CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fc89eaff4ae2f49fe5e7da1/dendam-lisa

Dendam Lisa

Dendam Lisa

“Lisa!”

Tanpa menoleh pun, aku tahu kalau itu Brina. Hanya dia yang memiliki suara cempreng seperti itu di sini dan hanya dia juga yang berhasil menjadi sahabatku.

“Ada apa?” tanyaku saat Brina sudah berdiri tepat di depanku dengan napas tersengal karena berlari.

“Nanti malam temani aku keluar, ya,” pintanya dengan mata berbinar, persis seperti kucing oren milik tetangga depan saat melihatku sedang menyantap ikan.

“Ya, please ....”

Kedua tangannya mengatup ke arahku, kalau sudah begini, mana mungkin aku tega menolak. Apa lagi selama ini dia selalu membantuku.

“Ok.”

Brina mencium pipiku bertubi-tubi. Setelah itu, berlalu meninggalkanku dengan cepat tanpa pamit.

“Eh, tapi mau ke mana?” tanyaku beteriak saat menyadari kalau aku sama sekali tidak tahu ke mana tujuannya.

“Nanti ku-chat!”

Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya, setelah itu kembali melanjutkan siraman bunga yang tadinya terhenti. Ya, begitulah Brina, tingkahnya terkadang memang sedikit kekanak-kanakkan. Padahal, usianya tak lagi muda.

Mungkin, karena itu juga yang menjadi alasan sang ayah untuk sulit melepasakan Brina seorang diri, apa lagi bersama orang-orang baru. Bukan karena tak percaya, tapi lebih tepatnya terlalu khawatir. Bukankah setiap anak di mata orang tuanya akan selalu tampak masih kecil?

Itu sebabnya Brina selalu menjadikanku tamengnya jika hendak keluar malam, termasuk saat ia berkencan dengan pacarnya. Mungkin, malam ini pun sama, tapi bukankah kemarin dia baru saja putus?

Langit malam tampak lebih indah dari sebelumnya, itu karena malam ini bulan tampak penuh. Selain itu, taburan bintang yang berkelip membuat suasana romantis bertambah berkali lipat. Sepeda motor yang dibawa Brina, sudah terparkir sempurna di depan kafe yang banyak dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang kasmaran.

Tadinya aku ingin berkeliling alun-alun walau seorang diri, tapi Brina menarik tanganku. Entah kenapa, aku tak menolak saat ia lakukan itu. Padahal, aku sudah tahu akan menjadi apa bila mengikutinya ke dalam, tentu saja menjadi obat nyamuk!

Dadaku berdetak lebih kencang dari biasa saat tahu siapa yang ditemui Brina, mungkinkah dia, dan Brina ... ? Kurasakan mataku memanas, mendadak aku menjadi lemas.

Mas Seno yang ditemui Brina, adalah lelaki yang selama ini kucintai dalam diam. Entah apa yang merasuki, foto-foto yang diunggahnya di akun sosial media yang berlambang f itu, mampu membuatku jatuh cinta tanpa perlu adanya pertemuan.

Kulit wajahnya yang tampak mulus seperti oppa-oppa korea, membuatku selalu melafalkan sholawat saat ia menambahkan foto baru.

Baca juga: Bidadari yang Ternoda


Seseorang pernah mengatakan padaku, ‘jika kamu melihat sesuatu, lantas terbesit di dirimu ingin memilikinya, maka sholawatilah. Jika sesuatu yang kamu sholawati tidak terkabul, setidaknya kamu sudah mendapatkan pahala dari sholawat tersebut.’ Dan hal itulah yang selalu kulakukan saat melihat foto Mas Seno, tentu saja aku berharap agar kami kelak disatukan menjadi sebuah keluarga.

“Lisa, kenapa berdiri terus? Duduk sini?”

Demi apa pun, suara Mas Seno terdengar sangat merdu. Namun, sayangnya apa yang sedang kupikirkan mampu membuat suasana hatiku hancur berkeping-keping. Apa yang mereka biarakan, tak lagi mampu kucerna dengan baik. Hingga tangan Mas Seno melambai tepat di depanku, barulah aku tersadar.

“Jadi, gimana Lisa? Kamu mau?” tanyanya.

Aku kelimpungan, tak mengerti apa yang Mas Seno tanyakan. Sementara Brina hanya diam tak menjawab saat aku bertanya melalui sorot mata yang kuyakin ia paham.

