa Muzi tahu kalau aku pernah pergi ke hutan? Pikiranku mulai resah.

 "Aku ... ada rasa sama kamu, Nay."

"Apa?" Aku kaget dengan pernyataan Muzi.

"Iya, Nay, aku suka sama kamu dan baru berani bilang sekarang. Aku nggak mau kehilangan kesempatan kalau terlalu lama memendam rasa. Apa kamu mau jadi pacar aku, Nay?" ucapnya tanpa basa-basi.

Aku terkesima mendengar pengakuan Muzi, ingatanku melayang pada Lilis, entah apa jadinya jika dia tahu Muzi main 'tembak' begini.

Muzi menatapku lekat menunggu jawaban, sedangkan aku masih bungkam tak tahu harus menjawab apa. 

Hening.

Kuatur napas menyiapkan kata, tubuhku mulai gemetar dan gugup.

"Lilis suka sama kamu, Zi."

"Hah? Masa sih?"

"Iya, dia sampai salah paham dan nggak mau bicara sama aku."

"Tapi aku nggak suka sama Lilis, aku sukanya sama kamu, Nay."

"Dia itu teman aku, Zi, dia selalu perhatiin kamu, mana mungin aku tiba-tiba nerima kamu. Lagi pula aku nggak mau pacaran, ayahku nggak akan ngizinin," jawabku, cuma itu satu-satunya alasan untuk menolak Muzi secara halus.

"Kamu nggak perlu jawab sekarang, Nay. Aku mau nunggu kok." 

Muzi tampak kecewa, pandangannya beralih ketempat lain, tangannya dimasukan ke kantong celananya. Membuang napas berat dengan wajahnya yang di tekuk. Pasti dia kecewa.

"A-aku nggak bisa, Zi, aku nggak mau musuhan sama teman-teman baik aku cuma gara-gara perasaan."

"Aku minta kamu pikirkan dulu baik-baik, jangan jawab sekarang."

"Tapi, Zi--"

"Aku pulang dulu."  Muzi pamit, dia mengayunkan kaki menuju kontrakannya, jalannya lunglai.

Aku memerhati langkahnya dari kejauhan, dia terus berjalan dan masuk ke dalam kontrakannya tanpa menoleh lagi ke arahku.

    Sudah lewat isya, Zul dan Ali belum juga muncul, aku mulai naik darah. Kuraih ponsel yang ada di samping, mencari nomor Zul, kutekan panggil.

"Nomor yang Anda tuju, tidak dapat dihubungi," jawab operator.

Aku makin kesal, kalau tahu begini, aku terima saja tadi ajakan Muzi. Sekarang kadung malu pada Muzi, sudah kutolak masa iya masih memanfaatkannya untuk mengantar pulang. Mau pulang sendiri, sudah mulai gelap, takut pulang sendiri.

Kucoba juga hubungi nomor Ali. Tersambung bunyi tut...tut, tapi tak diangkat, tekan lagi sampai tiga kali ulang, tetap sama tak ada yang menyahut.

Baru ingat kalau hari ini malam Minggu, paling waktu Zul di jalan, Ratu menelepon merengek mengajak malam mingguan. Aku mendengus kesal, harusnya jangan kasih janji kalau tak ditepati begini.

Aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu membentang sajadah untuk mendirikan shalat isya. Selesai shalat, kulihat teman sekamarku itu masih saja cekikikan dengan gawainya. Sudahlah aku tidur saja, kupeluk bantal guling membelakangi Tiyas.

           --🌲---🌲--

     Nyenyak tidurku terusik, terdengar suara lirih tangis seorang perempuan di belakang punggungku. Kenapa Tiyas menangis, jam berapa ini?

Bruk!

Seseorang menghempaskan kasar tubuhnya tepat di belakang punggungku, masih terdengar isakkan tangisnya ikut menggoyangkan badanku terbawa gerak tangisnya.

Kucoba membalikkan badan, tapi tersekat. Tubuhku tiba-tiba kaku, kupaksa menendangkan kaki, tetap tak bergerak. Kupanggil Tiyas yang sebelum tidur tadi ada di belakangku, peliknya mulutku ikut terkunci.

Ada apa ini? 

Siapa yang di belakangku? Kenapa tubuhku sulit bergerak?

Tiyas, kamukah itu? Hanya suara dalam hati yang bisa kuucapkan.

