CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f5f6244c820845955009f6e/amor-amp-dolor-true-story

AMOR & DOLOR (TRUE STORY)

Tampilkan isi Thread
Halaman 13 dari 17
Wahh ditinggal Emi ke bali.. smg si Ija kuat iman 😂
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan
Pinterr banget ngelesnya nih Kang Boong, muter2 aja, aktingnya menyakinkan banget.
Andaikan sist gk punya bukti chat dg Arasti,tentu percaya dg semua omongan Bang Ija, kalau dia gk pernah selingkuh.
Padahal d belakangnya gk cuma ada Arasti, ada Ana dan Hana🤣🤣
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Wah wah wah gimana ini, kuat iman yee bang ija
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Quality Time Tak Berkualitas_Part 1

((EMI CHAT))
Quote:


Gue baru saja sampai untuk ketemu dengan Emi di stasiun yang tidak jauh dari kantor gue. Ya, kami seperti dulu lagi, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah naik motor. Untuk saat ini, rute kami masih sama. Kami pulang ke rumah Emi terlebih dahulu, kemudian gue akan pulang ke rumah setelah makan malam dan bersantai. Namun, karena Emi bilang ada yang perlu dibicarakan, gue dan Emi sudah janjian untuk mampir ke kedai kopi langganan yang berada di Kota tempat tinggal Emi. Kedai kopi yang tutup sampai jam 02.00.

Saat gue akan menyimpan earphone yang gue pakai sebelumnya ke dalam tas, notifikasi HP gue bunyi.

((ANA CHAT))
Quote:


“Duuh. Ambigu banget ini chat! Ga boleh kebaca ini sama Emi! Bisa bahaya!” gumam gue.

((ANA CHAT))
Quote:


Keliatannya kereta Emi ketahan. Bosan juga gue nggak ngapa-ngapain hanya bengong menatap orang lewat lalu lalang di hadapan gue. Untuk menghabiskan waktu, gue membuka akun Facebook gue. Di sana gue melihat banyak orang yang mengucapkan selamat atas acara Perkenalan Keluarga gue dan Emi kemarin. Emi terlihat sudah membalas komen mereka satu per satu.

Gue kembali scroll timeline Facebook gue dan gue terhenti ketika melihat status seseorang yang gue kenal. Edna.

Edna Eka Larasati
Growing old is mandatory. Growing up is optional. Percuma umurnya tua tapi nggak bisa bersikap dewasa. Nggak bisa membedakan mana yang menjadi prioritas. Bikin orang nunggu nggak jelas itu kekanakan banget!

Ini jelas benar-benar buat gue. Siapa lagi orang yang umurnya lebih tua yang lagi jadi concern dia selama beberapa waktu ini kalau bukan gue? Tapi apa alesan dia mau marah-marah sama gue? Oke, gue memang seharian ini belum ngabarin dia sama sekali. Eh dari kemarin pun gue belum ada kabar ke dia. Gue hanya memberi kabar ketika gue bangun pagi, kemudian gue menghilang. Lalu apa hak dia untuk marah-marah sama gue? Bukannya gue hanya pacar palsu dia?

Tapi gue akan coba menghubungi dia untuk sekedar tahu bagaimana kabar dia. Kalau ternyata dia tetap menghindari gue or worst, dia marah-marah sama gue. Gue nggak mau ambil pusing lagi. Gue akan meninggalkan dia. Satu masalah bisa teratasi.

((EDNA CHAT))
Quote:


Gue hanya mengirimkan chat itu ke dia. Tapi nggak lama setelah pesan gue terkirim, dia online. Dan? Status dia menghilang.

((EDNA CHAT))
Quote:


“Kok ini anak jadi ngaco? Ngatur gue lebih-lebih dari Emi?” kata gue dalam hati.

((EDNA CHAT))
Quote:


Saat itu aplikasi Whatsapp memang sudah menjamur dan gue sudah memiliki 2 nomor. Satu nomor untuk kerja gue dan satu lagi khusus pribadi. Nomor kerja gue itu nomor yang mirip dengan milik Emi. Beda satu angka paling belakang. Kedua nomor kami itu sengaja tidak kami daftarkan Whatsapp. Dan nomor itu yang akan gue beri tahukan pada Edna. Itu pun kalau dia mau. Dia sudah mulai kelihatan mengatur gue. Gue nggak suka itu.

((EDNA CHAT))
Quote:


Gue pun mengirimkan nomor kerja gue tersebut ke dia. Andai semua cewek semudah ini dan tidak secerdas Emi, mungkin cita-cita gue sebagai cassanova bisa lebih mudah tercapai. Walaupun jadinya sama sekali tidak mengasyikkan. Hahaha.

Ketika gue pikir, Edna akan melupakan amarahnya…

((EDNA CHAT))
Quote:


((HANA CHAT))
Quote:


Pas banget saat itu Hana menghubungi gue dan mengajak gue untuk membahas hal yang gue suka, pelajaran Sejarah.

((HANA CHAT))
Quote:


“Tapi ya ada orang-orang yang pada dasarnya emang bloon. Contohnya ini cewek. Hahaha.” gumam gue perlahan. Tapi tidak mungkin juga gue bilang langsung sama dia. Hahaha.

((HANA CHAT))
Quote:


“Waduh!”

(ARASTI CALLING)

Gue nengok kanan dan kiri gue, memastikan Emi belum datang. Gue memang belum pernah sekalipun mengangkat telepon dari Arasti. Tetapi kalau gue angkat sekarang, gue khawatir nanti Arasti akan terus menghubungi gue setiap kali gue late response. Seperti sekarang ini. Walaupun kalau kali ini, memang murni kesalahan gue karena gue belum ada kabar sama sekali ke dia.

((ARASTI CHAT))
“Kamu masih di kantor? Aku udah mau pulang. Bosen banget aku. Ketemuan yuk, Zy?”

“Waduh waduh waduh! Harus dibales kalau ini!” kata gue panik. Gue langsung buka aplikasi SMS gue dan membalas chat dia di sana. Gue hanya melakukan tindakan pencegahan yang terbaik bagi gue saat itu : pura-pura kalau HP gue rusak.

((ARASTI CHAT))
Quote:


“Coba diselesein dulu aja urusannya, Zy.” kata seseorang dari belakang punggung gue. Saking paniknya, gue auto delete chat percakapan gue sama Ana tadi. Obrolan tadi ambigu. Ana ngomong sampe ke urusan tanggung jawab seakan gue abis make dia bolak balik. Kalau tau dia bakalan minta tanggung jawab, tau gitu mending gue pake beneran aja dia sekalian.

“Ini tadi klien nanyain progres. Udah beres kok.”

“Yakin beneran klien? Tumben SMS-an.”

Gue memasukkan HP gue ke dalam kantong. Sang FBI datang dan mood-nya keliatan kurang bagus. Sama Emi, semuanya penuh kesempurnaan dan kedisplinan. Ditambah, di wajah baby face nan innocent itu, gue nggak pernah bisa menebak kapan dia pura-pura bodoh dan kapan dia beneran bodoh karena tidak tahu. Saat ini gue dalam posisi nggak tahu, sejauh mana dia lihat apa yang terpampang di HP gue tadi dan apa saja yang sudah dia baca. Terus, apa dia tahu aplikasi mana saja yang gue pakai untuk menghubungi cewek-cewek itu? I can’t tell. Seriously!

“Siapa yang buka SMS? Itu kan WA gue. Ayo mau pulang nggak?”

“Kalo gue jawab nggak, gue pulang sendiri tapi nggak usah sok nyusulin gue ke rumah ya?”

“Ya nggak ada pulang sendiri lah, udah gue tungguin juga.”

“Siapa yang nyuruh lo tungguin gue emang?”

“Katanya mau ketemu bukan? Ada yang mau diomongin?” Saat itu, gue bisa merasakan banyak notifikasi masuk di HP gue yang saat ini sudah masuk ke dalam kantong celana gue.

“Nggak jadi aja. Kapan-kapan aja kalo gitu.”

“Yaudah nggak apa-apa kalo nggak mau ngomongin, berarti kita langsung pulang aja. Ngobrol biasa di rumah lo.”

“Lah? Ya kalo nggak jadi ngomong ya bisa dong pulang sendiri-sendiri?”

“Bacot! Buruan naek!”

“Yakin lo nggak ada urusan lain? Nggak ada yang nungguin? Mending diurus dulu aja.”

“Naek nggak? Apa mau gue ngamuk-ngamuk di sini biar lo nurut naek ke motor gue hah?” Ini jadi trik ampuh gue. Emi paling benci kalo gue sudah mengamuk di tempat umum.

“Ah ta*!” Dia pun naik ke boncengan gue. “Awas aja lo bawa motornya jadi kebut-kebutan nggak jelas.”

“Nggak.”

“Ini HP lo geter mulu. Angkat dulu nggak?”

“Udah nggak usah diurusin kenapa? Entar gue balesin pas udah sampe coffee shop nya. Lagian udah di luar jam kerja juga.” Walaupun gue tau, paling itu nggak jauh dari cewek-cewek itu. Gue harus mencari waktu yang tepat untuk mengakhiri satu per satu.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
Plis lah bang akhiri, menyenangkan hanya sesaat, emi udah paket komplit, ah greget gini gue hahaha.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan
Apa jadinya klo dua insan ini menikah, bakal seperti dania dan adit kah.. ija(dania) yg suka meledak2 emosinya dan emi(adit) super sabar sekali yg menghadapi pasangannya


Semangat terus lanjutin ceritanya kalian berdua, masih menanti boomnya nih emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Quality Time Tak Berkualitas_Part 2

Malamnya, debat pun tidak terhindarkan. Gue sudah terbawa emosi setiap kali Emi mulai mengarahkan omongan seakan ada orang lain lagi di antara kami. Gue penuh tekanan. Gue sebenarnya tidak keberatan kalau Emi tahu semua hubungan gue dengan cewek-cewek ini. Gue sangat amat tidak keberatan untuk meninggalkan mereka. TETAPI, gue tidak ingin ada yang tersakiti. Terutama Emi.

Gue tidak ingin, Emi merasa terkhianati lagi karena merasa gue masih berusaha meninggalkan dia dan kemudian dia pergi meninggalkan gue untuk terakhir kalinya. Gue sangat tidak ingin hal ini terjadi. Gue hanya perlu mencari waktu terbaik untuk melepas mereka satu per satu. Toh, no hard feeling. Gue memang tidak berniat untuk serius dengan mereka. Mereka hanya menjadi penghibur gue yang penat dengan keadaan ketika Emi pun sedang menjadi Emi yang nggak asik kalau gue boleh bilang.

Jelas ini beda dengan tujuan gue iseng sebelum gue berkomitmen untuk menikahi Emi. Beneran beda kan? Dulu, gue iseng dan berharap Emi tidak tahu, supaya gue bisa menaklukan mereka baru nantinya gue lepas. Gue hanya memastikan bisa menaklukan segala jenis perempuan. Kalau sekarang, gue hanya butuh teman cerita. Kalau mereka rese atau mau pergi, silahkan. Kalau Emi meminta gue untuk meninggalkan mereka, it’s okay. I’ll do it for sure.

Gue hanya berharap, tidak ada yang tersakiti. Terutama Emi. Jadi, sebisa mungkin gue harus memenangkan debat ini biar Emi tidak jadi menghindar dari gue atau malah membuat gue hilang kendali. Gue sudah cukup berdosa dengan (masih) ada hal yang gue tutupi dari dia. Gue nggak mau lebih berdosa lagi dengan menyakiti perasaan dia karena sikap dan perkataan gue. Apalagi kejadian perkenalan kemarin pun sudah menambah rentetan dosa-tidak-sengaja dari gue sekeluarga.

Entah terbuat dari apa hati dia hingga dia masih memaafkan gue dan terus mencintai gue yang penuh kesalahan pada dia ini.

“Zy… Aku itu sayang banget sama kamu. Sangat sayang sama kamu. Kamu masih cinta sama aku kan?” ucapnya. Wajah dia terlihat lelah. Either karena pekerjaan atau ya mungkin karena menghadapi gue yang pecundang ini.

“Nggak usah ditanyain kan yang kayak begitu?”

Gue orang yang sulit untuk menyatakan perasaan. Gue orang yang memilih untuk take action daripada penuh janji. Apalagi janji palsu. Hey, janji gue dengan Emi untuk memenuhi syarat dari dia itu JANJI ASLI ya bukan janji palsu! Hanya saja, belum gue laksanakan sepenuhnya. Nanti, pada saatnya ketika ijab kabul sudah terlaksana, insyaAllah gue akan melaksanakannya. No debate!

“Aku cuma lagi pingin denger kamu bilang kayak begitu…” ucap Emi, penuh harap.

Gue paling benci kalau Emi sudah bersikap seperti ini, karena hati gue pasti lemah. Gue nggak bisa menolak permintaannya. “Cuman kamu yang aku sayang. Satu-satunya yang aku sayang. Nggak pernah berubah dari dulu.” Ini serius. Ini amin gue paling serius.

“Hmm. Makasih ya, Zy… Jujur ya, kemaren pasca keluarga kamu pulang, keluarga aku itu pertimbangin ulang komitmen kamu. Telat 2 jam itu nggak sebentar. Itu cukup loh bikin keluarga aku yang tinggal di Jakarta dan Bekasi buat balik ke rumah mereka masing-masing, ninggalin kamu. Tapi mereka terus nungguin kamu karena apa? Mereka percaya kamu anak yang baik. Kamu bisa dipercaya. Pas keluarga kamu dateng eh malah fokus ngurusin… Maafin aku ya, Zy… Ngurusin Dian sama Kak Dania, mereka jadi bingung. Sebenernya gimana sih hubungan kamu sama nyokap kamu? Mereka nanyain ulang ke aku, aku masih tetep mau lanjut apa nggak.”

Bener kan? Gue sayang Dian dan Dania, tapi untuk kasus ini gue seakan terpaksa menumbuhkan rasa kesal dan benci pada mereka secara tidak gue sadari. Walaupun gue benci faktanya, tetapi mereka adalah penyebab gue HAMPIR jomblo seumur hidup kalau tahu begini ceritanya. “Terus kamu jawab apaan?”

“Menurut kamu?” tanya dia tanpa menatap gue lagi. Dia menatap gelas Avocado Creme Joe yang sebentar lagi habis.

