CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Si Anak yang Kebingungan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60f98cdead8c697fee02d3e0/si-anak-yang-kebingungan

[TRUE STORY] Si Anak yang Kebingungan

Solo, April 2016

Aku adalah seorang mahasiswa, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir dari keluarga sederhana. Bapak bekerja sebagai sopir, dan ibu adalah seorang sales. 

Hidup kami serba pas-pasan, untuk sekadar makan ayam saja bisa dihitung dengan jari dalam satu bulan. Lauk tempe dan tahu saja sudah terasa nikmat di lidah.

Meski begitu, aku tetap bersyukur dan menjalani hari-hari layaknya mahasiswa biasa. Kuliah, nugas, kuliah, nugas.. uang saku 200 ribu sebulan harus bisa diirit-irit untuk tugas, makan, dan kuota.

Sudah cukup cerita tentang aku, kali ini ada yang lebih menarik dan ingin aku ungkapkan.

Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi, namun nama pelaku tetap disamarkan.

Btw, maaf ya agan-agan semua, kalau threadnya berantakan. Ane lupa cara bikin thread hehe. 
Semoga agan semua menikmati cerita ini.
Disclaimer, ane ga mau menjelek2kan pihak yang ada di dalam cerita ini. Murni karena pengen cerita aja.
Jangan lupa cendolnya gan emoticon-Big Grin emoticon-Cendol Gan


Si Anak yang Kebingungan

Sejak itu, semua berubah..

Juni 2017

Suatu sore, telepon bapak berdering berulang kali, seolah ada seseorang ingin mengabarkan hal yang begitu penting.

"Halo, Assalamualaikum, ada apa?," ucap Bapak menjawab telepon.

Samar-samar terdengar suara kakak sepupuku bernama Amar yang menangis kebingungan.

"Om, mama serangan jantung, ini dalam perjalanan dirujuk ke rumah sakit di Solo," kata kakakku saat speaker telepon bapak diaktifkan.

Singkat cerita, bapak langsung menghubungi saudaranya yang lain untuk mengabarkan kondisi budeku.

Beberapa jam kemudian, kakak sepupuku telepon lagi dan mengabarkan bahwa kondisi ibunya semakin memburuk, dan semakin memburuk hingga akhirnya meninggal.

Budeku ini adalah single parent yang memiliki satu anak kandung, mas Amar, dan satu anak adopsi bernama Rani.

Amar berusia 23 tahun, 2 tahun di atasku. Sedangkan Rani masih berusia 7 tahun.

Setelah bude meninggal, Mas Amar dan Rani tinggal sementara di rumahku. Yah, berbeda dengan rumahnya di desa yang bebas dan bisa dibilang berkecukupan.

Saat itu, bapak dan saudara lainnya mulai merundingkan tentang dimana Mas Amar dan Rani akan tinggal. Sebagai keluarga, sudah sewajarnya kan saling bantu membantu.

Hingga muncul kesepakatan, kedua saudaraku ini tinggal di rumahku.

Baru beberapa hari tinggal, Mas Amar yang sudah terbiasa hidup bebas di rumahnya, merasa kurang sreg saat di rumahku. Ia akhirnya kembali ke desa dan memilih melanjutkan hidupnya di sana.

Sayangnya, ia seolah melupakan Rani, adik adopsinya dan membiarkan Rani tinggal di rumahku.

Sebagai informasi, Mas Amar memang tipe anak tunggal yang selalu bergelimang harta dan terbilang manja, ya karena didikan Alm bude yang terlalu memanjakan anak-anaknya.

Setelah Mas Amar pulang, Rani tinggal bersama kami. Bapak mulai mengurus surat pindah sekolah agar Rani bisa bersekolah di SD yang sama dengan adikku.

Hari demi hari berlalu, Rani mulai kehilangan sosok ibu (budeku). Ia tak henti menangis dan menangis. Ku coba untuk menuruti apa pun maunya. Termasuk makan makanan enak seperti yang biasa diberikan bude untuk Rani.

