CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Misteri Gunung Kemukus
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6136fdeead73d115ed63e5f2/misteri-gunung-kemukus

Misteri Gunung Kemukus



Quote:




Misteri Gunung Kemukus

Prolog

"Brakk.. " suara kepalan tangan mengenai meja.

Hati yang resah dan gelisah menatap tempat usahanya yang sernakin hari semakin menurun, terlebih ketika melihat berita tentang sosok yang bijaksana memberikan kabar duka bagi pelaku usaha seperti dirinya.

"Dengan segala hormat, kami sebagai pemerintah akan memperpanjang kembali PPKM hingga batas yang tak ditentukan, demikian informasi ini saya sampaikan.

Semoga semuanya dapat sabar dengan ujian dari Tuhan ini, untuk itu saya ucapkan terima kasih"
suara pria berdasi di televisi disambut dengan pandangan yang nanar olehku.

Rasanya sudah tak bergairah untuk hidup, kutekan remote televisi untuk mematikannya mataku menyapu sepinya pengunjung di tempat usahaku. Baju-baju distro yang menggantung nampak berdebu, entah sudah berapa kali kami dipaksa tutup oleh satuan polisi pamong praja.

"Virus itu mematikan tapi bagaimana dengan hutangku di bank? Untuk membangun usaha ini aku meminjam uang dari mereka, bagaimana membayar cicilan kalau pembeli sepi seperti ini" ucapku dalam lamunan.

Aku melihat sisi depan, ada ruangan tempat karyawanku dulu istirahat disana. Tapi kini, semua sirna hanya sendiri aku yang menjaga.

Sedih, marah, kesal semua jadi satu. Aku teringat ketika diriku berkata kepada mereka,

"Bu Mulan, mbak Evi!! Maaf, berhubung keuangan saya hancur akibat pandemi kalian saya rumahkan dan ini ada ucapan tanda terima kasih. Bila satu saat keadaan normal, nanti akan saya hubungi kembali. Saya ucapkan terima kasih sudah 4 tahun bersama saya disini, maaf bila saya ada salah" ucapku kepada kedua wanita itu.

"Mas, maaf apa kita tak bisa kerja disini lagi. Ga apa potong gaji kami rela kok mas!!" Ucap bu Mulan sambil menangis yang menjadi tulang punggung keluarganya.

"Iya mas Andi" sahut Evi.

"Kalau dua tangan ini masih sanggup membayar kalian, sampai kapanpun kalian akan disini. Tapi hutangku sudah bertumpuk, usaha tidak ada pemasukan! Saya benar-benar tak sanggup lagi bu, mbak" ucapku dengan penuh rasa sesak.

Mereka memelukku dan menangis bersama, akupun tak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Kupeluk karyawanku yang menjadi ujung tombak usahaku, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa.

Lalu, ingatanku pun buyar dan memandang nanar ke ujung jalan. Hatiku remuk redam merasa tak mampu untuk berdiri, aku bertanya kemana Tuhan, dimanakah Dia? Apakah Tuhan sudah berganti rupa dengan kebijakan pemimpin Istana? Apa aku harus menggugat Tuhan!

Tiba-tiba,

"Permisi" seorang berpeci hitam dan berbaju ala santri datang didepan toko.

"Ya, ada apa ya?"

"Ini pak mau meminta sumbangan, seikhlasnya" ucapnya.

Aku mengambil uang receh dari kantong celana sebesar Rp 2.000 lalu memberikan kepada dirinya.

Tampak pria itu agak tak suka dengan pemberianku, lantas segera pergi dan berlalu. Samar-samar aku dengar ocehannya yang membuat hatiku pilu "masa toko gede gini cuma ngasih dua ribu, pelit amat gw sumpahin bangkrut".

Telingaku memerah, apa harus marah dan menghantam congornya yang seenaknya bicara! Ada rasa putus asa, tapi aku masih punya logika. Jangan karena dua ribu ujungnya diriku di penjara, sungguh hal itu jelas tak lucu.

Aku kembali ke singgasanaku, bangku plastik yang sudah banyak tambalan, dan kembali melamun.

Namun tiba-tiba...


#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bachtiar.78 dan 100 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Part 5

Seperti biasa tokoku masih sepi, walau kali ini aku membawa keris semar mesem. Namun aku berfikir keras tentang sabdo palon nagih janji, apakah saat ini adalah masa itu, masa sulit di daerah Jawa dimana pagebluk menjadi raja.

Apa kehancuran didepan mata? Terlalu cepat bila kiamat sudah akan datang karena masih banyak orang yang sembahyang kepada Gusti Sang Hyang Widhi. Tapi satu yang kuambil poin dari bisikan itu adalah "wong jowo ilang jowone" (Orang jawa kehilangan jawa-nya).

Inilah pesan yang sepertinya ingin disampaikan jangan sampai nilai leluhur bangsa sendiri hilang berganti dengan bangsa asing, tapi kok walau semar mesem sudah di genggam tetap saja hingga matahari meninggi tak ada perubahan, toko masih saja sepi.

Tapi semenjak aku memegang pusaka ini pemikiranku lebih jernih, pikiranku lebih terbuka tidak kusut seperti hari-hari yang sebelumnya. Wajah muram berganti dengan berseri, bahkan senyumanpun mudah terukir kepada orang yang hilir mudik di depan toko.

