CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
MEMBUAT SUAMI DAN MERTUA MENYESAL
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6098eaf4b54bfb0cb4310243/membuat-suami-dan-mertua-menyesal

MEMBUAT SUAMI DAN MERTUA MENYESAL

BAB 1: LIDAH TAK BERTULANG

*  *  *

"Bram, kamu jangan lupa nanti malam kita mau pergi kondangan, anaknya teman Mama?" ucap Mama sembari menyuapkan makananannya.

"Iya, Ma." jawab Mas Bram santai, kedua tangannya sibuk menyendok makanan dalam piringnya.

"Mas, aku ikut ya!" pintaku tiba-tiba. Entah keberanian dari mana, aku bisa berucap demikian.

"Ih ngapain, Mbak Nay ikut segala, yang ada nanti hanya bikin malu," sinis Mita adik iparku yang baru duduk di kelas dua SMA itu berucap.

"Tapi, Mbak juga pengen pergi kondangan," ujarku.

Mita terbahak. "Jangan-jangan, Mbak Naya belum pernah kondangan ya?"

Aku hanya mengangguk pelan, aku memang belum pernah pergi kondangan dengan kelas mewah, dulu pernah waktu masih dikampung dengan musik dangdutan. Selama menikah Mas Bram tidak pernah mengajakku, entah memang tidak pernah ada undangan atau apa, yang jelas ia tidak pernah membahas itu.

"Omaigat! Jadi benar, Mbak Naya belum pernah pergi kondangan kelas mahal? Hati-hati lho Mbak kondangan orang kaya, tempatnya luas nanti Mbak nyasar," ucapnya mengejek, lalu terkekeh. Aku hanya bisa mencebik mendengar ucapan adik ipar yang kurang sopan itu.

"Udah ah, Mita mau berangkat sekolah dulu nanti telat." Lalu ia mengadahkan tangannya ke Mas Bram untuk minta uang jajan.

Mas Bram pun segera mengeluarkan dompet dari saku celananya, dan mengangsurkan uang lima puluh ribuan satu lembar.

"Kok cuma segini sih, Mas? Kuranglah!" protesnya, dan kembali mengadahkan tangan. Mas Bram pun kembali mengambil selembar uang berwarna merah dan memberikannya.

"Nah gitu dong, Mas itu baru Mas Bram yang baik! Makasih!" puji Mita dengan gaya khasnya. Lalu, segera menyalami, Mama dan Mas Bram. Saat akan menyalamiku ia hanya menyentuh ujung jariku. Lalu menatapku dengan penuh ejekan.

Meski sikap Mita begitu ke padaku, Mama tidak pernah menegurnya begitupun Mas Bram hanya cuek saja. Sementara aku hanya bisa mengelus dada, sabar Naya.

Setelahnya kami pun melanjutkan sarapan dalam keheningan. Kemudian Mas Bram pun pamit untuk pergi kerja. Aku segera menyalami tangannya seperti biasa, setelah ia menyalami, Mama.

"Gimana, Mas aku boleh ikut tidak?" tanyaku lagi memastikan jawaban dari, Mas Bram saat aku mengantarnya di ambang pintu.

"Terserah," balas Mas Bram lalu berlalu pergi.

"Heh! Ngapain sih, Nay pake mau ikut segala?" ketus, Mama bertanya saat aku kembali ke meja makan. "Udah gak usah sok-sokan mau ikut pergi kondangan segala, tugasmu itu di rumah berbakti sama suami. Lagian memangnya kamu punya baju buat kondangan?"

Aku menggeleng, aku tidak ingat pasti kapan terakhir beli baju, yang kuingat saat aku dan Mas Bram masih pengantin baru, sekarang usia pernikahan kami sudah hampir tiga tahun dan sudah dikarunia seorang putri berusia 2 tahun.

"Udah gak usah kebanyakan gaya cepat beresin meja makannya, sebelum Rania bangun nanti dia rewel bikin, Mama pusing!" Mama bangkit dari kursinya, dan berlalu meninggalkanku.

Ah, memangnya apa salahku ingin ikut pergi kondangan bersama suami dan juga mertua, aku juga ingin seperti orang-orang yang bahagia pergi bersama.

Aku menghela nafas, dan membuangnya perlahan. Setelah kerja seharian rasanya ku juga ingin pergi keluar merefres otak yang terasa keram dengan segala pekerjaan rumah yang tidak pernah habis.

Aku pernah meminta untuk punya pembantu khusus beres-beres rumah, biar masak tidak apa aku saja. Rasanya begitu lelah dengan segudang pekerjaan rumah, ditambah cucian Mama dan juga Mita harus aku yang mengerjakan belum lagi aku juga harus mengurus Rania yang jauh lebih penting dari pekerjaan rumah.

"Alah sok gaya, pake minta pembantu segala," ucap Mama kala itu.

Apalah dayaku yang statusnya hanya menantu dan numpang tinggal di rumah mertua.

***

Setelah beberapa jam pulang kerja Mas Bram sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja warna maroon serta celana kain hitam yang sudah kusetrika sore tadi.

Aku pun begitu antusias bersiap untuk ikut pergi, setelah membuka lemari pakaian kutermangu, baju mana yang harus kupakai, rasanya tidak ada yang cocok untuk pergi kondangan.

