CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f375b768d9b175af43ae2d3/angus-poloso-legenda-ki-ageng-selo

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Oke, sebelum mimin bercerita, mimin kasih tahu kalau cerita ini adalah cerita fiksi belaka, yang di dasarkan dengan legenda dan mitos di daerah mimin. Maaf sebelumnya jikalau ada kesamaan tokoh, tempat, dan dll. Ini murni kebetulan belaka.

Oh ya, maaf kalau ada kata-kata aneh dan nyeleneh, karena ini baru kali pertamanya aku bikin thread.

Oke, check this out!

Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.

Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.

Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.

Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.

Oke kita lanjut.

Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.

Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.

Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.

Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.

Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.

Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.

Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Quote:


==========================



Quote:
Polling
7 hari lagi-3 Suara
Apakah Cerita ini Menarik?? 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tazqi12 dan 34 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Halaman 1 dari 5
Ninggal jejak dulu di mari...keknya menarik nihemoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
pasang tenda
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Ada lanjutannya?
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 3 balasan

Horror 1 - Misi Pertamaku.

"Apa kau sudah siap untuk mengemban tugas itu, Umam? Seperti yang kau tahu karena kesalahan kakakmu, Vita, membuat keluarga kita tercoreng dari status sosial di masyarakat. Sekarang untuk mencegah hal yang semakin buruk, kau, yang adalah salah satu cicit dari Kyai Marwan akan menyegel kembali para demit2 kelas atas itu ke dalam Angus Poloso. Mengerti?" tegas Pak Zaenal, ayahku, yang saat itu memegang kuasa sebagai pemimpin keluarga Marwan. "Aku tahu kemampuanmu masih kalah jauh ketimbang adikmu Danang maupun kakakmu Vita, tapi aku percaya kalau dirimulah satu-satunya yang akan berhasil menyegel mereka kembali."

"Baik, ayahanda. Saya mohon pamit!"

Aku bergegas keluar dari aula utama keluarga. Di sana kami semua hidup sekeluarga. Seluruh keturunan Kyai Marwan ada di sini. Berkumpul jadi satu. Hebat kan? sejujurnya rumah yang dimiliki keluarga Marwan memang teramat luas, jadi cukup buat kami semua hidup untuk hidup bersama.

sesampainya di luar, aku disambut oleh kedua adik perempuanku, Tiara dan Leina. Mereka berdua adalah adik kembar siamku, dan mereka begitu manja tatkala bersama dengan kakak-kakaknya.

"Ayo kak, kita main!" ajak Tiara, yang saat itu berusia 8 tahun.

"Maaf ya, saat ini kakak lagi banyak urusan. Mungkin esok lusa kakak akan ada waktu untuk bermain bersama kalian berdua," jawabku sekenanya.

Mendengar jawabanku, Leina pun ngambek. "Duh, pastinya kakak bakal bilang 'lain kali' lagi saat ditanya esok lusa, dan begitu seterusnya. Kakak mah memang begitu,"

Tanpa menanggapi ucapan mereka, aku pun bergegas meninggalkan mereka dan segera kembali ke kamarku untuk mengambil perlengkapan sekolahku, karena seperti yang sudah kalian dengar kalau diriku akan pindah ke sekolah SMA Indratama, sekolah di mana Angus Poloso diletakkan.

Setelah siap2 selama kurang lebih lima belas menit, aku pun siap untuk berangkat. Sekeluarnya aku dari kamar, aku melihat adikku Danang lagi bersedekap menatapku dengan tatapan yang kurang mengenakkan. Tanpa mempedulikannya, akupun berlalu.

Namun, sebelum aku berlalu darinya, dia sempat berbicara padaku, seraya mengejekku. "Kakak berangkat hari ini, ya? Baguslah, dengan begitu, kita sekeluarga bisa mengetahui seberapa kuat kemampuanmu,"

"Aku tak perduli soal kemampuan atau apalah itu. Yang terpenting aku bisa bersekolah di sana dengan aman tanpa harus mengingat status sosialku sebagai cicit Kyai Marwan, leluhur kita." jawabku yang masih tak mau menatap ke arahnya. "Mungkin pula di sana aku bisa merelakan kepergian Astrid tiga tahun lalu."

"Dasar kakak tak berguna! apa kau pikir dengan kemampuanmu saat ini kau bisa menyegel demit2 kelas atas itu seorang diri? ayah menyuruhmu supaya dirimu menyerah mengetahui sedikitnya kemampuan yang kau miliki. Tau!?"

"Aku tak peduli,"

Danang memang sudah seperti itu sejak dulu. Sinis dan tatapannya kurang mengenakkan. Mungkin itu adalah sebuah kedengkian, karena percaya atau tidak, akulah satu-satunya pria yang telah berhasil merebut hati Astrid. Yang kala itu merupakan incaran Danang. Kalau dibicarakan satu-satu, ada banyak alasan lain selain itu yang membuatnya membenciku. Tapi sebaiknya tidak diceritakan sekarang. Oke?

Selesai menghadapi antipati dari Danang, aku bergegas keluar dari rumah. Di sana sudah tersedia mobil dan sopir Pak Joko sudah siap mengantarku ke sekolah. Tanpa menunggu2 lagi dan waktu sudah menunjukkan pukul 6:40 pagi, aku menyuruh Pak Joko untuk segera mengantarku ke sekolah.

Sesampainya di sana, aku bergegas menuju ke ruang kepala sekolah untuk menyelesaikan urusan2 pendaftaran.

"Jadi kau cicit dari Kyai Marwan yang terkenal itu yah? kenalkan, nama saya Abah Nadjib, biasa dipanggil Abah. Senang rasanya bisa menerima murid dari seorang Kyai terkenal itu." ujar Abah Nadjib antusias. "Ngomong2 belakangan ini sering terjadi gangguan yang menyulitkan pihak sekolah. Setelah selesai jam sekolah nanti, bisakah kau membantuku?" bisik Abah Nadjib yang mulai panik itu.

"Itu tergantung, Abah. Sejujurnya kemampuanku masih kalah jauh ketimbang adik dan juga kakakku. Selain itu, aku bersekolah di sini sebenarnya ingin bersekolah sebagai murid biasa yang damai, tanpa mengingat status keluarga dan juga kemampuanku. Tapi jikalau Abah berpikir kalau aku yang lemah ini bisa membantu, maka Insya'allah saya akan membantumu."

Setelah bicara panjang-lebar, aku pun diantar keluar oleh Pak Bus, yang selalu sebagai Waka Kesiswaan dan juga guru dalam bidang Geografi. Pak Bus mengantarku ke salah satu kelas, yaitu kelas XI IPS 1, yang mana diisi oleh para anak sosialita yang berani ngomong asal-asalan, tapi dengan IQ yang rendah. Hehe emoticon-Big Grin

Kedatanganku waktu itu, membuat riuh seisi ruang kelas IPS 1. Seperti hal yang biasa dilakukan oleh kelas IPS, setiap kali ada murid baru, pasti mereka akan jerit2 berhura2 tak karuan. Entah mengapa melihat pemandangan ini, aku tertawa lepas melihat tingkah konyol mereka, setelah itu aku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.

"Kenalkan, namaku Muhammad Badrul Umam. Saya pindahan dari salah satu SMA di kota Malang. Senang bisa bertemu dengan kalian semua." ucapku yang terasa kaku dan gugup dalam memperkenalkan diri. Karena jujur saja, aku adalah seorang pria yang pendiam dan pemalu, sehingga jarang untuk bisa bersosialisasi, apalagi dengan kelas sosialita seperti kelas IPS.

"Horreyy... ada teman baru, yyeee...!" sahut teman-teman histeris. Melihat mereka, aku hanya tersenyum kecil.

Aku pun memperhatikan teman2 baruku, sampai tiba2 kulihat ada seorang gadis yang tersenyum manis ke arahku. Aku lihat gadis itu langsung melambai ke arahku, menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Setelah kuselidik, ternyata ada satu bangku kosong di sebelahnya. Tanpa basa-basi, aku bergegas menuju bangku kosong itu.

"Namaku Umam. Siapa ya?" tanyaku yang mencoba berkenalan dengan gadis manis itu.

"Aku sudah tahu. Namaku Niken Prida. Senang berkenalan denganmu!" jawabnya sekenanya.

