CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Balada Cinta Si Badut Mampang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/605af9a9ad825615bc4c20fd/balada-cinta-si-badut-mampang

Balada Cinta Si Badut Mampang

Spoiler for :



Balada Cinta Si Badut Mampang
pic : kapanlagi.com



Part 1:
Gadis Bertopi Merah


Gadis tanggung bertopi merah itu berjalan berjingkat jingkat menyeberangi perempatan jalan saat lampu lalu lintas menyala merah. Rambut ekor kudanya terayun ayun mengikuti irama gerak langkah kakinya. Sementara baju lengan panjang kotak kotak yang ia kenakan tanpa dikancingkan itu melambai lambai dipermainkan angin, memperlihatkan kaos yang juga berwarna merah yang ia kenakan di balik kemeja itu.

Sebelah tangan gadis itu menenteng sebuah ukulele. Sedang di tangan yang satu lagi, sebuah kantong plastik bening berisi dua bungkus roti dan air mineral gelasan nampak berayun ayun.

Hiruk pikuknya para pengendara kendaraan yang seolah tak sabar menunggu lampu hijau sama sekali tak dihiraukan oleh gadis itu. Baru saat ada salah seorang pengendara sepeda motor yang iseng menggodanya dengan bersuit dan membunyikan klakson, gadis itu membalasnya dengan menjulurkan lidahnya.

"Dasar cowok ganjen!" dengus gadis itu sambil melompat naik ke atas trotoar. Langkah kecilnya kemudian membawa gadis itu ke salah satu sisi tembok pagar Masjid Raya yang berada di sudut perempatan jalan. Selembar kardus bekas ia jadikan untuk alas duduk, bersandar pada tembok pagar kusam yang dinaungi oleh rindangnya pohon angsana. Tangan mungilnya dengan cekatan membuka bungkusan plastik yang dibawanya, mengeluarkan isinya, lalu dengan lahap mengunyah roti yang menjadi menu makan sorenya itu.

Kunyahan gadis itu tiba tiba terhenti saat matanya tanpa sengaja melirik seorang remaja laki laki yang duduk tak jauh darinya. Anak laki laki bertubuh dekil dengan pakaian kumal itu sepertinya sudah tak asing dimatanya. Pelan pelan gadis itu menggeser posisi duduknya, mendekat ke arah anak itu.

"Nih, makan," ujar si gadis sambil mengulurkan sisa roti di dalam kantong plastiknya. Anak laki laki itu nampak terkejut. Ia menoleh dan menatap nanar ke arah si gadis.

"Ayo, makanlah. Sepertinya kamu kelaparan. Ini roti masih bagus kok, aku baru saja membelinya," ujar si gadis lagi, sambil tersenyum.

Sedikit ragu anak laki laki itu mengulurkan tangannya, menerima roti yang diberikan oleh si gadis, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah si pemberi roti itu.

"Terima kasih," ujar anak laki laki itu lirih. Pelan pelan ia membuka bungkus roti itu dan menggigit isinya.

"Siapa namamu?" tanya gadis itu lagi, sambil mengeluarkan air mineral gelasan dari dalam plastik dan meletakkannya di depan si anak laki laki.

"Lintang," sahut anak laki laki itu pendek.

"Aku Gendhis," tanpa diminta gadis itu juga menyebutkan namanya. "Kamu minggat dari rumah ya?"

"Eh?!" si anak laki laki nampak terkejut mendapat pertanyaan tak terduga itu.

"Sudah beberapa hari ini kuperhatikan kamu selalu berada disini, dari pagi saat aku datang, sampai sore menjelang saat aku pulang. Pakaianmu juga tak pernah ganti, dan ...."

"Aku dibuang," pelan anak itu memotong ucapan si gadis.

"Dibuang?!" kini si gadis yang nampak terkejut.

"Ibuku kimpoi lagi setelah bapakku meninggal, dan bapak tiriku, sepertinya ia tak suka kepadaku. Dengan dalih mengajakku jalan jalan ke kota ini, diam diam ia justru meninggalkanku seorang diri di kota ini," jelas si anak laki laki.

"Ya ampuuunnn, kejam sekali bapak tirimu itu," ujar si gadis penuh iba. "Darimana asalmu?"

"Dari kota S."

"Kota S? Dimana itu?"

"Sebuah kota kecil yang sangat jauh dari sini. Butuh waktu sehari semalam untuk sampai di kota ini dari kotaku."

"Tega sekali orang tuamu itu," gumam si gadis. "Sudah berapa lama kamu dibuang disini?"

"Empat hari," lagi lagi si anak laki laki menjawab pelan.

"Pantas saja, beberapa hari ini aku selalu melihatmu disini. Jadi selama empat hari itu, apa saja yang kamu lakukan?"

"Entahlah. Aku bingung. Aku hanya duduk duduk saja disini, dan kalau malam, aku tidur di emperan masjid. Beruntung kadang kadang ada orang yang berbaik hati memberiku makanan atau sedikit uang."

