CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
My Beautiful Angel (Explicit Content)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/600d70aa82d4957cfb3c8b09/my-beautiful-angel-explicit-content

My Beautiful Angel (Explicit Content)

Chapter 1


My Beautiful Angel (Explicit Content)

Spoiler for Update Chapter:


Langkahku membawa Vina-perempuan yang telah resmi menjadi istriku hari ini, seperti membuat Rani-Istriku tidak menyukai kehadirannya. Wajah yang semula berseri penuh kehangatan, tetiba berubah menjadi wajah yang tak bersahabat saat aku datang dan memberi tahu padanya, kalau aku telah menikahinya.

"Ran, Vina perempuan yang baik. Aku mencintai dia. Lebih baik aku menikahinya daripada harus berzinah bukan?" lirihku membuka suara. Sedang Rani masih terdiam. Bahkan dia seakan membuang muka tak ingin menatap kami.

Kali ini, ucapanku berhasil menarik perhatiannya. Terbukti saat Rani Kembali memalingkan wajah menatap ke arah kami. Sedangkan Vina masih terdiam.

"Kamu bilang, Vina perempuan yang baik? Kalau dia perempuan baik, tidak mungkin mau menyakiti hati perempuan lain dengan mau menikah denganmu, Mas!"

"Seharusnya, kamu itu minta izin sama aku kalau mau menikah dengan karyawanmu ini!" tunjuk Rani. "Bukan tiba-tiba membawanya datang ke rumah ini dan berkata kalau kalian telah resmi menikah! Aku juga punya hak untuk menolak pernikahan kalian!"

"Dan kamu, Vina! Bukankah kamu tahu kalau bosmu itu sudah memiliki seorang istri?" tanyanya pada Vina. Vina melirik ke arahku. Aku sendiri tak mengerti kenapa bisa mencintai Vina. Bahkan aku yang sangat ber-ambisi. Apa karena sikap perhatiannya yang membuat aku jatuh cinta? Yang pasti ada keinginan dalam diri ini untuk memiliki Vina seutuhnya.

"Kamu jangan salahkan, Vina! Ini memang kemauanku. Beberapa kali Vina menolak, tapi aku terus meyakinkan," jawabku.

"Yang aku butuhkan, jawaban dari mulut Vina! Bukan dari mulutmu, Mas Anton!"

"Cinta! Cinta yang membuat kami menikah! Tak peduli sekalipun Mas Anton telah menikah. Aku rela menjadi istri kedua!" ucap Vina seraya menggenggam erat tanganku. Rani hanya terdiam. Wajahnya menunjukkan keangkuhan, seakan menyepelekan jawaban Vina.

"Jika kamu pun bertanya padaku, maka aku akan menjawab hal yang sama dengan, Vina!" imbuhku.

"Ternyata candamu ingin menikah lagi setelah sukses, bukan hanya sebuah candaan, Mas! Itu memang sudah menjadi niat dalam dirimu! Aku menyesalkan telah mendoakanmu menjadi sukses!" ucapnya seraya bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke arah kamar. Aku hanya memandang setiap langkah kakinya.

Bruk!

Terdengar suara pintu dibanting sangat kencang.

"Mas, kalau nanti toko kita sukses, apa yang kamu inginkan?" Aku teringat pertanyaan Rani saat pertama membuka toko bahan bangunan.

"Aku mau menikah lagi!" jawabku saat itu. Namun, aku hanya bercanda dan berniat ingin menggodanya.

"Awas saja kalau berani! Pokoknya aku balas!" Apakah mungkin dia akan membalasku? Tapi dia itu perempuan, mana mungkin akan membalasku menikah lagi? Tidak ada dalam sejarah, istri memiliki dua suami.

"Mas Anton! Kamu kenapa melamun? Ayok kita istirahat ke kamar. Dimana kamar kita?" tanya Vina.

"Kamu mau di kamar mana? Atas bawah atau?"

"Kamar yang bersebelahan dengan kamar, kamu dan Rani!" Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Vina telah memotongnya.

"Kamar lain saja," ujarku. Tidak mungkin juga menempati kamar yang bersebelahan dengan Rani, bukankah akan menambah sakit hati Rani nantinya?

Percuma aku menjelaskan pada Vina, karena dia terus bersikeras dengan kemauannya. Akhirnya, kami pun menempati kamar yang bersebelahan dengan Rani

***

"Pagi hari setelah kami bangun, tidak ada makanan apapun di meja makan. Biasanya Rani sudah menyiapkan sarapan.

"Ran! Rani!" panggilku.

"Apa si, Mas? teriak-teriak!" sahutnya sambil mengucek mata. Ternyata dia baru bangun. Pantas saja tidak ada sarapan.

"Kamu baru bangun?" tanyaku sedikit kesal.

"Iya! Emang kenapa?" Mataku membulat tak percaya.

"Harusnya kamu bikin sarapan!" Aku sedikit emosi karena mendengar jawabannya seperti itu.

"Kamu 'kan sudah punya istri baru. Jadi, keperluan kamu, biar istri barumu yang urus. Aku juga ingin kembali pada kesibukan lama."

"Maksudnya?" tanyaku penasaran.

"Ya aku mau kerja lah. Ngapain juga aku di rumah, suntuk! Suruh nemenin istri baru kamu dan melayaninya? Maaf deh, Mas. Kamu ngimpi!" jawabnya.

"Aku tidak mengijinkan kamu bekerja, Rani! Kamu dan Vina di rumah saja! Biar aku yang memberi kalian uang. Biarlah, bekerja menjadi tanggung jawabku!"

"Oh uang dari kamu itu wajib! Toko itu kan milik aku dan kamu! Mulai saat ini, aku ikut ambil alih! Aku mau kita bagi hasil setiap bulan dari penjualan itu! Satu lagi, keuntungan bagi hasil kita, itu di luar jatahku!" tegasnya seraya kembali bergegas ke kamar.