Mendengar ucapannya yang cuma singkat, membuatku ragu untuk lebih mengenal gadis itu. Tanpa jadi kepo, aku pun kembali duduk ke bangkuku dan mendengar guru mapel Matematika yang bernama Bu Dwi mengajar. Tanpa kosentrasi sedikitpun, aku malah mencoba bermain2 dengan mata batinku. Sebenarnya diriku sudah dilarang untuk main2 dengan hal2 begituan, tanpa sebelum menjalankan tugasku, aku harus mengetahui seluk beluk sekolah ini dari segi gaib dan makhluk2 apa saja yang tinggal di sekolah ini.

Sesaat aku memalingkan mata dari depan, aku tiba-tiba terkejut melihat seorang gadis kecil yang berlari2 menerjang bangku para siswa. Anehnya gadis kecil yang kiranya usianya kurang lebih sebelas tahun itupun tembus melewati bangku2 para siswa dan kemudian ia menghilang melewati tembok kelas. Aku yang mempunyai mata batin yang berasal dari garis keturunan, sudah tidak kaget melihat kejadian itu. Namun yang membuatku bertanya2 adalah siapa gadis itu sebenarnya. Kumat, sikap kepoku mulai kembali deh.

Tak berselang lama setelah gadis itu menghilang, tiba2 aku dikejutkan dengan muka gadis kecil itu yang sudah berada di depanku. Apa aku kaget?? Tentu saja kaget, malah membuatku tersentak, untung aku nggak punya penyakit jantung, kalau tidak, pasti aku sudah jantungan bukan main.

"Kau bisa melihatku, kan?" tanyanya dengan suara datar.

"Iya, kau hantu penunggu kelas ini?" jawabku dengan suara batin. Tentu saja kala itu aku tidak bicara melalui mulut, karena jikalau aku melakukannya, pasti aku akan di cap sebagai anak gila yang bicara sendiri. "Ada yang bisa kubantu?"

gadis kecil itu menggeleng. "Tidak, aku bukan penunggu di sini. Aku adalah hantu yang selalu mengikuti ibuku."

"Ibu??" tanyaku kaget. "Call me curious. Kalau boleh kutahu, siapa nama ibumu?" tanyaku memastikan.

"Bukankah kau sudah tahu, hihihi? dia adalah guru yang mengajar di depan sana!" jawabnya yang masih datar, dibarengi oleh tawa kecil yang terasa hambar karena ucapannya yang masih datar itu. "Aku ingin selalu berada di sampingnya, walaupun diriku sudah mati. Aku sangat sayang padanya,"

Mendengar ucapan gadis kecil itu, hatiku terasa sesak, perih, menahan rasa sedihku mendengar ucapan dari gadis itu. Sebenarnya aku ingin menanyakan hal yang lebih penting darinya, tapi karena rasa sedihku ini, membuatku enggan mengatakannya. Tak lama setelahnya, aku pun dipanggil ke depan kelas oleh Bu Dwi.

Ketika aku sedang mengerjakan soal2 yang dikasih Bu Dwi, aku melirik ke atas bangku guru. Di sana aku melihat gadis kecil itu masih tersenyum manis padaku dan melambai2kan tangannya seolah memberiku semangat dalam mengerjakan tugas Aljabar di depan kelas.

Setelah jam pelajaran kedua selesai, aku bergegas menghampiri Bu Dwi untuk mengobrol perihal sesuatu. Karena sudah menunjukan waktu istirahat, Bu Dwi bersedia menemaniku ngobrol di kantin dekat gerbang sekolah. di sana, tanpa basa-basi aku mengatakan hal yang selama ini mengganjalku mengenai gadis kecil itu. Dia menyebut Bu Dwi sebagai ibunya.

"Maaf bu, telah mengganggu kerjaan ibu di kantor. Kalau boleh saya tahu, apakah anda punya seorang anak yang telah tiada?" tanyaku yang sempat ragu untuk mengatakannya.

Mendengar pertanyaanku, langsung membuat senyum di bibir Bu Dwi menghilang. "Tidak! aku tidak punya anak yang sudah tiada. Anakku satu-satunya sudah kuliah di depan sana. Permisi!"

Bu Dwi langsung beranjak pergi meninggalkanku. Aku heran apa yang sebenarnya terjadi antara hantu gadis kecil itu dengan Bu Dwi. Di depan pintu kelas IPA 2, kulihat gadis kecil yang bahkan ku tak tahu namanya itu tengah melirik ke arah Bu Dwi. Sepertinya ada sebuah masalah yang menimpa gadis kecil itu sehingga ia belum bisa tenang di alam sana. Lalu apakah itu? pikirku dalam-dalam.

Tak mau berpikir terlalu dalam dan sampai suudzon, aku segera melambaikan tanganku ke arah penjaga kantin. Dengan sigap, wanita cantik, bohay, dan imut langsung menghampiriku dan menanyakan pesananku. Jujur deh, kalau dia belum punya suami, aku mau dengan segenap hati menikahinya, eh.. maksudku meminangnya. Karena usiaku masih 17 tahun.

"Mas mau pesen apa?" tanyanya ramah.

"Es teh dan nasi goreng saja, mbak." jawabku sembari melihat menu2 yang ada. Oh ya, mbak. Sayakan murid baru di sini. Boleh dong kalau kita kenalan?"

Entah darimana munculnya rasa keberanian itu. Tapi, setiap melihat gadis cantik, aku akan selalu begini. Mungkin ini yang disebut sebagai Syndrom Histeria. Tanpa ragu2 dia pun memberitahu siapa namanya. Mungkin karena ia tahu kalau diriku akan menjadi salah satu pelanggan tetapnya kale.

"Namaku Hartantik binti Amel. Kalau kakak?" jawabnya.

"Namaku Muhammad Badrul Umam bin ..." aku ragu untuk memberitahunya kalau ada nama Marwan di belakangnya.

Sepertinya Mbak Hartantik itu mengerti mengapa aku tidak sanggup mengatakan nama keluargaku. Dia pun bergegas berlalu dan kembali membawakan apa-apa yang kupesan tadi.

Ketika sudah selesai, aku bergegas menghampiri Mbak Hartantik di depan sana sembari menyerahkan uang. Tak berlangsung lama, kemudian datanglah empat orang siswa, dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka berempat mengajak berkenalan denganku, walaupun aku sudah mengenal salah seorang di antara mereka. Iya, Niken Prida. Entah namanya yang enak didengar membuat siapapun yang tahu namanya akan sulit sekali melupakannya.

"Kenalin nama gue Yulian Bagus. Aku adalah anak yang bersorak2 tadi di kelas," ucapnya yang terdengar seperti orang baik. "Maaf atas perilaku aku di kelas tadi. Itu pasti memalukan, kan?"

"Enggak kok. Lagian aku sudah terbiasa mendapati murid yang punya habit seperti itu." jawabku sekenanya.

Tiba-tiba siswa yang satunya lagi menyahut, "Kalau gue namanya Agus Purhadi. Dan ini adalah pacar gue, Viona." sapanya sembari mengenalkan pacarnya padaku. "Sebagai siswa baru, di sekolah ini ada sebuah kebiasaan bagi siswa lama untuk mentraktir siswa baru selama sehari. Jadi, lo mau minta apa?"

Deg. Mendengar tawaran itu membuatku kaget. Pasalnya aku belum tahu kalau ada kebiasaan seperti itu di sekolah ini. Tak mau menyia-nyiakan tawaran orang lain, aku pun bergegas kembali memesan nasi goreng dan juga es teh lima. Memang benar kalau rejeki nggak kemana. Hehe emoticon-Big Grin

Setelah pesanan sampai, aku pun langsung bertanya uneg2 yang sedari tadi menggangguku. "Bagus, kau pacaran yah sama Niken?"

Ucapanku langsung membuat keempat teman2ku di sana langsung tersedak makanan mereka. Aku hanya menatap geli melihat tingkah mereka berempat kala itu.

"B--bicara apa kau, Umam? gue, pacaran sama Bagus? Nggak salah tuh!?" jawab Niken yang masih batuk2 habis tersedak. "Bagus ini adalah kakak keponakanku, Mam! Ya, walaupun dia tergolong nebeng di rumahku."

Aku bicara remeh-temeh dengan mereka berempat selama lima belas menit sampai bel masuk kelas berbunyi. Di saat itu, aku sudah tidak melihat kehadiran gadis kecil yang mengaku sebagai putrinya Bu Dwi, membuatku bertanya. Kemana dia?

[SKIP TIME]

Sehabis bel pulang berbunyi, aku bergegas memasukkan buku dan alat tulisku ke dalam tas dan bergegas menghampiri Abah Nadjib di ruangannya. Di sana aku diperlakukan laksana seorang pangeran yang turun dari kudanya. Benar2 mereka terlalu menghormati seluruh keturunan Kyai Marwan sampai segitunya.

