CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Titip Rindu Buat Ayah di Surga
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60a306d7eabdfa3b1e2dcbda/titip-rindu-buat-ayah-di-surga

Titip Rindu Buat Ayah di Surga

"Mas, besok sudah memasuki bulan Ramadan. Itu artinya, lebaran tinggal satu bulan lagi. Mudah-mudahan kita bisa mudik tahun ini ya, Mas," ucapku pada Mas Romi saat kami sedang menyantap makan malam.
Titip Rindu Buat Ayah di Surga
Lelaki yang sudah mendampingiku selama empat tahun itu hanya menyunggingkan senyum manis padaku. Ia tidak menjawabnya.
"Semoga Allah mengabulkan doa kita ya, Mas. Aku rindu sekali pada ayah dan ibu," ucapku lagi.
Tak terasa, mataku tiba-tiba berembun, pandanganku menjadi buram karena ada kaca-kaca bening yang berlomba ingin keluar. Tetapi sebisa mungkin, kutahan air mata, jangan sampai Mas Romi melihatku menangis lagi. Pasti ia akan ikut sedih dan akan menambah beban pikiran baginya.

"Sabar ya, Dek. Insyaallah, suatu saat nanti kita akan mudik, Dek. Maafkan Mas yang belum bisa memenuhi keinginanmu. Mas belum bisa membahagiakanmu." Suara Mas Romi terdengar berat saat mengucapkan kalimat tersebut.
Sepertinya impianku untuk mudik dan merayakan lebaran idul Fitri di kampung halaman tahun ini tidak akan terwujud. Mengingat lebaran tinggal satu bulan lagi, sedangkan uang tabungan belum ada sama sekali.
Aku tahu, Mas Romi sudah berusaha Sedaya mampunya. Ia bahkan bekerja dari pagi hingga malam agar bisa membahagiakanku. Tapi apa boleh buat, gaji Mas Romi hanya cukup untuk membayar kontrakan dan juga biaya makan sehari-hari.
Empat tahun sudah, berpisah dari orang tua dan sanak saudara. Empat tahun juga aku memendam rindu yang mendalam, terutama kepada ayah dan ibuku.
Setelah menikahiku, Mas Romi langsung membawaku ke kota ini. Kota yang sebelumnya tidak pernah aku datangi.
Jarak antara kampung halamanku ke kota tempat tinggalku saat ini lumayan jauh, yakni memakan waktu dua hari tiga malam jika melewati jalur darat. Naik bus berhari-hari, setelah itu naik kapal very, lanjut lagi naik travel sekitar tiga jam. Sedangkan untuk jalur udara, hanya membutuhkan waktu satu hari saja, tapi ongkosnya lumayan menguras kantong.

***
Hari ini adalah puasa pertama, 1 Ramadan. Kembali aku menjalani bulan yang suci dan penuh berkah ini di rantau orang, hanya bersama suami dan putri kecilku yang berusia tiga tahun.
Ingin rasanya mengulang momen saat aku masih bersama keluarga di kampung halaman. Semua kenangan itu masih terukir indah di dalam memori.
Di saat puasa seperti ini, ayah lah orang yang paling bersemangat. Beliau selalu mengajarkan kepada kami, anak-anaknya agar senantiasa menjalankan perintah Allah, termasuk salah satunya menunaikan ibadah puasa.
Saat mengingat momen indah itu, aku selalu menitikkan air mata. Rindu ini semakin membuncah, rasanya aku tidak sanggup lagi untuk menahannya.
Dering ponsel yang sedang di charge di atas meja membuyarkan lamunanku. Entah sudah berapa lama aku duduk disini, termenung sendiri.

