CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Seumur Hidup Dibalik Penjara
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6094c498d6435c387909f803/seumur-hidup-dibalik-penjara

Seumur Hidup Dibalik Penjara



"Ayo masuk! ini rumahmu sekarang!"

Lantai beralaskan tikar plastik. Di dalam ada sekitar delapan orang wanita yang sama bajunya denganku, seragam penjara. Padahal daya tampungnya cuma lima orang.

Ini hari pertamaku di penjara dengan hukuman seumur hidup. Aku seorang istri sekaligus ibu dari tiga orang putri yang cantik-cantik. Banyak yang bilang, anak-anakku bidadari komplek.

Aku duduk di penjara yang sempit ini, dengan perasaan teramat asing, aku berusaha menyesuaikan diri hingga ajal menjemput. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini dengan hati yang kuat menahan rasa rindu kepada ke tiga putri-putriku.

"Hey! Ini tempat dudukku, sana!"

Seorang wanita berbadan sedikit gemuk menghampiriku. Dengan suara lantang, dia menyuruhku berpindah tempat duduk.

Aku bangkit dan pindah ke sudut. Sementara yang lain hanya melihat dan diam. Apakah takut atau tidak peduli, entahlah.

Pandangan jauh ke depan. Aku mengingat kejadian, kenapa aku bisa di penjara.

Pagi itu ....

"Bunda, aku minta izin ntar pulang sekolah kerumah Vivi belajar kelompok, ya?"

Senyum manis Anisa sudah berseragam sekolah, memelukku dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Anisa adalah anak bungsuku yang masih duduk di kelas dua SMP.

Aku punya tiga putri yang cantik-cantik, aku sadar itu. Anak pertamaku bernama Halimah yang sedang kuliah semester dua. Anak ke duaku bernama Rani kelas tiga SMA dan baru Anisa si bungsu. Aku hidup bahagia dengan suami yang setia dan cinta keluarga. Alhamdulillah.

Rasanya hidupku sudah sempurna. Putri-putriku rajin beribadah dan berhijab syar'i. Suamiku memang hebat memimpin kami, aku sangat bangga dan bahagia. Ini lah surga duniaku.

"Nasi goreng kesukaan Ayah nih, Bun," ucap suamiku duduk di kursi meja makan lalu menyantap nasi goreng buatanku dengan lahap.

"Yang pelan makannya, Yah," ucapku sambil menuangkan air putih ke gelas. Suamiku membalas dengan senyum kehangatan.

"Bunda, aku bawa bekal ke sekolah, ya," kata Rani sambil duduk dan ikut sarapan.

"Sudah Bunda siapkan, ini!" jawabku sambil menyodorkan nasi yang sudah dibungkus seperti biasa.

"Makasi Bundaku tersayang, mmuuuch." Rani berdiri dan mengecup pipi kananku. Aku tersenyum.

"Dek, nanti kamu pulang sendiri ya, aku ada pelajaran tambahan." Kata Rani kepada Anisa.

"Aku pulang juga langsung kerumah Vivi kak," jawab Rani melanjutkan sarapannya.

Sekolah Rani dan sekolah Anisa berdekatan. Mereka selalu pulang bersama. Kami hidup sangat damai. Aku ibu yang beruntung.

"Bun, tambah nasi gorengnya," suamiku menyodorkan piringnya kepadaku.

"Nasi goreng Bunda emang paling enak ya, Yah," ucap Halima tersenyum melirikku.

"Enak sekali, Bundamu paling hebat masak, bahkan mengalahkan koki dunia."

"Iya, Yah. Aku setuju," timpa Anisa.

Aku hanya tersenyum membalas, dan anakku yang lain ikut tertawa menggodaku. Suasana pagi secerah mentari. Alhamdulillah.

Tok! Tok! Tok!

Tok! Tok! Tok!

"Siapa yang datang pagi ini Bun?" tanya suamiku.

Kami semua terkejut. Suara ketokan itu terdengar memaksa kami supaya cepat membuka pintu.

"Entahlah, Yah, Bunda juga nggak tahu," jawabku, lalu ingin melangkah ke pintu.

"Biar aku saja yang buka, Bun," sahut Halimah dan langsung bangkit dari duduknya melangkah melangkah ke pintu.

Tidak lama kemudian ....

"Hey Halimah! Apa kamu tidak punya malu, merebut tunangan anak saya!"

Kami yang sedang sarapan, terkejut mendengar kata-kata Bu Lili dengan suara lantang memarahi Halimah. Aku, suami dan kedua putriku yang lainya langsung berdiri melangkah ke pintu depan.

Bu Lili adalah tetangga satu gang komplek dengan kami. Rumahnya rumah pertama memasuki gang ini, untuk menuju rumahku harus melewati depan rumahnya. Bu Lili juga punya anak gadis bernama Monik yang seumuran dengan Halimah.

"Ada apa ini Bu Lili? Kenapa ibu marah-marah sama Halimah." Aku berkata dengan melihat sorotan marah di mata Bu Lili memandang Halimah. Sementara itu, Halimah hanya menundukan kepala, matanya berkaca-kaca.

