CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6040477a4cc4fc32c675688b/sisa-bakwan-kemarin

Sisa Bakwan Kemarin

Sisa Bakwan Kemarin


Spoiler for Update Chapter:


Chapter 1


POV DEWI

---------------------------

"Sayang, ini bakwannya. Kamu sarapan dulu baru ngerjain rumah. Aku berangkat kerja, ya," pamit Mas Jono padaku yang tengah mengurusi bayi berumur tiga bulan.

Hidup jauh di kota orang membuatku harus mengerjakan segalanya sendiri. Alhamdulillah, gaji Mas Jono cukup untuk membayar kontrakan, makan, dan jajan kami bertiga. Masalah menabung, tidak perlu kuceritakan karena selalu habis kucongkel menggunakan gunting atau berang lainnya tiap kali token listrik menjerit.

"Kamu udah sarapan, Mas?" tanyaku sambil menggendong Yumna ke dapur yang berukuran 1 meter x 4 meter.

"Udah, tadi aku makan lontong aja. Aku berangkat. Jangan lupa istirahat. Nanti pulangnya mau nitip apa?" tanya Mas Jono tanpa menoleh padaku. Dia sibuk menggoda Yumna yang sudah bertepungkan bedak bayi yang harum.

"Aku nitip langkahmu selalu lancar untuk ke warung bakso Pakde Kumis," kataku sambil tersenyum malu.

"Insyaallah. Assalamu'alaikum!" pamitnya setelah mengecup dahiku dan juga Yumna.

"Wa'alaikumsalam." Aku mendadah padanya. Kututup pintu kontrakan yang baru kutinggali sebulan ini.

Ya, kami baru saja pindah. Mas Jono mendapat pekerjaan baru sebagai kurir. Beruntung di masa pandemi seperti ini, Mas Jono masih mendapat pekerjaan.

Kuletakkan Yumna di atas kasur. Aku segera mengambil kresek berisi makanan kesukaanku. Entah apa penyebab pertama aku bisa mencintai bakwan dari semua jenis gorengan yang ada.

Aku duduk dan meneguk teh manis sisa Mas Jono tadi. Lalu kuangkat satu bakwan yang kuambil secara acak. Warnanya sudah cokelat gelap, terlalu berminyak, dan keras.

Aku menghela napas panjang. Bukan pertama kalinya ini terjadi. Terhitung ini ke tujuh kalinya aku mendapatkan gorengan bakwan kemarin. Jelas aku tahu ini bukan bakwan baru.

Sebagai pecinta bakwan, tentulah bisa kubedakan dari tampilan, rasa, dan juga teksturnya. Kubelah bakwan yang berada di tanganku, benang lendir tipis itu terputus saat kupotong menjadi dua. Rasanya asam.

Kukeluarkan semua isinya, hanya kutemukan satu saja yang berwarna kuning keemasan. Hilang kembali selera makanku. Aku sudah mengingatkan Mas Jono untuk mengambil bakwannya sendiri setelah kuberitahu perbedaan yang baru dan lama.

Sambil menggendong Yumna, aku mendatangi warung Bu Sayem yang lumayan ramai. Kutarik Bu Sayem agak ke dalam warungnya. Kugeletakkan kresek berisi bakwan di meja kecil miliknya.

"Bu, kenapa setiap suami saya beli gorengan selalu dikasih gorengan yang kemarin?" tanyaku lembut dan pelan.

"Ah, gorengan kemarin gimana? Kamu jangan ngada-ngada, Mbak. Mungkin aja suamimu enggak beli di sini," kilahnya dengan suara yang bisa di dengar oleh pembeli yang lain.

Sejenak warung menjadi senyap, tak ada lagi suara bising para ibu-ibu yang sibuk bercerita sembari belanja sayuran.

"Ya, pasti di sini, Bu. 'Kan, ini satu-satunya warung di desa ini yang jual gorengan. Ini udah ke tujuh kalinya suami saya dikasih gorengan kemarin, loh." Aku masih menahan nada suaraku agar tetap tidak tinggi.

"Eh, Mbak. Kamu jangan ngada-ngada. Jatuhnya fitnah." Bu Sayem malah membentakku.

Mulai terdengar bisik-bisik.

Kukeluarkan isi kresek, dan kuminta Bu Sayem untuk menyicipnya. Dia menolak keras.

"Suami saya beli sepuluh ribu, lontong dua, dan sisanya bakwan. Saya cuma nemuin 1 yang bisa saya makan karena ini bakwan baru hari ini."

"Alah, wong perkara sepuluh ribu doang, kok, dibesar-besarin. Lain kali enggak usah belanja di sini. Nah, uangmu," omel Bu Sayem sambil menyodorkan uang sepuluh ribu padaku.

Kudorong uang itu. "Bukan masalah uang sepuluh ribu atau enggak, Bu. Ini masalah kejujuran. Jujur itu perlu walaupun hanya tentang sebuah bakwan, Bu," tandasku tetap menjaga nada suara agar tidak terkesan marah.

"Wah, pantes kemarin pas nyuruh anak saya beli ... dapet kayak gini juga. Kalo khilaf, sih, cuma satu dan sekali, Bu Sayem. Kalo sebanyak ini, mah, kalap," timpal seorang Ibu berambut panjang sambil mengangkat bakwan milikku tadi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
stealth.mode dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh blackgaming
Halaman 1 dari 3
Chapter 2


POV BU SAYEM

--------------------------

Adonan bakwan hari ini cukup sedikit saja. Sepertinya belakangan orang-orang di kampung sedang menyukai risol. Mungkin karena ada ayamnya, walau sedikit dan bakalan nyangkut di gigi.

Lagi pula bakwan sisa kemarin masih ada, kusimpan di kulkas biar pas digoreng lagi enggak terlalu cokelat warnanya. Lumayan ini ada 8 biji bakwan, untunglah kalau sampai laku.

"Ma, uang mau beli bahan prakarya, ya," kata Arin, anak bungsuku yang berusia 12 tahun.

Kakak-kakaknya sudah pergi merantau. Kalau hanya tinggal dan mengandalkan pekerjaan di desa ini, tidak akan dapat apa-apa. Ujung-ujungnya jadi tukang sayur kayak aku. Bagaimanapun aku ingin anak-anak sukses, jadi orang kaya semua. Nanti aku tinggal duduk ongkang kaki, dapat telepon bahwa uang bulanan sudah ditransfer.

Lelah juga berdagang seperti ini. Arin melongok ke wajan saat aku memasukkan satu per satu bakwan sisa kemarin. Wajahnya menyeringai.

"Kenapa kamu, Rin?" tanyaku sambil membersihkan tangan yamg berminyak.

"Itu bakwan kemarin, Ma?" tanya Arin lesu. "Kenapa digoreng dan dijual lagi, sih, Ma? Itu, 'kan, enggak enak. Aku udah pernah makan."

"Ya, kamu dapetnya pas yang enggak enak. Itu apes namanya. Ini masih enak, kok. Coba satu!" suruhku sambil menyodorkan nampan berisi bakwan kemarin yang sudah selesai kugoreng ulang.

Arin bergidik geli. "Enggak, ah, Ma. Nanti aku sakit perut kayak kemarin." Arin menunggu di kursi kayu panjang sembari memakai sepatunya.

"Ah, kamu ini. Sakit perut karena kamu jajan sembarangan, bukan karena bakwan Mama. Mulutnya nakal," rutukku kesal. Segera kurogoh saku dasterku, kuambil selembar uang dua puluh ribuan.

"Udah, udah, sana! Pagi-pagi udah bikin Mama kesel." Aku mengomel sampai Arin meninggalkan rumah.

Aku Mursyam, tetapi sejak kecil dipanggil Sayem, jadilah sampai sekarang nama itu melekat. Anak sulungku sudah berusia 28, belum menikah dan belum kaya. Aku hanya seorang pedagang yang membuka warung sayur, aneka jajanan, dam gorengan di depan rumahku. Inilah yang bisa kubantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suamiku telah lumpuh, aku tak tahu karena apa-apa. Terakhir dia jatuh di kamar mandi, dan sekarang tergeletak. Syukurnya masih bisa duduk, sih.

"Bu, saya beli gorengannya, ya." Seorang lelaki, warga baru di sini. Sudah sering belanja ke warung sini.

"Gorengan apa, Mas?" tanyaku ramah.

Dia baru saja turun dari motornya dan hendak menyentuh nampan berisi aneka gorengan buatanku. Segera kularang. Kalau lelaki atau anak kecil bisa kularang, tetapi kalau ibu-ibu tidak bisa.

"Biar saya aja yang ambilin, Mas. Nanti ibu-ibu di sini enggak mau makan gorengan saya kalo pembeli langsung yang ambil. Suka dipilih-pilih, pegang-pegang, eh, enggak jadi." Aku tersenyum.

"Ah, iya, Bu." Lelaki itu tersenyum. Kalau kutakar dari wajahnya, dia masih muda. Mungkin masih pengantin baru.

"Beli berapa, Mas?" Aku sudah menyiapkan kertas dan kresek.

"Sepuluh ribu, Bu. Lontong dua, sisanya bakwan aja. Istri saya suka bakwan, Bu. Syukurnya Ibu jual bakwan, ya." Lelaki itu berdiri sambil melipat tangan ke dada.

"Ah, iya. Cuma saya yang jual bakwan di sini, Mas. Warung juga cuma ada saya, Mas," timpalku.

Kumasukkan satu saja bakwan baru, sisanya yang kemarin. Toh, dia tidak pernah protes, beberapa kali beli di sini dan selalu kuberi bakwan kemarin. Memang tidak akan ada yang berani protes. Kecuali mereka mau beradu mulut denganku. Aku mengendikkan alis. Lagi pula, warga di sini akan pergi belanja kemana kalau bukan di sini? Pasar sangat jauh.

"Ini, Mas. Saya bonusin satu," kataku seraya menyodorkan kresek padanya.

"Makasih banyak, Bu," ucapnya ramah dan pergi setelah membayar belanjaannya.

Ah, akhirnya habis sisa bakwan kemarinku. Kuharap gorengan hari ini habis rata, jadi besok bisa gorengan baru semua. Orang-orang tidak bakalan curiga, 'kan.

Warung sudah mulai ramai. Ibu-ibu sudah mengerubut jajanan untuk sarapan pagi. Sebagian hanya belanja sayuran saja. Akusedikit mengobrol soal yang lagi ramai di desa sini, apa saja yang bisa diceritakan, ya, kuceritakan. Ibu-ibu senang menggosip kalau pagi, sebagai semangat untuk berjuan menghadapi hidup. Tiba-tiba seorang perempuan yang sambil menggendong bayi datang dan menarikku agak ke dalam warung.

Dia menggeletakkan kresek berisi bakwan di meja kecil milikku. Raut kekesalan terpancar di wajahnya.

"Bu, kenapa setiap suami saya beli gorengan selalu dikasih gorengan yang kemarin?" tanyanya lembut dan pelan padaku.

Hah? Dia sudah menyadari kalau selama ini yang kuberi selalu bakwan kemarin. Aku yakin kalau dia istri dari lelaki yang selalu kularang menjamah gorenganku. Pernah beberapa kali aku melihat mereka berboncengan naik motor, mesra.

"Ah, gorengan kemarin gimana? Kamu jangan ngada-ngada, Mbak. Mungkin aja suamimu enggak beli di sini," kilahku dengan suara yang bisa didengar oleh pembeli yang lain.

Sejenak warung menjadi senyap, tak ada lagi suara bising para ibu-ibu yang sibuk bercerita sembari belanja sayuran. Padahal tadi kami lagi asyik membicarakan si Enur yang kena grebek karena berbuat asusila di rumah ibunya.

"Ya, pasti di sini, Bu. 'Kan, ini satu-satunya warung di desa ini yang jual gorengan. Ini udah ke tujuh kalinya suami saya dikasih gorengan kemarin, loh." Dia masih menahan nada suaranya agar tetap tidak tinggi. Aku yakin dia takut padaku. Warga baru mau coba-coba rupanya.

"Eh, Mbak. Kamu jangan ngada-ngada. Jatuhnya fitnah!" bentakku sambil menggebrak meja.

Mulai terdengar bisik-bisik dari ibu-ibu. Kali ini bukan Enur yang jadi topik pembicaraan, pastilah aku. Ah, masa ratu gosip jadi topik hangat. Aku menelan saliva karena kesal.

Dia mengeluarkan isi kresek, dan memintaku untuk menyicipnya. Jelas aku menolak keras. Aku tahu itu tidak enak.

"Suami saya beli sepuluh ribu, lontong dua, dan sisanya bakwan. Saya cuma nemuin 1 yang bisa saya makan karena ini bakwan baru hari ini." Dia mengangkat bakwan baru yang belum digigit sedikit pun.

