CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Aku Mencintai Bandot Tua
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6038c2300d421e362536faa1/aku-mencintai-bandot-tua

Aku Mencintai Bandot Tua

Aku Mencintai Bandot Tua


Aku Mencintai Bandot Tua

Aku Mencintai Bandot Tua

Spoiler for Update Chapter:


Chapter 1


"AYAH JAHAT, GAK PUNYA HATI!" Kuhentakkan kaki sebagai tanda perlawanan atas keputusan sepihak lelaki paruh baya yang egois, setelah itu aku segera berlalu meninggalkan ruang tengah di mana ayah dan ibu sedang duduk termangu dan lesu.

Pintu kamar kubanting dengan kencang, hingga menciptakan suara yang membahana dan tentu mengagetkan siapa saja yang berada di rumah ini. Rumah yang dahulu bak surga, kini berubah seperti neraka yang panas dan selalu membuat aku muak.

Tangisku luruh bersama dengan harapanku yang kandas karena keadaan yang tidak berpihak, kubenamkan wajah dalam bantal sehingga lengkingan sedu sedan yang tercipta dapat teredam dan hanya dapat didengar olehku saja.

Malam ini adalah malam terakhirku berstatus sebagai single, karena besok aku akan menikah dengan seorang pria yang sama sekali tidak aku kenal, apalagi aku cintai.

Pernikahan yang mendadak dan tiba-tiba ini membuat batinku terguncang, serasa dijatuhkan dari atas langit menimpa tanah menembus ke lapisan yang terakhir, sangat sakit dan merasa terhina. Karena lelaki itu bukan menikahi, tapi membeli.

Aku benci dengan takdir dan nasib, mengapa Tuhan memberi aku keluarga yang seperti ini?

Usiaku baru akan menginjak 19 tahun bulan Mei nanti, teman-temanku semua melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah. Aku apa? Malah menikah dengan bandot tua yang lebih pantas aku panggil dengan sebutan 'Om', karena usianya tidak jauh dari ayah.

Aku ingin berontak rasanya tak mungkin, pacarku si Bagas pun angkat tangan saat aku mengajaknya kimpoi lari. "Aku masih mau kuliah, kalau nikah nanti, kamu ... maksudku, kita mau makan apa? Dan siapa yang akan ngebiayain kuliah aku? Bunda aku pasti murka disangkanya aku ngehamilin kamu, duh aku gak sanggup. Maaf ya, Sayang!"

Dasar pengecut! Gak punya nyali! Kepentingan sendiri yang dia pikirin, janji suci yang selama ini dia ikrarkan ternyata cuma isapan jempol belaka. Aku benci Bagas, aku benci Ayah, aku benci si Bandot Tua yang bakalan jadi suamiku besok. Aku benci makhluk Tuhan yang berjenis kelamin lelaki, aku benciiiii!

Pernah aku coba bernego dengan Ayah tentang keputusan ini, aku coba membujuk beliau agar aku diizinkan untuk bekerja demi bisa menopang perekonomian keluarga yang mulai carut marut. Dan, daebak! Ayah menolak mentah-mentah niat mulia itu. Alhasil aku gondok dan mau tidak mau harus manut, tidak boleh tidak.

Dengan berat hati aku pun menurut, semuanya kulakukan semata-mata demi membahagiakan orang tua dan adik-adikku.

Calon suamiku, maksudku si Bandot Tua itu adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, dia banyak menolong keluarga ini terutama dalam masalah keuangan. Usaha restoran ayah bangkrut setelah ibu ketahuan memiliki banyak hutang, hutang di bank, rentenir, beberapa tagihan kartu kredit dengan limit di masing-masing kartunya lumayan besar dan koperasi simpan pinjam.

Alfian Wijaya, si Bandot Tua yang besok akan menjadi suamiku itu adalah seorang pelanggan setia restoran Ayah, dia sering sekali memesan catering dan tumpeng apabila sedang ada event di perusahaannya.

Hubungan si Bandot Tua dengan Ayah sangat erat, maka sewaktu Ayah gulung tikar dan terpaksa menjual semua asetnya demi membayar hutang Ibu yang jumlahnya sampai ratusan juta, dia datang lalu menawarkan bantuan finansial yang jumlahnya tidak main-main, asalkan Ayah tidak menutup usahanya.

Ayah menolak mentah-mentah bantuan dari si Bandot Tua, beliau tidak mau punya hutang budi. Alhasil kami pun jatuh miskin, tinggal di rumah minimalis di pemukiman padat penduduk yang kumuh.

Tapi saat kami sudah melarat, Ayah tidak bisa lagi menolak apa yang diberikan oleh Bandot Tua tersebut. Sehingga hutang budi itu benar-benar tercipta, dan aku menjadi pelunasnya.

Ibu hanya bisa menangis dan meminta maaf, saat aku dan adik-adik menderita terkena imbasnya . Waktu itu, aku ingin sekali membencinya tapi aku tidak bisa.

Aku hanya bisa mengelus dada serta meratapi nasib yang malang ini, sering aku berpikir keras akankah kisahku bak sinetron ikan asin terbang? Berawal tragis tapi berakhir manis, ah entahlah! Cuma Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi nanti.

Aku merasa sepi di dalam kamar ini, padahal di luar sana sedang ramai. Banyak orang sedang mempersiapkan acara untuk besok. Saudara jauh, tetangga dan kerabat dekat berdatangan untuk membantu. Samar-samar kudengar suara tawa mereka, begitu lepas dan tanpa beban.

Aku tidak bersemangat dan masa bodoh dengan semua ritual yang harus dijalani sebelum pernikahan. Peduli amat dengan puasa dan juga tradisi pingit, aku bebas jalan dan nongkrong dengan teman-teman, Ayah dan Ibu tidak bisa melarang karena itu syarat sebelum aku mau menuruti permintaan mereka.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Dalam kamar yang indah ini hatiku merasa terkoyak, wajah yang telah dipoles riasan tebal ini terasa bagai topeng badut saat aku lihat di cermin. Kebaya mewah nan cantik yang si Bandot Tua pesan khusus dari butik ternama pun kurasa gerah dan tidak nyaman, sama seperti perasaan yang bergejolak ini.

Telinga seketika terasa panas dan memerah saat MC memberitahu kalau romongan calon mempelai pria sudah tiba, perias pengantin yang tidak tahu perihal isi hati ini pun menepuk bahuku sembari bersorak gembira. Aku meresponnya dingin, cuma tersenyum kecut, sekecut ketek tukang becak yang baru selesai ngegenjot di tanjakan.

Wanita yang berperan sebagai MUA itu kembali mengecek riasan wajahku, usai sapu sana-sini senyumnya mengembang. "Perfect!" katanya.

Aku memandang wajah yang menurutku seperti pemain lenong yang akan tampil di panggung.

Kebaya modern putih, rambut disanggul yang dihiasi mahkota gold dan kembang goyangnya, dirasa bagai atribut pemain barongsai saat perayaan imlek.

Tok ... tok ... tok ....

Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang hendak menjemputku, dia Vina, sepupuku.

"Mel, yuk ke depan!" ajaknya mengulurkan tangannya padaku.

Tanpa menjawab, aku meraih uluran tangannya dan berjalan menuju teras rumah yang dijadikan tempat untuk ijab kabul.

Kulihat sekilas wajah calon suamiku, ia tersenyum ramah tapi aku pura-pura tidak melihatnya.

"Kepada calon pengantin wanita kami persilahkan duduk di samping sang pangeran yang telah bersiap mengikrarkan janji suci di hadapan kita semua," ucap MC membuatku ingin muntah.

Semua orang kecuali aku tersenyum mendengar ucapan MC itu. 'Pangeran apaan? Pangeran kodok kali,' sungutku dalam hati.

Setelah melewati beberapa rangkaian prosesi maka tibalah saatnya pengucapan ijab kabul. Setelah dipandu oleh pak penghulu, maka si Bandot Tua itu dengan lantang mengucapkan kalimat sakral di depan semua orang yang hadir disini.

"Saya terima nikah dan kimpoinya Amelia Gentari Permadi binti Dodi Permadi dengan mas kimpoi satu set perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai."

Para saksi, tamu undangan dan keluarga mengucap syukur karena prosesi utama berjalan dengan lancar dan sukses. Bagai tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar penghulu dan semua orang berkata 'SAH', itu berarti per hari ini aku akan hidup dengan si Tua Bangka ini. Tidaaaaaak!

Mengapa aku sebut dia tua bangka? Itu karena usianya sudah 40 tahun, ia seorang perjaka tua alias bujang lapuk. Entah kenapa dia belum menikah sampai usianya setua itu, hanya Tuhan dan dia yang tahu.

Acara resepsi kami diadakan secara sederhana, aku malu kalau harus pesta meriah. Teman-teman sekolah, tidak ada satu pun yang aku undang, apa kata dunia seorang Amelia yang jadi rebutan cowok-cowok populer dan terkenal sebagai play girl di sekolah dulu tiba-tiba nikah muda, sama bandot tua lagi.

Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, lalu kemudian mengusirnya dari sisi ini. Sumpah aku muak, benci, dan enek harus duduk berdekatan di pelaminan dengannya.

Apalagi saat dia sok perhatian menawari aku mau makan atau tidak, ih benar-benar menyebalkan. Apalagi aku sempat melirik dengan ujung mata, dia sering mencuri pandang kepadaku, ingin rasanya aku tusuk matanya pakai gembang goyang yang menancap di sanggul palsu ini.

Saat duhur menjelang acara resepsi pun usai, aku dan dia dipersilahkan untuk masuk beristirahat. Si Bandot Tua sok manis, mengulurkan tangan berniat menuntunku. Tapi dengan tegas aku tolak, beralasan tidak kuat ingin buang air kecil, secepatnya aku ngacir duluan.

Sejenak aku berdiam diri di dalam kamar mandi, berjalan mondar-mandir dengan pakaian lengkap. Konyol memang, tapi semua ini aku lakukan agar alasanku tadi tidak sekadar hoax.

Hingga lima menit lamanya, aku pun keluar dan melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Segera aku kunci pintu, agar dia tidak masuk tiba-tiba di saat aku lagi buka baju.

Kuhempaskan tubuh di ranjang, menghela napas panjang memindai kamar ini. Mencebik dan merutuk, meski sia-sia tapi itu bisa membuatku lega dan merasa lebih baik.

Kemudian aku berdiri, sudah saatnya menanggalkan 'pakaian lenong' ini, aku ingin mandi dan istirahat dengan tenang dan damai.

Saat pakaian dan semua atribut tanggal, pintu diketuk. "Pasti itu si Batu alias Bandot Tua," sungutku geram.

Dengan wajah masam aku membuka pintu, tanpa menegurnya aku kembali masuk menyambar handuk kimono yang tergantung di paku. Tanpa menoleh kepada dia, aku bergegas pergi meninggalkannya.

Sesampainya didalam kamar mandi, aku segera membersihkan diri. Hampir 2 jam lamanya aku semedi didalam kamar mandi, karena kewalahan mengurai rambut setelah disasak tadi.

Setelah berhasil mengurai rambut yang kusut, aku pun segera membasuh seluruh tubuh. Segar rasanya, apalagi setelah keramas kepala ini jadi enteng sekali.

Di dalam kamar, aku pakai baju kebesaran emak-emak yaitu daster. Usai mengoleskan pelembab muka, aku pun langsung berbaring di atas spring bed yang empuk dan nyaman. Si Bandot Tua tidak ada di sini, membuatku sangat damai dan tenteram tentunya.

Namun ketika akan terlelap, pintu kamar kembali diketuk dan terdengar suara derap langkah si Bandot Tua memanggil namaku.

"Dek, ini Mas Fian tolong buka pintunya!"

Aarrrgghh!

Aku merutuk dalam hati, dengan wajah kesal segera kubuka kunci pintu. Setelah itu kembali ke formasi awal tadi.

Suara sepatunya membuat telinga ini sakit, dia menggantungkan jasnya di kastop dekat lemari pakaian.

Kuintip dengan mata yang pura-pura dipejamkan, dia sedang celingukan seperti sedang mencari sesuatu.

"Dek, bisa minta tolong ambilkan handuk?" Tangannya mengusap pundakku.

Tanpa menjawab aku bangun dan beranjak membuka lemari, untuk mengambilkan benda yang dia butuhkan.

'Uh beneran ya nih si Bandot Tua ini, ngeganggu ketenangan gue aja!' Kedua kalinya aku merutuk dalam hati.

"Makasih ya, Dek. Mas mandi dulu," ucapnya sok imut.

'Mandi aja sono, kaya gue nungguin lo aja dasar 'Batu' alias Bandot Tua.'

Aku tersenyum dan mengangguk, berusaha tidak menunjukkan rasa kesalku padanya, semuanya kulakukan demi keluarga.

Sepeninggal dia, aku pun pulas tertidur. Beberapa kali dia membangunkan aku untuk salat, tapi aku tak menggubrisnya. Aku beralasan aku sedang haid.

Selepas isya setelah selesai makan malam bersama, dia mencoba mengajakku bicara berdua di dalam kamar sebelum kami terlelap.

"Mas tahu, Dek Amel belum siap dengan pernikahan ini. Tapi mas minta, Dek Amel harus mulai belajar menerimanya ya," ucapnya pelan tapi tegas.

"Om Fian, eh ... Mas Fian jangan bicara kaya gitu, dengan aku bersedia menikah, itu artinya aku sudah menerima Mas Fian. Suka gak suka, toh aku gak punya pilihan."

"Alhamdulillah kalau begitu, mas lega dengarnya. Mudah-mudahan saja pernikahan kita ini bisa membawa kebaikan untuk kita dan diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat ya, Dek."

"Aamiin," jawabku tampak penuh harap, padahal penuh rutukan.

Beberapa saat kemudian Mas Fian meraih dan mencium punggung tangan ini dengan lembut, rambutku ia usap perlahan. Tanpa menunggu izin, dia mendaratkan ciuman di kening, lalu turun ke pipi dan bibir.

Aku tidak memberi respon, bukan tidak bisa berciuman tapi aku merasa jijik ketika bibirnya menyentuh dan mamagut bibirku. Tiba-tiba ia melepaskan bibirnya dan menatap wajah ini.

"Kok diam, Dek? Kamu belum siap ya?"

"Eng-enggak, Mas. Aku gak tahu cara berciuman, aku bingung harus bagaimana," kilahku bohong. Padahal waktu pacaran dengan Bagas, sering aku berciuman alias cipokan.

"Maaf Mas Fian, aku belum bisa malam ini." Tanganku mendorong dada bidang itu pelan, menghentikan aksinya.

"Kenapa, Sayang?" Kata 'sayang' yang dia ucapkan barusan, benar-benar bikin aku gumoh, huweekk!

"Aku sedang ada tamu bulanan, Mas. Makanya tadi aku gak salat." Harap-harap cemas berharap ia percaya, dan tidak meraba apakah aku memakai pembalut atau tidak.

Ia tersenyum dan kemudian mengangguk. "Iya mas tahu, tadinya mas kepingin mesra-mesraan aja gitu." Kulihat ada gurat kecewa di wajahnya, tapi aku gak peduli yang penting aku berhasil-berhasil horeeee.

Itu artinya aku harus bersandiwara mendapat tamu bulanan selama seminggu lamanya, hal itu tidak membuatku aman tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu.

Hari ini, adalah hari pernikahan kami yang kelima, dan sesuai dengan perjanjian awal aku akan meninggalkan rumah dan ikut bersama Mas Fian ke rumahnya.

Rasanya sangat berat aku berpamitan dengan orang tua dan kedua adikku, air mata ini tumpah. Aku tidak kuasa harus berpisah dengan mereka.

Walaupun aku bisa setiap saat bertemu dengan mereka, karena rumah Mas Fian dan orang tuaku hanya berjarak kurang lebih 100km. Namun, tetap saja itu suatu hal yang membuatku sangat bersedih.

"Ingat ya, Nak, pesan ayah! Harus hormat dan patuh pada suami, ayah selalu berdoa yang terbaik untukmu," bisik Ayah ketika memelukku.

Kujawab petuah Ayah dengan anggukan, lelaki paruh baya itu tahu betul seperti apa perasaanku saat ini. Tapi, Ayah tidak mau tahu dan terkesan tidak peduli. Aku merasa dijual pada si Bandot Tua, diri ini tak ubahnya seperti budak pemuas nafsu yang dipersembahkan untuk pejabat pada masa kerajaan dulu.

Aku dan mas Fian memasuki mobil, tak kuasa menahan tangis saat besi yang mewah yang ditumpangi meninggalkan rumah yang selama kurang lebih tiga tahun ini aku tempati.

Aku menangis sesegukan didalam mobil, lambaian tangan mereka tidak bisa hilang dari ingatan.

Mas Fian yang duduk di sebelah memeluk erat, hal itu tidak berarti apa-apa. Tidak juga bisa membuatku luluh untuk mencintainya.

"Jangan sedih lagi, Dek, setiap saat Adek ingin ke rumah Ayah bilang saja, mas akan antar."

Aku mengangguk dan terus menangis, di sepanjang perjalanan menuju rumah mas Fian.

Lebih satu jam kemudian, kami tiba di rumah mewah yang begitu asri dan nyaman. Aku dan mas Fian turun dari mobil, Pak Zaki, sang supir segera membuka bagasi dan menurunkan koper-koper.

"Asslamualaikum," ucap Fian ketika memasuki rumahnya.

"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya bersanggul, dengan wajah menor yang sedang asik membaca majalah di sofa ruang tengah.

Wanita bergaya bak ibu sosialita itu adalah ibu mertuaku, Ibu Siska namanya. Dari raut wajahnya sepertinya ia tidak suka padaku, terbukti pada saat pernikahan dulu dan sekarang tatapannya tetap sama, sinis.

Ah, tapi aku tidak mau ambil pusing. Bodo amat lah, toh aku juga nikah karena terpaksa. Seandainya wanita itu mengusirku suatu hari nanti, hal itu akan jadi senjata ampuh untuk bisa lepas dari belenggu pernikahan ini.

Mas Fian mencium punggung tangan ibunya dengan takzim, kemudian ia memeluknya dengan penuh rasa sayang.

Aku bersikap sama, mencium tangan mertuaku yang sebelumnya menatapku dari atas sampai bawah, seperti aneh melihatku. Padahal jelas-jelas dia yang menurutku aneh.

Kami berbincang sebentar dengan Bu Siska, setelah itu Mas Fian mengajakku untuk beristirahat di kamarnya.

Tangan ini dituntun masuk, menuju ruangan pribadi yang terletak di dekat ruang tengah. Sesampainya di dalam, aku takjub dengan kamar tidurnya, begitu nyaman dan wangi sekali. Mataku berkeliling menatap ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan perabotan modern dan tentunya mahal.

Dahulu, kehidupanku juga bisa dibilang mampu. Tapi rumah masa kecilku tidak semewah rumah Mas Fian, haruskah aku merasa beruntung karena mempunyai suami tajir?

"Dek, lemari pakaian yang tiga pintu itu baru. Mas sengaja belikan untuk menyimpan semua pakaianmu. Karena lemari Mas sudah penuh, hehe."

"I-iya Mas, terima kasih." Aku merasa kikuk dan canggung di rumah mewah ini.

"Mas, aku mau mandi dan ganti baju dulu ya," ucapku memecahkan kecanggungan dengannya.

Mas Fian mengangguk dan mengeret koper kami kedekat lemari pakaian. Segera aku membuka dan mengambil pakaian santai juga handuk, membawanya ke kamar mandi yang lagi-lagi membuat aku takjub dibuatnya.

Usai mandi, aku duduk di tepi ranjang. Menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil. Mas Fian tidak mau jauh dariku, ia duduk menemani dan menawarkan diri untuk membantu mengeringkan mahkota indah ini.

Jujur, aku merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuannya. Bulu romaku merinding saat wajahnya mendekat, dari pantulan cermin aku lihat matanya terpejam saat menghidu bau harum yang menguar dari rambutku. Embusan napasnya membuat tengkuk meremang, adegan tidak senonoh pun terbayang dalam benak.

Tidak tahan dengan perasaan jijik yang menguasai, aku bangkit dan menyibukkan diri menyusun pakaian dari dalam koper ke lemari.

"Bibik saja nanti yang ngerjain, Dek," katanya sembari menatapku lekat.

Aku menggeleng dan tersenyum sok manis. "Aku bisa sendiri, Mas. Gak puas kalau barang pribadi, orang lain yang ngerjain."

Mas Fian mengangguk, lama kelamaan dia merasa bosan melihatku tak memberikan kesempatan sedikit pun padanya untuk menghabiskan waktu berduaan, dia berpamitan untuk keluar kamar setelah sebelumnya bertanya aku mau makan apa saat makan malam nanti.

"Apa aja, aku makan, Mas."

"Baik, mas keluar ya."

"Iya."

Sepeninggal Mas Fian, aku berhenti bersandiwara. Kuhempaskan bokong ini, melepas lelah setelah berusaha lolos dari cengkeraman singa tua, hehe.

Saat jam makan malam tiba, aku duduk di depan meja makan malam yang mewah dan indah. Berbagai macam menu masakan lezat tersaji di atasnya, lengkap dengan makanan penutup dan buah-buahan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciptoroso dan 21 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh blackgaming
Halaman 1 dari 3
Chapter 2


"Dek, sudah pulangkah tamu bulanannya?" bisik Mas Fian.

Mataku terbelalak, kedua tangan ini gemetar ketakutan. Jawaban apa yang harus katakan padanya?

Beberapa saat aku terdiam, ingin rasanya aku berbohong lagi, tapi kalau dia minta bukti gimana? Tapi kalau aku gak bohong, itu artinya aku ... Gustiiiiii, tolong Baim eh tolonglah hambamu ini ya Allah.

"Dek," panggilnya lagi, benar-benar tak tahu malu. Rupanya dia udah gatal, kepingin rasanya bantu ngegaruk pakai sikat kawat, huh!

"I-iya, Mas." Aku berlagak pilon, padahal sedang bingung memikirkan jawaban atas pertanyaan si Bandot Tua yang memeluk sembari menciumi tengkuk ini.

Weleh-weleh geli bin enek aku dibuatnya, dalam diam penuh dengan kegelisahan yang hebat aku berpikir keras. Suara panggilan si Bandot Tua membuatku sulit untuk bisa mendapatkan ide brilian untuk ngeles.

"Dek, udah selesai belum haidnya?"

Pertanyaan terakhir itu, terdengar penuh dengan pengharapan. Akhirnya dengan lemas, aku mengangguk tanda kalau si tamu bulanan sudah pulang.

Aku yakin kini wajahnya berseri, dan matanya berbinar bahkan bisa jadi ada tanda love maju mundur berdenyut-denyut.

Dugaanku tepat, 1000% sangat tepat. Karena apa? Karena tangannya mulai bergerilya menjelajah, dan dengan semangat'45 ia menciumi setiap jengkal tengkuk, pundak dan punggung ini.

Kupejamkan mata, menahan semuanya dalam diam. Begitu pula saat tubuh ini dibalikkan olehnya, aku pasrah saja. Bukan berarti aku murahan loh ya, karena ini menunaikan kewajiban aja. Takut dosa dan kualat.

Sentuhan lembut dan ciuman mesranya, sama sekali tidak dapat membakar hasrat ini, jauh di lubuk hati aku menangis karena harus menyerahkan kesucian kepada laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai.

Dengan penuh perasaan Mas Fian mengayuh biduknya sendiri, seolah tidak peduli dengan sikap tak acuh ini. Peluh bercucuran yang dibarengi lenguhan panjang, jadi pertanda bahwa dirinya telah tuntas menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.

Hancurlah aku, malam pertama yang digadang-gadang indah nan syahdu malah kurasa menjadi malam yang paling kelabu. Di dalam kamar mandi yang luas ini, aku menangis sejadi-jadinya. Kunyalakan keran penuh, agar suara tangis tidak terdengar keluar.

Aku benci keadaan ini, aku menyesal kenapa dilahirkan pada keluarga yang tega menjual putrinya pada bandot tua yang tidak aku cintai.

"Semua gara-gara Ibu dan Ayah, aku benci kalian, benciiii!"

Setelah menangis, beban dan rasa sedihku sedikit berkurang. Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.

Mas Fian kembali memelukku, ia memeluk belakang tubuhku, membelai lembut rambut dan bekali-kali mencium tengkuk leherku.

"Terima kasih ya, Dek, kamu bersedia menerimaku menjadi suamimu. Aku berjanji akan membahagiakanmu."

"Iya Mas, sudah kewajiban untukku melayanimu." Ya aku menerima nafkah batin dari kamu hanya karena kewajiban, bukan cinta.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Pagi ini adalah pagi pertamaku di rumah Mas Fian, walaupun enggan tapi aku bangun pagi-pagi sekali. Aku ingat nasihat Ibu, katanya kalau di rumah mertua wajib bangun pagi supaya mertua menyayangi kita.

Setelah mandi dan salat subuh aku keluar kamar menuju dapur, Mas Fian yang masih terlelap kutinggalkan saja, toh aku tidak peduli dengannya.

Kulihat seorang wanita seusia ibuku sedang sibuk mencuci piring. Aku berjalan mendekatinya, wanita itu tersenyum dan memanggutkan kepalanya padaku.

"Bik, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sungkan.

"Oalah, ngapain Non Amel ke dapur pagi-pagi begini?"

"Kata Ibu, kalau di rumah mertua harus bangun subuh, Bik. Hehe." Dengan polosnya aku menjawab.

"Benar itu, Non. Tapi di rumah ini, majikan gak boleh ngerjain kerjaan rumah."

"Duh, jangan kaya gitu ah, Bik. Aku bantuin bikin apa kek, Bik."

"Jangan, Non! Biar Bibik saja yang mengerjakan semuanya."

"Tapi Bik, aku bingung harus ngapain sepagi ini."

"Nona Amel bisa jalan-jalan saja keliling komplek, atau berenang dikolam renang yang ada di halaman belakang."

"Bik jangan panggil 'Nona'! Panggil saya Amel."

"B-baik, Neng Amel."

"Nah begitu lebih enak didengar, saya gak biasa kalau harus olahraga pagi-pagi, apalagi berenang bisa-bisa nanti masuk angin."

"Hehe, si Neng bisa saja. Ya sudah kalau gitu Neng Amelia duduk nonton tivi saja, jam segini biasanya acara siraman rohani."

"Gak mau, ah. Biarin saya di sini ya Bik, please."

"Neng Amel duduk aja di sana," tunjuk Bik Nani.

"Ah, Bibik! Oh iya, nama Bibik siapa?"

"Panggil saja Mawar eh salah, hehe ... nama Bibik, Nani."

"Haha, Bibik bisa ngelawak juga ternyata."

Tawa kami pun berderai.

"Ayolah, Bik! Kasih saya kesibukan apa aja yang penting gak melongo sendirian."

"Tapi, kalau nanti Mas Fian marah gimana?"

"Enggak akan, Bik. Nanti saya bilang, kalau saya yang mau sendiri. Jangan takut, Bik."

"Ya sudah kalau gitu, Neng Amelia rebuskan air saja di teko stainless itu, lalu siapkan teh celup dan gulanya ya."

"Ok Bik, siap. Saya minta kerjasamanya ya Bik, saya benar-benar merasa asing di rumah sebesar ini."

"Baik, Neng."

Aku segera mengisikan air ke teko stainless sampai 3/4 bagian, setelah itu menaruhnya diatas kompor.

"Bik, teh dan gulanya di mana?"

"Itu Neng, di kitchen set atas." Bik Nani menunjuk letak teh dan gula dengan jempol kanannya.

"Oke, ini takaran segimana? Maniskah atau biasakah?"

"Kalau punya ibu pakai gula tanpa kalori kemasan, karena Ibu punya diabetes, tapi kalau Mas Fian dan Neng Desi pakai gula pasir biasa. Takarannya 2 sendok teh saja."

"Oke."

Teko stainless berbunyi tanda air dudah mendidih, aku mematikan kompor lalu mengangkatnya.

Saat hendak menuangkannya ke dalam cangkir-cangkir yang berjejer rapi di atas nampan, Bik Nani mencegahnya cepat.

"Eh tunggu Neng, jangan langsung dituang! Harus dibiarin dulu lima menit."

"Loh kenapa?"

"Perintah Ibu, Neng, Bibik juga gak ngerti kenapa."

Aku mengangguk mendengar ucapan Bik Nani, meskipun sebenarnya dalam hati aku merutuk, 'Ribet banget sih di rumah ini, masalah air saja ada peraturannya. Hadeuh ....'

"Ini, Bik, sudah lima menit, sudah boleh aku tuang?"

"Iya Neng sudah boleh ...."

"Oh ya Bik, setelah ini aku ngapain lagi?"

"Ini saja Neng tolong kocokin telur 4 butir, lalu didadar di teflon. Hanya pakai garam ya neng jangan pakai micin."

"Duh mana enak Bik, kalau cuma garam."

"Hehe sudah Neng ikutin saja. Semua orang di rumah ini generasi non micin."

Aku geleng-geleng, Bik Nani tertawa melihat ekspresiku.

"Dek, tolong kesini sebentar!" suara Mas Fian mengejutkanku.

Dengan enggan aku gontai berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari dapur.

"Ya Mas ada apa?"

"Dek, tolong ya kalau habis pakai barang disimpan kembali ke tempatnya. Supaya nanti kalau mau pakai lagi, kita gak bingung mencarinya."

