CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60dfd222c1eac744f62cb372/mengenal-kitab-klasik-tentang-seks

Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks

Seks hadir bersamaan dengan sejarah kehidupan makhluk hidup di bumi. Ribuan tahun silam, beberapa buku panduan tentang gaya bercinta telah ditulis di kulit binatang, dinding goa, bahkan dalam relief di candi-candi. Selain memuat sejarah dan filosofi tentang hubungan seksual, kitab-kitab klasik/kuno ini juga ada yang memuat panduan posisi dan teknik bercinta yang hingga kini masih menjadi acuan bagi manusia modern.

Apa Itu Hubungan Seksual?
Hubungan seksual antara pasangan suami istri sebenarnya sebuah upacara spiritual, karena semua bentuk ibadah spiritual yang suci itu menunjukkan suatu sikap mengakui dan menghormati keberadaan Tuhan. Keseimbangan dalam kehidupan seksual memiliki tujuan total kesatuan fisik dan spiritual, sebab hubungan seksual bukan hanya sekedar nafsu belaka. Untuk itu energi seksual haruslah dipelihara dan dihargai karena perannya dalam keseluruhan kesejahteraan tubuh, pikiran, dan jiwa setiap pasangan suami istri. Yuk kenali nilai-nilai pendidikan seks berdasarkan beberapa kitab klasik berikut:

1. Kitab Kamasutra
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Kama Sutra ( / k ɑː m ə s u t r ə / ; Sansekerta : कामसूत्र, 'Prinsip Nafsu') adalah teks Sansekerta India kuno yang menjelaskan seksualitas, erotisme dan pemenuhan emosional dalam hidup.

Dikaitkan dengan Vatsyayana, Kama Sutra tidak eksklusif dan tidak didominasi panduan seks pada posisi seks, tetapi ditulis sebagai panduan untuk seni hidup dengan baik, sifat cinta, menemukan pasangan hidup, menjaga kehidupan cinta seseorang, dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia yang berorientasi pada kesenangan.

Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks

Teks ini merupakan syair aforistik singkat yang bertahan hingga era modern dengan bhāṣya (eksposisi dan komentar) yang berbeda. Teks tersebut merupakan perpaduan antara puisi prosa dan anustubh (Syair yang terdiri dari empat baris. Setiap baris, memiliki delapan suku kata). Teks tersebut mengakui konsep Hindu Purusharthas, dan mencantumkan keinginan, seksualitas, dan pemenuhan emosional sebagai salah satu tujuan hidup yang tepat. Bab-babnya membahas metode pacaran, pelatihan seni untuk terlibat secara sosial, menemukan pasangan, menggoda, mempertahankan kekuasaan dalam kehidupan pernikahan, kapan dan bagaimana melakukan hubungan seksual, posisi seksual, dan topik lainnya. Sebagian besar dari buku ini adalah tentang filosofi dan teori cinta, apa yang memicu keinginan, apa yang menopangnya, dan bagaimana dan kapan itu baik atau buruk.

Kamasutra adalah salah satu dari banyak teks India tentang Kama Shastra (Sastra India yang mengacu pada tradisi karya tentang cinta, erotis, sensual dan hasrat seksual). Kitab ini adalah karya yang banyak diterjemahkan dalam bahasa India dan non-India. Kamasutra telah mempengaruhi banyak teks sekunder yang diikuti setelah abad ke-4 Masehi, serta seni India seperti yang hadirnya relief dan patung di candi tua Hindu.

Kamasutra menjadi "salah satu buku yang paling banyak dibajak dalam bahasa Inggris" setelah diterbitkan pada tahun 1883 oleh Richard Burton. Edisi Eropa pertama karya Burton ini tidak mencerminkan banyak hal dalam Kamasutra karena ia merevisi terjemahan dengan berkolaborasi bersama Bhagavanlal Indrajit dan Shivaram Parashuram Bhide serta Forster Arbuthnot agar sesuai dengan selera Victoria abad ke-19.


2. Kitab Ratihrahasya
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Ratirahasya ( Sansekerta रतिरहस्य ) (diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Rahasia Cinta, juga dikenal sebagai Koka Shastra ) adalah panduan sex abad pertengahan dari India yang ditulis oleh Kokkoka, seorang penyair, yang banyak digambarkan sebagai Koka atau Koka Pundit.

Tanggal pasti penulisannya tidak diketahui, tetapi diperkirakan teks tersebut ditulis pada abad ke-11 atau ke-12. Diperkirakan bahwa Ratirahasya ditulis untuk menyenangkan seorang raja bernama Venudutta. Kokkoka menggambarkan dirinya dalam buku sebagai siddha patiya pandita, yaitu "seorang pria yang cerdik di antara orang-orang terpelajar". Kitab ini ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Berbeda dengan Kama Sutra, yang merupakan panduan seks kuno yang terkait dengan sastra Hindu, Ratirahasya berurusan dengan masyarakat India abad pertengahan. Sebuah panduan seks diperlukan dan disesuaikan terhadap iklim budaya abad pertengahan. Ratirahasya ditulis, sangat berbeda dari teks kuno Kama Sutra .

Ada lima belas pachivedes (bab) dan 800 ayat dalam Ratirahasya yang membahas berbagai topik seperti fisik yang berbeda, kalender lunar, berbagai jenis alat kelamin, karakteristik wanita dari berbagai usia, pelukan, ciuman, hubungan seksual dan posisi seks dll. Ratirahasya membuat klasifikasi wanita, dan menggambarkan zona sensitif seksual dan hari-hari yang membuat wanita mudah terangsang.