Tangis yang tadinya lirih, kini berubah garau, itu bukan suara Tiyas. Aku ingin lari keluar menjauhi seseorang yang berada di belakangku, tubuhnya  kian terasa makin dingin menembus punggungku.

Tiba-tiba bau busuk mulai menyebar ke seluruh ruangan, menusuk-nusuk di hidung. Aku gemetar, ingin menangis, ingin menjerit tapi tak berdaya, tubuhku seperti membeku, hanya mataku saja yang masih bisa kugerakkan.

Kurasakan tubuh itu memutar menghadap punggungku. 

Hik hik

Isaknya kembali terdengar pilu. Suara garaunya hilang.

Nyes...

Tangan dinginnya menyentuh lenganku. 

Ya Allah! 

Aku Cumiik dalam hati.

Zikir dan istigfar kulafazkan di hati, semampuku, sebanyak mungkin. Suasana kontrakan ini  berubah sangat mencekam, di luar begitu sunyi. 

Tak lama terdengar suara derap kaki dari luar menuju ke dalam rumah ini, ujung mataku melirik ke arah daun pintu, menunggu siapa yang datang. 

Ctrek! 

Krieet.

Tiyas tersembul dari luar, dia kembali menutup pintu dan menguncinya.

Tubuh yang ada di belakangku tiba-tiba hilang, aku tak merasakannya lagi. Seluruh otot yang tadi menegang, perlahan mengendur, aku dapatkan kembali kekuatan tubuhku.

Tiyas menghampiri ke arah tempat tidur, aku berhambur ke arahnya, memeluknya erat.

"Kenapa, Nay?" tanyanya, dia terkejut menatap wajah ketakutanku.

Nafasku masih tersengal, perlahan kulepas pelukan Tiyas.

"Aku mimpi, Yas," jawabku berbohong.

Kuberanikan menoleh ke belakang tempat tidurku, tak ada siapa pun. Jika bukan Tiyas, lalu tadi itu siapa?

"Kamu dari mana, Yas?" tanyaku.

"Muklis mengajakku ke kontrakan Muzi, tadinya  kalau kamu pulang mau aku bawa ke sini, tapi kan kamu nggak jadi pulang," sahutnya.

"Oh, aku nyenyak banget ya sampai nggak sadar kamu ke luar rumah."

"Iya, tapi aku emang sengaja biarkan kamu istirahat, Nay, nggak bangunin kamu."

Aku terdiam, memikirkan lagi apa ya g batu saja aku alami.

"Kamu beneran nggak apa-apa, Nay? Sampai keringatan gitu," tukasnya.

Aku menggeleng, Tiyas merangkak ke tempat tidur, berbaring dan menyelimuti tubuhnya.

"Ayo tidur lagi," ajaknya. 

"Iya, Yas." Aku beringsut mendekat dan berbaring di sampingnya.

"Sudah nggak usah dipikirin, mimpi kan cuma kembang tidur."

"Iya."

Kulirik jam yang menggantung di dinding, sudah jam setengah dua belas malam.

Kuraih ponsel, mengharap ada pesan dari Zul dan Ali masih tanda tanya dengan mereka yang tak jadi datang menjemputku, seperti ada keganjilan. Ternyata benar ada beberapa pesan yang terpampang di layar ponselku.

[Maaf, Nay. Tadi lagi naik motor, nggak dengar panggilan dari kamu.] Pesan dari Ali.

[Aku dan Zul kecelakaan waktu mau jemput kamu tadi.] 

Kecelakaan? Aku terperangah.

[Tapi nggak serius kok, nggak usah khawatir, aku sekarang nginap di rumah Zul.]

Kulihat pesan dari Ali dikirim dari pukul sembilan, pantas saja teleponku tak diangkat.

Kubiarkan saja pesan dari Ali, besok saja aku pulang menjenguk Zul. Lagi pula ini sudah larut, mereka pasti sudah tidur.

             --🎋🎋🎋--

      Minggu pagi, kuajak Tiyas pulang ke rumahku untuk menjenguk Zul yang tadi malam kecelakaan.

Syukurlah lukanya tak serius, hanya lecet-lecet bagian kaki dan sikut. Ali sudah pulang dari subuh tadi, kata orang tua Zul.

"Mataku kayak dihalangi kain hitam, Nay. Sampai motorku terguling," tutur Zul.

