CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f8e73df337f933bba42a542/agnostik-di-indonesia-menentang-suara-mayoritas-di-negeri-religius

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Pandangan miring terhadap agnostik di Indonesia dilanggengkan oleh negara yang tidak mengenal keyakinan di luar enam agama resmi. tirto.id - 

Pada Mei lalu, seorang kolega ingin menggali cerita orang pindah agama dan menerima pesan langsung dari 20-an orang yang tidak ia kenal sebelumnya ke akun Twitter-nya. Mereka mengisahkan perjalanan spiritual dari Islam pindah ke Hindu, Kristen ke Islam, Islam ke Buddha, maupun Buddha ke Katolik. Tetapi, yang mengejutkan adalah kebanyakan yang lain dari mereka mengaku sebagai agnostik: meyakini konsep Tuhan tapi tidak mempercayai agama. 

Dari narasumber yang mengaku agnostik itu saya ingin tahu kisah proses-proses mereka dari yang percaya agama hingga ke titik itu karena, terutama dalam konteks Indonesia, mereka menentang suara mayoritas penduduk di negeri ini yang menilai agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan negara ini memiliki kementerian agama dan mengatur rumah ibadah, meliburkan hari kerja saat hari raya keagamaan. Pendeknya, mereka tumbuh di lingkungan keluarga dan negara yang religius. 

Dua dari mereka, yang saya samarkan namanya, membagikan kisahnya menjadi agnostik.

Perjalanan Spiritual yang Tabu

Saya berbincang dengan Max, pegawai negeri sipil berusia 26 tahun, yang lahir dan besar di Jakarta. Ia dibesarkan sebagai muslim dari keluarga kelas menengah yang orangtuanya bekerja juga sebagai PNS dan “Papa-Mama bukan orang yang salat lima waktu, bukan tipikal yang strict ketika bicara agama” tetapi, empat tahun terakhir, tabiat itu berubah. 

Orangtua Max menjadi lebih religius. Mulai mengingatkannya salat. Semula Max tidak terlalu memperhatikan perubahan itu sampai orangtuanya ikut pengajian dan sering mengadakannya di rumah.

Yang tidak diketahui orangtua Max, anaknya sudah lama tak percaya agama.
Sejak umur 10 tahun, Max mempertanyakan konsep Tuhan: Bagaimana bentuknya? Dari mana Ia tercipta? Mengapa harus disembah?

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah dilontarkan kepada orangtuanya tapi tiada jawaban yang membuatnya puas.
“Papa bilang, ‘Suruh tanya guru agama.’ Mama lebih aneh lagi, dia bilang, ‘Pantang untuk bertanya tentang hal-hal begitu. Tuhan itu harus diimani, jangan dipertanyakan, nanti bisa gila.’”

Penasaran, Mak -yang-masih-bocah memberanikan diri bertanya kepada guru agamanya. “Tapi, jawaban yang sebetulnya enggak terlalu menjawab: Allah itu satu, tidak laki-laki, juga bukan perempuan, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Kenapa harus disembah? Agar kita selalu ingat dan bersyukur karena diberi hidup,” Mak mengingat ucapan guru agamanya di sekolah.

Jawaban itu membuat Max makin penasaran tapi juga makin tak terpuaskan. Ia mulai mencari tahu tentang sejarah Islam, lalu merembet pada agama-agama besar di Indonesia, hingga ateisme dan agnostisme.

Memasuki kelas 3 SMP, kepercayaannya terhadap agama terkikis. Ia bahkan tak percaya pada konsep Tuhan tapi akhirnya meyakini ada energi besar di semesta yang memang tak kasatmata.

Di Indonesia, menjadi agnostik bisa berbuntut perkara riskan: kamu tetap harus mengisi kolom agama di KTP meski teman-teman dekat kamu tahu kamu tak beragama. Jika ngotot mengosongkannya, kamu mungkin kesulitan melamar pekerjaan, menikah, atau mengakses layanan publik, apalagi menjadi PNS.

Baru-baru ini hukum di Indonesia membolehkan penghayat kepercayaan mengosongkan kolom agama—perihal yang pernah jadi basis diskriminasi terhadap mereka.

Masalahnya, agnostik bukan kaum penghayat—sering disebut ‘agama lokal’—sehingga pengakuan seperti Max tidak dianggap oleh negara.

"Mungkin kalau dilihat dari perspektif muslim, saya bisa dibilang kaum munafik,” kata Max dengan nada santai. “Tapi, saya memang masih memanfaatkan privilese-privilese sebagai bekas muslim itu.” “Terbiasa jadi mayoritas bisa membuat orang-orang merasa superior. Merasa paling benar sendiri, tidak sensitif pada hal di luar hajatnya, keras kepala bukan main,” timbang Max. “Sering kali cara logika berpikir mayoritas itu yang dipakai untuk pasang standar kepada kelompok yang suaranya lebih kecil, misalnya kepada orang-orang agnostik.”

Cerita lain dari orang yang menjadi agnostik dituturkan oleh Zaki, yang sampai kelas 5 SD tinggal di Aceh, satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Islam.

Pasca-tsunami 2004, dipindahkan orangtuanya ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah, Zaki untuk kali pertama menghadapi perbedaan: bertemu teman-teman sebaya beragama selain Islam.
Perasaan Zaki saat itu semula agak jaga jarak, “kasarnya bahkan punya perasaan jijik,” katanya.
Lulus SMP, orangtuanya menarik kembali dia ke Aceh dengan alasan “takut pergaulan bebas di Jakarta.”

Pada 2011, Zaki kuliah di Bandung. Dari pergolakan batin mengenai konsep Tuhan dan agama yang mulai muncul saat di Jakarta, mengendap saat kembali ke Aceh, kini ia punya kesempatan longgar untuk kembali mengeksplorasi perjalanan spiritualnya.

Puncaknya saat ia umrah pada 2016. Keluarganya yang khawatir meyakini Mekkah akan mengembalikan Zaki ke jalan Islam. Diingatkan untuk pasrah—“Nanti semua dosa-dosaku bakal dibayar tunai. Jangan sombong. Jangan banyak bertanya. Jangan meragukan”—justru yang terjadi sebaliknya. Di depan Kakbah, Zaki berdoa, “Ya Allah, kalau Kau benar-benar ada, hukum aku sekarang juga atas kesalahanku. Tapi, kalau apa yang selama ini kujalani enggak salah, biarkan aku pulang dengan aman dan tidak terjadi apa-apa.” “Sampai aku balik, ternyata enggak terjadi apa-apa.

Ada yang bilang itu karena Tuhan sudah abai samaku. Tapi buatku sendiri itu jawaban dari apa yang aku rasain selama ini,” tambahnya.

Keluarga Zaki sangat religius. Abang tertuanya bahkan meyakni aliran Wahabi. “Mereka percaya bahwa mendengar musik itu perbuatan maksiat. Ponakan-ponakanku dilarang nonton dan dengerin musik. Bahkan aku ajak ke mal aja enggak boleh,” kata Zaki.

Zaki, kini menetap di Jakarta, tinggal satu rumah dengan keluarga abangnya. Kepada mereka, Zaki pelan-pelan berkata jujur tentang spiritualitasmenya. Ia tak lagi salat, berpuasa, dan menjalankan ritual Islam lainnya.

“Mereka tahu kok aku begini, tapi lebih ke denial. Kayanya mereka yakin ini tuh cuma fase, entar juga aku balik lagi,” kata Zaki, tertawa.

Namun, untuk saat ini, Zaki meyakini sudah susah melihat dirinya kelak kembali hijrah. Meski orang-orang di sekitarnya cenderung menyepelekan perjalanan spiritualnya, lambat laun Zaki mulai menerima hal itu. “Dulu, apa yang mereka harapkan ke aku itu memang bikin stres. Tapi, aku sendiri lebih tenang setelah keluar dari agama,” katanya.

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Narasi ‘Tidak Bermoral’

Di lingkungan yang memandang agama sebagai faktor penting, orang yang mengaku ateis dan agnostik cenderung mendapatkan stigma klasik seperti tidak bermoral, bejat, tidak bertanggungjawab, antisosial, dan sebagainya. Max memilih tidak terus terang kepada keluarganya. Pilihan Zaki dianggap keluarganya cuma gairah sesaat.

Ahmad Syarif Syechbubakr, yang meneliti kaum diaspora Hadrami di Palembang, pernah mengulas pandangan miring orang Islam kepada mereka yang tak beragama dalam kolomnya di Tirto.

Cantolan isunya sikap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern yang punya toleransi besar sekali setelah penembakan massal Masjid Al Noor, Christchurch. Syechbubakr menulis: Indonesia memang tidak mengenal toleransi beragama yang dilakukan oleh orang tidak beragama.

Ateisme dalam kacamata Islam konservatif di Indonesia lebih buruk ketimbang kafir, tidak juga mendapatkan tempat yang baik dalam Kristen dan Katolik.

Menurutnya, tak populernya toleransi tanpa agama di Indonesia setidaknya disebabkan oleh dua hal:

“Pertama, dominasi percakapan mengenai toleransi di Indonesia dipegang oleh tokoh dari tiga agama: Islam, Kristen dan Katolik. […] Kita menemukan toleransi dibicarakan di ruang publik dalam kaidah Alquran, Hadis, adab Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, Alkitab dan ajaran moralitas kasih Kristus—seakan-akan segala hal yang baik dan toleran adalah hak prerogatif agama monoteis.”
Dominasi ini, menurut Syechbubakr, mengakar kuat di dalam ideologi nasional Indonesia, yaitu Pancasila.

“Dari sini kita masuk ke masalah kedua, yaitu bagaimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa hanya memuat agenda agama-agama monoteis yang berpengaruh besar dalam perkembangan politik agama dan moralitas di Indonesia,” tulisnya.

