CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Terjerat Cinta Sang CEO
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/616d153462001238ae0d1b4d/terjerat-cinta-sang-ceo

Terjerat Cinta Sang CEO

Terjerat Cinta Sang CEO


Judul : Terjerat Cinta Sang CEO
Rate :21+
Status :On going(berkoin)
Update daily

Bab 1

Hujan mengguyur kota sejak semalam. Seorang gadis berusia dua puluh enam tahun tampak santai menikmati sarapan paginya di unit apartemen miliknya. Dia adalah Carmen Adelia Giovanni.
Gadis yang mempunyai panggilan Adelia itu bekerja di salah satu perusahaan ternama di New York, sejak satu minggu yang lalu. Ia beruntung mendapati posisi sekretaris seorang CEO, setelah mengalahkan beberapa kandidat pilihan.

Drrt ... Drrt ... Drrt

“Halo Jes? Ada apa?” tanya Adelia.
>>“Lo udah berangkat kerja?”
“Ck, masih di unit.” Adelia melihat ke arah jam tangannya lalu berkata, “Bentar lagi gue berangkat. Kenapa?”
>>“Gue ke New York besok. Ada kerjaan disana. Gue nginep di unit Lo ya?” pinta Jessy.
“Boleh. Jam berapa Lo dateng? Mau gue jemput?” tanya Adelia.
>>“Nggak perlu. Lo kasih alamatnya ke gue. Entar gue cari.”
“OK! Sampai jumpa besok. Jangan lupa hati-hati.”
>> “Sayang kamu banyak-banyak. Bye ...”
Adelia meletakkan ponselnya di meja. Ia segera meneguk segelas susu hangat hingga tandas. Lalu ia mencuci gelas itu sebelum pergi ke kantor.
Pagi ini Adelia terpaksa harus naik taksi agar lebih cepat sampai ke kantor. Ada beberapa berkas yang harus ia persiapkan sebelum meeting dan penyambutan CEO yang baru.
Dua puluh menit kemudian, Adelia telah sampai di lobi Johnson Corporation. Ia segera masuk ke lift khusus karyawan dan menekan tombol paling atas di mana ruangannya berada.
Beruntung pagi ini hanya dirinya di dalam lift itu. Jadi ia tak perlu mendapat tatapan intimidasi dari para kandidat yang telah ia kalahkan. Gadis itu tersenyum tipis saat teringat ada salah satu kandidat kalah melabraknya di luar kantor.
Ting
Adelia keluar dari lift dan menuju di mana mejanya berada. Ia segera duduk di kursi dan menyalakan laptop di sana. Gadis itu dengan lincah memeriksa beberapa file sebelum mencetaknya.
Sepuluh menit kemudian, Adelia segera berdiri di depan pintu lift setelah mendapat pesan bahwa sang CEO datang. Seperti hari-hari sebelumnya, ini adalah rutinitas yang harus ia kerjakan sebelum jam kerja dimulai.
Ting...
Pintu lift terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang masih tampak gagah dan tampan. Ia adalah William Johnson. Seorang CEO yang sangat terkenal di Kota New York. Namun ada yang berbeda kali ini. Di sebelah pria paruh baya itu berdiri pria tampan yang mempunyai wajah tampan dengan kaca hitam dan satu pria lain yang berdiri di belakang keduanya.
“Selamat pagi Mr. Johnson.” Sapa Adelia sopan dengan senyum tipis di bibirnya. Gadis itu meraih tas yang berada di tangan William dengan lembut dan membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Selamat pagi Adelia.” Balas William.