"I-iya," jawabku pelan.

Mendengar ucapannya aku agak tersinggung, jadi cowok kok bawel banget, masalah sisir salah naro aja pake dibahas segala, ckck.

Sepeninggal dirinya ke kamar mandi, aku segera bergerak merapikan tempat tidur.

"Oh ya Dek, ini handuk bekas pakai kan basah tolong jangan langsung digantung di sini, lebih baik dijemur dulu di halaman samping supaya terkena sinar matahari. Jadi gak lembap, soalnya bisa menimbulkan jamur kalau handuk basah dibiarkan lembap."

Aku mengangguk dan mengambil handuk bekas pakai yang ia pegang, lalu keluar kamar dan berjalan menuju halaman samping untuk menjemurnya.

'Benar-benar banyak banget aturan di rumah ini, dasar perjaka tua, bujang lapuk, bandot tua!' aku merutuk Mas Fian dalam hati.

Setelah selesai menjemur aku kembali ke kamar untuk melanjutkan merapikan tempat tidur. Ketika masuk, Mas Fian baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Ia tersenyum kepadaku.

Bergegas ia mengenakan baju koko dan sarung, menunaikan salat subuh dengan khusyuk.

Usai salat, ia beranjak dan membuka lemari pakaian dan mengambil sepotong kemeja tangan panjang beserta celana jeans biru dongker.

Diam-diam kuperhatikan penampilan Mas Fian, tidak ada yang aneh dengannya, wajahnya lumayan tampan, matanya bulat dan cokelat, hidungnya bangir dengan bibir agak tebal, tumbuh pula brewok tipis yang rapi dan terawat, membuat parasnya gahar dan macho.

Kulitnya tidak terlalu putih tapi bersih, badannya tinggi atletis, meski perutnya tidak ada roti sobeknya tapi ramping alias tidak buncit. Dia tidak jelek, tidak juga tampan, ya sedang-sedang saja lah. Tapi kenapa dia betah berlama-lama menjadi bujangan sampai usianya 40 tahun?

"Dek!" Suara Mas Fian membuyarkan lamunanku yang sedang membuat penilaian terhadapnya.

"Ini uang untukmu, Dek Amel bisa pakai untuk membeli keperluan pribadi Dek Amel. Kalau untuk masak sudah diserahkan ke Ibu, Ibu yang mengatur semuanya. Kalo Dek Amel mau makan tersendiri, bilang saja sama Bik Nani ya!"

Aku menerima amplop putih berisikan uang yang lumayan tebal itu.

"Ehm, Mas aku boleh kasih sebagian ke Ibu dan Ayah gak?" Tuh kan, walau aku bilang benci sama mereka, tetap saja aku tetap khawatir dan sangat peduli.

"Silahkan, Mas gak akan pernah melarang Dek Amel untuk kasih uang pada orang tua dan adik-adik. Karena mereka sudah Mas anggap keluarga Mas sendiri, jauh sebelum kita menikah."

"Makasih Mas, sisanya mau aku tabung saja. Tapi aku belum punya rekening bank."

Mas Fian tersenyum dan menatapku. "Bikinlah rekening, jadi setiap Mas kasih Dek Amel jatah bulanan praktis, tinggal transfer saja."

"Iya nanti aku bikin, makasih ya." Ia terus menatapku, salah tingkah aku dibuatnya.

"Oke, sekarang kita sarapan yuk!"

"Eh tunggu Mas, aku mau nanya sesuatu lagi."

"Ada apa?"

"Nanti kalau Mas kerja, aku di rumah ngapain? Mau ngerjain kerjaan rumah ada Bibik, mau diam terus di kamar gak enak, mau nonton tivi di luar sungkan. Mau nonton di dalam kamar juga takut disangkanya gak mau temani Ibu. Bingung aku, Mas."

"Haha, kaya gitu aja kok dipusingin. Ikutin saja alurnya, Ibu Mas gak ribet kok."

Kugaruk kepala yang tidak gatal, alih-alih menjawab Mas Fian malah menarik tangan dan menuntunku berjalan ke dapur untuk sarapan bersama.

Setelah sarapan aku mengantar Mas Fian sampai depan pintu, aku mencium punggung tangannya dengan takzim.

Sesaat setelah mencium tangannya, Mas Fian mengecup keningku.

"Mas berangkat dulu ya ...."

"Iya."

"Dek Amel baik-baik di rumah ya, kalau ada apa-apa segera hubungi Mas."

"A-aku ... aku gak punya no hpmu, Mas."

"Dasar, no hp suami sendiri gak disave. Ya sudah nanti Mas kirim no Mas ke Dek Amel ya."

"Iya, Mas."

"Aku berangkat dulu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Setelah mobil yang dinaiki Mas Fian berlalu menghilang dari pandangan, aku bergegas masuk ke dalam.

Saat akan masuk ke dalam kamar terdengar suara ibu mertua memanggilku.

"Menantu, sini dulu!"

'Gila! Menantu? Dia gak bisa manggil gue pake nama apa? Duh dasar emak-emak judes manggil seenak jidat dia,' rutukku dalam hati.

"I-iya Bu, ada apa?"

"Sini duduk!" Jari telunjuknya menunjuk sofa di hadapan. "Kamu sudah dapat uang bulanan dari anak saya belum?"

"Sudah, memangnya kenapa, Bu?" jawabku heran.

"Coba kasih dulu ke saya, saya mau tahu anak saya kasih duit berapa sama kamu."

"Saya belum menghitungnya, Bu."

"Makanya bawa sini uangnya! Biar saya yang hitung."

Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan mengambil amplop yang diberikan oleh Mas Fian tadi. Tanpa curiga, aku menyerahkannya. "Ini Bu, amplopnya."

Ibu mertua secepat kilat menyambar benda putih di tanganku, mulut dan tangannya sibuk menghitung lembaran uang dengan pecahan seratus ribuan yang jumlahnya cukup banyak tersebut.

"Lima juta, jumlahnya banyak banget ini."

"Saya gak minta, Bu. Mas Fian yang ngasih, saya rasa standar lah Mas Fian ngasih ke istrinya lima juta."

"Menurut saya jumlahnya terlalu banyak, karena kan uang untuk belanja dapur dan keperluan sehari-hari sudah ada budgetnya tersendiri, uang lima juta buat apa? Jadi kamu ambil saja dua juta, nih! Ini yang tiga juta, saya yang pegang."

"Tapi Bu, saya gak mau kalau uang saya diambil tanpa alasan."

"Gak usah membantah! Anak saya sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk keluargamu. Sekarang kamu juga dikasih uang sebanyak ini enak banget, jadi sudah seharusnya saya mengamankan setiap uang yang dikeluarkan olehnya. Kita harus hemat. Karena kalau tidak, bisa-bisa anak saya bakalan kere diperah sama kamu."

Mendengar ocehan si Nenek Gambreng yang seenaknya membuat aku naik pitam, apalagi saat ekor matanya mendelik kepadaku, ingin sekali rasanya aku cungkil. Aneh sekali kurasa, baru sehari tinggal bersama sudah menabuh genderang kepadaku. Apa salah dan dosaku sayang? Cinta suci kau buang-buang, lihat jurus yang kan kuberikan, jaran gorang, halah kok malah nyanyi sih.

Ibu mertua memasukkan uang sejumlah sesuai dengan yang ia sebutkan tadi ke dalam amplop, dan daebak! Dia melemparkan amplopnya ke meja kaca yang ada di depanku. Geram, ingin sekali aku cekik sampai mati, tapi aku takut dosa dan takut masuk penjara.

Sejenak aku diam mematung, membalas sorot matanya yang tajam serta menghujam jantung ini.

"Jangan coba bersikap gak sopan!"

Kudongakkan wajah ini, dengan dagu agak naik. "Aku gak mau nerima uang sisa itu, aku mau utuh! Itu hak aku, bukan hak Ibu."

"Kamu ya, kecil-kecil udah berani ngelawan. Gak tahu diri banget, kamu tahu gak anak saya sudah habis berapa untuk maranin keluarga kamu, kamu bisa tamat sekolah dari siapa duitnya kalau bukan dari anak saya? Sehabis bangkrut, ayah kamu itu cuma penjual makanan online. Berharap para pelanggannya masih mau berlangganan, tapi gak berhasil. Ujung-ujungnya, anak saya yang direpotin."

Air mata ini menggenang, bibir tipis si Nenek Gambreng terasa bagai silet yang menorehkan luka terasa sangat sakit, meski tidak berdarah tapi sungguh sangat parah.

Tak ingin terlihat lemah di hadapannya, aku segera mengambil amplop itu dan masuk ke dalam kamarku. Dalam ruangan besar ini, tak kuasa menahan tangis, ingin sekali rasanya mengadu tapi kepada siapa? Mau menghubungi Mas Fian, tapi aku gak tahu kontaknya.

Alhasil, aku mengurung diri di kamar seharian ini, sampai akhirnya aku terlelap tidur sampai sore hari. Suara dering ponsel mengejutkanku, panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Berharap itu Mas Fian, segera aku menjawabnya.

"Halo," sapaku.

"Halo, assalamualaikum Dek."

"W-waalaikumsalam, ini Mas Fian bukan?"

"Iya, Dek, ini Mas."

"Mas, aku tunggu teleponmu dari tadi," isakku tak kuat lagi menahan perih di hati ini.

"Ada apa? Kok nangis."

"Cepat pulang," pungkasku tak kuat untuk bercerita.

"Iya-iya, Mas sebentar lagi sampai rumah. Sudah ya, jangan nangis lagi."

"Iyaa aku tunggu."

Setelah menutup telepon, aku bergegas mandi dan salat ashar. Setelahnya, aku enggan keluar dari kamar. Malas bertemu dengan si Nenek Gambreng, yang mulutnya seperti kaleng rombeng. Jadinya, aku memutuskan untuk berdiam diri saja di kamar, menunggu mas Fian pulang.

Sore beranjak petang, kutatap langit yang berubah warna jingga keemasan lewat jendela yang menghadap ke halaman samping bercanopi yang lumayan luas dan menyejukkan mata karena di sana berjejer rapi tanaman hias kaktus mini di dalam pot berukuran kecil berwarna putih.

Itu semua koleksi Mas Fian, Bik Nani tadi sempat cerita sekilas tentang hobi berkebun suamiku. Melihat pemandangan indah itu, sejenak membuatku merasa tenang. Akhirnya, sepuluh menit menjelang magrib, sosok yang ditunggu pun datang mengetuk pintu.

Tergopoh aku memburu pintu, kubuka anak kunci dan kenop. Untuk kali pertama, aku merasa senang melihatnya. Bukan karena aku cinta, tapi karena aku merasa dia adalah malaikat penolong buatku.

Tanpa tersenyum, aku mencium punggung tangannya. Dia mengelus puncak kepalaku dengan lembut penuh kasih sayang.

Usai menutup pintu, tidak menunggu ia berganti pakaian aku langsung mengadukan perbuatan ibunya tadi pagi.

"Masa uang aku yang dari Mas Fian diambil dia, Mas."

"Bukan dia, Dek. Tapi, beliau."

Tangisku semakin kencang, saat anak dari si Nenek Gambreng ini bukannya membela dan membuatku tenang, malah sibuk meralat sebutan untuk ibunya.

"Mas!" pekikku dengan derai air mata semakin deras. Aku bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian, kutarik koper di sudut kamar.

Mas Fian tidak membuang waktu, dengan tegas dia menutup resleting benda kotak berwarna abu tua tersebut dan menyimpannya kembali ke tempat semula.

"Dek Amel mau apa?"

"Ya mau pulang, masa iya mau berenang."

Mas Fian tetap bersikap tenang, dia merengkuh kedua bahu yang bergetar ini kemudian merangkulnya dan membawaku duduk di tepi ranjang berukuran king itu.

"Jangan begitu, Dek. Jangan pernah keluar dari rumah ini tanpa izin dari Mas! Apalagi sampai pulang ke rumah Ibu dan Bapak, kalau ada masalah sebaiknya kita bicarakan baik-baik. Gak kaya gini, sarkas."

"Habisnya Mas, bukannya belain aku malah ngoceh gak jelas."

"Ngoceh apa? Ini soal uang, kan? Nanti Mas ganti uangnya. Sudah-sudah jangan nangis lagi."

"Bukan minta diganti uangnya, Ibu Mas Fian jahat!"

"Jangan bicara seperti itu, Dek! Gak ada orang tua yang jahat. Tolong jaga bicaramu, gak baik bicara seperti itu tentang Ibu."

Mendengar nada suaranya mulai meninggi aku pun diam, nyaliku ciut dan seketika tangisku berhenti.

"Sudah ya, masalah ini jangan diperpanjang, nanti Mas ganti uangnya."

Aku bergeming, mendorong tubuhnya yang erat memelukku.

"Bersiap salat magrib ya, Mas mau mandi dulu."

Mas Fian bangkit, sebelum beranjak dia membalikkan tubuhnya. "Jangan pernah lagi menyebut Ibu dengan sebutan yang gak baik ya, Dek!"

"I-iya, Mas." Meski gondok, aku mengiyakan.

Mas Fian berlalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkanku yang masih melongo karena terkejut mendengar ucapannya. Sumpah, aku menyesal sudah mengharap pembelaan darinya. Karena bukan rasa tenang yang aku dapatkan, malah tambahan luka. Nestapa dan malang benar nasibmu, Mel.

'Ibu sama anak sama aja, sama-sama judes dan galak. Amit-amit jabang bayi,' rutukku.

Ketika adzan magrib berkumandang aku segera berwudhu di kamar mandi luar, dan menunaikan salat tanpa menunggu Mas Fian yang masih ada di dalam kamar mandi.

"Kok salat sendiri?" ucapnya, usai aku mengusap kedua telapak tangan ke wajah.

Aku menoleh tapi tidak menjawab, hanya mencium punggung tangannya saja. Pura-pura tidak mendengar ucapannya, aku santai saja membuka dan melipat mukena yang barusan kupakai.

Mas Fian berganti pakaian dan bergegas salat, ia terlihat tampan dengan stelan koko putih dan sarung berwarna hijau.

Namun tetap saja hatiku belum bisa lope lope sama dia, bagiku dia hanya sebagai orang yang selama ini menolong keluarga kami dari kesulitan keuangan, tidak lebih.

Aku menyibukkan diri dengan membaca majalah yang ada di meja kerjanya Mas Fian, walaupun isinya tidak menarik tapi tidak ada hal lain yang dapat aku kerjakan selain itu.

Mas Fian memutar kursi yang sedang aku duduki, sehingga kini posisiku berhadapan dengannya.

"Dek, tolong belajar bersikap dewasa. Kamu sekarang bukan seorang anak dari Ayah dan Ibu lagi, kamu sekarang seorang istri. Gak baik kalau apa-apa selalu mengandalkan ego dan emosi."

"Ah, aku gak pernah mau menjadi seorang istri secepat ini, usiaku baru 19 tahun itu pun nanti bulan Mei. Kalau Mas gak suka sok weh ceraikan aku, biar aku pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Nanti aku akan kerja dan membayar semua uang yang sudah Mas keluarkan untuk kami."

"Jaga bicaramu, Dek! Pernikahan adalah perjanjian manusia kepada Allah untuk menjaga pasangannya sampai maut memisahkan. Bukan permainan yang dapat disudahi ketika merasa marah atau bosan."

"Pokoknya aku gak betah di sini, aku mau pulang saja ke rumah Ibu. Tujuan Mas menikah, kan ingin meniduri aku, jadi Mas kalau sedang 'mau' datang saja ke sana maka, aku akan melayani sampai Mas puas."

"Astaghfirullah, ucapanmu kasar sekali, Dek! Kamu anggap aku cowok apa ini apa itu, eh ... kamu anggap aku ini laki-laki macam apa?"

"Laki-laki yang mengharap budi baiknya dibayar kembali, dengan menjadikan aku sebagai istrinya."

"Cukup, Dek! Ucapanmu sudah lewat dari batas, ini semua masalah uang kan? Biar Mas ganti, kamu mau berapa? Bilang saja!"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 7 lainnya memberi reputasi
Chapter 3


Kupejamkan mata, berharap semua rasa sedihku hilang tapi tak bisa, air mata ini terus saja keluar membasahi pipi. Lama kelamaan, rasa lapar sudah berubah menjadi mual, sekujur tubuh sudah mengeluarkan keringat dingin, tangan dan kakiku gemetar.

Tapi aku tetap bergeming, akan kutahan sampai besok. Saat subuh tiba ketika semua orang masih berada di dalam kamarnya aku akan makan.

Beberapa jam kemudian kudengar suara pintu kamar dibuka lalu kemudian ditutup kembali, sepertinya itu Mas Fian. Aku memejamkan mata berpura-pura tidur.

Dia duduk di sampingku, tangannya membelai rambut, kemudian mengusap pipi berusaha untuk membangunkanku.

"Dek, bangun!"

Aku masih tetap diam seolah-olah aku sudah terlelap, kemudian ia menepuk-nepuk pelan tanganku.

"Dek! Bangun dong sebentar!"

Aku mengerjap dan membuka mata perlahan, penasaran ingin tahu mau apa dia membangunkanku.

"Apa?" jawabku dengan nada masih terdengar kesal.

Kira-kira apa yang mau Mas Fian bicarain sama aku?

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

"Dek Amel belum makan, makan dulu yuk!"

"Aku gak lapar."

"Bik Nani bilang, katanya Dek Amel belum makan sedari siang tadi. Jangan begitu Dek, kalau gak makan nanti sakit."

"Biarin aja aku sakit, toh percuma juga aku hidup di rumah ini. Berasa jadi boneka yang diatur, gak boleh begini, gak boleh begitu."

"Mas minta maaf, kalau sikap dan perkataan Mas tadi terlalu keras padamu. Mas juga minta maaf atas sikap Ibu padamu. Sekarang makan dulu, yuk!"

"Enggak mau Mas, aku males ketemu Ibu. Nanti Ibu pasti bakalan ngatain aku ini itu."

"Enggak akan!"

"Gak mau, titik!"

"Sudah dong, Dek! Masalah kecil begini jangan dibesar-besarkan, lagian Ibu gak ada. Beliau lagi pergi ke rumah Devi, katanya akan menginap di rumah Devi beberapa hari."

Devi adalah adik Mas Fian yang lain, kakaknya Desi, Devi sudah menikah dan tinggal di luar kota.

'Pasti tu si Nenek Gambreng mau foya-foya habis dapet duit hasil malak tiga juta. Tahu dia kagak ada, gue keluar dari tadi. Lapar gak ketahan, ckck.'

Mendengar hal itu hatiku langsung riang gembira dan berbunga-bunga, akhirnya untuk beberapa hari ke depan aku terbebas dari emak judes itu.

Aku bangkit dari peraduan dan mengiyakan ajakan Mas Fian untuk makan malam.

Mas Fian tersenyum senang, karena akhirnya aku bersedia untuk makan. Kami berjalan menuju dapur beriringan, sesampainya di ruang makan ia menarikkan kursi untukku. Sungguh romantis dan manis, jika yang melakukan hal itu adalah sang pujaan hati.

Begitu pula saat aku sudah duduk, ia sibuk menyiduk nasi dan menuangkannya ke dalam piring, lengkap dengan sayur dan lauk.

"Mau Mas suapin?"

Aku terkejut bukan main, si Bandot Tua benar-benar sok romantis. Idih-idih, dikiranya aku bakalan tersanjung kali. Boro-boro ah, yang ada kuping ini terasa gatal dibuatnya.

"Kok ngelamun, Dek?"

"Eh, eng-nggak, kok. Ini mau makan, habis baca doa dalam hati." Jago kali aku ngeles, haha.

Tanpa diduga, sendok yang sedang kupegang diambilnya. "Mas suapin aja, ya? Supaya Dek Amel makannya banyak," ucapnya sambil menodongkan sesendok nasi lengkap ke depan mulut ini.

"Gak usah Mas, aku bisa makan sendiri," tolakku, sumpah tingkah si Bandot Tua bikin bergidik ngeri. Lebih ngeri dari ngelihat siluman kolor ijo.

Aku tidak terenyuh dengan sikap manisnya. Aku benar-benar tidak ada rasa sama dia, jadi semua sikapnya itu terlihat lebay di mataku.

"Ya udah kalau gitu kita makan sepiring berdua ya, supaya lebih romantis, hehe ... waktu Mas dengar Dek Amel belum makan, bikin nafsu makan Mas hilang. Mas juga belum makan."

'Gileee ckckck ini Bandot sok abegeh banget gayanya, ih geli banget gue dengernya. Ya Allah, ampuni dosa hamba yang selalu menghina lelaki di sampingku ini, tapi memang tingkah lakunya bikin ilfeel sih."

Aku tidak menjawab ide songongnya, segera aku ambil sendok sebuah lagi. Kami pun makan malam bersama sepiring berdua, seperti lagu dangdut legendaris yang dinyanyikan IDA LAILA. Jadul banget ya selera musik aku? Jangan salahin apalagi ngetawain, Mak othornya gak gahuls, gak doyan K-pop, wkwkwk.

Seandainya aku punya rasa cinta padanya, sumpah makan malam kali ini sungguh sangat romantis.

Si Bandot Tua makan dengan lahapnya, sesekali ia mencuri pandang kepadaku. Pernah sekali kutangkap netranya fokus pada buah dada yang ranum karena kerah kaus yang kukenakan rendah, pikiran ini jadi kalut.

Aku jadi membayangkan hal mengerikan, feelingku setelah makan malam ini, pastinya dia akan meminta 'jatah' lagi. Dan, itu artinya aku kudu, wajib, harus, bersiap diri untuk menahan rasa jijik saat tubuhku disentuh olehnya.

Reflek aku bergidik, bulu-bulu yang ada meremang seketika seperti sedang didekati oleh makhluk astral.

Cerita selanjutnya usai makan malam pun sesuai dengan terkaanku, si Bandot Tua kembali memberikan kode akan memberikan nafkah batin.

Begitu sampai di dalam kamar, ia mematikan lampu utama dan menyalakan LED dengan pencahayaan redup remang, kaya di warung esek-esek gitu, hehe.

Dengan remote kecil di tangan, ia mengatur lampu-lampu canggih yang tertanam di langit-langit yang mewah nan indah itu.

Aku yang berpamitan untuk menggosok gigi dan mencuci muka, pun sejenak duduk di atas closet. Jantungku lagi-lagi bertalu kencang, kalau kata Ahmad Dani sih di lagunya, "Berdetaknya lebih cepat, seperti genderang mau perang.", otak ini berpikir keras dengan cara apa aku bisa menolak keinginan Mas Fian.

Jemari saling bertautan satu sama lain, rasa tegang yang menyergap diri sungguh hebat sehingga suhu tubuh memanas tapi menggigil, alias meriang binti panas dingin.

Lamunanku buyar saat kaca pintu kamar mandi diketuk tiga kali, aku terkesiap dan akhirnya memutuskan untuk pasrah. Usai menggosok gigi, segera aku keluar sampai malas untuk cuci muka.

Langkahku gontai mendekati peraduan, Mas Fian yang awalnya sedang menonton televisi di sofabed pun bangkit. Sosoknya yang mendekat, membuat raga ini semakin ketakutan. Ingin sekali aku berkata jujur, tapi takut dosa.

Lagi-lagi karena takut dosa, aku kembali mengorbankan diri.

Aku bergeming dan memejamkan mata, saat bulu-bulu halus di dagu dan pipi samping menusuk lembut leherku. Embusan napasnya memburu, aku bisa rasakan itu.

Kedua tangannya menyelusup melingkar di pinggang, suara baritonya rendah pelan berbisik di telinga ini. "I love you," katanya.

Ungkapan cintanya tidak kurespon, tapi walau begitu ia tidak merasa terganggu. Tangannya menarik dada ini masuk hingga tubuh kami rapat, tiada lagi jarak. Sekuat tenaga aku tahan air mata, saat merasakan bagian bawah kaus ini ia singkap ke atas.

Ia mencumbui dengan mesra dan lemah lembut, aku tetap diam saja. Entah ia merasakan sikap dinginku atau tidak, aku tidak peduli. Yang penting buatku hanya menunaikan kewajiban seorang istri.

Setiap sentuhan dari bibir dan tangannya yang lembut di tubuhku, tidak membuat gairahku naik. Segala kebaikan juga perhatiannya, juga tidak dapat meluluhkan hati ini.

Sampai detik ini aku belum mencintainya, mungkin tidak akan bisa mencintainya. Karena pernikahan ini kulakukan dengan terpaksa. Aku tidak ubahnya bagai agunan, yang dilelang karena hutang.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Hari-hari yang kulalui tanpa si Nenek Gambreng sangat tenang dan tenteram, tapi aku juga harus mengelus dada untuk bersabar menghadapi sikap si Bandot Tua yang sangat pembersih dan teratur.

Segala sesuatu harus bersih, higienis, tersimpan rapi di tempatnya. Aku yang ceroboh dan seenaknya, pasti akan selalu kena ocehannya setiap hari.

Entah dari almarhum ayahnya atau si Nenek Gambreng yang judes itu, ia mewarisi sifat perfectionist yang menyebalkan.

"Dek, kenapa sandal jepitnya gak disusun rapi?" Saat aku sudah gak tahan masuk ke dalam kamar mandi, karena kebelet sakit perut. Sandal jepit yang wajib dikenakan di dalam rumah, begitu saja terhambur di di atas keset.

"Dek, kalau nonton malam, tivinya ditimer supaya gak boros listrik dan menyala sampai pagi. Dan remotenya jangan ditaro di mana aja, apalagi tercecer di sofa, kalau kedudukan gimana? Bisa patah, rusak pasti itu."

"Dek, ini kapas bekas pakainya kok nyelip di ujung rak akrilik tempat lipstik kamu? Ini kotor, Dek. Jangan jorok dong, Dek! Belajar bersih, supaya rapi dan enak dilihat."

"Dek, lihat deh sini! Botol kosong samponya, masih ngegeletak di atas wastafel, padahal tempat sampah ada di bawah wastafel, emang gak bisa ya lempar bentar itu botol ke tempat sampah?"

"Dek, kursi putarnya dihadapin lagi masuk. Jangan kaya gitu, jadinya gak rapi."

Dan, masih banyak lagi komplainan lainnya. Sehingga membuat aku selalu naik pitam tidak terima, adu mulut, berujung perselisihan yang sengit.

Meskipun di ujung perdebatan aku selalu menang dan Mas Fian minta maaf, tapi tetap saja aku muak dengan segala peraturan yang saklek itu.

"Udah, Dek! Jangan ngambek gitu, Mas kan ngasih tahu demi kebaikan Dek Amel juga."

Aku yang sedang duduk di sofa sembari melipat kedua tangan di depan dada, pun membuang muka saat si Bandot Tua mendekati. Cekcok yang terjadi beberapa saat yang lalu, gara-gara aku lupa menaruh BH kotor ke dalam keranjang cucian.

"Dek, ini loh BHnya," teriaknya sembari keluar menunjukkan dalaman berbusa warna merah cabai, terburai.

Wajahku yang sedang dipoles bedak pun, seketika merah padam. Malu bukan main, saat perkakas rahasia diumbar di depan pembaca KBM dan JOYLADA oleh si Bandot Tua itu.

Aku yang murka segera bangkit, menyambar benda keramat tersebut dan melemparkannya ke dalam keranjang cucian kotor di sudut ruangan dekat pintu kamar mandi.

"Ngapain sih harus dikiwir-kiwir? Bikin malu aja, emang gak bisa ya Mas lemparin aja ke keranjang itu? Tinggal buka pintu, tongolin muka dikit terus masukin deh kutangnya." Aku muntab, tak lagi kalem seperti sebelum-sebelumnya.

Si Bandot Tua yang merasa bersalah, pun berusaha mencegah langkahku yang hendak berlalu keluar meski tubuhnya masih basah dengan rambut penuh busa sampo.

Aku menepis tangannya kasar, tak ada lagi mimik tidak enak. Tindakannya kali ini, sungguh di luar toleransi. Amit-amit jabang bayi, kok ada ya manusia macam si Bandot Tua itu!

"Mas tadi cuma nunjukkin, kalau Dekβ€”"

"Kalau Dek Amel ceroboh dan jorok? Mas komplain itu udah sering, tinggal bilang aja nanti saat habis mandi. Ngasih tau baik-baik kalau tadi Mas nemu kutang ngegantung di kamar mandi, lain kali jangan kaya gitu ya, Dek. Bisa kali bilang kaya gitu? Kan enak didengernya," sungutku mendelik padanya.

Akhirnya kutinggalkan dia yang melongo, bertelanjang dada. Aksi ngambek pun berlanjut hingga di meja makan, aku bersikap tak ramah padanya. Lagian jujur ya, aku enek loh sandiwara pura-pura baik sama dia. Gimana sih ya rasanya itu? Ah enek banget pokoknya mah.

Setelah makan malam, aku duduk santai di sofa besar empuk yang ada di ruang tengah. Saat itu, si Bandot Tua kembali mendekati.

"Jangan ngomong terus, sih!

"Iya, maafin Mas, ya!"

"Halah, kemarin-kemarin juga gitu, abis minta maaf besok lusa gitu lagi. Komplain mulu bisanya."

"Iya, Mas janji gak akan bersikap kaya tadi lagi. Mas akan kasih tau Dek Amel baik-baik, kalau nemuin hal yang gak sesuai."

"Au ah, bosen."

Si Bandot Tua menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lalu kemudian merengkuh pundak ini. Sekilas ia mengecup pipi, dan kembali merajuk.

"Sebagai permintaan maaf, gimana kalau kita makan malam di luar?"

Aku menggeleng tegas.

"Kita ke mal, jalan-jalan, shoping. Katanya Dek Amel kepingin beli handphone baru."

Kepala ini aku gelengkan kembali.

"Ya udah, kita ke rumah Ayah."

"Baru kemarin kita ke sana, lagian ini udah lewat isya, sampai sana mau ngapain udah larut? Nyape-nyapein badan."

"Ya udah, iya. Terus Mas harus gimana? Supaya Dek Amel mau maafin Mas."

Aku memutar bola mata, tiba-tiba ide cemerlang datang. Senyuman mengulas, saat mulut ini mulai terbuka untuk bicara.

"Ada satu permintaan yang harus Mas Fian penuhi!"

"Apa? Katakan!"

"Tapi janji dulu, Mas harus mengabulkannya!"

"Kalau permintaannya masuk akal, insya Allah Mas akan sanggupi."

"Aku mau kuliah," pintaku mantap.

Wajah si Bandot Tua pun seketika kuyu, sepertinya dia gak suka dengan permintaan sederhana itu.

"Kenapa?" tanyaku sinis.

"Gak ada permintaan lain apa?"

Alih-alih menjawab, si Bandot Tua malah bangkit dan berlalu meninggalkan aku sendiri di ruang tengah.

"Mas! Mas ...."

"Aaaaaaargh," gumamku kesal.

Kulihat punggung kekar itu menjauh, menuju teras. Tidak lama samar-samar kudengar, suara Pak Ahmad -security- yang bekerja di rumah ini, berbincang dengan si Bandot Tua.

Aku yang kesal dan gondok, pun hanya bisa mencebik sendiri, tontonan seru di layar televisi menjadi garing terasa.

Apalagi waktu suara gelak tawa si Bandot dan Pak Ahmad terdengar, benar-benar bikin kepalaku pusing.

Kuraih remote dan kumatikan televisi layar datar berukuran jumbo di hadapan, dengan gontai aku masuk ke kamar. Dan merebahkan diri, dalam sekejap mata ini terpejam.

Aku mengerjap saat tangan si Bandot Tua melingkar di pinggang, sudah jadi kebiasaan memang setiap tidur dia harus bersentuhan denganku.

Si Bandot sangat suka tidur dengan posisi memeluk aku dari belakang, katanya hangat dan nyaman. Awalnya aku keberatan dan risih, tapi lama kelamaan terbiasa.

Dalam keadaan baik atau marahan, posisi tidur kami selalu begini.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Pagi ini, aku enggan beranjak dari tempat tidur. Tamu bulanan yang bertandang, membuat tubuh ini berat untuk bangun walau sekadar hanya menemani suami yang menyebalkan itu sarapan pagi.

Tingkah si Bandot Tua semalam, tidak bisa aku maafkan. Pokoknya aku mau kuliah, titik!

Aku akan cari cara, supaya bisa diizinkan kuliah. Lagian aneh, istri mau belajar kok gak boleh. Amit-amit kan?

Kayanya dia takut, aku yang masih unyu-unyu dan cantik ini ada yang naksir. Secara di lingkungan kampus, akan banyak mahasiswa muda yang tampan, muda, juga keren yang aku temui. Jelas wajar dia merasa gelisah memberi izin, dia kalah telak karena usianya sudah banyak.

Ah, picik memang pola pikir si Bandot Tua ini. Gak mau rugi, secara aku ini kan dibeli. Otomatis dia ngerasa aku miliknya secara utuh, sehingga aku bisa diperlakukan seenak dia. Gak boleh bergaul dan mengenal dunia luar, cukup berkutat di dapur, sumur, dan kasur.

"Aku harus merengek lagi," gumamku.

Aku segera bangkit, dan merapikan rambut ini. Kulihat si Bandot sedang melipat sejadah, usai melaksanakan salat subuh.

Aku ngacir sebentar ke kamar mandi, untuk cuci muka dan gosok gigi. Jangan sampai saat aku bicara nanti, menimbulkan bau got yang berasal dari mulut ini. Nanti si Bandot bukannya kasih izin, malah malah ngasih materi kuliah subuh.

Lima menit kemudian, wajah dan mulut ini sudah segar. Bergegas aku mendekati si Bandot yang sedang duduk di kursi kerjanya, berkutat dengan leptop di atas meja.

"Mas," panggilku.

Jemari si Bandot yang sedang menari-nari di atas keyboard pun berhenti, ia memutar kursi yang sedang didudukinya. Mendongak menatapku lekat.

"Iya, Dek. Ada apa?"

"Mau bahas soal semalam," kataku menggantung.

"Yang mana? Soal BH?"

"Bukan, bukan masalah itu, Mas."

"Yang mana, dong?" tanyanya berlagak bego.

"Soal kuliah."

Dengan wajah datar, ia memutar kembali kursinya, kembali mengurusi pekerjaannya di layar leptop.

"Mas!" bentakku.

Si Bandot bergeming. Benar-benar menjengkelkan.

"Mas, boleh gak aku kuliah?"

"Dek, Mas lagi banyak kerjaan. Ini lagi ngerevisi materi untuk meeting."

"Mas jahat!" Aku berlalu, kembali beranjak ke tempat tidur.

"Lihat aja, aku bakalan mogok makan kalau sampai Mas kaya gini terus," isakku meraung.

Bukannya menjawab atau menanggapi ancamanku, si Bandot malah terus fokus pada layar leptopnya. Bikin emosi jiwa memang tingkahnya itu manusia.

'Bandot Tua i hate you!'
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
Chapter 4


"Mas, boleh gak aku kuliah?"

"Dek, Mas lagi banyak kerjaan. Ini lagi ngerevisi materi untuk meeting."

"Mas jahat!" Aku berlalu, kembali beranjak ke tempat tidur.

"Lihat aja, aku bakalan mogok makan kalau sampai Mas kaya gini terus," isakku meraung.

Bukannya menjawab atau menanggapi ancamanku, si Bandot malah terus fokus pada layar leptopnya. Bikin emosi jiwa memang tingkahnya itu manusia.

'Bandot Tua i hate you!'

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Kekesalanku pada si Bandot Tua, kuceritakan pada Bik Nani. Wanita bertubuh tambun itu malah terkikik, seperti turut bahagia di atas penderitaanku ini.

"Bibik, ih!"

"Hehe, maaf Neng Amel, habisnya Neng Amel dan Mas Fian lucu sekali."

"Gak lucu, Bik. Nyebelin dia itu, dasar Batu. Bandot Tua!"

"Hush, Neng Amel! Gak boleh ngatain suaminya kaya gitu, dosa."

"Ya habisnya, Bik, dia itu jahat banget sama saya."

"Mungkin Mas Fian memang benar-benar lagi banyak pekerjaan, Neng."

"Ah emang sengaja dia itu, Bik. Takut kali, kalau saya bakalan selingkuh sama mahasiswa di kampus."

"Wajar Neng, Mas Fian punya ketakutan kaya gitu. Mas Fian kan suaminya Neng Amel, punya perasaan sayang dan juga cinta. Pastinya Mas Fian sangat takut kehilangan Neng Amel," tutur Bik Nani.

"Ah, gak masuk akal, Bik. Saya kan niatnya mau kuliah bukan mau pacaran."

"Coba bicara lagi, tapi jangan sambil marah-marah, Neng. Pakai taktik dong."

Aku menghampiri Bik Nani, kulingkarkan tangan ke bahunya. Kupelankan suara bertanya padanya tentang strategi yang dimaksud.

Bik Nani tersenyum, pisau di tangan ia taruh di talenan. "Mau minta sesuatu sama suami itu ada caranya, Neng. Lihat dulu situasi, sedang senang atau enggak. Kalau dilihat rautnya kaya orang senang biasanya akan mudah mengiyakan. Tapi kalau lagi capek atau pusing, bukannya dikabulkan malah yang ada dicuekin."

Aku manggut-manggut tanda mengerti apa yang diucapkan Bik Nani. "Akan saya coba, Bik."

"Nah, gitu dong! Jangan pakai urat terus, Neng. Capek, hehe."

"Habisnya ngeselin, sih. Makanya saya selalu naik darah dibuatnya."

"Biar gak darah tinggi, gimana kalau kita ngerujak yuk! Di kulkas ada mangga dan timun," ajak Bik Nani, langsung kuiyakan tanpa berpikir lama.

Bergeraklah kami dengan tugas masing-masing, aku mengeksekusi mangga mengkal dan timun. Sedangkan Bik Nani mengulek bumbu yang terdiri dari kacang tanah, gula merah, dan asam jawa.

Tidak lama kemudian, rujak uleg pun siap disantap. Karpet berukuran 1x1 meter digelar di teras halaman belakang, menghadap ke kolam renang yang di sampingnya ditumbuhi oleh tanaman bunga hias berwarna-warni yang sedap dipandang.

Kami menyantap makanan segar dan pedas itu sambil berbincang akrab, rasanya aku sangat senang ditemani oleh Bik Nani yang baik dan punya selera humor yang tinggi. Entah apa jadinya hidupku kalau tidak ada asisten rumah tangga ini, pasti sepi dan semakin depresi.

Di saat irisan mangga dan timun tinggal sedikit, tiba-tiba bel rumah berbunyi berkali-kali. Aku hendak bangkit, tapi Bik Nani mendahuluiku.

"Bibik saja, Neng," katanya.

Sepeninggal Bik Nani, aku pun segera membereskan piring dan cobek. Lalu mencuci tangan di wastafel, rasanya penasaran siapa yang bertamu siang-siang begini.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara cekikikan dua orang wanita, aku berjalan jinjit ke ambang pintu batas antara ruang tengah dan lorong menuju dapur. Suara misteri itu, tidak lain adalah suaranya si Nenek Gambreng dan Desi, adik iparku.

Alamak! Kiamat kecil akan dimulai kembali, sudah enak dan tenang hidupku tanpa kehadiran si Nenek Gambrang yang galak dan tamak itu, eh sekarang dia nongol.

Setelah hampir satu bulan mereka tinggal di rumah Devi, akhirnya kembali lagi. Aku meraup wajah kasar, perasaanku langsung saja tidak enak. Karena dengan adanya si Nenek Gambreng, itu berarti keamananku akan terancam kembali, hadeuh maksud hati makan rujak untuk menghilangkan pusing tapi apa daya penampakkan dia bikin ini kepala jadi pening kembali.

Aku berdiri komat-kamit, membacakan surat pendek sebagai penolak bala dan pengusir jin juga makhluk halus, hehe. Setelah tidak ragu, aku pun berjalan menghampiri si Nenek Gambreng dan Desi. Kucium tangan ibu mertuaku, aku mencoba bersikap ramah dengan mengulas senyuman termanis yang aku punya. Eh apa coba yang dia lakukan? Dengan sinis dia mendelik dan mencebik. Amit-amit, kok ada ya manusia kaya gitu.

Aku tidak peduli dengan sikapnya yang sinis, masa bodo dengan semua itu. Merasa dicuekin aku segera berlalu meninggalkan mereka, memutuskan untuk bersemedi saja di kamarku.

Namun belum jauh kaki ini melangkah, tiiba-tiba si Nenek Gambreng memanggilku.

"Ada apa bu?" jawabku dari kejauhan.

"Sini dong, kalau dipanggil!"

Aku mengalah, aku menghampirinya dengan cara mundur.

"Iya ada apa, Bu? Ini aku sudah di depan Ibu."

"Kemarin katanya ada kiriman dari adik saya, Shila, ya?"

"Iya, Tante Shila kemarin mengirim kado. Kenapa memangnya, Bu?"

"Coba sini saya lihat, apa kadonya!"

"Mau diapakan, Bu? Mau Ibu ambil? Itu kado untuk saya dan Mas Fian, kado pernikahan kami."

"Eh lancang banget kamu ya mantu, sadar gak kalau Shila itu adik saya. Jadi saya berhak mengambil pemberian darinya, seandainya memang barang itu saya suka."

"Astaghfirullah, Bu. Ibu kok gitu banget sama saya, salah saya apa sama Ibu? Segala sesuatu yang saya dapat, ibu selalu ingin merebutnya."

"Kamu gak usah banyak bicara, bawa saja sini kadonya!"

"Maafin saya Bu, saya gak akan memberikan pemberian dari Tante Shila karena itu hak saya, jadi saya berhak menolak pemaksaan yang Ibu lakukan kepada saya."

Tanpa diduga, Desi yang tadi sedang asik mengutak-atik ponselnya itu berdiri dan menatap tajam kepadaku.

"Kok kamu kasar sih sama Ibu? Aku bilangin ke Mas Fian, tahu rasa kamu, Mel."

"Apa kamu bilang Des? Yang mulai duluan siapa? Kok kamu malah nyalahin aku?"

"Kamu harus tahu Mel, semenjak mas Fian menikah sama kamu, dia jadi pelit kepada kami. Tiap kali minta duit selalu ditanya untuk apa, pasti semuanya kamu yang ada dibalik perubahan sikap Mas Fian. Dulu dia gak gitu! Tanpa kita minta, duitnya selalu ngalir."

"Kalau ngomong dipikir dulu pakai otak, dong! Soal Mas Fian jadi pelit, kenapa kamu gak nanya langsung sama dia? Kenapa beraninya di belakang, ngoceh bau jigong sama aku?"

Desi yang tidak terima dengan ocehanku naik pitam, ia melempar remote tivi yang tergetak di atas meja kaca. Secepat kilat aku menghindar, kalau tidak bisa-bisa ini kepala boncos dibuatnya.

"Dasar orang gila!" cacinya padaku.

Aku ingin dan bisa saja melawan mereka, tapu aku berpikir lagi, aku tidak ingin terbawa menjadi sinting seperti mereka.

Akhirnya dengan emosi yang tertahan, aku meninggalkan anak dan emak yang sama stresnya.

Pintu kamar kubanting dan sengaja aku kunci supaya si Nenek Gambreng atau anaknya, tidak bisa seenaknya masuk. Di dalam kamar yang hening ini, aku menangis dalam kesendirian.

Di rumah ini kehadiranku tiada arti, baik oleh Mas Fian, Ibu, maupun Desi. Mereka setali tiga uang, sama saja kejamnya. Hanya Bik Nani yang baik, tapi mustahil juga aku bisa menceritakan semua kepadanya.

Aku menangis hingga sesak dada ini kurasa, hidungku sampai mampet dan terasa panas. Kalau gak ingat pesan Ayah, ingin rasanya aku minggat meninggalkan rumah mewah yang terasa bagai neraka ini.

Lelah menangis, aku baringkan tubuh memeluk guling. Melamun menatap lemari kaca, yang memantulkan sosok rapuh di sana.

Aku terkejut, saat tiba-tiba ponsel di atas meja kecil di samping ranjang berbunyi, segera kulihat ternyata Mas Fian meneleponku. "Pasti dia mau ceramah karena dapat aduan dari emaknya."

Aku kembali berbaring, tanpa menghiraukan panggilan itu. Hampir sepuluh kali benda pipih berukuran enam inchi itu berbunyi, mungkin dia lelah akhirnya berhenti juga.

Ting ....

Beberapa saat kemudia masuklah pesan di aplikasi Whatsapp. Kuintip dari jendela layar, ternyata dari orang yang sama, yaitu Mas Fian.

[Dek, ada masalah apa lagi sama Ibu?]

Benar dugaanku, si Nenek Gambreng udah ngadu yang enggak-enggak pada anaknya. Sejenak aku diam, ingin rasanya aku cuekin dia. Tapi sesak di dada, tak dapat aku tahan sendiri.

[Ibu maksa aku memberikan kado dari Tante Shila kepadanya, itu kan punyaku Mas.]

Pesan yang aku kirim langsung centang biru, rupanya si Bandot gak sabar menunggu balasan dariku.

[Mengalah, Dek! Nanti Mas belikan, lebih bagus dari itu.]

[Enggak mau Mas, aku gak mau ngasihin.]

[Please Dek, tolong jangan buat masalah sepele menjadi rumit!]

Tak kubalas lagi pesannya, aku membiarkannya. Tangisku kembali pecah, aku gak habis pikir kenapa si Bandot itu selalu berpihak dan membela ibunya? Padahal dia tahu kalau ibunya salah, tapi tetap saja dia membelanya.

Suami macam apa yang begitu? Istrinya didzalimi kok malah diam saja. Malah kesannya si Bandot membiarkan aku diperlakukan seenaknya oleh ibunya.

Aku kembali tercenung, mencoba untuk tidur demi bisa menenangkan hati ini. Perlahan tapi pasti, mata ini terpejam. Melepaskan sejenak kesedihan dan kemarahanku kepada si Nenek Gambreng itu, saat belum lama aku masuk ke alam mimpi, setengah tersadar aku mendengar suara ketukan pintu.

Aku membuka mata yang berat dan memerah, sejenak terdiam menunggu apakah ini nyata atau mimpi.

Tok ... tok ... tok ....

"Dek, tolong buka pintunya!"

"Mas Fian ...." Aku bergegas bangun membukakan pintu. "Maaf mas aku ketiduran."

Mas Fian mengangguk dan tersenyum kepadaku. Kuraih dan kucium punggung tangannya.

Aku segera menyambar handuk yang tergantung, berniat untuk mandi. Tapi ketika akan masuk ke dalam kamar mandi, Mas Fian memanggilku.

"I-iya, Mas ...."

"Sini dulu duduk sebentar," katanya menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya.

'Ah, pasti mau bahas masalah si Nenek Gambreng tadi. Sampai pulang kerja lebih awal, demi ngurusin hal gak penting kaya gini.'

"Ada apa, Mas?" Aku berlagak bego.

"Dek, Mas mau bicara masalah yang tadi."

Aku mengerucutkan bibir, aku memutar tubuh memunggunginya. Dengan tegas aku menolak perintahnya.

"Kasihin aja, ya! Nanti Mas ganti," bujuknya mengelus kepala ini.

"Enggak, Mas!"

"Jangan berteriak, Dek! Gak baik." Mas Fian meraih tanganku dan kemudian menggenggamnya erat.

"Dek, Mas mohon mengalah demi kebaikan bersama. Mas janji nanti akan Mas ganti dengan barang yang sama, atau dengan yang lebih bagus."

"Enggak mau!" Kunaikkan volume suara ini, Mas Fian harus tahu kalau aku punya hak yang harus dia hormati.

"Dek, jangan begitu. Mas mohon ya, demi kebaikan bersama Dek Amel berikan saja kado itu. Sebagai gantinya, Mas akan memberikan apa saja."

"Kalau begitu tukar dengan kebebasanku, aku ingin pergi dari sini dengan janda. Aku udah muak dan capek pura-pura, aku benci pernikahan ini."

"Istighfar, Dek! Setiap ada masalah, Dek Amel selalu mengungkit masalah perceraian. Mas gak suka, jangan begitu! Ayolah belajar dewasa, dalam menyikapi setiap permasalahan."

"Gak suka? Ya udah biarin aku minggat dari sini."

"Bukan begitu, Dek. Mas hanya menengahi, jangan sampai ada perpecahan di rumah ini. Mas capek, Dek."

"Capek dibikin sendiri, suruh siapa Mas selalu membela Ibu dan menyudutkan aku. Aku kan istri Mas, tapi kenapa bukan aku yang Mas bela?"

"Sudah ya jangan bahas lagi Mas bela siapa, gak ada yang Mas bela. Baik Ibu, maupun Dek Amel, kalian berdua adalah orang yang sangat Mas sayangi."

"Omong kosong!"

"Sudah ya, Dek. Jangan diperpanjang lagi, mendingan sekarang Dek Amel mandi biar pikiran hati dan pikirannya adem. Nanti saat makan malam, kasih kadonya ke Ibu ya!"

Mas Fian memeluk aku yang kembali tersedu, berkali-kali ia menciumi rambut dan mengelus pipiku yang basah karena air mata.

"Mas Fian, jahat!" isakku sembari memukuli dada bidangnya.

"Maafin Mas ya, Sayang. Mas janji akan belikan pengganti yang lebih bagus."

"Aku mau yang dari Tante Shila, Mas. Bukan masalah lebih bagusnya, tapi ...."

"Mas ngerti, Dek. Sudah ya," bujuknya berhasil membuat tangisku reda.

Dengan berat hati, akhirnya aku pun menurut padanya, lagi-lagi si Nenek Gambreng yang menang!

Mas Fian melerai pelukan, kemudian menyerongkan tubuhnya. Wajah ini ditangkupnya, sorot mata nanar itu sedang lekat menatapku sendu. "Makasih ya, Sayang. Mas harap Dek Amel paham dan mengerti posisi Mas saat ini, serba salah."

"Lain kali aku gak mau berbagi lagi dengan Ibu, yang aku punya gak boleh lagi dikasih ke Ibu atau Desi. Aku juga punya hak, Mas."

"Iya, Sayang. Sudah ya," tuturnya lemah lembut.

Kening ini dikecup cukup lama, setelah itu ia menyuruhku untuk segera membersihkan diri.

Tanpa membantah, aku pun berlalu meninggalkannya sendiri, bersandar di sofa dengan pandangan ia buang jauh ke langit-langit, entah apa yang sedang dia pikirkan.

Pada saat jam makan malam, aku membawa kotak hadiah pemberian Tante Shila. Kotak itu berisi satu set perhiasan emas putih dengan hiasan mutiara asli dari Lombok. Sungguh indah dan cantik.

Si Nenek Gambreng dan anaknya, sudah sibuk menyantap makanan saat aku dan Mas Fian datang ke ruang makan.

Sebelum duduk mas Fian berbicara kepada ibunya. "Bu, ini Amelia mau bicara sama Ibu."

"Ya bicaralah," jawabnya sinis.

"Sebelumnya, aku minta maaf atas sikapku tadi. Dan ini, aku berikan kado pemberian dari Tante Shila untuk Ibu."

Wajah liciknya berubah semringah, bibirnya tersungging mengukir lengkung sebuah senyum bahagia penuh dengan kemenangan.

"Terima kasih Fian, kamu memang anak Ibu yang paling berbakti."

"Berterima kasihlah pada Amelia, Bu!" seru mas Fian.

"Ya sama saja, lah!" Si Nenek Gambreng melirik jahat padaku yang masih berdiri di samping mAs Fian yang duluan duduk. "Duh bagus sekali perhiasan ini, coba liha Des." Ucapannya benar-benar membuatku marah.

Tanpa bicara, aku berpamitan ke kamar dengan alasan sakit perut. Selera makanku hilang, saat melihat ketamakan wanita tua itu.

Mas Fian tidak beranjak, ia tetap duduk di kursinya berbincang dengan ibu dan adiknya. Benar-benar keluarga gila, semua bersekongkol menjahati aku.

Aku merutuk dan menggumamkan sumpah serapah untuk mereka, Mas Fian juga kurasa sama saja, kebaikannya padaku cuma pencitraan.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Hubunganku dengan sang mertua yang super celamitan itu belum ada perubahan, kami tinggal satu rumah tapi seperti tidak mengenal satu sama lain.

Bahkan kini aku sudah kebal, dengan segala perlakuan adik ipar dan ibunya.

Aku bersikap masa bodoh dan tetap menjadi pembangkang, tidak peduli walaupun aku harus ditegur oleh Mas Fian karena sikapku yang keras.

Kulayani tabuhan genderang perang yang mereka nyalakan, tanpa rasa takut sedikit pun. Kadung dicap jadi menantu dengan reputasi yang jelek, percuma aku mau berbuat baik juga tetap saja dinilai minus.

Perang dingin yang terjadi ini berlangsung lama, hingga tidak terasa usia pernikahanku sudah menginjak satu tahun. Mas Fian memberikan sebuah kejutan kecil, mengajakku makan malam romantis di sebuah restoran mahal, di akhir acara ceremonial pribadi itu dia memberikan aku sebuah cincin bermata bulat, katanya itu berlian. Tampak berkilau dan sangat indah.

"Happy anniversary, Sayang!"

"Makasih, Mas." Kupandang jemari lentik yang semakin cantik, saat benda bulat mahal itu tersemat di jari manis sebelah kiri.

"Mas yang harusnya bilang makasih, karena satu tahun sudah Dek Amel setia mendampingi Mas yang banyak kekurangan ini."

"Ah, sama-sama, Mas. Manusia mana ada yang sempurna."

"Iya, Dek. Banyak doa yang Mas panjatkan untuk pernikahan kita, Mas berdoa dan berharap semoga di tahun kedua nanti kita merayakan anniversary bertiga."

Keningku berkerut. "Bertiga? Siapa?"

"Anak kita," ucapnya penuh harap.

Tidaaaaaaaaak! Jangan sampai aku hamil, bisa kacau semuanya, meski sudah satu tahun, tapi jujur aku masih berharap bisa bebas dari kukungannya. Aku ingin mencintai, tersiksa hidup seperti ini, bergelimang harta dan cinta, tapi merana.

Aku ingin punya pendamping hidup yang sebaya, kalaupun memang lebih tua jangan jauh-jauh, satu atau dua tahun sepadan itu.

Mas Fian bukan tipeku, kuakui wajahnya memang tampan, mirip aktor Abimana. Tapi gayanya kolot, rambutnya selalu klimis dibelah samping, bulu-bulu halus di wajahnya membuatnya semakin tua, apalagi ditambah gaya fashionnya yang monoton, duh gak banget deh.

Aku malah bersyukur belum hamil, dan selalu berdoa untuk tidak hamil. Supaya si Nenek Gambreng marah, lalu menyuruh anaknya itu untuk nikah lagi. Dengan begitu, bisa dengan mudah aku berdalih enggan dipoligami dan hengkang pergi.

"Hei, kok ngelamun?" Aku tersadar, saar jemari Mas Fian mengusap pipiku.

"Gak, kok. Cuma rasanya aku belum siap punya anak," jawabku jujur.

"Kenapa?"

"Aku masih muda, baru 20 tahun. Masih kepingin kuliah, jadi seorang sarjana adalah cita-citaku sejak dulu."

Mendengar pernyataanku, Mas Fian membisu. Ia mengalihkan pembicaraan dengan membahas rencana bulan madu yang belum terlaksana. Weleh Bandot, boro-boro mau mikirin bulan madu. Dia kok gak ngerti-ngerti sih? Katanya S2 tapi kok pola pikirnya dangkal banget, aduh biyung.

"Mau ke Turki?" tanyanya antusias memperlihatkan foto-foto keindahan negara yang beribukota di Ankara itu.

Aku menggeleng dan membuang muka ke samping, kutarik tangan yang sedaritadi digengganggamnya. Tanpa basa-basi yang dirasa basi, aku mengajaknya pergi.

"Hidangan pencuci mulutnya belum diantar, Dek." Si Bandot Tua mencoba menahanku

"Mulut aku udah capek ngunyah, udah yuk pulang! Aku ngantuk, gatal badan aku pakai gaun kaya gini, ketek aku apalagi." Tanpa segan aku menggaruk-garuk ketiak yang terasa basah dan gatal karena gaun brukat hitam lengan panjang yang dikenakan terasa ngetat, sehingga kulit ini sulit bernapas.

Si Bandot Tua terkekeh, lalu ia menuruti permintaanku. Kuturunkan ujung gaun yang naik sedikit, usai itu kutenteng tas tangan silver yang ribet tapi harus aku pakai karena dibelikan khusus olehnya demi terciptanya makan malam romantis yang menurutku sadis ini.

Sebelum melangkah, Mas Fian menyodorkan lengannya agar bisa aku gamit. Aku memutar bola mata sejenak, karena benci sekali kurasa. LEBAY!

Mau tidak mau, aku menggamit lengannya. Berjalan bersama bagai sepasang suami istri yang harmonis dan bahagia.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 5 lainnya memberi reputasi
Chapter 5


Si Bandot Tua terkekeh, lalu ia menuruti permintaanku. Kuturunkan ujung gaun yang naik sedikit, usai itu kutenteng tas tangan silver yang ribet tapi harus aku pakai karena dibelikan khusus olehnya demi terciptanya makan malam romantis yang menurutku sadis ini.

Sebelum melangkah, Mas Fian menyodorkan lengannya agar bisa aku gamit. Aku memutar bola mata sejenak, karena benci sekali kurasa. LEBAY!

Mau tidak mau, aku menggamit lengannya. Berjalan bersama bagai sepasang suami istri yang harmonis dan bahagia.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Kudekati Mas Fian yang sedang serius menonton acara berita di televisi, dalam posisi telungkup aku naikkan kepala ke atas ujung sandaran sofabed yang diduduki olehnya.

"Mas," panggilku.

"Iya, Dek." Dia menjawab tanpa menoleh saking seriusnya.

Ragu-ragu tapi pasti aku memberikan sebuah brosur, ia membuka dan kemudian membacanya.

"B-boleh ya?" tanyaku tak patah arang.

"Pasca lulus S1 nanti, memangnya Dek Amel mau kerja?"

"Kalau ada pekerjaan yang bagus, kenapa enggak Mas."

"Dek, Mas itu sebenarnya gak pernah ngelarang Dek Amel untuk kuliah, tapi kalau niat kuliah dengan tujuan berkarir Mas gak setuju sampai kapan pun."

"Mas jangan egois, dong! Emansipasi wanita, Mas."

"Mas ini kepala rumah tangga, tulang punggung keluarga, selama Mas sehat maka Mas yang akan bekerja mencukupi kebutuhan kita, termasuk orang tua dan adik-adik kita."

