CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60079e7168cc9566431cde14/bukan-pelacur

Bukan Pelacur

Tinggalkan yang main-main dan berjalanlah bersama seseorang yang sudah berani melamarmu dengan gagahnya. Karena sesungguhnya itu lebih baik, daripada yang hanya mengajakmu menjalani suatu hubungan tanpa adanya ikatan yang halal.
•••
“Assalamualaikum,” salam Sarah sesampainya di depan pintu rumah dua lantai dengan hiasan taman di sebelah kiri dan hiasan air terjun buatan di sebelah kanan.
“Waalaikumsalam.” Mariyani menyahut salam dari dalam ruang keluarga.
Sarah melepas sepatu putih dan disimpan ke belakang pintu, lalu masuk ke rumah dengan hati bahagia karena habis jalan-jalan dengan pujaan hatinya. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu melangkah menuju sang ibu di ruang keluarga masih dengan senyum yang merekah. Sesampainya di ruangan yang terdapat televisi berukuran empat puluh delapan inci itu, dia langsung meraih punggung tangan bapak, lalu dilanjutkan punggung tangan ibunya untuk dicium dengan takzim seraya tangan putih itu membenarkan anak rambut ke belakang telinga.
Bukan Pelacur
“Bahagia sekali tampaknya. Dari mana kamu, Nduk?” tanya Mariyani sambil menyentuh rambut Sarah yang tengah mencium punggung tangannya.
“Jalan-jalan di Jembatan Harapan, Bu.” Sarah menjawab dengan menarik langkah untuk duduk di karpet depan televisi sambil melepas tas punggung hitam itu.
“Sarah, pakailah jilbab! Kamu ini udah balig. Kamu mau, jika esok di akhirat dicambuk dengan cambukkan seperti ekor sapi?” tanya Razlan dengan tatapan tajam.
Sarah hanya menunduk pura-pura tak mendengar. Karena bukan hanya sekali ini saja lelaki paruh baya itu menasihati, tetapi Sarah masih tak mengindahkan ucapan Razlan.
“Nduk, tadi Paklik Munir ke sini. Beliau bilang, si Hylmi ngelamar kamu lewat paklik, Nduk. Ibu dan bapak juga sudah menerimanya. Tinggal menunggu acara resmi dia ke sini dengan bapak-ibunya saja. Nggih¹, ‘kan, Pak?” ujar Mariyani seraya bertanya pada sang suami.
“He’eh², Rah. Bagus loh Hylmi iku bocah’e,” balas Razlan. “Biar kamu juga bisa dibimbing ke jalan Allah, Rah. Kamu dikasih tahu bapak, yo nggak pernah nurut.”
“Apa, Bu ... Pak? Saya nggak salah dengar niki³, Bu?” tanya Sarah yang syok dengan tangan mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda.
“Iyo, Nduk. Paklik baru saja balik. Tahu gitu tak suruh nunggu awakmu tadi, biar kamu percaya,” jawab Mariyani santai.
“Bu, seng arep⁴ nikah saya, lho. Kenapa tak minta persetujuan saya dulu!” seru Sarah mulai kesal.
“Nyapo, awakmu nggak setuju, toh, Rah? Hylmi iku bocah’e apik, sergep kerja, salate selalu jamaah, guru ngaji pisan,” kata Razlan mulai membahas sosok Hylmi.
‘Kenapa, kamu nggak setuju, ya, Rah? Hylmi itu anaknya baik, rajin kerja, salatnya selalu jamaah, guru ngaji juga,'
Sarah pun tahu bagaimana sosok Hylmi yang tengah disanjung bapaknya itu. Karena pemuda itu sebaya dengan Naufal. Gadis yang memiliki tahi lalat kecil di bibir bawah itu menahan emosi karena tidak dimintai pendapat saat mengambil keputusan untuk masa depannya. Netra anak gadis Razlan itu menatap layar besar di hadapan, tetapi pikirannya melayang tak tentu arah.
Sarah tak pernah membayangkan akan menjadi tunangan Hylmi. Karena pemuda yang kampungan itu tak pernah memberikan kode kalau tengah menyimpan rasa dengan anak gadis Mariyani tersebut. Namun, tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba terdengar berita jika dia mengajukan lamaran lewat sang paklik.
Bagaimana dengan nasib Aldy yang begitu dicintai gadis itu, kalau Hylmi tiba-tiba mendahului melamar?


profile-picture
profile-picture
profile-picture
tet762 dan 5 lainnya memberi reputasi
Wow keren kisah ceritanya mantappppp
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi
nice gan.
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi
lanjut
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di