"Alah, wong perkara sepuluh ribu doang, kok, dibesar-besarin. Lain kali enggak usah belanja di sini. Nah, uangmu," omelku kasar sambil menyodorkan uang sepuluh ribu padanya.

Dia dorong uang itu. "Bukan masalah uang sepuluh ribu atau enggak, Bu. Ini masalah kejujuran. Jujur itu perlu walaupun hanya tentang sebuah bakwan, Bu," tandasnya tetap menjaga nada suara agar tidak terkesan marah.

Wah, ini orang benar-benar angkuh sekali. Dia pikir gampang nyari uang sepuluh ribu? Dibalikin, kok, nolak. Memangnya kerja suaminya apa, sih?

"Wah, pantes kemarin pas nyuruh anak saya beli ... dapet kayak gini juga. Kalo khilaf, sih, cuma satu dan sekali, Bu Sayem. Kalo sebanyak ini, mah, kalap," timpal Bu Rika, perempuan berambut panjang sambil mengangkat bakwan milik perempuan muda itu.

Ini juga, kenapa malah ikutan nyerang? Padahal aku cuma menyelipkan dua bakwan kemarin saat anaknya yang datang membeli.

"Eh, Bu Rika! Yang kemarin itu saya kasih bonus. Bukannya bayar," sahutku kesal sambil mendelik kepadanya.

"Lah, kalo bonus kenapa beli lima ribu cuma dapet tiga yang baru, Bu?" tanya Bu Rika.

Oh, dia mencoba menyudutkanku rupanya. Mau kutekan dia biar malu sekalian.

"Makanya kalo punya hutang dibayar, Bu. Jadi, kalo dapet bakwan tiga, ya, dua ribunya inget sendiri untuk apa," balasku mengejeknya.

"Alah, Bu. Kalo hutang jangan suka motong diem-diem, dong. Ngurang-ngurangin jatah sarapan orang namanya," sahut Bu Rika tak mau kalah. Aku kenal sekali perempuan ini. Level mulut kami hampir sama.

"Ini semua gara-gara kamu," tunjukku kesal ke wajah perempuan muda yang menggendong bayi. Dia bengong melihatku dan Bu Rika adu mulut.

"Loh, kok, saya? Saya kesini cuma mau ngasihtau ke Ibu kalo ini salah. Kurang sabar apa saya berkali-kali dapet kayak gini, Bu. Sekarang rasanya perlu diluruskan supaya Ibu enggak terus kalap," ocehnya dengan suara lembut.

"Kalo bukan gara-gara kamu, siapa? Hah?" tanyaku menyolot sambil berkacak pinggang.

"Ah, udahlah, Bu. Saya enggak mau panjang-panjang. Saya dateng bukan cari ribut," ujar perempuan itu sambil melengos pergi.

"Hei, awas kamu, ya! Kamu akan rasain akibatnya," ancamku setengah berteriak.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
Chapter 3


POV BU SAYEM

------------------

"Hei, awas kamu, ya! Kamu akan rasain akibatnya," ancamku setengah berteriak.

Semua pembeli yang biasa belanja di sini dan mendengar dongengku setiap harinya, menatap aneh padaku. Aku memalingkan wajah sembari menuju lemari pendingin dan mengambil segelas minuman dingin rasa anggur. Kepalaku mendidih, sudah lama aku tidak dipancing bertengkar. Nampaknya perempuan muda itu mau mencari masalah padaku. Dia belum tahu siapa aku? Hah? Semua orang yang bertengkar padaku, akhirnya datang kembali ke sini mencari hiburan, tertawa haha-hihi denganku.

Sudah terbukti bahwa ibu-ibu di desa ini butuh aku. Warung yang dekat, cuma warungku. Di sini semuanya tersedia. Enggak perlu jauh-jauh ke pasar. Hutang pun boleh di sini. Lah, perkara bakwan kemarin saja, kok, heboh. Itu namanya memancing kekuatan tenaga dalamku. Mau mencari ribut, mau mendaftarkan diri masuk ke list bahan gosip warga di sini tampaknya perempuan muda tadi.

"Eh, Bu Rika!" panggilku pada perempuan beranak dua dan janda yang dicerai hidup itu.

Dia berjalan menghampiriku dengan wajah yang gelisah. Langkahnya pun melipir-melipir ke rak-rak mie dan sabun. Aku yakin dia tahu apa kesalahannya, makanya tingkah dia aneh seperti anak SD mau dimarahin.

"Kamu kalo coba-coba nimbrung omongan orang, langsung kupangkas tenggorokanmu. Mau? Hutang masih numpuk, belagak pengen belain orang," ujarku mengancamnya. "Mau jadi pahlawan kepagian?"

"Hehe, anu, Bu Sayem." Bu Rika tersenyum salah tingkah. Dia malu.

"Anu-anu. Udah sana! Jangan hutang hari ini. Aku kesel sama kamu," omelku sambil mengibas tangan.

Bu Rika berjalan lambat meninggalkanku. Bokong besar dan geal-geol yang selalu menjadi tontonan lelaki mata keranjang di kampung ini membuatku jengah. Pasalnya dulu semasa suamiku sehat, dia sering sekali ketahuan olehku tengah mengamati dapur berjalannya si Bu Rika itu, bokongnya. Dari kelumpuhan suamiku itu ada hal yang kusyukuri, ya, paling tidak matanya bersih dari pandangan yang mesum.

"Bu Sayem, ini berapa?" tanya Bu Suri sambil menyodorkan gorengan sepuluh biji, kangkung, ikan asin, dan cabe campur sebungkus.

"Kenapa, sih, Bu? Pagi-pagi, kok, nesu, cembetut begitu," timpal Bu Ida. Di desa ini dia memiliki mulut radio level tiga setelah Bu Rika. Aku level satunya.

"Halah! Jangan pura-pura tuli, Bu. Padahal tadi kamu denger, 'kan, kalo itu ... warga baru ngomong apa? Ditambah lagi itu Bu Rika, suka nimbrung omongan orang," ujarku sinis.

"Lah, mana aku tau, Bu. Wong, Mbak tadi enggak kedengeran suaranya. Bu Sayem yang ngomongnya kenceng, luar biasa emang volume radio Bu Sayem," jawab Bu Ida sambil menyunggingkan senyum penuh ejekan.

"Halah, udahlah! Enggak usah dibahas. Males," sungutku.

"Udah, toh, Bu Sayem. Marahnya lanjut nanti siang aja kalo kita udah beres masak. Buruan dihitung total belanjaanku!" suruh Bu Suri tak sabar. Tawanya meledek.

"Dua puluh empat ribu. Hutang kemarin mau dibayar kapan?" tanyaku judes pada Bu Suri.

"Ya Allah, sabarlah, Bu! Suamiku juga masih merantau, nanti kalo udah ditransfer, aku bayar." Bu Suri mencebik sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribu.

Aku membelalak melihatnya. "Kok, cuma segini?" tanyaku masih dengan nada judes.

"Masukin buku keramat, Bu Sayem! Nanti difotoin terus kirim ke WA, ya! Biar kukirim ke suamiku, biar makin kerja keras di kota," jawab Bu Suri santai. Senyumnya penuh akal bulus.

Kuangkat buku keramat, catatan calon amal buruk ibu-ibu di desa ini. Beberapa orang sudah kabur meninggalkan kampung dan hutang yang segunung. Biar nanti di akhirat kutagih. Biar rasa!

"Liat, Bu Suri! Hutangmu udah segini," kataku sambil menunjukkan catatan hutangnya yang sangat panjang. Kutatap wajahnya yang sedikit berjerawat.

Bu Suri malah meringis. "Pasti dibayar, Bu Sayem. Aku enggak akan meninggalkanmu yang udah setia ngasih aku ganjelan perut setiap enggak punya duit," ujarnya bercanda, tetapi aku yakin dia hanya merayu, modus agar aku tidak terlalu lama menahannya di sini dan tetap memberinya hutang. Dia selalu cari aman padaku, berbeda dengan Bu Rika.

"Makanya, Bu Suri, bilang sama suaminya, suruh kerja yang bagusan dikit. Wong, nguli doang ... pake acara merantau ke kota," kataku mencemooh Bu Suri. Puas hatiku mengatainya.

"Ah, enggak apa-apalah, Bu. Kuli juga masih bisa ngasih nafkah lahir batin. Aku pamit dulu, Bu Sayem, Bu Ida. Perut keroncongan. Nanti siang ngumpul di sini, ya!" serunya membalas cemoohanku. Dia mengejekku yang sudah tiga tahun tidak mendapat nafkah lahir batin dari suami.

Kuremas kertas dan kulempar ke arah Bu Suri, pas kena kepalanya. Dia meneruskan langkahnya tanpa memedulikanku. Aku menghela napas panjang, dongkol melihat Bu Suri. Dia juga paling jago dalam hal meledek orang. Aku segera menghitung total belanjaan Bu Ida.

"Nih, Bu!" Bu Ida menyodorkan uang seratus ribu hanya untuk membeli ikan sekilo.

"Baru gajian, Bu," candaku sambil tersenyum tipis.

"Aku setiap hari gajian, Bu Sayem. Buktinya enggak pernah hutang di sini." Bu Ida menjawab dengan angkuh. Sekujur tubuhnya terawat. Tinggal di desa tak menjadikannya kampungan seperti kami.

Bu Ida pun pergi sambil menenteng kresek hitam berisi ikan mujaer. Di antara teman mengobrolku, dia saja yang uangnya selalu banyak. Maklum, dia perempuan simpanan orang penting dari kota. Sebulan sekali mengunjungi perempuan seksi itu ke desa ini. Sudah bukan rahasia umum lagi. Bu Ida sempat juga menjadi topik hangat bahan ceritaku di sini.

Pasalnya Bu Ida itu pernah digrebek warga karena kumpul kebo dengan lelaki yang punya jabatan yang sekarang menjadi suami sirinya. Kalau bukan karena digrebek, mungkin dia tidak akan dinikahi. Namun, sekarang Bu Ida sudah menjadi bagian dari geng gosipku. Dia selalu meneraktir kami, aku, Bu Rika, dan Bu Suri.

Aku segera masuk ke rumah. Mau masak dan juga mengurusi suami. Cucian masih numpuk di dalam rendeman. Sudah tiga hari, dan baunya pun seperti aroma bangkai. Gara-gara keasyikan mengobrol tentang Enur yamg lagi viral di kampung sini, kerjaan rumah numpuk.

"Say!" panggil suamiku dengan suara bergetar. Dia bukan berlagak romantis dengan memanggilku Say. Itu singkatnya saja dari Sayem.

"Kenapa, Mas?" tanyaku setelah berdiri di depannya.

"Aku mau buang air," katanya sambil menepuk perut.

Sambil memutar manik mata, aku membantunya berdiri dan mengantar ke kamar mandi. Setelah kututup pintu itu, aku berdiri di ambang pintu dapur yang bisa langsung mengintip ke arah warung. Matahari sudah mulai naik. Seingatku, masih ada beberapa gorengan yang belum habis. Mas Boyo pasti lama mendekam di dalam. Lebih baik segera kubereskan gorengan itu dan menyimpannya ke kulkas. Biar tidak ada yang melihat bahwa gorenganku bersisa.

Kusambar wadah bening bertutup. Aku melangkah sambil menyenandungkan lagu Alam yang berjudul Duit. Sedikit kutambah cengkok dangdut. Sambil menyanyi, hatiku menghitung jumlah gorengan sisa.

Ah, masih saja bakwan ini bersisa, tetapi syukurlah cuma dua. Tahu isi ada empat, risol tiga, pisang goreng satu. Aku menatap lesu pada tumpukan tempe goreng yang masih utuh. Segera kucampur jadi satu ke dalam wadah bening besar. Aku melangkah cepat ke dalam sebelum ada yang melihat.

Setelah menyimpan sisa gorengan itu dengan aman, aku mengetuk pintu kamar mandi.

"Belum, Say. Sabar dulu, keras," keluhnya. Aku mual membayangkan apa yang Mas Boyo maksudkan.

Baru saja aku melangkahkan kaki dari depan kamar mandi menuju warung, perempuan muda yang merusak image bakwanku tadi datang. Segera kuhampiri dia.

"Mau apa lagi?" tanyaku ketus.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 4


POV DEWI

----------------------------------

"Ah, udahlah, Bu. Saya enggak mau panjang-panjang. Saya dateng bukan cari ribut," ujarku sambil melengos pergi.

Kurasa memang belum ada yang berani menegur perempuan yang baru kutahu namanya, Bu Sayem. Ya, ibu pemilik warung yang sudah salah, tetapi malah tidak terima diberitahu. Masih syukur uangnya tidak kuambil dan gorengannya kuacak-acak di warung.