"Dek, cepatan Mama sama Mita sudah nunggu!" ucap Mas Bram.

"I-iya, Mas. Aku cocoknya pake baju mana, Mas?" tanyaku lesu, berharap ada solusi.

Mas Bram melihat ke dalam lemari ia melihat beberapa pakaianku, lalu menghela nafas.

"Terserah, cepatan! Nanti Mama marah karena kelamaan nunggu, Mas tunggu di depan sama Rania."

Aku hanya mengangguk bercampur bingung akhirnya aku memilih sebuah gamis hitam polos dengan kerudung senada, kupikir tidak apa kalau pun sudah ketinggalan zaman yang penting sopan.

"Astaga, Mbak mau ikut kondangan apa ngelayat?" tawa Mita pecah saat melihatku keluar dari kamar, kulihat Mama pun terkikik entah apa yang lucu. Sementara Mas Bram hanya menghela nafas.

"Ma-maaf aku cuma punya ini," jawabku. Penampilan Mita sama Mama memang sangat cantik dan elegan seperti artis yang sering kulihat di tivi, sangat berbeda jauh denganku.

"Bram, Bram, Mama gak habis pikir di pelet apa kamu sama Naya sampai punya istri kayak gini, udah miskin kampungan lagi," ketus Mama. "Coba lihat Abangmu, Fatir sudah punya istri cantik, kaya, royal lagi sama Mama juga adikmu. Gak salah memang Abangmu pilih istri."

Aku hanya terdiam, apa yang dikatakan Mama memang benar, istrinya Bang Fatir memang berbeda jauh kelasnya denganku, sekarang mereka tinggal di Jakarta sementara kami tinggal di Bandung.

"Ya mau gimana lagi, Ma sudah jodoh," balas Mas Bram sekenannya, "Udahlah, ayo kita berangkat nanti telat!"

"Nanti di tempat acara kamu sama anakmu jangan dekat-dekat, nanti malah bikin malu!" ucap Mama lagi sebelum naik ke dalam mobil. Aku hanya diam tidak menanggapi karena menahan sesak juga air yang rasanya ingin keluar dari kedua netraku. Tetapi, aku tidak boleh menangis nanti Mama tambah marah dan tidak jadi mengajakku.

"Heh! Kamu dengar tidak?" lagi Mama berucap dengan nada tinggi, ucapannya sungguh tidak seanggun penampilannya saat ini.

"I-iya, Ma!" Aku dan Rania pun naik dibagian depan, di samping Mas Bram.

"Eh, eh ngapain kamu?"

"Mau duduk di depan, Dek."

"Gak cocok tau, udah duduk di belakang sono noh!" Mita menunjuk ke bagasi belakang mobil lalu tertawa, sebagai adik ipar sikapnya tidak ada sama sekali hormat-hormatnya.

"Jadi pergi tidak?" Mas Bram akhirnya berucap. Namun, ia sama sekali tidak menegur perlakuan Mama dan juga Mita ke padaku.

Kami sudah sampai di sebuah pesta mewah, aku berdecak kagum melihat dekorasi yang menghiasi seluruh ruangan tempat acara resepsi pernikahan anaknya teman Mama.

"Please ya, Mbak noraknya gosah kelihatan banget, udah jauh-jauh sana!" ucap Mita sembari mengibaskan tangannya.

Aku bingung, apa yang harus kulakukan di tempat ini, akhirnya aku dan Rania menjauh dari Mama dan Mita sementara Mas Bram sejak datang ia sudah pergi duluan ke dalam entah ke mana.

Dalam kebingungan, tubuhku tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang kutaksir umurnya 67 tahun, tetapi tubuhnya masih terlihat bugar.

"Ma-maaf," ucapku terbata sembari membungkukkan badan. Sejenak ia menatapku mungkin aneh dengan penampilanku. Lalu, tersenyum.

"Tidak apa, itu adeknya lucu sekali," ia beralih melihat puteri kecilku. "Siapa namanya, perempuan itu berjongkok mensejajari tubuh Rania.

"Lania, Oma." jawab Rania dengan cadelnya.

"Ih gemesnya, dan pintarnya cucu Oma." Perempuan itu tersenyum semabari mengelus pipi Rania.

"Maaf, Bu kami permisi," ucapku sopan, di sini semua orang terasa asing bagiku, meski miskin, dan dari kampung aku tidak boleh terlena dengan kebaikan orang yang baru kukenal, setidaknya aku harus hati-hati.

Aku dan Rania pun pergi menjauh dari perempuan tadi, entah apa yang harus kulakukan sementara Mita dan Mama tidak terlihat batang hidungnya.

"Minumlah!" tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah minuman ke arahku.

BERSAMBUNG KE HALAMAN INI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh inayasri
waduh.. minimal kan 3 part. hahaha
profile-picture
inayasri memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Subscribe dulu
profile-picture
inayasri memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wahh hati² kena karma gan 😁
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Kayaknya seru,nih. Cerita rumah tangga.
Ijin gabung ya..
profile-picture
inayasri memberi reputasi
Hemmm
profile-picture
inayasri memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Cerita rumah tangga seorang istri sah
profile-picture
inayasri memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sepertinya menarik emoticon-Malu


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di