CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
The Thread (Pre-words)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f6d9c83f4d6950e4b3f9548/the-thread-pre-words

The Thread (Pre-words)

Hallo agan-agan dan sista-sista....
Sebelum mulai cerita, kenalan dulu boleh yaah hehehe.
Kenalin, aku Anna, pengguna baru di Kaskus, dan thread yang nanti Anna posting adalah thread pertama Anna. Jadi mohon maaf ya kalau nanti agak berantakan, karena Anna juga masih belajar emoticon-Smilie

Anna spoiler dikit yaah hehehe... 
Thread yang mau Anna share ini cerita fiksi yah, semua murni khayalan Anna aja. Bukan khayalan sih, sebenarnya Anna dapat inspirasi ini dari mimpi. Jadi kalau ada kesamaan nama, latar, tempat, dan lain-lain, atau mungkin agak menyinggung Anna mohon maaf ya, karena Anna nggak bermaksud demikian. 
Thread ini menceritakan tentang Silvana yang hobi baca thread di Twitter. Suatu hari, Silvana nemu thread aneh yang ceritanya cukup seru, tapi thread itu langsung hilang tepat setelah dia baca. 
Suatu hari, Silvana mendapat ajakan open trip ke Pulau Bening. Karena butuh liburan, Silvana pun tertarik untuk ikut. Tapi siapa sangka, ternyata thread yang dia baca beberapa waktu lalu itu ternyata firasat?

Satu lagi, 'The Thread' adalah cerita thriller pertama yang aku tulis. Kalau agan dan sista ada kritik dan saran, silakan yaa. Supaya Anna bisa menulis lebih baik. Tapi kritiknya yang membangun yaa emoticon-Smilie
Cerita ini juga udah aku post di blog pribadi aku, dan udah selesai. Ini link-nya ya agan dan sista: https://catatanceritaannaonymus.blogspot.com/
Silakan mampir ^ ^
Sama seperti kaskus, aku juga baru belajar ngeblog ehehehe. Jadi maaf yah kalau masih berantakan 

Allright then, happy reading!
Quote:


profile-picture
profile-picture
bleedingscream dan bukhorigan memberi reputasi

The Thread (Chapter 1 Part 2)

Silvana menggeser-geser layar ponselnya, tampak tidak peduli dengan sekitarnya. Mengacuhkan orang-orang yang berlalu lalang, menulikan telinga dari gelak tawa dan obrolan-obrolan yang terdengar di seantero meja kantin, bahkan melewatkan kejadian saat Dara, salah satu anggota BEM yang cukup populer, terpeleset hingga hampir jatuh dan menumpahkan es kopi yang ia beli. Tyas sedang menghabiskan batagornya dengan khidmat dan kepedasan sehingga tidak bisa diajak mengobrol. Jadi, hal terbaik yang bisa ia lakukan selagi menunggu Tyas selesai makan adalah membaca utas di Twitter.

Namun utas-utas horor yang diposting di Twitter akhir-akhir ini tampak membosankan. Setelah membaca utas berjudul 'KKN Berujung Petaka' rasanya sekarang utas-utas itu tidak ada yang seru.

"Yas, rekomen dong thread horor di Twitter yang seru," kata Silvana kebosanan.

Tyas menyelesaikan kunyahan batagor di mulutnya. "Kemarin gue... sssh hah... habis baca thread judulnya... sssshhh... 'Kali Banyu'. Seru itu," cewek itu berusaha bicara sambil mendesah meredakan panas di lidahnya gara-gara makan batagor pedas.

"Yaah... itu juga gue udah baca semalam. Tapi nggak sampai habis, nggak seru," kata Silvana. "Gue maunya cerita yang kayak 'KKN Berujung Petaka' itu. Hmm akun penulisnya juga susah lagi dicarinya."

Tyas menyedot es tehnya yang hampir habis. "Emang gimana sih ceritanya? Kepo gue."

Silvana menghela napas, bersiap-siap memulai cerita panjang. Ia sangat antusias dan bersemangat membagikan cerita itu pada Tyas. Apalagi cerita itu hilang begitu saja sebelum Tyas sempat membacanya.

"Jadi, cerita ini berawal dari sekelompok anak kuliahan yang KKN di pulau terpencil gitu. Sebenarnya pulau ini normal, ada penduduknya dan indah banget. Pulau ini juga tempat wisata, tapi nggak banyak orang datang karena tempatnya terlalu jauh. Pokoknya sebuah pulau terpencil di tengah laut dalam lah, keluar dari bibir pantai dua puluh sampai tiga puluh meter aja udah langsung laut dalam. Susah sinyal, bahkan listrik aja nggak selancar di pulau besar. Tapi ada genset di pulau itu, buat jaga-jaga kalau mati lampu, which is sering banget kejadian. Kapal ke pulau itu pun nggak setiap hari ada. Paling cuma melayani seminggu sekali buat distribusi keperluan dari Jakarta dan setor ikan asin, rumput laut, sama ikan segar hasil dari nelayan-nelayan di pulau itu."