Ratirahasya adalah buku pertama yang menggambarkan secara detail kecantikan feminin India. Buku tersebut mengklasifikasikan wanita ke dalam empat tipe psiko-fisik, menurut penampilan dan ciri fisik mereka.

1. Padmini (wanita teratai)
2. Chitrini (wanita seni)
3. Shankini (wanita keong)
4. Hastini (wanita gajah)

Berdasarkan ukuran alat kelamin, teks mengklasifikasikan hubungan seksual menjadi sembilan jenis yang berbeda. Afrodisiak juga dijelaskan dalam buku ini.


3. Kitab Shunga
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Shunga (春画) adalah jenis seni erotis Jepang yang biasanya dieksekusi sebagai semacam ukiyo-e, lukisan berwarna-warni yang dihasilkan dari teknik cukil kayu (woodprinting), tetapi sebenarnya pada zaman dulu istilah ukiyo-e juga digunakan untuk lukisan asli yang digambar dengan menggunakan kuas.

Shunga sangat dipengaruhi oleh ilustrasi dalam manual pengobatan Tiongkok yang dimulai pada era Muromachi (1336 hingga 1573). Zhou Fang, seorang pelukis terkenal dari Dinasti Tang yang juga dianggap berpengaruh. Dia seperti banyak seniman pada masanya, cenderung menggambar organ genital dengan ukuran yang terlalu besar. Selain " shunga " secara harfiah berarti gambar musim semi (seks), kata ini juga merupakan singkatan dari shunkyū-higi-ga (春宮秘戯画), pengucapan Jepang untuk satu set gulungan Cina dengan dua belas gulungan yang menggambarkan dua belas tindakan seksual putra mahkota yang ditampilkan sebagai ekspresi yin dan yang.

Pengaruh shunga Jepang berasal dari periode Heian (794 hingga 1185). Pada titik ini, ditemukan di antara kelas abdi dalem. Melalui media gulungan tangan naratif, skandal seksual di istana kekaisaran atau biara digambarkan, dan karakternya cenderung terbatas pada abdi dalem dan biarawan.

Tren ini mencapai puncaknya pada periode Edo (1603 hingga 1867). Berkat teknik pencetakan balok kayu, kuantitas dan kualitasnya meningkat drastis. Ada upaya pemerintah berulang kali untuk menekan shunga, yang pertama adalah dekrit yang dikeluarkan oleh Keshogunan Tokugawa pada tahun 1661 yang melarang antara lain, buku erotis yang dikenal sebagai kōshokubon (好色本) (secara harfiah "buku cabul"). Sementara hal lain yang dicakup oleh dekrit ini, seperti karya yang mengkritik daimyo atau samurai. Walau ditekan, shunga terus diproduksi secara sembunyi-sembunyi dengan sedikit kesulitan.


4. Kitab Qurratul ‘Uyun
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Qurrotul Uyun merupakan kitab berbentuk syarah dari nazham (Syair) yang ditulis oleh Syekh Qasim bin Ahmad bin Musa bin Yamun. Sebagaimana kitab syarah pada umumnya, Syekh Tahami menyajikan ulasan yang memahamkan secara runut pada tiap bait-bait yang disusun Syekh Yamun. Tetapi, Syekh Tahami memiliki kelihaian dan keluwesan bahasa yang benar-benar mudah ditangkap oleh pembaca. Qurrotul Uyun menyajikan pembahasan senggama secara lengkap dan gamblang, mulai dari pemilihan waktu yang tepat, tata cara foreplay yang dianjurkan, bagaimana posisi yang unggul dan doa-doa yang harus dibaca.

Pertama, waktu terbaik untuk seorang suami-istri berbulan madu atau bersenggama adalah setelah Isya’, boleh juga dilakukan setelah Maghrib sebelum Isya’. Hendaknya suami melarang siapapun berhenti atau duduk di dekat pintu kamarnya, agar tidak ada yang mengganggu saat bersenggama. Doa yang dibaca oleh suami-istri setelah sepakat akan bersenggama adalah Allahumma Jannibna as-Syaithan wa Jannibis Syaithana ma Razaqtana.

Kedua, etika yang harus dipenuhi oleh seorang suami-istri adalah kebersihan badan dan hatinya sebelum bersenggama. Hendaknya keduanya sudah bertaubat dari dosa-dosanya selama ini. Setelah suci batinnya, suami-istri juga dalam keadaan suci lahiriahnya baik itu dengan mandi dan wudlu terlebih dahulu. Keadaan suci lahir batin ini mencerminkan terpenuhinya agama dalam kehidupan rumahtangga, sebagaimana dimaksudkan dalam hadis Nabi: Barangsiapa telah menikah, maka ia sejatinya telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka hendaknya bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya. (HR. Muslim).

Saat bersuci inilah, hendaknya si suami membasuh kedua tangan dan kakinya dan istrinya dalam satu wadah (ember) air. Lalu suami membaca Asmaul Husna dan shalawat Nabi, kemudian air bekas basuhan itu disiramkan ke setiap sudut rumah. Hal ini dapat menjadi wasilah hilangnya keburukan dan was-was setan.

Ketiga, memulai dengan kesunnahan, seperti memakai parfum, mendahulukan kaki kanan saat memasuki kamar lalu mengucapkan: ‘Bismillahi wassalamu ‘ala Rasulihis salamu ‘alaikum. Selanjutnya mengerjakan shalat dua rakaat atau lebih banyak. Lalu membaca surat al-Fatihah sebanyak tiga kali, surah al-Ikhlas sebanyak tiga kali, shalawat Nabi tiga kali, bertasbih dan berdoa kepada Allah.