"Kau masih lapar?" tanya si gadis lagi saat menyadari bahwa roti di tangan si anak laki laki itu telah habis tak tersisa. Agak segan anak laki laki itu mengangguk.

"Bagaimana kalau kau ikut ke rumahku saja?" sebuah ide tiba tiba melintas di benak si gadis.

"Eh, bolehkah?" mata si anak laki laki nampak berbinar.

"Tentu saja boleh. Kita senasib. Aku juga tak punya orang tua. Setiap hari aku ngamen disini untuk menyambung hidup. Kalau kamu mau, nanti kamu juga boleh kok ikut aku ngamen, daripada kamu terlantar disini," kata si gadis lagi.

"Emmmm, tapi ...," si anak laki laki nampak berpikir keras.

"Aku nggak maksa sih, dan kalau kamu nggak mau juga nggak papa kok," ujar si gadis sambil berdiri. "Sudah sore, aku pamit pulang dulu ya. Besok kamu tunggu disini saja. Aku janji, akan kubawakan makanan dan baju ganti untukmu."

Si gadis lalu melangkah meninggalkan si anak laki laki yang masih diam seribu bahasa itu. Kaki mungilnya melangkah menyusuri trotoar yang berdebu itu menuju ke arah timur.

"Gendhis, tunggu!" seruan si anak laki laki menghentikan langkah si gadis. Ia menoleh dan melambai ke arah si anak laki laki, memberi isyarat untuk mengikutinya. Si anak laki lakipun segera bangkit dan berlari lari kecil menyusul si gadis. "Aku mau ikut denganmu!"

"Ayolah," seru si gadis sambil kembali berjalan. Berdua mereka akhirnya berjalan beriringan meninggalkan hiruk pikuknya lalu lintas di perempatan jalan itu, memasuki sebuah gang sempit yang diapit oleh bangunan bangunan megah yang tinggi menjulang. Sementara di ufuk barat sana, warna jingga mulai menyelimuti cakrawala, menandakan bahwa sang suryapun telah pamit untuk kembali ke peraduannya.


bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
maxstroke dan 80 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Halaman 1 dari 16

Index

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057

Prakata

Spoiler for :
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Lihat 17 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 17 balasan
Yang pertama...emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan bonita71 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Yeay dpt page one. Aku subs y Om. Mangats nulisnyaemoticon-2 Jempol
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ikut Gelar tiker gan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lanjutkan kang Indra.. ringan itu satuan bobot lho. Artinya tulisannya pasti berbobot hehehe
profile-picture
profile-picture
senja87 dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wohoooo udin terbit nyang baruuuuu
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part 2 : Bang Herman

Gendhis berjalan sambil mulutnya tak henti hentinya bersenandung. Jari jemarinya yang mungil nampak begitu lincah memetik senar senar ukulele yang dibawanya. Sesekali gadis itu mengangguk dan tersenyum membalas sapaan orang orang mereka jumpai. Sepertinya Gendhis cukup dikenal oleh para penghuni gang sempit itu.

Sementata Lintang, anak laki laki itu sejak tadi hanya diam mengekor di belakang Gendhis. Langkah kakinya tersaruk saruk khas gaya orang kelaparan sedang berjalan. Langkah kaki Gendhis yang lincah dan energic itu membuat Lintang sedikit kewalahan untuk mengimbanginya.

Beberapa puluh meter setelah mereka menyusuri gang sempit itu, tibalah mereka di sebuah perkampungan kumuh yang berada di pinggiran kali. Jalanan mulai sedikit melebar, meski nampak kurang terawat. Sampah bertebaran dimana mana. Di sisi kiri dan kanan jalan nampak berjajar bangunan bangunan sederhana berdinding tripleks dan beratap seng yang sudah banyak berkarat. Anak anak kecil bertelanjang dada dengan tubuh dekil nampak bermain dan berlarian di sepanjang jalan itu.

"Nah, kita sudah sampai," Gendhis berbelok memasuki salah satu bangunan kumuh itu. "Disini aku tinggal bersama abangku."

"Kau punya abang?" tanya Lintang sambil matanya tak lepas memandang ke segenap sudut ruangan sempit itu. Ruangan dengan ukuran tak lebih dari lima kali enam meter itu disekat menjadi tiga bagian. Dua ruangan sepertinya dijadikan kamar tidur, sedang ruangan depan yang lebih sempit lagi hanya diisi dengan sebuah meja keci dengan televisi 14" dan sehelai tikar yang digelar di lantai semen. Tak ada dapur ataupun kamar mandi di dalam bangunan itu.

"Bukan abang kandung," Gendhis menjawab sambil menggantungkan ukulelenya pada sebatang paku yang tertancap di dinding papan. "Tapi abang abangan."

"Abang abangan?" Lintang bertanya tak mengerti.

"Iya, abang ketemu gedhe," Gendhis melepas kemeja kotak kotak yang dikenakannya, lalu melemparkannya kedalam sebuah ember yang berada di salah satu sudut ruangan itu. "Namanya Bang Herman. Dulu dia juga pengamen sepertiku, tapi sekarang sudah naik pangkat, kerja jaga malam di tempat mami Nancy sana. Dia orangnya baik kok, meski sedikit galak. Jadi kamu nggak usah takut."

