CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Tumbal Manten Kali Gandhu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60250552aeee755d006cb70e/tumbal-manten-kali-gandhu

Tumbal Manten Kali Gandhu

Spoiler for :


Tumbal Manten Kali Gandhu
pic : urbanasia.com


Part 1 :
Lelaki Patah Hati

Sebatang sigaret dan secangkir kopi, mungkin hanya itu obat yang mujarab untuk orang yang sedang patah hati sepertiku. Dan demi secangkir kopi, pagi itu aku rela mengantri di kedai Mbak Romlah, berjubel dengan beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi yang memenuhi kedai sederhana itu.

Bukan. Aku bukan seorang mahasiswa seperti mereka. Aku hanyalah seorang laki laki yang sedang patah hati, yang kebetulan terdampar di kota pelajar ini, dan ngekost di dekat kampus yang megah itu.

"Kopi Mas Bay?" seperti biasa, Mbak Romlah selalu tersenyum manis kepada setiap pelanggan di kedainya. Bahkan kepada para mahasiswa yang catatan hutangnya di kedai itu sudah menumpukpun, ia tetap melayaninya dengan senyuman manis.

"Nggih Mbak, seperti biasa ya, pahit, nggak pakai gula," ujarku sambil memaksa ikut duduk berdesak desakan di bangku kayu yang sudah penuh dengan pantat pantat para mahasiswa dan mahasiswi itu.

"Mas Bay, tumben pagi pagi udah nongkrong dimari? Biasa jam segini masih molor di kost'an," celetuk salah seorang dari mereka. Aku tak begitu mengenal anak itu. Mungkin salah satu penghuni kost dimana tempat aku tinggal.

"Memangnya kenapa? Nggak boleh ya?" sungutku sambil membakar ujung sigaret yang terselip di sela sela jariku.

"Ya boleh sih, cuma nggak biasa aja," anak itu tanpa permisi menyomot bungkus sigaretku, lalu mengambil isinya sebatang dan menyulutnya.

Aku berdiri sambil menepuk bahu anak itu. "Nak, sebagai seorang mahasiswa, sebaiknya kamu belajar saja yang rajin ya, nggak usah terlalu usil dengan urusan orang," dengusku sambil melangkah keluar dari kedai itu.

"Mbak Romlah! Kopinya anterin ke kost-an saja ya, sama sekalian mie rebusnya!" seruku dari luar kedai.

"Duh, ngambek nih yeee! Jangan suka ngambek Mas Bay, nanti cepet tua lho!" masih kudengar celetukan salah seorang mahasiswi dari dalam kedai itu.

"Wedhus!!!" umpatku kasar. Kutendang kaleng minuman soda yang tergeletak di tengah jalan, untuk melampiaskan rasa kesalku.

"Woy!" seorang pedagang bubur keliling mengepalkan tangannya ke arahku, saat kaleng soda itu melayang nyaris menghantam kepalanya. Aku hanya nyengir, sambil terus melangkah menuju ke kost-anku.

"Cah edan!" masih kudengar tukang bubur itu menggerutu.

"Opo?! Ngajak gelut po?! Ayo mrene!!!! (Apa?! Ngajak berantem ya?! Ayo, sini!!!), sontak aku berbalik dan memasang wajah sangar, membuat tukang bubur itu lari terbirit birit sambil mendorong gerobaknya.

"As*!" lagi lagi aku mengumpat, kali ini sambil membuka pintu pagar kost-an dengan kasar.

"Ngapa ta Mas? pagi pagi kok udah ngomel ngomel ndak jelas gitu?" suara lembut Wulan, anak pemilik kost, menyambutku.

"Ra popo!" (nggak papa!) sahutku sengak, sambil terus ngeloyor masuk ke kamar. Sekilas masih kulihat Wulan yang menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkahku yang absurd di pagi itu.

Aku menghenyakkan pantat di atas kursi. Mereka, orang orang itu, boleh saja menilaiku seperti apa, karena mereka memang tak merasakan apa yang aku rasakan. Sakit yang aku rasakan, hanya aku seorang yang tahu. Dikhianati oleh orang yang telah sekian lama kita cintai, sakit apalagi yang rasanya lebih sakit daripada dikhianati?

