CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SANGKAN PARAN (KUMPULAN CERITA HOROR MISTERI DARI TEMPAT BERSEJARAH)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/614358565d8b476a055f41c0/sangkan-paran-kumpulan-cerita-horor-misteri-dari-tempat-bersejarah

SANGKAN PARAN (KUMPULAN CERITA HOROR MISTERI DARI TEMPAT BERSEJARAH)

SANGKAN PARAN (KUMPULAN CERITA HOROR MISTERI DARI TEMPAT BERSEJARAH)


Spoiler for DISCLAIMER:


    emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Cendol Gan

  KEMBALI DARI MASA LALOE

Spoiler for Lokasi Candi Sekitar TKP, Foto: Koleksi Pribadi:


Widjatmiko bersama sobat karibnya yang bernama Handoko melakukan perjalanan ke daerah Muntilan Magelang. Kedua sahabat baik ini berasal dari Yogyakarta yang mempunyai hobi blusukan ke tempat-tempat (situs) peninggalan bersejarah.

Siang itu mereka berboncengan dengan sebuah motor setelah mendapat info dari temannya di Muntilan lewat sebuah aplikasi chatting terkenal.

“Halloo bro, gimana perjalanannya?” sapa Rudho teman mereka dari Magelang yang tadi mengirim pesan singkat, setelah bertemu dengan Widjatmiko dan Handoko di lokasi yang dimaksud.

Saat itu mereka bertiga berada di kaki sebuah bukit kecil di daerah Muntilan yang diatas puncaknya terdapat reruntuhan candi dari jaman Hindu-Buddha. Mereka bertiga hendak menelusuri jejak kekunoan yang informasinya berada di sekitar bukit itu. Konon dilokasi yang akan mereka tuju terdapat bangunan patirtaan kuno yang sebagian terpendam tanah.

Agar lebih cepat ketemu mereka bertiga memutuskan berpencar dengan kesepakatan satu jam lagi bertemu ditempat awal. Berbekal pengalaman blusukan di berbagai medan, Widjatmiko mulai menyusuri jalan setapak yang tertutup oleh sampah daun bambu. Bukit ini memang didominasi tanaman bambu bahkan hingga puncaknya. Setelah agak lama menerabas rerimbunan pohon bambo, Widjatmiko  akhirnya seperti melihat tatanan batu yang tertutup tanah dan berbagai sampah alami.

“Wuiihhh, bener ini situs yang aku cari.” batin Widjatmiko sambil membersihkan berbagai sampah daun yang menutupi batu-batu tersebut.

Pados nopo nak?(Cari apa nak?)”, Widjatmiko dikejutkan suara orang tua yang tau-tau sudah ada dibelakangnya. Darimana orang tua ini datang, begitu dipikiran Widjatmiko saat itu namun buru-buru dia menjawab,

Injih mbah niki kulo naming ngresiki sampah ingkang nutupi selo meniko.(Iya mbah ini saya sedang membersihkan sampah yang menutupi batu-batu ini)”. Orang tersebut memang sudah tua sekali sehingga Widjatmiko memanggilnya dengan simbah.

Wonten sisih mriko malah langkung katah nak selanipun(Disebelah sana malah lebih banyak batu-batunya)”, simbah tadi menunjuk ke satu arah.

Mungkin karena penasaran dan naluri kecintaannya terhadap sejarah, Widjatmiko mengiyakan saat simbah tadi menawarkan diri untuk mengantar ke lokasi yang ditunjuknya.


**********


Sudah lebih dari sejam Rudho dan Handoko menunggu kemunculan Widjatmiko ditempat yang disepakati tadi. Keduanya mencoba menelpon Widjatmiko namun tidak ada nada sambung seolah-olah nomer HP temannya itu sudah tidak aktif.

“Ayoo kita susul aja bro, ntar keburu sore!” Rudho berinisiatif mengajak Handoko mencari keberadaan Widjatmiko. Mereka berdua menyusuri jalan setapak yang tadi dilewati Widjatmiko dan sampai ditempat pertama kali temannya itu menemukan bebatuan yang tertutup tanah dan sampah daun.

“Ternyata Miko (panggilan Widjatmiko) dah nemu situsnya bro, pasti sekarang dapat petunjuk lagi dia.” kata Handoko.

Namun hingga terdengar adzan ashar, mereka berdua belum menemukan Widjatmiko padahal hampir semua tempat sudah disusuri. Akhirnya mereka berdua melapor ke Pak RT didesa tersebut dan segera warga desa itu berbondong-bondong ikut mencari di setiap sudut bukit. Namun pencarian warga desa itu tidak membuahkan hasil.


**********


Tiga bulan kemudian disuatu sore setelah pulang kerja, Handoko mendapat panggilan telpon dari orang yang sangat dikenalnya.

Coookk, do ninggal aku karepe piye? Wedhus iki! aku mulih numpak opo cook?(Coookk, kok pada ninggalin aku maksudnya gimana? Kambing! Aku pulang naik apa cook?)”, suara Widjatmiko terdengar dari hp Handoko.


**********


Tak berselang lama, Handoko dan Rudho sudah tiba dibawah bukit. Ternyata disana sudah ramai warga yang berkerumun termasuk Pak RT.

Raut wajah Widjatmiko sumringah melihat kedatangan kedua sahabat baiknya itu sambil cengengesan seperti tidak terjadi apa-apa.

Widjatmiko menceritakan pengalamannya setelah bertemu simbah itu dirinya diajak berkeliling ke sebuah komplek candi yang sangat indah. Widjatmiko sempat heran karena ditengah hutan bambu masih terdapat candi yang utuh. Lebih heran lagi saat itu dirinya menyaksikan banyak orang yang melakukan pemujaan ditempat itu, sehingga Widjatmiko tidak berani bersuara takut mengganggu. Selesai upacara pemujaan tersebut mereka juga menyuguhkan berbagai macam sajian kepada Widjatmiko hingga acara tersebut selesai dirinya diantar simbah tadi ke tempat awal pertemuannya.

