CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
HIKING (Based on True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/616adb460163356200605d21/hiking-based-on-true-story

HIKING (Based on True Story)

HIKING


Cerita ini adalah sebuah pengalaman yang cukup unik untuk saya pribadi, dimana hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu, sebelum covid melanda Indonesia.

Dan untuk beberapa hal, saya sudah meminta ijin kepada pihak-pihak yang terkait dengan jalan cerita disini secara langsung. Terutama kepada "Sang Dewi", sayangnya saya belum menemuinya untuk kedua kalinya, tapi rasanya kedatangan salah satu kakak saya sudah mewakilinya.

Karena ini cerita pribadi, untuk tempat dan lain-lain saya samarkan karena permintaan beberapa pihak, dan salah satu foto akan saya edit blur, karena ada wajah disana, walau untuk penampakannya tidak bisa saya tutupi, tapi karena kesalahan saya, foto aslinya hilang dan narasumber juga belum menemukan filenya, karena foto yang saya punya sempat di edit oleh kakak saya karena satu dan lain hal, jadi mohon dimaklumi ya gan emoticon-Big Grin

Bagi yang mengenal saya ataupun tahu siapa saja yang terlibat, please keep quiet emoticon-Smilie

Catatan : sebisa mungkin saya selesaikan secepatnya, tapi kalau banyak kesibukan, saya minta maaf kalau agak lama, terima kasih, selamat menikmati.

***

Catatan Awal


Sore itu dibawah pohon belimbing wuluh yang tengah berbunga, kami duduk di sebuah bangku kayu, menatapnya dengan penuh perhatian. Wajah tegasnya mengukir pikiran kami saat itu, rokok masih mengepul dari pinggiran mulutnya.

"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan ?", Matanya menatap tajam kepadaku. Aku hanya tersenyum kecil.

"Makanya aku datang kesini, Om. Meminta ijinmu sebelum kesana. Setidaknya kan aku persiapan".

Dia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memandang jauh. Kulihat adikku gelisah memainkan smartphonenya, dan aku hanya bernafas, mengosongkan pikiranku.

"Ya sudah, semua akan beres kok, yang terpenting kamu tahu 'tugas' mu. Mau sampai kapan disini ?"

Kali ini aku nyengir, "Tugas disini sudah kelar kok, Om, kita langsung balik ke Jogja".

"Kebiasaan kamu, kapan waktumu ?". Matanya menatap tajam.

"Next time lah, Om, kayak ga tahu aja. Kalau lowong aku juga pasti kesini, lagian disini ga bisa hanya satu dua jam, kan ?", Aku mengedipkan mataku kepadanya. Dia hanya tergelak.

"Yowes, hati-hati di jalan, ra sah ngebut-ngebut. Nyawamu mung siji thok kuwi", selorohnya.

"Ne iso koyo kucing, jane rapopo tho, yo", sanggahku sambil tertawa.

"Yowes ngono dadi kucing sik".

"Hahaha ampun, Om. Esih pengen kadonyan".

Kami tertawa berbarengan.

Akhirnya kami pamit, adikku melajukan Honda nya menuju kota Jogja.

***

Pertemuan


Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya, kabut masih turun, dan bunga morning gloryku masih kuncup.

Aku memandangi pelataran rumah dan jalanan yang masih lenggang. Mendekap hoodieku kuat-kuat menahan dingin, mengecek kembali pesan yang masuk sambil melihat "location" nya yang bergerak maju.

Tak berapa lama sebuah mobil jazz terbaru masuk ke pelataran, pintunya terbuka.

"Sorry, Yu, tadi aku ketiduran." 

Aku tersenyum, "Gapapa, Tyas. Santai, baru jam berapa ini ?"

Aku masuk ke dalam mobil dan melemparkan tas ranselku ke bangku belakang. Tyas menyetel akun spotify di smartphonenya. Dan mulai menyalakan mobil kembali. Mobil kembali melaju ke jalanan di depan rumahku.

"Yang lain udah ada kabar ?" Tyas memulai pembicaraan setelah beberapa lama kami terdiam.

"Mas Arif katanya bentar lagi nyampe, Om Putra lagi nyamperin si Bayu, yang lain sih sudah bilang otewe," Aku membacakan ringkasan percakapan di grup whatsapp kami. Tyas mengucek matanya sejenak, matanya awas melihat ke jalanan di depan.

"Syukur deh kita nggak telat banget, sumpah aku ga enak sama kamu, aku udah bangun tadi jam empat, eh malah ketiduran, untung sempat setel alarm."

"Iya gapapa, udah kamu fokus aja nyetir. Eh, Yas, kamu tahu tempatnya dimana, kan ?" aku bertanya sambil mengecek kembali bawaanku di tas kecil.

"Santai, aku tahu, kemarin aku udah kesana bareng Didi".

"Ohh... oke, sip. Eh, nanti mampir bentar ya ke Alfa atau Indomart, aku mau beli aqua sama roti. Btw, kamu punya jas hujan yang sekali pakai nggak ?"

Tyas memandangku, "Nggak, aku juga lupa, tapi kayaknya disana ada, entar sekalian aja kita beli."

"Oke".

Lima menit kemudian kami mampir sebentar di Indomart terdekat dan membeli yang kami perlukan, tak berapa lama kami meneruskan perjalanan. Menyusuri jalanan desa yang lengang dengan hamparan sawah dimana-mana kemudian Jalanan bukit yang naik turun dengan ekstrim, cukup membuat kami jantungan, takut mobilnya tidak kuat.

Akhirnya kami sampai di pelataran balai desa, tampak terparkir satu mobil dan beberapa motor, di ujung bangunan, sekelompok orang tengah mengecek tas ransel masing-masing. Kami keluar mobil dan menghampiri mereka.

"Wah, akhirnya cewek-cewek datang juga," sapa Mas Arif sambil tersenyum.

"Cuma kita doang nih ceweknya ?" pandangku heran.

"Yah, cuma kalian berdua nih." Bayu menimpali.

"Oke, semua sudah berkumpul, Mbah Wijoyo udah nunggu di ujung jalan tuh," ujar Mas Arif sambil menunjuk ke utara, tempat pertigaan jalan desa yang tadi kami lewati untuk menuju kesini. "Ayo jalan, keburu siang nih".

Kami berjalan di belakang mereka, melewati lapangan yang cukup luas, berbelok di pertigaan, dan bertemu dengan Mbah Wijoyo. Perawakannya yang kecil dan tubuhnya yang liat, menunjukkan bahwa panggilan "Mbah" hanya sekedar panggilan belaka. Raut mukanya yang ramah menyapa kami.

(***lanjut besok, ada yang harus saya lakukan emoticon-Smilie c u~)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 10 lainnya memberi reputasi
Ditunggu lanjutannya gan,kayaknya bakalan seru nih. Ngemeng2 ane pertamax yaemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kkjavu dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nitip sendal
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kkjavu dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Awal Perjalanan


"Halo, semua, apa kabar ?" sapa Mbah Wijoyo.

"Alhamdulillah baik," sebagian menjawab dengan bersamaan.

Mas Arif mendekati Mbah Wijoyo, "Mbah, seperti yang kita bicarakan semalam, kita lewat jalur yang baru saja, yang akan jadi jalur pembuka, kalau lewat yang kayak kemarin itu kan kita muter jauh".

Mbah Wijoyo menganggukkan kepalanya dengan pelan.

"Kan kemarin untuk mencari jalur yang mudah buat nanti bagian motor bisa gampang melaju, tapi yakin lewat jalur baru ini ? sama saja kita babat alas, karena jalurnya ada yang belum sempat dibereskan, Pemuda desa sini beberapa sedang membersihkan jalur yang di dekat puncak, apalagi semalam hujan, harus hati-hati." wajahnya menyiratkan kecemasan.

"Nggak papa, Mbah. Kan memang tujuan kita hari ini sebagai pembuka jalur, jadi ya harus cek jalur ini sebelum dua minggu lagi digunakan," Mas Arif menatap Mbah Wijoyo dengan penuh keyakinan.

Mbah Wijoyo hanya mengendikkan bahu, pasrah.

Aku memandangi mereka berdua, tapi sekaligus mulai waspada. Aku mengarahkan mataku kepada Tyas, dia tengah berbincang dengan Didi, pacarnya. Aku menghela nafas sejenak, mengatur konsentrasi, dan berdoa menurut keyakinanku. Bayu menepuk pundakku pelan.

"Yok, Yu. Jalan", matanya berbinar cerah. Aku hanya bisa tersenyum pelan, semoga kuat, kataku dalam hati.