Setelah itu, hendaknya si suami menghadap istri, lalu letakkan tangan di atas ubun-ubun istrinya sambil berdoa: “Ya Allah, aku memohon kebaikan kepada-Mu dan kebaikan tabiat yang telah Engkau tetapkan kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istri dan keburukan tabiat yang telah Engkau tetapkan baginya.”

Lalu membacakan surat-surat Al-Qur’an seperti al-Waqi’ah, an-Nashr, Al-Insyirah ataupun Ayat Kursi. Doa-doa ini lebih baik dibaca setiap hari bukan saat hendak bersenggama saja.

Keempat, hendaknya didahului dengan foreplay plus dzikrullah, yakni sewaktu mulai senggama, membelai badan istri sambil berdzikir, membelai leher istri dan mememeluknya lalu membaca “Ya Raqib” tujuh kali dipungkasi dengan “Fallahu khairun hafidzhan wahuwa arhamur rahimin.” Bacaan ini merupakan peringatan untuk menjaga diri.

Kelima, hendaknya si suami percaya diri dan tidak grogi, lalu merangkai kata-kata rayuan yang indah, agar si istri tidak resah dan takut diajak bersenggama. Buatlah hati si istri berbunga-bunga agar dirinya ceria dan riang gembira. Sebab, malam pertama merupakan peristiwa baru dan pastinya diselingi pertanyaan: “Apakah senggama sakit atau nikmat?”

Di samping itu suami hendaknya menyuapi istrinya tiga kali suapan. Dan hendaknya si suami menjauhi makanan yang dapat melemahkan syahwatnya, seperti makanan yang asam, bawang, mentimun, kedelai dan lainnya.

Keenam, ihwal posisi bersenggama, menurut para ulama posisi paling baik adalah si suami di atas dan istri di bawah, lalu pinggul istri diganjal dengan bantal. Lalu suami bisa ‘bercocok tanam’ pada vaginanya dengan tempo sesuka hatinya. Sebelum memasukkan zakar ke dalam vagina hendaknya suami membaca basmalah. Boleh juga si suami mendatangi istri dari arah belakang (doggy style), zakar tetap dimasukkan pada vagina dari arah belakang. Haram hukumnya memasukkan zakar pada dubur, apapun alasannya. Dan hendaknya si suami membuat si istri mencapai klimaks atau orgasme dalam setiap persenggamaan. Hendaknya suami mampu bersenggama hingga tiga atau empat kali orgasme agar istrinya benar-benar terpuaskan.

Ketujuh, ketika hendak mengulangi senggama setelah ejakulasi pertama, hendaknya menunggu beberapa saat agar zakar benar-benar sudah lemas, lalu membasuhnya dengan air yang sedang, bukan air dingin, agar terasa segar kembali. Bisa juga si suami wudlu atau mandi terlebih dahulu. Lalu mengulangi senggamanya berkali-kali. Sedangkan si istri tidak dianjurkan membasuh vaginanya karena bisa melonggarkan dan menurunkan gairah seksnya. Cukup dilap saja dengan kain bersih.

Begitulah sebagian adab bersenggama yang dipaparkan oleh Syekh Tahami. Selain itu, masih banyak pembahasan lainnya. Hubungan suami istri memiliki sisi-sisi yang menarik disimak dan perlu belajar panjang sebelum benar-benar mampu memasukinya. Apabila seorang calon suami belum belajar kitab ini, rasa-rasanya ia tak akan menemukan indahnya teknik-teknik bercinta sekaligus menangkap hikmah dan rahasia di balik kenikmatan berumahtangga yang sudah dipelajari panjang lebar dalam kehidupan kaum Muslimin sepanjang sejarah.


5. Kitab Su Nu Cing
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Su Nu Ching atau Sunü Jing - Klasik Nyonya Putih (素女經), adalah buku dasar seksologi Tao, klasik Tiongkok Tiongkok tentang praktik seksual Tao . Buku itu ditulis sebelum Dinasti Han, dan dikatakan bahwa penulis adalah Dewi Sunu di era Huang Di.

Di Cina buku ini hilang setelah Dinasti Tang (~907 M). Namun dilestarikan di Jepang oleh Tamba Yasara (丹波康赖) yang memasukkan buku ini ke dalam seri bukunya "Heart of Medicine" (医心方) (diterbitkan pada tahun 982 M), dan edisi terbaru "Su Nu Ching" diambil dari koleksi Yasara.

Konon ada tiga dewi di era Huangdi, yaitu Sunü, Xuannü dan Cainü; tiga saudara perempuan mengajarkan praktik seksual Tao Huangdi teori seks dan berlatih secara fisik dengannya, di antara mereka, Sunü pandai musik dan merupakan penulis "Su Nu Jing".

Seluruh buku dapat dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian berbicara tentang metode hubungan seksual. Ada 24 trik dalam "Tujuh Kerugian", "Delapan Manfaat" dan "Sembilan Metode"; bagian lainnya adalah tentang keterampilan menggoda , Lima Tanda, Lima Keinginan, dan Sepuluh Gerakan. Penjelasan untuk pria dan wanita sangat mudah.