Widjatmiko tidak mengetahui apabila dirinya sudah menghilang selama 3 bulan!

         


Spoiler for spoiler:





profile-picture
profile-picture
profile-picture
padasw dan 21 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ladyjustice
Halaman 1 dari 2

INDEX

profile-picture
profile-picture
profile-picture
MFriza85 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ladyjustice
Wah seru ini kayanya ..
Gaskeeeen gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
Lanjutt.....!!!
profile-picture
profile-picture
69banditos dan ladyjustice memberi reputasi
Izin nenda dulu di marih.

Quote:


emoticon-Ngacir2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ladyjustice dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh politon21
cakep ceritany
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
ijin pasang tenda dulu gAn
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
Gasssske Pertamax
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
Lanjut
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
Niatnya baca cerita serem malah jadi nostalgia. Liat tempatnya kok ga asing, baru inget 2012 ane main kesono. Ini candinya di bukit kan? Jalannya lewat kampung-kampung gitu seingatku dulu.
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
tau mrono, golek bonsai.

translate : "pernah kesitu nyari bonsai"
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi

BATU KERAMAT PANTANG DILANGGAR

Tidak ada yang terlihat aneh dari batu kotak berukuran lebih dari 2 meter ini. Relief di bagian dindingnya menandakan usia batu ini sudah ribuan tahun saat masih digunakan. Sebuah papan peringatan agar tidak naik ke atas batu ini mempertegas status batunya.

Sore itu Anshori dan keempat kawannya mendatangi sebuah desa yang konon terdapat batu kuno keramat. Mereka ini merupakan santri yang berasal dari salah satu pondok disebuah desa dekat dengan lereng Gunung Merapi. Kemudian desa yang mereka datangi berada di wilayah Bantul bagian timur yang dekat dengan sungai besar.
Setelah memperoleh ijin dari tetua desa setempat, Anshori dan empat kawannya malam itu akan membuat sebuah rekaman yang membahas seputar supranatural. Mungkin karena Anshori dan kawan-kawannya berasal dari pondokan yang juga mempelajari hal-hal gaib sehingga mereka punya keinginan membuat sebuah konten.
“Cuacanya joss malam ini, langit cerah semoga ada yang “nampak” tanpa bantuan lampu.” Anshori berkata pada kawan-kawannya.
“Leres gus An, kelihatannya bakal jadi viral konten kita ini.” Sugik teman Anshori menyahuti.

Teman yang lainnya terlihat mulai mempersiapkan piranti alat yang dibawa. Daryanto yang bertubuh paling jangkung mulai menata kamera di salah satu sudut tempat itu sambil sesekali terlihat mengecek hasil jepretan kameranya.
Menjelang tengah malam mereka sudah bersiap sesuai porsi masing-masing. Anshori dan Sugik bertugas menjadi artis dadakan, sedang tiga teman lainnya bertugas merekam kejadian.
Beberapa saat kemudian terlihat mulut Anshori komat-kamit seperti membaca sesuatu yang diikuti oleh Sugik. Hingga beberapa saat mereka belum bisa mendapatkan “sesuatu” yang mereka harapkan.

“Aku tak naik diatas batu aja, kalau gak gini kayaknya gak ada yang muncul” tiba-tiba Anshori berkata dan langsung naik ke atas batu kotak tersebut. Belum ada semenit Anshori diatas batu, mendadak angin bertiup kencang ditempat itu. Pohon-pohon bambu disekitar lokasi berderit seakan mau tumbang. Kamera yang disangga dengan tripod disudut selatan mendadak jatuh. Daryanto agak gugup mengambil alat yang disetingnya tadi.

**********


Siang itu di teras rumah Daryanto terlihat empat orang sedang berbicara dengan serius. Mereka memperhatikan tayangan yang direkamnya pada malam kemarin.
“Kok aneh ya hasil rekaman kemarin kayak gak terjadi apa-apa?” Daryanto mulai membuka obrolan.
“Iya itu juga yang bikin aku gak ngerti, terus ada yang tahu gak kenapa gus Anshori jadi aneh juga tadi pagi?” kata Sugik. Teman yang lain kompak menggeleng.

Memang sepulang dari tempat batu kemarin, Anshori menunjukkan gelagat yang tidak seperti biasanya. Anshori tiba-tiba jadi pendiam. Teman-teman bahkan keluarganya sedari kemarin belum mendengar sepatah katapun dari Anshori.
Setelah tiga hari berlalu dari kejadian itu, Sugik dan teman-temannya berencana menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Anshori kepada Sang Guru.

“Maaf Pak Kiai, jadi ceritanya seperti itu” kata Sugik mewakili ketiga temannya saat dihadapan sang guru.
“Kalian terlalu sembrono datang ketempat seperti itu, jangan disamakan tempat-tempat yang pernah jadi media ritual dari masa lalu dengan tempat-tempat belum tersentuh manusia!” kata Pak Kiai.
“Manusia jaman dulu mempunyai mantra sendiri, bahkan kutukan yang dilekatkan pada benda-benda yang mereka gunakan pada saat itu, dan apabila dilain waktu disalah gunakan oleh orang lain tentu sesuatu yang tidak kita inginkan bisa menimpa siapa saja yang melanggarnya.”

Akhirnya Pak Kiai bersama keempat siswanya tadi pergi ke rumah Anshori. Rupanya kedatangan guru spiritual dan muridnya ini sudah diketahui oleh Anshori yang sudah berdiri seperti menunggu mereka didepan rumahnya!
“Mau apa kamu kemari? ini sudah jadi urusan saya karena bocah ini sudah berlaku kurang ajar ditempatku!” Anshori berkata dalam bahasa jawa kepada Pak Kiai. Rupanya penunggu batu keramat yang berbicara dengan media tubuh Anshori.
“Saya datang memintakan maaf atas kesalahan yang dibuat oleh anak saya.” Pak Kiai berkata dengan bahasa jawa pula. Namun rupanya penunggu batu tersebut tidak mempedulikan.