"Nama pulaunya apa?" tanya Tyas yang juga antusias. Tanpa ia sadari, rasa pedas yang membakar lidah setelah makan batagor perlahan-lahan mereda.

Silvana mengangkat bahu. "Nggak dikasih tahu. Disamarin." Kemudian ia pun melanjutkan ceritanya. "Semuanya normal waktu mereka datang. Bahkan fun. KKN rasa jalan-jalan gitu lah pokoknya, asyik. Mereka ada dua belas orang dan didampingi satu dosen. Kelompok KKN ini bukan teman sekelas, jadi beberapa dari mereka ada yang baru kenal pas KKN itu. Seperti KKN pada umumnya, mereka bakal tinggal di pulau ini selama dua bulan dan mereka tinggal di salah satu penginapan yang emang udah disewa pihak kampus selama KKN."

"Hari pertama sampai seminggu pertama, semua berjalan normal. Rapat proker, tur pulau, kenalan sama warga, ngerjain tugas setumpuk sampai hampir nggak tidur."

Silvana menarik napas, semakin bersemangat karena hampir tiba di bagian terseru dari utas itu. "Malapetakanya, berawal dari ketika mereka mau menanam pohon bakau dan bersih-bersih area pantai yang banyak sampah. Sebenarnya ini di luar proker, tapi ini inisiatif dari sebagian anggota yang kebetulan anak MAPALA. Kegiatan itu didukung sama dosen dan penduduk pulau itu. Nah, pas mereka hampir sampai di belakang pulau, mereka baru sadar kalau bagian belakang pulau itu terisolasi," mata Silvana menerawang membayangkan betapa mubazirnya ada wilayah terisolasi di pulau nan kecil yang bisa dikelilingi hanya dengan menggunakan sepeda. "Bagian belakang pulau itu kelihatan banyak pohon kelapanya dan ditembok tinggi. Akses masuknya cuma satu pintu besi yang digembok rapat. Mereka tanya ke penduduk, itu tempat apa dan kenapa diisolasi kayak gitu? Mereka sih bilangnya itu pemakaman, makanya diisolasi. Anak-anak KKN itu dilarang masuk ke sana dan katanya emang nggak ada warga yang dibolehin masuk."

"Tapi namanya juga anak muda, Apalagi mereka ada banyak, bermacam-macam karakter. Kalau anak MAPALA sih patuh, ya. Mungkin karena mereka udah terbiasa naik gunung, jadi menghormati dan taat aturan. Tapi ada beberapa dari mereka yang ceroboh. Mereka dengan keponya nyoba bobol gembok pintu besi itu cuma buat lihat apa yang ada di dalam tempat itu. Tapi alih-alih kuburan, tempat itu ternyata cuma kebun kosong yang nggak terawat. Banyak rumput liar, ilalang juga. Tapi mereka lihat kayak ada yang bergerak-gerak gitu. Mereka makin penasaran dong. Mereka akhirnya masuk dan nyari-nyari 'yang bergerak' itu."

"Terus, ada apa?" tanya Tyas yang tanpa sadar sudah menahan napas. Sebenarnya ia sudah menduga mungkin saja itu hantu. Tapi tetap saja Tyas penasaran.

"Ternyata itu buaya muara, dan jumlahnya nggak cuma satu atau dua, tapi banyak. Bahkan beberapa gede-gede. Dari situ mereka ketakutan dan akhirnya ngerti kenapa tempat itu diisolasi. Mereka pun buru-buru lari keluar dari tempat itu, yang ternyata kesalahan besar. Salah satu dari mereka, sebut aja namanya Melissa, larinya kurang cepat dan akhirnya ketangkap sama buaya muara itu. Yah, kebayangkan kan apa yang terjadi berikutnya?"

Tyas berjengit ngeri. Dugaannya salah. Ternyata utas horor yang dibaca Silvana bukan cerita hantu seperti biasa. Melainkan lebih seperti cerita thriller dengan alur cerita seperti film Jaws atau Bait. Pantas saja susah mencari cerita serupa, karena utas dengan cerita seperti itu memang jarang ada.

"Anak-anak yang berhasil kabur itu, sebut aja namanya Liana sama Bagas, karena buru-buru kabur mereka lupa nutup pintunya. Mereka cuma fokus buat cari bantuan. Tapi ternyata kesalahan kecil itu malah jadi berabe karena buaya-buaya yang udah lama terkurung di tempat itu mulai keluar dan jadi teror di pulau itu," lanjut Silvana dengan suara yang dibuat seram.

"Fajar Setiawan, salah satu anak MAPALA, dosen, sama satu anak lagi akhirnya ngikutin Bagas dan Liana ke belakang pulau itu secepat mungkin. Saat mereka sampai, Melissa udah dicabik-cabik buaya." Silvana mengangkat kedua tangannya. "Gue nggak akan mendeskripsikan ya, karena kita lagi di kantin. Saat itulah mereka baru sadar kalau buaya-buaya yang tadinya terkurung di tempat isolasi itu keluar. Bagas sama Liana disemprot habis-habisan sama dosen karena kecerobohan mereka. Dia udah kalut banget. Akhirnya mau nggak mau mereka pun berpencar buat ngasih tahu para warga kalau bagian belakang pulau yang mereka isolasi udah dibuka dan buaya-buaya di dalamnya keluar."

