CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerpen Antimainstream (Humor, Receh, Ngeselin, dan Horor)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6045c13192e66440a44bd83e/kumpulan-cerpen-antimainstream-humor-receh-ngeselin-dan-horor

Kumpulan Cerpen Antimainstream (Humor, Receh, Ngeselin, dan Horor)

Kumpulan Cerpen Antimainstream (Humor, Receh, Ngeselin, dan Horor)

1# Judul: Sesal

Isi:



Selama ini, Dora the Pekok tidak menyangka akan berjodoh dengan Kepin Anggora, sebab mereka terlahir sebagai makhluk yang berbeda. Akan tetapi, cinta memang tak memandang fisik. Dora the Pekok yang terlahir dalam bentuk *mbulet dan rada songong itu memang sempat membuat seorang Kepin Anggora menjadi pembenci tingkat fanatismenya. Namun, siapa yang tahu nasib hidup seseorang?

Kepin merasa tidak keberatan telah mendapat jodoh seperti Dora, mau bagaimanapun, jodoh ada di tangan Tuhan dan tidak untuk disesali. Apalagi, istrinya tengah hamil dan hampir melahirkan. Hanya saja, entah kenapa ada perasaan aneh yang mengganjal di hati.

***


Suatu hari yang cerah ...

"Abwang, di mana Abwang melihat jilbab biru Adek yang cantik manis cak ulat bulumu ini? Mau nanya sama Sarimin, dia malah pergi ke pasar. Abwang tau, nggak, di mana?" Dora the Pekok menghampiri sang suami yang tengah mengenakan peci hitam di depan cermin.

"Mana gue tau, kenapa lu nggak tanya aja sama si peta?" Tenang, itu adalah bahasa sayang ala Kepin.

"Oh, iya, ya. Kalau begitu, katakan peta, katakan peta!"

Inginnya tidak mengikuti perkataan Dora, tapi apalah daya, saat ini Dora tengah mengandung sesemakhluk yang entah seperti apa bentukannya nanti. Mau tidak mau, Kepin manut, meski sudah tau ujungnya tidak mengenakkan.

"Peta," kata Kepin dengan muka pasrah.

"Lebih keras!"

"Peta!"

"Lebih keras!"

"PETA!"

"Lebih keras!"

"PEKOK!" Kepin segera menghilangkan diri menggunakan kekuatan Kagebunshin nojutsu, tetapi gagal, sebab dia bukan keturunan Hokage. Akhirnya, Kepin memilih memacu langkah ke luar kamar.

"Abwang mau ke mana?" tanya Dora dengan mata mengikuti arah sang suami.

Kepin menghela napas, menghentikan langkahnya, lantas menoleh pada Dora. "Mau nyari kantong ajaib doraemon, lalu bantu kera sakti nyari kitab suci, lalu nemenin naruto ngalahin madara biar dia jadi hokage."

Dora melongo, mengerjap berulang kali karena kecepatan bicara Kepin terhitung sepuluh kata per detik. Melihat ekspresi tidak mengenakkan Dora, Kepin segera berkata, "Mau ke kondanganlah!"

"Eh, tunggu Adek, Bwang! Si Peta mana, sih? Jilbab biru akoh belum ketemu!" seru Dora panik sembari mengobrak-abrik isi lemari. Detik berikutnya, Dora tercenung, lalu menepuk jidat. "Peta, kan, udah pensiun!"

***


Sampai di tempat kondangan, Dora dan Kepin duduk lesehan di antara para tamu. Namun, belum lama duduk, Dora mengajak Kepin pindah tempat. Mau tidak mau laki-laki setengah waras itu manut.

"Duduk di sini, ya, Bwang, jangan ke mana-mana," kata Dora setelah menuntun Kepin duduk di depan penghulu juga di samping seorang perempuan dengan kebaya putih.

"Ngapain suruh gue duduk di sini? Lu mau ke mana ninggalin gue?" heran Kepin gelagapan ketika penghulu mengulurkan tangannya.

"Mau nikahlah, Yang, emang mau ngapain lagi?" celetuk perempuan di samping Kepin yang ternyata adalah Hingata.

"Ngapain gue yang nikah? Bukannya lu nikahnya sama Narsuto? Gue udah punya istri kali!" sergah Kepin semakin tidak mengerti situasi.

"Lu udah cerai sama Dora, Pin."