Tak mau membuang-buang waktu lagi, aku pun bertanya mengenai masalah apa yang menimpa sekolah ini. Asalkan tidak berat2 amat, aku pasti akan membantunya.

"Maaf, salah satu demit dari Angus Poloso keluar kemaren lusa, dan membuat masalah kemaren."

Deg, Jantungku terasa berhenti.

"Jadi, aku harus membereskan salah satu demit Angus Poloso itu, Abah?" tanyaku tak percaya. Pasalnya kekuatanku masih dirasa belum cukup untuk mengatasi demit2 dari Angus Poloso itu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Ijin baca gan
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan indrag057 memberi reputasi
Sebelas Duabelas sama cerita komik jepang.

Tanah keramat yang tersegel di sebuah lokasi sekolahan SMP dan SMA.
Anak cucunya yang mewarisi untuk menjadi penjaga gerbang gaib.

Apa emang TS ambil latar dari situ

Spoiler for kekkaishi:
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan terserahsaja659 memberi reputasi
Diubah oleh capslock.on
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
ijin tenda emoticon-Shakehand2
Waaah muantabb juga nih Ki Ageng Selo, lebih sakti dari GajahMada dan Sunan Kalijogo.
Soale mampu menghentikan semua dedemit seluruh Jawa Timur.
emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan onta890 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Nah kl gini kan enak bacanya...ngga pindah2 thread...lanjut ganemoticon-Jempol
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Wah sodaranye si cintia cenaraya nih bisa terbang gak
profile-picture
indrag057 memberi reputasi

Horror 2 - Demit Kepala Kambving.

"Jadi, aku harus membereskan salah satu demit Angus Poloso itu, Abah?" tanyaku tak percaya. Pasalnya kekuatanku masih dirasa belum cukup untuk mengatasi demit2 dari Angus Poloso itu.

"Iya, Mam. Ku tahu kalau kau mungkin agak terbebani dalam misi kali ini. Tapi, bukankah sudah merupakan kewajiban bagi keturunan Kyai Marwan untuk menyegel para demit2 itu?" jawab Abah Nadjib yang sedikit berharap padaku. Jujurnya, aku yang sebagai seorang nice guys takkan mampu menolak permintaan dari orang yang sedang membutuhkan, walaupun permintaannya aneh2. emoticon-Smilie

Aku menghela napas panjang sebelum menjawab permintaan dari Abah Nadjib itu. "Ya udah, Abah. Akan saya coba. Tapi kalau hal ini bersinggungan dengan demit Angus Poloso, saya tidak bisa menjamin saya bisa menyelesaikannya sendiri."

Setelah itu, aku pun bergegas untuk pulang. Aku minta waktu sehari untuk menyiapkan hal2 yang diperlukan dan menyiapkan mentalku dengan melakukan amalan2 yang ditujukan kepada Allah SWT. Sementara untuk hal2 yang diperlukan untuk pengusiran, aku serahkan semua pada rekan adikku yang bernama Ryan dan Farkan, dan tanpa menolak mereka pun setuju asal mereka dikasih uang di muka. Dasar matre!

[SKIP TIME]

Keesokan harinya, tepat pada malam jum'at kliwon, kami bertiga, aku, Ryan, dan Farkan sudah siap berada di ruang bawah tanah sekolah SMA Indratama, di mana segel Angus Poloso berada. Setelah pintu menuju Angus Poloso dibuka oleh Abah Nadjib, Abah Nadjib pun bergegas meninggalkan mereka, karena ia tahu, aura hitam yang mendiami Angus Poloso dan sekelilingnya itu teramat besar, bisa2 tanpa pelindung batin, Abah Nadjib bisa termakan dan mati, paling ringannya cuma jadi gila.

"Oke, Temon. Pasang pager gaib ini di setiap pojok Angus Poloso!" kataku memerintah. "Kau Farkan, buatlah pelindung gaib, karena sebentar lagi demit itu akan muncul," tambahku.

"Temon? Kau pikir aku orang aneh di acara televisi itu, Mam. Enak aja!" Ryan membantah. Farkan tertawa terbahak2 mendengar Ryan disebut Temon olehku.

Kami bertiga pun mengambil beberapa rokok dan roti yang tersedia di meja sembari menunggu waktu pukul 00:00 datang. Karena menurut penerawangan gaib Danang, demit yang muncul dan membuat ulah di sekolah tiga hari lalu hanyalah sesosok prajurit demit yang menampakkan dirinya sebagai Demit Kepala Kambing. Dan bagi penghuni Angus Poloso, demit ini cuma prajurit bawahan.

"Mam, lo ada kenalan cewek cantik gak di sana?" tanya Temon mendadak. Sepertinya rokok kretek itu sudah membuatnya halu.

"Nggak, Kalau lo mau cewek gendut yang bohay aku ada banyak stok," jawabku ringan, sembari menawarkan salah satu teman perempuanku yang namanya Ika.

"F^ck! Emang gue cowok apaan! Masih mending Marta ketimbang cewek yang kau tawarkan itu, Mam!" jawabnya mengelah. Kami bertiga tertawa.

Sejam kemudian, waktu sudah menunjukkan pukul 00:00. Ini berarti sudah waktunya bagi kami untuk beraksi. Ada sedikit hal yang perlu kalian tahu dari Demit Kepala Kambving. Yaitu, mereka gemar merasuki tubuh orang2 yang kosong, dan target utamanya adalah wanita. Begitu kulihat Viona masuk ke dalam ruang terlarang, aku tahu kalau Viona sedang dirasuki oleh Demit Kepala Kambing itu. Dasar Kambving...!! batinku.

Aku sudah tahu dari kemaren kalau Viona tengah di awasi oleh sesosok makhluk demit dari kemaren. Buktinya ia tak mau berjabat tangan denganku kemaren, mengetahui kalau dalam tanganku sudah kulafadzkan lantunan2 ayat2 Al-Qur'an.

"Apa maumu, anak muda? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Viona datar, seraya memunculkan rupa yang begitu mengerikan. Bahkan matanya memancarkan cahaya merah. "Apa kau datang ke sini karena menginginkan sesuatu? harta? tahta? wanita? aku bisa mengabulkan semua permintaan itu!"

Dengan nada geram, akupun bicara lantang, "Aku tak mau apa-apa darimu! aku tahu kalau demit yang menepati tubuh Viona adalah Ki Cokro Suryo, demit rendahan dari Angus Poloso. Makhluk rendahan yang mempunyai tubuh manusia kera, berekor ular, dan berkepala kambing. Cepat keluar dari raga temanku atau aku akan menghancurkanmu!"

Mendengar ancamanku, Viona pun tertawa terbahak-bahak, mengejek kemampuanku. Dia pun bergegas menyerangku, namun pelindung sukma yang telah ditanamkan pada diriku dan kedua teman2ku, membuat Viona langsung terbaring gemulai, dan roh demit pun berhasil keluar dari tubuh Viona.

"Kau! Kau pasti keturunan dari Kyai Marwan!?" ujar Ki Cokro Suryo itu kaget. Tak mau mengambil resiko, demit itu pun melarikan diri ke dunia gaib, di mana ia akan aman, pikirnya.

"Ayo kita bertiga meraga sukma, dan kita kirim demit itu kembali ke Angus Poloso." perintahku kepada kedua teman2ku. "Kalau dia tak bisa dinetralisir, maka bakar dia sampai habis!"

Kami bertigapun akhirnya meraga sukma untuk mencari keberadaan Ki Cokro Suryo. Berharap dari kami bisa menetralisir demit itu dan mengirimnya balik ke Angus Poloso. Sesampainya di dunia gaib, kami menghadapi banyak sekali demit2 yang bertubuh manusia kera dan berekor ular, bawahan dari Ki Cokro Suryo, tapi berkat ilmu kanuragan yang kami miliki, mengatasi kroco2 itu mudah2 sulit. Sulitnya cuma mereka terlalu banyak, sehingga menguras lebih dari separoh energi spiritual kami.

"Keluar kau, Demit Kambving! Anak buahmu sudah kami bakar habis. Sekarang tinggal kau seorang!!"

"Kau terlalu sombong untuk ukuran seorang manusia rendahan. Dengan senang hati, akan kuhancurkan kalian!" suara Ki Cokro Suryo dari suatu tempat.

Tanpa kami sadari, ada sebuah percikan kilat kecil yang langsung menghantam punggung kami, dan seketika kami terpental dan memuntahkan darah. Setelah itu, di depan kami Ki Cokro Suryo muncul sembari tertawa terbahak2 menghina kami.