Hingga aku melihat seorang anak yang cantik dan ibunya, nampak memilah milih pakaian yang kupajang. Tapi kuperhatikan anak itu nampak berbeda.

Kulihat dirinya menatap tajam kearah sudut tempat fitting room. Ia melangkah mendekat dan menengok kanan kiri seperti kehilangan sesuatu. Herannya ketika ia menatap langit-langit senyumnya mengembang, ia menyapa seseorang

"Haii....!!" Sapa anak itu ramah.

"Kamu ciapa?? Aku Dis !! Itu mama Dis!" Jari telunjuknya menunjuk ke arah ibunya.

"Hello...!!! Nama kamu ciapa??" Nampak ia terus bertanya.

"Ohh Putli, apa kabal?" Nampak ia tersenyum.

"Iya, bye... bye putli" sedangkan ibunya hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya.

"Gendis?" tanyaku.

"Om ciapa, kok tahu namaku. Pasti om nguping mama ya, pas manggil aku!"

"Iya!" Ucapku sambil tersenyum.

Ibunya pun datang ke arahku, ia nampak anggun dan menawan dengan balutan dress warna merah dipadu dengan jilbab yang senada. Tidak terlihat bila ia sudah mempunyai anak, sungguh teramat muda untuk seorang ibu walau aku pun tak tahu umurnya.

Ternyata sosok wanita yang memberikan kisahnya di dunia maya ada dihadapanku sekarang, lidahku kelu tak bisa berkata. Darahku seakan terhenti ketika ia semakin dekat berjalan ke arah tempatku berada, bulir keringat mulai jatuh tanpa disadari.

"Maaf, mbak Ima!" Sahutku.

"Iya, rupanya kamu cukup akrab dengan kami. Sudah membaca kisahku?"

"Iya mbak, aku benar-benar interest dengan kisahnya"

"Terima kasih, nama kamu siapa?"

"Andi mbak" sambil menjulurkan tangan kearahnya, ia pun menyambut terasa lembut hingga ada aura yang tidak bisa dibayangkan.

"Gila!" Ucapku dalam hati wanita ini punya energi yang besar namun hatinya rapuh.

Tatapan yang syahdu seakan menghipnotisku, genggaman kami belum juga terlepas. Lalu aku merasa hal yang janggal tubuhku menggigil teramat dingin seperti di daerah kutub.

Dia tersenyum namun penuh dengan penderitaan yang dalam, aku mencoba melawan dengan meberikan aura kehangatan "mbak" ucapku memutus aliran energi yang mungkin hanya aku yang merasakan.

"Maaf! Tadi siapa namanya?"

"Andi, mbak! Maaf kalau saya tadi megang tangan mbak terlalu lama,"

"Ga apa mas!" Ucapnya tersipu malu.

"Oh iya mas Andi, terima kasih loh sudah membaca kisah Gendis!"

"Sama-sama, mbak! Makasih juga sudah datang di lapak saya"

"Oh iya! Ada yang mau saya kasih tau, tadi saya mendapatkan beberapa gambaran. Lekaslah ke Gunung Kemukus, karena ada sesuatu yang bisa diambil hikmahnya disana. Kemungkinan besar usaha mas Andi akan bertambah besar"

"Benarkah mbak?" Hatiku merasa ada harapan.

"Iya, maaf kalau tadi tak sengaja diramal. Bahkan tadi Gendis sempat bicara dengan khodam Putri Ontrowulan"

"Iya mbak, terima kasih banget ini loh mbak. Oh, ayahnya Gendis kemana?"

"Lagi ada urusan! Tadi dia antarkan kami, terus langsung pergi lagi"

"Bagaimana dengan hubungan kalian berdua?"

Terlihat ia menarik nafas halus dan panjang. Berusaha keras memikirkan jawaban yang harus diberikan.

Aku tahu lidahnya kelu untuk berkata, masih ada bimbang dalam hatinya. Walau ia telah membuka diri, dan berusaha untuk tegar.

"Sudah tak usah dijawab, semoga hati mbak tidak tersakiti lagi. Karena masih banyak hati yang bisa menjadi pelabuhan indah dimasa depan seperti aku" ucapku.

Ia tak percaya aku berkata begitu, matanya berbinar sendu penuh tanda tanya. Tapi belum sempat mulutnya berkata, aku kembali memotongnya.

"Salam saja sama mas Dedi nya mbak! Semoga hubungannya langgeng, semua untuk Gendis" sambil melihat anak itu yang sedang asik bermain dengan manequin.

"Makasih, mas Andi" ia tersenyum sedikit menggoda.

"Oh iya, ini ada hadiah untuk Gendis" aku berikan kepada si kecil mungil itu.

"Makacih, om baik deh" ucapnya lucu.

"Sama-sama cantik!"

"Mas Andi, tak usah lah begini" ia merasa sungkan.

"Tidak apa mbak, berkat mbak lapakku dimasa depan akan ramai bukan? Aku sangat berterima kasih mbak telah peduli denganku"

"Oh, ya mas sudah menjelang sore kami pamit dulu! Jangan lupa Gunung Kemukus"

"Iya, mbak! Bye Gendis"

"Bye, bye om baik" ia melambaikan tangannya padaku.

Aku melepas kepergian mereka dengan senyuman, terima kasih @makgendhis Semoga sehat selalu dan karomah si mungil dapat menjadi kebaikan untuk semua orang.


