CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Wife's Diary] Eps. 3 - Trauma Nambah Anak Lagi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/609160017365f6397c341da0/wifes-diary-eps-3---trauma-nambah-anak-lagi

[Wife's Diary] Eps. 3 - Trauma Nambah Anak Lagi

Sama seperti orang-orang yang telah menikah pada umumnya. Rasanya keluarga kami kurang lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Butuh waktu 9 bulan pernikahan sebelum akhirnya dipercayakan Tuhan untuk bisa mewujudkan kerinduan ini. Jujur, di masa 9 bulan menantikan kehadiran si kecil, kami begitu antusias. Pasti rasanya akan luar biasa ketika menjadi seorang ayah dan ibu. 

Ternyata, mengandung adalah hal yang kemudian sedikit memberikan trauma tersendiri. Aku dinyatakan mengalami  Hiperemesis Gravidarum oleh dokter. Sempat bolak balik rumah sakit sebanyak 3 kali. Namun yang aku syukuri dan membuatku kuat adalah ketika salah seorang dokter mengatakan jika hal tersebut justru mengisyaratkan kandungan yang kuat.

Trauma ini akhirnya diperparah dengan proses lahiran yang begitu dramatis. Meski telah dijadwalkan pelaksanaan operasi caesar di hari Senin, tapi aku masih harus merasakan sakit yang luar biasa selama 2 hari 1 malam. 

Aku yang sebelumnya tidak pernah mengalami pendarahan, justru mengalami pendarahan setelah seharian kecapean berada di rumah sakit menunggu antrian konsultasi persiapan operasi di hari Sabtu. Malamnya, suamiku sempat mengantarku ke rumah sakit, namun diminta untuk pulang lagi oleh suster yang ada di rumah sakit. Kami 'disilahkan' datang kembali pada hari Senin, sesuai jadwal operasi yang sudah ditentukan. 

Minggu sorenya, aku benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang datang setiap 5 menit dan sudah membuatku tidak bisa tidur dari malam ke pagi ke siang dan sampai sore. Orang tuaku yang berada jauh dari kami meminta suamiku untuk segera membawaku ke rumah sakit. Aku benar-benar sudah kewalahan. Ditambah rasa khawatir karena pendarahan yang terjadi. 

Begitu tiba di rumah sakit, kami kembali di tangani oleh suster yang kemarin malam menyuruh kami pulang. Lucunya, dia sempat menyalahkan kami yang tidak segera ke rumah sakit dan aku mulai marah. Apakah dia pura-pura lupa kalau dia yang menyuruh kami pulang dalam kondisiku yang sudah sangat kesakitan ?

Operasi pun dimajukan hari itu juga, hanya berselang sekitar 2 jam setelah kami datang. Jujur aku ketakutan ketika harus berpisah dari suamiku dan masuk ke ruang operasi. Aku tidak dibius setengah badan seperti yang biasa dilakukan pada proses kelahiran secara caesar. Awalnya iya, tapi pada saat tahapan akan dimulai, ternyata tubuhku terlalu sensitif untuk tetap bisa merasakan sakit, sehingga dokter segera memilih untuk membiusku secara total.

Spoiler for Credit : Michal Jarmoluk:

Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan sekaligus menyedihkan. Bahagia atas kelahiran bayi perempuan kami yang begitu cantik dan sehat. Aku memberinya nama Cainwen yang artinya cantik dan diberkati. Namun, moment ini menyisahkan sedikit kesedihan karena tidak ada siapa-siapa - tidak ada keluarga, kerabat dekat atau sekedar teman - yang datang membantu kami mengurus berbagai kebutuhan. Aku hanya ditemani suamiku - berdua saja. Kami sama-sama perantau. Aku bahkan tidak bisa meminta tolong kepada suster untuk membantuku menjaga anakku saat aku belum bisa bergerak leluasa setelah operasi, sementara suamiku yang belum cukup tidur selama 2 hari - harus sibuk mengurus semua administrasi. 

Karena hanya mengandalkan BPJS, jadi keberadaan kami sepertinya dilimit. Seingatku hanya sekitar 3 hari. Suamiku harus cepat-cepat mengurus BPJS si kecil.

Ya gpp sih, hanya merasa ... yaah begitulah. Mengapa harus BPJS ? Ada kisah lain yang membuat kami mengalami kesulitan ekonomi saat itu (next part).

Aku memaksa bangun dan berjalan ke kamar mandi untuk mengganti bajuku dan merapikan semua perlengkapan kami untuk pulang. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sakit luar biasa yang membuatku berteriak menangis di kamar mandi. Rasa sakit itu, terlalu sulit dilupakan sampai saat ini dan membuat aku bahkan suamiku begitu trauma untuk menambah anak lagi. 

Tapi bagaimana juga Tuhan masih memberi satu kepercayaan lagi bagi kami, untuk menambah seorang anak ?

Saat itu,,, kami tidak akan bisa menolaknya bukan ?
Karena anak adalah anugerah terindah dari Tuhan.  

           

profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
" Hiperemesis Gravidarum " Mual atau morning sickness saya juga merasakannya kok malah anak pertama di haruskan sesar karena badan saya kecil tapi saya mencari dokter yang prefer normal akhirnya dapat di daerah jakarta sampai anak pertama dan kedua disana semua NORMAL dan anak ketiga deket rumah aja di bidan oya nama dokternya DR. Bob Ichsan -----> semoga beliau sehat-sehat aja
profile-picture
einchayo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
emoticon-Baby Girl semangat ya bund
profile-picture
einchayo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ane jg sempat trauma punya anak setelah lahiran sesar yg ke2. Nyeri di jahitan rasanya minta ampun. Belum lg masa awal2 menyusui yg mantap djiwa. Tp stlh anak ane udah 6 bulanan trauma itu ilang emoticon-Ngakak kalo dipercaya lg rencana ane masih mau nambah atu lagi trs baru steril deh
profile-picture
einchayo memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di