Mengetahui kami bertiga belum mati, Ki Cokro Suryo pun mengeluarkan sebuah tombak, yang sering disebut sebagai Tombak Darah. Tombak itu bagaikan sebuah mimpi buruk di siang bolong. Setiap kali tombak itu menancap di tubuh kami, darah kami akan berkurang dan begitu seterusnya. Dan rasanya lebih dari seratus kali tombak.

"Bagaimana manusia? Apa kau sudah mau berlutut di hadapanku?" tanya Ki Cokro Suryo itu bahagia. "Jika iya, maka aku akan mengampunimu dan membiarkan kau untuk hidup dengan hidup sebagai manusia yang hina-dina!"

Ki Cokro Suryo pun menyiksa kami secara bertubi2, sampai tiada makhluk di dunia ini yang pernah menyaksikan penyiksaan seburuk itu. Untunglah siksaan itu hanya menyiksa batin kami, bukan raga kami, kalau tidak, pasti kami sudah mati sedari tadi. Belum puas cukup sampai di situ, Ki Cokro Suryo mengeluarkan salah satu organnya dan langsung meleparkan organ menjijikan dan beraroma busuk itu ke arah kedua teman2ku.

Kulihat kedua temanku sudah tergeletak tak sadarkan diri.

"Biadab! Aku bukanlah manusia rendahan yang bisa kau budak, Ki Cokro Suryo. Setelah ini, aku akan benar-benar menghabisimu jikalau kau tidak mau kembali ke Angus Poloso sekarang juga!" bentakku dengan keras.

Aku pun menarik tombak Darah yang menancap di perutku, dan langsung melemparkannya tepat mengenai dada Ki Cokro Suryo. Belum puas, aku merapalkan ajian2 Reksadara yang langsung membuat demit itu bergidik ketakutan. Ajian Reksadara adalah sebuah ajian turun temurun di keluarga Kyai Marwan yang berfungsi sebagai penghukum. Jikalau Arwah itu baik, maka Ajian ini takkan berarti, namun apabila arwah itu jahat, maka dia akan hancur.

"Ajian itu!? Ajian Reksadara!?" katanya yang sepertinya nyalinya sudah menciut seketika. "Bagaimana anak bau kencur sepertimu sudah mampu menguasainya??"

Kini gilaranku tertawa terbahak-bahak.

"Kau terlalu meremehkanku, Ki Cokro Suryo!" kataku yang menatap demit Kepala Kambving itu dengan tatapan mengerikan. "Sebenarnya aku tidak mau menggunakan ajian ini lagi setelah peristiwa beberapa tahun lalu, tapi melihat teman2 adikku kau siksa secara bengis, membuatku tidak tahan ingin menghancurkanmu!"

Karena Ki Cokro Suryo adalah demit yang jahat, tidak sulit buat ajian Reksadara untuk memutuskan. Ki Cokro Suryo pun terbakar dengan api warna hitam. Pelan-pelan dia pun memohon untuk diampuni, namun aku tak mau. Menyaksikannya sampai ia habis terbakar oleh api itu. Sempat dia menjerit-jerit meminta pertolongan kepada kaum dedemit Angus Poloso yang lain, namun karena sudah tidak berguna buat penguasa Angus Poloso atau jauh dari pancarannya, tidak ada demit apapun yang mau menolongnya.

Setelah berhasil membakar demit itu, ada perasaan puas muncul dari hatiku. Melihat darahku yang mulai bercucuran, aku pun berusaha mengendalikan diriku supaya tidak kehilangan kewarasanku. Setelah diriku sudah mulai tenang, aku pun kembali ke jazad kasarku. Dan misi pertama dari Abah Nadjib telah selesai.

Ketika membuka mata, aku dan kedua teman2ku langsung memuntahkan darah dari luka yang kami terima di alam gaib sana. Kedua temanku masih pingsan, dan aku bingung bagaimana menyembuhkan luka mereka. Untunglah saat itu, dari belakang, datanglah Danang yang langsung membantuku untuk mengobati luka-luka mereka dan aku.

"Kau memang payah, kak! Seharusnya kau keluarkan ajian Palasada untuk langsung memasukkan Ki Cokro Suryo kembali ke Angus Poloso. Tapi kau memang payah, jadi aku memaklumimu, sampai membuat kedua temanku terluka parah!" kata Danang ketus. Menghinaku yang sebagai kakaknya tak mampu mengeluarkan ajian Palasada itu. "Tapi, mengetahui kalian bertiga selamat, itu sudah cukup buatku,"

Setelah menyembuhkan luka-luka kami, aku dan Danang bergegas mengendong Viona dan Farkan. Untung saja waktu itu Ryan sudah sadarkan diri, sehingga kami tak perlu menggendong anak gembul macam dia. Hihi emoticon-Big Grin

Dalam perjalanan, kami mengobrol ini dan itu. Lumayan guna menghilangkan rasa canggung antara diriku, Ryan, dan juga Danang.

"Mam, siapa gadis yang kau gendong itu? Dia cantik banget yah!" kata Ryan menerawangi bodi Viona. "Kalau sudah sadar, kenalin gue sama dia yah?"

"Boleh, tapi kau harus berurusan dengan pacarnya dulu! Pacar gadis ini adalah salah satu preman di sini lo!" jawabku sekenanya sambil masih menggendong Viona.

"Temon... temon?? sifat playboymu kapan sih sembuhnya?" ejek Danang yang masih menggendong Farkan.

"Hidup tanpa wanita itu tidak enak, plez! (Toples)" jawab Ryan singkat. Dan mereka pun kembali tertawa.

***

Sesampainya di ruang Abah Nadjib, kami pun ditolong oleh beberapa santri pondok pesantren. Setelah itu, kami bertiga segera menghadap ke hadapan Abah Nadjib untuk memberitahukan kalau misi pertama ini telah selesai, dan Abah tak perlu takut lagi apabila demit2 itu membuat ulah di sekolah ini.

"Astaga! Apa yang sudah terjadi pada kalian berdua?" tanya Abah Nadjib khawatir.

"Tenanglah, Abah. Demit yang bernama Ki Cokro Suryo itu takkan mampu buat ulah lagi di sekolah ini, aku pastikan itu!" jawabku mantap, meyakinkan Abah Nadjib.

"Ki Cokro Suryo?? Makhluk macam apa itu?" tanya Abah Nadjib penasaran.

"Demit yang mempunyai badan manusia kera, ekor ular, dan kepala kambing jantan, Abah!" jelasku. "Untung saja aku melawannya tidak sendirian, Abah. Kalau tidak, pasti aku sudah mati saat ini. Walaupun tadi harus menghadapi situasi sulit saat menghadapinya dengan tiga orang saja."

Abah Nadjib menelan ludah. Dia terbayang-bayang akan seberapa kuatnya demit itu sampai tiga orang saja hampir kalah melawannya, padahal itu cuma demit rendahan ketimbang demit2 lain penghuni Angus Poloso.

-BERSAMBUNG-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
doelviev dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Lanjut ganemoticon-Jempol
profile-picture
indrag057 memberi reputasi
lanjut.
profile-picture
indrag057 memberi reputasi

Horror 3 - Siapa Penyebar Rumor itu??

Beberapa hari pun berlalu setelah kejadian itu.

Aku kini mampu hidup layaknya seperti murid biasa seperti yang kuharapkan. Aku meminta Abah Nadjib maupun siapapun yang tahu akan identitasku untuk merahasiakan kalau diriku adalah keturunan Kyai Marwan dan mempunyai ilmu kanuragan. Tak ingin menambah masalah buatku, Abah Nadjib pun menyetujuinya.

Namun hal ini hanya bertahan selama tiga hari.

Entah siapa orang kuya yang telah menyebarkan rumor tentang diriku yang telah membasmi salah satu demit Angus Poloso, tapi mulai saat itu, kehidupan normalku berubah menjadi lebih meriah lagi. Orang itu memfoto aksiku saat menyelamatkan Viona dari kerasukan Ki Cokro Suryo dan dipajang di madin. Sungguh kesal aku dibuatnya. Pengen sih diriku untuk membongkar identitas si penyebar rumor itu, tapi kegiatan sekolah dan menjaga Angus Poloso itu lebih banyak menyita waktuku.

Pertama-tama kutuduh Viona yang menyebarkan rumor ini. Karena dia lah satu-satunya orang selain Abah Nadjib yang tahu akan identitasku. Namun, setelah memikirkan hal ini matang-matang, ku kira telah salah sangka menuduhnya.

