CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
HIlangnya Dusun Lengger
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f10267382d4953bcf563491/hilangnya-dusun-lengger

HIlangnya Dusun Lengger

HIlangnya Dusun Lengger

HILANGNYA DUSUN LENGGER

#Kematian_sang_penari

Malam ini di desa Kermon ada acara, anak Pak Kadus habis disunat. Tadi siang sudah nanggap kuda lumping, malamnya ada lengger. Sudah dipastikan orang-orang dari kampung sebelah pun berdatangan. Para bandar judi pun pasti banyak yang gelar lapak. Belum lagi penjual kacang dan jagung rebus.

Jam delapan, gamelan sudah mulai berbunyi, beberapa wanita muda dengan dandanan tebal sudah mulai menari dengan gemulai. Sekitar sepuluh menit, istirahat sebentar dan jam setengah sembilan biasanya sang idola akan keluar.

Arum, nama penari lengger yang sedang digandrungi para lelaki. Hampir tiap malam dia ditanggap dari kampung ke kampung. Umurnya masih dua puluh tahun, tapi dia sudah punya satu anak. Baru berapa bulan ini dia mulai menari, sejak Wahyu suaminya pergi merantau dan tak ada kabar.

Pesona Arum mengalahkan dua pendahulunya, Mbak Sur dan Mbak Lami. Biasanya dulu Mbak Lami yang jadi idola, tapi sejak Arum masuk, pesona Mbak Lami pun memudar.

HIlangnya Dusun Lengger

Jam sembilan Mbak Sur mulai menari, sepuluh menit, tapi sawerannya kurang. Dilanjutkan Mbak Lami, entah kenapa, mungkin pesonanya tiba-tiba muncul, karena banyak pria yang memberinya saweran. Dengan kemulai ia mulai menggoda beberapa pria dengan selendangnya. Sepuluh menit dia harus bergantian lagi dengan Mbak Sur, sebelum Arum muncul.

Bahkan beberapa lelaki malah sudah kesurupan, mereka para pemain kuda lumping. Jadi banyak yang tidak kaget, tapi malah senang. Karena saat kesurupan, berbagai atraksi yang tidak masuk akal akan dipertontonkan.

Namun Mbak Sur tak kunjung muncul, sampai hampir tiga puluh menit, ia terus menari. Akhirnya salah satu pawang mencari Mbak Sur. Sementara di area tengah, orang-orang yang kesurupan semakin banyak.

Barongan yang jarang muncul saat malam, entah dari mana datangnya, tiba-tiba masuk ke tengah lapangan. Rumadi yang berbadan tinggi besar, dia pemain barong legendaris, sudah lama tidak menari. Malam ini dia dengan gesit menggerakkan barongannya. Bahkan Harjo si penari topeng yang sudah pensiun pun muncul.

Di lapangan banyak yang heboh dengan munculnya pemain-pemain lawas, sementara di dalam jeritan Arum mengagetkan semua orang. Mbak Sur tergeletak darah keluar dari mulutnya. Nyawanya sudah tidak tertolong, semua pandangan tertuju pada Arum. Hanya dia satu-satunya saksi.

HIlangnya Dusun Lengger

Sementara keributan lain terjadi, mereka yang kesurupan tambah banyak. Bahkan ada pemain kendang yang kesurupan, akhirnya yang lain menggantikan. Musik pun terdengar semakin kencang, seakan mengajak semua orang menari.

Dari surau, Abah Khuri dan beberapa bapak lainnya kencang berdzikir. Suasana sepertinya semakin tidak terkendali, seperti ada kekuatan gelap yang menutupi kampung Kermon. Terlebih para penduduk dari kampung lain yang mendengar suara lengger, tapi tidak menemukan jalan ke kampung itu.

Beberapa anak muda yang sudah kena tuak, hanya berputar-putar di ujung kampung. Tapi jalan masuk desa seperti lenyap tiba-tiba. Tapi musik yang didengan semakin kencang, bahkan seperti ada beberapa grup gamelan yang bermain.

