CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Chapter 6: Paper, 2020 (A Story from one heart)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f34e154337f9350a664d06f/chapter-6-paper-2020-a-story-from-one-heart

Chapter 6: Paper, 2020 (A Story from one heart)


     Chapter 6: Keep You Close

“Cause I Just Don’t Know How To Put You Out”

(Chelsea Cutler – Your Shirt)

 

Sebelumnya……

{Chapter 4: We Got Our Problems}

Note: Kenapa pakenya chapter 4? Karena chapter 5 itu full flashback ya gaiss

Di mobil, Retha hanya diam dan terus menyeka darah yang keluar dengan tissue. Alandra pun sama, ia hanya fokus mengemudikan mobilnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan namun sayangnya mereka sadar posisi masing-masing, mereka hanya sebatas teman bukan? 

Aretha terlalu banyak melamun hingga ia terlonjak kaget ketika melihat Al berdiri membukakan pintu mobil disebelahnya. Aretha pun dengan segera melangkah keluar dan dapat ia lihat sebuah rumah dengan banyak ornament jawa diluarnya. Diteras rumah juga terdapat beberapa jajaran pot bunga dengan dominasi bunga melati yang tumbuh subur. Aretha menebak jika ini adalah rumah Al, namun ia memilih untuk diam saja dan mengikuti langkah Al untuk masuk ke dalam rumah.

Hal pertama yang menyapa penglihatannya adalah seorang wanita berumur sekiatar 50 tahunan yang sedang menata vas bunga. Retha menebak dengan cepat bahwa itu adalah Ibu Al. Kini, yang ada di benaknya adalah sebuah pertanyaan sederhana, ‘mengapa Alandra membawa ia kesini?’

“Al, kenapa kesini?, tanya Retha spontan lantaran ia bingung sekaligus gugup.

Bukannya menjawab, Al malah mengandeng tangan Retha dan membawa gadis itu ke hadapan ibunya.

“Ibu”, panggil Al dengan pelan. Yang dipanggilpun menoleh dan tersenyum hangat.

“Dalem, eh ini kan?.....”, Ibu Al mungkin awalnya agak terkejut, namun setelah itu ia mengembangkan senyum terbaiknya setelah melihat anak gadis yang dibawa Al kali ini.

Retha tersenyum kikuk dan lalu berkata, “Saya Retha bu”.

“Tangannya Retha luka bu, Ibu bisa obatin Retha?”, mungkin jika Retha bisa sembunyi, ia memilih untuk sembunyi saja, tidak mau bertatap muka dengan Ibu Al yang begitu terlihat anggun, berbanding terbalik dengan penampilan Retha saat ini. Tak peduli dengan luka di tangannya yang kian lama kian terasa perih, ia hanya ingin bersembunyi saja lantaran malu melihat penampilannya sekarang. Wajahnya sembab, bekas air mata masih terlihat di sudut matanya. Lantas, bagaimana tanggapan Ibu Al nanti?

Ketika Ibu Al menjawab ‘iya’ dan mengeluarkan kotak P3K, Retha reflek melongo kebingungan. Dan satu hal yang ia sadari, tangannya masih mengeluarkan setets demi setetes darah.

“Ini kenapa nak? Sini duduk sebelah ibu”, dengan ragu Aretha pun lalu duduk di sebelah Ibu Al dan menunduk canggung. Sungguh, ia tak habis fikir mengapa Al membawanya ke rumahnya.

Menyadari kecanggungan Retha, Ibu Al pun hanya tersenyum, lalu  menyingkirkan tissue yang menutupi luka Retha. Setelah itu beliau dengan segera membuka kotak P3K.

“Ibu ini ngga apa-apa kok”, ujar Retha. Ia merasa tak enak karena mungkin bisa saja ia merepotkan Ibu Al .

“Ini bisa jadi infeksi nak, tahan sebentar ya”, Ibu Al dengan cekatan membersihkan darah di tangan Retha dengan tissue, lalu ia mengelus lengan Retha dengan pelan, menyadari betapa gugupnya Retha saat ini.

“Ini kena pisau tusuk ya?”, Ujar ibu bertanya sambil membasuh tangannya dengan alcohol.

Aretha hanya meringis pelan dan menahan rasa perih yang menjalar akibat lukanya. Rasanya begitu perih, hingga ia tak mampu menjawab pertanyaan Ibu Al.

Setelah selesai, Ibu Al pun merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah Retha karena menunduk.

“Ibu”, gumam Retha pelan.

“Ini bakal kering lama nak, soalnya luka dekat urat nadi. Jangan terlalu sering dibasuh air ya”, ucapnya lembut, tidak ada rasa canggung sama sekali.

“Kok Mas Al bisa bawa Retha kesini?”, tanya Ibu yang tentunya langsung mendapat tatapan bingung dari Aretha. Bukannya menjawab, Al memilih untuk diam saja. Entah, dia hanya memilih diam saja, ia tidak ingin menjawabnya. Mungkin, biar Retha yang mencari tahu jawabannya sendiri.

“Kamu masih suka soto sokaraja?”, tanya Ibu mencoba mengalihkan pembicaraan. Mungkin anak sulungnya memiliki maksud tersendiri untuk diam.

“Suka bu, kok ibu tau?”, jawab Retha menanggapi seadanya.

“Kamu ga inget sama ibu ya?”, tanya ibu. Lalu, beliau menggenggam jari jemari Retha.
“Hmmm? Retha ga inget bu, Ibu kenal Retha udah lama?”, ujar Retha dengan nada penuh kebingungan.

“Nak, kamu itu ga banyak berubah ya walau sudah jadi anak gadis. Masih sama kaya pas dulu”, ujar ibu sembari mengelus lembut rambut Retha penuh sayang. Namun, Retha malah termenung diam, ia tidak mengerti apa yg dimaksud oleh ibu.

“Yo wis, ayo bantu ibu masak soto. Mumupung kamu disini.”

“Aku ngga ngerepotin ibu?”

“Ngerepotin kenapa wong kamu kan bakal jadi anak ibu”, Ucap ibu sembari terkekeh pelan.

“Maksudnya bu?”, entah perasaan atau apa, Retha seperti kehilangan sebuah memori saat ia melihat wajah Ibu Al. Entahlah, ia juga tak tahu apa yang hilang, yang pasti mungkin nanti ia bisa mengingatnya kembali.

Belum sempat dijawab, tiba-tiba datang Arka dengan tas sekolah yang tersampir di pundak kanannya. Wajahnya penuh dengan peluh, dan kaosnya sudah basah oleh keringat. Seperti biasanya, sore hari adalah waktu Arka untuk latihan basket dengan teman-temannya. Sama seperti ibu tadi, Arka juga reflek melongo melihat gadis yang tengah bercengkrama dengan ibunya kini.

“Wahhh, ada tamu”, ucap Arka menetralkan keheranannya lalu setelah itu ia menyalami ibu dan Retha.

“Kenalin, ini Arka adeknya Mas Al”, ujar ibu sembari menepuk pelan punggung anak bungsunya.

“Hai Arka”, sapa Retha sambil tersenyum hangat.

“Hai mbak cantik, salam kenal”.

“Ganti baju, trus nanti makan siang ya. Ibu mau masak dulu sama mbak Retha”.

Arka hanya mengangguk pelan dan setelah itu ia berjalan ke kamarnya. Ketika hendak membuka pintu kamar, ia malah mengurungkan niatnya lantaran melihat gelagat aneh dari sang kakak. Selama beberapa tahun terakhir, ia jarang melihat kakaknya tersenyum hangat seperti itu, sendirian pula. Ketika arka mengikuti arah pandang Adhi, ternyata Arka baru sadar akan sesuatu. Ia tidak terlalu mengetahui siapa Aretha sebenarnya, namun melihat dari gelagat yang ditunjukkan oleh sang kakak, ia tahu bahwa Aretha bukanlah orang baru dan biasa bagi sang kakak.

“Bang”, panggil Arka pelan. Seperti tertangkap basah, yang dipanggil tiba-tiba sibuk memainkan handphonenya dan mengetikkan sesuatu dilayar.

“Kalem kali. Gua cuma mau mastiin lo masih waras”, ucap Arka lalu terkekeh melihat kelakuan kakaknya.

“Gua masih waras, oke?”, kesal Adhi.

“Mba Retha siapa? Pacar ya?”

“Bukan”

“Bukan apa belum?”, ucap Arka sarkas.

Adhi hanya bisa melayangkan tatapan jengkel pada Arka. “Dasar lambe turah”, tutur Adhi kesal.

“Bang, semenjak lo putus sama Mba Dyas, gua ga pernah liat lo senyum lagi. Gua juga ga inget kapan terakhir kali gua bisa ngobrol santai sama lo. Sekarang, gua liat lo bisa balik lagi jadi manusia normal”, jelas Arka. Memorinya berputar pada beberapa tahun silam, dimana ia melihat hancurnya Adhi ketika hubungannya dengan Dyas berakhir.

“Tck, sad boy banget gua kesannya”.

“Makannya move on. Samperin sana, ajak ngobrol kek, minta dibikinin kopi apa gimana”, ujar Arka sambil mendorong Adhi ke arah dapur.

“Mbak Retha, Mas Adhi katanya mau kopi nih, mau minta dibikinin tapi malu”, teriak Arka sengaja. Sontak, ibu dan Retha menoleh ke arah Arka dan Adhi.

“Eh enggak, apaan sih? Orang gua mau ambil charger”, tutur Adhi asal.

“Gua baru tau lo nyimpen charger di dapur”.