Pagi itu, kelas kami kedatangan siswi baru. Dia memperkenalkan dirinya Pramesella Cahyani S. Usut punya usut, dia adalah keponakan dari Abah Nadjib. Setelah berkenalan, dia pun bergegas duduk di bangku sebelahku, bersama Niken. Pandangan pertamaku tentang gadis itu ialah dia gadis yang cantik, ceria, periang, dan mudah bergaul dengan sesamanya. Satu hal yang cocok ditempatkan satu meja dengan Niken yang terkenal sinis dan pendiam.

Saat jam istirahat, Pramesella pun melangkah mendekati bangkuku.

"Jadi kau ya yang bernama Umam itu? Tak kukira kau mampu menjadi Ghost Hunter yang membasmi demit2 itu!"

"Kau tahu darimana hal itu? Aku bahkan tak mengatakan hal ini pada siapapun?" tanyaku menyelidik, mencoba mengelak kalau bisa.

"Oh, sebelumnya aku pernah melihat tampangmu di madin sekolah. Jadi itu benar kalau kau adalah seorang pemburu hantu. Aku jadi mulai sedikit tertarik padamu," jawab Pramesella yang seperti sedang menggodaku. "Ah, satu lagi. Apakah siswa seganteng kamu masih jomblo?"

Aku pun langsung tersedak mendengar ucapan gadis baru itu. Permen karet yang waktu itu masih kukunyah langsung kutelan bulat-bulat. Membuat tenggorokanku sakit.

"Kau itu ngomong apa sih? Aku tidak tahu apa yang kau maksud!" kataku terbatuk-batuk sembari memukul-mukulkan tangan ke dada, berharap permen karet itu bisa kumuntahkan. "Soal pemburu hantu itu juga tidak benar. Jangan percaya pada rumor anak iseng di sekolah ini!" tambahku.

Aku bergegas keluar, sembari melihat gadis kecil itu masih mengekor.

"Hey, kau belum menjawab pertanyaanku yang satunya!"

Aku merasa risih mendapati gadis itu tetap mengekor, lalu aku pancing dia dengan mendekati ruang kantor di mana Abah Nadjib saat itu masih terlihat mengurus arsip-arsip sekolahan. Dan dari sana, Abah Nadjib pun memanggil Pramesella untuk ikut membantunya. Sialnya, aku pun juga terseret dalam urusan ini. Duuh! emoticon-Big Grin

Tak sampai sepuluh menit kami bantu-bantu Abah di ruang guru, akhirnya kami diperbolehkan pergi. Pas mau pergi, kami berpapasan dengan Maftukhan, ketua OSIS di SMA Indratama. Aku pun menanyakan siapakah yang telah menyebarkan rumor-rumor tidak benar itu padaku, tapi dia hanya menggeleng.

"Apa kau tahu siapa yang menyebarkan rumor-rumor aneh itu tentangku, An (Aan)?" tanyaku.

"Nggah tuh, Mam. Memangnya kenapa?" jawabnya. Matanya menyelidik.

"Oh, gak papa. Cuiman akhir ini ada orang yang menyebarkan rumor tak benar itu sehingga aku jadi cukup terkenal di sekolah ini,"

Tak puas mendapat jawaban dari Maftukhan, aku pun bergegas ke kantin, menemui Mbak Hartantik yang bahenol itu. Lumayan buat penyegar mata. Tapi entahlah, sampai kapan gadis penguntit ini terus-terusan mengekorku. Bikin risih soalnya...! emoticon-Frown

Sesampainya di sana, memesan dua piring nasi goreng, dan dua gelas es teh, kami serasa hidup kembali. Tak lama setelahnya, Niken, Bagos, Agus, dan Viona pun datang. Mereka semua menganggap kami ini pacaran. WTH~! Kami pun sempat tatap menatap, satu sama lain. Iya sih kalau Pramesella ini cantik dan periang, namun hatiku masih belum siap. Atau lebih tepatnya hatiku masih ada di tempat lain, jadi nggak dulu lah, daripada harus merasakan pahit untuk kedua kali.

"Umam, makasih waktu itu lo dah menyelamatkan pacarku. Kalau tidak, entah apa yang bakal terjadi padanya, dan hubungan kita?" buka Agus. Dia terlihat berterima kasih sekali padaku. "Ku tahu kau sekarang sedang menghadapi masalah mengenai rumor-rumor itu, tapi sebagai balas budi, aku akan ikut membantumu untuk membongkar siapa dalang dibalik semua ini. Aku janji!"

Aku pun menyeruput tehku. "Nggak perlu. Lagian rumor-rumor itu memang benar adanya kok. Harusnya aku tidak menutup-nutupi hal ini dari siapapun." Pramesella menatapku dibarengi dengan senyuman puas. "Yang lebih bikin gue bt saat ini adalah diekori oleh cewe penguntit ini lo. Kemana-mana dia ikut aja!"

Bagos pun memunculkan wajah berseri-serinya, "Wah itu berarti kau sudah pacaran dong sama murid baru itu? Siapa namanya... Aha, Pramesella,"

"Ya itu jikalau Umam bersedia aja," jawab Pramesella tersipu malu. "Lagian siapa sih gadis yang gak mau sama orang yang sudah seperti sesosok pahlawan yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain?"

"Jangan ngasal kalau ngomong! Pacaran sama Pramesella? Bisa-bisa aku diekori 24 jam nanti!"

"Ih, dasar kakak jahat. Emangnya Pramesella seorang Stalker apa??"

Kami tertawa melihat tingkah Pramesella yang begitu manja itu. Terkecuali Niken, dia seperti acuh melihatku. Entah apa yang ia pikirkan tentangku, namun aku menelisik ada sebuah kecemburuan di sana. Memang sih aku pernah dekat dengannya, namun hingga sekarang hubungan itu cuma sekedar teman dekat, pikirku.

Selama bersekolah di sekolah ini, sudah banyak siswi yang nyatain perasaannya padaku, karena percaya atau tidak, aku adalah seorang pria yang layaknya seorang pahlawan yang melindungi sekolah ini. Benar juga kata Pramesella, gadis mana yang tak mau padaku?? Siswa berkarisma macam aku ini tak sulit buat cari pacar.

[SKIP TIME]

Hari mulai siang dan di langit masih mendung. Aku kepikiran soal Agus yang niat membantuku untuk membongkar dalang yang menyebarkan rumor-rumor itu. Namun kuabaikan hal itu untuk sementara waktu, karena hari ini Bu Dwi sedang mengajar, dan aku ingin bertemu dengan hantu gadis kecil yang menyebut dirinya sebagai putri Bu Dwi itu.

"Hai kakak," sapa seorang gadis di belakangku.

Kulihat seorang siswi bernama Ratna Endang menyapaku. Namun ada yang aneh padanya, matanya menatapku kosong, bibirnya terasa berat, dan tangannya terasa dingin. Aku pun menyadari kalau saat ini dia tengah dirasuki oleh sesuatu. Ya, hantu gadis kecil itu kini telah merasuki tubuh Ratna.

Karena tak menganggu dan membuat kerusuhan di saat jam pelajaran, aku pun membiarkannya untuk sesaat. Aku pun berkomunikasi dengannya secara batin.

"Ada apa gadis kecil? Kenapa kau menggunakan tubuh siswi itu?"

"Tidak apa-apa. Begitu urusan di sini selesai, aku akan meninggalkannya kok." suara batin Ratna yang terdengar olehku. "Aku menemui kakak karena ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu, kak. Ini penting!" tambahnya.

"Ada apa? Kalau bisa kubantu, aku pasti membantu. Tapi hari ini aku juga ada urusan lain yang lebih penting."

Ratna pun menyelidik, "Oh, urusan dengan rumor-rumor itu ya? Aku tahu siapa pelakunya!" jawaban Ratna yang membuatku penasaran bukan main. Karena si penyebar itu begitu lihai sehingga aku tak bisa membongkar identitasnya. Dan kalau hantu gadis kecil itu tahu, maka aku pun juga harus mengetahuinya. "Akan kuberitahu kalau kau mau membantuku, Mam!"

"Oke, aku menyerah. Lalu apa yang bisa kubantu?"

"Berikan kado ini kepada ibuku sepulang sekolah. Aku ingin ibuku tahu kalau selama ini aku terus mengikutinya," jawabnya seraya menyerahkan sebuah kado kecil kepadaku. "Selama seminggu aku membuatnya. Aku harap dia mau menerimanya!"