"Aku kan mau mandiri, Mas. Kepingin punya pendidikan yang tinggi, serta karier yang bagus. Mas Fian aja S2 kok," cerocosku tak mau kalah.

"Mas kan lelaki, Dek. Tanggung jawabnya besar, punya amanah yang harus dijaga dan diurus."

"Ah alasan aja, Mas Fian takut aku selingkuh?"

"Wajar kalau Mas punya rasa begitu, Mas ini suami Dek Amel. Mas sayang sama Dek Amel."

"Halah, kalau sayang buktiin dong! Kasih aku izin untuk kuliah, apa Mas gak malu di saat ada pertemuan dengan relasi yang mengharuskan bawa istri, terus istri dari relasi Mas tanya apa pendidikan terakhir aku?"

"Ya Allah, Dek. Malu kenapa? Tinggal jawab saja jujur, toh kita hidup bukan hasil meminta belas kasih dari mereka."

"Mas ini, pintar banget bersilat lidah!"

"Astaghfirullah, Dek Amel!"

Aku memutar bola mata, suasana yang menjadi panas membuat aku harus merubah posisi. Aku duduk bersila sembari melipat kedua tangan di depan dada.

"Aku tahu, ada alasan lain kenapa Mas Fian gak izinin aku kuliah!"

"Apa lagi?" tanya sembari memutar tubuhnya, ia tumpukan kepala di atas kedua telapak tangannya.

"Mas pelit, gak keluar uang buat aku kuliah?"

Si Bandot terkekeh, lalu menepuk pahaku yang mulus, dasar mesum!

"Ya ampun, Dek. Kok salah paham gitu, buat istri masa iya Mas mau perhitungan. Pamali, Dek. Rezeki suami adalah rezeki istri, kalau suami pelit maka rezekinya akan sulit."

"Ya udah, bolehin aku kuliah kalau gitu. Dari tahun lalu loh, Mas, aku kepingin kuliah. Katanya Mas sayang aku."

Mas Fian menggeleng lalu ia berbalik badan serta membuang pandangannya ke layar datar televisi yang menempel di dinding, harapanku kembali kandas sebelum memulai. Segera aku menyambar brosur yang sedang dipegangnya, sambil bersungut aku beringsut ke tengah peraduan dan menonton youtube dengan volume maksimal.

Mas Fian geleng-geleng dengan sifatku yang masih kekanak-kanakan. Tanpa bicara sepatah kata pun, dia berlalu pergi keluar meninggalkan aku sendirian di dalam kamar ini.

"Dasar Bandot Tua, picik banget pikirannya! Aku marah bukannya dirayu, ini malah ditinggal pergi, stress!" sungutku kesal.

"Pokoknya Niatku untuk kuliah sudah bulat, kalaupun Mas Fian gak mau membiayai biarlah aku yang akan membayarnya. Toh aku punya tabungan pribadi, walaupun jumlahnya belum banyak tapi kurasa cukup."

Dengan tekad bulat, aku akan mendaftar kuliah. Tapi aku harus putar haluan, aku mesti cari kampus yang terjangkau dengan budgetku.

Tidak membuang waktu, keesokan paginya setelah Mas Fian berangkat ke kantor. Diam-diam aku mendaftar kuliah, niatku nanti saja kalau aku sudah lulus tes baru aku akan memberitahu Mas Fian, dengan cara itu ia tidak akan bisa melarangku. Kan sudah keluar uang dan namaku jug sudah terdaftar di kampus.

Dengan menaiki taksi online, aku tiba di sebuah bangunan yang cukup luas nan hijau. Di gerbang masuk, terdapat papan nama besar identitas kampus bertuliskan 'KAMPUS HARAPAN BANGSA'.

Kampus yang aku datangi memang bukan kampus favorit ataupun terkenal di kota ini, yang penting bagiku bisa kuliah dengan biaya yang tidak terlalu mahal sehingga apabila Mas Fian tidak bersedia membiayai, maka aku sanggup membayarnya dengan uang jatah bulanan darinya.

Ku isi formulir pendaftaran, pihak kampus menginfokan bahwa dua pekan mendatang harus datang untuk melakukan ujian test masuk.

Dalam rentang waktu menunggu, aku banyak membaca materi dan informasi mengenai ujian masuk kuliah lewat internet. Semua aku lakukan diam-diam, santai, tapi pasti.

Hingga saat waktu dinanti pun tiba, dua minggu kemudian aku mengikuti test masuk fakultas ekonomi, aku mengerjakan soal-soal test dengan sungguh-sungguh karena besar harapanku dapat lulus ujian ini. Keinginan untuk kuliah sangat membuncah di dalam dada ini.

Harap-harap cemas aku menunggu hasil yang akan diumumkan minggu depan, hingga tidak enak makan dan insmonia.

"Dek, kok gak makan?" bisik Mas Fian, saat melihat aku hanyak menggoyang-goyangkan sendok juga garpu.

Aku menggeleng, lalu mendongak sehingga tampak dua makhluk astral sedang tersenyum sinis sembari memutar bola matanya. Secepatnya aku buang muka, ibu mertua dan adik iparku benar-benar menyebalkan.

"Mau Mas suapin?"

"Gak mau, Mas. Aku pamit duluan, ya!"

Tanpa menunggu jawaban Mas Fian, aku bangkit dari kursi makan dan melangkah cepat menuju kamar.

Menunggu hasil test ujian benar-benar bikin aku stres! Saking kepinginnya aku kuliah, jadinya ya kaya gini nih. Mau ngapa-ngapain jadinya serba salah. Alhasil, jurus jitu ternyaman adalah rebahan.

Setelah satu minggu aku menunggu akhirnya tibalah hari pengumuman hasil test ujian masuk itu, dengan jantung berdebar aku membuka website di ponsel.

Mataku membaca satu persatu nama peserta yang lulus ujian test masuk perguruan tinggi. "Amelia Gentari Permadi ... alhamdulillah yaa Allah aku lulus."

Hatiku benar-benar bahagia karena tahun ini aku sudah mulai kuliah, impian pertama sudah terwujud. Aku sekarang jadi mahasiswi, akan keren saat memakai jas almamater, aktif di kegiatan kampus, duh jadi gak sabar ini jadinya.

Pasca menikah, aku sudah punya niat untuk mewujudkan impian. Sebuah impian menjadi seorang sarjana, lalu kemudian bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang lumayan. Sehingga aku bisa lepas dan bebas dari Bandot Tua yang membuat hidupku sia-sia.

Setelah mendapatkan uang sendiri, tentunya aku bisa mandiri dan dapat melepaskan diri dari belenggu pernikahan yang benar-benar sangat membuatku muak dan makan hati.

Aku benci pernikahan ini, aku malu punya suami Bandot Tua yang meski kata Mak author dan lainnya dia memiliki wajah yang tampan kaya aktor keren Abimana, pemeran Dono dalam film Warkop DKI Reborn, tapi tetap saja aku tidak menyukainya.

Tipe cowok aku itu yang cool, gaul, keren, bergaya masa kini. Bukan aki-aki kaya si Bandot Tua itu, yang gaya rambutnya monoton persis kaya pola hidupnya yang sangat teratur. Ah, pokoknya dia itu gak banget deh, mustahil aku bisa cinta sama dia.

Kalau ada yang tanya, kenapa masih bertahan kalau memang gak cinta dan muak? Atuh yah, kalau aku punya kuasa udah pasti aku udah minggat. Sekarang aku belum punya power, makanya aku ngotot minta kuliah supaya aku bisa segera hengkang dari kehidupan yang menyebalkan ini. Meski itu akan memakan waktu yang cukup panjang.

Aku akan bermain cantik dengan strategi yang mumpuni, pokoknya aku gak boleh lengah. Jangan sampai juga aku hamil, pokoknya gak boleh.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Hari ospek pun sudah ditentukan yaitu hari senin minggu terakhir di bulan agustus ini, akhirnya malam ini aku putuskan untuk jujur kepada Mas Fian bahwa mulai hari Senin aku sudah mulai berkegiatan di kampus.

Usai makan malam, saat Mas Fian terlihat sedang bersantai sembari menikmati secangkir coklat hangat di halaman belakang, kulihat matanya menerawang jauh ke langit seperti sedang memikirkan sesuatu.

Aku duduk tepat di sampingnya, sebelum bicara kutarik napas dalam-dalam agar keberanian dalam diri terkumpul semua.

"Mas, aku mau ngomong sama Mas."

"Ada apa, Dek?"

"Sebelumnya maafin aku, karena tanpa sepengetahuan Mas aku daftar kuliah. Aku sudah ikut test masuk dan lulus. Senin minggu depan mulai ospek, Mas."

"Mas sudah tahu."

"Tahu dari mana?"

"Semua tentang Dek Amel, Mas tahu Dek."

"M-maksud Mas?"

Aku membelalak tak percaya.

"Mas ini suami Dek Amel. Mustahil Mas akan lepas kontrol mengawasi Dek Amel."

"Jadi, Mas mata-matain aku? Posesif banget sih!"

"Bukan begitu, Dek Amel di kota ini adalah orang baru. Kalau sampai terjadi apa-apa, gimana?"

"Jadi Mas udah tahu soal kegiatan OSPEK aku?"

Dia mengangguk mantap, ku tangkap tersirat raut wajah kecewa karena aku lancang melanggar perintahnya.

"Mas izinin, kan?"

"Apa bisa kalau Mas larang?"

"Ya, enggak sih. Aku mau tetap lanjut."

"Dek Amel keras kepala kalau dibilangin, memangnya semua yang sudah Mas kasih ke Dek Amel kurang?"

"Lebiih dari cukup Mas, tapi aku pengen banget kuliah. Mas kan tahu dari sebelum kita menikah aku ingin sekali kuliah, tolong dong Mas mengerti aku!"

Aku tidak mungkin jujur dan tidak akan pernah mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa dia ngurung aku di kamar kaya tawanan.

"Mas tambah uang bulananmu ya, asal Dek Amel gak kuliah!"

Aku merengek tidak mau, pemandangan saat ini persis sekali seperti anak yang merajuk pada ayahnya agar dibelikan mainan baru, ckck.

"Pokoknya aku kepengen kuliah, kalau Mas Fian gak izinin aku kuliah, aku mau mogok makan!"

Aku pun pergi meninggalkannya, seperti biasa setiap aku marah dia akan diam dan tidak pernah berusaha untuk mengejar atau merayuku.

'Memang dasar Bandot, bagaimana aku mau suka dan cinta sama dia, sikapnya saja begitu. Iiihhh amit-amit!!' rutukku.

Aku masuk ke dalam kamar dan membanting pintu sekencang-kencangnya, ibu mertuaku dan Desi yang sedang menonton televisi sepertinya terkejut, kudengar suara mereka memakiku.

"Menantu gak tahu sopan santun!" caci si Nenek Gambreng.

"Iya, Bu. Kok bisa ya Mas Fian suka sama cewek kaya gitu."

"Tau tuh! Dipelet kali, karena celamitan lihat hartanya."

"Iya, pastinya itu Bu. Secara usia mereka terpaut jauh. Kaya bapak sama anak, haha."

"Hush!"

"Loh kenyataan, Bu. Aku aja ogah kalau ada cowok yang mau kaya Mas Fian, bukan masalah fisiknya ya Bu, tapi masalah usianya itu. Jomplang, age gap, Bu."

"Halah, umur ngaruh apa sih? Yang penting finansialnya bagus, Des. Ya, kaya si Amel itu. Licik dia."

Geram rasanya aku mendengar cacian mereka yang sengaja lantang, agar aku bisa mendengar dan kemudian marah melabrak mereka, lalu aku lagi yang ditegur Mas Fian. Ujung-ujungnya aku lagi yang bakalan disuruh minta maaf, hadeuh capek deh!



Tapi sebodo amatlah, apa pun yang aku lakukan selalu salah di mata mereka, mau benar apalagi salah pasti akan sama penilaiannya.

Semenjak malam ini, aku dan Mas Fian perang dingin. Dia ngambek karena aku gak nurut sama dia, biasa tidur memeluk, tapi kali ini tidak. Idih, lebay!

Aku sih bodo amat, gak mau ambil pusing. Hidup cuma sekali shay, jangan dibikin rumit.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Hari ospek pun tiba, pukul 06.00 aku sudah berangkat dari rumah, aku berpamitan kepada Mas Fian, tanggapannya masih dingin.

"Mas gak apa-apa ya, sarapan sendiri?"

Dia bergeming, ah cepat-cepat saja ku tinggal pergi. Aku tak peduli, yang penting aku sudah pamit baik-baik dan sopan.

"Neng Amel, mari saya antar!" kata lelaki paruh baya yang tidak lain adalah suami dari Bik Nani.

"Nanti kalau Mas Fian?"

"Perintah Mas Fian, Neng." Pak Asep membukakan aku pintu dengan santun.

Dan akhirnya, aku diantar oleh Pak Asep, sopir pribadinya Mas Fian. Perjalanan yang ditempuh lumayan singkat, tidak sampai satu jam aku sampai di kampus.

Seru sekali kegiatan ospek ini, wawasanku jadi terbuka luas, otakku yang selama ini mumet pun menjadi plong setelah bertemu dengan orang-orang baru.

Tidak ada plonco, atau tindak kekerasan yang sadis. Ospek yang dilakukan semuanya bernilai positif, penuh dengan kegiatan yang mengedukasi calon mahasiswanya.

Ku tangkap tatapan berbeda dari salah seorang dosen muda, yang tadi pagi kebetulan berpapasan saat aku kebelet ke toilet.

Beberapa kali ia melintas di depanku, pasti selalu menoleh dan tersenyum kepadaku. Aku bukan kepedean, tapi memang kenyataannya begitu. Karena saat dia tersenyum, aku perhatikan orang-orang di sekitarku fokus dengan ucapan kakak senior yang sedang berbicara di depan.

Hingga jam istirahat tiba, aku gontai berjalan sendiri menuju kantin. Di ambang pintu, aku bertemu lagi dengan si dosen ramah itu. Tanpa ragu dia menyapaku, aku pun tersenyum.

Pertemuan yang singkat itu meninggalkan kesan aneh dalam hati ini, bisa jadi aku geer karena ada seseorang yang ganteng memperhatikan aku. Aku menoleh saat dia berlalu, dan jantung ini semakin berdegub kencang saat tahu dia pun melakukan hal yang sama denganku.

Seketika pipi ini menghangat, merasa malu sekaligus senang. Sembari tersenyum-senyum sendiri, aku melangkah menuju meja yang masih kosong. Segera aku duduk dan memesan segelas es jeruk yang segar.

Aku buka kotak makan, kemudian segera menyantapnya. Sebuah bekal yang dibuat oleh Bik Nani yang baik hati. Menu sederhana tapi sangat lezat, nasi bakar dengan ayam goreng dan oreg tempe.

Lahap sekali aku memakannya, hingga kotak makan itu bersih kelimis kaya rambutnya si Bandot Tua.

Ting ... notifikasi pesan pun masuk. Sebuah pesan dari mas Fian. Panjang umurnya nih Bandot, baru juga disebut eh udah nongol aja dia.

[Dek, jangan lupa makan ya!]

Aku tersenyum menyeringai, karena ternyata dia perhatian juga padahal selama ini kami saling diam dan tadi pagi sewaktu aku pamit raut mukanya sangat dingin dan menyeramkan.

Pesan darinya sengaja tidak kubalas karena tidak ingin, entah kenapa aku tidak pernah tertarik berlama-lama komunikasi dengannya.

Setengah jam berlalu, ponselku berdering. Si Bandot yang menelepon, hingga berkali-kali tapi tidak kujawab.

Kuabaikan begitu saja di atas meja, sedangkan aku sibuk memakan seporsi batagor hangat yang baru saja diantar.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang padaku, seorang mahasiswi baru juga, bermata sipit, kulitnya putih bak sayur lobak.

"Silahkan."

"Hai, gue Ricca," sapanya mengulurkan tangan mengajakku berjabat.

"Amelia," jawabku sopan, menjabat tangannya erat.

"Fakultas apa?" tanyanya sembari mendaratkan bokongnya ke kursi plastik.

"Ekonomi."

"Wow, sama dong. Kita bakal satu kelas, gue harap kita bisa berteman baik."

"Bisa dicoba."

Tawa kami pun berderai.

"Eh Mel, kok gak diangkat teleponnya? Dari tadi itu nyanyi terus hapenya," ucap seorang Ricca.

"Eh itu om gue, Ric. Males ah."

"Om ketemu gede ya, haha."

"Haha bisa aja, lo."

"Pacar lo kali ya? Lagi marahan kah?"

"Gue ini jomblo, justru lagi nyari pacar, haha."

Aku gak mau jujur, malu binti gengsi harus ngaku udah nikah sama orang baru. Kalau suaminya keren dan masih muda sih, gak masalah. Lah ini, udah tuwir.

"Mau gue comblangin?"

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya, segera kualihkan pembicaraan dengan topik yang lain. Obrolan kami sangat seru, Ricca adalah sosok yang ramai dan cerewet. Suka bercerita berbagai hal, wawasannya pun luas. Fix, dia cewek smart.

Dalam waktu yang singkat, kami pun menjadi akrab. Aku suka dengan teman baruku ini, sangat supel dan humble.

Saking asiknya bercerita, tidak terasa jam istirahat pun usai, kegiatan ospek segera dimulai kembali. Sungguh sangat melelahkan tapi aku sangat menikmatinya, penuh semangat karena suasananya memang sangat menyenangkan.

Peluh bercucuran tidak dirasa, yang tercipta hanya keceriaan bersama teman-teman yang baru dan di dalam lingkungan yang baru pula.

Tepat pada pukul 17.30 kegiatan yang menguras tenaga ini berakhir, Ricca berjalan denganku menuju gerbang depan kampus.

"Lo dijemput, Ric?"

"Yoi, gue dijemput cowok gue. Lo dijemput, gak?"

"Enggak, gue udah pesan gojek."

"Rumah lo jauh, Mel?"

"Lumayan, sejam kurang lah."

"Dih, naik motor pegel, Mel. Taksi online enak, adeum."

"Hemat, hehe."

Ricca tertawa, begitu juga dengan aku. Tapi, raut ceria di wajah ini sekejap sirna saat sampai di gerbang depan kampus, kulihat Mas Fian sudah berdiri di samping mobil dan melambaikan tangan kepadaku.

Jantung ini berdegub kencang, ini gak beres. Rahasia aku akan terbongkar, mau ditaruh di mana muka ini? Ricca pasti mencap aku cewek tukang ngibul, hadeuh kacau si Bandot Tua bikin rusuh aja ah.

Aku pura-pura tidak melihatnya, aku benar-benar malu karena punya suami yang sudah berumur. Seandainya Mas Fian usianya masih 25'an mungkin aku masih pede mengakui sudah menikah.

Aku bingung harus bagaimana, selain Ricca, para mahasiswa lain pun akan menyorot Mas Fian. Kalau sampai ketahuan, aku bisa malu.

Keringat dingin bercucuran, telapak tangan ini terasa mati rasa, tungkai kaki pun terasa lemas.

Bayangan aku akan ditertawakan serta diejek sudah di pelupuk mata, seketika hilang semangatku untuk melanjutkan ospek besok. Ya Allah, gimana ini?

Kulihat Ricca sedang sibuk menelepon pacarnya, aku pun sibuk menghubungi driver gojek dan menyuruhnya supaya cepat menjemputku.

Sial! Beberapa kali kuhubungi si driver tapi tak juga mengangkat, mungkin dia sedang ngebut demi bisa menjemputku dengan segera.

Jarak aku dan Mas Fian semakin dekat, suasana gerbang kampus pun riuh ramai oleh para mahasiswa yang sama-sama akan pulang.

Hingga saat terdengar suara klakson mobil dari arah belakang, kami semua yang sedang berdiri di tengah jalan masuk pun segera menepi. Sebuah mobil Honda jazz biru metalik melaju pelan. Saat melintas di hadapan, si pengemudi membuka kaca jendelanya.

"Mau sama-sama?" Si dosen ganteng menawarkan tumpangan padaku.

Alamak, jang! Seandainya di sini gak ada si Bandot Tua, pastinya aku menerima tawaran menarik itu.

"Makasih, Pak. Saya sudah dijemput ayah saya," jawabku sekenanya.

"Baik, duluan ya!"

"Silahkan, Pak."

Kutatap nanar bodi belakang mobil sang dosen keren yang menjauh memasuki jalan raya, hatiku mencelos.

Aku yang sibuk meratapi nasib diri yang tidak beruntung pun kembali merutuk, sampai-sampai aku marah-marah sendiri saat aku kembali mencoba menelepon driver ojek online yang lama tidak datang juga.

Segitu besarnya rasa kesal dan marah, hingga membuat aku tidak menyadari kalau Mas Fian sedang berjalan mendekat ke arahku.

"Dek, lagi telepon siapa?" Aku terkejut dan gelagapan.

"Telepon driver ojol."

"Ngapain naik ojol, Mas udah jemput."

"Cancel, Mas. Aku kira Mas gak akan jemput," kilahku, segera mencancel ojek lewat opsi di aplikasi

Tidak membuang waktu, sebelum Ricca mengendus dan tahu, aku menarik tangan Mas Fian bergegas.

Hal ini aku lakukan mumpung Ricca belum ngeh dengan kehadiran Mas Fian, dia masih sibuk bicara di telepon dengan pacarnya.

Tanpa pamitan aku membawa Mas Fian menjauh dari Ricca. Tapi, sial! Baru beberapa meter kami berjalan, Ricca berteriak memanggilku.

Aku bersikap tuli dan mengabaikan panggilannya, tapi dia tidak patah arang, dia mengejar kami.

"Mel, lo mau ke mana?"

Badanku mendadak panas dingin, ketika tahu Ricca berlari kecil mendekat pada kami.

"P-pulang Ric, lo belum dijemput?"

"Cowok gue gak jadi jemput, katanya masih ada kegiatan di kampusnya." Ricca memasukkan ponselnya kedalam tas.

Wajahnya terlihat lesu, karena gagal bertemu dengan kekasih yang sangat dicintainya.

"Oh gitu." Aku menjawab dengan kalimat tidak bermutu, duh aku benar-benar kalut sekarang.

Jarak Mas Fian dan Ricca sangat dekat, bagaimana ini?

"Lo balik sama siapa? Itu cowok, lo?" suara Ricca nyaring sekali, menggelegar bagai suara petasan di kimpoian orang Betawi.

"Eh ... ini, ini ...." Suaraku tertahan.

Aku harus jawab apa?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Waduuhhh kok mencintai aki-aki sih neng geulis
Penasaran ane itu mulustrasinya bening bener. Tambahin gan emoticon-Ngakak
Nitip sendal gan dimari
Wess thread baru lagi. Numpang gelar tenda aja disini deh
nitip sendal
Kombinasi cerita "kumenangis" indosiar + bokep keyword "old man fu*k teen"
emoticon-Leh Uga
Chapter 6


"Mel, lo mau ke mana?"

Badanku mendadak panas dingin, ketika tahu Ricca berlari kecil mendekat pada kami.

"P-pulang Ric, lo belum dijemput?"

"Cowok gue gak jadi jemput, katanya masih ada kegiatan di kampusnya." Ricca memasukkan ponselnya kedalam tas.

Wajahnya terlihat lesu, karena gagal bertemu dengan kekasih yang sangat dicintainya.

"Oh gitu." Aku menjawab dengan kalimat tidak bermutu, duh aku benar-benar kalut sekarang.

Jarak Mas Fian dan Ricca sangat dekat, bagaimana ini?

"Lo balik sama siapa? Itu cowok, lo?" suara Ricca nyaring sekali, menggelegar bagai suara petasan di kimpoian orang Betawi.

"Eh ... ini, ini ...." Suaraku tertahan.

Aku harus jawab apa?

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

"Saya Fian, suaminya Amelia," ucap mas Fian sambil mengulurkan tangan kepada Ricca.

Diri ini bagai disambar petir, terasa lemas seketika. Kebohongan ini terbongkar sudah, duh Bandot Tua kok tega banget ngehancurin harkat martabak eh martabat aku di depan Ricca.

Yah kiamat kecil ini judulnya, lebih serem dari berantem sama si Nenek Gambreng atau Desi yang sok kecantikan itu. Duh, pokoknya hari ini adalah hari terburuk dalam sejarah hidup Amelia Gentari Permadi yang baik hati dan gak sombong ini.

Aku tidak berani menatap mata Ricca yang membulat sempurna kepadaku, aku ngebayangin saat ini pasti teman baruku itu sedang menaikkan alisnya dan membuka mulutnya alias menganga saking terkejutnya.

"Saya Ricca, Mas," jawab Ricca, menjabat tangan Mas Fian yang bersikap ramah. "Hmm, oke kalau gitu saya pamit Mas Fian, sampai ketemu besok ya, Mel." Ricca mencubit kecil tanganku, sebuah cubitan sebagai isyarat kalau dia minta penjelasan atas pernyataan si Bandot Tua barusan kepadanya.

"Gak sama-sama, aja?" Mas Fian dengan sopan menawarkan tumpangan.

Etdah, si Bandot kagak tau apa ya jantung ini lagi deg-degan? Ngapain sih pakai sok baik segala?

"Emh, gak usah! Lagian arah rumah Ricca berbeda, ya kan Ric?" Aku menekan akhir ucapan sembari menajamkan sorot mata.

"Iya, gak usah, Mas. Makasih banyak sebelumnya, saya mau naik taksi online aja. Sekali lagi, saya pamit ya Mas, Mel."

"Iya Ric, dah!" pungkasku secara halus mengusirnya.

Kulihat punggung Ricca yang berlalu, tidak membuang waktu aku segera mengajak Mas Fian masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan Ricca yang kini berdiri menatapku yang sudah berada di dalam kuda besi mewah hitam keluaran terbaru.

'Duh, besok gak mau masuk ah, gak berani ngadepin si Ricca. Amelia bodoh! Harusnya tadi waktu si Bandot telepon diangkat, pasti jadinya gak akan kaya sekarang, HANCUR BERANTAKAN!'

Aku meniup helaian rambut yang menjuntai di depan mata, lalu mengusap wajah kasar.

Di dalam mobil pikiranku kacau, Mas Fian lancang banget sih bilang kalau dia suamiku. Huft, mau marah tapi aku takut nanti dia malah stop uang bulanan dan bisa-bisa aku dilarang untuk kuliah karena dia curiga yang enggak-enggak sama aku.

"Kok diam saja, Dek?"

Yaelah, nih si Bandot malah nanya. Gak tau hati ini lagi kacau sekacau-kacaunya.

"Harus gimana? Joget-joget?" sungutku geram.

"Ya gak gitu, kaya ada yang dipikirin."

"Aku capek, Mas." Kusandarkan kepala di kaca jendela dan memejamkan mata.

"Chat Mas kenapa gak dibalas? Padahal sudah Dek Amel baca, centang biru. Telepon juga tidak Dek Amel jawab."

"Mas Fian ini kenapa sih?" bentakku, hingga membuat Pak Asep mengintip dari spion tengah.

Mas Fian menepuk-nepuk punggung tangan yang bertumpu di atas paha, ia menatapku tanpa rasa kesal sedikit pun. Dengan suara tenang ia berkata, "Maaf ya, Sayang."

Aku diam saja tidak menjawabnya, aku kembali memejam mata. Tapi baru beberapa saat aku terpejam, kurasakan tangan Mas Fian menyelusup di pundak lalu ia menggeser duduk agak ke tengah dan kemudian menarik tubuhku, membiarkan dadanya dijadikan sandaran.

Kamu ini baik dan sangat sabar, Mas. Tapi aku gak suka sama kamu, jadi apa pun yang kamu lakukan tidak berarti apa-apa di mataku.

Kurasakan telapak tangannya mengelus puncak kepala ini, aku bisa merasakan rasa kasih dan sayang yang begitu besar terhadapku.

Hingga tidak terasa aku pun benar-benar terlelap dalam dekapannya yang hangat.

Aku menggeliat, saat Mas Fian menepuk pelan pipiku. "Dek, sudah sampai."

"Emh, iya Mas."

Aku segera turun dan bergegas masuk ke dalam kamar.

"Langsung mandi, Dek! Jangan duduk atau rebahan dulu, bajunya kotor itu," teriaknya di luar.

Kan kumat sifat perfectionistnya, nyebelin!

Tanpa menjawab, aku masuk ke dalam kamar mandi. Setelah bersih dan berganti pakaian, segera aku menunaikan salat. Terakhir, ranjang dengan kasurnya yang empuk pun jadi tujuan terakhirku.

Aku merebahkan diri, raga ini begitu letih. Hingga tak terasa aku terlelap, hingga beberapa jam kemudian Mas Fian membangunkanku.

"Dek, makan dulu yuk!"

Aku membuka mata dan melirik jam dinding, rupanya sudah pukul 22.00. Aku belum beranjak dari posisiku.

"Dek, makan yuk. Aku sudah lapar, aku gak mau makan sendiri."

Kutatap wajah mas Fian, laki-laki di hadapanku ini sangat perhatian tapi terkadang menyebalkan.

"Mas makan aja duluan, aja! Aku gak lapar."

"Ya sudah kalau gitu aku juga gak akan makan." Mas Fian mematikan lampu utama dan merebahkan tubuhnya di sampingku.

Aku tidak menanggapi gertakannya, aku sih masa bodo dia mau makan atau tidak, EMANG GUE PIKIRIN!

