TS
mbsus
Kepastian di Tengah Ketidakpastian Menghadapi Pandemi

Ilustrasi penggunaan masker. Gambar background oleh mattthewafflecat dari pixabay.com, gambar latar depan dokumen pribadi

Sampai 2 September 2020, lebih dari 180 ribu orang terpapar coronavirus. Di antaranya, hampir 130 ribu dinyatakan sembuh dan 7.616 meninggal dunia.
Jauh sebelumnya, beberapa lembaga menyatakan argumentasi mengenai perkembangan pandemi Covid-19. Diketahui bahwa virus korona berkembang sangat cepat, dalam hitungan eksponensial menyebar ke seluruh dunia. Dengan berbagai latar belakang keahlian, lembaga-lembaga dimaksud memberikan prediksi yang meyakinkan.
Institut Teknologi Bandung meramal: puncak kasus penyebaran Covid-19 diprediksi akan berakhir pada bulan April 2020, dengan jumlah pasien berada di kisaran 600 orang.
Prediksi itu menggunakan model perhitungan Richard's Curve dari Korea Selatan, yang pada tahun 2003 sukses meramalkan permulaan, berakhirnya, dan puncak penyebaran penyakit SARS di Hongkong. Namun kemudian ITB menggeser prediksinya, diperkirakan terjadi pada akhir bulan Mei atau awal Juni 2020.
Pada akhir bulan Maret 2020, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) memprediksi puncak kasus harian pandemi Covid-19 akan terjadi pada medio bulan April 2020. FKM UI juga menghitung jumlah pasien terpapar akan mencapai 500 ribu sampai 2,5 juta orang.
Demikian pula dengan Badan Intelejen Negara (BIN) yang turut dalam meramalkan akhir pandemi. BIN memprediksi puncak penyebaran virus corona akan terjadi pada Mei 2020.
Sebulan setelah diketahuinya orang pertama yang terpapar virus corona, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dini Monardo, meramalkan bahwa puncak pandemi atau penyebaran Covid-19 terjadi pada bulan Juli 2020. Namun belakangan, Doni sendiri menyangsikan prediksi tersebut. Dalih pembenaran yang disampaikan adalah, penambahan kasus bersifat fluktuatif. Hal itu diungkapkannya seusai rapat dengan Presiden Jokowi pada akhir Juli lalu.
Quote:
Perkembangannya kasus pasien positif Covid-19 yang naik turun dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah menghadapi pandemi yang berubah-ubah. Laju perkembangan kasus dapat dikendalikan, ketika pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Namun manakala kebijakan PSBB direlaksasi demi menggerakkan roda perekonomian, maka laju pertumbuhan kasus harian Covid-19 turut meningkat.
PSBB merupakan kebijakan "rem" penyebaran coronavirus, mengedepankan kepentingan kesehatan masyarakat. Sebaliknya, pelonggaran terhadapnya merupakan kebijakan "gas" untuk mendorong roda perekonomian agar menggeliat.
Quote:
Quote:
Negara terbentuk dari kesepakatan penduduknya yang berada dalam batasan wilayah yang tegas, tunduk kepada aturan-aturan dibuat, dan diatur oleh lembaga kekuasaan tertentu.
Berasumsi kepada pemahaman di atas, kebijakan-kebijakan negara saling pengaruh-memengaruhi antara pemerintah dan warganya secara sistematik. Tanpa pelibatan warga, maka kebijakan gas-rem akan berpengaruh kepada fluktuasi pertumbuhan kasus harian pandemi Covid-19, sebagaimana tergambar di atas.
Dengan kata lain, partisipasi masyarakat dalam kebijakan gas atau rem harus diikuti dengan kepatuhan kepada protokol kesehatan.
Apa itu protokol kesehatan? Secara umum protokol kesehatan menyangkut: memakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, terapkan etika batuk dan bersin, kebersihan tangan, tidak menyentuh wajah saat tangan belum bersih, isolasi mandiri jika merasa tak sehat, jaga kesehatan/imunitas.
Sebelum terjadinya pandemi, kebiasaan-kebiasaan tersebut sebagian besar tidak dilakukan oleh kita. Namun dengan perkembangan terakhir, mau tidak mau protokol kesehatan menjadi kebiasaan baru.
Quote:
Diubah oleh mbsus 03-09-2020 14:11
0
113
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan