CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Militer dan Kepolisian /
SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/602facf7636b1e781e000d82/sa-2-guideline-rudal-darat-ke-udara-yang-dipilih-soekarno-sebagai-perisai-ibukota

SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Pada era kepemimpinan Presiden Soekarno atau biasa disebut sebagai Orde Lama, kekuatan militer Indonesia cukup disegani, berbagai alutsista dari Blok Barat maupun Timur sudah pernah dioperasikan pada masanya. Salah satu yang menarik pada masa Soekarno adalah hadirnya rudal pertahanan udara (hanud) yang bernama SA-2.

Rudal jenis SAM (Surface-to-Air-Missile) ini cukup kondang pada masanya, rudal tersebut dibuat oleh Uni Soviet untuk menjatuhkan pesawat pembom dan mata-mata semasa Perang Dingin yang sering berseliweran di langit Soviet. Dan entah bagaimana caranya Indonesia yang termasuk negara non-blok bisa memiliki rudal ini ? TS akan coba membahas rudal yang sudah dapat cap battle proven tersebut, seperti biasa dimulai dari sejarahnya.



SEJARAH

Program pengembangan rudal permukaan ke udara yang dilakukan oleh Uni Soviet ini adalah sebagai tindak lanjut atas dibuatnya pesawat pembom oleh Amerika. Pada era 1950-an, Paman Sam membuat pesawat pembom B-47 Stratojet yang didukung oleh pesawat pengisian bahan bakar udara untuk memperluas jangkauan terbangnya jauh ke wilayah Uni Soviet. Pada perkembangannya Amerika juga membuat pesawat pembom baru yang bernama B-52 Stratofortress yang punya jangkauan dan muatan yang lebih besar dari B-47.

Hadirnya generasi pesawat pembom tersebut tentu membuat Uni Soviet merasa cemas, jika sewaktu-waktu terjadi perang maka hadirnya B-52 akan menjadi ancaman yang serius bagi negara komunis tersebut. Sebenarnya pada era 1950-an Uni Soviet punya rudal hanud yang bernama S-25, akan tetapi rudal ini bersifat statis.

Salah satu kelemahan sistem rudal hanud statis adalah tidak dapat memberikan kawalan terhadap pasukan darat dalam medan tempur yang berubah secara dinamis. Sementara kemampuan berpindah atau bergerak dari rudal hanud yang bersifat dinamis dapat memberi keuntungan seperti mudah dipindah untuk menghindari serangan musuh dan pelaksanaan serangan kejutan dari tempat yang tidak terduga. Biaya konstruksi sistem hanud bergerak juga lebih murah dari sistem statis karena tidak membutuhkan pembangunan tempat permanen untuk para operator sistem rudal.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Rudal SA-2 milik Indonesia dalam sebuah parade militer di Istora Senayan, jadi perisai udara Ibukota pada masanya.

Ilustrasi: yanuaridho.wordpress.com


Untuk melengkapi sistem hanud S-25, maka Uni Soviet meluncurkan sebuah program pengembangan rudal baru pada tahun 1953. Tepatnya pada tanggal 20 November 1953, diterbitkan Dekrit Dewan Kementerian Uni Soviet No. 2838-1201 tentang Pembuatan Sistem Senjata Peluru Kendali Anti-Pesawat Bergerak untuk melawan pesawat musuh. Sistem hanud baru ini dirancang untuk menghancurkan target dengan kecepatan hingga 1.500 km/jam pada ketinggian hingga 20 km. Massa peluru kendali tersebut diminta tidak melebihi dua ton.

Biro desain KB-1 dari Kementerian Pembangunan Permesinan ditunjuk sebagai pengembang utama dari senjata baru ini, dipimpin oleh A. A. Raspletin. Lembaga ini bekerja pada pembuatan perlengkapan rudal, penerima kendali komando, transponder, antena, autopilot, gir pengendali, dan stasiun pemandu rudal.

