CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f71fdc7f0bdb26a3565d7ae/sekre

Sekre

Sore ini kembali rapat organisasi kampus untuk acara yang akan diadakan pekan depan. Acara terakhir sekaligus tahun terakhir menjadi anggota organisasi, aku diberi tanggung jawab lumayan besar. Sebagai ketua pelaksana, tentu aku harus datang lebih awal dan membantu menyiapkan ruang rapat di gedung fakultas. Selesai kelas, bersama beberapa teman anggota menuju sekre untuk mengambil barang-barang keperluan. Gedung sekre berjarak hanya sepanjang galah dari gedung fakultas. Sekre organisasi tempatku bergabung berada di lantai paling atas, lantai 4. Bersama beberapa sekre organisasi lain, terletak di ujung lorong.

Dulu, lorong dengan berbagai sekre organisasi kampus ini terasa biasa saja. Padahal baru beberapa bulan berselang, seakan rela menunggu berbulan-bulan untuk menikmati utuh satu purnama. Salah seorang perempuan anggota organisasi sebelah membuat sepanjang lorong ini, seperti perjalanan pendaki menuju puncak gunung, tidak sesulit itu tapi lebih menyenangkan. Kanan-kiri jalan bukan pohon cemara, hanya pintu-pintu sekre dengan penuh harap ia ada di salah satu pintu saat aku melewatinya. Ketika sampai, para pendaki menikmati alam ciptaan Tuhan, aku mensyukuri ciptaan Tuhan; dirinya.

Bermula dari awal semester tahun lalu, minggu siang di hari perekrutan anggota baru organisasi kampus. Aku berada di ruangan mewawancarai calon-calon anggota baru. Waktu wawancara hampir selesai, dikonfirmasi bahwa peserta terakhir akan terlambat dan panitia harus menunggu.

“Ada yang mau nitip minum, engga? Gua mau ke kantin, nih.” Tawar Fajar ketua organisasi seketika berdiri dari bangku sebelahku. Fajar adalah kawan pertamaku di kampus. Dulu kami bertemu ketika akan mengumpulkan beberapa berkas mahasiswa baru. Sama-sama mengeluh karena antrean pengumpulan berkas masih saja panjang padahal sengaja memilih hari terakhir dengan anggapan sebagian besar mahasiswa baru mengumpulkan di awal. Di antara puluhan mahasiswa baru yang rapih mengenakan kemeja, Fajar satu-satunya yang mengenakan cardigan kuning dengan celana panjang training dan sandal jepit. Saat itu aku meminjam pulpen kepada Fajar karena ada beberapa form yang lupa aku isi. Tanpa sengaja aku melihat form miliknya dan ternyata kami satu jurusan.

“Gua nitip, dong. Eh-“ dompetku yang harusnya di kantong celana, tidak ada. Aku merogoh saku kemeja dan jas almamater juga tidak ada.

“Nyari apaan, Jun?” Tanya Fajar.

“Dompet gua.” Sambil mengingat terakhir kali membuka dompet.

“Jatuh di kantin, kali. Tadi pagi kita ‘kan sarapan di kantin.” Tanggap Nugraha yang duduk di sebelah Fajar.

“Ayo deh, cari dulu.” Ajak Fajar. Menyusuri tempat-tempat dan rute yang sebelumnya aku lewati, parkiran, kantin, lobi gedung fakultas, kamar mandi, tetap tidak ketemu. Harapan terakhir adalah sekre tempat pertama yang aku tuju setibanya di kampus pagi tadi.

“Engga ada. Udahlah. Balik aja, Jar.’’

“Cari dulu, Jun. Siapa tahu ketindih di bawah karpet atau di mana.”

“Udahlah. isinya juga engga seberapa. Kartu-kartunya sih yang bakal ribet.”

Belum selesai mengunci pintu sekre, perempuan dengan kerudung hitam segitiga melingkar rapi di kepalanya, selaras dengan kemeja blouse bermotif bunga-bunga dan celana jeans biru langit, menghadang.

“Permisi, kak. Ini benar sekre organisasi musik?” Tanya perempuan itu.

“Iya. Ada apa, ya?” Fajar balik bertanya.

“Ini, aku nemuin dompet ini di kantin pagi tadi. Ada kartu anggota organisasi musik, makanya aku kesini.” Sambil ia menyerahkan dompet ke Fajar.

“Nih Jun, ketemu.”

“Alhamdulillah. Makasih, ya.” Ucapku, sangat lega.