Singkat cerita, saat jam terakhir selesai, dan bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas menuju bangku Bu Dwi dan menyerahkan sebuah kado yang diberikan Ratna padaku. Dia pun mengerutkan dahi pertanda heran, karena ia tahu kalau hari ini bukanlah ulang tahunnya. Ragu-ragu, dia pun bertanya.

"Apa ini, Mam? Kenapa kau memberiku kado ini, padahal hari ini bukan hari ulang tahunku?" tanya Bu Dwi ramah.

"Oh, aku mendapat kiriman itu dari seseorang. Katanya dia ingin ibu membukanya," jawabku sembari mengelus-elus rambutku.

"Kalau diperkenankan, orang itu memintaku untuk memberitahu ibu untuk membukanya setelah pulang dari sekolah, jadi jangan buru-buru untuk membukanya di sini." tambahku.

"Hm... kalau itu mau orang yang kasih, apa boleh buat. Ibu pulang dulu ya, nak?"

Aku pun mengangguk dan membiarkan Bu Dwi keluar ruang kelas dan pulang. Setelah itu, aku pun langsung menghampiri Ratna yang masih melihat ke arahku dengan tatapan dinginnya.

"Aku sudah kasih kado itu ke ibumu. Sekarang cepat beritahu apa siapakah penyebar rumor itu?"

"Masa kau nggak tahu sih, kak? Orang itu adalah yang duduk di sebelahmu, yang belakangan ini sering menguntitmu dari kejauhan,"

Deg ...

"Apa!? Maksudmu Pramesella?"

-BERSAMBUNG-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan

Index Cerita Angus Poloso.

Diubah oleh umanghorror
subscicrbe dulu ya gan. keknya seru ceritanya, tapi belum sempet baca. tar kalau senggang ane balik lagi buat baca.

semangat updatenya sampai tamat yaaaemoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
banditos69 dan umanghorror memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Amiiiinnnn....!!!!

Cerita bagus sayang kalau nggak ditamatin gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
senja87 dan 3 lainnya memberi reputasi

Horror 4 - Tanah Perjanjian.

Sebelum kulanjutkan cerita ini, mimin mau kasih tahu kalau cerita ini punya sudut pandang orang lain, yang berkaitan dengan cerita ini.

So stay tune, guys.

Kenyataan memang terasa pahit. Pahit untuk semua orang. Kehilangan sosok orang tua yang selalu menyayangimu, tempat kau mencurahkan segala suka dukamu.

Aku, yang seorang putri sulung harus merelakan kepergian adik laki-lakiku, karena dijadikan tumbal oleh orang tuaku. Katanya hal ini penting, penting untuk keberlangsungan perusahaan ayah, dan adikku tak mati secara sia-sia. Namun, aku tahu itu cuma bualan mereka semata. Seberapa teganya mereka menumbalkan adik laki-lakiku yang sangat kusayangi kepada penghuni Tanah Perjanjian itu.

Dulunya, kehidupan kami terlihat sederhana dan berkecukupan, walaupun begitu, kebahagiaan masih menyelimuti suasana rumah kami. Bahkan ayah kami mampu mendirikan salah satu Villa yang rencananya akan ia sewakan.

Rencananya pun berhasil. Doa kami pun dikabulkan Tuhan, dan dua tahun kemudian ayah kami mampu mendirikan sebuah Villa tepat di wilayah Singosari, Malang. Dan sesuai rencana, Villa itu benar-benar ia sewakan, karena waktu itu banyak mahasiswa-mahasiswi yang mencari kontrakan murah untuk disewa.

Semua berjalan lancar, banyak mahasiswa-mahasiswi yang mengontrak di villa kami, sampai kedatangan orang itu dua tahun kemudian.

Entah apa yang gadis yang bernama Cynthia itu lakukan, namun setelah kedatangannya, suasana di villa kami terasa begitu mencekam. Setiap malam tercium bau kemenyan keluar dari kamarnya, dan suara-suara yang benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tapi, setiap kali di cek di sana, kami sama sekali tidak menemukan barang-barang yang mencurigakan.

Kejadian ini terus berlangsung setiap malam, semakin membuat mahasiswa-mahasiswi lain merasa takut dan tak betah tinggal di villaku itu. Bahkan, ada sebuah kejadian aneh, yaitu setiap awal bulan purnama, setiap mahasiswa-mahasiswi dikabarkan hilang, bahkan tak meninggalkan jejak sedikitpun. Hal itu semakin membuat para mahasiswa-mahasiswi parno dan memutuskan untuk keluar dari villa ini.

Orang-Orang menyebutnya Sebagai Villa Terkutuk.

“Ayah, tidakkah sebaiknya kita usir saja Chynthia itu? Eren merasakan ada sebuah keganjilan padanya,” kataku menyarankan. “Begitu ia menginjakkan kaki di villa kita, banyak sekali kejadian-kejadian yang tak masuk dinalar. Terlebih lagi menghilangnya beberapa mahasiswa-mahasiswi yang kos di sini,”

“Aku sudah menanyakan perihal ini ke Chynthia, sayang. Dia memang mengakui kalau garis keluarganya masih mempercayai kejawen. Namun, saat ayah tanyakan apakah dia sering melakukan hal-hal supranatural, dia hanya menggeleng.” jawab ayahku yang terdengar membela Chynthia. “Sudah ah, jangan berprasangka buruk, jadi suudzon nantinya. Selama belum ada bukti yang menguatkan, maka ayah tidak punya hak untuk mengusirnya dari villa. Paham??”

Aku hanya terdiam mendapati jawaban ayah yang terdengar malah membela gadis belia itu. Tanpa meneruskan makan lagi, aku bergegas untuk pergi melanjutkan studiku di salah satu Universitas di Malang.

Di Universitas Negeri MU (Singkatan yah) aku bertemu dengan seorang mahasiswi aneh, yang sama anehnya dengan Chynthia, dia adalah Rully Novita Sari, atau enaknya di panggil Vita. Vita adalah salah satu temanku saat pertama masuk ke universitas ini. Kami bertemu saat dia menyelamatkan beberapa maba yang kesurupan saat OSPEK. Rumor mengatakan kalau Vita ini adalah anak indigo, meskipun itu benar, Vita masih sesosok teman yang berarti buatku.

“Hi, Eren,” sapanya dari kejauhan.
“Hi Vita. Maaf aku telat,” jawabku meminta maaf.
“Nggak apa-apa. Lagian gue juga baru sampai. Kau sudah bawa tugasnya?”
“Udah nih, Vit. Kemaren aku begadang buat nyelesaiin skripsi ini, dan sekarang beres deh pokoknya!”

Kami pun melangkah mendekati ruang dosen, bermaksud untuk menyerahkan tugas skripsi kemaren lusa. Namun dengan tiba-tiba, Vita menghentikanku.

“Tunggu dulu, Ren! Aku mencium bau yang menyengat keluar dari tubuhmu. Aku tahu bau ini... bau tanah perjanjian.” kata Vita tiba-tiba, sambil mengendus-endus aroma tubuhku.

“Tanah Perjanjian? Apa itu, Vit?” tanyaku yang mulai parno akan apa yang dikatakan Vita padaku. “Aku bahkan tak tahu apa maksudmu, Vit!”

Vita pun langsung menghela napas panjang-panjang, “Itu artinya ada seorang di antara keluargamu yang membuat perjanjian dengan demit. Dan jikalau hal ini tercium dari tubuhmu, maka kau akan dijadikan tumbal selanjutnya,”

Aku langsung lemas mendengar kata-kata yang diucapkan Vita padaku. Aku serasa sudah ingin pingsan kala itu, namun Vita bergegas merangkulku dan membawaku ke UKS. Di sana ia menceritakan semuanya mengenai takdir mengerikan yang bakal menimpaku.

“Gini loh, Ren, Aku mau jelasin kamu sedikit mengenai Tanah Perjanjian itu, apa kau tak merasa ada yang aneh terjadi pada dirimu belakangan ini?” tanya Vita pelan, sepertinya ia masih ingin menjaga perasaanku yang sedang kalut.

“Ada, dan ini semua pasti ulah seorang mahasiswi yang kos di Villaku beberapa bulan lalu. Semenjak kehadiran gadis itu, suasana di sana menjadi lebih mengerikan.” jawabku yang langsung kepikiran mengenai Cynthia.

Vita pun menggeleng.

“Bukan dia, Vit! Bukan Cynthia penyebabnya. Ada seseorang yang bergerak di balik layar yang membuat Cynthia dijadikan sebagai kambing hitam dalam hal ini. Tapi aku yakin kalau dalangnya masih bergerak dan terus mengawasi villa orangtuamu, Ren!”