Dia masih menerima gue. Dia masih memperjuangkan hubungan ini. Pernikahan gue masih bisa dilanjut. Karena kalau tidak, Emi tidak akan mau menemui gue lagi. Sama seperti ketika Emi meminta putus dari gue. Ini pertanda baik bukan? Gue masih punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

“Hmm. Aku janji, Mi. Aku nggak akan gitu lagi. Potong kuping aku kalau aku kecewain kamu lagi di acara Lamaran dan Akad Nikah nanti…” Janji gue dengan tegas. Malaikat pun sudah mencatat niat gue tersebut malam itu. Kejadian Perkenalan Keluarga ini gue jadiin pembelajaran kalau kedepannya, nggak boleh ada kejadian seperti ini lagi. NGGAK BOLEH!

Dia menatap gue. Tapi tatapan dia mendadak berubah, antara marah dan sedih ketika mendengar janji gue tadi. Gue salah dimananya? “Gue nggak tau lo beneran bisa janji apa nggak buat nggak ngecewain gue lagi. Tapi gue mohon banget, jangan kecewain nyokap sama bokap gue, Zy. Mereka berharap banget ada yang mau nikahin anak tunggal mereka. Kalau tujuan lo nikahin gue cuman buat pura-pura atau status doang, mending lo mundur aja. Udah cukup, acara kemaren udah cukup ngena banget di keluarga gue. Udah cukup, jangan lagi. Tapi kalau lo emang mau serius, tolong banget pegang janji lo. Gue mohon dengan sangat, jangan bikin nyokap sama bokap gue sedih LAGI, Zy.”

Ah, orang tua nya. Berarti ada sesuatu nih dari penilaian orang tua Emi. Gue paham banget, bapaknya Emi itu sangat menginginkan anak laki-laki. Keberadaan gue, setelah mantan-mantan dia sebelumnya, cukup berkesan bagi bapaknya Emi. Katanya sih beliau menyukai gue dan berharap gue memang serius dengan Emi. Ini testimoni beliau ya, bukan gue yang mengada-ada. Kalau rencana pernikahan kami gagal, bukan hanya perkara merusak nama baik keluarga Emi dan menyakiti hati Emi, tetapi gue sangat melukai serta mengecewakan perasaan kedua orang tua Emi. Terutama bapaknya Emi.

Bapaknya Emi sudah menerima gue layaknya Papa. Beliau pun banyak mengajarkan gue hal yang belum sempat diajarkan oleh Papa. Walaupun kami belum resmi menikah, gue sudah menganggap beliau adalah Papa kedua gue. Di luar kejadian-kejadian salah paham antara kami dulu. Gue nggak akan sanggup menyakiti beliau. Lagipula, gue memang menyayangi Emi dan wajib menikahi anak semata wayangnya ini. Lalu apa lagi yang harus gue pertimbangkan?

Never.” jawab gue tanpa ragu.

“Lo liat kondisi beliau kemaren? Setelat apapun lo, mereka tetep sumringah nerima kedatangan keluarga lo kan? Walaupun gue tau, mereka sempet khawatir. Tapi mereka tetap berharap sama lo. Gue mohon, jangan sakitin hati mereka. Sekali lagi gue tanya. Lo mau mundur apa lanjut?”

“Aku nggak akan pernah mau mundur.”

“Janji?”

“Potong kuping aku kalau aku boong.” Gue sudah sangat serius untuk ini.

“Oke kalau gitu. Jadi, pas nanti gue di Bali, lo bisa kan jaga hati lo pas kita lagi jauh?”

“Bali? KAMU MAU KE BALI? LO MAU PINDAH KE BALI???” Apa-apaan ini??? Lagi nanyain urusan mundur apa nggak. Kenapa mendadak jadi ngebahas mau ke Bali segala sih? Ini maksudnya Emi mau pindah ke Bali apa gimana?

Terlihat senyum simpul dari sudut bibirnya Emi. “Bloon! Kenapa sih ekspresi kamu begitu? Aku tuh benci ya kalau lagi marah sama kamu terus kamunya keliataan kaget kayak begitu! Aku benci! Soalnya bikin aku mau ketawa mulu! Ih sebel!” Tawa pun pecah dari bibirnya. Hal yang sangat gue tunggu.

“Ya iyalah gue kaget! Maksudnya apaan dulu nih? Kenapa jadi urusan ke Bali segala?”

Emi menyeruput habis kopinya. “Sebenarnya yang mau aku omongin sama kamu tuh ya urusan ini. Bukan urusan kemarin. Hmm. Urusan kemarin juga mau aku bahas sih, buat bahan evaluasi kita karena entah kenapa aku yakin, kamu masih mau lanjut no matter what. Even MUNGKIN, kalau aku nolak melanjutkan, kamu akan melakukan segala cara untuk membuat pernikahan ini tetap berlangsung. Kecuali kimpoi lari. Ogah gue.”

“Gue kejar lo pasti, Mi! Sampe ke Ujung Kulon pun gue tetep kejar entar. Nggak usah khawatir dah! Tapi ini maksudnya apaan? Lo lagi becanda bukan? Pingin gue kena serangan fajar hah?”

“Serangan jantung bangs*t! Bukan serangan fajar!”

“Iye iye serangan jantung, elah. Ribet! Buru, maksud lo apaan? Lo berapa lama di Bali emang?” Gue bingung, harus seneng atau sedih.

Jangan suudzon dulu sama gue. Gue bukan senang Emi pergi ke Bali karena gue bisa ketemu sama Arasti atau Ana. Bodo amat sama mereka. Gue senang karena berarti Emi bisa ke luar pulau untuk pertama kalinya! Hahaha. Becanda, Emi sudah pernah merasakan naik kapal feri dari Merak – Bakauheni. Tetapi dia belum pernah ke luar Pulau Jawa naik pesawat. Kalau dia harus pergi ke Bali, dia SEHARUSNYA naik pesawat dong? Mau berapa hari dia kalau ke Bali lewat darat dan dilanjut naik kapal feri Ketapang – Gilimanuk? Mau ditinggal berapa lama nanti gue?

Sedihnya gue ada di titik itu. Komitmen gue sudah pasti, hanya untuk Emi. Walaupun Ara, Dee, atau Keket menyapa kembali di hidup gue, komitmen gue untuk menikahi Emi tidak akan goyah. Tetapi saat ini, gue sedang sangat membutuhkan Emi yang asik. Emi yang setiap hari ada di sisi gue, bukan Emi yang biasanya. Emi ini keliatan ragu dan penuh asumsi. Ya gue bilang, ini Emi yang nggak asik. Emi yang ini menjadi salah satu penyebab gue masih mencari hiburan dan teman ngobrol ke cewek-cewek itu. Gue khawatir, kalau Emi lama meninggalkan gue, gue bisa lebih nakal lagi dari ini.

Bukan nakal dengan mempermainkan komitmen gue. Tetapi ‘nakal’ dengan cewek-cewek itu. Godaan mereka sungguh ganas. Mindset gue ‘Lebih baik gue nakal sekarang daripada gue nakal nanti saat kita sudah menikah’ kadang cukup mengganggu iman gue. Kadang ada rasa ingin meladeni cewek-cewek itu karena mereka selalu menggoda gue ketika Emi jauh. Apalagi gue harus ditinggal oleh Emi dimana jarak dan waktu pun tidak bisa terjangkau oleh Emi. Gue khawatir akan kekuatan iman (dan ‘imron’ gue).

Karena deep down my heart, gue nggak mau mengecewakan Emi (lagi dan lagi). Tapi kadang gue berpikir, setiap rintangan dan hambatan yang gue rasakan selama persiapan pernikahan dan semenjak gue mengenal cewek-cewek itu apakah akibat ketidakikhlasan Emi ya? Apa ini semacam karma di hidup gue?

“Gue pergi Sabtu ini, Zy… Sabtu jam 08.00, paling Minggu malem juga udah di Jakarta lagi.” jawab dia sembari menarik gelas Ice Crème Brulee gue yang masih banyak isinya. Sudah jelas, dia pergi naik pesawat. Soalnya nggak mungkin dia pergi secepat itu kalau lewat jalur darat dan laut.

“Sepanjang weekend?”

Emi menatap gue bingung. “Iyaa weekend, kenapa emang? Seneng ya, kamu jadi bisa ketemu sama pacar kamu mumpung aku nggak ada?”

“Enak aja! Sempak juga lo! Terus aja bilang kalo gue punya pacar lagi. Ta*. Orang gue cuman nanya begitu doang.”

“Terus kenapa?”

“Kenapa harus di akhir tahun begini sih? Lagi mahal-mahalnya tiket pesawatnya.”

“Lah ini kan urusan kerjaan, mana peduli kantor gue sama akhir tahun atau awal tahun. Mereka taunya, gue harus pergi ya langsunglah dibeliin tiket pesawatnya. Udah begitu doang. Gue aja nggak tau berapa harga tiket pesawat gue.”

Gue berpikir sesaat. Ingin rasanya gue ikut ke Bali sama dia dengan menambah 2 hari cuti di hari Senin dan Selasa sebelum kami pulang ke Jakarta. Tapi sayang uangnya. Kami harus pintar-pintar mengatur keuangan bersama kami. Bukan pelit ya, tapi kebutuhan untuk pernikahan kami di depan nanti pasti cukup menguras kantong kami yang sedang nge-pas ini. Jalan-jalan yang cukup pricey ke Bali kayaknya not necessary untuk saat ini. Dan kayaknya, Bali juga tidak menjadi destinasi bulan madu kami nanti.

lagipula, Emi berangkat ke Bali bukan untuk jalan-jalan melainkan ada pekerjaan yang harus diselesaikan disana Bersama timnya. Pak Edward sudah menugaskan mereka semua untuk berangkat. Tentunya beserta drama-drama yang ternyata berasal dari Debby, cewek yang selalu jadi drama queen beberapa tahun terakhir semenjak pertama kali gue mengenal Emi. Debby sudah menjelek-jelekkan Pak Edward dengan terang-terangan, bekerja dengan tidak maksimal dan cenderung asal-asalan, sekarang pun posisinya sudah tidak berada di tim Pak Edward, masa bikin drama seolah dia ditinggalkan serta tidak di pedulikan oleh Pak Edward? Rasa-rasanya orang waras manapun akan berpikir ‘ya iyalah lo di tinggal, kelakuan lo kayak ta* gitu ke Pak Edward’. Playing victim as always.

“Jadi gimana? Mau ikut nggak? Entar gue tanyain gue naik apa dan jam berapa ke General Affair.” tanya dia lagi.

“Hmm. Sayang uangnya, Mi. Kita lagi butuh uang. Pesawat ke Bali itu nggak cuma ngabisin 300 atau 500 ribu, tapi bisa jutaan. Aku ada sih uangnya segitu. Tapi apa nggak sayang dipake buat acara kita nanti?”

Emi terdiam. Semoga dia nggak ngerasa ini jadi excuse buat gue menolak untuk pergi dengan dia. “Tapi kan… Ini pertama kali aku naik pesawat. Aku pingin bareng sama kamu.”

Benar kan apa gue bilang? Dia naik pesawat. And it’s her first time. “Lain kali ya, Mi… InsyaAllah, lain kali kita punya kesempatan naik pesawat bareng. Nggak cuma ke Bali deh. Ke luar negeri sekalian. Kalau ada rejeki mah mau ke Perancis atau Jepang pun bisa. Mau ke New Zealand pun bisa. Tapi nggak sekarang. Kalau nikahan kita udah ada jaminan ada yang ngebiayain, gue langsung booking tiket dah. Langsung ambil cuti demi ikut kamu. Anggap aja bulan madu yang keduluan. Hahaha. Tapi sekarang kondisinya nggak bisa. Ingat, BUKAN AKU YANG NGGAK MAU. Keuangannya yang mepet banget. Ada opportunity cost-nya, Mi.”

“………” Emi nggak bergeming. Gue harus menyemangati dia.

“Aku bisa aja booking tiket sekarang. Gampang tinggal beli doang. Tapi nih ya… Kamu mau kita undur Lamaran dan Akad Nikah kita kalau nanti uang kita nggak cukup?”

“Kok gitu?”

“Emang ada yang ngejamin kamu kalau SELURUH biaya pernikahan kita berdua nanti ada yang bantuin? Kamu sendiri loh yang bilang sama aku kalau kita mesti patungan buat nyiapin semua biayanya sendiri sampai seluruh rangkaian pernikahan kita selesai. Kamu sendiri yang bilang kalau Papa kamu cuma minta bantuan TENAGA dan kehadiran dari keluarga besar kamu di acara kamu, bukan bantuan biaya. Tapi masih nggak masuk ke logika aku, kenapa mereka bisa gitu terang-terangan nggak mau ngebantu keluarganya yang lagi butuh biaya begini? Heran aku. Ya udahlah nggak usah dibawa pusing. Intinya, nggak ada jaminan pasti kan kita bisa dapet bantuan berupa materi?”

Emi menjawab dengan menganggukkan kepala dia.

“Makanya, kita sendiri yang hemat. Kita sendiri yang harus pintar ngatur keuangan dan bisa memilah pengeluaran sembari terima opportunity cost yang harus kita tanggung nantinya. Kita bukan anak sultan yang bisa seenaknya nunjuk apapun yang mereka mau.”

“Jadi, kamu nggak bisa ikut ya?”

Berat banget ngelepas kepergian dia ini. Nggak hanya terkait keselamatan ya. SETIAP HARI, melepas dia pergi ke Utara ibu kota pun gue sudah berat. Dia setiap hari bangun selepas ibadah Subuh naik beragam jenis transportasi dan berjalan di antara truk tronton saja sudah membuat gue khawatir. Apalagi ini, dia akan pergi ke luar pulau naik pesawat (yang belum pernah dia naiki sama sekali)? Tetapi ada hal yang kami perjuangkan di sini. Emi pun paham apa yang gue maksud di atas. Gue yakin itu.

“Nanti kapan-kapan kita naik pesawat bareng ya? Aku anterin dan jemput kamu weekend nanti. Tapi aku nggak bisa ikut ke Bali nanti. Eh iya, kalau sempet kamu ketemu sama sodara kamu yang tinggal di Denpasar aja. Bisa kan tuh.”

“Nggak tau deh. Perjalanan aku kan udah diatur sama klien. Entah bisa apa nggak buat kesana sini sendiri. Lagian, waktunya juga sempit.”

“Iya juga sih…”

“Hmm. Zy… Jadi, gimana? Pas nanti gue di Bali, lo bisa kan jaga hati lu pas kita lagi jauh?” Tergambar kekhawatiran lagi di wajahnya.

“Pastilah, Mi. Emang kenapa sih nanya begitu mulu? Kamu lagi mikir apa lagi emang?”

Ini jangan-jangan ada cewek yang ngehubungin dia nih. Kayaknya kalau Edna atau Hana nggak mungkin deh. Apalagi Ana, itu lebih nggak mungkin lagi. Soalnya kalau Ana tau gue sudah punya Emi, kayaknya Ana nggak mungkin menawarkan fisiknya kayak siang tadi.