#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 43 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Lihat 79 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 79 balasan
Part 4

Pandanganku gelap, tak bisa melihat apa-apa, pendengaranku pun seakan tuli. "Apakah aku sudah mati?" Entahlah, yang kuingat aku memegang keris semar mesem. Sebuah keris yang memang bisa memberikan kewibawaan, penglarisan, dan sebagai pembuka aura bagi seseorang yang memegang keris tersebut, itu yang aku dengar tapi ga sampai mati kaya gini juga sepertinya.

Dalam kebingungan, galau dan gundah gulana ada titik terang dari depan cahayanya sangat menyilaukan mata, aku tak bisa melihat jelas ia siapa. Namun rasanya hawa panas yang kuterima berasal dari sinar itu, aku ingin teriak lidahku kelu.

Terdengar bisikan-bisikan aneh ketika mataku teramat silau dengan cahaya yang kulihat.

Quote:


Bisikan itu membuatku bergidik, apa ini maksudnya kok apa yang diucapkan sesuai dengan keadaan saat ini. "Mbah, mbah aku dimana?" Teriakku.

"Ohh, kamu dah sadar" dengan senyumnya yang mengembang.

"Mbah, tadi aku kenapa?"

"Kamu pingsan, si mbah mau angkat badanmu berat. Mana tiba-tiba kamu ngompol lagi, emang lihat apa sih"

Kuceritakan semua yang kulihat hingga bisikan-bisikan ghaib pun tak terlewat, setelah selesai kuceritakan semuanya. Si mbah malah tersenyum lagi, namun lebih serius.

"Sabdo Palon nagih janji. Yo wes, kamu tidur saja dulu semoga esok harimu lebih baik dari sekarang. Jangan sampai lepas keris itu dari dirimu, jaga baik-baik ya. Mbah juga dah ngantuk"

"Iya, mbah"

Aku pergi ke kamar mandi karena bau pesing, setelah itu masuk ke dalam kamar. Ditempat tidur hanya bingung apa maksudnya Sabdo Palon nagih janji. Hingga akhirnya aku sudah berada di alam mimpi.

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 39 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Part 3

"Meong..." kucing melintas tanpa rasa salah.

"Duh, si mpuss bikin kaget saja. Tak pikir tadi aku kedatangan tamu agung mak gendis yang indigo atau gendisnya sendiri yang punya karomah yang luar biasa. Siapa tahu usahaku tidak macet seperti sekarang, " tawaku karena sering membaca kisah gendis.

Aku berjalan kembali ke singgasana bangku plastik usang, seperti biasa kembali ke dalam lamunan sambil baca-baca di media maya, buka video film kesukaan. Menghabiskan waktu dalam kesepian tanpa ada satupun pembeli yang datang.

Hingga malam menjelang benar-benar tak ada sama sekali yang singgah, terpaksa dalam pembukuan kembali aku menulis kata "no sale".

***


Tiba di rumah, aku mengetuk pintu "mbah... mbah... punten mbah ini Andi" tak ada jawaban.

Aku pun merasa si mbah sedang ibadah, jadi aku termenung sambil melihat rembulan yang bersinar sendu. Sambil berfikir apa iya untuk merubah hidup harus "penyugihan" otakku mulai kacau. Sejak mbak Ayu memberikan ide gila itu aku jadi kepikiran, apa iya bisnis harus seperti itu.

Lantas bagaimana dengan mereka yang berada di DPR, apa mereka juga nyugih biar dapat gaji besar. Bayangkan gaji jalan korupsi jalan, ketahuan juga tetap kaya, tetap bisa punya bini muda. "Asem, kok pikiranku jelek terus sih sama wakil rakyat" batinku berbicara.

"Kriekk... "pintu pun terbuka.

"Maaf mbah tadi lagi ibadah"

"Iya, mbah" sambil salim kepada si mbah.

"Gimana usahamu"

"Seperti biasa mbah, sepi"

"Ya sabar saja, mungkin sang hyang gusti lagi memberikan ujian"

"Iya mbah, ya sudah tak mandi dulu mbah"

Si Mbah, pun duduk di kursi goyang tampak serius dan komat kamit seperti sedang merapal mantra.

Aku sudah selesai mandi dan segera ke ruang tengah, si mbah nampak duduk dengan tenang di kursi kesayangannya. Kunyalakan televisi dan merebahkan diri di kursi yang empuk.

"Ndi, sini kamu sebentar!"

"Ndalem Iya, mbah" aku beranjak menghadap si mbah.

"Ini ada titipan untuk kamu, semoga bisa membawa hal yang baik"

Nampak sebilah keris dikeluarkan, keris yang berbentuk unik. Lebih gendut, kecil dan warangkanya pun terdapat tulisan yang tidak jelas seperti bahasa sanksekerta.

"Apa ini mbah?"

"Untukmu ngger, itu adalah keris Semar Mesem"

Ketika keris sudah kugenggam, kepalaku berkunang-kunang. Rasanya mual dan mau muntah, hawa panas sangat terasa. Aku bertanya, "ada apa ini mbah?" Si mbah hanya tersenyum.

Lalu...

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Part 2

"Permisi" nampak sosok yang cantik jelita, bak ratu dari kayangan datang.