Teringat kejadian waktu aku dan Ali terjatuh, kata Ali itu juga disebabkan terhalang kain hitam.

"Kayaknya ada yang menghalangi kita deh, sore nanti kita ke hutan itu, aku dah ngomong sama Ali, dia setuju," lanjutnya.

"Ya Allah, Zul. Udah kecelakaan gini, masih maksa mau ke hutan itu. Nggak kapok apa? Jangan ah, aku nggak mau," jawabku menolak.

"Aku penasaran banget, gimana kalau mimpi kita itu benar?"

"Hutan apaan sih? Kalian mau ke hutan larangan, ngapain?" Tiba-tiba Tiyas bertanya saat keluar dari dapur Zul mengambil minum.

Aku dan Zul saling tatap, lupa kalau Tiyas ada di sini.

"Kasih tau nggak?" Aku bertanya pada Zul.

"Kalian ini apaan sih, pake rahasia-rahasiaan segala."

"Aku kasih tahu ke kamu tentang hutan itu, tapi janji jangan kasih tahu siapapun termasuk Muzi sama Muklis," sahut Zul.

"Lho kenapa?" tanya Tiyas heran. 

"Kalau kamu mau tahu, kamu hanya harus janji, jadi nanti cuma aku, kamu Naya dan Ali yang tahu hal ini. Kalau kamu nggak janji, aku nggak bakal bilang." Zul bersikap tegas.

"Ok lah, aku janji. Ada-ada saja kalian ini, klop jaga rahasia, kayak pasangan kekasih," usik Tiyas.

Setelah perjanjian dan persetujuan dari Zul, aku menceritakan maksud kami untuk pergi ke hutan larangan ada kaitannya dengan mimpiku dan Zul, kuceritakan juga bahwa yang semalam itu bukan mimpi.

Namun kejadian Ardi dan bayangan yang selalu dilihat Zul tak kuberi tahu pada Tiyas.

"Kamu berani banget, Nay, ikut ke hutan." Tiyas terkejut mendengar ceritaku.

"Aku penasaran, Yas."

"Nanti aku juga ikut, boleh ya?"

"Kamu yakin?"

"Kamu aja yakin, masa aku nggak, aku juga penasaran, pengen tau ada apa di hutan sana."

"Ok lah, kita siap-siap dari sekarang, nanti Ali sore ke sini." Zul memberi arahan.

          --🌳---🌳--

    Selesai asar, kami berempat sudah bersiap pergi ke hutan larangan, agar pulang ke kontrakan nanti tak terlalu malam. Aku pamit pada Ayah Bundaku, berbohong akan kembali ke kontrakan karena besok harus masuk kerja.

Kami berjalan sengaja melewati persawahan yang letaknya agak jauh dari pemukiman warga. Sekitar satu jam kami berjalan dari rumah, sampailah di pagar hutan larangan.

Zul dan Ali menyusur pagar yang hari itu kami gunakan untuk masuk ke dalam hutan. Kali ini sudah direncanakan, kami lebih banyak membawa peralatan dan persediaan.

Zul berjalan paling depan, aku dan Tiyas di tengah dan Ali di belakang kami. Kami berjalan jauh terus ke dalam hutan, awan jingga mulai menghiasi langit, pertanda sebentar lagi gelap, suara tonggeret saling bersahutan, menambah suasana hutan makin terasa lengkap.

Beberapa kali kami beristirahat karena kelelahan, entah apa yang kami cari, hanya gara-gara mimpi yang selalu membuat penasaran, hingga aku dan Zul sanggup menjelajah di  hutan terlarang ini.

"Aku harap kita menemukan petunjuk," kata Zul menyandarkan tubuhnya di bawah pohon besar.

"Tapi sudah mulai gelap ni, pulang apa terusin? tanya Ali.

"Ngga ada apa-apa juga, pulang aja, yuk," ajak Tiyas, tangannya lincah menepuk-nepuk nyamuk yang hinggap di tangan dan kakinya.

Tak ada hal yang mencurigakan yang kami jumpai hari ini. Akhirnya Zul sepakat untuk pulang.

Semakin lama semakin gelap, kami berjalan menyusuri jalan kami datang tadi. Rasanya sudah berjalan jauh, tapi pagar itu tak juga kami temukan.

"Kayaknya kita udah lewat jalan ini deh, kok balik lagi, balik lagi?" Tiyas mulai menggerutu.