Bukan apa-apa. Karena aku masih warga baru, jadi harus menunjukkan pada orang-orang di kampung ini kalau aku ini seorang perempuan yang santun. Sebenarnya aku memang santun, tetapi kalau bertemu dengan orang seperti Bu Sayem, aku bisa menjadi harimau. Lihat saja nanti! Kalau aku sudah lama tinggal di sini dan dia masih berbuat yang tidak benar, akan kuberi perhitungan juga dia.

"Hei, awas kamu, ya! Kamu akan rasain akibatnya." Samar kudengar ancaman Bu Sayem padaku.

Aku mempercepat langkah. Kasihan Yumna kubawa ke warung Bu Sayem. Semoga kamu tidak kena sawan Bu Sayem, Nak. Aku sedikit meninggikan payung yang kugenggam di sebelah kanan.

Setelah menempuh jarak 500 meter, aku pun tiba di depan rumah kontrakan empat petak. Kulihat motor Mas Jono ada di depan. Kenapa sudah pulang? Apa ada yang tertinggal? Kupercepat langkah.

"Assalamu'alaikum!" ucapku saat mendorong daun pintu.

"Wa'alaikumsalam. Kamu darimana, Sayang? Kenapa pintu enggak dikunci? Aku cariin, aku teleponin ... eh, hapenya malah di kamar." Mas Jono menyerocos tanpa henti.

Aku duduk setelah meletakkan Yumna di kasur tanpa ranjang. Bayi kecilku tertidur nyenyak sekali sejak kubawa pergi. Mas Jono keluar kamar, kuikuti dia.

"Kok, udah pulang, Mas?" tanyaku pada lelaki yang memiliki nama lengkap Jono Ropo.

Nama yang unik di zaman sekarang. Kalau kata ibu mertua nama itu memiliki arti baik-baik saja. Jo adalah kependekan dari ojo, no adalah ono, dan ropo adalah ora opo-opo. Dulu, saat ibu mertua menceritakan itu, aku mengalami kram perut dan rahang karena menahan tawa.

Bagaimana bisa lelaki seganteng Mas Jono diberi nama Jono Ropo. Bahkan keluargaku sendiri pun tertawa mendengar nama Mas Jono. Namun, aku sangat mencintainya. Harapan ibu adalah Mas Jono akan selalu baik-baik saja, meski dalam keadaan badai sekalipun.

Mas Jono merangkulku. "Kamu darimana bawa Yumna? Memangnya kamu udah punya temen di sini?"

Teman? Boro-boro keluar rumah untuk mengobrol, bahkan untuk buang air pun kadang aku tak bisa. Yumna termasuk anak yang rewel jika aku tidak di sampingnya.

"Temen darimana, Mas?" Aku tertawa. "Aku baru dari warungnya Bu Sayem. Aku kesel, Mas," lanjutku sambil mengusap ujung hidung yang gatal.

"Loh, kesel kenapa?" Mas Jono tampaknya tertarik dengan ceritaku. Dia memang selalu baik hati untuk menjadi pendengar budiman dari segala keluh kesahku.

"Kali ini aku dapet bakwan kemarin lagi, Mas. Aku, 'kan, udah bilang ke kamu untuk ambil bakwan sendiri. Udah kujelasin dan kutunjukin perbedaan yang baru dengan yang lama." Lalu kuceritakan segalanya yang terjadi di warung itu.

"Astaghfirullah! Jadi, kamu belum sarapan, dong?" tanyanya penuh sesal.

Aku menggeleng. "Cuma minum teh sisa kamu tadi, Mas."

Kemudian Mas Jono menceritakan padaku kenapa dia tidak memilih sendiri bakwannya. Aku pun bertanya kembali kenapa dia sudah pulang jam segini. Padahal biasanya dia pulang sampai jam delapan malam kalau lagi banyak barang yang perlu diantar.

Mas Jono meringis sembari menggaruk-garuk wajahnya. "Bos tempat aku kerja ngasih ini, Sayang," kata Mas Jono sambil menyodorkan amplop cokelat padaku.

"Apa ini, Mas?" Aku penasaran sembari mengangkat amplop tersebut. Lumayan tebal isinya. "Uang apa ini, Mas?"

Aku mengeluarkan lembaran kertas merah dari amplop tersebut. Dua juta rupiah, begitu yang tertulis pada kertas yang melingkar pada tumpukan uang itu.

"Aku dikasih pesangon, Sayang. Katanya aku enggak usah kerja lagi. Baru juga setahun aku kerja di situ, pindah ke sini biar lebih dekat, gitu. Eh, malah diminta berhenti," ungkap Mas Jono seraya menghela napas berat.

Tadinya kami hidup di kampung sebelah, lumayan jauh dari sini. Mas Jono tadinya bekerja di sebuah toko, kurir juga. Namun, dia berhenti karena pemilik toko yang terbilang pelit dan nyinyir. Lalu, Mas Jono mendapat pekerjaan lagi di jasa pengiriman barang. Masa kerja yang baru setahun itu masih terbilang baru bagiku. Namun, alhamdulillah dapat pesangon yang sangat besar.

"Aku enggak ngerti hitungan pesangonnya gimana, Dew. Gajiku cuma 950.000 rupiah. Dia bilang, sih, buat beli susu Yumna."

Aku manggut-manggut. "Mas enggak tau kenapa diberhentiin?" tanyaku penasaran.

Mas Jono menggeleng. "Emang bukan rezeki, Sayang. Nanti kita pikirin lagi gimana ke depannya."

Terdengar suara ketukan pintu dari depan. Segera aku bangkit, senyum semringah terulas di wajahku saat mendapati kakaknya Mas Jono datang. Segera kupersilakan masuk.

"Sebentar aku bikin air dulu," kataku.

Sejenak aku teringat kalau gula, teh, dan kopi habis. Tanpa pikir panjang aku langsung ke warung Bu Sayem. Tak ada pikiran buruk apa pun di kepalaku. Langkahku bahkan ringan sekali. Terlihat Bu Sayem berjalan ke warungnya saat aku berdiri di teras. Sebentar aku melirik ke arah nampan tempat gorengan-gorengan itu tergeletak.

[Udah habis? Ah, syukurlah kalo gitu. Berarti besok gorengannya baru semua.] Aku berucap dalam hati. Lumayan bersyukur.

Bu Sayem menghampiriku. "Mau apa lagi kamu? Hah?" tanyanya ketus padaku.

"Ada gula, teh, kopi, Bu?" tanyaku berusaha mengabaikan keketusannya. Lagi pula aku sedang butuh.

Memang benar, di sini cuma ada warungnya Bu Sayem. Usut punya usut, tetangga depan kontrakan pernah bilang bahwa warga di sini tidak ada yang berani membuka warung dengan dua alasan. Satunya langsung bangkrut karena ramai yang hutang dan enggan bayar. Alasan kedua, rahasia. Aku penasaran alasan keduanya apa.

"Ngapain beli di sini? Nanti dipikir gula, teh, kopiku punya kemarin lagi," rutuknya sambil duduk di kursi seberang meja kecil.

Segera aku mengambil apa yang aku butuh. Lalu, kuserahkan pada Bu Sayem. Dia menghitung jumlah belanjaan yang kubeli.

"lima belas ribu." Bu Sayem benar-benar.

Duh, gatal sekali mulutku. Sabar, Dewi! Sabar!

"Makasih banyak, Bu!" ucapku setelah mengambil kembalian yang disodorkannya. Segera aku melangkah meninggalkan warung Bu Sayem.

"Heh! Tunggu!" sergahnya.

Aku membalikkan badan, Bu Sayem menghampiriku. Tiba-tiba dia melemparkan sesuatu ke wajahku. Aku membeliak kaget dengan perlakuannya. Apa kiranya yang dia lempar?

"Tuh, bawa uang sepuluh ribumu! Enggak laku di sini. Khawatir itu malah uang gaib. Bisa raib uangku kalo kecampur uang itu. Banyak kasus seperti itu yang terjadi di pedagang-pedagang," fitnah Bu Sayem keterlaluan padaku.

Mataku yang berkaca-kaca sembari menatap uang sepuluh ribu yang diremuk dan berada di ujung kakiku, terangkat perlahan. Air yang menumpuk di netra ini bukanlah air mata, tetapi bahan bakar amarah yang dituang Bu Sayem secara keji.

Kesal. Kulempar gula seperempat tepat ke wajahnya.

"Auw!" teriak Bu Sayem.

Aku yakin pasti itu sakit, sebab melemparnya sekuat tenaga. Lihat saja! Gula pasir berwarna kuning itu terburai. Bu Sayem menatapku tajam.

"Kurang ajar kamu! Argggghhh!" teriak Bu Sayem. Dia tampaknya marah sekali.

"Bu Sayem yang kurang ajar!" balasku tak mau kalah. Sama. Aku pun sangat marah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 5


POV DEWI

"Bu Sayem yang kurang ajar!" balasku tak mau kalah. Sama. Aku pun sangat marah.

Bu Sayem menyambar seikat kacang panjang dan melemparnya padaku. Argh! Pedas rasanya. Kuat sekali tenaga Bu Sayem ini. Aku tak boleh kalah, meskipun badannya berisi dan tinggi.

Kupungut kacang panjang yang terhempas ke lantai, aku maju beberapa langkah. Lalu, kacang panjang yang kira-kira ada empat puluh batang itu kusabet ke mulutnya. Biar rasa sekalian itu mulut pedas yang tidak ada ada remnya. Biar blong sekalian.

"Arggghhhh! Kurang ajar kamu, ya! Anak kecil enggak sopan sama orang yang lebih tua," pekik Bu Sayem geram. Matanya mendelik menatapku. Aku yakin amarahnya bentar lagi membuat ubun-ubunya meledak.

Karena teriakannya yang luar biasa, beberapa orang sudah mulai berkerumun menonton kami. Bu Sayem terus mencercaku tak henti-henti.

"Say! Say! Aku udah selesai ee'nya ini. Buruan! Pegel kakiku, Say!" Suara teriakan seorang lelaki yang berasal dari dalam rumah Bu Sayem.

Entah siapa itu, aku tak tahu dan tak mau peduli.

"Sebentar!" balas Bu Sayem berteriak pula pada yang memanggilnya tadi.

"Dasar enggak punya udel kamu, ya! Kugerus nanti mukamu yang ayu itu." Bu Sayem menyambar nampan bekas gorengan dan melemparnya padaku.

Krompyang!

Nampan kaleng bulat dengan motif bunga itu nyaris mengenai kepalaku. Kupungut dan kukembalikan sebagaimana dia memberikannya padaku. Kebetulan dia sedang sibuk mencari senjata lain.

Krompyang!

Pas kena kepalanya lagi. Kami masih sama-sama berdiri di tempat masing-masing. Jarak yang terbentang di antara kami berkisar 1/2 meter.

"Arggh! Keterlaluan kamu! Siapa, sih, namamu? Hah? Biar kusantet sekalian," pekiknya frustasi. Aku menaikkan satu sudut bibirku untuk mengejeknya.

"Dasar kampungan! Zaman milenial begini masih aja main dukun," ejekku kesal. Sebenarnya aku takut juga, sih.

Di kampung biasanya masih sangat kental dengan hal-hal seperti itu. Ah, lebih baik aku cabut saja sebelum tangan dia menyentuhku. Bisa jadi habis ini dia akan mencakarku atau menjambak rambut dalam kerudungku ini.

"Hajar, Bu Sayem!" teriak salah seorang dari kerumunan sambil tertawa.

Sepertinya mereka memang senang melihat Bu Sayem bertengkar atau memang jangan-jangan dia ratu kalajengking di sini.

Bu Sayem benar-benar murka padaku. Mungkin karena kuejek kampungan atau karena kepalanya kena nampan. Segera aku membalikkan badan untuk pergi. Baru beberapa langkah, tiba-tiba sesuatu mengenai kepala belakangku. Argh! Lumayan sakit. Aku menilik ke belakang, seekor ayam utuh dia pakai untuk membalasku.

Kupungut ayam itu dan langsung kucampakan ke dalam selokan kecil di sisi kanan. Kutatap wajah Bu Sayem yang gusar.

"Noh, ayamnya nyebur! Rasain! Enggak usah dagang sekalian," ujarku mengejeknya.

"Hei! Perempuan edan! Bener-bener gendeng! Itu ayam mahal, argh!" Bu Sayem Cumiik. Wajahnya terlihat menyedihkan.

Lalu, segera aku berlari sekencang mungkin untuk menghindari serangan selanjutnya. Kupecah kerumunan warga yang menonton drama kami. Masih kudengar mukut Bu Sayem menghinaku. Ah, biarkan! Yang penting aku selamat.

Dengan napas yang masih terengah-engah. Alu tiba di rumah. Kudengar tangisan Yumna. Sudah kubilang, dia akan menangis jika tidak ada aku di sampingnya. Aku segera masuk.