Tanpa beban aku melanjutkan tidurku kembali.

Ketika adzan subuh berkumandang, usai mandi dan berpakaian rapi aku segera salat. Hari ini aku ingin berangkat lebih awal dari kemarin.

"Jam segini kok sudah mau berangkat, Dek?" tanya Mas Fian.

"Gak apa-apa, supaya santai aja nanti di sananya."

"Ya udah sarapan dulu sana, kan semalam Dek Amel gak makan. Mas juga lapar, ingin sarapan sama-sama Dek Amel."

"Aku belum lapar, Mas sarapan aja sendiri! Bik Nani udah bikinin bekal untuk aku."

Mas Fian menatapku dengan tatapan sedih, mungkin hatinya merasa tersinggung atau kecewa karena aku tidak mengiyakan permintaannya.

"Aku pergi dulu, Mas. Assalamualaikum." Kucium punggung tangannya dan berjalan cepat keluar dari kamar.

Aku sengaja berangkat lebih pagi karena sudah ada janji dengan Ricca, aku berjanji padanya akan menceritakan semuanya.

Sesampainya di kampus, aku segera ke tempat di mana aku dan Ricca janjian bertemu, tampak sosok itu sedang duduk di bangku kantin sibuk dengan ponsel di tangannya.

"Udah dari tadi, lo?" tanyaku berbasa-basi.

"Dari abis shalat isya gue di sini, haha." Segera dia menutup ponsel dan meletakannya di meja.

"Haha, dasar lo."

"Udah buruan cerita sama gue! Siapa Mas Fian itu?"

"Kepo banget sih, lo."

"Eh, jangan salah! Walaupun gue sama lo baru jadian sehari kemarin, tapi gue yang notabene udah jadi temen lo wajib tahu kehidupan temen gue itu seperti apa."

"Oke, gue akan cerita. Tapi janji lo gak akan ember sama siapa-siapa!"

"Mau cerita sama siapa? Gak ada yang kenal di sini."

"Ya kali nanti."

"Gue janji, udah buruan!"

Akhirnya pagi itu untuk pertama kalinya aku menceritakan segala lika-liku hidupku kepada Ricca. Rasanya beban di hati ini lenyap seketika, aku jadi punya teman curhat sekarang.

"Cerai aja, simpel. Masalah pun beres," celetuknya.

"Enak aja, lo! Gak segampang itu, nama baik bokap gue taruhannya. Gue harus sukses dulu baru bisa bertindak, Ric."

"Lo manfaatin dia, dong?"

"Ya kagak lah, gue gak morotin dia. Gue hidup sewajarnya, gak minta ini itu. Dikasih duit bulanan ya diterima, kalau mau apa-apa ya beli sendiri dari jatah gue itu. Kecuali Mas Fian nawarin dan gue juga suka, baru dia yang bayarin."

"Kasihan lah, Mel."

"Kasihan kenapa?"

"Simbiosis mutualisme."

"Dosa, lo!"

"Tau apa lo sama dosa? Nikah aja belum, lo gak ngerasain apa yang gue rasain saat ini. Sakit, terkekang, dan ngebatin tahu gak. Apalagi emak dan adeknya yang serakah, selalu ngusilin gue."

"Belajar cintai dia, Mel."

Aku menggeleng.

"Kenapa?" Ricca kembali menginterogasi.

"Ya gak kenapa-kenapa, susah gue buat cinta sama dia. Dia bukan tipe gue, malu gue punya suami kaya dia. Tua, pantesnya dia jadi bokap gue, Ric. Selisih usia kami 21 tahun."

"Hah? Seriusan lo?"

"Ngapain gue bo'ong?"

"Ya kali, karena lo gak suka, jadi lo ngelebih-lebihin."

"Ilfeel gue sama dia Ric, lo kan udah tau umurnya dia hampir sama dengan bokap gue. Gue pengen punya suami yang mudaan, yang keren, good looking, lebih ganteng pokoknya."

"Heh Non, lo ilangin dulu rasa ilfeel itu, lo lihat kebaikannya dia sama lo dan keluarga selama ini. Gue jamin lo bakal berubah dalam setelah lo menilai dari sisi baiknya."

"Ah, ogah. Males, gak ada waktu gue buat ngelakuin hal gak guna gitu."

"Sok cantik lo!"

"Sialan," sungutku, menjitak kepala Ricca dengan kesal.

"Mel, jangan marah! Gue mah ya sebagai temen wajib ngasih tahu untuk kebaikan. Gue rasa Mas Fian lo itu gak setua usianya."

"Bodo amat!"

"Seriusan, Mel. Gue aja yang baru pertama kali ngeliat dia kagum kok, dia ganteng, tinggi besar, bersih dan gayanya keren. Sumpah demi Tuhan, gak kelihatan kalau umurnya sudah mau 40."

"Ah pokoknya gue malu punya suami tua gitu."

"Ckck, gak ada bersyukurnya lo, Mel."

"Bukan gak bersyukur, kan dari awal gue gak pernah setuju sama pernikahan ini. Tapi apa? Bokap sama Mas Fian maksain diri, jangan salahin gue dong."

"Mel ... Mel! Dengerin nih ya, zaman sekarang banyak cowok ganteng n muda seperti yang lo mau. Tapi yakin gak dia baiknya bakalan sama kaya laki lo?"

"Yakin ada lah, masa iya kagak ada."

"Susah ngomong sama lo, tambeng! Suami segitu ganteng dan gagah, lo bilang malu punya suami macam dia."

"Lo mah malah belain dia, lo kan udah jadi temen gue sekarang, udah seharusnya lo dukung gue!"

"Gue dukung kalau lo bener, lah ini lo salah jadi gak mungkin lah gue bela. Kita seumuran, tapi pikiran lo masih kaya bocah banget."

"Rese lo ah, jadi nyesel gue cerita sama lo!"

"Nih Mel, gue kasih tahu ya. Laki-laki macam Mas Fian itu 1001 loh di dunia ini, lo jangan banyak protes sama skenario Allah. Nanti Allah bisa marah, terus ngebalikkin hati Mas Fian supaya ilfeel, dan lo yang jadi tergila-gila baru nyaho!"

"Udah ah, jangan bahas dia lagi. Gue mumet, kita ke area ospek aja yuk. Lima belas menit lagi mulai."

Dengan wajah yang masih kesal Ricca mengikuti ajakanku.

Hari ini adalah hari ospek terakhirku, memang hanya dua hari ospek di kampus ini. Bersyukur sekali kegiatan ospeknya tidak ada acara menginap, jadi aku bisa mengikuti. Kalau sampai menginap bermalam-malam, pastinya si Bandot tidak akan mengizinkan.

Tidak terasa sore yang dinanti tiba, kegiatan ospek pun telah selesai dengan lancar dan sukses.

Kuliah akan dimulai pertengah bulan September nanti, aku sangat tidak sabar menanti hari di mana aku sudah sah menjadi mahasiswa.

Gontai aku berjalan meninggalkan lapangan bersama Ricca, kulihat ponsel, banyak sekali pesan juga panggilan tidak terjawab dari si Bandot.

Tak ingin membuatnya nekat seperti kemarin, aku segera membalas pesannya mengabari kalau dia tidak usah menjemput.

Namun sepertinya usaha untuk memintanya tidak menjemputku sia-sia, ketika aku dan Ricca sudah sampai di gerbang depan kampus, si Bandot sudah ada melambaikan tangannya.

Ricca tersenyum lebar ke arah si Bandot, dia mencolek dan berbisik, "Ingat kata-kata gue tadi, jangan sampai lo menyesal di kemudian hari."

"Apaan sih, lo?"

"Tambeng! Udah sana balik," usirnya.

Aku mengangguk dan berpamitan kepada Ricca.

Si Bandot tersenyum sekilas saat melihatku mendekat, segera kucium punggung tangannya sebelum memasuki mobil, kulihat ada yang beda dari raut wajah lelaki 41 tahun itu. Ia tampak pucat dan tidak bersemangat.

Tapi aku enggan menanyakannya, malas dan tidak mau tahu juga dia kenapa.

Sama seperti kemarin, di dalam mobil aku banyak diam. Mas Fian pun bersikap sama, sore ini ia tidak banyak bertanya seperti kemarin dan tadi pagi.

Kulirik sesekali wajahnya meringis seperti sedang merasakan sakit, tapi aku diamkan saja. Aku tidak peduli dan tidak mau peduli.

Kami sampai di rumah terlambat dibandingkan kemarin, karena sore ini jalanan sangat macet.

Seperti biasanya aku bergegas melakukan rutinitas. Mandi sudah, salat pun sudah, kemudian aku pun segera berbaring bersiap untuk tidur.

"Mas, jangan bangunin aku ya! Malam ini aku enggak mau makan, soalnya tadi sebelum pulang aku udah makan bakso di kantin kampus," ucapku kepada Mas Fian yang sedang melipat sejadah.

Tidak lama aku pun terlelap, tapi ketika tengah malam tiba aku terbangun. Kudengar samar-samar suara orang yang sedang muntah di dalam kamar mandi.

Aku terbangun dan menyalakan lampu tidur, Mas Fian tidak ada di sampingku. Rupanya suara yang kudengar tadi adalah suara dia.

Aku bergegas berjalan dan membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk, Mas Fian tampak lemas dan pucat. Ia sedang membungkuk di depan wastafel, muntahannya hanya berupa lendir kuning.

Aku yang panik, lantas memijat tengkuk lehernya, seketika aku terkejut karena suhu tubuhnya tinggi.

"Mas, kita ke rumah sakit!"

Mas Fian tidak menjawab ucapanku, ia terus muntah.

Setelah frekuensi muntahnya hilang, aku memapahnya berjalan keluar. Ia membungkuk, wajahnya merah dan peluh membanjiri seluruh tubuhnya.

"Mas, kenapa jalannya tidak tegak?"

"Sakit, Dek."

"Punggungnya?"

"Bukan, ulu hatinya sakit kalau Mas jalan tegak."

"Emangnya Mas sakit apa? Duh kita ke dokter saja ya!"

"Aku tidur saja Dek, besok pagi juga baikan kok."

"Ya sudah kalau gitu."

Aku membantunya berbaring, untuk pertama kalinya kulihat wajah Mas Fian selemah ini.

"Mas mau aku buatin teh manis hangat?" Ia mengangguk.

Aku bergegas ke dapur, menyalakan kompor untuk memanaskan air. Mendengar suara gelas dan sendok beradu, Bik Nani pun terbangun dan menghampiriku.

"Neng Amel, sedang bikin apa?"

"Maaf ya Bik jadi kebangun, ini lagi buat teh manis hangat buat Mas Fian. Dia muntah-muntah, Bik."

"Ya Allah kasihan, itu sih Mas Fian dari kemarin gak makan."

"Gak makan gimana, Bik?"

"Iya kemarin malam Bibik suruh Mas Fian makan, tapi jawabnya gak lapar. Terus waktu tadi pagi dan tadi malam juga gitu, Bibik udah siapin semuanya tapi Mas Fian gak menyentuh makanannya. Mas Fian itu punya maag kronis."

Bagai tersayat silet hatiku mendengar ucapan Bik Nani, bagaimana tidak ternyata tolakanku untuk makan malam dan sarapan bersama membuatnya tidak mau makan juga.

Selama ini memang ia selalu ingin makan bersama, baik itu sarapan maupun makan malam. Aku merasa sangat bersalah kepadanya, tidak terasa air mata ini meleleh.

"Sudah Neng Amel, sabar."

"Iya, Bik. Makasih ya."

"Bawakan juga roti gandum, Neng. Supaya terisi itu perutnya."

"Iya, Bik. Mas Fian menolak dibawa berobat."

"Coba cek stok obat maagnya di kotak P3K di kamar, mudah-mudahan masih ada."

"Iya Bik, makasih. Bibik tidur lagi saja. Ini sudah selesai kok bikin teh manisnya."

Bik Nani mengangguk dan berjalan kembali ke kamarnya yang dekat dengan dapur.

Dengan cepat aku membawa teh manis dan beberapa slice roti gandum, meski aku membencinya tapi saat tahu dia terluka karena aku, terus terang aku merasa sangat berdosa sekali.

Aku masuk ke dalam kamar, tampak Mas Fian sedang tidur bersandar dengan mata terpejam. Sesekali wajahnya meringis marasa kesakitan.

"Mas, ini teh manisnya." Kutahan air mataku agar tidak menetes.

Nampan aku taruh di atas meja di samping ranjang, setelah itu aku duduk di tepinya. Matanya terbuka, aku seka keringat dingin di dahi dan lehernya dengan tisu.

Aku menyuapinya teh manis sesendok demi sesendok, aku benar-benar merasa bersalah kepadanya.

"Ini rotinya, Mas." Kucelupkan roti tawar gandum ke dalam cangkir berisi teh manis, lalu mendekatkan ke mulutnya.

Ia menggeleng, tapi aku memaksanya. Akhirnya ia pun menurut, memaksakan diri untuk memakannya meskipun sesaat kemudian ia muntah-muntah kembali.

Tidak menunggu persetujuan, saat itu juga aku menelepon Pak Asep agar segera bersiap mengantarkan kami ke rumah sakit.

Pak Asep datang ditemani istrinya, Bik Nani. Tanpa berlama-lama kami pun berangkat. Di IGD dokter jaga memeriksa kondisi Mas Fian, katanya ia mengalami maag kronis dan dehidrasi.

Dokter mengambil tindakan dengan menginfusnya. Pak Asep segera menyelesaikan administrasi, sehingga malam itu juga Mas Fian dipindahkan dari IGD ke ruang perawatan.

"Pak Asep kalau mau pulang gak apa-apa pulang saja, besok saja kembali lagi ke sini. Tolong bilang sama Bik Nani kalau Ibu menelepon, jangan bilang Mas Fian dirawat, takut ibu khawatir," ucapku sok perhatian sama si Nenek Gambreng, padahal aku gak mau dia dan anaknya datang. Karena pastinya mereka berdua akan menyalahkan aku atas kejadian ini, ruwet.

Untung saja si Nenek Gambreng itu sedang pergi ke luar kota, seperti biasa ia selalu jalan-jalan bersama anak bungsunya, Desi.

"Iya Neng, kalau ada apa-apa telpon saja ya."

"Iya Pak Asep, hati-hati di jalan."

Sepeninggal Pak Asep, aku duduk kembali di kursi besi di samping ranjang di mana mas Fian yang sedang terbaring lemas.

Kutatap wajahnya, sungguh sangat kasihan. Gara-gara aku dia jadi begini, aku tidak tahan akhirnya aku menangis sesenggukan.

Sepanjang malam aku terjaga, kutenggelamkan wajah penuh rasa bersalah ini di sisi kasur beralaskan seprei putih. Dada ini terasa sesak, sembari terisak aku terus menggumam meminta maaf kepada Mas Fian yang terpejam.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
Chapter 7


Dokter mengambil tindakan dengan menginfusnya. Pak Asep segera menyelesaikan administrasi, sehingga malam itu juga Mas Fian dipindahkan dari IGD ke ruang perawatan.

"Pak Asep kalau mau pulang gak apa-apa pulang saja, besok saja kembali lagi ke sini. Tolong bilang sama Bik Nani kalau Ibu menelepon, jangan bilang Mas Fian dirawat, takut ibu khawatir," ucapku sok perhatian sama si Nenek Gambreng, padahal aku gak mau dia dan anaknya datang. Karena pastinya mereka berdua akan menyalahkan aku atas kejadian ini, ruwet.

Untung saja si Nenek Gambreng itu sedang pergi ke luar kota, seperti biasa ia selalu jalan-jalan bersama anak bungsunya, Desi.

"Iya Neng, kalau ada apa-apa telepon saja ya."

"Iya Pak Asep, hati-hati di jalan."

Sepeninggal Pak Asep, aku duduk kembali di kursi besi di samping ranjang di mana mas Fian yang sedang terbaring lemas.

Kutatap wajahnya, sungguh sangat kasihan. Gara-gara aku dia jadi begini, aku tidak tahan akhirnya aku menangis sesenggukan.

Malam ini aku terjaga, kutenggelamkan wajah penuh rasa bersalah ini di sisi kasur beralaskan seprei putih. Dada ini terasa sesak, sembari terisak aku terus menggumam meminta maaf kepada Mas Fian yang terpejam.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Aku mengerjap saat puncak kepala ini dielus, kepala ini mendongak mataku bersirobok dengan Mas Fian. Begitu sayu dan lesu, aku mau bangkit tapi dengan cepat dicegahnya.

"Mau ke mana?" tanyanya pelan.

"Mau lihat keadaan Mas," jawabku konyol.

Mas Fian tersenyum, kemudian menarik tanganku hingga refleks kucondongkan tubuh ini mendekat. Dengan lekat ia memandangku. "Mas baik-baik saja, Dek. Makasih, ya."

"Alhamdulillah, tapi emh ... m-makasih buat apa?"

"Udah merhatiin Mas, jagain Mas, Mas jadi ngerepotin Adek."

"Eng-gak ngerepotin kok, Mas. Kalau Mas sakit, siapa lagi yang akan merawat kalau bukan aku, iya kan?"

"Iya, Dek. Kasihan Dek Amel istirahatnya jadi keganggu, padahal pasti capek banget habis ospek."

"Gak kok, Mas. Santai aja." Duh kenapa jadi gugup kaya gini, sih?

"Jam berapa ini, Dek?"

Aku mendongak melihat benda bulat hitam, yang tergantung di dinding belakang Mas Fian berbaring.

"Jam tujuh kurang sepuluh, Mas."

"Tumben ya belum ada tukang jualan makanan lewat, biasanya ramai pedagang nawarin menu sarapan pagi."

"Mas Fian lapar? Biar aku pesan daring saja, Mas mau sarapan apa?"

"Terserah Dek Amel aja."

"Bubur ayam aja, gimana?"

"Boleh, Dek."

Secepatnya aku pesan menu yang disebutkan tadi lewat aplikasi, beruntungnya tidak perlu waktu lama orderanku diproses. Tidak sampai setengah jam, kurir mengetuk pintu kamar mengantarkan pesanan.

Kubuka kotak makan plastik bening berisi bubur ayam hangat, yang pastinya bisa membuat perut Mas Fian membaik.

Aku menyiduk ujung bubur, lalu mengarahkan sendok ke dekat mulutnya yang masih terkatup rapat.

Mas Fian menggeleng.

Aku protes dong, kenapa minta bubur kalau memang gak mau dimakan. Mubazir kan.

"Mas minta itu buat Dek Amel."

"Loh kok buat aku?"

"Ini sudah sudah jam setengah delapan, Dek Amel belum sarapan."

"Aku gak lapar, Mas."

"Dek Amel jangan sampai telat makan, dua hari energi terkuras karena ospek, belum ditambah semalam kurang istirahat. Mas gak mau Dek Amel sakit," katanya terdengar tulus.

Mendengar ucapannya aku terenyuh dan menangis.

"Loh kok nangis, kenapa? Mas salah bicara ya?"

Aku menggeleng, entah ada dorongan dari mana tiba-tiba saja aku memeluk tubuhnya. Bahkan kedua tangan ini sangat erat mendekap, sehingga wajah yang basah ini tenggelam di atas bahunya.

"Maafin aku, Mas ...."

"Maaf kenapa, Dek? Mas bingung."

Aku menggeleng, tak kuasa bicara karena tenggorokan ini terasa tercekat.

Mas Fian membelai rambut, kelembutannya membuat aku semakin bersalah sehingga tangis pun jadi tidak terkendali.

Sikapnya sungguh menenangkan hati ini. Selama satu tahun lebih pernikahan kami, baru kali ini aku merasakan ada yang aneh saat memeluknya. Jantungku berdesir, hingga tercipta rasa nyaman yang teramat sangat.

"Maafin Mas kalau salah bicara."

"Aku yang salah," isakku.

Ia mendorong pelan tubuh ini, tangan kanannya yang bebas bergerak mengusap puncak kepala dan mengusap pipi ini dengan penuh kelembutan.

"Salah kenapa? Coba bilang sama Mas!"

Aku menunduk dalam-dalam, aku tidak berani membalas sorot matanya yang teduh tapi bermakna dalam.

Diangkatnya dagu ini, ia tersenyum menunggu jawaban dariku.

"Gara-gara aku ... Mas sakit."

"Kok bisa kaya gitu? Analisis dari mana itu?"

"Ya, coba aku mau menemani Mas makan malam dan sarapan, pasti Mas akan baik-baik saja."

"Sudah, jangan dibahas lagi! Memang sudah waktunya Mas sakit, sudah ya jangan nangis!" Jawaban yang sangat bijak.

Tanpa ragu Mas Fian menangkup wajahku dengan kedua tangannya, kemudian ia mengusap air mata yang meleleh di pipi.

Aku kembali memeluknya, pelukan yang terasa lain. Pelukan kali ini kurasa lebih nyaman dan mampu membuat diri betah berlama-lama didalam dekapan hangatnya.

"Maafin aku ya, Mas!"

"Iya, Sayang. Sudah jangan nangis lagi." Ia melepaskan pelukan, kemudian mengecup kening ini cukup lama.

"Makasih ya, Mas." Aku berkata salah tingkah karena merasa malu.

"Iya, Sayang. Sekarang Adek sarapan dulu, ya!"

Aku menggeleng, tapi dia terus membujuk hingga meluncur kata 'iya' dari bibir ini.

Kotak makanan berisi bubur aku ambil dari atas nakas, kubawa dan kemudian aku duduk di tepi ranjangnya.

Bubur hangat itu mulai kuaduk, lalu aku tambahkan kerupuk supaya lebih nikmat. Kuarahkan suapan pertama ke mulut Mas Fian, ia menahannya sembari menggeleng.

"Kalau Mas gak mau makan, aku juga."

Ia mengulum senyum, lalu mengangguk pasrah. Suapan pertama berhasil masuk ke dalam mulut Mas Fian, perlahan ia mengunyahnya. Ekspresinya datar seperti tidak menikmati bubur tersebut, mungkin karena belum fit sehingga makanan lezat ini terasa hambar.

"Mas udah, Dek. Mas mual" serunya mengusap perutnya.

Aku yang panik mencondongkan tubuh dan turut mengusap perutnya, hingga tak kusadari wajah ini berjarak dekat dengannya bahkan hidung kami hampir beradu. Bersitatap cukup lama tanpa ada kata-kata, entah kenapa dada ini berdesir hebat lagi jadinya.

Seperti ada yang mendorong dari belakang, seketika bibir ini mendekat ke bibirnya.

Suasana pun seketika berubah syahdu, aku yang terbawa dan larut dengan bodohnya memejamkan mata saat Mas Fian memagut lembut bibir ini. Sebuah ciuman sekilas yang membuat jantung berguncang hebat, dada meletup bagai kawah gunung berapi yang aktif dan siap memuntahkan lahar panasnya.

Kedua tungkai kakiku bahkan menjadi lemas dan hampir terkulai saking hebatnya rasa aneh yang menjalar di sekujur tubuh ini, untung itu tidak terjadi karena tangan kiriku kuat mencengkeram besi di tepi ranjang.

'Amel, akankah gara-gara rasa bersalah kamu jadi murahan begini?' rutukku

Secepat kilat aku tersadar akan kekhilafan yang baru saja terjadi, kubuka mata dan kudorong dada bidang itu hingga tercipta jarak saat aku mundur beberapa langkah.

"M-ma-maaf, Mas, aku p-permisi," pamitku melangkah cepat keluar dari ruangan.

Mas Fian yang heran akan sikapku memanggil, tapi tidak kuhiraukan. Aku tidak boleh terbuai rasa bersalah ini, apa yang menimpanya bukan sepenuhnya kesalahanku, suruh siapa dia tidak mau makan?

Hati bergejolak hebat, kusandarkan punggung di dinding depan ruan rawat inap VIP di mana Mas Fian berada.

"Amel, apa yang kamu lakukan? Lelaki itu sudah membuatmu kehilangan masa remaja yang indah dan penuh warna, fokus dengan tujuan semula! Kuliah dan bekerja," gumamku penuh penekanan pada diri ini.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Keesokan harinya ....

Dokter sudah mengizinkan Mas Fian untuk pulang, dengan catatan ia harus rutin minum obat dan jangan sampai telat makan.

"Tolong pola makan Pak Alfian diperhatikan ya, Bu," ucap dokter kepadaku.

Aku mengangguk tanpa menjawab.

Usai itu aku pun mulai mengemasi barang-barang yang akan dibawa, setengah jam kemudian Pak Asep muncul untuk membantu membawakan semuanya.

Aku berjalan di samping Mas Fian, ia merangkul pundak ini karena katanya tubuhnya masih terasa lemas jika berdiri apalagi berjalan lumayan jauh dari dalam ke depan gedung.

Sudah kusarankan untuk memakai kursi roda, tapi ia menolak dengan alasan dia bukan orang lumpuh.

Kami berjalan bagai siput, pelan-pelan. Hingga pundakku terasa pegal harus menahan tangannya, saat sampai di pintu keluar napasku mulai tersengal dengan peluh bercucuran.

Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Pak Asep pun tiba tepat di hadapan kami.

"Pak Asep tolong bukain dulu pintu mobilnya!" ucapku pada sang sopir yang turun hendak membantu Mas Fian masuk.

"Baik, Neng."

Tergopoh Pak Asep mendekati kami, Mas Fian menyuruhku masuk kedalam mobil lebih dulu, setelah itu baru ia menyusul masuk dengan perlahan.

Tanpa dikomando mobil melaju menuju rumah rumah, yang jaraknya tidak terlalu dengan rumah sakit.

Kepulangan kami disambut oleh omelan si Nenek Gambreng, omelan yang dipersembahkan khusus untukku si Menantu yang cantik dan luar biasa ini.

Si Nenek Gambreng yang alisnya palsu alias disulam itu, merasa tidak dihargai karena tidak diberitahu kalau mas Fian dirawat.

"Sudahlah Bu, kan sekarang Fian sudah pulang. Ibu juga baru sampai, jadi sebaiknya ibu istirahat saja."

"Pasti semua gara-gara kamu Mel, semenjak nikah sama kamu anak saya banyak berubah, jadi pelit dan gak pernah lagi memperhatikan saya. Sampai dia sakit saja gak mau ngasih tau."

"Bukan salah Amel, Bu. Tolong pelankan suara Ibu, malu sama Bik Nani dan Pak Asep."

"Ah, ngapain malu sama mereka. Biar mereka tau, kalau Ibu sudah cukup sabar memghadapi menantu kaya benalu itu."

Tidak terima dikatai kasar seperti itu, aku balik memaki singa betina tersebut.

"Mau Ibu apa? Ngatain saya dengan sebutan kasar, kalau memang Ibu gak suka saya jadi menantu Ibu, bicara aja sana sama anaknya, TOLONG SURUH CERAIKAN SAYA!"

"Jaga bicaramu, Dek!" Mas Fian membentakku, sehingga membuat air mata ini mengucur deras.

"Harusnya Mas bilang itu sama Ibu, bukan aku! Tanya Bik Nani sana, apa selama ini aku selalu mulai duluan? Gak per-"

"Masuk kamar, Dek!"

"Mas, aku belum selesai bica-"

"Masuk, Dek!" perintah Mas Fian penuh dengan penekanan.

"Mas Fian jahat! Gak punya hati, aku benci kalian semua."

Sambil menangis, aku menghentakkan kaki dan kemudian berlalu ke dalam kamar dan membanting pintu dengan sekencang-kencangnya.

"Lihat itu!" Si Nenek Gambreng bersuara lagi.

Kudengar sayup-sayup suara Mas Fian berbicara kepada ibunya, suara Ibu semakin meninggi dan terdengar juga suara Desi membela sang ibu.

"Sudah, Bu. Tolong maafkan Amel ya, semua salah Fian. Fian yang minta Bik Nani dan Pak Asep gak kasih tahu Ibu. Bukan karena gak menghargai, tapi gak mau buat Ibu terganggu."

"Ah, bisa saja kamu membela dia."

"Jelas Fian bela, Bu. Amel gak salah, dan Amel adalah istri Fian."

"Dasar wanita pembawa sial!"

Mendengar kalimat terakhir, tangisku semakin menjadi. Aku bangkit berjalan menuju lemari, mengemasi seluruh pakaianku.

Perdebatan di luar semakin sengit, meski tidak jelas tapi aku bisa mendengar meski sayup suara Mas Fian menjadi lantang, sepertinya ia emosi dan marah terhadap ibu dan adiknya.

Saat aku selesai berkemas, tiba-tiba Mas Fian masuk dengan wajah yang kesal. Melihatku berdiri dengan koper di samping, membuat wajahnya semakin memerah.

"Taruh kembali pakaian di dalam koper ke lemari!"

"Gak mau! Aku udah gak tahan tinggal di rumah ini, kalian semua, Mas Fian, Ibu, dan Desi adalah manusia munafik. Gak punya hati, semena-mena padaku."

"Astaghfirullah, Dek. Pikirannya kok gitu? Sudah ya, jangan bahas masalah ini lagi. Mas pusing, capek."

"Ya udah, yang nyuruh nahan siapa? Kalau aku pergi dari neraka ini, pusing Mas akan hilang, Mas juga gak akan capek ngurusin pertikaian antara aku dan Ibu. Rumah ini akan tenang dan damai tanpa aku. Nikah sana Mas Fian sama wanita yang disukai Ibu, itu pun kalau ada yang mau punya mertua bermulut pedas kaya Ibu."