Sementara itu di saat yang bersamaan, Biro KB-2 yang dipimpin Pyotr D. Grushin bertugas mengembangkan rudalnya, dengan tujuan menembak jatuh pesawat berukuran besar, tidak bermanuver, dan terbang tinggi. Kemudian untuk produksi massalnya dilakukan oleh Lavochkin OKB.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Rudal yang dibuat Uni Soviet dipajang di National Museum of Military History, Sofia, Bulgaria.

Ilustrasi: wikipedia.org


Program rudal hanud baru ini berfokus pada produksi rudal yang dapat menjatuhkan pesawat besar, tidak bermanuver, dan tidak terbang tinggi. Karena itu rudal tidak perlu bermanuver tinggi, hanya cepat dan mampu menahan serangan balasan pesawat. Untuk membuat senjata dengan spesifikasi seperti itu, maka pengembangan berlangsung dengan cepat dan pengujian dimulai beberapa tahun kemudian.

Empat tahun waktu yang diperlukan insinyur Uni Soviet untuk mengembangkan sekaligus membuat rudal hanud ini, rudal tersebut kemudian resmi diperkenalkan pada tahun 1957. Penampilan perdananya di depan publik terjadi saat ditampilkan pada parade May Day tahun 1957 di Moskow, Uni Soviet kemudian memberi nama resmi rudal hanud ini sebagai S-75 Dvina. Sementara pihak NATO yang mengetahui kemunculan rudal ini memberi nama kesayangan SA-2 Guideline.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Ilustrasi Foto: Miroslav Gyűrösi.


Penyebaran skala luas S-75 dimulai pada tahun 1957, dengan berbagai peningkatan selama beberapa tahun berikutnya. Selain digunakan Uni Soviet, sistem hanud ini juga dipakai oleh negara yang punya hubungan dekat dengan mereka. Dalam operasionalnya, SA-2 digunakan pada tahun 1957 oleh resimen PVO-Strany dan ditempatkan di dekat kota Sverdiovsk.

Sebenarnya S-75 Dvina tidak dimaksudkan untuk menggantikan rudal permukaan-ke-udara S-25 yang berada di sekitar Moskow, akan tetapi S-75 menggantikan senjata anti-pesawat ketinggian tinggi, seperti KS-30 130 mm dan KS-19 100 mm. Antara tahun 1958-1964, intelijen AS menemukan lebih dari 600 sistem hanud S-75 di Uni Soviet.



Rudal SAM yang Battle Proven

SA-2 sendiri memiliki berat 2.3 ton, panjang 10.6 meter serta diameter 0.7 meter. Dengan bobot hingga 2.3 ton, daya jelajah rudal ini terbilang fantastis dengan jangkauan efektif mencapai 45 km. Sementara kecepatannya adalah Mach 3.5, hal tersebut menjadikannya tergolong sebagai rudal udara jarak jauh pada masanya.

Sebuah keberuntungan karena negara kita pernah memiliki rudal hanud dengan kecepatan yang fantastis ini, mengingat Indonesia waktu itu belum pernah memiliki rudal darat ke udara dengan kecepatan sampai Mach 3 (3 kali kecepatan suara). Meski termasuk rudal kelas berat, proses peluncuran SA-2 bisa dilakukan dengan cepat bila telah mengunci sasaran.

Saat pertama diaktifkan, yang menyala adalah engine booster selama 4 sampai 5 detik, kemudian engine utama akan aktif selama 22 detik dengan kecepatan sampai Mach 3,5 serta tingkat akurasi 65 meter. Selain unggul dalam daya jelajah dan kecepatan luncur, jangkauan ketinggian SA-2 pun termasuk tinggi, yakni bisa mencapai 20.000 meter.

Daya hantam SA-2 juga cukup menakutkan pada masanya, dengan dibekali hulu ledak high explosive fragmentasi seberat 200 kg. Dengan spesifikasi seperti itu, rudal hanud ini merupakan salah satu senjata yang bisa menjatuhkan pesawat mata-mata seperti U-2 Dragon Lady.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Ilustrasi Foto: Miroslav Gyűrösi


Meski punya spesifikasi yang menakutkan pada masanya, SA-2 tidak cocok untuk menyergap pesawat yang terbang di ketinggian rendah dengan manuver tinggi. SA-2 adalah rudal untuk menghantam target pada ketinggian menengah dan tinggi yang bermanuver rendah, lebih cocok untuk menyerang pesawat pembom dan pesawat mata-mata.