"Gara-gara anakmu ini, Monik diputuskan tunanganya!" Bu Lili menunjuk Halimah dengan penuh emosi.

Aku dan Mas Adam beradu pandang sesaat. Aku bingung, kenapa putriku dituduh merebut tunangan Monik.

"Apa salah anak saya Bu?" Aku juga ikut kurang senang melihat Halimah dibentak-bentak. Kenapa tidak bicara baik-baik. Kalau anakku salah pasti kutegur.

"Sebaiknya kita selesaikan masalah ini di dalam, tidak enak ditonton orang, Bu Lili," ucap suamiku.

Tapi ajakan suamiku tidak diterima baik oleh Bu Lili. Dia tetap memasang muka kesal berdiri di teras depan, dari amarahnya bisa kubaca kalau tunangan Monik memutuskan pertunangan. Tapi kenapa Halimah yang disalahkan?

"Dengar ya! aku tidak akan tinggal diam, dasar munafik, diam-diam tukang merebut tunangan orang." Mata Bu Lili membelalak ke Halimah. Halimah tetap diam menatap lantai.

"Tolong bicara yang sopan, Bu Lili. Halimah tidak mungkin merebut tunangan Monik." Aku masih bernada datar, berusaha sabar.

"Jika Bu Rina berada di posisiku gimana? apa bisa bicara sopan?"

"Betul itu Halimah?" tanya suamiku tegas. Halimah menggelengkan kepala, dia seperti tertekan dengan tuduhan ini.

"Mana ada maling ngaku maling? sebaiknya Pak Adam dan Bu Rina lebih telaten jaga anak gadisnya, masak tidak tau apa yang dilakukan Halimah di luar rumah?" ucap Bu Lili sewot. "Dari luarnya kelihatan baik, tapi di dalam siapa tau?!" sambung bu Lili.

"Tolong kontrol bicaranya, Bu. Dari tadi aku sudah berusaha sabar, sebaiknya panggil tunangan Monik ke sini, biar semuanya jelas."

"Alasan! kalian mau mempermalukan Monik karena diputuskan demi putrimu?"

"Setidaknya masalah ini lebih jelas, dan ...."

Belum selesai kubicara, bu Lili melangkah pergi. Hentakan kakinya memperlihatkan ketidak sukanya. Dalam melangkah dia ngomel-ngomel sendiri. Aku mengurut dada berusaha sabar. Astagfirullahalazimm.

"Halimah, jelaskan kepada kami apa yang terjadi," ucap suamiku.

Di ruang tengah, aku dan suamiku duduk berhadapan dengan Halimah. Sementara itu Anisa dan Rani sudah berangkat ke sekolah.

"Aku tidak tahu Bunda, Ayah. Aku saja tidak mengenal tunangan Monik, mana mungkin aku penyebab putusnya pertunangan mereka," sanggah Halimah.

Aku dan suamiku saling berpandangan sesaat. Aku tahu anakku, dia tidak pernah pacaran atau berteman dekat dengan lelaki. Selesai kuliah langsung pulang tanpa bertandang atau nongkrong bergaul dengan temannya. Halimah anak yang penurut dan tidak banyak neko-neko. Bagaimana mungkin anakku penyebab anak Bu Lili putus tunangan?

"Demi Allah, Bun, Yah. Aku tidak mengenal tunangan Monik."

"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang Ayah kerja dulu, kamu juga kuliah bukan?"

"Iya, Yah," jawab Halimah pelan.

Kami mendiamkan dulu masalah ini. Halimah berangkat kuliah dan suamiku berangkat kerja. Keseharianku di rumah membuka warung klontong di depan rumah, semua kulakukan menghilangkan kesepian karena sering sendirian di rumah. Siang baru semua putriku pulang sekolah dan kuliah.

"Assalamualaikum, Bunda."

Aku terkejut mendengar seseorang mengucapkan salam saat aku membereskan barang daganganku di warung. Aku menoleh, ada seorang anak muda gagah berdiri di depan warung menyapaku tersenyum manis. Kulihat di depan warung, terpakir sebuah mobil sedan hitam mengkilat.

"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" Aku menjawab dengan heran.

"Perkenalkan, namaku Arya, Bunda. Aku ke sini ingin melamar anak Bunda, Halimah."

Jantungku mau copot mendengar perkataan anak muda ini. Ternyata namanya Arya. Siapa dia yang tiba-tiba ingin melamar putriku? setahuku Halimah tidak pernah pacaran atau punya teman lelaki.

"Bunda ... Bunda ... bisa aku bertemu juga sama Ayah Halimah?" pintanya, aku masih merasa shock mematung.

"Bun, Bunda." Pemuda bernama Arya itu melambaikan tangan di depanku.

"Oh, iya, Nak Arya," sentakku memalingkan mata. "Sejak kapan Nak Arya pacaran dengan Halimah?" Aku sangat penasaran, selama ini Halimah tidak pernah cerita.

"Kami tidak pernah saling kenal, Bunda," jawab Arya.

"Loh, kok bisa tiba-tiba melamar Halimah?"

"Aku menyukai anak Bunda, dan aku yakin dengannya, hanya itu."

Ya Allah, siapa pemuda yang melamar putriku. Dia sangat berani dan sopan. Kalau dia tidak pernah saling kenal dengan Halimah, kenapa tiba melamar? Aku masih bingung.

Aku mengajak Arya masuk dan duduk di ruang tamu. Fari ceritanya, dia sangat menyukai Halimah diam-diam. Dia juga sering melihat Halimah berjalan pulang kuliah melintas di depan rumah Monik saat berkunjung kerumah Monik, dan Arya mencari informasi ke tetangga tentang putriku-Halimah, dan sekarang dia melamar putriku. Intinya, Arya memutuskan tunanganya karena ingin melamar Halimah. Pantas saja Bu Lili marah-marah tadi pagi ke sini. Astagfirullahalazimm.

"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, sebaiknya Nak Arya pulang dulu, nanti akan saya sampaikan pada Ayah Halimah."

Hanya itu keputusanku sementara. Aku masih shock dengan kedatanganya. Halimah jujur tidak mengenal tunangan Monik. Kasihan anakku yang dibentak-bentak yang bukan kesalahannya.

Sepintas aku lihat, Arya pemuda yang gagah dan berada. Cara pakaian dan tutur katanya, dia lelaki yang sopan.

Magrib kami salat berjamaah. Suamiku menjadi imam seperti biasa, aku belum membicarakan kedatangan Arya tadi siang, menunggu selesai magrib dulu.

Selesai sholat magrib, aku menutup warung dulu baru membicarakanya. sampah barang dagangan kusapu, biasanya Halimah yang mengerjakan, tapi tadi dia membaca Al Qur'an dulu, lagian pekerjaan ini tidak begitu berat.

"Ayah! Ayah! Bunda ... tolong Ayah!"

"Ayah!"

"Bunda! cepat ke sini!"

Aku terkejut mendengar teriakan ke tiga putriku menjerit menangis. Perasaanku tidak enak. Ada apa dengan suamiku? Berlari, aku masuk ke rumah.

"Astagfirullahalazimm! Yah, Ayah ... tolong ... tolong!"

Ya Allah, apa yang terjadi dengan suamiku. Menangis, kulihat seluruh pori-pori tubuh suamiku mengeluarkan darah, darah menyelimuti tubuhnya tergeletak di lantai. Putri-putriku menangis memegang ayahnya.

"Ayah!"

"Ayah kenapa Bunda? Tolong Ayah ...."

Mendengar teriakan kami, datanglah Bu Arun dan suaminya. Aku dan anak-anakku histeris melihat jasad suamiku kaku dan tidak bernyawa. Aku kehilangan suamiku untuk selama-lamanya.

Ya Allah, kuatkan hatiku.

Dengan perasaan teramat sedih, aku duduk di keramaian orang-orang melayat. Air mata tidak henti-hentinya ke luar. Aku sangat terpukul kehilangan mas Adam, baru tadi pagi kami sarapan bersama, kini kulihat tubuhnya tidak bernyawa.

"Bu Rina, maaf, bukan maksudku membuat ibu tambah sedih, tapi ... kalau saya perhatikan, sepertinya suami ibu kena santet."

Aku terpana melihat wajah Bu Arun setelah berbisik di sampingku. Disantet? Astagfirullah'alazimm ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh blackgaming
Halaman 1 dari 4
Chapter 2


Astagfirullah’alazimm. Kenapa bu Arun bicara seperti itu? semua di luar akal dan pikiranku. Sebagai seorang muslim, mana mungkin setelah salat magrib suamiku bisa disantet. Aku sama sekali tidak mengerti tentang perdukunan ataupun masalah santet menyantet. Kuatkan iman hamba ya Allah ....

“Terimakasih, Bu. Setelah pemakaman suamiku, akan kita bicarakan lagi nantinya.”

Hanya itu kata-kata yang bisa kusampaikan pada bu Arun. Aku tidak mau menyinggungnya atas kurang yakinnya aku dengan perkataanya itu. Mungkin ini sudah ajal dari Allah yang maha kuasa. Allahuakbar ....

Di kerumunan orang pelayat, aku juga melihat bu Lili dan anaknya-Monik. Mereka juga menatapku prihatin dengan musibah yang aku alami. Tapi kulihat bu Lili masih menatap sinis ke Halimah.

Malam itu juga jasad suamiku dimakamkan. Aku tidak mau menunggu sampai esok hari karena kondisi jasad suamiku. Dengan langkah yang teramat berat, aku dan putri-putriku meninggalkan makam mas Adam, dengan hati yang teramat sedih. Tidak pernah terbayangkan, kalau kami akan berpisah secepat ini.

Duduk di tepi ranjang, kupeluk foto suamiku. Air mata belum juga berhenti, aku berusaha tabah demi anak-anak, tapi tetap sulit. Semua kenangan terukir indah di hati dan pikiranku. Separuh nafasku terkubur dengan jasad suamiku. Ya Allah, tolong kuatkan hamba dengan takdir ini.

“Bunda, ada om Haris di ruang tamu menunggu.” Halimah berkata di depan pintu kamarku.