"Mas! Kok begitu? Istri pertama kamu rakus banget sih!" protes Vina.

"Nggak bisa gitu, Mas. Kamu harus dapat bagian paling besar. Biar saja aku yang membantu kamu mengatur keuangan," ucap Vina. Aku masih diam saja tak menanggapi. Sejak kapan, Rani berani melawanku.

Karena Vina tak bisa memasak, kami pun memutuskan memesan makanan online dan menunggu di meja makan.

Setelah setengah jam menunggu, makanan yang kami pesan tak kunjung datang. Justru yang datang Rani dengan pakaian rapi.

"Mas kunci mobil! Sama kunci laci toko!" pinta Rani membuatku kaget.

"Untuk apa?" tanyaku

"Aku mau ikut jaga toko biar pembukuan-nya jelas! Siapa tahu bisa segera dapat suami baru juga. Iya kali, ada pria kaya yang memborong matrial dan bisa menjadi suami baruku," cetusnya.

"Mana cepetan! Lama! Ambil kunci mobil dan kunci laci!" suruhnya.

"Vin, tolong ambilkan di kamar." Dengan wajah masam Vina pun bergegas. Tak lama dia kembali dan menyerahkan pada Rani.

"Terima kasih, Karyawan handalku. Sangking handalnya bisa menjadi istri dari bosnya. Hebat!" cibir Rani pada Vina.

Kenapa sifat Rani jadi aneh begitu? Biasanya dia sangat acuh dengan urusan keuangan. Kenapa justru sekarang dia ikut ambil andil?

"Mas! Kok bengong?!" Vina menepuk pundakku.

"Tidak apa-apa " jawabku ketus.

'Selama semuanya tidak diambil alih dan mau berbagi, tidak masalah untukku. Yang jadi masalah kalau semuanya diatur oleh Rani. Bisa bangkrut aku jadi laki-laki.'
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh blackgaming
Halaman 1 dari 4
Chapter 2


"Mas, kamu nggak punya pembantu?" tanya Vina. Aku melirik ke arahnya.

"Pembantu buat apa?"

"Ya, pembantu! Buat masak, nyuci baju, beres-beres rumah."

"Kan ada kamu. Ada Rani juga. Ngapain pake pembantu?" Buang-buang uang saja pake pembantu segala rupa.

"Ih, kok gitu? Enak saja! Idih, masa aku nikah sama bos yang punya toko jadi pembantu. Ogah, Mas! Oooggahhh!" pekiknya terdengar nyaring di telinga.

"Katanya cinta? Kalau cinta harus terima dong!" sungutku. Entah, aku jadi merasa sedikit kesal karena ulah Rani tadi.

"Cinta sih cinta, Mas! Tapi nggak begini juga kali!" protesnya. "Pokoknya hari ini juga, harus ada pembantu, Mas. Aku nggak mau ya kalau cuci baju sendiri! Selama aku jadi karyawan kamu saja, pakaianku di laundry!"

"Berisik! Cablak banget sih kamu! Baru juga jadi istri sehari! Perasaan waktu pacaran kamu manis banget," godaku. Ah, mau cablak atau tidak aku memang mencintainya.

"Namanya juga mau ambil hati kamu, Mas! Masa iya, berakrakan! Ntar kamu nggak tertarik dong. Huahahhaaha" Vina tertawa seraya bergelayut manja. Itu yang aku suka darinya, selain cantik, manis, dia juga luwes. Di toko Vina sangat pandai melayani pelanggan. Entah, aku pun tak mengerti kenapa begitu dalam mencintainya. Bersamanya, duniaku seperti kembali berwarna.

"Mas," lirihnya.

"Hem."

"Aku nggak nyangka bisa nikah sama kamu. Ya, meski nikahnya hanya sederhana. Diam-diam lagi!" Vina memanyunkan bibirnya. Sangat menggemaskan. Berbeda dengan, Rani. Bersama Vina, aku seolah menjadi suami yang sangat dibutuhkan. Sedangkan Rani terlalu mandiri, seolah tidak membutuhkan keberadaanku. Apapun dia bisa mengerjakannya sendiri. Sedangkan aku cukup mengurus toko. Padahal, aku ingin kalau Rani itu bergantung padaku.

"Aku juga tidak menyangka bisa menikah dengan kamu. Aku juga tidak pernah menyangka kamu bisa menyukaiku yang jelas-jelas telah memiliki seorang istri."

"Sudah, Mas. Jangan bahas itu, aku malu," rajuknya. "Namanya juga cinta, Mas. Datang tak diundang. Habis kamu suka lihatin aku. Jelas aku jadi tertarik sama kamu. Selain itu, kamu ganteng, bos lagi. Wajar dong kalau aku semakin tertarik lagi."

"Aku mau ke toko. Kamu mau ikut?" tawarku. Vina terdiam sejenak. Mungkin dia tengah berpikir karena di toko ada Rani.

"Mau, Mas. Sekalian mau menunjukkan pada karyawan lain, kalau aku udah sah jadi istri kamu," jawabnya. Aku mengambil kunci motor dan menunggu Vina di luar. Setelah beberapa menit, Vina pun keluar dengan polesan make-up tipis natural yang membuat wajahnya terlihat cerah. "Cantik banget istriku ini," pujiku mampu membuat wajahnya bersemu malu.

"Tas aku bagus 'kan, Mas?" tanyanya.

"Bagus dong. Itukan tas mahal yang aku belikan. Cepat naik!"

"Mas …."panggilnya. Dia masih berdiri di tempatnya.

"Kenapa? Ayok naik!"

"Masa naik motor? Emang nggak ada mobil? Percuma dong dandanan aku nanti rusak. Terus rambut aku gimana? Nanti kusut dong! Kamu tahu sendiri butuh waktu lama untuk menyisir rambutku!" Lagi dan lagi Vina memanyunkan bibirnya.

"Kalau naik motor rambutku ketiup angin kusut dong! Aku nggak mau naik motor, Mas! Aku mau naik mobil saja!" cercanya membuat kepalaku pusing. Vina berbeda sekali dengan Rani. Sedangkan Rani paling suka naik motor. Ternyata wanita memiliki kegemaran yang berbeda.

"Tidak ada mobil! Kamu mau ikut atau tidak!" bentakku. Mau pergi ke toko saja kebanyakan drama.

"Makanya jadi suami jangan lembek! Ya sudah aku ikut! Mau pamer tas baru sama pamer udah jadi istri kamu!" sungutnya sambil naik ke atas motor.

"Pegangan! Aku mau ngebut!" Vina diam saja tak menjawab. Saat ku-arahkan kaca sepion ke wajahnya, dia terlihat sangat kesal menahan amarah.

***

Setibanya di toko, semua karyawan tengah sibuk. Ternyata banyak sekali pelanggan hari ini. Rani sampai turun tangan sendiri ikut melayani. Lalu, siapa yang jaga kasir. Segera aku dan Vina masuk ke dalam.

"Mas, aku duduk di meja kasir saja," ucapnya. Aku mengangguk. Setelah itu segera melayani pelanggan yang baru saja tiba.

"Kalau menurut saya, lebih bagus yang ini, Ini granit yang paling bagusnya. Insya Allah, Mas tidak akan kecewa," ucap Rani penuh keramah tamahan. Aneh, kenapa aku tidak suka melihatnya terlalu dekat dengan pelanggan. Bukan tanpa sebab, karena pelanggannya seorang pria.

"Oke, kalau gitu, saya ambil granitnya 120 kardus," ucap laki-laki itu.

"Silahkan lakukan pembayaran, Mas," ujar Vina tak kalah ramah.

"Kamu minggir! Lancang sekali kamu ke ruangan kasir! Siapa yang suruh? Keluar kamu!" usir Rani. Wajah Vina terlihat merah menahan malu. 'Kelewatan kamu, Ran!'

"Itu siapa, Mbak?" tanya pelanggan.

"Oh, karyawan saya, Mas. Bukan apa, dia telah mencuri milik saya. Mencuri barang yang telah 4 tahun saya jaga. Untung sekarang saya sudah tidak membutuhkan barang itu," jawab Rani. Memang Vina mencuri apa?

"Memang barang apa, Mbak?" Laki-laki itu kembali bertanya.

"Oh, bukan apa-apa, Mas. Hanya boneka yang sudah rusak," jawab Rani. Mana ada Vina mencuri boneka rusak milik Rani. Ada-ada saja dia ini.

"Jadi berapa, Mbak?" tanyanya.

"27 juta, Mas. Mas tinggalkan alamatnya, nanti biar karyawan saya yang antar. Terimakasih dan selamat datang kembali," ucap Rani ramah.

"Sama-sama, Mbak. Saya tunggu belanjaan saya. Semoga tepat waktu," ucap lelaki itu seraya berlalu. Sedangkan Rani, masih sibuk menatap kepergiannya.

"Mas!" teriak seseorang membuat semua orang kaget.

"Iya, ada apa?" tanyaku.

"Dari tadi saya minta karpet biru, 12 meter! Mas-nya malah sibuk merhatiin, Mbak-nya melayani pelanggan! Niat jualan nggak si!" bentak pelanggan.

"Maaf, Pak. Bapak butuh apalagi selain karpet?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.

"Udah cukup ini saja! Jadi berapa?"

"Silahkan bayar ke kasir, Pak."

'Ngomong-ngomong, dimana Vina?' Pasti dia sangat sedih dipermalukan seperti itu oleh Rani. Rani memang keterlaluan. Ingin mencari Vina tapi toko sedang ramai.

Selama aku menjaga toko, belum pernah serame ini. Tapi kenapa saat Rani yang menjaga, justru bisa 3 kali lipat pengunjungnya? Mungkinkah Rani itu pembawa hoki? Bahkan kasir pembayaran saja sampai antri. Wah, sudah bisa kubayangkan keuntungan yang diraup hari ini.

Tak terasa, sangking ramai-nya, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 siang. Pantas saja perut mulai keroncongan. Kenapa Rani belum juga memesan makanan?

"Mas!" panggil Vina. Rani melirik ke arah kami. "Aku bawain makanan buat kamu, Sayang," ucapnya seraya menyerahkan sebuah kotak makanan. Vina memang berbeda dengan Rani. Sedangkan, Rani … melihat suami ada di sini, bukannya dilayani malah sibuk dengan pelanggan saja. Harus-nya dia lebih mengutamakan aku! Ini malah cuek bebek. Kelewatan sekali. Tidak salah ternyata langkahku menikahi Vina meski tanpa seizin-nya.

Kebetulan, toko sudah mulai sepi pelanggan. Aku dan Vina duduk di bangku dekat Rani duduk menjaga kasir. Kasirnya terus ia jaga, takut digondol jin mungkin.

"Kamu dari mana saja dari tadi? Aku itu nyariin kamu!" Sengaja suara ku-kencangkan supaya Rani merasa cemburu dan akhirnya, bisa memberi perhatian untukku. Bukan cuek bebek begini. Seakan menganggap kehadiranku tidak ada.

"Aku baca cerita tentang pelakor, Mas. Ini seru banget. Ikut gemes deh sama Pelakor-nya. Masa pelakor kirim foto kemesraan-nya sama si suami, terus dikirim ke istrinya. Kisah nyata lagi katanya. Kasian ya, Mas. Istrinya sedih banget. Tapi dia tetap menerima dan bertahan dengan alasan seorang anak!" jelas Vina seraya menunjukkan sebuah cerita di ponselnya. Cerita yang berjudul "Suamiku diambil pelakor" memiliki banyak like dan komentar. Kebanyakan mereka menyalahkan pelakor dan suaminya. Aku juga kasihan. Untung aku tidak seperti laki-laki dalam cerita itu. Terbukti dari sikap Rani yang enjoy dan justru terbilang cuek. Dia juga banyak tertawa daripada menangis.

"Edi!" panggil Rani. Edi segera berlari menghampiri Rani.

"Iya, Bu."

"Beli nasi Padang pakai ayam cabe ijo 10 bungkus. punya Ibu, pake paha ya. Sembilan bungkusnya, bagi ke teman-teman," titah Rani.

"Wah, makan enak nih, Bu. Kalau sama Bapak, mana pernah kami dibelikan makanan, Bu," cetus Edi. Sembarangan Edi.

"Tenang, asal toko ramai, Ibu bakal sering belikan kalian makanan. Mulai hari ini dan seterusnya, Ibu yang pegang alih toko. Bos-nya Ibu bukan Bapak! Bilang sama teman-teman, yang harus dipatuhi ucapan Ibu bukan Bapak," ucap Rani.

"Uhuk … uhuk …." Aku dan Vina tersedak bersamaan.

"Sana jalan cepat," Rani langsung memberikan uang 300 ribu rupiah pada Edi. Lumayan uang segitu, malah untuk menteraktir makanan!

Selesai makan dan mencuci tangan, aku langsung menghampiri Rani. Kesal bercampur emosi dengan maksud ucapannya tadi. Tak peduli meski banyak karyawan sekaligus. Vina berdiri di belakangku.

"Maksud kamu mereka tidak boleh mematuhi ucapanku apa?" tanyaku sambil mencengkram erat pergelangan tangannya.

"Lepasin, Mas! Jangan sentuh apapun yang berada dalam tubuhku. Aku jijik!" tandas Rani. "Ingat, Mas! Jangan sentuh aku!" Aku melepaskannya. Semua karyawan mulai terdiam. Mungkin mereka ingin menyaksikan pertengkaran kami.

"Maksud kamu apa berkata kalau bos-nya itu sekarang hanya kamu!" geramku.

"Iya, Mas. Apa-apaan istri pertama kamu ini. Tamak! Rakus!" maki Vina.

"Eh, pelakor! Jangan ikut campur kamu!" balas Rani. "Sebenarnya, aku menyebut namamu pelakor itu juga jijik. Jijik aku berbicara sama kalian berdua!" lanjutnya.

"Kamu beneran mau tahu jawabannya di depan karyawanmu, Mas?" tanya Rani tegas.

"Iya!" jawabku tak kalah tegas.

"Oke, sekarang silahkan duduk, Mas!" ucap Rani. Rani keluar dari ruang kasir dan ikut duduk bersama kami di bangku yang disediakan untuk pelanggan.

"Awal kamu nikah sama aku, apa kita langsung sukses, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng. Vina melotot.

"Apa yang kita lakukan hingga bisa berada pada titik ini?" tanya Rani lagi.

"Kamu dan aku, sama-sama bekerja. Menjadi karyawan orang. Mengumpulkan modal untuk usaha. Setiap malam kita lembur, berjualan bakso milik Pak Anang untuk mencari penghasilan tambahan. Hingga akhirnya kita menjadi seperti ini. Berawal dari memiliki toko kecil, menjadi toko yang besar," jawabku.

"Kamu catat, Vina!" tunjuk Rani.

"Aku tidak ridho dan ikhlas, hasil yang kita kumpulkan bersama, ikut dinikmati oleh perempuan ini. Dulu, aku tinggal di rumah kontrakan! Aku harus bekerja untuk mendapatkan uang dan menjadi seperti ini. Aku mau, kamu dan Istri barumu keluar dari rumah. Dan mulai perjuangan kalian dari nol! Tidak ada fasilitas apapun untuk kalian. Kalian berdua harus menggapai kesuksesan kalian sendiri!" tegas Rani. Semua karyawan bertepuk tangan serempak. Sialan!

"Untung aku lebih cerdas dari kamu, Mas! Jadi aku lebih berhati-hati. Ternyata ketakutan-ku benar terjadi!" Bodoh memang ketika semua surat penting atas nama istriku. Kendaraan, sertifikat toko, dan semua tabungan atas nama Rani Lestari. Tak kusangka, efek dari menikahi Vina membuatku harus mengulang kehidupan dari awal lagi.

Membayangkan bekerja keras seperti dulu, tubuhku seolah merasakan lelah.

Bruk!

Vina pingsan. Mungkin dia shock. Aku harus bisa kembali mengambil hati Rani. Kalau perlu mengeluarkan jurus laki-laki yang kupunya. (To Be Continued).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 12 lainnya memberi reputasi
Kisah poligami nih ceritanya?
Mantappp bwt ts .. punya banyak trit n update bersamaan smw
Enter sering mampir ke thread ane. Ane juga numpang mampir ke thread baru ente emoticon-Nyepi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Nitip sendal dimari gan
Terlalu banyak thread agan ini. Harusnya diselesaiin dulu satu2
profile-picture
profile-picture
hadydodol dan weihaofei memberi reputasi
Lihat 38 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 38 balasan
menarik. hmm
Ijin nenda dimari agan ts.. itu trit nya love traitor kok ilang yah??
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Trit nya dihapus smw Sama momod... Nanggung blm tamat
Yg keburu di hapus masukin watpad aja ngab
sayang banget dihapus
blm tamat 🤭
Gan pindahin ke watpad donk yang si Kino, penasaran banget ama lanjutannya, mana kemarin nanggung pula terakhir baca pas si iwan di sungai ama si awkarin emoticon-Big Kiss
Si kino ilang...
Semoga yg ini lancar jaya...
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sayang banget threadnya di hapus momod
Thread agan terlalu vulgar. Makanya didelete momod
Dilanjut di wp aj gan...nanggung ud panjang jugaemoticon-Bingung
profile-picture
Rainbow555 memberi reputasi
Lihat 23 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 23 balasan
Klo dah ada versi WP sertakan link nya ngab
Trnyata byk reader ny ts juga yg nyari2 trit yg d closed momon. Kriain cm ane aja. emoticon-Ngakak
Stuju nih yg d closed, dlanjutin d wp dong gan ts.
Kan kita penasaran ama lanjutan nya
emoticon-Betty
Chapter 3


"Ran, mana kunci mobilnya. Aku mau ajak Vina pulang. Kasihan ini pingsan."