Hal itu terlihat jelas dari perdebatan panjang apakah aliran kebatinan dianggap agama atau tidak, tambahnya. “Ini karena aliran kebatinan tidak memiliki konsep Tuhan yang tunggal, kerasulan dan kitab suci—kriteria yang disepakati oleh agama-agama monoteis.”

Menurut Syechbubakr, kebijakan negara kemudian mendukung dan mempromosikan masuknya agama sebagai faktor tunggal dari toleransi. Situasi ini didukung dengan konflik berdarah di mana Islam, Kristen, dan Katolik bahu-membahu bersama Orde Baru menghajar komunisme pada 1965. Sejak itu, komunisme selalu dicitrakan ateis, anti-agama, dan tidak bermoral.

Max, seorang agnostik dalam kisah ini, juga berkata kepada saya bahwa sejarah kelam Indonesia yang pernah bertindak keji terhadap kaum komunis berperan besar terhadap keberlangsungan hak-hak orang tak beragama di sini. “Orang-orang saking candunya sama agama bisa jadi sangat bias,” tambah Max.

Misalnya, ia pernah dijauhi beberapa teman kampus karena dianggap membawa pengaruh buruk. “Bahkan dulu pernah ada dosen yang sengaja manggil saya ke depan kelas untuk mempertanyakan pilihan iman saya. Tujuannya memang mau mengolok-olok.”

Di Indonesia, tak ada penelitian komprehensif yang dapat menggambarkan situasi yang dialami agnostik. Jumlahnya saja tidak ada yang mencatat resmi.

“Sebetulnya wajar karena agnostik biasanya memang tidak teroganisir seperti kelompok gereja atau muslim,” kata Max. “Keberadaannya saja masih dianggap ada dan tidak ada di sini. Nyaris seperti hantu.”

Max berkata, kalaupun kamu percaya ada orang agnostik di lingkunganmu, mungkin kamu lebih memilih menjauhinya.

Respons Pembaca

Sejak artikel ini dirilis, ada respons pembaca yang mengomentari pilihan redaksi Tirto memakai judul agnostik, menekankan bahwa kami keliru membedakan teis, ateis, agnostik.

Saya sebagai editor artikel ini berpendapat bahwa pilihan kami memakai judul agnostik sudah tepat: sumber yang berkata dirinya agnostik mengeksplorasi "konsep" Tuhan, bukan tuhan itu sendiri.

Definisi agnostik yang kami tulis juga sudah terserap dan diterima dalam percakapan sehari-hari. Bila memakai definisi yang sama persis, yakni teis yang tidak percaya agama tidak bisa disebut teis melainkan deis, maka ateisme pra-saintifik ini sudah punah sejak abad 18.

Menurut saya, proses-proses orang meneguhkan iman atau menggugat iman itu kompleks; ia tak bisa seketika dikurung dalam definisi yang literal, yang serba solid. Ia harus melibatkan keterbukaan, termasuk mengizinkan subjek mendefinisikan keimanan dan kesadarannya sendiri.
Dua narasumber dalam artikel ini menyebut dirinya agnostik.

Pembaca yang kritis atas artikel ini datang dari akun Facebook Shinte Galeshka. Ia mendefinisikan agnostik sebagai orang yang menolak klaim tanpa bukti soal keberadaan makhluk supranatural, umumnya tak beragama walau ada yang menikmati agama sebagai fenomena budaya.

Ia berkata beda utama antara teis/ateis mendasarkan diri pada percaya, sedangkan agnostik pada proses pembuktian, bukan kepercayaan.

Sementara ada pembaca lain bernama Oni Suryaman yang membagi pandangannya secara panjang-lebar ke email redaksi. Hanya penjelasan paling utama dari dia yang saya rangkum di sini, sementara pengertian-pengertian khusus, hemat saya, bisa dicari pembaca sendiri via internet.

Oni berpendapat istilah agnostik yang kami pakai dalam artikel ini "agak tidak tepat" jika mengacu pada kamus.
Ia menilai, sebagai non-literalis, hal itu tidak ada salahnya; banyak orang berpahaman seperti itu melabeli diri agnostik.

Pengertian agnostik dalam artikel ini banyak berkembang dan dipakai di Indonesia.

Oni mengutip Richard Dawkins dalam The God Delusion (2006) yang membagi spektrum teis-ateis sebagai berikut:
- Strong theist. (100% percaya tuhan.)
- De facto theist. (Sangat percaya tuhan tapi tidak sampai 100%)
- Leaning towards theism. (Lebih tinggi tapi tak terlalu dari 50%)
- Completely impartial. (50%; agnostik)
- Leaning towards atheism. (Lebih rendah tapi tak terlalu dari 50%)
- De facto atheist. (Nyaris nol)
- Strong atheist. (Enggak percaya tuhan sama sekali)

Berbeda dengan tetapi memakai pendekatan seperti Dawkins, Oni membagi spektrum teis-ateis pada praktik keberagamaannya ketimbang iman kepercayaan. Gradasinya adalah sebagai berikut :

- (Mono)teisme = Agama monoteis
- Politeisme = Tuhan tidak tunggal, tidak juga harus personal
- Non-institusional teisme/teisme kultural. (Oni menyebut "mungkin ini konsep paling tepat untuk menggambarkan agnostisisme" seperti dalam artikel di atas; menjauh dari institusi agama resmi, berpandangan progresif.)
- Spiritualis. (Menjauhi doktrin-doktrin agama, khususnya monoteistik.)
- Agnostik. (Tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak, atau aku tidak peduli apakah Tuhan ada atau tidak.)
- Atesime. (Tuhan memang tidak ada.)

==== Terima kasih kepada Windu Jusuf yang terlibat menyusun respons pembaca.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
iamputrabagus dan 38 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 6
SUMBER DARI SINI : https://kask.us/iHo6K
Thanks to agan @novaajinugroho

Banyak yang Salah Kaprah! Ini 7 Perbedaan Antara Atheis vs Agnostik

Permasalahan keyakinan emang sedang jadi permasalahan gawat darurat di negeri tercinta ini. Banyak orang orang pandai ngomongin persoalan ketuhanan tapi jusrtu bodoh ngomongin persoalan kemanuasiaan. Toleransi menjadi kata baku yang sulit di tegakkan di negara ini. Banyak orang sensitif atau banyak orang yang tidak dewasa, di negri ini.

Nah bicara soal keyakinan, kali ini ane bicara soal perbedaan artheis dan agnostik. Banyak yang tidak tahu kedua keyakinan ini ternyata sangat berbeda. Menurut data ada sekitar 14% didunia ini yang tidak menganut keyakinan. ini menarik unutk dibahas, bagaimana mereka berfikir dan bagaimana mereka memiliki sudut pandang dan ini perbedaan mereka:

1. Keberadaan Tuhan
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Bagi orang yang berkeyakinan Agnostik, kepastian soal adanya Tuhan itu sangat susah dibuktikan secara sains. Karena itu mereka memilih untuk berdiri di garis tengah. Tidak serta merta menolak, namun juga tak segampang itu percaya.

Beda dengan kaum Ateis. Bagi mereka, Tuhan itu sangat tidak mungkin ada di dunia. atau jelas nya mereka tidak percaya dan menolak keberadaan akan tuhan. Keyakinan ini paling banyak di cina.

2. Cara pandang dalam melihat tentang kehidapan
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

kedua keyakinan ini memiliki kesamaan. Sama-sama tak menggantungkan diri pada uluran tangan Tuhan. Meskipun intinya kedua kepercayaan ini punya sedikit perbedaan soal eksistensi Tuhan, namun keduanya punya satu kesamaan. Baik Agnostik maupun Ateis percaya bahwa manusia sendiri lah yang bertanggung jawab atas dirinya. Bukan campur tangan entitas omnipotent (berkuasa melakukan apapun dengan kekuatan tak terbatas) yang tak kasat mata.


3. Kepercayaan setalah kematian
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Kedua kepercayaan ini punya pendangan yang berbeda. Karena memang tak menyembah Tuhan, maka kaum Ateis juga tidak mempercayai kehidupan setelah kematian.

Hal ini sedikit berbeda dengan untuk kaum Agnostik. Mereka lebih fleksibel soal ini, namun tetap saja mereka nggak begitu peduli.


4. Pegangan hidup
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

kaum Agnostik itu bersifat logis dan mengedepankan ilmu pengetahuan. Namun mereka percaya bahwa pengetahuan soal hal-hal yang bersifat spiritual itu belum bisa diketahui dengan pasti oleh manusia dengan teknologi saat ini.

Berbeda dengan kaum Atheis. A yang terarti ‘tidak’ dan Theis yang berarti ‘Tuhan’ . Jelas-jelas membuat kaum Atheis yakin betul bahwa Tuhan memang nggak ada.


5. Jenis- jenis kepercayaan agnostik dan artheis
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Kepercayaan kaum Agnostik masih bisa ada variasinya, sedangkan Ateis tidak ad.
Yang harus kamu tahu, Atheis cuma punya satu pilihan. Mereka nggak percaya adanya zat serba Maha bernama Tuhan.

Nah kalau Agnostik berbeda. Kaum Agnostik ada yang percaya dan mengikuti ajaran suatu agama, namun tetap tak benar-benar yakin soal Tuhannya. Namun ada juga yang tak percaya ritual agama sama sekali.

6. Eksistensi Tuhan
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Sederhananya kaum agnostik, karena memang percaya bahwa manusia harus menentukan takdirnya sendiri, kaum Agnostik tak begitu peduli soal apakah Tuhan itu ada atau tidak. Yah, bisa dikatakan nggak penting-penting amat gitu bagi hidup mereka.

Berbeda sama kaum Ateis. Paham mereka yang menolak adanya zat Maha bernama Tuhan ini membuat mereka berada di posisi yang jelas menentang eksistensi Tuhan.