“Iya, kak. Sama-sama.” Tanpa berbelit, dia meninggalkan aku dan Fajar di depan pintu sekre menanggalkan lembut wangi khas parfum wanita. Aku tidak tahu namanya.

“Cakep, yak?” Goda Fajar.

“Ah, lu mah.” Benar saja, ia memang benar-benar menawan. Alis dan bulu matanya tidak lebat, namun teduh memayung sepasang bola mata yang bulat nan cerah. Bibir tipis dan hidung mungil menambah kesan lucu dan manis dengan pipinya yang sedikit mengembang. Saking tipisnya, sampai sulit membedakan ia memakai make-up atau tidak. Namun tetap saja, cantik.

Aku dan teman-teman meski tidak sesering dulu, masih nongkrong di sekre sambil menunggu mata kuliah selanjutnya. Sampai depan pintu sekre, dari ekor mata terllihat seseorang yang tidak asing. Benar saja, perempuan yang tempo hari mengembalikan dompetku yang hilang menjadi anggota di organisasi fotografi. Ia juga berdiri di depan sekre sambil mengobrol dengan temannya. Sejak hari itu kami menjadi sering berpapasan ketika sedang di sekre.

Satu hari, ketika aku tiduran di tepi dalam pintu sekre sembari mendengar Wake Me up When September Ends-Green Day dari ponsel. Sendiri. Tiba-tiba perempuan itu datang mengetuk pintu sekre. Aku yang setengah tertidur sedikit tersentak.

“Permisi. Maaf, kak. Boleh pinjam mic sama speaker-nya? Untuk rapat. Punya kami sedang diperbaiki.”

“Iya, sebentar.” Tanpa memperhatikan aku segera mengambilkan mic dan speaker. “Ini silaka-“ sepertinya ia akan kesulitan jika membawanya sekaligus dengan kardus cukup besar yang sedang dibawanya. “Ruangannya di mana?”

“Di ruang 204, kak.”

Tanpa banyak bertanya aku membawakan mic dan speaker, dan ia mengikuti dari belakang.

“Elwa, taruh depan sini saja.” Seru salah satu panitia sesampainya kami di ruangan.

“Oh, namanya Elwa.” Kataku dalam hati. Selesai meletakkan barang, aku beranjak.

“Terima kasih, kak.”

“Sama-sama.” Aku bergegas meninggalkan ruangan.

Kembali di hari rapat organisasi. “Jun, barang-barang udah?” tanya Fajar mengagetkanku yang sedikit terlamun.

“Oh, iya. Ini udah. Ayo bawa ke ruangan, Jar.” Ketika melewati lorong, sedikit aku melirik ke sekre sebelah barang kali Elwa di sana. Mengenakan belted top hijau selaras dengan kerudungnya. Sifatnya yang ceria, bahkan senyum manisnya tanpa sadar mengundang senyumku yang berdiri di depan pintu. Elwa selalu menawan menggunakan pakaian apa saja. Ia sepertinya pribadi yang menyenangkan. Teman-teman yang mengobrol dengannya terlihat nyaman dan ia juga mudah tertawa. Mereka tengah membahas kamera analog Canon Canonet QL17 berwarna hitam-putih yang berada ditangan Elwa. Berdalih membenarkan tali sepatu, setidaknya beberapa detik aku bisa menikmati bukti kebesaran Tuhan lewat indah ciptaan-Nya itu.

Sekre organisasi musik terletak di ujung lorong, tidak jauh dengan organisasi fotografi yang terisah dua ruangan berada di dekat tangga. Sering kali, aku curi pandang ketika melewati pintu sekrenya. Tak sepertiku yang menggunakan sekre sebagai salah satu tempat nongkrong, ia berada di sana hanya untuk keperluan saja. Biasanya ia mengobrol singkat dengan anggota lain, mengambil barang keperluan, atau sekadar rapat kecil bersama anggota divisinya.

Ketika aksi penolakan RKUHP meletus di depan gedung DPR/MPR beberapa waktu lalu, terlihat dari border para mahasiswa, Elwa kali ini menggunakan kamera digitalnya berlarian. Dipayung terik matahari, layaknya seorang sniper terlatih, Elwa membidik momen-momen penting dari angel terbaik dengan mata teduh juga tajam, jari lentik juga lihai mengambil gambar. Hasil bidikan Elwa terpampang mantap di pameran foto organisasinya di lobi gedung fakultas. Foto-foto terbaiknya selama aksi itu dipajang. Elwa tampak begitu bangga dari balik meja panitia.