“Kok gampang sekali minta maaf, bocah ini sudah pecicilan ditempatku bahkan sudah meludahi tempatku terus kamu minta maaf apa semua jadi selesai? kok enak banget kamu ngomong?” bentak mahkluk penunggu yang merasuki Anshori.

Sejak saat itu, Anshori hanya mau berbicara tiap hari jumat saja. Tidak ada satupun orang yang bisa menyembuhkan Anshori. Yang lebih mengherankan lagi, tiap jumat pagi Anshori selalu pergi ke tempat batu keramat itu dan selalu membersihkan sampah yang ada disekitar batu tanpa ada yang menyuruh.


[spoiler=Penampakan BatuSANGKAN PARAN (KUMPULAN CERITA HOROR MISTERI DARI TEMPAT BERSEJARAH)][/spoiler]


Spoiler for :
profile-picture
profile-picture
piripiripuru dan totok.chantenk memberi reputasi
Diubah oleh ladyjustice
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutanne
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
Gelar di page atu
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi
Seru nih cerita nyaemoticon-pencet
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi

GLUNDUNG PRINGIS, NYATA ATAU MITOS?

Sebuah sepeda motor terlihat melaju pelan ditengah malam melintasi jalan yang menghubungkan 2 desa. Jalanan itu terlihat rusak dengan aspal yang sudah mengelupas disana sini. Jalanan yang ramai dilalui truk-truk pengangkut pasir di pagi hingga sore hari akan berubah lengang bila malam sudah tiba.

Eko saat itu baru pulang dari pertemuan dengan komunitas sejarah nya di daerah timur laut Yogyakarta. Sebenarnya Eko bisa saja lewat jalan raya propinsi, namun jarak yang ditempuh akan menjadi sangat jauh karena harus melintasi dua kecamatan sehingga Eko memilih jalur pintas yang lebih dekat.

Setelah melewati sebuah situs reruntuhan candi dari masa Mataram kuna (Situs Kaliworo B) disisi kiri jalan yang dilalui, mata Eko melihat jalanan yang sedikit menurun dan lebar namun jalan ini terbuat dari cor semen yang kuat dan halus. Jalan cor ini membelah sungai besar yang berhulu di Gunung Merapi dan menjadi satu-satunya jalan penghubung diwilayah itu.

Sorot lampu motor Eko menerangi permukaan jalan, sedikit berkilau mungkin karena banyak butiran pasir diatasnya. Hati Eko berdegup lebih kencang seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat sepeda motornya mulai melintasi jalan yang mirip DAM tersebut. Iya, tiba-tiba Eko teringat cerita kakeknya saat dirinya masih seusia anak SMA.

“Ko, simbah mbiyen tau diweruhi dhemit neng cedak kali kono.” (Ko, kakek dulu pernah dilihatin penampakan hantu didekat sungai yang disana) Eko teringat ucapan kakeknya. Kakek Eko dulu berprofesi sebagai penjual ternak di pasar-pasar tradisional. Untuk membawa hasil ternaknya, kakek Eko harus berjalan kaki malam hari menjelang subuh sambil menuntun ternaknya, maklum saat itu kendaraan belum seramai sekarang.

“Pas aku meh nyabrang kali, sapi sek tak tuntun kuwi ngerti-ngerti mandhek koyo patung ragelem obah.” (Pas saya mau menyeberangi sungai, sapi yang saya bawa tiba-tiba berhenti seperti patung gak mau bergerak). cerita kakeknya dulu.

“Lhaa pas aku setengahe narik-narik sapi mau, teko-teko ana suara barang tiba, brruuaakkk banter suarane.” (Lhaa saat saya sedang berusaha menarik sapi, tahu-tahu terdengar suara benda jatuh dengan keras, brruaakkk) kakek Eko melanjutkan ceritanya.

Kakek Eko saat itu celingukan karena tidak melihat benda mencurigakan yang mengeluarkan bunyi keras tadi.

“Terus aku weruh ana semangka gembletak neng kono, tak parani pikirku entuk rejeki.” (Terus saya melihat ada buah semangka tergeletak disana, saya ambillah kan dapat rezeki ini pikir saya).

“Semangka mau tak gawa, rasane kok saya suwe kerasa abot semangkane. Bareng pas tak tonton semangka sik tak gawa mau jebul ngerti-ngerti malih rupa ndhas gilani.” (Semangka tadi saya bawa, tapi rasanya semakin lama kok terasa berat buah semangka tadi, pas saya tengok semangkanya ternyata yang saya bawa tau-tau berubah jadi kepala orang yang mengerikan wujudnya).

“Tak uncalke semangkane sik malih wujud terus aku mlayu sak banter-bantere.” (Saya lemparkan semangka yang berubah wujud itu dan saya lari tunggang langgang)

“Sapine tak tinggal, aku mlayu karo bengok-bengok, lha ndhas mau kok malah cekikikan kaya ning mburiku terus.” (Sapinya saya tinggal lari sambil teriak-teriak, lha ternyata kepala hantu tadi malah terdengar cekikikan seperti dibelakang saya).

**********


Eko teringat cerita yang dituturkan kakeknya dan saat ini dirinya melewati jalan yang sama yang dilalui kakeknya, menyeberangi sungai besar didekat reruntuhan candi. Keringat dingin Eko tiba-tiba seperti mengucur deras saat telinganya mendengar suara benda jatuh.

Bbrrruuuaaakkk…..!

Eko tergeletak pingsan dan paginya ditemukan sopir truk pasir. Ternyata motor yang dikendarai Eko menabrak tepi DAM hingga jatuh dan pingsan. Mungkin terlalu parno dan kurang konsentrasi sehingga Eko mengalami kecelakaan tunggal, namun mungkin juga karena berhalusinasi sosok kepala tadi muncul dihadapan Eko sehingga dirinya terkejut dan menabrak tepi DAM hingga jatuh pingsan.

Quote:


Spoiler for Penampakan Situs Dekat TKP:


Spoiler for :
profile-picture
khuman memberi reputasi

MISTERI HAJATAN DI CABEAN KUNTI

Spoiler for :


Malam selepas isya, Mas Tomo terlihat mengendari sepeda motornya seorang diri. Sebenarnya agak enggan juga Mas Tomo harus berkendara malam-malam ke daerah yang belum dikenalnya.