"Mas Bayu," terdengar suara dari balik pintu, disusul dengan ketukan pelan.

"Siapa?" tanyaku basa basi, karena aku sudah sangat hafal dengan suara itu.

"Lilis Mas. Disuruh emak buat nganterin kopi pesenan Mas Bayu," sahut suara itu lagi.

"Masuk, aja!" seruku lagi sambil cepat cepat menyalakan laptopku.

"Taruh dimana Mas kopinya?" kata gadis itu setelah masuk ke kamarku.

"Letakkan saja di meja situ," sahutku tanpa menoleh. Bisa tambah puyeng aku kalau sampai terlalu lama melihat gadis tomboy yang selalu berpenampilan sexy itu. Lihat saja, pagi pagi begini ia sudah kelayapan cuma dengan mengenakan celana pendek sebatas paha dan kaos oblong yang super ketat.

"Lagi ngerjain apa sih Mas? Kok kayaknya serius banget?" sambil masih memegang nampan gadis itu mendekat ke arahku.

"Halah! Sudah, pulang sana! Ngganggu saja! Aku lagi sibuk nih!" sentakku sedikit kesal.

"Dih! Galak amat sih! Awas lho, galak galak nanti gantengnya ilang," anak itu tergelak sambil melangkah meninggalkan kamarku.

Bodo amat, batinku sambil menyambar cangkir kopi dan menyeruput sedikit isinya. Aroma wangi uap kopi bisa sedikit menyegarkan pikiranku.

"Mas Bayu," lagi lagi pintu diketuk. Kali ini suara Wulan yang terdengar. "Ada Mbak Rena tuh di depan, mau ketemu Mas Bayu katanya."

Sial! Mau apa lagi gadis itu mencariku? Mau minta maaf padaku? Mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya? Membuat segudang alibi dan alasan? Cih! Tak akan semudah itu, setelah jelas jelas tertangkap basah berduaan dengan laki laki lain!

"Bilang saja aku nggak ada!" seruku.

"Tapi Mas ...!"

"Udah! Bilang aja aku nggak ada, atau sekalian bilang sama dia, aku udah pindah, nggak ngekos di sini lagi!" sentakku kesal.

"Tapi aku sudah terlanjur bilang kalau Mas Bayu ada di kamar," seru Wulan dari balik pintu.

"Aish! Gimana sih?! Ya sudah, bilang aja sama dia, aku sudah nggak mau lagi ketemu sama dia!" seruku tak mau kalah.

"Tapi Mas ...."

"Halah! Tinggal bilang begitu apa susahnya sih? Dari tadi topa tapi melulu. Sudah, jangan ganggu! Aku lagi sibuk nih!" sentakku lagi.

"Bodoh!" dengusku kesal saat kudengar langkah kaki Wulan menjauh. Rasa kesal kembali membuncah dalam dadaku, teringat peristiwa beberapa hari yang lalu. Peristiwa yang membuatku mengucapkan kata putus kepada gadis yang telah sekian lama menemaniku menjalani kerasnya hidup di kota pelajar ini.

"Mas ...!" baru saja aku meraih sendok untuk mengaduk mie rebus yang tadi diantarkan oleh Lilis, kembali terdengar suara Wulan mengetuk pintu.

"Apa lagi sih?!" kali ini aku beranjak bangkit dan membuka pintu.

"Ada tamu yang nyari Mas Bayu," jawab Wulan.

"Hai Bay, apa kabar?" seorang gadis cantik berambut panjang yang berdiri di belakang Wulan menyapaku, membuatku terbengong sampai sepersekian detik lamanya.

"Woy! Malah bengong lho!" gadis itu menampar pelan pipiku.

"Ya Tuhan, mimpi buruk apa aku semalam, sampai sampai hari ini kaudatangkan tamu yang seperti ini untukku," seruku dengan nada memelas.