Buku ini terutama tentang praktik seksual Tao dan tindakan pencegahan kesehatan. Ini mengajarkan posisi seks, keterampilan, musim dan seks, psikologi, metode kehamilan, teori seksologi dan banyak konotasi lainnya. Di antara mereka, "philharmonic" disebutkan, dan dianjurkan bahwa pria dan wanita harus setuju untuk bercinta, jika tidak maka berbahaya bagi tubuh.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
emineminna dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh LordFaries4.0
Halaman 1 dari 4
6. Kitab Serat Centhini
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Indonesia -- Serat Centhini merupakan buku kesusastraan Jawa yang aslinya bernama Suluk Tembangraras. Buku ini ditulis dalam bahasa dan tulisan Jawa dalam bentuk tembang Macapat oleh tiga punjangga dari Kerajaan Surakarta yakni Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan R. Ng. Sastradipura.

Buku yang selesai ditulis pada 1823 ini terdiri dari 4.000 halaman, disusun dalam 12 jilid. Halaman-halaman dalam Serat Centhini berisi hampir semua tata-cara, adat istiadat, legenda, cerita, ilmu-ilmu kebatinan dan pengetahuan lain yang hidup di kalangan masyarakat Jawa pada abad 16-17. Sastra tersebut juga membahas hubungan seksual yang berlaku di masa itu.

Menurut Elizabeth Inandiak, yang pernah menerjemahkan beberapa pethilan Serat Centhini dalam bahasa Prancis mengatakan bahasan tentang seks dalam Serat Centhini sekitar 10 sampai 20 persen dari keseluruhan isi buku tersebut.

"Memang dalam kitab Centhini ada sekitar 10 persen atau 20 persen dari seluruh karya yang bercerita tentang senggama, jadi ada macam-macam sifatnya, ada yang seperti binatang, seperti budak nafsu, ada juga yang [melakukan seks] karena Ilahi," ujar Elizabeth kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/5).

Hal ini juga diamini oleh Pakar kajian Jawa, Dewi Sundari yang melihat bahwa bahasan seks di Serat Centhini memiliki porsi yang cukup banyak disamping topik-topik lain tentang kehidupan orang Jawa. Hal ini karena seks menjadi bagian penting dalam rutinitas orang Jawa sehingga perlu ditulis dalam Serat Centhini.

"Kalau soal pandangan orang Jawa terhadap seksualitas dalam Serat Centhini, ya pada masanya orang Jawa menganggap seksualitas tersebut sebagai bagian dari keseharian dan hidup. Bahwasannya wawasan itu perlu dan pasangan suami istri juga butuh bahan pembelajaran," ujar Dewi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/6).

Hal ini pula yang mendorong para pujangga Serat Centhini dalam menulis tentang topik atau pengetahuan seputar seks dibuat sangat vulgar dan apa adanya.

Bahasa Vulgar dalam Serat Centhini
Elizabeth Inandiak mengatakan topik tentang seks atau senggama dalam Serat Centhini meliputi berbagai hal yang ditunjukkan lewat cerita beberapa tokoh di dalamnya. Penggambaran seks tersebut juga tergolong vulgar dan tanpa menggunakan metafora atau perumpamaan.

Hal ini pernah ia sampaikan dalam sebuah makalahnya yang berjudul Dari Erotika ke Sir Centhini (2012). Dalam makalah tersebut Elizabeth mengatakan bahwa Serat Centhini sering kali dijuluki sebagai karya sastra adiluhung yang erotis dan mistik.

Erotis ini digambarkan lewat adegan-adegan seksual yang 'liar' seperti yang dilakukan Cebolang yakni salah satu tokoh dalam Serat Centhini. Ia adalah seorang remaja yang bertubuh luwes dan berparas elok.

Cebolang sering menyulut nafsu wanita maupun pria yang tersentuh olehnya, walau tak sengaja. Ia pun menyadari dosa-dosanya dan memutuskan untuk menceburkan diri dalam kelakuan-kelakuan yang lebih hina lagi.

Cebolang pun berkelana bersama empat kawannya yang mengisi empat jilid Serat Centhini. Di salah satu bagian dalam jilid tersebut, Cebolang bertemu dengan Adipati Daha saat singgah di Ponorogo.

Sang Adipati terbawa nafsu melihat keelokan paras Cebolang dan memintanya untuk berhubungan seks.

"Suatu malam, Adipati bertanya, 'Mana yang lebih nikmat, menunggangi atau ditunggangi? Bedanya bagaimana?'"

"'Lebih nikmat ditunggangi, tiada bandingnya,' ujar Cebolang sembari menjelaskan kenikmatan saat direngkuh. Dan mereka pun bertukar posisi."

Tak hanya itu, topik mengenai hubungan badan juga sangat gamblang ditulis oleh ketiga pujangga pengarang Serat Centhini seperti yang terdapat Tembang 42.

"Cebolang berkata, 'Bagaimana pendapatmu, saudaraku? Bisa-bisa kita jatuh cinta, tapi itu apa benar-benar bahaya? Ayo, kita masuki mereka pelan-pelan dalam tidurnya, gadis berbuah dada kuning itu untukmu, aku ambil yang berperigi hitam legam. Nanti kita tukaran.'"

Di naskah lain membahas tentang teknik bersenggama untuk mencapai kepuasan badan dan raga seperti yang terdapat di tembang 72.

"Sesungguhnya lah, anakku, rahasia rasa perpindah-pindah di tubuh ronggeng selaras kisaran hari di penanggalan bulan. Jika kamu mau sanggama di hari pertama bulan, mulailah dengan mengecup dahi pasanganmu."

"Di hari kedua, cium pusarnya. Di hari ketiga, pijit betisnya. Di hari keempat, lengannya. Di hari kelima, kulum susunya, dan begitu seterusnya."

Penggalan ini menjadi bukti bahwa gambaran tentang hubungan seks yang terkandung dalam naskah Serat Centhini sangat detail. Hal-hal berbau seks seperti teknik bersenggama dibawakan lewat bahasa yang vulgar.

