KOMUNITAS
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Kwee Thiam Hong, Pejuang Kemerdekaan dan Pelaku Sumpah Pemuda
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60d0c5e0528590780c2b8288/kwee-thiam-hong-pejuang-kemerdekaan-dan-pelaku-sumpah-pemuda

Kwee Thiam Hong, Pejuang Kemerdekaan dan Pelaku Sumpah Pemuda

Kwee Thiam Hong, Pejuang Kemerdekaan dan Pelaku Sumpah Pemuda
Malam Senin, 28 Oktober 1928, di gedung Indonesische Clubhuis, Kramat, Batavia. Para pemuda berkumpul, menyimak paparan wakil-wakil organisasi peserta Kongres Pemuda II tentang kepanduan, pergerakan pemuda, dan persatuan Indonesia. Kongres terbagi atas tiga sidang dan telah berjalan dua hari. Malam itu Kongres masuk agenda sidang terakhir.

Sugondo Djojopuspito, ketua Kongres, mendapat giliran bicara setelah paparan wakil-wakil organisasi permuda. Dia membacakan tiga keputusan Kongres: bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Peserta Kongres menyetujui tiga keputusan itu secara bulat. Tak ada diskusi lagi. Peserta Kongres membaca ulang keputusan dengan nyaring.

Kemudian Wage Rudolf Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola. Dolly, putri Haji Agus Salim, mengisi vokalnya. Peserta berdiri dan menyanyikannya bareng-bareng. Kongres pun selesai.

Peserta merayakan hasil kongres dengan cara dan kelompoknya masing-masing. Anggota Jong Sumatranen Bond (JSB) menggelar acara api unggun di daerah Tanah Tinggi, Batavia.

“Ternyata api unggun diserbu polisi Belanda, sehingga terpaksa bubar dan sebagian hadirin digiring ke Hopbiro (kantor polisi),” ungkap Kwee Thiam Hong dalam “Ada Juga Pemuda ‘Non-Pri’ dalam Sumpah Pemuda 1928”, termuat di Kompas, 25 Oktober 1978.

Kwee Thiam Hong kala itu remaja peranakan Tionghoa kelahiran Palembang. Umurnya 15 tahun dan duduk di MULO (setingkat SMP). Dia termasuk anggota JSB sekaligus peserta Kongres Pemuda II. Dia hadir bersama tiga orang kawannya: John Liauw Tjoan-hok, Oei Kay-siang, dan Tjio Dinkwie.

Kwee diinterogasi oleh polisi semalaman di Hopbiro. Pertanyaan polisi berputar pada nama, alamat, dan jabatan organisasi Kwee. Terhadap pertanyaan jabatan organisasi, Kwee menjawab: “Pemukul genderang dalam kepanduan JSB.”

Nama Kwee dan kawan-kawannya jarang tersua dalam sejarah Kongres Pemuda. Padahal kehadiran mereka menandakan bahwa pemuda peranakan Tionghoa turut mendukung Sumpah Pemuda.

Aktif di JSB
Kwee datang ke Kongres tidak sekadar ikut-ikutan. Dia memiliki kesamaan pandangan dengan para pemuda penyelenggara dan peserta kongres. “Kami merasa senasib dan sependeritaan, menghadapi lawan yang sama, yaitu kolonialisme Belanda. Saya tidak benci Belanda lho, tapi yang kami lawan adalah stelsel kolonialismenya,” kata Kwee.

Kesadaran Kwee terhadap adanya kolonialisme muncul ketika dirinya merasakan sendiri diskriminasi di HBS (pendidikan setingkat SMP untuk golongan terpandang). Dia tidak betah bersekolah di HBS dan memilih pindah ke MULO. “Di MULO siswanya campur baur dari pelbagai daerah suku dan keturunan… Melahirkan suatu solidaritas yang mengatasi suku dan golongan,” cerita Kwee.

Kwee lantas bergabung dengan JSB. “Sebab saya wong Palembang, saya lahir di Palembang.” JSB berdiri pada 9 Desember 1917 di Batavia.

Bahder Johan, salah satu pendiri JSB, mengatakan bahwa tujuan JSB antara lain menghilangkan semua prasangka mengenai ras atau suku bangsa dan memperkuat ikatan di antara pemuda-pemuda Sumatra yang sedang belajar di perantauan. Demikian catat almarhum Magdalia, pengajar Program Studi Sejarah Universitas Indonesia, dalam Jong Sumatranen Bond.

JSB juga mengadakan kursus politik informal untuk mencapai tujuan lainnya, yaitu membentuk pemimpin di masyarakat. Pematerinya tokoh-tokoh pergerakan Nasional seperti H.O.S Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Sukarno.

Dari kursus-kursus politik itulah Kwee memperoleh pandangan tentang Indonesia merdeka. “Ketika itu kami sudah menghendaki Indonesia merdeka. Hanya waktunya belum dapat dipastikan,” kata Kwee dalam Tempo, 6 November 1982.

JSB tercatat sebagai salah satu organisasi penyelenggara Kongres Pemuda II. Ikhtiar JSB dan organisasi pemuda lainnya menggelar Kongres Pemuda II mengarahkan para pemuda ke tindakan kebangsaan yang lebih luas. Misalnya dengan membentuk organisasi persatuan pemuda bernama Indonesia Moeda pada 31 Desember 1930.

Tapi Kwee tidak lagi terlibat dalam peristiwa itu. Dia bilang tidak tertarik lagi terjun ke dunia pergerakan dan kepemudaan setelah Kongres. Dia absen selama beberapa lama dari dunia tersebut.


Jadi Intel Sjahrir
Menjelang kemerdekaan, ketertarikan Kwee pada gerakan kebangsaan mencuat lagi. Dia sangat kepincut dengan gagasan Sutan Sjahrir dan mengikuti diskusi-sikusi politiknya. “Mengagumi pikiran-pikiran sosialismenya Sjahrir, di belakang hari Thiam Hong menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia,” catat Tempo.

Ketertarikan dan keterlibatan Kwee dengan gagasan Sutan Sjahrir tidak lepas dari lingkaran pergaulannya semasa sekolah MULO. Dia punya teman sekamar bernama Djohan Sjahroezah. Temannya ini kelak menjadi menantu Haji Agus Salim dan penggerak Partai Sosialis Indonesia.

Kedekatan Kwee dengan Djohan tergambar dalam peristiwa pembebasan Djohan pada masa Agresi Militer Belanda pertama (Juli—Agustus 1947). Belanda sempat menahan Djohan beberapa waktu. Kwee mengetahui penahanan ini. Dia melapor ke Haji Agus Salim. “Atas pertolongan mertuanya yang memang disegani lawan dan kawan itulah Djohan selamat,” lanjut Tempo.

Pembebasan ini melambungkan nama Kwee di hadapan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Kwee memperoleh tugas tidak resmi menjadi intel Republik dari Sutan Sjahrir. “Soalnya Belanda kan selalu bersikap lunak menghadapi orang-orang keturunan Tionghoa daripada terhadap orang Indonesia asli,” kata Kwee.

Setelah kekuasaan Sjahrir tumbang, aktivitas politik Kwee kembali samar. Dia lebih banyak terlibat urusan bisnis dan ekonomi. Dia mendukung penuh gagasan ekonomi koperasi ala Bung Hatta dan pembauran keturunan Tionghoa.

Kwee mengganti namanya menjadi Daud Budiman pada 1965. Sebabnya bukan karena dia setuju pembauran, melainkan lantaran anaknya dipersulit masuk universitas. Melalui perubahan nama, anaknya baru bisa masuk universitas.

Kwee tak pernah suka namanya berganti. Menurutnya pembauran tak mesti berhubungan dengan perubahan nama. “Nama itu kan pemberian orangtua yang sudah dipikirkan masak-masak waktu lahir… Buat apa pakai nama Indonesia kalau jiwanya bukan Indonesia lagi?” ungkap Kwee.