"Heleh, enak saja kamu ngomong. Tidak bisa! Kalau mau mobil, beli saja sendiri. Tapi ingat, belinya pakai uang hasil kalian berdua!" ucap Rani.

Halah! Mau pakai mobil saja banyak cingcong ini perempuan. Lihat saja nanti di rumah.

"Kohar!!!!!" teriakku.

"Iya, Pak." Kohar langsung berlari menghampiri.

"Kamu ikut saya pulang. Jaga Vina! Pegangi Vina, kita naik motor bertiga," suruhku. Malu sekali rasanya. Tapi mau bagaimana lagi.

"Kita bonceng bertiga, Pak? Nanti kalau ada polisi kita ditilang bagaimana, Pak?" tanyanya. Iya juga si. Benar juga ucapan Kohar.

"Eh, Mas! Lagi pula, sekalipun tidak ada polisi, aku tidak mengijinkan Kohar ikut bersama kamu!" ucap Rani ketus.

"Nasi Padang datang!" teriak Edi. Membuatku semkain kesal saja. Fokus Kohar pun teralihkan pada nasi Padang yang dibawa Edi. Terpaksa aku pergi ke warung sebelah untuk membeli minyak angin. Vina merepotkan saja. Baru dengar seperti ini saja sudah pingsan. Bagaimana kalau kuajak hidup miskin beneran? Apa iya dia mau bertahan? Ah, setidaknya kalau pun dia tak mau bertahan ya sudah. Aku cari perempuan lain. Aku 'kan laki-laki tampan. Sangat mudah mendapatkan perempuan.

****

"Maya! Beli minyak angin ya," ucapku yang memang sudah akrab dengan janda si Dendi ini.

"Kenapa kamu, Mas Anton? Suntuk banget," tanyanya.

"Tidak apa-apa. Cepetan minyak angin-nya mana? Saya sedang tidak mood untuk bercanda," ketuaku. Bahkan orang lain pun menjadi sasaran.

"Ini, Mas!" Maya menyerahkan minyak angin-nya. Aku meraih minyak angin itu tanpa membayar.

"Catet saja, May! Masukan bon minta sama, Rani!" teriakku sambil berlalu.

Saat sampai lagi toko, wajahku kembali masam. Aku menyaksikan semua karyawan dan Rani sedang makan bersama. Akrab sekali kelihatanya. Jujur saja aku benci melihat itu semua. Bukan apa, aku juga ingin ikut menikmati kebersamaan ini. Namun, apa daya tidak ada yang mau mengajakku. Seperti tidak ada harganya keberadaan-ku dengan Vina di sini. Sangat memalukan. Rani …! Rani…! Sungguh, kelakuanmu mampu membuatku mengelus dada.

"Istri tua merajuk! Pindah ke rumah istri muda! Kalau dua-dua merajuk, Anton kimpoi tiga!" Sengaja aku menyanyikan lagu itu sambil berteriak supaya membuat Rani tertawa. Namun, bukan Rani yang tertawa melainkan para karyawan. Terutama Edi dan Kohar karyawan lama yang terkenal paling somplak. Maklum, mereka berdua yang mengatur letak barang toko. Kalau tidak ada mereka amburadul semuanya.

"Emang masih punya duit, buat kimpoi lagi, Pak?" timpal Edi. Sedangkan yang lain tertawa renyah. Kurang ajar mereka! Kompak sekali. Benar-benar membuatku geram.

"Berisik kamu!" Aku melempar botol minyak angin ke wajahnya.

"Vin, bangun! Pingsan awet banget," gerutuku.

Setelah selesai makan Rani mendekat. Rani membawa air bekas cuci tangan di kantong pelastik. Entah untuk apa air itu.

"Masih belum sadar juga sudah diboreh minyak angin, Mas?" tanyanya.

"Belum ni, Ma." Kesempatanku untuk mengambil hatinya bukan? Rani mah pasti menyapaku duluan. Mana bisa dia jauh dari suami tampan yang mirip Arjuna begini.

"Oh, minggir kamu, Mas. Biar aku saja," ucapnya.

Cuuuurrrrrr!

Rani mengucurkan air bekas cuci tangan mereka tepat di wajah Vina. Bayangkan saja, seperti air pancuran, dan Vina sebagai embernya.

"Hhhuuuuaaaa! Pedas!!!!" teriak Vina. Rani membuang pelastik bekasnya juga ke wajah Vina seperti tempat sampah.

"Rani!!!!" teriak Vina segera berdiri tegak. Matanya kepedasan hingga dia berteriak-teriak meminta air untuk mencuci muka.

"Kelewatan kamu, Ran! Sakit jiwa tahu kamu!" berangku seraya membawa Vina ke kamar mandi.

"Pelakor memang kudu dikasih pelajaran biar nggak ngelunjak, Bu!" ucap Resa dengan suara yang dikencangkan.

"Masih mending cuma diguyur air kobokan! Kalau perlu nganunya disumpel cabe biar puas dan tahu rasa, Bu!" teriak Nana seperti sengaja. Geram aku dibuatnya. Setelah Vina sampai di kamar mandi, aku meninggalkannya dan kembali menghampiri Nana serta Resa.

