CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SK2H Reborn: The Untold Story
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f760b21af7e9378b74abde5/sk2h-reborn-the-untold-story

SK2H Reborn: The Untold Story

 SK2H Reborn: The Untold Story

Halo, kawan-kawan SFTH.

Sepuluh tahun yg lalu, pertama kalinya gue menulis kisah Sepasang Kaus Kaki Hitam (SK2H) di subforum ini. Alhamdulillah, respons pembaca SFTH waktu itu bagus banget sehingga SK2H terpilih sebagai cerita terbaik tahun 2011 (dapet label "kaskus donatur" gratis selama 3 bulan, hehehe). Dan pada tahun 2017, akhirnya SK2H naik cetak.

Sebenernya tawaran buat bikin buku sudah ada sejak 2012, tapi gue belum pengin. Barulah setelah ngobrol sama editor Elex Media, gue setuju buat bikin versi bukunya.

Mulai dari thread tahun 2010, buku di 2017, bahkan sampe hari ini, yang paling bikin gue terharu adalah para pembaca SK2H masih inget bahkan sangat antusias membaca ulang SK2H sampe berkali-kali. Malah ada beberapa yang menamai anaknya dengan nama tokoh di cerita ini.

Tentu ini sebuah kehormatan buat gue selaku penulis. Dan tahun ini, satu dekade setelah thread pertamanya, gue bermaksud menulis ulang SK2H. Anggep aja ini adalah "hadiah" dari gue buat kalian yang sudah berbaik hati meluangkan sedikit ruang untuk SK2H dalam ingatan kalian.

Buat pembaca baru yang baru aja tahu SK2H, gue ucapkan selamat bergabung. Semoga kalian juga suka sama SK2H.

Selamat membaca. Selamat bernostalgia.

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 48 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
Halaman 1 dari 7
Untuk Arif Musyafa bin Abdus Shomad (almarhum),
dan untuk semua pembaca setia SK2H.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

INDEX

profile-picture
profile-picture
profile-picture
bayu.priambudi dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama

1

September, tahun 2000.

Nama gue Ari. Gue lahir dan tumbuh di salah satu kota kecil yang ada di Kalimantan. Seperti kebanyakan teman-teman kampung yang punya cita-cita merantau dan sukses di Ibu Kota, gue pun punya keinginan yang sama. Siapa yang nggak mau bekerja di Jakarta? Sejak kecil gue banyak mendengar cerita dari teman, keluarga, sampai kerabat jauh yang berhasil menaklukkan Ibu Kota. Ditambah lagi fakta bahwa segala pemberitaan melalui media cetak dan televisi selalu mengangkat perihal Jakarta dan pulau Jawa, kami yang tinggal di seberang dan terpisah oleh hamparan samudera ribuan kilometer jauhnya, memupuk asa bahwa suatu hari nanti kami akan masuk dalam jajaran orang-orang yang berhasil menaklukkan Jakarta. Asa tersebut yang gue bawa sampai gue menamatkan pendidikan diploma tiga.

Gue kirim banyak surat lamaran ke perusahaan-perusahaan besar. Alamat mereka gue dapat dari koran langganan mingguan yang dibeli bokap. Berbulan-bulan menunggu, sudah nggak terhitung berapa surat yang gue kirim tapi belum juga mendapatkan kabar baik. Akhirnya ketika sudah nyaris frustrasi dan mengubur harapan, datanglah surat panggilan wawancara kerja dari sebuah perusahaan elektronik yang berdomisili di Karawang. Gue cari di peta, Karawang ada di sisi timur Jakarta, terpisah cukup jauh dari sang Ibu Kota. Sempat kepikiran untuk mengabaikannya, tapi karena dorongan dari kedua orang tua yang begitu kuat, akhirnya gue berlayar menyeberangi Laut Jawa. Gue sama sekali nggak tahu apa yang menunggu di seberang sana. Saat itu gue bener-bener hanya bermodal nekat dan tekad yang kuat.

Bagi orang kampung macam gue yang belum pernah sekali pun keluar dari pulau Borneo, pengalaman menyeberang dengan kapal laut sungguh-sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Selain karena mabuk laut, sepanjang perjalanan gue selalu ngeri-ngeri sedap membayangkan adegan di film Titanic terjadi di kapal yang gue naiki. Bukan adegan Jack dan Rose di dalam mobil ya, tapi adegan kapal mereka menabrak gunung es lalu terbelah dua sebelum akhirnya tenggelam. Padahal mana ada, sih, gunung es di laut Indonesia? Namanya juga orang takut. Selalu bisa kepikiran hal-hal aneh meskipun mustahil.