“Mau apa?” tanyaku.

“Jadi selama aku ngomong kamu nggak dengar?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng, sembari tersenyum kikuk. Mas Seno memukul jidatnya yang lebar dengan telapak tangan.

“Aku tidak akan mengulanginya untuk yang ketiga kali, jadi dengan baik-baik, ya,” tuturnya lembut. Aku mengangguk, Mas Seno kembali mengambil napas dalam, membuatku penasaran tentang apa yang akan ia katakan.

“Lisa ... aku menyukaimu, sungguh menyukaimu, entah bagaimana dan kapan tepatnya rasa itu muncul, aku pun tak tahu. Mau kah kamu jadi pacarku?”





profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gitalubis
Ijin nyimak sambil ngupy gans
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gitalubis dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Tamat

Mulai hari itu, aku selalu hadir dalam mimpi Mas Seno. Sampai-sampai ia terbangun memanggil namaku dengan keringat yang sudah membanjiri dahi. Kutampakkan diri saat ia dan Brina sedang bersenang dalam segala hal. Hingga akhirnya ia menyadari, bahwa apa yang telah ia lakukan menyakitiku.

Lalu Brina, sama seperti yang kulakukan dengan Mas Seno, yakni menampakkan diri. Bedanya, jika dengan Mas Seno, aku menampakkan wajah cantikku. Seperti yang dikatakan Mas Seno, bahwa diriku mirip dengan Lisa black pink. Sementara dengan Brina, kutunjukkan wajahku yang berlumur darah dengan mata satunya sudah bolong.

Kujatuhkan barang-barang yang berada di meja hias saat Mas Seno tak ada di kamar. Kuterbangkan kain jendela seperti ditiup angin yang kencang, kumainkan saklar lampu untuk menakutinya.

Tak ada usaha yang menghianati hasil, aku berhasil membalaskan dengan padanya. Brina tak lagi mau bila ditinggalkan sendiri, ke mana Mas Seno pergi, ia akan menempel. Tentu saja hal tersebut membuat lelaki itu jengah dengan sifat Brina yang tak lagi wajar menurutnya.

Dengan alasan tak lagi nyaman dengan gangguan yang dialami Brina, Mas Seno menceraikan wanita itu. Brina yang sangat mencintai Mas Seno tentu saja tak mau menerima keputusan itu. Namun, apa mau dikata, palu sang hakim pengadilan agama sudah terketuk. Itu artinya, mereka bukan lagi suami isteri baik menurut agama maupun negara. Aku yang ikut menjadi saksi, bahagia bukan main.

Brina pernah mengatakan padaku lebih tepatnya pada dirinya sendiri ketika aku mengalami kecelakaan hari itu, bahwa cinta membuatnya gila. Dan hari ini, ia benar-benar gila karena cinta itu. Berbicara sendiri bila di kamar, memeluk siapa pun setiap ada yang membuka kamar dengan memanggil nama Mas Seno.

“Sekarang kau sudah tenang, kan?” tanya Awan.

Aku mengangguk. Dendamku telah terpenuhi, apa lagi yang kuinginkan sekarang. Awan adalah seorang pemuda yang diam-diam mengangumiku semasa hidupnya. Setelah tahu bahwa aku tewas, sehari setelah itu, ia pun mengakhiri hidupnya.

“Kalau begitu, ayo kota kembali! Bagaimanapun, ini bukan wilayah kekuasaan para hantu.”

Aku mengangguk, menyetujui ucapan Awan untuk kembali mengikutinya ke tempat seharusnya. Sekarang, aku bisa beristirahat dengan tenang.

Tamat.

Langkat, 3 Desember
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Part III

Matahari yang tadinya masih malu, kini sudah mendapatkan kepercayaan diri sepenuhnya. Lambat laut, ia mulai merangkak ke ufuk timur. Segera aku menemui Brina di swalayan, setelah itu, barulah kami ke warung milik Mang Kasim.

Setelah berbincang banyak hal, Brina pergi dan mengambil pesanan kami. Perut yang lapar tak tertahankan, membuat aku menghabisi seblak tulang dengan cepat. Tanpa menunggu lama, Brina mengajak pulang. Padahal kulihat makananannya belum habis. Dengan dalilh keburu maghrib datang, aku menyetujui perkataan Brina untuk segera pulang. Kami berpisah di halaman warung, karena masing-masing membawa kendaraan.

Entah kenapa, belum lagi sampai di tengah perjalanan, mataku mendadak mataku terasa berat. Niat hati ingin berhenti di tepian, tapi mendadak kereta oleng menghantam sesuatu yang keras.

Kulihat, orang-orang mengerumuni jasad seorang wanita malang yang tampak berlumur darah. Namun, ada yang beberbeda, dari ujung kaki sampai sebatas leher, sepertinya aku mengenali seseorang itu. Dan kereta itu ... kereta kesayanganku. Apa yang terjadi?

Kudekati Brina yang hanya berdiri tak jauh dari tempat kejadian, mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu.

“Maaf, Lisa. Cinta membuatku gila. Aku memang menyayangimu, tapi sungguh rasaku terhadap Mas Seno lebih dari siapa pun.” Bibirnya terangkat, menunujukkan senyum sinis.

Lisa? Apa maksud Brina mengatakan itu? Saat aku bertanya ada apa padanya, Brina lari sambil menangis mendekati jasad gadis malang tadi. Tak ingin tertinggal info lebih banyak lagi, aku mengikutinya.

Brina menangis, sembari meneriaki namaku. Dia mengaku ke semua orang, bahwa gadis malang yang menabrak tiang listrik itu adalalah sahabatnya yang bernama Lisa.

Aku terhenyak, lalu kembali memperhatikan gadis yang terbujur lemah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dengan saksama. Sandal itu, celana, baju, dan semua yang melekat pada gadis itu adalah milikku. Napasku memburu tak teratur, kusentuh tangan Brina untuk memastikan, tapi ternyata tak berhasil.

Setelah beberapa saat, barulah aku menyadari, bahwa gadis yang terbujur lemah adalah diriku. Oh ... tidak! Apa yang sebenarnya terjadi tadi? pasti ada yang tidak beres.

Orang-orang kampung sudah berkumpul di depan rumah untuk menyambut jenazahku. Wajah-wajah kesedihan tampak di sana, Brina menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan derai air mata. Sehingga jasadku pulang dengan kepala yang sudah hancur. Aku yang mendengar pun tak kuasa menahan isak.

Tampak seorang pemuda datang dengan wajah kebingungan, walaupun begitu ketampanan tak berkurang sedikit pun. Bapak Mas Seno menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat ia bertanya, seketika ia terduduk lepas. Satu per satu air mata membanjiri pipi. Melihatnya menangis pilu, ingin sekali kurengkuh tubuhnya itu. Namun, apalah daya, aku tak lagi bisa melakukannya meskipun ingin.

Dua hari setelah kematianku, banyak hal terjadi yang membuatku hampir mati untuk kedua kalinya. Bagaimana tidak, ternyata dalang dari kematianku adalah Brina. Seorang gadis yang selama ini kusebut sebagai sahabat sejati.

Sewaktu kecil, saat kami bermain masak-masakkan api di belakang rumah tanpa sepengetahuan Bapak Ibu, tanganku pernah terkena plastik yang dibakar Brina. Saat itu, aku menangis sekuat-kuatnya, sebab sakit yang kurasakan akibat luka itu pedih bukan main.

Seiiring berjalannya waktu, lukanya tak lagi sakit. Bahkan, bekasnya pun menghilang walau tak sempurna. Kupikir, itu adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dilakukan Brina. Namun, nyatanya masih ada lagi hal yang paling menyakitkan yang dilakukannya, yakni pengkhianatan.

Hanya karena cintanya pada Mas Seno, ia sanggup menyingkirkanku dengan cara memberikan obat tidur pada seblak yang kemarin kumakan di warung Mang Kasim. Tak tanggung-tanggung, obat yang diberikannya pun pada jumlah yang banyak agar efeknya lebih cepat bekerja. Pastas saja setelah itu, ia buru-buru mengajakku pulang. Sungguh, caranya begitu licik untuk mendapatkan Mas Seno!

Lalu, siang ini ... ah, bahkan aku tak sanggup untuk mengatakannya. Bagaimana mungkin saat situasi masih dalam berkabung, tanah kuburanku pun belum lagi mengering, Mas Seno menyatakan cintanya pada si Brina.
Setiap malam melalui telepon, Mas Seno mengatakan hal ini padaku ‘Aku cinta padamu, Lisa. Kuyakin, tanpamu aku tak bisa menjalani hidup. Kaulah bulan, kaulah bintang, kaulah jantung hatiku.’ Saat itu, aku meleleh mendengarnya. Namun sekarang ... apa yang sebenarnya terjadi? Apa Brina memakai pelet untuk mendapatkan Mas Seno? Apa Mas Seno memang seorang buaya darat yang mudah merayu dan jatuh hati pada wanita lain? Kalau iya, pantas saja akhir-akhir ini ia sering menuliskan thread tentang buaya di salah satu forum berinisial k itu.

Kembang api menyala dengan indah di atas sana, suara riuh terompet membuat telingaku merasa sakit. Namun, ada yang yang lebih menyakitkan dari itu, yakni melihat dua orang pengantin baru bercumbu dengan mesra.

Seharusnya, aku yang berada di sana bersama Mas seno merayakan pergantian tahun ini, bukan Brina. Seharusnya aku ... aku ... bukan dia!

Aku mengusap air mata, tak ada gunanya menangisi hal yang telah terjadi. Jika aku tak bahagia, maka mereka pun tak boleh bahagia. Tak akan kubiarkan diriku menangis sendiri, sedangkan pengkhianat itu tertawa bahagia di sana.

Tunggulah pembalasanku!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
banditos69 dan 3 lainnya memberi reputasi

Part II

“Jadi, gimana Lisa? Kamu mau?” tanyanya.

Aku kelimpungan, tak mengerti apa yang Mas Seno tanyakan. Sementara Brina hanya diam tak menjawab saat aku bertanya melalui sorot mata yang kuyakin ia paham.

“Mau apa?” tanyaku.

“Jadi selama aku ngomong kamu nggak dengar?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng, sembari tersenyum kikuk. Mas Seno memukul jidatnya yang lebar dengan telapak tangan.

“Aku tidak akan mengulanginya untuk yang ketiga kali, jadi dengan baik-baik, ya,” tuturnya lembut. Aku mengangguk, Mas Seno kembali mengambil napas dalam, membuatku penasaran tentang apa yang akan ia katakan.

“Lisa ... aku menyukaimu, sungguh menyukaimu, entah bagaimana dan kapan tepatnya rasa itu muncul, aku pun tak tahu. Mau kah kamu jadi pacarku?”

Rasanya ada yang berdentum hebat di dalam sini, tapi bukan dentuman bom yang dipakai saat perang dunia kedua. Mendadak tanganku keringat dingin mendengar penuturannya. Kukedipkan mata berkali-kali, lalu mencubit tangan Brina yang di sampingku, hanya untuk memastikan bahwa ini nyata, bukan hanya ilusi semata. Brina menjerit, kini aku percaya kalau aku bukan sedang berhalusinasi.

“Lalu Brina?” tanyaku setelah mampu mengusai hati yang sedang bertalu.

“Oh, Kami sudah bekerja sama untuk ini. Iya, kan, Brin?” tanyanya mengalihkan pandang pada Brina. Brina mengangguk.

Dengan senyum malu, aku menganggukkan kepala di hadapan Mas Seno atas pertanyaannya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam, kami memutuskan untuk pulang. Di sepanjang jalan, kupeluk pinggang Brina yang kecil sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Dering ponsel menarik paksa ingatanku yang sedang bernostalgia pada peristiwa manis yang tak akan pernah kulupakan. Pesan singkat yang dikirimkan Brina membuatku mengulum senyum. Ia mengingatkan agar aku jangan sampai lupa dan juga telat.

Kemarin, setelah aku mengatakan bahwa Mas Seno akan pulang dan juga berencana melamarku, Brina mengajakku ke warung Mang Kasim. Katanya sudah lama tak ke sana dan juga sekalian merayakan kabar bahagia ini. Brina memang sahabat terbaik, tentulah ia sebagai mak comblang antara aku dan Mas Seno merasa bahagia. Sebab perjuangannya untuk menyatukan kami sampai pelaminan akan segera terwujud.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kokisyantik dan 3 lainnya memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brina313 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
@masnukho ini akibatnya kalau dirimu terlalu cepat berubah
profile-picture
profile-picture
muyasy dan dalledalminto memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
muyasy dan dalledalminto memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Bagus juga nih 👏
profile-picture
gitalubis memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Bagus, sayang panjang banget ya storynya, ntar coba dibaca dulu sampe tuntas, tapi ntah
kayaknya butuh waktu panjang buat bacanya, top, thanks for sharing.
profile-picture
gitalubis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Bagus ini
profile-picture
gitalubis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di