Apa Arasti ya? Apa dia sudah tau tentang hubungan gue dengan Arasti atau malah Arasti yang menghubungi dia lebih dulu makanya Arasti bawaannya khawatir terus sama gue? Gue berusaha membaca ekspresi wajah Emi. Nothing. Gue memang nggak pernah bisa menebak dia, apakah benar-benar tidak tahu atau dia hanya pura-pura bodoh.

“Nggak apa-apa… Aku takut kamu nggak kangen aku.”

“Kalau aku nggak kangen kamu, aku pasti males ketemu kamu terus setiap hari. Ini udah tahun ke berapa aku hampir ketemu kamu setiap hari coba? Ya nggak setiap hari banget, tapi rutin kan? Coba? Masa masih mikir aku nggak pernah kangen sama kamu? Aku kangen banget malah sama kamu. Makanya aku pingin cepet-cepet nikah, biar bisa ketemu kamu 24 jam!” Serius, ini nggak bohong. Ini bukan gombalan gue. Karena gue memang tidak jago gombalin cewek.

“Halah, tytyd!” jawaban yang bakalan keluar dari bibir Emi. Sudah gue duga pasti dia akan berkata seperti ini. Hahaha.

“Ya udah kalo nggak percaya. Terserah. Gue sih udah jujur itu. Katanya mau gue jujur bukan?”

“Aku takut aja pas lagi jauh, kamu nggak kuat hati…”

“Kuat, Mi. Hati aku cuma buat kamu kok… Eaaa. Bangs*t banget gue ngomong begitu. Hahaha.”

“Bener ya? Jangan malah balik ke mantan kamu lagi pas aku lagi jauh?”

“Yaelah, 2 hari doang ini. Hari Sabtu paginya lo masih ketemu gue kali, Mi. Minggu malemnya udah dijemput gue lagi. Lama darimananya? Hahaha. Nanti video call aja kalo lo nggak percaya. Hahaha.”

“………” Emi terdiam. Entah apa yang ada di dalam pikiran dia.

Mendadak gue ada ide brilian. “Ya udah kalo masih nggak percaya, besok Kamis lo ambil off deh.”

“Buat apa?”

“Kita nginep dulu mau nggak? Sebelum kamu berangkat? Biar kita bisa quality time sebelum kamu pergi?” Gue pribadi juga mau menumpahkan rindu gue ke Emi sebelum nanti cuma bisa komunikasi via video atau text doang.

“Hmm. Kamis ya? Boleh aja sih. Dimana emang maunya?”

“Entar aku coba cari info dulu ya. Yang asik buat kita.”

“Oke…” Senyum sumringah kembali terpancar dari bibir mungilnya. Gue suka Emi yang begini. Dan gue rasa, gue dan Emi memang sesekali butuh benar-benar quality time. Biar kami bisa sama-sama mencurahkan seluruh perasaan kami tanpa gangguan apapun dan siapapun. Dan pastinya, gue harus menghindarkan cewek-cewek itu selama sehari nanti.

Yang pasti, sekarang hati gue sudah sangat lega. Sedikit lega ketika tahu kalau hal utama yang Emi ingin bicarakan malam itu bukan tentang batalnya pernikahan kami. Jauh dari itu. Emi masih berpikir positive dan optimis atas rencana pernikahan kami. Tapi dia ingin membahas kepergian ke Bali. Sedih rasanya gue tidak bisa turut serta dengan dia pergi ke Pulau Dewata tersebut. Namun, apa daya? Seperti yang gue jabarkan tadi, ada opportunity cost yang harus kami bayarkan untuk kedepannya. Emi pasti paham urusan ini.

Malam ini, gue akhirnya tahu kalau keluarga Emi cukup kecewa dengan acara Perkenalan Keluarga kami kemarin. Sesuai prediksi gue. Ya kalau begitu cara Mama bersikap selama acara kemarin, siapa yang tidak kecewa? Keluarga Ara sekalipun akan kecewa kalau diperlakukan seperti bagaimana jalannya acara kemarin. Masih untung mereka cuma cukup kecewa dan ended up kasih keputusan akhir ke Emi, dimana untungnya (lagi) Emi masih mau melanjutkan pernikahan kami.

Bagaimana kalau Emi memilih mundur atau worst, keluarganya menolak untuk melanjutkan? Amit-amit dah! Dan kalau emang beneran kejadian, gue beneran kabur deh dari rumah. Dimana lagi gue akan menemukan cewek sesabar Emi yang mampu ‘meng-handle’ gue? Siapa lagi yang bisa mencintai dan percaya sama gue kayak Emi? Lagipula emang ada cewek yang kayak Emi lagi? Gue ragu.

Kalau gue nggak menikah sama dia, mending gue jadi abdi istana aja dah. I mean it.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
Lihat 23 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 23 balasan
abis maratonin seru juga ceritanya, semoga update terus gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Quality Time Tak Berkualitas_Part 3

((EMI CHAT))
Quote:


Gue memeriksa HP gue. Gue sudah bilang ke Hana dan Arasti kalau gue sedang ada pekerjaan di luar kota. Mungkin gue nggak ada sinyal jadinya nggak bisa menghubungi mereka. Ana? Gue sudah bilang untuk tidak sering-sering menghubungi gue di luar jam kerja, kecuali gue yang menghubungi dia duluan. WALAUPUN, jarang gue akan menghubungi dia lebih dulu.

Khusus untuk Ana, nanti waktu akan menjawab. Mengapa demikian? Karena soon, dia yang notabene-nya satu kantor dengan gue pasti akan tahu kalau gue akan mengurus berkas-berkas pernikahan. Gue merasa tidak perlu ada lagi yang dijelaskan pada dia. Toh gue tidak mengaku jomblo pada dia. Dia hanya berasumsi sendiri dan gue biarkan dia berimajinasi dengan sendirinya. Hahaha.

Edna? Skip. Dia masih marah-marah nggak jelas dengan gue. Jadi gue abaikan dia. Gue paling tidak suka sama cewek yang betah marah berlama-lama demi mendapatkan kepuasan dengan mendengar ‘Maafin aku ya sayang, aku yang salah…’ Tapi mereka puas begitu saja? Oh tentu saja tidak. Mereka masih akan berkoar tentang bagaimana mereka tidak menyukai perlakuan kita pada mereka dan berujung kita yang mohon-mohon pada mereka.

Gue paling anti untuk hal yang seperti itu. Terbukti dari deretan mantan gue, tidak pernah gue melakukan hal-hala seperti itu ke mereka.

Lagipula, siapa Edna di hidup gue? Dia hanya cewek yang mendadak hadir di hidup gue dan minta gue untuk mendengarkan seluruh cerita dia. Gue di sini hanya memberi advice dan bantuan (dalam bentuk memperbolehkan dia menggunakan nama gue sebagai pacar palsu dia, nggak lebih). Berarti kalau gue tidak ada kabar atau punya kesibukan lain, harusnya Edna tidak punya hak untuk marah bukan? Kenapa dia malah ngambek berkepanjangan begini? Aneh kadang kalau cewek masih puber tuh.

Gue sudah menentukan di mana kami akan menginap nanti. Tadinya gue berpikir untuk pergi ke Sukabumi atau Puncak untuk kami menginap. Toh kalau pergi ke sana di hari kerja, pasti jalanan tidak akan ramai layaknya akhir pekan. Tapi mengingat Emi akan pergi ke Bali yang perjalanannya cukup jauh, gue nggak mau dia terlalu lelah. Jadi, gue putuskan untuk mencari salah satu hotel di pusat kota tempat Emi tinggal.

Sebenarnya gue bisa saja menginap di hotel di mana gue dan Emi pernah menginap saat Emi masih di kampus dulu. Tetapi gue sayang saja, bukan karena nominal uang yang akan gue keluarkan tetapi karena kami memang tidak akan berlama-lama di sana. Dan kebetulan, gue juga lagi penasaran dengan keberadaan hotel ini. Gue khawatir, hotel ini adalah hotel underrated yang aslinya mungkin berkualitas, hanya kurang promosi saja. Mungkin. Walaupun di dalam hati gue ada bisikan-bisikan ‘Itu hotel buat ngew*’. Hahaha.

Gue lihat di internet, tidak banyak review tentang hotel ini. Tetapi bagaimana bisa katanya hotel ini cukup terkenal dan legendaris? Kok bisa dibilang legendaris kalau tidak banyak yang memberikan testimoni? Ada sedikit kekhawatiran kalo nanti (mungkin) gue akan ditawarkan cewek lagi untuk gue ‘pake tidur’. Tapi kan gue sudah bawa Emi, masa iya gue masih ditawarkan lagi? Seru juga tapi kalo begitu. Hahaha.

Ketika motor gue sudah memasuki halaman parkir dekat lobi, gue melihat hotel ini seperti kurang terawat. Entah mengapa. Tidak seperti ekspektasi gue. Kami masuk ke dalam lobi hotel untuk berbicara dengan resepsionis hotel tersebut. Soalnya gue melihat ada beberapa mobil dan banyak motor di halaman parkir mereka. Gue khawatir, hotel ini malah penuh untuk digunakan sebagai one night stand atau bahkan hanya untuk beberapa jam eksekusi saja. Hahaha. Begitu masuk ke lobinya pun gue tidak merasakan kenyamanan seperti hotel kelas melati sekalipun. Untungnya, resepsionis menyambut kami dengan ramah. Gue masih berusaha untuk positive thinking pada hotel ini.

“Selamat datang di hotel kami! Ada yang bisa kami bantu?”

“Masih ada kamar kosong, Mbak?”

Tidak berapa lama, ada cewek lain keluar dari dalam ruangan di belakang meja resepsionis. Sepertinya beliau habis bangun tidur, atau kalo gue membiarkan pikiran gue berkreasi sebebas-bebasnya, gue akan bilang ‘Abis nyep*ng lo yak?’ Hahaha. “Coba kami cek terlebih dahulu ya ketersediaan kamarnya.”

Sembari menunggu mereka, gue dan Emi melihat sekeliling hotel tersebut. Hotelnya bersih namun bangunannya tidak terawat dengan baik. Kalo mereka sampe membuat kami menunggu untuk dicek ketersediaan kamar, berarti kemungkinan banyak kamar yang telah terisi atau di-booking oleh orang. Harusnya mereka punya biaya untuk operasional mereka. Tapi melihat cat tembok yang mulai menguning efek rembesan air hujan dan beberapa cat furnitur yang mulai terkelupas, masa iya hotel ini tidak bisa menutup biaya operasional mereka?

“Kami hampir ]full booked, Mas. Tersisa dua kamar lagi, tapi ukurannya kecil.” Heran, mereka tidak menyebutkan sama sekali jenis-jenis kamar yang mereka miliki seperti standar room, superior room, atau deluxe room. Mereka hanya menyebutkan ukuran kamarnya.

“Memang ukurannya beda-beda kamarnya?”

“Ada yang lebih besar lagi ukurannya… Harganya juga beda-beda, Mas.”

Jelas beda. Ya ukuran kamar kan mempengaruhi fasilitas dan kualitas kamar hotel tentunya. Tapi kalo gue pikir-pikir, hotel ini lebih cocok disebut wisma dibandingkan hotel. “Yaudah nggak apa-apa. Yang ada aja.”

“Baik, totalnya Rp150.000,-, Mas.”

Bener kan? Murah harganya, fasilitas minim, tapi full booked? Apa lagi kalo bukan hotel esek-esek? Hahaha. “Bisa bayar pake kartu?” Sebenarnya gue nggak suka transaksi di tempat seperti ini menggunakan kartu, tapi gue hanya mencoba untuk tes mereka saja.

“Maaf, cash only, Mas. Mesin EDC kami rusak.” Nah kan, rusak atau memang tidak ada untuk menghindari para esekers ini ketauan dimana mereka beraksi?

Gue pun mengeluarkan uang cash yang gue bawa. Gampang, nanti tinggal ambil cash lagi. Toh kami bakalan tetep keluar buat makan malam. “Rp150.000,- ya…” ucap gue sembari memberikan uang gue.

Kemudian, teman dia membisikkan sesuatu pada resepsionis yang melayani kami. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, resepsionis ini kemudian bilang ‘Oh iya gue lupa.’. Jangan bilang kalo mendadak sudah full booked.

“Hmm. Mau nginep atau nggak, Mas?” WUADUH! Seriusan yang begini ditanyain? Gue dan Emi kaget bukan main.

Gue yang ditanyakan seperti itu tentu saja bingung berat. Hotel yang memang seharusnya dijadikan tempat menginap seharusnya tidak ada pertanyaan seperti ini. Tetapi kemudian gue dan Emi tersadar kalau memang benar adanya hotel ini adalah hotel yang difungsikan untuk menyalurkan syahwat orang-orang yang memang tidak perlu waktu satu hari penuh sampai harus menginap. Gue semakin excited untuk tahu, bagaimana fasilitas yang mereka tawarkan.

“Kalau ke hotel biasanya sih saya nginep, Mbak. Hehehe.” Balas gue.

“Ya kali aja mau buru-buru jadinya bisa langsung pergi lagi, Mas. Hehehe.” Kata dia sembari memberikan kuitansi, yak gue nggak salah ngomong. Sebagai tanda transaksi kami, mereka memberikan kuitansi kertas yang ditulis tangan. Memang beda betul hotel ini.

“Emang kalo langsung pergi lagi, harganya beda jadinya, Mbak?”

“Ya nggak juga, Mas. Kan hitungannya booking satu kamar. Hahaha. Mas bisa aja…” Dia malah tersipu malu dengan pertanyaan gue tersebut. Suaranya gurih banget, kayaknya dia sudah biasa menggoda orang.

“Nanti diantarkan oleh teman saya ini ya, Mas. Selamat beristirahat!”

“Makasih, Mbak…” kata gue dan Emi berbarengan. Gue yakin, Emi memiliki pemikiran yang sama dengan gue tentang hotel ini. Terutama dengan si Mbak tadi.

Gue dan Emi diantarkan ke kamar oleh porter cewek, teman resepsionis tadi. Dia cukup memberitahukan gue dimana kamar kami. Sebenarnya dia tidak perlu mengantarkan kami begini, apalagi dia juga tidak perlu membawa barang-barang apapun. Dan kayaknya, dia memang tidak berniat untuk menawarkan jasa membawa barang karena dia hanya mengarahkan jalan menuju kamar kami sembari menenteng kunci pintu yang ada nomornya. Seharusnya tidak sulit bagi kami untuk mencari kamar sesuai nomor kunci pintu tersebut. Tapi apa daya, dia sudah lebih dulu diperintah untuk mengantarkan kami. Toh gue tidak dirugikan.

