Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Ruang kerja panas, pegawai Museum Noken Papua berkantor di teras
Ruang kerja panas, pegawai Museum Noken Papua berkantor di teras
Para pegawai UPTD Museum Noken Papua di kawasan Expo Waena, Kota Jayapura sedang duduk di teras museum. Ada yang merajut koken, ada yang diskusi kondisi museum yang jauh dari harapan - Jubi/Mawel
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pegawai Unit Pelaksana Teknis Daerah atau UPTD Museum Noken Papua, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua di kawasan Expo Wamena, Kota Jayapura, terpaksa berkantor di teras museum. UPTD Museum Noken yang dibangun pada 2014 silam itu tidak mempunyai ruangan bagi para pegawai yang berjumlah 17 orang itu untuk berkantor.

“Kita dilantik satu tahun satu bulan ini. Fasilitas yang ada tidak mendukung pegawai untuk mengelola museum dan koleksi noken yang ada,” ungkap Mozes Mandibidibo, Kepala Seksi Pembinaan dan Pelatihan, kepada jurnalis Jubi yang mendatanggi museum itu, Rabu (8/9/2021) siang.

Kata dia, ada kendala sumber daya manusia dari 17 pegawai UPTD Museum Noken. Pegawai yang ada bukan berlatar belakang pengelola museum sehingga sangat minim pemahamaan tentang pengelolaan museum dan pengetahuan tentang noken.

“Bukan latar belakang museum, semuanya belum memahami museum sehingga perlu peningkatan kapasitas mengelola museum. Kita perlu merawat museum, menerima tamu, promosi, dan pemasaran,” ungkapnya.

Kata dia, fasilitas dalam museum pun tidak mendukung 17 pegawai itu mengelola museum secara efektif sebagaimana layaknya sebuah UPTD. Mereka harus bekerja manual untuk mendata 86 koleksi noken yang ada. Koleksi yang ada pun terancam hancur.

Kondisi tidak ada pendingin ruangan sehingga situasi panas terus begini koleksi kita bisa hancur,” ungkapnya mengeluhkan kondisi daya listrik yang rendah yang tidak mendukung menghidupkan AC ruangan yang ada.

“Listrik sudah masuk hanya tidak bisa kasih jalankan AC. Dayanya rendah. Tagihan listrik tidak masuk dalam tagihan dinas sehingga tidak ada yang bertanggung- jawab mengisi token listrik,” ungkapnya.

Meja dan kursi kerja para pegawai ini dibawa dari kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Papua. Mereka mengatur meja dan kursi di ruang pameran museum untuk tempat kerja. Jumlah meja dan kursi yang ada pun tidak sesuai dengan jumlah pegawai.

Ruang kerja panas, pegawai Museum Noken Papua berkantor di teras


Sandya Sroyer, staf Sub TU UPTD Museum Noken Papua, menambahkan karena kondisi yang ada terpaksa 17 pegawai itu memilih duduk di teras.

“Ini ruang pameran yang sebenarnya tidak bisa dipakai untuk kantor. Kita tidak punya kantor sehingga kita terpaksa teras jadi kantor. Apalagi panas begini,” ungkap Sroyer sambil menunjukkan ruang pameran Museum Noken Papua di gedung museum.

Kata dia, para pegawai berusaha mengisi token listrik patungan sejak Pemerintah Provinsi Papua mengambil peran sebagi pengelola museum itu pada Agustus 2020.

“Ini tidak ada aliran listrik. Kalau pulsa listrik habis, pegawai-pegawai baku kumpul uang untuk isi token,” ungkapnya.

Pantauan jurnalis Jubi dari pintu gerbang museum hingga gedung itu jauh dari harapan. Gedung Museum Noken dibangun di belakang bangunan Museum Negeri Papua dan bisa akses dari pintu gerbang Museum Negeri dan juga gerbang Museum Noken. Pintu gerbang itu nampak terbuka 24 jam. Siapa saja bisa akses siang dan malam.

Gedungnya dibangun dua lantai. Lantai bawah untuk ruang pameran noken, tetapi juga telah menjadi ruang kerja pegawai UPTD sejak 2020. Lantai dua untuk ruang koleksi noken dari 276 suku di Papua.

Koleksi noken yang ada dari 7 wilayah adat, 276 suku dari Provinsi Papua dan Papua Barat, tetapi jumlahnya koleksinya sangat terbatas.

“Dari data, ada 100 nomor noken tetapi koleksi yang kita hitung saat ini hanya 86 noken dari 7 wilayah adat,” ungkap Sandya dan Mozes kepada jurnalis Jubi di tempat yang sama saat memberikan keterangan kepada jurnalis Jubi.

Ruang kerja panas, pegawai Museum Noken Papua berkantor di teras
Kartu nama noken yang tidak ada koleksi nokennya di kantor UPTD Museum Noken Papua. Ada 14 noken yang tidak terpajang di Museum Noken Papua – Jubi/Mawel
Ketika Jubi menelusuri keleksi noken di museum itu, benar, banyak lemari yang kosong tanpa ada noken yang dipamerkan. Hanya kertas nomor dan nama noken. Noken yang ada pun tanpa keterangan yang detail dari pemilik maupun pengelola sehingga menjadi kendala para pegawai ini.

“Kita menolak menerima tamu karena kita belum memahmi noken secara detail, takutnya salah kasih keterangan dan pegunjungnya kecewa,” ungkap Sandya.

Para pegawai yang mengeluh tidak ada penjabaran tugas yang jelas dari atasan sehingga mengelola DPA UPTM Museum Rp1,2 miliar pada tahun anggaran 2021 ini.

Kita dengar dana itu lari ke PON kah,” ungkap salah satu pegawai. (*)

Editor: Dewi Wulandari

https://jubi.co.id/pegawai-museum-no...edium=facebook


Dana Otsus gede nggak masuk ke museum noken padahal noken itu udah jadi warisan dunia dan ciri khas Papua?.
kalau kayak gini pengunjung males ke situ...
kalau Pemdanya bagus dikuliahin stafnya atau pelatihan ke museum di Ambon, Makassar atau Surabaya. Belajar noken sama antropolog di Univ.Cendrawasih atau kepala suku setempat. Terus museum yang bagus bukan hanya majang koleksi saja, tapi bagaimana pengunjung bisa merasakannya. Karena kalau majang aja dan dengerin penjelasan penjaga bakal kurang. Butuh visualisssi seperti lukisan, peta suku-suku Papua yang nokennya dipamerkan, dan video.

Museum Nasional udah bagus tapi masih lebih bagus museum di Arsip Nasional RI di Cilandak yang lebih menarik . Museum Satria Mandala bagus pakai audiovisual dan pencahayaan koleksi-koleksinya termasuk foto para panglima

Sayang sekali museu,nya minim perhatian Pemda...


Diubah oleh mabdulkarim 09-09-2021 15:13
muhamad.hanif.2Avatar border
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
1
1.2K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan