CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f355e3be83c7210de0d89c9/klinik-aborsi

KLINIK ABORSI

KLINIK ABORSI
"kapan kita eksekusi? "

"nanti malam "

" ok"

Telfon pun ditutup.
Dokter cantik itu memang sudah terbiasa berurusan dengan bagian tubuh manusia, jadi tak kan sulit rasanya jika hanya menggorok leher seorang wanita.

>>>>
Namaku Laras, aku adalah bidan disebuah Rumah Bersalin. Menolong ibu-ibu melahirkan memang sudah menjadi tugasku setiap hari. Tapi rasanya pengabdian itu tidak sebanding dengan penghasilan yang kudapat.
Hidupku tetap susah, rumah kontrakan dengan biaya tiga orang anak membuatku kadang harus memutar otak untuk menutupi kebutuhan.
Suamiku meninggal 2 tahun yang lalu, penyakit diabetes yang dia idap karena keturunan itulah faktor utama yang merenggut nyawanya.

Jadilah aku, ibu tunggal bagi ketiga anakku yang saat itu masih kecil-kecil. Dengan honor yang kurasa tak akan cukup menutupi kebutuhan hidup, aku harus bertahan.

Namun sejak aku melakukan bisnis diluar tugasku di Rumah Bersalin itu. Akhirnya lambat laun kehidupanku merangkak naik.
Kini aku sudah punya rumah sendiri, dan klinik kecil yang selama ini aku idamkan.

Perkenalanku dengan Mia 4 tahun yang lalu di sebuah stasiun adalah titik awal memulai bisnis ini. Mia yang saat itu mengaku tengah cuti liburan, hendak pulang ke kampung halamannya, yang ternyata satu daerah denganku. Kamipun bicara banyak hal selama dalam perjalanan.

Mia adalah seorang dokter kandungan, tak jauh profesinya denganku. Kami bekerja di bidang yang sama yakni menolong ibu ibu dalam proses persalinan.
Cerita kehidupanku pun mengalir, aku yang saat itu butuh uang, kondisi ekonomi yang pailit, sementara tiga anak ku butuh biaya yang tidak sedikit. Mia akhirnya memberi ide sebuah bisnis yang menggiurkan.

Kamipun memulai rencana di bulan Januari 4 tahun yang lalu. Dengan modal uang dari Mia dan sedikit tabungan simpananku, akhirnya kami mengontrak rumah sederhana di sebuah perkampungan, namun tak jauh dari kota. Kamipun membeli peralatan seadanya dari uang sisa patungan kami tersebut.

Rumah kontrakan itu kami sulap menjadi klinik kecil tempat bisnis baru kami. Iya, aku akan mulai menerima pasien disini sebagai pengganti dari gajiku yang tak seberapa dari Rumah Bersalin itu. Demi bisnis ini aku dan Mia rela resign dari tempat kerja kami masing-masing

Setelah mengantongi izin, akhirnya klinik kami bisa berjalan dan menerima pasien melahirkan.
Tapi apakah klinik ini fungsinya untuk menolong orang melahirkan saja ? tidak!.
Kami justru sengaja membuka layanan menggugurkan janin /aborsi. Tentunya dengan diam diam dan dari mulut ke mulut.

Menurut Mia, kota ini tercatat paling tinggi angka kehamilan diluar pernikahan alias MBA nya.
Ternyata benar saja, baru sebulan kami sudah dapat sepuluh pasien remaja yang tengah putus asa karena takut ketahuan orang tuanya. Itu artinya per tiga hari kami melakukan aborsi.

Kami bekerja sama ketika mengeksekusi pasien. Mia bagian yang mengeluarkan janin, dan aku sebagai asisten yang menyiapkan peralatan dan perlengkapan. Di bisnis ini kita bagi hasil masih masing 50 persen. Karena Mia bilang saham dan tenaga kami sebenarnya sama besar. Aku senang Mia kawan yang sangat baik.

Kami memasang tarif sesuai dengan kondisi janin. Makin besar janin yang tumbuh maka semakin besar pula biaya aborsinya. Saat itu aku dan Mia menarik harga untuk janin berusia enam minggu itu senilai dua juta rupiah.

Silahkan kali kan berapa pundi rupiah yang kami dapat dalam sebulan. Jika rata-rata janin yang di gugurkan usianya sekitar 5-6 bulan. Aku dan Mia tak berfikir akan resiko pasien.
Yang kami bayangkan hanya uang dan uang. Lagipula pasien kami tak ada yang sampai mati, paling pendarahan saja, itupun hanya satu dua.