"Kaitannya dengan seksualitas, Serat Centhini menuliskan mulai dari adabnya berhubungan badan, kendalanya bersenggama, bahkan menyinggung juga soal orgy dan homoseksualitas," ujar Dewi Sundari.

Bukan Kamasutra Jawa
Kendati demikian, Elizabeth Inandiak menolak jika Serat Centhini dianggap sebagai kitab Kamasutra orang Jawa. Ia menilai penggambaran teknik bercinta atau bersenggama dalam Serat Centhini tidak banyak karena lebih fokus pada cara membangun hubungan batin.

"Jadi pertama ini orang-orang sudah salah persepsi, Kamasutra adalah sesuatu yang vulgar. Serat Centhini ya memang ada seperti Kamasutra tapi sedikit misalnya bagian malam 40 Amongraga dan istrinya itu bisa dikatakan Kamasutra, tapi di situ tidak banyak bicara soal teknik," ujar Elizabeth.

"Mereka berbicara soal ajaran dan syair supaya mereka jadi terbiasa. Supaya setelah 40 malam batin mereka saling kenal sehingga tubuh mereka hanya aksesoris. Berbeda kalau orang langsung bersenggama itu tubuh yang diutamakan, bukan batinnya sehingga mereka membalikkan konsep itu," lanjutnya.

Elizabeth memandang bahwa hubungan badan atau seks dalam Serat Centhini lebih pada konsep menyatukan badan, hati, dan pikiran dua orang.

Ajaran Sufi dalam Serat Centhini
Dalam pandangan Irfan Arifin, budayawan dan penulis buku Saya, Jawa, Islam, menilai Serat Centhini dekat dengan ajaran Tasawuf atau yang juga dikenal dengan sufisme.

Ilmu tersebut mengajarkan manusia untuk menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan abadi.

Ilmu tersebut juga terdapat dalam Serat Centhini seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Amongraga dan Tembangraras. Dikisahkan Amongraga dan istrinya, Tembangraras, melewatkan empat puluh malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh.

Tembangraras meminta Amongraga mengajarkan tentang ilmu makrifat atau ilmu yang paling tinggi nilainya di sepanjang empat puluh malam sejak mereka menikah.

Ajaran-ajaran Tasawuf hadir mengisi malam demi malam setiap perjumpaan Amongraga dan Tembangraras. Lalu pada malam ke-39, mereka Amongraga dan Tembangraras menjadi semakin dekat hingga batas diantara mereka telah hilang.

"Di kamar pengantin, angin diam
mengembus kandil. Ini malam ketiga puluh
sembilan. Di ranjang bidadari, Amongraga
dan Tambangraras tidak lagi melihat
ketelanjangan masing-masing maupun jarak
pemisah mereka. Tidak ada lagi haluan
maupun buritan, raib pula garis batas air."

Irfan mengatakan hal itu mirip dengan kisah Seribu Satu Malam di mana Scheherazade mengisahkan pada suaminya, Raja Shariar, sebuah cerita per malam. Cerita ini populer di kalangan penyair di Timur Tengah.

"Memang dalam masyarakat Jawa juga di aliran Sufisme, menyatunya batin dan dhohir (lahir) seseorang saat bersenggama itu kan seperti kita sedang menyatukan rasa tubuh jiwa pikiran. Makanya kalau mau menyatukan kehendak dengan semesta atau ketemu sama Tuhan ya dengan menyatukan jiwa dan raga. Itu ilmu di tasawuf dan di Jawa juga sama itu disebut dengan penyatuan rasa," ujar Irfan.

Hal ini juga diamini oleh Dewi Sundari yang memandang bahwa hubungan seks tidak hanya melibatkan hasrat atau nafsu semata.

"Seks bukan sekadar soal hasrat, tetapi berkaitan juga dengan penciptaan manusia di dunia. Agar terlahir sebagai manusia yang bertata krama, maka persetubuhan perlu dilakukan sesuai adabnya juga," ujar Dewi Sundari kepada CNNIndonesia.com.

Sementara itu menurut Elizabeth Indandiak, seks dalam Serat Centhini seperti yang dilakukan oleh Amongraga dan Tembangraras adalah seks yang penuh keindahan.

"Mereka bisa merasakan kehadiran Ilahi dalam senggama mereka. Ini sangat spiritual, walau sesudah itu Amongraga meninggalkan istrinya untuk mencari adik-adiknya, jadi ada keindahan ada kesedihan jadi luar biasa, saya tidak tahu di karya mana ada hubungan senggama seindah itu," ujarnya.

Mengutip dari Langgar.co, Amongraga merupakan putra dari Sunan Giri III dari Kerajaan Giri Kedaton. Ia memiliki dua adik yang bernama Jayengrana dan Niken Rangcangkapti.

Amongraga dan dua adiknya berpisah setelah kediaman mereka diserang oleh pasukan Kerajaan Mataram di bawah komando Sultan Agung pada 1636.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh LordFaries4.0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Update:
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
Kitab Su Nu Cing (Tambahan Bembahasan)
Seni Kamar Tidur, atau seksologi Tiongkok kuno telah berusia lebih dari 2.000 tahun. Namun sebelum dikenal beberapa abad terakhir ini, seni ini hampir lenyap, dan sedikit sekali dikenal oleh masyarakat Tiongkok sendiri, karena banyaknya literatur klasik seksologi yang hilang ditelan sejarah, hingga akhirnya kembali ditemukan oleh para arkeolog.