"Sepertinya kita salah jalan," sahut Zul.

"Gimana dong?" tanyaku. 

Ali mencari tali dari tumbuhan rambat, untuk dijadikan tanda pada  pohon yang sudah kami lewati.

Zul mengeluarkan senter, jalan sudah mulai tak terlihat, aku dan Tiyas berjalan berbarengan berpegangan tangan. 

"Aku kapok ke sini lagi, nanti kalau kamu ajak, pokoknya nggak bak-"

Grosak!

Belum sempat aku menyelesaikan bicara, tubuhku terperosok ke dataran lebih rendah, tanganku terlepas dari genggaman Tiyas, aku berguling-guling.

"Nay!" jerit Tiyas.

"Hah, Naya jatuh ke bawah." Dalam keadaan tubuh terjerembap masih dapat kudengar ucapan Ali.

Buk!

Tubuhku menghantam sebatang pohon dan berhenti di sana. 

Auh!

Aku mengeluh kesakitan, dari atas senter di sorotkan ke arahku.

Kamu nggak apa-apa, Nay?" tanya Zul, dia perlahan turun diikuti Ali yang menuntun Tiyas. 

"Punggungku sakit." Aku menepuk tangan yang kotor, seluruh baju dan jilbabku dibalut daun-daun kering.

Tiba-tiba bau yang sering kuhidu dalam mimpi, kini terasa sangat dekat.

Hueek!

Tak kuat aku menghirup bau bangkai, sementara Zul, Ali dan Tiyas masih berusaha untuk turun, terlihat senter Zul dan Ali yang tak terarah karena berusaha fokus untuk turun.

Aku keluarkan ponsel dalam kantong celana, kunyalakan senter, menerangi diri sendiri yang kegelapan. Berdiri perlahan mengarahkan senter sekeliling. 

Ada kain putih yang tertimbun dedaunan agak jauh dari tempatku terjatuh, berdiri dan berjalan ke arah kain tersebut. Semakin dekat semakin bau menusuk hidung, kakiku menyibak daun yang menutupi kain itu.

Arkh!

Aku menjerit sekuat hati, ponselku terpental jauh karena refleks, aku menutup mulut beringsut ke belakang.

"Ada apa, Nay?" tanya Zul yang baru saja sampai di bawah sini, dia mendekatiku.

"A-ada-mayat, Zul, su-sudah busuk, banyak belatungnya," sahutku ketakutan. 

"Hah? mayat?" Zul terbeliak.

***



profile-picture
profile-picture
profile-picture
jenggalasunyi dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Penemuan Mayat Perempuan

"Hah? Mayat?"

Zul, Ali dan Tiyas mendekat ke arahku, perlahan mereka mendekati kain putih yang kusibak tadi.

Huek!

Tiyas menutup hidungnya, dengan gemetar menarikku menjauh dari mayat itu. Tiyas membantu mengusap-usap bajuku yang kotor akibat berguling tadi, dia mengibas dedaunan kering yang menempel di jilbab dan gamisku.

"Kamu nggak apa-apa, Nay?" tanya Tiyas.

"Nggak apa-apa," jawabku, padahal jelas seluruh badanku sakit semua.

Zul menghampiri lagi, menyorotkan senter ke wajahku, aku mengedip silau.

"Kening kamu berdarah, Nay," ucapnya, bibir Zul sedikit komat-kamit membaca sesuatu, ia berdiri tepat di depanku, lalu meletakan ibu jari di lidahnya.

"Bismillah," gumamnya, ibu jarinya ditekankan di keningku, lalu diusap-usapnya perlahan.

Aku sedikit tergugu, memandang lekat ke arahnya, jantungku yang tadinya dag-dig-dug ketakutan, kini getarannya berganti haluan. Bukan karena takut, tapi....

Dia kembali menghampiri Ali yang masih menerangi mayat itu dengan senter, tangannya mencubit hidung, karena bau yang begitu mengganggu.

"Zul! Ambilkan teleponku!" pintaku sedikit mengeraskan suara, tanganku menunjuk ke arah ponsel.

Ketakutan refleks tadi membuat teleponku terpental jauh, senternya masih menyala jadi mudah menemukannya. Zul melenggang ke arah telepon yang kutunjuk,  meraih benda itu lalu mematikan nyala senter dan ia kembali menghampiri.