"Asem!" gadis itu memukul lenganku pelan. Aku hanya tertawa tergelak. Namun tawaku terhenti seketika, saat menyadari bahwa dibelakang gadis itu telah berdiri seorang pria tampan nan rupawan.

"Eh, siapa?" ujarku setengah berbisik, sambil melirik laki laki itu.

"Oh ya, kenalkan, ini calon suamiku," jawab gadis itu.

"Bayu," aku menyambut uluran tangan laki laki itu.

"Bejo," ujar laki laki itu.

What?!!" nyaris saja tawaku meledak mendengar laki laki itu menyebutkan namanya. Laki laki segagah dan setampan itu namanya Bejo?

"Kenapa?" Seruni, gadis itu mendelik ke arahku.

"Hahaha ...! Ndak papa. Ayo, kita ngobrol di ruang tamu. Bisa digerebek sama ibu kost nanti kalau kita lama lama disini," ujarku mengalihkan pembicaraan.

"Jadi, angin apa yang tiba tiba membawamu kemari? Sudah sekian purnama lho, kamu tak pernah mengunjungi sahabat seperjuanganmu ini," ujarku setelah kami duduk di sofa ruang tamu. Tanganku sibuk mengirim chat kepada Lilis, memesan minuman dan sekedar makanan ringan untuk tamu tamu spesialku ini.

"Dasar pengarang amatiran. Mentang mentang sudah jadi penulis terkenal, bahasanya jadi sok formal begitu," kini Seruni yang tergelak.

"Nih, aku kesini cuma mau nganterin ini kok, datang ya nanti," sambung gadis itu lagi, sambil menyodorkan sebuak kartu undangan bersampul keemasan.

"Hmmm, tega kamu ya, mengirim undangan disaat aku sedang patah hati seperti ini," gumamku sambil menerima kartu undangan itu.

"Hah? Patah hati? Apa aku nggak salah dengar? Orang sepertimu bisa patah hati?" lagi lagi Seruni tergelak.

"Jangan tertawa diatas penderitaan orang," dengusku sambil membolak balik kartu undangan itu. "Jadi, kamu mau nikahnya di kampungmu? Jauh amat Nek."

"Halah, Jogja - Wonogiri seberapa jauh sih? Dan, karena seperti yang kamu bilang tadi, karena kita adalah sahabat seperjuangan sejak lama, maka kamu akan menjadi tamu spesialku. Lusa, kita berangkat sama sama ke kampungku. Harus! Nggak boleh nolak!" tegas Seruni.

"Lusa? Jangan gila dong. Disini disebutkan kalau resepsinya masih sebulan lagi. Mau ngapain aku ikut kesana lusa?"

"Eits, sudah kubilang tadi, kamu nggak boleh nolak. Dan kalau apa yang kamu bilang tadi itu benar, kalau kamu sedang patah hati, itu kebetulan. Aku bisa mencarikan obat untukmu di kampungku."

"Halah, kau pikir gampang apa mencari obat patah hati?"

"Jangan meremehkan Seruni binti Martono Bay. Percayalah, banyak yang bisa kau dapatkan disana. Gadis gadis desa yang cantik? Banyak di desaku. Penggemar berat dari tulisan tulisanmu? Ada maniak yang tergila gila dengan hasil karyamu di desaku. Bahkan kau bisa memecahkan sebuah misteri yang selama beratus ratus tahun tak pernah bisa di pecahkan di desaku. Bagaimana? Masih belum tertarik juga?"

"Hmmm, baiklah, baiklah, demi sahabat seperjuanganku ini, lusa aku akan ikut," kataku akhirnya.

"Nah, gitu dong, itu baru namanya sahabatku," kembali Seruni memukul pelan lenganku.

