CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
BELAJAR DARI MALIK BIN DINAR
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f6ce8c868cc95776e2e3e7b/belajar-dari-malik-bin-dinar

BELAJAR DARI MALIK BIN DINAR

Kuperhatikan bang Mo tertidur lelap pagi itu, padahal biasanya dia baru pulang dari meja judi saat ayam berkokok atau muadzin mengumandangkan kalimat hayya ala sholah.

Siapa yang menyangka arah perjalanan manusia, hari ini pendosa esok dia menjadi hamba yang Allah cinta, pun begitu sebaliknya

*********
Bang Mo, lelaki usia 40 tahun itu memang seorang preman. Kerjanya mabuk, judi, atau malakin pengendara yang lewat. Jangan pernah bikin masalah dengan pria bertubuh tegap dan perut buncit ini. Saya sendiri hampir tak berani menatap wajahnya jika kebetulan berpapasan. Berdoa agar jauh-jauh dari bang Mo, itu saja pintanya.

Jika ada kebaikan dalam diri bang Mo, itu hanya satu yang sempat saya catat. Bang Mo sangat menyukai anak-anak, tak segan dia mentraktir es krim atau hanya sekedar memborong permen di warung bu Suti untuk dia bagikan pada anak@anak di pondok belajar dhuafa yang saya bangun bersama teman-teman.

Konon, bang Mo dulu pernah menikah dengan seorang gadis desa. Tapi saat istrinya tak kunjung hamil, bang Mo akhirnya memilih cerai. Entahlah, kabar itu kudengar saat mak Pinah, ibunya bang Mo mengguyur kepala bang Mo yang sedang mabuk berat.
Pemandangan itu sering kami saksikan. Satu-satunya perempuan yang membuat bang Mo takut adalah mak Pinah, ibunya sendiri.

"Lu mau jadi apa si Paimo... Nanti kalo gua mati, siapa yang mau tolongin gua masuk syurga kalo kerjaan lu mabok sama judi doang"
Begitu ocehan mak Pinah saat melihat bang Mo yang tengah tergeletak di pinggir jalan.

******
Sampai suatu hari, bang Mo menghampiri saya yang tengah asyik mengajar Iqra anak-anak.

"Bu, bu ustadzah, tolong saya bu"

Tak biasanya bang Mo meminta bantuan saya, dengan kalimat yang sangat baik, biasanya kata elu gua sambil mata menyeringai bak raksasa yang siap menelan bulat bulat lawan bicaranya.

"Ada apa bang Mo?" segera memberi aba-aba pada anak-anak agar diam sejenak. Sayapun menutup lembaran Iqra dan menghampiri bang Mo yang sekarang menggelosor duduk di dalam masjid.

"Tolong saya ustdzah, saya benar-benar takut"

Kulihat wajah bang Mo sangat serius, bulir keringat dingin membasahi wajah dan lehernya.

"Saya dikejar ular besar, itu ituuu ularnya, di depan masjid, tapi tidak ada satupun yang percaya. Emak juga, bilang saya gila"

Aku mengernyitkan dahi, ular? Dimana? Sejak tadi bang Mo datang sendirian, dan saya sama sekali tak melihat ular. Jangankan yang besar, kecilpun tak ada.

"Maaf bang, saya tidak melihat apapun. Dimana ularnya, dan seperti apa bentuknya?"

Kuyakinkan bang Mo, bahwa dengan jujur aku tak melihat apapun.

"Itu bu ustadz, itu... Ularnya besar, kepalanya merah, dan lidahnya menjulur ke halaman masjid"

Bang Mo tetap menunjuk keluar, dengan pandangan yang benar-benar ketakutan. Sesekali dia menutup wajahnya dan mengeluarkan air mata.

Kupastikan keluar masjid, dan memeriksa keadaan sekitar. Setelah yakin, kututup pintu masjid. Kemudian kembali duduk di lingkaran dekat anak anak yang mulai riuh mengerubungi bang Mo yang masih menutup matanya dan menangis ketakutan.

Lelaki preman yang terkenal garang itu kini meringkuk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya, persis.

******
Kuminta pada anak-anak melafadzkan beberapa surah pengusir jin, dimulai dari alfatihah, al ikhlas, al falaq, dan an nas sebanyak tiga kali. Sambil memohon petunjuk apa yang harus saya lakukan agar bang Mo berhenti dari rasa takutnya.

Tiba tiba terlintas kisah sahabat Rasul yang bernama Malik bin Dinar, dimana beliau dulu sebelum diberi hidayah adalah seorang yabg gemar dengan maksiat. Judi, minum, dan berbagai kejahatan lain dia lakukan. Sampai suatu hari dia bernadzar jika Tuhan memberiku anak kecil maka aku akan berhenti maksiat. Kemudian Allah mengabulkan doanya. Seketika Malik bin Dinar pun taubat. Namun Allah kembali mengujinya dengan mencabut nyawa sang putri. Sebab rasa kecewa, Malik bin Dinar pun kembali maksiat dan dia melakukannya dua kali lebih dari yang pertama. Sebagai bentuk protes terhadap Allah. Tapi malam itu Malik bin Dinar bermimpi, dia di kejar ular besar yang hendak menerkam. Meminta bantuan pada siapapun tak ada yang mampu. Sampai akhirnya si putri kecilnya itu yang menolongnya dari kejaran si ular.
Dengan takjub Malik bin Dinar bertanya,

"Bagaimana caranya kau bisa mengusir ular besar itu nak" ucap Malik bin Dinar.

"Ketahuilah ayah, sesungguhnya ular besar itu adalah bentuk dosamu yang akan membinasakanmu. Sedang amalmu tak cukup menolongmu, maka jika kau ikhlaskan aku berpulang ke hadapan Allah, maka akulah tabungan amalmu yang besar".

Sejak itu, Malik bin Dinar taubat dengan sebenar benarnya taubat, dan tidak lagi kembali ke lembah maksiat.

Bang Mo menyimak ceritaku sambil menunduk diam.

******
"Abang, mungkin tengah bermimpi, bertaubatlah jika abang benar benar takut"
Kusampaikan kalimat itu pelan sekali. Dia sudah sedikit tenang, sejak anak anak melafadzkan surah pendek tadi.

"Abang tidur sejak semalam, sampai lupa kalau ini sudah petang"
Ucapnya sambil mengingat ingat.

"Wudhulah bang, agar hati tenang. Segera pulang kemudian minta maaf pada mak, mulailah hidup baru. Ular itu pertanda Allah sayang pada abang.

Bang Mo pun menitikan air mata,

*******
"Assalamualaikum bang Mo," sapaku saat pulang mengajar,

"Waalaikumsalam bu ustdzah" Jawabnya sambil kembali asyik dengan kain pel dan embernya.

Mesjid ini menjadi bersih dan terawat, semua karena bang Mo yang mengabdikan dirinya menjadi marbot mesjid.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
PapinZ dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh deandrawira
nice share.
Ijin nyimak gans
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scarlot dan 4 lainnya memberi reputasi
Menarik sekali, kalau tidak salah nama putri Malik Ibn Dinar adalah Fathimah ya emoticon-Smilie
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di