CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60fa92b96f71fd69580d91a3/apakah-industri-novel-masih-bisa-bertahan-hidup

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Pandemi ini membuat saya sadar akan dua hal. Pertama adalah pentingnya hiburan bagi manusia dan yang kedua adalah jumlah waktu yang saya habiskan di depan layar ponsel/laptop. Menulis, menulis dan terus menulis sampai akhirnya lupa kapan terakhir kali saya membaca buku atau lebih khususnya lagi novel.

Saat saya masih Sd dimana smartphone bukanlah barang yang umum novel adalah media hiburan yang paling saya gemari. Saat itu saya bahkan rela nggak jajan demi menabung membeli novel Harry Potter karya J.K. Rowling, karya-karya Sidney Sheldon dan juga tulisan-tulisan Raditya Dika.

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Jaman sudah banyak berubah sejak 10 tahun yang lalu dan saya bahkan tak tahu kemana perginya semua novel itu. Terkadang saya masih membaca novel namun frekuensinya sudah jauh berkurang, sekarang hiburan yang utama adalah smartphone dengan segala fiturnya.

Sekarang buku-buku cetak sudah banyak ditinggalkan karna banyaknya media hiburan yang lebih menarik seperti Youtube atau Tiktok. Bahkan buku-buku pelajaran pun sudah mulai digantikan oleh Pdf dan powerpoint. Singkatnya, masa-masa dimana semua informasi berasal dari buku cetak sudah lewat.

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Memang, buku cetak memiliki pesonanya sendiri dan masih disukai oleh banyak orang namun kebanyakan buku best seller saat ini di dominasi oleh buku motivasi, buku kisah hidup orang sukses dan juga kamus bahasa inggris lengkap 500 milyar. Buku-buku tersebut mungkin masih bisa bertahan namun bagaimana dengan novel? Bagaimana dengan cerita-cerita fiksi?

Sulit bagi novel fiksi untuk bisa memasuki papan buku best seller. Karya-karya seperti Laskar Pelangi maupun Ayat-ayat Cinta adalah karya yang jarang bisa ditemukan dan hanya muncul beberapa tahun sekali dan itu pun tidaklah sesensasional yang kita kira. Bahkan film adaptasi dari novel-novel tersebut lebih terkenal daripada karya aslinya.

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Sekarang novel fiksi Indonesia memiliki reputasi yang sama seperti perfilman Indonesia, ceritanya itu-itu saja dan kualitasnya juga ala kadarnya. Putu Wijaya, seorang sastrawan ternama, pernah bilang begini;

Quote:


Sama seperti sinetron, kebanyakan novel Indonesia juga berada di posisi yang stagnan dan tak berani keluar dari zona nyaman. Pihak penerbit juga lebih mengutamakan novel remaja yang sekedar menjual mimpi tanpa adanya kualitas ataupun pesan moral. Tentunya tidak semua seperti itu tapi kondisi adalah gambaran umum dari dunia pernovelan Indonesia.

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Minimnya kualitas bukan satu-satunya ancaman, sekarang sudah banyak situs internet dimana kita bisa membaca cerita secara online dan bahkan di kaskus sendiri ada forum sfth untuk menulis apapun yang kita mau. Jika di internet kita bisa membaca cerita secara gratis maka untuk apa membeli buku cetak yang harganya mahal(?) dan boros tempat?

Dan ditambah lagi dengan adanya pandemi. Hampir seluruh penerbit buku Indonesia mengalami penurunan penjualan dan bahkan para penerbit tak lagi menerima pesanan dari pemerintah maupun perpustakaan. Buku-buku pelajaran yang selama ini menjadi andalan kini sudah digantikan oleh zoom dan Gmeet. Dengan kondisi seperti ini bagaimana bisa industri novel bertahan?

Dan yang terakhir, ancaman paling besar, pembajakan. Rasanya masih segar dalam ingatan saya saat penulis novel Tere Liye marah-marah mengenai pemerintah yang tidak menghargai masalah hak cipta dan banyaknya tukang bajak yang memperbanyak buku secara ilegal untuk dijual lebih murah. Merasa tidak dihargai dan tak adanya income yang memadai membuat banyak orang berhenti menulis dan memilih jadi youtuber.

Apakah Industri Novel Masih Bisa Bertahan Hidup?

Tampaknya bercita-cita menjadi penulis di masa kini tak lagi sama dengan masa lalu. Meskipun berhasil menerbitkan karya namun belum tentu penghasilan dari menulis cukup untuk kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Perlahan-lahan minat masyarakat akan turun dan akhirnya menghilang sama sekali. keruntuhan dunia novel Indonesia sudah di depan mata.

