CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerpen Horor, Real Story
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fcb4c3b10d295594f4c5094/kumpulan-cerpen-horor-real-story

Kumpulan Cerpen Horor, Real Story

Kumpulan Cerpen Horor, Real Story

Assalamu'alaikum Gansist.


Aku menulis kumpulan cerpen tentang kisah nyata horor di sekitar lingkunganku. Agan dan sista yang menyukai genre horor, yuk merapat guys. Happy reading.


emoticon-nulisah



Kuntilanak Berdaster


Kumpulan Cerpen Horor, Real Story
Dokpri



'Kejadian ini sudah beberapa tahun lamanya, tetapi kisah ini sangat membekas di ingatan.'

Sebut saja namanya Simbah Ruwati. Malam itu Simbah sedang 'rewang' (membantu tetangga hajatan). Beliau yang umurnya setengah abad lebih tak mau bermalas-malasan di rumah untuk sekadar minta uang pada anaknya. Beliau menjadi buruh cuci piring khusus pas ada hajatan saja. Senangnya Simbah itu bukan dari hasilnya saja, tetapi dapat bercengkerama dengan tetangga yang jauh dari rumahnya.

Pas hajatan di rumah Ning Ndok'ini sudah selesai. Simbah Ruwati masih membersihkan baskom atau panci yang kotor di belakang. Baru jam 11 malam baru pulang. Jarak rumah Simbah dari rumah Ning Ndok cuma 400 meter saja. Namun, ada kebun kosong yang harus dilewatinya.

Simbah pulang saat pekerjaannya selesai. Setelah berpamitan pada Ning Ndok, kemudian beliau di beri beberapa makanan yang di taruh dalam kresek. Setelah itu, kakinya melangkah ke luar menuju jalan pulang. Jam segitu memang sangat sunyi, apalagi semua orang pasti meringkuk di peraduannya. Akan tetapi, Simbah Ruwati terlihat tidak ada rasa takut. Meskipun melewati kebun kosong yang gelap, tetapi masih ada lampu yang bisa menerangi di sisi kiri jalan. Kalau tidak terbiasa lewat jalan itu memang sebagian orang banyak yang takut.

Beliau tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berdiri di samping pohon mentaos. Hanya berdiri mematung tak bergerak sedikit pun. Sedang apa wanita itu pada jam hampir tengah malam begini?

"Hey, kenapa kamu berdiri di situ! Sudah malam. Pulanglah!"

Tiba-tiba Simbah Ruwati meneriaki perempuan berambut panjang di samping pohon mentaos. Tidak tampak mukanya karena tertutupi helai rambut yang tergerai. Hanya saja pakaian yang dipakainya terlihat kumal.

Perempuan yang dipanggilnya hanya terdiam saja. Lalu, Simbah Ruwati berkata lagi.

"Kamu sedang apa di situ? Mau makanan ini?" Seraya menyodorkan makanan di kresek yang dari tadi dipegangnya.

Perempuan itu tetap bergeming. Akhirnya, dengan perasaan dongkol, Simbah Ruwati melanjutkan perjalanannya.

Keesokan harinya, saat Simbah berangkat ke ladang melewati rumah Simbah Pi'ah. Beliau bertanya pada saudaranya.

"Pi'ah, kemarin aku pulang hampir tengah malam. Aku lihat ada perempuan rambutnya panjang, dasternya kotor. Dia berdiri pohon mentaos," kata Simbah Ruwati dengan tangannya menunjuk ke arah kebun kosong.

"Mungkin itu kuntilanak, Ti. Masa' berdaster? Apa tadi kamu ndak tanya, kenapa dasternya kotor?" jawab Simbah Pi'ah sedikit tersenyum.

"Laah ... kayak ndak ada kerjaan tanya pakaiannya. Aku suruh pulang dia diam. Aku tawari makanan tetap diam. Ya aku langsung pulang. Ndak ngurusi perempuan tuli!"

"Sampeyan juga tuli, malah bilang perempuan itu tuli. Ndak boleh, Ti." Nasehat Simbah Pi'ah.