Suara gamelan seperti bersahut-sahutan terdengar sampai kampung sebelah. Sedangkan di area acara, orang-orang mulai berjatuhan satu persatu. Beberapa anak kecil pun sudah mulai mengeluarkan darah dari hidungnya. Kepanikan terjadi, tapi seakan mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Di dalam rumah Arum makin berteriak saat tubuh Mbak Sur menghilang dan tinggal ular hitam sebesar lengan yang seperti terengah-engah mau keluar. Warga panik, ada sebagian yang langsung memukul dan memotong ular itu dengan parang.

HIlangnya Dusun Lengger

Suasana mencekam itu tiba-tiba mulai menghilang. Bunyi gamelan pun melambat, para pemain yang kesurupan sepertinya mulai tersadar, bahkan tanpa tiupan pawang.

Sementara bau kemenyan makin menyengat, Mbak Lami yang dari tadi menghilang tiba-tiba muncul. Dia menuduh Mbak Sur sudah memakai ilmu hitam, dan mewariskannya pada Arum. Karena saat kematian hanya Arum yang ada di sana.

"Bunuh dia! Sebelum dia mengadakan perjanjian dengan sang penguasa!" teriak Lami.

"Jangan, ampuun, saya tidak tahu apa-apa. Sumpah, demi Allah, saya hanya lihat Mbak Sur tiba-tiba tergeletak. Bahkan kami tidak saling bicara!" jawab Arum histeris. Karena beberapa orang yang masih kesurupan menyeretnya keluar rumah. Gamelan yang tadi sudah berhenti, tiba-tiba mulai berbunyi. Dimulai dari gambang, bonang dan bonang penerus. Kemudian pemain kenong dan demung pun menyusul, lanjut pemain saron, peking dan slentem terakhir gong dan kendang masuk.

HIlangnya Dusun Lengger

Musik pelan, dan Arum yang tadinya berontak pun mulai menari pelan. Orang-orang mulai mundur. Sementara Mbak Lami tampak ketakutan. Pandangan Arum berubah, matanya sekarang tertutup, dia menari sendiri. Tubuhnya meliuk seperti menghipnotis semua yang melihat. Dari surau Abah Khuri pun makin kencang berdzikir.

Seluruh kampung seperti terhipnotis oleh suara gamelan. Yang kuat iman, mereka memilih ke surau dan berdzikir. Tapi banyak juga yang memilih ke area Lengger.

"Jangan Rum, jangan, aku minta maap!" teriak Mbak Lami. Tapi semua penonton tak ada yang menghiraukannya. Ia pun menyalakan kemenyan lebih banyak dan menggores tangannya sampai darah itu keluar dan ditaruh di atas kemenyan yang dibakar tadi.

"Siapa yang membangunkanku!" teriak seorang wanita tua. Suaranya terdengar dari mulut Mbak Lami. Wajahnya pun mulai berubah, sorot matanya jadi merah.

Ia pun mulai menari, seakan ada pertarungan antara Lami dan Arum. Tapi itu bukan tarian lengger yang biasa mereka lihat, gerakan keduanya pun terasa sangat menghipnotis. Mereka berputar dan tanah di sekitar area lengger seperti turun ke bawah, menyeret orang-orang yang larut dalam alunan gamelan.

Bahkan para pemain gamelan pun seperti bermain tanpa sadar, mata mereka tertutup semua. Rumadi dan Harjo yang sering kesurupan, rupanya mereka melihat ada yang salah. Keduanya sadar dan merapal doa yang mereka tahu, perlahan mundur dan menjauh dari area lengger.

Satu persatu rumah yang ada di sekitaan itu ikut masuk ke bawah, tarian Arum dan Lami pun makin mengerikan, mulai mengeluarkan aroma busuk, kematian.
Rumadi segera mengajak Harjo lari, di depan mata mereka ada empat puluh atau lima puluh rumah tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Hanya Surau yang ada di ujung kampung satu-satunya yang masih berdiri.

Rumadi dan Harjo pun dengan terengah-engah tiba di surau. Abah Khuri yang tau akan kedatangan mereka segera memberi air pada keduanya. Mereka pun langsung pingsan, karena banyak sekali makhluk gelap yang mengelilingi kampung mereka.

Ada sekitar dua puluh orang dewasa dan delapan anak-anak berhimpitan dalam surau kecil itu. Berdzikir dan bersholawat sampai pagi. Hingga jam empat terdengar lengkingan panjang, entah suara Arum atau Lami, karena gamelan itu masih terdengar sampai subuh.

Jam lima, akhirnya Abah Khuri mengajak pergi ke area lengger, ternyata sudah rata dengan tanah. Tak ada satu pun yang tertinggal. Hanya sisa Mbak Sur yang kepalanya terpotong. Lami yang darahnya mengering dan Arum yang masih hidup, tapi napasnya tinggal satu-satu.

"Menarilah karena ingin menghibur, bukan menggoda. Menarilah untuk mengajarkan kelemah lembutan, bukan persaingan. Jangan adakan perjanjian dengan makhluk apapun. Ingatlah Allah Dia satu-satunya yang menjamin hidup kalian."

Pesan yang disampaikan Arum sebelum mengembuskan napasnya. Tak lama orang-orang dari kampung sebelah berdatangan.

"Abah, kami mau buat pengakuan," kata Rumadi dan Harjo barengan.

Mereka meminta tolong mencabut beberapa barang yang dipakai. Konon katanya agar jadi berani dan disegani. Dari mereka juga Abah Khuri tahu, kalau para penari lengger, biasanya memakai susuk. Bahkan yang lebih menyeramkan, adakan perjanjian dengan ratu ular seperti Mbak Sur. Konon kalau menari akan menghipnotis para laki-laki.

Sudah berbulan-bulan lalu, Mbak Sur ingin membatalkan perjanjiannya, tapi tidak bisa. Ia pun sempat terbersit untuk bunuh diri. Namun siapa sangka, dia malah mati karena diracun. Harjo sendiri yang melihat Lami menuangkan racun ke minuman Mbak Sur.

Sedangkan menghilangnya dusun Kermon, diduga karena amarah dari sang ratu ular karena anaknya yang merasuki tubuh Mbak Sur dipotong oleh warga.
Sekarang dusun itu lebih dikenal dengan nama dusun lengger.

Tamat

Bumi Amungsa 16 Juli 2020

HIlangnya Dusun Lengger
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 17 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2

Indeks Link

profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ribkarewang
Lihat 4 balasan
Untung langsung tamat bisa jadi tempat kumpulan cerpen horor nih... 😂😂
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Wow, keren. Nunggu cerpen horor berikutnya
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Hufff kisahnya kerenn.... 👍👍
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bagus gini, lebih berasa action drpd serem.






apa krn bacanya sore2 ya?
emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Enak dibaca gaya bahasa nya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anuku28cm dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eyang.sange dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh newterminalcgk
Lihat 1 balasan
ceritanya menarik banget dan tidak seram namun dapat maknanya emoticon-2 Jempol

Keren...emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anuku28cm dan 2 lainnya memberi reputasi
ehmm bagus bagus makin jelek aja salah satu budaya Nusantara .... good joobbb 👍
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi
Momy Rewang di Kaskus juga 😍
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Sama juga, Mom. Kita sama-sama belajar
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan ribkarewang memberi reputasi

TANGISAN TENGAH MALAM

HIlangnya Dusun Lengger

Pagi ini suasana kantor masih sepi, tapi kami sudah datang, gara-gara semalam Bram dan Heru mengajak ke rumah tua yang sudah dua belas tahun tak berpenghuni. Keduanya selalu dengar suara tangisan, mungkin karena kamar mereka di lantai atas. Beda dengan kamarku.

Awalnya mereka pikir itu suara hantu, selama satu minggu ini mereka tidak bisa tidur tenang, rasa-rasanya tangisan itu seperti mau minta tolong, terlalu menyayat hati. Tapi mereka tidak berani melihat dan semalam mereka pun mengajakku untuk mengecek ke dalam rumah kosong itu.

Jam satu tadi malam kami keluar rumah, tapi hanya sampai di pagar, karena rumputnya tinggi sekali, takut ada binatang, mana sudah tengah malam, tapi tangisan itu menyedihkan sekali.

"Bram, menurut kamu itu, hantu?"

"Bukan, aku sudah pelajari, tangisannya itu hanya di jam dua belas sampai jam dua an. Masak hantu pakai jam?"

"Iya juga sih. Tapi ... aku jadi ikut penasaran, kenapa baru semalam ya kudengar?"

"Karena kamu tidur kebo, Gung," jawab Heru tertawa. Aku hanya nyengir, dua teman kerja yang sekarang kost di rumahku memang kadang agak rese. Jujur sejak kematian teman di kantor karena bunuh diri, aku sedikit trauma dengan hantu. Kalau ingat bagaimana dia curhat dan bicara tentang rencanyanya untuk bunuh diri. Ah, rasanya masih mual perutku kalau mengingatnya.

Aku hanya nyengir menanggapi gurauan Heru, kami pun sepakat pulang kantor langsung ke rumah tua. Buat mengobati rasa penasaran kami. Jam empat sore kami tiba di rumah dan bergegas ke rumah kosong.

"Hati-hati, Gung. Coba liat dari pintu belakang, jangan lupa bilang Pak RT," kata Ibu. Aku hanya mengiyakan, kami bawa parang, lampu, masing-masing pakai sepatu boot. Beberapa tetangga bahkan ikut membantu saat tau kami mau bersihkan rumput.

"Kami juga agak terganggu dengan suara tangisan itu, awalnya kami kira orang main-main, maklumlah rumah itu kosong. Kemarin sudah bilang Pak RT buat kerja bakti Minggu ini," kata Pak Bowo yang rumahnya persis samping rumah kosong.

Rumah itu sebenarnya yang paling besar dan luas di komplek kami, dulu, dikelilingi bunga-bunga bagus. Tapi sejak pemiliknya meninggal, tidak ada yang mau merawat rumahnya, sudah banyak pengontrak ataupun saudara yang menempati, tapi tidak ada yang betah. Alasannya menyeramkan. Tapi kalau kulihat mungkin karena mereka tidak mau merawat tanaman yang banyak di sekeliling rumah.

Tujuh lelaki dewasa, tak menunggu lama saat adzan maghrib berkumandang kami selesai bersihkan semak-semak di depan dan samping. Empat tetanggaku pamit pulang, sementara kami duduk di teras sambil merokok.

"Kakak, Kakak ..." terdengar suara wanita memanggil kakaknya. Spontan kami berdiri dan mencari arah suara itu.

"Kakak, aku lapaar," suara itu lagi. Kami pun jalan ke belakang, lewat samping dan harus menyibakkan beberapa tanaman yang mulai tinggi. Tapi begitu sampai di belakang ada pintu. Tunggu dulu, kenapa jalanan di belakang rumputnya tidak terlalu tinggi? Ada pintu juga.

"Gung, di belakang rumah ini kan rumahnya Pak RT?" bisik Heru. Bram pun mengiyakan, sementara aku makin penasaran. Bagaimana mungkin rumah yang dari depan tampak menyeramkan, di belakang terlihat rapi? Kami pun menuju ke pintu, sepertinya pintu ini masih baru, tak tampak kusam seperti pintu lain.

Tidak terkunci, dan langsung ke belakang rumah Pak RT, kami pun segera menutupnya, jantung kami mulai berdegup. Rahasia apa yang disembunyikan olehnya?
Pandangan kami langsung tertuju ke rumah utama. Lagi-lagi kami tercengang, dari belakang rumah itu tampak rapi, seperti ada penghuninya.

Jiwa muda kami mungkin yang membuat kami berani, pelan kami buka pintu dan lagi-lagi kami dibuat terkejut. Ada wanita di sana yang kakinya terpasung. Perutnya besar, rambutnya gundul seperti habis di cukur. Sepertinya gila, tadi dia terawat, bersih tidak ada bau kencing atau kotoran.

Wanita berumur tiga puluh limaan itu kaget saat melihat kami. "Kakak, aku mau kakak, aku mau pulang!" teriaknya. Dia pun mulai membuat suara gaduh, teriak dan menjerit sementara kami malah kebingungan. Kenapa ada wanita di rumah ini, siapa yang memasungnya? Tapi aku sepertinya kenal dengannya.

"Kamu siapa? Rumahmu di mana?" tanyaku lagi. Rasanya aku pernah melihatnya tapi di mana. Oh iya, aku ingat, ternyata dia Mbak Arum, adiknya Bu RT yang dikabarkan hilang sejak batal menikah.

Baru saja mau memanggil namanya, tiba-tiba semua terasa gelap, kepalaku sakit. Saat membuka mata, Bram dan Heru sudah terkapar, darah membasahi lantai. Sementara Pak RT dan Pak Bowo sudah berdiri di depanku. Ah sial! Pak Bowo kan adiknya Pak RT, dasar tolol kamu, Gungi! Benda tajam itu rasanya memutus semua urat-uratku. Semua gelap dan tak ada lagi yang bisa kuingat. Tiba-tiba bayangan Satrio dan gadis kecil tersenyum berkelebat.

-----------------------------------------

"Gung, kamu sudah bangun?" Suara lembut Ibu menyadarkanku.

"I-Ibu? Bram? Heru? Mbak Arum?" Duuh, kepalaku rasa sakit. Berdenyut kuat sekali, entah apa yang terjadi, aku tidak bisa mengingat apapun.

"Bram dan Heru sudah di makamkan tiga hari lalu, Arum sudah melahirkan. Pak RT dan Pak Bowo sudah ditahan," jelas Ibu. Aku hanya bisa menelan ludah menahan sakit. Lima belas jahitan di kepala. Tiga puluh jahitan di perut dan siku juga lutut yang retak, sungguh tak sebanding dengan rasa penasaran kami.

Ibu jelaskan kalau selama ini Arum stres dan sedikit linglung sejak calon suaminya membatalkan pernikahan mereka. Bukannya diobati, Pak RT malah menggauli adik iparnya itu bergantian dengan Pak Bowo sang adik. Bu RT yang selama ini melihat kelakuan suaminya hanya diam karena alasannya diancam cerai.

"Yang selamatkan aku siapa, Bu?" tanyaku penasaran.

"Si Satrio datang, dia ketuk pintu, katanya suruh nyari kamu di rumah angker. Sebetulnya Ibu sudah penasaran dengan rumah itu sejak lama, karena pernah ke Pak RT, tembok belakangnya kok sekarang nempel, padahal dulu nggak," jelas Ibu. Karena gugup Ibu bahkan tidak ingat kalau satrio sudah meninggal. Spontan Ibu panggil tetangga semua juga menghubungi polisi.

Saat masuk mereka temukan aku, Pak RT dan Pak Bowo pingsan, sementara dua temanku sudah tak bernyawa terkena sabetan parang. Ah, entahlah, kepalaku sakit, tidak bisa berpikir, semua terasa membingungkan. Tapi aku ingat, rasanya ada anak kecil di dalam rumah itu, siapa? Sedang Ibu bilang tidak ada, bahkan polisi dan warga sudah membongkar rumah tua itu seijin ahli warisnya. Atau itu hanya imajinasiku? Tapi seingatku dia yang menahan benda tajam itu mengenai wajahku.

Bumi Amungsa Juli 2020

HIlangnya Dusun Lengger
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ribkarewang
Lihat 1 balasan
Ok, absen emoticon-2 Jempol
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
Mntap ni crtanya.bkin mrinding.sya tnggu ksah slnjutnya ya gan.
Ndeprok dulu dh
Ngeri bet....
Daerah mana gan?
Siip. Nunggu cerpen yang lainnya. Kalau bisa yang nyeremin banget. Eh 😄
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
Lihat 1 balasan
good.
emoticon-Jempol
Lanjutttttt
Hmm klo gw ada di situ langsung gw ambil mic, teriak bubar bubar, gw colokin jack dari hp langsung ke input mixer, lalu gw puter lagu hardrock yg teriak teriak dari hp gw.. lalu gw puter frekwensi mid high ke atas.. demit demit kampung pasti nyerah dan bingung mau joged kyk mana lalu pergi.. cita cita jadi sound enginer to hero done.. 🤠😎
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di