"Bawa senter yang aku bawa aja, ada dua lagi," usul Zul, ia menyerahkan ponsel lalu menurunkan tas yang digendong punggungnya, mengambil senter kecil dan menyerahkan satu padaku.

"Makasih, Zul."

"Ini ada satu lagi, kamu mau, Yas?" tanyanya pada Tiyas.

"Nggak deh, aku pegang HP punya aku aja," tolaknya.

Aku dan Tiyas tak berani mendekat pada mayat itu lagi, kami sedikit menjauh dari Zul dan Ali. Tiyas memandang sekeliling, suara lolongan anjing terdengar sayup di kejauhan sana.

"Aku takut, Nay," resahnya semakin mendekatkan tubuhnya denganku.

"Aku juga," keluhku sama resahnya.

Hutan ini begitu gelap, tak ada cahaya dari langit sedikit pun, terhalang pepohonan rimbun nan tinggi menjulang.

Tangan kami bertaut erat, suasana hutan terasa semakin mencekam, hawa dingin mulai merebak dibawa angin yang menerpa tubuh kami, dari gumaman Tiyas, dia menyesal sudah ikut ke dalam hutan ini.

"Gimana Zul? Mau diapain mayat ini?" tanya Ali menunjuk ke arah mayat.

"Kalau dibawa pulang rasanya nggak mungkin, sudah rusak dan bau bangkai, kita foto aja mayatnya, Li. nanti kita laporkan," saran Zul.

Memang akan sangat sulit jika kami harus membawa mayat itu pulang, selain kondisinya yang sudah mulai membusuk, baunya juga tak mungkin membuat kami tahan.

Ali mengarahkan senter ke arah mayat, Zul mengatur arah kamera ponselnya, beberapa kali jepretan ia ambil.

"Ayo kita pulang," ajak Ali. Dia memimpin jalan.

Untuk naik ke atas rasanya terlalu tinggi, kakiku juga masih terasa sangat sakit, aku jalan sedikit berjingkat dituntun oleh Tiyas.

kami memilih berjalan menyusuri dataran rendah tempatku terperosok tadi, berjalan di bawahnya, dan berharap di depan ada jalan untuk kami naik. Tak lupa Ali membuat tanda, memberi jejak pada jalan yang sudah kami lewati, agar tak tersesat. Bisa juga dijadikan tanda jika nanti kami melapor tentang keberadaan mayat tersebut.

Semakin jauh kami berjalan meninggalkan hutan, ada suara gemuruh air, ternyata di hutan ini ada sungai, Zul dan Ali menerangi sekeliling dengan senter mereka.

"Sepertinya ini sungai yang menuju ke kampung Pakidulan, kita ikuti aja sungai ini, dari kampung Pakidulan kita bisa berjalan menerobos sawah lapang, ke arah jalan kampung kita," ungkap Ali.

Kami berjalan mengikuti arah langkah kaki Ali, sementara Zul di belakangku dan Tiyas.

"Jam berapa ini, Yas?" tanyaku, rasanya sudah cukup lama aku di hutan ini.

Tiyas melirik jam tangannya dan mengarahkan pada Zul yang memegang senter.

"Jam sembilan, Nay," jawab Zul.

"Udah malam ternyata," sampai ketinggalan magrib, keluhku lirih.

Sungai menuju kampung tak tertutup pagar hutan, pagar hanya dipasang hingga tepi sungai, tapi kami tak tahu sungai tersebut dalam atau dangkal, airnya memang cukup tenang, tapi tak menjamin tak ada bahaya, apalagi malam begini. Untuk bisa keluar hutan, kami harus turun ke dalam sungai ini.

Ali turun lebih dulu, kakinya makin lama makin terendam hingga kedalaman sepinggang.

"Sambil pegang gini ya, ikutin aku," tutur Ali menunjukkan cara dia berjalan melewati sungai, tangannya bergelantung memegang tiang penyangga pagar kawat yang tertancap di pinggir sungai.

Giliranku dan Tiyas menuruni sungai, dalamnya kira-kira baru selutut, kakiku terseleo.

Byur!

Aku tercebur sedikit ke tengah.

"Nay!" pekik Tiyas

Sigap Zul dan Ali meraihku dari dalam air, seluruh tubuhku basah kuyup.

Celaka melulu sih aku, gerutuku sangat kesal, lalu istigfar, beruntung masih selamat juga.

Air sungai begitu dingin menembus tulang, tubuh rasanya mulai membeku, aku menggigil.