“Dalam semesta kita, semua kehidupan diciptakan dengan harmoni Yin dan Yang. Saat Yang mempertahankan keseimbangan dengan Yin, maka semua masalah akan terselesaikan, dan apabila Yin mempertahankan keseimbangan dengan Yang, maka semua hambatan dalam jalannya akan hilang. Yin dan Yang harus saling membantu satu sama lain.

Maka saat itulah laki-laki akan menjadi kuat dan perkasa. Sang perempuan pun akan siap untuk menerimanya dengan terbuka. Keduanya akan bersatu dalam kesatuan, dan pelepasan keduanya akan saling menguntungkan satu sama lain.” – Xuan Nu, dalam kitab Su Nu Jing (素女经).

Karya-karya klasik seksologi ini secara mengejutkan bercerita pada kita, bahwa “seni persenggamaan kuno” ini adalah gabungan yang menakjubkan antara mistisme dan alkimia pra-sains.

Uniknya, terjaminnya kepuasan seksual perempuan adalah konsekuensi yang menyenangkan dari “Seni Kamar Tidur” ini.

Tidak diketahui dengan pasti, apakah pendekatan ini ada hubungannya dengan kenyataan bahwa ketiga seksolog Tiongkok kuno yang paling pertama dan paling terkenal, serta yang pandangannya menjadi pedoman para filsuf dan ahli alkimia Tao kuno adalah para seksolog perempuan?

Kebanyakan orang hanya tahu bahwa kitab seks paling awal dan tua di dunia adalah Kama Sutra, karya Vatsyayana dari India, pada abad ke-3 Masehi.

Namun sebetulnya di Tiongkok ada kitab seks yang lebih tua dari Kama Sutra, yaitu Su Nu Jing (素女经), dimana jika diterjemahan secara harafiah berarti “Kitab Gadis Elemental“, atau “Kitab Sang Perawan“.

Walaupun sama-sama membahas seks, kedua kitab ini sangat berbeda. Kama Sutra hanya membahas soal teknik bercumbu, sementara kitab ini selain membahas teknik bercumbu, juga membahas teknik berhubungan seksual, kesehatan dan makna filosofis dari relasi seksual itu sendiri.

Posisi-posisi yang dianjurkan di dalam Su Nu Jing bisa diterapkan dengan mudah dan lebih realistis karena berasal dari pengalaman nyata, sementara dalam Kama Sutra banyak posisi yang di antaranya mencontohkan posisi sulit, yang sebenarnya mungkin lebih mudah dilakukan oleh ahli yoga, atau manusia karet.

Kitab ini termasuk dari kitab-kitab klasik Taoisme paling sakral, dan berisi tentang pengetahuan tentang seksualitas dan relasi seksual bangsa Tiongkok kuno.

Hingga saat ini, penulisnya masih belum diketahui, namun beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa kitab ini berasal dari era dinasti Han, yaitu sekitar tahun 200 SM.

Salah satu konten paling terkenal di dalamnya adalah kisah tentang dialog mengenai pengalaman seksual Kaisar Huang Di dengan para penasehatnya, yang terdiri dari 3 orang wanita bernama Su Nu (Gadis Elemental), Xuan Nu (Gadis Misterius) dan Cai Nu (Gadis Pelangi), serta satu orang tabib pria bernama Peng Zi.


Su Nu Jing (素女经), Kitab “Kama Sutra” Klasik Tertua di Dunia

Dalam beberapa literatur lain, Su Nu sendiri disebut-sebut sebagai seorang Dewi.

Secara mengejutkan, dibalik kenyataan bahwa selama berabad-abad bahasan tentang seksualitas dipandang tabu dan sesuatu yang kotor serta menjijikkan oleh masyarakat Tiongkok hingga saat ini, justru di masa lalu para alkemis Tao telah menemukan sisi lain yang tidak terpikirkan oleh bangsa lainnya mengenai filosofi seks dalam kehidupan.

Saat itu, bangsa barat juga masih menganggap seks sebagai hal yang tabu (walaupun mereka sangat liar dalam urusan seksual), sementara bahasan tentang seks di timur telah dibukukan hingga berjilid-jilid, dimana Su Nu Jing adalah salah satunya dan yang berumur paling tua dari semuanya.

Para alkemis Tao kuno menemukan bahwa ritual seks memiliki unsur magis yang luar biasa, dimana itu memberikan kesehatan jasmani dan rohani serta memperpanjang umur, sehingga karenanya harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan.

Walaupun sebelumnya para seksolog Barat menganggap ini konyol, namun sekarang terbukti bahwa isi buku ini sangat relevan dengan hasil penelitian mengenai hubungan antara seks dan kesehatan saat ini.

Dengan semua panduan seks yang sangat berguna dan lengkap di dalamnya, tak sedikit para ahli menyebut buku ini sebagai “kitab Taoisme untuk bercinta”.

Secara garis besar, buku ini menjelaskan manfaat dari hubungan seksual, namun terdapat banyak penjelasan detail di sana. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai pertanyaan sederhana sang Kaisar mengenai seks, yang dijelaskan dengan penjelasan yang sangat detail oleh Su Nu.

Selain manfaat dari hubungan seks, di dalam buku ini dijelaskan juga tentang teknik-teknik hubungan seksual yang menyenangkan (bahkan tidak sedikit juga yang menantang). Makna kegiatan seks tersebut dijelaskan dari sudut pandang mental dan spiritual, alih-alih menuliskannya lewat bahasa yang penuh birahi.

Walaupun penulisnya anonim, gaya kesusastraan dan isinya memberi kesan bahwa buku ini ditulis oleh orang-orang terdidik, serta memiliki pengetahuan sastra klasik yang sangat baik.