Memiliki bobot yang besar, SA-2 bukan rudal yang bersifat mobile, platform peluncurannya menggunakan ground mounted. Sedangkan untuk pengiriman rudal menggunakan truk Zil-131. Walau SA-2 resminya tidak mobile, tapi bicara soal mobilitas, SA-2 bisa dipindahkan ke wilayah operasi lain dengan waktu penggelaran 7 sampai 24 jam. Selain itu ada kendaraan tambahan yang berfungsi sebagai stasiun kontrol dan radar.

SA-2 mengusung sistem conical scan, dengan 2 antena, satu mengukur azimuth (sudut putar dari arah barat sampai timur) dan satunya lagi elevasi. Sistem ini menghasilkan data pengukuran yang sedikit lebih lama. Hal ini menyebabkan SA-2 lebih rawan terhadap faktor alam, di mana RCS (Radar Cross Section) pesawat berubah ubah sesuai penampang yang dilihat radar.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Sistem radar dan stasiun kontrol yang melengkapi SA-2.

Ilustrasi Foto: Miroslav Gyűrösi.


Perubahan RCS tersebut bisa membingungkan radar serta menghasilkan pengukuran posisi sasaran yang salah, akibatnya bisa menyebabkan rudal meleset. Atas dasar tersebut, SA-2 di desain memiliki hulu ledak relatif besar (200 kg) untuk mengkompensasi error diatas.

SA-2 juga relatif lebih rawan terhadap jamming dengan teknik Inverse Gain seperti di Vietnam, kemudian pada perkembangannya SA-2 di Vietnam dan milik AURI diberi tambahan Optical Sight.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Tentara Vietnam Utara mempersiapkan SA-2 Guideline untuk ditembakkan.

Iluatrasi: Popperphoto/Getty Images


Tak butuh waktu lama bagi SA-2 untuk unjuk gigi di medan pertempuran yang sebenarnya, 3 tahun setelah resmi diperkenalkan SA-2 berhasil menembak pesawat mata-mata Amerika yang bernama U-2 Dragon Lady. Kejadian ini terjadi pada 1 Mei 1960, pesawat tersebut ditembak pada ketinggian 15.24 km.

Dalam insiden ini Uni Soviet berhasil menangkap pilot U-2 yang bernama Francis “Gary” Powers. Kejadian tersebut merupakan keberhasilan penembakan pesawat yang dipublikasikan secara resmi, sebenarnya setahun sebelumnya SA-2 sudah menembak jatuh pesawat lain. Pesawat pertama yang ditembak jatuh oleh SA-2 adalah pesawat pengintai ketinggian milik Taiwan yang bernama Martin RB-57D Canberra.

Pesawat itu ditembak jatuh oleh rudal hanud SA-2 yang dioperasikan China di dekat Beijing, kejadian ini terjadi pada 7 Oktober 1959. Namun, keberhasilan ini tidak pernah dipublikasikan secara resmi untuk menghindari bocornya informasi terkait rudal SA-2. Rudal SA-2 milik China juga sukses menjatuhkan lima unit U-2 yang dioperasikan ROCAF (Angkatan Udara Taiwan). Bisa dibilang SA-2 (S-75 Dvina) merupakan momok menakutkan bagi pesawat mata-mata Amerika tersebut.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Rudal SA-2 dikirim menggunakan truk.

Ilustrasi: wikipedia.org


Kiprah SA-2 tak berhenti sampai disitu, SA-2 kembali unjuk gigi di Krisis Rudal Kuba. Disana lagi-lagi pesawat Amerika menjadi korbannya, U-2 Dragon Lady kembali menjadi sasaran empuk pada insiden ini. Mayor USAF Rudolf Anderson ditembak jatuh di Kuba oleh sebuah S-75 Dvina pada bulan Oktober 1962.

