CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f6e7d3182d4954a684208fe/santet-untuk-pelakor

Santet Untuk Pelakor

Santet Untuk Pelakor

Suaminya Direbut Pelakor, Sang Istri Berniat Menyantet Pelakor Tersebut. Bagaimana kisahnya?

Desi meraung-raung di depan Dani. "Jahat kamu, Mas! Kejam! Apa selama ini aku tidak bisa melayanimu dengan baik? Coba lihat aku, Mas! Aku berhenti bekerja agar bisa menjaga istana kita, cinta kita, anak-anak kita. Namun, kamu malah selingkuh dengan perempuan laknat itu! Aku tidak bisa terima, Mas! Kamu melupakan semua pengorbananku. Sampai kapan pun, aku tidak pernah rela kamu perlakukan begini!"

Dani hanya bisa menarik napas ketika Desi mendorongnya keluar dari kamar, lalu pintu berdebum, begitu Desi membantingnya dengan kuat.

"Maafkan Mas, Desi!" teriaknya dari depan pintu. Dani menyeret kopernya keluar dari rumah. Dua orang anaknya yang sudah SMA, hanya bisa menatapnya dengan sedih. Tidak ada satu pun dari remaja lelaki itu yang berniat menghentikan langkahnya. Dika dan Diki, kembar berusia tujuh belas tahun.

"Kalian tidak berniat menghentikan Papa?" Dani masih berharap akan ada maaf dari keluarga kecilnya, tapi sepertinya nasi sudah jadi bubur. Diki dan Dika membuang muka, menyembunyikan tangis mereka di dalam hati. Dani akhirnya pasrah, lalu segera meninggalkan rumah yang telah memberinya kehangatan dan cinta selama ini. Namun, karena tergoda oleh perempuan lain, mahligai rumah tangganya hancur seketika. Begitu Dani menghilang, Dika dan Diki saling berpelukan, menangis, merasakan sakit yang tidak berdarah di hati mereka.

Sementara itu Desi di dalam kamar merasa sangat marah, benci dan dadanya dipenuhi rasa sesak. Di layar hapenya terpampang foto perempuan yang begitu terlihat cantik dan seksi, yang telah merebut Dani dari sisinya. Perempuan yang belum sekalipun pernah bertemu dengannya.

"Perempuan jahanam! Jangan kira aku akan diam saja. Akan aku tunjukkan neraka dunia kepadamu. Kau telah menghancurkan hidupku, merebut suamiku dan membuatku jadi janda, membuat anak-anakku kehilangan idola dan pahlawan di hati mereka. Tidak bisa kumaafkan kejahatanmu ini!" Dengan menguatkan hati, Desi mengganti busananya yang lebih pantas. Lalu keluar dari rumah tanpa peduli dengan pertanyaan Dika dan Diki. Dia melenggang dengan membawa bara dendam di hatinya.

***

Rumah kayu itu terlihat suram dan angker. Apalagi hari beranjak senja menjemput Maghrib. Dari jauh sudah terdengar lantunan ayat-ayat suci yang digaungkan sebuah Masjid. Namun, kesucian itu sepertinya tidak menyentuh hati Desi yang sedang dilanda amarah. Bisikan-bisikan setan sedang mendominasi akal dan pikirannya.

Di dalam rumah itu, di hadapan seorang lelaki tua dengan busana segala hitam, Desi duduk dengan wajah basah karena air mata.

"Aku tidak bisa terima, Mbah Suro! Perempuan itu harus menerima balasan atas apa yang dia lakukan. Hatiku benar-benar sakit, Mbah! Sakit!"

Lelaki tua itu menyalakan dupa. Asap menyan seketika memenuhi ruangan suram tersebut.

"Aku bisa saja membantumu, Desi. Namun, apakah kau sudah yakin kalau perempuan ini pelakor yang telah merebut lakimu?"

"Benar, Mbah! 100 persen memang ini orangnya."

"Kau sudah pernah bertemu dan melihat perempuan ini secara langsung?"

Desi terdiam. Lalu menggeleng pelan. "Foto ini yang ada dalam hape Mas Dani. Di kontak WA-nya pun memang foto ini yang dipakai, Mbah. Duh, Mbah, kalau saja Mbah ikut membaca chat mesra mereka, bisa membuat asam urat kambuh, Mbah!"

Mbah Suro mendelikkan mata. Tidak menyangka akan diajak berghibah ria. "Tolong fokus, Desi!"

Desi menutup mulutnya. "Kenapa Mbah ragu dengan foto ini?" tanyanya penasaran.