"Assalamu'alaikum!" ucapku dengan napas yang engap-engapan. Aku membungkuk seperti sedang melakukan rukuk. Benar-benar lelah.

"Wa'alaikumsalam! Tuh, Bundamu pulang, Nduk," ucap Mas Jono pada Yumna.

"Loh, kamu kenapa, Dew?" tanya Mbak Roro padaku. Dia saudara satu-satunya Mas Jono.

Aku menunjuk ke arah luar. "Dikejer hantu warung, Mbak," jawabku masih dengan napas yang cungap-cungip.

"Hantu? Siang bolong begini?" tanya Mas Jono dan Mbak Roro serempak. Aku mengangguk.

Aku teringat sesuatu, segera kukunci pintu rumah. Bisa saja Bu Sayem menyusulku ke sini. Sebentar aku membuka pintu dan membawa masuk sendalku, berikut dengan motor Mas Jono. Aku khawatir dia akan mengobrak-abriknya.

Mas Jono dan Mbak Roro menatapku heran. Bahkan Mbak Roro memegang pundakku, lalu menepuknya pelan berkali-kali.

"Kamu ini kenapa, Dew? Baumu amis," kata Mbak Roro seraya mengernyitkan hidungnya.

Jelas saja aku bau amis, nama pun dilempar ayam.

"Aku ke kamar mandi dulu, Mas, Mbak. Oh, iya, kalo ada yang dateng ... jangan dibukain pintunya. Itu hantu, serem banget," ujarku mengingatkan mereka.

Segera aku bergegas ke dapur, handuk yang tersampir di paku dinding bercat oranye itu kupindahkan ke pundak kananku. Huh, aku jadi mandi dua kali. Tangisan Yumna semakin kencang saja. Cepat-cepat aku mengguyur tubuhku, kusabuni kulit sawo matang ini dengan gerakan kilat. Yang penting mandilah judulnya.

Beberapa menit berlalu. Yumna sudah berada di pangkuanku sembari kususui. Mas Jono dan Mbak Roro tampaknya masih penasaran. Mereka menatapku penuh harap, mungkin mereka mau aku bercerita.

"Kamu kenapa, toh, Dew?" Mbak Roro bertanya lagi. Sudah kuduga, dia akan terus bertanya sebelum aku menceritakannya.

Mbak Roro sudah tujuh tahun menikah, dia belum dikaruniai seorang anak. Saat kami memutuskan untuk pindah, dialah orang yang paling sedih karena harus berpisah dengan Yumna. Dia mengangkat anakku sebagai anaknya. Dia datang ke sini pasti untuk bertemu Yumna.

"Uweslah, Ro. Anake Dewi karo Jono digae pancingan ae. Jadikno anak angkatmu, biasane ... orak bakal lama nungguni, kue bakalan meteng. Mesti. Percoyo karo Ibu! Biar ndang meteng, ndang disayang karo mertuo." Begitulah kata ibu mertuaku pada Mbak Roro. Waktu itu dia bicara di hadapan kami semua, seminggu setelah Yumna kulahirkan.

(Sudahlah, Ro. Anaknya Dewi sama Jono dibikin pancingan saja. Jadikan anak angkatmu. Biasanya ... enggak akan lama nungguin, kamu akan hamil. Pasti. Percaya sama Ibu! Biar cepet hamil, cepet disayang sama mertua.)

Mas Jono memandangiku heran. Aku masih enggan menceritakan kejadian di warung tadi. Akhirnya Yumna kembali pulas. Waktu menunjukkan pukul sembilan.

"Sayang, kamu kenapa, sih?" Mas Jono mulai memaksa.

Aku pun akhirnya bercerita pada Mbak Roro dan Mas Jono. Kedua orang di hadapanku menggeleng dengan mulut yang menganga. Mereka pasti tak percaya kalau aku melakukan ini.

"Kenapa kamu berantem, Dew? Nanti kalo sampe kamu kenapa-kenapa gimana?" Mas Jono tampak khawatir.

"Aku dateng baik-baik untuk belanja, kok, Mas. Bukan ngemis, dan bukan cari masalah. Lagi pula aku enggak merasa berbuat kesalahan sebelumnya ke Bu Sayem itu. Karena aku dikasarin dan dihina, ya, aku bales," ocehku.

"Iya, aku tau kalo kamu orangnya enggak bisa dikasarin, tapi kita masih baru di sini," kata Mas Jono.

Suamiku ini orangnya terlampau baik dan lurus. Sama kayak Mbak Roro. Makanya Mbak Roro diam saja kalau dicerewetin mertua dan iparnya. Diledekin mandul, dikatain lembek, Mbak Roro diam saja. Kalau aku tidak bisa seperti itu. Bersyukur mertua dan iparku baik.

Aku menghela napas panjang. "Mau gimana lagi, Mas. Udah terlanjur. Besok-besok aku enggak akan nginjek warungnya lagi. Mas juga jangan!" larangku pada Mas Jono.

"Loh, kalo mau beli apa-apa gimana, Sayang? 'Kan, warung cuma satu," ujar Mas Jono bingung.

"Naik motor, Mas. Ke kampung sebelah belanjanya," sahutku ketus.

Tiba-tiba terdengar suara gedoran di daun pintu kontrakan ini. Aku berjingkat kaget, serempak kami menatap ke arah pintu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 13 lainnya memberi reputasi
Perkelahian emak2 di bikin cerita novel. Ide agan konyol juga emoticon-Wakaka
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Yang sebelah belum selesai. Udah ada thread baru lagi aja
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Cerita yang menarik gan, seru, dan ane suka gaya bahasanya. Nyaman buat dibaca.

Ditunggu lanjutannya ganemoticon-Jempolemoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
profile-picture
banditos69 dan Yans.Venzy memberi reputasi
Nah ini adegan serunya...
Awas tali beha lepas.. emoticon-Leh Uga
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Ceritanya seru, gan TS.
Berasa real kehidupan sehari-hari.
Ditunggu lanjutannya yaaa emoticon-Big Grin
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Chapter 6


POV BU SAYEM

--------------------------------

"Kurang ajar kamu! Argggghhh!" teriakku pada perempuan yang sudah membuang ayam utuh untuk kujual ke dalam got. Aku marah sekali.

"Bu Sayem yang kurang ajar!" balasnya tak mau kalah. Sepertinya dia juga marah padaku.

Benar-benar tidak punya akhlak! Setelah membuang ayam seharga Rp37.000,00 ke dalam got, dia malah kabur meninggalkanku. Dasar tidak bertanggung jawab. Lihat saja! Aku akan membalas perbuatannya. Mau sampai mana dia berlari, akan kukejar.

Aku terpaksa menungging dan memungut kembali ayam yang sudah berubah hitam warnanya. Ihh, menjijikan. Tak apa, aku akan mencucinya hingga bersih, toh, ini belum dimasak.

"Bu Sayem, dibuang aja ayamnya!" suruh salah seorang perempuan berkerudung hitam uang sudah pudar.

"Dibuang udelmu! Ini ayam mahal," omelku kasar.

Sembarangan saja menyarankanku untuk membuang ayam ini. Setelah kucuci bersih, juga pasti masi ada yang mau beli. Tidak apa-apalah kalau harus rugi sedikit saja. Lagi pula ini belum lima menit nyebur ke got. Aku menenteng ayam utuh itu dan kuguyur di bawah air kran. Setelah bersih, aku langsung meletakkannya ke dalam baskom dan menutupnya begitu saja dengan kain.

Tak lupa aku menyambar golok yamg terselip di balik rak mie instan. Bu Suri dan Bu Ida menghadang langkahku. Keduanya menahan tanganku erat. Aku memberontak agar mereka melepaskanku.

"Bu Sayem, istighfar! Jangan gara-gara ayam nanti Bu Sayem masuk sekolah. Emang mau tidur di lantai,makan sayur kangkung?" Bu Ida menakutiku rupanya.

Ada benarnya, sungguh tidak enak kalau berada di penjara. Pasti tidak enak. Lagi pula siapa bilang aku hanya rugi ayam? Aku rugi kacang panjang, nampan kaleng yang penyok, dan juga harga diri sebagia pemilik rekor terbaik perempuan menyegankan di desa ini.

"Lepasin aku, Bu! Aku harus buat pelajaran untuk perempuan perusak image bakwanku itu. Semena-mena sama aku, perlu dikasih wejangan dulu dia biar ngerti caranya berbaik-baik sama orang yang lebih tua dari dia," omelku pada Bu Ida dan Bu Suri.

"Bu, jangan sampe kalap, Bu. Udah cukup Bu Sayem kalap karena bakwan kemarin yang dijual lagi, jangan sampe nanti Bu Sayem kerasukan setan dan menggal orang, siapa yang nyediain sarapan pagi untuk kita semua? Siapa yang bakal dagang sayur, Bu? Siapa?" Bu Rika menimpali.

Si tukang hutang ini ada benarnya juga. "Kulibas juga kamu, Bu Rika. Enggak usah sebut-sebut bakwan juga," rutukku pada Bu Rika yang langsung menciut.

Aku tetap berontak, aku berteriak sekuat mungkin. Orang semakin ramai berkumpul di jalanan untuk melihat aksiku. Bahkan kendaraan pun tak bisa lewat. Aku terus memaksa agar Bu Ida dan Bu Suri melepaskan tanganku. Aku belum puas kalau belum menyentuh perempuan perusak image bakwanku itu. Aku harus bisa mencoleknya sampai dia merasakan jera dan tidak lagi berani macam-macam denganku.

"Bu Ida dan Bu Suri, kalo kalian enggak mau lepasin aku, jangan salahkan aku kalo golok ini menebas tangan kalian," ancamku pada kedua teman bergosipku ini.

"Eh, Bu Rika! Buruan panggil Pak RT, biar Pak RT aja yang nangani ini. Kalo Bu Sayem udah kerasukan kunti sundel, udah repot. Bentar lagi tenaga dalemnya keluar. Buruan, Bu Rika!" suruh Bu Suri pada janda beranak dua tersebut

"Iya, iya." Bu Rika lantas berlari tunggang langgang dan kemudian lenyap di belokan gang kecil sebelah kanan jalan utama desa. Aku mual melihat bokongnya yang bergoyang seperti agar-agar.

"Bu Suri, lepasin aku! Biarin aku melampiaskan kemarahan ini!" teriakku sembari terus memberontak.

Gerakanku yang kuat membuat Bu Suri dan Bu Ida kelelahan, hingga akhirnya mereka pun melepaskan cengkraman tangan mereka pada kedua lenganku. Aku segera melangkah cepat menuju rumah perempuan perusak image bakwan tersebut. Baru sampai di depan gang rumah Pak RT, Bu Rika muncul dan di belakangnya ada lelaki berkumis tebal, kulit hitam pekat dan rambut yang klimis.

"Hei, Bu Say!" panggil Pak RT padaku.

Aku tak mengindahkannya, kupercepat terus langkahku. Namun, Pak RT melangkah lebih cepat lagi, dia menghadang langkahku. Kumis tebal itu terangkat ke atas, itu artinya dia sedang menyunggingkan senyum.

"Pak RT, minggir! Jangan cari masalah sama saya," ujarku tegas sembari mengibaskan golok. Pak RT bergerak menghindar, padahal aku tidka bermaksud menebasnya.

"Eits! Bu Say, tenangkan dulu hati dan pikiran Bu Say, ya! Sekarang cerita ke saya, ini ada apa sebenernya?" tanya Pak RT lembut.

"Saya mau memberi pelajaran pada warga baru yang sudah berani menginjak-injak harga diri seorang Sayem, Pak. Belum pernah ada yang berani melakukan itu pada saya. Agaknya orang itu perlu saya tatar biar enggak kurang ajar," ungkapku masih dengan emosi yang tinggi.

"Bu Say, udahlah! Masalah ini bisa diselesaikan secara baik-baik, secara kekeluargaan. Mungkin ini hanya salah paham. Biar saya aja yang ke rumah orang bersangkutan itu. Bu Rika bisa menemani saya untuk menunjukkan rumahnya," ujar Pak RT, dia mengerlingkan mata bersamaan dengan sunggingan senyum ke Bu Rika.

Dasar RT ganjen!

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakangku. "Tangkep! Tangkep kucingnya!" seru seorang perempuan dengan suara berat.

"Bu Sayem, ayammu digondol kucing!" teriak Bu Suri panik.

Hah? Apa? Arghhh! Aku berlari kembali ke warung. Mataku membeliak saat melihat seeokor kucing kuning besar menyeret ayam yang tadi sudah kubersihkan setelah kuangkat dari got. Aku berlari mengejar kucing itu. Argh! Ayamnya kembali terjatuh ke got.