Obrolan kami terhenti sejenak, saat Lilis datang mengantarkan minuman dan makanan kecil yang tadi kupesan. Ada sedikit rasa bahagia menelusup di relung hatiku, melihat sahabat lamaku ini telah menemukan jodohnya. Rasa sakit hati akibat ulah Rena beberapa hari yang lalupun bisa sedikit aku lupakan.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
datuakkayo dan 130 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Halaman 1 dari 46
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Aanaja dan 40 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan

Prakata

Spoiler for :
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lontongbesar dan 46 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan

Part 2 : Rena

"Tulalit .... Tulalit ...."
"Tulalit .... Tulalit ...."

Dering ponsel membangunkanku di pagi itu. Dengan malas aku menggeliat dan meraba raba, mencari benda pipih persegi itu di atas meja samping ranjangku. Dan dengan mata yang masih setengah terpejam kulihat nama Runi di layar persegi itu.

"Hallo Run! ngopo to?, isuk isuk kok wes telepon? Ngganggu wong turu wae," (Hallo Run! Ngapain pagi pagi udah telepon? Ganggu orang tidur saja), sapaku dengan nada malas, setelah menggeser tombol hijau di layar gawaiku.

"Esuk?! Esuk gundulmu kuwi! Delok'en, wes jam piro iki? Sida budhal po ora? Aku wes neng ngarep kost-anmu ki!" (Pagi?! Pagi gundulmu itu! Coba lihat! Sudah jam berapa ini? Jadi berangkat enggak? Aku sudah di depan kost-anmu nih!) sebuah suara cempreng khas milik Seruni terdengar dari seberang sana. Dengan masih sedikit malas aku bangun dan melihat jam weker di atas meja. Jam sepuluh pagi.

"Astaghfirullah!!! Sorry sorry, aku kawanen ki! (kesiangan nih!) Tunggu sebentar ya, aku tak mandi dulu! Kamu masuk aja, tunggi di teras! Jangan di jalanan, nanti diculik genderuwo lho!" Seruku sambil melompat turun dari tempat tidur, menyambar handuk, dan bergegas keluar kamar. Nyaris saja aku menubruk tubuh Wulan yang sedang menyapu di selasar depan kamarku.

"KYAAAAAAAAAAA ....!!!" sontak gadis itu menjerit sambil menutupi wajahnya.

"Ngopo to Lan? Berisik tau!" sentakku.

"Mas Bayu ini lho! Mbok ya kalau keluar kamar itu pake baju dulu!" Aish, aku menepuk jidatku, saat sadar bahwa saat itu aku hanya mengenakan kolor tanpa baju. Kebiasaanku kalau tidur memang begitu, karena udara di kota ini memang lumayan gerah, dan kamar kost-ku memang tak dilengkapi dengan pendingin udara.

"Sorry sorry, lagi kesusu ki," (Sorry sorry, lagi buru buru nih), tanpa merasa bersalah aku segera bergegas menuju ke kamar mandi. Samar samar masih kudengar Wulan menggerutu.

Aku mandi dengan sangat terburu buru. Tak sampai lima menit aku sudah keluar lagi dari kamar mandi. Beruntung Wulan sudah nggak ada di depan kamarku lagi. Segera aku masuk ke kamar, mengenakan pakaianku, juga dengan terburu buru. Beberapa pakaian ganti kujejalkan begitu saja ke dalam tas ransel, tanpa sempat melipatnya lagi. Tak lupa laptop kumasukkan ke dalam tas jinjing, karena benda itu memang yang paling penting buatku. Bisa repot kalau sampai ketinggalan. Begitu merasa semua sudah siap, aku segera keluar menemui Seruni yang telah menunggu di teras.

"Ckckckck ....!!!" gadis itu berdecak heran saat melihatku.

"Kenapa?" tanyaku heran.

"Sampai sisiranpun kamu tak sempat," ujar gadis itu.

"Halah! Ndak usah sisiran juga aku sudah ganteng kok. Ya sudah, ayo berangkat, keburu siang nih, nanti panas di jalan." kamipun segera berjalan beriringan menuju ke mobil Seruni yang terparkir di halaman rumah kost-ku. Gadis itu lalu membuka pintu dan duduk di jok depan sebelah kiri.

"Lho, jadi aku to yang nyetir?" ujarku, juga sambil masuk ke dalam mobil itu.

"Lha terus? Mobil wis mobilku, bensin juga aku yang ngisi, masa aku juga yang harus nyetir? Terus kamu mau ngapain?" Seruni mendelik ke arahku.

"Oalah!" kembali aku menepuk jidatku. "Pantesan kamu ngajakin aku. Ternyata butuh sopir to! Lha Mas Bejomu itu kemana to?"

"Dia nanti nyusul belakangan, bareng sama keluarganya. Sudah, ayo buruan jalan! Keburu siang ini," jawab Seruni.

"Iya iya," akupun segera menstarter mobil itu. Disaat yang bersamaan, dari arah jalan nampak sebuah sepeda motor matic berbelok memasuki halaman. Si pengendara langsung mengarahkan laju motornya ke mobil kami.

"Mas Bayu!" pengendara motor itu melepas helmnya. Rena! "Mau kemana Mas?"

"Bukan urusanmu!" jawabku ketus. Jujur, melihatnya saja aku sudah muak. Teringat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Tunggu Mas. Aku mau bicara. Sebentar saja," kata gadis itu setengah memohon.

"Halah! Mau ngomongin apa lagi? Semua sudah jelas toh? Aku bukan anak kecil lagi Ren, yang bisa dengan mudahnya kamu bohongi! Sudah, sana minggir! Aku mau jalan!"

"Sebentar saja Mas, kumohon! Aku bisa jelaskan semuanya," lagi lagi gadis itu memohon.

"Grreeennnggg ...!!!" Sengaja pedal gas kuinjak dalam dalam, hingga suara mesin mobil itu menggerung. Buru buru gadis itu memundurkan motor maticnya.

Dengan sedikit kasar kumasukkan gigi persnelling ke gigi satu, lalu mobil itupun menyentak maju.

"Maaassss ....!" Rena buru buru memutar motornya, dan mengikuti laju kendaraanku.

"Cah edan!" gerutuku kesal.

"Siapa Bay?" tanya Seruni.

"Nggak penting! Nggak usah dibahas!" sungutku, masih dengan nada kesal.

"Jadi itu cewek yang bikin kamu patah hati?" Seruni menengok ke belakang. Dari kaca spion kulihat Rena masih mengikuti mobil yang kami kendarai dengan sepeda motor maticnya. Aku hanya mendengus kesal, sambil menambah kecepatan mobil yang kami kendarai.

"Stop Bay! Stop! Berhenti dulu!" seru Rena.

"Ada apa lagi sih?" aku menepikan mobilku. Seruni segera membuka pintu dan melompat turun.

"Sik! Enteni sedhelok yo," (Tunggu sebentar ya,) gadis itu bergegas menghampiri Rena yang menghentikan motornya di belakang mobil kami.

"Gendheng!" lagi lagi aku memaki, sambil mencuri curi pandang lewat kaca spion. Kulihat Seruni berbicara serius dengan Rena. Entah apa yang mereka bicarakan. Sesekali kulihat Rena menyeka sudut matanya.

"Huh! Air mata buaya!" sungutku.

"Tiiinnn ...! Tiiinnn ...! Tiiiinnn ...!" kutekan klakson beberapa kali, memberi tanda agar Seruni segera kembali ke mobil. Gadis itu membalasnya dengan lambaian tangan, memberi isyarat untuk menunggu sebetar. Entah apa yang dibicarakan kedua gadis itu. Dari kaca spion kulihat beberapa kali Rena mengangguk angguk, lalu memutar motor maticnya, dan melaju meninggalkan kami. Seruni dengan langkah gontai kembali masuk ke mobil.

"Tega kamu Bay, sampai bikin anak orang menagis gitu," kata gadis itu tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.

"Ndak usah menjudge orang deh kalau ndak tau masalah yang sebenarnya," ujarku pelan, sambil kembali melajukan mobil, menyusuri jalanan kota Jogja yang lumayan padat.

"Aku dan dia sama sama perempuan Bay," Seruni menyandarkan punggungnya pada sandaran jok. "Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Tak ada salahnya kalau kamu mendengarkan penjelasan dia dulu, sebelum mengambil keputusan."