Mas Tomo berasal dari daerah Sawit di perbatasan Boyolali – Klaten. Malam itu Mas Tomo mendapat tugas dari Pak RT untuk mengabarkan berita lelayu atas meninggalnya tetangga Mas Tomo ke rumah kerabatnya di daerah Cepogo. Pada saat itu masih belum canggih seperti sekarang yang mana berita apapun akan dengan mudah tersebar dengan cepat.

Walaupun Mas Tomo sendiri kurang hafal daerah sana, namun Mas Tomo tetap yakin akan tiba dirumah yang akan dituju berbekal pengalamannya sebagai sales bahan bangunan. Cepogo adalah daerah kecamatan di lereng gunung Merapi dan Merbabu sehingga memiliki udara yang dingin, terlebih di malam hari. Keadaan cuacanya pun tidak bisa diprediksi, terkadang cerah terkadang juga tiba-tiba hujan dan berkabut. Nahh, seperti yang dialami Mas Tomo saat itu ketika sudah sampai di jalan raya Boyolali-Cepogo tiba-tiba gerimis.

Saat itu Mas Tomo berpikir mau berhenti dulu untuk berteduh apa mau melanjutkan perjalanan, tapi akhirnya Mas Tomo melanjutkan perjalanannya. Mas Tomo berkendara pelan-pelan sambil mengingat jalan masuknya karena selain gerimis saat itu kabut sudah mulai turun.

Ketika melihat sebuah gapura kecil dikanan jalan, Mas Tomo segera berbelok melewati jalan desa dengan aspal seadanya. Sambil mengingat arah, Mas Tomo celingak-celinguk juga mungkin ada warga yang terlihat sehingga bisa ditanyakan lokasi rumah yang ditujunya.

Ketika sampai diujung desa Mas Tomo belum melihat seorangpun warga yang bisa ditanyai. Ujung desa ini berupa pertigaan jalan dan Mas Tomo memutuskan mengarah kekiri karena dalam hati Mas Tomo kalau jalan yang ke kanan akan kembali ke jalan raya tadi.

Gerimis makin lebat saat Mas Tomo mulai melewati jalan kecil yang rupanya jalan perkebunan, namun untuk kembali lagi Mas Tomo merasa malas. Mas Tomo merasa girang dan beruntung saat itu dilihatnya agak jauh didepan samar-samar dalam bayangan kabut dan hujan Nampak lampu-lampu yang bernyala terang.

Benar saja setelah dekat Mas Tomo melihat ada hajatan dan banyak orang yang lagi berkumpul. Mas Tomo jadi senang banget dan bergegas kearah keramaian gak peduli basah kuyup.

“Pangapunten pakdhe, badhe ndherek tanglet.” (Maaf pakde, mau menanyakan.), Mas Tomo bertanya ke seorang laki-laki tua yang menghampirinya.

“Injih nak, monggo pinarak rumiyin ngeyup mriki.” (Iya nak, mari silakan masuk dulu untuk berteduh), laki-laki tua itu membalas pertanyaan Mas Tomo.

Setelah basa-basi sebentar Mas Tomo akhirnya mengikuti laki-laki tua tadi. Setelah duduk Mas Tomo baru menyadari ternyata tamu-tamu yang banyak tadi kesemuanya itu perempuan. Hanya Mas Tomo dan laki-laki tua yang menyambutnya tadi saja yang laki-laki ditempat itu. Bahkan yang memainkan gamelan juga perempuan semua. Yang agak aneh lagi semua yang ada ditempat itu termasuk Mas Tomo duduknya di lantai tanah beralas tikar pandan, padahal hajatan tadi termasuk ramai untuk ukuran desa, namun Mas Tomo gak ambil pusing.

”Pangapunten pakdhe, meniko nembe kagungan damel punopo kok ketingal rame sanget?” (Maaf pakdhe, ini acara apa kok tampak meriah sekali?)” Mas Tomo memberanikan diri bertanya sambil menyantap tape ketan kesukaannya.

“Injih niki wonten damel mangayubagyo rawuhipun kanjeng Ibu wonten papan puniko.” (Iya ini ada hajatan untuk menyambut kedatangan kanjeng Ibu di tempat ini.) jawab laki-laki tua tersebut.

Mas Tomo makin penasaran dengan jawaban laki-laki tua disebelahnya.

“Wahhh, kanjeng Ibu niku mesti keleresan piyantun inggil njih pakdhe, ngantos dipun damelaken hajatan kados mekaten?” (Wahhh, kanjeng Ibu itu pasti orang penting sampai disambut dengan hajatan besar seperti ini ya pakdhe?).

Laki-laki tua tadi hanya tersenyum sambil jarinya mempersilakn Mas Tomo untuk menikmati hidangan didepannya.

Laki-laki tua tadi menyuguhkan banyak makanan dan minuman khas hajatan di Jawa. Mas Tomo agak lega setelah laki-laki tua tadi memberitahu kalau alamat yang dituju Mas Tomo sudah dekat dan mempersilakan Mas Tomo menikmati hidangan dan sajian musik tradisional terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Mas Tomo makan lahap sekali, mungkin karena hawa dingin ditempat itu jadi kelaparan setelah kehujanan. Sambil menikmati makan minum, Mas Tomo memperhatikan perempuan ditempat itu ternyata cantik-cantik semua. Yang bikin Mas Tomo agak heran dari kesemua perempuan itu kok gak ada yang ngobrol padahal kalau perempuan sudah berkumpul biasanya ngobrolnya gak berhenti-berhenti.

Tiba-tiba suara gamelan ditempat itu berhenti disusul dengan munculnya aroma wangi yang membuat kepala Mas Tomo merasakan pusing. Keadaan yang tadinya terang benderang berubah menjadi gelap gulita.