Wajah Mas Fian merah padam, kemudian ia meraup kasar wajah kusutnya. Bibirnya menggumam mengucap istigfar, kepalanya mungkin saat ini terasa panas dengan luapan emosi yang aku lontarkan beberapa saat yang lalu. Biar saja, biar dia tahu kalau aku tidak suka diperlakukan tidak baik oleh ibunya yang judes dan galak itu.

Ia berjalan mendekat dan tanpa aku duga, ia mengambil koper dan menaruhnya kembali ke sudut ruangan.

"Jangan memperkeruh masalah, Dek!" katanya dengan sorot mata tajam yang menghujam.

"Biarin aku pergi!"

"Mas bilang jangan memperkeruh masalah! Mendingan sekarang Dek Amel membersihkan diri dan istirahat, jangan bertingkah macam-macam. Tolong, Dek. Mas lagi sakit, jangan bebani pikiran Mas dengan masalah ini."

"Masalah ini, Ibu yang buat. Kenapa Mas marah sama aku?"

"Yang marah sama Dek Amel siapa?"

"Tadi itu bentak-bentak! Bukannya belain aku, malah ngusir aku masuk ke kamar."

"Ya Allah, Dek. Belajar dewasa, sikapi semua yang terjadi dengan bijak. Mas gak pernah marah sama Dek Amel, apalagi ngusir. Mas hanya gak mau buat suasana semakin panas kalau Dek Amel ada di luar dengan Ibu, ditambah Desi. Semua yang Mas lakukan adalah-"

"Bullshit!" pungkasku berlalu meninggalkannya ke kamar mandi.

Lagi-lagi aku membanting pintu, semua barang-barang di dalam sini aku lempar, menciptakan suasana gaduh yang riuh.

"Bandot Tua, Nenek Gambreng, awas kalian!" rutukku geram.

Satu jam berlalu, aku keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar aku tak acuh melihat Mas Fian yang sedang duduk, dengan kepala disandarkan ke bahu sofa matanya terpejam dalam dengan bibir terbuka sedikit.

Kutangkap lenguhan pelan yang berasal dari mulut Mas Fian. 'Ah akting, biar aku mau baikin dia duluan.'

Aku cuek saja mengambil pakaian dan kemudian beranjak ke ruang ganti, yang terletak di samping meja hias.

Sengaja berlama-lama aku di sini, mengulur waktu berharap si Bandot Tua terlelap di atas sofa sehingga aku tidak perlu repot menyapa apalagi mengurusi makan siangnya nanti. Aku mau rebahan sambil berkabar dengan Ricca, sahabatku.

Kubuka handuk penutup kepala, lalu rambut panjang yang basah ini kugosok perlahan sembari bercermin memperhatikan jerawat yang tumbuh satu dua di area dahi dan dagu.

"Walah, ganggu pesona kalau kaya gini. Tar sore mau ke klinik kecantikan ah, beli obat totol acne."

Kuelus jerawat yang menggemaskan ini, lalu menggumam, "Sorry ya wat, tar malem gue berantas elu. Soalnya kecantikan yang sempurna ini akan rusak dengan kehadiran elu."

Praaaaaaaaaaang! Sayup kudengar suara benda yang terjatuh, aku yakin sumbernya dari kamar mandi.

"Bandot Tua, eh Mas Fian!" Kulemparkan handuk sembarang, lalu bergegas membuka pintu ruang ganti dan menghambur menuju kamar mandi yang pintunya tertutup.

Sebelum sampai di TKP, aku menoleh sebentar ke sofa, Mas Fian tidak ada di sana. Walah, pasti suara tadi ... kecemasan mendera, biar tambeng gini aku masih punya rasa kemanusiaan dan peduli.

Tok ... tok ... tok.

"Mas ... Mas, aku izin buka pintunya, ya!" Aku melotot saat melihat keadaan di dalam, Mas Fian sedang berlutut menghadap ke closet duduk sembari memegang botol sampo yang tadi aku hempaskan ke lantai.

"Mas terpeleset," gumamnya.

Bergegas menghampiri dan membantunya untuk berdiri, lagi-lagi aku merasa bersalah. Karena saat mengamuk, aku membuat ruangan ini seperti kapal pecah.

"M-maaf, Mas." Hanya dua kata itu yang dapat aku ucapkan.

Mas Fian terdiam, aku membantunya berdiri dan memapahnya keluar. Celana dan kausnya basah, duh sungguh hati ini merasa sangat berdosa.

Aku mendudukannya di kursi putar, karena ia menolak saat aku hendak membawanya ke ranjang dan sofa, katanya pakaiannya basah takut mengotori keduanya.

Atas permintaannya aku mengambilkan celananya dan kaus ganti, di hadapanku lelaki itu membuka kaus oblongnya.

"Mas, aku lap ya, badannya." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut manisku.

'Amelia bodoh, kenapa kamu ngomong gitu? Merasa bersalah boleh, tapi agresif jangan dong!' Hati ini merutuk kebodohanku.

Mas Fian mengangguk ragu, aku berjalan menuju lemari mengambil handuk kecil dan kemudian membasahinya.

Tanpa bicara, aku mengelap seluruh tubuh Mas Fian. Andaikan kalian bisa lihat, tanganku gemetar saat menempel pada kulitnya meski terhalang handuk, karena ini adalah kali pertama aku menyentuh seluruh bagian tubuh lelaki yang sudah setahun lebih menjadi suamiku itu. Selama ini kan hanya dia yang menyentuh tubuhku.

Wajah, leher, dada, kedua tangan, lalu turun ke bagian tubuh bawah. Jangan ngeres! Area hutan terlarang aku skip, percayalah!

Mas Fian terus menatapku, sehingga aku jadi salah tingkah.

"Maafin, aku."

"Maafin, Mas."

Kalimat singkat itu terucap bersamaan tanpa dikomando, membuat aku malu dan Mas Fian terkekeh.

"Maafin Mas ya, Dek. Mas gak ada maksud kasar sama Dek Amel, Mas cuma gak mau Dek Amel tersakit, juga Ibu. Kalian berdua adalah wanita yang sangat Mas sayangi, Mas harap Dek Amel mengerti."

"Iya, Mas. Gak apa-apa, aku ngerti. Aku juga minta maaf gara-gara aku Mas kepeleset, Mas jangan ngomel-ngomel ya soal kamar mandi yang berantakam, nanti aku beresin."

Mas Fian meraih tanganku yang memegang handuk, lalu ia mencondongkan tubuhnya memelukku.

"Iya, makasih ya, udah mau melap tubuh Mas. Mas sayang Dek Amel," ungkapnya sembari membelai rambut kusut yang basah ini.

Aku mengangguk dan memejamkan mata, lagi-lagi aku merasakan rasa aneh dengan sensasi menenangkan dan nyaman. Apalagi bau aroma parfum yang masih menempel di dadanya meski telah kuseka, ya ampun membuat dada ini berdesir lagi.

Ketenangan itu terjeda saat ponselku berdering, aku mendongak meminta izin untuk mengambil benda pipih hitam yang tersimpan di dal tas. Mas Fian melepaskan rangkulan dan mengiyakan.

Aku berjalan menuju meja serbaguna tempat waist bag kusimpan, lalu mengambil ponsel. Kulihat nomor tidak kenal tertera di sana, ragu aku berpikir sejenak aku terdiam dan menimbang akan menjawabnya atau tidak.

Panggilan pertama berakhir tanpa aku jawab, saat ponsel hendak aku simpan, nomor tadi kembali menghubungi.

"Kenapa gak dijawab, Dek?" tanya Mas Fian sembari bangkit dan berjalan membawa pakaian ganti menuju ke ruang ganti.

"Nomor gak dikenal, Mas."

"Siapa tahu Anggita, mengabari nomor barunya."

Anggita adalah adikku, hobinya memang gonta ganti nomor handphone.

Setelah Mas Fian masuk, aku pun menjawab panggilan ketiga dari nomor asing tersebut.

"Halo."

"Waalaikumsalam."

"Dimas? Maaf, Dimas siapa?"

"Pak Dosen?"

'Innalillahi, anugerah yang bisa mengakibatkan kiamat di dalam hidupku.'

Sang dosen keren dan ganteng, muncul di waktu dan tempat yang tidak tepat. Alamak, keringat dingin kompak menyerbu. Ponsel yang sedang kupegang hampir terjatuh jika aku tidak sigap, aku menoleh ke ruang ganti, BAHAYA! Pintunya terbuka, itu berarti Mas Fian sudah selesai berganti pakaian.

Kiamat! Kiamat!

"Pak Dimas, nanti saya telepon kembali. Ini sedang di kamar mandi, maaf."

Secepatnya kusentuh bulatan merah, panggilan pun berakhir. Aku bernapas lega dan tersenyum kikuk kepada Mas Fian, muncul membawa pakaian kotor yang basah.

"Siapa, Dek? Anggita?"

"I-iya, dia. Kebiasaan gonta ganti nomor terus," jawabku terbata-bata.

"Biasa anak remaja, Mas bagi nomor baru Anggita ya, Dek. Takutnya Mas ada perlu sama Ayah atau Ibu."

Waduh cilaka, bagaimana ini?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 4 lainnya memberi reputasi
Chapter 8


Sang dosen keren dan ganteng, muncul di waktu dan tempat yang tidak tepat. Alamak, keringat dingin kompak menyerbu. Ponsel yang sedang kupegang hampir terjatuh jika aku tidak sigap, aku menoleh ke ruang ganti, BAHAYA! Pintunya terbuka, itu berarti Mas Fian sudah selesai berganti pakaian.

Kiamat! Kiamat!

"Pak Dimas, nanti saya telepon kembali. Ini sedang di kamar mandi, maaf."

Secepatnya kusentuh bulatan merah, panggilan pun berakhir. Aku bernapas lega dan tersenyum kikuk kepada Mas Fian, muncul membawa pakaian kotor yang basah.

"Siapa, Dek? Anggita?"

"I-iya, dia. Kebiasaan gonta ganti nomor terus," jawabku terbata-bata.

"Biasa anak remaja, Mas bagi nomor baru Anggita ya, Dek. Takutnya Mas ada perlu sama Ayah atau Ibu."

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Waduh cilaka, bagaimana ini?

"I-iya, Mas. Tapi nanti aja ya karena katanya dia itu nomor sementara, cuma diambil kuotanya saja. Mau cari nomor provider Empati katanya biar bagus sinyalnya," kataku tenang, meski dalam hati ini dag ... dig ... dug ... dwer.

"Oh gitu, iya gak apa-apa next time saja."

"Iya, Mas. Oh iya, aku makan siangnya nanti aja, Mas. Kalau Mas udah lapar duluan aja, ya. Obatnya aku siapin di sini."

Mas Fian berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk di kursi putar. "Kenapa? Gara-gara tadi, ya?"

Aku menggeleng, bohong padahal iya. Aku masih gedek sama si Nenek Gambreng dan si Gerandong Betina, pastinya mereka akan kembali memperpanjang masalah tadi. Ingin rasanya aku menyumpal mulut mereka dengan sambal terasi pedas buatan Bik Nani, biar nyaho.

"Kalau bukan gara-gara tadi, lalu kenapa?"

"Ngantuk!" Bergegas aku naik ke peraduan, berbaring sembari memeluk guling.

Melihatku begitu, Mas Fian hanya geleng-geleng kepala. Lalu, ia memutar kursi yang didudukinya dan kemudian membuka leptop.

Beberapa menit kemudian, ia pun menjadi sibuk dengan urusan di kantornya. Mengecek email masuk dan kemudian menindaklanjuti isinya.

Mas Fian adalah seorang pengusaha yang berkecimpung dalam industri ritel. Bisnis yang berkembang pesat itu, dirintisnya dari nol. Menurut ceritanya, usaha ini adalah usaha yang tidak akan pernah ada matinya sampai kapan pun.

Bisnis ritel dapat disebut sebagai bisnis penjualan eceran, yang dilakukan secara langsung dari distributor kepada konsumen. Model bisnis ini cenderung aman untuk dilakukan, karena resiko kerugian hanya berasal dari persaingan antar peritel saja.

Mas Fian memiliki gerai minimarket yang tersebar di se-antero Indonesia, ritel jaringan minimarketnya yang banyak seperti itu sudah barang tentu telah menghasilkan keuntungan yang tidak main-main, ini menurut dia loh ya.

Biar aku ini males sama dia, tapi aku selalu menjadi pendengar yang baik jika dia sedang bercerita tentang banyak hal mengenai dirinya. Tentang masa sekolahnya dulu, kuliah, dan sejarah dia bisa sampai ke titik puncak seperti sekarang ini.

Aku tergiur dengan hartanya? Tentu tidak. Aku gak silau harta, cuy. Biar si Bandot bergelimang kemewahan, rasanya gak bikin aku luluh, dia tetap aku anggap seorang lelaki yang dengan uang bisa melakukan apa saja yang dia mau, termasuk membeli aku.

Jadilah aku terkurung dalam sangkar emas bersama dua singa betina, yang satu masih muda dan lainnya sudah keriput dan peyot tapi ganjen.

Seandainya aku sanggup, aku pasti memilih untuk pergi dari sisi si Bandot. Karena hidup bersamanya tidak membuat aku bahagia, pernikahan ini hanya membuat Ibu dan Ayah bahagia.

Nasib ... nasib.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Bibir ini tersungging sendiri saat membalas pesan masuk dari Dimas, si Dosen Keren. Dia menyapa pagiku yang kelabu karena harus mengurung diri di dalam kamar, malas aku keluar kamar karena Nenek Gambreng sedang mengadakan acara arisan dengan teman-teman sosialitanya.

Suara mereka riuh kudengar dari dalam, sempat kulihat saat hendak memberikan amplop titipan dari Mas Fian untuk security di pos jaga depan rumah, si Nenek Gambreng sedang sibuk memamerkan tas baru nan mewah seharga motor matic sport yang bodinya lebar selebar bokongnya.

Saat kembali dari luar Si Nenek Gambreng sempat melirikku, lalu memutar bola matanya sinis. Sesaat sebelum masuk, dia melemparkan sindiran pedas yang ditujukan padaku.

"Kalau saya jenk, dulu sama mertua selalu manut dan hormat. Apalagi tinggal numpang di rumahnya orang tua suami, duh rasanya mau bertingkah macam-macam apalagi mau kurang ajar sama mertua dan ipar, duh malu rasanya. Intinya saya tahu diri lah."

Aku mencebik dan mendelik tak suka, tidak kuladeni ocehannya tapi aku membalasnya dengan suara bantingan pintu yang mendentum kencang. Yakin, mereka semua akan terkejut dan naik darah dibuatnya.

Biarkan saja, supaya mereka tahu bahwa aku diam bukan karena takut tapi mengalah untuk menang.

[Pagi, Mel. Ini aku, Dimas.]

Pesan masuk singkat itu membuat darah yang mendidih akibat ulah si Nenek Gambreng, pun menjadi adem. Beruntung Mas Fian sudah berangkat ke kantor, jadinya aku leluasa membalas pesannya.

[Gak perlu mengabsen, Pak. Nomornya sudah aku save.]

[Waah, tersanjung banget.]

[Bapak bisa aja, maaf ya kemarin waktu Bapak telepon aku lagi nanggung.]

Dalam hitungan detik pesan yang kukirim telah centang biru, secepat kilat Dimas mengetik balasan.

[Jangan panggil Bapak, dong. Rasanya aku jadi tua banget, hehe.]

[Terus aku panggil apa, dong?]

[Dimas, saja. Supaya lebih akrab, hehe.]

[Oke, Dimas.]

[Sip, jadi kamu gak marah sama aku, Mel?]

[Gak, Dim. Marah kenapa?]

Lama pesan terakhirku tidak dibalasnya, tapi notifikasi kembali masuk saat ponsel ini hendak aku simpan di atas nakas.

[Boleh aku telepon kamu, Mel?]

Pertanyaan Dimas barusan, membuat hatiku berbunga-bunga. Bagaimana tidak, lelaki tampan yang katanya dosen termuda di kampus itu ternyata memiliki perhatian lebih padaku.

Tanpa berpikir lama, segera aku jawab OK.

Tidak lama ponsel pun berdering, nama 'Kampus Maya' muncul di layar, sengaja aku menamai kontak Dimas dengan nama itu agar tidak terendus oleh si Bandot Tua.

Kuusap bulatan hijau dan suara sapaan Dimas, pun terdengar di ujung sana.

"W-waalaikumsalam," jawabku gugup.

"Aku ganggu gak, Mel?"

Pertanyaan basa basi itu kujawab dengan mantap. "Gak, Dim. Santai aja, aku senang kamu telepon. Habisnya bete juga di rumah gak ngapa-ngapain, dari tadi pagi rebahan terus, hehe."

Dimas terkekeh, obrolan pun berlangsung akrab. Wawasannya luas tenyata, selain itu ia sangat humoris hingga sakit perut aku dibuatnya terus tertawa.

Lima puluh menit yang seru, tak sedikit pun aku merasa bosan dibuatnya.

Suaranya yang ngebass membuat Dimas semakin menggemaskan, sangat macho.

Obrolan lewat sambungan telepon tersebut di akhiri dengan kesepakatan untuk bertemu, kami janjian untuk makan siang bersama di suatu tempat yang ia tunjuk.

Tidak ingin membuang waktu, aku bergegas mandi kembali demi bisa tampil segar dan cantik tentunya. Kurendam tubuh ini di bathtub. Kamar mandi nan mewah ini, memang dilengkapi dengan ergonomics bathtub yang minimalis tapi modern.

Bathtub jenis ini canggih, karena dilengkapi dengan built-in speaker. Sehingga aku sangat betah memanjakan diri, karena ditemani dengan lagu kesayangan. Selain itu, desain kamar mandi bertema laut membuat mata ini dimanjakan selalu. Cat warna biru laut dengan gradasi muda ke tua memulas temboknya, lalu pada bagian yang tidak terjangkau air, dipasangkan wallpaper dinding bergambar pemandangan bawah laut yang sangat indah.

Bagian tepi bathtub yang cukup luas, dimanfaatkan untuk menaruh aksesoris kamar mandi, termasuk lilin aromaterapi yang berbau harum menenangkan.

Kurendam tubuh ini di dalam air yang telah dicampur dengan bath foam. Bath foam adalah sabun mandi yang berbentuk gel. Gunanya untuk dicampurkan pada air mandi di bathub sehingga nantinya akan menimbulkan buih-buih air.

Bath foam yang sangat aku sukai adalah The Body Shop White Musk House Of Holland Bath Foam, sabun mandi dengan kandungan community trade honey ini dapat melembutkan dan menghaluskan tubuh. Aroma sensual musk-nya tahan lama dan sangat menyegarkan setelah mandi.

Kata si Bandot sih, dia sangat menyukai bau harumnya yang kalem, jika aku habis mandi sore tak jarang ia memelukku berlama-lama demi bisa menghidu aroma harumnya di tubuh ini.

Alarm yang kustel di ponsel berbunyi, tandanya aku sudah harus mengakhiri acara berendam manjaku. Aku membilas tubuh ini di dalam area basah yang disekat dengan kaca transparan model etched glass.

Model kaca etched glass adalah kaca kamar mandi, yang bisa berfungsi sebagai sebuah elemen dekor ruangan. Di mana pada hampir permukaannya ditambahkan motif print agar nampak lebih indah.

Beberapa menit kemudian, aku bergegas keluar untuk bersiap-siap.

Kupilih fashion casual yang memang sangat sesuai dengan kepribadianku, agak tomboi. Celana jeans belel dan kaus polo berkerah warna putih telah melekat, segera kukeringkan rambut dengan hair dryer beberapa menit.

Untuk wajah aku memolesnya dengan makeup tipis, untuk mata aku hanya memakai maskara dan softlens warna cokelat, pada pipi kusapukan blushon warna pink soft, begitu pula bibir ini dipoles gincu matte berwarna nude. Tanpa bedak, hanya pelembab dan tabis surya saja.

Kulirik jam dinding di tembok, tersisa waktu satu jam. Kuputuskan berangkat, tak lupa waistbag motif army kesayangan selalu menemani.

Sneakers putih model wadges rendah membuat kaki jenjangku semakin indah, aku mematut diri di cermin lalu tersenyum sekilas sebelum akhirnya beranjak pergi.

Saat keluar dari kamar, aku berlalu begitu saja tanpa berpamitan kepada Nenek Gambreng dan kawan-kawannya. Belasan pasang mata menatapku, aku cuek saja melenggang tanpa beban melewati mereka.

Sampai di garasi, Pak Wisnu -sopir si Nenek Gambreng- menghampiri menawarkan diri untuk mengantarkan aku pergi.

"Aku sudah pesan taksi online, lagian nanti Bu Siska bisa ceramah kalau Pak Wisnu sampai mengantar."

Pak Wisnu tersenyum penuh arti, tentunya ia sangat tahu bagaimana perlakuan sang majikan padaku yang statusnya menantu di rumah ini.

Aku melangkah cepat karena taksi online yang aku pesan sudah menunggu di depan pintu gerbang, satpam yang berjaga pun keluar dari dalam pos saat melihatku. Ia membukakan pintu pagar samping, dengan ramah ia menyapaku.

"Hati-hati di jalan, Mbak," katanya.

Terdengar risih memang, tapi memang seperti itu aku biasa dipanggil olehnya, Pak Wisnu, dan tukang kebun. Kecuali Pak Asep dan Bik Nani, mereka berdua memanggilku dengan sebutan 'Neng Amel'.

Minibus putih yang menanti segera aku naiki, sang sopir menyebutkan kembali nama tempat yang akan aku datangi. Perjalanan ini memakan waktu empat puluh lima menit lamanya, jantung ini terasa berdebar jadinya.

Dalam bayangan sudah berkelebatan adegan seru yang akan terjadi nanti, ah hal itu membuat aku senyum-senyum sendiri. Tapi lamunanku ambyar saat ponsel berdering, dengan semangat'45 aku merogoh benda pipih di dalam tas berharap itu dari Dimas yang mengabari bahwa dirinya sudah sampai.

Hati mencelos saat membaca nama kontak yang tertera di layar, Mas Fian yang kunamai 'Si Batu' tenyata yang menelepon. Geram langsung aku pada si Nenek Gambreng, pasti dia yang mengadu kalau aku pergi. Memang benar-benar menyebalkan manusia tua itu, aaargh.

Dengan enggan aku menjawab panggilannya. "Halo."

"Dek di mana?" tanyanya basa basi, basi.

"Mas jangan pura-pura, deh! Pasti Ibu telepon Mas, ngadu kalau aku pergi. Iya, kan?"

"Kok gitu jawabnya?"

"Iyalah, kenapa coba Mas tumben-tumbenan nanya aku ada di mana kalau bukan karena dapet aduan dari Ibu?"

"Ibu gak ngadu apa-apa, Dek. Jangan salah paham, Mas telepon karena memang niatnya mau pulang cepat," katanya bisa saja menutupi kebusukan ibunya.

"Udah ah, aku lagi di jalan. Mau ke klinik kecantikan dulu, mau facial dan massage."

"Selesai jam berapa? Nanti Mas jemput, ya!"

Hadeuh, beneran ya ini manusia possesive banget. Nyebelin banget, dia kira aku ini anak TK apa pake acara dijemput-jemput segala.

"Gak usah, ah. Aku bisa pulang sendiri, mau ke toko buku juga, beli alat tulis buat kuliah nanti."

"Nanti Mas temani, sekalian Mas juga mau beli tinta printer untuk printer yang di rumah."

Ada aja alasan si Bandot, benar-benar bikin moodku amblas seamblas-amblasnya, heuh.

"Dek! Kok diam? Mas jemput jam berapa? Di klinik kecantikan biasa itu kan?"

"Nanti aku kabari jam berapanya, selama belum aku kasih kabar Mas jangan hubungi aku, karena ponsel akan aku simpan di tas. Akunya di ruang tindakan untuk facial dan pijat."

"Iya, Dek. Mas ngerti, ya udah hati-hati di jalan ya."

"Ya." Secepatnya kuputus sambungan telepon yang menjengkelkan itu.

Aku merengut jadinya, rona bahagia yang tadi kurasa dalam sekejap sirna. Suasana hati ini menjadi rusak karena ulah si Bandot Tua yang dipengaruhi oleh si Nenek Gambreng.

"Sudah sampai Mbak," ucap sang sopir beberapa menit kemudian.

Kuberikan selembar rupiah merah kepadanya. "Ambil saja kembaliannya," ucapku padanya.

"Terima kasih, Mbak."

"Ya, sama-sama." Aku menjawabnya ketus, bukan karena kesal padanya, tapi karena masih terbawa suasana tadi.

Kulangkahkan kaki menuju gedung dua lantai di depan, sebuah cafe dengan konsep vintage tahun 90'an yang classic tapi menyenangkan. Saat memasuki ruangan, telinga dan mataku langsung disambut dengan lagu dan desain interior khas pada era itu.

Kusapu ke segala penjuru ruang dan mata ini berhenti di sudut, di mana sosok yang ingin kutemui sudah menanti di sana.

Aku berjalan mendekat kepada Dimas yang berdiri, sambil mengulas senyum yang sangat manis.

"Hai, Dim. Kamu udah lama nunggu?"

Dimas menggeleng, lalu mempersilahkan aku untuk duduk.

"Kamu mau pesan apa?" tanyanya sembari memberikan buku daftar menu.

"Kalau kamu?" Aku balik bertanya, membuatnya tertawa kecil memamerkan deretan gigi yang putih terawat. Walah, meletup-letup dada ini dibuatnya.

"Yakin bakalan cocok di lidah kamu apa yang bakal aku pilihkan?"

"Asal jangan kamu pilih menu yang mengandung babi, haram."

Lagi-lagi Dimas tertawa, lalu kemudian ia memanggil waiters. "Soto mie Bogor, dengan toping spesial ya, Mbak, dua porsi. Jamur enoki goreng crispy dan onion ring."

"Minumnya?" tanya wanita berpakaian jadul, menyesuaikan dengan konsep cafe ini.

"Mel, mau minum apa?"

"Boba brown sugar caramel saja," jawabku sembari tak berkedip menatap si tampan di seberang meja.

"Boba brown sugar caramel dan mocca brown sugar ice."

"Baik, permisi."

Si waiters undur diri, meninggalkan kami yang kembali berbincang sembari sesekali mencuri pandang satu sama lain.

"Dim, kamu gak salah pesan cemilan sampai dua porsi?"

"Supaya makin betah, kan ngobrol tanpa cemilan itu rasanya kaya hidup tanpa pasangan, hampa. Hehe."

Wadaw, Dimas mulai menggiring aku ke hal yang lebih pribadi. Siapa takut, hehe.

"Masa dosen muda kaya kamu gak punya pasangan?"

"Dulu ada, sekarang gak lagi."

"Lama jomblo?"

Dimas mengangguk lalu menjawab, "Tiga tahun'an."

"Wih, lama juga. Betah banget," pancingku, ikan kali ah dipancing.

"Belum ada yang sreg di hati, habisnya dulu putus gara-gara dia kuliah di luar, tepatnya di UK. LDR'an selama kurang lebih setahun lancar-lancar aja, lama-lama dia susah dihubungi dengan alasan sibuk."

"Terus putus?"

"Awalnya gantung, tapi beberapa bulan setelah HTS akhirnya dia mutusin aku dan nikah sama dosennya."

"Bule?"

"Iya."

"Oalah, maaf ya Dim. Aku jadi ngungkit luka lama kamu."

"It's ok, Mel. Santai aja, aku udah gak biasa kok sekarang. Awal-awal putus sih iya, sering sensi."

"Belum berjodoh, Dim. Semoga nanti kamu ketemu jodoh yang pas, yang lebih baik."

"Aamiin, thanks. Sekarang, ceritain dong tentang kamu."

Aku menggeser duduk, pertanyaan Dimas barusan bikin aku tidak enak hati. Sesaat aku diam, berpikir akankah jujur atau bohong.

Kalau jujur, pastinya dia akan menjauh. Sudah pasti aku akan sedih dan kecewa, secara Dimas bisa menjadi moodbooster buatku.

Kalau aku bohong, aku punya kesempatan untuk dekat bahkan menjalin hubungan asmara dengannya, aku yakin dia ada rasa sama aku, aku bisa lihat dari sorot matanya.

Tapi apa yang akan dia lakukan kalau suatu hari nanti tahu bahwa aku mendustainya? Soal si Bandot Tua yang akan membuang aku jika ketahuan selingkuh nanti, itu urusan belakangan. Selama ini memang aku mau cari cara, agar dia bisa muak kepadaku. Tapi, kalau bisa ketahuannya nanti, jangan sekarang-sekarang karena aku masih butuh dia untuk menyokong biaya kuliahku hingga rampung.

"Hei, kok diam?" Dimas menepuk punggung tangan ini.

Aku terkesiap, lalu tersenyum. "Sorry, aku jadi keinget sama kakak aku."

"Kenapa sama kakak kamu, Mel?"

"Iya, dia orangnya galak dan kaku. Gara-gara dia, gak ada cowok yang berani ngedeketin aku. Terakhir pacaran waktu aku sekolah, saat itu mau akhir kelas tiga. Eh ketahuan, habislah cowok aku dimaki-maki sama dia."

"Jadi?"

"Si Bagas, mutusin aku."

Tawa Dimas berderai, dia tergugu dengan karangan ceritaku.

"Kakak kamu udah nikah?"

"Udah."