Kami, menyusuri jalan desa yang sudah diaspal, berjalan bersama, sampai melewati pekuburan desa, dan akhirnya kaki Mbah Wijoyo menyibak sebuah rumpun, kami melewati sisi selokan dengan air jernih. Berhati-hati karena sebagian tanah masih basah.

"Dulu desa ini kekurangan air, saya sampai harus mencari jauh di dalam bukit ini, dan akhirnya setelah ketemu, ya saya usahakan bersama warga membangun penampung". jelas Mbah Wijoyo.

"Wah, keren, Mbah. Nanti saya boleh lihat mata airnya ndak, Mbah ? Nanti kita nglewatin, ndak ?", tanyaku.

Mbah Wijoyo menengokkku sebelum menjawab, "Wah, Mbak, saya juga sebenarnya belum menemukannya secara detail, saya baru nemu alirannya, itu saja jauh disana," tunjuknya ke atas. "Dan kita tidak melewatinya, paling nanti ketemu salah satu alirannya saja."

Aku menghela nafas, "Oh.. begitu. Oke, Mbah, ndak papa. Yang penting lihat alirannya."

Mbah Wijoyo tersenyum dan mengangguk setuju.

Keluar dari sisi selokan, kami melihat perkebunan warga, penuh dengan sayuran dan pepaya, beberapa warga menyapa kami saat lewat.

Saat melewati perkebunan tomat, Bayu yang sedang mengambil foto di sekitarnya mendadak Cumiik pelan, membuat beberapa orang mendekat, Aku turut menghampirinya.

"Ada apa, mas ?"

"Itu, ada ular kecil warna hijau", tunjuknya ke saluran air yang menjadi penghubung selokan dengan kebun warga.

"Lah, cuma ular biasa, Wajar kaliii", yang lain mulai mencemooh bercanda dan kembali berjalan.

Aku memandangi ular tersebut.

"Kami hanya lewat, tidak berniat mengganggu", kataku berbisik pelan. Ular tersebut memandangi acuh dan mulai menggelesor pergi. Aku menyusul mereka.

Perkebunan warga akhirnya berakhir, sebuah jalan berbatu yang tampak terjal menghampar di depan kami, di sisi sebelah kanan sebuah jurang landai dengan sungai kecil yang cukup deras, sedangkan sisi kiri masih selokan dengan air jernih. Beberapa kali aku memotret capung-capung kecil yang bersliweran. Jalan itu masih menanjak naik, hingga akhirnya aku memasukkan kamera ke tas, mulai kepayahan. Di belakangku Tyas bersama Didi masih berjalan berdua, hanya wajah Tyas agak pucat.

Mendekati rumpun bambu dan puncak tanjakan, aku mengerlingkan mataku saat yang lain heboh melihat sebuah batu datar. Permukaannya benar-benar datar, seperti dipotong dengan pisau yang sangat tajam.

Dan aku melihatnya, Si Kakek, tengah memandangi Tyas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiayu
nunggu update
gaaaaaass
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kiayu dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjut sis
profile-picture
kiayu memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
POS II


Aku mengacuhkannya, dia masih berdiri di atas batu itu, dan memandang dengan tajam. Aku hanya bisa menghela nafas dan kembali berjalan, fokus menunduk.

Kami sempat beristirahat dan foto sebentar di pos yang akan dijadikan POS 2. Aku melihat jalan di depan menanjak naik, penuh batu-batu. Mengusap peluh dan menangguk air di botol, aku menikmati semilir angin dan mengisi tenaga, perjalanan awal saja cukup menguras tenaga dengan tanjakannya.

"Mas, kita masih naik kesana ?" Tanyaku ke Mas Arif. Mas Arif yang sedang minum, menyudahinya, "Nggak, nanti kita lewat belakang situ". Tunjuk dia dengan botol, ke belakang bangku dari bambu yang sedang kami duduki.

Aku menengok ke belakang, ada jalan kecil dengan rumpun seperti pohon salak, menanti kami. Di sebelah kirinya sebuah sisi bukit yang cukup tinggi. Aku berbalik.

"Lewat situ ? Kenapa nggak lewat jalan ke atas itu?" Aku mengangguk ke arah atas.

Mas Arif memasukkan minumannya ke tas.

"Kalau ke atas sana jalurnya memutar bukit ini, lebih jauh lagi. Lagian disana juga ada makam, ya kan, Mbah?" Dia mengerling ke arah Mbah Wijoyo.

"Iya. Makam yang konon katanya sih prajurit Pangeran Diponegoro".