"Ehh, tante Wida! Jamunya tan?" Tanya Ayu.

"Makasih mbak! Lagi ga minum jamu dulu, besok kamu langsung ke rumah aja ya"

"Iya tante, eh ini jamunya mas Andi! Tadi keasyikan ngobrol"

"Oh, iya makasih banyak mbak"

Aku pun meletakkan jamu diatas meja, lalu segera ke dalam dan mengajak tante Wida masuk. Kubuka tas kecil dan beberapa lembar ratusan ribu, lalu kuserahkan pada tante Wida.

"Tumben, biasanya kamu transfer! Kok sekarang bayar cash? Untung saya belum pergi"

"Anu tante, kemungkinan besar akhir bulan ini usaha saya tutup! Keuangan saya sudah tidak cukup buat bayar sewa, tante sendirikan tahu kalau usaha saat ini tidak berjalan dengan lancar"

"Mmmh, gini aja saya kasih kamu keringanan bayar aja sewanya setengah dari yang biasa. Tapi kalau bisa kamu juga harus ada inovasi dalam barang yang dijual, misalnya ganti dengan kuliner gitu?"

"Berat tante! Terima kasih kalau tante memberikan keringanan, tapi saya akan usaha seperti ini sampai titik nadir penghabisan"

"Kamu! Ya sudah, semoga bulan ini banyak rezekinya. Oh iya saya langsung jalan dulu ya! Nanti-nanti kalau bayar sewa transfer aja seperti biasa,"

"Sendiri tante?"

"Nggak! Tuh sama si om nunggu di mobil, maklum lah mau buru-buru ada acara makan malam dengan kliennya"

"Ohh! Ya sudah tante salam saja sama om Herman"

"Ok! Mbak Ayu saya permisi dulu ya"

"Iya, tante maaf ini jadi ngegosip disini"

"Awas lo, kecantol sama si Andi" ujar Wida.

"Wah, kalau dianya mau ya ga apa-apa tan anugerah itu sih"

Wida pun tersenyum mendengar celotehan Ayu, ia kembali berjalan menjauhi toko, lalu masuk ke dalam mobil pajero hitam. Dan segera melaju bersama kendaraan lain di jalan raya.

"Loh! Kok abis ketemu cewek cantik lemes mas?" tanya Ayu.

"Gimana ga lemes mbak, tabunganku sudah ludes untuk bayar sewa" ucap Andi sambil meminum jamu yang dihidangkan.

"Yang sabar ya mas, oh itu ide saya tadi. Nyugih mas!"

"Sebenernya aku tuh ga percaya mbak yang kaya gitu! Tapi kok ya mau nyoba gitu loh, sukur-sukur sukses! Kalau ga, ya ga apa, asal jangan ada tumbal yang aneh-aneh"

"Ini sih kata tetanggaku mas, coba mas nyuggih ke Gunung Kemukus"

"Gunung Kemukus! Dimana itu?"

"Di daerah Pendem, Sumberlawang, Sragen!"

"Terus syaratnya apa mbak?"

"Anu, itu loh mas hubungan badan dengan bukan pasangan resmi!"

"Astaga! Kok syaratnya aneh ya mbak, aduh makin pusing aku. Kalau pasangannya si mbak mah boleh dah"

"Wah! Perboden mas, aku kan wes nikah. Itu kan cuma ide" ucapnya tersipu malu.

"Hahaha! Yah, aku juga bingung mbak masa ada acara ritual mantap-mantapnya. Oh iya ini gelasnya mbak, sama ini duitnya!"

"Loh, kok banyak amat! Aku belum ada kembaliannya loh"

"Udah kembaliannya mbak ambil aja! Makasih loh dah nemenin ngobrol disini"

"Aduh! Makasih banyak loh mas. Moga banyak rezeki, cepet dapet jodoh dan usahanya bangkit lagi mas"

"Amin, makasih loh mbak do'anya"

"Yo wes mas, aku keliling dulu" sambil mengangkat bakul jamunya.

"Iya, hati-hati mbak" aku melepas kepergian mbak Ayu dengan senyuman.

"Hmm, gunung kemukus!" Ucapku dalam hati.

"Brak.. !!"

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Lihat 14 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 14 balasan
Gundah Gulana


Part 1

"Jamunya mas" mbak Ayu langganan jamu datang.

"Iya mbak, kayak biasa yak mbak beras kencurnya banyakin dikit"

"Duh, kaya anak pitik aja mas pake beras kencur segala"

"Iya, mbak hari ini kurang gairah, lemes, tak bertenaga kenapa ya mbak"

"Makanya nikah mas, itu penyakit jomblo. Gampang meriang, masuk angin, asam urat, bisa-bisa impoten mas"

"Astaga, masa sih mbak. Celaka dua belas kalau sampai impoten, bisa-bisa jadi kayak sopo tuh yang baru keluar dari kerangkeng. Langsung tenar, dikalungin bunga, sampai masuk televisi ngono loh mbak"

"Ooohh, itu mah Siipul Jamal mas. Yah kalau mas'e dah ganteng tapi kayak gitu rugi mas, udah hidup di dunia susah-susah kok malah main pedang-pedangan"

"Udah ah mbak ceritanya, ntar aku digugat KPI lagi"

"Loh KPI nya juga koyo ngono toh mas, suka sama biji-bijian"