7. Penganut kedua keyakinan ini banyak orang pintar dan terkenalnya
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Adakah nama-nama di atas yang kalian kenal? Nah list nama itu masih sebagian saja loh ya. Sebenarnya masih banyak lagi orang-orang terkenal dunia yang tak menyembah Tuhan secara spesifik.

Pembicaraan soal keyakinan, belakangan sangat menarik dan menjadi topik yang paling banyak didiskusikan di media sosial. Meskipun terkadang pembicaraan soal pandangan agama ataupun keyakinan bisa menimbulkan konflik, namun tetap saja topik ini tak pernah membosankan untuk dibicarakan.

Selain agama, ada pula kepercayaan-kepercayaan yang diyakini. Salah duanya yang sering kamu dengar adalah agnostik dan atheis. Apa pengertian agnostik dan atheis serta perbedaannya? Popbela sudah merangkumnya untuk kamu. Simak, yuk.

Pengertian kepercayaan agnostik
Apa itu Agnostik dan Atheis? Ini Arti dan Perbedaan Keduanya Dok. Internet
Secara etimologi, agnostik berasal dari bahasa Yunani, yakni gnostik yang berarti mengetahui atau pengetahuan dan a yang berarti tidak. Jadi secara harafiah, agnostik memiliki arti tidak mengetahui. Namun secara definisi, agnostik adalah suatu pandangan atau kepercayaan bahwa ada atau tidaknya Tuhan merupakan sesuatu yang tidak diketahui.

Menurut plato.stanford.edu, mereka yang mempercayai agnostik butuh alasan ilmiah yang jelas untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Penganut agnostik percaya bahwa ada kekuatan lain yang lebih besar dari Tuhan yang bisa dibuktikan secara ilmiah, yakni alam semesta.

Banyak orang menyamakan agnostik dengan kepercayaan atheis. Padahal keduanya adalah kepercayaan yang sama sekali berbeda. Pengertian atheis akan dijelaskan pada poin berikut ini.

Pengertian atheis
Apa itu Agnostik dan Atheis? Ini Arti dan Perbedaan KeduanyaDok. Internet
Secara umum, atheis adalah pandangan yang tidak memercayai adanya Tuhan atau menolak keberadaan Tuhan. Merangkum dari atheists.org, ada dua jenis atheis. Yakni, atheis gnostik dan atheis agnostik. Atheis gnostik adalah pandangan yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan mereka bisa membuktikannya. Sementara atheis agnostik adalah pandangan yang tidak memercayai adanya Tuhan tapi tidak dapat membuktikannya. Para atheis bahkan beranggapan, Tuhan hanyalah alat pemersatu manusia.

Bagi mereka yang menganut atheis, keberadaan manusia di bumi tidaklah terjadi begitu saja. Manusia ada di bumi karena proses metafisika dan alamiah yang terjadi secara berkesinambungan dan merupakan bagian dari alam semesta. Mereka yang menganut atheis tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian. Sebab, bagi mereka, manusia atau makhluk yang mati berarti proses metafisika dan alamiah mereka telah selesai.

Perbedaan agnostik dan atheis
Dari dua penjelasan yang telah Popbela tulis di atas, terlihat perbedaan yang cukup jelas antara agnostik dan atheis. Perbedaan dasar antara agnostik dan atheis adalah agnostik masih memercayai adanya Tuhan jika mereka bisa membuktikan keberadaan Tuhan secara ilmiah. Jika pun ada Tuhan, para penganut agnostik percaya Tuhan hanya satu dan tak ada agama yang membedakannya.

Sementara itu penganut atheis berpandangan bahwa tidak ada Tuhan dan menolak keberadaan Tuhan. Karena bagi mereka, alam semesta (termasuk manusia di dalamnya) merupakan proses alamiah yang terjadi dalam waktu yang sangat panjang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suteragordyn dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rs2006
Kisah Pindah Agama: 'Kegelisahan Iman itu Normal'

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Ilustrasi Pindah Agama. tirto.id/Lugas Oleh: Aulia Adam - 8 Agustus 2019

Cerita perjalanan spiritual di negara yang orang-orangnya suka bertanya: Kamu agamanya apa?

tirto.id - Ely sesenggukan mengisahkan ibunya yang sakit, “Kasihan Nenek. Umurnya mungkin enggak lama lagi tapi dia harus ngalamin ini.”

Ibunya, yang ia panggil Nenek, berusia 80 tahun. Dua tahun terakhir Nenek sakit-sakitan. Kepayahan berjalan. Kakinya ngilu. Pinggangnya nyeri. Beberapa kali masuk rumah sakit, dokter cuma bilang penyakitnya adalah penyakit orang tua.

Nenek memutuskan tinggal bersama Ely, anak bungsunya. Nenek menjual rumahnya karena enggan tinggal sendiri dan kesepian. Membagi hasil penjualan rumah-memuat-kenangan-lebih-dari-50-tahun kepada empat anaknya, menyisihkan sedikit untuk disimpan—jaga-jaga buat pesta pemakaman.

Ely menyambut Nenek dengan gembira, betapapun keputusan itu jauh lebih kompleks dari kelihatannya.

Pertama, ia harus minta izin suaminya—dan ini bukan perkara mudah. Nenek dan suami Ely tidak terlalu akur meski mereka terlihat bertegur sapa saat tinggal di satu atap.

Kedua, Nenek beragama Kristen, sementara Ely dan keluarganya beragama Islam. Ini perkara lebih kompleks. Selain kepada suami, Ely harus mengantongi izin tiga saudara kandungnya yang beragama Kristen. Singkat cerita, Nenek tinggal bersama Ely selama enam-tujuh bulan, sebelum konflik itu datang.

Ely cekcok dengan suaminya. Sang suami yang religius merasa risih dengan mertua beda agama. “Mungkin dia juga masih dendam karena pada awal-awal pernikahan kami sering dapat perlakuan enggak enak dari Nenek,” kata Ely.

Nenek yang tahu diri akhirnya pamit ke rumah abang Ely.

Sayangnya, hubungan Ely buruk dengan abangnya. Jadi, ia cuma beberapa kali mengunjungi Nenek terutama ketika ibunya dibawa ke rumah saudaranya yang lain.

Sejak memutuskan pindah agama pada usia 20 tahun, dan sebentar lagi merayakan usia ke-49 pada tahun ini, perjalanan spiritual Ely bukanlah bak jalan tol yang mulus melainkan seperti air laut—bergelombang; pasang dan surut. Sebelum masuk Islam dan menikah, Ely kabur dari rumah, dua tahun tak pernah bertemu Nenek sampai anaknya pertama Ely berusia enam bulan.

Meski akhirnya berbaikan, permasalahan beda agama sering memantik konflik. Pada awal-awal pernikahan, suaminya melarang Ely berlama-lama jika bertandang ke rumah Nenek. “Enggak baik. Kita sudah beda agama. Nanti ibadahmu susah, makanmu juga mesti dijaga,” kata Ely, mengulangi nasihat suaminya bak doktrin bertahun-tahun.

Konflik itu tak cuma antara Ely dan orang terdekatnya tapi dengan batin sendiri. Satu dekade kemudian, anak sulungnya pernah menemukan Ely pingsan sehabis salat magrib. Ely selalu menangis sampai lemas, tak sadarkan diri, bingung bagaimana mendoakan mendiang ayahnya yang baru saja meninggal.

Ayah mertua Ely yang seorang muslim pernah berkata doa seorang muslim tak akan sampai kepada orang selain Islam.

Ely gelisah. Sulit membayangkan ayahnya yang Kristen akan diperlakukan sebagaimana keyakinannya yang baru memperlakukan orang selain Islam. Ely meyakini ayahnya orang baik. “Dia pendiam, enggak pernah marah. Orang paling lemah lembut,” kata Ely.

Secara spiritual, ia meyakini janji-janji Allah dalam Alquran dan, demi menenangkan diri, ia percaya Tuhan itu Mahabaik.

Kegundahan spiritual itu lama dipendamnya. Ia takut bertanya kepada ustaz atau ustazah karena cemas mendengar jawaban yang tak ingin didengarnya. Maka, diam-diam, ia meyakini “Tuhan itu Mahabaik.” Menyerahkan urusan sampai-atau-tidaknya doa yang ia panjatkan untuk mendiang ayahnya kepada Tuhan semata.

Pindah Agama adalah Perjalanan yang Sepi

Meski keputusan pindah agama tiga dekade lalu membawa persoalan dalam keluarganya, tapi Ely tak pernah menyesal masuk Islam. Ia mengimani agama Nabi Muhammad itu tanpa ragu. Buatnya, “Islam memang cara hidup paling cocok.”

Hal itu juga dirasakan Lukman yang memeluk Islam pada 2017. Pria 35 tahun ini pindah agama Islam saat bujangan karena merasakan “panggilan” dari dirinya. Ia mengenal ajaran Islam lewat institusi sekolah negeri sejak kecil tapi baru memutuskan mendalaminya pada 2014.

Ada “konflik-konflik di gereja” yang bikin Lukman gelisah dan mempertanyakan keyakinanannya. “Saya pernah melihat pendeta yang menghakimi jemaatnya di depan umum,” katanya.

Meski giat dalam pelayanan di gereja sejak SMP hingga kuliah, Lukman diam-diam melakukan perjalanan spiritualnya. Saat tinggal di Malang, Jawa Timur, ia mulai mengikuti kajian Cak Nun, bahkan sering mampir ke Jombang, kabupaten di Jawa Timur tempat pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Emha Ainun Nadjib, nama lengkap Cak Nun, rutin mengadakan maiyah—semacam pengajian budaya atau ‘kenduri cinta’—ke pelbagai kota termasuk di Jombang, tempat kelahiran Cak Nun.