Aku mengangguk, masih mengatur nafas.

Si Kakek berdiri di ujung jalan, mengawasi. Perawakannya yang kecil, memudahkanku yang punya mata minus untuk tidak fokus melihatnya.

"Yuk jalan", Mas Arif kembali memberi aba-aba.

Aku dan Tyas yang kali ini berjalan beriringan, jalanan cukup susah dilalui, agak becek, kami berjalan melewati rumpun-rumpun lebat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 5 lainnya memberi reputasi
Dilanjut
Ijin nenda dimari emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
kiayu memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
POS III


Aku dan Tyas kali ini berjalan beriringan, menembus kelebatan rumpun pakis yang mirip pohon salak, dengan daunnya yang menjuntai tajam kemana-mana.

Jalanan becek menjadi kendala saat perlahan-lahan kami naik ke atas, mendaki satu demi satu, Tyas yang bertubuh agak berisi sempat berhenti di tanjakan pertama, sementara aku menguatkan diri naik terus walau berulang kali berhenti, hampir 90', tentu ini membuat kita harus berhati-hati.

Sampai ujung tanjakan akhirnya aku melihat Mas Arif tengah duduk bersender pada batang pohon yang sudah tumbang.

"Wah, nggak nyangka, Yu. Kamu bisa sampai sini, sering hiking, pa ?"

Aku menggeleng, "Baru kali ini kalau hiking, cuma kadang-kadang ikut om dan kakak lihat mata air".

"Oh, lah ngapain ?" Dia menatapku heran, aku hanya tersenyum, untungnya aku tidak perlu menjawab, Tyas sudah menyusulku bersama Didi, pacarnya.

"Gimana, Yas, masih kuat jalan ?", Tanyaku.

"Masih, tenang aja, cuma perlu minum aja kok", jawabnya dengan nafas terengah-engah.

"Mau gorengan, ndak ?" Bayu menawarkan sebungkus gorengan kepada kami semua, bergegas semua mengambilnya kecuali aku dan Tyas. Aku masih belum berniat makan.

"Habis ini kemana ?" Aku kembali bertanya.

"Nanti naik lagi kesitu, trus turun ngikutin jalan aja, jalannya untuk awal-awal memang menanjak, nanti setelah Pos Ketiga bakal mulai menurun, paling turun sih setelah Pos Keempat". Om Putra yang kali ini menjawab.

Aku mengangguk pelan. Mengusap peluh. Mbah Wijoyo memberikan kami potongan kayu, pengganti tongkat, karena sebagian besar dari kami tidak membawanya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan setelah cukup beristirahat, kali ini jalanan lebih menantang. Aku hanya mengikuti Bayu dan Om Putra yang ada di depan, yang lain masih menyesuaikan ritme bersama Tyas dan Didi yang dibelakang. Kali ini ada Ardi di belakangku, dia sudah di Pos II ketika kami tiba, dia seorang pemuda desa disini.

Setelah bukit kecil yang sudah didaki tadi, kami kembali menyusuri kelebatan hutan, berkali-kali Bayu mengayun kayunya untuk membuka jalan, parang Ardi juga turut serta membantu.

Gerimis kecil turun diantara perjalanan kami, aku menggunakan mantel hujanku, sekedar melindungi tas dan kameraku.

Akhirnya kami kembali memasuki rumpun pakis, jalanan lebih becek daripada tadi, kami berhati-hati melewatinya.

"Sial!" Bayu berteriak ketika kami berhasil melewati rumpunnya. Kami menoleh, dia tengah berjingkrak-jingkrak.

"Ada apa, Bay ?!" Om Putra berteriak kepada Bayu yang ada di belakang.

"Aku kena lintah, banyak banget, astaga !"

"Makanya pakai sepatu ! Udah tahu mau hiking dan habis hujan malah pakai sendal gunung", rutuk Om Putra.

Bayu tidak menjawab, dia sibuk menghalau lintah yang menempel di kedua kakinya. Sedangkan kami sibuk menertawakannya, aku juga mengecek kakiku, tapi tidak ada, untungnya. Ardi hanya mendapati satu lintah, sedangkan Om Putra dengan santainya melangkah lagi karena dia pakai sepatu bot, aman.

