CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60fa92b96f71fd69580d91a3/apakah-industri-novel-masih-bisa-bertahan-hidup

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 3
Jujur ane masih suka yang fisik. Pake digital itu gampang capek. Apalagi banyak novel/komik yang emang aslinya didesain bukan buat dibaca secara digital.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
masih kok
justru makin banyak novel non digital
gw pribadi kalo baca apa2 juga lebih nyaman baca non digital
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
gw masih suka kok bacaan fisik...

gw rutin tiap bulan beli 1-2 novel...
juga manga...

gw reader old school... harus bentuk fisik...
dan gw emang hobby koleksi novel dan manga...
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
Quote:


perasaan Big Bad Wolf selalu membludak pesanannya

dan sebagian besar buku-buku BBW itu buku-buku novel

itu udah ckup bukti pasar buku bacaan masih ada koq

tinggal gimana para penulis lokal bisa menyaingi kualitas tulisan-tulisan penulis asing

karena produk lokal mau apapun itu selalu kalah kualitasnya sama produk asing

bahkan produk asli sini pun ketika asing yang bikin jadinya bisa lebih bagus
sfth kan sama aja baca novel gratisan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
bisa kok
cuman masalah pada bagian promosi.
sekarang ngga cukup klo promosi cmn di toko buku saja.

semua platform medsos, pertokoan, iklan tv harus dimanfaatkan untuk media promosi. bahkan perfilman juga harusnya mempromosikan buku tsb sblm dijadiin film.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
Th 90an dimana2 persewaan buku menjamur
No gadget no internet
Bicara soal buku, ga tau kenapa ya ane kok lebih sreg ama pengarang pengarang zaman dulu, zaman angkatan Arswendo atmowiloto dkk. Kalau pengarang zaman sekarang kurang begitu familiar.

Kalau soal masih bisa eksis apa enggak, kayaknya masih deh, karena ane sendiri sesekali masih menyempatkan untuk membeli dan membaca buku. Dan ane yakin masih ada orang lain yang juga seperti ane

Btw agan keren juga tuh, masih SD udah menabung buat Harry potter. Ane zaman SD paling banter baca 5 sekawan, itu juga boleh minjem di perpus, secara ga mampu buat belinyaemoticon-Leh Uga
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Untuk sebuah buku entahlah jika dalam bentuk buku virtual mungkin banyak yang suka baca... tapi tidak dengan buku ..itu menurut aku
Heh gay udah matik lo diperkosa Habib rizieq? emoticon-Smilie @androidiot
Pasti masih bisaemoticon-Angel
jaman sekarang ato kedepanya terlalu berat orang menhibur diri dengan membaca sekalipun itu formatnya pdf.....mending nonton youtube klik play gk perlu geser2 cursor layar kebawah keatas kek orang lgi baca...

bacaan dimasa datang hanya tuk refereansi saja bukan buat hiburan
Hunger games versi terjemahan wkkwkwk
Skrg para penulis nulisnya di platform online.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
Apakah industri novel masih bertahan hidup? Jawabannya masih banget.

Bedakan antara format dan platform. Novel adalah format/bentuk tulisan, seperti halnya cerpen, cerbung (zaman majalah dulu), novelet, dsb.

Platform itu bisa macam² tergantung teknologi, mulai dari cetak/printed, digital (ebook) hingga audio book, dll.

Skr orang tetap butuh hiburan. Kalau dikatakan buku cetak tersaingi oleh ebook, nggak juga, paling tidak di Indonesia belum, masih agak lama. Yang ada untuk jangka pendek ini adalah masing² platform nanti akan mencapai kestabilan dari para penggunanya sendiri. IMHO mungkin sampai 2 generasi ke depan setidaknya.

Malah yg ada skr menjurus ke multiplatform, dari novel, dikembangkan tokohnya jadi IP (intellectual property), lalu jadi podcast, film, balik lagi ke komik, muncul merchandise-nya, muncul komunitasnya, dll.

Eksplorasi tanpa batas malah terjadi saat ini. Memang, sih, salah satu syaratnya adalah likeness dari masyarakat. Makanya kalau ada yg bilang saat ini buku ecek-ecek pun bisa best seller, ya ini memang krn zamannya, budayanya, salah satunya akibat dorongan teknologi bernama internet lalu media sosial. Salahkah? Enggak juga, wong perkembangan budayanya begini. Kalau skr loe gue, ya karena memang komunikasi verbal saat ini spt itu. Itu pun tdk semua, kan? Tergantung demografi (usia). Menerjemahkan Tom Clancy The Hunt for The Red October misalnya, nggak akan kita ganti dng loe gue emoticon-Ngakak. Kamu-aku juga masih stylish saat ini. Kecuali kita mau memaksakan setting cerita modern, dng penyebutan anda-saya. Zonk.

Budaya online dan gadget memang sangat berpengaruh menciptakan tradisi tulisan instan. Durasi menulis orang saat ini cenderung tidak kuat lama (perlu obat kuat emoticon-Ngakak). Disuruh bikin kalimat kompleks jatuhnya gak bisa dibaca dan bingung. Kalau cuma one liner jago banget.

Tapi, ya itulah budaya sekarang. Tinggal kita berusaha menemukan cara bagaimana orang masih suka dan mau "memakai", "mengkonsumsi" (ane nggak bilang "membaca" lho) segala macam konten fiksi (konten, ya, ane gak bilang "buku" juga).

Ini tantangan ke depan buat ente² para kreator (ane jg nggak bilang "penulis").

emoticon-Shakehand2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Terkait materi atau buku digital dan sejenisnya, apalagi gratisan.

Ane merasa itu gak kerasa

Beda halnya ane beli buku novel yg ukurannya sedang dengan harga 70K. Itu masih ada rasanya. Rasanya pengen membaca dan usaha buat ngumpulin duitnya.

Intinya, ane cuma bisa berfikir. Hal yg sulit didapat bakal dihargai ketimbang mudah (gratisan).
sekarang serba digital dan mudah, orang maunya yang ringkas
sekarang serba digital dan mudah, semua bisa dilihat dan disimpan di HP/Tab/Laptop kita
sekarang serba digital baik dalam hal tampilan serta penyimpanan, jadi lebih praktis simpan digital baik di gadget atau secara cloud..Pastilah era buku tercetak bakal tergusur
Halaman 3 dari 3


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di