Intinya, butuh perjuangan keras buat sampai di Karawang. Gue nggak tahu jalan dan nggak punya kenalan di sini. Alih-alih ahli madya, gue lebih kelihatan seperti gembel jalanan. Muka kucel, pakaian kusut, plus tas gendong yang diisi melebihi kapasitasnya (ini tas kesayangan yang gue pake sejak kelas 2 SMA dan masih dipake pas kuliah alias tas kesayangan), membuat gue mengasihani diri sendiri saat melihat pantulan bayangan di kaca.

Sesampainya di Karawang, yang pertama gue cari adalah masjid. Kalau kalian berpikir gue orangnya religius, kalian salah. Gue nyari masjid bukan karena pengin ibadah, tapi karena pengin numpang bebersih di WC-nya. Maklumlah, uang yang diberi orang tua terbilang pas-pasan. Sayang banget kalau harus dipake buat bayar WC umum di terminal. Mending buat beli makan.

Di masjid dekat terminal itulah gue berkenalan dengan Pak Samsul yang baik hati. Dia menghampiri gue ketika gue sedang rebahan melepas lelah seberes salat Zuhur.

“Adek sepertinya datang dari jauh,” katanya ramah.

“Iya, Pak Haji. Saya dari Kalimantan, datang ke sini karena mau wawancara kerja.”

“Saya bukan haji. Saya cuma marbot di masjid ini.” Beliau tertawa ramah.

Lalu kami pun mengobrol. Beliau ini baik sekali. Gue diizinkan menginap di masjid selama waktu yang dibutuhkan saat wawancara. Sebagai ganti jasa tumpangan tersebut, gue putuskan membantu pekerjaan beliau mengurus masjid, seperti mengepel lantai atau membersihkan WC. Itu semua gue lakukan dengan senang hati.

Sejujurnya gue sempat bingung kenapa bisa mendapat panggilan kerja dari perusahaan di Karawang, padahal nggak pernah mengirimkannya ke sana. Gue mengirim surat lamaran hanya ke perusahaan yang beralamat di Jakarta. Pertanyaan itu akhirnya terjawab saat wawancara. Katanya, mereka memang punya kantor pusat di Jakarta. Karena pabrik yang ada di Karawang sedang membutuhkan karyawan, jadilah gue mendapat kesempatan untuk dites di sini.

Setelah mendapat kepastian lulus, gue diantar Pak Samsul berkeliling sekitar untuk mencari kosan. Kebetulan beliau juga bekerja sebagai tukang ojek, jadi gue dibawa ke beberapa tempat rekomendasi menggunakan Honda Astrea hitam miliknya. Singkat cerita sampailah gue di sebuah rumah kosan berlantai tiga di daerah Teluk Jambe. Kontrakan itu terbilang laris. Saat gue tiba di sana, hanya ada satu kamar kosong di lantai paling atas.

“Tinggal kamar yang ini, Mas.” Pak Haji pemilik kosan membuka pintu kamar nomor 23.

Gue mengecek keadaan di dalam kamar, berkeliling sebentar melihat-lihat situasi sekitar, dan nggak butuh waktu lama untuk merasa cocok. Jadilah gue ambil kamar tersebut. Sebelum berpisah dengan Pak Samsul, gue banyak mengucapkan terima kasih atas bantuan beliau. Saat itu gue berjanji dalam hati, suatu hari nanti akan gue ajak beliau makan di restoran yang bagus dan membelikannya beberapa barang yang mungkin akan berguna. Beliau mendoakan gue sukses dalam segala hal. Bener-bener orang baik beliau ini.

Di lantai atas jumlah kamarnya jauh lebih sedikit kalau dibandingkan dua lantai di bawahnya. Di sisi kiri dan kanan hanya ada masing-masing tiga kamar saling berhadapan yang dipisahkan oleh koridor selebar hampir dua meter. Kamar gue berada di ujung kanan jauh, pada deretan terakhir. Sebagai kamar yang posisinya paling ujung, gue beruntung karena kamar ini punya jendela ekstra yang nggak dimiliki kamar lainnya. Dari jendela ini gue mendapatkan cahaya matahari lebih banyak. Kamar gue dan kamar seberang dihubungkan dengan sebuah tembok pembatas setinggi dada orang dewasa.