Rudal hanud ini kembali menunjukkan kehebatannya dalam Perang Vietnam, waktu itu Vietnam Utara meminta bantuan untuk melawan kekuatan udara Amerika. Karena sistem pertahanan udara mereka tidak memiliki kemampuan untuk menembak jatuh pesawat yang terbang di ketinggian. Setelah melakukan diskusi, Soviet setuju untuk memasok Vietnam Utara dengan S-75 Dvina.

Pada 24 Juli 1965,  sebuah pesawat F-4 Phantom USAF ditembak jatuh rudal SA-2 yang dioperasikan Vietnam Utara. Rudal hanud SA-2 terbukti efektif untuk merontokkan pesawat Paman Sam, selama Perang Vietnam SA-2 telah menembak jatuh 1.046 pesawat, atau 31% dari semua pesawat AS yang jatuh. Dalam perang tersebut, Uni Soviet mengirimkan total 95 sistem hanud S-75 Dvina dan 7.658 rudal ke Vietnam. Sebagian besar S-75 dikerahkan di sekitar area Hanoi-Haiphong selama Perang Vietnam.



SA-2 Sang Perisai Ibukota

Kedatangan SA-2 di Bumi Pertiwi merupakan bagian dari Operasi Trikora, dalam pertempuran yang melibatkan operasi udara yang menjadi target utama adalah Ibukota Indonesia. Maka dari itu Bung Karno mencari alutsista untuk menjadi Perisai Ibukota. Awalnya Bung Karno tertarik membeli rudal Nike buatan Amerika, kemudian beliau mengirim Mayor Kusudiarso pada April 1959 ke Amerika untuk melihat dari dekat dan menjajaki pembelian rudal Nike yang saat itu adalah rudal hanud paling modern.

Niat ingin membeli rudal tersebut ternyata ditolak pihak AS, Paman Sam tidak berkenan menjual Nike ke Indonesia yang saat itu tengah berselisih dengan Belanda. Saat di AS, Kusudiarso bersama Atase Udara RI di Washington, Kol. R. Soedjono hanya mendapat kesempatan untuk melihat demonstrasi penembakan rudal Nike dari kejauhan.

Kusudiarso kembali dengan tangan hampa, kemudian hal tersebut dilaporkan ke KSAU Suryadarma, yang lantas meneruskan ke Presiden Soekarno. Mendengar kabar penolakan Paman Sam menjual Nike ke Indonesia, Soekarno pun tak terima dan memerintahkan Jenderal A.H. Nasution ke Uni Soviet untuk membeli rudal hanud tandingan dari Blok Timur. Bung Karno menyebut pengadaan SA-2 ini sebagai “Proyek A“.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Ilustrasi: jabartribunnews.com


Setelah melewati beberapa proses, kemudian SA-2 mulai memperkuat pertahanan udara obyek vital di Indonesia pada awal dekade 1960-an. Dalam proses akuisisi rudal ini, TNI AU mengirimkan teknisi ke Uni Soviet untuk dilatih mengoperasikan rudal ini pada tahun 1962. Setiap teknisi yang belajar rudal tersebut dinamakan 'Naya'.

Sementara program pendidikan awak dan teknisi berjalan, di Tanah Air dilakukan persiapan mulai dari pembangunan hangar, shelter dan mess. Pada tahun 1962, seratus personel yang direkrut dari bintara yang bertugas di satuan-satuan radar AURI dikirim untuk belajar sistem rudal. Pendidikan itu dilaksanakan di Polandia, di sana pendidikan khusus bagi calon operator radar yang akan bertugas di skadron rudal dilaksanakan.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Pemasangan SA-2 pada Ground Mounted.

Ilustrasi: fas.org


Melalui Skep Men/Pangau Nomor 53 Tahun 1963 tanggal 12 September 1963, dalam rangka mempertahankan wilayah kedaulatan udara nasional, dilakukan pembagian unsur-unsur rudal hanud dalam pelaksanaan operasi. Unsur-unsur itu berada di bawah naungan Wing Pertahanan Udara (WPU) 100, membawahi 3 skadron peluncur dan 1 skadron teknik peluru kendali. Daftar skadron tersebut adalah sebagai berikut:

1. Skadron 101 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 di Cilodong.
2. Skadron 102 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 di Tangerang.
3. Skadron 103 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 di Cilincing.
4. Skadron Teknik 104 Penyiap Peluru Kendali di Pondok Gede.