Kami berjalan di koridor lantai 3 setelah sebelumnya menaiki lift yang bisa di bilang sudah berumur dan tidak terawat. Ada beberapa goresan di handle lift tersebut yang tidak di perbaiki. Bagaimana dengan mesinnya? Mesin lift biasanya berada di bagian gedung paling atas. Tetapi gue bisa mendengar dengan cukup jelas bagaimana lift ini mengeluarkan suara yang cukup bising. Jelas tidak dirawat dengan baik mesinnya.

Koridor lantai 3 tempat kamar kami berada pun layaknya lorong untuk uji nyali. Keadaannya benar-benar sunyi sepi dan seperti tidak berpenghuni sama sekali. Gue saja sempat berpikir jika akan keluar kamar pada malam hari akan mendapatkan pengalaman mistis yang begitu hebat, lebih hebat daripada ketika gue pertama kali menginjakkan kaki di dalam gedung hotel ini. Pengalaman mistis digrebek Satpop PP karena mengajak mesum cewek (yang dianggap) di bawah umur. Hahaha. Amit-amit. Hahaha. Tapi kalo beneran terjadi, sungguh pengalaman yang unik (dan memalukan pastinya).

“Zy, hotelnya gini amat ya?” tanya Emi setelah merapatkan jalannya ke dekat gue dan berbisik agar si porter cewek tidak mendengar percakapan kami.

“Nggak tau gue juga. Ini aja gue ngerasa serem. Hawanya nggak ngenakin.” kata gue bergidik.

“Ini beneran aman kan, Zy? Nggak akan ada hidden camera gitu nanti? Gue takut, Zy. Nanti malah diem-diem kita direkam lagi sama orang.”

Gue menengok ke arah kanan dan kiri, memastikan tidak ada hidden camera seperti yang Emi bilang tadi. “Harusnya sih ngeliat mereka tetep rame pengunjung walopun fasilitasnya ‘begini’…” Gue memberikan isyarat pada Emi yang menunjukkan kalo kondisi hotelnya memang jauh dari kata layak. “Mereka nggak simpen-simpen hidden camera begitu. Mudah-mudahan ya, Mi. Lagian dari tadi gue liat, CCTV cuman ada di deket resepsionis doangan, Mi. Nggak ada dimana-mana lagi. Nggak cukup kali mereka beli CCTV lebih banyak? Hehehe.”

Porter cewek yang mengantar pun tidak banyak bicara dan terkesan misterius. Seperti Rangga di AADC mungkin ya misteriusnya. Dia hanya menunjukkan jalan dengan isyarat tangan saja, tanpa berbicara. Raut mukanya juga tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar-datar saja dan terlihat dingin sepintas. Berbeda dengan temannya, resepsionis, yang lebih ekspresif dan ramah.

Sesampainya di depan kamar hotel, barulah si porter cewek ini mengeluarkan suara. “Sebelah sini kamarnya. Silakan masuk. Selamat istirahat.” ucapnya, tetap tanpa ekspresi. Benar-benar seperti film-film horor saja gayanya. Gue nggak memikirkan itu lagi dan langsung masuk ke dalam hotel bersama Emi.

“Eh nggak ada anduk sama sabun gitu-gitunya, Zy?” tanya Emi mendadak.

“Serius nggak ada?” Gue langsung keluar kamar dan mengejar porter tadi. “Mbak. Sebentar. Ini anduknya dianter nanti apa gimana?”

“Oh iya sebentar. Nanti saya antarkan.” ucapnya tanpa senyum sama sekali, walopun nada bicaranya ramah.

“Makasih, Mbak.” ucap gue.

Tiba-tiba ada pasangan muda mudi keluar dari salah satu kamar yang berada di seberang kamar kami. Si cewek membenarkan kerudung yang ia pakai. Sedangkan yang cowok memasukkan baju seragam SMA nya ke dalam celana mereka. Gue bisa melihat, mereka sama sekali tidak membawa tas sekolah mereka. Berarti antara tas yang mereka bawa masih di dalam kamar atau mereka memang sengaja tidak membawa tas sekolah mereka. Bodo amat juga gue. Mereka melewati gue dengan wajah sedikit ditutupi oleh rambut dan tangan mereka, mungkin malu karena khawatir gue berpikir macam-macam. Padahal gue pribadi pun tidak peduli.

“Cowoknya punya modal juga ternyata sampe nyewa hotel cuma untuk ngajak tidur ceweknya…” gumam gue perlahan sembari menutup pintu.

“Kenapa, Zy?” tanya Emi yang masih aja sibuk inspeksi kamar hotel kami.

“Nggak, itu tadi ada anak SMA baru keluar dari kamar. Hebat aja si cowoknya masih SMA punya modal buat bayar hotel…”

“Anak SMA ke hotel?”

“Iya, kenapa?”

“Anak SMA, Zy?”

“Eh iya yak! Buset kelakuan anak jaman sekarang! Udah ke hotel aja. Ah harusnya gue liat mukanya tuh! Mereka pasti ngerekam-rekam tuh! Entar kalo suatu saat ada yang share dan ternyata mereka, kan gue bisa komen ‘Ah gue kenal nih anaknya!’ Hahaha.”

“Iyak, terus ketauan deh kalo lo juga nginep ke hotel sama cewek. Nanti tinggal tunggu aja gimana gosipnya kesebar antara ‘Si Ija ke hotel sama Emi nggak tuh?’ atau ‘Si Ija udah pernah ke hotel sama Emi? Anjay! Dicek spare part dulu yak sebelom kimpoi?’ Mau yang mana lo?”

“Dih gitu… Hahaha. Kan gue becanda, Mi. Nggak asik ah lo. Hahaha.” Emi hanya memonyongkan bibirnya dan tiduran di kasur hotel tersebut.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
Hiya hiya hiya apdet lagi lah nanggung emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan

Quality Time Tak Berkualitas_Part 4

Kasur hotel yang mereka sediakan tidak seperti kasur hotel pada umumnya sih. Kebanyakan kasur hotel menggunakan rangka kayu. Tetapi kasur di hotel ini menggunakan rangka besi model jaman dulu dan udah berkarat di sana sini.
Kasur yang mereka gunakan adalah spring bed yang sepertinya sudah lama tidak pernah mereka ganti, atau mungkin sejak awal hotel ini berdiri memang tidak pernah mereka ganti. Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak pegas yang sudah agak menyeruak keluar sedikit yang bisa gue rasakan. Jangan di tanya ketika mencoba menduduki dan menidurinya. Bunyi dimana-mana. Entah bunyi di kasurnya ataupun bunyi 'dukdukduk' ketika rangka kasur menghantam tembok. Jangan tanya ya kenapa gue cukup concern mengenai suara 'dukdukduk' dari kasur tersebut. Hahaha.

Tepat di seberang kasur, ada meja berlaci yang disandingkan dengan meja rias. Kondisi keduanya pun cukup memprihatinkan, berdebu dan cat kayunya sudah mulai terkelupas di sebagian besar bodi meja tersebut. Lalu, di saat semua hotel sudah menawarkan TV layar datar. TV yang disediakan di kamar hotel ini adalah TV tabung dengan antena dalam. Jadi kalo memang niat banget pingin nonton TV di kamar hotel ini, mesti berjuang dulu tuh gerakin antena-nya agar bisa mendapatkan gambar terbaik.

“Zy, AC nya nggak berasa. Turunin suhunya dong kata Emi sembari memeriksa kasur lagi, memastikan tidak ada jarum yang menusuk atau ‘kotoran’ lain di kasur tersebut.

“Buset, AC jaman kapan nih? Hahaha.” Pendingin ruangan mereka benar-benar sudah usang. Warnanya sudah kekuningan dari yang seharusnya berwarna putih. AC split ini yang seharusnya tenang malah cukup berisik karena tidak ada budget perawatan sepertinya.

Apa yang gue rasakan di dalam kamar hotel ini? Ketidaknyamanan. Ada sedikit rasa menyesal gue mengeluarkan uang sebesar itu untuk kondisi kamar hotel yang seperti ini. Gue jamin, hotel ini pun tidak menawarkan breakfast di pagi harinya. Ya, budget segitu masih syukur dikasih kasur. Hahaha. “Kalo tau bakalan begini kondisinya, mending gue keluarin Rp100.000 sampe Rp150.000 lagi udah bisa dapet hotel kekinian yang lebih bagus dah… Gimana gue mau quality time sama Emi kalo nggak nyaman begini?” ucap gue dalam hati.

Toktoktok.

“Mas, ini handuk dan sabunnya.” ucap seseorang dari luar ruangan. Sepertinya porter cewek yang tadi.

“Oke sebentar…” jawab gue sembari membuka pintu kamar.

Ternyata kali ini adalah pegawai hotel mereka yang lain. Dan masih juga pegawai cewek. Kemana pegawai cowok mereka? Berangkat Jum’atan? Ini masih kamis woy. “Ini handuknya 2, sabun, dan sikat giginya sepasang. Selamat istirahat ya, Mas.”

“Makasih, Mbak…” kata gue. Gue menutup pintu dan menunjukkan handuk yang ia berikan tadi pada Emi. “Mi, liat nih…”


“Anjay, itu mah kayak anduk di rumah gue. Hahaha. Tumben hotelnya nggak pake anduk warna putih? Kenapa warna warni begitu? Hahaha.”

“Ada sih hotel yang make anduk berwarna, Mi. Tapi ya tetep aja, nggak yang kayak anduk rumahan begini juga… Hahaha.”

“Lo mau make, Zy?”

Gue mencium aroma anduk yang gue bawa itu. “Nggak ada bau apa-apa sih? Aman kali ya?”

“Gue ragu, Zy.”

“Yaudahlah. Seenggaknya mereka masih kasih kita anduk sama sabun begini.”

“Sini sabun sama sikatnya. Gue simpen di kamar mandi.” kata Emi sembari jalan ke dalam kamar mandi. Gue menggantikan Emi merebahkan badan gue di kasur.

Gue mikir, kalo emang hotel ini nggak menawarkan kenyamanan untuk pengunjung yang datang, mengapa hotel ini bisa cukup laku ya? Buktinya di Kamis siang seperti ini, mereka hampir full booked loh! Apa yang mereka tawarkan? Keamanan? Apa mereka membayar ‘jasa keamanan’ cukup besar (untuk membiarkan bisnis hotel mereka tetap beroperasi tanpa membongkar data-data pengunjung yang menginap di sana), sehingga mereka tidak memiliki cukup biaya untuk memperbaiki fasilitas yang ada?

Kalo mereka kesulitan untuk biaya maintenance fasilitas, mengapa mereka tidak menaikkan tarif hotel per kamarnya saja? Mengapa mereka bertahan dengan harga semurah itu? Atau mereka khawatir nanti mereka akan ditinggalkan jika mereka menawarkan harga yang lebih mahal Rp100.000 hingga Rp200.000 lagi?

Gue yakin, occupancy rate (jumlah kamar terjual berbanding jumlah kamar keseluruhan) hotel ini dalam sehari bisa melebihi 100%. Mengapa demikian? Karena mereka bisa menawarkan satu kamar mereka, tidak hanya untuk satu orang saja. Mungkin di pagi hari, ada yang memesan kamar yang sama dengan yang gue gunakan hari itu. Lalu dia check-out beberapa jam sebelum kedatangan gue. Lalu datanglah gue yang membayar nominal yang sama untuk menggunakan kamar tersebut. Mungkin, kalo misalnya gue tidak menginap, kamar yang gue pake ini bisa saja dibersihkan dan dijual kembali. Itulah sebabnya hotel semacam ini memiliki occupancy rate lebih dari 100%.

gue menduga pengelola hotel ini hanya berpikir buat apa diperbaiki atau diganti ketika tamu-tamu yang datang kesini hanya untuk melakukan ‘silaturahmi kelamin’ tanpa memedulikan kondisi fasilitas. “Yang penting bebas bertarung di kasur dan bertukar keringat dengan aman, tanpa khawatir ada kamera ataupun razia.“ Mereka nggak peduli ada breakfast apa nggak. TV-nya ada lokal atau TV kabel. AC-nya dingin atau nggak. Kasurnya spring bed atau kapuk. Pokoknya yang penting gue bisa ‘benerin genteng’ di kamar hotel, bukan di mobil / kuburan / kebon belakang punya Pak Lurah. Hahaha.

“Zy… Sini…” Panggil Emi dari dalam kamar mandi, suaranya terdengar menggema.

“Kenapa, Mi?” tanya gue, sambil beranjak dari kasur menuju ke kamar mandi.

“Tarik napas coba.”

“Lo abis kencing yak? Anj*ng! Bau banget ini! Berasa bau WC umum nih!”

“Ya kalo gue abis kencing mah nggak mungkin lah gue suruh lo masuk, Zy. Baunya udah begini dari gue masuk tadi, Zy.”

“Buset, buru flush WC-nya. Keburu baunya kemana-mana.”

“Nggak bisa…” Emi mencoba menekan flush-nya tetapi tidak terjadi apa-apa.

“Buka kerannya coba. Itu kan ada ember sama gayung.” Untungnya ketika Emi membuka keran yang ada di ember kecil yang ada di samping WC, airnya keluar. “Nah kan keluar. Siram yang banyak, Mi.”

“Iya siram yang banyak, tapi mesti sabar. Soalnya embernya kecil begini. Udah kayak ember buat ngecor lantai begini. Gimana buat dipake mandi coba?”

“Kan ada shower…” Gue menunjuk shower yang ada di tengah kamar mandi.

“Baca tulisannya.”

Shower rusak? Tolong gunakan ember? Tapi embernya begini? Berapa taun gue mandi make ember segitu? Hahaha.”

“Yaudahlah. Pasrah. Bayar segitu minta fasillitas mumpuni? Mana bisa? Hahaha.”

“Maafin aku ya, Mi. Niatnya mau quality time, malah begini.” gue hanya bisa menghela nafas sambil membayangkan hotel-hotel dari kubu merah atau biru yang harganya kisaran sama, tetapi fasilitasnya jelas lebih baik.

“Santai aja, Zy. Yang penting kan ada kitanya. Kasurnya juga masih bisa dipake walopun berisik. Hahaha.”

“Iya sih…” Gue mengecup kening dia.

“Sonoh keluar dulu, gue siram-siram dulu kamar mandinya biar nggak bau.”

Gue mengganti baju gue dengan celana pendek dan kaos oblong favorit gue. Gue bisa mendengar Emi masih mengurus kamar mandi. Dia memang paling nggak bisa melihat ada yang berantakan sedikit, bawaannya pingin diberesin terus. Sama kayak gue sih. Tapi Emi nggak pandang bulu, hal yang begini pun dia tidak sungkan untuk dikerjakan. Kalo gue? NO! Gue nggak akan mau beresin atau bersihin kamar mandi yang sudah dipakai banyak orang begitu, dan tidak di bersihkan kembali. Jijik banget gue! Sama aja kayak gue disuruh bersihin WC umum soalnya. Hehehe.