Karena kesal, Simbah Ruwati pergi ke ladang. Lumayan lama obrolan mereka tadi, sampai matahari sudah tinggi.

Memang Simbah Ruwati tunarungu, bukan karena Simbah Pi'ah sengaja mengolok. Apalagi kata Simbah Ruwati perempuan itu pakai daster. Bukannya kuntilanak pakai baju putih dari dulu. Ah, memang usia senja menjadikan beliau matanya ikut buram.

Setelah kejadian itu, banyak orang yang bertanya-tanya tentang kebenaran cerita tersebut. Memang cerita tentang hal mistis menarik pendengaran mereka. Sampai sebulan lebih tetap bercerita tentang hal yang sama.

Kebun kosong tersebut memang dari dulu ada penghuninya. Ada yang bilang, kuntilanak berdaster tersebut sudah tidak ada di situ.



End.



Gresik, 5 Desember 2020
Cerpen by : @muyasy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh muyasy
Halaman 1 dari 2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh muyasy
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Pejwan lagi dahhh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Sereeeeemmmmm

Aku gak bisa nulis horor takuuutttt. Sekarang masih melatih untuk nulis ganre horor, soalnya kagak pernah lihat tidur aja jarang mimpi. Piye yooo
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tulip.putih dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Iyessss, ini yang ane tunggu. Auto subscribe kalau yang horor horor gini.

Lanjut yaaa, ditunggu cerita berikutnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 11 balasan
Mana lagi? Katanya kumpulan emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Menyimak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Hhhhhhhhhhhhhh.....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Serem ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Mantau dari jauh...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Jahil



Kumpulan Cerpen Horor, Real StoryIlustrasi

Bulan lalu aku rewang ke rumahnya Ning Yati, tetangga sebelah. Dia sedang melangsungkan hajatan nikahan putri pertamanya bernama Feby. Selama rewang sebelum hari H tidak ada keganjalan apapun. Sampai hari ke enam, barulah ada keganjalan yang tak masuk logika.

Hari itu, kami semua sedang membuat kue untuk kenduri sebelum acara nikahan besok. Kue yang kami buat ada tiga macam. Awalnya memang baik-baik saja, tetapi pas siang tiba, mulai kue yang Ning Diyah buat mulai berulah.

Sudah dua buah kue bolu matang dari pagi, tetapi kue bolu yang ketiga belum matang hampir 1 jam. Aneh.

"Diyah, kueku udah selesai. Aku udah merdeka. 'Kan kamu duluan buat kuenya, masa' jadi yang terakhir selesainya," ejek Ning Peni pada Ning Diyah.

"Aduuh ... aku ndak tau iki, Ning. Sudah aku cek beberapa kali, tapi adonannya masih mentah. Padahal pinggiran kuenya sudah hampir gosong," keluh Ning Diyah.

Bukan Ning Diyah saja yang heran. Semua orang yang rewang di situ pun ikut merasa heran.

"Pinggiran kompornya itu ditaburi garam kasar aja. Pasti digoda si 'dia' itu," seloroh Mbakyu Sri.

"Oh, sini kasih garam kasar."

Ning Sum yang menaburi garam kasar sambil berkata, "Tolong jangan ganggu kami. Kami hanya membuat kue untuk hajatannya Ning Yati. Kami pun tidak mengganggu keluargamu, jadi jangan ganggu keluargaku!"

Setelah menabur garam, Ning Diyah mencoba mematikan api di kompor lalu menurunkan alat pemanggang. Pas di cek kembali kuenya, memang benar masih mentah. Beberapa lama kemudian, alat pemanggang tersebut di taruh kembali. Hanya beberapa menit, semua bersorak gembira karena kue bolu yang dikhawatirkan gagal, akhirnya matang juga.

Lalu, Ning Diyah kembali memanggang adonan kue bolu yang terakhir.

"Bismillah. Moga ndak kayak tadi," kata Ning Diyah.