Tiga skadron pertama merupakan skadron operasional, sementara Skadron 104 merupakan skadron penyiap yang bertanggungjawab menyiapkan rudal-rudal yang akan ditempatkan di ketiga skadron operasional.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Ilustrasi: Ilustrasi: yanuaridho.wordpress.com


Beberapa tugas WPU 100 Peluru Kendali antara lain mengatur, mengkoordinasikan dan memimpin langsung kegiatan dalam rangka pertahanan udara yang meliputi usaha penghancuran dengan peluru kendali terhadap sasaran-sasaran musuh/lawan, baik didalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia. Kedua adalah mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi latihan yang membawa semua kesatuan yang dibawahnya dalam keadaan siaga.

WPU 100 Peluru Kendali berpangkalan di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma. Rencananya waktu itu juga akan ditempatkan di Bekasi dan Surabaya. Alasan memilih Surabaya, pertimbangannya karena di sana pusat Angkatan Laut. Namun, rencana tersebut urung terjadi.

Meski SA-2 milik Indonesia digunakan untuk memagari langit Ibukota, namun tak banyak cerita yang terjadi selama situasi genting tersebut. Karena Indonesia dan Belanda lebih suka menyelesaikan pertikaian waktu itu melalui meja runding. Walau tak sempat menembak jatuh pesawat musuh, akan tetapi rudal hanud ini 'nyaris' menembak jatuh U-2 Dragon Lady milik Amerika. Akan tetapi rudal tersebut gagal menembak target akibat Bung Karno tidak mengangkat telepon yang masuk dari Panglima Kohanud.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Personel AURI mempersiapkan SA-2.

Ilustrasi: Ilustrasi: yanuaridho.wordpress.com


Waktu itu anggota Skadron Peluncur 102 bersiaga seperti hari-hari sebelumnya. Namun, tiba-tiba keluar kabar yang mengejutkan, bahwa sebuah pesawat intai strategis U-2 Dragon Lady melintas di Teluk Jakarta. Karena pesawat yang dimaksud sudah masuk jarak tembak, maka kejadian itu segera dilaporkan ke Panglima Kohanud.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Panglima Kohanud lantas melaporkan kepada Presiden lewat jalur ‘telepon merah’ untuk menunggu perintah selanjutnya. Waktu itu operator radar SA-2 sudah mengunci posisi U-2 Dragon Lady, sementara Skadron Peluncur 102 tinggal menunggu perintah untuk menembak.

Akan tetapi Bung Karno saat itu sedang tidak ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, karena RI-1 sedang tidak ada di tempat maka target yang sudah terkunci kemudian melarikan diri. Bagaimana jadinya jika Bung Karno berada ditempatnya dan mengangkat telepon waktu itu ? Kemungkinan Indonesia akan kembali meghadapi peperangan.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Truk Zil-131 yang pernah dipakai TNI AU untuk membawa rudal SA-2 pada masanya.

Ilustrasi: yanuaridho.wordpress.com


Rudal SA-2 sudah diproduksi sekitar 4600 unit dalam berbagai varian, sebagian besar penggunanya para negara sahabat Uni Soviet. Di lingkungan ASEAN, tercatat hanya Vietnam dan Indonesia yang juga pernah mengoperasikan rudal ini. Sebagai rudal yang dikendalikan lewat gelombang radio, SA-2 rawan menghadapi aksi jamming, untuk itu pihak Uni Soviet berhenti menggunakan rudal ini pada tahun 1980. Sementara Indonesia mempensiunkan SA-2 pada tahun 1983.

Pada masanya SA-2 ikut mewujudkan sebuah sistem pertahanan udara yang boleh dibilang canggih kala itu untuk Indonesia. Kekuatan AURI waktu itu juga dilengkapi pesawat tempur dari keluaraga MiG (MiG 15, 17, 19, 21), ditambah bomber legendaris sekelas Tu-16, menjadikan Angkatan Udara Republik Indonesia menjadi disegani di belahan bumi selatan pada dekade 1960-an.