“Arka stop!!!!”

“Udah, jangan diterusin. Nanti ribut beneran lho mas”, ujar Ibu menengahi. Beliau cukup sabar melihat kelakuan kedua anak lelakinya yang kadang memang bisa disebut blasteran anak TK. Sementara, Retha yang melihat itu hanya terkekeh pelan.

“Jadi nggak kopinya?” tanya Retha.

“Eh, boleh kok”, jawab Adhi dengan kikuk.

“Sering-sering main kesini ya mbak”

“Hngg?”

“Biar MasAadhi ga kesepian”

“Arka!!!”, sentak Adhi kesal.

“Santai kali, tegang amat. Sering main kesini ya mbak, temenin ibu soalnya ibu suka kesepian gak punya temen masak”, jelas Arka.

“Kalo ada waktu luang aku main kok”, respon Retha sambil memotong daun bawang yang telah dicuci sebelumnya.

“Kamu udah izin sama ibu dirumah?”, tanya Adhi setelah Retha selesai membuatkan kopi untuknya.

“Ciaaa kamu manggilnya wkwk”, Arka tertawa keras hingga terpaksa Adhi harus menyikut perutnya untuk sekedar mengembalikan kewarasannya.

“Udah kok barusan”, jawab retha sambil tetap fokus mengulek bumbu soto. Sementara Adhi hanya diam melihat sambil sesekali menyesap kopinya.

Jika harus berkata jujur, Adhi memang sangat merasa penasaran pada Retha. Mengapa Aretha begitu pelupa? Dan juga, mengapa ia terlihat baik-baik saja setelah mengalami kejadian mengerikan seperti tadi? Adhi memang mengakui bahwa retha itu pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, namun setidaknya ia harus lebih sedikit terbuka bukan? Well, ia tak habis fikir mengapa gadis sebaik Aretha pernah terlibat hubungan dengan berandalan seperti Danu. Ya, Al sudah tahu semuanya tentang Danu. Meski ia jarang berada di magelang, namun hubungan pertemanannya tetap terjalin baik dengan teman-teman SMA nya dulu. Setelah mencari tahu, ternyata Danu adalah salah satu orang yang pernah berseteru dengannya saat di SMA dulu. Well, lagi-lagi karena hal sepele, yakni masalah parkir.  Sudahlah, Adhi enggan membahasnya.

***

“Anterin sampe rumah, jangan sampe gerbang”

“Jangan ngebut bawa mobilnya mas”

“Salam ke orangtuanya ya”

Adhi hanya mengangguk dan tersenyum melihat wajah tegas ibunya. Seusai makan malam tanpa ditemani ayah, karena kebetulan ayah ada dinas diluar kota, adhi pun mengantar retha pulang.

“Ibu lo baik banget ya Al”, gumam retha.

“Hmm?”

“Gua sempet mikir macem-macem tadi, sorry ya”, ujar Retha penuh penyesalan.

“Kenapa?”, tanya adhi penasaran.

“Abis nya sih, lo ga bilang mau bawa gua kemana. Ibu lo cantik gitu, gua kucel banget tadi, tau gitu tadi cuci muka bentar sebelum ke rumah lo”, jelas retha sambil terkekeh pelan.

“Lo cantik kok”

“Cantik dari apanya sih? Jelas jelas tadi tuh udah……”

“Gua harus ngapain biar lo percaya kalo itu cantik ia?, tanya Adhi sambil mengernyit heran. Satu hal yang mungkin sulit ia pahami dari para wanita adalah sikap insecure mereka.

“Oke oke, thanks before”

“Lo gamau cerita?”, lanjut Adhi. Entah, dia semakin penasaran saja tentang hubungan Retha dengan Danu.

“Ehmm, kayanya lain kali aja deh ya”,  jawab retha lalu dia menguap pelan.

“Besok sibuk gak? Main yuk keliling jogja”

“Serius? Mau kok, jam berapa??” tanya Retha penuh semangat. Seketika rasa kantuknya tiba-tiba hilang.

“Gua jemput jam 6 ya”

.

.

.

.

Halo semuanya, gimana kabarnya? Semoga selalu sehat ya

Btw, maaf atas kengaretan ini yak wkwk

Beberapa bulan kemarin emang pengen up sih, tapi karena ada beberapa problems jadi saya pending dulu hehe.

Gimana nih udah kebayang belom alurnya mau gimana???

Btw, perlu dijadwalin buat update gak? Biar kalian nggak nunggu lama kaya nunggu kepastian hehe L

Oh iya, kalo missal kalian pengen ngobrol tentang paper, boleh banget kok.

Bisa PC aja ya, atau leave komentar dibawah.

C’yu, jangan lupa kasih cendol dan share cerita ini guys

profile-picture
profile-picture
sseeenv dan bukhorigan memberi reputasi
lanjut.
emoticon-Cool
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di