Terdengar suara bariton dari arah belakang, membuat Kepin memutar tubuh. Seketika Kepin membeliak kaget, dia adalah Narsuto. "Cerai? Kapan gue cerai sama Dora? Gue nggak pernah nyerain ataupun dimintain cerai sama Dora, Nar. Sama sekali nggak pernah!" katanya menggebu-gebu, tidak terima atas pernyataan Narsuto.

Narsuto masih tetap tenang. "Dahulu kala, waktu lu sama Dora masih cumiwi-an—"

"Cumiwi itu apaan?" tanya Kepin heran.

"Cuami istrwi," jawab Narsuto, membuat Kepin menahan tawa. "Dahulu kala, waktu lu sama Dora masih cumiwi-an, lu selingkuh sama Hingata, istri gue waktu itu. Lu bikin Hingata bunting, dan akhirnya Dora minta diceraiin. Tanpa sedikit pun ngerasa bersalah, lu langsung nerima, lantas nyeraiin Dora. Tapi sebelum rencana lu nikah sama Hingata terealisasi, lu kecelakaan dan kena kutukan.

"Dari kecelakaan itu, bikin lu lupa ingatan dan kutukan itu bikin lu jatuh cinta sama Dora, itu balasan atas perbuatan lu yang sering nyakitin dia.

"Bukan cuma jatuh cinta, tapi waktu Dora udah jadi istri sah gue tanpa sepengetahuan lu, lu malah nganggep dia masih jadi istri sah lu. Beruntungnya gue punya istri baik hati kayak Dora," kata Narsuto menatap perempuan di sampingnya penuh cinta, lantas melanjutkan cerita, "dia malah minta izin buat ngerawat lu di saat gue dapet hadiah ultah dari dia berupa kehamilan. Hiks." Tak terasa, air mata berjatuhan di pipi Narsuto, diusapnya dengan penuh kasih oleh Dora.

"Ng—nggak mungkin!" tukas Kepin tidak percaya.

"Kalo lu nggak percaya, tanya aja sama nenek lu. Semua orang di sini juga tau, kalo gue suami sahnya Dora, dan lu cuma masa lalu kelam bagi Dora!" timpal Narsuto tidak mau kalah.

"Iya, Pin, pan gue udah sering ngasi tau lu, kalo hubungan lu sama Dora itu sebatas kutukan, bukan kenyataan! Lu-nya aja yang suka lupa!" Seorang nenek-nenek beruban dan berkebaya hitam berkata demikian di dekat Kepin, cucu tercinta.

Seketika Kepin melemah. Pikirannya mulai melayang pada ingatan tentang kebersamaannya dengan Dora. Ketika Dora tersenyum, tertawa, songong, dan berujung membuatnya kesal. Lalu ... ketika Dora selalu minta izin ke rumah emak setiap malam Jumat. Ternyata ....

Kepin menangis kejang, lalu berteriak, "Bunuh aja gue, bunuh ...!"

Jder!

Kepin disambar petir, Tuhan mengiyakan permintaannya. Dora berhambur menuju Kepin, mengangkat kepala laki-laki itu, menjadikan pahanya sebagai bantal.

"Bwang, bangun, Bwang, jangan tinggalin Adek, ini cuma prank dari Dora, bangun, Bwang! Soalnya hari ini, hari ulang tahun pernikahan kita dan Dora berniat mau ngasi kejutan. Huwa ...!"

Tumit.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kyunichan

2# Judul: Cermin akhlak

Kumpulan Cerpen Antimainstream (Humor, Receh, Ngeselin, dan Horor)

Arung dan Dande keheranan atas perubahan perilaku temannya, Marga. Sebab akhir-akhir ini, Marga tidak seperti dulu lagi yang sering kali berkoar-koar mencemooh orang lain. Hari ini, keheranan mereka akhirnya terjawab, tetapi keduanya masih tidak percaya atas apa yang diceritakan Marga. Bahkan, bahasa yang sebelumnya lo-gue, berubah menjadi aku-kamu.

"Almarhumah Nenek aku bilang, kalo cermin ini bisa ngerubah akhlak orang yang make. Sekarang, cermin ini diturunin ke aku sebelum Nenek meninggal," kata Marga melanjutkan kilas pengisahannya tentang cermin antik yang berada di tangan.

"Masa cermin bisa ngerubah akhlak? Ngaco lo, Mar," timpal Dande bersama gelengan kepala berulang kali.

"Mau percaya atau enggak, yang penting aku sudah jujur dan kasih tau bocorannya."

"Emang, kerjanya gimana?" tanya Arung tampak penasaran.

"Kamu tinggal bercermin, terus baca mantra, nanti wajah kamu bakalan berubah sesuai akhlak yang kamu punya." Marga mengangkat buku lusuh berwarna cokelat di sampingnya. "Nah, di buku ini, nanti akan ada penjelasan tentang sifat dari gambar yang tampak di cermin, kalau buruk, bakal disertai cara-cara menghilangkan keburukan itu," jawab Marga tanpa sedikit pun terdengar nada-nada kebohongan.

"Terus waktu lo bercermin, yang keluar gambar apa?" Kali ini Dande mengambil alih, mulai penasaran.

Sejenak Marga terdiam, sebelum akhirnya berkata dengan lirih, "Guk guk."

"Pfft." Seketika tawa Dande menyembur keras, sampai-sampai ia berguling-guling di ranjang Marga.

"Lo serius?" tanya Arung di sela tawa Dande yang tak kunjung reda.

"Kamu mau nyoba?" Marga mengulurkan cermin di tangannya pada Arung.

Arung terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengambil alih cermin bergagang itu. Dipatutnya benda tersebut di depan wajah, menantulkan pahatan durja yang masih sama, tampan. "Mantranya gimana?"

"Alhamdulillahi kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii. Segala puji bagi Allah, baguskanlah budi pekertiku sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa wajahku."

"Itu bukannya doa bercermin?" tanya Dande yang sudah menghentikan kegiatan terbahak-bahaknya.

"Memangnya kalau kamu bercermin, baca apa?" Marga balik bertanya dengan nada sedikit kesal pada Dande.

"Baca doa bercermin, lah."

Marga membalas, "Itu kamu tau." Kemudian, mengalihkan fokus pada Arung. "Kamu baca, gih, mantranya."

"Lo baca, gue ikutin."

Lirihan Arung membuat Dande kembali tergelak, berguling-guling ke sana kemari. "Arung, Arung, makanya jangan cuma hapalin nama cewek!"

Marga dan Arung tidak menghiraukan kesengklekan Dande. Lebih memilih melakukan kegiatan mereka. Marga mulai membaca sepenggal demi sepenggal doa bercermin, lantas diikuti oleh Arung.

Tiga detik setelah membaca doa, perlahan wajah Arung berubah bentuk dengan warna yang sebelumnya putih, mulai mengabu. Setelah berubah utuh, bibir Arung terbuka lebar dengan mata membeliak.

"Aa ...!"

"Kenapa, Rung? Wajah kamu berubah jadi apa?" tanya Marga penasaran.

Teriakan Arung membuat Dande yang sudah bergelung dengan lantai, menghentikan tawa dan aksi guling-gulingnya. Memandangi laki-laki berwajah merah padam itu dengan plongoan. "Kenapa, Rung?"

"Wajah gue ... buaya."

Lagi, untuk ke sekian kalinya Dande tertawa kencang, bahkan kali ini disertai kayang serta guling lenting.

***


Marga—anjing, si pintar yang sering kali tak bisa menjaga lisan, menghina sesuka hati. Arung—buaya darat, si pendiam yang gemar mengoleksi gebetan, serta Dande—kera alias monyet, si alim yang jumawa dan suka meremehkan orang lain.

Ternyata, cermin akhlak milik Marga benar-benar mustajab mengubah sifat buruk menjadi sebaliknya. Arung dan Dande terdorong untuk berubah atas dalil-dalil yang tercantum dalam buku, ialah tentang dampak dari keburukan yang mereka lakoni.

Kini, ketiga laki-laki itu tidak lagi melakukan perbuatan keji. Cermin yang hanya satu di dunia itu, akhirnya dijadikan media hijrah dengan cara mendirikan platform tanpa berbayar untuk semua kalangan.

Ya, benar kata Wali, hidup indah bila mencari berkah.

Tamat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
islamisdevi dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kyunichan

3# Judul: Pelakor Sinting



Sub-judul: Tips ampuh mengusir pelakor
Oleh: Ky

"Aku mantannya Kak Dimas, loh, Ai."