Bagi agan dan sista yang ingin melihat wujud asli rudal SA-2 ini bisa mengunjungi museum Satria Mandala yang berada di Jakarta. Lokasinya berada di Jalan Gatot Subroto 14-16 Jakarta Selatan. Selain di Jakarta, rudal legendaris ini juga di pajang di Musem Dirgantara Mandala Yogyakarta. Museum ini lokasinya masih berada satu komplek dengan Pangkalan Udara TNI AU Adisucipto, Yogyakarta.


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

SA-75 (SA-2) di Museum Satria Mandala.

Ilustrasi: labskyhistoricalseeker.blogspot.com


SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

S-75 (SA-2) di Museum Dirgantara Mandala.

Ilustrasi: intisari.grid.id



SA-2 Guideline (S-75 Dvina)

Negara Asal : Uni Soviet
Produsen : Lavochkin OKB
Berat : 2.300 kg
Panjang : 10,6 meter
Diameter : 0,7 meter
Tenaga Penggerak : Solid fuel booster dan liquid fuel upper stage operational
Hulu Ledak: 200 kg
Daya Jangkau : 45 km
Batas Ketinggian : 20.000 meter
Kecepatan : 3,5 Mach
Negara Pengguna: Uni Soviet, Mesir, Kuba, China, India, Vietnam, Indonesia dan masih banyak lagi emoticon-Peace



Spoiler for Video Tambahan:



Demikian sedikit nostalgia tentang SA-2, salah satu rudal legendaris yang pernah jadi perisai Ibukota kita tercinta. Semoga pembahasan kali ini bisa menambah wawasan baru untuk kita semua di bidang sejarah sekaligus alutsista. Jika agan dan sista menyukai tulisan ini jangan lupa untuk share, rate 5, komen serta cendolnya. Terimakasih sudah membaca tulisan ini dari awal sampai akhir, keep ngaskus emoticon-Angkat Beer




Referensi: 1.2.3.4
Ilustrasi: wikipdia.org, google image
profile-picture
profile-picture
profile-picture
SoupAyam dan 40 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh si.matamalaikat
Halaman 1 dari 4
SA-2 Guideline, Rudal Darat ke Udara yang Dipilih Soekarno Sebagai Perisai Ibukota

Salah satu rudal legend emoticon-Toast



------


Best komen emoticon-Toast


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh si.matamalaikat
Jejakin dulu gan emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
si.matamalaikat dan 3 lainnya memberi reputasi
ini nih... yg adu jotos lawan bomber AS B-52 waktu operasi Linebacker 2 di Vietnam...

banyak bomber yg rontok waktu itu..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jayreap dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Masa soekarno, negara baru berdiri, duit dari mana yah bisa pesen alutista mahal? emoticon-Bingung

Tapi itu keren juga rudalnya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Rudal hanud yang keren pada zamannya yak...
Mantap juga pak Karno ini...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 4 lainnya memberi reputasi
akibat US bahkan taiwan suka kepoin teritori para kamerad, scr gak langsung malah bikin laris tu pelor gede

meski kesannya kebetulan presiden sedang gak di kantornya & anggap SA-2 bisa dicancel stelah launch pun, tapi cara ngusir "slonong boy" saat gak resmi perang, mending kirim si pensil (mig 21), lagian soviet bikin mig-25 agar gak terulang kek hajar langsung U-2.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bennbeckmans dan 6 lainnya memberi reputasi
1lg warisan membanggakan dr Soekarno emoticon-Angkat Beer