Aku hanya mendengus. Percuma kalau aku harus berdebat dengan Seruni. Aku nggak bakalan menang. Jadi lebih baik aku memilih untuk diam.

Suasanpun menjadi sedikit kaku. Perjalanan dari Jogja ke Wonogiri kami lalui dengan saling membisu.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
axxis2sixx dan 49 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Part 3 : Gunung Pegat

Spoiler for :



Dua jam lebih perjalanan yang kami tempuh dalam kebisuan. Rasa kesalku belum sepenuhnya hilang. Bukan. Bukan kesal kepada Seruni yang kini telah terlelap datas jok di sebelahku. Gadis itu tak tahu menahu soal masalahku. Tapi Rena, dialah sumber dari segala kekesalanku.

"Duaratus meter kedepan, belok kanan," suara mbak mbak dari G-maps memecah kesunyian, saat mobil yang kukendarai sampai di depan pasar kota Ngadirojo. Laju mobil aku perlambat, lalu setir aku putar kekanan, memasuki jalan menurun ke arah selatan.

"Beruntung ada G-maps. Kalau enggak bisa nyasar aku. Si semprul ini malah enak enakan tidur lagi," gerutuku, sambil menyalakan sebatang sigaret. Mobil sengaja aku lajukan pelan pelan, sambil menikmati pemandangan di sisi kiri kanan jalan. Hingga tanpa terasa, kami memasuki sebuah jalan yang diapit oleh dua bukit kembar di kiri dan kanannya.

"Wow, ini benar benar pemandangan yang eksotik," gumamku sambil menepikan kendaraanku. Aku segera turun, sambil menenteng kamera DSLR-ku. Jepret sana jepret sini, mengabadikan pemandangan yang luar biasa indah ini.

"Bay!" seruan Seruni membuyarkan konsentrasiku. Rupanya anak itu sudah bangun dari tidur panjangnya.

"Kenapa berhenti disini?" gadis itu ikut turun dan melangkah menghampiriku.

"Sebentar, aku mau foto foto dulu. Sayang kalau pemandangan seindah ini dilewatkan begitu saja," ujarku sambil kembali fokus pada lensa kameraku.

"Ternyata instingmu masih tajam ya," Seruni berdiri menjajariku, lalu menarik nafas panjang, seolah ingin menghirup semua udara segar di perbukitan ini. "Kau tau Bay? Tempat inilah yang ingin kutunjukkan padamu."

"Kenapa baru sekarang?" ujarku tanpa menoleh. Mataku masih terus fokus pada lensa kameraku, mengabadikan semua keindahan alam yang sangat luar biasa ini.

"Hahaha, salahmu sendiri to? Dari dulu kamu mana pernah mau kalau kuajak main ke kampungku," gadis itu tertawa, lalu melompati parit kecil di sisi jalan, dan duduk di sebuah batang kayu yang tumbang.

"Tunggu, diam dulu Run! Jangan bergerak," seruku sambil mengarahkan lensa kameraku kearah gadis itu. "Nah, aku sudah mendapatkan foto penampakan sosok misterius penunggu bukit ini."

"Asem! Kau pikir aku dedhemit!" gadis itu memberengut. "Sosok penghuni bukit ini bukan perempuan Bay, tapi laki laki, dan dia paling tidak suka kalau ada sepasang laki laki dan perempuan berdua duaan di tempat ini."

"Oh ya?" suara Seruni yang dibuat buat seolah ingin menakutiku itu, justru membangkitkan rasa penasaranku.

"Nah, kan. Mulai terpancing tuh! Kalau denger yang horor horor, matanya langsung ijo," kembali Seruni tergelak, lalu bangkit dan kembali menghampiriku.

"Beneran tempat ini ada dedhemitnya?" tanyaku lagi.