Setelah berjalan cukup jauh dari sungai dan meninggalkan hutan. Sampailah kami dikampung Pakidulan, masih cukup jauh menuju kampung tempat kontrakan kami.

Kampung ini tak kalah sepinya dengan kampung lainnya yang berdekatan dengan hutan ini, tak ada manusia yang berseliweran menjelang malam, penduduk menghasilkan malam di dalam rumah. Ini pasti karena rumor tentang hutan larangan, membuat mereka takut beraktivitas malam hari.

Perjalanan masih jauh, tubuhku semakin bergetar menggigil kedinginan, bajuku basah kuyup, sedangkan aku tak tahan dingin, badanku berguncang.

"Kamu kenapa, Nay?" tanya Tiyas bimbang melihatku.

"Aku kedinginan banget, Yas," sahutku, bibir bergetar dan gigiku berbunyi saling beradu.

"Aduh! gimana ini Zul?" tanya Tiyas.

Zul dan Ali mendekatiku, mereka mengajak istirahat sejenak.

"Buka aja gamisnya sampai ke pinggang lalu ikat, Nay. Nanti atasannya pake ini," titah Zul menyodorkan jaketnya.

Aku ikut saran Zul.

"Balik badanya," pintaku pada Zul dan Ali.

Mereka menuruti, Tiyas menjagaku mengawasi mereka, takutnya mengintip.

"Jaket kamu kok nggak basah, Zul? heran Tiyas.

"Sebelum turun ke sungai, aku buka dulu lah," jawab Zul.

"Aku nggak kepikiran tadi, sampai basah semua," timbrung Ali.

"Iya kalau panik dan buru-buru, ya ... gitu," tukas Zul.

"Ada plastik nggak?" tanyaku setelah selesai memakai jaket Zul.

Zul melihat tasnya, agak sedikit basah terendam air sungai tadi.

"Nih," asongnya. "buat apa?"

"Nggak usah kepo, balik badan!" Aku mendelik.

"Oh untuk si wadah gunung kembar," ledek Ali melihatku memasukkan bra yang basah ke dalam kantong plastik.

"Yang pasti, gunungnya nggak seseram hutan ini, gunung yang adem, bikin nyes," seloroh Zul.

"Gila ya, lelaki kalau bahas yang begitu nggak kenal tempat," marahku mendengar celotehan iseng mereka.

"Maaf, Nay. Bercanda. Sini masukan plastiknya," pinta Zul membuka tasnya.

Mereka berdua terkekeh, Tiyas juga ikut mesem melihat ketengilan mereka.

"Masih dingin, Nay?" Tiyas menggenggam jemari dan mengusap-usap telapak tanganku.

"Nggak terlalu," jawabku. Kami melanjutkan berjalan.

Akhirnya kami sampai di kontrakan, segera aku membersihkan diri, dan salat isya. Zul mengeluarkan makanan yang tadi ia bawa dalam tas, belum sempat kami makan.

Dia menyerahkannya padaku dan Tiyas. Tak selera makan rasanya, aku meringkuk dibalut selimut tebal, dinginnya benar-benar membuat tubuh terasa beku.

Zul dan Ali pamit pulang, mereka tak akan pulang ke kontrakan, pasti Muzi curiga. Malam ini Ali akan tidur di rumah Zul, motornya pun tadi sebelum ke hutan ditinggal di sana.

"Aku pulang, ya. Kalo ada apa-apa, telepon aja," pamit Zul

"Kamu janji, Yas. jangan cerita hal ini sama Muklis, demi keselamatan kita semua," pinta Ali.

"Iya, tenang aja, terus soal mayat itu gimana?"

"Besok kita bicarakan lagi, kita pikirkan harus lapor ke siapa," ulas Zul. "Kalian tenang saja, anggap nggak ada apa-apa, pokoknya pura-pura nggak tau."

Tiyas mengangguk mengerti pesan mereka, setelah mereka pergi, Tiyas mengunci pintu dan berbaring di dekatku yang masih menggigil.

"Masih dingin, Nay?"

"Huum."

"Aku bikinin teh anget, mau? tawarnya.

"Iya boleh, makasih, Yas."

"Nay, menurut kamu yang di hutan itu mayat siapa?" tanyanya seraya menyodorkan teh manis yang ia buat.