Ciri khas kitab inilah yang mempengaruhi kitab-kitab seksologi klasik setelahnya, dimana para penulisnya adalah para tabib, penulis esai, pujangga, ahli alkimia, serta filsuf yang paling disegani pada jamannya, karena keluhuran ilmu mereka.

Selain teknik, posisi, serta manfaat hubungan seksual, buku ini juga menulis tentang ramuan obat serta tumbuhan-tumbuhan yang bisa membantu membangkitkan gairah seksual. Dalam buku ini, hubungan seks dijelaskan dengan bahasa kiasan yang puitis, namun tepat sasaran, serta menggunakan kiasan unik bagi setiap metode yang dipaparkan.

Contohnya adalah penyebutan alat kelamin pria sebagai ‘akar giok‘, ‘naga‘ atau ‘tongkat giok‘ , sementara untuk alat kelamin wanita sebagai ‘gerbang permata‘, ‘istana surgawi‘ atau ‘teratai merah‘.

Selain itu dalam Su Nu Jing, kiasan juga digunakan untuk penyebutan beberapa teknik hubungan seksual seperti ‘Naga-Naga Bersalto‘, ‘Harimau Melangkah‘, ‘Kera Bergulat‘, ‘Kelinci Menjilat Bulu‘, ‘Leher-Leher Bangau Saling Melilit‘, ‘Kucing dan Tikus Berbagi Lubang‘ dan sebagainya.

Buku ini memang hanya berbentuk dialog, serta garis-garis besarnya hanya menjelaskan manfaat. Namun disana terdapat penjelasan detail, dan tidak hanya soal teknik saja, tapi juga hal-hal yang berhubungan dengan psikologis.

Misalnya memanfaatkan segala hal di masing-masing pribadi, seperti cinta, mental, wibawa, untuk dibawa ke ranjang dan menghasilkan satu aktivitas percintaan yang benar-benar luar biasa.

Di sana dijelaskan, bahwa tujuan seks bukanlah sekedar untuk melahirkan keturunan atau pelepasan kebutuhan biologis, tapi juga untuk kesehatan dan kesenangan keduanya.

Seni berhubungan seksual dalam konsep seksologi Tao disebut juga sebagai Seni Kamar Tidur (Hanzi : 房中補益, pinyin : Fáng zhōng bǔyì, Art of Bedchamber)

Konsep Seksologi dalam Literatur Alkimia Tao
Inti dari konsep peraihan energi seksual dalam seksologi Tao adalah sebagai berikut :

Bagi wanita, seringnya senggama dan orgasme merupakan cara paling efisien untuk menjaga cairan dan energi. Namun bagi pria, seringnya senggama dengan mengurangi terjadinya ejakulasi merupakan teknik tinggi untuk memelihara cairan dan energi.

Oleh karena itu, bagi wanita, untuk mendapatkan energi seksual yang menguntungkan bagi tubuhnya, ia harus melepaskan sekresi ‘gerbang permata’-nya, dan menyerap air mani laki-laki, atau jing (精) dari proses ejakulasi.

Tapi apabila ia menyerap air mani pasangannya (terutama jika berlebihan), itu sama saja dengan menguras energi serta vitalitas laki-laki pasangannya, dan akan memperpendek umur laki-laki tersebut.

Berbeda dengan perempuan yang memiliki energi seksual tak terbatas, energi seksual laki-laki lebih terbatas, sehingga harus lebih dikendalikan.

Lalu bagaimana caranya laki-laki mendapat kenikmatan seksual tanpa Ejakulasi?
Mungkin ini akan membuat kita bingung (dan rasanya mustahil), juga menjadi kerisauan Kaisar ketika akan mempraktekkan hal ini. Tapi pertanyaan itu terjawab oleh Cai Nu, dan teknik ini disebut “Teknik Pengiritan Air Mani” :

“Tak ada kenikmatan yang terganggu. Setelah ejakulasi, seorang pria akan merasa lelah, telinganya berdengung, matanya mengantuk, dan ingin segera tidur. Ia juga merasa lemas. haus, dan kaku.

Ejakulasi memang memberikan kenikmatan, tapi cuma sesaat. Selanjutnya diikuti penderitaan yang berkepanjangan. Inilah kenikmatan yang artifisial, atau bersifat sementara.

Tetapi, jika seorang pria mau mengatur ejakulasinya seminim mungkin dengan menahan maninya, maka tubuhnya akan menjadi kuat dan pikirannya tak bercabang, jernih.

Dengan sesekali menghindari diri dari sensasi nikmat sesaat ejakulasi, cinta si pria terhadap pasangannya akan bertambah besar, ia seakan tidak akan pernah cukup memasuki “gerbang permata”.

Bukankah ini akan menjadi kenikmatan seks yang tak ada taranya?”

Yang unik dari kitab ini, serta kebanyakan konsep seks dalam alkimia Tao, dari setiap penjelasan (tahap demi tahap) tentang teknik berhubungan seks, kenikmatan puncak wanita menjadi tujuan utama yang harus diperhatikan oleh laki-laki, karena akan berpengaruh pada kesehatan seksual laki-laki pasangannya, demi mencapai manfaat kesehatan dari hubungan seksual itu sendiri.

Dalam konsep seksologi Tao, kedengarannya wanita lebih banyak diuntungkan, karena adanya pertukaran energi seksual yang dilepaskan oleh masing-masing, tapi akan merugikan si laki-laki, terutama apabila ia menyerap energi terlalu banyak dari benih pasangannya.