Adelia berjalan lebih cepat untuk membukakan pintu ruangan William. “Silahkan Mr,” ucapnya sopan.
Setelah William yang dan kedua pria lainnya masuk, Adelia pun turut masuk untuk meletakkan tas kerja William di mejanya.
William beserta laki-laki yang tak lain adalah Alexander Felix Johnson, Putra pertamanya. Alex begitu nama panggilan yang disematkan William padanya. Laki-laki berusia tiga puluh satu tahun itu mempunyai wajah tampan dan otak yang cerdas.
Sebelumnya ia menjadi CEO di kantor cabang yang berada di California. Dan saat William memutuskan untuk pensiun dini, dialah satu-satunya pilihan paling tepat untuk menggantikannya.
“Kopi Mr.?” tawar Adelia sopan.
“Alex?” William memanggil nama putranya yang masih mengamati interior ruangan yang sebentar lagi akan diambil alih olehnya.
Laki-laki bernama Alex itu hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan suaranya. Kesan pertama yang ditangkap Adelia adalah angkuh.
Sepertinya aku perlu amunisi lebih banyak menghadapi manusia dingin seperti dia. Gumam Adelia dalam hati.
“Buatkan dua, Adelia. Dan terima kasih.” Ucap pria paruh baya itu.
Adelia mengangguk sopan. “Baik Mr. Silahkan tunggu sebentar.”
Gadis itu beranjak menuju pantri kecil yang berada di ruangan itu. Dengan cekatan, ia segera membuatkan dua cangkir latte untuk kedua boss-nya tersebut.
Tanpa Adelia sadari, tatapan tajam Alex mengintai dirinya untuk beberapa detik yang begitu cepat.
“Sepertinya ruangan ini perlu di rubah pada beberapa bagian Dad?” ucap Alex.
“Katakan keinginanmu pada Adelia. Dia yang akan mengurus semuanya,” jawab William santai.
Alex mendengus. Ia paling malas berhubungan dengan perempuan. “Tommy, berikan pengarahan pada sekretaris Daddy untuk merenovasi ruangan di sini seperti yang ada di California.” Titah Alex kepada asisten pribadi yang dari tadi bersamanya.
“Baik Mr. Johnson.” Jawab Tommy sopan.
Adelia yang baru saja menyeduh dua cangkir latte di pantri, segera memberikan kepada boss-nya tersebut.
“Silahkan Mr. Johnson dan Mr. Alex,” ucap Adelia.
Mendengar nama Alex keluar dari mulut Adelia membuat laki-laki yang mempunyai nama itu menoleh ke arahnya.
“Ulangi sekali lagi!”titah Alex kepada Adelia dengan suara beratnya.
“Yang mana?” tanya Adelia bingung.
“Ulangi saat kau memanggil namaku,” ucap Alex datar.
“Oh, itu. Silahkan Mr. Alex,” ulang gadis itu.
Laki-laki berwajah datar itu tertegun untuk beberapa saat. Telinganya begitu membenarkan panggilan dari Adelia, namun otaknya menolak untuk menerima. Ia kembali mengubah wajah datarnya, lalu berkata “ Panggil aku Mr. Felix. Jangan menyebut nama depanku.”
William terkesiap mendengar putranya meminta Adelia memanggilnya dengan panggilan itu. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan nama itu hanya Mommy -nya saja selama ini. Pria paruh baya itu mengulum senyum misterius.