**********


Pagi itu, desa kecil di dekat sungai pule digegerkan dengan penemuan seorang laki-laki muda yang pingsan dibebatuan sungainya. Sebuah sepeda motor tampak tergeletak didekatnya. Warga beramai-ramai menolong pemuda tersebut dan motornya yang jatuh ke dalam sungai pule atau yang lebih dikenal dengan Cabean Kunti.

Setelah tersadar, laki-laki muda tersebut mengaku dari Sawit dan bernama Tomo!



Spoiler for :

PENUNGGU PATIRTAAN KUNDEN

Kamis malam di bulan April, seorang lelaki terlihat berjalan di pematang sawah. Dikepalanya terikat sebuah lampu sebagai penerang sedang tangan kanannya tampak memegang sebatang kayu panjang yang ujungnya terdapat beberapa besi runcing mirip tusuk sate.

Lampu yang terikat dikepala lelaki itu terlihat bergerak ke kiri dan kanan sedang tangan kanannya sesekali terlihat menusuk-nusukkan kayu panjang diantara tanaman padi.
“Lumayan banyak juga katak disawah ini, gak sia-sia jalan kaki sampai jauh.’’ Lelaki tadi berkata dalam hati sambil memasukkan katak ke dalam kantong kain yang ada dipinggangnya.

Demikianlah keseharian Bowo, lelaki yang berprofesi sebagai pencari katak dan belut dipesawahan yang saat itu sedang melakukan aktivitas rutinnya setiap malam. Area pesawahan yang didatangi Bowo saat itu berada tidak jauh dari pusat kota Klaten dan dekat dengan sebuah rumah sakit negeri.

Sawah ditempat Bowo mencari katak saat itu memang subur karena terdapat sebuah sungai kecil yang selalu mengalir airnya sepanjang musim.
“Istirahat sebentar buat ngisi perut” pikir Bowo yang mungkin karena hasil malam itu sudah lumayan banyak sehingga bisa beristirahat sebentar.

Dari jauh Bowo melihat tempat yang menurutnya cocok buat beristirahat. Samar-samar terlihat tanah yang agak luas yang berada dekat dengan sungai sehingga Bowo bisa sekalian membersihkan kaki dan tangannya.

Setelah dekat Bowo tertegun sebentar namun tetap menuju ketempat yang dilihatnya tadi. Sebuah tanah yang datar dan memiliki pagar pendek yang mengelilingi sebuah bangunan kecil dari batu hitam.

“Loohh, ada candi disini? saya baru tahu. Kulonuwun mbah nderek leren." (permisi kek numpang istirahat), demikian Bowo setiap memasuki tempat yang dianggapnya keramat selalu memberikan salam.

Bowo beruntung juga didekat tempat itu terdapat banyak berserakan ranting-ranting pohon yang kering. Setelah api menyala, Bowo segera memanggang singkong rebus yang dibawanya, setelah itu turun ke sungai untuk membersihkan tangan dan kakinya.

Saat naik ke pinggir sungai, jantung Bowo seperti berhenti berdetak. Tubuhnya terasa kaku sedang matanya tak berkedip menatap kearah api yang dibuatnya. Sesosok ular yang ukurannya sangat besar terlihat menatap kearah Bowo. Ular sebesar batang pohon kelapa itu terlihat melingkar dengan kepala terarah pada Bowo yang mematung. Sisik ularnya berkilauan ditimpa cahaya dari nyala api, namun Bowo melihat bagian ekor ular itu seperti memakai cincin emas yang berkilauan.

Tiba-tiba ada angin yang berhembus cukup kencang dan nyala api yang dibuat Bowo padam hanya meninggalkan bara merah dari kayu. Sesaat kemudian tercium bau amis menusuk hidung Bowo.

“Mas..aku melu kowe yo?" (Mas..saya ikut kamu ya), Bowo mendengar suara wanita yang seperti berbisik didekat telinganya. Bowo segera menoleh dan dilihatnya sesosok wanita yang cantik luar biasa dekat sekali dengan Bowo.

“Aku melu yo mas, mengko kowe tak wenehi opo-opo." (Aku ikut ya mas nanti kamu saya kasih segalanya), suara wanita itu kembali terdengar.

Lidah Bowo kelu, badannya gemetar,,seumur-umur dia keluar malam mencari katak baru sekali ini mengalami peristiwa yang aneh.

“Kuwi kanggo kowe kabeh mas jupuken." (Itu semua buat kamu mas ambillah), setelah berkata demikian, tiba-tiba didepan Bowo tergeletak tumpukan uang dan perhiasan yang sangat banyak.

“Ojo mung disawang gek dijupuk kabeh terus ndang muliho isoh dinggo nyukupi keluargamu."(Jangan cuma dilihat, lekas kamu ambil semua kamu bawa pulang bisa menghidupi keluargamu.), didengarnya lagi suara wanita itu. Bowo masih belum bisa berkata sepatah katapun, bahkan sesekali menahan nafas!

“Ayo mas gek dijupuk mengko kowe yo tak ladeni, penak uripmu mas mung wae aku jaluk diijoli babon sak petarangane." (Ayo mas buruan diambil nanti setelah itu saya juga melayani kamu, kehidupanmu pasti enak tapi semua itu saya cuma minta ditukar sama ayam betina sekandangnya.)

Disaat Bowo berdiam sambil gemetaran, hal yang tidak terduga terjadi.
Suara adzan berkumandang terdengar sangat kencang ditempat itu.

Allahuu Akbar…Allahuu Akbar…

Rupanya suara takbir itu keluar dari alarm di hp yang dibawa Bowo, yang menandakan hari sudah mulai pagi.

Setelah itu semua yang dilihat Bowo hanyalah tanah datar dan sisa kayu yang terbakar. Tumpukan uang dan perhiasan tadi lenyap bersama wanita yang berdiri didekatnya.
Dengan sisa kesadaran yang masih dimiliki, Bowo segera berlari menuju jalan raya.
Setelah kejadian itu, hasil tangkapan katak dan belut yang diperoleh Bowo setiap hari selalu melimpah sehingga Bowo bisa pulang tidak terlalu malam.