Brrakkk!

Kugebrak bangku hingga membuat mereka diam ketakutan.

"Kalian pikir, selama saya diam, kalian bisa seenaknya memaki saya! Begitu?!"

Tidak ada yang menjawab ucapanku termasuk kedua karyawan yang tak tahu diri itu.

"Mas!" Tak lama Vina datang dengan memegang tanganku. "Pecat saja mereka, Mas!"

"Kamu! Nana! Resa!" Kalian saya berhentikan sebagai karyawan saya," tegasku. Kedua perempuan itu hanya diam menunduk bahkan tak berani menatapku. "Dasar kerupuk! Renyahnya hanya ketika di dalam kaleng saja!" cibirku.

Rani maju ke depan lalu mendekatiku.

"Atas dasar apa kamu berani pecat karyawanku?!" tanyanya dengan dagu yang ditinggikan. Angkuh! Seperti itu tepatnya.

"Aku juga berhak! Karena toko ini modal bersama. Ada hak aku di sini! Kamu jangan lupa itu!" balasku.

"Edi! Kohar!" teriak Rani. "Kalian tutup sekarang tokonya!"

"Siap, Bu," jawab keduanya serempak.

Fokus Rani kembali teralihkan ke arah aku dan Vina.

"Benar!" ucapnya tegas.

"Benar! Disini memang ada hak kamu! Haruskah aku memikirkan hakmu sedangkan kamu tidak memikirkan hakku? Egois kamu!" tunjuknya tepat di wajahku. Rani tidak pernah seperti ini sebelumnya. Meskipun dia tipikal perempuan mandiri, tapi Rani lembut dan penuh kasih sayang. Hanya saja dia bukan perempuan manja yang suka meminta ataupun merengek.

"Bu, kuncinya." Edi menyerahkan kunci pada Rani. Lalu, mereka pun pergi meninggalkan toko. Mungkin saja kami akan menjadi buah bibir di sepanjang jalan pulang. Kini, di toko yang sudah sedikit gelap hanya ada kami bertiga.

"Kamu membicarakan soal hak 'kan, Mas? Apa kamu peduli dengan hakku? Apa kamu meminta izin padaku untuk menikahi, Vina? Kamu egois, Mas! Kamu tidak memikirkan bagaimana hati dan perasaanku sebagai wanita harus diduakan oleh suaminya!" Rani terdiam sejenak terlihat menarik nafas.

"Kamu tidak memikirkan perasaanku! Apa aku akan sakit hati? Kamu tidak memikirkan itu! Yang ada di kepala kamu, kalau aku akan menerima pernikahan kalian. Begitu? Asal kamu tahu, Mas, aku sakit! Dan sakit hati ini mungkin tak berdarah! Tapi pengkhianatan kamu, selalu membekas abadi di relung hati terdalamku!"

"Tolong jangan katakan lagi tentang hak!" ucapnya seakan membuat lidahku menjadi kelu.

"Jadi kamu lebih suka jika suamimu itu berbuat dosa dengan berselingkuh, begitu? Tidak ada hak laki-laki menikah lagi harus dengan seizin istrinya! Laki-laki berhak memiliki istri lebih dari satu!" balas Vina.

"Kamu, kalau tidak tahu apa-apa, sebaiknya diam saja! Wanita-wanita yang doyan dengan suami orang seperti kamu, baiknya dimusnahkan dari muka bumi ini!"

"Tidak habis pikir aku dengan perempuan kasta rendahan seperti kamu! Apa tidak punya hati hingga rela mengambil dan menggoda milik orang lain?" Rani menyeringai seraya menggelengkan kepalanya. Aku seperti kehabisan kata untuk membalas setiap perkataan yang keluar dari mulut Rani.

"Ayok pulang!" Kutarik tangan Vina keluar sebelum membalas ucapan Rani. Takut nantinya akan semakin panjang. Baru dua hari pernikahanku dan tinggal bersama rasanya seakan memanas. Sepertinya aku perlu menenangkan diri sebentar.

"Vin kita mampir ke danau dulu ya," ucapku. Vina mengangguk.

"Ayok, Mas. Pikiranku juga rungsang. Sekalian kita cari cara untuk kedepannya harus gimana," ucap Vina. Aku mengangguk. Segera kupacu motorku meninggalkan toko. Vina memeluk pinggangku erat, seakan memberi kekuatan. (To Be Continued).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
Chapter4


POV Vina


Selama di danau Mas Anton terus melamun. Entah, mungkin dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kasihan juga melihatnya seperti ini. Tapi bagaimana lagi? Aku juga sedikit kesal dan kecewa. Mau tidak mau harus tetap kujalani karena sudah menjadi pilihan. Rasanya menjadi aku kali ini itu, nano-nano. Tapi lebih banyak kesalnya. Bagaimana tidak seperti itu? Aku berharap hidup enak menikahi bosku. Malah jadi seperti ini. Siapa sangka juga Rani yang lembut bisa berubah seperti singa yang garang hendak menerkam.

Sekarang begini, normal bukan aku mencintai bosku? Mas Anton tampan! Kaya! Dia juga perhatian. Jadi wajar aku menaruh hati padanya. Mana aku tahu kalau ternyata tidak bisa menyimpan perasaan cintaku padanya. Justru setelah dia membalas perhatianku, aku mulai agresif. Aku juga yang mulai mengirim pesan untuknya. Sekedar say hello. Hubungan itu berlanjut setelah Mas Anton membalas pesanku. Semakin lama, aku semakin merasa nyaman. Dari pesan biasa menjadi pesan yang sedikit berbeda. Sekedar mengingatkan mandi, dan makan.

Semakin lama, perasaan itu semakin dalam. Mas Anton mengungkapkan perasaannya. Karena aku memiliki rasa yang sama, kuterima perasaan dia tanpa memikirkan Rani. Mungkin saja aku bisa menyingkirkan Rani.