"Abangmu itu, apa dia nanti nggak keberatan kalau aku disini?" tanya Lintang sedikit ragu.

"Tenang saja. Kalau aku yang minta pasti diijinkan kok. Bang Herman itu sayang banget sama aku, makanya aku menganggapnya seperti saudaraku sendiri," Gendhis menarik sehelai kain handuk yang tersangkut di tambang jemuran yang ada di teras rumah itu, lalu memberikannya kepada Lintang.

"Nih, kamu mandi dulu gih, biar agak segeran. Tuh, sabun dan peralatan mandinya ada di ember. Kamar mandinya di sana tuh, yang tembok warna ijo. Ketuk dulu pintunya sebelum masuk kamar mandi, siapa tau ada orang di dalamnya. Disini mandinya rame rame, satu kamar mandi tuh dipake sama semua penghuni kontrakan sini. Jadi harus gantian dan ngantri kalau mandi. Aku akan carikan baju ganti yang kira kira cocok buat kamu," Gendhis bicara seolah tanpa jeda, sambil tangannya dengan cekatan merapikan ruang tamu yang berantakan itu.

Pelan pelan Lintang melangkah ke arah bangunan kamar mandi yang telah ditunjukkan oleh Gendhis. Handuk kumal itu ia sangkutkan di bahunya, sementara tangannya menenteng ember kecil berisi sabun dan peralatan mandi lainnya.

Lintang merasa sedikit canggung, saat semua mata penghuni perkampungan kumuh itu menatapnya dengan pandangan menyelidik. Mungkin mereka tak terbiasa dengan kehadiran orang asing di kampung mereka.

"Mau mandi?" tanya seorang laki laki berkalung handuk yang sepertinya juga punya tujuan yang sama dengan Lintang.

"Eh, i ..., iya pak," gugup Lintang menjawab.

"Tinggal dimana?" tanya laki laki itu lagi dengan nada ketus.

"Di ..., sana, rumahnya Gendhis," Lintang semakin gugup melihat ketidakramahan laki laki itu.

"Oh, temannya Gendhis ya. Ya sudah, kamu duluan saja yang mandi. Tapi jangan lama lama, aku juga mau mandi nih. Tuh, kamar mandi yang kosong yang pintunya terbuka," mendadak laki laki itu berubah ramah begitu nama Gendhis disebut.

"Terimakasih Pak," ujar Lintang sopan. Ia lalu segera masuk ke dalam kamar mandi yang ditunjuk oleh si bapak tadi. Ternyata kamar mandi ini memiliki beberapa bilik, mirip seperti kamar mandi umum yang berada di terminal sana.

Lintang mandi dengan sangat terburu buru, karena ia sadar bahwa sudah ada yang mengantri diluar bilik itu. Tak lupa ia juga sekalian mencuci baju kotornya. Tak sampai sepuluh menit, ia telah keluar dari bilik itu, dengan hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan si bagian bawah tubuhnya. Kembali pandangan kurang mengenakkan ia dapat dari beberapa perempuan yang duduk duduk di sebuah warung kecil tak jauh dari lokasi kamar mandi itu.

Lintang berjalan dengan bergegas menuju ke rumah kontrakan Gendhis. Samar samar ia masih mendengar bisik bisik para perempuan itu, yang ia tahu sedang membicarakan dirinya. Pembicaraan yang membuat Lintang menjadi semakin tak nyaman.

Buru buru ia membuka pintu rumah kontrakan Gendhis, dan betapa terkejutnya ia, saat mendapati seorang laki laki berambut gondrong dan lengan penuh tato tengah duduk di depan TV.

Laki laki itu menoleh saat Lintang membuka pintu. Matanya yang merah menatap Lintang tanpa berkedip, membuat Lintang diam terpaku di depan pintu. Kedua lututnya gemetar. Ember kecil yang ditentengnya nyaris terlepas dari genggaman jemarinya.

"Matilah aku!" desis Lintang dalam hati.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 42 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Mejeng pejwan dolo ah...
profile-picture
profile-picture
senja87 dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Seru ceritanya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
deeazz dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Cis...romance....huh....

Lanjut gan....emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
senja87 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Gelar tikar duluemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
deeazz dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 23 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 23 balasan
Ane tak dukung cendol wae bos,
Permulaan lintang yg pilu 🤣
profile-picture
profile-picture
profile-picture
senja87 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Kota S???
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mejeng di trit keceh
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Ganti genre?
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
nyimak gan ane newbie lamkenal!!!emoticon-Coolemoticon-Forum Music
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
memantau dan mengawasi , jangan sampai ada penjual kentang di trit ini......emoticon-Hansip
profile-picture
profile-picture
profile-picture
12a12a dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Udah ad yg baru lagi nih, ikutan absen ahemoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
senja87 dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pokoknya pejwan....

Edited : gw gembok, pindah sebelah noh.... emoticon-Cool
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Diubah oleh ozzai936
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 16


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di