Berusaha menebalkan telinga, rasanya aku terbakar api cemburu, tetapi berlagak tenang. 'Mantan itu cuma masa lalu, jadi nggak usah baper, yang ada kamu makin darah tinggi, kan berabe urusan.'

"Dulu, waktu di bangku SMA, Kak Dimas nembak aku."

Aku tidak menghiraukan setiap kicauannya. Toh, kalau aku respon, yang ada setan tertawa, padahal tidak lucu. Aku lebih memilih menyuapi si kecil yang berumur dua tahun setengah sambil sesekali mengajaknya berbicara.

"Asal kamu tau, Ai, dulu waktu pacaran, Kak Dimas sangat bahagia bersamaku. Kami selalu malming di luar rumah, kayak ke Monas, Alun-alun, taman kota, masih banyak lagi.

Semula, sih, mau nikah sama Kak Dimas, tapi, ya, Mamah sama Papah nyuruh aku lanjut kuliah. Karena aku anak yang terbilang berbakti pada kedua orang tua, jadi aku batalin nikah, dan memilih buat lanjut kuliah."

Aku menarik napas, lalu menghelanya pelan, kembali menyuapi Nadin.

"Eh, Ai, kamu denger aku ngomong, nggak, sih? Helloow?"

Aku mengalihkan pandangan pada Juminten, kemudian mengulas senyum. "Mbak tau, nggak?" tanyaku dengan nada yang menahan emosi. Juminten mengernyit. Lalu, aku melanjutkan, "Mas Dimas pernah cerita tentang Mbak ke aku."

Kali ini, aku melihat binar ceria di mata Juminten, tapi tunggu dulu, aku belum menuturkan inti ceritanya.

"Kata Mas Dimas, sekarang Mbak itu seperti perempuan murahan, datang ke rumah laki-laki yang sudah beristri, ditambah memakai pakaian yang kurang sopan, kurang lebih Mas Dimas bilang gini; 'Juminten macam perempuan murahan saja, setiap hari datang kayak kuntilanak, nggak tau kalau ada suami-istri yang butuh waktu berduaan.' begitu, Mbak katanya."

Namun, raut Juminten berubah drastis. Bisa kutebak, sekarang dia tengah menahan amarah, tetapi tidak berani diekspresikan langsung.

"Mbak nggak pernah denger? Tetangga sebelah selalu ngomongi Mbak, bahkan Mbak Jumi terkenal, loh sampai kampung sebelah."

"Jangan mengibuliku, ya Ai. Aku tau kamu bohong karena tidak mau suamimu jatuh ke pelukanku. Padahal sudah jelas Kak Dimas masih memendam perasaan padaku."

Aku berusaha bersikap tenang dan mengulas senyum. "Dengar, ya, Mbak Jumi, Mbak jauh lebih pembohong. Percuma sekolah tinggi-tinggi, tapi sukanya laki orang. Jujur, ya, Mbak, selera Mbak terlalu rendahan, suami saya hanya seorang obe."

"Kamu pikir aku mata duitan?"

"Yaa, bukan begitu. Asal tau aja, nih, Mbak, Mas Dimas sudah berjanji untuk tidak menceraikan saya dengan taruhan nyawanya dan Ibu mertua, jadi kalau mau nikah sama Mas Dimas, harus rela jadi yang kedua.

Mbak harus tau satu hal, Mas Dimas itu pernah kena guna-guna, bikin dia pipis sama e'eq di kasur kalo tidur malem. Makanya tiap hari saya nyuci sprei, bahkan sampai sekarang, loh, Mbak.

Lain lagi sama Ibu, tiap malem suka tidur sambil jalan. Pernah waktu itu, piring dipecahin, kompor dinyalain, sampe saya pun dibanting. Aduh, masih kerasa encok di pinggang saya. Yah, memang sudah nasib, Mbak. Apa mau dikata." Aku menggeleng-geleng setelah puas berdongeng.

Juminten bergidik ngeri, sepertinya percaya dengan dongeng alias cerita asal-asalan yang kututurkan. Nah, kan, kena juga.

"Jujur, Mbak, saya aja lelah, tapi sebagai istri dan menantu yang berbakti kepada suami serta mertua, saya mencoba tabah dan juga sabar.

"Yaa, walaupun akhir-akhir ini kepala saya selalu pusing memikirkan hutang Mas Dimas dan Ibu yang masih menggunung. Rasanya mau pecah otak saya.