“Almarhum Papa dulu nge-fans sama Cak Nun. Dari beliau saya tahu Cak Nun dan cocok saja dengan ceramah-ceramahnya,” tambahnya.

Sang ayah sempat pindah agama dari Protestan ke Katolik, lalu ke Islam sebelum wafat. Dari sang ayah, Lukman merasakan dukungan. Tak pernah takut ditinggal keluarga.

Meski begitu Lukman masih belum memberitahu ibu dan saudara-saudaranya. “Tahun ini Lebaran kedua setelah mualaf. Tapi, aku masih belum siap saja untuk mereka tahu,” katanya.

Baginya, beragama adalah urusan pribadi. Ia tak ingin ada konflik tak perlu jika sampai harus melela atau membuka diri kepada ibunya. “Mungkin suatu hari nanti saya bakal bilang. Tapi, belum sekarang.”

Hal sama dirasakan El. Sudah dua tahun terakhir ia pindah agama dari Islam menjadi pemeluk Buddha. Namun, ia masih takut memberitahu keluarganya. Bahkan kolom agama di KTP dia masih tertera Islam.

El sesekali masih salat, melakukan ritual ibadah lain karena masih tinggal bersama orangtuanya. Ia sadar pindah agama di Indonesia bukan perkara mudah. Risiko kehilangan keluarga kandung sangat besar. Jadi, untuk sementara, ia harus betah merahasiakan perjalanan spiritualnya, bahkan dari orang-orang terdekat.

“Perjalanan spiritual itu sebetulnya urusan sangat pribadi. Jadi, mungkin memang harus sepi rasanya,” El tertawa.

Perang Batin

Merahasiakan diri sebagai Buddhis bagi El sebetulnya bukan masalah-masalah amat. Dalam ajaran Buddha yang ia yakini, merahasiakan identitas agama bukan perbuatan buruk demi menjaga harmoni.

Pada 2015, ketika mempelajari Buddhisme, El mengunjungi sebuah wihara di Yogyakarta, kota tempatnya tinggal dan dibesarkan. El bertemu sejumlah teman yang memutuskan menjadi Buddhis setelah melepas Islam. Seorang bapak, yang ia lupa namanya, menyampaikan pesan yang terus diingatnya.

Bapak itu tak pernah betul-betul mengajak El menjadi Buddhis. “Kamu terserah mau jadi Buddhis apa enggak, tapi ada empat hal yang harus kamu pelajari.

“Pertama, jangan menghina gurumu yang sebelumnya. Kedua, jangan menjelekkan agamamu sebelumnya. Ketiga, jangan sungkan untuk mempelajari agama lain—jadi, jangan berhenti hanya di Buddhisme, cobalah ajaran agama yang lain, mana tahu kamu lebih nyaman dengan agama tersebut. Dan yang terakhir, kalau misalnya kamu menjalankan tradisi kemusliman untuk menjaga keharmonian—supaya tidak terjadi chaos—ya sudah jalani saja."

“Aku pegang prinsip itu dan itu juga yang bikin aku yakin. OK, Buddhisme pilihan yang tepat,” ujar El.

Meski begitu, perjalanan spiritual El menjadi Buddhis tidak terjadi satu malam.

Sejak kelas 6 SD, ia mempertanyakan orientasi seksualnya. Besar di keluarga muslim membuatnya dihantui pikiran bahwa ia membawa dosa besar. Dalam Islam, lelaki hanya boleh menyukai perempuan. Orientasi seksual dalam diri El memantik banyak pertanyaan spiritual, seperti: “Apakah betul Tuhan menciptakan saya cuma untuk dihina dan dicaci seumur hidup lalu dibakar di neraka setelah mati?”

Sekitar 2011, saat kelas dua SMA, El mulai lelah dengan pertanyaan macam itu. Ia mencoba mengenal dirinya sendiri. “Aku mulai mencari tahu apa itu homoseksualitas, apa itu gay. Dan menemukan banyak penelitian yang menyebut bahwa ini bukan kelainan.”

Sejak itu ia mempertanyakan agamanya, “Kenapa ada banyak narasi-narasi kebencian dalam agama yang harusnya membawa kebaikan?” El mulai mengenal istilah ateisme dan agnostik tapi ia masih percaya Tuhan itu ada.

Saat masa perkuliahan, ia mendalami sejarah agama. Suasana lebih terbuka membuatnya lebih nyaman menerima orientasi seksualnya. Ia mulai membongkar dogma-dogma moral, stereotip dalam lingkungan sosial termasuk dalam agama. Ia sempat tertarik mempelajari Katolik hingga akhirnya berlabuh pada ajaran Buddha.

Pindah Agama karena Menolak Ekstremisme
Wira punya kisah lain saat pindah agama dari Islam menjadi Buddhis.

Ia dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama di daerah pantai utara Jawa. Dari kecil, ia rajin sekali mengikuti pelbagai kegiatan keagamaan dan menikmati menjadi bagian keluarga besar muslim NU.

Namun, ketika SMA, ada satu pengajian dari organisasi keagamaan di sekolahnya yang mengubah perasaan itu. Organisasi itu datang dari luar sekolah dan mengajarinya hal-hal baru, “tidak seperti cara beragama orang NU.”

Wira berkata sekumpulan orang di organisasi itu sangat pandai membawakan narasi keagamaan dengan menyodorkan teks-teks Alquran dan hadis yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dari guru mengajinya di kampung. Ia diperkenalkan wacana-wacana radikal, seperti: “Kafir halal darahnya”, “Kristenisasi”, “Amerika dan Yahudi biang keladi semua kekacauan dunia”, “Umat muslim di berbagai dunia dizalimi”, “Islam di Indonesia itu tidak murni”.

“Sejak aktif mengikuti kegiatan itu, keislaman saya jadi agak keras,” ujar Wira.

Wujudnya, ia menolak bersalaman dengan lawan jenis, bercelana cingkrang, mulai mengutarakan secara verbal tentang amaliah orang NU sebagai sesuatu yang bidah. Mulai menggeneralisasi orang NU. “Dan, saya menjadi benci dengan orang yang di luar agama saya,” katanya.

Memasuki masa kuliah, Wira mulai merasa ada yang salah pada dirinya. Meski rajin ibadah, ia merasa kosong dan kering. Pada masa-masa itu pula politik di Indonesia menghadapi kekerasan mengatasnamakan agama oleh kelompok radikal Islam.

Wira mulai merenung: Apakah beragama harus seperti itu?

Ia mulai bertualang. Membuka diri untuk mengenal agama lain. Sempat mencoba membuka diri kepada Protestan dan Katolik, tapi akhirnya Wira terpuaskan dengan jawaban-jawaban dari Buddhisme. Ia sudah tak lagi ke masjid, melainkan ke wihara meski belum di-visuddhi—mendeklamasikan diri sebagai pemeluk Buddha.

Gejala Pindah Agama di Indonesia
Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Dalam sensus terakhir di Indonesia, Buddha adalah satu dari enam “agama resmi” dengan pengikut hanya 0,61 persen atau sekitar 1,5 juta jiwa. Urutan pertama tentu saja Islam, dengan 88 persen pengikut atau setara lebih dari 200 juta jiwa.

Sensus penduduk berdasarkan agama terakhir kali dilakukan pemerintah Indonesia pada 2010—ia dianggap terlalu sensitif; hal sama untuk sensus etnik. Isu agama dan etnik adalah isu politik.

Selama dua dekade setelah pemerintahan Soeharto, terjadi beragam kekerasan komunal berbaju agama dan etnik, lalu terorisme, lalu kekerasan terhadap agama minoritas terhadap Ahmadiyah dan Syiah. Dalam lima tahun terakhir, mobilisasi politik dengan sentimen agama dan etnik juga naik—dari pemilihan kepala daerah di Jakarta hingga pemilihan presiden. Meski begitu ada preseden bagus: negara mengakui penghayat kepercayaan berhak mengosongkan kolom agama di KTP sehingga bisa mengurangi diskriminasi seperti melamar pekerjaan, menikah, dan mengakses layanan publik lain.

Dalam sejarahnya, peristiwa politik besar di Indonesia pernah merembet sebagai gejala sosial pindah agama pada 1960-an.

Avery Willis, Jr, misionaris Gereja Baptis di Bogor dan di Jember pada 1964, pernah menelusuri alasan orang berpindah agama menjadi Kristen yang saat itu terjadi amat masif di Jawa. Dalam Indonesian Revival: Why Two Million Came to Christ, Willis mencatat pada 1945 anggota jemaat di lima denominasi Protestan di Jawa hanya 60.000 orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlahnya naik menjadi 90.000 orang dan pada 1960 menjadi 95.000 orang. Pada 1965, ada kenaikan drastis menjadi 200.000 orang.

Dari 551 responden yang diwawancarai Willis, ada 270 orang di antaranya yang berpindah agama.

Willis mengemukakan orang yang beralih keyakinan ke Kristen itu kebanyakan dari komunitas abangan—kerap keliru diidentifikasi dekat dengan kelompok kiri. Respondennya menyebutkan kaum abangan sering dituduh ateis. Risikonya mereka gampang dilabeli “komunis.” Mereka menyebut peran para aktivis Islam dalam pembantaian 1965-1966 sebagai alasan berpaling dari penganut “Islam nominal”–sekarang setara istilah “Islam KTP.”

Sejarah itu punya bekas yang dalam, meski tak semua orang melihatnya. Pindah agama tak pernah menjadi perkara sederhana di negeri ini.

KTP Wira masih bertuliskan Islam. Tapi, dalam hati, ia mengakui Buddha sebagai Sang Guru Agung. Memberitahu orangtua atau orang-orang terdekat tak pernah mudah di Indonesia. “Karena saya tahu akan banyak hal yang tidak enak (terjadi) jika saya ungkap ini,” ujar Wira.