Setelah selesai dengan meneliti tubuh kami satu persatu, kami kembali melanjutkan perjalanan, kali ini jalanan tanjakannya memicu adrenalin, kami berada di sisi bukit, dengan jalanan yang hanya selebar 50cm, sisi kanan adalah tanah tinggi, sisi kiri sudah jurang, sedikit saja meleng, kami bisa saja terjatuh ke bawah, diantara tanaman pala dan pohon-pohon hutan, hanya seutas tali sebagai pegangan dan tongkat.

Di ujung tanjakan aku kembali melihatnya, Si Kakek dengan potongan kayu mirip tongkat juga, tengah mengawasi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 2 lainnya memberi reputasi
POS PERTEMUAN


Aku kini memandanginya, memastikan perawakannya. Dia bertubuh kecil, tak ada jenggot, tapi kumisnya yang panjang hampir menutupi seluruh mulutnya. Ikat kepala hitam menutupi seluruh rambutnya, tidak ada ekspresi apapun diwajahnya, hanya bola matanya bergerak setiap saat. Dan aku pun kembali menunduk, berkonsentrasi kepada langkahku.

Kali ini tanjakannya sudah kulewati, walau hanya sepanjang tiga meter, tapi itu sudah mulai membuat sendiku mati rasa.

"Yu, mau istirahat dulu ?", Bayu sudah terduduk di batu bulat di sebuah gundukan tanah.

Aku mengangguk pelan, perlahan merebahkan tubuhku dan mulai meminum air yang tersisa setengah botol.

"Om Putra mana ?", aku memandang berkeliling, mencarinya.

"Udah duluan di depan, ninggalin dia mah," rajuk Bayu. Aku hanya tertawa kecil.

"Masih jauh nggak, Bay ?", aku kembali menyeka peluh.

"Tenang, itu nanti kita tinggal turun kebawah, trus naik dikit, udah deh kita di pos terakhir, pemandangannya ajib banget deh, Yu. Gak bakal nyesel kamu disitu".

"Huwee Syukur deh, aku udah laper," cetusku.

"lah tadi kamu berangkat nggak sarapan ?" tanya Bayu.

Aku menggeleng.

"Nggak sempet, ini juga baru minum air doang,"

"Lah, tadi aku tawarin gorengan, kamu ambil, nggak ?" Bayu memainkan sepatunya, berniat melanjutkan lagi.

"Nggak, aku takut mual di jalan, kan masih pagi", cengirku.

"Jah... ", Bayu menekuk mukanya, pura-pura bete.

"Yowes yuk, jalan", ajakku.

Kami kembali berjalan beriringan, di belokan sempat ada batang pohon yang patah, terpaksa kami menggesernya. Ketika mulai menuruni jalan kecil, akhirnya kami sampai di sebuah daerah yang agak landai. Di tengah-tengahnya, ada sebuah aliran air kecil.

HIKING (Based on True Story)

Ketika berada di aliran airnya, aku duduk sejenak, meraup airnya dalam genggaman dan membaca Al Fatihah serta mulai berdoa, 'semoga air yang diberikan Gusti Allah memberi keberkahan untuk daerah ini'. Kemudian meraupkannya ke wajahku.

Terasa segar..
Tapi aku juga menyadari, ada kilatan warna pink lewat di sudut mataku. Bau bunga kenanga memenuhi hidungku.

"Yu, cepetan, bentar lagi sampai !" Teriakan Bayu menyadarkanku.

Aku memandangi sejenak seluruh pemandangan ini, dan kemudian mengikuti Bayu mendaki lagi, yang kali ini seperti sebuah lorong panjang, dan akhirnya sampai di ujung bukit.

Pemandangan kota terhampar di depanku. Rasanya puas setelah mendaki berjam-jam, setara dengan pemandangan yang dihadiahkannya.

Disana ada beberapa orang yang sudah duluan sampai, sedang menjerang air panas, membuat kopi. Aku mulai makan roti yang kubawa dan meminta sedikit air panas untuk menghangatkan air botol.

"Yu, kamu jatuh apa kena lintah ?", Pertanyaan Mas Arif yang baru sampai mengagetkanku.

"Maksudnya ?", Tatapku heran.

"Itu, kaki kirimu, ada darahnya di sepatu", tunjuknya.

Aku menunduk memandangi kakiku, ternyata ada rembesan darah dibelakang tumit, aku mencari-cari asal darahnya, hanya lubang kecil, sepertinya lintah. Tapi aku tidak mendapatinya di manapun.

Aku hanya tersenyum kali ini, dan meminta air sedikit untuk membasuh darah.