Wajar jmn orla indo terkuat no 3 d asia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jayreap dan 5 lainnya memberi reputasi
Luar biasa.. Trit yang sangat bagus emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
si.matamalaikat dan 3 lainnya memberi reputasi
Gede beut range cuma 45km
profile-picture
jlamp memberi reputasi
Tiap hari ngeliat klo lewat musium satria mandala..
Baru sadar skrng emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 4 lainnya memberi reputasi
Wah kagak nyangka ane...emoticon-Matabelo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
si.matamalaikat dan 2 lainnya memberi reputasi
Walaupun tak sempat digunakan, sistem pertahanan udara rudal S75 Dvina terbukti ikut memberikan efek deterrent factor bagi negara negara lain yang mencoba mengganggu kedaulatan wilayah RI. Setelah melakukan persiapan selama hampir 1 thn karena harus mendidik dan melatih para operator radar, operator rudal dan para kru termasuk persiapan sarana dan prasarananya, akhirnya S75 Dvina datang dari Rusia pada thn 1962 dan langsung dibawah kendali Wing Pertahanan Udara 100. Kesuksesan operasi Trikora ( Indonesia vs Belanda thn 1961 - 1962 tentang perebutan kembali wilayah Papua ) bisa menjadi contoh walaupun tak sampai terjadi konflik senjata secara terbuka tetapi dengan kekuatan militer yg besar dan berkualitas sukses membuat Belanda lebih menerima penyelesaian masalah Papua di meja perundingan daripada berperang dengan angkatan perang RI. Tak hanya sukses pada saat operasi Trikora, hal yang sama kembali terulang pada saat operasi Dwikora Indonesia - Malaysia thn 1963 - 1966 tentang aksi ganyang Malaysia ) dimana ada satu cerita Malaysia sebagai negara jajahan persemakmuran Inggris tentunya dibela oleh Inggris. Inggris sempat mengancam akan mengerahkan pesawat pembom nuklir jarak jauh Avro Vulcan yang saat itu sudah berada di Darwin Australia untuk menghancurkan ibukota RI : Djakarta. Inggris merencanakan akan menggunakan bom konvensional berskala besar karena Avro Vulcan mempunyai kemampuan angkut bom seberat 45 ton dengan jarak jangkauan 5000 km. Tak gentar dengan ancaman Inggris maka RI kembali mempersiapkan pangkalan rudal hanud jarak jauh S75 Dvina yang berada di Cilodong, Tangerang dan Cilincing sebagai payung udara ibukota RI. Berkat kehadiran sistem hanud rudal S75 Dvina ini pula Inggris berpikir ulang dan memutuskan untuk tidak meneruskan rencananya karena sadar akan kemampuan rudal S75 Dvina. Pada thn 1983 akhirnya sistem pertahanan rudal S75 Dvina milik Indonesia dipensiunkan dan pada tahun 1984 Wing Pertahanan Udara 100 juga resmi dibubarkan. Setelah absen selama 36 thn, dengan diresmikannya Satuan Rudal 111 Teluk Naga di Tangerang pd 26 November 2020 lalu, akhirnya DKI Jakarta sebagai ibukota RI kembali mempunyai payung udara berupa sistem pertahanan udara NASAMS 2 ( Norwegian Advance Surface to Air Missile System ) yang dipesan dari Norwegia sejak thn 2017. Teluk Naga ini adalah lokasi yang sama dengan Skuadron 102 Peluncur Peluru Kendali Darat ke Udara S75. Indonesia memesan 2 set baterai NASAMS 2 dengan konfigurasi 1 baterai punya : 12 unit peluncur rudal yang tiap unitnya berisi 6 launcher, 8 unit Radar ( AN/MPQ 64 Sentinel dengan improved X band 3D radar ), 1 unit pusat pengendali penembakan ( CTOC ), 1 unit kendaraan kamera elektro optik ( MSP 500 ) dan 1 unit kendaraan kontrol taktis ( TCC ). NASAMS adalah sistem pertahanan rudal jarak menengah hasil kerjasama antara Kongsberg Defence & Aerospace ( Norwegia ) dan Raytheon ( USA ). Ada 3 keunggulan utama dari NASAMS yaitu unitnya bersifat mobile dan portable serta flexible dalam pemilihan rudalnya. Standarnya NASAMS ditawarkan dengan rudal udara ke udara AIM 120 AMRAAM ( Range 30 km Mach 4 ) tapi dapat juga dipilih rudal udara ke udara lain seperti AIM 9 Sidewinder ( Range 35 km Mach 2.5 ) atau rudal permukaan ke udara seperti RIM 162 ESSM ( Range 50 km Mach 4 ). Indonesia sendiri menggunakan rudal udara ke udara yang sama dengan yang dipakai pespur F16 yaitu AIM 120 C7 AMRAAM ( Range 40 km Mach 4 ). Semua jenis rudal tsb adalah buatan Raytheon.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gonugraha76
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
SA-2 ini mimpi buruk bagi para pilot Amerika di Vietnam... seperti yang dialami para kru B-52. konon kenapa begitu banyaknya B-52 yang berhasil dijatuhkan karena Vietnam menembakkan begitu banyak SA-2 secara salvo. tiap 1 B-52 ditembaki beberapa SA-2 sekaligus emoticon-Cape d...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
si.matamalaikat dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sayang banget ya truck ZIL gak dipake.. padahal handal lho..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
si.matamalaikat dan 2 lainnya memberi reputasi
Pernah liat ane dan masih dalam kondisi yg jelas seperti zaman dulu lengkap dengan tulisan2 Russia ny, ada di Subang emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lebih menguntungkan bermitra dengan Rusia daripada mamarika yg rese senjata terbaru dan tercanggih pun diberikan kepada negara sahabat tanpa banyak cingcong gak kayak pemerintah dari jaman suharto sampai sekarang takut sama mamrika tapi minta F35 gak dikasih yg dikasih model agak jadul itupun akan di downgrade kalau dikasih. Kita butuh sosok pemimpin kayak Sukarno yang pemberani tidak tunduk sama kekuatan asing. Seandainya sekarang kita minta rudal Patriot terbaru pun gw sangsi akan dikasih.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 3 lainnya memberi reputasi
Baru tahu ane kalo Indonesia pernah punya rudal hanud yang di segani saat itu.
Kalo saja dari tahun 1983 setelah di pensiunkan, para insinyur RI mempelajari rudal SA-2 itu, mungkin sekarang RI udah bisa membuat rudal macem negara India atau Pakistan, dan tidak menutup kemungkinan hanud RI yg buatan dalam negeri bisa bersaing dengan negara lain. Atau mungkin dulu RI memang "sengaja" di kekang agar tidak bisa membuat sendiri rudal semacam itu untuk melemahkan militer Indonesia?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