Tapi, kenyataannya malah seperti ini. Apa-apaan masa Mas Anton tidak memiliki apapun? Benci deh aku! Kesaaallll… Boddoh banget sih jadi suami! Kalau aku tetap akan berusaha dan memperjuangkan hak Mas Anton. Rani tidak bisa seenaknya begitu. Lagi pula, aku juga berhak atas separuh uang Mas Anton. Bukankah itu modal berdua? Padahal awalnya aku mengira Mas Anton yang kaya orang Mas Anton yang menghandle semuanya. Bahkan, aku juga sering kecipratan bonusnya disaat yang lain tidak mendapat.

"Mas, bukannya kamu pegang kartu ATM? Gesek saja uangnya, Mas. Ah cerdas 'kan aku. Tidak masalah kalau Rani menyuruh kita keluar dari rumah. Kita bawa saja uangnya untuk modal." Akhirnya, aku mendapatkan ide brilian. Mas Anton menatapku. Lalu tersenyum.

"Betul juga ucapan kamu, Sayang!" balasnya.

"Ayo, jangan tunggu lama. Kita pergi ke ATM sekarang," ajak Mas Anton. Dengan sigap kami bergegas menaiki motor, dan aku pun tersenyum penuh kemenangan. 'Sukurin kamu, Rani.'

Gerimis rintik-rintik mulai menyapa. Kami tetap melanjutkan perjalanan menuju ATM terdekat. Ternyata, ada 4 kartu ATM di dompet suamiku. Jelas aku tahu, karena Mas Anton menyerahkan dompetnya padaku. Setelah mengambil uang cash untuk pegangan, selebihnya akan ditransfer ke nomor rekening-ku. Memiliki uang banyak, "Yeeeeeeee!" Aku berteriak senang dalam hati. Gemas sekali rasanya. Memang hidupku ini paling beruntung. Sudah dapat suami, tampan, penyayang, banyak uang pula. Oh indahnya hidupku ini. Aku yakin pasti tetangga di kampung yang suka menghina akan mulai memuji-muji aku. Emang dasar, kebanyakan orang dihargai dari seberapa banyak uangnya.

"Sudah sampai, Sayang. Turun," suruh Mas Anton. Aku mengangguk dan penuh senyum. Ternyata kami sudah Sampai di galeri ATM terdekat. Tak perlu jauh-jauh mencari satu-satu ATM.

"Yesss … YESS … yes … duit, duit, duit," girangku dalam hati. Maklum saja, aku tidak pernah memiliki uang banyak. Sehingga, pilihanku menikah dengan Mas Anton memang tepat. Jika aku menikah dengan Tono, dia hanya bekerja sebagai tukang bangunan. Mana cukup untukku? Yang ada aku harus membantunya cari uang. Ya, meski kata Ibu, gaji Tono besar walaupun tukang bangunan. Tapi aku menginginkan suami yang sedikit berbeda.

"Sayang, bengong? Kamu ambil di link BRI dan BCA," ucapnya seraya membisikan nomor PIN-nya. Sedangkan Mas Anton BNI dan Mandiri. Memang benar, pemilik toko memiliki semua rekening. Gemetar tanganku kala mulai mengetik-kan nomor PIN-nya.

Panik!

Itu yang terjadi ketika tiga kali ada tulisan tidak dapat melakukan transaksi kenapa ini. Masih penasaran, kucoba sekali lagi.

"Sialan! Disable!" Tak gentar aku melakukan transaksi di link BCA. "Kartu anda sementara tidak dapat dipergunakan."

"Ya Robby, nggak bisa juga!" gerutuku. Apa mungkin Ranimprot itu telah mengganti nomor PIN-nya? Kalau iya, kelewatan itu namanya. Tidak bisa tinggal diam ini. Kesal aku pun menghampiri Mas Anton.

"Nih! ATM-nya tidak bisa!" sungutku seraya memanyunkan bibir. Wajah Mas Anton terlihat lusuh. Jangan bilang kalau dia juga tidak bisa mengambil uang.

"Kamu gimana, Mas?" ketusku.

"Sama, Vin. Tidak bisa juga. Kartu ATM-nya di blokir.

"Ya Allah, Ya Robby, Mas. Terus gimana dong? Gagal lagi. Mudah-mudahan aja Rani hanya menggertak. Ya sudah kita pulang aja yuk, Mas," ajakku. Sia-sia banget aku. Masa iya si, kehidupanku setelah menikah justru seperti ini?

"Ayok," ucap Mas Anton. Kami melangkah dengan malas untuk naik ke atas motor pun rasanya tak bertenaga. Pusing, itu yang terasa di kepala saat ini.

Gerimis kali ini seakan menambah kesedihanku. Selama di atas motor kami saling terdiam. Ternyata tidak semua perempuan itu lemah dan mau menerima. Kakak-ku juga merebut suami orang. Tapi yang terlantar justru istri pertamanya. Kakak- ku lah pemenangnya. Hidupnya juga bahagia. Ya, meski sekarang dia tengah merasakan suaminya seakan kembali mengulang perselingkuhannya. Tapi tetap saja suaminya itu fokus pada Kakak-ku dan anaknya. Keluarga mereka juga terlihat tenang. Tapi aku tidak tahu bagaimana di dalamnya. Nanti akan kucoba korek informasi terbarunya.

****

Tepat pukul delapan malam, kami tiba di rumah. Mas Anton memarkirkan motornya di halaman. Sedangkan aku menunggunya di depan pintu. Mau masuk duluan tapi ada rasa sedikit enggan.

"Masuklah! Kenapa berdiri aja disitu?"

"Aku nunggu kamu, Mas."

"Memang istri kesayangan," pujinya seakan membuat diriku ingin terbang. Hanya saja yang disayangkan Mas Anton kini tak ber-uang. Entah bagaimana ke depannya nanti.