Gimana enggak, coba, Mbak, utang Mas Dimas ada lima puluh juta di Bank. Itu untuk berobat di rumah sakit waktu dia kena penyakit rubela, ditambah utang Ibu yang senilai tiga puluh lima juta untuk penyembuhan psikis karena pernah gila selama dua tahun. Berat, Mbak, jadi saya." Aku kembali menggeleng-gelengkan kepala seraya membuat raut ingin menangis, padahal pengin ketawa.

Kulihat wanita itu beringsut ke arah pintu, rupanya dia termakan oleh dongeng yang kuceritakan. Ha ha, rasakan!

"Mau ke mana, Mbak? Nggak jadi istri keduanya Mas Dimas? Kan bisa sekalian bayarin utang Mas Dimas sama ibu!" teriakku ketika Juminten lari kalang kabut setelah berhasil keluar dari pintu.

"Ogah!"

Ha ha, rasakan! Katanya cinta, mau bayar utang dengan uang saja sudah lari ketakutan, bagaimana diminta membayar dengan nyawa? Dasar pelakor sinting!

***


Hari ini terik matahari begitu menyengat, panas di tubuh, ditambah dengan panas di dada. Apalagi setelah mendengar penuturan dari perempuan berjilbab lebar yang kini memasang senyum menyebalkan. Andaikan bukan sesama pemakai jilbab dan sama-sama ber-anak, mungkin tanganku sudah mencabik-cabik wajahnya sampai koyak. Biar tidak berani lagi datang ke rumah.

Asal kalian tahu, dia datang jauh-jauh bersama dua anaknya dari kampung sebelah ke rumah hanya untuk mengacaukan rumah tanggaku dengan Mas Dimas. Bagaimana aku tidak marah? Dia yang bertutur bernama Surinem, seenaknya mengaku sebagai calon istri lakiku. Astagfirullah! Musti nyebut istigfar seribu kali ini, mah.

"Mbak," panggilnya lembut, kulihat senyumnya kian mengembang. "Tidak apa, kan ana jadi madu, Mbak?"

Bah!

'Pulang nanti, kusunat kau, Mas.' Batinku geram sendiri. Berusaha menetralkan panas di dada, jangan sampai Nadin yang duduk manja di pangkuanku menjadi objek pelampiasan.

"Ana tidak manja, kok, Mbak. Anak-anak ana juga tidak rewel," tutur Sarinem pelan tanpa menaikkan volume suaranya. Tetap saja tidak membuatku luluh sedikit pun. Memangnya istri mana yang mau dimadu? Pasti ada perasaan cemburu dan tidak rela.

Berhasil mengusir Juminten ke luar negeri, kenapa malah datang manusia jadi-jadian lagi dari luar negeri? Salah apa aku, Mas?!

Tumit.


***
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
Tcakep
profile-picture
kyunichan memberi reputasi

4# Judul: Perasan Jeruk Nipis Berujung Petaka

Atma, Arman, Nino, dan Joni—disingkat Mama Noni—adalah empat sekawan yang memiliki hobi menelusuri jejak-jejak misterius. Sudah pasti kegiatan mingguan mereka itu dilakukan di malam hari, tepatnya malam Jumat yang kebanyakan orang percaya, jika di malam itu, adalah malam yang paling menyeramkan, tetapi tidak bagi mereka, si empat sekawan.

Suara ketukan pintu membuat Atma yang tengah berselonjor di ranjang sembari membaca buku berisi hal-hal mistis, segera membalikkan badan, menoleh ke arah pintu. "Buka aja, nggak dikonci," katanya pada sosok di balik pintu.

Namun, tidak ada jawaban, tidak juga ada pergerakan pada knop pintu. Mungkin, itu adalah ibunya yang tiba-tiba kebelet pipis, lalu pergi ke kamar mandi, pikir Atma. Lantas membuatnya kembali menggeluti aktivitas. Berselang beberapa detik, pintu kembali terdengar diketuk beberapa kali.

"Siapa?" tanya Atma bernada setengah lantang. Tidak ada jawaban, membuat laki-laki itu turun dari ranjang. Pasti ini ulah salah satu temannya, demikian estimasi yang timbul pada benak Atma.