"Edan tenan ya mbak, kok situ bisa tau sih pasti mak'e lambe turah ya mbak"

"Lah, mas ini ganteng-ganteng kok gak up to date sih, masa ga tahu kalau sekarang banyak mas yang kayak gitu. Tau ga! Itu tuh komika yang suka cuakhh...cuakhh itu, siapa tuh namanya mbak lupa lagi"

"Coco Perkedel maksudnya"

"Nah, iya itu mas. Masak pas ditangkap Polisi gara-gara make narkoba, malah pas nonton film nganu mas"

"Bokep? Lah wajar mbak namanya laki-laki ya suka dengan yang begitu"

"Kalau lain jenis mah wajar mas, lah ini sesama jenis, mana batangan lagi. Buset itu gimana toh mas, wes aku aja ngeri bayanginnya"

"Yang bener mbak?"

"Bener, suer deh tekewer-kewer. Mbak mah ga bisa bohong"

"Parah juga ya mbak, emang sih sekarang kalau lihat artis televisi kalau gak artisnya melambai atau biasanya biseks, kanan kiri oke yang penting punya lubang"

"Hallah, si mas malah ngomongin lubang lagi udah ah mas isin (malu) aku mas"

"Lah, mbaknya yang ngegosip gituan sih. Makanya itu punya mulut dijaga mbak, kalau kayak gini kita jadi dosa. Mana ngomongin orang lagi ga ada manfaatnya mbak, yang ada saya tambah pusing"

"Pusing kenapa toh mas" tanya mbak Ayu.

"Belum ada pembeli, PPKM diperpanjang yang ada usahaku bisa gulung tiker"

"Duh, kok bisa gitu sih mas. Tak pikir kalau punya toko gede gini gak akan bangkrut mas. Apalagi modalnya kan gede"

"Nah, itu mbak modalnya hutang. Jaminannya rumah saya, kalau tidak terbayar rumah disita. Ini kan tempat ngontrak mbak, jualan online juga susah untung-untungan saingannya banyak"

"Hmm mbak sih ada ide, tapi takut masnya ga mau. Maklum ini cara cepat untuk kaya"

"Ide apa mbak? Apa syaratnya"

"Nyugih, tapi syaratnya ini berat, mas"

"Apa syaratnya? Tumbal? Aku ga mau ah mbak ngeri kalau pakai yang begituan"

"Bukan! Syaratnya itu...."


#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Part 3

Wati menjawab dengan wajah yang temaram, sedih dan berselimut duka

"Meninggal Ndi, tak berapa lama Dini kecelakaan pesawat! Keluarga kami mengalami nasib yang sama, rumah kebakaran. Dan Bapak sama Ibu tidak selamat, disitulah ekonomi mbak hancur Ndi"

"Suami mbak mas Bowo?"

"Itu, disana" seraya menunjuk lelaki yang lusuh dan berjalan pincang. Orang itu pun berjalan mendekati kami yang sedang duduk di depan rumah tak layak huni.

"Mas Bowo"

"Andi, gimana kabarmu! Kayaknya sudah sukses ya?"

"Ah, belum mas aku ada rencana mau ke Gunung Kemukus"

"Gunung Kemukus, untuk apa? Nyugih, jangan sampai kamu terperdaya setan Ndi" ucap mas Bowo.

"Tidak tahu juga sih mas, tapi niatku hanya ingin ziarah. Karena beberapa kali pesan tentang Gunung ini selalu membuatku penasaran"

"Inget, Ndi. Dulu saya sangat mendukung kamu dengan Dini, karena kamu baik ga neko-neko. Tapi sekarang kamu kok jadi gini, walau keadaan saya seperti ini pantang untuk saya bersekutu dengan setan"

Mas Bowo suami mbak Wati memang paling baik, bahkan ia senang bila diriku bersama adik iparnya tapi sayang nasib tak ada yang tahu. Semua sirna, semua berubah itulah misteri dari kehidupan.

"Tapi aku bingung mas, kenapa kalian sekarang bisa seperti ini?"

"Semua titik balik ketika lebakaran terjadi, harta yang ada kami jual untuk modal usaha. Namun hasilnya tidak baik, utang menggunung hingga badai pandemi datang kami sudah tak sanggup lagi dan seluruh aset pun disita bank, lalu kami ngontrak untuk makan hanya bisa menjual barang-barang yang ada hingga saya kecelakaan motor ketika bekerja menjadi ojek online, berhubung tak ada pekerjaan untuk biaya rumah sakit motor yang ada kami jual murah, semenjak itu kami bingung untuk bayar kontrakan lalu sekarang kami disini menjadi pemulung Ndi"

Ternyata, masih banyak orang yang mengalami nasib lebih buruk dariku. Haruskah aku bersyukur atau sedih? Aku bingung, karena hidup itu sebenarnya siapa yang mengatur? Ataukah sudah ada ketetapan bahwa peran si A miskin peran Si B kaya? Jadi mau berusaha bagaimanapun kalau ketetapan tentu saja tidak mungkin, tapi buktinya banyak yang awalnya mampu jatuh miskin begitu juga sebaliknya, hmm hidup itu benar-benar misteri.

"Hampir sama kisah mas dengan aku, saat ini bisnisku juga tak berjalan sempurna"

"Jadi kamu sekarang usaha Ndi?"

