CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Food & Travel / Travellers /
Bandung- Bali jalur darat Part 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f61906f7414f5329a78a2a4/bandung--bali-jalur-darat-part-2

Bandung- Bali jalur darat Part 2

Bandung- Bali jalur darat Part 2Halo agan-agan, aku mau lanjutin cerita tentang pengalaman berlibur ke Bali lewat jalur darat. Bagi yang mau baca part sebelumnya monggo cek TKP Part 1 Cekidoootemoticon-Traveller

Hari ke-4
Minggu, 19 Januari

07.00 WITA
Selesai check-out, kita ajak Ali buat ikut ke Tanah Lot di Tabanan. Mampir dulu ke Nasi Pecel Bu Tinuk buat sarapan. Disini karyawannya ngambilin nasi dan minta kita pilih lauk-pauk khas jawa kayak ayam goreng, ayam suwir, tahu tempe, sayuran, dll.

Selesai pilih lauk, karyawannya nanya lauk kita mau disiram pakai bumbu pecel yang pedas atau ga pedas. Ga lupa juga dikasih rempeyek ebi. Budget makan disini sekitar Rp25.000-Rp30.000/ orang, belum sama minum.

Bandung- Bali jalur darat Part 2
Nasi Pecel Bu Tinuk yang aku makan, bumbu pedas tentunya.

10.00 WITA
Sampai di Tanah Lot. Tarif masuk Tanah Lot Rp20.000/ orang dan Rp5.000 untuk parkir mobil. Di parkiran, kita heboh saling semprot sunblock spray karena matahari Tanah Lot saat itu ga santuy. Ga apa-apa sih hitam, tapi kan ga lucu kalo hitamnya cuma muka dan kaki. Belang kaya nyamuk kebon.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Kafi, Uci, Uning, aku, dan Fatih.

Di Tanah Lot kita berpencar. Karena nyalinya besar, Kafi dan Uci masuk goa buat pegang ular suci. Sisanya ngibrit karena takut. Ular penjaga Tanah Lot ini sebenarnya jenis ular poleng, salah satu jenis dari ular laut yang sangat beracun, bahkan bisanya lebih kuat dari bisa ular kobra. Tapi ular jenis ini katanya jarang gigit manusia.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Kafi coba pegang ular suci Tanah Lot, terkejut adek terheran-heran liatnya.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Uci dan Uning pake kembang kaya gadis Bali.

Sebelumnya aku dan Fatih juga pernah datang ke Tanah Lot. Tapi selalu kebetulan lagi datang bulan. Penasaran, pengen coba Mathirta (mandi/ cuci dengan air suci) dan Mawija (ditempelkan beras di dahi). Selesai acara pegang ular, aku ajak Uci dan Uning untuk antre Mathirta dan Mawija di seberang tempat ular suci.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Kunjungan lalu ga kebawah, karena aku lagi ada tamu bulanan.

Dimulai dari cuci muka, tangan dan kaki di sumber air suci. Abis itu ada 2 orang bapak-bapak, mungkin pemuka adat (maaf panggilannya ga tau, takut salah) yang nempelin beras dan nyelipin bunga kamboja di telinga sambil bilang kalau aku jegeg (cantik: Bali). Wangi bunganya sesekali kecium, diterpa angin nemenin kita main disana. Tarif untuk pegang ular dan mandi air suci seikhlasnya.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Yuhuu! Akhirnya kesampaian ikut Mathirta dan Mawija di Tanah Lot.

Puas bermain, kita jalan ke atas beli minuman dingin. Ga cukup dingin dari minuman kulkas, kita minta tambahan es batu pada si Mbok (sapaan kepada wanita yang lebih tua: Bali). Pas minum, kita lihat atraksi foto sama ular besar Rp50.000. Kafi mau coba foto tapi aku larang karena geli.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Ali. Jarang ada fotonya karena kebanyakan fotoin kita, hehehe.

12.00 WITA
Kita naik mobil menuju Ubud. Tempat pertama yang kita datangi adalah Tegalallang. Tiket masuk ke Tegalallang Rp10.000/ orang, untuk tarif parkir seikhlasnya.

Kali ini ternyata lumayan hijau. Aku nawarin Uci dan Uning spot-spot dan ayunan untuk ambil foto ala-ala instagram. Ketika tanya harganya, Rp150.000-Rp250.000/ spot untuk foto di spot-spot tersebut. Hmm, yasudah kapan-kapan yaa Bli! Kembali lagi, karena ini perjalanan hemat kita pilih untuk jalan-jalan di subak.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Uning di Tegalallang, pasti lagi liatin spot-spot foto.