Semua orang kudengar berteriak. Ada juga yang kudengar tertawa dan mengejek. Memang dasar tidak punya perasaan. Orang lagi sedih malah diejek. Harusnya dibantu, patungan untuk mengganti kerugian yang aku alami.

Aku menghempaskan golok ke jalanan dan kemudian tubuhku. Aku menangis mengesot di aspal kasar sembari menangisi nasib ayam yang memilukan. Kucing itu melompat kaget saat kulempar dengan batu kecil. Dia kabur, aku semakin kesal. Sudah miri sekali kucing itu dengan perempuan perusak image bakwan yang bekum kuketahui namanya siapa.

"Ayamku!" rengekku sambil menunjuk-tunjuk ke got. Air mataku benar-benar tumpah. Kali ini aku mengalami kerugian yang tidak terduga. Malang nian nasibku setelah bertemu dengan perempuan itu.

Tangis dan teriakanku semakin menjadi-jadi. Pak RT datang lagi menghampiriku.

"Pak RT, saya tidak terima ini! Tolong datengin warga baru itu atau saya yang akan menggilasnya hingga hancur," ancamku. "Saya mengalami kerugian yang besar, Pak. Ayam, kacang panjang, dan lain sebagainya." Aku menambahkan.

"Baiklah, saya akan datang kesana. Kira-kira berapa kerugian yang Bu Sayem alami?" tanya Pak RT.

"Seratus ribu, Pak RT," jawabku asal. Biar saja! Biar perempuan itu kena batunya. Aku kerjain sekalian.

"Itu sudah pasti, 'kan, Bu?" tanya Pak RT memastikan lagi.

"Sila Pak RT hitung sendiri! Biar saya sebutin, nampan bagus jadi penyok, ayam seekor, kacang panjang dua kilo," beberku sambil mengesat air mata.

"Iya-iya. Bu Ida! Tolong bantu Bu Say ini masuk!" titah Pak RT.

Kemudian dia pergi bersama Bu Rika meninggalkanku. Bu Ida memapahku ke rumah. Sebentar aku menyempatkan diri mengusir orang yang masih saja berkerumun.

"Udah bubar sana!" usirku secara kasar.

"Huh!" sorak mereka serempak.

Tiba-tiba terdengar sesuatu yang terhempas dari arah dalam rumah. Bu Ida memandangiku. Aku pun kaget, apa jangan-jangan ada maling?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 11 lainnya memberi reputasi
Chapter 7


POV DEWI

--------------------------------

Tiba-tiba terdengar suara gedoran di daun pintu kontrakan ini. Aku berjingkat kaget, serempak kami menatap ke arah pintu. Aku segera masuk ke kamar untuk bersembunyi. Sungguh aku tak ingin berhadapan dengan Bu Sayem. Pasti akan gawat sekali kalau sudah sampai menyusul ke sini.

"Mas, coba tolong intip!" pintuku berbisik-bisik.

Mas Jono tampak kebingungan, dia malah mengernyitkan dahi seraya menggerakkan kepalanya ke atas. Sebagai bentuk pertanyaan untuk apa.

"Mas, coba intip! Kalo itu Bu Sayem jangan dibuka," kataku mewanti-wanti Mas Jono.

Dengan polosnya, Mas Jono malah membuka pintu depan lebar-lebar. Sontak aku menutup pintu kamar dan kukunci. Argh, Mas Jono kenapa, sih, polos sekali. Aku sudah bilang cukup mengintip, malah dia membuka pintunya.

"Assalamu'alaikum!" ucap seorang lelaki. Ya, suara lelaki yang berada di luar sana.

Apa jangan-jangan itu suaminya Bu Sayem? Jangan-jangan Bu Sayem mengutus suaminya untuk membalaskan perbuatanku tadi. Wah, Bu Sayem benar-benar mengerikan ternyata. Jangan-jangan suami Bu Sayem mau melabrak suamiku? Wah, bisa gawat ini kalau sampai bertengkar. Mas Jono, 'kan, sangat lembut. Bagaimana bisa dia nanti melawan suami Bu Sayem?

"Eh, Pak RT," ucap Mas Jono.

Aku sampai menempelkan daun telingaku ke pintu. Semakin kuat saja degub jantungku. Bu Sayem bahkan sampai mengutus Pak RT ke rumahku. Kalau sudah sampai ke telinga Pak RT, bisa-bisa aku dan Mas Jono kena kartu merah dan bisa saja dikeluarkan dari kampung ini karena dicap sebagai warga baru yang berani membuat onar.

"Silakan masuk, Pak!" suruh Mas Jono. Memang suamiku itu ramah sekali.

"Begini, Pak. Sebagai petinggi di desa ini, saya berharap agar semua warga bisa akur dan damai. Tentu semua orang menginginkan hal itu. Barusan saya menerima kabar bahwa istri Bapak dan Bu Say terlibat cekcok yang membuat Bu Say mengalami kerugian. Bu Say menangis di depan saya dan semua orang," ungkap Pak RT terdengar bijaksana.

Aku mau mual mendengar panggilan Bu Say. Belum lagi yang tadi di rumahnya ada yang memanggilnya "Say". Pasti itu bukan panggilan sayang. Aku jadi tidak suka dengan Bu Sayem.

"Saya mohon maaf atas kesalahpahaman ini, Pak. Kira-kira berapa kerugian yang harus saya ganti?" tanya Mas Jono lugu. Aku masih menguping di balik pintu kamar.

"Menurut perkiraan Bu Say, RP100.000,00, Pak. Berikut rinciannya," jawab Pak RT.

Aku membelalak mendengar penyebutan nominal keruguan. Aku tak bisa terima. Bagaimana bisa kerugiannya sebesar itu? Kubuka paksa pintu kamar dan mereka menatapku saat bobot ini muncul. Oh, Pak RT datang bersama perempuan yang tadi ikut menimpali soal bakwan basi itu. Kurampas secarik kertas dari tangan Mas Jono.

Aku menggeleng seraya membacanya. "Apa-apaan ini, Pak? Ini enggak bener," protesku tegas.

"Loh, inilah yang dikatakan Bu Say, Bu. Ini ada saksinya," tunjuk Pak RT pada perempuan bahenol yang duduk di sampingnya. Dia mesam-mesem pada Pak RT dan suamiku.

"Jelas-jelas saya yang dirugikan, Pak," sahutku sambil duduk di samping Mbak Roro. Kakak iparku mengusap punggung ini, mungkin dia memintaku untuk bersabar.

"Dirugikan bagaimana, Bu?" tanya Pak RT serius.

"Saya beli bakwan, tapi dikasih bakwan kemarin yang udah berlendir. Ini udah ke tujuh kalinya, loh, Pak. Saya rasa Bu Sayem itu terus menjual gorengan basi karena enggak ada yang berani menegurnya. Harusnya Pak RT menegurnya, dong! ... atau minimal tanya dulu apa sebab saya dan Bu Sayem bertengkar," ocehku kesal.

"Lah, kamu tadi, 'kan, langsung kabur, Dew," bisik Mbak Roro padaku.

Iya, sih. Ya, habis mau bagaimana lagi. Aku takut kalau yang datang itu Bu Sayem. Lagian Pak RT mengetuk pintu dengan cara menggedor, sih.

"Tanya aja sama Ibu yang di samping Bapak! Ibu ini juga korban bakwan kemarin, kok," tunjukku pada perempuan yang sepert cacing kepanasan, matanya terus melirik dua lelaki di sini secara bergantian.

"Apa bener begitu, Bu Rika?" tanya Pak RT, dan perempuan baru kuketahui namanya itu berjingkat kaget, lalu tersenyum salah tingkah.

Ada yang aneh dengan Bu Rika ini!

"Eh, iya, Pak. Saya udah dua kali dapet yang basi," jawabnya sedikit ragu.

Pak RT manggut-manggut.

"Masalah ganti rugi ini, ya, Pak. Saya jelasin. Saya dilempar uang, jelas saya marah karena merasa dihina. Lalu, yang memulai melempar dengan dagangan juga Bu Sayem. Saya bales menyabetnya dengan kacang panjang yang dia lemparkan ke saya. Ya, saya enggak tau kalo mukanya tajem sampe kacang panjang itu rusak," jelasku. Aku menghela napas sejenak.

"Lalu, saya ditimpuk nampan juga, syukurnya enggak kena dan saya bales, ternyata kepala Bu Sayem sekeras batu sampe namlan itu bisa penyok. Saya juga ditimpuk ayam. Sudah jelasn, 'kan, kalo ini bukan kesalahan saya sepenuhnya, Pak?" Aku meletakkan kertas itu ke meja.

Pak RT tampak kebingungan. Dia memelintir-pelintir ujung kumisnya yang tebal. "Bagaimana kalo kerugiannya dibagi dua saja, Bu?" Pak RT melah bernegosiasi.

Aku mengibaskan tangan. "Enggak, Pak! Saya merasa enggak melakukan itu. Saya hanya membela diri." Aku berucap tegas. "Bu Sayemlah yang mengacak-acak barang sagangannya sendiri." Aku menambahkan.

"Mbak, lebih baik bayar setengahnya aja daripada nanti tambah panjang masalah ini. Mbak enggak kenal Bu Sayem, sih. Dia itu mengerikan, Mbak." Bu Rika menimpali dengan suara yang mendayu-dayu.

Siapa yang takut? Siapa yang peduli dia mengerikan atau tidak? Yang terpenting aku tidak mau keluar uang seperak pun untuk itu. Aku tak sudi. Sudah kukorbankan uang beli bakwan dan gula serta lainnya hari ini. Kurasa itu cukup.

"Dewi, udah berikan aja! Hitung-hitung sedekah," ujar Mbak Roro mengusulkan. Aku melotot sambil menggeleng, menolak usulan itu.

"Tapi, Bu Dewi, ini demi kebaikan dan keselamatan Ibu sekeluarga, loh," timpal Bu Rika.

"Enggak, Pak RT dan Bu Rika. Kebaikan dan keselamatan keluarga saya ada di tangan Allah," tukasku tegas. Aku melipat tangan ke dada dan memalingkan pandamgan. Aku tidak akan berdamai dengan orang seperti Bu Sayem.

Mbak Roro dan Mas Jono tidak bisa lagi membujukku. Mereka sudah sangat mengenal karakterku seperti apa. Pak RT dan Bu Rika saling pandang, lalu melemparkan tatapan ke Mas Jono. Dari tatapan itu aku bisa membaca bahwa mereka merayu Mas Jono dalam hening.

"Mas Jono, jangan!" sergahku pada Mas Jono yang mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan akan memberikannya pada Pak RT.

Semuanya menatap ke arahku saat aku mengambil uang itu dari tangan Mas Jono. "Tidak ada ganti rugi!" tegasku sekali lagi. Aku menyebut kalimat itu dengan mengejanya per huruf.

"Hmm, ya, sudah. Saya pamit pulang kalo gitu Pak Jono," kata Pak RT. Sorot matanya mengatakan bahwa dia menyerah padaku.

Kulihat Bu Rika berjalan menyerempet-serempet Pak RT dan lelaki itu seperti senang diperlakukan begitu oleh Bu Rika. Aku bergidik geli melihatnya. Segera aku masuk dan menutup pintu. Aku meninggalkan Mas Jono dan Mbak Roro ke kamar.

"Cari uang susah, Mas. Apalagi sekarang Mas lagi enggak punya kerjaan. Jangan hamburkan uang untuk tipe orang seperti Bu Sayem. Dia tipe orang yang melunjak," pesanku pada Mas Jono sebelum menutup pintu.

"Jon, kamu?" Kudengar Mbak Roro menananyakan hal itu.

Sepuluh menit berlalu. Terdengar kembali ketukan pintu. Kali ini diiringi oleh suara seram yang membahana. Kami kaget serumah, bahkan Yumna sampai menangis.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
Chapter 8


POV BU SAYEM

-------------------------------

Tiba-tiba terdengar sesuatu yang terhempas dari arah dalam rumah. Bu Ida memandangiku. Aku pun kaget, apa jangan-jangan ada maling?

"Siapa itu, Bu Sayem?" tanya Bu Ida. Aku mengendikkan bahu.

"Say! Oh, Say! Tolongin aku, Say! Aku udah selesai dari tadi pup-nya," teriak Mas Boyo.

Astaga aku sampai lupa kalau Mas Boyo sedang buang air di kamar mandi. Aku menepuk dahi pelan. Bu Ida menatapku sambil tertawa. Aku mencebik.

"Panggilannya Mas Boyo sungguh mesra, ya, Bu Sayem," celetuk Bu Ida sambil menyunggingkan senyum.

Ah, aku tahu dia meledekku.

"Say, Say, Sayem," lanjut Bu Ida sambil tertawa. Aku memiringkan mulut membalasnya.

"Yang penting mesra, toh, Bu Ida," selaku sambil mencebik.