Hanya Allah yang tahu apa yang terjadi. Kue bolu yang terakhir tidak sesuai harapan. Lagi dan lagi seperti kue yang ketiga tadi. Inginnya cepat selesai malah waktu terbuang habis untuk menunggu kapan kuenya matang. Sebagian orang yang rewang sudah pulang. Yang ditunggu pun tiba. Akhirnya kue bolu yang keempat sudah matang jam 3 sore. Ning Diyah melakukan aksi tabur garam seperti tadi. Hanya membuat kue bolu empat buah lama sekali sampai memakan waktu 9 jam.

***

Saat malam hari, tidak ada yang rewang. Besok pagi baru dilanjut. Sekitar jam 7 malam, Ning Kam--kakaknya Ning Yati--menghangatkan kuah rawon berisi sayur nangka muda yang dibuat siang tadi. Karena takut kelupaan, Ning Kam sengaja menunggunya sendirian di belakang rumah Ning Yati. Kuah rawon yang dihangatkan begitu banyak, sampai api di kompor dibesarkan supaya cepat mendidih.

Dua jam lamanya Ning Kam duduk menunggu, tetapi kuah rawon di panci belum mendidih juga. Ini sudah tidak masuk akal. Ning Kam ingat dengan kejadian siang tadi. Sedikit ragu dan merinding, karena dia sendirian di tempat itu.

"Kumohon, aku cuma membantu adikku dan jangan ganggu kami, karena kami juga tidak mengganggu keluargamu," kata Ning Kam.

Alih-alih untuk melawan rasa takut, malah bulu kuduknya terasa merinding. Tidak menunggu lama, Ning Kam mematikan kompor dan melangkah ke rumah adiknya. Sebelum kakinya menginjak dapur, terdengar suara gemerincing seperti gelang kaki yang biasa digunakan untuk Tari Remo.

Ning Kam langsung berlari ke depan rumah. Setelah itu, dia pun bercerita pada keluarga yang berkumpul di teras.

***

Hajatan nikahan pun tiba, aku sengaja membawa daun bidara untuk disebarkan di dapur dan seluruh ruangan atau pun rumah Ning Yati. Kasihan jika aktivitas semua orang terkendala. Jangan sampai terulang seperti kemarin.

Sudut rumah Ning Yati juga di beri dupa oleh seorang lelaki sepuh yang tidak kukenal. Mulut lelaki tua itu berkomat-komit seperti membaca doa dan kedua tangannya menengadah ke atas.

Memang belakang rumah Ning Yati itu ada rumah gedong milik saudaraku, Cak Umar. Ada yang bilang, dulu sebelum aku lahir memang di bagian ruang tengah rumahnya Cak Umar itu ada sebuah sumur tua dengan kedalaman 20 meter. Karena tidak ada sumber airnya, terpaksa ditimbun lagi. Walaupun sudah ditimbun tanah beberapa kali, tempat sumur tua tadi masih sering ambles sampai sekarang. Makanya rumah Cak Umar sampai saat ini belum di pasang lantai keramik.

Menurut kepercayaan di sini, kalau ada sumur tidak boleh ditimbun tanah. Cukup ditutup dengan kayu bekas atau anyaman bambu. Entah, apa alasannya.

Katanya, di sumur yang dipendam tadi, ada penghuninya seorang wanita tua. Dia hanya ingin berkumpul dengan orang-orang yang lagi rewang. Kalau tadi masalah kue bolu dan kuah rawon, mungkin 'dia' sedikit jahil. Syukur, 'dia' tidak jahat.


End.




Gresik, 6 Desember 2020
Cerpen by : @muyasy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
firdainayah dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh muyasy
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan batmanluck99 memberi reputasi
Diubah oleh muyasy
Lihat 12 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 12 balasan
Dikencingi Genderuwo


Kumpulan Cerpen Horor, Real StoryDokpri


Kisah ini terjadi beberapa tahun silam. Bu Marlik bercerita denganku begitu semangat. Memang tidak masuk akal sebenarnya. Saksinya adalah anaknya sendiri yang bernama Inun.

Beginilah awal kejadiannya.