Aku segera meraihnya, di layar tampak kontak dengan nama 'ayah'. Ternyata ayah yang menelponku.
Mungkinkan ayah juga merasakan hal yang sama denganku? Merasakan rindu yang teramat sangat?
"Halo, assalamu'alaikum," sapaku terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam, Nak Adel. Gimana kabar kalian? Sehat?" ayah bertanya balik padaku.
"Alhamdullilah, sehat, Yah. Ayah dan ibu sehat kan?" tanyaku untuk memastikannya. Terakhir telponan dengan ibu sekitar seminggu yang lalu. Jadi, tidak tahu lagi kabar selanjutnya.
Sebenarnya aku malu jika ayah atau ibu yang menelponku. Aku merasa jadi anak yang tidak berguna karena tidak sanggup membeli pulsa, hanya untuk menelpon mereka. Bukannya pelit, daripada beli pulsa, lebih baik uangnya di gunakan untuk beli beras.
"Ibumu juga sehat, Nak. Ibumu sedang tidak berada di rumah. Ibumu pergi ke pasar, beliau bilang akan membelikan baju lebaran untuk cucunya. Oh ya, kalian jadi mudik kan,Nak?"
Deg, jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang, ada rasa takut yang seketika menyelimuti tubuhku. Aku takut jika ayah dan ibu akan kecewa mendengar jawabanku.
"Kok' diam saja, Nak. Kalian pulang kan, lebaran nanti? Ayah sudah kangen sekali sama kalian. Apalagi pada cucu ayah. Ayah ingin sekali bertemu dengan cucu ayah. Sudah empat tahun kalian tinggal di rantau orang, selama itu pula kita tidak pernah lagi bertemu."
Ayah benar, sudah empat tahun setelah perpisahan itu. Aku masih ingat detik-detik perpisahan di terminal bus ALS. Ayah dan ibu masih setia menunggu sampai bus ALS yang kami tumpangi melaju, menghilang dari pandangan mereka.

Masih kuingat lambaian tangan dari ayah dan ibu yang diiringi dengan derai tangis. Sama halnya denganku, rasanya tidak sanggup berpisah dengan mereka. Tapi apa boleh buat, aku sudah menikah dan sudah menjadi seorang istri. Aku harus ikut kemana suamiku pergi.
"Cucu ayah sudah bangun belum? Ayah mau ngobrol, ayah kangen." Ayah mengalihkan topik pembicaraan.
"Maaf, Yah, Risa belum bangun. Tadi dia ikut sahur, habis itu tidur lagi. Jadi belum bangun sampai sekarang," jawabku sejujurnya agar ayah tidak kecewa. Biasanya ayah dan Risa akan ngobrol lama, ayah akan bercerita tentang suasana di kampung, membuat Risa antusias saat mendengarkan cerita dari kakeknya tersebut.
"Ya udah nggak apa-apa. Oh ya, Adel, pertanyaan yang tadi belum dijawab. Jadi pulang kan, Nak, lebaran nanti?" tanya ayah lagi, nampaknya ayah belum tenang jika belum mendengar jawabanku.
"Maaf, Yah. Sepertinya lebaran nanti kami tidak bisa pulang."
Hening, sambungan telepon masih tersambung, tapi ayah tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Yah ...." Aku mencoba menyapa, apakah ayah masih mendengarku.
"Ya sudah, Nak, nggak apa-apa. Semoga ada keajaiban dari Allah dan semoga lebaran nanti kita bisa bertemu dan berkumpul kembali."

Dari suara ayah, aku tahu kalau ayah sedang menahan tangis. Aku tahu kalau ayah kecewa mendengar jawabanku. Tapi apa boleh buat, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sudah dulu ya, Nak. Ayah mau ke kebun dulu. Titip salam buat Romi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Yah …."
Sambungan telepon pun terputus.
Apa yang harus aku lakukan, ya Allah! Aku takut ayah kecewa. Walaupun selama ini ayah selalu memaklumi keadaan kami yang tidak pernah punya ongkos untuk pulang kampung.
Semoga Allah memberikan rezeki, kesehatan dan kesempatan, agar kami bisa berkumpul kembali. Agar rindu ini bisa terobati.