"Iya, tapi diambang bangkrut"

"Makanya kamu mau ngalap berkah?" Aku hanya diam ditanya seperti itu.

Sambil tersenyum aku mengeluarkan sejumlah uang, "Mas dan mbak, mungkin ini tidak seberapa tapi tolong dipergunakan untuk usaha kecil-kecilan"

"Apa kamu tidak kekurangan juga Ndi" tanya mas Bowo, sedangkan lembaran uang sudah berada di tangan mbak Wati.

"Masih cukup mas, setidaknya saya tak ingin mbak Wati mencuri roti seperti tadi" ucapku, sambil melihat mbak Wati yang menunduk.

"Apa, kamu mencuri Wati! Mas kan sudah bilang, jangan sampai kamu berbuat jahat bahkan bisa saja kamu dipukuli orang karena mencuri. Kalau kita wakil rakyat mencuri pun tetap dihormati, kalau orang susah kaya kita lebih baik mati lapar daripada mati mencuri. Mas akan berusaha sebaik mungkin agar kita tetap hidup" ucapnya geram.

"Sudah mas, sudah! Yang terpenting kali ini mbak Wati selamat. Maka pergunakanlah sebaiknya apa yang bisa saya bantu walau hanya sedikit"

"Makasih Ndi, kalau saja Dini masih ada ia akan bangga padamu"

Aku hanya tersenyum simpul, lalu aku pamit kepada keduanya karena harus melanjutkan perjalanan.

"Mas aku pamit dulu!"

"Iya Ndi, maaf kalau tak ada jamuan apa-apa"

"Iya mas, mbak aku pamit, nuwun sewu"

Aku meninggalkan komplek kumuh tersebut, hingga sampai di tanah lapang aku istirahat sebentar diantara pepohonan dengan rerumputan ilalang yang tinggi. Tiba-tiba...

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dewa67 dan 36 lainnya memberi reputasi
Part 2

Pagi-pagi aku bertekad hari ini akan pergi melihat suasana Gunung Kemukus. Kebetulan besok jum'at pon katanya salah satu waktu yang tepat untuk datang kesana.

"Mbah, aku mau pergi dulu"

"Mau kemana kamu?"

"Anu mbah, mau refreshing naik gunung"

"Hati-hati le, gunung saat ini tidak bersahabat angin dan hujan lagi musimnya, toko kamu siapa yang nungguin?"

"Tutup dulu mbah, lagipula PPKM sepi"

"Ohh gitu, yo wes kamu hati-hati. Naik apa kesana?"

"Naik bus, kalau ndak ya kereta"

Si mbah hanya mengangguk, akupun pamit tak lupa salim tangan sama sesepuh yang dituakan.

Kupencet smartphone untuk membuka applikasi ojek online, rencana aku mau berangkat dari terminal Pulo Gebang menuju Solo. Kangen aku dengan Tirtonadi, banyak kenangan ketika pernah mempunyai seorang kekasih dari tanah Surakarta.

Namun sayang cinta tak selamanya abadi, dia telah pergi lebih dulu menuju keabadian. Sedangkan diriku terpuruk menuntut kekayaan, realistisnya hidup di dunia siapa yang kaya dia berkuasa, siapa yang punya uang dia bisa membeli segalanya hingga hukum pun bisa ia tundukkan.

"Loh kok nama drivernya cewek, mau ga ya perjalanan agak jauh dari sini lumayan 25km jarak tempuhnya" tanyaku dalam hati.

Lalu tak berapa lama, tibalah kendaraan sepeda motor yang kupesan. Seorang wanita muda, dengan gayanya sedikit tomboy.

"Mas Andi ya?" Ujarnya.

"Iya, ini mbak Ina?"

"Ya ke Pulo Gebangkan?"

"Bener mbak, tapi itu lumayan jauh loh kalau gak gini aja, saya yang bawa motornya mbak saya boncengin gimana?"

Dia nampak berfikir, lalu kemudian berkata "Waduh nanti saya ga enak mas, kan saya yang kerja"

"Ya ga apa mbak, nanti saya kasih bintang lima deh. Kasian saya kalau yang bawa mbak, lumayan jauh loh 25 km"

"Iya sih, tapi masnya bener nih mau yang bawa!"

"Iya, sebentar tapi mbak gendongin tas saya ya?"

"Ohh, siapp" ucapnya sambil tersenyum.

Aku pun memakai helm dan mengambil kunci yang ia berikan, sekarang aku berada di posisi yang mengemudi dan si mbak ojek online yang berada dibelakang.

Lalu..


#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ce_montox dan 36 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Part 2

Bus yang ditunggu pun tiba, saat ini perjalanan hanya sendiri tak seperti waktu datang ada teman ngobrol di perjalanan. Tidak banyak orang yang mengisi bus ini, maka aku lebih banyak melamun dan mendengarkan nyanyian dari speaker bus yang mendendangkan lagu-lagu kenangan.

Fikiranku jauh menjelajah, terlalu banyak misteri di gunung itu. Animisme dan Dinamisme yang masih kuat namun dibalut dengan kedok agama, bahkan memberikan kehidupan bagi mereka yang mencari uang dengan cara menjajakan cinta.

Untuk merubah sebuah stigma sangatlah berat, tradisi, budaya dan seni memang perlu edukasi hingga puluhan bahkan ratusan tahun untuk bisa mengubahnya menjadi lebih modern, terlebih bisnis prostitusi yang ribuan tahun lalupun sudah ada.