Sebenarnya bukan William saja yang terkejut. Itu juga terjadi pada Tommy. Sepengetahuannya boss-nya itu akan menggunakan nama keluarga untuk panggilan di kantor. Tommy hanya diam mengamati apa yang akan dilakukan boss arrogant sekaligus sahabatnya itu.
“Ikuti saja, Del.” ucap pria paruh baya itu.
“B-baik Mr. Johnson,” ucap Adelia gugup. Sial, tatapan lembut dari William membuatnya gugup.
“Kalau begitu saya pamit kembali ke meja saya Mr. Saya masih ada beberapa berkas yang perlu diteliti untuk meeting nanti.” Adelia membungkukkan badan dan segera keluar dari ruangan boss-nya itu.
Fyuh ...
Adelia merasa lega kembali ke meja kerjanya. Ia kembali berkutat dengan dokumen yang masih belum diteliti olehnya.
Kreek...
Tommy keluar dari ruangan itu menuju meja kerja Adelia. Gadis itu tampak tak terkejut dan seolah tidak terganggu saat laki-laki itu memandangnya.
“Ada yang perlu saya bantu Mr. Tommy?” tanya Adelia tiba-tiba.
Tommy tersentak, “Ah ... Tidak. Maksudku aku ingin memberitahu tentang perubahan interior ruang CEO. Mr. Alex menginginkan ada beberapa yang perlu di renovasi dan diganti dengan yang baru. Ini sebagai referensi untuk menata ruangan yang sesuai dengan keinginan Mr Alex.” Tommy memberikan beberapa lembar gambar kantor Alex yang berada di California.
Adelia tampak meneliti satu persatu gambar tersebut. Dengan cepat otak pintarnya mampu memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk mengubah dekorasi interior ruangan itu sesuai dengan gambar yang ia lihat.
“Satu minggu Mr. Tommy. Saya pastikan dalam satu minggu ruangan sudah bisa ditempati,” ucap Adelia yakin.
Tommy melongo. “Kamu yakin? Hanya dalam seminggu?” tanya Tommy gamang.
Adelia mengangguk mantap. “Tentu. Saya paling ahli memprediksi pembangunan dan proposal dana. Saya yakin hanya butuh satu minggu.”
“OK! Akan aku katakan pada Mr Alex. Oh ya, panggil aku Tommy saja,” ucap Tommy.
“Baiklah. Panggil aku Adelia,” Adelia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan laki-laki itu.
Tommy pun mengulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan tersebut.
“Jangan segan-segan bertanya padaku kalau nanti kamu menemukan kesulitan,” pesan Tommy.
“Terima kasih,” ucap Adelia singkat.
Setelah Tommy kembali ke ruang CEO, Adelia segera menata dokumen di mejanya sebelum memanggil William untuk ke ruang meeting.
Kini Adelia mendampingi William menuju ruang meeting. Ia berjalan di belakang pria paruh baya itu sambil membawa beberapa dokumen dan I-Pad.
“Berapa lama meeting kali ini?” tanya William.
“Satu jam Mr. Meeting kali ini hanya mengoreksi kesalahan jurnal minggu lalu saja. Dan membahas pesta penyambutan untuk Mr. ... Felix,” jawab Adelia.
William menarik kedua ujung bibirnya. “Baiklah. Aku serahkan urusan pesta penyambutan padamu.”
“Saya akan berusaha menyiapkan dengan baik Mr,” jawab Adelia sopan.
Saat pintu ruangan terbuka suasana di dalam menjadi tenang seketika. William berjalan dengan tenang menuju tempat yang telah disediakan untuknya. Diikuti Adelia yang kini berdiri di sampingnya.
“Meeting kita mulai”




