CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Jutaan Warga Belum Divaksin, DPR Sebut Tindakan Anies Buka Sekolah Berisiko
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/606e80b4674e3d158f027e18/jutaan-warga-belum-divaksin-dpr-sebut-tindakan-anies-buka-sekolah-berisiko

Jutaan Warga Belum Divaksin, DPR Sebut Tindakan Anies Buka Sekolah Berisiko

Jutaan Warga Belum Divaksin, DPR Sebut Tindakan Anies Buka Sekolah Berisiko

Jutaan Warga Belum Divaksin, DPR Sebut Tindakan Anies Buka Sekolah Berisiko

Suara.com - Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Rahmat Handoyo meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertimbangkan ulang pembukaan sekolah tatap muka. Ia menyarankan agar rencana yang sedang dilakukan tahap uji coba itu ditunda.

Masukan Rahmat itu menyusul data vaksinasi Covid-19 yang baru mencapai target 1,8 juta dari total warga DKI yang diperkirakan memcapai 11 juta orang. Artinya mayoritas warga Jakarta atau sebanyak 9 juta orang belum divaksin.

Penundaan sekolah tatap muka kata Rahmat juga harus mempertimbangkan jumlah sebaran kasus positif Covid-19 yang setiap harinya belum terjadi penurunan yang besar. Meski diakui Rahmat melandi, tetapi angka sebarannya stagnan di kisaran 5 ribu sampai 7 ribu kasus per hari.

Baca Jugaemoticon-Big Grinisdik DKI: Laporkan jika Ada Sekolah Langgar Prokes Belajar Tatap Muka

"Ini juga cukup mengkhawatirkan kalau kita paksakan untuk di Jakarta itu sekolah tatap muka ya. Kasus aktif nya juga masih sangat banyak. Saya kira sebelum kita ada tanda-tanda yang sangat positif, saya kira kita lebih baik menunda lebih dahulu sambil kita menunggu proses jumlah yang divaksin itu juga sudah sangat signifikan," kata Rahmat saat dihubungi, Kamis (8/4/2021).

Rahmat mengatakan dengan jumlah vaksin terbatas, pemerintah tentunya menggunakan skala prioritas dalam melakukam vaksinasi kepada masyarakat. Sejauh tahap vaksinasi di Jakarta belum menyeluruh, ia berharap agar Pemprov DKI lebih bersabar untuk menunda sejenak ketimbang memaksakan pembukaan sekolah tatap muka.

"Kenapa? Karena kalau di Jakarta itu pastikan muridnya banyak, beda dengan di kampung-kampung ya itu satu kelas paling hanya 10 (siswa) terutama di SD-SD negeri satu kelas, jadi proses pengawasannya masih bisa diawasi dengan ketat.

Sekolah Tatap Muka (Suara.com/Stephanus Aranditio)

"Tetapi kalau sudah satu kelas bisa 50, 40 (siswa) itu saya kira juga crowded. Belum lagi jumlah kelasnya berapa sampai 12 kelas, itu juga berisiko untuk kita kalau kita paksakan sekolah tatap muka," kata dia

9 Juta Warga Belum Divaksin

Baca Juga:Murid Girang Sekolah Dibuka: Kalau Gak Ngerti Bisa Langsung Tanya Bu Guru

Sebanyak 9 juta warga Jakarta belum divaksin COVID-19. Namun, Gubernur Anies sudah berani buka sekolah se-Jakarta 7 April.

Anies mengatakan sampai kini baru 1,8 juta orang yang sudah divaksin COVID-19. Sementara perkiraan penduduk Jakarta berdasarkan BPS di tahujn 20219 11 juta orang.

Vaksinasi di Jakarta dimulai sejak Februari lalu. Penerima pertama diprioritaskan untuk tenaga kesehatan, lalu dilanjutkan ke pekerja bidang pelayanan publik, jurnalis, aparat, pedagang pasar, dan lanjut usia.

"Saya mau cerita sedikit tentang vaksinasi, di Jakarta saat ini sudah 1,8 juta orang yang mendapatkan vaksin," ujar Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (5/3/2021).

Ilustrasi vaksinasi Covid-19. [Suara.com/Wivy]

Anies mengatakan pihaknya saat ini sedang gencar melakukan vaksinasi kepada para tenaga pengajar. Hal ini dilakukan karena pada 7 April mendatang 96 sekolah di ibu kota akan melangsungkan pembelajaran tatap muka.

"Ini menjadi penting apalagi beberapa waktu ke depan kita akan melakukan uji coba sekolah," jelasnya.

Berkaitan dengan pembukaan sekolah, Anies juga menyebut pihaknya sedang fokus menyuntikan vaksin kepada para lansia. Sebab, dikhawatirkan para lansia bisa terpapar dari anak atau cucu yang pulang dari sekolah membawa virus.

Sejauh ini, sudah 53,8 persen lansia di ibu kota yang divaksin Covid-19.

"Karena kalau cucunya ke sekolah, pulang dia selalu akan punya potensi membawa keterpaparan. Nah, karena itulah vaksinasi orang tua itu penting," pungkasnya.

Risiko Masih Tinggi

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan jika risiko penularan Covid-19 terhadap guru dan siswa masih tinggi. 

Hal ini menyusul angka positivity rate (tingkat penularan) Covid-19 di Indonesia masih di atas 10 persen, ini angka ini masih sangat berbahaya.

Bukan hanya pada anak sekolah sangat rentan protokol dilanggar, atau karena guru yang merasa tidak nyaman saat mengajar menggunakan masker maupun face shield, tapi yang perlu diingat jika virus SARS CoV 2 penyebab Covid-19 bisa menyebar lewat udara atau airborne.

"Bahwa sebagian penularan karena masker dicopot, itu benar. Tapi yang terpenting kalau virus ini airborne, bisa menyebar melalui udara seluruh kelas," ungkap Prof. Zubairi.

Risiko protokol kesehatan rentan dilanggar saat sekolah ini, semakin diperparah karena situasi pandemi Covid-19 yang belum terkendali, sehingga tidak tepat untuk kembali membuka sekolah tatap muka, meskipun hanya uji coba.

Dokter yang akrab disapa Prof. Beri itu juga menerangkan, situasi dikatakan aman dan sekolah bisa dibuka jika positivity rate di bawah 5 persen. 

"Perilaku anak memang ada kecenderungan melanggar protokol. Lalu kalau nggak melanggar, jadi nggak apa-apa?. Tetap tidak, nggak melanggar nggak apa-apa kalau positivity rate kurang dari 5 persen," terangnya.

Lebih lanjut Profesor Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) saat tidak setuju dengan anggapan bahwa anak tidak berisiko tertular Covid-19. Hal ini karena banyak kasus anak yang ditemukan meninggal karena Covid-19. 

"Tidak benar jika anak aman, karena anak Indonesia yang meninggal karena Covid-19 banyak, itu yang menurut saya tidak tepat untuk buka (sekolah) saat ini," pungkas Prof. Zubairi.

Sementara itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mulai membuka 85 sekolah yang terdiri dari SD, SMP hingga SMA/SMK terhitung 7 April hingga 29 April 2021, dengan sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi.

Di antaranya seperti durasi belajar 3 hingga 4 jam, daya tampung 1 kelas hanya 50 persen, ditambah pengaturan jarak 1,5 meter antar tempat duduk siswa.

Tapi perlu diingat juga, data Satgas Covid-19 per 28 Maret 2021, menunjukkan 14 persen atau 181.637 kasus Covid-19 terdiri dari mereka yang berusia anak bersekolah, dengan rincian sebagai berikut: 

Usia 0 hingga 2 tahun (PAUD) sebanyak 23.934 kasus.Usia 3 hingga 6 tahun (TK) sebanyak 25.219 kasus.Usia 7 hingga 12 tahun (SD) sebanyak 49.962 kasus.Usia 13 hingga 15 tahun (SMP) sebanyak 36.634 kasus.Usia 16 hingga 18 tahun (SMA) sebanyak 45.888 kasus.

VIDEO: Hari Ini Sekolah Tatap Muka DKI Jakarta Dimulai

https://www.suara.com/news/2021/04/0...isiko?page=all

Jadi pusat wabah 400 ribu kasus si yemen paok mulai tengil lagi. Luhut udah cape turunkan covid jkt dari 5000/hari jadi 1000/hari, gabener pemalas ini bikin efek kejut lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
evywahyuni dan 11 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3
Biasalah..