Meski tidak sering, kami juga kerap berpapasan di luar sekre, di sekitaran fakultas, kantin, parkiran, di ruang kuliah saat pergantian mata kuliah. Satu waktu, karena kami satu fakultas, kelasku akan menggunakan ruangan kelas Elwa yang baru saja selesai mata kuliah. Setiap tidak sengaja berjumpa, mata kami saling menatap, dalam dan akrab. Setelahnya, hanya senyum tipis mengakhiri pertemuan seakan tidak salling kenal. Itu saja cukup mengembalikan semangat menjalani kehidupan kampus yang semakin lama semakin banyak tugas sekaligus menjadi semakin malas.

Berbeda ketika SD, murid-murid berlomba datang paling pagi untuk bisa duduk di paling depan. Ketika kuliah, para mahasiswa juga berlomba datang paling awal, apalagi ketika tes atau quiz, untuk duduk paling belakang. Kerena terlambat, aku dan Fajar duduk di baris depan. Beruntung aku di pinggir, sedang Fajar tepat di depan meja dosen. Ketika duduk aku merasa ada yang mengganjal, pulpen dengan tulisan “Elwa” menempel dengan selotip bening di tutupnya.

Satu siang tidak ada kelas, aku di sekre memesan bakso dari penjual di lantai bawah. Ketika datang, pesanan sedikit berbeda dengan biasanya, tanpa saus dan bihun. Tak apalah. Bagiku sama saja. Baru hendak memulai satu suap ketika pengantar makanan beranjak, dari sekre sebelah terdengar,

“Maaf, bu. Saya tadi pesannya yang engga pakai saus dan bihun.” Keluh seseorang dengan menyodorkan mangkuk baksonya. Ternyata bukannya hanya putri yang tertukar, pesanan bakso juga bisa tertukar.

“Maaf, mbak. Biar saya ganti, ya.”

“Ibu, tadi saya pesannya pakai saus dan bihun. Kok engga ada?” Sambil keluar sekre, aku berusaha memotong supaya ibu penjual bakso tidak perlu membuatkan yang baru dan Elwa tidak harus lebih lama menunggu. “Itu kayaknya pesanan saya. Tukeran engga apa-apa? Belum aku makan, kok.”

Sejak beberapa hari lalu, aku mulai jarang bertemu Elwa. Hanya di sekitaran gedung fakultas paling satu-dua kali itupun hanya melihatnya dari belakang. Aku mencoba mencarinya di sekre juga tidak ada. Padahal aku ingin mencoba mengajaknya mengobrol dengan alasan mengembalikan pulpen yang aku temukan tempo hari di ruang kuliah. Fajar yang biasanya nongkrong di seke bersamaku juga mulai jarang.

Siang itu, aku terbangun di sekre dan baru menyadari bahwa terlambat kelas. Dengan buru-buru, sambil mengenakan sepatu aku menuju kelas dengan setengah sadar dan tanpa sengaja menabrak seorang perempuan.

“Eh, maaf-maaf.” Pintaku.

“Iya, kak. Engga apa-apa.”

“Elwa?” Tanyaku terkejut dan sebentar terpana.
“Hehee. Kak Jun, mau kemana? Senyumnya mengembalikan penuh kesadaranku.

“Kamu lama engga kelihatan di sekre, ke mana?” Tanyaku penasaran.

“Aku? Ada, kok. Kakak nyari aku? Ada apa?”

Tidak mungkin aku bilang, ‘rindu’. “Duluan, ya. Udah telat.” Sergahku kebingunan karena tidak tahu harus menjawab apa.

Akhirnya tiba hari H acara organisasi. Sebenarnya hanya acara biasa, lomba-lomba musik antarjurusan. Menjadi sangat berkesan karena ini merupakan tahun terakhirku di organisasi sekalilgus acara terakhir di ujung kepengurusan setelah dua periode. Ketika mengikuti suatu organisasi kampus, sebernarnya kita bisa mendapat lebih dari makna atau apa yang bisa didapat dari organisasi tersebut. Tidak harus menjadi ketua atau wakil, seklaipun hanya anggota biasa tetap bisa mendapat banyak ilmu dan pengalaman sebanyak yang kita lakukan.