"Itu kan zaman sekolah, Mel. Sekarang kan kamu sudah kuliah, sudah dewasa. Kayanya kakakmu enggak akan melarang kamu lagi."

"Halah, enggak. Kakak aku udah kasih warning katanya fokus kuliah, sudah kerja baru boleh cari calon suami, bukan pacar."

"Waduh, tegas juga ya."

"Iya, mana aku tinggal sama kakak aku. Makin terkekang jadinya."

"Kenapa kamu tinggal sama kakak kamu, Mel?"

"Karena orang tua tinggal bukan di kota ini, jadi pertimbangan rasa khawatir kalau aku kost, kakak aku kasih saran supaya aku tinggal sama dia."

"Sabar, berarti kakak kamu sayang banget sama kamu, Mel."

"Hehe, iya Dim. Waktu ospek saja dia jemput aku, ditungguin di depan gerbang."

"Bukannya yang jemput di hari itu ayah kamu, aku ingat saat nawarin kamu tumpangan."

Gila! Ingatan Dimas tajam sekali, dia sampai ingat dengan ucapanku waktu itu. Aku aja udah lupa, amsiyong deh.

"Iya, ayah tunggu di mobil, kakak aku yang tunggu di luar udah kaya bodyguard."

"Haha, Mel-Mel, kamu itu lucu banget."

Aku yang berhasil mengeles, pun bernapas lega. Tak lama kemudian makanan yang dipesan pun datang, makan siang bersama yang hangat dan akrab. Aku bahagia, sangat bahagia.

Waktu yang aku habiskan bersama Dimas sungguh sangat menyenangkan, tiga jam dilalui tanpa terasa.

Notifikasi pesan masuk ke dalam ponselku, kulihat di jendela layar nama si Bandot di sana. Segera aku membacanya.

[Dek, Mas sudah di depan klinik.]

Mata yang berbinar ini seketika membelalak tak percaya, geram dan kesal berkecamuk di dalam hati.

"Ada apa, Mel?" tanya Dimas yang terkejut melihat perubahan raut wajahku.

Cilaka dua belas! Nyebelin banget ini si Bandot, benar-benar membatasi ruang gerak aku.

Keterkejutan karena pesan menyeramkan barusan belum reda, si Bandot Tua menambah kepanikan dalam diri dengan menghubungi.

Jantung ini berdegub sangat kencang, bertalu-talu tidak menentu, iramanya tidak teratur.

"Mel, ada apa?" Dimas semakin khawatir, ia tidak tinggal diam segera bangkit dan menghampiriku.

Rasanya aku mau pingsan, napas ini sesak sekali kurasa.

Tangan yang gemetar memegang ponsel pun segera aku sembunyikan, aku tidak mau Dimas tahu siapa yang menghubungiku.

"Dim, aku ... aku pamit ya," ucapku sangat gugup.

"Aku antar kamu pulang, ya!"

"Jangan, gak usah. Aku bisa pulang sendiri," tolakku sambil menepis tangannya yang menyentuh pundak.

"Tapi, kamu kelihatannya tidak baik, Mel. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu."

"I'm ok, kamu jangan khawatirin aku, ya!"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 3 lainnya memberi reputasi
Chapter 9


[Dek, Mas sudah di depan klinik.]

Mata yang berbinar ini seketika membelalak tak percaya, geram dan kesal berkecamuk di dalam hati.

"Ada apa, Mel?" tanya Dimas yang terkejut melihat perubahan raut wajahku.

Cilaka dua belas! Nyebelin banget ini si Bandot, benar-benar membatasi ruang gerak aku.

Keterkejutan karena pesan menyeramkan barusan belum reda, si Bandot Tua menambah kepanikan dalam diri dengan menghubungi.

Jantung ini berdegub sangat kencang, bertalu-talu tidak menentu, iramanya tidak teratur.

"Mel, ada apa?" Dimas semakin khawatir, ia tidak tinggal diam segera bangkit dan menghampiriku.

Rasanya aku mau pingsan, napas ini sesak sekali kurasa.

Tangan yang gemetar memegang ponsel pun segera aku sembunyikan, aku tidak mau Dimas tahu siapa yang menghubungiku.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

"Dim, kakak aku." Terpaksa aku berbohong lagi demi kebaikan pribadi.

"Kenapa kakakmu, Mel? Sakit?"

"Lebih buruk dari itu, nanti aku jelaskan ya!"

Aku bangkit dan berlari keluar meninggalkan Dimas yang mematung dengan wajah yang bingung, pasti di dalam kepalanya muncul banyak pertanyaan atas kepanikanku ini.

Nanti saja aku jelaskan pada Dimas, yang jelas sekarang aku harus mencari alasan yang tepat pada si Bandot.

"Halo, Mas. Maaf tadi lagi di toilet," jawabku agak gugup tapi dibuat setenang mungkin.

"Belum selesai treatmennya?"

"Sudah dari tadi, aku ada di ...." Kuperas otak agar bisa berpikir cepat. "Toko buku, iya toko buku."

"Share lokasinya, Dek. Mas ke sana menyusul," katanya gigih.

"Gak usah share lokasi, Mas. Mas ke mal Delima saja, toko buku di sini cuma ada satu, kok."

"Mas on the way," pungkasnya.

Otakku canggih juga, bisa kasih ide cemerlang dalam waktu yang singkat. Kebetulan pusat perbelanjaan yang kusebutkan tadi jaraknya tidak jauh, untuk itu aku langsung saja memesan ojek online agar bisa sampai lebih cepat.

Sesuai perkiraan, lima belas menit kemudian aku sudah berada di toko buku. Kuatur napas yang tersengal akibat berlari demi bisa sampai tepat waktu, meski aku tahu si Bandot akan sampai sekitar setengah jam lagi, tetap saja aku harus kelihatan tenang meski sebenarnya sangat tegang.

Aku melangkah menuju area novel, dalam surga satra ini aku tenggelam dan terbuai, judul-judul baru dari penulis baru membakar hasratku yang memang hobi membaca. Saking asiknya aku jadi khilaf, hampir sepuluh novel telah berpindah tempat dari rak display ke dalam trolly kecil.

Novel yang aku pilih adalah novel yang super tebal, dengan genre romance. Aku senang membaca kisah cinta yang romantis dan bikin hati ini tersentuh, aku butuh asupan otak yang positif dan menyenangkan agar tidak menjadi gila karena memikirkan nasib diri.

Memang aku tidak kekurangan materil, berlebihan malah. Tapi aku miskin hati, tidak bahagia. Aku ingin merasakan sebuah hubungan yang tidak dipaksakan, sebuh hubungan yang di dalamnya ditumbuhi dengan banyak cinta dan kehangatan. Cinta yang bisa membuat hati nyaman dan bersemangat, dalam menyulam masa depan yang penuh dengan harapan.

"Di sini rupanya." Suara barito yang tidak asing di kuping membuatku menoleh.

Lelaki dengan kemeja garis-garis krem lengan panjang yang digulung 7/8 dan bawahan celana khaki slim fit, muncul di ujung lorong sembari tersenyum semringah.

Aku berjalan mendekati lalu kuraih dan kucium punggung tangannya, dia mengusap puncak kepala lalu menunduk memperhatikan trolly yang terisi dengan novel-novel tebal.

"Mau tambah lagi novelnya, Dek?" tanyanya sembari mengambil alih trolly.

Aku menggeleng dan menjawab, "Udah, Mas."

"Oke, kita ke lorong ATK?"

"Iya."

Tanpa sungkan, Mas Fian menaruh tangannya di atas pundakku, berjalan pelan menuju lorong yang dimaksud dengan pelan sembari cuci mata. Kami berdua punya hobi yang sama, yaitu membaca. Bedanya aku gemar membaca novel, sementara dia berita di internet, dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar PC menyimak informasi dari berbagai aspek, terutama seputar bisnis yang berhubungan dengan bisnis ritelnya.

"Mas, perlengkapan untuk kuliah itu apa aja?" tanyaku padanya.

"Sama kaya anak sekolah, hanya ada tambahan leptop atau notebook, Dek."

"Oalah, emang harus ya?"

"Wajib gak wajib, sih. Tapi memang perlu, sekalian saja beli di sini, Mas tadi lihat di etalase pintu masuk banyak leptop dan notebook merk terkenal yang kualitasnya bagus dan mesinnya bandel."

Aku menghentikkan langkah, lalu mengambil trolly dan berjalan berbalik arah meninggalkan si Bandot sendiri.

"Dek Amel mau ke mana?"

"Tunggu bentar, Mas!"

Beberapa saat aku kembali, Mas Fian masih berdiri di tempat tadi. Ia memperhatikan trolly kosong yang aku dorong.

"Loh, kok kosong? Novel-novelnya?"

"Gak jadi beli."

"Kenapa?" Mas Fian mengerutkan keningnya.

"Hemat! Kan mau beli laptop," jawabku polos, membuatnya tertawa kecil.

Ia mengacak rambutku saking tergugunya, lalu mengelus pipi sambil berkata, "Gak apa-apa kok, kalau memang mau beli novel-novel tadi. Itung-itung jadi teman di waktu Mas ngantor, biar Dek Amel suntuk di rumah."

Aku menggeleng, biar hati aku busuk tapi aku gak sampai hati bikin lelaki menyebalkan tapi baik hati ini bangkrut pelan-pelan. "Gak usah, bisa baca novel di platform online saja."

"Yakin?"

"Iya, Mas."

"Ya udah." Mas Fian kembali merangkul pundakku.

Berkeliling membeli semua barang yang diperlukan, termasuk notebook. Aku memilihnya dengan pertimbangan bentuk dan beratnya yang lebih ringan dibandingkan laptop.

Sampai di kasir mataku membulat saat melihat nominal di layar komputer, ya ampun total belanjaanku saja tujuh juta kurang lima ratus rupiah. Karena selain notebook, Mas Fian juga membelikan lampu belajar, rak buku portable, dan perintilan lainnya.

Tidak hanya itu, saat melintas di depan toko furniture ia mengajakku masuk. Aku disuruhnya memilih meja untuk menaruh semua barang-barang perlengkapan kuliahku, aku semakin merasa tidak enak. Aku tolak halus niat baiknya itu.

"Meja kerja Mas penuh, Dek. Mas iya Dek Amel mau belajar di meja rias," katanya meyakinkan.

"Tapi, Mas. Tadi aja belanjaan udah banyak banget, aku-aku," ucapku mengambang.

"Gak enak?"

Dengan polosnya aku mengangguk.

"Ya ampun, Dek Amel. Mas ini suamimu, sudah kewajiban Mas memenuhi semua kebutuhanmu."

"Nanti uang Mas Fian habis," jawabku.

Mas Fian terkekeh dan menggeleng. "Sudah ada budgetnya, Dek. Yuk, pilih!"

Akhirnya aku mulai memilah-milih, karyawan toko membantu dengan memberikan informasi spesifikasi barang yang dijualnya.

Hati tertambat pada meja berwarna putih, model minimalis dengan dua laci lebar di tengah dan sebuah pada bagian bawah.

"Meja ini cocok sekali untuk area ruang kerja yang terbatas, atau ditempatkan di dalam kamar yang sudah terdapat banyak perabotan. Meski modelnya minimalis, meja ini memiliki rak penyimpanan yang cukup banyak. Meja ini mempunyai tiga laci yang terdiri dari satu laci berukuran kecil, satu laci berukuran kecil memanjang, dan satu laci lagi berukuran besar di bawah. Di antara laci berukuran kecil dan berukuran besar ada rak penyimpanan yang dapat dijadikan untuk menyimpan buku dan dokumen dengan posisi vertikal sehingga mudah untuk mencarinya. Selain itu meja ini juga memiliki rak penyimpanan di atas yang dapat digunakan untuk penyimpan alat tulis dan juga barang-barang kecil lainnya."

"Dek Amel suka?" Mas Fian menatapku.

"Iya, Mas. Itu saja."

"Oke, kami ambil ya Mas mejanya," ujarnya pada karyawan toko yang matanya berbinar karena barangnya laku terjual.

Sebelum melakukan pembayaram, Mas Fian menelepon Pak Asep untuk segera datang. Sepuluh menit kemudian, suami dari Bik Nani datang.

Mas Fian memberikan belanjaan kami di toko buku tadi, lalu meminta kunci mobilnya dan menyuruh Pak Asep pulang bersama kurir toko furniture yang akan mengantar meja kerjaku.

"Barang belanjaan ini tolong suruh Bik Nani simpan di kamar kami ya, Pak. Hati-hati ada notebooknya jangan sampai terjatuh atau terbanting," seru Mas Fian jelas.

"Baik, Mas. Mejanya?"

"Oh iya, kasih masuk saja di dalam kamar. Taruh di dekat jendela, sofa abu digeser supaya mejanya bisa masuk, selanjutnya biar nanti saya yang atur lagi kalau sudah pulang."

"Baik, Mas."

Pak Asep manut, lalu kemudian kami pun berpamitan meninggalkannya di dalam toko tersebut sendirian. Tapi sebelum berlalu, kulihat Mas Fian memberikan uang kepada sopir kesayangannya itu.

"Uang apa ini, Mas?"

"Untuk kurir yang antar meja dan uang rokok untuk Pak Asep."

"Barakallah, hatur nuhun, Mas."

Mas Fian tersenyum kemudian mengajakku pergi.

"Kenapa Mas Fian nyuruh Pak Asep pulang?"

"Kasihan Pak Asep, harus nungguin lama di parkiran. Jadi lebih baik beliau pulang saja, istirahat di rumah."

"Memangnya kita-"

"Mas mau ajak Dek Amel makan dan nonton, mau?"

Duh, malas banget rasanya. Aku kepingin pulang saja sebenarnya, tidak sabar ingin menata meja kerja baru dengan segala perlengkapannya. Tapi rasanya aku tidak adil kalau sampai menolak ajakan Mas Fian, secara dia sudah merogoh kocek dalam-dalam untuk memenuhi kebutuhanku.

"Boleh, mau makan di mana?"

"Terserah Dek Amel mau makan di mana?"

"Hmm, resto jepang aja, yuk!"

"Sip."

Jadilah petang menjelang malam ini kami menyambangi sebuah restoran siap saji yang menyuguhkan makanan khas jepang, di sana aku memesan Beef Saikoro Steak yang terbuat dari daging tanderlion Amerika yang digoreng menggunakan soya yakiniku di atas api yang besar. Rasanya juicy dan bumbu yang meresap hingga ke dalam, membuat aku ketagihan pada olahan daging tersebut. Okonomiyaki yang memiliki isian daging sapi cincang dan sayuran yang disiram dengan mayonnaise dan saus okonomiyaki itu, menjadi menu yang dipilih Mas Fian.

Kami menikmati makan malam yang lebih awal dengan lahap, sesekali Mas Fian menyuapiku dengan makanan di atas piringnya, ternyata enak juga. Setelah semua tandas tidak tersisa, bioskop menjadi tujuan terakhir.

Film action yang mengandung adegan adu jotos pun dipilihnya, selera yang buruk untuk mengajak pasangan nonton. Memang dia tidak tahu apa itu yang namanya romantis, dasar memang Bandot Tua, pikirannya kolot.

Popcorn dan minumang soda kuanggurkan begitu saja, perut ini sudah kenyang maksimal sehingga tidak lagi ada tempat untuk kehadiran cemilan wajib di kala kita menonton tersebut.

"Kenyang, Mas. Buat Bik Nani saja," bisikku saat Mas Fian bertanya kenapa aku tidak menikmati snack dan minuman yang sudah ia belikan.

"Ya sudah, gak apa-apa."

Saat ruangan meredup lalu gelap, Mas Fian menarik masuk bahu ini hingga rapat ke tubuhnya, lalu menempatkan kepalaku untuk bersandar di atas dadanya yang bidang. Aku menurut saja, asal dia senang sehingga dia tidak merasa rugi telah keluar uang banyak tadi, hehe.

Film yang seru menurutnya tapi sangat membosankan menurutku, membuat mata ini mengantuk. Dalam waktu yang singkat aku pun tertidur di dalam pelukannya, hangat dan sangat nyaman kurasa.

"Dek, bangun!"

Aku mengerjap dan menggeliat saat suara dan tepukan lembut di pipi menghampiri, aku celingukan lalu menguap cukup panjang. Ternyata filmnya sudah selesai sodara-sodara, tidak terasa ternyata aku tertidur satu jam lebih.

"Enak banget tidurnya, sampai mendengkur," katanya sembari terkekeh.

Aku memutar bola mata, tak percaya dengan ucapannya. Masa iya aku tidur mendengkur, mustahil!

"Gak percaya? Nanti Mas rekam lain kali," ledeknya, mencolek hidungku.

"Gak usah, makasih!" jawabku ketus, lalu bangkit mengajaknya segera keluar.

Tawa Mas Fian berderai, ia pun bangkit dan berjalan dengan menuntun tanganku, sementara tangan sebelahnya menenteng plastik berisi popcorn dan soft drink yang jadi oleh-oleh untuk Bik Nani.

Santai kami berjalan menuju area parkir di lantai atas gedung, tidak lagi mampir-mampir karena badan sudah lelah dan letih.

Di sepanjang perjalanan, kami mengobrol banyak. Dia begitu bersemangat menceritakan tentang rencananya menambah cabang usaha ritelnya di wilayah Indonesia Timur. Katanya masalah perizinan dan lahan sudah didapat, tinggal planing pembangunan gedung, pencarian SDM, pendistribusian produk, dan terakhir opening yang akan disaksikan langsung olehnya.

Aku girang bukan kepalang, bukan karena dia berhasil dalam bisnisnya, tapi saat tahu dia akan pergi dalam waktu yang cukup lama, katanya kurang lebih satu minggu. Aku punya waktu luang dan bebas jalan sama Dimas, hihi.

Terbayang sudah serunya nanti kami saat bertemu kembali, penuh tantangan dan sensasi yang berbeda.

'Gak sabar aku menunggu hari itu tiba.'

"Dek Amel kok senyum-senyum sendiri?"

"Aku seneng dengar kabar baik yang Mas Fian sampaikan barusan, selamat ya Mas."

Di balik kemudi sempat-sempatnya dia memperhatikan mimik wajah yang mendadak semringah ini, untung aku jog mengeles jadi rahasia di dalam hati aman terkunci.

"Makasih ya, Dek. Semua ini berkat doa Dek Amel, doa istri shaliha."

Apa? Istri shaliha? Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak mendengar julukan barusan, sungguh ironis terdengar. Ya ampun Mas Fian, kamu itu beneran cinta mati ya sama aku? Sampai sering aku maki dan bohongi juga masih saja bisa memuji, bahkan perlahan mulai berani membanggakan aku di hadapan si Nenek Gambreng dan si Gerandong Desi.

Aku hanya mengangguk dan memejamkan mata, saat telapak tangannya menangkup pipi ini dengan penuh kehangatan.

Sesampainya di rumah, kedatangan kami disambut oleh dua singa betina yang memasang tampang tidak suka padaku, sudah biasa memang seperti itu, aku sudah kebal dan tidak peduli.

"Assalamualaikum, Bu." Mas Fian dengan sopan mencium punggung tangan ibunya yang melirik tajam padaku, pasti karena meja kerja dan belanjaanku dari toko buku tadi.

Aku tertawa serta bersorak dalam hati. Sangat puas kurasa, apalagi saat si Nenek Gambreng menyuruh anaknya itu untuk makan malam bersama tapi ditolak karena sudah kenyang, lirikannya semakin sinis.

Tanpa bicara aku bergegas masuk setelah menyaliminya, mataku berbinar saat melihat meja kerja minimalis yang cantik telah berdiri dengan anggunnya di samping meja riasku. Usai mandi dan salat aku pun mulai menata semuanya, koleksi buku novel yang semula bersembunyi di dalam laci besar meja kerjanya Mas Fian, kini bertengger rapi di rak portable yang sudah dirakit oleh Pak Asep.

Yang mengejutkan adalah adanya kursi putar berwarna pink nude yang empuk dan nyaman, entah kapan Mas Fian memesannya, yang jelas aku sangat suka.

Satu jam kemudian, meja ini sudah tertata rapi. Terakhir aku tempatkan lampu belajar cantik di sudut meja dekat dengan dinding.

Aku duduk di kursi putar baru, betul-betul bikin betah saat nanti banyak tugas kampus yang harus dikerjakan. Aku berdecak kagum dibuatnya, Mas Fian sangat baik dan perhatian kepadaku.

Aku mendongak saat tangan Mas Fian melingkar di depan dada, serta merta ia mengecup kening ini. "Suka dengan kursi putarnya?"

"Iya, Mas. Makasih banyak, kapan belinya?"

"Tadi waktu antri beli tiket nonton."

"Online?"

"Iya."

Mas Fian menyandarkan kepalanya di atas bahu, lalu mengecup leher ini dengan lembut. Ini isyarat mengajak untuk bercinta darinya, aku sudah paham gelagatnya. Demi membalas kebaikannya, aku pun menurut. Berpura-pura menikmati meski hati ini tidak rela disentuh serta digauli.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
Chapter 10


Aku mendongak saat tangan Mas Fian melingkar di depan dada, serta merta ia mengecup kening ini. "Suka dengan kursi putarnya?"

"Iya, Mas. Makasih banyak, kapan belinya?"

"Tadi waktu antri beli tiket nonton."

"Online?"

"Iya."

Mas Fian menyandarkan kepalanya di atas bahu, lalu mengecup leher ini dengan lembut. Ini isyarat mengajak untuk bercinta darinya, aku sudah paham gelagatnya. Demi membalas kebaikannya, aku pun menurut. Berpura-pura menikmati meski hati ini tidak rela disentuh serta digauli.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Kopi espresso yang pahit itu tandas dalam waktu singkat, Dimas kemudian membuang abu yang sudah memanjang di ujung rokoknya. Lalu mengalihkan pandangannya padaku yang sedang menyeruput secangkir coklat hangat nikmat.

"Mel, gimana penjelasan dari aku waktu mengisi kelas?"

"Jelas dan mudah dimengerti, bahasanya ringan gak berbelit-belit."

"Oh iya?"

"Iya, masa iya aku bohong."

Dimas tertawa kecil, lalu kemudian netra coklatnya menyipit memandang ke arah langit jingga kuning kemerahan, di mana sang surya hendak berpulang ke peraduannya. Dari rooftop cafe ini pemandangan sore hari yang indah ini terasa sangat hangat.

Setengah jam sebelum kelas terakhir berakhir, Dimas mengirimkan pesan padaku bahwa ia ingin mengajakku ke suatu tempat, untuk membicarakan sesuatu.

Dengan senang hati aku langsung mengiyakan ajakan dosen muda yang tampan itu, usai kuliah aku dengan leluasa bisa pulang telat karena Mas Fian sedang berada di Manokwari dalam rangka peresmian minimarket barunya.

Dimas yang memakai atasan dress shirt warna putih, berkerah runcing atau kerah cutaway itu tampak sangat cool. Gaya rambut soft side partingnya yang meski termasuk ke dalam jenis rambut klasik, tidak mengurangi pesonanya yang memukau.

Manik mata cokelat yang mengkilat terkena semburat jingga kemerahan dari matahari yang hendak tenggelam itu menatap lekat padaku, aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku sempat ingin ke toilet sebentar untuk mentouch up wajah agar tidak terlihat kumel, tapi tidak jadi karena kedua jemari ini keburu digenggamnya.

"Mel, aku tahu ini terlalu cepat. Kita baru empat kali jalan dan bicara berdua seperti ini, tapi aku punya keinginan lebih untuk mengenal kamu lebih dekat. Jujur, Mel. Semenjak aku lihat kamu saat ospek, hati aku tertambat lekat."

Dada ini berdesir mendengar kata-kata pembuka yang manis dari bibirnya yang seksi, aku terdiam menunggu lanjutan yang sudah barang tentu dapat kutebak adalah sebuah ungkapan pernyataan cintanya padaku. Cihuy!

"Mel, aku punya perasaan khusus padamu. Perasaan yang lebih dari sekadar berteman, perasaan seorang lelaki dewasa, aku cinta kamu, Mel. Ingin rasanya aku mengenalmu lebih dalam, dengan harapan hubungan kita berlangsung hingga jenjang yang lebih serius lagi."

Diri ini serasa melesat melayang ke langit saking bahagianya, pipi bersemu merah muda tersipu malu saking terharu, kuberanikan diri membalas tatapan penuh cintanya padaku, ingin rasanya aku berdiri dan memeluknya lalu menjawab 'aku juga cinta kamu, Dim!'.

"Jangan marah ya, Mel. Bukan aku mau bersikap lancang, aku udah gak kuat lagi nahan rasa di hati ini. Aku-"

Aku menyelanya cepat. "Sama sekali gak lancang, wajar kalau memang kamu ngutarain apa yang ada di dalam hati kamu."

"Syukurlah, aku sempat ragu dan merasa takut."

"Ragu dan takut kenapa?"

"Takut kamu marah, dan takut kamu menyangka aku kurang ajar. Karena baru kenal, sudah berani mengutarakan perasaannya."

"Aku gak punya pikiran sejauh itu, Dim. Percayalah, aku senang kamu mau bicara jujur tentang isi hatimu."

"Apa jawabanmu, Mel?"

"Sebelum aku jawab, aku mau ngasih beberapa pertanyaan yang nantinya akan menjadi syarat yang harus kamu penuhi."

"Sebutkan! Apa pun itu, aku sanggup. Selama demi kebaikan kita bersama."

Aku menghela napas panjang, sembari mencoba merangkai kata-kata dalam hati.

"Seandainya aku nerima kamu, sanggup gak kamu menjalani hubungan bacstreet? Aku gak mau orang-orang di kampus tahu."

"Kenapa?"

"Jawab aja!"

"Tapi aku harus tahu alasannya," ujarnya menyelidik.

"Jawab dulu, nanti aku beri tahu kenapa."

Sejenak Dimas diam, aku tahu dia sedang mempertimbangkan pertanyaanku yang pasti sulit untuk dijawab.

"Kalau memang kamu keberatan, sebaiknya-"

"Aku sanggup, Mel."

Mendengar jawabannya yang diplomatis, aku lega dan tersenyum senang. "Pertanyaan kedua ini, harus kamu jawab tanpa bertanya kenapa. Seandainya kita jadian, kamu jangan nuntut aku bisa dihubungi atau menghubungi kamu di jam aku ada di rumah. Apa kamu gak keberatan?"

Dimas menjadi gamang mendengar pertanyaan kedua dariku, ia menoleh ke sisi kiri di mana pagar pembatas gedung yang rendah terpasang. Cukup lama ia termangu, menimbang serta memikirkan sisi baik dan buruknya. Setelah tidak lagi ragu, kemudian ia pun menjawab, "Ya, aku bersedia."

"The last, di saat kita jadian nanti, kita gak akan bisa leluasa jalan berdua kaya gini, ada saatnya dan itu tidak bisa sering, apa kamu gak keberatan?"

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Dimas langsung menjawab mantap penuh dengan keyakinan.

Lega, kurasa. Karena aku rasa akan cukup aman bila aku menjalin hubungan dengannya, biarlah sementara aku jalani hubungan gelap ini. Meski aku tahu ini dosa besar, tapi aku manusia biasa yang punya rasa ingin dicinta dan mencinta.

"Makasih ya, Dim. Kamu udah jawab pertanyaan aku tadi, sekarang akan aku utarakan alasannya kenapa."

"Kakakku, adalah alasannya. Aku kuliah dibiayai kakakku, kakakku mau aku fokus kuliah dan melarang keras untuk pacaran. Untuk itu aku minta kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, yang nantinya akan jadi syarat yang harus kamu penuhi dan gak boleh kamu langgar."

"Demi kebaikan bersama, kalau kamu bersedia, maka aku bersedia menerima cinta kamu, Dim."

Seulas senyum terukir di wajah rupawan Dimas, ia mempererat genggaman tangannya.

Di bawah langit senja, aku dan Dimas resmi jadian. Mata kami bersitatap penuh suka cita, aku bahagia karena kini memiliki seseorang yang akan membuat hari-hari sepi menjadi happy.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Laju mobil Dimas yang aku tumpangi tiba-tiba tersendat-sendat, lalu beberapa saat kemudian mogok dan sulit untuk distarter.

"Duh, ada-ada saja." Dimas memukul pelan stir dan bergegas keluar untuk memeriksa mesin.

Aku yang enggan turun karena di luar matahari sangat terik, pun lebih memilih untuk tetap stay duduk.

Kulihat kap mobil dibuka oleh Dimas, untuk mengecek kerusakannya. Cukup lama ia mengutak-atik mesin, setelah dirasa menyerah ia pun kembali masuk.

"Sayang, kita naik taksi online saja, kamu gak apa-apa?" tanyanya sembari mengambil ponsel dinatas dashboard.

"Gak apa-apa, Sayang. Naik angkutan umum juga aku ayo, asal sama kamu, hehe."

"Kamu jago banget gombal, so sweet," ujarnya terkekeh, sembari mengacak rambutku.

"Haha, kamu mau telepon siapa, Yang?"

"Derek, biar mobilnya dibawa ke bengkel aja."

"Emang rusak parah?"

"Kayanya bautnya kurang kenceng."

"Emang cuma karena baut mobil bisa mogok?"

"Bisa dong, Sayang. Baut yang gak terpasang dengan baik bisa menyebabkan kebocoran atau masalah lainnya."

Dimas yang tampak lelah pun segera menghubungi mobil derek, setelah itu ia mengajakku untuk segera pergi khawatir keburu malam.