🍁🍁

Dulu, rumah tak sepadat seperti sekarang. Karena tinggal di pedesaan, rumah masih berjarak, lampu di jalan belum ada dan banyak kebun kosong.

Malam itu, Bu Marlik sengaja mengajak Inun ke rumah Ning Pon, ponakannya. Karena ada keperluan, sengaja malam itu juga mereka ke sana. Hanya 200 meter jarak rumah Ning Pon dari rumah Bu Marlik. Sehabis salat Maghrib, mereka berdua berangkat. Cukup berjalan kaki ke sana, karena belum ada sepeda motor seperti sekarang. Lumrah karena ekonomi di desa dulu tidak seperti sekarang.

Beberapa meter dari rumah Bu Marlik, mereka kemudian melewati kebun kosong. Sisi kanan kebun mangga dan sisi kiri kebun pisang. Lumayan jauh juga dan tidak ada lampu penerangan sama sekali di jalan setapak itu. Gelap gulita.

"Kamu jangan takut, Nun. Ada Ibu di sini," kata Bu Marlik menghibur Inun.

"Ibu jangan bilang begitu. Aku malah takut," jawab Inun sambil melihat ke belakang. Takut jika ada seseorang yang mengikutinya.

Pada kebun pisang terdapat sumur yang sampai saat ini masih digunakan para warga untuk mencuci baju atau buat masak. Lagi, Inun merinding melihat sumur tersebut. Entah, apa memang pikirannya sekarang dipenuhi ketakutan? Dia pun terus berdzikir untuk menghilangkan rasa takutnya.

Pohon pisangyang rimbun, pohon mangga yang tinggi menjulang. Tak ada suara apapun kecuali suara jangkrik.

"Astagfirullah ...."

Mereka berteriak sambil melihat ke dahan. Suara anak burung hantu mengagetkannya. Alih-alih memberanikan diri berjalan bergandengan malah dikejutkan dengan suara burung.

Setengah perjalanan Bu Marlik ingin duduk sebentar di rumah tetangganya yang dekat kebun. Akan tetapi, Inun melarangnya. Suasana yang sepi menjadikan Inun takut. Lampu kuning di teras juga remang-remang, malah semakin terlihat horor.

Setelah adzan isya' selesai berkumandang, Bu Marlik memutuskan pulang ke rumah. Biarpun berkunjung hanya sebentar, tetapi cukup lega jika main ke rumah ponakannya.

"Besok aja 'kan bisa ngomongnya. Kalau datang sekarang kan jalan gelap, Bulek. Bawa senter ndak?" tanya Ning Pon.

"Aku ndak sreg kalau tidak diomongin sekarang. Ndah usah bawa senter, langit terang kok pas ada bulan purnama, ya Nun," jawab Bu Marlik.

Inun hanya mengangguk mendengar perkataan Ibunya.

Sepanjang perjalanan Bu Marlik bicara terus tanpa henti. Menceritakan tentang masa kecilnya, kondisi jalan di desa yang tak kunjung di perbaiki dan masih banyak lagi. Inun pun jengah mendengarkannya. Dia tahu jika Ibunya hanya mengalihkan ketakutannya dengan obrolan yang tak tentu arah.

Sampai di kebun pisang, mulailah Bu Marlik bicara yang membuat Inun tambah ketakutan.

"Nun, kenapa gelap, ya? Padahal ada bulan purnama. Eh, kamu jangan takut. Ada Ibu di sini."

"Ibu ngomong gitu buat Inun malah lebih takut. Diam aja, Bu!"sungut Inun.

Tiba-tiba terdengar suara air yang dilempar. Inun yang melihat badan Ibunya pun kaget. Kerudung dan baju yang dikenakan Bu Marlik basah kuyup. Seperti habis kehujanan. Padahal malam itu terang benderang karena cahaya bulan purnama. Tidak ada awan sedikit pun. Anehnya lagi, hanya pakaian Bu Marlik yang basah. Pakaian yang dikenakan Inun tetap kering seperti semula.

