CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pasutri-7 Anak Tinggal di Kolong Angkringan Setelah Diusir dari Kontrakan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61441603d063180057291fde/pasutri-7-anak-tinggal-di-kolong-angkringan-setelah-diusir-dari-kontrakan

Pasutri-7 Anak Tinggal di Kolong Angkringan Setelah Diusir dari Kontrakan


Cerita keluarga Cahyo Yulianto dan Wiwin Hariyati menjadi perhatian beberapa hari terakhir ini. Pasangan ini mengajak tujuh anaknya tinggal di kolong gerobak hik atau angkringan setelah diusir dari kontrakan. Dia biasa membuka lapaknya mulai pukul 06.00 WIB-03.00 WIB. Lapak angkringannya berada di area trotoar, sementara perkakas miliknya diletakkan di lahan kosong di depan SMPN 3 Kartasura, Sukoharjo, Jateng.

Gerobak hik atau angkringan milik Cahyo itu memiliki panjang sekitar 5 meter dengan lebar kurang dari 2 meter. Ada dua gerobak yang ditempatkan berjajar, ditambah satu meja lagi.

Lapak itu tak hanya digunakan untuk berjualan, sekarang juga sebagai rumah bagi keluarganya bernaung. Di bagian bawah meja hiknya itu menjadi tempat tidur seadanya bagi anak-anaknya yang masih kecil.


Pasutri-7 Anak Tinggal di Kolong Angkringan Setelah Diusir dari Kontrakan

Terlihat ada tikar dan bantal yang menjadi tempat anaknya merangkai mimpi. Di bawah meja itu mereka juga harus berbagi dengan kotak kardus yang berisi pakaian.

Bagi Cahyo dan Wiwin tidur di warung hik memang sudah biasa, keduanya bahkan mengaku sudah enam tahun tidur di angkringan itu. Akan tetapi, bagi anak-anaknya, tidur baru dijalani empat hari terakhir.

Keluarga ini semula sempat tinggal di sebuah rumah kontrakan yang ada di Colomadu, Karanganyar. Akan tetapi lantaran tidak bisa membayar sewa mereka pun diusir dan terpaksa tinggal di lokasi jualan.

"Sebelumnya anak-anak tidurnya di rumah kontrakan yang ada di Colomadu, Karanganyar," urai Cahyo saat ditemui detikcom di lokasi jualannya, Kamis (16/9/).

Dari 13 anakpasangan itu, 2 di antaranya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Dua anak lain ikut neneknya, dua lainnya lagi sudah bekerja dan memilih tinggal di lokasi bekerja.

Sedangkan 7 anak yang masih kecil-kecil setiap hari tinggal bersama Cahyo dan Wiwin. Mereka tidur di kolong meja angkringan.

"Sesekali 2 anak yang tinggal bersama neneknya juga datang, tapi yang pasti tidur bersama kami di sini setiap malam ya 7 anak itu," ujar Wiwin.

Selama tinggal di lokasi jualan, untuk kebutuhan mandi dan kakus mereka harus ke SPBU yang berjarak sekitar 200 meter dari warungnya.

"Untuk kesehariannya seperti mandi, mencuci saya harus ke SPBU yang dekat dari sini," ujarnya.

Penghasilan Cahyo dan Wiwin pun tak menentu. Jika beruntung mereka bisa mengantongi penghasilan kotor mencapai Rp 500 ribu sehari.

"Kalau penghasilan bersih paling hanya Rp 100.000, tapi tetap kami syukuri," timpal sang istri.

Tak hanya menjadi keluarga miskin, beberapa anak-anak Cahyo dan Wiwin juga putus sekolah. Anak tertua yang tinggal bersama mereka di warung hik, Kiki (18) baru saja di PHK dari salah satu toko roti tempatnya bekerja.

"Saya tidak lulus SMP, kelas 2 putus sekolah karena tidak ada biaya. Terus nglamar (kerjaan) di toko roti dan bekerja tapi sudah di PHK, sekarang ikut bantu orang tua jualan," terang Kiki.

Tujuh anak ikut tinggal di warung hik itu di antaranya berumur 18, 15, 13, dan 12 tahun. Cahyo mengaku terpaksa membawa anak-anaknya tinggal di pinggir jalan raya yang dilintasi kendaraan berat dengan kecepatan tinggi itu.

"Baru empat hari ini anak-anak saya ajak ke sini, karena tidak ada tempat lain. Dulu punya rumah, tapi sudah dijual dan adanya cuma warung ini," tuturnya.

Selain tidur di kolong meja yang bisa terisi 3-4 anak, anak-anak Cahyo-Wiwin juga ada yang tidur di kursi pembeli. Itu pun jika sedang tidak ada pembeli yang datang.

"Kalau malam anak-anak ada yang tidur di kursi, di kolong meja. Kalau saya sama suami tidur di kursi panjang. Anak-anak tidak ada yang mengeluh, saya bersyukur," imbuhnya.

Kepedihan dan kepahitan itu semakin dirasakan karena sejak empat hari yang lalu 7 anaknya juga ikut tinggal dan tidur bersama di lokasi yang kondisinya sangat terbatas itu.

Wiwin menceritakan bahwa spanduk penutup bagian depan gerobak angkringannya sempat sobek ketika diterpa angin dari truk yang melintas dengan kecepatan tinggi.

"Spanduk yang menutup bagian depan pernah sobek karena ada truk yang lewat. Sobek jadi dua. Kalau kena angin (bagian dalam warung) kelihatan semua," ujar Wiwin. .

Selain itu, kondisi tenda yang menutup bagian warung juga sudah usang sehingga beberapa bagiannya rusak dan bocor saat diguyur hujan. "Kalau pas hujan ya bocor tendanya," ucapnya.

Untuk saat ini, Wiwin mengatakan, yang dibutuhkannya adalah tempat berteduh. Agar ketujuh anaknya itu bisa tinggal lebih nyaman dan tidak tidur di warung angkringan lagi.

=========
TS turut prihatin, semoga dengan viralnya berita ini banyak orang-orang baik yang tergerak hatinya untuk turut memberikan uluran tangan. Terutama para pejabat yang gemar menggunakan momen beginian sebagai ajang tebar pesona di depan kamera wartawan. Gak apa-apalah, yang penting keluarga tersebut mendapatkan bantuan. 

Membahas kemiskinan tak akan ada habisnya, jujur terlalu berat ya kalau sekelas masyarakat awam seperti TS membahasnya. Jadi pada kesempatan kali ini TS ingin mengulas dari sisi faktor banyak anak. TS tidak berani menyebut salah satu sebab utama kemiskinan adalah banyak anak, tentu tidak bisa. Cuma saja kalau kita lihat di kehidupan nyata, khususnya keluarga yang berpenghasilan pas-pasan, banyaknya anak niscaya menjadi tanggungan mutlak yang mau tidak mau mesti dicukupi kebutuhannya.

"Banyak anak banyak rejeki." Sebuah ungkapan yang tak asing di telinga kita. Berisi pesan bahwa semakin banyak buat anak semakin banyak pula rejeki yang bakal berdatangan. Pemikiran ini dinilai muncul akibat adanya keyakinan bahwa semua anak terlahir bersama rejekinya masing-masing. Hmmm tapi sayang ya banyak yang mengartikan secara membabi buta, menelan mentah-mentah tanpa menggunakan nikmat Tuhan yang bernama akal. 

TS sempat kena khotbah no jutsu panjang oleh seoarang teman yang paham tentang ilmu agama. Dia sering diundang ke acara-acara untuk pencerahan rohani. TS paling gak suka debat, jadinya cuma mendengarkan dan iya iya saja.

Awalnya TS cuma ngobrol santai-santai. Terus entah gimana sampailah cakap-cakap soal keluarga, nanyain kabar anak masing-masing. Nah kemudian nyeletuklah si teman nanya mau nambah lagi kapan. Ya TS bilang aja belum karena baru ambil rumah, banyak keperluan, istri juga sudah tidak bekerja lagi. Setelah itulah dapat khotbah no jutsu. Bilang KB haramlah, harus percaya jangan ragu dengan setiap anak ada rejekinya dan lain-lain.

Padahal ya... (mohon maaf utk si teman, bukan bermaksud merendahkan, tapi di forum publik ini saya harus mengangkatnya untuk meluaskan pemahaman, menambah sudut pandang tentang topik ini), Padahal TS tahu betul kehidupan si teman, gajinya pas-pasan, rumah masih ngekos, istri gak kerja, anak ada empat dengan jarak usia berdekatan. Anaknya kurus-kurus. Kasihan TS lihatnya. Gimana tu kalau ntar pada masuk usia sekolah. Dalam hati TS berbisik 'model gini masih gak pake KB?'

Memang sih ya, karena keyakinanya sudah tebal jadinya si teman TS itu beberapa kali dapat bantuan tak terduga. Menurut cerita si teman TS, setiap mau lahiran dia sempat khawatir masalah dana, tetapi ada-ada saja orang yang membantu pendanaan secara tak terduga. Btw karena suatu hal istrinya dari anak pertama sampai ke empat tidak bisa melahirkan normal, selalu caesar.

Tapi TS pribadi gak bisa seperti itu. Hidup ini harus punya perencanaan dan perhitungan. Emang anak kelaparan bisa dikenyangkan pakai keyakinan? Kebutuhan pampers, susu, pakaian, apa bisa dibeli pakai doa?

Rezeki itu memang diturunkan Tuhan, tapi ya harus disambut dengan kerja nyata, nyambut gawe kata orang jawa. Kalau bikin anak sampai empat tapi penghasilan cuma cukup untuk dua anak, lalu kerjanya cuma gitu-gitu aja, penghasilan gak nambah-nambah, cuma berharap turun keajaiban, konyol itu namanya. Yang ada ntar malah  nyusahin orang lain.