Dan yang paling gue sukai dari kontrakan ini adalah dia punya view yang bagus. Karena posisinya yang cukup tinggi, gue bisa melihat bentangan hijau sawah di seberang sana. Lebih jauh lagi, siluet cerobong asap dari salah satu pabrik yang tampak mengepulkan asap jadi pemandangan unik yang enak untuk dinikmati. Gue betah berlama-lama memandangi itu semua. Sayangnya karena kamar yang akan gue tempati masih kotor, gue harus kerja ekstra. Pak Haji memang sudah membersihkannya, tapi gue belum tenang sampai bisa dipastikan sudut-sudutnya terbebas dari debu dan kotoran. Pekerjaan bebersih saja butuh waktu berjam-jam. Belum lagi ditambah membeli perlengkapan yang kurang, walhasil makin habislah waktu buat bersantai.

Menjelang sore, langit berubah mendung. Gue baru kembali dari membeli nasi bungkus di warung ketika akhirnya hujan bener-bener turun. Sandal jepit baru gue ternyata terlalu banyak menyerap air sehingga menimbulkan bunyi berdecit setiap melangkahkan kaki di anak tangga. Gue takut suara berisiknya mengganggu para penghuni kamar lain yang tampaknya sedang beristirahat. Entah kenapa saat itu bener-bener hening. Hanya terdengar suara gemericik air hujan menerpa atap dan alunan musik dari salah satu kamar. Selain itu, sunyi.

Gue sampai di ujung tangga lantai atas. Suara musik makin terdengar nyaring. Ternyata asalnya dari kamar sebelah gue. Sejak datang ke kosan ini pagi tadi, gue belum sempat berkenalan dengan siapa pun. Maka ketika gue lihat pintu kamar seberang terbuka, gue pikir itu momen yang tepat untuk mulai mendapat teman. Di depan pintu, seorang perempuan sedang duduk memeluk lutut. Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah. Gue nggak bisa melihat seperti apa rupanya karena dia menunduk.

Sekilas nggak ada yang aneh sama perempuan ini. Satu-satunya yang nggak biasa dari dia adalah kaus kaki hitam panjang yang dikenakannya. Karawang adalah kota yang panas. Aneh aja gitu ada yang pake kaus kaki panjang menutupi keseluruhan kakinya di cuaca sepanas ini.

“Sore, Mbak.” Gue beranikan diri menyapa.

Dia bergeming.

“Selamat sore, Mbak,” gue ulangi dengan suara lebih keras. Tetep nggak dijawab. Jangankan nyahut, ngangkat kepala juga nggak! Sombong banget, sih. Sambil menggerutu dalam hati, gue berlalu ke kamar.

Secara keseluruhan, nggak ada yang spesial dari hari pertama gue di kosan baru. Lelah yang menyerang tubuh setelah bekerja bakti membersihkan kamar, ditambah udara sejuk dan bau tanah basah, juga lantunan musik dari kamar sebelah, membuat gue nggak kuasa menahan kantuk. Gue tertidur selepas salat Magrib.

Entah pukul berapa, gue terjaga dari tidur. Langit di luar masih gelap. Hujan sudah reda. Keadaan sunyi. Suara sekecil apa pun bisa terdengar jelas di saat-saat begini. Baru saja gue hendak kembali tidur ketika sebuah suara terdengar dari luar. Suara itu menyerupai tangisan seorang peremuan. Seketika bulu kuduk gue berdiri karena teringat adegan mengerikan di film horror yang pernah gue tonton. Tubuh membeku sementara jantung berdebar kencang. Suara tangisan itu terdengar sangat dekat, seperti berasal dari depan jendela. Gue sempat berniat melongok keluar sekadar mencari tahu, tapi sembunyi di balik selimut adalah pilihan terbaik. Sisa malam itu gue habiskan dengan merapalkan ayat kursi sampai akhirnya kelelahan dan tertidur dengan membawa rasa takut. Gue bahkan lupa belum salat Isya.

Besoknya gue bangun pagi-pagi sekali. Selesai mandi gue antre beli sarapan bersama para karyawan pabrik yang baru akan memulai aktivitas atau justru baru pulang dari kerja malam. Sebagai daerah yang paling dekat dengan kawasan industri, nggak mengherankan kalau hampir seluruh perantau yang tinggal di sini merupakan karyawan pabrik seperti gue.

Gue makan nasi uduk di salah satu lapak nggak jauh dari kosan. Dari sini gue bisa melihat jendela kamar gue dan tembok pembatas di sisinya. Lalu pandangan gue terpaku ke sosok perempuan yang sedang menopang dagu sambil menatap kosong entah ke mana. Dia adalah perempuan yang gue temui di depan pintu kamarnya kemarin sore. Kenapa dia terlihat selalu murung dan suram? Gue jadi teringat suara tangisan semalam. Jangan-jangan, yang nangis tengah malam itu dia? Kalau iya, kenapa? Dari situlah rasa penasaran gue muncul.

Siapa sebenarnya perempuan berkaus kaki hitam itu?

Spoiler for PS:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
shounent dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Malam, om ari. good to see you back! Silakan dilanjut om. 10 tahun bukanlah waktu yang singkat, hehehe..

P.s: ga heran gw dapet pekiwan, sesuai nasib laa, karena gue reader dari thn 2010. Hahahahaha.
profile-picture
profile-picture
slametfirmansy4 dan Enisutri memberi reputasi
Diubah oleh tabernacle69
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Sebuah cerita klasik
Semoga bisa ngebuat 51 bangkit lagi
emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 3 lainnya memberi reputasi
Inget banget baca threadnya Om Ari dulu pas awal masuk kuliah.
Ga berasa udah 1 dekade berlalu.
Izin untuk ikut bernostalgia ya om emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 2 lainnya memberi reputasi
Udah 2x baca tapi tetap gak pernah bosan
Alur ceritanya seolah2 ikut terbawa suasana dan berada disana
Terima kasih atas karya nya om Ari
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 2 lainnya memberi reputasi
Gw dulu baca pas lagi jomblo, dan sekarang terbit lagi dengan keadaan masih jomblo. SAD
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrysetyawann dan 5 lainnya memberi reputasi
Izin jejak yaemoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 2 lainnya memberi reputasi
10 tahun ya, dulu awal baca sk2h masih dijaman sekolah, dijaman labil, bahkan saat thread ini selesai bener bener ke bawa ke RL sampai sedih dan berlarut sendiri.
Untuk om Ari, terimakasih atas semua kata, kisah dan seluruh cerita
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bluevy18 dan 3 lainnya memberi reputasi
wih nostalgia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 2 lainnya memberi reputasi
Mau di reborn kah ini, ditunggu bang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 2 lainnya memberi reputasi
Wow ga terasa udah 9 tahun yg lalu pertama baca cerita ini, sampe punya bukunya. nostalgia
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan Enisutri memberi reputasi
pertama kali baca cerita ini belum lama sih sekitar akhir 2019, akunya telat, maklum kenal kaskus juga baru, itupun di kasih tau ama babang @corongalam , dia yang bilang kalo SK2H itu bagus bgt ceritanya. akhirnya dengan kepoan aku yang gak ketulungan aku dowload di play store, baca part awal aku kirain mevally itu hantu :gagalpaham
profile-picture
profile-picture
profile-picture
togoggodot dan 2 lainnya memberi reputasi
Weww, cerita lama muncul kembali
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan slametfirmansy4 memberi reputasi
belum lama kelar baca SK2H, sekarang mau di reborn emoticon-Cendol Gan
profile-picture
tabernacle69 memberi reputasi
mending taro di novel onlen, ada bayarannya
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan slametfirmansy4 memberi reputasi
Quote:


Halo!
Gue juga seneng bisa balik nulis lagi di sini.
Jangan lupa klik subscribe biar gak ketinggalan update.

Quote:


Area 51 maksudnya, Gan?

Quote:


Thread ini memang buat nostalgia para pembaca lama. Jadi, silakan bernostalgia sepuasnya.

Quote:


Sama-sama, Gan.
Moga suka juga versi revisi ini.

Quote:


*Pukpuk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ridhop dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Quote:


Silakan.

Quote:


Namanya juga anak sekolah, emang suka labil. Wqwqwq.

Quote:


emoticon-Angkat Beer

Quote:


Yap.

Quote:


Terima kasih sudah ngikutin SK2H sejauh ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
koberr13 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Nggak ada kata terlambat.

Quote:


emoticon-coffee

Quote:


Baca lagi, Gan. emoticon-Big Grin

Quote:


Udah dibilang di awal, ini "hadiah" buat para kaskuser. Lagi pula, nanti akan terbit versi bukunya, kok.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
serdadu.ulung dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di