"Selalu ada 'bayaran' jika aku melakukan hal yang 'lebih'"... Pikirku.

-------------------------------

Hari beranjak mulai sore, aku dan yang lain mulai menuruni bukit dan kembali ke desa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiayu
PENGUNGKAPAN


Aku memasukkan tasku ke mobil Tyas, dia sedang merapikan barang-barang di kursi belakang dan ikut bergabung denganku duduk di kursi depan. Menyalakan mobilnya, dan kami melaju kembali di jalanan menuju pulang.

"Yu, tadi ada yang aneh nggak sih disana ?" Tyas memulai percakapan.

Aku mahfum.

"Apa yang kamu lihat ?"

Tyas menengokku, matanya menyelidik. "Kamu bisa lihat ?"

"Jika diijinkan oleh Gusti Allah".

Tyas kembali memfokuskan matanya, menyetir di jalanan yang kembali padat, cukup menyita perhatian.

"Tadi tuh aku dilihatin sama kakek-kakek gitu, dia berkali-kali nunjuk ke bawah dia. Yang di batu itu. Dia bilang disitu ada keris."

Aku tertarik. "Terus kamu bilang apa?"

"Aku bilang aja aku tidak membutuhkannya, aku disitu ijin hanya mau melintas. Tapi dia ngikutin aku terus", Tyas membelokkan mobilnya di simpang tiga, memasuki kota.

"Sekarang udah, nggak kan ?"

"Nggak sih, untungnya. Ngeri aja kalau dia ngikutin sampai kerumah."

Aku memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.

"Tempatnya disitu, dia ndak bakal keluar dari situ".

"Yakin, Yu ?" Tyas menanggapi.

"Iya, udah tenang aja. Tapi nanti sampai rumah, tetep harus bersih-bersih, ya ?" aku nyengir.

"Iyalah, kita udah bau gini", Tyas tertawa.

Kami kembali membicarakan hal lainnya. Pertemanan kami bermula dari hal tak terduga ...


*** maaf sebenarnya mau saya selesaikan, tapi mendadak ada gangguan haha, jd saya lanjut di next saja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiayu
Izin gelar tenda
profile-picture
profile-picture
kiayu dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sang Dewi


Aku memandangi kembali kopi yang terhidang di meja panjang, disampingku, kakak-kakakku dan Om masih terdiam merenung.

"Piye kemarin, Mbak ?" Mas Bintang membuka percakapan setelah sekian lama kami terdiam sehabis topik yang awal tadi sudah dibahas.

"Alhamdulillah lancar, Mas".

Om mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami.

"Dapet apa disana ?" Mas Bintang mengepulkan asap rokoknya ke udara. Aku membuka handphoneku dan menunjukkan sebuah foto.

"Ada yang baru disana".

Mas Bintang memandangi foto itu agak lama, kemudian kembali bersender ke kursi dan kembali matanya menerawang jauh. Om ikut-ikutan, semua kembali terdiam.

"Ini bukan di mata air ?" Om meneliti foto tersebut.

"Bukan, Om. Mata airnya jauh dari situ, aku tanya ke Mbah e juga letaknya cukup jauh dan terpencil, jadi ya aku hanya bisa nemu itu saja sebagai penghubung." aku menerangkan.

"Dewi Seruni, ya?" Om tiba-tiba bertanya.

"Bukan, Mas. Dewi Maya," Mas Bintang menyanggah. Dia membetulkan duduknya, menyalakan rokok dan mulai matanya kembali menerawang jauh. Aku mendengarkan.

"Perawakannya seperti apa, Mas?" aku bertanya sambil menyeruput sedikit kopi yang mulai mendingin.

"Dia seperti Dewi Kwan Im, hanya kain yang dipakainya berwarna merah jambu muda." sahut Mas Bintang.

"Pink gitu, ya ?" Aku memandanginya, tertarik.

"Ini warnanya lebih muda, Mbak. Tinggi, rambut hitamnya terurai, selendang menutup rambut atas tapi tidak menutupi seluruh rambutnya. Pakai kemben tapi ditutupi seperti kain tipis transparan, pakai anting-anting panjang. Tangan kirinya membawa guci kecil dari gerabah tanah liat. Dia punya bakat, tapi masih vakum. Eh ada sisi positifnya... ".

"Maksudnya ?"