"Para warga jadi ketakutan dan marah banget sama anak-anak KKN karena mereka ceroboh banget. Penduduk pulau yang ketakutan itu akhirnya mengunci rumah mereka rapat-rapat. Pokoknya apapun yang terjadi, mereka nggak akan buka pintu. Bahkan para anggota KKN ini sampai diusir sama pemilik penginapan saking kesalnya dia sama mereka. Dibalikin pula uang sewanya selama dua bulan. Akhirnya nggak ada pilihan lain selain pulang. Tapi masalahnya, kapal di pulau itu cuma beroperasi seminggu sekali."

Tyas menahan napas. "Gila! Terus gimana tuh mereka?"

"Untungnya ada tiga anak MAPALA dalam anggota mereka. Mereka bertiga bawa perahu karet portable yang tadinya niatnya mau dipakai buat senang-senang di pantai. Akhirnya mau nggak mau mereka pakai perahu karet itu buat keluar dari pulau itu. Nggak bisa sampai Jakarta, tapi paling nggak mereka bisa keluar dari sana dan menuju pulau terdekat. Fajar Setiawan, sama dua anak MAPALA, gue lupa namanya, pergi duluan ke pantai buat nyiapin perahu karet. Tapi sayangnya, perahu karet itu nggak bisa bawa mereka semua sekaligus. Apalagi nyeberang laut, terlalu beresiko. Akhirnya mereka cuma bisa pergi sebagian, sebagian lagi nunggu perahu-perahu itu balik...."

"Sil, Sil. Kantin sepi cuy!" Tyas menyela cerita Silvana saat akhirnya ia menyadari sekitar. Tyas pun melirik jam dinding di salah satu kios dan baru sadar sekarang sudah pukul satu lewat sepuluh menit. Mereka sudah terlambat kelas. "Sil, kita udah telat!"

"Waduh!" pekik Silvana. Mereka pun serta merta beranjak dari kantin dengan buru-buru, membayar makanan, dan berlari ke kelas. "Ah, saking asyiknya cerita, jadi lupa waktu!"

Setelah itu, baik Silvana maupun Tyas melupakan utas thriller yang dibaca Silvana. Bahkan Tyas lupa begitu saja bahwa ia belum mendengar cerita itu hingga selesai. Cerita itu memuai begitu saja dari ingatan mereka seiring kesibukan perkuliahan yang mereka hadapi, dan utas-utas lain yang mereka temukan di Twitter.

***

The Thread (Pre-words)
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
nyimak dulu, menunggu kelanjutan.

The Thread (Chapter 2)

Silvana menatap jenuh buku-buku di hadapannya. Tugas yang diberikan dosen terasa tak pernah ada habisnya. Baru selesai satu tugas, tugas lain sudah menanti. Mungkin hanya jika Silvana tidak tidur, ia baru bisa menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Dan tugas-tugas yang diberikan kadang tidak masuk akal dan sangat menyusahkan. Belum lagi kalau ada dosen yang minta tugas express alias tugas baru diberikan kemarin sore, harus segera dikumpulkan besok pagi.

Dering ponsel Silvana membuyarkan konsentrasinya. Ia mendengus dan mengulurkan tangan untuk meraih ponsel yang ia letakkan sembarangan di kasur. Malam ini ia sedang tidak ada waktu untuk meladeni telepon, apalagi panggilan tidak penting. Well, memangnya ada waktu luang bagi Silvana untuk meladeni telepon selain saat liburan semester?

"Halo, Yas?" Rupanya Tyas yang menelepon.

"Sil, mau ikut open trip nggak?" tanya Tyas.

Huh, kepala Silvana sedang ngebul gara-gara tugas, dan Tyas malah bertanya tentang open trip? Yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tugas? Yah, kedengarannya memang menyenangkan, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya.

Tapi sepertinya tidak ada salahnya mengistirahatkan pikiran sejenak dari tugas yang tiada habisnya? Lagipula Silvana sangat butuh liburan untuk menyegarkan pikirannya yang jenuh gara-gara kebanyakan tugas dan masalah-masalah lain.

"Open trip ke mana?"

"Ke Pulau Bening."

Silvana mengernyitkan alis, belum pernah mendengar nama pulau itu. "Pulau Bening? Di mana itu? Kayak baru dengar gue."

Tyas menyebutkan lokasi tepatnya di mana letak Pulau Bening. "Pokoknya cukup jauh dari Jakarta. Kita mesti naik kapal lima jam buat sampai ke pulau itu."

"Wah, jauh juga ya," komentar Silvana seraya membayangkan lima jam berada di kapal. Tapi sepertinya tidak masalah. Ia tidak punya riwayat mabuk perjalanan.

"Iya, tapi worth it lah. Pemandangan di pulau itu indah banget, dan jarang dikunjungi wisatawan. Asik banget kan? Pasti banyak spot-spot pantai sepi, berasa kayak pantai pribadi. Airnya juga jernih, pulaunya bersih, banyak terumbu karang. Pokoknya indah banget deh!"