Bab 2

Suara musik Dj menggema di salah satu club malam di kota New York. Para laki-laki dan wanita tampak meliuk-liuk di dance floor sesuai dengan iringan musik yang mengalun.
Dua pria yang baru saja datang, memesan ruang VVIP untuk sekedar menghilangkan kejenuhan di malam Minggu-nya. Mereka adalah Alexander Felix Johnson dan sahabat sekaligus asisten pribadinya, Tommy Fernandez.
Alexander Felix Johnson, laki-laki berusia tiga puluh satu tahun yang merupakan anak pertama dari William Johnson dan Maria Johnson. Ia masih mempunyai adik perempuan yang berumur dua puluh lima tahun yang memilih menjadi model internasional.
Alexander Johnson begitu orang-orang mengenal namanya. Ia masuk sebagai salah satu CEO terbaik di Benua Amerika. Namanya sudah seringkali berlalu lalang di majalah, televisi dan diberbagai aplikasi sosial media.
Seorang pelayan membawa satu botol Bombay Sapphire dan dua gelas berisi ice cube masuk ke ruang dimana Alex dan Tommy sedang bersantai.
“Silahkan Tuan. Apakah anda perlu hiburan malam ini?” tanya pelayan itu.
Alex mengibaskan tangannya. “Tidak perlu!” jawab Alex datar.
Tommy memberikan isyarat mata agar pelayan itu segera keluar.
“Baiklah. Selamat bersantai, Tuan.” Pelayan itu segera keluar dari sana.
Tommy menuang Bombay Sapphire itu ke dalam gelas yang sudah tersedia. Memberikan satu untuk Alex dan satu untuk dirinya sendiri.
“Kelihatannya Lo perlu wanita malam ini.” Celetuk Tommy.
Alex menyesap cairan mahal yang berada digelas itu tanpa menanggapi celotehan Tommy. Ia tampak memejamkan mata beberapa saat, menikmati rasa hangat yang membasahi tenggorokannya.
Laki-laki itu membuka matanya kembali. Berpaling ke arah Tommy dan berkata, “Gue nggak butuh wanita. Mereka hanya buat hidup gue berantakan.”
Mendengar respon dari Alex membuat Tommy mendengus. “Lo belum move on juga?”
Laki-laki itu kembali memejamkan mata. Ia mulai bertanya pada hatinya sendiri. Tapi, nihil. Sampai saat ini ia tak pernah mendapat jawaban.
“Entahlah. Mungkin gue belum menemukan saja. Hanya masalah waktu.” Gumam Alex.
“Gue tahu ini berat buat Lo. Tapi asal Lo tahu, obatnya adalah cinta yang baru. Kalau Lo nggak membuka hati, nggak akan pernah ada yang bisa masuk kesana.” Ucap Tommy panjang lebar.
“Sok pintar. Lo sendiri sampai sekarang masih jomblo.” Desis Alex.
“Hahahahaha ... Gue emang nggak punya kekasih. Tapi gue tahu cara bersenang-senang dengan wanita.” Ucap Tommy telak.
Alex terdiam. Ia melupakan kapan terakhir kali ia bersenang-senang.
Sejak saat itu ...
“Gue keluar dulu deh. Nanti gue cariin yang bening buat Lo.” Tommy segera beranjak meninggalkan Alex sendirian disana.
Tiga puluh menit kemudian Tommy kembali ke ruang VVIP bersama tiga wanita berpakaian minim. Tommy mengisyaratkan dua wanita lain untuk menghampiri Alex dan menggodanya. Sedangkan ia sendiri merangkul satu wanita pilihannya malam ini keluar dari sana mencari kamar untuk menuntaskan gairahnya.
Kedua wanita itu tampak duduk di kedua sisi Alex. Saat mereka akan melarikan tangannya ke dada dan rahang laki-laki itu, Alex membuka mata. Kedua bola mata Alex yang berwarna biru menghujam kedua wanita itu.
Salah satu dari wanita itu menyingkir tanpa bersuara, tapi tidak bagi satu lainnya. Wanita dengan penuh keberanian itu meraba dada Alex yang berbalut kemeja dan jas mahal. Tak mendapat penolakan membuat wanita itu semakin berani melarikan tangannya ke rahang Alex. Saat jemari tangannya hampir menyentuh bibir laki-laki itu, Alex mencekal tangan wanita itu kasar.
“Keluar!!!” desis Alex tajam.
Wanita itu segera beranjak dari sisi Alex dan keluar dari ruangan itu. Alex menghembuskan nafasnya pelan. Lalu kembali menuang Bombay Sapphire ke dalam gelasnya dan menyesapnya perlahan.
Kamu akan mendapatkan yang lebih baik suatu saat nanti. Jagalah dirimu dari para wanita yang hanya ingin singgah tanpa ada niat menetap selamanya. Kamu akan membenarkan ucapan Mommy jika waktu itu tiba. Wanita baik-baik akan menjaga martabatnya hanya untuk suaminya kelak.
Nasihat dari Maria Johnson selalu teringat di otak pintar Alex. Setelah kejadian itu, ia belum dekat dengan wanita manapun. Mommy -nya akan menyanyi sepanjang hari bila dirinya bermain-main dengan wanita malam hanya untuk mencari kepuasan sesaat.

Tring ...

Alex mengambil ponsel miliknya yang berada dalam saku jas. Ia membuka kunci ponselnya dengan menempelkan sidik jari salah satu tangannya. Dan membuka salah satu aplikasi pesan disana.

Daddy
Pulanglah ke New York besok malam
Ada yang mau Daddy dan Mommy bicarakan denganmu
Daddy harap kamu tidak akan menghindar lagi

Alex mengusap kasar wajahnya. Ia merasa gusar. Kembali ke New York sama saja dengan membunuh dirinya pelan-pelan. Tapi ia tak mungkin menghindari kedua orang tuanya yang telah beberapa tahun ia tinggalkan. Laki-laki itu memberikan balasan yang telah ia pikir dengan cepat.