Mendadak hujan turun dengan deras. Pendingin ruangan yang ada di kamar ini tidak otomatis menyesuaikan suhunya ketika suhu di luar dingin. Jadi gue mengatur sebagaimana mungkin agar kami nggak menggigil kedinginan di kamar ini. Maklum, selimut yang mereka sediakan sangat tipis. Gue menyalakan TV tabung dan mencari channel yang memang sudah bagus dengan antena yang ada, jadi gue tidak perlu menggeser antenanya kemana-mana. Toh gue nggak sepenuhnya mau nonton TV, gue mau cuddling sama Emi.

Gue sangat rindu berduaan dengan Emi. “Kapan ya terakhir kali gue tidur sekamar sama Emi?” tanya gue dalam hati.

“Eh ujan yak? Duh deres amat ujannya.” kata Emi sembari membuka kerudung dan menyimpannya dengan rapi di bangku yang ada di depan meja rias.

“Santai ini bukan? Untung kamu lagi nggak kerja.” kata gue, masih berkutat dengan remote TV mencari channel yang bagus gambarnya.

Dari sudut mata gue, gue bisa melihat Emi membuka kaos dan celana jeans yang ia pakai. Karena tidak ada lemari ataupun hanger di dalam kamar, Emi pun menggantungnya di bangku yang ada di depan meja rias rapuh itu. Ya tentunya menimpa baju gue yang sudah lebih dulu digantung di bangku tersebut.

“Dingiiin~” ucapnya. Dia yang kini hanya dibalut bra dan celana dalam melompat ke kasur. Dia masuk ke dalam selimut tipis yang gue pake dan langsung memeluk gue.

“Lagian, siapa suruh langsung buka baju begitu? Emangnya kita mau ngapain? Aku aja make kaos sama celana pendek…”

“Orang ke hotel mau ngapain lagi kalo bukan ngew*?”

“Bangs*t! Hahaha.” Dia adalah cewek yang pikirannya kayak cowok dan nggak malu buat ngomong urusan kayak begitu. Lagipula, apa yang salah dari logika dia bukan?

Dia memeluk erat gue yang masih tertidur terlentang. Dia menidurkan kepalanya di dada gue. Tangannya masih anteng memainkan jemarinya di perut gue. Selalu berusaha nyari titik kelemahan gue, titik geli gue. Lalu gue teringat sesuatu. “Eh bentar, Mi!” Gue berdiri dan jalan ke arah tas gue. Gue ambil sesuatu yang gue beli kemarin di Circle K. Sesuatu yang agak memalukan untuk dibeli, tapi ini yang Emi pingin beli dari lama. Kond*m.

Seriusan Emi yang pingin beli, Ja? A f*cking condom? Iya, lo bisa tanya aja sendiri sama Emi kalo lo nggak percaya. Udah dari lama banget Emi minta gue buat beli kondom. Buat safety? Pasti. Gue juga nggak mau bablas bareng Emi, walopun gue mau nikahin dia. Gue mau bablas ya nanti pas gue dan Emi udah sah setelah gue mengucapkan ijab qabul di hadapan kedua orang tua kami.

Tapi utamanya, Emi mau beli kondom karena penasaran. Penasaran sama bentuk dan rasa-rasanya. Gue juga malu mau beli kondom dimana pas dia minta. Sampai kemarin pas gue kebetulan lagi lewat salah satu Circle K yang lumayan sepi, gue coba aja beli. Untungnya Mas yang jualnya keliatan cuek, nggak masang tampang judging atau nanya ini itu. Jadi gue asal ambil rasa apapun yang ada dan segera membayar barang belanjaan gue tersebut.

“Zy? Kondom???” Emi terlihat kaget. Entah kaget karena gue mendadak bawa kondom atau kaget karena merk atau rasa yang gue pilih. “Kok kamu bisa beli kondom? Katanya malu mau belinya?”

“Entah kenapa kemaren kepikiran aja beli ini pas lagi lewat Circle K. Nggak usah protes ya kenapa aku beli yang rasa pisang. Aku nggak milih-milih, aku langsung ambil aja apa yang—” Emi nggak membiarkan gue menyelesaikan omongan gue. Dia sudah langsung naik ke pangkuan gue dan melalap habis bibir gue dengan french kiss khas dia. Sudah lama nggak menerima french kiss dia, cukup membuat gue kehabisan sedikit napas gue.

“Hmm. Zy…” kata dia sembari melepas bibir dia yang sudah mulai memerah and kinda puffy. “Aku nggak mau foreplay dulu. Aku mau…” Dia meraba paha kiri gue, naik perlahan, menuju area sensitif gue tepat di bawah perut untuk mengambil… Kondom. “… tau gimana bentuknya terus gimana cara makenya. Hahaha.”

“Anj*ng! Hahaha.”

Dia mendorong gue hingga tertidur di kasur. Dia menyingkap selimut dan menyingkirkannya ke pojok kasur. Dia menurunkan seluruh celana gue dan membuangnya ke lantai. Gue sengaja membuka kedua kaki gue lebar-lebar di hadapan dia untuk membiarkan dia mengeksplorasi ‘mainan’ baru dia.

Gue melihat dia membuka bungkusnya dan menghirup aroma dari kondom yang gue beli tersebut. “Bau karet… Nggak ada pisang-pisangnya sama sekali dah. Darimana pisangnya.”

“Ya mana gue tau. Awas lo nyuruh gue cobain itu kondom! Gue udah beliin loh, lo yang rasain sendiri!” kata gue sembari menutup mulut gue karena dia mau meminta gue untuk menjilat ‘karet’ tersebut.

“Terus makenya gimana, Zy?”

“Ya biar berdiri dulu si rocky, Mi.”

“Emang kalo masih dedek kicik begini, nggak bisa masuk?”

“Ya mana gue tau. Gue kalo liat di bokep sih biar berdiri dulu tytyd-nya.”

“Seriusan? Yaudah buru kocok sendiri.”

“Gimana gue bisa kocok sendiri sih? Udah gue yang nyetir motor, gue yang bayar hotel, masa masih gue juga yang ngocok?”

“Bangs*t! Apa hubungannya coba? Hahaha. Yaudah sini.”

Dia menungging tepat di atas badan gue. Dia kembali mencium bibir gue perlahan sembari mengarahkan tangan kanan gue untuk masuk ke dalam bra yang ia pakai. Gue mengeluarkan isi dari bra tanpa melepas bra yang ia pakai. Agar dadanya semakin terlihat penuh di hadapan gue. Gue jilat perlahan dengan memutarkan lidah gue di sekeliling ujungnya. Bergantian, kanan dan kiri.

Ketika tangan kanan gue sibuk di atas, dia mengarahkan tangan kiri gue untuk memegang rocky yang perlahan mengeras dengan sendirinya karena mendengar desahan demi desahan yang dikeluarkan oleh Emi. Ya, Emi memang ‘pemain yang berisik’. Hehehe. Tanpa gue sadari, dia sudah mencopot celana dalam yang ia pakai hingga kini dia sama dengan gue, tidak menggunakan apapun dari perut ke bawah. Dia membuka lebar kedua kakinya dan mengarahkan tangan kiri gue tersebut tepat ke arah lubang surganya yang sempit dan keset.

Dia mengarahkan rocky yang sudah kekar tersebut. Dia pun membantu pergerakan tangan kiri gue dengan tangan kanan dia. Sesekali dia menggunakan jemarinya untuk sedikit memberikan stimulasi pada lubang surganya sendiri hingga akhirnya siap untuk dipakai rocky berlabuh.

“Ayooo! Cobain kondomnya!” Mendadak dia turun dari atas badan gue dan sibuk memasangkan kondom pada rocky.

“Woy! Kenapa mendadak berenti! Ayo lanjutin!”

“Pake dulu ini.” Dia memasukkan kondomnya dan takjub ketika melihat kondom yang berbentuk lingkaran sebelumnya berubah mengikuti bentuk rocky. “Oh begitu caranya. Ini ujungnya emang begini?”

“Iya kali itu buat… Ah…” Omongan gue kembali terpotong karena dia segera melahap habis rocky. Oh gue sangat rindu kehangatan mulutnya ini. Keluar masuk, keluar masuk, rocky di dalam mulutnya. Sesekali dia menghisap rocky cukup kencang membuat sensasi sedotan dahsyat di bagian bawah tubuh gue tersebut.

“Tetep rasanya karet. Cuman aroma pisang. Pas ditelen, nggak ada rasa pisang-pisang sama sekali ah. Nggak suka.”

“Yeee, emang lo pikir mau ada rasa pisang beneran? Lo pikir rocky itu banana float hah?”

“Ya kali gitu. Hahaha. Eh loh loh loh. Kenapa rocky?” Yap. Sesuai dugaan gue, kenapa gue nggak suka menggunakan kondom. Toh gue bukan penggiat seks dengan sembarang orang, jadi gue pikir gue nggak bakalan sering menggunakan kondom. Karena ini… rocky nggak betah dipakein kondom. Jadi dia mengecil lagi. Seperti semula.

“Gue nggak betah, Mi. Kan gue udah bilang… Makanya gue nggak mau make kondom.”

“Yah udah cape-cape digesekin, malah turun lagi… Gimana dong ini?”

“Anjir, dikata cape gesekin. Hahaha. Yaudah buru naek lagi.”

“Rese lo, Zy!” kata dia sambil berdiri dari kasur.

“Mau kemana? Udahan nih?”

“Ya nggak lah. Gue mau ambil HP dulu, mau gue foto rocky yang turun gara-gara dipakein kondom! Hahaha. Buat kenang-kenangan!” kata dia yang langsung mengambil beberapa gambar rocky dari segala sisi. Bangs*t emang ini anak satu. Hahaha.

“Udah buruan naek…”

“Ayo 69!” Dia langsung membuka kedua kakinya lebar-lebar di atas kepala gue yang kini menghadap tepat di bawah lubang surga dia.

“Masuk yang dalem yaa, Zy…” Ucap dia sebelum membenamkan kepalanya tepat di antara kedua kaki gue yang juga gue buka lebar-lebar.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 16 balasan
Part tai ini anjir ngakak banget gua baca nya emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Part terbengek di season ini, so far emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Lhadalaaaaaaah
Agi iki moco part isoh ngguyu ngakak
Rasane pingin misuh

Kok yo isoh Ho ho hi hi karo guyon

emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Diubah oleh Arikempling78
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan

Quality Time Tak Berkualitas_Part 5

“Udah ada kabar dari Pak Oscar nanti pesawatnya jam berapa hari Sabtu?” tanya gue sambil make semua pakaian tidur gue. Gue paling nggak bisa full naked sehabis tempur. Bisa masuk anj*ng. Hahaha.

“Belum ada kabar lagi sih ini.” jawab Emi sambil menggunakan bra dan celana dalamnya. “Tapi lagi diusahain ambil yang take-off jam 7. Biar sampe sana nggak siang-siang banget. Jadi di hari Sabtu, udah dapet lah survey di beberapa tempat.” Katanya, sambil memeriksa HP dan masih nggak ada niat menggunakan baju sama sekali. Dia memang suka menggoda gue dan rocky yang sedang beristirahat ini. Biarkan saja, resiko dia kalo misalnya nanti rocky mengajak kembali beraksi gara-gara melihat sang majikan menggeliat di kasur tanpa busana lengkap. Hahaha.

Gue menciumi perut dia yang rata yang kini sudah tidak berpeluh keringat lagi. “Kamu udah tau nanti surveynya apa aja dan kemana aja?” Dia menggeliat geli ketika ciuman gue menyasar ke titik-titik geli dia. Maaf, itu rahasia perusahaan. Gue nggak bisa bongkar dimana saja titik geli dia.

“Kalo dari pamfletnya sih lapangan golf, perumahan elit, sama perhotelan gitu. Tapi utamanya ya ke lapangan golfnya kayaknya. Soalnya pamflet yang dikasih sama Pak Edward cuma yang lapangan golf.”

“Buat ngecek apanya sih?”

Sprinkler-nya, Zy. Mekanisasi pengairan di sana. Ya urusannya masih air dan lingkungan lah kalo sama gue mah. Nggak jauh-jauh. Hehehe.”

Kemudian pembahasan kami berlanjut mengenai pekerjaan dia. Bagaimana perkembangan dia di kantor, bagaimana hubungan dia dengan teman-temannya dan atasan dia, bagaimana progres dia, dan banyak lainnya. Termasuk urusan dia dengan (MANTAN) kawan sejawatnya di Crocodile, Debby. Gue nggak paham, Emi sengaja menutupi atau memang sedang tidak mood membahas mengenai Debby. Biasanya dia paling semangat kalo sudah Debby sebagai topik utama. Tapi sepertinya dia memang sedang malas membahas si cewek muka dua (atau lebih) itu. Gue nggak mau memaksa dia. Gue nggak mau mood dia rusak karena itu.

Ternyata… Gue rindu seperti ini. Gue rindu nggak debat dengan Emi. Gue rindu nggak ngamuk-ngamuk dan marah satu sama lain. Gue rindu bercanda dengan Emi. Gue rindu mendengar celetukan nyeleneh dia tentang hal-hal yang dianggap tabu oleh orang banyak, tapi layak untuk di perbincangkan. Gue rindu diskusi segala hal sama dia. Gue rindu apapun tentang Emi.

Banyak hal yang tidak pernah bisa gue dapatkan ketika gue sama cewek-cewek itu. Pasti banyak yang akan mempertanyakan pada gue ‘Lalu apa yang lo cari dari mereka kalo lo udah ngerasa cukup sama Emi seorang?’ Ya gue juga nggak mau nyari-nyari lagi kok. Gue juga sudah berniat mengakhiri semuanya. Gue hanya mencari waktu yang tepat agar tidak ada yang tersakiti. Karena niat gue hanya satu, “… lebih baik gue nakal sekarang daripada gue nakal nanti saat kita sudah menikah.”

Semuanya butuh proses. Seperti apa yang Emi selalu bilang, butuh kesabaran dan disiplin untuk memperjuangkan sesuatu. Gue juga butuh proses menjadi Ija yang lebih baik untuk Emi.

“Laper, Zy… Jam berapa sih?”

Gue melihat jam yang ada di HP gue. “Udah hampir jam 6 nih. Buset. Berapa ronde kita tadi? Lama bener… Hahaha. Pantesan gue sampe bengek.” kata gue sembari menghirup inhaler untuk membantu pernapasan gue.