"Aku juga nggak tahu, Yas, tapi aku ada cerita, kan, soal mimpi, wanita itu mungkin saja yang selalu datang dalam mimpiku," jawabku, sambil menyeruput teh, rasanya hangat lewat di tenggorokanku.

"Jadi mimpi itu isyarat kasih tau kalau mereka ingin disempurnakan ya, Nay?"

"Bisa jadi, tapi aku nggak tau, Yas."

"Kasihan ya, Nay, kok bisa sampai dibuang di sana, siapa manusia yang tega berbuat seperti itu?"

"Entah lah, Yas, aku juga nggak tahu mayat siapa, untuk sementara kita pura-pura nggak tau aja, jangan bikin kepanikan."

"Iya, tenang aja."

Badanku sudah tak terlalu dingin, aku dan Tiyas pun mulai berbaring memejamkan mata. Baru terasa badanku pegal semua, bahkan kaki rasanya perih kanan kiri, entah terkena duri atau apa, waktu masih menggigil tadi tak berasa apa-apa.

Srek ... srek ... Srek. Suara seorang berjalan mendekati rumah ini, sama seperti di pabrik waktu itu.

Deg!

Apa itu perempuan yang menyeret kakinya waktu itu? Terdengar bergumam lirih di luar rumah ini, lalu suaranya hilang. Ia berjalan menjauh, apa benar yang di hutan itu adalah wanita yang selalu mendatangiku?

Kudengar suara terima kasihnya yang nyaris samar. Meskipun tak tahu siapa namanya, aku mengirimkan doa untuknya semoga amal ibadahnya di terima, dan diampuni segala dosanya, juga segera di dikebumikan dengan segera jasadnya yang masih di hutan sana. Aamiin.

           --🌳---🌳--

     Senin pagi aku dan Tiyas bersiap berangkat ke pabrik, Nining dan Lilis pun sudah sampai ke kontrakan ini.

"Kamu balik teu, Nay? (Kamu pulang nggak nay?)" tanya Nining.

"Nggak, Ning, aku tidur di sini sama Tiyas."

"Kirain jadi pulang, Nay," timpal Lilis.

"Hehe nggak jadi. Aku pulang siangnya, sore udah ke sini lagi nemenin Tiyas," sahutku sedikit berbohong.

Aku memegang tengkuk yang pegal, bahkan seluruh tubuhku rasanya sakit gara-gara malam terguling di hutan.

"Kamu sakit, Nay?" tanya Lilis.

"Nggak, cuma pegel dikit," ucapku tersenyum.

Sikap Lilis sudah kembali seperti biasa, tapi aku masih bimbang jika Lilis tahu Muzi mengutarakan rasa cintanya padaku. Ah... pasti Lilis sangat sakit hati.

"Nay, sini! ... lihat foto yang semalam aku foto," pinta Zul dan Ali menghampiri ketika aku sudah ada di pintu gerbang pabrik. Zul menunjukkan foto-foto itu padaku.

"Ya Allah," lirihku mendekap mulut.

"Ini pasti mayat yang menyeret kakinya, Nay. Selalu aku lihat dalam mimpi."

Kuperhati lagi mayat itu, kaki kirinya terlipat ke atas pinggangnya seperti sudah patah, wajahnya rusak dan belatung mengerumuni sekitar matanya juga bagian tubuh lain yang terbuka.

Huek!

Lagi-lagi aku mual, biarpun hanya dalam gambar, tapi aku sudah melihat aslinya malam tadi dan bau itu terbayang lagi.

"Aku udah kirim poto ini ke Pak Wardani, nanti beliau laporkan kejadian ini ke kantor polisi, semoga saja segera ditangani, nama kita sudah dijamin akan dirahasiakan," ungkap Zul

"Gimana kalau kita viralkan aja foto ini, Zul. Lewat sosmed, biar kita semua waspada, lama-lama aku kesal juga, sudah dua kali menghadapi hal pelik di hutan itu," gerutu Ali geram.

"Kita serahkan saja ke Pak Wardani dulu, nanti kita lihat hasilnya gimana."

Waktu istirahat makan siang, seperti biasa kami menuju kantin, aku tak masak lagi hari ini.

"Nay! Sini," panggil Muzi sedikit teriak, tangannya melambai ke arahku.

Lilis menatapku, seperti kesal melihat Muzi memanggil. Aku mengangkat bahu melirik pada Lilis. Kami duduk di bangku yang lain, tak kuhiraukan Muzi, dia malah mendekat membawakan makanan ke mejaku.