"Mesra, Bu. Ya, udah. Aku pamit, Bu Sayem. Bu Sayem mau ngurusi burung perkutut, 'kan?" Bu Ida semakin kegirangan saja meledekku.

Dia mendekatkan bibirnya yang seksi itu ke daun telingaku. "Awas burungnya frustasi karena enggak pernah masuk sarang lagi, loh, Bu," bisiknya. Masih lanjut mengejekku.

"Ah, udah-udah. Sana pulang!" usirku pada Bu Ida.

"Say, buruan!" teriak Mas Boyo lagi.

"Iya, sabar, Mas Boy!" balasku berteriak pula.

Setelah selesai mengurusi Mas Boyo, aku pun menyuapinya. Lelaki yang dulu yang sangat bekerja keras mencari nafkah untukku dan anak-anak, kini hanya bisa tergeletak dan duduk. Tangannya tak kuat, meski hanya mengangkat sendok.

Mas Boyo terbatuk. Kubantu dia memegangi gelas. Diteguknya air bening hangat itu hingga tersisa setengah.

"Pelan-pelan makannya, Mas Boy!" seruku mengingatkannya. Kubersihkan sudut bibir Mas Boyo yang belepotan bumbu semur tahu.

"Makasih, Say. Kamu masih aja manis memperlakukan aku. Padahal aku udah enggak bisa ngasih apa-apa ke kamu," ungkap Mas Boyo sedih.

"Mas Boy, meski kamu begini ... kamu juga suamiku." Aku mengulas senyum.

Bagaimanapun keadaan Mas Boyo, aku tetap menyayanginya. Memang mulutku sangat kasar, kalau berbicara padanya sering berteriak, tetapi hatiku selalu luluh setiap kali melihat wajah kuyu di hadapanku ini.

"Mana ada lelaki lain yang mau nerima kekuranganku, Mas Boy. Cuma kamu seorang yang menerima paket lengkapku yang banyak minusnya ini," lanjutku sambil tersipu malu.

"Karena aku tergila-gila dengan kecantikanmu semasa muda dulu, Say," balas Mas Boyo yang semakin membuatku malu.

Hati yang tadi meledak-ledak, bisa damai kembali karena rayuan gombal penuh tipu daya yang keluar dari Mas Boyo.

"Kalo sekarang kamu tergila-gila dengan apaku, Mas Boy?" tanyaku penasaran.

"Aku bisa gila beneran karena sekarang kamu rajin ngomel, Say. Jangan marah-marah terus, ya!" Mas Boyo mengerlingkan matanya. Aku mengangguk lambat.

Aku mengesat mulutnya setelah dia makan. Kurapikan rambutnya dengan sisir berwarna hitam. Surainya sudah mulai panjang. Kupotongi kuku-kuku tangan da kakinya yang sudah mulai panjang.

"Kudengar tadi kamu berantem lagi, Say?" tanya Mas Boyo sambil menatapku hangat. Mata sayu itu masih menggambarkan sayang dan cinta yang besar untukku.

"Iya, Mas Boy. Aku kesel. Aku rugi," jawabku pelan.

"Assalamu'alaikum!" ucap Pak RT dari luar.

"Sebentar, ya, Mas Boy," kataku lembut.

Aku segera melangkah menghampiri Pak RT di depan. Bu Rika masih saja mengekori Pak RT sampai sini. Kalau saja sampai ketahuan Bu RT, bisa habis si Bu Rika kena damprat.

"Gimana, Pak?" tanyaku agak santai. Tak kupersilakan mereka duduk, tetapi mereka sudah duduk lebih dulu.

Pak RT menggeleng. "Ini, saya aja yang menggantinya, Bu Say," kata Pak RT sambil menyodorkan uamg lima puluh ribu.

Aku membelalak.

"Berdasarkan perhitungan yang aktual dan sangat teliti, kerugian Bu Say hanya mencapai lima puluh ribu saja, karena Bu Say pun turut merusak dan mengobrak-abrik dagangan Bu Say sendiri," terang Pak RT sangat berhati-hati.

Api amarah yang tadi audah berhasil dipadamkan oleh Mas Boyo kembali berkobar. Rupanya perempuan itu tidak mau berdamai denganku, ya? Baiklah, akan kutunjukkan siapa diriku sebenarnya. Tanpa aba-aba dan permisi, aku langsung pergi meninggalkan rumah.

"Bu Say!"

"Bu Sayem!"

Pak RT dan Bu Rika memanggilku secara bersamaan. Aku tak peduli. Semakin kupercepat langkahku. Biar segera sampai, aku pun berlari. Rumah berwarna hijau pandan sudah berada di depanku. Kukepalkan tangan montok ini dan memukul daun pintu berwarna putih dengan sekuat tenaga.

"Hei! Buka pintunya! Kamu mau coba-coba sama aku, ya? Ayo, sekarang keluar dan hadapi aku! Kita main tangan kosong," teriakku seraya berkacak pinggang.

Pintu itu masih belum terbuka, aku menggedornya sekali lagi. Kudengar suara kenop pintu dan anak kunci yang diputar berkali-kali. Aku sadar kalau tetangga di sini sudah mulai keluar untuk bersiap-siap menonton drama. Hingga yang ketiga kalinya, daun pintu di hadapanku pun terbuka.

Seorang perempuan dengan mata kecil, hidung minimalis, alis tebal dan kerudung hitam instan berdiri di ambang pintu. Apa aku salah rumah? Masa perempuan itu bisa berubah wujud menjadi orang lain.

"Ada apa, ya, Bu?" tanya perempuan di depanku sangat lembut.

"Mana perempuan itu? Mana? Hah?" cecarku tak sabar.

Pak RT dan Bu Rika tiba dengan napas yang terengah-engah. Pak RT memintaku untuk pulang saja, langsung kutolak mentah-mentah.

"Bu Rika! Bener ini rumahnya?" tanyaku memastikan. Suaraku tinggi sekali, kusadari itu.

Pak RT menatap Bu Rika dan menggeleng. Aku tahu maksudnya apa, pasti Pak RT melarang Bu Rika jujur. Dari situ aku sudah tahu kalau ini benar rumahnya.

"Hei, perempuan yang merusak image-ku, keluar!" pekikku sambil mengedarkan pandangan.

Bu Rika dan Pak RT menarik tanganku. Aku memberontak. Bisik-bisik tetangga sudah mulai terdengar. Perempuam di hadapanku masih mematung di ambang pintu, dia pasti sengaja berdiri di situ agar aku tidak masuk ke rumah.

"Mbak, tolong geser!" pintaku tegas pada perempuan yang masih saja mematung di depanku. Dia bergeming.

"Bu Say! Udahlah! Mari kita pulang," kata Pak RT seraya menarik tanganku.

"Enggak bisa. Ini harus segera diselesaikan. Dia harus ganti kerugian yang saya alami. Dia pikir ganpang apa nyari uang? Hmm?" tanyaku mengomel pada Pak RT dengan suara yang tinggi.

Tiba-tiba sesuatu yang ringan menabrak wajahku. Kertas berwarna merah yang diremas berbentuk bola. Aku membungkuk dan memungutnya.

"Ambil, tuh! Cepet pergi dari sini! Mengganggu ketenangan orang," murkanya padaku. Perempuan yang tadi kulempar dengan uang sepuluh ribu membalasku dengan uang seratus ribu.

"Dasar enggak punya aturan! Enggak punya akhlak! Enggak sopan!" hardikku sebal.

"Udah, udah, sana! Jangan lagi muncul di sini, masalah udah selesai!" usirnya kasar padaku.

"Awas kamu, ya! Kalo lewat depan warungku, hmmm, abis kamu," ancamku seraya mengulek kepalan tangan ke dalam telapak.

Brak!

Aku terkejut karena perempuan itu menghempaskan pintu di depanku. Benar-benar keterlaluan! Akhirnya aku memilih pulng setelah mendapatkan uang. Lumayan kupikir untuk belanja besok.

"Aku akan buat dia enggak tenang di sini," omelku sepanjang jalan.

"Bu Say! Udahlah, jangan diperpanjang lagi. Apa yang Ibu udah Ibu dapetin. Selesai sudah sampe di sini, Bu Say," cetus Pak RT.

"Au, ah!" balasku ketus sambil berlalu ke rumah.

Aku mendapati mata dan wajah Mas Boyo basah saat aku tiba di ruang tengah.

"Kenapa, Mas Boy?" tanyaku penasaran seraya merapikan uang seratus ribu tadi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
Chapter 9


POV BU SAYEM

-------------------------------------------

Aku mendapati mata dan wajah Mas Boyo basah saat aku tiba di ruang tengah.

"Kenapa, Mas Boy?" tanyaku penasaran seraya merapikan uang seratus ribu tadi.

"Kenapa kamu masih aja berantem, Say. Tadi, 'kan, udah janji enggak mau ribut-ribut lagi," jawab Mas Boyo sedih.

Aku bergeming. Selembar uang seratus ribu tadi kugenggam di kedua tanganku. Manik mataku fokus menatap ujung kaki yang sedikit kotor karena tadi berjalan ke rumah Dewi dengan bertelanjang kaki.

"Mas Boy, kamu enggak paham, Mas. Warungku diobrak-abrik, kalo aku enggak minta ganti rugi ... modal buat tambahan belanja apa, Mas? Aden beberapa bulan belakangan enggak ngirim untuk berobat kamu. Amir juga gitu. Kerja di luar kota tetep aja buat mereka enggak kaya, Mas. Malah kadang-kadang minta beliin pulsa sama aku. Belum lagi Arin, anak gadis semata wayang kita itu sekarang udah pinter gaya, Mas. Padahal masih SD. Aku pusing," sungutku. Akumengerucutkan bibirku yang sedikit tebal.

Mas Boyo sepertinya merasa pilu mendengar curahan hati istri tercintanya ini. "Maafin aku, ya, Say. Gara-gara aku lumpuh, aku jadi enggak bisa nafkahin kamu, Say. Aku bener-bener enggak berguna jadi suami. Harusnya aku yang berjuang memberimu uang, makan, dan segalanya, tapi selama beberapa tahun ini ... malah kamu yang berperan menjadi istri sekaligus suami di rumah ini. Aku bener-bener enggak guna, Say. Aku enggak layak dipanggil suami, disebut ayah. Kaki dan tangan ini? Kenapa harus seperti ini, kenapa? Selama ini aku ikhlas nerima, tapi setiap kali melihatmu kelelahan dari jam tiga pagi sampe larut malam masih berkutik dengan aktifitas rumah, aku jadi merasa bersalah, Say. Aku kecewa sama diriku sendiri. Argghh! Aku cuma benalu untukmu dan anak-anak." Mas Boyo merutuki nasibnya seraya menangis.

Aku lantas mendekap suamiku erat. "Udahlah, Mas. Toh, aku enggak ngeluh dengan keadaanmu yang seperti ini. Aku akan berjuang untuk hidup kita, Mas Boy. Kamu jangan lagi nyalahin dirimu, ya. Aku enggak apa-apa, Mas Boy tersayang," ujarku untuk menenangkan hati suamiku.

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Mas Boyo sedang tertidur setelah aku memijat punggungnya yang tiba-tiba kram. Aku duduk termenung di bawah pohon jambu air, tepat di depan warung. Angin sepoi menyapu wajahku lembut. Rasanya mengantuk juga. Beberapa bunga bakal jambu gugur karena terpaan angin.

Siang ini warungku terlihat sepi. Aku lebih banyak duduk termenung daripada hari biasanya. Mendadak ponsel pintarku berdering sebentar. Pesan masuk dari salah satu anakku.

[Ma, aku udah transfer Rp350.000,00, ya.] Aden.

Aden adalah putra sulungku, usianya sudah 28 tahun. Usiaku sekarang 44 tahun. Putra keduaku berusia 25 tahun bernama Amir, dan anak bungsuku adalah Arin, berusia 12 tahun.

Aku tersenyum semringah membaca pesan dari Aden. Seketika rasa galauku menghambus jauh. Rencananya aku akan menambah isian warung dan juga membeli vitamin untuk Mas Boyo.

"Ma, masak apa?" tanya Arin setengah berteriak. Gadis kecil itu bahkan masih berada dua meter dari posisi dudukku. Sebal aku. Selalu saja bertanya saat masih berada jauh dariku.

"Teriak-teriak di jalan. Dateng ke sini ... deketin Mama, baru nanya masak apa," omelku pada putri bungsuku. Padahal baru saja aku tersenyum bahagia.

Arin pun mendekat ke arahku, gadis cilik itu duduk di kursi seberang meja. Kepalanya dia baringkan ke atas meja. Matanya fokus menatap wajahku yang berubah masam.

"Ma, masak apa?" tanya Arin pelan.

"Nah, begitu. Kalo ngomong sama orang tua, datengin, bukan tereakan di jalan," omelku lagi.