Bayangan Silvana segera merajalela, membayangkan sebuah pantai bersih nan indah dengan air laut bening kehijauan dan pasir putih. Lalu dirinya ada di pantai itu sambil main pasir dan berenang. Menikmati segarnya es kelapa muda, semilir angin pantai, snorkeling, foto-foto sunset, bakar ikan sambil menyanyi bersama teman-temannya diiringi gitar. Ah, indah sekali.

"Aduuh I need vitamin sea!" ujar Silvana. "Berapa bayarnya?"

"Tiga juta lima ratus, Sil."

Silvana yang semua berbaring malas di kasurnya pun terduduk tega. "Hah?! Gila, mahal banget itu sih."

"Kan seminggu di sana. Lagian itu udah cukup murah karena ini open trip yang bakalan diikuti sekitar tiga puluh peserta. Lagian wajar kok bayar tiga juta lima ratus buat ke Pulau Bening. Pemandangannya indah, homestay-nya juga nyaman, dan perjalanan ke sana emang jauh. Trip-nya kan juga nanti pas liburan semester. Masih ada tiga bulanan lah buat ngumpulin dana," Tyas berusaha meyakinkan.

"Hmm... gue pikir-pikir dulu ya," kata Silvana akhirnya setelah terdiam beberapa saat.

***

"Pulau Bening," Silvana menggumam seraya mengetikkannya di ponsel. Ia penasaran dengan pulau tempat Tyas akan mengajaknya ikut open trip, jadi ia bermaksud sedikit mencari tahu tentang informasi tersebut di internet.

Tak sampai menunggu satu menit, muncullah banyak informasi mengenai Pulau Bening. Awalnya, Silvana mengira Pulau Bening adalah salah satu pulau kecil tidak berpenghuni. Namun ternyata pulau tersebut dihuni oleh beberapa warga. Menurut informasi, penduduk di pulau kecil itu tidak banyak, tapi mereka ramah, apalagi terhadap tamu. Itu dikarenakan pulau tersebut memang amat jarang dikunjungi wisatawan. Mata pencaharian penduduk di pulau itu pun mayoritas nelayan dan pengrajin ikan asin. Selain itu, ada pula penangkaran penyu. Sedangkan kebutuhan penduduk Pulau Bening dipasok dari Pulau Jawa menggunakan kapal yang hanya berlayar empat hari sekal, yang sekaligus mengangkut ikan segar dan ikan asin olahan penduduk Pulau Bening.

Gambar-gambar yang muncul di pencarian memang menampakan pantai nan indah dengan beberapa rumah penduduk dan hutan di sebagian pulau. Sedangkan gambar dari jarak jauh menunjukkan Pulau Bening hanyalah seonggok daratan kecil di tengah lautan nan luas.

Silvana melamun, membayangkan dirinya berada di tempat terpencil macam itu. Pasti menyenangkan sekali rasanya pergi sejenak dari kenyataan yang penuh tekanan hingga terkadang membuatnya yakin bahwa dirinya depresi. Pelarian yang lebih sempurna dibandingkan hanya membaca utas di Twitter atau cerita dalam novel. Bersenang-senang bersama teman-temannya, dan tidak ada yang bisa mengganggunya karena di Pulau Bening hampir tidak ada sinyal.

"Lo juga ikut open trip?"

Silvana hampir melonjak saking kagetnya. Ia menoleh dan mendapati senyuman Fajar yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Silvana mengangkat bahu. "Nggak tahu. Tyas ngajakin, tapi gue masih mikir-mikir."

"Ikut aja, seru tahu!" kata Fajar bersemangat. "Gue juga rencananya mau ikut, tapi gue nabung dulu."

Silvana menarik kedua bibirnya hingga membentuk sebuah senyum terpaksa. Ia heran dengan Fajar. Dia kan anak orang kaya. Untuk ikut open trip seharga tiga juta lima ratus ribu rupiah, pastilah enteng baginya, papanya bisa membiayanya tanpa keberatan dan ia sama sekali tak perlu menabung. Tapi itulah uniknya seorang Fajar Setiawan. Dengan dalih ingin belajar mandiri, ia bahkan bekerja di sebuah kedai kopi dekat kampus bersamanya untuk membeli buku pelajaran, naik gunung rutin (Fajar adalah anggota MAPALA), dan keperluannya sehari-hari. Bahkan Silvana tahu pekerjaan paruh waktu kedai kopi ini dari Fajar.

Awalnya, Silvana mengira Fajar hanya sok down to earth. Tapi melihat pembawaan Fajar yang ramah dan hampir selalu tersenyum, Silvana percaya Fajar tidaklah seburuk yang ia pikirkan. Meski Fajar adalah anak salah satu pejabat BUMN, ia tak pernah tampak bermewah-mewah memamerkan kekayaan ayahnya. Selain itu, Fajar juga memiliki wajah yang cukup tampan meski kulitnya gelap karena kebanyakan beraktivitas di luar. Hidung mancung, bulu mata lentik, rahang tegas, alis tebal yang menaungi mata setajam elang, dan bibir penuh berisi. Tapi tidak seperti kebanyakan cowok ganteng di kampus, Fajar tidak brengsek. Bahkan selama dua tahun mereka kuliah di kampus yang sama dan bekerja di kedai kopi yang sama, Silvana tak pernah melihat Fajar punya pacar.