rugi banyak di Perang Vietnam gan, U-2 Dragon Lady juga banyak yang rontok emoticon-Hammer (S)



Quote:


kalau sama Soviet sistemnya hutang gan, termasuk hadirnya KRI Irian, satunya2 kapal penjelajah Indonesia. cmiiw



Quote:


langsung beli rudal tandingannya emoticon-Big Grin



Quote:


sedang kemana kira2 Bung Karno waktu itu ya ? ane malah penasaran emoticon-Hammer (S)




Quote:


hadir karena kebutuhan gan emoticon-Ngacir



Quote:


makasih gan, tapi masih banyak typo dan ada gambar yang gak muncul juga emoticon-Nyepi


Quote:


pada masanya itu termasuk jauh gan emoticon-Big Grin


Quote:


hallo gan, warga Jaksel kah ? emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
nowbitool dan jlamp memberi reputasi
Quote:


apa yang tidak disangka gan ?



Quote:


kalau tidak salah om, TNI AU juga bersengketa dengan warga sekitar. karena disekitar lahan yang ditempati, yang harusnya steril, sudah dijadikan pemukiman oleh para warga. cmiiw



Quote:


gak heran banyak yang jatuh, rudal yang diterima Vietnam sekitar 7 ribu emoticon-Hammer (S)




Quote:


faktor suku cadang yang langka juga berpengaruh sepertinya gan, sehingga tidak dipakai lagi



Quote:


tepatnya dimana gan ?



Quote:


sosok seperti Soekarno sulit dicari gantinya gan, selain tegas dan berwibawa beliau juga punya aura kepemimpinan yang kuat.

solusi rudal atau roket, Indonesia sepertinya harus fokus pengembangan R-Han. cmiiw




Quote:


untuk mengembangkannya juga butuh dana yang besar gan, mengingat kasus korupsi juga tinggi di orde baru, pengembangan alutsista seperti rudal kayaknya mustahil. cmiiw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
Gembok emoticon-Salaman
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan jlamp memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di