Sewaktu SMA aku tidak pernah mengikuti organisasi apapun. Hanya sekadar berangkat itupun juga sering terlambat dan dihukum BP, sore paling nongkrong sebentar lalu pulang karena sudah terlalu lelah. Berbeda saat menjadi mahasiswa. Bermula dari keinginan bisa bermain alat musik, menjadikanku lebih tahu banyak hal, mengenal banyak orang-orang, belajar memanajemen waktu dan diri, sedikit kreatif dalam menyelesaikan masalah, lebih menghargai diri sendiri dan orang lain. Kalau kata senior formal atau dosen, ‘hal yang tidak bisa kamu dapatkan di bangku kuliah’. Padahal bisa didapat di mana-mana. Organisasi kampus adalah salah satu alternatif.

Sebagai ketua pelaksana, aku memberikan beberapa kata sambutan, dan acara dimulai. Masing-masing jurusan menampilkan penampilan terbaik mereka. Mulai dari solo, duo, grup, akustik, hingga full band memeriahkan acara. Tiba giliran jurusan Elwa tampil. Jurusannya diiringi dua gitar akustik dan satu cajoon membawakan lagu ‘Berharap Tak Berpisah-Reza Artamevia. Selain menawan, suara lembut Elwa juga masuk telinga dengan sopan. Penonton pun turut menyanyi bersama.

Acara hampir selesai dan aku belum bertemu Fajar. Padahal ia bertugas mengumumkan pemenang dan menutup acara.

“Maaf-maaf. Gua telat, ya.” Fajar menepuk pundakku dengan napas sedikit terengah-engah.

“Dari mana lu? Udah mau kelar ini.”

“Sorry, ada urusan tadi.” Beruntung Fajar datang sebelum acara selesai. Begitu penampilan terakhir berakhir, juri diberikan waktu tiga puluh menit berunding menentukan pemenang. Sembari menunggu, para panitia memberikan beberapa huburan. Anehnya, Fajar yang jarang bernyanyi, naik panggung dan membawakan lagu ‘Perfect-Ed Sheeran’ diiringi permainan gitar akustiknya yang lihai. Fajar memang pandai bermain gitar, bahkan aku belajar darinya. Ketika berbicara saja, suaranya yang besar dan lembut pasti akan sangat sopan memasuki telinga dengan nyanyian. Penonton terhibur, sedang panitia terkejut karena sangat jarang Fajar bersedia untuk bernyanyi bahkan sekadar latihan atau ketika jamming di sekre.

Acara selesai. Kami beberes, melakukan evaluasi akhir dan mengembalikan barang-barang ke sekre.

“Jar, Malam ini gua nginep di rumah lu, ya.” Ketika ada kegiatan kampus, aku memang sering menginap di rumah Fajar karena terlalu capek untuk pulang ke rumah dengan jarak cukup jauh di malam yang juga terlalu larut.

“Oke. Tapi lu duluan aja ke rumah. Gua ada perlu.”

“Ke mana? Kita kan mau pada makan dulu.” Tanya Wisnu, wakil ketua organisasi. Meski tidak semua, seringnya beberapa anggota menyempatkan makan bersama setelah kegiatan kampus atau pulang malam setelah nongkrong di kampus. Bakso di dekat parkiran, atau nasi goreng seberang jalan belakang kampus menjadi pilihan menu utama apalagi jika di dompet hanya menisakan lembar-lembar terakhir sebelum tiba musim semi dari transferan orang tua.

“Kak Fajar, ada yang nyariin.” Desi salah satu anggota baru sambil berjalan menuju sekre membawa beberapa barang. Di belakangnya berjalan Elwa mengenakan cardigan kuning milik Fajar.

“Ealah, bro bro. Iya, bang yang ada perlu.” Ejek Nugraha yang masih menata barang di dalam sekre.

“Hehehe. Duluan abang-abang.” Hingga turun tangga aku memperatikan Fajar berjalan meninggalkan sekre dengan Elwa yang memegangi kaosnya dari belakang mengikuti.

“Sudah, buruan kelarin ini. Keburu laper.” Usul Wisnu.

“Ayo semangat abang-abang jomblo. Eh, ini bukannya punya Fajar?” Nugraha mengambil dompet dan hp yang tergeletak di atas meja dekat pintu sekre.

“Sini, biar gua bawa. Palingan nanti nyari kita di warung kalo engga juga ketemu di rumah dia.” Aku menawarkan diri.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan bukhorigan memberi reputasi
its nice story, ada lanjutan?
Tandai sek...


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di