Tapi, orangtuaku mulai menyadari bahwa tak bisa terus menerus menyanggupi keinginannya untuk makan enak.

Akhirnya Rani mau tidak mau beradaptasi dengan makanan andalan keluargaku, tempe dan tahu.

Bersambung


Quote:



profile-picture
profile-picture
profile-picture
okynigel dan 36 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fe.gaws16
Halaman 1 dari 2

Pindah ke Rumah Bude Kus



Januari 2018

Lima bulan kemudian, Rani mulai tak betah tinggal di rumah sederhanaku. Ia merengek untuk tinggal bersama saudara bapak lainnya, sebut saja Bude Kus.

Memang, Bude Kus ini adalah orang yang berkecukupan. Ia bekerja sebagai guru di SD dimana adikku dan Rani bersekolah. Namun beliau juga termasuk orang yang tegas.

Singkat cerita, Rani mulai tinggal di sana. Keluarga kami mulai kembali normal seperti sebelum ada Rani.

Rani tinggal di rumah Bude Kus bersama dua kakak sepupuku dan suami bude.

Bude Kus punya dua anak perempuan yang sudah dewasa, kebetulan mereka juga suka anak-anak. Jadi, tidak ada masalah saat Rani tinggal di sana.

Bulan berganti, anak-anak Bude Kus mulai mengeluhkan tentang Rani. Mereka menyebut Rani sebagai anak yang bandel dan susah diatur.

Beberapa kali aku mendengar kabar bahwa Rani telah berbuat hal yang bisa dibilang tidak mungkin dilakukan oleh anak 8 tahun.

Kejadian itu membuat nama baik Bude Kus tercoreng di kampung tempat tinggalnya.

Kejadian apa itu?

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fe.gaws16
Bermuka Dua

Kejadian yang membuat keluargaku tak habis pikir adalah saat Rani bisa menjadi anak yang bermuka dua.

Di usianya yang baru genap 8 tahun, Rani sudah pandai mengarang cerita yang membuat Bude Kus seolah-olah menjadi orang paling jahat.


Suatu pagi, Bude Kus akan berangkat ke SD, ia menunggu Rani yang tak kunjung selesai berdandan. Ya, maklum anak umur 8 tahun biasa dibantu ibunya, tapi mendadak harus apa-apa sendiri, membuat Rani kesulitan.

Bude Kus yang harus piket pagi-pagi pun terpaksa meninggalkan Rani.

Keluarga Bude Kus ini memang terkenal tegas dan disiplin, jadi ya Rani dididik jadi anak yang harus disiplin.

Alhasil, Rani berangkat ke SD dengan berjalan kaki. Jarak rumah bude ke SD mungkin sekitar 800 meter.

Rani pun berjalan kaki sendirian menuju sekolahnya.

Di tengah jalan, Rani bertemu dengan seorang teman dan ayahnya (yang ternyata tetangga Bude Kus). Di situ, dia ditawari untuk berangkat bersama.

Kejadian Rani berangkat jalan kaki ini sudah berlangsung beberapa kali.

Ayah dari teman Rani yang sempat mengajaknya berangkat bersama pun akhirnya iba. Rani pun diajak untuk ke rumah temannya itu.

Di sana, Rani yang terbilang pendiam saat di rumah Bude Kus, berubah menjadi anak yang berani bicara.

Tapi sayangnya, ia justru mengungkapkan hal yang jauh dari kenyataan.

Rani mengaku ia tak dianggap di rumah Bude dan menyebut dirinya anak buangan. Padahal, keluarga Bude Kus sudah mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk Rani.


Bagi kita orang dewasa, mungkin tidak akan menelan mentah-mentah ucapan Rani.


Namun sayangnya, ayah dari teman Rani justru berbeda. Ia begitu iba mendengar cerita Rani yang seolah-olah disia-siakan oleh Bude Kus dan keluargaku.

Lucunya, ayah teman Rani ini justru menceritakan hal tersebut ke tetangganya, yang notabene masih sekampung dengan Bude Kus.