Sampai di tempat tujuan, Atma memainkan knop, pintu pun terbuka, dan ... "CILUK BWA! KENA LO!" Ternyata, dia adalah Nino, laki-laki yang tingkat kejailannya setara dengan kuntilanak kurang belaian.

Atma memasang wajah datar, sama sekali tidak terkejut dengan kelakuan laknat temannya. Ia kembali menuju tempat ternyaman, ranjang, melanjutkan sesi membaca buku. Hal itu menimbulkan kernyitan pada Nino, tetapi akhirnya mengikuti arah langkah Atma, lalu mengambil tempat duduk di sofa samping ranjang.

"Mat, gue ada bawa berita duka dari kampung sebelah," cerita Nino sembari mengambil gawai dari kantong celananya. Atma diam, tanda bahwa ia mendengarkan dan meminta kelanjutan. Nino pun kembali bersuara, "liat, deh, kematiannya tragis banget, asli." Laki-laki itu menyerahkan gawai canggihnya pada Atma.

Dengan mata setajam siletnya, Atma memperhatikan gambar yang terpampang di layar gawai dengan saksama. Seorang laki-laki dengan wajah penyok berlumuran darah terkapar di aspal.

"Dia habis balap liar di jalan A, kemarin malem tepatnya. Waktu tancap gas, dia disrepet pembalap lain, hingga dia kehilangan keseimbangan, akhirnya jatuh dan terpelanting cukup jauh sama motornya," kata Nino menceritakan kejadian tragis itu.

Mengembalikan gawai Nino, Atma merubah posisi menjadi duduk bersila. Menyilangkan kedua tangan di depan dada, ia pun berkata, "Malam ini adalah jadwal kegiatan kita, dan gue ada ide." Matanya menyipit, sebuah senyum smirk menghiasi wajah tampan laki-laki itu. "Jeruk nipis," lanjutnya.

Dahi Nino mengeriting, teramat bingung dengan dua kata yang diucapkan temannya. "Jeruk nipis?"

***

Tepat pada pukul 00.15 dini hari, sebuah sedan hitam melaju membelah jalan. Empat sekawan duduk bersandar di bangku masing-masing dengan sabuk pengaman yang terpasang. Atma tampak fokus mengemudi, sedang Nino berada di sebelahnya, laki-laki itu tengah sibuk merekam jalanan sepi nan temaram menggunakan kamera khusus. Pepohonan rimbun menguasai sisi jalan, deru mesin kendaraan beradu dengan gesekan ban pada aspal. Sementara, dua laki-laki lain berada di jok belakang—Joni dan Arman—sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Oke, guys, sebentar lagi kita bakalan sampai di lokasi tujuan kita. Ini suasana mistisnya udah terasa banget, sepi, dingin, kayak sikap dia ke gue. Etdah," celoteh Nino tidak jelas. Kamera ia alihkan pada Atma. "Sementara, kapten kita lagi nyetir, guys, tampangnya itu nggak sabar banget kayaknya buat berhadapan sama roh-roh gaib."

Atma diam seribu bahasa, tidak sedikit pun menanggapi lelucon Nino. Sampai di detik ketiga setelah laki-laki di samping selesai bertingkah, Atma segera menekan pedal rem sekuat tenaga, membuat para penumpang limbung ke depan. Paling apes adalah Nino, kepalanya terbentur ke dashboard mobil.

"Ya, Allah, Ya, Tuhan kami! Eh, Mamat, kepala gue kejedot, lo ngapain ngerem-ngerem mendadak? Kasi kode dulu, napa?" omel Nino sembari mengusap dahinya yang terasa benjol.

Pandangan Atma lurus ke depan, menyipit tajam. "Ada orang di depan," katanya lirih.

Sontak, Joni dan Arman memajukan tubuh mereka. Nino pun tidak tinggal diam, menekan tombol zoom pada kamera. Pada jarak sekitar 25 meter, beberapa orang laki-laki tampak berdiri dan duduk, ada yang memegang kamera, ada pula memegang pencahayaan. Seorang tampak menabur sesuatu pada aspal sembari berjalan mengitar, dan dua orang sisanya duduk bertinggung dengan sebelah tangan macam memeras sesuatu.

"Kita keduluan," kata Atma setelah sekian lama bungkam. Semua orang menatapnya heran. "Mereka ngelakuin apa yang mau kita lakuin."

"Lo serius?" tanya Arman tampak tidak percaya.

