CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Mati Sang Kuyang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60475dddffada629862dbd8e/cinta-mati-sang-kuyang

Cinta Mati Sang Kuyang (The End)

CINTA MATI SANG KUYANG


Spoiler for Update Chapter:


Chapter 1


Saat seseorang mencintaimu. Maka, tanpa kau harus bersusah payah, dia akan mengosongkan ruang di hatinya untuk kau tempati.

*****

Pegunungan Meratus, 1990

Sebuah gerobak sapi tampak merayap pelan. Menapaki jalan setapak hutan yang sepi. Gemirincing lonceng yang menggantung pada leher sapi, seirama dengan derit putaran roda-roda gerobaknya.

Matahari bersinar garang. Panasnya menimpa pucuk-pucuk dahan pohon yang tinggi menjulang. Rimbun dedaunan bagaikan kanopi yang memayungi jalan setapak menuju desa Kudung.

Di dalam gerobak, dua anak manusia tengah tertidur sangat pulas. Mereka adalah Aman dan Arul. Kakak beradik yang terpaut usia tiga tahun.

"Grookh ... groookh ...."

Dengkuran keras saling bersahutan terdengar sampai ke luar. Kadang mirip bunyi siulan. Perjalanan pulang yang memakan waktu panjang membuat dua lelaki muda itu tak mampu menahan kantuk. Apalagi saat ini angin sedang berembus sepoi. Semakin keduanya terbang ke alam mimpi.

Sempitnya gerobak tidak mengurangi kenikmatan tidur. Keduanya meringkuk dengan posisi tak keruan. Tanpa sadar wajah Arul sudah tepat di depan bokong kakaknya Aman.

Setandan pisang yang tak habis terjual tergeletak di sudut gerobak. Di sampingnya ada bungkusan berisi tapih behalai, pesanan Sala isteri Aman yang sedang hamil tua. Rencananya tapih-tapih behalai itu bakal persediaan Sala melahirkan nanti.

( Tapih behalai : kain jarik )

Kedua kakak beradik Aman dan Arul baru saja pulang dari menjual hasil kebun di pasar minggu. Pasar mingguan itu menjadi tempat tumpah ruahnya penduduk dari penjuru Pegunungan Meratus.

Begitu juga Aman dan Arul yang tinggal di dataran tinggi. Sejak subuh buta mereka menuruni bukit. Mengangkut puluhan tandan pisang dan kelapa untuk bisa ditukar dengan rupiah.

Arul masih tidak menyadari keberadaan bokong kakaknya yang hampir menempel pada wajah. Bibir tipis pemuda dua puluh tahunan itu malah menyunggingkan sebuah senyuman.

Dalam mimpi Arul, wajah Barlian lah yang kini ada di hadapannya. Sangat dekat. Sampai Arul lupa cara bernapas. Gadis cantik itu selalu mampu membuat dadanya berdetak syahdu.

Aduhai ... cantik nian engkau Barlian!

Tiba-tiba ....

BROOOTT!!

Sebuah ledakan dengan kekuatan maha dahsyat, sukses membuat mimpi indah milik Arul ambyar tak berbekas. Aroma gas beracun hasil produksi Aman meluluh lantakan wajah cantik Barlian.

"Hantu Bilau!" umpat Arul sekonyong-konyong dengan mimik wajah hancur.

"Aaaargh!!" Teriaknya lagi dengan kesal. Kedua tangan mengepal.

Wajah kusut masai itu kemudian duduk sambil mengibas-ngibas sisa udara beraroma busuk yang masih memenuhi gerobak.

"Tadi pagi sarapan bangkai kah, Kak?" rutuk Arul menatap wajah tak bersalah Aman.

Aman tak bergeming. Tidurnya tambah pulas karena perutnya kini lebih terasa lega. Mulut lebar itu mengecap-ngecap seperti orang yang tengah makan. Setetes iler membasahi sudut bibir.

Menyebalkan!

"Ah, percuma marah sama orang tidur!" gerutu Arul lagi.

Pemuda itu memutuskan untuk keluar dari gerobak. Mencari udara segar.

Hup! Dengan gesit tubuh kurus berotot Arul melompat ke tanah.

Sudah biasa bagi Arul meninggalkan gerobak sapi saat dalam perjalanan seperti ini. Si Utih nama sapi mereka itu, bukanlah kuda. Jalan Utih lemot, selemot keong sawah.

Namun, kelebihan dari sapi-sapi pembawa gerobak macam Utih, adalah membawa gerobaknya tanpa perlu dikendalikan. Mereka sudah hapal rute pulang pergi antara pasar minggu dengan rumah majikannya.

Arul berlari masuk ke dalam hutan. Banyak waktu untuk bermain-main sebentar. Dari pada pasrah menghirup gas beracun Aman. Tanpa disadarinya banyak bola mata hitam yang mengintip kepergian Arul. Dari balik rimbunnya pohon kariwaya.

Di waktu yang sama. Sala isteri Aman tengah duduk jongkok di depan tungku perapian. Pipi wanita muda berkulit kuning langsat itu mengebung. Mulutnya meniupkan udara ke tumpukan kayu bakar, menggunakan sebuah corong bambu.

Api pun mulai membakar ujung-ujung kayu bakar yang menyatu dalam tungku. Memanaskan air di dalam panci berisi beras yang bertengger di atasnya. Sebentar lagi suami dan adik ipar Sala kembali dari pasar. Makan siang sudah harus disiapkan dari sekarang.

Di antara sela papan lantai yang terbuat dari kayu, ada sepasang mata sedang mengintip kegiatan perempuan muda itu. Tatapan yang sangat tajam. Seolah bernafsu untuk mencabik-cabik tubuh Sala. Mulutnya menggeram pelan.

Bangunan rumah panggung dengan lantai tinggi. Memungkinkan orang untuk bisa berdiri tegak di bawah lantai rumah. Seperti yang kini dilakukan oleh sesosok makhluk asing dengan penampakan sangat mengerikan.

Kening Sala mengernyit. Selintas dia merasa mendengar suara geraman yang aneh. Mirip geraman kucing. Samar tercium bau busuk, hidung Sala mengendus-endus. Tapi, kemudian perhatiannya terbagi saat air tanakan nasi mulai mendidih.

Bluk bluk bluk ....

Buih-buih air tajin itu tampak menggelegak. Tangan Sala meraih sebuah wancuh kayu. Mengaduk nasi dalam panci yang pantatnya sudah menghitam oleh jelaga.

BRAAAKK!!

Lantai yang ada di pijakan Sala tiba-tiba dibentur keras dari bawah hingga bergetar.

Perempuan hamil itu terlonjak kaget. Spontan kepalanya merunduk. Melihat sela-sela lantai kayu yang terpasang jarang. Jantungnya terasa akan lepas saat beradu pandang dengan sepasang mata merah menyala di antara sela papan.

"Astagfirulloh!" pekiknya tertahan.

Sala berpikir kalau itu adalah mata binatang buas semacam beruang. Ah, entahlah. Dia tak bisa melihat jelas bentuk makhluk yang ada di bawah lantai sekarang ini.

BRAAAKK!!"

Sekali lagi makhluk itu mencoba mengempur lantai. Papan-papan kayu mulai terangkat. Paku-paku terlepas. Bola mata Sala membelalak menyaksikan itu semua. Seluruh tubuhnya mendadak dingin gemetar.

Sala menelan ludah gugup. Sudut matanya melirik sebuah mandau yang menggantung di dinding dapur. Jarak sepuluh langkah dari tempatnya sekarang berdiri. Dia harus menjangkau benda itu untuk mempertahankan diri.

BRAKK ... BRAAAKK!!!

Lantai itu akhirnya jebol. Papan-papan kayu besi yang cukup kuat itu sebagian patah.

"AAARGHH!!"

****

Sementara itu Aman masih dalam buaian mimpi. Sama sekali dia tidak tahu adiknya Arul sudah tidak lagi ada di gerobak.

Merasa aman. Puluhan pasang mata hitam yang tadi mengintip dari balik rimbun dedaunan, menyembul keluar. Makhluk-makhluk berbulu dan berekor panjang itu berlompatan masuk ke dalam gerobak sapi.

"Ugk ugk ugk ... ugk ugk ugk ...."

Mulut monyet-monyet mulai berisik. Apalagi saat melihat setandan pisang kepok yang sebagian buahnya telah menguning di sudut gerobak.

Tak butuh waktu lama. Buah pisang di tandan itu ludes. Tak ubahnya sepotong daging ayam yang jatuh ke kolam air berisi ikan piranha.

"Ugk ugk ugk ... ugk ugk ugk ...."

Monyet-monyet itu dengan leluasa memporak porandakan seisi gerobak. Dodol yang sengaja dibeli Aman untuk oleh-oleh isteri tercinta dinikmati mereka beramai-ramai. Tak cukup sampai di situ. Salah satu monyet dengan isengnya mengencingi wajah Aman.

"Jiaaah ... apa nih?!"  Lelaki bertubuh tambun itu seketika terbangun. Mata sembabnya menatap tak percaya seisi gerobak tak ubahnya kapal pecah.

"ARUUUL!!!"

Teriakan Aman menggelegar, menerbangkan burung-burung yang tengah asyik makan di atas pohon. Sebuah tongkat panjang bergerak membabi buta di tangannya. Seperti orang kesurupan dia memukul-mukulkan ujung tongkat ke arah monyet-monyet nakal yang tak berakhlak.

Beberapa kain jarik untuk persiapan Sala melahirkan dibawa kabur hewan berekor itu. Keadaan kacau balau.

"Dasar warik bungul!" ujar lelaki tukang tidur itu berang.

( Warik bungul : monyet bodoh )
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh blackgaming
Halaman 1 dari 4
Chapter 2


ARUUUL!!!"

Aman berlari mengejar monyet-monyet nakal seraya meneriakan nama adiknya. Dia butuh bantuan Arul untuk mendapatkan kembali kain-kain jarik itu. Susah payah sejak subuh berangkat menuruni bukit, demi bisa membelinya. Sekarang malah dicuri monyet-monyet bengal penghuni hutan.

"Ugk ugk ugk!" Salah satu monyet meledek Aman. Menjulur-julurkan satu kain jarik dari atas dahan pohon yang tinggi.

"Binimu mau melahirkan juga, hah?" tanya Aman gusar. Kedua tangannya menjangkau-jangkau. Tubuh gempalnya melompat-lompat.

"Ugk ugk ugk!"

"Nantilah, habis anakku sudah lahir kupinjami untuk binimu," bujuk Aman kehabisan akal.

Monyet kecil itu seakan mengerti kalau tubuh tambun Aman tidak akan mampu menyusulnya menaiki dahan. Monyet yang lain ikut berteriak girang seolah sedang menonton pertunjukan. Senang sekali melihat seorang manusia bisa menjadi bulan-bulanan kaumnya.

"Aruuul ... Aruuul!" teriak Aman lagi. Matanya menyapu sekeliling. Sosok adiknya tak tampak.

"Ah, kemana lagi si Arul. Bisa-bisanya anak itu meninggalkan gerobak."

***

JEDUAARRR!!

Lantai dapur kini sudah bolong.

Wanita muda yang tengah hamil itu sontak menghambur ke arah mandau yang terkait pada paku. Tubuhnya pun segera menyelip di balik daun pintu yang memisahkan dapur dengan ruang depan. Tangan kanan Sala kini sudah menggenggam kuat gagang mandau. Sikap tubuh waspada.

( Mandau : golok besar senjata tradisional khas Kalimantan. )

Bau busuk bercampur amis semakin menyeruak tajam, memualkan. Sala bisa mengintip pada sela-sela papan daun pintu. Jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang.

Dari lantai dapur yang telah jebol itu, muncul pucuk sebuah kepala. Semakin naik semakin tampaklah kepala berambut panjang dengan kedua kuping yang sangat lebar.

'Makhluk apa itu?' batin Sala terperangah.

Sala membekap mulutnya sendiri agar tak mengeluarkan suara. Berusaha kuat menahan bunyi napas sendiri yang mulai memburu.

Lututnya terasa lemas, tubuh kehilangan tenaga. Mata melotot ketakutan melihat iblis yang menyembul dari kolong rumahnya.

Bunyi mendengung yang aneh mirip serangga, saat kedua telinga lebar itu mulai mengepak bagai sayap burung.

NGUUUNGH ... NGUUUNGH ... POK POK POK ....

Tubuh itu mulai terangkat terbang melayang, sehingga seluruh penampakannya semakin jelas. Dari leher ke bawah hanya berupa isi perut. Kedua paru-parunya bergerak kembang kempis, jantungnya berkedut-kedut sedangkan ususnya tampak memburai.

Astaga ... mengerikan sekali!

Degub jantung Sala hampir tak berjeda. Apa yang diinginkan makhluk itu sampai menjebol lantai dapurnya?

Otak Sala mulai berputar dengan cepat. Seumur hidup dia tidak pernah melihat hantu kuyang. Tapi, sudah sering mendengar cerita-cerita orang tua di kampung tentang hantu yang gemar menghisap darah wanita hamil.

Mak Tuha pernah bercerita pada Sala kalau bentuk hantu kuyang berupa kepala tanpa badan dengan usus menjuntai. Persis dengan makhluk yang sekarang tak jauh darinya.

Mungkinkah ini kuyang yang akan memangsaku, pikir Sala. Rasa takut pun kian menjadi.

Posisi mereka sekarang semakin dekat. Bau busuk menusuk penciuman. Perut wanita hamil itu terasa diaduk-aduk. Susah payah dia menahan mual.

"Grrkh ... grrkh ...." Suara geraman bertambah dekat ke arah Sala bersembunyi.

Mandau di genggamannya tampak bergetar. Namun, kedua mata tetap hawas. Dalam hati Sala berharap Aman segera pulang dari pasar.

'Lekaslah pulang, Kak!' jerit Sala dalam hati.

Sementara itu nasi dalam panci sudah mengering dimakan api. Aroma hangus nasi telah kalah oleh bau busuk dari tubuh hantu kuyang. Pipi Sala mengembung menahan rasa mual yang luar biasa. Bau amis darah bercampur busuknya bangkai terasa menusuk-nusuk ulu hati.

"Hueeekh ...!" Sala sudah tak mampu lagi menahan rasa mual. Isi perutnya sekonyong-konyong keluar.

Makhluk itu berpaling ke arah daun pintu yang menutupi tubuh Sala. Kedua mata iblisnya menyala merah. Jeroannya pun ikut menyala.

Krieeek ...

Daun pintu bergerak sendiri. Seolah ada kekuatan yang menariknya.

Glekh! Tenggorokan Sala terasa tercekat.

Sekarang tak ada lagi penghalang antara dia dan si Kuyang. Mata menyala itu menatap nyalang. Dari mulutnya berlesakan keluar gigi-gigi tajam yang panjang. Mulutnya mencucu.

Makhluk busuk itu lalu Cumiik nyaring seperti pekikan kelelawar. Kepala dengan usus memburainya lalu melesat ke arah Sala.

"KAK AMAAAN!!!" jerit Sala histeris menyebut nama suaminya.

Genggaman pada gagang mandau malah terlepas. Benda yang seharusnya menjadi senjata untuk melawan jatuh berdenting di atas lantai. Tubuh wanita berwajah manis itu lemas. Seluruh tenaganya seolah tersedot habis.

Nyala api di tungku kian membesar tak terkendali. Merambat pada dinding dapur yang terbuat dari papan kayu. Hawa panas membakar. Siap melahap semua yang ada.

***

Klinting ... klinting ... klinting ... klinting ....

Bunyi gemerincing kalung lonceng yang berasal dari leher si Utih, mengiringi gerak maju gerobak. Kepala sapi gemuk berbobot ratusan kilo itu menggeleng-geleng lembut. Menikmati irama lonceng kalungnya sendiri. Keempat kaki besarnya melangkah santai menapaki bukit Pegunungan Meratus.

Jalan mulai menanjak. Kiri dan kanan jalan berjajar rapat pohon-pohon karet yang tinggi menjulang. Beberapa puluh meter di belakang Utih, tampak berlarian Aman dan Arul. Wajah dua kakak beradik itu terlihat panik.

"Apiii ... apiii!!!" Arul berteriak histeris. Napas pemuda berambut sebahu itu memburu. Dia berlari cepat mendahului kakaknya yang sudah tampak tersengal.

Bukan tanpa alasan kakak beradik itu panik luar biasa. Dari tempat mereka sekarang berada, bisa terlihat asap hitam yang membumbung tinggi di puncak bukit. Di situ persis rumah kayu mereka berdiri. Lidah api yang merah terlihat menyambar-nyambar dari kejauhan.

"Salaaa ... Salaaa!!!" Aman berlari terengah menyebut nama isteri tercinta. Tubuh lelaki itu telah basah oleh keringat. Apa daya, postur gempal Aman tak kuasa untuk berlari cepat.

Jantung Aman terasa berpacu. Berbagai kemungkinan buruk berkecamuk dalam kepalanya. Apa gerangan yang sudah terjadi sampai api bisa sebesar itu?

Ya, Tuhan. Semoga Sala baik-baik saja, doanya dalam hati.

Aman dan Arul terus berlarian kencang menuju pulang. Akan memakan waktu lama kalau naik gerobak Utih. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Sala yang saat ini hanya sendirian di rumah.

"Kak Salaaa ... Kak Salaaa!!" Arul tiba di halaman rumah lebih dahulu. Mencelos hatinya melihat kobaran api yang sudah melahap bagian dapur rumah mereka.

Gerak cepat Arul menimba seember air dari dalam sumur. Menyiram seluruh tubuhnya hingga basah kuyup. Tanpa pikir panjang pemuda kurus itu menerobos masuk ke dalam rumah.

Bunyi berderak api yang memakan papan kayu tak dipedulikan lagi oleh Arul. Percikan api berjatuhan dari atas kepala. Hawa panas luar biasa. Asap mengepul menyesakkan dada. Dia harus menyelamatkan kakak ipar dan calon keponakannya dari lalapan api.

"Uhuk ... uhuk!" Kepulan asap membuat Arul terus terbatuk.

Saat kaki Arul telah menjejak di bagian dapur rumah. Sebuah bayangan hitam berkelebat cepat membuat pemuda itu tersentak.

"Kak Sala?!" Arul mengira itu bayangan kakak iparnya Sala. Matanya mencari-cari.

KRAAAKK!!

Atap rumah yang terbuat dari daun rumbia yang telah terbakar berjatuhan. Arul semakin panik belum juga mendapatkan sosok Sala di dalam.

Bara api terus berjatuhan dari atas. Nyalanya kian membesar. Panas membakar membuat masak kulit muka. Asap mengepul menutupi pandangan. Arul merasakan dadanya telah sesak dipenuhi racun jelaga.

"Uhuk ... uhuk!!" Pemuda itu memegangi dada menahan sesak. Mata terasa perih sudah tak bisa menangkap apapun.

BRUAKK!!

"Aaaargh!!"

Seluruh bangunan dapur kini ambruk. Tubuh Arul terpental jauh.

***

Isak tangis mewarnai halaman rumah Aman dan Arul. Para kerabat telah berkumpul untuk berbela sungkawa. Hanya butuh waktu sekejap, kabar kematian Sala telah tersebar hingga ke desa tetangga. Sala dikabarkan hangus terbakar di dapur rumahnya. Kini hanya tersisa tulang belulang.

Rumah milik mereka tak utuh lagi, tinggal beranda saja yang tidak terbakar. Semua telah habis menjadi abu. Tersisa tiang-tiang pancang yang telah menghitam.

"Salaaa ... maafkan Kakak lambat pulang ...." Lirih suara Aman mengulang-ulang kalimat itu. Tatapan lelaki itu kosong. Benaknya dipenuhi penyesalan.

Aman duduk bersimpuh menghadapi rumahnya yang sudah berupa abu bercampur arang. Jasad Sala yang tinggal tulang itu sudah siap untuk dikebumikan.

"Sabar, Man. Jodoh kalian sudah habis. Iklaskan saja! Biarkan dia pergi dengan tenang."

Seorang wanita berumur mengusap pundak Aman. Mak Tuha orang kampung biasa memanggilnya. Seorang dukun beranak, nenek dari Sala.

"Arul harus rawat inap di Puskesmas, Man. Luka bakar di kakinya lumayan parah." Seorang kerabat mendekat memberi kabar tentang Arul.

Kesibukan pun terus berlangsung. Mempersiapkan prosesi pemakaman untuk Sala nanti sore. Warga kampung membangun tenda darurat di halaman rumah Aman. Rencananya Sala akan dikubur di halaman belakang rumah.

Tak ada yang menyadari, jika sedari tadi ada sepasang mata yang menatap licik dengan seringai senyum puas. Seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari Aman. Senang hatinya sudah berhasil mengelabui orang-orang tentang penyebab kematian Sala.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 20 lainnya memberi reputasi
Chapter 3


Matahari tepat di atas kepala saat Yusuf menurunkan kaki dari sebuah mobil angkutan umum bercat putih bersama penumpang lain. Refleks kelopak matanya memicing menahan silau sang raja siang, satu tangan segera ditarik ke atas dahi. Menyandang sebuah tas punggung besar dia melangkah mendekati terminal angkot.

Bertahun sudah pemuda bertubuh tinggi itu tak menjejak tanah kelahirannya. Suasana terminal yang hiruk pikuk menyambut. Teriakan cempreng para kenek beradu nyaring saling bersahutan di depan deretan mobil angkot yang menunggu giliran.

"B***aaang ... B****aaang ...!"

"Aw**** ... Aw**** ...!"

Teriakan keras para mamang kenek membuat kuping pekak.

Yusuf kemudian menjauh dari terminal setelah melihat angkot menuju kampungnya masih tampak kosong. Dari pada berpanas-panasan menunggu di sana, pemuda berkulit putih itu memilih bernostalgia sejenak.

Tungkai panjangnya diayun santai memasuki pasar jajanan yang berdampingan dengan terminal. Tak banyak yang berubah, hanya kondisinya lebih luas dan tertata. Lapak-lapak kue tradisional berada pada barisan paling depan.

Dulu, hampir setiap libur sekolah, Abah, Mamak suka membawa Yusuf dan Cahaya berbelanja jajanan di pasar ini, setelah mereka puas jalan-jalan berkeliling naik motor. Yusuf seakan sedang melihat dirinya dan Cahaya yang masih kecil berpegangan tangan menyisir lapak-lapak jajanan pasar.

"Apamnya, Nang!" sebuah teguran memecah lamunan.

( Nang/ Nanang panggilan untuk anak laki-laki/ pemuda. )

"Lamang ada jua," ujar perempuan paruh baya itu lagi seraya memamerkan senyum semanis mungkin. Dalam hati mengagumi ketampanan Yusuf.

Yusuf berhenti di depan lapaknya. Tampak berpikir sembari memperhatikan berbagai jenis jajanan pasar yang tertata cantik di atas meja. Dia cukup tertarik pada kue apam yang sudah dibungkusi daun pisang. Makanan kesukaan almarhum Ninik.

Mungkin nanti bisa dibagi-bagi buat anak tetangga, sekalian silaturahmi, pikirnya. Dia kemudian membeli beberapa bungkus kue apam. Setelah merasa cukup, Yusuf kembali mendekati terminal.

"Silakan, Mas! Masih ada bangku yang kosong," sapa kenek bertubuh ceking.

Dihela napas panjang sembari memindai badan mobil angkot yang akan mengantarkannya ke Kampung Kudung. Waktu delapan tahun ternyata tidak cukup merubah keadaan.

Kondisi mobil-mobil angkot ke pedesaan masih saja menyedihkan. Badan mobil terlihat sudah keropos, berkarat di sana-sini. Catnya pun sudah tidak jelas warnanya apa. Bahkan pintu mobil yang sudah lepas hanya diikat dengan tali tambang.

Tersisa satu bangku yang berada paling pojok. Yusuf kemudian menjejalkan tubuh jangkungnya menuju bangku itu. Mobil angkot bukan cuma diisi manusia. Tapi, disesaki juga oleh barang-barang dagangan.

Ugh ... sulit sekali bergerak, batin Yusuf.

Dihempaskannya bokong ke atas bangku yang busanya tampak menyembul keluar. Tas yang tadi ada di punggung kini berubah posisi dalam pelukan.

Yusuf sama sekali tidak menyangka akan kembali ke tempat ini. Tempat yang penuh dengan kenangan manis dan pahit. Dia kembali karena Cahaya. Abah meminta Yusuf melihat keadaan kakak perempuanya itu.

Cahaya kabur dari rumah. Tepatnya kabur dari suaminya, Hilman. Membawa luka hati ke tempat terpencil ini. Meninggalkan segala kemewahan di rumahnya sendiri.

Hilman diam-diam sudah mendua, bahkan isteri simpanannya kini tengah mengandung. Sedangkan Cahaya isteri sah yang mendampinginya bertahun-tahun tak satupun memberikan keturunan.

Cahaya sangat terpukul. Dia tak terima jika Hilman sudah main belakang. Suami yang selama ini dibangga-banggakan ternyata sudah tega berkhianat. Cahaya memilih untuk pergi dari rumah tanpa sepengetahuan siapa pun.

Sampai Abah mendapat kabar kalau Cahaya ada di Kalimantan, menempati rumah masa kecil mereka. Dan Yusuf sekarang ditugasi untuk menyusulnya.

Mobil angkot merayap pelan. Bunyinya berderit-derit nyaring. Wajah Yusuf tampak meringis. Terpikir olehnya, jika baut-baut mobil angkot itu akan berlepasan. Lalu dia dan penumpang lain berhamburan di atas jalan.

Namun, sepertinya hanya Yusuf yang mengkhawatirkan kondisi angkot, penumpang lain sudah terbiasa dengan keadaan itu. Nenek di sampingnya tertidur sangat pulas. Bentuk bangku mobil yang menyamping membuat kepala si nenek bersandar nyaman di bahu Yusuf.

Aroma ikan pakasam menguar tajam dari baskom di pangkuan perempuan renta itu. Membuat Yusuf teringat pada Ninik Asroh. Dulu, Ninik ( nenek ) sering membuat ikan pakasam hasil tangkapan Yusuf di sawah.

Pemuda itu tersenyum mengingat Niniknya juga Mamak. Ada nyeri yang menusuk-nusuk dada, setiap kali mengingat masa lalu. Wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya sekarang menghilang entah kemana. Setelah kejadian malam itu.

Rentetan peristiwa melintas kembali di benaknya. Bagai adegan film yang diputar ulang.

"Usir wanita iblis itu dari sini! Dasar pembunuh!"

"Mariam ... keluar! Kami tahu kamu ada di dalam!"

"Bakar saja rumahnya!"

Suara-suara penuh amarah membangunkan tidur lelap Yusuf di tengah malam buta.

Dogk dogk dogk!

Pintu rumah digedor-gedor dari depan.

Yusuf menyibak tirai jendela kamarnya yang ada di lantai dua rumah. Banyak warga kampung berkumpul di halaman depan dengan obor yang menyala di genggaman. Wajah-wajah itu tampak tak sabar.

"Ada apa ini?" Ninik Yusuf keluar menemui mereka.

"Mana Mariam? Cepat keluar!"

"Mariam tidur," sahut Ninik.

"Bohong! Cepat bawa keluar iblis itu, sebelum rumah ini kami bakar!"

"Kalian semua ngomong apa?" Ninik tampak kebingungan.

"Kami semua sudah tahu kalau Mariam itu kuyang," timpal yang lain.

"Ya, Allah! Istighfar kalian semua. Jangan membuat fitnah!" ujar Ninik.

"Ah, tidak usah banyak basa-basi. Cepat kita cari dia!"

Ninik Yusuf bernama Asroh itu didorong sampai jatuh. Orang-orang kemudian mulai memasuki pintu rumah. Menyadari bahaya, Yusuf kemudian bergegas lari ke kamar Cahaya.

"Kak Aya, bangun!" Diguncang-guncang bahu Cahaya. "Orang-orang marah sama Mamak."

"Kenapa?" Cahaya mengucek mata sebelum duduk.

"Tak tau. Orang-orang masuk rumah nyariin Mamak. Semua marah-marah."

Bola mata Cahaya melebar."Kita ke kamar Mamak!"

Dua kakak beradik itu kemudian menuruni tangga menuju kamar ibunya. Tapi, apa yang mereka lihat? Orang-orang sudah memporak porandakan kamar Mariam. Sprei, bantal, guling sudah tampak berhamburan. Isi lemari diacak-acak. Mereka sangat geram tidak berhasil menemukan wanita itu.

"Mamak di mana, Kak Aya? Kasian Mamak," bisik Yusuf tergugu pada kakaknya.

Cahaya menggeleng."Kita cari Mamak!" tukasnya seraya menarik lengan Yusuf

Rusman suami Mariam, sudah satu tahun terakhir tidak lagi tinggal di rumah bersama mereka. Laki-laki itu kini lebih memilih tidur di rumah isteri mudanya.

Walaupun dari segi nafkah Rusman masih bertanggung jawab pada keluarga. Namun, kasih sayangnya kini telah berpindah. Waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah yang lain.

"Usuf, Aya ... keluar, Cu!" Ninik berteriak-teriak di luar rumah. Perempuan tua itu gemetar ketakutan.

Sepertinya amarah warga kampung Kudung sudah tak bisa lagi dibendung. Mereka mulai membakar rumah panggung yang tebuat dari kayu besi itu.

"Mamaaak ... Mamaaak!!" Yusuf dan Cahaya memanggil-manggil ibunya yang sampai saat itu tidak tampak.

"MAMAAAK!!!" Suara Yusuf melengking melihat rumah mereka mulai dimakan kobaran api.

"Hentikan! Jangan main hakim sendiri!" Kakek Muslim salah satu warga berusaha menenangkan kemarahan masa.

Masih ada sebagian tetangga yang punya hati. Berusaha membantu memadamkan api dengan menyiramkan air dengan ember.

"Ada api, Mas?" Pertanyaan penumpang pria yang duduk di depan, membetot Yusuf dari ingatan masa lalu.

"I-iya?" tanya Yusuf tergagap.

"Ada api?" ulang lelaki itu lagi sembari menunjukkan sebatang rokok di sela jari.

"Oh, maaf. Saya tidak merokok, Mas," jawab Yusuf sopan, menangkup kedua tangan di dada.

Laki-laki berambut kelimis itu kemudian meneleng menatap Yusuf. "Usuf?"

Kening Yusuf mengernyit. Berusaha mengingat wajah orang yang sekarang duduk tepat di hadapannya. Seorang laki-laki bertubuh gempal dengan bentuk wajah bulat tomat.

"Beh, sudah lupa rupanya sama aku. Rahman alias Aman." Dia menunjuk-nunjuk dada sendiri. "Kawanmu esde."

"Astaga, Man! Maaf aku pangling. Berubah sekali kau," cetus Yusuf terperangah.

"Kau juga berubah, Suf. Tapi aku ingat betul hidung lancipmu itu," ujar Aman terkekeh.

Kedua teman SD itu kini sudah saling mengenali.

"Lama sekali meninggalkan kampung, kawan. Sudah punya bini kau sekarang?"

Yusuf terkekeh. "Masih membujang aku, Man."

"Ah, bohong. Lalu siapa cewek yang bersandar di bahumu itu? Pacar?" bisik Aman melirik nenek yang tampak nyaman bersadar di bahu kokoh kawannya.

Dijawab dengan mata menjuling oleh Yusuf. Mereka kemudian sama-sama terkikik.

"Kamu sendiri gimana? Sudah punya bini?" tanya Yusuf balik.

Wajah Aman tiba-tiba berubah muram, membuat Yusuf bertanya-tanya dalam hati.

"Biniku mati, Suf. Seminggu yang lalu."

"Innalillah ... maaf, Man. Aku tidak tahu." Yusuf menepuk-nepuk bahu temannya pelan.

Aman menggeleng. "Habis jodohku dengannya."

"Sabar, Man."

"Hum." Aman mengangguk.

Mobil semakin berguncang oleh kondisi jalan yang bergelombang. Jalan mulai berbatu. Persimpangan desa sudah dekat.

"Ih, p*lir!" Nenek di samping Yusuf tiba-tiba terbangun. Sepertinya dia latah.

"Sudah sampai kah p*lir? Ih ... p*lir, jar. Muntung kada batata!"

Nenek itu memukuli mulut sendiri karena sadar mengucapkan sesuatu yang tidak pantas. Membuat penumpang lain senyum-senyum melihatnya.

( Muntung kada batata : Mulut tidak tau adab. Si nenek menyebut alat kelamin laki-laki setiap latahnya kumat. )

Mobil angkot akhirnya tiba di persimpangan jalan. Beberapa ojek motor sudah menanti di pangkalan. Yusuf dan Aman masing-masing mendekati ojek untuk melanjutkan perjalanan menuju Kampung Kudung.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 18 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Chapter 4


"Ssstt ... berani taruhan. Pasti ada apa-apanya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja datang kemari."

"Hu' um, aneh. Kita saja sudah pada lupa sama dia."

"Mau-maunya menempati rumah tua begitu. Pasti sudah pada lapuk kayunya."

"Kayu besi tak bakalan lapuk, Mak Apis."

"Udah, ah. Ngapain ngurusin urusan orang?"

"Tapi, orangnya cantik banget, mak-mak. Janda lagi. Kuatirnya laki kita yang tidak kuat."

"Siapa bilang janda?" Sok tahu kau!"

"Kalau ada suaminya, mana? Tak mungkin suami biarin isterinya pergi sendirian ke tempat sepi begini."

"Kita kan tak tahu masalah orang. Lagian itu hak dia. Rumah itu memang peninggalan orang tuanya."

"Rumah sudah behantu begitu."

Wuuushh ....

Bisikan-bisikan itu terbawa oleh angin. Cahaya bisa mendengar dengan jelas suara yang berasal dari warung yang ada di seberang jalan. Padahal jaraknya cukup jauh. Entah siapa saja yang bicara. Ada beberapa mamak-mamak sedang duduk merumpi di warung kopi milik Uwak Haji.

Kedua telinga Cahaya bergerak-gerak setiap menangkap percakapan orang yang membicarakan tentang dirinya. Dada wanita cantik itu naik turun bergemuruh. Bibir mengatup geram.

Bisakah mereka mengurusi diri mereka sendiri saja?! Teriaknya dalam hati.

Cahaya mendengkus. Namun, terpaksa tetap melanjutkan pekerjaannya menyiangi rumput. Sejak kemaren menunggu si Busron, tapi pemuda tanggung itu tak juga datang. Cahaya sudah tak sabar ingin membuat rumahnya bersih dan layak huni.

Rumah panggung terbuat dari kayu ulin itu masih tampak kokoh. Hanya saja sudah banyak ditumbuhi lumut dan jamur. Setiap hari Cahaya menyempatkan diri membersihkannya. Namun, karena ukuran rumah yang besar, tidak cukup waktu sehari untuk mengerjakan.

"Aku tidak peduli apa kata kalian. Bukan kalian yang mengasih makan aku kan?" guman Cahaya kesal. Wajah cantik itu cemberut.

Matahari pagi sudah mulai menyengat. Peluh menetes di kening yang indah. Siapa bisa menyangkal kecantikan seorang Cahaya?

Kulit putih halus bak pualam. Tubuh tinggi semampai dengan lekukan yang membuat dada setiap lelaki akan berdesir. Rambut hitamnya yang panjang saat ini dicepol ke atas. Hingga tampaklah tengkuk jenjang putih mulus itu.

Tapi, ternyata kecantikan saja tak cukup untuk membuat cinta lelaki pujaan bisa bertahan. Jiwa petualang seorang lelaki tetap berontak liar mencari bunga yang lain.

Cahaya pernah sangat percaya diri akan cinta. Begitu yakin Hilman sudah terjerat kuat dalam hatinya. Lelaki yang pernah bersumpah setia akan menua bersama.

Tapi apa buktinya?

Hilman ternyata hanya lelaki biasa yang tak mampu meredam godaan.

Pergi dan menghilang adalah cara yang dipilih Cahaya. Cintanya terlalu besar pada Hilman. Seolah belati yang sedang menancap dalam pada dinding hati.

Nyeri, sakit dan berdarah.

Jika belati itu dicabut sekarang, maka hatinya akan hancur berderai. Jika dibiarkan, maka dia akan mati perlahan.

Sama menyakitkan.

Cahaya tak sanggup membayangkan malam-malam yang dihabiskan Hilman bersama perempuan lain. Membayangkan lekakinya menyentuh perempuan lain penuh cinta.

Perempuan itu diam-diam sudah dinikahi Hilman setahun terakhir. Bahkan sekarang sudah hamil. Pintar sekali selama ini Hilman menutupi semua darinya.

"Aya, Laila tidak pernah memintaku untuk menceraikan kamu. Dia tak masalah kalau harus bermadu dengan kamu. Ayolah, Aya. Kita jalani saja," ucap Hilman enteng.

Astaga! Bahkan Hilman menganggap Laila lah yang kuasa membuat keputusan. Artinya Cahaya sudah tak lagi berharga. Sungguh menyakitkan.

Cahaya menatap nanar suaminya. Dalam sekejap dia seakan tak mengenali orang di hadapannya saat itu. Tak mampu lagi berkata. Hanya air mata yang bicara.

Kalau anak yang menjadi penyebab. Tak bisakah bersabar sedikit lagi? Cahaya merasa dirinya masih muda. Masih banyak waktu untuk usaha. Sudah banyak cara yang diupayakannya untuk bisa hamil. Dari minum jamu yang pahit luar biasa, menahan sakit ke tukang urut, sampai berobat ke dokter kandungan. Semua suda Cahaya lakukan.

Tanpa sadar tetesan hangat meleleh di sudut mata berbulu lentik itu. Kuku-kukunya mencabuti akar rumput banta dengan geram. Seakan ada wajah Laila di situ.

"Dasar wanita sundal! Aku akan membalasmu Laila!" gumamnya geram.

Keinginan memiliki momongan sepertinya hanya alasan yang dibuat-buat suaminya untuk mendua.

"Kak Aya, maaf baru bisa ke sini. Kemaren mamak sakit." Busron datang dengan napas terengah.

Pemuda tanggung itu masih terhitung kerabat Cahaya. Dulu saat Cahaya dan keluarga meninggalkan desa, dia masih sangat kecil. Tapi, ternyata Busron masih bisa mengingat Cahaya.

"Ya, sudah. Kalau begitu lanjutkan siangi rumput!" Tak tega Cahaya marah pada anak itu.

"Geh, Kak." Busron tersenyum senang bisa dapat pekerjaan tambahan hari ini. Apalagi dia tahu kalau Cahaya orang yang royal. Tidak segan memberi upah yang banyak padanya.