"Ya, gue juga kayaknya pengen nabung. Gue sangat-sangat butuh liburan!" Silvana hampir berseru, mengeluarkan kejenuhannya akan hidup yang dijalaninya.

Fajar hanya menanggapinya dengan senyuman. Tak lama kemudian, ojek online yang dipesan Silvana datang. "Gue duluan ya, Jar."

Fajar mengangguk. "Iya, hati-hati."

Sepanjang jalan, Silvana menimbang-nimbang tentang acara open trip itu. Tyas ikut, Fajar juga ternyata ikut. Sebaiknya kali ini Silvana ikut juga. Sama seperti teman-temannya yang lain, ia juga butuh liburan dan berhak bersenang-senang. Selama hampir lima tahun dalam hidupnya, sejak ayahnya meninggal, Silvana menghabiskan masa mudanya dengan penuh kesedihan, tekanan, dan keputusasaan tiada akhir.

Dua tahun pertama sejak ditinggal ayahnya, Silvana harus tegar mengurus ibunya yang sakit-sakitan lahir batin seolah kehilangan semangat hidup, di saat dunianya sendiri runtuh berantakan. Hingga ia tak punya waktu untuk ikut eskul, berkumpul bersama teman-temannya, bahkan untuk jatuh cinta. Jangankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan itu, untuk mengerjakan tugas saja, Silvana harus bersusah payah meluangkan waktunya. Apalagi selama masa-masa terkelam itu, ibunya tak pernah mau ditinggal sendirian.

Setelah lulus SMA, akhirnya masa-masa kelamnya terlewati. Meski mungkin tidak secerah pelangi, tapi setidaknya itu lebih baik. Perlahan-lahan, senyuman dan semangat ibunya mulai kembali. Namun di balik itu semua, Silvana merasa ibunya seperti sedang mengalami puber kedua hingga ia hampir merasa tidak dipedulikan. Ibu Silvana memang menyayangi anak tunggalnya, memasakannya makanan lezat setiap hari, mencuci pakaiannya, mengkhawatirkannya saat sakit, namun ibunya seperti bukan ibunya saat ayahnya masih ada dulu.

Silvana tahu penyebab perubahan sikap ibunya saat beliau mengenalkan seorang pria sebayanya pada Silvana. Namanya Om Heri. Om Heri adalah teman Ibu semasa sekolah, mereka baru bertemu lagi beberapa bulan sebelum Silvana lulus SMA. Sebenarnya Om Heri baik, Silvana mengakui itu. Tak hanya ibunya, Om Heri juga peduli padanya, bahkan pernah berkata ia sudah menganggap Silvana seperti anaknya sendiri.

Awalnya, Silvana berterimakasih karena Om Heri telah mengembalikan semangat hidup ibunya. Namun seiring berjalannya waktu, Silvana merasa kedekatan mereka semakin intens dan membuatnya jengah. Silvana bahkan merasa hubungan ibunya dan Om Heri sudah lebih dari sekadar teman. Mana ada teman yang menghubungi setiap hari tanpa tahu waktu, mau-mau saja dimintai tolong apapun, dan secara terang-terangan menyatakan perasaan? Ya, menyatakan perasaan, Ibu Silvana mengatakan sendiri bahwa Om Heri pernah bilang ia menyukai Ibu Silvana. Meski Silvana sendiri bingung kenapa ibunya justru menceritakan cerita menjijikkan itu alih-alih menutupinya.

Awalnya, Silvana berusaha untuk selalu berpikir positif. Tapi lama kelamaan, kelakuan ibunya dan Om Heri membuatnya jengah. Bahkan dalam pikiran terburuknya, Silvana berpikir, mungkin saja ibunya dan Om Heri sedang ‘main gila’. Silvana heran, apakah kehadirannya dan semua yang ia lakukan untuk ibunya sudah tidak ada artinya lagi hingga apa-apa harus Om Heri? Ia juga heran, padahal Om Heri punya keluarga, apakah ia tidak memikirkan keluarganya saat sedang ‘main gila’ dengan ibunya?

Yang lebih membuat Silvana muak adalah, ocehan tetangga-tetangganya yang mulai mencurigai kedekatan ibunya dengan Om Heri. Namun ibunya tampak sama sekali tidak peduli akan hal itu, dan alhasil, Silvana lah yang jadi korban. Seringkali ia ditanyai tetangga-tetangganya yang ingin tahu, siapa itu Om Heri? Apakah ia calon ayah tiri Silvana? Setiap kali ditanyai, Silvana harus menutupi dengan semua dalihnya dan mati-matian menahan tangis karena kesal tidak karuan dan sedih mengingat sang Ayah.