Tak menunggu lama, mereka berdua berlari sebisa mungkin, padahal kaki mereka masih lemas karena terkejut. Masa bodoh jika ada yang melihat mereka sedang berlari.

Sesampai di teras rumah, napas mereka tersendat-sendat. Cukup sulit mengatur pernapasan.

"Tuh 'kan, Bu! Apa aku bilang, jangan bicara terus. Pasti genderuwonya kesal mendengar Ibu ngomong terus!" gerutu Inun.

"Memang benar 'kan jalannya gelap."

"Iya, tapi 'kan dari tadi Ibu ngomoooong terus. Besok jangan ajak aku lagi! Nanti aku yang dikencingi."

Mereka berdua pun masuk ke rumah dengan tergesa. Kebun pisang tersebut bisa dilihat dari rumah Bu Marlik. Tampak angker jika dilihat terus-menerus.

Beberapa tahun kemudian, zaman pun berubah. Kebun pisang yang dahulu sangat rimbun sekarang sudah ditebangi, diganti dengan beberapa rumah yang sudah tegak berdiri. Lampu pun sudah terpasang di jalan yang katanya angker tersebut. Jalan yang dulunya gelap kini mulai terang. Banyak orang yang berlalu-lalang jika ingin ke jalan gang tengah. Karena jalan ini sangat dekat dengan gang tengah. Ada beberapa orang yang masih enggan untuk lewat. Katanya, takut.


End.

Mungkin, genderuwonya sedikit jengah mendengar ceritanya Bu Marlik. Sampai dikencingi.




Gresik, 8 Desember 2020
Cerpen by : @muyasy

profile-picture
profile-picture
profile-picture
firdainayah dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 29 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 29 balasan
Numpang mejeng sebari baca cerita horrornya yaa mbak emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan muyasy memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Wah boleh nih. Bagus gan. Dilanjuttt
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukanrobinlo dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Noted dulu lg nonton korea ya neng emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
muyasy dan indrag057 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Kuntilanak Ngojek



Kumpulan Cerpen Horor, Real StoryDokpri

Jalan yang berpaving itu dengan kanan dan kiri jalan terlihat sunyi. Jarang ada kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Lampu penerangan pun sudah terpasang beberapa tahun lalu. Namun, tetap saja jalan ini terlihat gelap dan terkesan angker.

Kiri dan kanan jalan adalah area ladang dan persawahan. Ada juga beberapa kandang ayam pedaging di sana. Tidak ada rumah satu pun yang berdiri. Di sisi kiri jalan ada dua makam bersisihan dengan jarak 20 meter. Banyak warga yang menamai makam tersebut kuburan kembar.

Jika ingin ke jalan besar, sekitar jarak 500 meter bisa ditempuh. Akan tetapi, jangan harap saat melewati jalan itu banyak yang lewat. Tidak akan. Karena sesuatu akan terjadi seperti lelaki yang bernama Parman.

Rumah Parman paling dekat jika melewati jalan sepi itu. Jika dia melewati jalan lain yang lebih ramai, tetapi memakan waktu yang lama. Mau tidak mau dia terpaksa melewati jalan itu saat kerja sift malam ataupun pulang tengah malam saat kerja sift sore.

Hari dilalui seperti biasa. Tidak ada pikiran jelek saat melewati jalan sepi itu. Saat melewati kuburan kembar, Parman menyalakan klakson sepeda motornya menandakan dia permisi jika melewatinya, serta mulutnya mengucapkan salam.

Entah hari itu keberuntungan tidak berpihak padanya. Saat pulang tengah malam karena giliran dia bekerja sift sore, dia melewati jalan itu. Ya, seperti biasanya.

Di tengah perjalanan setelah melewati makam pertama, Parman melihat seorang wanita berdiri di bawah tiang lampu yang tidak begitu terang. Tangannya melambai ke arahnya, seperti butuh tumpangan.

Suana gelap bisa saja mengalahkan terangnya lampu. Apalagi, jika jarak tiang lampu dengan lampu lain terlalu jauh. Sehingga terlihat remang-remang.

Parman berinisiatif berhenti di dekat wanita itu. Memang ada beberapa wanita yang pulang dari bekerja melewati jalan ini. Namun, itu jarang.

Dia mendekat setelah memarkir sepeda motornya di pinggir jalan. Wanita itu tampak cantik memakai celana jeans dan sweeter rajut. Rambutnya sebahu tergerai. Tidak ada senyuman. Mungkin wanita itu lelah setelah pulang bekerja, pikir Parman.

"Mau numpang, Mbak," tanya Parman.

"Iya." Wanita itu menjawab dengan singkat.

Parman tersenyum bangga karena wanita yang akan diboncengnya ini sangat cantik. Rasa capek sepulang kerja membuatnya menjadi bugar kembali.

Setelah wanita itu duduk di boncengan, melajulah sepeda motor Parman dengan pelan. Karena hampir dini hari, hawa dingin kian menusuk kulit.

"Rumahnya di mana, Mbak?" tanya Parman lagi.

"Deket kok."

Beberapa saat kemudian, Parman merasa aneh. Biasanya kalau membonceng seseorang pasti terasa berat 'kan. Akan tetapi, lain saat ini. Dia merasa tidak membonceng siapa pun. Ah, Parman tetap memikirkan yang baik-baik saja. Mungkin wanita yang diboncengnya kini sedikit kurusan.

Sampai di makam kedua, tiba-tiba sepeda motor yang ditumpanginya mogok. Sial.

"Waduh ...kenapa mogok di sini?"

"Maaf, ya, Mbak. Aku perbaiki sepedaku dulu," kata Parman seraya turun dari sepeda motornya.

Matanya melotot kaget jika wanita diboncengnya itu tidak ada. Parman memutar badannya mencari sosok wanita berambut sebahu tadi. Tidak ada. Lalu, dia kapan turunnya? Dia sendiri di tengah jalan sepi itu. Pas di depannya ada makam di sana, membuat Parman takut dua kali lipat.

Tiba-tiba, ada sosok wanita berpakaian putih dan rambut panjangnya tergerai acak-acakan sedang berdiri di gapura makam. Apa dia kuntilanak?

Tak menunggu lama, Parman lari terbirit-birit. Dia hampir tersungkur, tetapi katakutannya tak lebih dominan. Parman sesekali melihat ke belakang. Takut jika kuntilanak itu menghampirinya dalam sekejap. Dia tak peduli dengan sepeda motornya yang masih teronggok di tengah jalan. Sungguh sial.

Agak jauh dari kuburan tadi sampai perkampungan warga. Sekitar kurang lebih 200 meter.

Besok paginya heboh. Parman bercerita pada teman-temannya dan saudara dengan apa yang dia alami kemarin malam. Banyak yang tidak percaya. Namun, dia pun kekeh kalau itu benar adanya.

Dia ingin membuktikannya. Lalu, Parman dibonceng saudaranya ke tempat lokasi kejadian. Dia masih trauma saat membonceng seseorang, gara-gara kemarin malam. Sesampai di tempat yang ditunjuk Parman, memang benar jika sepeda motornya terparkir dekat makam. Saudaranya mendekat mengecek sepeda motor itu.

Saat dihidupkan, tidak ada kerusakan apapun. Parman pun menggeleng tak percaya.

Saudaranya pun berkata, "Pasti kuntilanak itu rumahnya di sini, Man. Sepeda motormu ndak rusak kok. Mungkin dia mau turun tapi enggan untuk bilang ke kamu."

"Ndak tau lah. Yok, pulang! Tapi aku yang bawa motormu saja."

Parman merasa frustasi. Pengalaman yang menjengkelkan. Dia kapok melewati jalan ini.


End.


Gresik, 10 Desember 2020
Cerpen by @muyasy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenitan dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh muyasy
Apes bener nasib si Parman
profile-picture
profile-picture
lenitan dan muyasy memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
((Kuntilanak Berdaster)) abis ini pasti ada judul Kuntilanak Ber-hot pants wkwk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenitan dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Culi



Kumpulan Cerpen Horor, Real StoryIlustrasi

Malam itu seharusnya para penghuni peraduan sudah terlelap. Namun, ada kabar mengejutkan jika salah satu warga di desa Karangbaru ada yang meninggal dunia.