"Nanti Bunda ke sana," jawabku sambil menyeka air mata. Foto kuletakkan di nakas. Menarik nafas dalam, aku berusaha menguatkan hati. Astagfirullahalazimm, Astagfirullahalazimm ....

Aku segera menuju ke ruang tamu. Ada Haris dan istrinya-Linda sedang duduk menungguku. Haris adalah adik dari suamiku. Mas Adam hanya dua bersaudara, kami jarang bertemu karena Haris sibuk mengurus usaha dua rumah makan di kampung. Tapi selama ini jalinan kekeluargaan kami tidak terputus.

“Maaf, Mbak Rina, kami mengganggu sebentar," ucap Haris duduk di samping Linda.

“Ada apa Ris?” tanyaku menanggapi perkataan Haris.

“Ini untuk Mbak Rina, itu bagian jatah Mas Adam.” Haris menyodorkan sebuah amplop.

"Ini apa Ris?"

"Mbak buka dulu."

Aku membuka amplop putih yang diberikan Haris. "Astagfirullahalazimm, cek." Ada selembar cek tunai dengan nominal seratus lima puluh juta rupiah.

“Apa maksudnya ini, Ris?”

Rasanya aku tak percaya dapat rezeki sebanyak ini.

“Tanah warisan di kampung sudah dijual, Mbak.”

Tanah warisan? Dulu mas Adam pernah cerita kalau dia dan adiknya akan menjual tanah warisan peninggalan orang tua mereka. Tapi yang aku dengar, tanah yang sangat luas itu ditawar satu setengah milyar. Kalau dibagi dua, jatah untuk suamiku sangat jauh berkurang.

“Terimakasih, Ris. Alhamdulillah.” Hanya itu yang aku ucapkan. Aku tidak mau meributkan masalah jatah warisan suamiku disaat tanah kuburanya masih basah. Tapi setidaknya, aku punya pengangan melanjutkan pendidikan ke tiga putriku.

Malam itu, aku dan putri-putriku tidak bisa tertidur lelap. Kami merasa sangat kehilangan, namun kenangan terakhir yang terukir indah, pagi itu suamiku makan dua piring nasi goreng yang biasanya hanya satu piring. Senyum kehangatan, dia menatap lembut sambil lahap menyantap nasi goreng buatanku. Tapi sekarang ... kenapa suamiku dipanggil secepat ini ya Allah.

***

Pagi ini anak-anakku tidak berangkat sekolah dan kuliah. Mereka masih sangat sedih ditinggal ayah mereka. Sedangkan Haris dan istrinya langsung balik ke kampung. Aku berusaha tetap tabah, aku tidak bisa terlalu terhanyut dalam keterpurukan kehilangan suamiku. Aku masih punya tiga orang putri. Aku harus tetap kuat meski sekarang menjadi orang tua tunggal. Aku percaya, semua ini sudah suratan yang Allah berikan. Sabar dan berikhtiar, aku harus kuat.

“Bu Rina, Bu.”

Terdengar dari dapur, bu Arun mencariku. Aku yang mendengar suaranya langsung melangkah keluar.

“Ya, Bu Arun.”

“Bu Rina, maaf menggangu, saya ke sini hanya ingin menjelaskan maksud perkataan saya tadi malam.”

Aku hanya berusaha seramah mungkin. Aku tahu bu Arun sangat perhatian dengan keluargaku. Di sini hanya dia yang sering aku ajak bicara tukar pikiran.

“Saya tidak bermaksud menambah beban pikiran bu Rina, tapi, alangkah baiknya kita selidiki tentang penyebab kematian suami Ibu.”

Kata-kata Bu Arun membuatku terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana, sebenarnya aku tidak percaya suamiku disantet. Maut itu Allah SWT yang menentukan.

“Bu Rina, aku pernah melihat kejadian ini dulu di kampung suamiku, setelah diselidiki, ternyata yang meninggal kena santet," jelas Bu Arun.

“Aku harus bagaimana, Bu Arun?” Mendadak mataku berkaca. Sulit menahan agar butiran bening itu tidak mengalir.

“Aku ada kenalan orang pintar, dia bisa melihat siapa yang berniat buruk di balik ini semua.”

Astagfirullah’alazim, bu Arun mengajakku pergi ke dukun? tidak! aku tidak mau menjadi manusia syirik. Aku yakin semua ini sudah takdir dari yang Kuasa.

“Maaf, Bu Arun. Aku pikirkan dulu, sekarang aku masih sangat sedih dengan kepergian mas Adam," jawabku menyeka air mata.

“Baiklah, kalau Bu Rina sudah siap, aku bersedia kapanpun Ibu mau. Yang tabah ya, Bu, kalau ada apa-apa, hubungi aku.”

Setelah berkata Bu Arun meninggalkan rumahku. Dia dan suaminya tetangga terdekat yang peduli kami. Alhamdulillah.

“Bunda, apa benar kalau ayah kena santet?”

Sepertinya Anisa ikut mendengar percakapanku dan Bu Arun. Setelah Bu Arun pergi, dia langsung duduk di dekatku.