“Lalu siapa orangnya, Vit? Yang kuketahui di sana yang berperilaku aneh dan mencurigakan cuma Cynthia doang,” kataku dengan suara yang kaku.

“Aku juga belum tahu, Ren! Pokoknya kau harus lebih hati-hati dengan sekitarmu, dan jangan lupakan Tuhanmu!” nasehat Vita padaku. “Aku akan membantumu, Ren! Tenang saja, ya!”

Begitu kondisiku sudah mulai baikan, aku pun kembali ke ruang kelas di mana pak Ahmad, seorang dosen Psikolog sudah menunggu kedatangan kami berdua.

Pak Ahmad adalah dosen kelulusan di bidang Psikolog Jerman dan memutuskan untuk mengajar di Indonesia karena ia sangat mencintai Indonesia. Yuhuu...

“Eren, apa kondisimu sudah membaik? Vita memberitahu bapak kalau kondisimu sempat drop tadi, apa itu betul?” tanya Pak Ahmad ramah. “Kalau kondisimu belum membaik, kau tak perlu mengikuti jam kuliah bapak, tapi bapak akan tetap memberimu PR,”

“Tidak usah, pak. Kondisiku sudah membaik,” jawabku ramah. Sebenarnya aku cuma tak ingin diberi PR lagi.

“Ya, udah, silahkan duduk di tempat duduk kalian!”

“Baik, pak!”

Kami pun duduk di tempat duduk kami masing-masing, mendengarkan Pak Ahmad yang sedang mengajar. Tak lupa kami menyerahkan tugas skripsi kemaren lusa padanya.

Lagi-lagi terjadi sesuatu yang ganjil saat Pak Ahmad melihat tugas skripsiku. Dengan cepat, dia langsung memanggilku.

“Eren, sini sebentar nak!” panggil Pak Ahmad ramah.
“Iya, ada apa ya, pak?” tanyaku yang mulai kebingungan.

“Lihat ini, nak Eren! Kenapa kertas yang kau gunakan untuk menulis skripsi malah kena tumpahan darah nak?” tanya Pak Ahmad sambil menunjukkan kertas skripsiku yang sudah ternodai dengan banyak tetesan darah.

Seketika aku pun lemas, badanku tak kuat melihat pemandangan yang mengerikan itu, dan diriku langsung tak sadarkan diri.

Bangun-bangun, aku sudah berada di UKS bersama Vita, Pak Ahmad, dan Tia. Mereka bertiga terlihat panik melihat kondisiku yang tiba-tiba drop itu.

Dengan segera, Pak Ahmad menanyakan keadaanku. Mengapa ia sampai drop ketika melihat tetesan darah itu, dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di wilayah keluarga Eren.

“Aku turut prihatin, nak Eren! Bapak tak tahu kalau dirimu phobia dengan darah. Maaf sudah menunjukan hal mengerikan itu padamu, nak!” ucap Pak Ahmad meminta maaf. “Apa kondisimu sudah membaik sekarang?”

“Tidak apa-apa pak. Saya sendiri yang harusnya minta maaf karena telah merepotkan bapak dan teman-teman.” jawabku yang masih terlihat pusing dan shok, “Apa Pak Ahmad dan Tia percaya akan adanya hal-hal gaib?”

Mendengar kata-kata itu membuat Pak Ahmad dan Tia terkejut. “Bukannya kami selaku manusia yang hidup di era moderenisasi seperti saat ini tidak percaya kalau ada kehidupan lain yang berdampingan dengan kita. Namun, selama kita hidup secara harmoni dan tidak berhubungan dengan mereka, maka hal-hal gaib itu tak akan pernah bersinggungan dengan kita, nak!” jawab Pak Ahmad dengan ramah menjelaskan.

“Iya, Ren! Dulunya aku tak percaya dengan hal gituan, namun setelah berteman denganmu dan juga Vita, aku jadi tertarik mempelajari hal-hal gituan dan akhirnya gue pun percaya kalau hal-hal gaib itu ada,” tambah Tia riang.

Mengetahui kondisiku sudah mulai membaik, Pak Ahmad pun keluar, membiarkanku ditemani kedua sahabatku. Aku merasa lega melihat Pak Ahmad keluar, karena aku tak ingin membuatnya prihatin.

“Vita, apa yang harus gue lakukan? Teror-teror itu sudah semakin menggangguku. Bisa-bisa aku jadi gila nantinya,” keluhku pada Vita. Berharap kalau dia punya sebuah solusi untuk menangani masalah ini.

“Maaf, Ren! Sebelum kita tahu siapakah dalang sebenarnya dalam masalah ini, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu.” jawab Vita menggelengkan kepala. “Tapi aku akan tetap membantumu kok. Tenang saja!”

“Kalian berdua ini bicarain soal apa sih? Kok sedari tadi cuma bahas hal-hal yang gaib melulu?” tanya Tia yang oonnya kembali. “Kalau ada hal seru, aku ikutan dong!”

Aku pun menabok dahi Tia yang oon itu dan kami bertiga pun tertawa. Mempunyai teman seperti mereka adalah sebuah anugerah buatku, karena tanpa dukungan dari mereka, pastinya aku sudah menyerah dengan kehidupan ini.

Karena tak ingin berlama-lama di sini, aku meminta Tia untuk mengambilkan tasku, dan sementara itu aku ngobrol dengan Vita membahas mengenai solusi dari masalah yang kuhadapi.

“Bagaimana ini, Vit? Kalau Cynthia memang benar bukan pelakunya, jadi hidupku masih dalam bahaya dong!” celetukku. Tanganku mulai berkeringat dingin, saking takutnya.

“Iya, Ren! Tapi, untuk berjaga-jaga, aku akan kasih kau gelang ini. Apapun yang terjadi jangan sampai kau lepas gelang ini. Besok aku akan menemui kak Cynthia bersamamu untuk mencari tahu. Oke?”

Aku hanya mengangguk dan memasang sebuah gelang cantik berwarna merah yang dikasih oleh Vita. Obrolan kami berhenti ketika melihat Tia sudah kembali ke ruang UKS dan menyerahkan tasku.

Aku meminta Vita untuk mengantarku sampai di rumah, namun dia menolak. Katanya orang yang mengincarku dari jauh bakal melakukan hal yang lebih mengerikan padaku jikalau dia tetap ikut, karena energi spiritualnya akan saling menghantam satu sama lain, dan memaksa orang itu berbuat yang lebih buruk padaku.

Tapi dia sudah berjanji kalau esok hari dia akan datang ke rumahku.

-BERSAMBUNG-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 6 balasan

Horror 5a - Diary Cynthia Part.01

Maaf gan Diary Cynthia ini akan mimin bagi jadi dua part karena saking panjangnya... VpeaceV

So stay tuned, gan ...!

Kalau berkenan bisa sambil kalian bantu share gan. Biar tambah semangatnya ...!

,
,
,

Setelah puas mendengar ucapan Vita, aku memutuskan untuk pulang cepat dengan diantar oleh Tia. Terpikir olehku kalau demit-demit suruhan orang misterius itu akan menerorku lagi ketika berada di villa, aku meminta Tia untuk ikut menginap di sana bersamaku.

Tak tahu atau memang dianya terlalu polos, Tia pun bersedia untuk menginap di sana bersamaku. Lumayanlah di sana aku bakal ada teman menginap untuk malam ini.

Ketika kami sampai di tempat parkir, Tia menemukan sesuatu yang teramat busuk dari dalam mobilku. Aku langsung menyuruh Tia untuk membuangnya jauh-jauh, namun dia tak mengindahkan ucapanku dan malah membuka tas kresek itu. Di sana dia mendapati sebuah jeroan busuk, yang terlihat mirip seperti jeroan manusia itu. Dan tanpa menunda-nunda lagi, Tia langsung membuangnya ke tong kosong di pinggir jalan dan membakarnya.

“A-Apa itu barusan, Tia?”

“Jeroan, Ren. Kayaknya itu jeroan manusia!”

Aku pun mual mendengarnya. Dan menyuruh Tia untuk segera masuk ke mobil dan kita segera cabut meninggalkan tempat itu.

Benar! Ternyata hal-hal yang diucapkan Vita tadi pagi ada benarnya. Ada seseorang yang sedang mengincarku sebagai tumbal. Tapi aku tak tahu siapakah orangnya. Oleh karena itu, aku terus berharap kalau esok hari akan segera datang dan aku bisa mendapat pertolongan dari Vita secara langsung.