Selain itu, wanita adalah pelaku aktif hubungan seksual, sama halnya seperti laki-laki, bukan sebagai obyek seksual sebagaimana posisi wanita dalam hubungan seksual berbasis tradisi patriarki umumnya.

Selain Su Nu Jing, ada beberapa lagi buku manual kitab seksologi klasik kuno yang berhasil ditemukan oleh para arkeolog:

1. Su Nu Fang (Hanzi : 素女方, Prescriptions of the Immaculate Girl; Resep-Resep Sang Gadis Perawan) – Era dinasti Han
2. Yu Fang Zhi Yao (Hanzi : 玉房指要, Important Matters of Jade Chamber ; Hal-Hal Penting dari Kamar Giok) – Awal dinasti Sui (581 M)

3. Yu Fang Mi Jue (Hanzi :玉房秘诀, Secret Instructions Concerning the Jade Chamber; Instruksi Rahasia tentang Kamar Giok) – Awal dinasti Sui (581 M)
4. Dong Zuan Zi (Hanzi : 洞玄子, Book of Mystery-Penetrating Master; Kitab Master Penyingkap Tabir Misteri) – Sebelum dinasti Tang (abad ke-5 M)

5. Da Le Fu (Hanzi : 大乐赋, Poetical Essay on the Supreme Joy; Esai-Esai Puitis tentang Kenikmatan Tertinggi) – Bo Xingjian, abad ke-9

Sebagai tambahan, bagi pembaca yang ingin mengenal lebih jauh dan lebih detail mengenai konsep seksologi dalam alkimia Tao selain yang tertera pada referensi dibawah, ada rekomendasi beberapa literatur yang cocok (semuanya dalam berbahasa Inggris).

1. The Sexual Teaching of White Tigress : Secrets of the Female Taoist Masters. Hsi Lai
2. The Sexual Teaching of Jade Dragon : Taoist Methods for Male Sexual Revitalization. Hsi Lai.

3. The Tao of Love and Sex, Mantak Chia & William U. Wei.
4. Taoist Secrets of Love : Cultivating Male Sexual Energy. Mantak Chia.
5. Art of Bedchamber : The Chinese Sexual Yoga Classics. Douglas Wile.

Walaupun budaya timur (konon) lebih dikenal sebagai budaya yang menjunjung tinggi nilai kesusilaan, dengan menganggap bahwa bahasan tentang aktivitas percintaan (seks) di kamar tidur adalah bahasan yang amat tabu, namun kita tidak bisa menampik bahwa seks dan seksualitas adalah sesuatu yang alamiah (自然, Ceran), dan tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan manusia.

Kebutuhan akan hal ini sangat manusiawi, sehingga hubungan seksual adalah sesuatu yang indah dan menyehatkan apabila dilakukan dengan benar, bertanggung jawab, dan tidak egois, dengan tujuan untuk menyenangkan satu sama lain.
profile-picture
yoseful memberi reputasi
Diubah oleh LordFaries4.0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Buat Update
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
profile-picture
yoseful memberi reputasi
Diubah oleh LordFaries4.0
Diubah oleh LordFaries4.0
wow banyak juga kitab ena2nya
profile-picture
LordFaries4.0 memberi reputasi
emoticon-Kaskus Banget seks sepanjang masa
profile-picture
profile-picture
leanyung92 dan LordFaries4.0 memberi reputasi
era seblon ada internet, pas denger kata kamasutra kayanya tabu ya.. padahal ini ilmu. haha
Baru tau gue
emoticon-Bingung (S)
masih penasaran sama kitab kamasutra asli tapi versi terjemahan, bahasa inggris juga nggak apa apa. kelihatannya banyak penjelasan di situ.

kalau kamasutra pdf yang udah nyebar di internet, ane baca kebanyakan pake gambar visual posisi dan variasi seks nya. ada penjelasannya singkat. bagusnya sih jadi langsung ada gambaran. tapi masih penasaran juga sama filosofi di baliknya.

kalau kitab qurrotul 'uyun kan emang lebih fokus ke tulisan, pengin baca kamasutra yg begini juga.
profile-picture
Tonozz memberi reputasi
kalo kitab era 80-90an karya enny arrow ya bre..
profile-picture
sav.grezza memberi reputasi
Waduh, yg versi free pdf nya ada jg kah link nya disini, gan..... Ingin mmbava lbh lanjut, isi dr kitab2 cinta tsb...... emoticon-Big Grin
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Mengenal Kitab Klasik Tentang Seks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
48y24rd dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh MirrorBoy
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan
Kalau jaman skrg kitabnya cuma perlu internet browsing play
🙄
profile-picture
kojhon memberi reputasi
Ini mah cocoknya judul di ganti jadi " Buku coli sepanjang masa " Bhahahahahhahaahhahaemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kojhon dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh alamskarat
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
alangkah bagusnya jika dilengkapi dengan vidio gan ..
profile-picture
profile-picture
Gurke dan kojhon memberi reputasi
Quote:


Salah satu manfaat Wudhu...

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jha179 dan 2 lainnya memberi reputasi
Menarik sekali
Kalian sudah tahu kitab sex orang Sunda?
Namanya "Kama Sunda".
profile-picture
profile-picture
48y24rd dan kojhon memberi reputasi
Diubah oleh worldgovt.
Minim ilustrasiemoticon-Cool
profile-picture
kojhon memberi reputasi
Nghewek aja pake kitab segala bre...emoticon-Leh Uga

NGHEWEK PAKE TENAGA DALEM ADA GA BRE?
profile-picture
kojhon memberi reputasi
Diubah oleh NEVERTALK1
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di