CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/603df682441b8d5bf8110673/surat-naura

Surat Naura

Surat Naura
Sumber : pixabay.com

Aku muak sudah. Lelah. Menapaki kepahitan di setiap jalan tempuh. Dekat atau jauh sama saja. Berkali-kali cinta tak kudapati. Seolah denganku antipati. Menolak digenggam. Berontak menggigit jari-jemari. Sakit, luka memerah. Hampir berdarah. Perih ini masih kurasa, mungkin akan hilang dalam hitungan satu atau dua hari saja.

Aku hitung berapa banyak jumlah pria. Bingung ada berapa. Yang pasi, semuanya ku suka, kecuali waria. Sejak masa pubertas, keadaan tubuhku berubah hingga harus meningkatkan sistem keamanan seolah ingin menghindari para peretas. Dada kutang, goa cawat, dan wajah rias serta semua perlengkapan wanita butuhkan.

Datang bulan tanda kedewasaan awal. Nggak nyaman. Tapi, kata ibu "Itulah spesialnya wanita." Aku nggak tau apa alasan dibalik kalimat itu. Maklum, baru pertama dapet. Sejak saat itu entah mengapa rasa suka terhadap pria begitu bergejolak. Ingin tau ini itu. 'Pokoknya itu deh.'

Pertama, liat-liat cowok ganteng di televisi. Para artis. Peran utama dalam sebuah ftv. Mengular ke negeri Korea. Kebayangkan, setiap kali nonton "Wah, tampannya. Ingin sekali aku jadi pacarnya." Selain itu, pas nonton bebarengan sama adek cewek. Mulai rebutan. "Aku mau ini. Aku mau itu." Ngakak, kalo inget lagi hal begitu.

Di dunia nyata, bukan lagi tv. Di sebuah sekolah tempat belajar. Menimba ilmu. Berubah fungsi menjadi tempat adu cantik. Semakin senior semakin disukai. Prestasi, standar saja, bukan hal penting. Yang penting hidup bahagia kelak. Bersama pangeran idaman yang kucinta. Wah, senangnya.

Setiap kali datang ke sekolah. Modal tampang. Cowok rebutan jadi pemandangan. Pilihlah satu, yang paling disukai. Pake rasa. Kerasa manis. Ciuman pertama. Getar-getir gejolak dada. Di akhiri sebuah pelukan. Semak-semak. Entahlah muda-mudi memang pandai bermain cinta. Diam-diam.

Ingin lagi begituan. Sebab, masih selalu terbayang terbang-terbang ku terbuai oleh nafsu. Birahi bisa-bisa. Kayak, di film-film korea. Jung vs Jang. Adu nafsu. Oh, tidak mikirin apa sih aku.

Hubungan cintaku pun masih berlanjut. Dari disekolah, traktir makan, jalan-jalan sampe antar jemput. Foto berdua bukti mesra kenangan indah. Kami simpan sama-sama secara terpisah. Agar rindu dapat dipuaskan meski terhalang jarak satu sama lain.

Rindu, berat harus terpisah jauh. Ketika dua hati masih hangat-hangatnya menikmati cinta. Masih banyak petualang ingin dijamah. Menghampiri lalu mengabadikan.

Titik temu malapetaka. Apel manis memburuk sebelum dipetik. Gadis manis bersamanya membikin sakit. Selingkuh kuterima darinya. Tepat depan mata. Aku mengejarnya mencari jawaban dari penampakan yang sulit kuartikan. Dia pergi begitu saja. Pergi, seperti lebah yang telah menghabiskan serbuk sari dari bunga Alamanda.

Sejak saat itu baru aku menyesal. Atas apa-apa yang pernah terjadi. Dia mengingkari atas janji yang pernah ia ucap "Tunggu aku pulang. Kita nikah." Lebah jenis apa dia. Mungkin jika aku ratu lebah akan kuusir dari kerajaan. "Dasar laki-laki sialan! Aaah... Aku muak-muak. Lupa hayo lupa, tapi masih sayang. Hiks-hiks...." Kutafsirkan patah hati.

Jiwa ragaku hanya tubuh yang kehilangan ruh. Orang-orang melihatku ada, tapi aku tidak merasakan diriku ada. Pikiranku dan hatiku masih padanya. Dia mengambil segalanya. Semuanya. Bodohnya kuberikan. Gratis! Aku. Aku wanita jalang.

"Sudahlah, kamu jangan menangis lagi. Hapus air matamu." Tangannya meraih daguku lalu memalingkan ke arahnya "Sini, kamu cantik. Wanita secantik kamu tak usah sedih. Apalagi untuk seorang lelaki." Diusapnya air mataku yang mengucur. Kupeluk erat dirinya. Menangis sejadi-jadinya. Jika kaca bisa mendengar lengking tangisku mungkin bakal pecah. Kalah kuat

Ku pun terlelap dimakan emosi yang mereda. Terbangun, lupa ada dimana dan terakhir ingat apa. Hanya saja, ada wanita parubaya erat memelukku. Hangatnya menenangkan. Bayang itu hilang. Ditelan angin kenyataan. Nyatanya, tangisku mengering di pipiku yang chubby. Makanan ringan, tersisa bungkus. 'Kriiuk-kriiuuuk' Nah, aku lapar akhirnya.

Pukul 8 malam, menyadarkanku dari tidur panjang. Memaksa diriku bolos kerja. Alasan sakit. Iya, memang aku baru saja sakit hati. Perlu banyak makan. Terutama memakan lebah sialan ittu.

Di dalam sebuah kost tanpa televisi. Di bawah lampu philips mengunyah nasi dan lauk-pauk. Kubayangkan sedang menelan seekor lebah. Ia tak berdaya. Kutusuk pake garpu. Kucincang dan kubelah isi perutnya. Kemudian kutelan bersama kecap asin. Puas. Aku menangis. Sesak masih saja terasa perih.

Kubuka hape yang berdering. Pikirku ada yang nelpon. Ternyata halusinasi. Kubuka file foto media. Kuhapus semua tentangnya. Tak bersisa. Barang-barang yang ia pernah kasih aku jual semua. Tak perlu disimpan. Bikin semak saja.

Esok, masih kudapati luka sakit hati ini. Meski tanggal merah ku tapaki. Apa aku pergi saja dari kota ini. Terlalu banyak kenangan yang mengiris hatiku. (Sedikit keluar air mataku, tapi masih kutahan) Baiklah, besok lusa aku mau resign dari pekerjaan. Memutuskan hidup baru di pelabuhan baru.

"Selamat tinggal kota tempatku bernaung. Tempat kelahiran. Kenangan Ibu Bapak. Dan sanak saudara yang kucinta. Berat kuputuskan hal ini. Namun, aku kuatkan diri hingga nanti luka lara tak mengganjal dihatiku lagi." Tuuut! Bunyi kapal tanda berangkat. Dipelabuhan baru kunanti sesuatu yang dapat menyembuhkan luka ini.

SalamHangatku
Naura Adia Senja

Cendolkomencendolkomencendolkomencendolkomencendolkomencendolkomen

See You 😄
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kurkur1 dan 6 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di