"Eum," jawab Atma seraya mengangguk, "dan kayaknya kita harus tetap di sini sampai mereka pergi."

"Ah ... nggak seru banget jadinya, guys, masa kita musti nungguin mereka selesai? Keburu pagi," keluh Nino.

"Lampu depan udah lo matiin?" tanya Joni yang sejak tadi tidak pernah bersuara, diangguki oleh Atma.

"Untuk sementara, kita perhatiin gerak-gerik mereka. Ini kesempatan kita buat mengetahui risiko yang didapat dari eksperimen itu," jelas Atma pada ketiga temannya.

Akhirnya, mereka memilih diam di tempat, mengamati kelima laki-laki di depan sana yang masih menjalankan eksperimen 'memeras jeruk nipis pada bekas darah korban kecelakaan'. Tidak berselang lama, sebuah teriakan aneh pun menyita perhatian keempat pemuda itu.

"Ada yang denger, nggak?" tanya Atma, ketiganya mengangguk. "Bisa jadi itu suara yang timbul karena perasan jeruk nipis tadi," lanjutnya bercerita.

"Aneh juga, ya, kenapa bisa gitu?" heran Nino memasang wajah terperengah.

"Konon, teriakan itu berasal dari pemilik darah korban kecelakaan, karena merasakan sakit ketika jeruk nipis bersentuhan dengan bekas darahnya," jelas Atma terdengar begitu meyakinkan, hingga timbul anggukan berulang kali pada Nino.

"Ada yang jatuh!" seru Arman, dan kejadian itu terekam jelas oleh kamera digital Nino.

"Itu yang nabur bunga," lanjut Arman.

"Dia keseret, guys!" Nino tidak kalah histeris.

Laki-laki penabur bunga itu tampak kewalahan untuk kembali berdiri, sebab kakinya seperti dipegangi kuat oleh sesuatu. Sementara, satu orang pemeras jeruk nipis mulai kehilangan kesadaran, tampaknya kerasukan makhluk astral. Laki-laki tanpa kegiatan apa pun segera bertindak, memegangi kedua tangan temannya yang kerasukan.

"AAA ...!"

Suasana semakin menegang tatkala suara teriakan kembali terdengar, persis seperti suara laki-laki, tetapi sangat jelas jika bukan kelima laki-laki itu asalnya.

"Gila, guys, gue merinding," curhat Nino seraya mengusap sebelah lengannya yang terbuka.

Bertambah lagi laki-laki yang kesurupan. Kali ini si pemegang kamera, ia mulai menerjang si penabur bunga, tetapi berhasil dielak.
Atma menurunkan kaca jendela, maka suara mereka kian terdengar jelas. Suasana tampak tidak terkendali, si pemegang pencahayaan terus menghindar ketika temannya yang kerasukan menggila hendak menerjangnya.

"Siapa yang suruh kalian melakukan perbuatan laknat ini, ha?!" teriak salah satu dari laki-laki yang kerasukan. "Ini tempat tinggal kami, jangan coba-coba menginjakkan kaki di sini jika niat kalian tidak baik!"

"Suara-suara tadi masuk kamera, nggak?" tanya Atma pada Nino.

"Kayaknya masuk, Ma," jawab Nino, kini dengan raut yang lebih serius daru sebelumnya.

"Guys, guys, mereka main fisik!" seru Joni.

Seketika ketiga laki-laki itu terperengah tatkala mendapati salah objek yang kerasukan mulai bermain fisik, sedang si penabur bunga malah melakukan aksi perlawanan. Terjadilah perkelahian.

"Kayaknya nggak ada yang bisa ngeluarin jin dari tubuh teman mereka," komentar Arman, diangguki oleh Atma, ia kembali berujar, "bener-bener modal nekat."

"Apa nggak sebaiknya kita keluar bantuin mereka?" usul Joni dengan tampang was-was, sepertinya cemas terhadap kejadian di depan sana.

"Tunggu sampai mereka bener-bener nggak bisa ngeluarin jin dari tubuh teman mereka," timpal Atma, maka tidak ada yang bisa mengelak.

"Woi, ada yang ngeluarin senjata tajam!" seru Nino tatkala mendapati sosok si penabur bunga mengeluarkan sebilah pisau berukuran sedang dari dalam jaket dan hendak melukai temannya yang kerasukan.