Silvana pernah mencoba menegur ibunya, dengan sehati-hati dan sebaik mungkin. Namun itu hanya berujung pada pertengkaran, karena ibunya membela Om Heri mati-matian dan berpikir bahwa putrinya terlalu overthinking dan berkeras bahwa semua perhatian yang diberikan Om Heri kepadanya hanyalah perhatian seorang teman. Akhirnya Silvana memilih untuk diam dan membiarkan itu semua. Ia malas mencari perkara dan terlalu memikirkannya. Ya, kadang ada sesuatu yang terjadi di luar kuasa kita dan yang bisa kita lakukan hanyalah bersikap masa bodoh. Yang terpenting sekarang, paling tidak ibunya masih sehat dan menyayanginya. Meski terkadang ia begitu muak hingga merasa stres dan emosional selama beberapa hari. Terlebih ia tidak punya siapa-siapa untuk berbagi meringankan beban di pundak dan kepalanya. Satu-satunya pelariannya hanyalah membaca novel dan utas horor di Twitter. Ya, dua hal ajaib itulah yang membantu Silvana keluar sejenak dari masalahnya.

Mungkin inilah saatnya ia bersenang-senang. Hati Silvana begitu menggebu-gebu memikirkan open trip itu. Ya, masih ada waktu baginya untuk menabung. Ibunya pasti tidak akan keberatan untuk mengijinkannya pergi berlibur selama satu minggu. Silvana bisa minta tolong kepada Bibinya yang tinggal di gang sebelah untuk menemani ibunya selama ia berlibur.

***

Jangan lupa emoticon-Cendol Gan nya ya gan emoticon-Smilie
Diubah oleh annaonymus

The Thread (Chapter 3)

Silvana mengambil celengan bergambar Frozen yang ia simpan, tepatnya ia pendam, di dalam lemari. Ia membongkar celengan itu dengan menggunakan gunting besar. Celengan itu hanya terbuat dari kardus tebal, jadi tidak sulit membukanya. Setelah terbuka setengah, ia menuang isi celengan itu hingga kosong ke atas tempat tidur, tersebarlah uang recehan mulai dari dua ribu rupiah hingga dua puluhan ribu rupiah. Sebenarnya uang tabungan itu hendak ia gunakan untuk membeli kamera. Tapi tak apalah, saat ini ia juga butuh liburan, dan open trip itu membuat kebutuhan itu kian terasa mendesak. Toh kamera ponselnya masih cukup bagus untuk mengambil gambar.

Uang itu sudah terkumpul dua juta tiga ratus ribu rupiah. Ia masih punya waktu dua bulan untuk menabung sekitar satu juta dua ratus ribu rupiah ditambah uang saku. Pulau Bening, I’m coming!!! Pikir Silvana sambil senyum-senyum merapikan uangnya.

“Aku mau ikut open trip seminggu, Bu,” Silvana meminta ijin ibunya siang itu. Besok ia berencana mendaftar.

“Ke mana? Lama banget seminggu?” tanya Ibu Silvana tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel di genggamannya.

“Pulau Bening.” Sama seperti Silvana, Ibu Silvana juga tidak tahu-menahu tentang Pulau Bening, bahkan belum pernah mendengarnya. Silvana menjelaskan secara singkat tentang letak pulau itu, ditambah spot menarik apa saja yang ada di sana, dan fasilitas yang ditawarkan oleh penyelenggara open trip.

Ibu Silvana meletakkan ponselnya dan terdiam menimbang-nimbang. Dari raut wajahnya, tampaknya Ibu Silvana agak keberatan mengijinkan putrinya untuk pergi. “Bayarnya berapa, Sil?”

“Tiga juta lima ratus. Aku udah ada tabungan sih buat ikut,” kata Silvana cepat-cepat.

Lagi-lagi Ibu Silvana terdiam dengan ekspresi keberatan. “Tapi kok Ibu kayak nggak sreg ya kamu ikut jalan-jalan ke Pulau Bening?” gumam Ibu Silvana.

“Nggak sreg kenapa?” Perasaan tidak suka mulai muncul di benak Silvana. Namun ia berusaha menahannya.

“Nggak tahu. Pulau itu kayak jauh banget. Kalau mau jalan-jalan yang dekat aja.”

Dengan sabar, Silvana mencoba menjelaskan. “Ibu, Silvana kan udah gede, udah bisa jaga diri. Nggak apa-apa lah jalan jauh. Nanti juga perginya ramai-ramai.”

“Iya, Ibu tahu. Tapi kamu nyeberang laut. Apa nggak takut ombaknya gede?”

 Silvana tersenyum. “Ini bulan Agustus, Bu. Musim panas. Insyaallah aman.”

Namun penjelasan itu seolah tak cukup. “Lagian apa nggak kemahalan tiga setengah juta buat jalan-jalan aja? Kan bisa dipakai buat kebutuhan lain.”