Kabar tersebut biasanya disiarkan langsung dengan speaker di mushola atau masjid. Jam 9 malam, para kepala keluarga yang sudah berbaring untuk tidur, terpaksa mengurungkan niatnya. Selain itu, orang-orang yang sedang nongkrong di warung kopi, mulai berdiri meninggalkan tempat itu menuju rumah duka.

Para ibu-ibu berbondong-bondong membawa beras untuk melayat dan membawa uang kematian. Memang sudah malam, jadi tak banyak orang yang melayat. Biasanya besok pagi baru berdatangan. Namun, keluarga almarhum meminta untuk dikuburkan malam ini juga.

"Siapa yang meninggal, Lek?" tanya Rokim pada Lek Parto.

"Aku ndak denger. Kayaknya di RT.01 tadi. Lha wong nyiarin di mushola, ya nggak kedengeran. Toanya 'kan cuma satu."

Rumah duka yang dituju sangat jauh. Karena RT.01 yang dimaksud ada di ujung desa samping sekolah dasar negeri 2 Karangbaru.

Selama beberapa jam kemudian, akhirnya jenazah sudah selesai dimakamkan. Pelayat laki-laki yang ikut ke kuburan hanya sedikit, mungkin mereka mengantuk atau ada kepentingan lain. Memang waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam saa itu.

***

"Culi ...."

"Culi ...."

Suara seperti orang menangis menggema. Selalu terdengar di tengah malam. Joni yang sedang tidur di kamarnya langsung terjingkat setelah mendengar suara yang tak asing itu. Bulu kuduknya seketika berdiri dan kedua tangannya mengusap lengan yang tiba-tiba terasa dingin.

Sudah lima hari ini dia mendengar suara itu lagi. Selalu terdengar tengah malam. Joni sendiri belum tidur jam segitu. Karena saat itu, ada turnamen sepak bola yang jam tayangnya tengah malam.

"Culi ...."

Joni lagi-lagi terkesiap. Jangan salahkan jika laki-laki selalu pemberani, tetapi lelaki pun pasti mempunyai nyali ciut. Seperti halnya Joni saat ini. Tidak mungkin jika dia membangunkan orang tuanya. Malu dengan umurnya yang menginjak 20-an.

Kakinya melangkah pelan menuju ruang tamu. Sesekali dia menoleh ke belakang dan arah samping. Memang rasa takutnya sangat mendominasi saat ini.

Ruang tamu yang gelap menjadikan dia leluasa melangkah cepat menuju jendela. Mencoba mengintip benarkah yang dibicarakan orang kalau suara itu adalah ....

Tepat di samping rumahnya ada pohon sawo yang lumayan besar dan tinggi. Saat dia kecil, pohon sawo tersebut memang sudah ada. Suara itu terdengar di pohon sawo. Joni pun lalu mengintip dekat ujung jendela setelah kelambunya ia singkap sedikit.

Tidak terlihat jelas. Rasa penasaran pun terus membayanginya. Siapa sebenarnya yang menangis tengah malam begini? Mengganggu orang tidur saja.

Joni lalu berdiri di kursi untuk mengintip pada ventilasi yang ada di tembok. Ventilasi itu pas dengan di mana posisi pohon sawo berada.

Hampir saja dia terjatuh jika kakinya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang tinggi. Dia melihat sosok tinggi putih berdiri di atas pohon sawo. Tak menunggu berapa lama, dia langsung loncat dari kursi yang ia pijak, lalu kembali ke kamar untuk tidur kembali. Benar kata orang-orang beberapa hari lalu. Kini, dia melihat secara langsung dengan kedua matanya. Semoga saja suara itu segera enyah dan hilang.

***

Bisikan-bisikan orang yang berkerumun di rumah Pak Kades dari pagi tadi belum usai juga. Bagaimana tidak? Karena ini hal yang sangat tidak mungkin dilakukan, tetapi itu harus dilaksanakan jika desa Karangbaru kembali tenang seperti semula.

Semenjak ada orang menangis dengan berkata 'culi', ternyata sosok itu adalah pocong. Pocong tersebut menangis dengan berkata 'culi'.

Banyak warga sampai resah karena kehadiran sosok itu saat mereka tidur. Tangisannya selalu menggema. Hampir setiap hari terdengar.

Banyak orang yang mengira, setelah kematian salah satu warga RT.01 beberapa hari yang lalu. Keluarga almarhum juga sempat didatangi sosok tersebut. Bukannya membantu, mereka semua juga takut.

"Pak Kades, yang dimaksud culi itu apa, Pak?"

"Aku juga bingung Pak Ramlan. Baru kali ini ada kejadian seperti ini," kata Pak Kades terlihat berpikir.

Lalu, ada salah satu warga yang bernama Supar berkata, "Pak, kemarin kita menguburkan jenazah tersebut sedikit tergesa-gesa. Apa ada yang terlewat saat itu? Maaf, soalnya saya sedikit resah dari kemarin."

"Pak Kades, apa kemarin tali pocongnya sudah dilepas?" kata Pak Jainul dengan sedikit berbisik.

Sontak Pak Kades langsung mengingat prosesi pemakaman malam itu. Ada tiga orang yang masuk liang lahat. Mereka adalah ustad setempat dan yang lain anak almarhum.

Pak Kades lalu memanggil kedua anak almarhum yaitu Pak Junaedi dan Pak Salim.

"Maaf Pak Junaedi dan Pak Salim. Saya mau bertanya, apa bapak berdua sudah melepas tali pocongnya?" tanya Pak Kades.

Mereka saling lirik. Kemudian Pak Junaedi berkata, "Sudah kok Pak Kades."

"Lim, kamu sudah melepas tali pocongnya ndak?" lanjutnya bertanya Pak Salim, saudaranya.

"I ... iya, Mas. Aku lupa saat itu. Karena sudah tengah malam dan kulihat semua tergopoh-gopoh. Aku sampai lupa belum melepasnya," kata Pak Salim seketika para warga di sana mengucap istighfar.

"Kamu gimana, Lim. Kok bisa-bisanya ndak dilepas!" gerutu Pak Junaedi.

"Sudah Pak Junaedi. Sekarang mumpung masih sore, ayo kita ke makam untuk membongkar malam almarhum. Apa keluarga dari alamarhum berkenan?"

"Iya, Pak Kades. Kami bersedia. Semoga setelah ini, kami semua merasa aman," sahut Pak Salim.

Mereka berbondong-bondong menuju makam. Tukang gali kubur sudah siap dengan cangkulnya. Beberapa lama kemudian, Pak Salim membuka tali pocong bagian kepala dan menguburnya kembali.

Para warga mengucap hamdallah sebagai rasa syukur. Semua warga merasa lega, jika yang ditakutkan selama beberapa hari lalu kini sudah diselesaikan. Semoga nanti malam mereka bisa tidur dengan nyenyak.

Pak Salim dan Pak Junaedi meminta maaf kepada Pak Kades dan para warga di situ dengan kejadian menggemparkan ini. Syukurlah, masalah ini sudah terselesaikan.



End.


Kata 'culi' adalah baha Jawa. 'Culi' atau disebut dengan 'diuculi' yang artinya dilepas. Kenapa pocong tersebut menangis dengan berkata 'culi'. Ternyata, pocong tersebut meminta para warga yang didatanginya untuk menyuruh melepas tali pocong tersebut. Semoga almarhum dilapangkan kuburnya. Aamiin ya rabbal alamiin.


Gresik, 14 Desember 2020
Cerpen by @muyasy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh muyasy
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Maaf, jika aku lama ngepostnya. Krn cerpen ini yang membuat aku takut. Btw, happy reading gansis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenitan dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di