“Yailah, begini nih kalo tempur sama lakik berumur. Ganti lakik aja apa? Hahaha.”

“Enaaak aja lo sempak!” Gue menimpa badan dia.

Kring. Kring. Kring. HP Emi mendadak bunyi.

“Siapa nelepon jam segini?”

Gue ambil HP dia yang berada tepat di meja TV. “Bokap, Mi. Angkat dulu aja. Lo tadi bilangnya kita kemana?”

“Jalan-jalan aja…”

“Terus udah ijin nginep?”

“Belom. Gue mau dadakan, nginep di rumah temen.”

“Lah emang bisa?”

“Ya nggak tau. Kalo gue ijin nginep, terus dijemput sama lo. Gue nggak akan dapet ijin lah. Udah jelas nggak akan nginepnya sama lo. Yang ada doi curiga nanti.”

“Yaudah angkat dulu.”

“Halo, Pa…” Gue jalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan gue seadanya. Cuci muka, cuci rocky, dan apapun yang sekiranya membuat gue terlihat sehabis bertempur. Hahaha.

Gue mendengar dari dalam kamar mandi, sepertinya ada sedikit perdebatan antara Emi dan bapaknya. Entah apa yang mereka debatkan di telepon yang pasti membuat Emi tidak enak hati. Karena setelahnya gue mendengar suara HP dia yang dia banting ke lantai.

“Mi? Kenapa?” tanya gue setelah keluar dari kamar mandi.

“Gue disuruh balik, sekarang.”

“Lo disuruh balik ke rumah sekarang? Lah kenapa? Masih jam 6 loh.”

“Nggak ngerti, alesannya nggak jelas banget asli. Gue disuruh ngurusin nyokap lah. Disuruh beresin rumah dulu lah. Pokoknya kayak nyari alesan biar gue ada di rumah. Soalnya kan weekend gue nggak ada di rumah.” Emi jalan ke kamar mandi sepertinya untuk mandi. Dia membawa baju yang dia pakai sebelumnya hari itu.

“Ya kan bisa besok. Ini cuma perkara ngurus rumah doang? Lo nggak dikasih istirahat dikit di rumah lo emang?”

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Gue hanya bisa mendengar suara kucuran air dari keran dan guyuran air dari gayung. Emi sedang mandi. Tanpa menutup pintu kamar mandi. Gue pun menghampiri dia di kamar mandi.

“Mi…” Gue bisa melihat, Emi marah dan sedih di waktu bersamaan. “Kan gue udah sewa hotel buat 1 malem, Mi. Masa pulang sekarang sih?”

“Iya gue juga paham, Zy. Gue juga nggak enak sama lo. Kita udah susah-susah bawa baju begini, eh malah nggak jadi.” Emi mengeringkan badannya dengan handuk. “Dan untuk alesan yang nggak jelas banget. Asli dah…”

“Nggak jelas banget sih bokap lo.”

Emi sudah besar dan Emi masih under control dari bapaknya. Ini yang kadang membuat gue sedikit malas di keluarga kecil Emi ini. Emi HARUS DIPAKSA untuk menuruti seluruh aturan yang dibuat oleh kedua orang tua. Oke itu memang bagus, di satu sisi. Tapi mereka mengabaikan baik dan buruknya untuk Emi. Mereka hanya melihat ke posisi, itu baik BAGI MEREKA. Buktinya? Beberapa dari aturan mereka membuat Emi dijauhi teman-teman sepermainannya di komplek rumah waktu kecil dulu.

“Zy…” Emi kini sudah menggunakan bajunya kembali dan berdiri di hadapan gue. “Habis nikah, kita keluar dari rumah gue ya?”

---

((EMI CHAT))
Quote:


Gue tidak membalas chat dia lagi. Gue simpan HP gue di meja rias tadi. Wangi parfum Emi masih menyeruak di kamar hotel ini. Maklum, dia kalo pakai parfum emang dari ujung kepala hingga ujung kaki, termasuk selangkangan dia. Hahaha.

Gue bingung mau ngapain lagi. Sekarang gue sudah kembali ke kamar hotel aneh ini dan gue SENDIRIAN. Bener-bener sendirian. Gue akhirnya mengantar Emi pulang tadi. Tapi kali ini gue tidak mengantarkan ke rumahnya. Jadi yang orang tua Emi tahu, Emi itu pulang naik ojek online atau angkutan umum lain. Bukan diantar sama gue. Soalnya pada saat dia ditelepon sama bokapnya, dia bilang lagi di rumah temannya. Bukan lagi bareng sama gue. Yap, demi bisa menginap dan quality time sama gue.

Tapi lihat gue sekarang. Sendirian di kamar hotel sampe besok siang. Hmm. Ngapain lagi gue sekarang coba? “Apa gue pulang aja ke rumah ya? Toh udah jam 9 malam ini. Nggak rugi-rugi amat lah.”

Gue membuka aplikasi Line gue. Melihat ada banyak chat dari Arasti dan Hana di saat gue bosan, bingung, dan bete begini, mendadak gue punya ide nakal. “Gue ajak Arasti ketemuan aja malam ini? Hmm. Tapi emang lumayan jauh sih rumah dia dari hotel ini. Cuma kalo gue jemput, dia pasti mau. Ya nggak?”

((ARASTI CHAT))
Quote:


Quality time?” gumam gue perlahan. Gue mendadak merasa bersalah. Masa iya gue yang tadinya berniat menyewa hotel ini untuk quality time dengan Emi malah berakhir mengajak cewek lain untuk quality time?”

((ARASTI CHAT))
Quote:


“Sama-sama ada perasaan? Kapan gue bilang begitu?”

((ARASTI CHAT))
Quote:


“Karena gue udah mau berkomitmen sama yang lain…”

((HANA CHAT))
Quote:


((ARASTI CHAT))
Quote:


“Buset, cewek sekarang pada demen banget sih video call? Hahaha. Jadi bingung ini 2 orang mendadak kepingin banget video call sama gue…”

Aslinya gue lagi males banget untuk video call sama mereka. Gue lagi pingin banget ngobrol langsung, sama Emi. Tapi karena Emi nggak bisa, gue pikir mungkin ngobrol langsung sama salah satu cewek-cewek itu nggak apa-apa. Namun apa daya? Niat nakal gue tetap tidak direstui ternyata.

Gue merebahkan badan gue ke kasur lagi. “Gue abisin aja dah sampe pagi. Nggak usah nunggu siang entar gue pulang aja. Lagian kan besok sore mesti janjian sama Emi di stasiun. Entar kalo tau gue nggak bisa ketemu sama dia padahal besoknya gue mau nganterin dia ke Bandara, bisa ngambek anak orang.” Emi memang tidak meminta gue untuk menemaninya ke bandara. Tetapi gue memaksa kalo gue akan mengantarkan dan menjemput dia.

Gue pribadi percaya, Emi pasti bisa berangkat sendiri. Tapi karena dia bisa berangkat sendiri, gue yang khawatir. Jadi, lebih baik gue sendiri yang memastikan keamanan dia daripada gue khawatir tidak jelas dan berujung emosi nggak jelas juga sama dia.

((ARASTI CHAT))
Quote:


((HANA CHAT))
Quote:




“Buset. Malem-malem seger bener gue dikirimin beginian? Hahaha. Tapi masalahnya gue lagi nggak mood ngobrol sama mereka. Walopun disuguhin kayak begini. Noh liat rocky nya nggak mau berdiri. Abis cape dia ngehajar majikan dia sendiri. Hahaha.” kata gue.

Gue kembali melanjutkan aktivitas gue. Gue sama sekali tidak membalas chat mereka. Maaf banget. Gue sedang tidak mood. Apalagi ketika mereka yang agresif ke gue begini. Bukan menolak rejeki, tapi gue pun lelah. Mungkin kalau mereka adalah Emi, gue masih mood meladeni mereka.

Drett. Drett. Drett.

((TIFANI VIDEO CALL))

Karena posisi gue sedang tidak siap menerima video call dadakan tersebut, gue pun memencet tombol yang salah.

Quote:

Mendadak Tifani menggeletakkan HP dia ke kasur. Kini yang gue liat hanya langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

Quote:

Kini di layar HP gue, gue pertama kali melihat Tifani hanya menggunakan bra di dalam kamarnya. Dulu gue hanya beruntung melihat bra yang berukuran cukup besar (yang sempat gue pikir itu bra punya ibunya). Hahaha. Tapi kini gue bisa melihat punya dia lebih jelas lagi. Tanpa dipinta.

AMOR & DOLOR (TRUE STORY)


Tapi sayang, belom sempet gue ngomong apa-apa lagi. Dia langsung tertidur dengan HP dia yang jatuh tepat di tengah-tengah dadanya. Yang gue sempet liat saat itu? Hanya gelap. Gue pun menutup video call dia.

“Ini hotel emang nggak berkah. Ada aja godaannya. Mending gue check-out aja sekarang dah.” kata gue sembari packing semua barang gue dan pergi meninggalkan hotel maksiat tersebut.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 24 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 24 balasan
TANAH DEWATA(PART 02)
(POV @dissymmon08)


Kadang gue bingung sama Bang Firzy. Gue bingung sama perasaan dia. Gue bingung dia itu bener-bener sayang sama gue apa ga. Gue bingung dia itu bener-bener serius ga mau berubah dan berkomitmen sama gue. Kok kayaknya hati gue tetep ga pernah tenang walopun dia udah janji sama gue kalo dia bakalan ngejalanin semua syarat yang gue minta?

Sebenernya dia itu gimana sih sama gue?

Apa dia itu sekarang mau bales dendam ke gue? Apa dia ada niatan mau mempermalukan keluarga gue, jadi mendadak dia ngebatalin pernikahan kita beberapa jam sebelum acara Akad Nikah nanti? Apa dia mau bawa mempelai wanita yang lain lagi nanti pas di hari H pernikahan kita?

Sekali lagi gue tanya, sebenernya dia itu gimana sih sama gue? Ya Alloh.

Jelek banget sih pikiran gue ini. Pikiran gue jelek banget kalau udah galau dan bete begini. Semuanya pasti jadi bahan pikiran dan jadinya melebar kemana-mana. Jelek aja semua jadinya di pikiran gue. Apalagi pas gue tau kalau dia lagi ada di hotel sendirian.

Iya bener. Hotel. Jadi hari ini gue sengaja ambil off sehari yang NIATNYA SIH buat quality time sama dia. Hari ini kita jalan-jalan berdua, pergi lagi kesana sini berdua naik motor, dan berakhir ke hotel sebagai destinasi terakhir kami.

Ga juga sih. Kami emang udah niat buat nginep di hotel hari itu. Gue juga udah siap-siap bawa baju kerja buat ke kantor hari Jum’at-nya soalnya. Gue nantinya mau ijin nginep di rumah temen kantor gue kalau bokap gue mendadak nanyain gue kok ga pulang-pulang. Gue sengaja ga ijin duluan ke bokap. Soalnya biasanya kalo ijin duluan pasti bokap ga akan kasih ijin ke gue. Hmm.

RENCANANYA SIH, kami mau quality time sepanjang malem di hotel itu. Hayooo! Jangan mikir macem-macem doangan. Quality time itu ga melulu harus sangkut pautin urusan selangkangan yak. Ya kalau ternyata bablas jadi ujung-ujungnya ada sih. Itu bonus namanya. Hahaha.

Malam itu juga gue ceritain semua hal tentang kepergian gue. Termasuk kapan keberangkatan gue dan gimana nanti gue berangkat dari rumah. Cuman ya gue emang ga ceritain tentang gosip-gosip yang berhubungan sama Debby kemarennya. Bisa murka doi dan ngerusak mood dia semaleman.

Tapi ternyata, manusia hanya bisa berencana dan Alloh yang berkehendak. Belom lama lewat Magrib, gue dipaksa pulang oleh bokap gue by phone. Katanya gue disuruh bantuin urus rumah dan bantuin bokap ngurusin nyokap. Iya paham, itu udah kewajiban gue. Setiap haripun gue membantu mengurus itu semua. Gue hanya minta 1 hari saja off tetapi bokap entah kenapa menolak dengan keras dan memaksa gue untuk pulang.

And here I am. Masak sambil ngegalau dan beberes lantai bawah rumah gue DI MALAM HARI. Padahal besok gue masih harus ngantor Subuh. Huhuhu.

Dimana Bang Firzy? Ya kayak yang tadi gue bilang sebelumnya, dia balik lagi ke hotel itu. Dia bayar hotel untuk 1 hari, yakali baru beberapa jam udah langsung check-out aja? Rugi amat. Dan bener kata Bang Firzy di-chat sebelumnya “… Buang-buang duit banget ini. Buang-buang waktu juga!”

Saat itu, gue hanya bisa berharap dia ga ngundang siapapun lagi buat ngegantiin gue di hotel itu. Semoga dia ga ngehubungin Kak Arasti. Atau malah dia boong sama gue kalau dia langsung balik ke hotel tapi dia sekarang malah lagi jemput Kak Arasti? Bener kan? Pikiran gue jelek banget! Asli!

Duh! Kenapa sih gue? Udah mau nikah begini masih aja ngurusin orang ketiga? Tapi gimana ya… Masalahnya udah jelas kok buktinya, dia masih chatting-an sama cewek lain. Sekarang pertanyaannya dia itu beneran mau serius ga sama gue? Terus apa bedanya Firzy yang sekarang dengan Firzy sebelum dia ngajak gue nikah kalau gue masih juga harus berurusan sama cewek lain?

Sebenernya dia itu gimana sih sama gue? Elah!

Gue nengok ke arah handphone gue yang dari tadi sepi banget ga ada notifikasi lanjutan dari Bang Firzy. Gue kecilin api di kompor dan ambil handphone gue. “Chat Kak Arasti ga ya sekarang?” gumam gue perlahan.

Quote:


Belom sempet gue klik Sent, terus… “Emiii… Masih lama ga? Mending beli aja deh kalau masih lama. Masak lama bener.” teriak bokap gue dari dalam kamarnya.

“Elah. Ga usah lah! Kapan-kapan aja! Bodo amat dia mau ngew* apa siapa juga malem ini! T*i!” teriak gue di dalam hati. Gue matiin handphone gue dan lanjutin urusan gue di dapur malam itu. Mood gue udah keburu super rusak malam itu.


XOXOXO



Sekarang udah jam 05.00. Gue udah sampe di parkiran bandara. Gue sama Bang Firzy masih nunggu yang lain di dalem mobil. Padahal segitunya gue yang rumahnya paling jauh dari bandara. Rumah atau kontrakan mereka ada di sekitaran Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Tapi entah apa yang menghambat mereka sampe mereka jam segini masih juga belum sampe? Kita harus udah check-in jam 05.30 loh!

Quote:


Gue ketawa-ketawa sendiri baca chat di handphone gue. Ya mudah-mudahan perjalanan hari ini bener-bener berjalan lancar deh. Jadinya memori pertama gue naik pesawat dan pertama kali gue ke Bali bagus. Hehehe.

“Ke depan pintu masuk yuk, Zy?” ajak gue sambil memeriksa lagi barang-barang bawaan gue.

Tidak ada jawaban dari dia. Ketika gue nengok ke arah Bang Firzy, mendadak dia menggeser badannya dari gue. Dia yang tadinya duduk menghadap kedepan di belakang setir, mendadak ngubah posisi duduknya jadi menghadap ke gue sambil nutupin layar dia. Mungkin bagi dia, gue emang cewek bodoh. Tapi gue ga sebodoh itu untuk tau kalau ada yang lagi dia tutupin dari gue.

“Hah? Apaan?” tanya dia. Gue bisa ngeliat dari kacamata dia kalau dia emang lagi chat sama orang.

“Gapapa. Bukain aja pintunya.” Gue tarik tangan kanan dia untuk salim dan gue langsung keluar tanpa pamitan lagi sama dia. “Aku sendiri aja gapapa. Kamu ati-ati di jalan ya. Makasih udah nganterin.”

“Heh! Lu kenapa? Kenapa mendadak ngambek begitu?” teriak dia sambil ngejar langkah kaki gue.

“Gue ga ngambek kali. Biasa aja. Gue sadar kalau gue nyusahin lu. Ngabisin waktu lu. Lu balik aja buruan. Ga usah nungguin gue."

“Apaan sih? Ganggu apaan?”

Kring. Kring. Kring.

Pas banget gue mau ngejawab omongan dia, mendadak handphone gue bunyi. Gue ga sempet baca siapa yang nelepon gue. “Halo?”

“Mi, dimana?” Ternyata Bimo yang nelepon gue.

“Eh Bim. Gue masih di parkiran. Ini gue mau nyamperin Pak Edward. Lu dimana?”

“KFC… Sini dulu, Mi. Beli bekel dulu buat nunggu.”

“Lu beli KFC di bandara? Kenapa ga beli roti aja sih kemarennya? Kenapa malah beli KFC di sini?”

“Lah kenapa beli KFC di bandara sih? Harganya kan lebih mahal. Keburu ga tuh buat check-in? Kalau rame gimana? Mending check-in dulu baru dah mau beli apaan kek.” Bang Firzy ikut nimbrung padahal dia ga denger obrolan kami sama sekali.

“Sini ya, Mi!” tutup Bimo. Entah Bimo denger apa ga omongan Bang Firzy barusan. Gue simpen handphone gue di dalem kantong dan puter balik ke arah KFC berada.

“Kamu mau kemana? Kamu ga usah ikut ke KFC! Kamu langsung ke Pak Edward aja.” Dia narik tangan gue, kenceng banget sampe pergelangan tangan gue sakit banget.

“Tapi kan anak-anak di sana… Ga jauh ini kan pintu masuknya sama KFC?”

“Iya tapi buat apa nurutin mereka sih? Biarin aja mereka bloon sendiri. Kenapa lu mesti ngikut bloon kayak mereka. Tinggal berapa menit lagi ini. Lu mau telat?”

“Seberapa lama sih di KFC? Ga akan lama ini. Kalaupun mereka telat, ga mungkin kan gue ninggalin mereka di Jakarta? Gue pasti bareng sama mereka...”

Bang Firzy ngehentakkin tangan gue biar gue bener-bener berenti ga ngeronta lagi dari dia. “Heh! Dengerin gue! Lu pada itu semuanya BARU PERTAMA KALI naik pesawat kan? Cuma Bimo yang udah punya pengalaman naik pesawat. Itu juga baru 2 kali dia naik pesawat. Gue udah belasan taun naik segala macem pesawat dan segala macem bandara! Mereka itu ga ngerti ruginya dan ruginya telat check-in! Jadi lu nurut sama gue! Ngerti hah?”

“………” Gue diem aja. Omongan Bang Firzy emang bener. Tinggal beberapa menit lagi harusnya gue udah check-in, tapi mereka malah lagi beli makan di KFC. Entah apa yang ada di dalem pikiran mereka sekarang.

Kring. Kring. Kring.

Kini giliran handphone Bang Firzy yang bunyi. Dia ngelepas pegangan dia dari pergelangan tangan gue dan ngeluarin handphone dia. Gue ngeliat jam di pergelangan tangan gue. “Jam 05.18? Siapa yang nelepon jam segini? Emaknya dia? Emang dia ga ijin dulu semalem kalau dia mau nganterin gue?” tanya gue dalem hati.

Kondisi lingkungan yang gelap bikin gue bisa ngeliat dengan jelas segala tulisan yang ada di layar handphone Bang Firzy. Dan gue yakin. GUE SANGAT AMAT YAKIN kalau gue ga salah liat. Di sana tertulis…

Quote:


Siapa lagi Tiffani anj*ng ini? Client? Ngapain client nelepon jam segini? Ga bisa nelepon di office hour aja? Terus dari perusahaan apa Tiffani? Bang Firzy itu selalu nulis client dengan nama perusahaan mereka. Ga nama doang. Jadi siapa sih Tiffani ini? CEWEK BARU SI BANGS*T INI??? HAH? IYA?

Entah Bang Firzy ngeh apa ga kalau gue ngeliat siapa yang nelepon dia. Dia langsung reject teleponnya dan masukin lagi handphone dia ke dalem kantong celana dia. “Kenapa di-reject? Angkat aja kali.”

“Ngapain angkat kerjaan jam segini?”

“Oh itu client? Kok ga sopan banget ya neleponnya?”

“Tau nih… Entar gue bilangin ke owner-nya aja.”

Gue sangat hapal Bang Firzy. Gue sangat tau, kapan dia lagi bohong dan kapan dia lagi jujur. Saat ini apa yang gue liat? Dia lagi berusaha nutupin jati diri dari Tiffani ini. Fix, Tiffani ini (SEPERTINYA) adalah another Arasti.

TAHIK!

“Gue mau bareng Bimo. Lu pulang aja. Seriusan. Makasih ya udah nganterin gue hari ini. Besok gue balik sendiri aja.” kata gue sambil jalan lagi ke arah KFC dan ninggalin dia di belakang.

“Bangs*t! T*i anj*ng!” Bang Firzy kembali ngejar gue. “Gue tungguin lu sampe lu check-in! Dimana tanggung jawab gue ke bini gue kalau gue ninggalin gitu doang? Lagipula kenapa urusan client jadi diperkarain banget sih?”

“HALAH! CLIENT KONT*L!” teriak gue dalam hati. Beberapa kali Bang Firzy berusaha menggenggam tangan gue tapi gue tepis. Gue ga sudi pegangan tangan sama dia. Gue bener-bener berasa super duper tolol. Bener berarti feeling gue selama ini… GA MUNGKIN CUMA ADA ARASTI DOANG. Sial!

“Oy, Mi!” teriak Bimo dari kejauhan. Gue cepetin langkah gue biar lebih cepet sampe ke Bimo yang lagi duduk bareng Rina dan Ninda di KFC.

Tapi mendadak gue terdiam ngeliat mereka.

Oke, pakaian mereka emang ga ada yang salah. Mereka make baju lebih kasual buat perjalanan kita kali ini. Tapi yang gue kaget adalah apa yang mereka bawa.

K-O-P-E-R

Ya. Rina dan Ninda masing-masing bawa 1 koper buat perjalanan 2 hari 1 malam ke Bali ini. KOPER BRO! K-O-P-E-R! Gue aja cuma bawa tas backpack kerja gue. Lha ini koper. Entah apa aja yang mereka bawa ke Bali. Tapi yang pasti, mereka jadinya simpen koper mereka di bagasi. Ga bisa dibawa ke kabin.

“Bawa apaan aja itu? Kalian beneran pulang besok kan?” bisik Bang Firzy yang sekarang udah berdiri di samping gue.

“Yaudah lah Zy, biarin aja mereka mau bawa apaan aja. Gue ga rugi ini mereka bawa banyak. Gue udah bareng mereka. Lu pulang aja gih.”

“Ga akan pulang gue kalau gue belum liat lu masuk ke dalem.”

“Lebay banget lu!” Gue tinggalin dia dan duduk tepat di hadapan Bimo, Rina, dan Ninda. “Udah beres kan mesennya? Nungguin apa lagi?”

“Tinggal chicken riser-nya Bimo. Katanya 5 menit lagi.”

Quote:


Bukannya bisikin gue lagi, dia yang notabenenya duduk di samping gue eh dia malah chat gue begitu.
Quote:


Gue berusaha abaikan Bang Firzy dan ikut nimbrung obrolan Bimo, Rina, sama Ninda. “Pak Oscar udah sampe yak?”

“Udah, dia udah nyuruh gue kesana dari tadi sih ini. Doi cepet bener udah sampe lagi aja…” kata Ninda sambil ngecek lagi barang bawaan dia.

“Lu mending samperin Masnya deh, Bim. Takut kita telat. Ini Pak Edward udah nelponin gue lagi.” kata Rina nunjukin layar handphone dia yang ditelepon Pak Edward.

“Oke bentar.” Bimo lari ke arah kasir. Gue inisiatif ambil jaket dan tas Bimo. Untungnya Bimo ga kayak Rina dan Ninda. Bimo cuma bawa 1 tas backpack yang biasa dia pake kerja juga. Sama kayak gue. Bedanya, Bimo masih nenteng tas kamera DSLR dia yang entah itu punya siapa.

“Gue kan udah bilang. Buruan… Malah kesini dulu.” bisik Bang Firzy, lagi.

“Udahlah. Itu si Bimo juga udahan noh…” jawab gue.

Ketika gue mau ambil tas gue yang ada di pangkuan Bang Firzy, gue liat layar handphone Bang Firzy nyala dan lagi nunjukin aplikasi Whatsapp. Bang Firzy kayaknya ga ngeh kalau Whatsapp dia kebuka. Soalnya dia lagi ditanya apaan tau sama Ninda.

Di sanalah gue bisa liat dengan jelas siapa Tiffani itu sebenernya.
Quote:


“LAGI? Jadi semalem dia itu ngelonin Tiffani? Jadi si bangs*t Tiffani ini yang nemenin dia di hotel ngegantiin gue? Jadi Firzy itu ga pernah bener-bener serius sama komitmen dia hah? T*I! SUMPAH! T*I!” teriak gue dalem hati dan jalan duluan ke tempat pertemuan kami dengan Pak Edward. Ninggalin mereka semua.

T*I! Kenapa gue baru tau sekarang sih?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 17 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 17 balasan
selamat jalan2 dan bersenang2 ke bali ya kak Emiii
have fun!!
lupakan sejenak kepenatan di jakarta
profile-picture
dissymmon08 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Nyatakan_Part 1

Dini hari tadi, gue sengaja nyelinap ke kamar Emi. Emi masih terlelap. Gue tidak berniat untuk ganggu istirahatnya Emi kok. Gue hanya ingin tidur sambil memeluk tubuh Emi. Gue biasanya pergi ke luar kota meninggalkan Emi untuk urusan kerjaan. Tapi tidak pernah sebaliknya. Ketika Emi yang harus pergi ke luar kota meninggalkan gue, gue yang khawatir.

Gue memang punya banyak dosa pada Emi akhir-akhir ini, tetapi perasaan gue pada dia tidak pernah berubah. Gue akan selalu dan selamanya mencintai dia. Tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Terlepas dari siapapun yang sedang mencoba menyelinap di antara gue dengan Emi.

Gue masuk ke dalam selimutnya dan memeluknya. Gue mengecup bibirnya. Tidak lupa gue mengelus kepalanya. Emi sangat suka dielus kepalanya hingga ia terlelap. Orang biasanya suka dipijat, dia lebih suka dielus kepalanya.

Bukan kok, ini bukan firasat apapun. Bukan firasat kalau perjalanan Emi ini akan jadi perjalanan terakhir di hidupnya. AMIT-AMIT JANGAN SAMPE KEJADIAN SEPERTI ITU! Gue hanya khawatir. Khawatir kalau di sana Emi bisa menemukan orang lain dan enggan untuk kembali, walaupun itu sangat tidak mungkin juga sih. Bukan karena Emi tidak laku. Tetapi Emi adalah cewek yang paling setia yang gue kenal, setelah ibu gue. Emi tidak akan berpikir demikian. Emi tidak sebrengs*k gue.

Gue khawatir juga kalau ada setan alas yang mengganggu pikiran gue sehingga gue nggak kuat menjaga iman dan imron. Ingat kejadian Tifani malam kemarin? Itu gila banget sih.

I love you, Mi… Apapun yang terjadi di hidup aku. Perasaan aku akan selalu sama kamu kemanapun aku pergi. Hati ini tau jalan pulang. Hati ini selalu tau, kalau dia harus pulang ke kamu. Sejak aku kenal kamu pertama kali, aku selalu tau kalau aku akan selalu cinta sama kamu, Mi…” bisik gue di kuping Emi.

Semoga aja Emi nggak akan pernah denger ini. Karena dia yang nggak pernah mendengar kalimat romatis akan merusak momen ini. Dia akan bilang ‘Kamu lagi jatuh cinta lagi kan sama cewek lain makanya bisa ngomong romantis?’ atau ‘Kamu lagi punya salah ya sama aku?’

Dret. Dret. Dret.

“Sial!” Gue turun dari kasur Emi perlahan dan kembali ke singgasana gue di sofa ruang keluarga Emi. “Siapa sih chat gue malam-malam begini? Bukannya tadi katanya udah pada tidur?” Gue sudah memastikan agar Hana, Arasti, dan Edna tidak menghubungi gue malam ini. Nggak mungkin Tifani soalnya. Cewek manis itu kelakuannya aneh banget. Habis beres video call dengan gue kemarin, dia nggak menghubungi gue lagi setelahnya. Bahkan sampai sekarang.

((ARASTI CHAT))
“Aku jadi kepikiran terus loh sama tawaran kamu buat ketemu, Ja… Kalau kita ketemuan hari Sabtu malem nanti gimana, Ja?”[/quote]

Gue melirik jam dinding di ruang keluarga Emi. “Serius ini anak jam segini kebangun cuma buat ngajak gue ketemuan?" gumam gue perlahan.

((ARASTI CHAT))
Quote:


"Buat apa ini anak mau ngenalin diri sama keluarga gue? Emangnya dia mikir hubungan gue ini udah sejauh apa?"

((ARASTI CHAT))
Quote:


"Masih jam 2 pagi, udah chat sama siapa kamu? Asik banget kayaknya. Kamu nggak ngantuk?" Suara Emi! Ini suara Emi! Sepertinya sudah tidak mungkin kalau gue pura-pura tidur. "Heh."

"Ini si Arko ngajak ngobrol."

"Arko? Tumben jam segini dia masih bangun?" Emi menatap gue curiga. Gue nggak ngerti kenapa nama Arko yang mendadak terlintas di dalam pikiran gue.

"Dia lagi nonton bola. Mumpung anak sama bininya lagi pada tidur. Aku kan nggak bisa nonton. TV-nya di kamar. Takut kamu kebangun."

"Hmm. Gitu. Yaudah aku mau mandi. Mau siap-siap dulu. Jam 4 kan berangkatnya?"

"Iya... Nanti aku cuci muka aja. Nggak usah mandi. Dingin banget." kata gue sembari membututi Emi yang kembali masuk ke dalam kamar dia.

"Kamu nanti pulang ke sini lagi apa pulang ke rumah kamu?"

"Kayaknya aku pulang ke rumah aku deh. Kenapa emangnya?"

"Nggak apa-apa. Kali aja kamu mau make motor kamu. Jadi kamu nanti ganti motor jadi mobil. Kan kalo motornya di rumah sini, nggak ada motor di rumah kamu. Cuman ada mobil semua."

"Iya sih. Hmm. Liat ntar aja. Tapi kayaknya mendingan aku langsung ke rumah. Biar bisa langsung istirahat." kata gue sembari merebahkan badan gue di kasur dia. Emi memeriksa kembali barang bawaan dan mempersiapkan baju untuk kami.

"Oh kirain mumpung aku lagi nggak ada, kamu mau pergi kemana gitu sama orang lain."

"Pergi sama siapa? Nggak ada kamu. Mau siapa lagi yang aku ajak pergi?"

"........." Emi sama sekali tidak menjawab pertanyaan gue tersebut. Dia hanya terdiam sambil menatap mata gue. Nggak ada ekspresi sama sekali. Gue nggak yakin, apa yang ada di dalam pikiran dia saat ini. "Yaudah aku mau mandi dulu." Kemudian dia pergi meninggalkan gue di kamar.

"Hampir aja." gumam gue perlahan.

Gue membuka kembali HP gue. Arasti pamitan untuk tidur lebih dulu. Dia berjanji pada gue untuk bangun pada saat gue mengantarkan Dania. Padahal gue tidak memaksa. Tapi kalo dia insisting, ya gue tidak memaksa dan menolak.

Ketika gue membuka aplikasi Whatsapp gue, akhirnya chat gue dibaca oleh Tifani! Setelah dia video call nggak jelas itu dan memberikan umpan lambung pada rocky, akhirnya dia nongol lagi. Hahaha.

((TIFANI CHAT))
[quote]"I'm so sorry, Ja. Gue baru balas chat lo lagi. Sumpah gue kemarin nggak jelas banget mendadak buka baju di depan lo, Ja. I'm really sorry..."

"Baru balik mabok lagi, Tif? Hahaha. Stadium gimana, masih rame?"

"Hidup gue lagi kacau banget akhir-akhir ini. Gue batal nikah, Ja. Padahal persiapan gue udah 80% kali. Gue baru tau kalo lakik gue selingkuh. Gue nemuin dia phone sex sama cewek lain. Sakit banget pas tau dia begitu. Ngapain dia minta begitu sama cewek lain saat dia bakalan bisa minta apaun ke gue, Ja? Asli! Sumpah! Sakit banget banget! Gue langsung ngebatalin nikahan gue. Bodo amat apa penjelasan dia. Sejak itu ya gue nongkrong lagi sama anak kantor gue yang demen nongkrong. Kayak sekarang ini... Hehehe."

Gue tertegun baca chat Tifani. Cewek kayak Tifani yang hidupnya nggak selurus Emi dan gue yakin nggak sejujur ataupun sesetia Emi aja ngerasa sakit hati pas tahu calon suaminya selingkuh. Apalagi Emi kalau tau gue masih berhubungan sama cewek-cewek itu? Nggak cuma 1, tapi ada 4 orang!

"Eh tapi kan gue nggak selingkuh! Lakinya Tifani itu selingkuh. Kalo gue kan nggak. Gue nggak ada perasaan apapun sama mereka. Gue hanya melayani chat mereka. Kalau ternyata Emi tahu dan minta gue untuk tinggalin mereka. Gue sih nothing to lose ya. Gue juga bakalan jujur sama Emi kalo dia minta gue jujur. Berarti gue nggak selingkuh dong? Gue dalam tahap perubahan ke diri gue yang lebih baik. Dimana semuanya butuh proses. Tapi gue nggak akan pernah memalingkan hati dan diri gue dari Emi. Jadi gue beda." kata gue dalam hati.

"Kamar mandinya kosong. Kamu bersih-bersih dulu gih."

Tanpa basa-basi, gue langsung menghantam bibir Emi yang dingin karena dia baru saja selesai mandi. Gue cium dia penuh kehangatan. Gue mendadak merasa bersalah sama dia. Dia mau pergi meninggalkan gue untuk 2 hari tetapi gue penuh salah dan dosa begini. Perasaan khawatir itu kembali datang.

Emi melepas ciumannya dari bibir gue. "Kamu kenapa deh?"

"Aku takut rindu sama kamu..."

"Halah! Tytyd! Mana ada lo rindu sama gue." Emi mendorong gue dan memakai baju yang akan dia pakai hari ini.

"Yaudah kalo lo nggak percaya."

"... mending gue rindu sama cewek lain aja daripada sama lo, Mi." kata Emi sambil menirukan mimik gue ketika ngomong.

"Nggak ya! Nggak akan rindu sama cewek lain lagi!"

"Bodo amaaat! Buru lo ke kamar mandi!" Emi melemparkan handuknya ke wajah gue dan mendorong gue ke luar kamarnya.

---

Akhirnya sampai juga kami di bandara. Gue hampir banget ngantuk karena semalaman gue tidak tidur selama di rumah Emi. Bahaya banget melalui jalan tol di jam 4 subuh begitu. Apalagi kalau sendirian. Untung saja Emi, jadinya dia nonstop mengajak ngobrol gue tentang apapun. Memastikan gue terjaga dan tetap fokus.

Sesampainya di parkiran, Emi langsung memberi kabar ke grup dia. Grup yang isinya mereka-mereka yang akan berangkat ke Bali. Mungkin di dalamnya ada Pak Edward, Bimo, dan tim lainnya. Entah siapa lagi. Yang pasti, tidak akan ada Debby di dalamnya. Kenapa gue berpikir demikian? Karena Emi pasti sudah rusak mood-nya kalau ada Debby di perjalanan pertama dia ke Bali ini.

Gue membuka HP gue. Tifani ternyata masih cerita tentang gimana perjalanan cinta dia dengan mantan calon suaminya itu. Perjuangan cinta dia tidak seberdarah perjuangan cinta gue dengan Emi yang penuh up and down. Kalau kata orang Indonesia mah "LO MASIH MENDING!" Hahaha. Tapi melihat kondisi Tifani yang masih cukup mabuk baik fisik maupun mental, bukan hal yang bijak kalo gue bilang begitu pada dia dan menceritakan kisah gue. Jadi gue hanya merespon seadanya chat dia tersebut.

Gue bisa melihat kalau Emi melirik gue beberapa kali. Dia pasti curiga kok gue masih juga main HP semenjak dari rumah, bahkan ketika kami sudah sampai di bandara. Apalagi ini gue kini sedang chat dengan Arasti (yang kini sudah bangun tidur) dan Tifani (yang masih mabuk ngomong cerita masa lalu dia).

Gue mengubah posisi duduk gue. Gue mau menghapus chat mereka terlebih dahulu. Apapun bisa terjadi. Emi bisa mendadak meminta gue untuk membuka chat gue. Jadi, lebih baik gue menghapus barang bukti terlebih dahulu. Tidak apa-apa jika Emi meminta gue meninggalkan mereka tetapi gue tidak mau Emi membaca isi chat kami. Gue nggak mau Emi berpikir yang tidak-tidak. Apalagi sampai dia sakit hati.

"Hah? Apaan?" tanya gue. Saking fokusnya gue memeriksa ulang HP gue, gue tidak fokus dengan apa yang dikatakan Emi.

"Nggak apa-apa. Bukain aja pintunya. Aku sendiri aja nggak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan. Makasih udah nganterin.” Kemudian pergi keluar dari mobil, meninggalkan gue sendiri di dalam mobil.

“Ah anj*ng emang ini cewek-cewek!” Gue keluar dari mobil dan mengunci pintu. “Heh! Lo kenapa? Kenapa mendadak ngambek begitu?” Gue berusaha mengejar dia. Langkah kaki gue yang besar ini masih bisa mengejar dia.

“Gue nggak ngambek kali. Biasa aja. Gue sadar kalau gue nyusahin lo. Ngabisin waktu lo. Lo balik aja buruan. Ga usah nungguin gue.” kata dia tanpa menoleh sedikit pun pada gue.

“Apaan sih? Ganggu apaan?” tanya gue sambil berusaha menyamakan langkah kaki kami.

Kring. Kring. Kring.

HP Emi bunyi. Mungkin Pak Edward sudah meminta dia untuk kumpul di depan pintu masuk. “Halo?” Emi mengangkat teleponnya. “Eh Bim. Gue masih di parkiran. Ini gue mau nyamperin Pak Edward. Lo dimana?” Oh ternyata telepon dari Bimo. Mungkin semua temannya sudah sampai di depan pintu masuk.

“Lo beli KFC di bandara? Kenapa nggak beli roti aja sih kemarinnya? Kenapa malah beli KFC di sini?” kata Emi yang membuat gue cukup kaget. Anak-anak ini belom check-in tapi malah sibuk menyempatkan diri untuk mengantri KFC di bandara? Apa yang ada di dalam pikiran mereka?

Tanpa minta persetujuan Emi, gue ikut nimbrung obrolan mereka. “Lah kenapa beli KFC di bandara sih? Harganya kan lebih mahal. Keburu nggak tuh buat check-in? Kalau rame gimana?” Sengaja gue kerasin omongan gue, biar Bimo dan teman-temannya dengar omongan gue.

Emi menutup telepon dia. Bukannya dia lanjut jalan ke arah pintu masuk. Dia malah berbalik arah menuju KFC berada. “Kamu mau kemana? Kamu nggak usah ikut ke KFC! Kamu langsung ke Pak Edward aja.” Gue menahan dia.

“Tapi kan anak-anak di sana. Nggak jauh ini kan Gate masuknya sama KFC?”

“Iya tapi buat apa nurutin mereka sih? Biarin aja mereka bloon sendiri. Kenapa lo mesti ikutan bloon kayak mereka? Tinggal berapa menit lagi ini. Lo mau telat?”

“Seberapa lama sih di KFC?”

“Heh! Dengerin gue! Lo pada itu semuanya BARU PERTAMA KALI naik pesawat kan? Cuma Bimo yang udah punya pengalaman naik pesawat. Itu juga baru 2 kali dia naik pesawat. Gue udah belasan tahun naik segala macam pesawat dan segala macam bandara! Mereka itu nggak ngerti ruginya dan bahayanya telat check-in! Jadi lo nurut sama gue! Ngerti hah?”

Gue butuh didengerin sama Emi. Ini pengalaman pertama Emi naik pesawat. Emi harus diberi tahu yang mana yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Lagipula begini, apa tidak lebih baik mereka menyelesaikan dulu urusan mereka dengan check-in segala rupa baru setelahnya mereka keluar lagi lalu membeli makanan? Kenapa mereka harus menunda check-in untuk urusan tidak penting seperti ini?

“………” Dia diam saja, tanpa jawaban. Emi itu selalu begini. Paling susah menolak ajakan temannya, walaupun dia pasti sadar kalo itu merugikan dia. Jeleknya Emi.

Kring. Kring. Kring.

HP gue mendadak bunyi, memecahkan keheningan kami yang masih berada di parkiran bandara. Suara bising yang terdengar hanya suara kendaraan berlalu lalang di sekitar kami. Maklum, jam penerbangan pagi adalah jam sibuk. Belum lagi, saat itu adalah hari Sabtu. Banyak orang yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan mereka di luar kota. Pesawat menjadi pilihan mereka karena bisa mempersingkat waktu perjalanan mereka.

Gue melepas genggaman gue dari Emi dan memeriksa siapa yang menghubungi gue. Masih terlalu pagi untuk gue dihubungi oleh orang kantor ataupun Mama. Lagipula ini hari Sabtu. Please lah, gimme a break.

Tapi… ini di luar dugaan! Yang menghubungi gue bukan Mama ataupun orang kantor. Tifani! Tifani yang menghubungi gue ketika gue sedang berduaan dengan Emi. Entah Emi melihat dengan jelas atau tidak siapa yang menghubungi gue. Gue langsung me-reject telepon Tifani tersebut. Gue baru ingat, Tifani itu baru kembali menghubungi gue kemarin. Dia tidak tahu apa yang sedang gue lalui. Jadinya tidak terpikir oleh gue kalau Tifani akan menghubungi gue sekarang! Di depan Emi!

“Kenapa direject? Angkat aja kali.” Gue bisa melihat dengan jelas. Mood Emi langsung down. Sepertinya Emi melihat nama orang yang menghubungi gue. Tapi, emang Emi kenal siapa itu Tifani?

“Ngapain angkat kerjaan jam segini?” jawab gue sembari memasukkan kembali HP gue ke dalam saku celana gue.

“Oh itu klien? Kok nggak sopan banget ya neleponnya?”

“Tau nih. Nanti gue bilangin ke Owner-nya aja.”

“Gue mau bareng Bimo. Lo pulang aja. Makasih ya udah nganterin gue hari ini. Besok gue balik sendiri aja.” kata dia sembari pergi meninggalkan gue lagi.

“Bangs*t! T*i anj*ng!” Sampah banget sih anak mabuk satu ini! Ngerusak mood Emi saat Emi akan pergi jauh. Rusak semua usaha gue untuk membuat memori bagus untuk perjalanan dia hari ini! Bangs*t! “Gue tungguin lo sampe lo check-in! Dimana tanggung jawab gue ke bini gue kalau gue ninggalin gitu doang? Lagipula kenapa urusan klien jadi diperkarain banget sih?” tanya gue sembari kembali mengejar dia.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panda2703 dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 16 balasan
Habis dari bali lo gue end ✌️✌️✌️✌️
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Oh no oh no oh no no no no . Nyebelinnnn lu bang ah, hiks ikut sakit hati gue
profile-picture
profile-picture
dissymmon08 dan yanagi92055 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 13 dari 17


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di