- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
tamu tengah malam
TS
robbola
tamu tengah malam
Malam ini papa, mama dan Kak Rahma akan keluar. Kata Kak Rahma mereka bertiga akan ke acara syukuran Om Dimas.
Seperti yang dibilang tadi sore, "Hem, ikut nggak, ya?" tanyaku pada diri sendiri.
"Kalau aku ikut? Entar aku mau ngapain di sana! Anak Om Dimas, perempuan semua! Enggak, ah."
"Aku di rumah aja, 'kan ada Mang Ujang yang temenin," ucapku dan membolak-balik buku yang kubaca.
"Habisnya udah kubaca semua!" sungutku agak kesel.
Tepat jam delapan malam, kulihat mama papa dan kakakku sudah siap untuk berangkat.
"Rendi? Mau, ikut nggak?" Tiba-tiba mama memanggil dan bertanya kepadaku.
"Hem, ke mana, Ma?" tanyaku balik.
"Ke rumah, Om Dimas," ucap mama lagi.
"Ke rumah, Om Dimas? Kok, Mama baru bilang ke aku, sekarang?" Aku berlagak sewot.
'Sebenarnya aku sudah tahu dari Kak Rahma, sih. Tapi, pura-pura nggak tahu aja,' lirihku.
"Tadi tuh mama lupa. Habisnya, Mama panggil-panggil tadi ... tapi, kamunya nggak nyahut," ucap mama melihatku.
"Hem, nggak deh, Ma!" Aku pun berlalu masuk ke kamarku.
"Enggak nyesel, nih!" Kudengar mama teriak dari luar.
"Enggak, kok Ma! Mang Ujang, 'kan ada!" balasku dari kamar.
Lalu kuteruskan membaca buku yang tadi, soalnya aku masih penasaran.
"Kalau gitu, jangan lupa kunci pintunya. Terus periksa semua jendela. Entar ada maling yang masuk!" Terdengar mama teriak lagi. Tapi setelah itu, aku pun tak mendengar teriakan mama.
***
Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Akan tetapi, ternyata mereka belum pada datang semua.
"Mereka ke mana? Apa, mungkin macet, kali," ujarku lalu aku pun menutup pintu kamar.
Baru saja aku ingin memejamkan mata, tiba-tiba terdengar Mang Ujang mengetuk kamarku.
"Den! Den Rendi? Apa, Aden sudah tidur!"
"Ada apa, Mang!" Aku pun membuka pintu kamarku.
"Gini, Den. Barusan, istri Mang Ujang telepon, katanya, Arif anak Mamang badannya panas, jadi Mamang mau pamit pulang dulu, Den," ujarnya melihatku.
"Jadi, aku sendirian dong di rumah? Mana semua belum pada datang," jawabku ke Mang Ujang.
"Terus, Den! Gimana? Apa, Mamang nggak usah, pulang?" Kulihat Mang Ujang berat untuk meninggalkanku.
"Enggak papa, kok. Mang Ujang pulang aja. Kasihan anak Mang Ujang. Jangan khawatirin Rendi, mungkin bentaran lagi mama, pulang," jawabku lagi ke Mang Ujang.
"Beneran, nggak papa nih Den, Mang Ujang pulang?" Mang Ujang berusaha meyakinkanku.
"Iya Mang, InsyaAllah Rendi nggak takut kok." Sebelum, Mang Ujang keluar, aku lalu memberinya ongkos.
"Nih, Mang! Buat, tambah-tambah. Ini, 'kan sudah malam. Takutnya, Mang ujang kemalaman di jalan dan tidak ada kendaraan," sahutku ke arahnya.
"Ini, apa Den!" Mang Ujang kembali bertanya ke arahku.
"Sekedar tambahan di jalan. Enggak papa, 'kan, Mang? Mang, hati-hati yah?"
"Terima kasih, Den!"
"Iya, Mang." Aku pun mengangguk.
Tak lama kemudian, hujan turun sangat lebat. Tapi, sudah hampir jam sebelas, mereka semua belum juga ada yang datang?
"Kok mereka pulangnya lama, sih?"
"Apa, mereka tidak tahu kalau aku sendirian di rumah?" Aku terus ngoceh.
Akan tetapi tiba-tiba ....
Terdengar pintu diketuk oleh seseorang dari luar, aku kira yang datang mama, papa dan Kak Rahma.
"Akhirnya mereka pulang juga," ucapku.
Aku bergegas membuka pintu.
Namun ternyata, yang datang bukan mereka. Di depan pintu, berdiri seorang kakek, badannya kurus dan bajunya basah kuyup. Wajahnya terlihat pucat, 'Mungkin kakek ini kemalaman di jalan.' Aku berujar lirih.