//Me
Alex akan pulang satu minggu lagi Dad,
Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Alex kerjakan
Daddy dan Mommy tidak usah khawatir
Alex sudah tahu bagaimana harus bersikap
Alex tidak akan mengecewakan kalian lagi

Tak berapa lama pesan yang Alex kirimkan mendapat balasan.

Daddy
Bagus, Daddy tahu kamu pasti bisa
Mommy -mu pasti bahagia mendengar kamu pulang
Daddy akan segera memberitahu Mommy -mu

Setelah membaca pesan dari Daddy -nya, Alex tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Maria Johnson saat ini.
Hari semakin larut, saat ini waktu menunjukkan pukul satu pagi. Alex berniat untuk pulang ke unit apartemen yang ia tinggali selama tiga tahun di California. Ia mengirimkan pesan singkat kepada Tommy agar sahabatnya itu tak mencarinya.
Setelah selesai membayar bill pesanannya, ia bergegas keluar menuju dimana mobilnya telah terparkir. Tapi tiba-tiba seorang wanita dengan balutan pakaian rapi yang sedang mabuk berat menabraknya. Wanita itu jatuh ke pelukannya sambil merancau dan memukul dadanya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun berlalu, dadanya berdebar kencang. Wanita dengan harum vanila bercampur alkohol itu tampak pasrah saat Alex menggendong dirinya masuk ke dalam mobil laki-laki itu.
Alex sendiri seperti tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tanpa sadar ia terpikat pada pandangan pertama pada wanita mabuk itu.
Dengan cepat otak pintar Alex merekam wajah dan penampilan wanita yang kini tampak terlelap dikursi samping kemudi. Alex segera melajukan mobil sportnya dengan kecepatan teratur menuju salah satu hotel berbintang di California.
Mobil sport Alex berhenti di area lobby Palace Hotel. Ia memberikan kunci pada valet parkir, sebelum menggendong wanita mabuk yang masih berada didalam mobilnya.
Pelayan hotel dengan sigap melayani pemesanan kamar Alex dengan cepat. Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan pemilik Johnson Corporation. Dan kebetulan hotel tersebut adalah milik salah satu relasi bisnis Alex.
Seorang pelayan mengantarkan Alex menuju salah satu kamar di lantai dua puluh enam. Di setiap lantai hanya ada dua unit kamar saja yang tentunya sangat luas. Bahkan kamar hotel itu lebih mirip rumah minimalis.
Hanya ada sebuah ranjang, lemari, sofa dan satu kamar mandi. Tapi semuanya merupakan barang mewah. Harga sewanya pun tak main-main.
Alex membaringkan tubuh wanita mabuk itu di ranjang yang berada dikamar itu setelah pelayan yang mengantarnya keluar. Tapi saat ia melepas kedua tangan wanita itu dari lehernya, tiba-tiba saja wanita itu menarik dirinya. Ia pun jatuh tepat di atas wanita yang kini mengumpati dirinya dengan kata-kata kasar.

Bersambung ....

Baca kelanjutannya hanya di aplikasi resmi GoodNovel

Link :

https://m.goodnovel.com/book_info/31...259394&ch=apps
profile-picture
profile-picture
profile-picture
master.nikob165 dan 2 lainnya memberi reputasi
mau buat thread begini gan biar rame hehe emoticon-coffee
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agnesamelia2904 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
pengen banget punya begitu gan emoticon-Salam Kenal
profile-picture
profile-picture
wiselovehope dan armerry92 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nganggur asal banyak duit gpp gan emoticon-Hammer
profile-picture
armerry92 memberi reputasi
nganggur asal banyak duit gpp gan emoticon-Baby Girl
profile-picture
armerry92 memberi reputasi
bengek hal yang baru ane tau ni, thanks emoticon-No Hope
sambil nunggu pacar baca ini seru juga bre emoticon-Imlek
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
dunia sudah tua yah banyak banget hal yang berubah gan emoticon-Busa
ane pengen banget kek gitu gan ente gitu dah emoticon-Salaman
bengek hal yang baru ane tau ni, thanks emoticon-Blue Guy Cendol (S)


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di