‘Kegelisahan Iman itu Normal’

Belakangan ini Ely, yang pindah dari Kristen ke Islam, khawatir terhadap anak sulungnya. Sudah lima tahun terakhir ia tahu putranya tidak salat. Meski selalu menjawab “Ya” saat dinasihati “jangan lupa salat”, Ely tahu putranya tak sama lagi.

Sejujurnya, Ely takut membayangkan putranya bukan lagi muslim. Ia bisa sedih jika orang yang membopong jasadnya kelak ke liang lahat bukanlah si sulung.

Ely paham perjalanan spiritual bersifat privat. Itu sebabnya ia tak pernah memaksa anaknya untuk mempelajari Islam meski mudah bagi seorang ibu, jika ia ingin, menyekolahnya anak-anaknya ke pesantren atau pengajian khusus demi mendorong anak-anak lebih saleh dari orangtuanya—gejala lain di kalangan keluarga kelas menengah Indonesia.

Namun, Ely meyakini tak ada yang baik dari pemaksaan. “Akan lebih indah kalau itu semua datang dari nurani sendiri,” tambahnya.

Meski begitu, jika boleh berharap, ia enggan anak-anaknya pindah agama. Berdasarkan pengalamannya, pindah agama bukan urusan mudah. “Apalagi di Indonesia,” tambahnya.

Melompat dari agama minoritas ke agama mayoritas bikin Ely sadar menjadi kelompok minoritas tak akan pernah mudah.

El, yang menjadi Buddhis, merasakan hal sama. Aktivis pembela kelompok rentan ini sadar betul tantangan menjadi minoritas di Indonesia. Saat masih memeluk Islam, ia tak betul-betul menyadari privilese-privilese yang ia dapatkan.

“Tapi, jadi minoritas itu emang punya perasaan inferior. Lebih mudah untuk berkompromi dan enggak terlalu ngotot,” kata El.

Hal itu yang membuat El, Wira, dan Lukman masih belum nyaman untuk menceritakan perjalanan spiritualnya, bahkan kepada keluarga sendiri. Mereka memutuskan memakai nama samaran untuk artikel ini. Tak semua orang seberani Ely dan siap dengan risiko-risiko setelah melela.

Dari pengalaman mereka, kita mungkin bisa memetik ungkapan Wira bahwa “banyak orang di luar sana”—yang pindah agama—memiliki cerita sama dengan dirinya.

“Kegelisahan iman itu normal. Dan mengeksplorasi berbagai tradisi keagamaan dan spiritualitas itu bukan dosa,” ujar Wira.

(tirto.id - Indepth)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rs2006
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Berita Pindah Agama Cenderung Menyudutkan Penganut Agama Minoritas

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Ilustrasi: Selebritas pindah agama.tirto.id/Lugas

Berita pindah agama di Indonesia cenderung sensasional.

tirto.id - “Apa yang paling sering disalahpahami orang Indonesia tentang Buddhisme?” tanya saya.

“Konsep Ketuhanannya. Sering kali orang-orang ketika mengkaji konsep ketuhanan Buddhisme masih sering membawa konsep tuhan Samawi, konsep tuhan Abrahamik, yang sangat personal. Jelas enggak masuk,” jawab El, aktivis pembela kelompok rentan di Yogyakarta, yang pindah ke Buddhis dari Islam pada 2017.

Penganut Buddhisme, sederhananya, tidak percaya konsep Tuhan yang memiliki sosok seperti pada agama Abrahamik.

“Kami mengaku ada ketuhanan. Kami mengakui suatu energi besar di mana kami harus kembali ke situ. Kami mengakui ada sesuatu yang kekal, mengakui ada sesuatu yang tidak tercipta, mengakui ada sesuatu yang beyond everything,” jelas El. “Tapi bukan berarti Dia mengatur, bukan berarti Dia menciptakan, bukan berarti Dia sosok yang kita sembah.”

Pindah agama dari kelompok agama mayoritas ke kumpulan minoritas membikin El mafhum rasanya disalahpahami. Di Indonesia, Buddha termasuk “agama resmi” yang penganutnya sedikit, cuma 0,16 persen atau 1,5 juta jiwa dari total penduduk, menurut sensus agama terakhir pada 2010.

Meski tak ada data resmi, kebanyakan anak-anak Buddhis belajar tentang agamanya di rumah sendiri sebab minim diajarkan di sekolah, tak seperti pendidikan Islam atau Kristen. Wajar belaka jika serba-serbi muslim lebih sering menjadi pengetahuan umum ketimbang Buddhisme.

Menjadi minoritas juga mengajari El untuk bersikap lebih kompromi.

Pernah satu kali wihara tempatnya beribadah didatangi seorang bapak, tetangga di lingkungan sekitar, yang mengamuk dengan dalih mobilnya baret, menuduh pelakunya adalah salah satu jemaat wihara. Terjadi cekcok. Si tetangga itu membawa pukulan besi. Salah satu kawan El terluka tangannya.

Singkat cerita, tuduhan itu tak bisa dibuktikan tapi Pak RT yang melerai meminta wihara memberi uang ganti rugi dan memasang CCTV agar kejadian serupa tak terulang. Alasan Pak RT, “pihak wihara mengalah saja daripada ribut-ribut.”

Dari lubuk hati, El tahu penyelesaian itu tidak adil. Tapi, kebanyakan kawannya dan jemaat akhirnya setuju dan legawa. “Seringkali teman-teman itu beranggapan, ‘Sudahlah enggak usah macam-macam. Kita minoritas ini’.”

“Kebanyakan juga takut berujung kayak kasus Ibu Meiliana yang di Sumut itu, takut wihara sampai dibakar,” kenang El merujuk peristiwa kekerasan berbalut agama di Tanjungbalai pada 2016.

Lantas, apakah perasaan inferior ini muncul karena tekanan mayoritas? Muncul sebagai siasat bertahan?

“Bisa jadi memang konsep inferior dan enggak umbar-umbar itu karena tekanan mayoritas. Aku enggak bisa bilang gitu karena aku enggak punya data banyak. Tapi, ada potensi itu. Bisa jadi,” terka El.

Situasi mementingkan harmoni dan mengorbankan banyak hal membikin El masih merahasiakan identitasnya sebagai Buddhis kepada keluarga. “Aku enggak mau menciptakan chaos. Karena kabar itu pasti akan jadi chaos di keluargaku,” tambahnya.

Menurut El, diskusi tentang mayoritas dan minoritas itu seharusnya bisa ditengahi media dengan cara lebih dingin. “Media kita belum banyak yang bijak meliput topik begini, makanya kelompok minoritas makin inferior, bahkan cenderung enggak merasa aman,” ujarnya.

Salah satu faktor yang membuat situasi macam itu langgeng adalah logika mayoritas yang sering kali dipakai media untuk menghakimi kelompok minoritas, menurut El.

Menulis Sensasional

Dua bulan belakangan isu pindah agama kembali jadi kepala berita. Dua selebritas menjadi pemantiknya. Pembawa acara Deddy Corbuzier masuk Islam, tak lama kemudian selebgram Salmafina Sunan dikabarkan memeluk Kristen.

Akun @_jadigini dan peneliti media Wisnu Prasetya melakukan riset kecil-kecilan terkait pemberitaan pindah agama itu. Sampelnya 10-15 berita yang diambil secara acak selama sepekan.

Temuannya, media-media daring memberitakan Salmafina dengan kata kunci “kontroversi”, “terbongkar”, dan “pengakuan”. Salmafina digambarkan negatif seakan tindakannya keliru, bahkan masa lalu dan pilihannya melepas jilbab jadi sorotan.

Sementara Corbuzier digambarkan sosok yang “mendapatkan hidayah” bukan karena pengaruh orang lain dengan kata kunci “orang baik”,“hidayah”, dan “bela kaum marjinal”. Ia dibingkai sebagai orang merdeka dan berhak menentukan pilihannya sendiri.

Dugaan Wisnu, media sengaja menjual sensasi dari berita itu karena selalu berhasil mengundang jumlah trafik.

“Isu agama sedang dan masih lama akan jadi isu sensitif di Indonesia,” kata Wisnu. “Menulis berita pindah agama dengan cara sensasional hanya akan memberikan amunisi bagi kelompok-kelompok konservatif agama.”

Dampak dari pemberitaan macam itu bisa besar, menurut Wisnu. Berita pindah agama yang sensasional “meskipun bisa jadi tidak politis dan hanya menulis for the sake of sensationalism itu sendiri” bisa menjadi lahan kering yang mudah dibakar, tambahnya.

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Media Memberitakan Pindah Agama: Boleh atau Tidak?

Lalu, apakah solusinya media dilarang menulis cerita pindah agama?

Komisi Penyiaran Indonesia melalui Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran mengatur agar media tidak menyiarkan berita soal alasan kepindahan agama seseorang. Pasal 7d berbunyi: Tidak menyajikan alasan perpindahan agama seseorang atau sekelompok orang.

Aturan itu berlaku buat media televisi dan radio. Sementara untuk media cetak/daring belum diatur di Dewan Pers, sebatas menyangkut SARA: Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan SARA serta menganjurkan tindakan kekerasan

Wakil Ketua KPI Pusat Bidang Pengawasan Isi Siaran Nuning Rodiyah mengingatkan tayangan soal pindah agama harus mengedepankan penghormatan terhadap pelbagai agama di Indonesia. Plus, penghormatan terhadap ruang asasi setiap individu untuk beragama.

“Jika ada program siaran dengan materi proses perpindahan agama harus menyesuaikan dengan nilai-nilai yang ada dalam Pedoman,” ujarnya.