Kali ini alasan Ibu Silvana agak membuat Silvana kesal. Kenapa Ibu Silvana melarang Silvana liburan hanya karena biayanya mahal? Bukankah itu sudah jadi hak Silvana? Dia yang bekerja mencari uang, tidak pernah meminta sepeserpun uang untuk biaya kuliah ataupun uang jajan, dan tabungannya adalah hasil keringatnya sendiri. Dan lagi, Silvana bukan anak yang pelit. Ia selalu memberi sebagian besar gajinya kepada ibunya. Meski tidak besar, setidaknya uang itu bisa digunakan untuk tambah-tambah kebutuhan sehari-hari. Silvana tidak pernah egois menghabiskan sendiri uang hasil kerjanya. Ia bahkan selalu menolak kalau Fajar mengajaknya ikut naik gunung atau pergi keluar kota bersama anggota MAPALA.

“Bu, tolong lah, ijinin Silvana liburan. Selama ini kan Silvana nggak pernah ke mana-mana dan nggak pernah ngapa-ngapain selain kuliah sama kerja. Sekali-kali Silvana juga pengen jalan-jalan,” bujuknya setengah mengeluh.

“Iya, Ibu ngerti. Tapi kok kayaknya feeling Ibu nggak sreg ijinin kamu pergi.”

Silvana menghela napas cukup panjang menahan diri supaya tidak marah-marah. Meski saat ini ia kesal setengah mati karena ibunya tidak mengijinkan, beliau tetaplah orang tua Silvana dan Silvana tidak mau jadi anak durhaka yang membentak-bentak ibunya. Akhirnya Silvana tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan jurus pamungkas.

“Yah, Silvana udah terlanjur daftar, udah bayar juga. Kalau Silvana nggak ikut uangnya hangus, nggak bisa kembali.” Kalau udah begini, nggak mungkin kan Ibu mau ngelarang lagi, batin Silvana sambil tersenyum dalam hati.

Wajah Ibu Silvana masih menampakkan ketidak ikhlasan, namun beliau tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi? “Ya udah, tapi kamu hati-hati ya.”

Silvana menahan diri supaya tidak tersenyum terlalu lebar. Bingo! “Iya, Bu. Tenang aja. Ya udah, Silvana berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum,” ucapnya sambil mencium tangan sang ibu.

“Waalaikumsalam.”

Silvana tahu, meski ibunya mengijikannya pergi, namun beliau tampak tidak ikhlas. Ibu Silvana terpaksa memberinya ijin karena Silvana telah membohonginya dengan mengatakan bahwa ia sudah terlanjur membayar untuk ikut open trip. Sebongkah rasa bersalah membebani hati Silvana, namun ia berusaha menepis perasaan itu. Silvana bukanlah gadis yang suka berbohong, sehingga satu kebohongan kecil terasa sangat tidak mengenakkan.

Tapi kalau tidak begitu, maka Silvana tidak akan pernah pergi. Ia mungkin tidak akan pernah tahu rasanya pergi jauh bersama teman-temannya, upload foto di media sosial bersama teman-teman kampusnya dengan latar belakang pemandangan indah tempat wisata, dan tak pernah punya cerita seru sepanjang kuliah selain pergi ke kampus dan bekerja di kedai kopi. Kemudian Silvana akan menyesal setelah lulus karena tidak pernah bersenang-senang. Ya, sesekali berbohong tak apa-apa. Bukankah itu yang dilakukan kebanyakan anak muda terhadap orang tuanya? Lagipula ia tidak merugikan siapapun. Silvana toh tidak meminta uang untuk biaya perjalanan dan uang saku. Berbeda dengan ibunya yang setiap kali ingin pergi keluar bersama Om Heri selalu menghabiskan uang paling tidak dua ratus ribu rupiah yang selalu membuat Silvana sakit kepala mengatur keuangan rumah.

Silvana mengerjap saat seseorang menjetikkan jari di depan wajahnya. “Apaan sih?! Ngagetin aja!” omelnya.

Fajar tertawa kecil. “Elah, sensi amat,” sahut cowok itu seraya mengenakan celemek dan topi kuning khas kedai kopi tempat mereka bekerja. “Udah daftar open trip?”

Silvana menggeleng kecil. “Duit gue belum cukup.”

“Daftar aja dulu, boleh kok bayar setengahnya. Buat booking. Kuota udah hampir penuh ini. Banyak ternyata yang ikut.”

“Oh ya?” Wah, Silvana harus cepat-cepat memberitahu Tyas sebelum mereka kehabisan kuota dan tidak jadi ikut open trip.

“Iya, Pak Arif sama Pak Sandi aja ikut,” lanjut Fajar seraya mengambil kanebo untuk membersihkan meja bar. Meski Fajar cowok, dia termasuk rajin dan bersih dalam bekerja. Ia bahkan lebih rapi dan bersih daripada Silvana, yang membuat cewek itu terkadang merasa minder.

Pak Arif dan Pak Sandi adalah dosen kampus mereka. Semula, Silvana merasa was-was karena telah membohongi ibunya. Dalam benaknya, ia sedikit merasa takut akan terjadi sesuatu kalau pergi tanpa restu ibunya. Tapi ternyata dua orang dosen ikut dalam open trip Pulau Bening. Silvana yakin perjalanan akan aman karena ada ‘orang tua’ yang bisa melindungi mereka. Semuanya akan baik-baik saja.

The Thread (Chapter 3 Part 2)

Hari Jumat petang, kedai kopi sedang ramai-ramainya. Para pelanggan terus berdatangan tanpa jeda, membuat Silvana, Fajar, dan Frans kewalahan. Kedai kopi tempat Silvana bekerja terletak di dekat salah satu taman tongkrongan di Jakarta dan hanya ramai pada sore setelah jam kantor hingga malam. Itulah kenapa pemilik kedai merekrut karyawan paruh waktu yang hanya bekerja pada sore hingga malam hari. Sedangkan pagi hingga siang, kedai kopi itu sepi. Bahkan terkadang pengunjung pagi dan siang bisa dihitung jari.

Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit saat pelanggan terakhir kedai kopi itu pulang. Meski lelah, Silvana senang juga pulang lebih malam. Apalagi jika kedai ramai seperti ini. Bos akan memberi mereka uang lemburan dan bonus. Ya, beruntungnya Silvana bekerja di kedai kopi ini, di mana jam kerjanya bisa menyesuaikan dengan kuliahnya dengan bos yang baik hati dan royal.

Silvana, Fajar, dan Frans baru selesai membersihkan dan menutup kedai saat hampir tengah malam. Tampaknya malam ini Silvana akan pulang naik taksi online. Ia sudah sangat lelah dan mengantuk.

“Udah pesan Gocar?” tanya Fajar seraya memanggul ranselnya. Cowok itu sudah berganti pakaian dan mengenakan jaket.

“Baru mau pesan.”

“Gue antar aja yuk. Udah malam banget,” tawarnya.

Silvana tersenyum. “I’m fine, lo duluan aja.”

“Udah, Sil, nggak apa-apa. Ayo gue anterin sampai rumah.”

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Fajar menawarkan diri untuk mengantar Silvana pulang setiap kali mereka lembur. Namun Silvana sungkan. Selain ia tidak begitu dekat dengan Fajar, rumah mereka juga beda arah. Silvana tidak enak diantar Fajar, sungkan. Apalagi ini sudah malam, berbahaya juga baginya mengendarai motor sendirian di jalan ke rumah Silvana yang cukup sepi. Hanya karena Fajar laki-laki, bukan berarti bahaya tidak mengintainya.

“Nggak usah repot-repot, gue udah pesan Gocar.”

Fajar tersenyum. Silvana ini cewek yang aneh, terlalu mandiri. Coba kalau Fajar menawarkan bantuan kecil semacam itu pada cewek lain, mereka tak akan segan-segan untuk mengiyakan. Bahkan beberapa secara langsung minta tolong padanya. Sedangkan Silvana, tampaknya dia tipe perempuan yang tidak akan meminta tolong selagi belum benar-benar perlu. Fajar menyukai sifat itu, namun sifat itu pulalah yang membuatnya agak susah dekat dengan Silvana, bahkan meski sekadar menjadi temannya.

“Ya udah, gue temenin ya sampai dapat Gocar.”

Silvana mengangguk. “Oke.”

Tak lama kemudian, mobil Gocar yang ditunggu Silvana akhirnya datang. Silvana berpamitan singkat pada Fajar dan langsung melompat ke dalam mobil nan nyaman itu. Setelah menyebutkan tujuan kepada pengemudi, Silvana menyandarkan tubuhnya yang pegal ke sandaran jok mobil dan memejamkan mata. Namun ia batal tidur saat ponselnya berdering singkat. Ada satu pesan masuk dari Tyas yang menanyakan tugas untuk yang akan dikumpulkan hari Senin.

Silvana : “Tau deh, Yas. Gue baru balik kerja, capek banget, males mikirin tugas emoticon-Big Grin

Tyas yang sedang online langsung mengetik balasan.

Tyas : “Malem amat baru balik?”

Silvana : “Yoi, kedai kopi rame banget hari ini, sampe napas aja nggak sempet. Oh iya, besok kita daftar open trip yuk.”

Tyas : “Buru-buru amat, belum ada duit nih gue.”

Silvana : “Sama, gue juga. Tapi kata teman gue gapapa bayar setengah dulu aja. Kalau entar-entaran keburu habis kuota.”

Tyas  : “Oh, gitu. Okedeh besok daftar. Aduuh nggak sabar gue ngebayangin pantai hahaha.”

Tak beda dengan Tyas, khayalan Silvana juga sudah melayang membayangkan dirinya bermain-main di pantai, berenang di lautan nan jernih, bermain banana boat dan snorkeling. Semua itu terasa sangat menyenangkan. Kemudian sepulang dari Pulau Bening, ia akan punya banyak koleksi foto yang bisa ia pamerkan di Whatsapp dan Instagram story, serta postingan di feed Instagram. Ah, penantian satu setengah bulan jadi terasa seperti satu semester!

***

Maaf ya Anna baru sempet post lagi. Semoga agan dan sista suka ceritanya.
Jangan lupa kasih emoticon-Cendol Gan yaa emoticon-Big Grin


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di