Apa boleh buat, Bude Kus akhirnya kesal dan mendatangi ayah temannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
lanjut gan, dibikin index sekalian.
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Lanjut gan ta bntu ngetik
profile-picture
rinandya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Klarifikasi Bude Kus

Yah, namanya juga hidup di kampung.. nama baik adalah nomor satu. Demi hal itu, Bude Kus akhirnya memberanikan diri pergi ke rumah ayah temannya Rani.

Sesampainya di sana, Bude Kus disambut baik oleh ayah temannya Rani, sebut saja Pak Dono.

Tetapi, raut wajah Pak Dono tidak bisa berbohong, ia seolah memandang Bude Kus sebagai orang yang paling kejam di dunia.

"Permisi pak, saya Budenya Rani," kata Bude Kus

"Oh iya bu, silakan duduk. Ada apa ya?," tanya Pak Dono basa-basi.

"Maaf sebelumnya, saya mau tanya tentang apa yang bapak bicarakan ke orang-orang tentang si Rani ini Pak," ungkap Bude Kus.

"Apa benar bapak yang bilang ke orang-orang kalau saya menyia-nyiakan si Rani," tanya Bude Kus.

"Iya bu, soalnya si Rani kelihatan kasihan banget, kayak nggak diurusin sama Ibu," kata Pak Dono dengan percaya diri.

Mendengar perkataan Pak Dono, Bude Kus pun mulai emosi, ia lantas mengungkapkan apa yang telah ia lakukan untuk Rani.

"Gini pak, saya ini budenya angkatnya Rani. Rani itu anak angkat adik saya. Sudah sewajarnya saya memperlakukan Rani dengan baik. Setiap orang punya cara mendidik masing-masing.

Mungkin Rani masih belum terbiasa dengan peraturan saya. Semua anak-anak saya juga saya didik untuk disiplin. Bukan berarti saya tidak mengurusnya!
," kata Bude Kus menahan suaranya agar tak semakin meninggi.

Tapi yah namanya juga orang sudah kepalang tak suka, Pak Dono pun tak percaya dengan ucapan Bude Kus.

Beliau hanya memandang sinis Bude Kus dan seolah menyetujui tapi sebenarnya tidak.

"Iya bu iya," kata Pak Dono.

Singkat cerita, Bude Kus pun pulang dengan emosi yang ingin meledak. Namun Bude tetap menahannya.

Batinnya mungkin terkoyak karena namanya di kampung sudah tercoreng hanya karena ucapan Rani.

---


Kehidupan Rani di rumah Bude Kus tetap berjalan seperti biasanya.

Bude Kus tetap memperlakukan Rani layaknya anak kandung. Beliau pun mengajari Rani untuk mencuci bajunya sendiri. 'Biar belajar mandiri' pikir Bude Kus.

Setiap Bude Kus jalan-jalan bersama anak-anaknya dengan mengendarai mobil, Rani pun selalu diajak.

Tak pernah sedikitpun Bude Kus membeda-bedakan Rani dengan anak-anaknya. Hanya saja, anak-anak Bude Kus sudah dewasa. Jadi Rani seolah menjadi adik bungsu bagi mereka.

---


Kejadian unik bin ajaib lainnya muncul lagi dan membuat Bude Kus murka.

Sandiwara Rani kali ini membuat nama Bude Kus kembali tercoreng.

Bukan di rumah, tapi di sekolahannya..


profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 7 lainnya memberi reputasi

Air Minum

Suatu pagi, Bude Kus dan Rani berangkat bersama menuju sekolahan. Sesampainya di sekolahan, Rani berpisah dengan Bude Kus.


Ia menuju ke ruang kelas, dan Bude Kus ke ruang Guru.

Sudah menjadi kebiasaan bila Bude Kus berangkat pagi-pagi buta. Saat itu kondisi sekolahan masih sepi. hanya ada beberapa guru rajin yang sudah datang.

Salah satu guru itu adalah Bu Yani. Bu Yani ini juga merupakan saudara jauh Bude Kus. Ya saudaraku juga, tapi sangat jauh.


Bu Yani sama tegasnya dengan Bude Kus.