Berita yang terlalu detail mengungkap perpindahan agama seseorang berpotensi mendiskreditkan agama sebelumnya, kata Wakil Ketua KPI Pusat Sujarwanto Rahmat Arifin. “Larangan ini berlaku untuk semua perpindahan agama,” ujarnya.

Menurut KPI, ketika media berlebihan menyorot keputusan seseorang pindah agama, muncul risiko sikap membandingkan antara agama satu dan lainnya dari pemirsa.

Wisnu Prasetya memandang bahwa wajar saja media memberitakan topik ini apalagi yang diberitakan memang tokoh. “Problemnya,” ia menegaskan, “ada pada bagaimana cara memberitakannya.”

Menurutnya, memang agak susah untuk mematok batasan atau sekat-sekat definitif. Namun, kode etik jurnalistik dan Pedoman KPI sudah cukup, meski sangat normatif. Beberapa batasan yang perlu diperhatikan media adalah menghormati privasi, tidak mengangkat hal-hal sensasional, dan sebagainya.

“Di kode etik jurnalistik sebenarnya sudah cukup jelas, seperti di pasal 3, 8, dan 9,” kata Wisnu.

Pasal-pasal dalam kode etik itu memuat, di antara hal lain, wartawan tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi (pasal 3), tidak menyiarkan berita berbasis prasangka atau diskriminasi atas dasar perbedaan agama (pasal 8), menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya (pasal 9).

Selain aturan dan pemantauan yang perlu diperketat, Wisnu menilai pelatihan kepada jurnalis juga penting mengenai isu agama yang memang butuh kepekaan tersendiri.

Namun, dalam isu pindah agama, Wisnu menilai media tidak kekurangan wartawan yang memiliki wawasan menulis, melainkan berita itu, apalagi jika menyangkut subjek selebritas, dianggap seksi dan menjual.



Kasus ini tak cuma di Indonesia. Perkara sensitif orang pindah agama—perkara yang sebetulnya sangat privat—juga jadi perhatian di media Amerika Serikat. Problemnya soal keberagaman di level editor dan reporter.

Kebanyakan editor dapur redaksi di AS adalah laki-laki dan berkulit putih sehingga besar pengaruhnya terhadap suara orang-orang minoritas yang sering tenggelam di media arus utama.

“Homogenitas adalah masalah besar dalam industri yang ambisinya untuk melayani dan menginformasikan masyarakat yang semakin beragam,” kata wakil editor The Atlantic Gillian B. White, perempuan Afrika-Amerika.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah itu adalah memperbanyak wartawan dari pelbagai latar belakang, ujarnya. Minimnya wartawan yang beragam bisa berdampak bahaya, bukan cuma pada perusahaan media tapi juga masyarakat.

“Hal itu bisa menghasilkan liputan tidak lengkap, buta-tuli, dan bias,” tulis White. Media yang demikian bukan cuma gagal melayani publik tapi juga menyumbang kerusuhan karena ketiadaan suara minoritas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
raperinoa dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rs2006
Mengapa Warganet Kita Gemar Meributkan Selebritas yang Pindah Agama

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius
Ilustrasi Pindah Agama. tirto.id/Lugas Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 8 Agustus 2019

Salmafina Sunan pindah agama! Deddy Corbuzier pindah agama! Lalu, topik tingkat RT jadi obrolan tingkat nasional.


tirto.id - Publik mengenal Salmafina Sunan sekitar dua tahun lalu. Saat itu ia mengubah gaya hidup khas penikmat kelab malam menjadi perempuan berpenampilan serba-syar’i. Salma, yang telah berjilbab lebar, kemudian dipinang oleh hafiz Alquran asal Banjarmasin bernama Taqy Malik. Usia Salma saat itu baru 18 tahun dan Taqy 20 tahun.

Rumah tangga keduanya berlangsung singkat. Salma-Taqy menikah pada 16 September 2017. Pada 21 Februari 2018, keduanya bercerai di pengadilan agama Jakarta Barat. Pernikahan mereka hanya bertahan selama empat bulan, satu bulan dihabiskan untuk proses cerai.

Dunia maya kembali heboh saat Salmafina memutuskan melepas jilbab. Hal ini dianggap warganet bertentangan dengan masa-masa sebelum menikahi Taqy ketika Salma dianggap representasi pelaku “hijrah”.

Beberapa hari terakhir sorotan publik kian mengencang: ada rumor Salma pindah agama dari Islam ke Kristen.

Warganet mula-mula meributkan kalung bentuk simbol salib yang dipakai Salma. Lalu, menyudutkan Salma terlihat mengunjungi gereja. Ayah Salma, Sunan Kalijaga, sempat menepisnya. Tapi, pelbagai spekulasi terlanjur bergulir. Banjir komentar menghiasi beragam unggahan mengenai Salmafina di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan betapa gemar warganet menanggapi kabar pergantian agama yang dijajaki oleh pesohor.

Jika dirunut hingga sepuluh tahun terakhir, nama-nama pesohor yang pindah agama di sini merentang, dari pembawa acara, aktor, hingga vokalis band. Deddy Corbuzier, contohnya, mendapat respons hampir sejenis saat pertengahan Juni lalu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Deddy dibimbing oleh Gus Miftah Maulana, ulama sekaligus sahabat Deddy, di pondok pesantren Ora Aji, Yogyakarta. Pelbagai spekulasi mencuat, antara lain tuduhan Deddy mengganti agama karena ingin menikahi seorang perempuan muslim. Pria yang dikenal ilusionis itu membantahnya.

Demikian juga saat atlet wushu Lindswell Kwok berpindah dari Buddha ke Islam, Lukman Sardi memutuskan untuk memeluk Kristen, Chelsea Olivia berganti dari pemeluk Protestan ke Katolik, dan vokalis band Saint Loco menanggalkan gaya hidup rock 'n roll demi memuluskan hijrah.

Sebagian memang ada yang berpikiran positif serta memberikan komentar yang bijak. Tapi banyak juga yang menyayangkan keputusan si pesohor, melempar gosip liar yang bernada negatif, menghujat, atau memancing debat kusir perihal kebenaran agama lama dan baru yang dianut si pesohor.

Sosiolog Amika Wardhana dari Universitas Negeri Yogyakarta melihatnya dalam kacamata perbedaan antara masyarakat di Barat dan Asia dalam memandang agama. Di Eropa atau Amerika Serikat, agama dipandang sebagai urusan privat. Di Indonesia, sebaliknya: agama adalah urusan publik.

Lebih lanjut, komunitas-komunitas masyarakat di Asia pada umumnya memiliki tradisi kolektif yang cenderung mementingkan keseragaman dalam berbagai aspek, termasuk keyakinan. Salah satu embrio peradaban di Indonesia juga persinggungan antar-agama—yang kadang terlihat seperti kompetisi.

“Jadi, ketika ada orang berpindah agama, dia dianggap punya andil dalam merongrong, merusak, dan menggerus kohesivitas (ikatan) dalam komunitas agama yang ditanggalkannya. Itu mengapa urusan pindah agama jadi pusat perhatian,” katanya.

Amika menyinggung teori gemeinschaft yang digagas sosiolog Jerman Ferdinand Tonnies. Padanan dalam bahasa Indonesianya "paguyuban." Definisinya, kelompok sosial yang anggotanya menjalin hubungan erat, intim dan eksklusif atas dasar ikatan darah, tempat, maupun ideologis.

Dalam masyarakat tipe gemeinschaft, kesamaan keyakinan kerap dipandang sebagai hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Konsekuensinya, saat salah satu anggotanya berpindah keyakinan, muncul kekhawatiran anggota lain mengulangi hal sama.

“Apalagi jika yang bersangkutan terkenal dan punya pengaruh di masyarakat,” imbuhnya.

Debat Klasik: Agama adalah Urusan Privat & Publik

Polemik tentang agama sebagai urusan privat dan publik telah menjadi diskursus klasik di Indonesia. Abid Rohmanu, Dosen Pascasarjana IAIN Ponorogo, mengulasnya di kanal Geotimes. Tajuknya, "Menyoal Nalar Privat dan Nalar Publik di Keberagamaan Kita".

Ruang publik di Indonesia kontemporer dinilai Abid dipenuhi isu sensitif terutama isu agama. Hasilnya kerancuan nalar privat dan nalar publik dalam memandang agama di masyarakat sehingga agama sering menjadi titik sumbu kegaduhan.

Abid menyinggung tuduhan pemisahan sektor peran privat dan publik agama sebagai pemikiran sekuler yang akan menghinakan agama itu sendiri. Ujung-ujungnya kekhawatiran bahwa agama akan kehilangan peran dan fungsinya di masyarakat.

“Pada sisi lain, ketika agama diperankan pada sektor publik dengan karakternya yang plural, peran tersebut memancing perselisihan dan perpecahan,” tulisnya.

Abid melanjutkan keyakinan yang bersifat privat pada dasarnya terbatas pada skala individual atau komunitas keagamaan tertentu. Ketika nalar privat dipaksakan hadir di ruang publik, hasilnya adalah resistensi satu komunitas agama terhadap agama lain—terutama dalam konteks mayoritas-minoritas.

Amika Wardhana memandang sebaliknya. Sorotan pemberitaan media terhadap topik pindah agama menyangkut satu-dua orang saja. Fenomena sosialnya bukan pada pelaku pindah agama, tapi bagaimana publik merespons keputusan si pelaku.

“Apakah mendorong orang untuk turut mengubah keyakinannya, saya belum tahu soal itu. Fenomena ini pada dasarnya hanya untuk konsumsi berdebat. Untuk diskusi. Sepertinya belum mengarah ke tindakan.”

Perbedaan signifikan pernah terjadi di Salatiga selama huru-hara 1965. Mengingat golongan komunis distereotipkan sebagai ateis, ada perpindahan keyakinan secara massal untuk menghindari persekusi.