"Ma, aku laper," keluh Arin sambil mengetuk-ketuk meja kayu dengan ujung jari telunjuknya.

"Laper-laper, pergi dari pagi ... jam segini baru pulang. Pulang-pulang ngeluh laper, pas main di luar tadi, emang enggak kelaperan?" Aku melotot sambil merepet pada anak bungsuku yang kelihatannya mulai puber.

Arin memonyongkan bibirnya. "Aku abis belajar kelompok, Ma. Ya, tadi di sana aku jajan," jawab Arin, kudengar nadanya kesal.

"Kalo mau makan liat ke dapur. Jangan nanya mulu." Aku masih saja berkicau.

"Mama marah terus, sih, Ma," sungut Arin sambil bangkit.

"Jangan diabisin lauknya, sekalian untuk malem itu, kalo bisa untuk sarapan besok," tambahku sedikit Cumiik setelah Arin menjauh.

Aku kembali melamun sambil bertopang dagu. Pikiranku melayang-layang kemana saja yang aku inginkan. Saat ini aku membayangkan diriku menjadi orang kaya dan Mas Boyo sembuh.

"Say, kamu makin ke sini makin cantik, Say. Aku jadi pengen cubit pipimu yang bulet, Say," goda Mas Boyo seraya mengusap lembut pipiku.

Aku yang dengan polesan lipstik merah cabe pun tersipu malu. "Ah, Mas Boy bisa aja gombalnya," sahutku sembari menepuk-tepuk manja dada bidang Mas Boyo.

"Lanjut ke kamar, yuk, Say!" ajak Mas Boyo sambil mengerlingkan mata padaku.

Aku mengangguk malu. Aku tahu dia mau apa. "Gendong, Mas," rengekku sambil mengangkat sepasang tangan ke arah Mas Boyo.

Mas Boyo tak menolak, dia lantas menggendongku. Tiba-tiba Mas Boyo tak sengaja melepaskan tubuhku hingga terhempas ke lantai. Mas Boyo terserang encok dadakan.

"Sakit, Mas Boy, ahhhh!"

Mendadak terdengar tawa tiga orang dan itu membuat lamunanku buyar. Aku mengernyitkan dahi saat melihat Bu Rika, Bu Ida dan Bu Suri duduk dengan pose yang sama, bertopang dagu.

"Bu Sayem lagi ngelamun jorok, ya?" celetuk Bu Rika bercanda.

Aku tersipu malu. "Enggak. Fitnah kamu, Bu Rika," kataku sambil mengayunkan tangan di depan wajah Bu Rika.

"Orang kita denger Bu Sayem bilang, 'Sakit Mas Boy, ahhhh!', ya, kan, Bu-ibu?" ledek Bu Suri sambil meringis lucu.

"Hahha, harus maklum! Wajar kalo Bu Sayem melamun ke arah sana. Kita, 'kan, pada tau keadaan Bu Sayem," timpal Bu Ida sambil mendorong mangkok dengan kedua tangannya.

"Ayo, makan rujak siang-siang gini enak, loh," lanjut Bu Ida lagi. Dia mengambil sepotong bengkoang dan dicocolkan ke bumbu rujak yang masih ditatap saja sudah pedas.

Aku mendesis. "Kalian itu jangan buruk sangka sama aku. Aku itu udah enggak kepikiran enak-enak di atas ranjang. Mas Boy masih hidup dan selalu jadi temen ceritaku aja, aku idah syukur. Ya, mudah-mudahan bisa sembuh," omelku pada mereka bertiga yang sudah mulai menikmati rujak.

"Aamiin," sahut ketiganya serempak.

"Makanya banyak-banyak sedekah, Bu Sayem," celetuk Bu Rika.

Gemas. Kuambil sepotong jambu air, lalu kulempar ke badannya. Bu Rika berjingkat kaget sambil refleks menangkap potongan buah tadi. Kemudian, dia mencocolnya ke bumbu rujak.

"Tuh, buang-buang makanan," lanjut Bu Rika lagi meledekku.

"Lah, buangnya ke mulutmu, Bu. Lagi pula, ngutangi kamu dan yang lainnya ... apa itu enggak masuk sedekah. Kadang-kadang juga kukasih bakwan atau tempe atau pisang goreng," repetku sambil memungut satu potong buah secara asal.

"Ya, ngasih bakwannya juga bakwan kemarin, Bu. Semuanya yang dikasih yang udah diangetin. Kurang pol sedekahnya," sahut Bu Rika lagi.

Geram aku. Ingin rasanya kuremas mulutnya yang panjang itu. Sementara kupandangi Bu Suri dan Bu Ida sibuk bercerita sendiri. Aku jadi penasaran saat mereka terlihat sangat serius.

"Lagi ngomongin apa, sih, Bu Suri dan Bu Ida?" tanyaku penasaran seraya mengunyah nanas yang rasanya asam sekali. Kayak hidup.

"Hu'um. Ngomong, kok, bisik-bisik," timpal Bu Rika dengan mulut yang penuh makanan.

"Ini, loh, ada gosip baru dari si Enur sama Mbak Dewi yang ribut sama Bu Sayem perihal bakwan basi itu, loh," bisik Bu Suri sangat serius.

Aku tersinggung sekali kalau bakwanku dikatain basi. Aku mengibaskan tangan ke wajah Bu Suri.

"Jangan bilang basi kalo masih bisa dimakan, Bu," bantahku dengan nada sinis.

"Kalo udah berlendir, ya, basi, Bu Sayem," sahut Bu Rika mengejek.

"Bu Rika ini nyaut aja kalo ada orang ngomong," kataku sebal. "Ngomong-ngomong, apa gosipnya, Bu?" tanyaku penasaran pada Bu Ida dan Bu Suri.

Bumbu rujak yang membalut potongan buah pepaya di tanganku meleleh dan jatuh kembali ke meja. Aku sangat tertarik dengan gosip kali ini. Sampai berkali-kali menelan saliva saat nama Dewi disebut.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 12 lainnya memberi reputasi
Chapter 10


POV BU SAYEM

------------------------------------------------

Bumbu rujak yang membalut potongan buah pepaya di tanganku meleleh dan jatuh kembali ke meja. Aku sangat tertarik dengan gosip kali ini. Sampai berkali-kali menelan saliva saat nama Dewi disebut.

"Jadi, kabar Bu Sayem sama Mbak Dewi yang berantem itu udah kesebar sampe ke kampung sebelah, tempat Mbak Dewi itu tinggal dulu. Kebetulan aku punya temen di sana. Denger-denger, sih, Dewi dulu itu biduan gitu. Tau sendiri, 'kan, kalo biduan di kampung kita dan kampung sebelah itu kayak mana? Kalo enggak goyang sampe ngesot-ngesot enggak dapet saweran," ujar Bu Ida lirih. Kepala kami berempat saling mendekat.

Aku mencebik. "Gayanya, sok, banget. Angkuh, taunya cuma seorang biduan. Euh," sahutku mengejek Dewi yang sudah memitnah bakwanku.

"Tuh, makanya kadang penampilan itu enggak selalu bisa gambarin jati diri yang sebenernya. Percuma kerudungan kalo nyatanya dulu nyebur ke limbah juga," lanjutku lagi. Aku bahagia sekali kalau sudah bergosip tentang orang yang tidak kusukai.

"Hush! Itu, 'kan, dulu, Bu-ibu. Bisa aja sekarang Mbak Dewi udah enggak konser lagi. Lagi pula, kerudungannya jangan disebut-sebut, Bu," sahut Bu Rika yang terkesan membela. Dia asyik menyantap rujak itu sendiri. Memang dasar tembolok burung dia. Aku yakin dia tidak masak di rumah, makanya jadi rakus seperti ini.

"Eh, Bu Rika. Kamu jangan sok tau. Bisa aja sekarang dia masih nyanyi, cuma enggak di kampung ini. Lagian, Bu Rika enggak pake kerudung kenapa sok-sokan belain dia," timpalku kesal pada Bu Rika. Ingin rasanya dia kusuruh pulang saja.

"Lah, Bu Sayem pake kerudung, harusnya belain Mbak Dewi, dong," oceh Bu Rika lagi. Dia tampak santai sekali. "Aku utang minuman dingin, ya, Bu Sayem?" tanyanya sambil bangkit.

"Eh, eh. Enggak boleh utang lagi!" sergahku cepat. "Lagi pula, aku musihan sama Dewi, ngapain aku bela-belain dia. Justru bahagia kalo denger aibnya," gumamku sambil meringis senang.

"Ambil aja, Bu Rika! Nanti aku yang bayar." Bu Ida tersenyum manis.

"Dih, Bu Ida. Nanti ngelunjak, loh," selaku sambil melirik ke Bu Rika yang berjalan mendekati kulkas.

"Bagaimanapun Bu Rika temen kita mendulang dosa di meja ini, Bu." Bu Ida tertawa geli. "Kasian dia, hari ini enggak masak. Anaknya pada rewel tadi kudenger," lanjut Bu Ida menambahkan dengan mimik muka yang sedih.

Mendulang dosa? Hahahha. Benar adanya, kami memang selalu begosip di atas meja ini. Siapa pun yang asyik untuk dibicarakan, maka kami bicarakan. Tak peduli apa hubungannya dengan kami, yang penting kami puas dna bahagia hari ini.

"Terus-terus?" tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan tentang Bu Rika.

"Terus, suaminya Mbak Dewi baru aja dipecat, loh, Bu Sayem." Kali ini Bu Suri yang mengatakan. Aku membelalak mendengarnya.

"Serius?" Aku kemudian tertawa terbahak-bahak. "Gayanya selangit, uang sepuluh ribu ditolak. Besok gigit jari sampe kenyang itu," ejekku. Hatiku benar-benar bahagia.

"Tapi, kasian, Bu Sayem. Soalnya Mbak Dewi masih punya bayi," kata Bu Suri terdengar sedih.

"Yang penting Mbak Dewi itu masih punya suami yang sehat dan ganteng, loh, Bu-ibu," timpal Bu Rika setelah menyeruput air mineral dingin. "Bu Ida, aku ambil ini," tunjukknya pada botol bening berembun ke Bu Ida.

Perempuan cantik dengan make up tipis dan lipstik merah nomor 1 itu mengangguk. Bu Ida memang baik sekali. Bukan hanya pada Bu Rika. Bu Ida juga pernah membantuku saat aku kekurangan uang untuk membayar sekolah Arin. Bu Ida itu janda tak memiliki anak. Bahkan pernikahan sirinya dengan orang ternama dari kota pun belum membuahkan hasil.

"Heleh, kamu kalo ngeliat suami orang ... matamu itu selalu cerah dan besar, Bu Rika. Emangnya cintamu ke Pak RT udah luntur?" tanyaku dengan tatapan sinis.

"Maklumlah, Bu. Janda, enggak ada yang nafkahi, enggak ada yang nyayangin. Lagi pula zaman sekarang ini suami orang itu lebih menarik dan indah, Bu. Lebih menggoda dan buat geregetan atas bawah," jelas Bu Rika sambil tertawa.

"Aku yakin, bentar lagi pasti Dewi itu bakal ngutang ke sini. Aku enggak bakalan kasih. Biar rasa dia! Aku pengen liat dia mohon-mohon biar bisa dapet tempe sepapan dan beras segenggeman," ujarku snagat angkuh. Aku bahagia sekali membayangkan wajah Dewi mengiba dan memohon di hadapanku. Aku akan menunggunya datang.

"Kalo si Enur gimana?" tanyaku penasaran juga.

Omong-omong soal Enur, gadis berusia 25 tahun itu pernah ditaksir oleh Aden anakku. Bahkan kami sempat melamarnya ke sana, tetapi dia menolak. Aku jadi teringat malam kedatangan kami, 4 tahun lalu sebelum Mas Boyo lumpuh.

"Enur, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk melamarmu, anak saya Aden terpikat sama kamu. Apa kamu mau jadi istri anak sulung saya?" tanyaku sangat lembut.

"Gimana, Nur?" tanya ibunya Enur. Aku bisa mendengarnya.

Enur menggeleng. "Kenapa, Nur?" tanyaku penasaran.

"Saya enggak mau, dan saya menolak cintanya. Aden itu ... enggak ada yang bisa dibanggain darinya. Saya maunya yang ganteng, banyak duit, dan enggak pelit kayak Aden," ungkap Enur sangat kasar.

Naik pitam aku mendengar penuturan Enur. "Hei, Enur! Kamu orang susah jangan belagu! Kalo Aden miskin, toh, bapaknya kaya, punya uang banyak dan kerjaannya lumayan. Sombong banget kamu, Nur. Saya do'ain kamu enggak laku," murkaku seraya berkacak pinggang.