Kupandang wajah putriku. Aku tidak ingin dia ikut berpikir yang tidak-tidak atas sesuatu yang kurang kupahami. Dukun atau ilmu sihir sangat tidak kumengerti. Bagiku meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT.

“Semua itu tidak benar, Nak.” Aku memeluk Anisa dengan mata yang berkaca-kaca. Anak-anakku adalah kekuatanku sekarang.

“Bunda, aku sudah masak, sebaiknya bunda makan dulu," sahut Halimah sambil mengangkat pakaian yang sudah dicuci untuk dijemur di halaman rumah.

“Bunda belum lapar, Nak," jawabku merebahkan kepala di sandaran kursi.

“Biar Anisa ambilkan, ya, Bun?” Anisa langsung bangkit dari duduknya. Sementara itu Halimah melanjutkan kerjanya menjemur pakaian.

Aku duduk di ruang tamu memandang Halimah sedang menjemur pakaian, dia sangat tabah meski hatinya sangat sedih. Aku tahu semua putriku sangat dekat dengan ayahnya.

“Assalamu’alaikum, Halimah.”

Aku terperanjat melihat Arya datang dan mengucapkan salam kepada putriku yang sedang menjemur pakaian. Halimah terlihat terkejut.

Sejenak mereka saling berpandangan sesaat.

"Wa'alaikumsalam," jawab Halimah dan langsung menundukan wajah. Mungkin karena Halimah yang tidak mengenal Arya terlihat heran namanya disebut.

“Bunda ada, Halimah?” tanya Arya masih menatap. Dari cara Arya memandang, dia sangat menyukai Halimah.

“Sebentar.” Halimah langsung melangkah kedalam dengan wajah tetap menunduk.

"Ada tamu Bunda," ucap Halimah. Aku yang sudah tahu kedatangan Arya, langsung berdiri menghampirinya. Halimah berlalu ke dalam.

“Assalamu’alaikum, Bunda.”

“Wa’alaikumsalam, Nak Arya. Ayo masuk."

Kami duduk di ruang tamu.

“Bunda, bagaimana jawaban dari lamaranku kemaren?” Arya langsung bertanya, sepertinya dia tidak tahu kalau suamiku baru meninggal.

"Sebenarnya ...." Ucapanku terputus. Halimah datang membawa secangkir teh dan meletakannya di meja. Arya memandang Halimah hingga berlalu dari hadapan kami. Tapi Halimah sama sekali tidak membalas tatapan Arya.

"Nak Arya, Nak Arya!"

"Oh, iya, Bunda," sentak Arya, lalu memalingkan muka dari arah Halimah berlalu.

“Nak Arya, saya belum bisa memutuskanya sekarang, Ayah Halimah baru saja meninggal tadi malam.” Aku berusaha kuat.

"Ayah Halimah meninggal? Innalilahi, maaf Bunda, aku tidak tahu."

"Tidak apa-apa," jawabku pelan, lagi-lagi mataku berkaca teringat suamiku.

“Maaf bunda, aku datang di waktu yang salah, seharusnya aku ke sini tadi malam, sungguh aku tidak dapat kabar.”

Firasatku mengatakan, kalau Arya pemuda yang baik. Tapi aku belum ingin membicarakan itu sekarang. Halimah juga belum tahu tentang lamaran ini.

“Maaf Bunda, kalau boleh, aku ingin berkenalan dengan Halimah di depan bunda sekarang," pinta Arya.

Aku melihat keseriusan di mata Arya. Sepertinya dia juga pemuda yang pemberani dan jujur. Aku menyetujuinya karena dia meminta dengan sopan.

“Halimah, Halimah!”

Setelah aku berteriak memanggil Halimah, dia keluar dengan dandanan seperti biasa, jilbab syar'i dan wajah tidak tersentuh dengan polesan bedak ataupun make up. Sangat alami. Itulah putriku.

“Ada apa, Bunda.” Halimah menanggapi panggilanku, namun dia sama sekali tidak menoleh ke Arya.

“Ini Nak Arya, dia ingin berkenalan denganmu.” Aku menujuk Arya.

Arya berdiri mengulurkan tanganya ingin bersalaman, tapi Halimah hanya menanggapi dengan mendekatkan kedua tanganya di dada dan menundukkan kepalanya bentuk menolak berjabat tangan. Sontak yang dilakukan Halimah membuat Arya kelihatan malu. Tapi senyum terus terpancar di wajah Arya menatap Halimah yang tatapannya tidak terbalas.

“Oh, maaf, aku Arya.” Arya meniru cara Halimah tanpa berjabat tangan.

“Halimah,” jawab Halimah pelan, menundukan wajah.

Aku melihat, anakku sama sekali tidak menunjukan ketertarikan pada Arya, yang kubaca justru kesedihan ditinggal ayahnya. Setelah berkenalan, Halimah berlalu meninggalkan Arya terpaku menatapnya.

***

Aku duduk kembali dengan kesedihan yang belum juga hilang. Masih di ruang tamu, mataku menatap ke depan, tapi pikiranku ke mas Adam.

“Assalamu’alaikum Bu Rina.”

"Wa'alaikumsalam," sahutku terkejut.