Yg nanti dipikir nanti emoticon-Leh Uga

Trial and error selalu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aripmaulana dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
ya agak susah, masalahnya gubernur jateng Pak Ganjar sama walikota solo Gibran dah tampil di media dua hari berturut2 menyita perhatian seluruh rakyat Indonesia utk masalah sekolah tatap muka ini, masa beliauw gak ikut tampil juga? emoticon-Bingung

profile-picture
profile-picture
profile-picture
habibpalsu90 dan 5 lainnya memberi reputasi
Lha kan
Semakin ancur kinerja pusat
Adalah rejeki bagi si gabut 😁
profile-picture
profile-picture
profile-picture
reid2 dan 2 lainnya memberi reputasi
ya anies kan cuman ngikut instruksi kemendikbud
profile-picture
profile-picture
profile-picture
reid2 dan 2 lainnya memberi reputasi
Harus ada surat peryataan siap bertanggung jawab penuh dr gubenur baru boleh.
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan samsol... memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
maniak selalu mau jadi yang pertama dan terdepan.

daerah lain kan beda tingkat penularan dan kepadatan penduduknya.. jangan main bilang daerah lain mulai boleh tuh..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Somad.Monyong dan 2 lainnya memberi reputasi
Ane hingga saat ini masih menentang open sekolah terutama yg di kota2 besar ...emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Somad.Monyong dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
gk bolehin belajar tatap muka dianggap nentang kebijakan pusat. terus mesti gimana. Klo kota pendidik dan murid lebih teredukasi untuk patuh protokol kesehatan.
justru di kampung itu muridnya banyak, pernikahan dini udah biasa.
profile-picture
reid2 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hei gitu-gitu dia ex mendikbud.............. yang dipecat....

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Somad.Monyong dan 2 lainnya memberi reputasi
lah kemarin pada protes minta dibuka, giliran nadiem ngasih lampu ijo buat UJI COBA daerah-daerah (bukan cuma DKI) malah protes, kemana aja kemarin, bukannya tatap muta terbatas ini hasil dari rembukan kemendikbud, pgri dan keluhan ortu yg anaknya kelamaam ndekem dirumah XD.

alasannya vaksinasi pula, vaksin kita aja terbatas, kalau nunggu semuanya berdasarkan klaim plecidennya setahun lagi baru boleh dong, ini anggota dewan udah cek ricek belum.

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

lagian kalau kemendikbud gangasih izin gabakal bisa daerah buat UJI COBA.

dan sekali lagi ini masih uji coba.

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak

buat yang ngeles daerah lain beda sama DKI, cek ricek lagi gih ada yang uda uji coba dan fail alias kena covid saat uji coba kaya di bogor, batam sama manalagi tuh yg model sekolah asrama.

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makeiteasy69 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh KuwuRT
gw pribadi & keluarga masih blom setuju utk uji coba ini...
meski grafik di BNPP utk Jakarta mulai turun, tapi masih tinggi koq jika dibandingkan daerah laen kecuali jabar (saingan terberat)...
apalagi orang yg paling deket sama anak sekolah adalah bonyoknya, yg masih blom dapet kesempatan utk divaksin...
smoga aja gak jadi...
Bukannya dari mendikbud yg wacanain sekolah tatap muka lagi? Apa gimana dah?
emoticon-Bingung
Yg enak bubaekan ajah sekolah.

Kakek dan nenek saya gak aekolah ya sukses berketurunan.
#hidupbahagiatanpaaekolah#
profile-picture
areszzjay memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan jika risiko penularan Covid-19 terhadap guru dan siswa masih tinggi. 

Harusnya ada koordinasi ant kemendikbud, satgas copid dan kepala daerah
Diubah oleh idiotane
Tugas oposisi di DKI memang begitu. Apa yg diterapkan Pemprov ya dikritisi terus.
.
Tinggal tunggu Fraksi PKS / Demokrat Jateng kritik sekolah tatap muka Om Ganjar di media emoticon-Big Grin
Biar imbang 😛
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Gw salah satu yang menolak rencana Mendikbud ataupun anis dalam soal ini
Masih beresiko dan belum tentu keluarga anak anak itu udah di vaksin
emoticon-Traveller
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
bener ga jelas fotonya emoticon-Wakakaemoticon-Wakaka

Banyakin lagi ts memenya emoticon-Wakaka


Komen serius:
kalau gw jadi ortu nya sih mending anak gw cari sekolah lain yg bisa online, nyawa euy taruhannya emoticon-Cape d...
Gabener nya mesti di masukkin ke pengadilan
Apakah PTM => covid naik => dana turun?
emoticon-Bingung
tatap muka tapi harus tegas prokes dan minimal SMP ke atas jangan anak SD.. apelagi TK PAUD... D
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di