Saat itu, Rani terlihat keluar dari ruang kelasnya dengan membawa botol air minum. Botol itu masih kosong.

Rani berlari menuju kran air di dekat ruang Guru. Rupanya ia mengisi botol tersebut dengan air kran.

Jangan dibayangkan kran air itu berisi air minum, tolong jangan. SD tempat Rani sekolah masih belum ada seperti itu.

Terlihat banyak lumut di sekitar kran air itu.

Rani pun membuka botol dan mengarahkannya ke kran air.

Bu Yani yang sedang menyapu area ruang Guru tak sengaja melihat apa yang dilakukan Rani.

Ia lantas menghampiri Rani dan memarahinya.

"Kamu kok ambil minum dari kran air sih nak?," tanya Bu Yani.

Rani pun hanya terdiam.

"Emangnya budemu nggak kasih air minum?," tanyanya lagi.

Namun, Rani kembali mengeluarkan jurus diamnya. Bu Yani yang iba langsung membelikan Rani air minum dan melarangnya minum dari air kran.

"Ini jangan minum air kran lagi," kata Bu Yani sambil memberikan air mineral botolan.

---


Kejadian itu membuat Bu Yani langsung menegur Bude Kus. Sayangnya, teguran itu berlangsung ketika Ruang Guru sangat ramai, jadi semua guru tahu apa yang dikatakan Bu Yani.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 7 lainnya memberi reputasi
LNjutan dikit amat gan
profile-picture
profile-picture
richard035 dan rinandya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

di Ruang Guru

Ruang Guru mungkin akan menjadi tempat yang dibenci Bude Kus setelah kejadian itu.


Setelah meminta Rani untuk tidak meminum air kran, Bu Yani langsung menyambangi Ruang Guru. Terlihat Bude Kus dan guru-guru lainnya sedang mempersiapkan materi untuk bahan ajarnya di pagi itu.


Bu Yani menghampiri meja Bude Kus dengan wajah agak emosi.
"Bu, emang Rani di rumah nggak dirawat ya? Apa nggak dianggep sama njenengan?" tanya Bu Yani dengan nada agak tinggi.

Mendengar ucapan Bu Yani, Bude Kus pun berusaha untuk tetap tenang, ia punya feeling kalau Rani membuat masalah lagi.

"Maksudnya apa bu? Ya dirawat to, emangnya kenapa?," tanya Bude Kus.

Guru-guru lain pun menghentikan aktivitasnya dan terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.

"Sik bu, ada apa ini?," kata guru lain mencoba melerai.

"Lha ini lho bu, masa' Rani pagi-pagi ngambil air kran buat diminum, kayak nggak pernah diurusi saja, tega banget sama anak kecil" tutur Bu Yani nampak kesal dengan Bude Kus.

Deg.. Betapa malunya Bude Kus saat ditegur Bu Yani. Ia sebenarnya ingin menjelaskan panjang lebar soal Rani, namun memilih untuk memendamnya sendiri.

Bude Kus hanya menjawab sekenanya saja.

"Maaf bu, memang anaknya seperti itu, di rumah juga udah saya kasih air minum galon sama ada air rebusan, saya juga nggak pernah membeda-bedakan Rani," kata Bude Kus dengan berlinang air mata.

"Alah jangan alasan aja bu, kasihan ini anak kecil masa' iya tega banget nggak dikasih air layak, malah ambil air kran buat minum," kata Bu Yani lagi.

Bude Kus pun menyadari bahwa penjelasannya akan sia-sia. Ia memilih untuk bungkam dan melanjutkan kegiatannya.

---


Layaknya gosip hangat, kabar Rani meminum air kran ini pun terdengar seantero ibu-ibu wali murid. Semua ibu-ibu menggosipkan Bude Kus.

'Kejam ya Bu Kus, Kok bisa ya sama ponakan digituin?'