Ternyata Wahyu teman sekantor suamiku. Dia sudah berada di depan pintu yang tidak kusadari, karena terhanyut dalam lamunan kesediahan. Ada apa dia ke sini? Padahal tadi malam dia juga ikut membantu pemakaman suamiku.

“Dilahkan masuk, Wahyu.”

Kini, kami duduk saling berhadapan.

“Aku turut prihatin yang menimpa Pak Adam, Bu," ucap Wahyu membuka pembicaraan.

Wahyu teman sekantor suamiku yang jauh lebih muda. Suamiku pernah bercerita kalau Wahyu cuma beda delapan tahun di atas usia Halimah. Dia juga sering ke sini membicarakan urusan kantor dulunya dengan suamiku. Dari selama dia berkunjung, aku tahu kalau dia menaruh hati kepada Halimah.

“Terimakasih, Wahyu," ucapku.

“Maaf, Bu, sebenarnya aku ke sini ingin membicarakan sesuatu sama, itupun kalau ibu tidak keberatan, apalagi dengan suasana yang masih berduka.” Wahyu meletakkan map merah di meja.

Rasa penasaran menyelimuti hatiku, aku berharap yang dibicarakan adalah hal yang baik.

“Ada apa Wahyu?”

“Pak Adam orang yang baik, siang sebelum beliau meninggal, aku melihat Pak Adam banyak melamun di kantor, padahal beliau telah direkomindasikan naik jabatan sebagai kepala cabang dan mengalahkan saingan senior lainya yaitu Pak Bobi, meski terjadi sedikit konflik, karena Pak Bobi tidak menerima kekalahan, namun pak Adam sangat sabar menghadapinya, Bu. ”

Air mataku mengalir lagi mendengar cerita Wahyu. Suamiku jarang komunikasi masalah kantor. Setahuku pak Bobi teman satu letingan masuk kerja.

“Aku ke sini ingin menyerahkan dokumen untuk ibu urus mendapatakan tabungan jamsostek dan tabungan koperasi Bapak.”

Ya Allah, ternyata kepergian suamiku tidak meninggalkan hutang, malah tabungan yang bisa aku gunakan untuk menyambung hidup. 'Terimakasih Mas Adam,' bathinku meneteskan air mata.

Halimah yang mengetahui ada tamu, membawakan secangkir teh. Wahyu terpana melihat Halimah, sorotan matanya tak berkedip hingga halimah berlalu meninggalkan ruang tamu. Sangat terlihat dia menyukai putriku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 21 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Nitip sendal gan...
Numpang nenda dimari
Numpang dimari yak...😀 😀 😀
Gilak, Tanpa Prolog tanpa babibu langsung masuk ke Chapter 1 emoticon-Cool
Nitip sendal dan ditunggu Chapter selanjutnya Gan TS emoticon-Cendol (S)
profile-picture
johanneskrauser memberi reputasi
Masih gak ngerti sama jalan ceritanya. Tapi ngikutin dulu deh
#8 emoticon-Belgia
Chapter 3?
titip 🩴
Chapter 3
Lancrottkan gan....
ninggalin jejak dulu
Trit yg dulu gak dilanjut gan???
ane pikir ini trit tentang berita orang tenar rupanya cerita bersambung.
Judul threadnya menarik banget. Langsung bikin pengen buka
Males baca nyee
Lanjutkan gan
Chapter 3


Kelihatan sekali kalau Wahyu sangat menyukai putri sulungku. Cara dia memandang, siapapun yang melihat akan bisa membacanya.

"Silahkan diminum tehnya, Wahyu."

"Oh, iya, m m terimakasih, Bu."

Dia sedikit gugup menanggapiku yang menyadari dia memandang Halimah.

"Baiklah, Wahyu, aku akan menyimpan berkas ini, besok akan aku bawa untuk mengurus pencairan jamsostek suamiku, terimakasih."

Setelah berkata, Wahyu berpamitan, sebelum dia meninggalkan rumahku, bola matanya melihat kedalam seperti mencari sesuatu.

"Mencari apa, Wahyu?"

Aku bertanya melihatnya gelisah mencari sesuatu yang belum didapatnya.

"Oh, tidak, Bu, aku ... aku, maaf aku permisi dulu, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Wahyu meninggalkan rumahku, dari teras aku melihat, dia berusaha tersenyum menghilangkan malunya.

Aku memeluk berkas-berkas suamiku. Dengan linangan air mata, aku masih berusaha agar tetap kuat.

***

Aku meminta kepada anak-anakku agar tetap pergi sekolah dan kuliah, aku tidak mau mereka juga sangat terhanyut dalam kesedihan. Bagaimanapun juga, masa depan mereka masih panjang.

Pagi ini Anisa dan Rani berangkat sekolah seperti biasa, tapi sebelumnya kami sarapan dulu. Biasanya suamiku juga ikut sarapan, dengan sedikit candaan kecil, kami menjalani dengan penuh kehangatan, tapi ... sekarang tidak aku jumpai lagi senyum suamiku duduk dikursi makan yang biasanya dia duduki. Ya Allah ... tolong kuatkan aku.