"Eits, sabar Bay! Tak baik ngrasani dhemit di rumahnya sendiri. Nanti dianya marah, baru tau kamu! Yuk ah, kita jalan lagi. Nanti kuceritakan sambil jalan," gadis itu kembali masuk ke dalam mobil. Mau tak mau aku mengikutinya, karena sudah tak sabar ingin mendengar ceritanya.

"Jadi Bay," kata Seruni lagi, setelah aku kembali melajukan mobilku. "Tempat itu tadi namanya Gunung Pegat. Kau tau kenapa dinamakan begitu?"

"Jadi," Seruni kembali melanjutkan ceritanya, karena aku memang sengaja tak menjawab pertanyaannya. "Dulunya gunung atau bukit itu cuma satu Bay. Dulu namanya gunung Ngadiroyo Lalu, demi untuk membangun jalan ini, terpaksalah gunung itu dibelah menjadi dua, dan jalan ini dibangun di tengah tengahnya. Karena itulah akhirnya tempat itu dinamakan Gunung Pegat, yang artinya gunung yang dipisahkan."

"Niat banget ya, untuk membangun sebuah jalan saja harus dibela belain sampai membelah gunung. Apa nggak ada lokasi lain untuk membangun jalan?" tanyaku sambil tetap fokus pada jalanan yang mulai menyempit dan berkelok kelok. Sepanjang perjalanan tadi setidaknya sudah tiga kali aku melihat papan peringatan dengan himbauan untuk berhati hati, karena selain tempat ini rawan kecelakaan, juga rawan longsor dikala hujan.

"Tentu saja ada. Sebelum jalan ini dibangun, sudah ada jalan utama yang menghubungkan kota Wonogiri dengan kota Pacitan. Namun karena jalan itu harus tergusur akibat dari imbas pembangunan Waduk Gajah Mungkur dulu, jadilah dibangun jalan yang baru ini. Kenapa harus disini dan sampai membelah gunung, aku sendiri tak tau pasti apa alasannya. Mungkin karena hanya di lokasi inilah tempat yang dianggap paling tepat untuk membangun jalan."

"Sebentar," selaku. "Tadi kau bilang tentang pembangunan Waduk Gajah Mungkur? Berarti sudah lama banget dong jalan ini di bangun."

"Yup's. Betul sekali! Saat itu mungkin kita masih di awang awang ya, belum dicetak di rahim ibu kita," candaan garing itu tak mampu membuatku tertawa, karena aku mulai tertarik dengan ceritanya.

"Lalu soal penghuni Gunung Pegat yang kau bilang tadi?" tanyaku lagi.

"Yach, gimana ya. Kalau aku pribadi sih antara percaya dan nggak percaya. Tapi akan kuceritakan, karena aku tau kamu pasti sudah gatal ingin mengangkat cerita ini menjadi novelmu selanjutnya. Jadi, menurut kepercayaan warga disini, Gunung Pegat itu dihuni oleh sosok bernama Mbah Glondor. Dia ini, konon katanya, adalah seorang laki laki yang patah hati, entah karena ditinggal atau terpaksa harus berpisah dengan kekasihnya. Sampai sampai ia bersumpah untuk membujang seumur hidup. Dan benar, sampai ajal menjemput si Mbah Glondor ini masih dalam keadaan membujang. Seluruh hidupnya dijalani dalam kesengsaraan karena selalu terkenang dengan kekasih hatinya itu. Karena itulah, akhirnya sebelum ajal menjemput ia sempat mengucap semacam sumpah atau kutukan gitu, bahwa siapa saja pasangan suami istri yang masih pengantin baru, akan mengalami nasib yang sama dengan apa yang dirasakannya, kehilangan pasangan dan menderita seumur hidup karena cinta. Mungkin Mbak Glondor ini nggak suka ya, kalau sampai melihat pasangan pengantin baru yang masih romatis romantisnya lewat di tempat itu."

"Tragis sekali ya nasib Mbah Glondor ini. Lalu apa yang terjadi kalau sampai ada yang melanggar pantangan itu?" tanyaku lagi.