---


Hujatan demi hujatan seolah menjadi makanan sehari-hari Bude Kus. Mau bagaimana lagi, kelakuan Rani juga sudah keterlaluan. Bude Kus hanya bisa diam dan memasang tameng demi kedamaian hatinya.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Njalok di pondoke wi, soale wes angel tuturane
profile-picture
rinandya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Semua Kena Imbas

Oh ya sebelum lebih jauh, aku lupa memperkenalkan diri..
Namaku Delia dan aku memiliki seorang adik bernama Lala. Adikku ini bersekolah di SD yang sama dengan Rani. Saat itu Rani duduk di kelas 2, dan Lala sudah kelas 6.


Hari H insiden air minum

Tak dipungkiri, Rani memang pandai dalam membual dan membuat dirinya merasa paling tersakiti.

Entah itu ajaran darimana, yang jelas kenakalan Rani baru terlihat setelah ia meminta pindah ke rumah Bude Kus.


Di hari H insiden air minum itu, Bu Yani rupanya kurang puas jika hanya menegur Bude Kus.

Ia langsung pergi ke ruang kelas 6 dan menghampiri Lala.

Saat itu, Lala yang baru asyik bermain bersama teman-temannya mendadak bubar saat Bu Yani datang.

"La, Budemu itu lho!," ujar Bu Yani tiba-tiba.

Lala tak tahu apa yang dimaksud oleh Bu Yani. Raut wajahnya pun berubah seolah penasaran dengan apa yang terjadi.

"Budemu itu lho kok bisa-bisanya nggak ngurusin Rani sampai-sampai adikmu itu minum air kran," kata Bu Yani lagi.

Lala semakin bingung dengan apa yang terjadi.

"Ada apa to bu?," tanya Lala penuh hati-hati.

"Ya itu, masa' Rani tadi ambil air kran buat minum gara-gara nggak dikasih air sama Bu Kus. Kok ya kebangeten banget Budemu itu," kata Bu Yani dengan nada cukup emosi.

"Astaghfirullah bu, nggak mungkin Bude kayak gitu," sahut Lala.

"Hih, kamu itu ya sama aja kayak Budemu," kata Bu Yani kesal karena Lala tak memberikan jawaban yang menyenangkan.

Ia lantas pergi meninggalkan Lala.

Lala pun tak henti memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Bu Yani. Namun, Lala pilih memendam sendiri dan tak mau menceritakannya ke bapak dan ibuku.

---


Keesokan harinya..

Seperti biasa, Lala diantar oleh Bapak di jam yang mepet dengan bell sekolah.

Dari kejauhan Bu Yani sudah terlihat di depan gerbang seolah menunggu bapakku datang. Ia langsung menghampiri bapak dan membahas kejadian yang dialami oleh Rani. Bu Yani menceritakannya dengan detail tentang apa yang ia lihat kemarin.

Tentu saja, bapakku tak percaya dengan apa yang terjadi. Bapak juga tetap berpihak ke Bude Kus.

Akan tetapi, bapak juga menyembunyikan kejadian ini dari ibu dan aku.

'ah nanti anak ini (Rani) juga pasti akan berubah' pikir bapak.

---


Hari demi hari telah berlalu..

Gosip tentang Bude Kus pun semakin berhembus kencang. Bude Kus sudah tidak bisa membendung agar gosip itu tidak semakin melebar.

Pada akhirnya, Bude Kus hanya bisa pasrah (lagi). Ia hanya bisa menutup telinganya dari nyinyiran ibu-ibu wali murid.

Bude Kus seolah menunggu waktu yang tepat agar semua orang tahu apa yang telah diperbuat oleh Rani. Namun, ia masih berusaha untuk sabar menghadapi keponakannya ini.

---


Suatu hari, Rani terpaksa jalan kaki karena Bude Kus yang ada keperluan di sekolah lain.

Di tengah jalan, ia bertemu lagi dengan Pak Dono dan temannya. Rani langsung ditawari untuk pulang bersama Pak Dono naik motor.

Namun, bukannya langsung pulang, Pak Dono mengajak Rani untuk mampir ke rumahnya.