"Bunda, aku berangkat kuliah dulu."

Halimah mencium punggung tanganku, matanya masih sangat sendu.

"Kamu tidak sarapan dulu, Nak?" Aku menatap matanya dalam.

"Halimah tidak lapar, lagian hari ini kuliahnya cuma sebentar, Bunda," sahutnya.

Tok! Tok! Tok!

Aku dan Halimah terdiam sejenak. Kami menyadari suara ketokan pintu. Sepertinya ada yang datang, siapa pagi begini bertamu?

Aku dan Halimah melangkah ke pintu. Di depan pintu aku temui Arya berdiri sambil tersenyum.

"Nak Arya?" Aku menanggapinya.

"Assalamu'alaikum, Bunda."

Arya mencium punggung tanganku, setelah itu dia menatap Halimah yang tidak menatapnya. Halimah menundukkan kepala.

"Wa'alaikumsalam," jawabku.

"Bunda, aku berangkat kuliah dulu." Halimah menyalamiku lagi berpamitan.

"Biar aku antar, Halimah." Arya menawari dengan penuh harap.

"Tidak usah, terimakasih." Halimah berlalu meninggalkan rumah. Arya menatap Halimah seperti berusaha agar Halimah menerima tawarannya, tapi Halimah sama sekali tidak menanggapinya.

"Silahkan masuk Nak Arya."

***

Dari pembicaraan kami, aku menangkap kalau Arya ingin menikahi Halimah secepatnya. Aku sama sekali belum membicarakan niatnya kepada putriku. Ini terlalu cepat karena suamiku baru meninggal.

"Nak Arya, aku belum bisa memutuskannya, Halimah belum mengetahui semua ini, dia masih bersedih dengan kepergian Ayahnya."

"Aku mengerti, aku cuma mau minta izin untuk mendekati Halimah supaya dia bisa mengenalku lebih dalam, Bunda."

"Kalau sekedar bertamu, aku pasti mengizinkan, tapi kalau ingin jalan berduaan, maaf, Halimah pasti menolak." Aku menjelaskan yang sudah tahu bagaimana karakter anakku.

"Aku mengerti, Halimah bukan wanita seperti kebanyakan aku temui, itulah yang membuatku sangat ingin menjadi suaminya, Bunda."

Dari pembicaraan kali ini, aku mengetahui kalau Arya anak salah satu pejabat di kota ini. Dia pemuda yang gagah dan sopan serta sudah mapan, pantas Bu Lili sangat marah bila Monik anaknya diputuskan.

***

Aku kembali membuka warungku, aku tidak bisa berdiam diri. Meski berat, aku harus tetap melangkah kedepan demi putri-putriku.

Tidak lama kemudian, Pak Slamet datang. Dia adalah penghuni komplek ini juga, waktu suamiku masih hidup, mereka sering duduk di teras rumahku. Dia sangat rajin berkunjung ke sini, baik itu sekedar ngobrol maupun hanya sekedar duduk minum kopi. Tapi, kali ini ada apa dia datang kerumahku, dan caranya berpakaian sangat rapi dari biasanya.

"Assalamu'alaikum, Bu Rina."

Pak Slamet langsung duduk di warungku, dia membawa pisang dan maca-macam buah lainya. Selain itu dia juga membawa tiga ekor ayam dan sekeranjang kecil telur itik. Aku hanya terpana melihatnya meletakan semua bawaannya di atas meja warungku, dan yang lebih membuatku merasa melihat pemandangan aneh, rambut putihnya yang beruban sudah berwarna hitam, giginya yang ompong juga sudah tak terlihat dengan rapinya gigi palsu menghiasi mulutnya. Aku yakin itu gigi palsu, biasanya dia ompong.

"Wa'alaikumsalam, Pak Slamet."

Meski dengan rasa heran, aku berusaha menanggapinya seramah mungkin.

"Bu Rina, aku ke sini bermaksud baik, aku sudah lama kenal dengan suami ibu yaitu Pak Adam, kami sudah seperti sahabat, aku sangat sedih kehilangan beliau."

Kata-kata Pak Slamet membuatku bingung, terlalu banyak basa basi dan berbelit-belit. Apa maksudnya ini.

"Langsung ke intinya saja, Pak. Aku tidak mengerti," ucapku.

"Baiklah, aku ke dini ingin melamar Rani menjadi istriku."

Apa? Apa aku tidak salah dengar? Pak Slamet yang usianya sudah kakek-kakek ingin melamar putriku Rani yang masih kelas tiga SMA. Apa yang ada di kepalanya, bahkan usia Rani sebaya dengan cucunya. Astagfirullahalazimm.

Apakah karena aku orang tua tunggal membesarkan tiga orang putri yang membuat Pak Slamet memandang sebuah kelemahan?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 4


Aku terkejut mendengar perkataan pak Slamet, semua di luar akal sehatku, bagaimana mungkin aku mengizinkan anakku yang masih duduk di kelas 3 SMA menikah dengan lelaki yang cocok dipanggilnya kakek, Astagfirullah'alazim.

"Maaf, Pak Slamet. Rani masih sekolah dan belum cukup umur untuk menikah." Hanya itu kata-kata yang bisa kuucapkan, aku berharap dia secepatnya meninggalkan warungku.

"Bu Rina, tolong pikirkan dulu, bukannya Ibu sendirian membesarkan tiga orang anak, aku punya banyak tanah warisan, kamu tidak perlu repot mencari nafkah, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan anak-anakmu yang lain, asalkan Rani menjadi istriku."

Dia masih kukuh ingin menikahi putriku. Aku bingung harus menjawab apa lagi, meskipun uang yang diberikannya banyak, aku tetap tidak menyetujuinya.

"Sekali lagi saya minta maaf, Pak Slamet," tolakku.

Pak Slamet meninggalkan warungku, dia kelihatan marah, semua barang bawaannya diambil kembali dan berlalu, tanpa menjawab atau mengucapkan pamit.

---

Hari semakin siang, matahari semakin menunjukkan panasnya, aku harus menunggu Halimah dulu pulang kuliah supaya aku bisa mengurus pencairan Jamsostek di kantor suamiku. Aku juga ingin menyumbangkan sedikit uang yang aku dapat agar suamiku lebih tenang di sisi Allah SWT.

"Assalamu'alaikum, Bunda."

Rani dan Anisa pulang sekolah, mereka menghampiriku di warung dan menyalamiku.

"Waalaikumsalam. Ganti baju kalian dan makan, Bunda sudah masakin goreng lele," jawabku.

"Wah, enak, nih, aku suka, Bunda." Anisa tersenyum menanggapi perkataanku dan berlalu masuk ke rumah.

"Bunda, tadi pulang mau memasuki gang, aku ketemu Pak Slamet, dia memberiku uang," kata Rani sambil duduk.

"Apa? Kamu terima uang pemberianya, Nak?" Alangkah terkejutnya aku mendengar ucapan Rani.

"Tidak, Bun. Bukannya Bunda mengajariku agar tidak mudah menerima pemberian orang, apalagi dari lelaki yang bukan saudara."

"Syukurlah," ucapku, lalu memeluk Rani. Aku sangat bersyukur ia mendengarkan ajaranku, anak-anakku adalah anak-anak yang patuh. Alhamdulillah.

---

Sudah jam dua, tapi Halimah belum juga pulang kuliah. Tadi pagi katanya cepat pulang. Rasa cemas menghantui hatiku sebagai seorang ibu. Tidak biasanya Halimah pulang telat, dia bukan tipe anak yang suka nongkrong atau kumpul hanya untuk bergaul.

Aku segera mengambil ponsel dan mencoba menghubunginya, tapi ponsel Halimah tidak aktif. Rasa cemasku semakin menjadi, tanpa berfikir panjang, aku ingin melaju motor meticku dan mencari Halimah kekampusnya.

"Rani, Anisa, kunci rumah, jangan terima tamu atau membukakan pintu, Bunda ingin mencari kakakmu."

Itulah pesanku kepada kedua putriku yang berada di rumah, aku juga mencemaskan Rani atas kedatangan Pak Slamet tadi.

Dengan hati tak tenang aku melaju motor menuju kampus Halimah. Di setiap perjalanan, aku juga melihat kesekitar kalau seandainya berselisih jalan dengan Halimah, tapi, semuanya nihil, aku tidak menemukan Halimah. Kemana kamu nak?, Ya Allah ... tolong lindungi putriku.

Akhirnya aku sudah sampai di gerbang kampus Halimah, dengan bertanya dan minta izin ke security kampus. Aku memasuki kampus.

"Permisi, Nak. Apakah melihat putriku ini?" Aku bertanya kepada beberapa mahasiswa dan memperlihatkan foto Halimah di ponselku.

Mereka menjawab dengan menggelengkan kepala. Aku terus melangkah menuju setiap sudut kampus, tapi tetap tidak aku temui, air mata kecemasan keluar membasahi pipiku, aku sangat takut terjadi sesuatu pada putriku.

Aku hanya bisa duduk di sudut dekat dinding kampus ini, dengan tangis yang tak terbendung, aku tidak peduli jika beberapa mahasiswa mahasiswi menatapku prihatin. Aku mencemaskan putriku, sangat.

"Bagaimana, Bu? Apakah putri Ibu sudah ditemukan?" Security kampus menghampiriku.

"Belum, Pak." Aku menjawab dengan tangis yang teramat cemas.

Tiba-tiba ponselku berdering, aku melihat ada panggilan dari Anisa, dan segera kujawab.

"Assalamu'alaikum, Anisa." Aku berbicara di ponsel.

"Bunda! Bunda! Aku takut! Kak Rani duduk di depan kaca menyisir rambut sambil memanggil Pak Slamet dan senyum-senyum sendiri." Suara Anisa terdengar panik di ponsel.

Ya Allah, ada apa lagi ini, aku belum menemukan Halimah, dan sekarang Rani berprilaku tidak wajar di rumah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hmm...pak Slamet...

Kenapa namanya sama anjir..😀 😀
Bentar lagi pasti ada yg fitnah gw
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 69banditos memberi reputasi
Diubah oleh slametfirmansy4
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di