Menurut penuturan para orang tua, apabila Bowo sampai membawa pulang “barang” yang dilihatnya tadi, secara tidak langsung Bowo sudah menerima perjanjian seperti pesugihan. Sedang tumbal yang disediakan adalah ayam betina bersama seisi kandangnya mempunyai arti bahwa istri dan anak-anaknyalah yang disediakan untuk menjadi tumbalnya.



Spoiler for :



Spoiler for :

profile-picture
profile-picture
khuman dan tulip.putih memberi reputasi

MISTERI BANYUNIBO

Kisah ini terjadi beberapa saat sebelum wabah corona melanda negeri ini. Ibu Ummi adalah seorang pengajardi salah satu SMA Negeri di wilayah Surakarta. Selain berprofesi sebagai pengajar, Ibu Ummi juga aktif disalah satu organisasi kerukunan umat beragama yang berlokasi juga di Surakarta. Organisasi ini beranggotakan hampir semua lapisan masyarakat dengan beraneka macam latar keagamaan.

Siang itu selepas mengajar, Ibu Ummi mendapat tugas mengantarkan beberapa paket bingkisan dari organisasinya untuk disumbangkan saat perayaan Waisak yang dilaksanakan disebuah candi Buddha didaerah Yogyakarta. Bersama tiga rekannya mereka diantar dengan menggunakan mobil operasional milik organisasi berikut sopirnya.

“Pak Wanto sudah tahu jalannya ke candi belum njih?”, Ibu Ummi berbicara dengan sopir mereka yang bernama Wanto.

“Injih dereng prikso Bu..” (Ya belum tahu Bu..), Pak Wanto agak malu-malu menjawabnya.

“Ya sudah Pak Wanto nanti nanya penduduk sana saja atau tak pakai gps”, Ibu Ummi melanjutkan bicara dengan rekannya yang lain, sementara Pak Wanto sibuk dengan lalu lintas jalan yang siang menjelang sore itu terlihat mulai ramai.

Selepas ashar rombongan sudah memasuki kawasan Prambanan dimana terlihat gugusan candi-candi yang indah diseberang jalan tampak menjulang diantara pepohonan yang rindang.

“Istirahat dulu pak diwarung buat makan, sudah dekat kelihatannya jadi gak usah terburu-buru lagi” Ibu Indri yang duduk disebelah Ibu Ummi menyuruh Pak Wanto mencari warung buat makan. Setelah mendapat warung yang dirasa cocok dan dekat dengan perlintasan kereta api, rombongan kecil itupun mulai bersantai sejenak.

“Pak kalau ke candi yang buat acara waisak besok itu lewat mana njih?” iseng-iseng Pak Wanto bertanya dengan pemilik warung soto ditempat itu.

“Ooo kalau mau cepat bisa lewat jalan ini Pak, naik sedikit bukit itu yang diselatan, nah candi yang jenengan maksud ada disebalik bukit itu”, bapak pemilik warung soto tadi menjawab sambil menunjuk-nunjuk kearah yang dimaksud.

“Jalannya bagus kok pak ramai karena disana ada resort terkenal, selain itu juga jalur akses wisata ke beberapa candi di bukit itu,” sambung bapak pemilik warung soto tersebut.

Setelah dirasa cukup istirahatnya, rombongan tadi segera melanjutkan perjalanan mengikuti arah yang ditunjuk pemiliik warung soto. Benar saja mobil yang mereka tumpangi melaju dengan santai menaiki bukit yang ditunjuk bapak diwarung tadi. Jalannya enak biarpun harus nanjak sedikit.

Ketika sampai didepan resort yang ditunjukkan pemilik warung tadi, Ibu Ummi menyuruh Pak Wanto berhenti sebentar. Namanya Ibu-ibu begitu melihat tempat yang bisa dijadikan selfi mereka langsung beraksi. Dengan latar belakang gugusan candi dikejauhan, lokasi tersebut memang sering dijadikan tempat untuk berswafoto, mungkin kapan lagi kesini begitu pikir para Ibu-ibu tadi sehingga tanpa disadari matahari mulai turun.

Karena berada dibukit bagian timur tentu cuaca lebih cepat terlihat gelap dan merekapun agak buru-buru menuju lokasi. Mobil minibus itupun terhenyak-henyak ketika melewati jalan yang dilalui ternyata bukan jalan aspal!!

“Pak ini kita kesasar tidak kok jalannya jadi geronjal-geronjal?” kata Ibu Ummi. Merekapun berinisiatif menyalakan hp masing-masing namun tidak mendapat sinyal. Mungkin karena berada di perbukitan yang banyak pohon sehingga sinyal susah didapat.

“Nanti kalau papasan dengan orang coba saya nanya jalannya Bu. Tenang mawon.” Pak Wanto berkata mencoba menenangkan penunmpang yang dibawanya.

“Nahh itu ada ibu-ibu dipekarangan depan itu, coba tak tanya dulu pak” setelah itu Pak Wanto turun dan berjalan menuju seorang wanita yang terlihat sudah tua sedang memegang sapu lidi.

“Nyuwun sewu Bu, badhe nderek tanglet mergi ten candi niku medal pundi njih?” (Permisi Bu, mau nanya jalan ke candi itu arahnya mana ya?), Pak Wanto bertanya dengan nada yang halus.

Wanita tua tadi terlihat mengacuhkan pertanyaan Pak Wanto, setelah itu tangannya kembali mengayunkan sapu lidi yang dipegangnya. Wanita tua itu menyapu dikeremangan cuaca. Pak Wanto tiba-tiba bergidik, bulu kuduknya langsung meremang dan cepat-cepat kembali ke mobil yang langsung tancap gas.

“Kenapa Pak Wanto sudah dikasih tahu jalannya kok ngebut?”, Ibu Indri kali ini yang bertanya.

“Aa…aanu Bu… mangke mawon sik cerita!” (Aa..aanu Bu nanti saja yang bercerita), jawab Pak Wanto sedikit gemetaran.