14.00 WITA
Perjalanan berlanjut ke kawasan Alun-alun Ubud. Jalan di Ubud lebih kecil dan padat dibanding daerah lain. Maps diarahkan ke Pomegranate Cafe, memaksa mobil masuk jalan-jalan kecil. Jalan semakin kecil, bikin kita nyerah dan mundurin mobil. Tanya sana-sini, kalau mau ke Pomegranate harus parkir jauh, atau minimal menggunakan sepeda motor karena posisi restaurant-nya ada di tengah sawah. Sepeda motor pun masih harus parkir dan berjalan di subak sebelum akhirnya sampai ke restaurant.

Akhirnya kita cari tempat makan dekat alun-alun, itu pun tetap parkir di tempat parkir bersama yang jaraknya lumayan jauh. Sesampai di ‘resto’, aku langsung cemberut karena warungnya kecil, mirip warteg di pulau jawa. Ya ampuun, sudah jauh-jauh ke Ubud makannya tetap di tempat yang bisa banyak ditemui di Bandung.

Eiits jangan sedih, ternyata itu hanya bagian depannya. Fatih bilang harus masuk pintu lagi buat masuk ke resto aslinya. Jadi, ini adalah rumah warga yang disulap jadi tempat makan. Ukiran-ukiran Bali menjadi interior khas disini, authentic banget. Nama restaurant-nya Rumah Makan Bu Rus.

Aku pesan nasi goreng. Yang lain ada yang memesan sop buntut, garang asem, dll. Total makan siang Rp300.000 untuk berenam, kali ini dibayarin Ali. Ada satu yang ga bisa dilupain Uci. Es jeruk. Memang rasanya enak, tapi kan rasa es jeruk gitu-gitu aja? Hmm, mungkin juga karena hati yang terasa nyaman di Ubud. Sampai kemarin, sudah hampir setahun dari perjalanan, Uci bilang pengen ke Ubud untuk minum es jeruk. LAH?

Aku masuk kamar mandi, ternyata tamu bulanan datang. Nyaris aja untuk kesekian kalinya aku ga bisa ke Tanah Lot. Di resto ini jugalah kita ngobrol cukup dalam, juga Ali. Mulai bahas keluarga, pekerjaan, cita-cita, sampai paham-paham yang masing-masing kita yakini. Rasa persaudaraan pun terasa lebih kental, Ali terasa seperti saudara sendiri.

16.00 WITA
Badan terasa letih, ingin istirahat di hotel. Harga penginapan di daerah Ubud cenderung mahal. Setelah set budget dan lihat-lihat review, pilihan jatuh ke sebuah villa seharga Rp275.000/ kamar, termasuk murah untuk kelas villa di daerah Ubud. Aku booking 2 kamar karena Ali rencana pisah untuk ketemu temannya, tapi mau ikut menunggu dulu di villa.

Villa ini sangat berkesan untuk kita. Kamarnya cuma ada 6 dan semuanya menghadap kolam renang. Ukuran kolam renangnya lumayan besar, airnya bersih tanpa bau kaporit. Suasana tropical sangat terasa, warna cat kamarnya hijau pastel. Kamarnya bersih tanpa debu walaupun ukuran kasurnya lebih kecil dibandingkan penginapan biasanya. Selimutnya terbuat dari rajutan, berasa menginap dirumah nenek. Ada AC, dan ada ruangan khusus merokok di masing-masing kamar.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Ali tiba-tiba bawa rambutan, lupa dari mana.

Kita mulai berenang dan main di villa. Seperti biasa Fatih minta aku buatin kopi, tapi aku ga lihat heater pot di atas meja. Saat buka lemari baju untuk ambil handuk, aku dikejutkan oleh adanya kulkas mini lengkap es batu dan heater pot lengkap dengan kopi teh nya. “Surprise!” katanya.

Villa ini minusnya ada 2. Pertama, kamar mandi. Sebenarnya kamar mandinya keren, konsepnya semi outdoor. Tapi untuk di malam hari, penerangannya sangat-sangat minim. Dan kebetulan, area showering kamar yang aku tempati banyak banget semut besar. Terpaksa aku siram, tapi mereka woles kaya ga ada apa-apa. Coba disiram pakai air panas, masih banyak yang bertahan. Mungkin mereka sempat belajar debus.

Minus yang kedua, parkiran yang kecil. Hanya cukup untuk 1 mobil ditambah 3-4 motor, posisinya pun terletak pas di belokan. Jadi untuk parkir, lumayan jadi PR karena banyak maju mundur cantik dan harus ada yang berhentiin mobil di belokan. Satpam atau penjaga villa ga keliatan. Baru setelah masuk gerbang kedalam villa, penjaganya muncul.

Bandung- Bali jalur darat Part 2Ini tempat kita nongkrong, didepan kamar sambil berenang.

18.00 WITA
Namanya juga habis berenang, perut jadi lebih cepat teriak minta diisi. Agak kapok cari parkir, kita coba pesan online untuk makan di villa. Ternyata harga-harga makanan di Ubud juga bikin teriak. Beruntung, kami lihat JFC alias Jaya Fried Chicken sebagai pahlawan perut. JFC ini sangat terkenal, sampai John Legend juga pernah makan disana. Serius.

Banyak drama, karena ternyata akses untuk ojek online terbatas di Ubud. Setelah berkali-kali usaha akhirnya ada driver baik hati yang mau anterin makanan. JFC dibeli dengan harga Rp200.000 untuk berenam, termasuk ongkir.

Selesai makan, kita kembali berenang dan lanjut ngobrol hingga tengah malam. Uci sekalian belajar berenang disini, aku baru tahu kalau Uci belum lancar berenang. Teman Ali masih belum memberi kabar, akhirnya Ali booking 1 kamar dan ajak Kafi untuk sharing kamar. Tapi adik-adik cewek ga mau ditinggal Kafi. Mereka sempat dengar kalau tanah Ubud lebih mistis dibanding daerah lain. Memang sih, aku juga pernah punya pengalaman lumayan mistis di Ubud.

Aku, Fatih, dan 2 teman aku pernah nginep di Ubud sekitar 2 tahun sebelumnya. Hotel yang kita pilih saat itu memang agak seram. Banyak patung dan lukisan di lobby, hampir semua kamarnya menghadap tukad (sungai: Bali). Ga tau kenapa, penerangan disana kebanyakan pakai lampu biru dan hijau. Kita pesan 2 kamar tapi ga bisa sebelahan karena hari itu banyak pengunjung.

Saat istirahat, sekitar jam 7 malam salah satu teman ngetok kamar dan ngajak ngobrol di kursi depan kamar. Fatih bilang ngantuk dan ga akan ikut ngobrol, mau tidur katanya. Aku pikir ngobrolnya sebentar, jadi aku ga bawa handphone.
Sekitar setengah jam ngobrol, handphone teman aku bunyi. Dia sempat bingung lihat layar, dan nunjukin ada panggilan dari nomor aku. "Laki lo kali Nat." katanya.

Pintu kamar saat itu kebuka dan kita bisa lihat jelas Fatih yang masih tidur. Aku masuk kamar dan langsung cek posisi handphone ada di meja, jauh dari Fatih. Cek history, yang terakhir aku telfon itu memang nomor dia, tapi sudah beberapa jam yang lalu.

Spontan kita bangunin yang lain dan milih untuk jalan-jalan keluar hotel. Selesai jalan-jalan, mungkin sekitar pukul 11 malam, ternyata hotel gelap banget. Nanya karyawannya, katanya ga boleh nyalain lampu diatas jam 10. HAH, KOK GITU?!

Ini ga beres sih, batin aku. Kita langsung liat-liatan dan buru-buru masuk kamar, hanya lampu kamar yang tetap boleh dinyalakan. Kita tidur dalam keadaan tegang malam itu.

Besok paginya kita sarapan di depan kamar, pas di tepi sungai. Banyak banget taburan bunga di lantai dan diatas pagar batas sungai. Pas lagi lihat-lihat pemandangan, ADA BIAWAK LAGI NONGKRONG GUYS, berjemur santai di pinggir sungai dekat tempat kami duduk. Untung semalam biawaknya ga ngetuk kamar.

Bersambung lagi yaa guys ke Part 3
Seperti biasa kalau ada salah-salah dimohon masukannya yaa!
emoticon-I Love Kaskus
Diubah oleh donatjalanjalan
Ditunggu part 3 nya sis emoticon-Cendol (S)


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di