Cukup sekian dari TS. Mohon maaf kalau ada hal yang kurang berkenan. Silahkan bercuap-cuap di lapak bawah kalau ada yang berpendapat lain. Terima kasih.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kagemane4869 dan 78 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 8
apa gak dapat bantuan dari pemerintah ya?bantuan dana tunai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
vagnox dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Pola pikir orang govlok kalo cuma makan micin agama: "Alloh pasti akan memberikan jalan utk ngumpanin anak 20. Alloh tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya"

Gitu aja konsepnya, sambil lanjut terus brojol ampe bener2 kepepet duit ngutang dimane2, tinggal salahin si Plongo emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ekoaje dan 76 lainnya memberi reputasi
Lihat 64 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 64 balasan
pesan gue sih, semiskin-miskinnya loe, sisain duit sedikit buat beli pengaman, jatuhnya itu lebih murah ketimbang brojol puluhan anak dengan kualitas hidup seadanya

100rb per hari sih sebenarnya lebih dari cukup (apalagi di daerah) buat ngempanin 1 atau 2 anak. lain cerita kalo sampe 13 anak model begitu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kagemane4869 dan 33 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
inilah contoh "anak itu beban bukan rejeki" emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 17 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Banyak anak banyak rezeki itu asal muasalnya dari pepatah Cina kuno, karena saat itu mata pencahariannya agraria dan maritim yg butuh banyak human labor, jadi semakin banyak anak, semakin banyak yg bisa bekerja sehingga mendatangkan rezeki

sedangkan saat ini kalau di perkotaan kan gk ada yg jadi petani, pepatah ini gk berlaku universal
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 44 lainnya memberi reputasi
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 13 balasan
Beranak kayak tikus, dasar hama emoticon-Mad








































emoticon-Mad (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ekoaje dan 24 lainnya memberi reputasi
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 10 balasan
kasian sih..., tp pny anak 13? sedemikian miskinkah sampe ngga mampu beli kondom atau Pil KB? emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Ntar juga anaknya nambah lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kranevitter dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Tak kiro mung pitu, ndilalah telulas.
- ngeri


emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
joesatriyono dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Belum bekerja : "Udah nikah dan bikin anak aja dulu, nanti dikasih rejeki sama tuhan serahkan semuanya ke tuhan"
Lampu merah ada 3 anak yg mukanya sama lagi ngemis
Pengemis depan rumah anaknya 4 kecil2 semua yg baru lahir masih bayi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pasutri-7 Anak Tinggal di Kolong Angkringan Setelah Diusir dari Kontrakan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Cucigosok dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 25 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 25 balasan
Rezekinya banyak amat ya emoticon-Ngakak
A condon would have prevented this news
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan jerrystreamer1 memberi reputasi
Harusnya orang miskin dibawah penghasilan tertentu disterilkan saja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
vegasigitp dan 12 lainnya memberi reputasi
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 11 balasan
awal baca lgs kepikiran hidup jaman dulu,.
ortu anak 6 diusir dari kontrakan karna ga sanggup bayar sewa,.
scrol bawah kok malah kesel yak 13 anak ya tau diri lah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 13 lainnya memberi reputasi
7nya masih kecil kaga sekolah ?
Jadi nyusahin dan membuat anak menderita gak sih klo gini???
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Gila.. ga salah baca nih? Anaknya ada 13? 7 Masih kecil2 yg ikut ortunya?

Gw sepemahaman sama TS.
Memang sih ungkapan "banyak anak banyak rezeki" itu bener. Kalo konteksnya yg ngomong sebelum era digital dimana rata2 bentuk pekerjaan atau usaha, mostly, dalam bidang pertanian atau perikanan, yg mana butuh banyak tenaga buat mengolah agar hasilnya berlimpah.

Sekarang zaman udah berbeda. Kalo kehidupan belum mapan tapi masih berpegang prinsip tersebut ya begini hasilnya. Bukan cuma 1 atau 2 kasus, banyak bgt kasus begini bahkan mungkin di lingkungan kita masing2.

Lah pemerintah udah bikin yg namanya program KB buat mengurangi kejadian seperti ini, tp emang dasarnya masyarakatnya yg bandel. Kalo takut pake alat kontrasepsi, buang diluar kek.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Kagemane4869 dan 20 lainnya memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
anak nya 13, kita mesti prihatin.?

trimakasih pada bpjs... lu mau beranak berapapun ditanggung lahirannya dan sakitpun ama negaraemoticon-Wakaka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aloha.duarr dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galbadia
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
katanya banyak anak banyak rezeki. sampai 13 gini

emoticon-No Hope
profile-picture
aloha.duarr memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 8


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di