"Nak, Ka--kek kehu--janan. A--pa boleh Ka-kek menumpang ber--teduh sebentar?" Terdengar suara kakek itu gemetaran.
'Mungkin karena kakek itu kedinginan.' Aku berpikir dan mengangguk.
"Boleh, boleh, Kek." Lalu aku persilahkan dia duduk.
"Oh iya, Nak? A--pa boleh Ka--kek minta minum? Da--ri tadi, Kakek ha--us," ucapnya dan kulihat dia memegang tenggorokannya.
"Boleh, tunggu sebentar, Kek." Lalu aku masuk mengambilkan segelas air putih dan kuberikan pada kakek itu.
"Kalau boleh tahu, Kakek sebenarnya dari mana? Ini, 'kan sudah larut malam, Kek? Mana hujan lebat, lagi?" tanyaku ingin tahu.
"Ka--kek ma--u cari alamat rumah cucu Kakek, Nak. Ta--pi, Kakek lupa, Nak di ma--na?" Suara kakek itu masih terdengar gemetar dan wajahnya semakin pucat.
"Apa, Kakek tidak punya nomornya?" tanyaku lagi.
"Se--mua, hi--lang, Nak!"
"Kenapa, bisa Kek? Oh, iya. Kakek, kalau boleh tahu nama Kakek siapa? Siapa tahu besok aku bisa bantu cari rumah cucu, Kakek atau tanpa sengaja ketemu dengan cucu Kakek," ujarku.
"Ka--kek itu biasa dipan--ggil Ka--kek Ramli," jawabnya sambil menghabiskan minumnya.
Kakek itu, terlihat sangat kehausan.
"Kakek? Masih mau tambah minumnya," tawarku padanya.
"Su--dah, cukup Nak."
Terlihat bibir Kakek Ramli bergetar dan wajahnya bertambah pucat.
"Hem, tunggu sebentar, ya Kek. Rendi cariin baju ganti dulu buat Kakek. 'Kan baju Kakek basah! Entar kakek masuk angin."
"Sekalian, Rendi ambilkan handuk buat ngeringin badan Kakek. Tunggu di sini ya, Kek." Aku pun masuk ke dalam untuk mengambil baju dan handuk untuk kakek.
Akan tetapi, begitu aku keluar, ternyata Kakek Ramli sudah tidak ada. Yang tinggal hanya gelas kosong dan tempat duduknya yang masih basah.
Aku cari ke mana-mana. Namun, Kakek Ramli tidak ketemu juga.
"Kakek Ramli ke mana?"
"Apa, mungkin Kakek Ramli terburu-buru, makanya tidak sempat pamit?"Aku bertanya pada diriku.
" Semoga Kakek Ramli baik-baik saja," ucapku lagi.
Setengah jam kemudian, terlihat mobil papa memasuki pagar.
"Alhamdulillaah, mereka akhirnya datang," ucapku sedikit lega.
Tetapi, tidak tahu kenapa, aku jadi kepikiran dengan Kakek Ramli. 'Besok saja aku coba tanya Mang Ujang. Mungkin saja Mang Ujang kenal dengan Kakek Ramli.'
Karena sudah larut, aku pun masuk kamarku dan tidur!
Keesokan harinya ....
Aku menghampiri Mang Uang yang lagi mencuci mobil papa.
"Mang? Apa, Mang Ujang kenal dengan Kakek Ramli?"
"Aden? Ngomong apa barusan!" Terlihat Mang Ujang, melotot seketika mendengar pertanyaanku.
"Apa? Apa, Mang Ujang tidak salah dengar! Co--ba, Aden ulang, sekali lagi."
"Mamang, dengar baik-baik, ya?" ucapku lagi.
"Rendi tadi, nanya tentang Kakek Ramli.
Apa ... Mang Ujang kenal dengan Kakek Ramli?" ucapku ingin tahu.
Akan tetapi, betapa kagetnya aku, waktu Mang Ujang menjawab pertanyaanku.
"Den, kok Aden tanya tentang Kakek Ramli? Apa, Aden kenal dan pernah ketemu dengan Kakek Ramli? Sedangkan Kakek Ramli itu, 'kan sudah meninggal tiga tahun yang lalu." Terdengar Mang Ujang menjelaskan.
"Apa? Meninggal tiga tahun, lalu!" Spontan aku tersentak mendengar penuturan dari Mang Ujang.
"Kok, Aden kaget seperti, itu?"
"Eng--gak, enggak. Enggak, kenapa-napa Mang." Aku meninggalkan Mang Ujang yang heran melihat perubahan dari wajahku.
'Kalau, Kakek Ramli sudah meninggal?
Ja--di yang datang semalam dan ngobrol, sama aku, siapa dong?' Seketika kurasakan bulu kudukku merinding.
namakuve dan bukhorigan memberi reputasi
2
819
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan