CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
Home / FORUM / All / News / ... / Sains & Teknologi /
Daring, Daring, Gering Tiga Persepsi Kuliah di Masa Corona Ala Catur
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f27c0d9f0bdb272cb69f2f1/daring-daring-gering-tiga-persepsi-kuliah-di-masa-corona-ala-catur

Daring, Garing, Gering Tiga Persepsi Kuliah di Masa Corona Ala Catur

Daring, Garing, Gering
Oleh: Catur Kristiyani 117074 (Mahasiswa STAI Pati kelas E semester VI)

Pandemi kalau di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografis yang luas. Corona Virus Desais atau yang dikenal dengan Covid-19 telah menggemparkan masyarakat di atas dunia hingga menjadi pandemi yang membuat korban tewas tak tertolong.

Pemerintah telah membuat protokol kesehatan dan menganjurkan masyarakat untuk tetap di rumah saja pada masa pandemi covid-19. Tak ketinggalan bagi mahasiswa, termasuk kami yang kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAI Pati), semuanya harus merelakan diri untuk tetap di rumah saja. Kuliah yang dulunya tatap muka, sekarang diganti dengan kuliah daring/on line.
Dulu, sebelu mengenal daring, saya mengira bahwa daring merupakan dagangan ringan. Karena kami mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada program studi bisnis daring dan pemasaran, ternyata dugaan saya salah. Daring itu ternyata melakukan sesuatu dengan versi digital.

Wong namanya penulis, saya pribadi mencari kata daring lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tak menemukan, akhirnya membuat definisi sendiri. Salah satu hikmah di balik pandemi ini, saya mengetahui arti daring yang sebenarnya. Itu hanya salah satu, bukan salah banyak, kalau salah banyak nanti betulnya malah nggak jelas. Hahahaha.

Jadi begini, sebelum saya menceritakan persepsi saya mengikuti perkuliahan daring, ada baiknya saya akan menjelaskan terlebih dahulu mata kuliah apa saja yang saya ikuti saat semester VI ini.
Saya atas nama Catur Kristiyani mengikuti 10 mata kuliah di semester VI terbagi atas 2 mata kuliah, 1 mata kuliah KST dan 9 mata kuliah aktif. Saya KST bukan berarti tidak lulus mengikuti ujian, tapi karena dulu sempat cuti selama 6 bulan di semester 2 sewaktu sakit tidak bisa berjalan. Nah, 9 mata kuliah aktif adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
2. Pengembangan Kurikulum PAI
3. Psikologi Agama
4. Praktik Micro Teaching
5. Pengantar Kewirausahaan
6. Pengembangan Instrumen Penelitian
7. Masa'il Fiqh
8. Hadits Tarbawi
9. Pengembangan Evaluasi PAI

Sedangkan 1 mata kuliah KST adalah Statistik Deskriptif yang diampu oleh Dosen Anista Ika Surachman. Di antara 10 mata kuliah di atas, ada 2 mata kuliah yang sistem perkuliahannya melalui google classroom sekaligus WhatsApp Group yaitu pada mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAI yang diampu oleh Dosen Heny Kusmawati dan Masa'il Fiqh oleh Dosen Muntaha Luthfi.

Sedangkan 8 mata kuliah lainnya hanya menggunakan aplikasi WhatsApp Group (WAG).
Dalam hal ini, saya sangat setuju dengan adanya kuliah daring di masa pandemi covid-19. Karena menurut saya sendiri, itulah jalan satu-satunya untuk mengikuti kuliah tanpa tatap muka. Sungguh hikmah yang sangat keren menurut saya, semasa pandemi covid-19 masih ada gadget yang diandalkan. Saya membayangkan, jikalau saja tak ada gadget, dengan apa mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan semasa covid-19. Inilah kebesaran Allah, apa pun yang Dia ujikan kepada semua makhluk, pasti Dia memberikan solusinya.
Janji Allah itu pasti, "Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan," begitulah firman Allah. Nah, pandemi ini termasuk ujian bagi seluruh mahasiswa. Apalagi bagi seorang aktivis seperti saya, yang biasanya aktif mengikuti organisasi di mana-mana tiba-tiba mak jleb gedebleg mandek daring semuanya.

Nah, dalam mengikuti kuliah daring ini pun saya mengalami multirasa, artinya berbagai perasaan datang campur aduk tak hanya satu rasa. Ada rasa senang, sedih, bingung, merasa sepi, sendiri dan lain-lain.

Merasa senang karena kuliah bisa sambil rebahan, bahkan belum mandi pun jadi. Bisa sambil makan pula, bahkan bisa juga kuliah sambil di kamar mandi. Akan tetapi, yang membikin garing adalah kantong. Kuliah daring membutuhkan banyak kuota untuk bisa mengerjakan tugas-tugas, sedangkan masa pandemi merupakan masa-masa tidak mudah dalam mencari uang. Bahkan bisa makan enak itu sudah luar biasa.

Belum lagi kalau sinyal sulit, hp sudah jadul dan tidak mendukung aplikasi perkuliahan. Wah, serasa diri ini hilang ditelan bulan. Akan tetapi, harus bagaimana lagi, tuntutan kampus membuat prioritas lain harus disingkirkan untuk sementara waktu.

Saya pun bersyukur, karena kuliah saya mendapatkan beasiswa bidik pintar dari Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu). Itu salah satu hal yang membuat saya tetap bersemangat kuliah di masa pandemi sekalipun mata harus berani sebel dengan layar ponsel.

Daring dan garing sudah saya jelaskan di atas. Sekarang, saya pun memiliki persepsi yang ke-3 sesuai judulnya, yaitu gering. Gering di dalam KBBI diartikan sebagai sakit. Perkuliahan di masa pandemi ini membuat saya sakit, tak hanya sakit mata akan tetapi sakit hati. Bagaimana mungkin pikiran bisa tenang, jika mengerjakan tugas saja sinyal sudah ngajak perang badar. Baru mau mengirim jawaban di google form, sinyalnya kayak butiran debu, kecil mungil, tapi bikin mata panas.

Gering kalau di dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai kurus. Nah, ini yang paling oke menurut saya. Karena, banyak orang yang biasanya di kampus sukanya ngemil, alasan ke kamar mandi, tapi akhirnya ke kantin. Ke belakang sambil membawa es krim, dll. Membuat mereka kekurangan waktu untuk melakukan hal itu. Apalagi di masa sekarang tak mudah menghasilkan uang gan.

Bayangkan banyak pabrik mem-PHK karyawannya, sekolah di rumah, banyak pedangang yang kehilangan mata pencaharian karena kompleks yang biasa dipakai jualan diganti #dirumahaja. Seperti, sekolah #dirumahaja, kuliah #dirumahaja dll.

Daring, Garing, dan Gering ala saya, tak patut diratapi dalam-dalam. Cukuplah ikhtiar sesuai protokol kesehatan. Kita kuliah tetap di rumah. Jika tak ada hal yang sangat penting untuk keluar rumah, sebaiknya dihindari. Satu lagi nih, jangan lupa ketika keluar rumah tetap mematuhi protokol kesehatan.

Ketiga persepsi di atas merupakan persepsi saya sendiri atas nama Catur Kristiyani. Saya menuliskan dari hati bukan mencontek dari google, karena itu bukan hobby saya. Jikalau ada tulisan yang sama persis dengan tulisan saya, saya dapat memastikan jika itu copas dari tulisan saya, dan saya tidak ridlo jika tulisan saya dicopas karena menulis itu bukan hal yang mudah.

Sekian.
Diubah oleh caturkristiyani


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di