"Tidak apa-apa. Hanya saja ... perempuan ini terlihat sangat ... cantik! Pantas saja Dani kepincut! Mbah saja sampai deg-degan ini. Sayang, kalau aset sebagus ini Mbah santet!"

"Astaga, Mbah!" Desi kembali membekap mulutnya. Hatinya panas dan kepalanya serasa mau meledak.

"Ha-ha-ha. Tenang saja, Desi! Aku dukun profesional, yang penting jangan lupa maharnya!"

Tidak mau si Mbah berubah pikiran, Desi buru-buru mengeluarkan sebuah amplop. "10 juta, Cash!"

"Sah!"

***

Seminggu kemudian Desi kembali ke rumah Mbah Suro.

"Mbah, kenapa perempuan itu masih baik-baik saja? Katanya Mbah akan buat dia bisulan dan jerawatan? Kenapa aku lihat dia masih bebas melenggang kangkung dengan Mas Dani di mall!"

"Masa'? Jangan bercanda!" Mbah Suro mengusap janggutnya yang beruban.

"Iya! Kemarin aku ketemu mereka sedang shopping. Makin lengket, makin mesra, makin bahagia. Aku remuk, Mbah! Remuk!" Desi meratap tanpa malu.

"Kamu ada fotonya?"

"Foto?"

Mbah Suro mengangguk.

"Jangankan fotonya, videonya pun ada, Mbah!" Desi berhenti menangis, lalu menyerahkan video Dani dan Pelakor itu ke Mbah Suro.

"Looo, kok, beda?" Mbah Suro menatap Desi heran.

"Beda gimana, Mbah?"

"Perempuan di video ini beda jauh dengan yang di foto, Desi!"

Desi langsung mencak-mencak. "Ya pasti bedalah, Mbah! Aplikasi mengedit foto 'kan banyak! Dunia sudah canggih, Mbah! Yang burik bisa terlihat cakep! Yang ...."

Mbah Suro mengangkat tangan menghentikan lidah Desi yang plantang-pluntung tak kenal ujung.

"Kenapa lagi, to, Mbah?" Desi menghapus ingus bening yang keluar masuk dari hidungnya.

"Pantas saja santetku tidak berhasil. Wong, fotonya palsu. Sudahlah! Mending kamu pulang, deh! Terima nasib saja. Jangan nambahin dosa. Toh, apa kamu enggak kasihan sama anak-anakmu? Mending bangkit dan perjuangkan kebahagiaanmu. Menyantet perempuan itu tidak akan membuat Dani kembali kepadamu. Biarkan yang terjadi berlalu begitu saja. Tidak perlu memendam kebencian. Itu hanya akan membuatmu lelah."

"Tapi Mbah ...."

"Tidak ada tapi-tapian! Jika kamu masih menghormati Mbah, lakukan apa yang Mbah katakan."

Desi terdiam. Wajah si kembar berkelebat di matanya. Lalu istighfar pun menggema dari bibirnya.

"Jadi saya batalkan saja menyantet pelakor itu, Mbah?"

"Batalkan!"

"Lalu gimana dengan uang yang 10 juta itu, Mbah? Banyak, lho, itu?"

"Oh, itu lain cerita, Desi! Ikhlaskan saja, udah!"

"Yah, si Mbah. Balikin 9.500.000,- saja, ya? Lumayan lho itu untuk nambah modal usaha."

"Oh, mau bikin usaha apa rencana?"

"Jualan online saja, Mbah."

"Nah, mantap. Itu baru semangat membara! Mbah gandakan jadi 100 juta."

"Alhamdulillah."

***

Bolehkah kita akhiri cerita ini?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tabernacle69 dan 4 lainnya memberi reputasi
Wanita pelakor bernama Dina.
lanjuttt gan,, ane tunggu
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Ah lanjut aj lah sampek online ny sukses
Ceritanya menarik. Soal santet juga. Oh ya, kalau berkenan, silahkan mampir ke lapak stori saya di : https://kask.us/iGS27
profile-picture
profile-picture
blckmmb7 dan b3l3ng memberi reputasi
Di tunggu kelanjutanya gans
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scarlot dan 4 lainnya memberi reputasi
Lanjuuuut ts..
Akhirnya desi menikah dengan mbah dukun tsb karna di kasih 100 jtemoticon-Wakaka
profile-picture
cakramukti memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
ngeri juga.
dari dukun santet jadi dukun pengganda uang
wa si kanjeng ini , kanjeng siapa itu namanya
Pasiennya P.A ,dukunnya juga Gelo


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di