Beberapa kali Mas Anton menekan bel. Namun, Rani tak kunjung membukakan pintu. Sampai akhirnya ia mengetuk dan berteriak, Rani masih juga tak membuka pintu. Mustahil kalau dia tidak mendengarnya.

"Dobrak saja, Mas!" Aku sengaja mengomporinya.

"Rani!!!!!" teriak Mas Anton.

"Kalau sampai kamu tidak membuka pintu, maka pintunya aku dobrak!" berangnya penuh emosi.

"Rani!!!! Buka!" bentak Mas Anton. Suaranya mulai terdengar serak. Sedangkan pintu iya tendang menggunakan kakinya.

"Tidak malu bikin kegaduhan di rumah orang?" ucap Rani tenang setelah membuka pintu.

"Sini kamu!" Mas Anton menyeret tangan Rani.

"Lepasin! Aku bisa jalan sendiri! Jijik tahu dipegang-pegang sama kamu! Najis!" Mulut perempuan ini ingin sekali rasanya kukeruwes.

"Halah! perempuan mandul saja sombong kamu!" maki Mas Anton seraya menjatuhkan tubuh Rani di sofa.

Gelegar!

Bagaikan petir menyambar. Menohok sekali kata-kata Mas Anton. Mampus kamu, Rani ….

"Sadar! Buka mata! Masih mending aku tidak menceraikan kamu! Kamu itu mandul! Mana ada laki-laki yang mau nikah sama kamu!" cemooh Mas Anton.

"Kalau kata orang Jawa, kamu itu ligar! Tidak ada yang mau. Sudah tampang pas-pasan! Tidak bisa kasih anak pula! Bersyukur aku mau nikah sama kamu!"

Jlep!

'Sakitnya tuh disini, Rani! Teruskan makianmu, Mas. Serang mental Rani.'

Rani masih terlihat tenang. Lalu, ia mengambil tisu basah di meja. Menggunakannya untuk mengelap tangan yang sudah dicengkram oleh Mas Anton.

"Orang yang sakit hati itu, hanya bisa memaki. Kasihan," ucap Rani menyeringai sinis. Seolah merendahkan kami. Ia bangun dari tempat duduknya dan hendak beranjak. Namun, Mas Anton kembali menarik tangannya hingga ia kembali terduduk.

"Mau apalagi kamu, Mas? Oh iya lupa. Kamu tolong tidur di kamar pembantu kalau memang tidak mau keluar dari rumah ini. Dan kamu, Vina! Aku tidak menggratiskan rumah ini. Kalau kamu mau tinggal di sini juga, silahkan menjadi pembantu di sini. Atau, kamu membayar saja?" Mataku membulat mendengar ucapannya. Gila perempuan ini. Sepertinya dia sudah sakit jiwa.

Plak!

Mas Anton menampar pipi Rani.

"Hargai aku sebagai suamimu!" bentak Mas Anton. Lagi-lagi Rani hanya tersenyum sinis.

"Minta dihargai tapi tidak mau menghargai! Dasar egois!" balas Rani.

"Kalau kamu tidak bisa menjaga adab dan etika kamu disini, pintu rumah ini terbuka lebar untuk kalian. Silahkan keluar!" tunjuk Rani ke arah pintu.

"Sebentar," lanjutannya. Rani beranjak. Aku dan Mas Anton saling berpandangan.

Tak lama, dia kembali lagi dengan sebuah koper hitam.

"Ini baju kalian sudah aku siapkan. Silahkan kalau mau keluar. Seharusnya, aku tidak memberikanmu pakaian ini juga, Mas. Karena pakaian ini 'kan hasil kerja kita berdua. Sedangkan sekarang, kamu sudah menikah lagi. Harusnya kamu menggunakan pakaian hasil kerja kalian berdua!" ucap Rani membuatku terbelalak.

Benar-benar, separah inikah isi otak Kakak maduku? Perhitungan sekali. Mas Anton bangundari duduk-nya. Mungkin hendak meninggalkan rumah ini. Namun, dengan sigap aku menggenggam erat tangannya. Memberi kode jangan gegabah dulu. Sebab, tidak ikhlas rasanya pergi dari rumah ini tanpa hak yang seharusnya didapatkan. Masih banyak jalan menuju Roma bukan? Entah, tiba-tiba saja aku memiliki ide untuk menghabisinya. Tak tahu, apakah Mas Anton akan setuju dengan rencanaku?

"Oke, kalau kalian tidak mau keluar dari rumah ini, silahkan tidur di kamar pembantu. Kalau begitu, selamat menyusun rencana jahat kalian. Semoga berhasil. Manusia seperti kalian pasti picik! Dan aku suka melawan orang picik! Terutama kamu, Vina!" ucap Rani seolah dapat mengerti apa yang ada di pikiranku.

Seperginya Rani, aku mengajak Mas Anton pergi ke kamar. "Begini amat ya, Mas!" keluhku.

"Sabar," lirih Mas Anton seraya merangkul pundakku. Jujur saja, rasanya hari ini hatiku teramat sedih.

Kurang sempurna rasanya kalau bisa mendapatkan orangnya tapi tidak dengan hartanya. Ada rasa tidak ikhlas.

"Mas, kamu kasarin aja si Rani itu. Kamu 'kan laki-laki. Pasti tenagamu lebih kuat daripada Rani. Paksa saja, Mas! Bikin dia itu nurut sama kamu."

Mas Anton tak menimpali ucapanku. Dia sibuk mendiam sampai masuk ke kamar yang super sempit. Mana panas! Tidak ada kipas angin pula. Apes banget sih! Rasanya hari ini aku ingin menelan manusia hidup-hidup.

Tertanda

Vina pelakor gagal yang sedang berusaha. (To Be Continued).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oktavp dan 5 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di