Cahaya melenggang masuk ke dalam rumah. Di dalam dia mengintip ke luar dari sela tirai jendela. Mamak-mamak tukang gosip itu masih ada di sana memandang ke arah rumahnya.

Telinga Cahaya bergerak-gerak lagi menangkap angin yang membawa suara mereka mendekat. Wanita itu berusaha merekam wajah-wajah orang yang membicarakan hal buruk tentang dirinya.

****

Sebuah nyala obor tampak meliuk-liuk tertiup angin, bergerak dalam kegelapan, di antara rimbun dan tingginya kebun jagung. Terdengar derap langkah bergesekan dengan dedaunan kering.

"Mulai jam berapa katubannya pecah, Sur?" tanya Mak Tuha menanyakan kondisi isteri Isur yang sudah hamil tua.

"Baru, Mak. Dia bangun gara-gara perutnya mulas. Mau minta temani ke sungai buat buang air. Eh, pas bediri ketubannya ngocor keluar. Saya langsung lari ke rumah Mak Tuha," terang Isur.

Kening Mak Tuha mengernyit. "Binimu sama siapa di rumah?"

"Sendirian, Mak," sahut Isur santai.

Pletak! Buku tangan Mak Tuha mendarat di atas kepala Isur. Sontak lelaki muda itu mengaduh.

"Bungul! ( bodoh! ) Begini ini kalau masih bau kencur sudah kimpoi. Otak ditaruh di lintihut." ( otak di dengkul )

Mak Tuha menatap berang wajah Isur yang tertimpa cahaya obor.

"Kenapa, Mak? Biasanya Dijah juga sering saya tinggal sendiri," protes Isur bingung.

Pletak! Sekali lagi buku tangan Mak Tuha mendarat di kepala pelontos itu. Sepertinya Mak Tuha benar-benar sedang marah.

"Dasar bocah! Binimu itu lagi hamil. Jangan pernah meninggalkan orang hamil di rumah sendirian. Kamu kira kampung kita ini aman, hah?!"

Perempuan tua itu kemudian memacu laju kakinya. Sayang kondisi gelap. Kalau saja terang Mak Tuha mungkin akan berlari menuju rumah Isur.

Usia Isur dan isterinya Dijah masih belasan. Menikah muda sudah menjadi kebiasaan warga desa. Tapi, dengan usia yang terlampau muda, mereka sulit untuk dinasihati. Cenderung mengabaikan pesan orang tua.

Padahal setiap memeriksa kehamilan Dijah ke tempat Mak Tuha. Dukun beranak itu sudah sering memberi wejangan pada Isur, agar tidak meninggalkan Dijah sendirian di rumah.

Rumah Isur berada di tengah kebun jagung. Lumayan jauh berjalan kaki dari rumah Mak Tuha. Memakan waktu cukup lama.

NGUUUNGH ... POK POK POK ... NGUUUNGH ... POK POK POK ....

Bunyi mendengung disusul bunyi kepakan melintas di atas kepala Mak Tuha dan Isur.

Tess ....

Mak Tuha merasakan ada cairan yang menetes di atas dahinya. Hidung Mak Tuha mengendus bau amis yang khas. Tangannya lalu menyapu cairan pada dahi.

"Darah!" pekik Mak Tuha memandangi tangannya.

"Sur! Kita lari saja ke rumahmu. Cepat!" perintah Mak Tuha.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 17 lainnya memberi reputasi
Chapter 5


"Mestinya kamu tak usah menyusul Kakak ke mari, Suf." Cahaya meletakkan segelas teh hangat di atas meja.

"Masalahnya apa, Kak, kalau Usuf menyusul? Kak Aya pergi tanpa pamit. Tentu kita semua cemas."

"Siapa yang kamu maksud kita?" tanya Cahaya sinis. "Paling kamu sendiri kan?"

Yusuf menghela napas pelan. "Abah sangat risau dengan kepergian Kak Aya. Begitu juga Mas Hilman. Biar bagaimana pun Mas Hilman itu masih suami Kak Aya."

Cahaya mendengkus. "Abah? Bisa juga dia mencemaskanku? Apa Abah sudah lupa, kalau dia pernah melakukan hal yang sama pada Mamak? Sampai Mamak pergi menghilang. Dan hingga sekarang kita tidak tahu nasib Mamak bagaimana. Entah hidup atau mati," tukasnya emosi.

Air mata merembes di sudut mata berbulu lentik itu. Yusuf duduk terpekur. Membiarkan kakak perempuannya menumpahkan unek-unek.

"Kalaupun Mas Hilman peduli padaku. Kenapa bukan dia yang datang? Tidak Suf, kamu salah." Cahaya menggeleng. "Mas Hilman tidak akan merasa kehilangan aku. Mungkin saat ini dia malah lega dengan perginya aku."

Yusuf masih diam. Percuma bicara pada orang yang sedang sakit hati. Diraihnya teh hangat di atas meja, mereguknya sampai tandas.

****

Batang lanting yang terbuat dari bambu itu pagi-pagi sudah ramai oleh cetoteh dua mamak yang sedang mencuci. Suara cempreng mereka terdengar jelas di antara gemericik arus sungai yang menimpa bebatuan.

"Kampung kita sekarang sudah tidak Aman. Si Dijah bini Isur mati diisap Kuyang. Kasian, si Isur sekarang setres ditinggal mati bini." Mak Lani membanting-banting cucian basahnya di atas papan.

"Kenapa juga bini ditinggal sendirian di rumah? Ceroboh benar dia," sahut Mak Apis sambil membilas cuciannya di atas air sungai yang mengalir.

"Siapa lagi orangnya yang jadi kuyang? Sudah betahun-tahun kampung kita ni sudah aman. Tak ada kuyang."

"Belum tentu orang kampung kita yang jadi kuyang Mak Lani. Bisa saja orang kampung sebelah. Atau kuyang datang dari jauh."

"Iya, ya. Aku pernah dengar kalau kuyang tu tak mau cari mangsa di kampungnya sendiri. Bah, bisa bahaya kampung kita. Masih banyak yang hamil."

"Bukan cuma wanita hamil yang dia suka. Bayi merah pun hantu itu suka."

"Hiih, merinding aku. Kalau cuma hendak disayang laki. Awak jadi hantu, apa gunanya."

"Iya. Aku juga bepikir begitu. Kalau laki sudah ke lain hati. Biarkan saja. Timbai ( lempar ) saja ke sungai."

Dua mamak itu tertawa berderai. Yusuf yang berada tak jauh dari mereka tanpa sengaja ikut menyimak. Pemuda itu tersenyum getir mengingat sejarah perjalanan hidup keluarganya. Mariam ibunda Yusuf dituduh tanpa bukti sebagai pelaku ilmu pengasih Kuyang. Sayangnya Mariam tak pernah lagi muncul sejak kejadian malam itu.

Tergesa kemudian Yusuf membilas busa shampo di rambutnya. Dia tak ingin lebih banyak mendengar lagi. Hanya akan membuka luka lama yang sampai saat ini belum sembuh.

"Uy, bengkengnya ( cakepnya ) tuh. Laki siapa?" tanya Mak Lani berbisik pada Mak Apis.

Yusuf yang tadinya terhalang batu besar dari pandangan dua mamak itu menaiki undakan menuju ke atas tebing sungai. Dia sudah selesai mandi. Tubuh atletisnya hanya terlilit handuk dari pusar hingga lutut. Mamak Lani menahan napas dibuatnya.

"Eh, baru lihatkah Mak Lani? Itu si Usuf anak Mariam," sahut Mak Apis pelan. Diapun ikut menelan ludah menyaksikan pesona Yusuf.

"Adiknya Cahaya?" bisik Mak Lani lagi dengan mata tak berkedip. "Sudah jadi lelaki tampan sekarang?"

"Ho-oh. Kalau macam begitu lakimu. Tepikirkah mau menimbainya ke sungai pabila selingkuh?" tanya Mak Lani.

Rugi bandar kalau membuang model laki begitu. Mungkin akan lebih baik dikurung di rumah saja, sahut Mak Lani dalam hati.

"Mak Lani ... uy, Mak Lani!" Mak Apis menepuk bahu Mak Lani yang mulutnya masih mangap, meski Yusuf sudah tak terlihat.

****

Sebuah motor ojek memasuki halaman rumah panggung berukuran besar. Masih pagi. Suasana sekitar rumah tampak lengang. Begitupun warung kopi Uwak Haji yang ada di seberang jalan.

"Ambil saja kembaliannya, Mang!" ujar pria berpenampilan orang kota itu setelah turun dari boncengan motor.

"Kebanyakan ini, Pak ...." Tukang ojek itu menyodorkan lagi lembaran berwarna merah yang masih kaku.

"Tak apa. Anggap saja rejeki Mamang hari ini lagi bagus," sahut pria berwajah ketimuran itu sembari mengangkat telapak kanannya.

Setelah berulang kali mengucapkan terima kasih. Tukang ojek yang biasa mangkal di persimpangan jalan masuk desa itu melajukan motornya ke luar dari halaman.

Bukan hal yang sulit mencari alamat di tempat terpencil ini. Para ojek yang selalu mangkal di persimpangan akan siap mengantar ke tempat yang di tuju. Mereka tahu siapapun yang keluar masuk dari perkampungan dalam. Apalagi kedatangan orang baru dari kota.

Sepi. Hanya terdengar kicauan burung yang bersarang di pepohonan. Pria yang baru datang itu menaiki anak tangga menuju teras rumah. Berdiri diam beberapa detik di depan pintu sebelum mengetuknya.

Tok tok tok!

Pintu itu diketuk bertubi.

"Masuk saja!" Teriak seorang wanita dari dalam.

Cahaya tengah merapikan sprei tempat tidurnya di kamar. Dipikirnya yang datang adalah Busron. Rencana hari ini Busron akan membuatkan kandang ayam di halaman belakang rumah. Namun, saat sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Cahaya terpekik kaget.

"Mas, Hilman?!" Sontak Cahaya membalikan tubuh dengan bola mata membulat.

"Siapa yang kau perbolehkan masuk dengan bebas ke rumah ini? Apa dia laki-laki?" tanya Hilman sendu.

"Ngapain Mas Hilman ke sini?" tanya Cahaya, mendorong pelan tubuh suaminya.

"Tentu saja mencarimu. Pulanglah, Sayang. Aku rindu ...."

"Aku tidak akan pulang, Mas. Ceraikan aku!" ketusnya sembari mundur beberapa langkah.

Lutut laki-laki di depan Cahaya luruh mencium lantai.

"Kumohon Aya! Maafkan suamimu ini!" Hilman kini berlutut. Sesuatu yang belum pernah seorang Hilman lakukan.

"Percuma, Mas." Cahaya tersenyum miring. "Hatiku sudah terlanjur sakit. Kembalilah pada Laila-mu itu. Bukankah dia sedang hamil besar sekarang?" tukasnya, lalu keluar dari dalam kamar. Berjalan menuju dapur.

"Aku sudah menceraikan Laila."

Kaki Cahaya seketika berhenti melangkah. Kedua alis hitamnya bertaut keheranan. Ini seperti mimpi baginya.

"Aya ... tidak ada yang lain lagi. Hanya kau Aya." Pelan Hilman mendekati Cahaya dari belakang. Kedua lengannya kembali menyusup di pinggang Cahaya. Menghirup wangi rambut wanita yang beberapa hari terakhir memenuhi benak. Rindu terasa memuncak ke ubun-ubun.

"Lalu bagaimana dengan anak yang ada di perut Laila?" desis Cahaya. Kali ini dibiarkan laki-laki itu memeluknya.

"Bisakah saat ini kita tidak membicarakan itu? Aku merindukanmu, Sayang." Hilman memelas. Seolah tak bersisa setitikpun hatinya untuk Laila.

Ada apa ini? Kenapa Hilman tiba-tiba berubah? Kemaren begitu kekeuhnya dia mempertahankan Laila.

Senyum seringai penuh misteri terlukis di bibir Cahaya.

"Mas Hilman tidak sedang mempermainkan aku bukan?" Cahaya menoleh pada suaminya. Mencari kesungguh-sungguhan pada sepasang netra sendu di depannya.

"Hum." Pria itu menggeleng. Mengusap lembut pipi mulus isterinya. "Kita mulai dari awal lagi."

"Tapi aku tidak mau kembali ke rumah sekarang, Mas. Aku masih betah di sini."

"Iya. Kapanpun kamu mau. Mas akan menunggu."

"Janji?"

"Janji."

Saling berbalas senyum. Saling menatap penuh cinta. Aya lalu menarik tangan suaminya kembali memasuki kamar. Daun pintu lalu ditutup. Cahaya siap melepas rindu dengan lelakinya. Entah apa yang terjadi kemudian.

Begitu saja?

Mudah sekali ternyata wanita memaafkan.

Yusuf mengeleng-gelengkan kepala di depan pintu rumah. Dia urung masuk saat melihat Cahaya dan kakak iparnya sedang berbincang serius. Dipikir Yusuf akan terjadi pertengkaran hebat antar keduanya.

Tapi, ternyata ....

"ASSALAMU ...."

"Ssshhh ... berisik kamu, Bus!" Yusuf segera membekap mulut Busron yang baru datang.

"Aku cuma mengucap salam, Kak Usuf," ujarnya polos.

"Wa' alaikum salam," sahut Yusuf berbisik.

"Kandang ayamnya mau dibikin sebelah mana?" Busron kembali meninggikan suaranya.

"Ssstt ... dibilang jangan berisik! Besok saja kamu balik lagi ke sini. Kak Aya lagi sibuk, ada tamu."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 18 lainnya memberi reputasi
Pertamax gan...
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Tumben ada yang ceritain tentang Kuyang di SFTH emoticon-Ngakak
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Sudah lama ane pengen baca cerita seperti ini. Cerita mengenai kuyang buat ane selalu menarik untuk diikuti.
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Cerita mistis Kalimantan...
Lanjut gan
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Wah trit baru lagi gan, mantap...keknya horor nihemoticon-Jempol
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Mampir dulu deh, nanti baca lagi
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Chapter 6


Kayu bakar itu sudah diikat kuat menyatu dengan tali rapia. Lumayan berat jika dipanggul ke atas pundak. Gagang kapak diselipkan pada ikatan pinggang. Arul meregangkan bahunya bersiap untuk mengangkat.

"Ngayaaau!"

Plak! Plak!

Pemuda itu tiba-tiba mengumpat sambil menepuk-nepuk kulitnya, saat merasakan sengatan nyamuk yang cukup mengejutkan. Menjelang gelap nyamuk hutan semakin beringas. Apalagi ketika mereka mendeteksi aroma tubuh manusia yang berkeringat.

Note : Ngayau adalah sebutan bagi penjegalan kepala manusia pada masa itu.

Sambil masih mengumpat, tubuh kurus berotot Arul mengangkat ikatan besar kayu ke atas pundaknya. Keringat sudah membasahi sekujur tubuh.

Kayu-kayu bakar itu atas permintaan salah seorang warga kampung Kudung untuk persiapan hajatan perkimpoian minggu depan. Sepuluh ikatan besar kayu bakar harus Arul setor dalam waktu tiga hari ini. Lumayan, hasilnya bisa ditabung bakal melamar Barlian.

Kekuatan cinta memang luar biasa. Mampu menyulut semangat kerja Arul. Beban berat di pundak tidak begitu terasa setiap membayangkan dirinya bisa bersanding dengan bunga desa itu.

Sayang, sampai saat ini Datuk Rohayah belum merestui hubungan mereka. Wanita renta itu beranggapan kalau Arul tak pantas untuk cicitnya. Pemuda miskin pekerja serabutan. Hanya bermodalkan cinta.

Rohayah berharap kelak Barlian mendapat jodoh laki-laki pekerja kantoran yang bersepatu dan memakai dasi. Meski dia tahu jika Barlian dan Arul diam-diam menjalin kasih di belakangnya.

Sikap dingin Datuk Rohayah tidak menyurutkan semangat Arul mengejar cinta Barlian. Pemuda berwajah manis itu malah semakin merasa tertantang untuk membuktikan kesungguhan cintanya. Tak disia-siakan waktu dari terbit hingga terbenam matahari. Arul giat mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Apapun akan dikerjakan asal halal, asal menghasilkan.

Napas pemuda itu kian tersengal. Dipacunya kedua tungkai agar lebih laju. Berharap sempat mengejar waktu sholat maghrib. Bunyi jangkrik dan serangga malam kian ramai bersahutan. Lamat-lamat terdengar suara sedu-sedan tangisan terbawa oleh angin.

"Huuuhu ... hwaaa ... hwaaa ...."

Degh!

Langkah Arul sontak berhenti. Matanya menatap sekeliling. Jangan-jangan hantu penunggu hutan.

"Huuuhu ... huhuhuuu ... gkh ... gkh ...."

Suara tangisnya terdengar aneh.

Alis pemuda itu bertarung menajamkan pendengaran. Bulu kaki terasa berdiri.

"Tak usah jadi hantu kalau tak sakti! Percumaaaa! Huhuuu ... gkh ... gkh!"

Mulut Arul membulat mendengar suara tangis bercampur omelan di tengah hutan. Berjingkat dicarinya asal suara.

"Aku bosan hidup miskin terooos! Bikin aku kaya raya! Hwaaaa ... huuuhu ... huhuuu."

Mata Arul memicing berusaha mengenali sesosok tubuh yang memeluk pohon kariwaya tanpa sehelai benang pun. Sepertinya dia tidak asing dengan sosok itu.

"Woy, hantu penunggu pohon kariwaya! Buruan keluar! Penuhi permintaanku! Aku mau sugiiih!"

Bugk! Bugk! Bugk!

Pohon besar berusia ratusan tahun itu kemudian dipukuli dengan sebuah batang rotan.

"Mamakku sakit. Aku butuh duwit buat beli obat. Adikku tiga belum pada makan. Aku tak mau pulang kalau tak bawa duwit. Huhuhuuu ... gkh ... gkh ...." keluhnya berurai air mata.

"Astagfirulloooh ... Busron! Sedang apa kau Busrooon!" seru Arul begitu mengenali sosok yang ada di depan.

Busron, pemuda tanggung itu tak bergeming. Tubuh bugilnya menempel mirip kadal di pohon besar itu. Arul terpaksa menjatuhkan kayu bakar bawaannya ke tanah.

Setres nih anak, pikir Arul.

"Pulang, Bus! Hari sudah gelap. Kasihan mamakmu. Pasti cemas anaknya belum pulang."

"Jangan urusi aku!" bentaknya semakin kuat memeluk pohon.

"Astaga, Bus! Buat apa kamu sampai telanjang bulat begini?" Arul meringis geli.

"Woy! Jin, setan, iblis penunggu pohon. Buktikan kalau kau kuat! Beri aku kekayaan! Aku butuh duwit banyaaak!" Busron kian menjadi-jadi.

"Minta sugih itu sama Allah, Bus. Bukan sama hantu," sahut Arul gusar.

Alamat ketinggalan maghrib akibat mengurusi ulah Busron. Dia tak tega meninggalkan anak itu sendiri. Bahaya kalau sampai diculik demit hutan. Bakal bikin repot orang sekampung.

"Tidaaak! Aku sudah tak percaya sama Tuhan. Sudah capek aku berdoa sama Tuhan. Tak pernah tekabul. Huuhuhu ...."

"Astagfirulloh ... nyebut, Bus! Kenapa kau pikir iblis yang bisa membuatmu sugih?" Arul geleng-geleng tak mengerti.