Misteri Gunung Kemukus

Aku teringat foto wanita Bali di tahun 1900an masih bertelanjang dada, bahkan di seantero Jawa pun ditahun 1500 M masih bertelanjang dada, tapi pada masa lalu merupakan hal yang lumrah. Tidak ada tudingan porno ataupun pamer keseksian. Ini karena tradisi ketika itu belum mengenal penutup dada seperti zaman sekarang.

Bahkan masa itu Kesultanan Demak sudah mulai muncul, bayangkan tugas para Wali dimasa tersebut apa ga pusing itu mengedukasi masyarakat hingga seperti saat ini.

Misteri Gunung Kemukus

Apalagi harus mundur ke masa Majapahit di 1300 M, ratu-ratu Jawa sendiripun tidak memakai penutup dada. Ini terbukti lewat arca-arca yang ditemukan hampir semua wanita tidak menutupi dadanya, hanya dihias dengan kalung.

Kalau sekarang banyak kepala yang ditutupi namun dada menyembul, entah sengaja untuk diperlihatkan atau memang tren masa kini? Entahlah yang tahu hanyalah wanita, yang jelas keseksian mereka meningkat hingga 300%.

"Hufff..." aku menghela nafas kenapa jadi kepikiran tentang dada perempuan! "Dasar otak mesum" aku mengumpat sambil tersenyum.

Yang terpenting rasa penasaranku pun sirna, saatnya aku menata kehidupan agar bisnis yang berjalan bisa berkembang dengan peraturan yang ada.

Merubah strategi dagang, entahlah walau bisa dikatakan ini berjudi tapi bila tak dicoba tentu tidak akan tahu hasilnya.

Karena terlalu lelah, aku pun tidur dan tak terasa perjalanan ini pun sudah harus mencapai akhir.

"Siap-siap yang Pulo Gebang, ucap sang kondektur"

Para penumpang termasuk diriku, segera keluar bus dan menuju pintu keluar dari terminal.

Sampai di terminal aku rencana untuk naik ojek online, otomatis harus keluar terminal dan menunggu di depan jalan raya.

"Maling... maling.... " suara dari belakang membuatku sigap dan menengok.

Nampak seorang bertopi hitam membawa koper ditangan berlari hendak naik motor kawannya, dengan sigap kulempar tasku dan membuat motor itu terjatuh.

Lantas si pembawa koper menodongku dengan pistol revolver pyhton 357, dan "dor... "

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 35 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Part 3

Sudah 35 hari aku melakukan semedi, aku menghitung hari hanya dengan rasa tanpa harus melihat dengan mata. Perlahan aku mulai membuka mata, didepanku nampak seseoramg yang kukenal dialah si mbah Kiai Jalak.

Aku ternyata berada di aula utama penginapan ini, kiai nampak tersenyum kepadaku.

"Kalau ingin ke Lawu jangan lupa panggil si mbah yo!" Sambil ia pergi ke arah belakang diriku.

"Apa maksudnya mbah?"

Ketika aku tengok ke belakang, 'hilang' bahkan penginapan yang berdiri disini pun berganti dengan semak dan pepohonan. Nampak seekor burung Jalak Lawu pun terbang tinggi mengepakkan sayapnya, aku mencari keris semar mesem pun tak ada.

"Kerismu sudah menyatu dengan dirimu, cah lanang" terdengar suara menderu dari tengah hutan. Lalu burung Jalak Lawu itu mengitariku, "apakah ia Kiai Jalak?".

Aku bingung dimana diriku saat ini, tasku dan perlengkapan yang kubawa tak ada yang hilang, semua aman.

Aku berjalan menyusuri semak, dan melihat jalan setapak segera aku turun hingga terlihat rumah warga yang mulai nampak, ternyata aku selama ini bukanlah di penginapan. Pengalaman ini benar-benar mengacaukan pikiranku, apakah ini mimpi atau sebaliknya ini adalah kenyataan yang tak bisa dipikir oleh akal dan logika!

Aku sudah berada di bawah bukit rupanya cacing dalam perut sudah teriak meminta jatah sarapan hari ini, kulihat sebuah warung makan di dekat tempat parkir mobil para wisatawan.

Tanpa pikir panjang kuhampiri warung tersebut, lauk pauk yang dijajarkan sangat mengundang selera.

"Mbak, makan dong"

"Iya mas, mau pakai apa?"

"Pakai...." ketika melihat penjualnya akupun kaget, karena sosok yang familiar.

"Mbak Ayu!"

"Eh, mas Andi!" Ucapnya tersipu malu.

"Loh, kok kamu disini?"

"Iya mas, ini memang kampung saya"

"Oalah, begitu toh! Terus jamunya siapa yang jualan?"

"Ada kok, saudara yang jualin! Oh iya, masnya mau makan apa?"

"Biasalah mbak, orek tempe, sayur lodeh, sama perkedelnya deh satu"

Tangan Ayu dengan cekatan mengambil lauk pauk yang kupinta. Lalu menghidangkannya ke depanku, ia pun duduk dibangku panjang khas warteg tepat disampingku.

"Ternyata masnya kesini juga, kalau tau gitu bisa bareng"

"Memang kamu kapan datang mbak?"