Singkat cerita, sesampainya kami di villa, aku segera parkirkan mobilku di garasi dan bergegas masuk ke dalam kamar villa yang kosong bersama Tia.

Segera aku pun merebahkan tubuhku di ranjang dan berpikir kalau hal yang terjadi beberapa saat lalu hanyalah hayalan semata. Setelah mulai tenang, aku pun mengalihkan pandanganku ke arah Tia yang masih terduduk di atas kursi samping ranjangku.

Dia masih terdiam. Mungkin dia lagi shock melihat pemandangan yang mengerikan untuk kali pertamanya.

“Tia, lo nggak kenapa-napa?” tanyaku yang cemas melihatnya.

“Nggak, Ren! Aku cuma shock melihat jeroan itu. Nggak usah cemas, Ren!” jawabnya singkat. “Oh ya, di mana tempat mandinya? Aku mau mandi dulu!”

Aku menunjukan kamar mandi yang letaknya dua kamar dari kamarku. Dia pun bergegas mengambil anduk dan keluar dari kamar.

Ditinggal oleh Tia, aku segera mengambil handphone yang ku letakkan di dalam tas dan langsung menghubungi Vita.

“Halo, Vit,” kataku membuka obrolan di telepon. “Bagaimana nih, Vit? Gue dan Tia tadi mendapat teror dari orang itu. Gue takut, Vit!”

Mendengarnya Vita cuma tersenyum seolah mengejekku. “Nggak usah cemas gitu, Ren! Aku sudah menduga kalau hal ini pasti terjadi. Selama gelang yang kuberikan itu masih ada padamu, semua akan baik-baik saja kok. Ya, walaupun tidak menjamin kau tidak akan dihantui oleh hantu-hantu itu!”

“Ealah, malah bercanda dong. Gue ni serius, taug!” balasku kesal ke Vita. Bisa-bisanya dia masih santai dan bicara seolah tidak terjadi apa-apa. Dasar!

“Oh ya, Ren! Aku sudah menghubungi kak Cynthia. Dan katanya kau harus segera menemuinya di kamarnya.” kata Vita.

“Cynthia? Kalau itu maunya, okelah, Vit! See you...!”

Aku menutup teleponku dan bergegas beranjak dari ranjang, bermaksud untuk pergi ke kamar kak Cynthia, namun aku tak bisa meninggalkan Tia seorang diri, jadi aku putuskan untuk menunggunya beberapa menit lagi.

"Duh, Tia mandinya lama banget, ya? Gue sudah merinding sendiri di sini!" bawelku. Aku kesal mendapati Tia lama banget mandinya.

Tak sampai sepuluh menit, Tia pun kembali ke kamarku dan menyerahkan anduk yang ia pinjam padaku. Tanpa basa-basi, aku langsung mengajaknya ke kamar kak Cynthia, dan tanpa menolak sedikitpun, dia pun mengekor mengikutiku.

Sesampainya di sana, kami mengetuk pintu kamar kak Cynthia. Tak lama kemudian, kak Cynthia membukakan pintunya dan memperbolehkan kami untuk masuk.

“Eh, dek Eren dan dek Tia, ya? Silahkan masuk!”

Kak Cynthia pun mempersilahkan kami masuk. Kami duduk di meja kecil yang berhadapan dengan ranjang kak Cynthia.

Sebelum kak Cynthia berbicara, dia menyuruh Tia untuk berdiri kemudian kak Cynthia menekan bagian tulang ekor Tia dan menariknya sampai ke ubun-ubun. Tia menjerit keras sekali saat itu. Sempat aku niat untuk menghentikan kelakuan kak Cynthia kala itu, namun setelah mendengar suara tertawa jekikikan keluar dari Tia, membuatku tersadar, kalau Tia sedang ketempelan.

“Hihihi ... mati, mati, mati...!” jerit Tia kala itu. Membuat bulu kudukku berdiri. “Percuma saja kau meminta bantuan ke keturunan Kyai Marwan, aku bisa membunuh kalian semua dalam sekejap kalau ku mau.”

“Diamlah, iblis! Kami tak akan terpengaruh oleh tipu dayamu. Sekarang pergilah dari tubuh gadis ini atau akan kubakar kau!” Cynthia geram mendengar ancaman itu.

Semakin kak Cynthia menekan bagian ubun-ubun Tia, jeritan Tia semakin menjadi-jadi. Sampai dia lemas dan jatuh pingsan.

Kami pun mengangkat tubuh Tia yang masih tak sadarkan diri itu ke atas ranjang. Sementara kami ngobrol serius di meja.

“Kenapa Tia jadi seperti itu, kak?” tanyaku yang langsung menanyakan perihal itu. “Padahal sebelum pergi ke kamar mandi, dia baik-baik saja.”

“Dia cuman ketempelan, dek Eren! Dia sudah ketempelan saat kalian menemukan kantong kresek yang ada jerohan itu sepulang sekolah tadi,” jawab Cynthia ramah. “Sepertinya tubuh Tia sama sekali mudah dirasuki oleh makhluk gaib, karena setiap hari dia selalu melamun,” tambahnya.

Aku terheran-heran mendengarnya, “Ha? Tia, melamun? Nggak salah, kak? Cewek itu adalah cewek hyper active, mana mungkin cewek cerewet itu bisa seperti itu?”

“Banyak hal yang belum kau tahu mengenai teman-temanmu itu, Ren! Apa kau pikir sikap dan sifat yang selalu ia tunjukan padamu itu pancaran dari kepribadian dia? Nggak, Ren!” jelas kak Cynthia. “Kalau boleh aku bicara, kehidupan Tia jauh lebih tragis dan menyedihkan ketimbang kehidupan lo saat ini!”

Tak lama kemudian, ada ketukan pintu yang terdengar di kamar kak Cynthia. Dengan sigap aku berdiri dan berniat membukakan pintu itu, namun aku dicegah oleh kak Cynthia.

Dia bilang tidak ada siapapun yang mengetuk pintu itu. Karena sudah terlanjur percaya padanya, aku pun menuruti kata-kata kak Cynthia dan suara ketukan pintu itu tak terdengar lagi.

Tiba-tiba suara ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Kata kak Cynthia ketukan itu bukanlah ketukan manusia, jadi aku disuruh untuk tetap diam di tempat. Setelah ketukan tak digubris untuk beberapa saat, akhirnya berhenti. Namun ...

Brakk...!!

Suara saat keras seperti pintu yang didobrak muncul dari pintu kamar. Aku membeku seketika, keringat dingin mengucur deras membasahi dahiku, aku ketakutan setengah mati mendapati fenomena itu. Sementara kak Cynthia hanya tenang, seolah hal itu sudah biasa terjadi dalam hidupnya.

“Kak, kakak tidak takut?” tanyaku gugup.

“Hahaha... enggak, dek. Hal itu sudah biasa dan sering saya alami di kampung halaman saya. Kalau ada waktu, dek Eren bisa mampir ke sana, biar saya kasih tahu pemandangan yang lebih mengerikan lagi dari ini!” jawabnya yang sedikit tertawa geli melihatku sudah membeku ketakutan itu.

Dia pun bergegas mendekatiku dan meniup kedua telingaku. Sebelum melakukannya, kulihat dia merapalkan sedikit doa-doa yang lirih, entah doa apa itu.

Oh ya, btw, aku lupa mengatakannya dari awal. Kami sekeluarga adalah seorang mualaf, jadi kami kurang pemahaman mengenai islam dan ibadah-ibadah yang ada di dalamnya. Karena kami baru tujuh bulan masuk islam.

Tak terasa sudah dua jam lebih setelah Tia pingsan. Setelah menunggu selama itu, akhirnya dia pun bangun juga.

“Tia, kau baik-baik saja?” tanyaku cemas.

“Di mana aku, Ren? Bukankah aku sedang mandi tadi?” jawabnya yang masih linglung.

“Tenang saja, Tia! Kau sekarang berada di kamar kak Cynthia. Dialah yang menolongmu barusan.” kataku mencoba menenangkan Tia. “Sana ucapin terima kasih!”

“Oh, makasih kak!”

“Tidak apa-apa. By the way, sebenarnya apa yang terjadi padamu saat kau mandi, dek Tia? Bisakah kau ceritakan kejadian yang menimpamu saat di kamar mandi?” kata Cynthia memulai obrolan serius. “Aku sebenarnya tahu apa yang menimpamu di sana, dek Tia. Tapi, jikalau hal ini keluar dari mulutku, pastinya dek Eren takkan percaya,”

-BERSAMBUNG-

Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
OkkyVanessaM dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh umanghorror
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di