"Lihat hantu yang kau puja! Dia saja masih tinggal di pohon. Rumahpun dia tak punya. Mau kau mintai duwit? Dia juga miskin, Buuus!" ujar Arul gemas.

Glekh! Busron menelan ludah. Sadar dengan kesalahannya.

"Kalau mau sugih, musti kerja keras. Lihat aku, Bus! Sampai gelap begini nyari kayu bakar buat dijual," ujar Arul menunjuk tumpukan kayu di sampingnya.

"Hari ini tak ada duwit yang bisa kubawa pulang, Rul. Mamakku sakit. Adikku belum makan. Tadi pagi sudah senang aku dapat kerjaan bikin kandang ayam di rumah Kak, Aya. Tapi, sampai di situ disuruh pulang sama Kak, Usuf. Sial banar nasibku harini," keluhnya sembari segugukan.

Trenyuh hati Arul mendengarnya. Busron pemuda usia empat belas tahun itu, sejak kecil menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya sudah meninggal akibat sakit paru-paru. Ibunya pun sekarang sering sakit-sakitan. Malang memang hidupnya.

"Ya, sudah. Buat beli obat ibumu berapa duwit, Bus?" tanya Arul merogoh dalam ke kantung celana.

"Bawa suntik ke mantri sepuluh ribu," sahutnya cepat.

Glek! Arul menelan ludah. Mahal sekali. Uang di saku seluruhnya tiga puluh ribu. Belum buat beli makan adiknya Busron.

Apes.

"Cepat kau lepaskan pelukan dari pohon itu! Sebelum hantunya minta dikimpoii."

"Kamu mau sedekah kah, Rul?" Kedua kaki yang tadi menempel pada pohon mulai turun.

"Tapi kamu harus janji. Jangan minta sugih sama pohon lagi! Minta sugih itu sama Tuhan, Bus. Tapi musti kerja kalau mau duwit. Nih, kukasih dua puluh rebu. Buruan pakai bajumu lagi!"

Arul melempar pandangan ke arah lain saat Busron mendekat mengambil uang pemberiannya. Jijik bercampur geli melihat anak bujang tanpa canggung tak tertutup sehelai benang.

"Ada sepuluh ribu lagi kah, Rul? Buat bayar hutang di warung Ulim," pinta Busron. Membelalak mata Arul dibuatnya.

"Kamu lagi memerasku kah, Bus?" Arul mengangkat dagu. Menatap kesal pada anak itu.

"Kalau tak ada tak apa," sahutnya pelan, menggoyang-goyang bahu.

"Hhh ... nih." Habislah sudah hasil jerih payah Arul seharian ini. Semua diserahkan pada Busron.

Busron tersenyum senang. Dia segera memunguti pakaian yang berserakan di atas semak.

"Awas kalau kamu begini lagi! Kuhajar kau, Bus!" celetuk Arul pelan.

"Apa kamu bilang barusan, Rul?" tanya Busron sembari memakai celana pendeknya.

"Buruan pulang! Nanti adik-adikmu pada sakit perut kelaparan," jawabnya asal.

"Sebentar," sahut Busron sembari mendekat ke pohon kariwaya lagi. Berdiri membelakangi Arul.

"Apa lagi?"

Cuuurrr ... terdengar air mengucur.

"Ya Allah, ya Rasululloh ... kamu kencingi kah pohonnya, Bus?!"

Arul menepuk dahi sendiri. Busron tak ada takut-takutnya. Padahal pohon kariwaya itu terkenal angker. Cerita para tetua kampung kalau pohon itu dihuni oleh hantu kuntilanak.

"Haah, lega," gumam Busron usai kencing.

"Hati-hati kamu, Bus! Marah nanti yang tinggal di pohon ini," desis Arul.

"Busron tidak takut hantu. Busron lebih takut miskin," sahut Busron tanpa dosa.

"Dasar kamu nih!" Arul menoyor dahi anak itu.

"Nih, bantuin bawa!" Diletakkan sebagian kayu bakar di punggung Busron.

"Ingat, yang ngasih duwit tadi Allah, bukan aku! Aku cuma perantara rejekimu, Bus," tegas Arul sembari memanggul sebagian kayu bakar lagi.

"Hum." Busron mengangguk patuh.

Kraaakk! Bunyi berderak dahan pohon yang patah.

Arul dan Busron sontak mendongak ke atas.

"Bus, penunggunya marah sudah kau kencingi rumahnya. Lari, Buuus!" teriak Arul sembari mengambil langkah seribu diikuti oleh Busron di belakangnya.

Bugkk!!

Bunyi yang cukup keras saat dahan pohon yang patah jatuh menimpa tanah. Beruntung jarak Arul dan Busron sudah jauh.

****

"Kamu harus tanggung dosaku tak sholat magrib!" gerutu Arul. Mereka sudah memasuki jalan desa.

"Hum." Busron mengangguk cepat. Seolah percaya kalau dosa bisa dipindahkan. Padahal Arul hanya mencoba menumpahkan kekesalannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 14 lainnya memberi reputasi
Chapter 7


Hati perempuan sangat sulit dibaca. Yusuf masih ingat betul muramnya wajah Cahaya kemarin. Laksana langit tertutup awan hitam. Siap memuntahkan hujan petir bersama angin badai puting beliung.

Menyebut nama Hilman saja Cahaya seakan tak sudi. Yusuf sempat berpikir kalau hubungan suami isteri itu sudah di ambang kehancuran.

Tapi, situasi seketika berbanding terbalik saat Hilman muncul di hadapan Cahaya. Sungguh ajaib. Mereka kini lebih terlihat seperti sepasang kukang. Lengket bak prangko dan amplopnya. Bercumbu sepanjang waktu. Seakan besok akan kiamat.

Malam ini bunyi derit ranjang besi di kamar Cahaya terdengar panas. Dinding kamar sampai bergetar. Erangan juga rintihan suami isteri itu terdengar jelas sampai ke kamar sebelah. Kamar yang ditempati oleh Yusuf.

Mereka sampai lupa ada manusia lain di rumah itu yang hanya terpisah oleh dinding kayu. Terbaring gelisah menatap langit-langit dengan mata berkedip-kedip. Menelan ludah berulangkali.

Sial atau beruntung kah aku malam ini? Seloroh Yusuf pada diri sendiri. Ujung-ujung jarinya memijati kepala yang mulai pening.

Jelas saja kepala Yusuf dibuat pening berdenyut-denyut. Bujang tampan itu sudah berusaha meredam suara, menutupi lubang telinganya dengan bantal. Namun, tak cukup membantu. Tubuhnya spontan ikut menegang saat suara-suara erotis dari kamar sebelah kian menjadi. Jiwa muda Yusuf ikut bergejolak.

Bugk! Bugk!

Yusuf melempar kesal bantal dan gulingnya ke dinding kamar. Mustahil dia bisa tidur jika sepanjang malam Cahaya dan Hilman terus bercinta. Yang ada otak Yusuf jadi kusut melilit-lilit sampai ke usus.

"Mulut perempuan tidak bisa dipercaya," gerutu Yusuf sembari menyugar kasar rambutnya. Menggeleng-geleng tak habis mengerti dengan sikap Cahaya.

"Uuugh ...!" Jeritan panjang Cahaya beradu geraman Hilman dari balik dinding kayu. Sontak Yusuf menahan napas. Hormon-hormon dalam darah mudanya terasa mendidih.

Tak ada cara lain. Yusuf tak bisa diam saja di kamar kalau tidak ingin meledak seperti balon gas bertemu jarum. Dia harus segera menyingkir dari tempat yang panas ini.

Yusuf bangkit tergesa dari peraduan. Meraih dan mengenakan kaos oblong yang tersampir di sisi ranjang. Melapisinya dengan jaket tebal. Niatnya keluar rumah mencari suasana lain. Semoga tengah malam sepulang dia keluar rumah, Cahaya dan Hilman sudah kehabisan tenaga.

Sebenarnya ada banyak kamar di rumah panggung mereka. Namun belum semuanya bisa ditempati. Kamar yang lain belum sempat dibersihkan. Peristiwa malam ini membuat Yusuf berpikir untuk pindah kamar ke loteng mulai besok.

Melihat sikap kakaknya pada Hilman. Yusuf berkesimpulan kalau Cahaya sudah ikhlas untuk dimadu.

"Menang banyak kau, Mas Hilman," gumam Yusuf sembari terkekeh pelan keluar dari kamarnya.

Hubungan Yusuf dengan kakak iparnya itu cukup dekat. Bagi Yusuf, Hilman sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Mengetahui Hilman menikah lagi, tak masalah menurutnya. Kondisi keuangan Hilman sangat mapan. Dia memiliki usaha tambang batu bara yang tersebar di Kalimantan.

Banyak lelaki yang melakukan poligami. Selama mampu berbuat adil, tak masalah. Terbukti hubungan suami isteri itu kini bisa harmonis lagi. Yusuf pun tak menampik, jika boleh jujur hampir semua laki-laki di dunia ini tak cukup dengan satu perempuan. Hanya saja perempuan tidak mau mengerti itu. Perempuan cenderung ingin menguasai suaminya.

Krieet ....

Daun pintu rumah yang terbuat dari kayu meranti, dibuka dan ditutup sepelan mungkin oleh Yusuf. Meski dalam hati kesal. Dia tidak ingin mengganggu kekhusukkan ritual sepasang manusia yang tengah dimabuk cinta.

****

Jalanan kampung gelap gulita lagi sepi. Warung kopi Uwak Haji yang ada di seberang jalan sudah tutup sedari maghrib. Uwak haji sudah tua. Sekarang mulai sakit-sakitan. Warung kopi kini dikelola oleh Mak Apis menantunya.

Semenjak Mamak Apis yang handle warung. Tempat itu kini jadi pusat berkumpul mamak-mamak dari penjuru Desa Kudung. Tak habis-habis topik yang dibicarakan. Dari harga bawang, cabe rawit sampai rahasia ranjang masing-masing tak sungkan diumbar. Mamak-mamak juga butuh hiburan.

Ditambah ada berondong tampan yang sekarang tinggal di seberang warung. Makin semangatlah mamak-mamak berdatangan ke warung Uwak Haji. Lumayan buat cuci mata. Ternyata bukan cuma kaum lelaki yang suka daun muda. Yusuf mulai jengah menghadapi tatapan rakus para mamak itu.

Berbeda dengan di kota. Di desa jarak antar rumah saling berjauhan. Dipisahkan oleh kebun-kebun juga sawah. Desa Kudung berada di sepanjang aliran sungai berarus deras. Gemericik arus sungai terdengar sampai ke atas jalanan yang dilalui Yusuf.

Kedua tungkai panjangnya melangkah santai. Buat apa buru-buru? Tujuannya keluar rumah hanya menghindarkan diri dari pikiran kotor.

Ya, Yusuf merasa otaknya dipenuhi pikiran kotor jika terus mendengar suara-suara birahi dari kamar sebelah.

Sejenak Yusuf bingung hendak melangkahkan kaki ke mana. Lalu teringat akan Aman, kawannya. Aman sudah jadi duda sekarang. Tentu tak akan terganggu kalau Yusuf bertamu malam-malam.

Langit tanpa bulan malam ini. Mengandalkan cahaya senter di genggamannya Yusuf menyusuri jalan desa. Cuaca pegunungan yang dingin membuat gigi gemerutuk. Kabut tipis menghiasi udara malam.

Sementara itu di dalam kamarnya, Cahaya dan Hilman tersengal-sengal. Saling melempar senyum puas usai hasrat telah tertuntaskan. Apalagi Cahaya yang membayangkan wajah kalah Laila si pelakor busuk.

Rasakan kau Laila! Kau akan menyesal sudah mengganggu hidupku, geram Cahaya dalam hati.

Entahlah, Cahaya sendiri sulit membedakan perasaannya saat ini pada Hilman. Cinta sejati ataukah hanya rasa ingin menguasai.

Satu hal yang paling Cahaya inginkan, yaitu memiliki Hilman seutuhnya. Cintanya, raganya, hatinya, juga semua materi yang dimiliki lelaki kaya itu. Tak boleh ada perempuan lain di hati Hilman selain dia seorang. Tak boleh ada perempuan lain yang menikmati kekayaan suaminya.

"Mas, makasih sudah mau menyusulku ke sini." Jari-jari lentik Cahaya bermain-main di atas dada berbulu halus milik Hilman. Dada yang sudah basah oleh keringat usai pertempuran mereka.

"Mana mungkin aku tidak menyusul kamu. Belahan jiwaku," sahut Hilman sembari meraih tengkuk dan mengecup kening isterinya. Rayuan gombal dilancarkan.

Sejak dulu Cahaya memang cantik, tapi entah kenapa sekarang kecantikannya berlipat ganda. Aura wajah Cahaya semakin bersinar. Tak bosan rasanya untuk dipandang.

Mungkinkah ini karena rindu yang memuncak? Setelah sekian bulan Cahaya menghilang. Sampai Hilman mengetahui tempat persembunyian Cahaya dari Yusuf.

"Mas rindu kamu, Aya sayang," rayu Hilman lembut.

Hilman sendiri heran dengan dirinya yang merasa seperti pengantin baru lagi. Tak puas-puas mereguk asmara bersama Cahaya. Ada satu penyesalan sudah membuat hati wanita itu terluka. Seharusnya tidak pernah ada Laila di antara mereka.

Hilman tiba-tiba merasa sangat bodoh. Untung saja Cahaya mau menerimanya kembali. Kalau tidak, Hilman yakin dia akan gila.

"Belum capek, ya?" Dagu Hilman dicubit manja. Terkikik geli melihat suaminya mulai mengambil posisi lagi.

"Akan kuremukan tubuhmu malam ini, Cantik," kelakar Hilman sambil terus menyerang.

****

"Kak Usuf!"

Yusuf menoleh, mencari orang yang memanggil namanya. Busron muncul dari sebuah belokan jalan. Menyorotkan cahaya senter ke arah Yusuf hingga membuatnya memicing menahan silau. Selembar sarung motif kotak tampak tersampir di bahu pemuda tanggung itu.

"Kemana, Kak?" tanya Busron lagi sembari mendekat.

"Eh, kamu, Bus? Aku mau jalan ke rumah Aman."

"Ooh." Busron mangap beberapa saat berpikir. "Kak Aman gak bakalan ada di rumah malam begini. Biasanya di hilir, di warungnya Ulim."

"Ngapain dia di sana?"

"Main dum," sahut Busron melebarkan sarung kotak dibahu menangkal dingin yang terasa makin menggigit.

Kedua alis Yusuf terangkat, senyumnya mengembang. Kebetulan sekali kalau begitu. Lumayan untuk menghabiskan waktu malam ini.

"Kamu mau ke situ juga?" tanya Yusuf.

"Hu' um." Busron mengangguk. "Mau bayar hutang di warung Ulim."

Keduanya lalu berjalan bersisian menuju hilir desa. Warung Ulim menjadi tempat kongkow para lelaki di desa Kudung. Letaknya di pertengahan desa. Warung itu langganan Busron berhutang sembako.

*****

KROSSAKK ... KROSSAKK ....

"Mbhehehe ... mbehehehe ...."

Suara berisik dari arah kandang kambing yang menjorok ke dalam kebun karet. Yusuf mencengkram lengan Busron agar segera berhenti. Siapa tahu ada maling yang sedang beraksi.

"Ini kandang kambing punya siapa?" tanyanya berbisik.

"Punya Datuk Rohayah." Busron ikut berbisik.

"Mbhehehe ... mbhehehe ...."

KROSSAKK ... KROSSAKK ... KROSSAKK ....

Bunyi berisik yang mencurigakan. Seperti ada seseorang di dalam kandang.

"Jangan-jangan maling atau binatang buas, Bus!"

"Ah, biar aja. Yang punya orangnya pelit, galak pula," sahut Busron menarik lengannya dari tangan Yusuf.

Busron mengenal betul siapa Datuk Rohayah. Perempuan renta menyebalkan itu. Dia salah satu orang terkaya di Kampung Kudung yang congkak bukan kepalang. Busron ngeri bila berhadapan dengannya. Peduli amat kalau kambingnya digondol maling, atau dimakan beruang.

"Heh, kita liat dulu!" desak Yusuf.

"Malas!" sentak Busron.

"Awas ya, kamu! Nanti Kak Aya gak bakal ngasih kerjaan lagi," ancam Yusuf.

Busron mendengkus. Tapi ancaman Yusuf cukup telak. Senter masing-masing dimatikan lebih dahulu. Lalu berjingkat-jingkat keduanya mendekati kandang berisi puluhan kambing dan beberapa ekor sapi itu. Letaknya 50 meter dari badan jalan. Tertutup oleh rumpun-rumpun pohon pisang.

Semakin mendekati kandang. Semakin berisik. Terdengar suara kambing yang terus mengembek dengan derap kakinya berlarian seperti menghindari sesuatu. Malah sekarang bertambah dengan suara aneh mirip orang ngorok. Bau busuk bercampur bau kotoran hewan menyeruak tajam. Busron dan Yusuf masing-masing menutupi hidung.

"Ghrookh! Ghrookk! Grookk!"

"Mbhehehe ... mbhehehehe ...."

KROSSAKK ... KROSSAKK!

Suasana kandang sangat gelap. Aneh menurut Yusuf kalau maling tanpa penerangan sama sekali. Bagaimana cara dia memilih hewan curian? Tapi Yusuf yakin kalau ada sesuatu yang membuat kambing-kambing merasa terancam. Mungkin ular besar atau beruang.

"Grrokh ... grrokh .... slurrrph ... slurrrph ... grokh ...."

Dengan penasaran Yusuf menyalakan dan mengarahkan lampu senter menyorot ke arah bunyi aneh itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 8


Apa yang mereka saksikan sungguh diluar perkiraan.

Yusuf dan Busron serentak membelalak saat cahaya senter tepat menyorot pada sosok aneh berupa kepala tertutup rambut gimbal. Dari leher ke bawah menjuntai usus memburai lengkap dengan jeroannya.

Sosok itu berada di atas kambing yang kaki-kakinya masih berkelonjotan antara hidup dan mati. Sementara kambing-kambing lain panik berlarian ke sana ke mari.

Makhluk setan yang tengah lahap-lahapnya menyedot darah kambing sadar dengan kehadiran orang lain di kandang. Diapun segera menoleh pada Yusuf dan Busron yang terkesima dengan jantung hampir lepas.

Telinga lebar layaknya telinga gajah itu berdiri tegak karena merasa terganggu. Mulut bertaring yang belepotan darah kambing tersorot jelas oleh cahaya senter. Kemudian dengan mata menyala marah dia mengeluarkan suara lengking nyaring mirip cicit kelelawar.

"KYYAAAA!!!" Yusuf dan Busron dengan kompaknya berteriak histeris ketakutan.

Makhkuk yang sekarang hanya beberapa meter di hadapan mereka sungguh menyeramkan. Lebih seram dari monster yang pernah Yusuf lihat di film-film horor.

Makhluk apa ini? Batin Yusuf sambil melotot tak percaya.

Dracula, Zombi muka pucat, Pocong loncat, Suster Ngesot, Jailangkung, Sandal Bolong tak ada apa-apanya dibanding satu ini.

"KUY ... KUYAAANG!!!" Busron sudah mengenali makhluk itu.

Degh!

Kuyang?

Darah Yusuf seketika berdesir mendengar sebutan untuk makhluk itu.

Seperti inikah sosok nyata Kuyang yang sering digembor-gemborkan warga kampung?

Makhluk pemangsa perempuan hamil juga janin merah.

"KUYAAANG!!" Busron berteriak lagi sembari merenggut baju Yusuf agar segera lari.

Heran Busron pada Yusuf yang tak bergeming, tapi malah saling melotot dengan iblis di depannya. Busron memang tak takut hantu. Tapi Kuyang bukan hantu sembarang hantu. Kuyang adalah manusia setengah iblis yang sangat berbahaya. Mereka berdua bisa saja celaka.

WUUUSSSHH ....

NGUUUNGHH ... POK POK POK ... NGUUUNGH ... POK POK POK ....

Kuyang dengan jeroan menyala-nyala itu terbang melayang mengejar Yusuf dan Busron. Bahaya kalau banyak orang yang tahu tentang keberadaannya. Yusuf dan Busron harus mati.

Dua pemuda itu harus mati!

"KUYAAANG ... TOLOOONG ... ADA KUYAAANG!!!"

Busron terus berteriak-teriak di sepanjang jalan kampung. Cahaya senter di genggaman Yusuf tak karuan arah. Menyaruk-nyaruk di kegelapan malam. Keributan membuat warga yang ada di dalam rumah masing-masing tergerak untuk membuka pintu.

Sementara itu Yusuf merasakan memori masa lalunya sedang terkoyak-koyak. Dia berlari tanpa suara. Wajah lembut Mariam, mamaknya berkelebat di benak. Terengah-engah pemuda itu berlari di belakang Busron dengan mata mulai berkaca.

'Kuyang ....'

'Seperti itukah wujud mamak jika benar mamakku hantu kuyang?' tanyanya pada hati sendiri.

'Bagaimana kalau kuyang ini ternyata mamakku? Mamak sudah tidak mengenali aku lagi karena rupaku bukan Yusuf kecil lagi?'

Degh!

Kedua kaki Yusuf berhenti berlari. Membiarkan Busron melesat sendiri sekencang burung Kaswari. Tubuhnya lalu membalik ke belakang, menyambang makhluk monster yang sedang terbang melayang semakin dekat.

"Mamak!" seru Yusuf berderai air mata. "Mak, ini Usuf, Mak!"

"Gggrrrhh ... grrrhh ...." Hantu kuyang pun berhenti melihat Yusuf membalikan badan seolah menantangnya.

Kuyang paling benci dengan manusia yang tidak takut padanya. Hati makhluk itu dipenuhi syakwa sangka buruk setiap berjumpa manusia. Dia pribadi yang paranoid. Dipikirnya kemungkinan Yusuf tahu akan kelemahan ilmu kuyang. Pemuda itu pasti berbahaya.

Mata iblis itu lalu menangkap nyala obor-obor yang berdatangan dari segala penjuru kampung. Warga berbondong-bondong keluar rumah mendengar teriakan Busron.

"Mamak?!" panggil Yusuf tercekat. Melihat kuyang melayang hanya berjarak beberapa meter darinya berdiri.

Hantu usus memburai itu berhenti mengejar Yusuf. Terdiam mengambang di udara dengan tatapan liar ke arah warga kampung yang semakin banyak berdatangan.

"Itu Kuyangnya! Kejaaaar!!!" Suara orang-orang dari arah belakang Yusuf.

Kini warga mulai berlarian ke arah kuyang seraya mengacung-ngacungkan obor di tangan.

"Jangan sampai lepas! Kepuuung!"

"Dasar pembunuh!"

Melihat dirinya terancam, Kuyang segera melesat terbang berbalik arah.

BUGK! BUGK! BUGK!

Sebagian warga berusaha melempari kuyang dengan benda apapun. Mereka sudah sangat kesal dengan hantu yang kembali eksis setelah sekian lama Kampung Kudung aman dan damai.

Apa saja yang mereka temukan di jalan digunakan untuk melempari Kuyang itu. Batu kerikil, kayu, sendal jepit, gayung, sutil, telor busuk, kucing buluk mungkin. Jalanan mendadak ramai dipenuhi warga kampung.

"Jangan ... jangan sakiti mamakku!" Lutut Yusuf luruh menimpa tanah. Menatap nanar pada orang-orang yang berlarian melewatinya. Namun, tak seorangpun mendengar suaranya. Keadaan jalan sangat berisik.

Warga kampung Kudung tampak sangat bernafsu memburu kuyang. Yusuf tenggelam dalam emosinya sendiri. Air matanya terus menetes berjatuhan. Padahal belum tentu kuyang itu mamaknya.

Di antara warga ada Mak Tuha dan Julak Amat yang turut berlari mengejar kuyang. Posisi kuyang tampak tinggi. Hanya terlihat berupa bola api yang menyala.

"Aneh, ni kuyang. Nyalinya besar banar," cetus perempuan tua itu terengah-engah mengatur napas.

"Kalau aku tak salah. Ini Kuyang senior," sahut Julak Amat. Tak lepas matanya menatap ke langit.

"Ada-ada aja Julak Amat, neh. Ada juakah kuyang senior-junior," sahut Busron yang berdiri di antara tetua kampung yang disegani itu.

Mak Tuha menajamkan pandangannya. Mengawasi bola api yang melayang semakin tinggi. Lalu tiba-tiba menghilang. Sudah beberapa kali Mak Tuha bertemu kuyang dengan kemampuan seperti ini. Sebagai orang yang pekerjaannya sering bersinggungan dengan makhluk jadi-jadian itu.

"Kuyang di kampung kita lebih dari satu, Julak, ay," ucapnya pelan pada Julak Amat.

"Hum." Julak Amat mengangguk. "Aku juga berpikir begitu. Kuyang yang biasa terbangnya tak mampu sampai setinggi itu. Aku mulai khawatir, Mak Tuha."

"Mulai sekarang harus ada yang ronda malam, Lak, ay. Jangan sampai kita kecolongan lagi!" saran Mak Tuha. Julak Amat manggut-manggut setuju.

Warga masih berdiri bergerombol di jalan. Masing-masing memberikan sumpah serapah merasa tak berhasil mengerjai hantu kuyang.

"Yang merasa laki-laki ikut aku ke warung Ulim. Kita rapat malam ini. Sudah beberapa kali kuyang muncul. Kampung kita tidak aman lagi," ajak Julak Amat sambil berjalan ke Hilir menuju warung Ulim.

"Yah, Lak. Bisa besok saja? Kita sudah pada ngantuk, Lak, ay." Pak Enal, salah satu warga menyahut.

Julak Amat menghentikan langkahnya. "Yang merasa dirinya laki-laki saja. Yang tidak merasa laki-laki tidak perlu ikut," sahutnya tegas.

Ups. Pak Enal merasa tertohok. Terpaksa ikut membuntuti langkah Julak Amat.

"Kak Usup, ayo ke warung Ulim!" Busron menepuk bahu Yusuf.

Yusuf menggeleng. Posisinya masih duduk berlutut di atas tanah. Busron terheran-heran melihatnya.

Ada apa dengan Yusuf? Matanya tampak basah.

Yusuf menangis?

Ah, tidak mungkin. Menangisi apa pula? Busron geleng-geleng kepala.

Yusuf kelilipan?

Nah. Itu baru mungkin.

"Tak jadi ikut ke warung Ulim, kah?"

"Tidak!" sahut Yusuf ketus.

"Ya, sudah." Meski heran Busron meninggalkan Yusuf duduk sendirian di tengah jalan. Warga yang tadi bergerombol sudah bubar Para perempuan kembali ke rumah. Sedang para lelaki mengikuti Julak Amat menuju warung Ulim. Warung Ulim sudah sering jadi tempat berkumpul. Lebih mudah mengumpulkan warga di warung Ulim dari pada di balai desa.

"Apa yang akan warga rencanakan di warung Ulim?" Kening Yusuf bertaut.

"Mereka pasti berencana membunuh kuyang itu."

"Aku harus tahu rencana mereka. Mereka tidak boleh mencelakakan kuyang itu."

Yusuf berubah pikiran. Dia segera bangkit berdiri lalu berlari menuju ke Hilir.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 14 lainnya memberi reputasi
Chapter 9


Warung Ulim tampak terang benderang oleh lampu petromak. Satu-satunya warung di Kampung Kudung yang buka sampai tengah malam.

"Kuyang itu ... tadi ... a-ada ... di-di kandang Datuk Rohayah," ujar Busron terbata, grogi. Tidak menyangka kalau harus berdiri di depan banyak warga untuk menceritakan kejadian awal sampai dia dan Yusuf bertemu dengan kuyang.

Kaum lelaki penghuni Kampung Kudung sudah berkumpul di warung Ulim. Sebagian duduk di kursi-kursi panjang menghadap meja warung. Sebagian duduk di balai-balai tempat biasa mereka main dum. Sebagian lagi tidak kebagian tempat duduk, terpaksa berdiri. Yang tidak mau berdiri, duduk di atas tanah beralas sendal jepit sendiri. Semua mata kini tertuju pada Busron.

"Ngapain juga kamu sampai ke kandang kambing Datuk Rohayah malam-malam?" tanya Ulim pemilik warung, sembari membakar obat nyamuk untuk kenyamanan pengunjung warungnya.

"Kak U-usuf," sahut Busron matanya mencari-cari keberadaan Yusuf. Tapi tak menemukan pemuda itu di antara orang-orang.

Yusuf yang baru sampai sempat mendengar namanya disebut, segera menyelipkan tubuhnya ke belakang pohon jambu di sudut pekarangan warung Ulim. Dia hanya ingin menguping, tidak mau terlibat. Ingin tahu apa saja yang akan direncanakan warga.

"Usuf siapa? Usuf banyak, Bus. Usuf tukang parang di hulu, Usuf paman sayur, Usuf tukang catuk beduk?" celetuk yang lain.

Busron menggeleng cepat.

"Lalu Usuf siapa yang kau maksud?"

"Usuf adiknya Kak Aya."

"Ohh ... Usuf yang bungas itu, kah?" Bini Ulim keceplosan menyahut dengan muka bersemu merah. Kabar ketampanan Yusuf sudah tersebar ke seluruh mamak di Kampung Kudung. Termasuk bini Ulim.

( Note : bungas ; cakep )

"Jiaaah ...? Umaknya!" bentak Ulim memelototi isterinya yang tengah meracik beberapa gelas kopi pesanan. Bini Ulim segera menunduk dalam merasa bersalah.

"Usuf anaknya Mariam?" gumam seorang bapak tua yang duduk di depan meja. Keningnya bertaut mengingat Mariam yang menghilang setelah diamuk warga.

"Siapa pula Mariam?" tanya seorang pemuda yang duduk nyeker.

"Mariam yang kuyang itu nah," sahut yang lain.

Degh! Kedua tangan Yusuf mengepal mendengar nama mamaknya disebut-sebut kuyang.

"Tak usah diungkit-ungkit kisah yang sudah sangat lama. Tak elok kalau anak-anaknya mendengar. Sudahlah!" nasehat Julak Amat.

Bagi warga yang sudah berumur tentu masih ingat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Peristiwa di mana banyak perempuan Kampung Kudung yang jadi korban keganasan hantu kuyang.

"Sekarang mana Usufnya?" tanya Aman pada Busron. Dia sejak habis isya sudah ada di warung Ulim.

Busron mengendikkan bahu. "Matanya kelilipan tadi ...."

"Bus, lanjutkan saja ceritamu yang lengkap!" Julak Amat sudah mulai tak sabar, tak suka jika pembicaraan melebar kemana-mana.

Busron menghirup napas dalam sebelum menyambung ceritanya. "Ada suara ribut waktu kami lewat kandang kambing. Kak Usuf curiga kalo ada maling, lalu menganjak ulun melihat ke kandang ... taunya ... kuyang lagi isap darah kambing ...."

"Hah?!" Hampir semua serentak terkejut.

"Kuyang isap darah kambingnya Datuk Rohayah? Kok bisa? Bukannya kuyang suka sama darah perempuan hamil?" tukas Aman bingung.

"Dusta, si Busron neh. Kalau kuyang bisa minum darah kambing, kenapa biniku sampai mati diisapnya?!" Isur menunjuk-nunjuk wajah Busron berang.

"Mana ulun tahu ... tanya pian sama kuyangnya kenapanya isap darah kambing ....," sahut Busron takut-takut.

Brakk!!

Julak Amat menggebrak meja dengan gusar.

"Diam kalian semua!" bentaknya sembari menatap wajah warga satu persatu. Semua terdiam dengan wajah tegang.

"Harusnya kita semua berterima kasih sama Busron. Berkat Busron, malam ini kita hampir menangkap kuyang itu. Aku tidak peduli kuyang minum darah manusia, darah kambing, darah kucing atau darah siapa itu. Yang pasti kuyang sudah mulai gentayangan lagi di kampung kita. Kampung kita tidak aman lagi. Bisa saja dia terdesak minum darah kambing karena sudah tak sempat mencari mangsa," cetus Julak Amat panjang lebar.

"Nah, betul itu, Lak." Ulim manggut-manggut setuju.

"Ada yang mau jagung?" tawar bini Ulim mengangkat tudung panci besar di atas tungku. Asap di dalam panci seketika tampak mengepul.

"Keluarkan saja jagungnya dari panci, Cil! Pas benar dingin-dingin begini makan jagung rebus." Aman menyahut.

Bini Ulim tersenyum. Bakal laris manis dagangan malam ini. Segera diangkat jagung-jagung panas itu dengan kail paku.

"Mulai besok kita sudah harus ronda malam. Jangan ada yang ngeles! Jadwalnya besok pagi sudah ditempel di depan balai desa," ujar Julak Amat tegas. Warga manggut-manggut mendengarkan.

"Pambakal Ilmi, malam ini tolong tuliskan jadwalnya!" Julak Amat menatap pada Pambakal Ilmi ( kepala desa ) yang sedari tadi diam menyimak.

"Inggih, Julak," sahut laki-laki pendiam bernama Hilmi itu.

Hilmi terhitung masih terlalu muda untuk jadi pembakal. Usianya baru 25 tahun. Berhubung syarat mutlak untuk menjabat sebagai Pembakal minimal setara SMA. Warga kampung Kudung tidak punya pilihan. Pemuda kampung rata-rata cuma lulusan esde. Disamping faktor ekonomi, banyak yang lebih memilih kimpoi muda.

Rapat dadakan kemudian ditutup.

****

"Eh, Suf!" sapa Hilman salah tingkah saat keluar dari pintu kamar hanya mengenakan sempak. Dikiranya tak ada orang di luar.

Yusuf diam tak menyahut. Melanjutkan sarapannya di meja makan yang berada di ruang tengah. Hilman lanjut berjalan menuju kamar mandi. Bunyi kucuran air terdengar sampai ke luar.

"Mas Hilman ...," rintih Cahaya manja dari dalam kamar.

"Sebentar, Sayang!" Hilman sudah keluar dari kamar mandi. Masuk ke dalam kamar lagi melewati Yusuf.

"Beliin sarapan di warung Wak Haji! Aya, capek sekali. Gara-gara, Mas, nih."

Yusuf mencebik mendengar suara lebay kakaknya.

"Iya, bentar Mas pake baju dulu," sahut Hilman terkekeh-kekeh. Bangga sudah membuat tubuh Cahaya remuk.

"Sudah Usuf beliin tuh sarapannya," ujar Yusuf menunjuk dua buah bungkusan daun pisang di atas meja makan.

Yusuf sudah menduga kalau Cahaya tidak akan kuat untuk bangun membuat sarapan pagi ini. Melihat gelagat dua orang yang seatap dengannya itu, mungkin makan siang dan makan malam pun mereka harus beli.

"Wah, makasih, Suf. Ngerti benar kamu, nih," tukas Hilman. "Sayang ... makannya di kamar apa di luar?" tawarnya dengan volume lebih tinggi pada Cahaya yang masih juga enggan keluar kamar.

"Bikinin teh manis dulu bininya! Biar tenaganya kuat lagi," sindir Yusuf dengan raut muka datar.

"Oh, iya." Hilman menggaruk-garuk kepala melempar senyum pada adik ipar satu-satunya itu. Lalu segera menuju ke dapur.

Yusuf tersenyum miring. Hilman sepertinya banyak berubah setelah lama terpisah dengan Cahaya. Sekarang tak sungkan mengumbar perasaan sayang.

Lihat saja sekarang! Dia rela disuruh-suruh isterinya.

"Hmm ... mana sih Mas Hilman? Aku sudah lapar." Cahaya berjalan terseok keluar dari kamar hanya mengenakan sarung kurung yang diikat di bahu. Rambut masih awut-awutan. Yusuf hanya melirik sekilas padanya.

Sreek ... bangku di depan Yusuf ditarik. Lalu Cahaya menghempaskan pantatnya di situ.

"Muka kamu kusut sekali, Suf. Kayak orang banyak hutang," sapa Cahaya melihat wajah adiknya cemberut.

Yusuf mendengkus. "Kusutan mana sama Kakak?" sahutnya mempercepat kunyahan supaya tidak perlu berlama-lama duduk dekat sepasang kukang.

Hilman datang dari dapur membawa dua gelas teh manis hangat. Senyum tak lekang dari bibir berkumis tipis. Tampak sekali kalau sedang bahagia.

"Makasih banget nih, Suf. Sudah repot-repot beliin sarapan pagi," ucap Hilman meletakkan gelas di atas meja.

"Hum," sahut Yusuf singkat.

"Tadi malam kamu kemana? Tengah malam Kakak tengok kamar kamu kosong," tanya Cahaya.

"Gak bisa tidur. Ada gempa," ketus Yusuf menenggak habis sisa teh di gelasnya.

Mata Cahaya melebar. Teringat ulahnya dan suami tadi malam. Melirik pada Hilman yang mengulum senyum.

"Mas Hilman emang gak papa kerjaannya lama ditinggal?" Yusuf menoleh pada Hilman.

"Gak masalah. Yang masalah itu kalau kelamaan ditinggal sama dia." Hilman duduk di samping Cahaya. Memijat lembut tengkuk mulus isterinya.

"Makan yuk, Mas." Cahaya meletakkan bungkusan nasi ke atas piring. Membukakannya untuk Hilman.

"Kak Laila kan sudah hamil tua, Mas Hilman. Entar kalau mau lahiran gak ada Mas Hilman kan susah," celetuk Yusuf.

"Usuf!" geram Cahaya. Menatap tajam Yusuf yang sudah merusak suasana hatinya.

"Kenapa? Kak Aya pasti juga gak mau kan, kalau melahirkan tak ditemani suami?" Yusuf membalas tatapan tajam Cahaya.

"Suf, sudah jangan bikin kakak kamu kesal. Kalau sudah selesai makan kamu keluar saja!" ujar Hilman dingin.

"Kenapa, sih? Memang salah aku ngomong begitu?" Yusuf segera berdiri dari kursi sambil memasang wajah jutek masuk ke dalam kamarnya.

Mata Yusuf sudah sangat berat akibat begadang semalaman. Rencana pindah kamar mungkin nanti sore saja. Rasa kantuknya tak bisa diajak kompromi.

"Sudah ... sudah, ayo sarapan dulu!" Hilman mengusap pundak Cahaya. "Usuf kan gak tahu kalau Laila sudah kucerai. Wajar dia ngomong begitu. Maklumi aja! Semalaman gak bisa tidur gara-gara gempa, naik darah kayaknya adikmu itu," ujar Hilman terkikik geli.

"Mas Hilman memang kepikiran menemani Laila melahirkan?" Cahaya menatap menyelidik.

"Gak bakal, Sayang. Buktinya Mas sekarang ada di sini. Sama kamu."

"Terus bagaimana dengan anak itu? Darah daging Mas Hilman. Apa nanti Mas akan sering menemuinya?" tanya Cahaya menatap suaminya nanar.

"Astaga, Aya. Jangan rusak kebahagian kita dengan memikirkan itu! Hum?" Hilman meraih pinggang Cahaya. Membenamkan kecupan di puncak kepala isterinya.

"Pokoknya Aya gak mau kalau Mas Hilman bertemu perempuan itu lagi. Mas Hilman gak boleh ketemu dia." Cahaya terisak-isak di dada bidang Hilman.

"Iya, Sayang. Apa pun yang kamu minta."

Keduanya kemudian saling tatap saat terdengar suara dengkuran nyaring dari arah kamar Yusuf. Lelah sekali sepertinya pemuda itu.

"Ghroook ... ghrokkh ...."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 10


Beberapa hari terakhir hawa dingin menyelimuti Pegunungan Meratus. Begitupun pagi ini. Langit di atas Kampung Kudung dihiasi awan mendung. Tampaknya musim penghujan telah datang. Angin dingin bertiup kencang menggugurkan daun-daun kering dari pepohonan.

SREEKK ... SREEKK ... SREEKK ....

Bunyi sapu lidi bergesekan dengan dedaunan kering yang berserak di halaman luas itu. Halaman belakang dari sebuah rumah panggung yang terlihat tinggi dan megah.

Kedua lengan halus milik seorang gadis tampak cekatan mengayuh gagang sapu. Bergerak cepat ke kanan kiri. Dia Barlian. Si kembang desa Kampung Kudung. Cicit satu-satunya dari Datuk Rohayah.

Sesuai dengan namanya Barlian, gadis itu terlihat berkilau seindah berlian. Kecantikan alami ala gadis desa yang tanpa polesan. Diusia tujuh belas, Barlian sedang mekar-mekarnya. Tubuhnya kini berlekuk-lekuk bak gitar spanyol. Kulit putih langsat, halus mulus. Ditambah dengan rambut hitam legam tergerai sepinggang.

Banyak sudah lelaki yang mencoba meminang Barlian untuk dijadikan isteri. Dari yang bujang, yang duda sampai yang bangkotan tak tahu diri sangat bernafsu memilikinya. Tapi, Datuk Rohayah sangat pemilih. Baginya masih belum ada yang pantas untuk jadi suami Barlian.

Datuk Rohayah adalah orang terkaya di Kampung Kudung sampai saat ini. Kebun karet dan sawahnya belum ada yang bisa menandingi luasnya. Belum lagi puluhan ternak kambing dan sapi.

Orang-orang banyak yang berpikir karena terlalu banyak harta itulah makanya Datuk Rohayah enggan mati. Umurnya sudah lebih seabad. Persisnya orang-orang sudah lupa berapa. Anak dan cucunya saja sudah habis menghadap Ilahi. Tinggal Barlianlah kini keluarga satu-satunya. Sebagai calon pewaris tunggal kekayaan Datuk Rohayah.

Padahal saat ini tubuh renta Datuk Rohayah sudah sangat ringkih. Kulit menggelambir penuh dengan kerutan. Matanya rabun, pendengaran kurang. Berjalanpun sudah tak bisa lagi tegak. Terbungkuk-bungkuk bertopang sebuah tongkat kayu. Itupun harus dibantu setiap akan berdiri. Jangan ditanya rupa Datuk Rohayah! Yang pasti sangat tak nyaman dipandang saking tuanya.

"Bar ... kalau Datuk mencariku, bilang aku mau ke pabrik dulu menggiling padi. Persediaan beras di dapur sudah habis." Seorang wanita setengah baya mengenakan baju kurung keluar dari pintu belakang rumah. Selembar kerudung merah masih tersampir di bahunya.

"Oh ... inggih, Cil. Nanti Ulun kasih tahu." Barlian mengangguk.

Wanita yang baru keluar itu biasa dipanggil Barlian Acil Ida, orang yang bekerja di rumah Datuk Rohayah sejak Barlian masih kecil. Dia sudah terbiasa menghadapi kebawelan Datuk.

Sambil berjalan menuju lumbung padi yang ada di samping rumah, Acil Ida melilitkan kerudung menutupi kepalanya. Lalu mengeluarkan sekarung gabah dari dalam lumbung.

Sebuah sepeda ontel tak lama kemudian keluar dari halaman rumah itu. Dengan sekarung gabah di bagian belakangnya. Acil Ida sudah pergi meninggalkan rumah. Barlian melanjutkan lagi pekerjaannya menyapu halaman.

WUUUSSSHHH ....

Angin tiba-tiba bertiup kencang memporakporandakan rambut panjang Barlian juga dedaunan yang sudah susah payah dikumpulkan. Rok payung yang dikenakannya pun sampai tersingkap memperlihatkan sepasang betis putih mulus.

"Aakh ...!" Barlian menjerit kesal. Rambut yang tadi tersisir rapi kini berantakan tak keruan.

Dia tidak menyadari jika ada seseorang sedari tadi mengamatinya dari balik pagar. Mengambil kesempatan berpuas-puas menatap paras yang cantik. Tersenyum melihat tingkah Barlian yang tampak lucu.

"Bar .... sssttt ...." Suara dari Balik pagar kayu menyapa pelan.

Barlian celingukan. Lalu tersenyum senang saat menemukan wajah manis yang sering hadir di mimpi malamnya.

"Kak Arul?" Mata bulat itu seketika berbinar. Sapu lidi dilemparnya sembarang, lalu berlari kecil mendekati pagar kayu setinggi orang berdiri itu.

Ada salah satu papan pagar yang terlepas pakunya. Memungkinkan sepasang kekasih itu bisa saling bersua. Segera dijulurkan Barlian kedua telapak tangannya antara sela pagar. Menyambut pujaan hati yang selalu ditunggu-tunggu.

"Kok, lama tak sini, Kak?" tanya Barlian lembut.

"Kakak ngumpulin duit, Bar." Arul menyambut tangan kekasihnya, meremasnya dengan sayang.

"Kirain sudah lupa sama Barlian."

"Ah, mana mungkin."

Keduanya terdiam beberapa saat saling menatap penuh kerinduan.

"Datuk sehat?" Arul menanyakan tentang kondisi Datuk Barlian.

"Hum." Gadis itu mengangguk pelan.

Arul menghela napas. "Kakak pingin secepatnya melamar kamu, Bar."

"Balian selalu menunggu." Bola mata indahnya menatap sendu penuh harap. Dari sekian pemuda yang pernah mendekat, Arul lah yang berhasil menjerat hati Barlian.

"Aku mau pagar ini tak lagi bisa memisahkan kita." Satu tangan Arul bergerak masuk ke dalam pagar. Menyibak rambut legam yang sedikit berantakan. Jari-jari Arul menyisir Rambut Barlian penuh kasih sayang.

Sekuntum anggrek bulan yang tadi sempat dipetiknya dihutan diselipkan pada telinga gadis cantik itu. Senyum bergingsul Barlian merekah semakin manis diperlakukan begitu istimewa.

"Cantik," gumam Arul tak habis-habis mengagumi keindahan di depannya.

Barlian tersipu. Netra Arul begitu intens menatap bibir merahnya. Membuat Barlian menunduk memandangi satu tangan yang masih diremas mesra oleh Arul. Tangan hangat pemuda itu mengalirkan sensasi yang luar biasa menghanyutkan.

"Kakak sangat sayang sama kamu, Bar," desah Arul sembari menelan ludah.

"Kalau begitu cepatlah lamar, Barlian!" lirih si gadis manja dengan suara serak basah menggoda.

Arul mengeluh dalam hati. Sudah beberapa kali sebenarnya dia datang pada Datuk Rohayah untuk meminta Barlian. Namun, perlakuan kasar yang diterimanya. Arul tak menyalahkan Datuk. Dia saat ini berjuang memantaskan diri bagi Barlian. Bekerja keras mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Agar tak ada lagi penolakan dari wanita renta itu.

Jemari Arul kini mengusap bibir merah kekasihnya. Semakin Barlian melambung terbang ke angkasa. Memejamkan mata menikmati sentuhan yang sarat akan cinta.

Wajah mereka kini hampir tanpa jarak. Merasakan embusan napas masing-masing. Larut dalam arus gelombang penuh kehangatan.

Hasrat Arul kian terbakar menyaksikan bibir merah Barlian tampak segar merekah, bagai bunga mawar yang tengah mekar di pagi hari. Arul tak mampu menahan diri untuk tidak mencicipi harum dan manisnya.

"Barliaaaan, Dimana kau Barlian!" teriak Datuk Rohayah melengking dari dalam rumah.

"Astaga, Datuk sudah bangun!" Barlian segera melepaskan pagutan Arul. Napas keduanya terengah dengan kondisi bibir yang sudah basah.

Wajah Barlian seketika menegang. Barlian takut kalau Datuk sampai tahu Arul sering diam-diam menemuinya.

"Bar ...." Arul enggan melepaskan genggaman tangannya.

"Barlian masuk dulu, Kak. Nanti Datuk marah-marah."

Meski keberatan, Arul sempatkan mengecup kulit halus di punggung tangan gadisnya. Membuat tubuh Barlian merinding.

Ah, rasanya Arul sudah tak sabar bisa memiliki Barlian seutuhnya. Memadu kasih tanpa melanggar norma seperti ini.

Barlian kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah besar itu sembari mengusap jejak basah di mulutnya. Diiringi tatapan kecewa Arul yang belum puas menumpahkan rindu.

"Barliaaan ... Barliaaan ...!" Suara Datuk Rohayah terdengar tidak sabar.

Datuk Rohayah. Perempuan renta bau tanah itulah penghalang utama hubungan mereka. Datuk tidak mau menerima lamaran Arul kalau pemuda itu hanya pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.

Laki-laki yang bisa meminang Barlian haruslah setara kekayaannya dengan Datuk Rohayah. Dan ... Arul tidak memenuhi syarat itu.

****

"Dari mana kamu? Sampai sakit leher Datuk memanggil. Tak disahut-sahut."

Datuk Rohayah menatap Barlian penuh selidik. Suaranya nyaring menggelegar. Tak sesuai dengan kondisi tubuhnya terbaring lemah di atas kasur kapuk.

"Barlian menyapu halaman, Tuk," sahut Barlian tak kalah nyaring.

Berbincang dengan Datuk Rohayah harus ekstra energi.

"Ada siapa di luar sampai lama sekali kau datang?!"

Barlian menggeleng keras. "Tak ada siapa-siapa, Tuk. Barlian cuma sendiri. Angin kencang tadi malam. Halaman kita penuh daun kering." Kedua tangannya membuat gerakan daun yang berjatuhan.

Datuk Rohayah tersenyum sinis. Tampak sekali kalau tak percaya dengan kata-kata Barlian. Mata perempuan beruban itu memperhatikan kulit sekitar bibir Barlian yang lebam memerah. Pasti puas sekali orang yang sudah berani menghisap madu itu.

"Apa Arul ke sini lagi?!" tanyanya ngegas.

Kelopak mata Barlian melebar tersentak. Bagaimana mungkin Datuknya bisa tahu?

"Kau pikir mudah membohongi orang setua Datukmu ini?!" Gaya bicara Datuk Rohayah mirip dengan rocker Candil, vokalisnya Serious kalau lagi marah.

"Lalu dari mana kau dapat kembang sepatu itu?!" ujarnya lagi memicingkan mata pada anggrek bulan yang terselip di telinga Barlian.

Habislah aku, aku lupa melepas bunga pemberian Kak Arul, batin Barlian.

"Macam kurang kerjaan saja, kembang sepatu ditaruh di kepala," omel Datuk lagi.

Jari-jari Barlian saling meremas. Menunduk tak mampu beradu mata dengan Datuk Rohayah yang menatap semakin tajam.

Siapa lagi orangnya? Mudah ditebak, pastilah Arul lelaki yang mampu membuat Barlian bertekuk lutut.

"A-anu ... Tuk ...." Barlian tak tahu lagi harus bicara apa untuk ngeles.

Tok tok tok!

Bunyi ketukan pada daun pintu rumah.

"Assalamu' alaikum Datuuk!" seru orang di luar.

"Sana, buka pintu!" titah Datuk pada Barlian.

Gadis itu menghempaskan napas lega. Ketukan pintu menyelamatkannya dari pertanyaan Datuk yang memojokan. Begegas langkah kaki Barlian menuju pintu depan.

****

"Kambing kita yang sering mati mendadak itu taunya diisap kuyang, Tuk!" Pak Juki yang bekerja menjaga kandang ternak milik Datuk Rohayah melapor dengan suara nyaring mirip pemimpin upacara hari senin.

"Ah, tau dari mana kau kalau kuyang yang meisap. Bohong saja kerjamu. Kuyang itu cuma minum darah manusia," sahut Datuk Rohayah dengan mata mendelik.

"Benar, Tuk. Ulun tak bohong. Ada saksinya. Tadi malam dua orang anak muda di kampung kita sudah melihat. Kuyangnya pun sempat kita kejar. Tapi kabuuur."

"Taaak ...." Datuk Rohayah menggoyang telapak tangannya. "Aku tidak percaya. Dua pemuda itu jangan-jangan mau maling kambing kita. Untuk apa juga mereka malam-malam masuk ke kandang kambing?" Dipukul-pukulkan telapak tangan pada lantai di sampingnya.

"Bukan maling mereka, Tuk. Jumlah kambing kita masih utuh. Tapi satu ekor tubuhnya mati kering diisap hantu kuyang. Kalau Datuk tak percaya nanti saya bawa bangkai kambingnya. Kering mirip ikan asin, Tuuuk!"

Mulut datuk Rohayah berdecih. "Hah ... paling bisa-bisanya kau saja. Kambing kurus kering kurang gizi bukannya diisap kuyang. Kau saja yang malas cari rumput. Lebih banyak lagi kau beri makan. Tak akan kambingnya jadi ikan asin ...." Datuk Rohayah terus mendumel panjang lebar.

Itulah Datuk Rohayah. Dia tidak gampang percaya pada orang lain. Termasuk Pak Juki yang sudah bertahun-tahun kerja padanya. Benar-benar perempuan tua keras kepala.

"Kalau begitu bangkai kambingnya langsung ulun kubur saja, Datuuuk?!"

"Kubur cepat! Nanti menular penyakitnya ke kambing lain. Habis kambingku, kau yang kubikin ikan asin!" ancamnya seolah dirinya kuat. Padahal berdiri saja gemetaran.

"Iya ... iya, Datuk. Kalau begitu saya permisi." Pak Juki tak mau berlama-lama lagi.

"Tunggu sebentar!"

"Iya, Tuk?"

"Apa kau tadi bertemu Arul?"

"Arul ....?"

"Arul yang buluk miskin itu, adiknya Aman!" teriak Datuk Rohayah meninggi. Sengaja agar didengar oleh Barlian.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Entah kenapa gw suka kalo ada yg bahas kuyang kek gini...😀 😀 😀
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan aan1984 memberi reputasi
Cerita kuyang kalimantan selalu bkin penasaran...
Monggo dilanjut mas black...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
Chapter 11


Malam telah sangat larut, saat sebuah mobil sedan warna merah cabai meluncur cepat di atas jalanan beraspal. Di dalam mobil tampak seorang perempuan cantik sedang mengemudi sendirian.

Dia Laila, perempuan pelakor yang sudah behasil mengganggu kenyamanan hidup Cahaya. Wajah perempuan itu tampak gusar. Berkali-kali Laila memukuli stir mobil dengan kesal. Terngiang percakapannya tadi dengan Ki Rondo, yang seorang dukun sekaligus guru spiritualnya.

"Susuk yang Mbah pasang di tubuh saya sepertinya sudah tak berfungsi lagi, Ki."

"Hum, kenapa kamu berkata begitu?"

"Buktinya Mas Hilman meninggalkan saya. Dia menceraikan saya tanpa sebab jelas, Ki. Padahal sebentar lagi saya akan melahirkan."

"Mungkin kamu sudah melanggar pantangan."

"Tidak, Ki. Saya selalu mematuhi segala pantangan yang Aki bilang."

"Kamu yakin?"

"Yakin seyakin-yakinnya. Tak ada satupun pantangan yang saya langgar."

Lelaki tua berpakaian serba hitam itu manggut-manggut.

"Aku akan mencari tahu sebabnya. Tunggulah di sini!"

Ki Rondo masuk ke dalam bilik khusus. Tempat biasa dia melakukan ritual perdukunan. Aroma kemenyan tercium sampai ke tempat Laila duduk menunggu. Beberapa menit kemudian Ki Rondo keluar dari dalam biliknya.

"Susukmu masih bagus, Laila. Hanya saja ...." ucap Ki Rondo sembari duduk bersila di depan Laila.

"Hanya saja apa, Ki?" tanya Laila tak sabar.

"Lawanmu pun melakukan hal yang sama. Isteri pertama suamimu juga memiliki ilmu pengasih."

"Cahaya punya ilmu pengasih? Jadi ... sekarang Mas Hilman kembali lagi pada Cahaya?" desis Laila tercekat.

Ki Rondo manggut-manggut membenarkan. "Sainganmu berat, La. Jika mau menandingi ilmunya kamu harus melakukan ritual lagi. Tapi saat ini tidak memungkinkan, karena kamu sedang hamil."

"Aaaargh!! Sialan kamu Cahaya!" teriak Laila penuh amarah di dalam mobilnya.

Bugk!

Bundaran stir dipukulnya lagi. Seolah itu wajah Cahaya.

"Pantas sikap Mas Hilman berubah total. Rupanya ini semua karena ulahmu."

"Aku pasti membalas kamu. Tunggu saja nanti!" Gigi-geligi Laila gemerutuk geram.

"Kamu pikir aku akan diam saja?!" Tangan perempuan buncit itu mengacung-acung.

"Mas Hilman akan kembali padaku. Mas Hilman akan mengemis cintaku, Cahaya! Tunggu saja! Kita lihat siapa yang lebih kuat!"

"Aku benci padamu Cahaya! Aku akan membunuhmu!"

Laila terus mengomel di dalam mobilnya seperti orang gila. Menyedihkan sekali. Di saat-saat hamil besar seperti ini. Hilman malah tega menceraikannya. Padahal sebelumnya lelaki itu begitu memuja-muja Laila.

Merasakan kejanggalan, malam ini Laila nekad mendatangi rumah Ki Rondo. Padahal rumah dukun sakti itu cukup jauh di luar kota. Melewati jalan-jalan yang sepi. Apalagi sudah malam begini. Hanya terlihat satu dua mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi.

"Ssshh ...." Mulut Laila mendesis merasakan dinding perutnya kontraksi.

Beberapa hari terakhir perut Laila mulai sering kencang-kencang. Usia kehamilannya kini menginjak delapan bulan. Taksiran melahirkan masih sebulan lagi. Stress akibat kepergian Hilman membuat jiwa Laila terguncang.

"Mas Hilman tega, huhuhuuu ...." Laila kini terisak berurai air mata.

Dia sangat merindukan laki-laki itu. Hatinya merasa tercabik-cabik mengingat perlakuan dingin suaminya sebelum pergi dari rumah. Perjuangan Laila merebut Hilman dari Cahaya tak tanggung-tanggung. Menggadaikan tubuh pada setanpun sudah dilakoni demi itu.

Kondisi jalan begitu lengang. Dengan hati gundah Laila semakin dalam menginjak pedal gas mobil. Jarum penunjuk pada spedometer kian bergerak ke arah kanan. Kecepatan maksimal membuat jalanan di depan seperti meliuk-liuk.

Tepat berada di tikungan tajam. Tiba-tiba ....

SYUUUHHH ....

Satu sosok tiba-tiba berkelebat cepat menyeberangi jalan.

CIHIIIT!!!

Ban mobil berdecit nyaring. Kedua kaki Laila spontan menginjak pedal kopling dan rem hampir bersamaan. Tubuhnya sedikit terpental ke depan, namun tertahan oleh safety belt. Tanpa safety belt mungkin perut buncit Laila sudah penyok.

"Bangs*t! Sudah bosan hidup rupanya!" umpat Laila nyaring. Kepala melongok ke luar kaca mobil. Matanya mencari-cari ke arah bahu jalan. Ingin memaki-maki orang itu.

"Heh, kamu buta, ya?! Nyebrang gak liat-liat! Toloool!!" maki Laila pada perempuan yang baru menyeberang jalan tadi.

Walau dia berdiri membelakangi, Laila yakin kalau itu seorang perempuan. Rambutnya tampak terurai panjang. Perempuan itu tiba-tiba menangis terisak mendengar omelan Laila.

"Huuuhuhuhu ... huuuhuhuhu ...." lirihnya sedih. Tubuhnya tampak berguncang.

"Hiiih ... jangan-jangan orang sinting," gumam Laila sembari mengendikkan bahu.

Mesin mobil dihidupkannya lagi. Tapi, tak berhasil.

Drrutt ... drrrurururutt ... drruduttdruutdruudutt ....

Bunyi mesin mobil terdengar ngadat.

Glekh!

Laila menelan saliva gugup melihat pada arloji yang melingkar di lengan, waktu sudah lewat tengah malam.

Jalanan sepi. Tak ada lagi mobil lain yang melintasi jalan provinsi itu. Kiri dan kanan hanya tampak hutan gelap. Jarak tiang lampu jalan satu dan lainnya berjauhan. Rumah penduduk tak terlihat lagi.

Pandangan Laila lalu beralih pada perempuan berambut panjang yang masih tersedu-sedu di sisi jalan. Tapi sekarang suara tangisannya terdengar aneh.

"Hikhikhik ... hikhikhihik ... hikhikhikhik ...." Suara tangisnya berubah lebih mirip cekikikan mengejek.

"Senang kamu tahu mobilku mogok, hah?! Ini gara-gara kamu bunguuulll ...!" umpat Laila berang.

"Hikhikhik ... hikhikhikhik ...." Suara cekikik perempuan di pinggir jalan kian nyaring. Bulu kuduk Laila seketika merinding.

Berkali-kali Laila memutar kunci kontak mobilnya. Tapi, mesin masih tetap ngadat. Laila menghempaskan napas kasar. Hatinya mulai was-was. Sedang waktu kian beranjak. Cuaca dingin menusuk tulang. Dia masih berada dalam mobil mogok dikepung oleh kegelapan malam.

Aneh ....

Perempuan di pinggir jalan itu tetap diam tak bergeming dari tempatnya berdiri. Seolah menunggu Laila keluar dari mobilnya.

Siapa sebenarnya perempuan berambut panjang itu?

Yang terlihat hanya punggung tertutup rambut menjurai sampai ke bawah. Karena gelap penampakannya tidak begitu jelas.

Hati Laila mulai curiga. Segera ditutupnya rapat kaca mobil. Lalu memastikan semua pintu mobil sudah terkunci. Biarpun cuma orang gila. Tetap saja berbahaya jika menghadapi seorang diri seperti ini.

Degh!

Mana perempuan tadi?

Usai Laila sibuk sendiri di dalam mobil, perempuan rambut panjang awut-awutan itu tidak terlihat lagi di sisi jalan. Mungkin dia sudah pergi. Laila mengucap syukur dalam hati.

Keluar dari mobil tidak mungkin dilakukannya. Perut Laila sudah terasa berat kalau harus jauh berjalan kaki. Sebaiknya menunggu di dalam mobil saja. Sampai ada mobil lain yang lewat. Laila bisa menumpang untuk pulang.

Hidung Laila kemudian mengendus-endus. Tercium bau busuk-busuk amis di dalam mobil. Baunya menusuk mirip bau jeroan ayam mentah yang disimpan beberapa hari. Kening Laila berkerut bingung. Tadi dalam mobil masih wangi aroma jeruk dari pengharum yang ada di atas dashboard.

Lalu dari mana asal bau busuk?

"Ciak ... ciak ...." Terdengar suara cicitan mirip suara anak ayam dari arah bangku belakang mobil.

Apa yang ada di dalam mobil Laila?

"Ciak ... ciak ...." Suara itu semakin nyaring.

Leher Laila terasa kaku saat merasakan tiupan angin dingin di tengkuknya. Seluruh kulit meremang. Matanya pelan merayap menuju spion di atas kepala yang menampakkan sosok mengerikan sedang duduk di bangku belakang. Sesosok makhluk berambut panjang acak-acakan yang tengah menatapnya dengan mata menyala-nyala.

"Ciak ... ciak ...."

"KYYAAAA!!!" Laila berteriak histeris ketakutan.

Brakk!

Segera dibukanya pintu mobil. Lalu keluar pontang-panting.

"Hikhikhik ... hikhikhikhik ...."

"KYYYAAAA!!!" Perempuan bunting besar itu berlari tertatih dengan high heels di kedua kaki. Sambil kedua tangan memegangi perutnya yang terasa mau jatuh.

Hosh ... hosh ....

Laila Ulfah nama pelakor tak tahu diri itu terus berlari dengan napas terengah-engah.

NGUUUNGHH ... POK POK POK ... NGUUUNGHH ....

"Lailaaa ... hikhikhikhik ... hikhikhik ...."

Makhluk itu tahu-tahu sudah melayang di atas kepala Laila sembari tertawa cekikikan. Telinga lebarnya kini tampak mengepak seperti sayap. Mengeluarkan bunyi berdengung layaknya lebah madu.

"Tolooong ... ada hantuuu ... tolooong!!!" Laila terus berlari, berteriak-teriak di jalanan yang lengang.

Kabut mulai turun menutupi pandangan perempuan hamil itu pada jalan di depannya. Cuaca semakin dingin menggigit tulang.

"Tolooong ... tolooong sayaaa!!!"

Brukk!!

Apes memang si Laila Ulfah pelakor busuk. Kakinya yang mengenakan high heels selip saat menginjak aspal yang basah.

"Hikhikhik ... hikhikhik ... matiii ... kau harus mati Lailaaa Ulfaaah ...."

Sia-sia usaha Laila lari darinya. Hantu itu tak berhenti mengejar. Dia menginginkan kematian Laila si pelakor murahan, mantan p*lacur binal itu.

"Siapa kamu?! Dari mana kamu tahu namaku?!" Laila kini hanya bisa ngesot dengan tubuh gemetar ketakutan, di atas aspal. Kakinya ternyata tadi terkilir.

Hantu apa gerangan ini pikir Laila Ulfah. Kunti bukan, Sandal bolong juga bukan. Penampakannya berupa kepala dengan jeroan yang menjuntai. Belum pernah Laila melihat film horor tentang hantu serupa ini. Pasti ini hantu yang tidak terkenal.

"Hikhikhik ... aku adalah malaikat mauuut ... hikhikhikhik ...."

"Tidaaak! Berhenti menggangguku! Pergiii!!!" Tentu saja Laila tidak percaya kata-kata hantu tidak terkenal itu.

Mana ada malaikat maut yang kelihatan jeroannya?

Laila melepas satu high heel lalu melemparnya ke arah hantu itu.

Bugk!!

"Gak kena ... hikhikhik ...." ledek hantu jeroan.

"Kau tak pantas hidup Laila Ulfah ... tempatmu di alam bakaaa ... hikhikhik ...."

"Kau tahu namaku, pasti ada yang menyuruhmu. Katakan siapa! Berapa dia membayarmu?!"

"Kamu ketakutan Laila? Mukamu jelek sekali Laila ... hikhikhik ...." Hantu tidak terkenal sengaja mengulur-ulur waktu eksekusi korbannya.

Melayang pelan ke arah Laila yang terus mundur ngesot. Dia sangat menikmati ekspresi ketakutan itu.

"Hmmh ... slurph ...."

Mata Laila melebar maksimal melihat lidah setan tiba-tiba memanjang dengan liur menetes-netes. Hantu di depan Laila tengah melihat tembus pandang pada jabang bayi di dalam perut buncitnya. Pasti rasanya segar dan manis.

Bugk!

Satu lagi sisa high heel dilemparkan Laila. Kali ini pun hanya mengenai angin. Sepertinya Laila tidak punya harapan lagi. Sementara kabut menjadi-jadi menutupi pandangan. Posisi Laila tepat berada di tengah jalan.

Telinga hantu jeroan bergerak menangkap satu pergerakan dari kejauhan. Tubuhnya lalu melayang lebih tinggi menjauhi Laila.

"Hhh ... syukurlah ...," ucap Laila mengembuskan napas lega. Melihat hantu jeroan menjauh.

Tiba-tiba ... sorot terang dari lampu depan sebuah mobil besar mendekat dengan kecepatan tinggi.

BRAAAKK!!!

JEDUAAAARRR!!!

CRAAASSHH!!!

Satu benturan yang sangat keras membuat tubuh Laila terlempar jauh hingga tersangkut pada dahan pohon di sisi jalan. Dahan pohon yang runcing itu menembus perut hingga punggungnya.

Mata Laila seketika membelalak. Darah pun mengucur deras dari perut dan punggungnya yang koyak. Tubuh pelakor itu berkelojot meregang nyawa beberapa saat. Sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Innalillaaah ....

Malang benar nasibmu Laila.

"Ciak ... ciak ...." Suara cicitan terdengar mendekat.

NGUUUNGH ... NGUUUNGH ... POK POK POK POK ....

Slurrrphh ... slurrrphh ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 12


"Barliaaaan!!!" Suara Datuk Rohayah menggelegar, tak kalah keras dari teriakan seorang rocker di atas panggung.

Barlian yang tadinya senyum-senyum memandangi anggrek bulan pemberian Arul, sontak memejamkan mata kuat-kuat.

Dari mana Datuk belajar berteriak senyaring itu? Jangan-jangan jaman perang dulu Datuk komandan pasukan militer, gerutu Barlian dalam hati.

"Kemana kau, Barliaaan?!"

"Iyaaa, Datuuuk?!" sahut Barlian dari dalam kamarnya, tergopoh-gopoh memasuki ruang istirahat Datuk Rohayah.

"Main pergi saja, kau! Datuk belum selesai bicara, sudah kau menghilang macam hantu!" rutuknya sengit.

"Datuk tadi kan bicara sama Pak Juki. Jadi Barlian masuk ke kamar," jawab si cicit.

"Alasaaan! Kau lihat Datukmu ini, Barlian! Tega kau biarkan Datuk tak bangun-bangun macam orang sudah mati! Cepat bantu duduk!" titah Datuk Rohayah berang.

"I-iya, Tuk!"

Tubuh renta bau tanah kuburan itupun segera dibantunya untuk duduk bersandar pada dinding. Dialasi beberapa buah bantal menopang punggungnya.

"Mana bunga sepatu tadi?"

"Bunga apa, Tuk?"

Ah, Datuk mulai lagi, keluh Barlian dalam hati.

"Bunga sepatu hiasan di kepalamu tadi?!"

"Bunga sepatu? Tak ada bunga sepatu, Tuk." Barlian memegangi kepalanya dengan wajah polos.

Barlian tidak bohong. Bunga tadi memang bukan bunga sepatu, tetapi bunga anggrek.

"Aaakh, ampun, Datuuuk!" pekik Barlian. Satu telinganya dijewer keras oleh Datuk Rohayah.

"Pintar bohong kau sekarang! Sementang mata Datukmu sudah rabun!"

Barlian menunduk. Mengusap-usap bekas jeweran pada telinganya. Rasanya seperti baru dijepit dengan tang besi. Mata Barlian sampai berkaca menahan sakit.

Meski Datuk Rohayah segalak singa. Namun, Barlian tetap hormat dan sayang padanya. Barlian berharap perempuan tua itu tetap dianugerahi umur panjang oleh Tuhan. Tanpa Datuk, Barlian akan hidup sebatang kara.

"Mana tongkat Datuk?" tanyanya lagi. Tak ada kasihan pada Barlian yang masih tampak kesakitan.

"Ini." Barlian meraih tongkat kayu yang berada persis di samping Datuk Rohayah duduk.

"Tadi tak ada di situ. Pasti kau sembunyikan," ujarnya mendelik curiga.

"Tidak, Tuk ... dari tadi sudah ada di sini. Mana berani Barlian memindah-mindah?" ujarnya terisak pelan.

"Jangan pernah kau temui lagi si Arul itu! Buka telinga kau baik-baik!" Datuk menarik daun telinga Barlian hingga gadis itu mengaduh lagi.

"Si Arul itu hanya mengincar harta kita. Kau pikir dia cinta padamu, hah? Cuih!" Datuk Rohayah meludah kecil.

"Harta yang bakal kau warisi banyak sekali, Barlian. Itulah yang membuat dia cinta padamu. Dasar bunguuul!" cetusnya geram.

Barlian tersenyum kecut. Tak percaya kalau Arul seburuk kiraan Datuk. Datuk Rohayah benar-benar tak suka pada Arul. Semakin sulitlah bagi mereka bisa bersatu.

"Apa tadi yang kau kerjakan di kamar?"

"Emh ... anu, Tuk." Barlian memutar otak mencari jawaban aman. "Menyisir rambut, Tuk."

"Besolek saja kau bisanya. Tak adakah yang bisa kau kerjakan selain besolek?!"

"Astaga, Tuk. Sejak subuh sudah banyak yang Balian kerjakan. Mencuci baju Datuk, menjemur baju Datuk, menyiram tanaman kesayangan Datuk, menyapu halaman ...," terang Barlian sembari memeragakan pekerjaannya dengan gerakan tangan.

"Beeeh ... bunguuul! Kalau semua kau kerjakan, apa lagi yang bisa dikerjakan Acil Ida? Besar kepala dia nanti! Rugi aku membayarnya!" omel Datuk dengan bibir maju.

Semua salah di mata Datuk Rohayah. Tak ada yang benar.

"Acil Ida pagi-pagi pamit ke pabrik menggiling padi. Beras kita di dapur habis," terang gadis itu lagi.

"Hum ... iya, kah?" Nada suara Datuk sedikit menurun.

"Hum." Barlian mengangguk.

"Kalau begitu cepat kau ke kebun cari daun pisang yang banyak sama bumbu! Nanti pas Acil Isah pulang suruh dia masak pais ikan!" Datuk sedikit lunak.

Barlian mengangguk cepat, "iya, Tuuuk."

Hhh ... senang sekali Barlian mendengar perintah Datuk menyuruhnya ke kebun. Kalau bukan Datuk yang menyuruh, dia sulit keluar rumah. Semoga bisa bertemu Kak Arul lagi, harapnya dalam hati.

****

Bangku-bangku panjang di warung Uwak Haji sudah terlihat penuh. Setiap pagi warga yang pulang dari menurih getah banyak yang singgah untuk sarapan, atau sekedar menyesap secangkir kopi.

Sebagian besar warga Kampung Kudung bermata pencaharian menurih. Menurih getah harus dikerjakan sejak subuh buta. Kalau tidak, jangan harap akan banyak dapat getah. Saat subuh itulah produksi getah karet melimpah.

Kegemaran duduk di warung kopi salah satu kebiasaan unik dalam kehidupan masyarakat Kalimantan sejak jaman baheula. Bagi kebanyakan orang, duduk di warung berhubungan dengan gengsi. Jika seseorang masih terlihat duduk di warung. Menandakan kondisi keuangannya baik-baik saja.

Seakan terbagi menjadi dua kubu. Warung Uwak Haji didominasi oleh para perempuan, sedang para lelaki lebih suka mendatangi warung Ulim yang ada di hilir. Anak-anak sesuka hatinya saja. Kadang ikut abah, kadang ikut mamaknya.

Pagi ini topik yang masih hangat diperbincangkan masih seputar hantu kuyang. Warga heran kenapa kuyang eksis lagi di Kampung Kudung. Meski kemarin malam hanya memakan korban seekor kambing. Tetap saja warga merasa ngeri.

"Uy ... mamak-mamak sekalian. Jadwal ronda malam sudah ada. Ingatkan laki-laki sampian, ya!" ujar Mak Apis sembari memanaskan air untuk merebus mie pesanan Mak Junai.

"Beh, kesian benar yang lakinya kena giliran ronda," celetuk satu mamak.

"Kenapa, tuh?" Mamak bertudung merah bingung mendengar.

"Musim hujan ini, Mak ... pake tanya lagi ...."

Beberapa mamak yang paham maksudnya pada senyum-senyum.

Sebagai pemilik warung, Mak Apis merangkap jadi agen informasi. Dia sering diminta Pembakal desa untuk membagikan berita bagi warga yang datang ke warungnya.

"Siapa gerangan yang jadi kuyang lagi? Bikin kampung kita jadi horor begini," gerutu Mak Lani sambil menyumpal pisang goreng ke mulut.

"Manalah ada yang tahu? Kalau tahu paling sudah diusir ramai-ramai."

"Apa mungkin si Mariam yang balik lagi ke sini jadi kuyang?"

"Ah, jangan menebak-nebak begitulah. Fitnah jatuhnya. Kemarin kita kira si Cahaya itu janda. Taunya sekarang ada suaminya menyusul."

"Kuyang itu bisa saja datang dari kampung lain. Belum tentu warga kita yang jadi kuyang," sahut Mak Enal.

Pintu rumah di seberang jalan tampak terbuka. Mengenakan jaket hoddy warna biru gelap Yusuf keluar dari rumah. Wajah memesona milik Yusuf sudah dinanti para mamak dan gadis-gadis. Mereka segera saling sikut, saling berbisik, melihat pemuda itu kian mendekat.

"Orang bungasnya ke luar," cicit salah satu mamak.

"Singgah, minum dulu, Suf!" sapa Mamak Apis sok akrab, saat Yusuf melewati warungnya.

Celoteh para mamak langsung senyap. Semua perhatian kini tertuju pada pemuda berpostur tinggi itu. Yusuf berdiri sejenak menghadap warung.

"Makasih, Cil. Barusan sudah sarapan," sahut Yusuf sembari melempar senyum maut pada semua yang ada di warung.

Tuhan sudah memahat bentuk wajah yang hampir sempurna untuk pemuda bernama Yusuf itu. Semua yang terlihat padanya tampak serasi. Tubuh tinggi dengan dada yang bidang membuat perempuan berkhayal bisa masuk dalam pelukannya.

Wajah tampan unyu-unyu setara dengan aktor Bollywood Amir Khan semasa muda. Yusuf juga memiliki kulit putih bersih, rambut hitam lebat, juga sederet gigi yang rapi.

Pagi ini Yusuf sengaja lebih pagi keluar rumah. Cahaya dan Hilman belum keluar dari kamarnya setelah lembur semalam suntuk.

"Kemana gerangan pagi-pagi?" tegur mamak yang lain, sambil menatap rakus pada pemuda itu.

Perlakuan para mamak tak adil. Jika pada Cahaya mereka terkesan mengucilkan. Pada Yusuf mereka malah bersikap sangat manis.

"Gak kemana-mana, Cil. Cuma cari udara segar. Ulun permisi, duluan Acil-acil," sahut Yusuf sambil memasukkan kedua tangan dalam saku jaket, lalu melanjutkan langkahnya lagi.

Pandangan mamak-mamak tak lekang meski jarak Yusuf sudah jauh.

"Uy, mamak Tiah. Pisang guring di tanganmu salah menuju. Ke mulut Mama Tiah ... jangan kau masukan ke lubang hidung. Tak bakal muat ...." tegur Mak Apis sembari terpingkal.

"Jiaaah ... Mak Apis. Kau sendiri juga sama. Mie rebusku bukannya dikasih telor tapi kau masuki cangkangnya." Mamak Junai memperlihatkan mie rebus di mangkuknya yang dihiasi pecahan cangkang telur.

"Iyakah?" Mulut Mak Apis membulat.

Derai tawa para mamak pun pecah di warung Uwak Haji. Sedang punggung Yusuf tampak sudah mengecil di ujung jalan.

"Beracun benar senyumnya. Sampai hilang waras kita," celetuk salah satu mamak berkudung kuning.

"Ingat umur, euy! Uhuk ... uhuk ... hehehehe ...." Uwak Haji nyeletuk sebari terbatuk dan terkekeh-kekeh. Rupanya laki-laki tua itu sudah memperhatikan tingkah para mamak sedari tadi. Posisi duduk Uwak Haji di bawah pintu tidak disadari semua.

****

Yusuf pagi ini sengaja ke luar rumah. Kemunculan kuyang di kandang kambing masih membuatnya penasaran. Yusuf merasa tertantang untuk mencari jejak makhluk itu. Siapa tahu itu benar mamaknya.

Dia rindu mamak. Seandainya wujud mamak sudah seperti kuyang malam itupun Yusuf akan tetap memeluknya jika bertemu. Yusuf yakin kalau Mariam masih hidup, tapi entah di mana sekarang.

Kaki Yusuf mendekati lagi kandang kambing milik Datuk Rohayah. Suara kambing dan sapi terdengar berisik. Ternyata ada seorang pekerja yang sedang sibuk memberi makan pada ternak-ternak itu.

"Assalamu' alaikum," sapa Yusuf.

"Wa' alaikum salam. Ada apa ya, Nang?" Pak Juki menoleh padanya dengan alis bertaut.

"Gak papa, Mang. Saya cuma kebetulan lewat sini. Mampir pengen liat aja."

"Ooh ... kamu orang mana, Nang? Saya kok baru liat?" tanya Pak Juki sambil terus membagikan rumput-rumput segar di depan kambing-kambing.

"Kenalin, Mang. Saya Yusuf." Yusuf mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Lagi pulang kampung sama kakak saya Cahaya."

Pak Juki menyapukan cepat tangan yang dirasa kotor ke belakang bajunya, lalu menyambut tangan kanan Yusuf.

"Jadi kamu ini Usuf yang diceritakan Busron kemarin malam? Yang sama dia liat kuyang di kandang ini?" tanyanya dengan kedua alis naik.

"Nah, betul Mang. Saya yang sama Busron malam itu," jawab Yusuf cepat.

Pak Juki manggut-manggut. "Sebenarnya sudah sering kambing di kandang ini mati, Suf. Matinya aneh. Badan kambing jadi kering kehabisan darah." Pak Juki menghempaskan napas kasar sambil geleng-geleng.

"Datuk Rohayah marah-marah terus sama saya. Saya disalahin, katanya kambing sering mati gara-gara saya malas kasih rumput. Makanya kurang gizi," gerutu Pak Juki.

"Oh, begitu, Mang?" Tangan Yusuf ikut menyodorkan rumput segar ke arah kambing yang mengembek paling nyaring.

"Iya. Jadi sekarang saya lega penyebabnya sudah jelas. Kuyang biang keladinya."

Yusuf manggut-manggut. Otaknya berusaha mencerna setiap cerita yang keluar dari mulut Pak Juki. Setelah berbasa-basi sedikit dia kemudian menjauh dari kandang ternak. Lanjut menapaki jalan kebun yang ada di belakang kandang. Kebun pribadi milik Datuk Rohayah.

Di depan Yusuf kini tampak kebun buah-buahan. Dari kejauhan terlihat sebuah telaga di tengah kebun. Udara sekitar kebun begitu menyegarkan. Beda jauh dengan udara dekat kandang ternak tadi.

Yusuf tertarik mendekati pinggir telaga yang rindang oleh banyaknya pepohonan. Kondisi jalan agak menurun. Yusuf berusaha berhati-hati melangkah karena tanah terasa licin dan basah. Rimbunnya beluntas menutupi jalan setapak itu.

Tiba-tiba ....

GLUDUK ... GEDEBUGH....

Tanah yang licin membuat pijakan kaki Yusuf tergelincir, lalu jatuh menimpa tubuh seseorang yang tadi duduk jongkok tertutup rumpun beluntas. Yusuf spontan memeluknya dari belakang. Keduanya lalu terguling-guling lagi ke bawah.

GLUDUK ... GLUDUK ....

"Aaaaargh!!!"

Keduanya sama-sama berteriak nyaring. Tapi teriakan selain suara Yusuf itu suara seorang perempuan. Tubuh mereka berhenti berguling setelah tertahan sebuah pohon ramania yang besar. Pohon sedang lebat-lebatnya berbuah. Buahnya tampak bergelantungan sampai ke bawah.

"Haduuuh!!" jerit si perempuan.

Tubuh besar Yusuf masih menindihnya. Wajah Yusuf tepat menempel pada rambut perempuan itu.

"Ma-maaf ..." Yusuf segera bangkit seraya membalik tubuh orang di bawahnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 13


Wajah perempuan itu ternyata belepotan lumpur. Matanya terpejam rapat sulit untuk membuka. Rupanya saat jatuh tadi wajahnya mengenai kubangan lumpur. Tubuh mereka berdua sama kotor.

Bugk bugk bugk!

Kedua tangannya mengepal memukuli Yusuf, namun itu tak berarti apa-apa bagi pemuda itu.

"Jangan pegang-pegang Pak Jukiii! Nanti kubilangin sama Datuuuk ...," ujar Barlian dengan nada tinggi. Masih terbawa-bawa caranya bicara pada Datuk. Yusuf dikira Pak Juki, orang yang mengurus ternak.

"Lepaskan Pak Jukiii! Dilihat Acil Ida, mati kau nanti!" Barlian menyebut nama Acil Ida isteri dari Pak Juki.

Yusuf tersenyum melihat tingkahnya yang lucu. Bicara Barlian seperti orang teriak. Seolah lawan bicaranya berjarak seratus meter.

"Aku bukan Pak Juki."

"Lalu siapaaa?!" tanya Barlian menelengkan kepala heran. Yang jelas lelaki di dekatnya bukan Arul. Logat suara Arul sangat khas, beda dengan orang ini.

"Sebaiknya kita cuci dulu muka kamu."

"Kamu penculik?! Kamu ngayau?!" cecar Barlian.

Yusuf tertawa kecil mendengarnya.

"Aakh ... kamu mau apaaa?!" pekik Barlian merasakan tubuhnya terangkat naik.

"Mencuci muka kamu," sahut Yusuf sembari terus menggendong tubuh gadis itu menuju telaga.

"Aku bisa jalan sendiri."

"Mana bisa kamu jalan sendiri."

"Turunkan!" Tubuh Barlian meronta.

Yusuf tak menghiraukan permintaan Barlian. Di sisi telaga baru tubuh itu dia turunkan.

"Tetap pejamkan mata kamu!" Tangan Yusuf lalu meraup air, membasuh wajah gadis itu dengan hati-hati.

Barlian tak banyak bicara lagi. Tiba-tiba berkhayal jika orang yang sedang mencuci mukanya sekarang adalah Arul. Perlakuan Yusuf yang lembut mengingatkan Barlian pada kekasihnya itu.

"Maaf sudah membuat tubuhmu kotor seperti ini ...," gumam Yusuf.

Sedikit demi sedikit lumpur di wajah Barlian luruh oleh air. Kian jelaslah paras elok Barlian. Kedua netra Yusuf menyusuri keindahannya dengan hati berdesir.

Bentuk wajah Barlian yang bulat telur, dengan sepasang alis hitam bak semut beriring, hidung mungil nan bangir, bibir ranum dengan bentuk yang penuh, kulitnya putih langsat, halus mulus ....

Hhh ....

Cantik, batin Yusuf terkagum.

"Sudah selesai. Coba buka mata kamu!"

"Kak Arul," desis Balian tersenyum, masih dengan mata terpejam. Khayalannya belum bubar. Wajah Arul menari-nari memenuhi ruang imaji.

"Arul ... siapa dia?" Kening Yusuf mengernyit.

"Akh!" Barlian tersentak membuka mata, menyadari kekonyolannya.

Mata bulat bening itu melebar menatap sosok pemuda di depan. Wajah cantik Barlian yang basah kuyup kian terlihat menggemaskan.

"Kamu siapaaa?!" tanya Barlian heran sembari memindai wajah tampan Yusuf.

Apa tadi aku tak sengaja sudah mencium kodok? Lalu kodoknya berubah jadi pangeran tampan, tanya Barlian dalam hati. Tangan menggaruk-garuk kepala yang sedikit berlumpur.

"Namaku Yusuf. Orang-orang biasa memanggilku Usuf." Yusuf menyodorkan tangan kanannya.

Barlian masih bengong. Tangan Yusuf hanya dipandanginya.

"Kenapa? Kamu takut?"

"Kenapa kakak ada di sini?" Barlian sudah menyadari kebodohannya.

Tentu tak mungkin pemuda ini pangeran kodok. Itu cuma ada di cerita dongeng. Dia manusia.

Hanya saja Barlian belum pernah bertemu laki-laki setampan Yusuf. Tapi tak cukup mampu menggeser tempat Arul dari hati seorang Barlian.

Yusuf tersenyum simpul, tangannya tak juga disambut oleh Barlian. Dia segera mengambil air untuk membasuh tubuh sendiri.

"Aku lahir di kampung ini. Tapi, kemudian pindah ke kota bersama keluargaku," terangnya sembari meraup air membasuh muka.

"Bertahun-tahun aku dan Kak Cahaya meninggalkan kampung ini. Hingga banyak yang tak lagi mengenali kami," tambahnya lagi.

Barlian manggut-manggut mendengarkan.

"Aku kebetulan saja lewat di kebun ini. Apa kebun ini milikmu?' Yusuf menoleh padanya.

"Bukaaan ... kebun ini punya Datuuuk!"

Yusuf terkekeh geli. "Kamu tidak capek ngomong keras begitu?"

Ups!

Barlian membekap mulut sembari tersipu. Gaya bicara Datuk sudah sangat mempengaruhinya. Semua orang yang sering berinteraksi dengan Datuk Rohayah kadang ikut-ikutan naik nada bicaranya.

"Datukku pendengarannya kurang. Jadi aku harus nyaring kalau bicara." Nada bicara Barlian sudah kembali normal.

"Oh, begitu?" Yusuf duduk di samping Barlian. Menatap lekat tak berkedip.

"Hum." Barlian mengangguk. "Datuk Rohayah umurnya sudah sangat tua, sudah ratusan tahun."

"Hebat! Boleh aku bertemu dengannya?"

"Untuk apa?"

"Tak boleh?" Kedua alis Yusuf naik.

"Jangan dekat-dekat sama Datuk! Datuk galak. Sakit telinga Kakak kalau mendengar omelannya ...."

Yusuf mendengarkan Barlian terus berceloteh, menceritakan tentang Datuk Rohayah. Dia begitu tertarik. Bukan hanya tentang ceritanya, tetapi pada wajah Barlian yang sangat sedap dipandang mata.

"Nama kamu siapa?" tanya Yusuf memotong bicara Barlian.

"Eng ... Barlian," jawabnya malu-malu.

"Barlian, hmm ... nama yang indah. Usia kamu?"

"Tujuh belas ...."

Kedua anak manusia itu beradu mata beberapa saat. Barlian segera menunduk. Jengah menerima tatapan yang begitu dalam.

"Awuch!" Yusuf tiba-tiba terpekik kaget merasakan sesuatu yang menyengat di punggung tangannya.

"Pacat!" Barlian ikut Cumiik melihat hewan kecil yang menempeli di kulit Yusuf.

( Pacat : sejenis lintah )

Tubuh hewan licin itu tampak menggeliat menyedot darah Yusuf.

"Jangan ditarik, Kak! Tunggu sebentar!"

Barlian segera merogoh segumpal tembakau dari saku roknya. Setiap ke kebun benda itu selalu dia bawa. Antisipasi jika bertemu hewan pacat seperti sekarang.

"Untung saja tadi tembakau Datuk kubawa," gumamnya sembari membasahi segumpal tembakau dengan air, lalu diperas di atas tubuh pacat yang tengah asik menyedot darah.

Yusuf tidak begitu peduli pada pacat di lengannya. Tapi, lebih tertarik mengamati gerak-gerik Barlian.

Ada satu hati yang tengah tertawan.

Ada sebuah hasrat kuat ingin memiliki.

"Kau sudah punya pacar, Barlian?" lirihnya.

"Humh? A-apah?" Barlian masih fokus pada pacat yang tubuhnya sedang menggulung melepaskan gigitan pada kulit Yusuf. Dia tak mendengar jelas apa yang ditanyakan oleh Yusuf tadi.

Barlian menyukai momen saat pacat menggeliat menyerah pada racun tembakau. Begitu dendamnya pada makhluk kecil itu. Pengalaman Barlian pernah dikeroyok sekawanan pacat saat mandi di telaga membuatnya tak pernah lupa membawa tembakau setiap ke kebun.

"Rasain kau!" ujar Barlian geram pada pacat yang kemudian mati lalu menggelinding jatuh ke tanah. Sedang Yusuf tersenyum memperhatikan gadis itu.

****

Flash Back

Di tengah malam yang dingin. Sebuah ritual sedang berlangsung. Seorang perempuan muda tampak duduk bersimpuh di depan lelaki tua berjubah hitam.

Air dari centong batok kelapa diguyurkan di atas kepalanya berkali-kali. Tubuh tertutup selembar kain jarik itu kini sudah basah kuyup.

Kemenyan yang dipasang di sudut-sudut tempat pemandian mengepulkan asap ke udara. Aura magis begitu kental melingkupi sekitarnya.

Mulut Ki Rondo kembali komat-kamit membaca mantera dengan bahasa Jawa. Kadang terdengar seperti sebuah tembang. Dukun sakti itu sangat khusuk. Tangan kirinya sambil mengaduk-aduk air dalam tempayan bertabur kelopak bunga tujuh rupa.

BYURRR ....

Air rendaman kelopak bunga di guyurkan lagi beberapa kali di atas kepala perempuan di depannya. Kelopak bunga ikut berjatuhan bersama air. Tubuh itu terlihat bergidik menahan dingin. Kedua telapak tangannya bergantian mengusap wajah yang basah.

Bulan sedang purnama di atas langit malam. Menerangi tempat kediaman Ki Rondo yang berada di tempat sepi dan terpencil. Tempat yang sengaja dipilih untuk menjalankan praktek perdukunan.

Buk Darmi, wanita tua bertubuh kurus dengan telaten mempersiapkan segala sesuatunya di dalam bilik khusus. Prosesi ritual masih panjang. Akan berlangsung hingga pagi menjelang.

Berbagai sarat sesajen ditata rapi oleh Buk Darmi di tengah billik. Mulai dari kemenyan bakar, kopi pahit dan manis, ayam cemani bakar, telur, juga tetek bengek lainnya. Tak lupa sebuah mangkuk tembikar berisi air rendaman kelopak bunga tujuh rupa.

Jangan sampai ada syarat yang terlupa!

Telunjuk Buk Darmi menunjuk-nunjuk benda yang sudah disiapkannya dalam bilik itu. Kemudian mengembuskan napas lega, setelah dirasa semua syarat sudah lengkap.

Dari bilik, Buk Darmi kemudian melangkah kembali mendekati Ki Rondo dan kliennya di luar. Tampaknya ritual mandi kembang tengah malam sudah selesai. Buk Darmi dengan cekatan membawakan kain jarik untuk perempuan itu. Membantunya mengganti kain basah dengan yang kering.

"Di dalam sudah siap semua, Buk?" tanya Ki Rondo pada isterinya itu.

"Geh Pak, sudah semua," sahut Bu Darmi mengangguk pelan.

"Kalau begitu bawa dia masuk!" titah Ki Rondo.

Buk Darmi kembali mengangguk. Perempuan muda tadi lalu dibimbing memasuki bilik khusus tempat ritual selanjutnya. Pintu bilik bambu kemudian ditutup rapat dari dalam oleh Ki Rondo. Tentunya setelah Buk Darmi Keluar dari situ.

"Kamu sudah siap?" tanya Ki Rondo pada kliennya.

"Siap, Ki," sahutnya dengan kepala tertunduk dalam.

Jubah hitam yang tadi menutupi tubuh tua Ki Rondo luruh ke atas lantai. Si perempuan pun melepaskan kain jarik penutup tubuhnya. Prosesi memasang susuk pembuka aura kecantikan akan dimulai.

Benang-benang emas sudah siap dalam genggaman Ki Rondo. Siap ditanam pada titik-titik kewanitaan kliennya. Dukun bejat dan perempuan edan itu kini sama-sama dalam keadaan polos. Tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh keduanya.

Bukan cuma sekali ini Ki Rondo melayani permintaan kliennya untuk memasang susuk pada area kewanitaan. Sudah tak terhitung entah berapa.

Klien malam ini bernama Laila Ulfah. Ambisinya untuk merebut cinta seorang lelaki beristeri sudah tak lagi terbendung. Jalan pintas pun dipilih. Walau harus melakukan hal menjijikan bersama si dukun cabul. Laila harus bersedia berhubungan badan dengan Ki Rondo sambil susuk-susuk dipasang.

Ki Rondo memang sudah gila. Dia berbuat cabul pada semua pasien perempuan yang datang, tanpa sepengetahuan Buk Darmi sang isteri setia.

Ah, inilah nikmat menjadi dukun pemasang susuk, akunya dalam hati.

Ki Rondo bisa leluasa mencicipi perempuan cantik, meski berstatus isteri orang sekalipun. Lelaki gaek itu sudah dibutakan nafsu setan. Lupa umur, lupa kuburan.

Bilik bambunya menjadi saksi bisu saat Ki Rondo memanfaatkan tubuh-tubuh molek perempuan serakah macam Laila.

****

Flash off

Isak tangis memilukan terbawa oleh angin. Ki Rondo yang masih duduk di depan pedupaan mendongak menajamkan telinga.

"Huuuuhuhuhu ... Ki Rondo ... Ki Rondo .... Tolong saya, Ki?"

Mata batin dukun sakti itu segera tanggap pada situasi. Segera dipejamkan mata sambil mulutnya menggumamkan mantera.

"Laila?" Mata tua itu melotot kaget.

"Ki ... huhuhu ... aku mati dibunuh, Ki. Aku mau membalas dendaaaam ...."

Sosok Laila kemudian menampakkan diri di depan Ki Rondo, dengan perut buncit yang berlumuran darah. Susuk-susuk yang tertanam di dalam tubuhnya menyebabkan roh Laila gentayangan.

Laila Ulfah jadi arwah penasaran.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pintokowindardi dan 14 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di