"Ya pokoknya begitulah, intinya, pasangan pengantin baru yang belum genap selapan atau tigapuluh lima hari, nggak boleh lewat di Gunung Pegat itu. Kalau melanggar konon katanya rumah tangganya nggak akan langgeng alias cepat bercerai," Seruni mengakhiri ceritanya.

"Ngeri juga ya," gumamku sambil memutar setir melewati sebuah tikungan tajam. "Memang sudah ada kejadian ya, ada pengantin baru yang bercerai setelah lewat di Gunung Pegat itu?"

"Ada sih beberapa yang katanya punya pengalaman pahit seperti itu. Mereka bercerai setelah melanggar pantangan itu. Benar enggaknya, aku sendiri juga nggak tau," jawab Seruni setengah menggumam.

"Tragis ya, berpisah setelah belum lama menikah. Pasti sakit banget tuh rasanya," ujarku.

"Aish, kenapa jadi mellow gitu sih," tiba tiba Seruni menowel lenganku. "Eh, maaf ya soal yang tadi. Aku sama sekali tak bermaksud untuk ikut campur lho dalam masalahmu dengan gadismu itu."

"It's oke Run! Nggak usah bahas masalah itu lagi deh. Bikin pusing aja!" moodku mendadak down begitu Seruni menyinggung soal Rena.

"Kalian benar benar putus?" tanyanya lagi, seolah tak memperdulikan kata kataku tadi.

"Aku sudah putusin dia. Soal dia mau terima atau enggak, apa peduliku!" sungutku mulai kesal.

"Yach, ini cuma saran aja sih, andaipun terpaksa harus putus, kenapa nggak putus secara baik baik, seperti kita dulu."

Kata kata Seruni membuatku refleks menginjak pedal rem dan kopling sekaligus. "Run, sadar. Sebentar lagi kamu menikah. Nggak usah ingat ingat masa itu lagi. Hapus semua kenangan tentang kita dulu, OK?!"


"Hehehe, iya, aku cuma bercanda kok. Ya sudah, jalan lagi deh. Sebentar lagi sampai kok. Itu, pertigaan di depan itu belok kiri," ujar Seruni sambil tertawa kecil. Tawa yang hambar, karena sekilas aku melihat ada rona kemurungan di wajahnya yang cantik itu.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
axxis2sixx dan 50 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Ente memang luar biasaaahh..
emoticon-Toast

Tidak pernah kehabisan ide utk menyenangkan penggemar yg haus bacaan.

Thanks om te es
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Bongkar pasang tenda dulu.....
Tinggalin jejak.....emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ini agan indra ada aja yg terbaru...
Keknya titisan dalangemoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Hohoho....gaspooolll
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pejwan ooooooiiiiii.......
Lancrottkan gaann...... emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Mantep wis pokoke... Penulis hebat..
2 jempol buatmu...
Jempol pitik.....emoticon-Ngakak
emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 12 balasan
Nitip gorengan ane mau beli kopi dlu. Jangan di comott ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Terimakasih agan TS
Lop yu pul dah pokoknya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
tandain dulu emoticon-Traveller ntar dibaca
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ada story baru lagi, pintar sangat bikin story n covernya pun, debaek,emoticon-Recommended Seller ada berapa episode ini gan?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
di tunggu kelanjutannya.. kayaknya seru ni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Numpang jualan om sembara ningkrong baca tritnya yak...
........
Cang cimen...cang cimen...cang cimen....
Wkwkwkwkwkwkwj
emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 3 lainnya memberi reputasi
Manteb Om @indrag057 ...maljum ya di pasinnya dapet dah atmosfir merindingnya
emoticon-ceyem emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Quote:


Wakaka, jualan cangcimenemoticon-Ngakak

Eh, iya ya, ane malah ga nyadar lho kalau pas malem jumat. Kebetulan sekali ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Laaahhh moossookkk gak sadar???
Huiibbaatt Om indra nih...
Nulis tritnya pas lagi pingsan ternyata
emoticon-Matabelo emoticon-Wow emoticon-Matabelo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Quote:


Hahaha, kekmana ceritanya tuh ngetik sambil pingsan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 46


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di