Jalan bergelombang seperti tidak dirasakan oleh Pak Wanto, yang dibenaknya adalah menemukan rumah warga atau perkampungan terdekat. Selagi Pak Wanto memacu adrenalin dengan berkendara dijalanan bergelombang, semua penumpang didalam mobil serentak menunjuk agak jauh ke depan mobil mereka.

Dikeremangan senja dibukit itu terlihat rombongan orang berpakaian serba kuning berjalan beriringan!

Rombongan pemuka agama Buddha!

“Pak Wanto pelan-pelan saja ya kita ikuti rombongan umat Buddha itu pasti sedang menuju ke candi tempat upacara besok” Ibu Ummi meminta Pak Wanto berjalan pelan dan langsung dilaksanakan.

Klintingg…tinggg..tinggg..
Terdengar suara genta perunggu berdenting-denting mengiringi perjalanan para umat Buddha tersebut.

Ibu Ummi mencoba menghitung rombongan itu berjumlah lebih dari sepuluh orang dengan seorang pemimpin yang berkepala gundul berjalan paling depan. Pemimpin rombongan itulah yang memegang genta tadi terlihat terayun mengeluarkan dentingan dengan gema yang panjang. Rombongan lain terlihat memegang bermacam-macam benda, ada yang membawa kendi, bokor dan benda-benda lain yang belum pernah dilihat Ibu Ummi dan rombongannya.

Pak Wanto masih mengikuti mereka dengan menjaga jarak agar tidak mengganggu kekhusukan umat Buddha tersebut. setelah berbelok kekanan terlihat jalanan mulai menurun dan tiba-tiba rombongan berbaju kuning itu hilang!

Semua penumpang dimobil serentak terbengong-bengong, namun mereka gembira karena didepan mereka agak jauh terlihat nyala-nyala lampu berwarna warni dan hiasan janur yang sangat meriah mengelilingi sebuah komplek candi.

Itulah candi yang mereka tuju…

Setelah rombongan disambut para pemuka umat dicandi tersebut, mereka dipersilakan beristirahat dideretan kursi tamu yang akan dipergunan besoknya.
“Alhamdulillah… seneng rasanya bisa sampai juga dicandi padahal tadi badan sudah panas dingin semua,” Ibu Ummi berkata pada rekan-rekannya.

“Pak Wanto tadi belum jadi cerita pas dijalan ada apa to?” Ibu Indri melanjutkan.
Akhirnya Pak Wanto bercerita tentang peristiwa yang dilihatnya tadi..

“Tadi dijalan saya kan nanya sama wanita tua ya Bu, awalnya saya bertanya gak terlalu memperhatikan wanita tua itu tapi pas saya tanya kok diam saja. Saya jadi curiga dan saya perhatikan betul wanita itu ternyata…” Pak Wanto berhenti sebentar..

“Ternyata apa Pak, kalau cerita mbok jangan dipotong-potong!!” kata Ibu Ummi penasaran.

“Kaki wanita tua itu tidak menyentuh tanah Bu…” Pak Wanto melanjutkan,

”Yang lebih seram lagi itu mulut wanita tua itu seperti dijahit dan benang jahitannya itu seperti rambut terlihat memanjangdari mulutnya sampai hampir menyentuh telinga!”

“Seram kalau membayangkan wajah wanita tua itu, malam-malam kok nyapu dipekarangan dan tidak ada rumahnya lagi.” Tutur Pak Wanto panjang lebar sambil bergidik ngeri.

Beruntunglah rombongan itu rupanya dituntun oleh rombongan dari alam lain yang baik yang menunjukkan lokasi candi yang akan mereka tuju, mungkin rombongan umat Buddha dari alam lain itu tahu kalau rombongan dari Surakarta mempunyai niat baik di perayaan upacara keagamaan mereka.



Spoiler for :
profile-picture
mmuji1575 memberi reputasi
Lha ini kok lokasi semuanya yg tiap minggu gua lewatin buat gowes, cepogo, musuk, kaliworo, sawit, polan, desa kunden (ada candi yg ditemukan di skitar thun 2003an)
Gas lanjut critanya bang
profile-picture
ladyjustice memberi reputasi

LEGENDA ULAR PENUNGGU SITUS MBAH GEMPUR

Tidak seberapa jauh dari Masjid Agung Kota Klaten, terdapat sebuah situs reruntuhan candi dari masa Mataram kuno. Struktur bangunan candi ini terbuat dari batu merah berukuran besar-besar. Namun bagian utama candinya menggunakan batu andesit.

Sebuah fragmen arca tampak terpotong menjadi 3 bagian yang disandarkan pada sebuah batu yoni. Dahulu ditempat ini banyak ditemukan arca batu, namun saat ini tinggal 1 arca batunya. Lokasi Situs Mbah Gempur dikeramatkan oleh masyarakatnya dan dianggap angker, sehingga tempat ini jaman dulu mirip hutan kecil ditengah perkampungan.

Salah satu pengalaman mistis dialami oleh Pak Kardi, seorang pemilik warung soto yang berada tidak jauh dari desa tempat situs Mbah Gempur berada.

"Dulu tidak ada yang berani masuk kesana, lokasinya gelap karena banyak pohon besar dan juga rumpun bambunya sangat banyak, padahal dekat dengan kota", jelas Pak Kardi, pemilik warung soto didaerah itu.

Suatu hari, Pak Kardi diajak oleh seorang temannya untuk mencari bambu dilokasi Mbah Gempur.
"Saya sebenarnya agak takut juga saat itu, tapi teman saya bilang gak apa-apa dan mau dikasih duit lumayanlah", kenang Pak Kardi.

Akhirnya Pak Kardi berangkat juga bersama temannya untuk menebang pohon bambu di situs Mbah Gempur. Pada saat menebang pohon itu, Pak Kardi dan temannya kedatangan tamu tak diundang.
"Pas lagi asik nebang bambu, tiba-tiba ada seekor ular didekat kami. Besar ularnya selengan saya berwarna hitam kelabu gitu. Nahh teman saya itu tanpa babibu langsung gebuki ular tersebut pakai bagian belakang parang yang dipegangnya", lanjut Pak Kardi.

Setelah ular tersebut mati, oleh teman Pak Kardi diambil dan dimasukkan ke dalam karung yang dibawanya.
"Katanya mau dimasak dagingnya enak, begitu bilangnya teman saya saat itu ". Sebenarnya Pak Kardi sudah melarang temannya agar bangkai ular itu dikubur saja disana, namun temannya itu ngeyel karena eman-eman.

Keesokan harinya, Pak Kardi didatangi istri temannya nebang bambu dan ngasih tahu kalau suaminya tiba-tiba sakit. Pak Kardi pun bergegas ke rumah temannya tersebut dan melihat temannya seperti menggigil sambil mengigau gak jelas. Akhirnya Pak Kardi dan istri temannya membawanya ke rumah sakit terdekat.

Setelah diperiksa beberapa saat teman Pak Kardi ini disarankan dimasukkan ke ruang ICU karena tidak sadarkan diri. Dokter yang memeriksa saat itu tidak menemukan gejala penyakit bahkan jantungnya masih sehat secara medis.

Akhirnya setelah itu Pak Kardi berinisiatif pergi ke rumah seorang kyai di utara desanya.

"Maaf Pak Kardi, teman penjenengan kemarin apa habis menemukan sesuatu dan dibawa pulang njeh?

"Pak Kyai tadi bertanya ke Pak Kardi. Pak Kardi pun menceritakan kejadian yang dialami bersama temannya kemarin.

Pak Kyai akhirnya berkata," bapak tolong ke rumah temannya tadi, tolong kuburkan sisa daging ularnya di tempat Mbah Gempur, mudah-mudahan teman bapak bisa disembuhkan. "

“Jadi Pak Kyai itu bilang kalau ular yang saya lihat kemarin itu adalah ular danyang atau ular jadi-jadian . kata Pak Kyai di tempat Mbah Gempur itu katanya ada semacam kerajaan apa kampung ular jadi-jadian , nah ular yang saya lihat dan dimakan teman saya itu adalah salah satu penghuni di tempat itu.” Kata Pak Kardi sambil menerawang ingatannya.

“Terus Pak Kyai juga bilang lagi bahwa raja ular ditempat itu tidak terima kalau ada yang mengusik apalagi sampai membunuh rakyatnya, jadi saya sendiri saat itu juga ketakutan mendengar cerita Pak Kyai jangan-jangan nanti ada apa-apa juga terhadap saya.”

“Namun karena mendapat amanah seperti itu dari Pak Kyai saya mau tidak mau harus kesana lagi seorang diri untuk mengubur sisa daging ular dan meminta maaf” ,ungkap Pak Kardi .

Pak Kardi memberanikan diri pergi ke tempat Mbah Gempur untuk mengubur daging ular yang hanya tersisa beberapa potong daging saja. Selagi sibuk menggali, tiba-tiba sebuah benda jatuh didekatnya. Pak Kardi terkejut setengah mati karena benda yang jatuh itu adalah seekor ular yang sama persis dengan ular yang kemarin hanya saja ular yang ditemuinya kali ini seperti memakai kalung dibawah kepalanya.

“Saya kaget waktu itu, namun spontan saya berucap minta maaf sambil gemetaran, adem panas rasanya saat itu karena tiba-tiba suasana di Mbah Gempur menjadi senyap, saya seperti merasa ditempat lain sehingga saya hampir tidak bisa mendengar suara apapun, benar-benar mencekam waktu itu.” Lanjut Pak Kardi.

Setelah itu antara sadar dan tidak, Pak Kardi mendengar suara laki-laki tua yang berbicara dalam bahasa jawa, dekat sekali suara itu seperti menempel ditelinganya.

"Kabeh wis kedadian, ora bisa dibalekne. Ilang nyawa kuwi ijole yo nyawa" (Semua sudah terjadi, tidak bisa dikembalikan lagi, menghilangkan nyawa harus diganti dengan nyawa juga). Demikian suara yang didengar oleh Pak Kardi, sementara ular tersebut masih diam seperti mematung.

Pak Kardi akhirnya meminta maaf lagi dan segera menguburkan daging ular tadi sambil diawasi oleh ular yang dari tadi diam. Namun setelah itu Pak Kardi terkejut kembali karena secara tiba-tiba sebuah pohon bendo yang berukuran sangat besar tumbang!!
Langit mendadak gelap seperti mau turun hujan lebat membuat Pak Kardi buru-buru menyelesaikan pekerjaannya mengubur sisa daging ular.

“Pas selesai saya lihat ular yang ada kalungnya tadi sudah hilang terus saya cepat-cepat berpamitan dan pergi dari tempat itu.”

Pak Kardi pun pulang dengan buru-buru untuk mandi karena mau segera menengok temannya di rumah sakit. Namun belum sampai rumahnya, Pak Kardi dikasih tau tetangganya apabila temannya itu baru saja meninggal dunia.

**********


Selain kisah pengalaman dari Pak Kardi ada juga peristiwa yang dialami oleh istri pedagang angkringan yang letaknya diselatan desa Mbah Gempur.

Saat itu siang hari seperti biasa, Mbak Warni (bukan nama sebenarnya) menyusul suaminya yang sedang jualan angkringan di selatan situs Mbah Gempur. Karena jarak dengan rumahnya tidak terlalu jauh, Mbak Warni berjalan kaki menuju warung angkringan suaminya.

Ketika lewat didekat lokasi Mbah Gempur, Mbak Warni melihat ada seekor burung mirip perkutut diatas tanah yang kelihatannya jinak. Mbak Warni mencoba menangkap burung tersebut, dan kena. Namun setelah tertangkap terjadi keanehan karena yang dipegang Mbak Warni bukan seekor burung mirip perkutut tadi melainkan kotoran sapi atau kotoran kerbau yang disebut Mbak Warni dengan Tletong sehingga Mbak Warni langsung lari terbirit-birit..!!


Spoiler for :



Spoiler for :
Halaman 1 dari 2


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di