***
Pagi itu, aku sedang merendam pakaian di dalam ember, berniat mencuci sprei dan juga selimut karena kebetulan matahari lumayan panas. Aku bisa memanfaatkannya untuk menjemur baju, selimut dan juga sprei.
Saat hendak menyikat baju Mas Romi yang lumayan kotor, ponselku berdering.
Aku buru-buru mengelap tangan dengan serbet yang terletak di atas meja, setelah itu meraih ponsel untuk melihat siapa yang menelpon pagi-pagi begini.

Ternyata, kontak yang kuberi dengan nama ayah yang menelponku. Buru-buru kujawab panggilan tersebut karena sudah rindu juga dengan ayah
"Halo, assalamu'alaikum, Ayah," sapaku terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam, ini Rahman, bukan ayah, Kak." jawabnya dari seberang sana.
Akumemang hapal dengan suara itu. Ia adalah Rahman-adik bungsuku.
"Kak, ayah mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya sedang kritis."
Deg, jantungku berdetak lebih kencang. Jujur saja aku merasa sangat ketakutan saat ini. Aku takut jika ayah akan pergi menghadap sang khalik dan meninggalkan kami semua. Aku tidak bisa lagi bertemu ayah.
"Bagaimana keadaan ayah, Dek?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku sarankan, agar Kakak' pulang sekarang juga. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jangan sampai ada penyesalan, Kak'. firasatku mengatakan bahwa ayah tidak akan bisa bertahan, mengingat luka di tubuhnya sangat parah. Ayah belum siuman juga sampai saat ini. Ayah beberapa kali muntah dan sekarang seperti orang yang sedang mengorok. Kata dokter, kondisi ayah sangat kritis. Pulanglah, Kak'."

Tak terasa, ponselku tiba-tiba terjatuh ke lantai. Begitu juga denganku, kedua kaki ini rasanya tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhku sehingga aku pun luruh ke lantai.
Air mata langsung membasahi pipi.
Aku shock sekaligus terkejut mendengar kabar buruk ini. Aku takut tidak akan bisa bertemu lagi dengan ayah. Apa yang harus aku lakukan?
Ponsel yang tergeletak di lantai kuambil kembali, kemudian mengirim pesan kepadanya. Mas Romi harus tau tentang ini.
Selang tiga puluh menit, terdengar suara motornya Mas Romi. Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka. Mas Romi langsung mendekapku ke dalam pelukannya.
"Sabar, Dek. Doa jangan pernah putus. Semoga ayah secepatnya melewati masa kritisnya," ucap Mas Romi sambil berusaha menenangkanku.
"Aku ingin pulang, Mas." Kuucapkan permintaan itu walaupun aku tahu kalau Mas Romi tidak akan mungkin mengijinkannya. Aku tahu kalau kami tidak memiliki uang sama sekali.
"Jika itu maumu, Mas akan mencoba meminjam uang. Mas tidak tega melihatmu sedih begini. Tunggu sebentar ya, Dek. Mas menghubungi Bang Hadi dulu, siapa tahu Bang Hadi bisa membantu." Mas Romi mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, kemudian menghubungi nomor Bang Hadi. Bang Hadi adalah kakaknya Mas Romi.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, terlalu fokus pada kesedihanku, sehingga membuatku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Sesat kemudian, Mas Romi kembali menghampiriku.
"Mari kita beli tiket pesawat sekarang juga, Dek. Alhamdullilah, Bang Hadi mau membantu kita. Malah Bang Hadi bilang beliau iklhas membantu kita," ucap Mas Romi dengan semangat.

Alhamdullilah ya Allah, ternyata masih ada orang baik yang mau menolong kami.