Aku lantas mengajak Mas Boyo dan Aden pulang. Jengah aku melihat perempuan itu dan duduk di dalam rumahnya yang sempit pun membuatku sesak napas. Syukurlah Aden ditolak, jika tidak, aku tak menjamin anak sulungku akan bahagia.

"Mama!" panggil Arin. Aku tersentak, gadis kecilku sudah memeluk Al-qur'an, itu artinya sudah sore.

"Bu Sayem, kita balik dulu, lanjut besok lagi," kata Bu Ida. Dia menyodorkan uang untuk membayar jajanan mereka.

"Besok lanjut si Enur, ya!" teriakku sambil membuat teropong di mulut dengan tangan.

"Mama, aku mau ngaji," kata Arin merengek.

"Lah, ngaji sana. Apa mau dianter?" ketusku sambil bangkit dan berjalan ke dalam rumah. Arin mengekoriku dan kudengar ocehannya pilu.

"Ma, uang ngaji," katanya lagi seraya mengulurkan telapak tangan kanan.

"Uang ngaji mulu. Ngaji enggak bener, udah dua bulan masih aja juz 1. Bilang sama guru ngajinya, jangan duit terus. Ajarin yang bener," omelku sambil membantu Mas Boyo duduk. Waktunya dia mandi.

"Ma, udah mau masuk bulan ke dua belum bayar ngaji," rengek Arin lagi.

"Say, mungkin anak kita yang ngajinya memang kurang serius, makanya mandek di juz 1 terus. Jadi, baiknya jangan nyalahin gurunya," sahut Mas Boyo menimpali.

"Heleh, Mas Boy, ini. Semuanya aja dibelain," kesalku.

"Ma, aku berangkat. Assalamu'alaikum!" ucapnya sambil menunjukkan uang seratus ribu lecek yang tadi dari Dewi. Ya, aku meletaknya di dekat TV. Gadis kecil itu sudah berlari tunggang langgang.

"Arin! Balikin!" pekikku.

Tiba-tiba napas Mas Boyo tersengal seraya memegang dadanya. Aku jadi panik. Aku kembali membaringkan tubuhnya ke kasur.

"Mas Boy! Kenapa?" tanyaku khawatir.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 12 lainnya memberi reputasi
Kocak anjiirr ceritanya. Gak sabar nunggu update berikutnya emoticon-Wakaka
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Baca tp berasa jadi warga disana.. emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
rinandya dan indrag057 memberi reputasi
Harusnya judul thread ini : Keluarga bahagiaemoticon-Leh Uga
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Baca thread ini jadi keinget Bu Tedjo sumpah emoticon-Ngakak
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Bu Sayem cocotnya mantap bener. Urusan gosip nomor satu
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Chapter 11


POV BU SAYEM

-----------------------------------------

Tiba-tiba napas Mas Boyo tersengal seraya memegang dadanya. Aku jadi panik. Aku kembali membaringkan tubuhnya ke kasur.

"Mas Boy! Kenapa?" tanyaku khawatir. Aku menggoyang badan Mas Boyo.

"Mas, jangan sampe kenapa-kenapa, dong, Mas!" rengekku.

Jujur saja, aku tak pernah ingin kehilangan Mas Boyo. Dia adalah lelaki terbaik yang kumiliki sepanjang hidupku. Seorang ayah yang bertanggung jawab untuk anak-anak kami. Sementara aku dulu tak memiliki sosok ayah sama sekali. Ayahku pergi bersama perempuan lain dan meninggalkanku bersama Ibu.

"Mas, kamu kenapa?" Aku masih menggoncang lengannya.

"Say, aku enggak apa-apa. Aku sering kaget dan jantungku sakit kalo denger teriakanmu, Say. Jangan teriakan lagi, Say! Aku khawatir ... aku mati kalo kamu teriak lagi," ungkap Mas Boyo seraya meringis.

"Kamu serius atau enggak, sih, Mas Boy?" Aku menepuk perutnya yang sedikit membuncit. Mas Boyo mengaduh.

"Aku serius, Say. Jangan teriak lagi, jangan berantem lagi! Cukup dulu aja kamu berantem, sekarang banyakin amal baik," ujar Mas Boyo mengingatkanku.

"Ah, kamu, Mas. Bikin aku panik aja. Kukira kamu kenapa, ternyata cuma gitu doang," sungutku.

Aku membuka satu per satu pakaian Mas Boyo. Kulitnya berubah menjadi putih seperti bengkoang. Tiga tahun berdiam di rumah, membuat Mas Boyo jadi sangat terurus. Dulu, semasa dia sehat dan bekerja sebagai tauke angkutan umum, kulitnya legam. Mas Boyo dulu memiliki 9 angkot dan 8 disewakan oleh orang kampung sini. Sisanya, Mas Boyo sendiri yang mengemudi.

Dengan perlahan aku memapah Mas Boyo ke kamar mandi. Air panas sudah menjadi hangat dan pas untuk diguyur ke sekujur tubuh. Kududukkan Mas Boyo di kursi plastik. Kusabuni dan kugosok-gosok kulitnya lembut.

"Ayo, hiik!" suruhku seraya memeraktekan menampakkan gigi depan.

Kemudian kusikat gigi Mas Boyo pelan. Semenjak sakit dia sudah tidak lagi merokok. Syukurlah, uangnya bisa dipakai untuk hal lain. Aku mengguyur sekujur badan Mas Boyo setelah selesai semua ritual mandinya.

"Dingin, Say!" keluh Mas Boyo sambil menggelatuk.

Ya, kalau sudah mulai sore, angin di daerah dataran tinggi ini semakin kencang bertiup. Segera kubalut tubuh Mas Boyo dengan handuk besar. Lalu kembali kupapah dia ke ruang tengah. Aroma minyak bayi menyeruak dan membuat Mas Boyo jadi sangat harum.

"Say, jangan selalu pakein aku dengan minyak bayi dan segala perlengkapan bayi, Say. Aku ini sudah tua," protes Mas Boyo saat aku membedaki wajahnya.

"Lah, sekarang kamu ini bayiku, Mas Boy. Bayi kolot, sekolot-kolote bayi," tegasku sambil menyisir rambutnya.

Sore telah sirna, langit jingga telah berganti. Rembulan dengan lingkaran penuh menggantung di kaki langit, jutaan bintang menemani kesendirian sang candra. Aku duduk di teras sambil menjaga warung, sudah pukul sembilan malam. Dari sejak pergi mengaji, Arin belum juga kembali ke rumah. Entah kemana anak itu pergi. Sudah sebulan ini dia selalu saja main keluar.

Arin sudah datang bulan sejak naik kelas enam, tubuhnya bukan lagi seperti anak SD kebanyakan. Posturnya yang tinggi membuatnya lebih cocok duduk di kelas tiga SMP. Aku dan Mas Boyo sama-sama memiliki badan yang tinggi dan tegap.

Sebagai seorang ibu, tentu aku gelisah sekali kalau jam segini anak gadis semata wayangku belum pulang. Belakangan sering kulihat berita di televisi kalau anak-anak kecil sudah pandai mengenal cinta. Aku pun ke dalam untuk menemui Mas Boyo. Dia sedang asyik menonton acara dangdut di channel ikan bersayap.

"Mas Boy!" panggilku mesra.

"Kenapa, Say?" Dia pun tak kalah mesra menjawab panggilanku.

"Aku mau keluar dulu, ya. Mau nyari Arin. Udah jam segini belum pulang, orang-orang udah pada tutup pintu rumah, tapi Arin masih belum muncul," terangku gelisah.

Kutinggalkan rumah dengan langkah yang cepat. Yang namanya di kampung, pukul delapan ke atas sudah mulai sepi, kecuali kalau sedang ada acara dan hiburan organ tunggal. Warga akan melek sampai hiburan selesai, tak peduli kalau harus menonton sampai jam 00.00 lebih.

Angin dingin menusuk sampai ke pori-pori. Tubuh yang sudah kubalut dengan jaket dan juga kain jarik masih tak cukup menghadang udara. Aku semakin mempercepat langkah. Aku melawati gang rumah si Dewi, langsung saja aku memalingkan wajah. Aku benci Dewi sampai gang rumahnya.

"Assalamu'alaikum!" ucapku setelah selesai mengetuk daun pintu berwarna cokelat tua.

Terdengar derap langkah yang mendekat, lalu suara anak kunci yang diputar, kemudian kenop pintu yang ditarik. Daun pintu di hadapanku terbuka. Seorang lelaki paruh baya muncul dengan peci miring khasnya, dan sarung kuning yang menutupi pundak ke bawah.

"Wa'alaikumsalam, Bu Sayem. Ada apa ini?" tanyanya ramah.

"Apa Arin udah pulang, Pak?" tanyaku.

"Lah, anak ngaji, 'kan, udah pulang, Bu," jawabnya sambil terheran-heran.

"Iya, tapi cucunya Bapak, 'kan, temen deketnya Arin. Mungkin Arin masih main atau ngerjain tugas bareng," lanjutku. Kepanikan sudah mulai menyergapku.

"Siti udah tidur, Bu. Sebulan belakangan ini, kalo saya perhatikan ... Arin dan Siti udah jarang bareng," jelas Pak Komar sambil menggaruk pecinya.

Aku manggut-manggut. "Kalo gitu, saya pamit, Pak Komar."

Aku lantas meninggalkan rumah Pak Komar yang jaraknya tiga gang dari gang rumahnya Dewi. Sepintas kulihat seperti Arin tengah berjalan ke luar dari gang seberang rumah Dewi. Aku mempercepat langkah.

"Arin!" teriakku sambil menambah kecepatan langkah.

Anak itu berhenti dan menoleh ke arahku. Dia tersenyum. "Mama," sebutnya ketika aku sudah berada di depannya.

"Kamu dari mana? Hah? Jam segini baru pulang ngaji, abis ngapain?" cecarku kesal.

"Abis main dari rumahnya Nani, Ma. Temen baruku," jawabnya gugup.

"Jangan bohong kamu!" sentakku. "Mana sisa uangnya?" Kusodorkan telapak tanganku.

Arin melipat bibir, lalu dia menunduk. "Abis, Ma. Aku pake jajan sama main di WARNET, Ma," jawabnya dengan suara gemetar.

Mataku mendelik mendengarnya, kemurkaanku mendesak untuk disalurkan. Rasanya ubun-ubun ini sudah sangat panas, sepertinya mendidih. Kutarik tangan Arin dengan kasar.

"Pulang!" bentakku.

Begitu tiba di rumah, aku lantas mendorong tubuh Arin yang tingginya sudah mencapai dadaku. Gadis itu terhempas ke atas sofa. Mas Boyo terkejut dan memandangi kami. Bahkan Alqur'an yang dia bawa mengaji tadi pun tak ada di dalam dekapannya. Kerudungnya juga tidak ada.

"Abis ngapain kamu? Hah? Siapa temenmu itu?" tanyaku bertubi-tubi. Aku berkacak pinggang seraya menunjuk ke Arin. Aku marah sekali.

"Nani, Ma," jawabnya ketakutan. Dia memilin jarinya yang sekarang sudah berwarna hitam. Padahal tadi sore masih sangat bersih.

"Nani? Siapa itu?" tanyaku lagi.

Aku tak pernah mendengar nama itu selama ini. Aku kenal dengan semua orang di kampung sini. Namun, kali ini aku tak tahu kalau ternyata ada nama yang belum kukenal keluarganya.

"Anaknya Bu Seni, Ma. Baru pindah tiga minggu yang lalu." Arin gugup sekali.

"Oh, warga baru rupanya." Aku manggut-manggut. "Sisa uang lima puluh ribu, ludes?"

Arin mengangguk lambat. Dia masih menunduk. Mas Boyo diam saja. Dia tak berani ikut campur kali ini. Tadi sempat dia menyela, tetapi aku mendesis dan memintanya untuk diam.

"Sama si Nani-Nani itu kamu habisin duitnya? Iya?" tanyaku tak sabar. Aku masih sangat geram. Aku bahkan sampai bertengkar hebat dan kehilangan seekor ayam untuk mendapatkan uang Rp100.000,00 itu dari si Dewi.

"En-eng-ggak semuanya, Ma," jawabnya gelagapan. Aku jadi heran.

"Terus?" sentakku. "Ah, enggak usah kamu jawab. Besok kamu antar Mama ke rumahnya, biar Mama yang bilang sama orang tuanya untuk melarang anak si Nani itu bermain denganmu. Karena kalo kamu yang dilarang, pasti enggak bisa. Kamu akan tetep ke situ juga. Sudah bagus main sama Siti yang enggak pernah morotin duitmu, malah main sama yang lain," omelku panjang lebar.

"Jangan, Ma!" pinta Arin dengan mata berkaca-kaca. Aku tak tahu apa yang membuatnya setakut itu. Aku pun penasaran. Nanti pasti ketahuan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 8 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di