Kwee lebih menekankan pentingnya pembauran melalui gagasan dan perilaku ketimbang lewat hal-hal formal dan lahir dari situasi terpaksa. Dia juga sempat menyayangkan masih adanya pengotakan garis rasial pribumi dan non-pribumi.

Kwee tutup usia pada 1997, setahun sebelum kerusuhan berbau etnis pada Mei 1998. Meski dia telah lama meninggal, kegusarannya masih terasa hingga sekarang. Terutama menjelang pemilu atau pilkada ketika politik identitas dimunculkan untuk memperoleh suara.

https://historia.id/politik/articles...s-pemuda-vZXRO
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anton2019827 dan 19 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Antara AR Baswedan dan Kwee Thiam Hong dalam Sumpah Pemuda
Kwee Thiam Hong, Pejuang Kemerdekaan dan Pelaku Sumpah Pemuda
Jakarta - Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 merumuskan Sumpah Pemuda. Kala itu para pemuda bukan cuma mempersatukan kelompok dari daerah-daerah, tapi juga warga peranakan bangsa lain.

Peserta Kongres Pemuda II adalah para organisasi seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPPI, dan lainnya. Kongres tersebut dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito yang berasal dari PPPI.

Salah satu anggota Jong Sumatranen Bond adalah orang peranakan Tionghoa bernama Kwee Thiam Hong. Saat itu usianya baru sekitar 18 tahun.

Kwee bergabung dengan Jong Sumatranen Bond karena lahir di Palembang. Dalam buku 'Peranakan idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya' yang ditulis oleh Yunus Yahya, ada cerita di mana Kwee tak merasa asing dari rekan-rekannya sesama pemuda lain sekalipun dirinya keturunan China.

"Tapi tidak ada masalah. Tidak ada yang mempersoalkan. Saya merasa salah seorang dari mereka dan mereka menganggap saya demikian pula," ungkap Kwee seperti dikutip dalam buku tersebut.

Masa remaja Kwee banyak terpengaruh pidato-pidato pemimpin Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto dan muridnya, Sukarno yang di kemudian hari menjadi Presiden pertama RI. Akhirnya dia terdorong mengikuti rapat-rapat pemuda.

Pada saat Kongres Pemuda II berlangsung, Kwee juga mengajak teman-temannya yang juga peranakan Tionghoa. Mereka adalah Ong Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Jin Kwie.

Setelah masa kemerdekaan, Kwee mengganti namanya menjadi Daud Budiman. Dia meninggal dunia pada tahun 1997.

Ada lagi peranakan Tionghoa yang berperan saat Sumpah Pemuda. Dia tergabung dalam Jong Islamieten Bond.

"Iya, namanya Mohammad Tjai," kata sejarawan UI Rushdy Hoesein saat berbincang dengan detikcom, Minggu (28/10/2018).

Menurut Rushdy, Djohan Mohammad Tjai ikut meneken rumusan Kongres Pemuda II kala itu. Namun memang namanya seakan tak terdengar lagi, setidaknya tidak seperti Mohammad Yamin sang Sekretaris Kongres Pemuda II.

Selain peranakan Tionghoa, ada pula keturunan Arab yang turut menyalakan semangat persatuan untuk merdeka. Tokoh pemuda keturunan Arab saat itu adalah Abdurrahman Baswedan yang merupakan kakek dari Gubernur DKI Jakarta saat ini, Anies Rasyid Baswedan.

Setelah Kongres Pemuda II yang menghasilkan putusan berupa Sumpah Pemuda yang kita kenal saat ini, ada pula kongres yang digagas pemuda-pemuda keturunan Arab. Mereka berkongres di Semarang atas gagasan AR Baswedan.

"Komposisinya sudah beragam, clue-nya adalah mereka mesti bersatu, karenanya mereka mesti bersatu, ada Tionghoa ada Arab, ada pribumi," ujar sejarawan yang juga Ketua Komunitas Historia Asep Kambali.

Pada kongres tersebut, mereka juga menghasilkan sebuah Sumpah Pemuda keturunan Arab. Kongres itu dihelat pada 4 Oktober 1934.

Inisiasi kongres ini bermula pada saat 5 tahun setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, sejumlah warga Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda mencapai satu titik pencarian identitas mereka. Para keturunan Arab berniat untuk melebur dan menjadikan Indonesia sebagai tanah air mereka. Sehingga mereka tak lagi ingin mengait-ngaitkan Yaman sebagai negeri asal-usul mereka.

AR Baswedan, yang saat itu berusia 27 tahun, mengumpulkan warga keturunan Arab. Dia lalu mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI). PAI ini mendukung perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.
Kwee Thiam Hong, Pejuang Kemerdekaan dan Pelaku Sumpah Pemuda
Menurut pengamat masalah keturunan Arab di Indonesia, Hasan Bahanan, AR Baswedan terinspirasi oleh Sumpah Pemuda 1928. Dia juga memiliki semangat persatuan.

"Sumpah Pemuda 1928 yang melintasi batas-batas etnik dan agama berpengaruh pada orientasi kebernegaraan komunitas Arab Hadrami di Hindia Belanda," kata Hasan kepada BBC Indonesia 28 Oktober 2015.

Ada tiga butir 'Sumpah Pemuda keturunan Arab' tersebut seperti yang dimuat dalam buku 'AR Baswedan: Membangun Bangsa, merajut Keindonesiaan' tahun 2014.

Berikut ketiga butir 'Sumpah Pemuda keturunan Arab' tersebut:

Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia;
Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri);
Ketiga, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

https://news.detik.com/berita/d-4276...-sumpah-pemuda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yonalpro dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh LordFaries4.0
pertamaaax
thread agan bener-bener keren semua
lanjutkan gan! ane tunggu thread lainnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agus774 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mereka pasti nyesel klo liat Kondisi sekarang
profile-picture
profile-picture
agus774 dan Gurke memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Jadi yg sekarang dipuja2 tuh makhluk yaman.
Sedangkan chinaq disingkirkan.
Dan di sumpah pemuda 1928 tak ada jong yaman.
Adapun sumpah pemudanya susulan 1934
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NikitasJ dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh palmox
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
Menarik sekali
profile-picture
agus774 memberi reputasi
orang tionghoa saat perang 10 november di SBY pada kemana kog kata veteran mereka tidak tunjukan batang hidung ?
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan
SUMMON ANAK BP emoticon-Nyepi emoticon-Nyepi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Bener bener flashback dan refresh ke pelajaran Sejarah Nasional Indonesia.
Habib Nopel Bamukmin ama ustad Omad pasti mao bilang di tuh kafir jonemoticon-Sorry
Bhineka tunggal ika
profile-picture
agus774 memberi reputasi
Thread tentang Kwee, eh ada susupan tentang A.R. Baswedan.

Dah lah.. emoticon-Leh Uga
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 8 balasan
sejarah negeri ini penuh pahlawan berjasa ya
thread nya bagus tapi ane belom baca, panjang amat.
"Soalnya Belanda kan selalu bersikap lunak menghadapi orang-orang keturunan Tionghoa daripada terhadap orang Indonesia asli,” kata Kwee.

iyap ini confirmed dari cerita nenekku yg beserta keluarganya termasuk chinese region jatim,
plus tambahan info yaitu lunak thdp golongan pribumi yg bekerja di pemerintahan semasa pemerintahan kolonialisme, yg ini confirmed dari kakekku.
Harusnya pribumi dan pendatang bisa bekerjasama bangun RI

Kwee Thiam Hong, Pejuang Kemerdekaan dan Pelaku Sumpah Pemuda
profile-picture
Melodica.offici memberi reputasi
Diubah oleh NEVERTALK1
saat aku kecil th 80an wni keturunan cina sangat ramah dan membaur di masyarakat
profile-picture
profile-picture
agus774 dan greatspammer memberi reputasi
Utusan sumatra
Knp ya pemuda2 jaman dulu terlihat kompak tanpa unsur SARA demi satu tujuan,Indonesia Djaya
Ijin baca dulu ganemoticon-Cool
Halaman 1 dari 2


×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di