***
Alhamdullilah, tiket pesawat sudah berada di genggaman. Tinggal menunggu berangkat. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu ayah. Semoga ayah bisa pulih secepatnya.
Saat sedang memasukkan beberapa pakaian yang akan dibawa ke dalam tas ransel, tiba-tiba ponselku berdering, kontak dengan nama ayah menelpon kembali.
Setiap kali ponselku berdering, aku pasti takut jika akan mendapatkan kabar buruk.
"Assalamu'alaikum," sapaku terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam, Kak. Kak, ayah sudah tidak ada, ayah sudah pergi untuk selama-lamanya." Suara adikku terdengar serak saat menyampaikan kalimat tersebut.

Sungguh ini seperti mimpi bagiku. Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Nggak mungkin, nggak mungkin!" Aku menggeleng pelan sambil menahan air mata yang hendak keluar.
"Ayah sudah meninggal, kak'. Tabahkan hatimu!"
"Nggak mungkin, kamu jangan main-main, Rahman. Jangan ngomong sembarangan," tukasku, masih belum bisa mempercayainya.
"Istighfar, Kak. Kita harus kuat menerima kenyataan ini. Ikhlaskan kepergian ayah agar beliau tenang di alam sana. Ayah tidak butuh air mata, yang ia butuhkan adalah doa." tegasnya lagi.
"Sudah dulu ya, Kak' mobil ambulan sudah datang. Kami harus secepatnya mengurus pemakaman ayah. Hati-hati di jalan ya, Kak'." Sambungan telepon pun terputus.
Ucapannya tersebut menyadarkanku bahwa ayah sudah benar-benar pergi. Bahkan aku tidak bisa mengantar ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un ...
Kembali tubuh ini luruh ke lantai, aku menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua kesedihanku.
"Sabar ya, Dek. Doakan saja semoga ayah tenang di alam sana. Sekarang, bersiaplah karena besok jam enam pagi, Mas akan mengantar kalian ke bandara." Mas Romi mendekapku ke dalam pelukannya, kami berdua menangis bersama.
Aku dan putriku akan pulang, sedangkan Mas Romi tidak bisa ikut, ia akan tetap di sini.

***
Akhirnya, aku dan putri kecilku bisa menginjakkan kaki di kampung halaman.
Kepulanganku tidak sia-sia. Walaupun aku tidak bisa berjumpa dengan ayah, aku tidak merasa sedih karena masih bisa bertemu dengan ibu dan juga semua sanak saudara.
Di sinilah aku sekarang, di atas pusara ayah. Aku tidak bisa lagi menatap wajah teduhnya dan tidak bisa lagi bertemu dengannya.
Siapa sangka, terminal ALS Padangsidimpuan menjadi saksi bisu pertemuan terakhirku dengan ayah.
Kini, orang yang sangat kurindukan telah beristirahat dengan tenang di bawah gundukan tanah ini. Hanya untaian doa yang bisa kukirimkan untukmu, Ayah.

Ayah berpulang di bulan suci, bulan yang penuh berkah. Semoga Allah menempatkan ayah di tempat terbaik di sisi-Nya.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu anhu waakrim nuzulahu, wa wassi' madkhalahu, waghsilhu bilmai adalah salji, wal baradi, wa naqqihi minal khathaya, kama yunaqqas saubul abyadu minad danas. Wa abdilhu daran khairan min darihi wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul jannata wa a'idzhu min adzabil qabri, wa adzabin nari.
Selamat jalan Ayahandaku tercinta, semoga tenang di alam sana. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa dan menerima semua amal ibadahmu, Ayah.
Aku, putrimu akan senantiasa mendoakanmu.
***

-Manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

-Selagi orang tua masih ada, usahakanlah untuk mengunjunginya. Sekiranya terpisah oleh jarak dan waktu, berilah kabar sesering mungkin.

-Bahagiakanlah orang tua, selagi mereka masih hidup.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.w.a.w.a.w dan 4 lainnya memberi reputasi
Menginspirasi gan
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di