"Kamu ngapain sih?"

Mataku melirik Lilis yang mulai ketus, wajahnya tampak semakin kesal.

"Aku udah pesankan ini buat kamu." Muzi menyodorkan makanan ke meja di hadapanku.

"Kalau mau traktir harus adil, beliin juga semua temenku," tuturku.

Dia tak mendengarkan, langsung duduk di sebelahku. Lilis menghentikan kakinya lalu melangkah mencari tempat duduk lain.

Ah, benar-benar ya, si Muzi ini. Padahal aku dan Lilis sudah akur kemarin, malah sekarang begini lagi.

            --🌲---🌲--

     Pagi ini ketika aku akan masuk ke pabrik, ada seorang perempuan paruh baya dan seorang lelaki. Mungkin itu suaminya, lewat di hadapanku, tersenyum ramah, mereka berjalan tergesa menuju kantor. Segera aku masuk pabrik dan memulai pekerjaan.

Aku sedang sibuk membongkar jahitan yang salah, hari ini barang yang ditolak cukup banyak, malas sekali jika harus lembur.

"Nay."

Aku menoleh, Zul mendekat ke arahku.

"Kan, bener firasat aku," ujarnya tiba-tiba.

"Firasat apa?"

"Tentang bayangan itu, tadi ada orang tua yang mencari anaknya, udah dua hari anak mereka yang kerja di sini nggak pulang," terang Zul.

"Berarti bayangan bergerak itu memang sebuah isyarat," sambungnya.

"Terus gimana?"

Tiba-tiba orang dari dalam pabrik berhambur ke luar, aku dan Zul belum sempat menyelesaikan perbincangan, ikut merapat ke arah jendela melihat keadaan di luar.

Beberapa orang berseragam polisi, membawa sebuah bag plastik besar. Aku bertatapan dengan Zul, jangan-jangan itu....

Zul berhambur ke luar, aku masih di dalam memerhati, kulihat Zul bertanya pada polisi itu, aku hanya bisa melihat anggukan dan gerakan tangan mereka saja dari jauh.

Zul menganggukkan kepala, polisi itu berlalu ikut rombongan lain yang lebih dulu berjalan membawa bungkusan plastik.

"Itu mayat yang kita temukan di hutan, Nay," ungkapnya setelah berada di hadapanku.

"Pak Wardani melaporkan langsung ke kantor pusat, Insya Allah nama kita aman," Lanjutnya kemudian.

"Alhamdulillah, semoga bisa dikebumikan dengan selayaknya dan kasusnya segera diusut.

"Iya, Nay aamiin, nanti aku cari tahu siapa orang yang meninggal itu, pasti akan dibawa dulu ke rumah sakit untuk pemeriksaan penyebab kematian dan identifikasi jenazah," terang Zul.

Satu mayat ditemukan, namun satu orang lagi hilang, makin pelik saja rasanya, ada apa sebenarnya di hutan itu?

***

Agan, sista, cerita ini bisa Agan baca terusannya, di Play Store, ketik aja judul

SHAKILA MISTERI HUTAN LARANGAN
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh aisyahzshaki053
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan
Wah serem nih, ninggal senter ah, buat jaga jaga kalo butuh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
Halo Naya, hutan larangannya yg dimana? Hutan Nirmala kah? Saya blm baca semua sih ninggalin jejak dulu
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan aan1984 memberi reputasi
Bahasa sundanya ada yg salah dikit... Ini kejadian nyata di daerah mana? Jawa barat bukan?
profile-picture
profile-picture
bobbob107 dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Yaaah bersambung di play store
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aisyahzshaki053 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Numpang masang iklan doang Sis....
Cape deh....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aisyahzshaki053 dan 2 lainnya memberi reputasi
Tinggalin jejak dulu emoticon-Tai
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan pulaukapok memberi reputasi
Diubah oleh cos44rm
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
mantap ijin membaca
profile-picture
profile-picture
aisyahzshaki053 dan indrag057 memberi reputasi
Seru nih, tapi scroll sampai bawah kok ada tulisan 'terusannya baca di bla bla bla...'

Apakah ada indikasi jualan kentang?
profile-picture
profile-picture
aisyahzshaki053 dan bobbob107 memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Halaman 1 dari 2


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di