"Gila, ini udah nggak bisa ditolerir, keluar aja bantuin mereka, Ma!"

Mau tidak mau mereka keluar, berlari ke arah kejadian. "Woi, berhenti!"

***

Laki-laki itu tampak menunduk. Duduk berjejer di sebuah kursi panjang berbahan besi khas rumah sakit. Ya, mereka berada di rumah sakit. Bercak darah tampak kentara di kaos putih Nino, di tangannya pun sama.

Kejadian waktu lalu menjadi pelajaran berharga, sangat berharga. Salah satu teman mereka harus mendapat perawatan intensif karena luka tusuk di bagian perut. Atma Suraja, korban dari perbuatan si penabur bunga. Itu terjadi ketika si penabur bunga yang kata Arman kerasukan, hendak melukai temannya yang ternyata sudah sadar.

Lebih jelasnya, jin yang merasuki si pemeras jeruk, berpindah pada si penabur bunga ketika mereka baku hantam. Alhasil, jin memanfaatkan senjata yang ada pada si penabur bunga untuk melukai teman laki-laki itu sendiri karena terlampau marah atas ulah mereka.

"Gue nggak akan ngelakuin hal gila ini lagi," lirih Nino kian menunduk, menumpukan kedua sikunya pada lutut, menangis tersedu.

Arman menepuk pundak temannya, mencoba menguatkan. "Ini emang udah risiko kita, dan sepatutnya jadi pelajaran ke depannya. Gue emang udah berfirasat buruk sejak Atma ngasi tau gue tentang eksperimen itu."

"Kenapa lo pada nggak ngebiarin gue ngabisin tuh anak? Biar sekalian gue ringkus ke kantor polisi, atau nggak, gue bunuh sekalian!" tekan Nino bernada lirih, tetapi menyimpan kemarahan mendalam.

"Inget, No, inget, kontrol emosi lo. Itu kita lakuin juga karena pelaku dalam keadaan kerasukan dan tidak sadarkan diri, kita nggak bisa nyalahin siapa-siapa," nasihat Arman.

"Tapi sahabat kita jadi korban, Man! Gue nggak terima!" teriak Nino, menarik perhatian orang-orang.

"Wey, bro, lo jangan kayak anak kecil, kita di sini sama-sama nggak terima, tapi kita nggak punya hak buat menjarain mereka, karena secara nggak langsung kita juga terlibat dalam eksperimen itu, dan itu semua menyalahi aturan." Arman segera mendekap tubuh kurus Nino layaknya saudara. "Mereka juga udah minta maaf dan mau tanggung jawab, yang terpenting, sekarang kita doain supaya operasi Atma berjalan lancar dan kita semua harus tetap ada di samping dia."

Nino menangis sekeras mungkin, begitu terpukul atas kejadian yang menimpa Atma—laki-laki yang padahal sangat sering mengacuhkan keberadaannya. Namun, di balik keacuhan itu, tersemat rasa empati yang tinggi. Nino tahu itu. Sementara, Joni hanya bisa menangis dalam keterdiaman, merasa sangat bersalah telah mengajak Atma untuk keluar membantu mereka di waktu lalu.

"Dari dulu gue udah pengin berhenti, tapi nggak enak sama Atma, dan mulai hari ini, nggak ada yang namanya menelusuri jejak misterius, apalagi ngelakuin eksperimen yang malah bahayain nyawa," kata Arman, laki-laki anti cengeng itu rupanya menitikkan air mata.

"Gue juga nyesel udah ngasi tau Atma tentang kecelakaan itu, Man, gur nyesel," timpal Nino.

"Gue juga nyesel udah ngajakin Atma keluar bantuin anak-anak itu," sambung Joni.

Arman melepaskan rengkuhannya pada Nino, lalu memandangi kedua sahabatnya yang berada di samping kiri dan kanan. "Nggak ada yang perlu disesalin, sekarang kita cuma perlu belajar dari kesalahan, dan kesalahan itu bukan untuk diulang."

Nino dan Joni mengangguk mantap, mereka pun saling melempar senyum meski sulit, saling menguatkan satu sama lain. Ya, kesalahan memang tidak untuk diulangi, tetapi kesalahan difungsikan menyadarkan diri, agar tidak mengulangi lagi.

Tamat


Lombok, 2 Juni 2020

Quote:
Diubah oleh kyunichan
Keren😍😍


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di