Tentu saja, Rani begitu girang mendengarnya. Bagaimana tidak? Di sana dia bisa puas bermain bersama temannya dan makan enak sekaligus menceritakan 'kesedihannya yang merasa tak dianggap oleh Bude Kus (lagi).

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 6 lainnya memberi reputasi

Sales kesedihan

Tidak banyak orang percaya jika Rani benar-benar anak kecil yang bermuka dua dan pandai mengada-ada. Begitu pula dengan Pak Dono.

Dia mulai menganggap Rani seperti anaknya sendiri. Ia juga mulai memberikan perhatian lebih ke Rani karena merasa begitu iba padanya.

Pak Dono pun menyediakan makanan enak setiap Rani mampir ke rumahnya. Rani begitu lahap menyantap ayam goreng yang diberikan oleh ayah temannya.

Sembari makan, Rani kembali mengumbar kesedihannya. Kali ini ia menceritakan insiden air kran yang telah menjadi rumor di kalangan ibu-ibu.

Tentu saja, Pak Dono juga sudah mendengar rumor itu, namun ia senang karena langsung mendapat informasi langsung dari sang narasumber.

"Pak, saya dimarahin bude Kus gara-gara saya minum air kran," kata Rani mengawali ceritanya.

"Loh dimarahin lagi kamu?," tanya Pak Dono.

"Iya pak, padahal kan saya jarang dikasih makan, pas saya lagi makan, eh diminta Bude buat buru-buru berangkat sekolah, jadinya saya nggak sempet minum, yaudah saya ambil air kran aja buat minum" kata Rani.

"Astaghfirullah nak, Budemu kok ya tega banget sama kamu." kata Pak Dono sambil mengelus dada.

Rani pun memasang raut wajah memelasnya agar Pak Dono semakin iba.


Selesai makan, Rani berpamitan ke Pak Dono, ia sadar jika terlalu lama main tanpa pamit pasti akan dicari Bude Kus. Pak Dono yang merasa iba itu memberikan sejumlah uang untuk Rani.

"Nih nak buat jajan di sekolah biar nggak minum air kran lagi," kata Pak Dono.

"Makasih pak." ujar Rani semringah.

Di sepanjang jalan, Rani begitu bahagia karena mendapat uang jajan sekaligus bisa mengambil hati Pak Dono.

Sesampainya di rumah, Rani bersikap seolah kecapekan karena berjalan kaki dari sekolah ke rumah.

Anak Bude Kus pun menyiapkan makan siang untuk Rani dengan menu nasi sayur dan ayam goreng (lagi). Rani bergegas untuk berganti pakaian dan memakan makanan yang telah disiapkan.


Jangan tanya apa Rani tidak kenyang, karena anak ini memang tidak punya rasa kenyang, tetapi Rani punya perawakan kecil seperti tak terurus


Kejadian mampir ke rumah Pak Dono dan mengumbar cerita sedih sudah berulang kali dilakukan oleh Rani. Tentu saja, Rani senang melakukannya.


Sekian dulu gan, besok ane lanjutin lagi cerita Rani sambil inget-inget kejadian di tahun itu. Maaf jika update kurang banyak dan kurang greget, ane cerita seinget ane aja.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Tak bantu ngetik gan
Chelsea membuat Liverpool frustrasi dalam pertemuan Anfield yang cepat dan penuh amarah untuk mengklaim poin yang diperoleh dengan susah payah meskipun dikurangi menjadi 10 pemain setelah babak pertama pengiriman Reece James.

read more >>
Post ini telah dihapus
tolong lanjutin gan emoticon-Matabelo
profile-picture
seojoon memberi reputasi
kok ane penasarin.. gelar tiker ah
profile-picture
seojoon memberi reputasi
Post ini telah dihapus
gosip bisa berakibat fatal, ane sendiri mengalami sampe hidup terasa penuh tekanan, bahkan efeknya sampe sekarang masih ada.

penggosip bajingan matek saja sana emoticon-Mad
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makgendhis dan 2 lainnya memberi reputasi
Ceritanya bersambungemoticon-Sorry
Sini ane peluk emoticon-Peluk
profile-picture
seojoon memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di