Sekian dari saya mari bertemu di thread saya yang lainnya.

sumber
sumber
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tomkosi312 dan 16 lainnya memberi reputasi
Aku lebih pilih beli buku cetak daripada digital, baca digital bikin nggak nyaman, mata pedih walaupun sudah dibatasi.

menyimpan buku buku lama itu adalah kesenangan tersendiri, disetiap buku tersimpan kenangan tersendiri, apalagi saat tercium aroma lembar2 halaman yang sudah lama dan memudar, merupakan kenikmatan tersendiri emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cinta_cici dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
'Gimana 'ngomongnya yah ... emoticon-Thinking

Kalau dulu, buku itu cuma untuk kalangan elit-kaya. Di Indonesia sini pun, jaman saya masih kecil kayaknya hal itu merupakan fakta.
Namun dengan adanya perkembangan tehnologi (terutama digital), media yang digunakan pun beralih.

Tapi jangan bilang kalau buku itu sudah laik untuk masuk liang kubur.
Perlu diingat bahwa akses dan keberadaan tehnologi (digital) itu harus ditebus dengan biaya yang boleh dibilang tidak sedikit dari sudut pandang kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Lha dalam hal itu, buku bisa menjadi alat untuk mengurangi kesenjangan terkait pengetahuan/wawasan antara kalangan atas dan bawah itu.

Namun karena satu dua hal terkait pengadaan buku itu sendiri, cara lama .. seperti mencetak buku dan kemudian menjualnya pada pihak perorangan, bukanlah cara yang tepat .. bila yang disasar adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Karena kemampuan kalangan ekonomi menengah ke bawah, cenderung lebih ke tindak "menyewa" atau "meminjam", dan bukan "membeli".

Namun tentunya perlu ada penyesuaian tertentu, baik terkait pengadaan maupun harga dari sebuah buku ataupun majalah.
Kalau dulu pengusaha berusaha mengambil untung dari kuantitas jumlah buku yang dijual, yang mana itu membuat mereka juga bisa sedikit menurunkan harga jual buku bersangkutan, tetapi bila kemudian buku-buku itu nantinya ingin disewakan/dipinjamkan (yang mana berakibat turunnya penjualan buku bersangkutan), maka harganya pun perlu disesuaikan pula. Seiring dengan naiknya harga bahan baku dari buku itu sendiri.

Disisi lain, pihak pengusaha pencetak buku itu juga memiliki peluang untuk mendirikan usaha persewaan buku. Ya 'nggak ?
Dan untuk itu mungkin perlu diperhatikan mengenai lokasi usahanya.
Dimana mungkin yang cocok adalah di kota kecil, kabupaten, dan desa-desa. Kalau di desa-desa itu mungkin bisa kerjasama dengan sekolah atau kelurahan (karang tarunanya, kalau ada).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gailham dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
memang uda drop banget gan,
salah satu contohnya, saya lihat novel cerita silat, sangat populer di era sebelum tahun 2000, kemudian menurun terus menerus secara drastis.
bahkan jika ada yang masih minat pun, lebih memilih untuk download gratisan versi ebook, dibanding membeli buku fisiknya.
para penerbit dan pengarang novel pun sakit kepala omset kecil, pendapatan menurun , dan sesuai yg agan bilang, pengarang besar sih masih oke bisa menjual, yang menengah dan kecil yang akan kesulitan


gabungan dari point point berikut:
- Minat membaca telah menurun, terutama di Indonesia
- Banyaknya kegiatan lain yang lebih menarik seperti social media, youtube, tiktok, messenger , browsing, dll
- bisa download gratisan, tanpa perlu membayar sepeserpun
- tidak usah harus hunting cari di toko buku, cukup didepan layar, lebih gampang carinya
- tidak usah takut rusak termakan waktu, tidak makan tempat simpan, bisa pake fungsi tombol search

apalagi ya emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
SalsaPermata dan Gailham memberi reputasi
Diubah oleh atumiwa33
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Bahkan al-quran pun sudah digital
profile-picture
profile-picture
inoxxx dan ih.sul memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Gimana ya? Ane sendiri udah lama nggak megang buku cetak. Kalau laporan sih tiap hari.
profile-picture
profile-picture
ih.sul dan Sans1 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Novel indonesia favorit saya jatuh pada.... Apa ya? Ayat ayat cinta maybe.
profile-picture
profile-picture
Sans1 dan kakiku1 memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
Dari dulu sebelum ada internet juga industri buku secara generalbgak bergairah kok. Masalahnya minat baca orang sini tergolong rendah dan suka membajak. Apalagi sekarang. emoticon-Peace
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hendrazalkia dan 2 lainnya memberi reputasi
Skrg para penulis nulisnya di platform online.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
bisa kok
cuman masalah pada bagian promosi.
sekarang ngga cukup klo promosi cmn di toko buku saja.

semua platform medsos, pertokoan, iklan tv harus dimanfaatkan untuk media promosi. bahkan perfilman juga harusnya mempromosikan buku tsb sblm dijadiin film.
profile-picture
ih.sul memberi reputasi
sfth kan sama aja baca novel gratisan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di