"Itu ada kakeknya, lho,, Mbak. jadi bukan hanya cewek, tapi ada sisi positifnya. Seorang pertapa, hanya rada pendek, seperti anak kecil umur dua belasan. Tidak wajar sih untuk seorang kakek masih begitu pendek."

"Bawa tongkat ?" Aku menebak si Kakek.

"Bukan tongkat, hanya membawa kayu panjang, kira-kira 20cm, kayu yang dipegangnya seperti ada semburat kayu sonokeling. Tidak ada jenggot, tapi kumisnya hampir menutupi mulut. Ikat kepala menutupi seluruh rambutnya, tidak ada ekspresi apapun, hanya yang bergerak bola matanya saja saat komunikasi maupun lalu lalang."

"Ada pelayannya, Mas ? Kayak di Telaga waktu itu ?"

"Ada, tapi ini lebih banyak, beraneka ragam, tapi cakep semua." Mas Bintang cengar cengir.

"Giliran cewek aja, semangat." Om berseloroh, semua tertawa.

"Disana bukan kerajaan, kan ?" Aku mengingat letaknya.

"Bukan, seperti Kabupaten. Damai sejahtera sih, belum terusik." Om yang kali ini menjawab.

Aku mengangguk, memahami.

"Eh, Mbak, ini letaknya dimana ? dekat sama curug yang waktu itu Mbak e tunjukin ?", Mas Bintang menyelidik.

Aku menggeleng.

"Beda, Mas. Kecamatannya sih deket. Yang ini bakatnya Penglaris juga ?"

"Bukan, lah, Mbak. Kalau penglaris kan cewek-ceweknya mukanya hancur, ini cakep-cakep. Ini bakatnya Pengasihan, tapi ya perlu di'karya' in dulu."

"Karya ?"

"Kerja dulu, Magang", Mas Bintang menerangkan. Aku kembali mengangguk

"Ritualnya, apa ?"

Mas Bintang memejamkan matanya agak lama. "Sek... MG ne ditanyain diem ae...".

"Bisane ?" Om bertanya.

"Karena Kasta, Mas," Mas Bintang menjawab.

"Mas e lupa nurunin energi, ya ?" Aku menebak. Kali ini Mas Bintang kembali nyengir.

"Lali aku, tadi kegeden energinya sih.. jadi takut dia".

Mas Bintang kembali terdiam, "Ritualnya dengan membawa sekepal beras, celupkan ke air disana terus dibakar lalu dimakan."

Aku mengangguk pelan kali ini.

"Mau dibuka ?" Om menawarkan.

"Ndak, Om. Aku kan cuma penasaran aja. Lagian kalau disana sudah tenang, ya biarkan saja begitu. Memang disana mau berurusan dengan manusia ?"

"Yah, kalau mau disana sih menerima saja. Asal sesama perempuan, dan ada satu syarat tersendiri". Om menghembuskan asap rokok pelan-pelan.

"Haha aku ndak tertarik. Paling kalau ada yang mau memperlebar daerah kekuasaan e,". Aku melirik sekeliling. Yang lain pura-pura minum kopi.

Kami kembali membahas hal lainnya sampai hampir pagi.

*** END***

Kemunculan


Aku membuka handphoneku, dan membaca selarik pesan WhatsApp yang masuk.

"Assalamu'alaikum, Ki. Apa kabar ?"

"Alhamdulillah, baik, Mbah Wijoyo. Gimana kabarnya juga ?"

"Alhamdulillah, baik juga. Maaf mengganggu nih, Mbak. Saya mau menunjukkan sesuatu sekaligus bertanya."

"Monggo, Mbah. Ada apa ?"

-sebuah foto ditunjukkan kepadaku. Aku menghela nafas-

"Ini apa ya, Mbak ?"

"Oh.. penampakan ini ?"

"Iya".

"Haha saya baru melihat penampakan sejelas ini. Menarik. Tapi saya ndak bisa menerangkan disini. gimana kalau kita ketemu nanti, Mbah ?"

"Boleh, mau bertemu dimana ?"

"Di angkringan yang waktu itu buat pertemuan, disana saja"

"Oke, nanti kabari lagi ya mbak untuk waktunya, nanti saya sesuaikan."

"Oke, Siap. Sampai Jumpa".

Aku memandangi foto itu demikian lama. 'Mereka mulai menunjukkan diri', pikirku.

Yah, saat ini, hanya itu yang terjadi, biarkan semua berjalan dengan semestinya saja ...

***



Terima kasih telah bersedia membaca emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiayu


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di