Menariknya, karena umat Islam saat itu disetel keras membasmi orang-orang komunis, warga berpindah keyakinan ke Kristen atau Katolik. Fenomena itu sukses mengubah wajah populasi umat beragama di Salatiga hingga hari ini.

Agnostik di Indonesia: Menentang Suara Mayoritas di Negeri Religius

Media dan Medsos: 'Omongan Tingkat RT jadi Tingkat Nasional'

Amika Wardhana menggarisbawahi beberapa faktor lain mengapa warganet Indonesia gemar mengurusi keyakinan para pesohor.

Pertama, masyarakat Indonesia memang terpapar modernitas, rasionalitas, sehingga kini lebih aman dan sejahtera. Efek yang terjadi di negara lain adalah karakter masyarakatnya menjadi lebih tidak religius. Di Indonesia, kondisinya istimewa sebab masyarakat justru makin religius.

Ariel Heryanto dari Monash University Australia sempat menyinggung isu ini dalam bukunya, Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar di Indonesia (2015).

Menurut Ariel, agama tetap bugar di kawasan yang menjadi modern, termasuk Indonesia. Agama dan kapitalisme, baginya, bukan hanya dapat hidup berdampingan dan memiliki keterkaitan. “Keduanya bahkan dalam beberapa kasus bisa bersekutu hingga mampu mendukung kegiatan-kegiatan kolektif jangka panjangnya.”

Amika menilainya dalam kerangka economic-religion ketika para subjek di negara berkembang mampu menjegal proses sekularisasi lewat berbagai cara. Mereka adalah ulama, penceramah televisi, dan otoritas keagamaan lain yang bersemangat menarik orang-orang ke gaya hidupnya.

“Tawaran mereka menarik banyak orang, termasuk dari kalangan kelas menengah yang berpendidikan tinggi dan ekonomi mapan itu. Mereka tidak menjadi sekuler, tapi justru agamis. Dampaknya, agama semakin lazim dipandang sebagai urusan publik.”

Apalagi Indonesia sebenarnya bukan negara sekular, kata Amika, baik segi penafsiran ideologi maupun kehadiran Kementerian Agama. Meski ada yang meyakini perspektif agama itu urusan privat, jumlahnya relatif lebih sedikit.

Faktor penyebab selanjutnya, yang tidak kalah penting, adalah kehadiran media yang amat rajin menguliti kabar pergantian keyakinan para pesohor hingga ke akar-akarnya. Sebagian warganet menyadari hal ini dan menyampaikan kritiknya melalui Twitter.

Mereka membagikan berita-berita media daring dengan tajuk menyudutkan, seperti "Usai Ibadah di Gereja, Salmafina Kabur" (berita Detik.com, ditautkan @permadiaktivis), atau "Terciduk Ibadah di Gereja, Salmafina Sunan Lari Tunggang Langgang" (berita Suara.com, ditautkan oleh @kenndaru).

Barangkali pihak yang bertanggung jawab terhadap konten itu menyadari polemik tersebut sehingga tajuk berita diubah menjadi "Salmafina Masih Tak Mau Komentar" (Detik.com) dan "Ibadah di Gereja, Salmafina Sunan Hindari Awak Media" (Suara.com).

Amika mencurigai para pesohor sengaja memanfaatkan kabar kepindahan agama untuk meningkatkan popularitas. Tapi, ia juga memahami bagaimana pemberitaan masif berdampak pada awetnya keributan terkait isu pindah agama.

“Media dan medsos itu ibarat menggarami keributan yang sudah ada. Omongan tingkat RT jadi tingkat nasional. Orang terus berkomentar karena disuguhi beritanya, digoreng terus-menerus.”

=====
Artikel ini dirilis perdana pada 18 Juli 2019, disunting minor dan ditautkan sebagai seri laporan mendalam "pindah agama".
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suteragordyn dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rs2006
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Religius Tanda IQ Rendah, Benarkah Ada Korelasi Antara Iman dan Kecerdasan?


Saya berkunjung kembali ke Inggris, Maret 2010, di Nottingham saya mendengar berita menarik. Tiga orang profesor menerbitkan hasil riset mereka. Adalah Richard Lynn dari Ulster University, Irlandia Utara, Helmuth Nyborg Universitas Aarhus, Denmark dan John Harvey Sussex, Inggris.

Riset itu meliputi 137 negara di dunia, termasuk Indonesia. Menarik, riset itu mengkaji sebuah hipotesis adanya korelasi negatif antara IQ dan Iman atau antara kecerdasan dan keimanan. Hipotesisnya kira-kira berbunyi,

“Semakin cerdas seseorang orang itu ia semakin sekuler dan bahkan ateis. Semakin bodoh seseorang itu ia semakin religius.”

Lynn dkk. mengaku bukan peneliti pertama. Jauh sebelum itu Howells (1928) dan Sinclair (1928) sudah pernah menguji hipotesa yang sama untuk mahasiswa. Demikian pula Argyle tahun 50-an melakukan penelitian yang sama.

Hasil yang mereka peroleh konon “mahasiswa cerdas lebih sedikit kemungkinan menerima kepercayaan ortodoks dan cenderung tidak mendukung sikap-sikap religius”.

Bukan hanya itu, Verhage (1964) dan Bell (2002) di Belanda, Kanazawa (2009) di Amerika Serikat memperoleh hasil serupa.

Dari mereka bertiga ini sekurangnya diperoleh empat temuan:
Pertama, ada hubungan korelasi negatif antara kecerdasan dan keimanan.
Kedua, orang elit yang cerdas semakin kurang religius dibanding penduduk secara umum.
Ketiga, di kalangan pelajar semakin berumur dan berilmu bertambah turun keimanan mereka.
Keempat, sepanjang abad dua puluh meningkatnya masyarakat yang cerdas diikuti oleh menurunnya keimanan.


Sebagai tambahan survey Verhage terhadap 1538 sampel di Belanda (1964) menemukan bahwa agnostik dan ateis rata-rata memiliki IQ 4 point lebih tinggi dari orang beriman.

Setelah proses browsing di dunia maya, saya memperoleh beberapa data hasil penelitian tersebut. Untuk mengukur kecerdasan Lynn dkk. memakai variable test IQ, sedangkan untuk keimanan atau religiusitas diukur dari persentasi penganut ateisme.

Maka dari itu Lynn dkk. membuat table yang mencantumkan tingkat IQ penduduk dari 137 negara tersebut dan prosentase penganut ateismenya.

Negara IQ Penduduk Persentase Ateis
Jepang 102 65%
Israel 95 15%
Hungaria 98 32%
Lithuania 91 13%
Latvia 98 20%
Kazakhstan 94 12%
Singapura 108 13%
Vietnam 94 81%


Data negara-negara tersebut mendukung hipotesis di atas. Negara yang IQ penduduknya tinggi jumlah penganut ateismenya juga tinggi.

Mereka juga mengemukakan table aegara-negara dengan IQ tinggi diatas 94 seperti Belgia (99), Ceko (98), Denmark (98), Estonia (99), Inggeris (100), Jepang (105), Jerman 99), Perancis 98), Swedia (99) dan Vietnam (94). Table itu kemudian disertai prosentase penganut atheism yang terbukti memang tinggi diatas 40%.

Masalahnya apakah korelasi itu betul-betul menunjukkan kausalitas.

Apakah tingginya IQ di Ceko penyebab besarnya penganut ateisme (61%).
Apakah orang menjadi komunis dan ateis karena semakin cerdas?
Apakah ateisme di sana bukan karena tersebarnya paham komunisme?
Inilah poin yang tidak bisa dijelaskan oleh penelitian tersebut.

Demikian pula korelasi negatif itu tidak bisa menjelaskan kondisi negara Vietnam yang IQ nya lebih rendah dari Singapore tapi penganut ateismenya lebih tinggi (81%). Lebih-lebih untuk kasus negara-negara lain. Di Irlandia misalnya IQ pendudukanya 92 tapi persentase penganut ateisnya hanya 5% saja.

Malaysia yang tercatat IQ penduduknya sama dengan Irlandia (92) tapi persentase penganut ateisnya lebih kecil yaitu hanya 0.5%. Demikian pula Brunei (IQ 91-Ateis 0.5%), Thailand (IQ 91-Ateis 0.5%), dan Indonesia (IQ 87-Ateis 1.5%).

Di negeri ASEAN kita justru bisa melihat fenomena orang-orang terpelajar yang cerdas-cerdas dan sukes dalam berkarir bukanlah orang-orang yang ateis atau rendah iman mereka.

Jadi penelitian ini mengandung dua masalah penting yaitu konsep dan metodologi. Secara konseptual orang tahu, kesimpulan sebuah penelitian kuantitatif berasal dari sebuah hipotesis yang berasal dari cara pandang yang dipengaruhi worldview penelitinya. Latar belakang agama, budaya, ras dan kepercayaan termasuk di situ.

Orang yang membuat penelitian tentang “Kepuasan Palanggan Komplek Prostitusi”, misalnya beda worldview nya dari orang yang meneliti tentang “Perbandingan Efektifitas Pendidikan Agama di Sekolah dan di Rumah”.

Worldview apapun sebenarnya berperan dalam cara berpikir seseorang, termasuk dalam kegiatan keilmuan atau menyusun desain penelitian (lihat Alparslan Ackgence, Islamic Science Towards Definition).

Worldview peneliti di Barat pada umumnya adalah saintifik sekularistik atau setidaknya melihat segala sesuatu secara dichotomik. Artinya agama tidak lagi ada kaitannya dengan kegiatan kehidupan sehari-hari.

Situasi sosialnya memang demikian. Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi di Barat agama menjadi tidak “laku” di masyarakat. Yang fenomenal banyak gereja yang kosong. Para pengurus gerejanya, mungkin, sudah putus asa, karena sepi jemaat. Jumlah jemaat gereja kalah banyak dibanding “jama’at” yang antri masuk bar. Gereja sebagai symbol keberagamaan dan keimanan sudah banyak ditinggalkan.

Di Manchester terdapat nama gereja yang aneh, yaitu “A Church for those who don’t like to go to church” (Gereja untuk yang tidak suka pergi ke gereja). Di sana sinagog telah menjadi Jewish Museum. Bahkan Masjid Besar di Manchester masih mempertahankan tanda salib dan altar gereja.

Gereja di daerah Aston dan City Center Bullring Birmingham sudah menjadi sarang burung dara. Gereja di Stratford Road Camp Hill Birmingham telah berubah menjadi Masjid Muath.

Itulah arti keluh kesah orang Barat yang masih objektif “spirituality has gone to the east”. Persis seperti kata Prof. David Thomas, dosen Teologi di universitas Birmingham, “West developed without Christianity”.

Itulah setting sosial yang melahirkan hipotesis dan variable penelitian ini. Kalau kita boleh menyimpulkan semakin sekuler orang Barat itu maka semakin rendah kecerdasan spiritualitasnya.

Jika para peneliti berangkat dari situasi seperti di atas, maka konsep religiusitas atau keimanan dalam penelitian ini bermasalah. Istilah religion, seperti kesimpulan W. Cantwell Smith tidak pernah definitif. Maka istilah religiusitas yang diambil dari konsep religion pun pasti kabur.

Jika makna religiusitas dan keimanan kabur maka variable pengukur keimanannya bermasalah. Keimanan atau religiusitas di Barat umumnya diukur dari frekuensi pergi ke gereja. Emanuel Kant mengaku tidak religius karena seumur hidupnya hanya sekali pergi ke gereja.

Tapi Kanazawa (2009) tidak mengukur dari situ. Ia mengukur keimanan atau religiusitas 14.277 remaja di Amerika Serikat hanya dengan pertanyaan:

Apakah Anda orang yang beriman?

1) sangat beriman,
2) beriman,
3) tidak beriman dan
4) sangat tidak beriman.

Apa yang diperoleh itu memang remaja yang menjawab sangat tidak beriman memiliki IQ tertinggi yaitu 103,09. Sementara yang mengatakan tidak beriman 99,34; yang mengatakan beriman 98,28 dan yang mengatakan sangat beriman 97,14.

Jadi kekaburan makna religion dan keimanan menjadikan variable-nya bermasalah. Maka wajar jika metodologi untuk mengorek keimanan sungguh sangat superfisial.

Bisa dibayangkan remaja yang tidak pernah tersentuh oleh masalah agama tiba-tiba ditanya keimanan. Tentu ia akan menjawab sekenanya. Akan tetapi apakah terdapat korelasi negatif bahwa semakin cerdas seseorang itu semakin tidak religius, tidak bisa dibuktikan.

Selain religiusitas, makna IQ dan kecerdasan dapat pula dipertanyakan. Test IQ bisa saja mejadi ukuran. Tapi dalam kehidupan ini IQ saja tidak menentukan banyak hal. Faktor lain yang disebut kecerdasan spiritual (Spiritual Quotion) juga bisa jadi faktor penting. Meskipun demikian kecerdasan spiritual satu agama bisa beda variable-nya dari agama dan kepercayaan lain.

Pertanyaan mengapa orang Barat umumnya cerdas? Jawabnya karena banyak kemudahan, kemakmuran dan kualitas pendidikan yang tinggi. Tapi mengapa orang Barat banyak yang ateis? Jawabnya bukan karena mereka itu cerdas, tapi lebih karena agama di sana sengaja dimarginalkan dan disingkirkan dari ruang publik bahkan dari sains.

Mungkin juga jawabannya karena agama (terutama agama Kristen dan Yahudi) di Barat tidak mampu menjelaskan hal-hal yang saintifik tentang alam, manusia dan Tuhan. Worldview yang empirisistik dan rasionalistis tidak bisa menjelaskan agama yang metafisis dan agama yang metafisis tidak mampu menjelaskan itu semua secara saintifik. Wajar jika kemudian para saintis meninggalkan penjelasan teologi dan hanya bersandar pada akal.

Pertanyaan serupa dapat diajukan kepada penduduk Negara yang IQ-nya rendah. Mereka tidak cerdas karena banyak hal. Lynn dkk. menemukan sebabnya karena kemiskinan, sedikitnya kota besar, pendidikan bermutu rendah, kurang media elektronik, banyak wabah penyakit, kesehatan bayi yang rendah, gizi yang buruk, tidak mampu mengatasi polusi dsb.

Tetapi, apakah kurang cerdas itu menjadikan mereka religius atau sebaliknya karena mereka religius maka mereka menjadi tidak cerdas? Barber, peneliti lain meragukan adanya korelasi ini.

Jadi apa yang dianggap korelasi disini bisa jadi sekedar sesuatu yang terjadi secara simultan. Dalam bahasa awam terjadi secara kebetulan. Jika demikian maka kita juga bisa membuat hipotesis korelasi positif. Hipotesisnya misalnya begini, “Semakin banyak penduduk yang beriman dan berislam, semakin besar sumber minyak atau sumber alamnya di negeri itu.”

Faktanya memang 63% cadangan minyak dan gas dunia, 70% hasil karet dunia, 65% cadangan timah dunia, 70% cadangan posfat dunia dan lain sebagainya ada di negeri-negeri Islam.

Jika di Barat IQ tinggi cenderung ateis, bagaimana Lynn membaca fenomena di dunia Islam saat ini bahwa semakin cerdas dan semakin kaya seorang Muslim semakin dekat dengan Tuhannya alias semakin tinggi keimanannya.

Dalam Islam, variable keimanan bukan sebatas pernyataan, tapi juga realisasinya dalam bentuk aksi atau amal. Amal menyangkut perilaku baik buruk alias akhlak.

Jika dijabarkan maknanya masing-masing akan sangat luas dan kompleks. Maka jika harus diteliti variable keimanan dalam Islam akan sangat kompleks. Itupun baru dapat diungkap sebagiannya.

Sekilas Tentang Batas Minimal Religiusitas Dalam Islam
Rasanya bukan utopia jika kita dapati di negeri-negeri Muslim sosok seperti ini. Seorang Muslim yang cerdas dengan IQ tinggi. Ia sukses menjadi pengusaha yang kaya. Pakaiannya berjas berdasi tidak seperti layaknya ulama, tapi tetap menjaga kesuciannya. pikirannya terfokus pada bidang-bidang usaha, tapi hatinya selalu ingat kepada Allah. Waktunya khusus untuk berdagang, tapi shalat 5 waktunya tertib ditambah rawatib tanpa berselang.

Kekayaan perusahaannya sudah tak terhingga, ia tidak lupa berderma dan hukum halal-haram tetap ditaatitnya. Meski dunia bisnis adalah dunia yang yang penuh tipu daya, ia tetap berkata apa adanya. Meski dikiri kanannya penuh godaan maksiat, ia tetap selamat. Bukankah ini yang oleh Rasulullah dinamakan al-Kaisu, yaitu orang cerdas yang beramal di dunia tapi sekaligus untuk akhiratnya. Wallahu A’lam.
profile-picture
profile-picture
raperinoa dan eyefirst2 memberi reputasi
Diubah oleh rs2006
Lihat 44 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 44 balasan
Nulis panjang2... Bikin ngantuk....
Klo nulis diforum tuh point2nya aja. kecuali ente mau nulis jurnal atau skripsi... bikin lah tebal2... Biar yg meriksa males baca nya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wojciecszczesny dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
panjang beudd emoticon-Ngakak

tak ada yg salah sm agnostik krna itu pilihan masing" emoticon-Peace












emoticon-linux
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Narutex dan 4 lainnya memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
48y24rd dan 3 lainnya memberi reputasi
Banyak yg agnostik jg ya.
profile-picture
profile-picture
kolollolok dan eyefirst2 memberi reputasi
Nice trit gan emoticon-2 Jempol
Gak mau komen bnyak nanti malah ribet emoticon-Hammer2
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
nice, tapi di thread sebelah kalo ga percaya agama nya deist kak
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Pancasila dirubah dulu jadi catursila, baru atheis bisa diterima disini, berani ga yang atheisnya?, kalau ga berani ya pindah negara saja, daripada hidup disini tidak punya harga diri...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 89 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 89 balasan
.......
profile-picture
profile-picture
profile-picture
krisnafebriyant dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh 666fapfap
Punya agama tp kerjaannya menghina, fitnah n provokasi trs, itu gmn ya? Niat masuk surganya harus gitu apa?
profile-picture
profile-picture
.Kadrun.Onta. dan eyefirst2 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
ribet amat, masuk agama aja tapi mau percaya pa enggak ama tuhannya ya silakan, orang yang beneran beragama yg laknat ga takut ama tuhannya juga banyak, yang ga beragama malah pusing2 emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
666fapfap dan eyefirst2 memberi reputasi
Jadi gitu ya gan.. ane paham sekarang.. lagian pandemi begini bikin orang jadi lebih agnostik.
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
yang mao ribet, ayo hajarrr emoticon-Belgia
profile-picture
eyefirst2 memberi reputasi
Disini masih takut kalo agama samawi kalah populer, makanya yang berani declare atheist ama agnostic langsung dapet social stigma

1 lagi, majority rules emang hal yang menjijikan - salah bisa jadi benar
benar bisa jadi salah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan 7 lainnya memberi reputasi
lagi banyak trit bahas beginian

sudah mulai bergerak ternyata..
monggo dilanjutkan.. tapi bersaing secara sehat. jgn memaksa dan jgn saling fitnah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 9 lainnya memberi reputasi
Kepanjangan threadnya...jadi pusing dan ora mudeng - mudeng...Gan emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Halaman 1 dari 6


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di