CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Dilema PJJ dan Belajar Beradaptasi dengan Keadaan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ff7b5355cf6c4222125ef6f/dilema-pjj-dan-belajar-beradaptasi-dengan-keadaan

Dilema PJJ dan Belajar Beradaptasi dengan Keadaan

Dilema PJJ dan Belajar Beradaptasi dengan Keadaan

"Anak-anak kita bersua lagi ya dalam pembelajaran jadak jauh, bagaimana liburan kemarin?"

"Tidak ke mana-mana, Bu. Hanya di rumah saja main ke sawah dan sekitarnya."

Ilustrasi di atas menggambarkan sapaan seorang guru kepada murid-muridnya melalui pembelajaran sejara virtual atau PJJ.

Jauh hari sebwlum liburan usai, mereka sudah berharap bertemu dengan teman-temannya dan menukmati bangku sekolah kembali. Namun surat edaran dari wali kota memupus harapan mereka. Pembelajaran untuk semester dua tetap dalam jaringan alias PJJ.

Ada positif dan negatifnya ketika harus PJJ. Dari segi posutif, anak mempunyai waktu luang yang banyak untuk bisa mengembangkan kreatifitasnya mengembangkan kemampuan lain yang dimiliki. Ada waktu pula untuk belajar hal lain yang belum dikuasai, intensitas bersama orang tua makin terjaga, mereka penuh dalam pengawasan orang tua,

Dampak negatif pun akan ada mengiringi mungkin tidak semua orang tua mengalami tapi pasti ada. Dampak negatif itu antara lain, bermain gawai yang berlebihan, disiplin mengerjakan tugas mulai kendor, pengeluaran biaya lebih banyak untuk kuota. Tidak bisa melakukan kegiatan pembelajaran yang sifatnya berkelompok, menyepelwhkan waktu belajar, kurang interaksi dwngan teman, berlomba bermain di dunia maya atau sosial media.

Kerinduan anak-anak untuk belajar dengan sistem tatap muka sebenarnya bukan hanya rindu menerima pelajaran langsung dari guru, selain itu mereka rindu bertemu dengan teman-temannya. Interaksi secara virtual mungkin menyenangkan tapi makin hari makin membosankan. Bayangkan bila mereka terkurung terus di dalam rumah, hanya bertemu dengan orang yang sama. Walau berbagai hiburan virtual menjanjikan tidak akan bisa mengubah kebiasaan manusia yang lebih senang berkomunikasi secara langsung.

Bahkan satu atau dua jam pertemuan untuk menyampaikan ilmu saja masih ditiadakan demi kesehatan. Sedang orang tua dan siswa memerlukan diadakannya pembelajaran dengan tatap muka. Setidaknya untuk olah raga.

Selama satu tahun pelajaran olah raga hanya berlangsung secara virtual, bagaimana bisa menyehatkan anak-anak. Kita bisa melihat pemandian umum tetap ramai, tempat wisata juga masih banyak orang. Kalau berpikir membuka fasilitas umum karena alasan ekonomi. Mengapa fasilitas belajar tidak diizinkan demi pendidikan?

Banyak akhirnya orang tua murid mencari bimbingan belajar, untuk membantu kerja orang tua selama masa belajar di rumah. Bukan orang tua tidak bisa mengajari tapi anak-anak cenderung lebih disiplin bila diajari orang lain, selain mengalihkan aktivitas mereka dari gawai.

Masyarakat selaku orang tua, barharap ada solusi tepat untuk para pelajar, tidak mungkin seterusnya akan dilakukan belajar dalam jaringan, bagaimana dengan siswa sekolah kejuruan yang wajib praktik?
Bagi anak sekolah dasar dua atau tiga jam masuk sekolah bergantian itu sangat berarti. Mengapa ada berita ancaman lencopotan jabagan sebagai kepala sekolah bila tetap melakukan pembelajaran dengan tatap muka? (entah benar entah hoax)

Bagi beberapa orang mudah menghadapi anak-anaknya ketika belajar di rumah, dengan prinsip tanpa gawai, mereka bisa memakai komputer dan menonton TV sebagai hiburan. Coba dilirik ke belakang, tidak semua orang mempunyai komputer di rumahnya, tidak semua orang mempunyai televisi, dan kalaupun ada acaranya full sinetron dan berita politik.

Setiap hari orang tua berjibaku dengan sifat anak yang ingin selalu dituruti kemauannya, berbagai tip sudah disebar untuk orang tua, tapi bila hanya sisi orang tua saja yang memahami tetap akan tidak sejalan. Seandainya anak datang ke sekolah beberapa jam hanya mendapat nasehat dan motivasi belajar dari guru mungkin akan tertanam dan diingat.
Korona memang tidak main-main tapi tidak ada salahnya bila bisa bersahabat dengan keadaan itu. Agar pikiran tetap jernih dan sehat, waspada perlu tapi hindari rasa takut yang berlebihan.

Semoga ada kemudahan dalam menyelesaikan masalah ini, belajar dan beradabtasi dengan keadaan adalah hal terpenting, baik dari jaman dahulu hingga saat ini. Menekankan sabar dan tenang menghadapi segala masalah, adalah kunci utama melewati masa sulit.


Salam



Januari, 07012021
Tulisan pertama di tahun ini, opini sendiri
sumber gambar pixabah
profile-picture
profile-picture
Cahayahalimah dan tien212700 memberi reputasi
Kasian jugak ya anak2 jaman now...
emoticon-Matabelo
Dilema PJJ dan Belajar Beradaptasi dengan Keadaan
profile-picture
profile-picture
alizazet dan Cahayahalimah memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di