"Kemarin sih, mau nengok si kecil sama bapaknya, eh malah bapaknya belum pulang!"

"Loh! Memang bapaknya kemana?" tanyaku heran sambil melahap makanan didepanku.

"Supir AKAP mas, kadang kalau lagi saya di Ibukota dia yang nyamperin"

"Terus si kecil sama siapa, mbak?"

"Ikut neneknya"

"Lantas, warung makan ini punya mbak?"

"Bukan, ini punya bapak saya! Cuma sekarang dah tua mas, jadi yang gantiin jaga ya anaknya"

"Terus mbak ga jualan jamu lagi dong?"

"Tetep Jualan mas, kalau warung makan ini dioper ke kakak yang ngurus, jadi sekarang cuma bantuin kakak dulu selama disini"

"Wah, banyak nih bisnis mbak nya" tak terasa nasi plus lauk pauk itu sudah habis semuanya, sisa teh manis yang masih sisa setengah. Kini aku lebih santai lagi untuk bicara dengan mbak Ayu.

"Berapa lama mbaknya disini?"

"Paling 2 hari, mas sendiri abis ngalap berkah ya?"

"Gak, aku ziarah doang kok disini!"

"Jadi belum melakukan ritual?"

"Tidak ada yang namanya ritual mbak! Yang ada hanya ziarah kubur" ucapku sambil tersenyum.

Namun, sekelebat mataku menatap seperti bayangan layaknya asap berwarna hitam masuk ke dalam raga mbak Ayu.

Naluriku berkata ada yang tidak beres, namun aku bersikap sesantai mungkin. Kemudian...

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 35 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Part 2

Aku berputar-putar mencari tempat penginapan, banyak ibu-ibu nongkrong ngegosip. Bahkan suasana sore ini sudah banyak wanita-wanita yang buat aku bingung kok ya usianya setengah baya.

Waduh, bahaya nih bahaya rupa-rupanya kalau anak muda ritualnya bukan disini. Lebih banyak di mall langsung mencari sugar dady, pub, karaoke, night club, message spa masa iya ritual dibukit banyak nyamuk lagi, logikanya nikmat dapet ya kaya juga kalau wik wik dan jadi simpenan om senang masuk akal toh!

Atau mungkin saja disini adalah sisanya yang ga kepakai di kehidupan malam kota besar, bisa jadi ke gunung kemuskus ini. Hmm, sebuah ide terlintas kayanya lebih masuk akal logika bisa kaya kalau jadi gigolo. Daripada nyugih yang ndak jelas apa iya apa tidak, iya toh! Aduh kayanya kalau gitu salah jalur ini cerita hehehe...

Lalu “Piyambak mawon, Mas?" tutur seorang wanita dihadapanku.

"Maaf mbak, disini ada tempat penginapan?"

"Ada, ini loh dibelakang. Nanti masuk aja tanya sama yang punya"

"Ohh, makasih mbak"

"Masnya datang sendirian?"

"Iya tapi saya hanya mau ziarah tok mbak" terlihat wajah si mbak kusut.

"Ooohh, ya udah mas saya ke bawah dulu" dengan raut kecewa.

"Ufff, hampir saja" ucapku dalam hati, karena mbak yang menyapaku tadi kemungkinan besar sedang mencari pasangan nyugih. Sedangkan aku hanya penasaran, seperti ada ikatan batin namun masih samar.

Aku berjalan ke tempat yang ditunjuk si mbak tadi, penginapan ini tidak besar tapi tidak juga kecil. Ada ukiran semar di sebelah kanan, namun hunian ini terasa sangat sepi.

"Kulonuwun..."

"Monggo, mas masuk sudah ditunggu"

"Ditunggu! Kok aneh? " tanyaku dalam hati.

Lalu nampak seseorang yang sudah sepuh mengajakku masuk ke dalam, namun raut wajahnya cerah walau usianya sudah renta.

"Sini masuk!"

"Iya, mbah" ucapku penuh hormat.

"Waduh, kok kesini bawa pasukan"

"Pasukan! Maksudnya apa mbah?"

"Udah, ntar aja. Kamu istirahat dulu di kamar biar segeran"

Aku mirip orang linglung, bingung "kok si mbah ga nanya harga penginapan? Ini kamar bagus banget! Belum lagi anehnya penginapan kok ruangannya cuma satu?" Duh jadi horny nih, eh horor takut kaya film-film thriller, ujungnya jadi korban dukun AS.

Ruangan ini sangat nyaman walau terbuat dari kayu ulin, hawanya pun tidak panas dan juga tidak dingin. Banyak lukisan semar, dan kain warna hijau sebagai hiasan dari jendela. Bahkan ada kelambu dengan warna senada di tempat tidur.

Bau harum juga sedari tadi menyambutku seperti bunga melati. Semilir angin yang masuk membuat diriku yang lelah sejenak ingin berbaring, dengan perlahan aku tertidur dengan nyenyaknya.

Lalu aku seperti mimpi tapi kok nyata, karena aku terbangun diruangan yang sama namun ketika melihat jendela pemandangan yang tersaji sangat berbeda. Tak ada perumahan yang ramai semua berganti dengan hutan hujan yang lebat, dan banyak burung-burung bernyanyi dengan riang.

"Kriekk... "

#Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fsm2909 dan 35 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh c4punk1950...
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di