Dimana kami kubur janin-janin itu? Aku menguburnya di halaman belakang klinik kami yang kebetulan adalah kebun pisang.

Pekerjaan ini bahaya? Tentu saja, tapi atas arahan Mia, kami melobi aparat dan pejabat setempat agar usaha ini berjalan dengan mulus dan lancar tanpa kendala.

Dosa?

Ah, aku tak ingin sibuk dengan memikirkan dosa, toh mereka datang bukan karena aku dan Mia yang memaksa. Justru aku dan Mia lah penolong mereka.
Urusan janin itu? Biar saja memang takdirnya untuk tidak hidup di dunia. Buat apa terlahir? Jika calon bapak dan ibunya saja tak siap menerima kehadiran mereka. Iya kan?

Jangan tanya tentang warga sekitar, apa mereka tahu bisnis ini? Mungkin mereka tahu. Tapi sampai detik ini klinik kami berjalan, dan warga sekitar seolah bungkam tak ada yang berani melapor.

Makin hari pasien kami semakin banyak. Tabungan kamipun semakin melimpah. Klinik yang tadinya kami sewa ini sekarang sudah jadi milik kami, akupun sudah punya cukup tabungan dan rumah sendiri.

Itu semua karena kami selalu kebanjiran pasien. Bayangkan saja setiap hari kami harus mengeksekusi lebih dari 7-10 pasien. Tak jarang malam haripun klinik kami masih diketok oleh pasien yang datang dari luar kota.
Tentu saja kami pasang tarif berbeda.
Apalagi jika beberapa pasien itu datang dengan mobil mewah.
Bahkan pernah ada artis yang datang dan memberikan segepok uang dengan nominal 10x lipat dari harga tarif normal. Rata rata pasien aborsi.

>>>>>

Suatu hari, klinik kami didatangi seorang wartawati. Katanya dia hanya ingin wawancara untuk sebuah acara. Namun data kami akan tetap aman dan tidak akan di ekspose apalagi sampe kepada aparat.
Kami yang tak mau terjebak dengan rayuan wartawati itu, sengaja menolak untuk diwawancara.

Sekali dua kali wartawati itu datang dan kami masih dengan sikap yang sama. Yakni menolak untuk diwawancara, sampai akhirnya dia balik ngancam akan mengekspose keberadaan klinik kami.

Maka malam itu aku dan Mia merencanakan sesuatu, kami undang wartawati itu datang ke klinik malam hari. Dengan alasan malam adalah waktu yang pas saat kami sedang tak ada pasien. Dan undangan kamipun direspon olehnya. Malam itu dia datang sendiri, sesuai dengan permintaan kami.

>>>>>

Seminggu kemudian, berita koran.
Ditemukan mayat seorang wartawati mengambang di sungai dengan luka gorok dileher.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
oceu dan 8 lainnya memberi reputasi
Pertadex
sereeemmm yg terakhir
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
serem, semoga cuma fiksi ya. jgn ada praktik seperti ini, karena pergaulan bebas akan semakin bnyak dgn adanya orang yg mau membantu aborsi. janin" tk berdosa itu juga berhak untuk hidup kan ya? biarlah orang tuanya saja yg berdosa, yg lain jgn.
profile-picture
profile-picture
monkeydfarly dan nonananaonomino memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
kawan gue dulu hidup lebih dari berkecukupan.
Mobil bagus, rumah gedong, komputer keren, laser printer, dsb.

Eh, taunya, bokapnya buka klinik aborsi.
Begitu digerebek oleh aparat dan disegel, kawan gue langsung "turun derajat". emoticon-Big Grin
Mobilnnya diganti ke yg murah meriah, dsb.
profile-picture
monkeydfarly memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
Pesan moralnya :

Kalo gak sedang hamil atau tidak mau menggugurkan kandungan, jangan menghubungi bahkan mewawancarai dokter aborsi diklinik aborsi..
profile-picture
profile-picture
ag1991 dan ach.titan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Indikasi perkosaan ndak itu mayat?
Eh ini beneran ato fiksi??

Eh gajadi nanya deh.. atut digorok emoticon-Turut Berduka
mana lanjutannya
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
akhiran ceritanya , paittt di bacanya
Loh kok mirip
plotnya bagus, langsung kena.
emoticon-2 Jempol
profile-picture
.rawk. memberi reputasi
Diubah oleh monkeydfarly
Anjay dibantai
Pesan moral di sini.. jgn ngobrol sama oramg asing klo di jalan..
Lanjut kak
ngeriiiiii banget ceritanya..hiiii


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di