CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Batu Belah Batu Bertangkup | SFTH
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6077942de8ed907ffa6c6c69/batu-belah-batu-bertangkup--sfth

Batu Belah Batu Bertangkup | SFTH


Siang itu, di gubuk reyot milik mereka, dua bocah sedang menunggu Umaknya di tundan.
Umak mereka masih berkebun di talang, tak seperti biasanya belum pulang ke gubuk, sedangkan perut kedua kakak-beradik itu sudah sangat lapar.
Telah menjadi tradisi, mereka harus menunggu orang tua terlebih dahulu, jika akan makan pagi sampai malam.
"Ayuk Laila, Dayang sudah sangat lapar." Dayang–sang adik–merengek karena sudah kelewat lapar.
Batu Belah Batu Bertangkup | SFTH
"Sabar, Dinda Dayang, sekejap lagi Umak pasti balik!" Laila menenangkan Dayang dan membelai punggungnya.
"Ayuk, belahkanlah Dayang seujung kuku ubi rebus yang ada di dalam periuk itu. Umak tak akan tahu!" Dayang kembali merengek dan meminta barang sedikit singkong yang dimasak Laila pagi tadi.
"Janganlah, Dinda, Ayuk tak kuasa! Kita berburu belalang saja. Barangkali bisa kita panggang." Laila membujuk Dayang, lalu berdiri dan menuruni anak tangga yang hanya ada tiga buah.
Setelah sampai di tanah, dilihatnya Dayang masih menyandarkan tubuh di palang tundan.
"Dayang, kemarilah! Nanti kita akan mendapatkan belalang rusa yang besar. Dayang tidak akan lapar lagi, jika telah memakan belalang itu!" serunya sembari mengulurkan tangan supaya Dayang mengikuti.
***
Mendengar kata rusa, Dayang pun berdiri dan turun menemui Laila. "Wah, apakah daging rusa lemak rasanya, Yuk? Dayang belum pernah makan rusa!"
"Bukan rusa, Dayang, tapi belalang rusa! Belalang yang warnanya seperti rusa," jelas Laila dan menyusuri batang singkong. Mencari kalau ada belalang yang hinggap di antara daun-daun.
"Nah, Ayuk dapat belalang, Dinda!" seru Laila dengan semangat. Lalu, Dayang mendekat melihat tangan Laila sedang menangkup batang singkong di bagian bawah.
"Asik, Ayuk hebat! Payuhlah kita panggang, Yuk! Sebelum Umak balik. Tak, 'kan, ada, kita bagi pula belalang kecil ini dengan Umak." Dayang bergegas menuju gubuk dan disusul Laila dari belakang, membawa belalang rusa yang ada di dalam genggamannya.
"Dayang, berjanjilah pada Ayuk! Kelak jika Umak bertanya, kita masak apa? janganlah kau cakap masalah belalang rusa yang kita panggang ini! Engkau paham, 'kan, Dayang?" Laila memberi tahu Dayang agar tak membocorkan rahasia mereka.
"Kenapa jika Umak sampai tahu, Yuk?" Dayang malah balik bertanya, perihal perkataan Laila.
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Ikuti saja perintah Ayuk! Kamu paham, 'kan? Jika tidak, Ayuk akan makan semua belalang rusa ini sorangan. Engganlah bagi dengan kau." Ancam Laila sambil mendelikkan matanya
"Baiklah, Yuk!" Dayang pilih menuruti cakap Laila, daripada tidak dibagi rusa, pikirnya.
"Hore! Umaklah balik!" teriak Dayang sungguh girang.
"Bau apalah ini Laila, sedap benar sepertinya?" tanya Umak saat duduk di geladak beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan, seraya minum seteguk air yang berada di dalam kendi.
Terlihat gurat letih di wajah lusuhnya karena mak beruk sungguh banyak mendatangi kebun singkong yang dia urus sendiri.
"Tak masak apa pun, Mak. Laila hanya merebus se-tongkah ubi. Apakah kita makan sekarang, Mak?" tanya Laila hendak menyiapkan hidangan.
"Baiklah, Laila. Umak sudah sangat lapar, bungkusan tadi pagi digunggung oleh mak beruk. Sepertinya mereka sangat kelaparan. Setelah ini Umak nak balik lagi ke talang."
Saat mereka tengah makan, terlihat Dayang hanya mengambil sebelah ubi rebus yang dia letakkan di atas daun pisang–pengganti piring.
"Dayang, kenapa kau tak selera sangat makan siang kali ini?" tanya Umak keheranan, biasanya Dayang makan sangat lahap, bisa 2 potong ubi yang dia makan.
"Dayang masih nak rusa yang dipanggang Ayuk Laila tadi, Mak! Sedap betul rusa itu. Masih terkecap di ujung lidah Dayang."
Mendengar perkataan Dayang, Laila terkejut. "Dayang, kenapa kau tak tepat janji!" Dilihatnya raut muka Umak memerah menahan marah.
"Kalian makan daging rusa tak bagi Umak? Kejam sangatlah, Umak seharian menahan lapar di talang, kalian dengan lemak berpesta daging rusa!" Umak marah dan meninggalkan ubi rebus dengan begitu saja.
Baginya daging rusa adalah sesuatu yang sangat istimewa dan mahal, tega benar kedua anaknya enggan meninggalkan barang se-balung untuk dirinya.
"Umak hendak ke mana?" tanya Laila saat Umak beranjak dari duduk, lantas matanya menatap Dayang. "Dayang, kamu telah ingkar. Umak sangat marah!" Disusulnya keluar Umak yang berlari ke tanah. "Umak dengarkan Laila dulu! Kita berdua hanya memanggang belalang rusa, bukan daging rusa, Umak!
"Umak? Umak!" Saat Laila sampai di tundan, dilihatnya bayangan Umak menuju ke arah batu belah.
"Dayang, cepat kita susul umak. Sepertinya begitu kecewa, dia berjalan ke arah batu belah," teriak Laila yang disusul tangisan Dayang karena merasa sangat bersalah tidak menepati janji.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i.am.legend. dan 3 lainnya memberi reputasi
umak merajuk
profile-picture
Dheaafifah memberi reputasi
bagus ceritanya , dan jika sering update lebih bagus lagi,
Jadi inget mama dulu sering cerita kisah ini sebelum tidur waktu kita masih anak2, kalau gak diceritakan pasti kita minta di ceritakan. Padahal gak paham juga makna nya dan mama gue bilang itu cerita pengantar tidur aja.


Ah, salah satu memori terbaik.
Diubah oleh PapinZ


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di