Aku dan Dimas seharian ini menghabiskan waktu bersama di wahana permainan di alam terbuka, sangat seru dan penuh tantangan. Jalan dengannya benar-benar sangat mengasyikan dan seru, aku seperti menemukan kembali masa remajaku yang sempat hilang dirampas oleh si Bandot Tua.

Meski Dimas seorang dosen, tapi gaya dan cara bergaulnya tidak kolot. Aku sangat suka semua yang ada di dirinya, keren deh pokoknya.

Jalan dengannya terasa membanggakan buatku, karena dia masih muda dan tampan. Aku rasa, siapa pun yang melihat kami bersama akan iri.

Setelah puas mencoba semua wahana permainan, aku diajaknya menghabiskan sore di pantai yang indah. Sebuah pantai di dalam kota ramai seperti Jakarta memang sangat menakjubkan, begitu bersih dan cantik.

Sapuan angin yang cukup kencang, membuat kami betah duduk berlama-lama sembari berbincang ringan. Menikmati bakso di kedai sekitar, sembari tertawa bersama. Meski sederhana, tapi berkesan dalam dan sangat istimewa.

Kegembiraan yang tercipta langsung sirna saat aku mendapatkan pesan bahwa Mas Fian akan pulang, dia mengabari sesaat sebelum menaiki pesawat, kurang lebih butuh waktu enam jam untuk ia sampai di rumah. Dan, parahnya aku diminta untuk menjemputnya di bandara.

Akhirnya aku mengajak Dimas untuk segera pulang, dengan alasan kakakku mengajak makan malam di luar. Awalnya dia merasa keberatan, tapi setelah aku ingatkan perihal syarat yang aku ajukan dulu, maka ia pun memaklumi walau dengan berat hati.

"Aku bakal kangen berat sama kamu, Sayang."

"Kan nanti hari Senin pagi, kita bisa ketemu lagi di kampus." Aku memeluk lengannya erat.

Ia mengecup puncak kepalaku, lalu kemudian menoleh dan menatapku lekat. Mendekat hingga hidung kami beradu.

Napas kami menderu. Aku spontan memejamkan mata saat isyarat cinta itu datang.

Untuk kali pertama setelah tiga bulan lamanya menjalin hubungan, Dimas berani memberikan aku sebuah sentuhan di bibir. Kami berciuman sangat mesra, hingga darah di dalam tubuh ini memanas.

Aku menikmati sentuhan bibirnya yang lembut, oh Dimas aku sangat mencintaimu.

Hasratku terbakar dan bergelora, hampir saja aku khilaf jika suara dering ponsel tidak berbunyi membuat kami saling melepaskan diri dan merasa tidak enak hati.

"Maaf," katanya langsung bergegas keluar dari mobilnya.

Aku mengangguk kikuk, kemudian merogoh ponsel yang terus berdering.

"Halo, Mas." Aku berani menjawab panggilannya karena Dimas tadi keluar berjalan dan berdiri dekat kap mobil menunggu mobil derek.

"Iya ini lagi nunggu taksi online."

"Gak usah, aku pulang sendiri aja. Habis mandi, segera aku berangkat. Mas masih transit kan?"

"Ya udah, iya."

Secepatnya aku mengkahiri sambungan telepon dari Mas Fian, dan bergegas keluar dari mobil.

"Sayang, aku barusan ditelepon kakak aku," ucapku resah.

"Tunggu mobil dereknya ya, katanya udah deket."

"Aku gak bisa nunggu lagi, bisa ngamuk kakak aku. Kalau aku pulang duluan, kamu keberatan gak?"

Wajah Dimas langsung berubah masam, aku tahu ia masih ingin bersamaku, apalagi barusan kami ....

"Ayolah, Sayang. Please," bujukku.

"Ya udah, aku pesankan taksi online ya."

"Iya."

Beberapa saat kemudian, mobil minibus merah hati datang menepi, Dimas mengantarku sampai aku masuk ke dalam kuda besi tersebut.

"Kabari kalau sudah sampai di rumah ya, Sayang!"

"Oke."

"Bye!"

Ia menutup pintu dan melambaikan tangan sebentar. Baru beberapa meter mobil ini melaju, ia mengirimkan pesan kepadaku.

[I love you, Honey.]

Ya ampun hati ini berbunga-bunga, meleleh rasanya. Dimas memang sangat romantis, wajar bila aku kesengsem karena perlakuan dirinya padaku sangat istimewa.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Aku berdiri di depan pagar pembatas besi di depan pintu kedatangan, sudah setengah jam lamanya aku menunggu Mas Fian tak kunjung muncul juga.

Di menit keempat puluh, sosok jangkung bergaya necis dengan rambut klimis muncul menggeret kopernya bersama seorang wanita muda berkerudung yang merupakan sekretarisnya.

Saat melihatku ia mempercepat langkah, bahkan ia meninggalkan si wanita yang memanggutkan kepala tanda hormat kepada dirinya.

Kuurungkan niat menyalimi, karena ia lebih dahulu memeluk tubuh ini. Suara baritonya berbisik, "Mas rindu kamu, Dek."

"Aku juga rindu, Mas."

'Rindu Dimas maksudnya, heuh.'

Mas Fian melepaskan pelukan lalu tanpa sungkan mengecup keningku. "Maafin Mas ya, Dek. Janji pergi seminggu, ini malah sepuluh hari."

"Mau diapa, Mas? Namanya juga pekerjaan."

"Kita bicara di rumah, ya."

Aku menggamit tangan Mas Fian, lalu berjalan bersama menuju muka bandara di mana di sana mobil yang dikemudikan oleh Pak Asep datang tepat waktu.

"Sehat Pak Asep?" sapanya pada sopir kesayangan.

"Alhamdulillah sehat, Mas. Mas Fian sendiri bagaimana?"

"Seperti yang Pak Asep lihat, berkat doa Bapak."

"Alhamdulillah," jawab Pak Asep singkat dan kembali fokus pada jalanan di depan.

Di sepanjang perjalanan ia bercerita banyak hal tentang pengalamannya, Pak Asep sangat antusias menanggapi, sesekali memberi komentar dan juga melemparkan pertanyaan. Sedangkan aku lebih memilih tidur, menyandarkan kepalaku di kaca jendela. Obrolan mereka sungguh sangat membosankan.

Bayangan wajah Dimas hadir di pelupuk mata, hingga tidak sadar bibir ini senyum-senyum sendiri. Apalagi saat adegan ciuman tadi berkelebat, pipi ini terasa hangat dan merona bersemu merah mudah karena malu.

Satu jam kurang kami sampai di rumah, seperti biasa si Nenek Gambreng menyambut putranya di ruang tengah.

"Maafkan Fian gak bawa oleh-oleh untuk Ibu dan Desi, hanya bawa makanan khas sana, roti abon yang sangat terkenal. Ada di koper."

"Kamu pulang selamat saja, Ibu sudah senang sayang. Rumah ini sepi sekali gak ada kamu, apalagi istrimu itu selalu pulang malam selama kamu gak ada di rumah."

Deg! Ya amplop, mulut si Nenek Gambreng jahat banget. Bisanya dia buka aib gue di depan Mas Fian, dia pasti ngarep gue diamuk.

"Aku kuliah, Bu. Wajar kalau mahasiswa baru, butuh penyesuaian dan bergaul. Ngapain juga aku di rumah, secara Mas Fian gak ada."

"Halah-"

"Sudah-sudah, Bu, Dek Amel. Aku ini capek baru datang, tolong dikasih tenang dulu."

Aku mencebik kesal, lalu kugeret koper Mas Fian masuk ke dalam kamar.

Gila, Mas Fian pasti akan banyak bertanya nih soal ucapan ibunya tadi. Duh, runyam. Benar-benar keterlaluan manusia bau tanah itu.

Demi menjaga reputasi, aku segera ke kamar mandi, menyiapkan air hangat di bathtub, sudah jadi kebiasaan Mas Fian jika habis berpergian jauh maka ia akan berendam sebentar untuk melepaskan rasa lelah yang mendera.

Saat keluar, Mas Fian sedang duduk di atas sofa abu yang letaknya di sebelah dengan meja belajarku. Ia sedang melepaskan kemejanya. Aku dapat merasakan, ia sedang memperhatikan.

Rileks, Mel! Aku bersikap setenang mungkin, menaikkan koper ke atas ranjang dan kemudian membukanya.

"Oleh-olehnya ini, Mas?" tanyaku basa basi.

"Iya, roti abon. Enak banget rasanya, nanti taruh di dapur ya, Dek."

"Baik, Mas. Aku mau sortir baju dulu."

"Masukin ke keranjang saja semua, Dek. Bau apek pastinya karena bersatu dengan yang kotor meski masuk kantongan plastik."

"Iya, Mas."

Aku yang mulai gugup diperhatikan, pun sempat ceroboh menjatuhkan beberapa helai pakaian yang aku raup begitu saja dari koper. Mas Fian bangkit memungut dan menaruhnya di keranjang.

Koper kosong segera aku taruh kembali di tempatnya, lalu aku ambil tiga paper bag berisi roti abon hendak membawanya ke dapur.

Langkah ini terhenti saat Mas Fian memanggilku, jantung langsung berdegub kencang. Dia pasti mau menginterogasi, ya ampun gimana ini? Aku belum mikiri alasan yang tepat.

"I-iya, Mas."

"Sini sebentar! Mas mau bicara," katanya menepuk tempat duduk yang kosong di sampingnya.

"Apa ... apa gak sebaiknya Mas mandi dulu, air hangat sudah aku siapkan untuk Mas berendam."

"Sebentar saja! Ada hal penting yang mau Mas bicarakan sama Dek Amel," tuturnya lembut tapi penuh dengan penekanan.

Kedua kaki ini terasa berat, serasa dipasangi rantai besar sehingga sulit ketika akan melangkah.

Kulihat Mas Fian sedang lekat menatapku, pasti saat aku masuk tadi, si Nenek Gambreng telah bercerita yang tidak-tidak tentangku.

Kira-kira hal apa yang ingin Mas Fian bicarakan denganku? Ya ampun aku deg-degan banget ini.

"Kenapa melamun, Dek? Duduk di sini, sebentar! Mas mau bicara," katanya lagi.

Akankah perselingkuhanku terbongkar?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 3 lainnya memberi reputasi
Hanya 100km jarak rumah mertua dan rumah orang tua
Helllooo, 100km itu bekasi bandung sekali jalan, 2-3jam loh TS
Seandainya ada kejadian yang darurat, jelas jarak jadi masalah....
Kasian juga sih masih muda nikahnya sama mbah2. Tapi mbah2 juga banyak yang berpengalaman kok emoticon-Ngakak
Cek dulu
Ceritanya agak menjurus tapi untungnya gak begitu vulgar. Masih aman dibacalah yang kaya beginian emoticon-Traveller
Chapter 11


Kulihat Mas Fian sedang lekat menatapku, pasti saat aku masuk tadi, si Nenek Gambreng telah bercerita yang tidak-tidak tentangku.

Kira-kira hal apa yang ingin Mas Fian bicarakan denganku? Ya ampun aku deg-degan banget ini.

"Kenapa melamun, Dek? Duduk di sini, sebentar! Mas mau bicara," katanya lagi.

Akankah perselingkuhanku terbongkar?

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

"Hal p-penting apa itu, Mas?" tanyaku terbata.

Gigi putih terawat itu tampak saat bibirnya tersungging, aku mencoba membaca air mukanya pasti bukan persoalan aku yang sering pulang malam selama dirinya berada di luar kota.

Pasti ada hal lain yang ingin dia bicarakan padaku, mungkin soal ... ah aku gak mau menerka-nerka, lebih baik aku langsung dengar dari Mas Fian yang tampak serius.

"Soal Dek Amel, Mas-"

Dugaanku ternyata salah, beneran dia mau bahas tentang aduan si Nenek Gambreng tentangku. Kusela cepat agar masalah ini tidak berlarut-larut.

"Soal aku sering pulang malam ya, Mas? Maafin aku, habisnya aku bete di rumah kalau gak ada Mas Fian, gak perlu aku sebut Mas sudah tahu apa penyebabnya aku gak betah di rumah."

"Kok jadi soal itu?"

"Lantas soal apa?"

"Makanya kalau orang bicara jangan suka langsung disela," sungutnya sembari menjepit hidungku.

"Ya, maaf. Habisnya Mas ngomongnya lama banget, bikin orang salah paham jadinya."

"Ah memang dasar Dek Amel gak sabar dan gampang emosian."

"Hehe, iya maaf Mas."

"Mas kangen," katanya sembari memelukku erat, semakin erat sampai aku kewalahan untuk bernapas

Jreng ... jreng ... jreng, lebay banget sih. Aku kira mau apa, ternyata cuma bilang kangen. Dasar Bandot bucin! Hampir mati berdiri dibuat gugup, kukira Nenek Gambreng cari masalah lagi, sebab kalau sampai terjadi aku gak akan segan untuk melawan. Manusia bau tanah itu bakalan aku kerjain biar nyaho.

Aku tidak menginginkan adegan ini, niat hati ingin istirahat tapi apa daya harus kutuntaskan hasrat Mas Fian yang menggebu.

Lelaki di sampingku menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi, tidak ada celah untukku menghindar apalagi menolak keinginannya. Dia berhak atas raga ini, meski diri berkata tidak.

Di luar dugaan, Mas Fian menggendong tubuhku ala bridal style. Aku sempat terhenyak dan ingin marah.

Tapi saat melihat wajahnya yang berseri, aku tidak tega merusak suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.

Akhirnya aku berlagak bahagia, tawaku berderai nyaring seiring tanganku yang melingkar erat di bahunya yang kokoh.

"Kita berendam sama-sama, Sayang!" ajaknya sembari mencium pipi ini mesra.

"Aku baru saja mandi, Mas. Masa-"

Dengan cepat bibir ini dipagutnya lembut, menolak segala alasan yang akan aku utarakan. Aku pasrah akhirnya, berpura-pura menikmati. Melaksanakan kewajiban seorang istri pada suami, meski dengan setengah hati.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

"Gila, lu!" maki Ricca membanting tasnya dengan kasar.

"Kesambet setan apa, Lo?" tanyaku heran padanya yang bersungut kepadaku tanpa alasan yang jelas.

"Elo yang kesambet setan, Mel."

Dia mendekati dengan mata menyalak, aku yang bingung mengernyitkan dahi ini.

"Apaan sih, lo? Gak ada angin gak ada ujan, dateng-dateng langsung marah."

"Wajar gue marah, gue ini sahabat lo!"

"Iya marahnya kenapa? Yang jelas dong kalau ngomong," seruku mulai kesal.

"Dimas!"

Mataku terbelalak tak percaya, hubungan yang kututup rapat selama enam bulan terendus juga oleh Ricca.

"Kenapa dengan Pak Dimas?"

"Pak Dimas? Oh, pinter ya lo ngeles. Dasar cewek murahan," makinya membuat aku geram.

Aku menggebrak meja tidak terima, kutunjuk mukanya yang tidak ramah.

"Elo gak pernah ngerasain apa yang gue rasain, gue tersiksa dengan pernikahan itu, Ric. Coba lo ada di posisi gue, iris kuping gue kalau elo gak ngelakuin apa yang gue lakuin."

Aku bangkit hendak berlalu, tapi pergelangan tanganku ditarik Ricca dengan cepat.

"Kita harus bicara!" cegahnya.

"Ini bukan urusan lo, jangan ganggu hubungan gue sama Dimas. Gue cinta sama dia."

"Itu bukan cinta, tapi nafsu. Dimas cuma pelarian buat lo, lepaskan Mas Fian kalau memang lo mencintai Pak Dimas. Cinta itu sanggup mengambil segala resiko, bukan kaya lo ini. Manfaatin Mas Fian demi obsesi diri, dan manfaatin Pak Dimas demi hasrat hati. Jahat banget lo, Mel!"

Aku menarik tangan, lalu kemudian membalas sorot mata Ricca yang tajam menghujam. Dia benar-benar menyebalkan, menyesal aku pernah bercerita ihwal pernikahanku dengan Mas Fian.

"Udah gue bilang, INI BUKAN URUSAN LO!"

Dengan muak aku meninggalkan Ricca yang tak menyerah mencaci demi bisa menahanku untuk tidak pergi, aku masa bodoh saja. Biarlah kehilangan satu orang teman yang hobi mengatur hidupku, dia bukan siapa-siapa. Aku punya Dimas, pelipur lara dan pelita jiwa yang sangat aku cinta, dan selalu menghujani aku dengan cinta.

Aku dan Dimas saling mencintai.

"Jangan main api, Mel! Gue kaya gini karena gue peduli sama lo," teriaknya sayup kudengar dari kejauhan.

Emosi yang memuncak gara-gara ulah Ricca, membuatku muak dan malas untuk masuk ke dalam kelas. Aku berjalan menuju gerbang kampus, aku akan pergi ke kostannya Dimas saja. Kebetulan hari ini dia tidak ada jadwal mengajar.

Dengan taksi online aku menyambangi tempat kost Dimas yang tidak terlalu jauh jaraknya dari kampus, kurang lebih sekitar 10 km.

Mobil jazznya terparkir di halaman rumah besar yang bercanopi, aku mempercepat langkah menuju ke lantai dua di mana kamar Dimas berada. Langkah terhenti di depan daun pintu bernomor 202.

Sosok tampannya muncul tidak lama setelah aku mengetuk pintu, aku menerobos masuk tanpa mengucapkan salam. Kemudian duduk di tepi ranjang berukuran single sembari bersungut tak patut.

Dimas menutup pintu lalu menghampiriku dan duduk di samping. "Kenapa gak kuliah?" tanyanya.

Aku melirik, lalu menceritakan semuanya.

"Ricca tahu dari aku, Yang."

"Kamu udah ngelanggar janji," sungutku sembari bangkit, tapi Dimas dengan sigap menahan aku pergi.

"Ricca itu sahabatmu, Sayang. Kenapa harus merahasiakan hal bahagia ini darinya?"

"Siapa pun itu, aku udah bilang sama kamu, jangan ceritakan ya jangan ceritakan!"

"Iya, maaf."

"Kamu ceritain juga sudah berapa lama kita menjalin hubungan?" tanyaku penuh selidik pada Dimas yang terlihat serba salah.

"Ya gak sampai sedetail itu, aku cuma tanya soal persahabatan kalian sudah berapa lama. Akhirnya ya gitu, aku jadi cerita kalau aku lagi deket sama kamu."

"Aku tadinya ke sini mau nenangin pikiran, tapi ternyata malah kamu biang keroknya. Aku mau pergi aja," pungkasku dengan wajah tidak ramah.

"Ya gak gitu juga, Sayang. Aku hanya bilang dekat aja, kok."

"Sama aja, aku gak suka kamu ngelanggar kesepakatan."

"Ricca sahabatmu, Yang."

Dimas menarik tanganku dan mendudukkan aku di atas ranjangnya, aku mendeliknya sinis penuh dengan amarah.

"Sebenarnya, rahasia apa yang sedang kamu sembunyikan dariku?" Pertanyaan Dimas barusan menohok hati, membuat aku mati kutu.

Aku mengalihkan pandangan pada layar LCD yang menyala, tatapannya tak kuasa aku balas. Aku ini sedang berbohong, sudah jelas mustahil jika aku berani balik menatapnya.

"Jangan diam, Mel! Ada rahasia apa?" Dimas mengguncang bahuku.

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Dim! Aku lagi marah soal kamu yang udah ngelangggar kesepakatan, jangan lagi bertanya soal rahasia yang tidak jelas, aku punya rahasia apa? Rumah aku saja kamu tahu," jawabku diplomatis meski sebenarnya aku sangat ketakutan.

"Hanya tahu, tapi gak pernah bisa masuk. Gak kaya aku di sini, setiap saat kamu bebas datang tanpa aku larang."

"Kamu tahu alasannya, kenapa kok dipermasalahkan?"

"Bukan mempermasalahkan, tapi-"

"Udah ah, aku pusing! Mau pulang saja."

"Aku anterin kamu pulang!"

"Gak usah, aku bisa naik taksi."

"Aku anterin," katanya kukuh.

Dia bergegas memakai hoodie dan menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya, kemudian menuntunku keluar dari kamar.

Di mobil kami saling diam, menahan emosi yang terpendam

"Aku antar kamu sampai di dalam," ucapnya membuat aku terkejut.

"Di tempat biasa aja," jawabku penuh penekanan.

"Jam segini kakak kamu gak ada, kan?"

"Jangan nekat, Dim! Di sana ada mertuanya kakak dan juga kakak iparku, jangan gila."

"Sejahat itukah mereka sama kamu, Mel? Sampai-sampai kamu dilarang punya pacar. Bilang saja aku ini temen kampus kamu, kebetulan satu arah jadi pulang sama-sama."

"Enggak!"

"Mel!" Dimas meneriakkan namaku.

"Kamu lama-lama nyebelin, Dim! Turunin aku di sini."

Dimas bergeming, ia tetap fokus pada jalanan yang lengang.

"Aku gak main-main," ancamku membuka pintu sedikit.

Dimas yang panik pun cepat menepikan kuda besinya, lalu keluar menyusulku.

"Mel, jangan kaya gini, malu!"

"Putus!"

"Apa?"

"Aku mau kita putus," seruku memperjelas.

"Aku cinta kamu, Mel. Aku mau menyulam masa depan sama kamu, jangan kaya gitu dong!"

"Kamu sudah melanggar kesepakatan kita, dan aku anggap itu adalah kesalahan yang sangat fatal."

"Jangan gitu, Mel!"

"Jangan ganggu aku lagi, kita putus," isakku.

"Maafin aku, Mel."

Aku memberhentikan sedan biru yang kebetulan melintas, secepatnya aku masuk ke dalam mobil taksi konvensional tersebut.

Aku menangis, merasa menyesal telah membuat keputusan sepihak yang berakibat fatal bagi hubunganku dengan Dimas.

Kurogoh ponsel, maksud hati ingin menghubungi Dimas, tapi karena gengsi aku mengurungkan niat itu.

"Bodoh, bodoh!" gumamku memaki diri sendiri yang begitu terbawa nafsu.

Harusnya aku tadi marah saja, tidak perlu mengucapkan kata putus segala. Dimas, hubungi aku segera! Kalau kamu menghubungi aku, maka aku akan minta maaf dan meralat ucapanku tadi.

Hingga mobil berhenti di depan pagar, Dimas tak kunjung meneleponku. Hati aku mencelos, serta raga ini terasa kehilangan daya untuk tegar. Aku yang frustasi pun tumbang, kehilangan kesadaran sesaat setelah turun dari mobil taksi.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Mataku perlahan terbuka, rasa pusing langsung menyergap kepala ini, semua yang aku lihat terasa melayang. Lenguhan pelan lolos dari mulutku, hal itu membuat Mas Fian tergopoh menghampiriku.

"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Dek."

Aku memijat dahi dan berkata, "Kepala aku pusing, Mas. Perutku mual."

"Tadi dokter sudah memeriksa, Dek Amel. Sudah diberikan obat juga, tapi harus diminum setelah Dek Amel makan."

"Jam berapa ini, Mas?"

"Jam tujuh," jawab Mas Fian dengan wajah sangat khawatir.

"Malam?"

"Iya, Sayang."

Aku yang terkejut pun bangkit untuk duduk, tapi tak kuat untuk membuka mata yang mulai memanas.

Hah? Tujuh jam aku pingsan, kenapa selama itu? Dimas? Aku mau ketemu Dimas? Tapi bagaimana caranya? Aku sudah memutuskan dia, oh tidak!

Aku menangis tersedu, pilu. Kurasakan hangat dekapan Mas Fian, lelaki itu mencoba menenangkan aku. Dia kira aku menangis karena rasa pusing ini, padahal yang sebenarnya terjadi adalah aku sedang patah hati.

"Nanti pusingnya akan berangsur hilang, kalau sudah minum obat."

Mendengar ucapannya yang ngelantur, aku bukannya tenang, malah semankin histeris.

Mas Fian mengelus-elus kepalaku, suaranya terus membujum diriku untuk tenang.

"Dek Amel makan ya, habis itu minum obat."

Ingin rasanya aku berteriak, bahwa yang aku butuhkan saat ini bukan obat, tapi Dimas. Lelaki yang sangat aku cintai, lelaki yang baru saja aku putuskan, dan kini aku terpuruk meratapi kebodohan diri.

'Dimas, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin minta maaf dan menarik kembali kata-kataku tadi, aku sangat mencintaimu, Dim. Please tolong hubungi aku!' Batinku menjerit, Tuhan tahu persis sekencang apa lengkingannya.

Dekapan Mas Fian tidak sanggup mengobati lara dalam dada.

Kehadiran Mas Fian tidak bisa meredakan kegundahan dalam hati.

Aku ingin Dimas, hanya Dimas. Hanya dia lelaki yang aku cintai, bukan Alfian yang sudah dua tahun kurang menjadi suamiku.

"Dek Amel jangan kaya gini, Mas jadi sedih."

Aku tidak menjawab ucapannya, aku terus terisak sembari memejamkan mata.

"Makan ya, Sayang! Sedikit saja untuk minum obat, Mas khawatir sakit Dek Amel bertambah parah kalau sampai telat makan," bujuknya lemah lembut di telinga ini.

Tak ingin membuatnya risau, aku pun mengangguk.

"Alhamdulillah," serunya mengecup kening.

Kemudian ia berpamitan sebentar ke dapur untuk mengambil makanan untukku, sepeninggal Mas Fian aku menyandarkan punggung di kepala ranjang. Air mata pun tak jua surut.

Mas Fian kembali, lalu mulai menyuapiku. Di suapan ketiga aku menolak, karena sayur sop dan kulit ayam crispy buatan Bik Nani terasa hambar di mulutku.

"Ya sudah, minum obatnya, ya!"

Aku mengangguk.

"Mas, tinggalin aku sendiri! Aku mau istirahat," usirku padanya. Masa bodoh dia mau merasa sakit hati juga dengan ucapanku barusan, yang jelas aku ingin sendiri. Untuk menenangkan hati ini.

"Iya, Sayang. Cepat sembuh ya," jawabnya tenang, tidak terdengar kesal atau marah. Sebelum pergi Mas Fian sempat mengecup keningku, sungguh manusia aneh.

πŸ–€πŸ–€πŸ–€

Tiga hari aku terpuruk sendiri, tidak ada lagi semangat dalam diri untuk beraktifitas, aku yang murung terus berdiam diri di atas tempat tidur. Sering kali mengecek ponsel yang aku silent, berharap ada pesan atau telepon dari Dima, aku sangat kecewa karena lelaki itu tidak pernah sekali pun coba menghubungi aku.

Semudah itukah Dimas melupakan aku? Kenapa dia tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan ini? Sedangkal itukah rasa cintanya padaku?

Dimas, aku tersiksa karena kebodohkanku. Maafkan aku, aku ingin kembali padamu tapi mustahil aku menghubungi duluan, karena pastinya nanti kamu akan mentertawaiku.

Hanya Ricca saja yang tak patah arang terus memberikan perhatian lewat pesan dan telepon, pernah juga ia datang ke rumah, tapi kutolak mentah-mentah kehadirannya.

Mas Fian yang selama aku sakit tidak pergi ngantor pun sempat kesal karena aku dengan kasar mengusir Ricca, kami sempat berdebat hebat. Tapi, seperti biasa dia akan mengalah di saat aku mengeluarkan jurus pamungkasku, menangis.

Selain Mas Mas Fian, ada orang lain yang baik hati memperhatikan aku, selalu membuatkan makanan kesukaanku, dia adalah Bik Nani.

Seperti pagi menjelang siang ini, Bik Nani masuk menemuiku dengan membawakan semangkuk miayam pangsit andalannya yang sangat lezat.

Wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang, kemudian membujukku untuk makan.

"Neng, yuk makan!"

"Gak selera, Bik."

"Bibik sedih, kalau Neng Amel gak mau makan masakan Bibik. Masakan Bibik gak enak, ya?"

Aku tidak sampai hati, pasti Bik Nani sedih. Aku yang tidak tega pun membalikkan tubuh dan duduk.

"Bibik suapin?"

"Makan sendiri, saja."

"Ya sudah kalau gitu, Bibik tinggal dulu ke dapur, ya!"

"Iya, Bik. Makasih ya," ucapku mengelus punggung tangannya.

"Iya, Neng."

Bik Nani bangkit dan berlalu, aku mengambil mangkuk berisi miayam yang sangat harum. Aku meraih garpu dan mulai menyantapnya.

"Neng!" panggil Bik Nani di ambang pintu, membuatku menjeda suapan kedua.

Aku menoleh ka arahnya dan menjawab, "Iya, Bik?"

"Itu di ruang tamu ada temannya datang cari," katanya membuatku penasaran.

"Ricca?"

Bik Nani menggeleng. "Laki-laki, Neng. Dia lagi bicara sama Mas Fian."

"Laki-laki? Siapa?" Aku mulai tidak enak perasaan.

"Namanya kalau gak salah dengar itu, Dimas, Neng."

Mangkuk yang aku pegang seketika jatuh ke lantai, serasa langit runtuh menimpa dan menghancurkan tubuh ini.

Kiamat besar pasti akan segera terjadi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 3


GDP Network
Bolalob β€’ Garasi β€’ Historia β€’ IESPL β€’ Kincir β€’ Kurio β€’ Lokadata β€’ Opini β€’ Womantalk
Β© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di