CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Dendam Arwah dari Masa Lalu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0d7d3dc8208455b34bc5d5/dendam-arwah-dari-masa-lalu

Dendam Arwah dari Masa Lalu (Part 1--24 TAMAT)

Cerbung ini telah tamat ya. Terima kasih untuk semua pembaca setia cerbung ini

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Prolog

Nimas menatap Barata dengan perasaan sedih. Kekasihnya itu benar-benar melupakan apa yang telah dia korbankan dulu. Bahkan, dia meninggalkan keluarga yang memanjakan dan mencintainya untuk mengikuti lelaki itu. Semua ini karena gadis bernama Salindri itu. Dia tahu, dirinya tak lagi seperti yang dulu, tetapi apakah cinta bisa lenyap karena perubahan fisik semata?

Ya, kini dia tahu, lelaki hanya memuja kecantikan semata. Sementara dia menyerahkan segalanya, bahkan nyawanya.

Matanya memerah, memancarkan kemarahan. Tubuhnya yang hampir saja kembali sempurna, kini luruh dan mencair. Melesap dalam tanah bersama gerimis malam itu.

Sungguh, ini bukan sakit yang bisa ditahan oleh wanita itu. Kini dia akan benar-benar mati, tetapi tidak dengan jiwanya. Dia bersumpah, akan hadir untuk jiwa-jiwa yang terbakar dendam.

Tawa Nimas melengking, membuat bulu kuduk semua orang yang ada di tempat itu merinding.

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Ambar turun dari angkot dan menyewa ojek untuk sampai ke Desa Wonosukmo. Desa itu sangat jauh dan jalannya tidak bisa dilalui mobil. Entah kenapa, dia memilih desa itu sebgai tempat untuk mengabdikan ilmunya pada masyaarakat. Seperti apakah masyarakat di sana? Apakah mereka terbuka menerima pendatang?

Berbagai pikiran sempat terlintas dalam benaknya, tetapi ada yang lebih menguasai benak itu, yaitu rasa patah hatinya karena putus cinta. Dia berharap, tempat itu bisa menghapus kenangan sedihnya.

“Mbak, Mbak’e ini tinggal di Wonosukmo?” tanya tukang ojek sambil sedikit menoleh ke samping supaya Ambar mendengar pertaanyaannya.

“Nggak, Mas. Saya baru mau tinggal di sana.”

“Serius, Mbak?”

“Lha memangnya kenapa tho?”

“Gadis secantik dan semodern Mbak ini apa betah tinggal di desa terpencil seperti itu. Bahkan di sana sinyal internet saja susah.

“Wah, gitu ya?”

“Iya, Mbak.” Tukang Ojek memelankan laju kendaraannya melewati jalan berbatu. “Mbak’e ini kenapa mau tinggal di sana?”

“Saya bidan baru Mas, baru lulus. Harus mengabdi dulu selama tiga tahun.”

“Wah, semoga betah ya Mbak. Denger-denger sih, nggak ada bidan yang betah tinggal di sana. Paling lama tahan seminggu saja,” kata tukang ojek.

“Lha kenapa tho, Mas?” Kening Ambar berkerut, hatinya sangat penasaran.

“Nggak tahu, Mbak. Nggak jelas alasannya. Mereka pergi begitu saja,’ jawab si tukang ojek. “Mudah-mudahan Mbak’e kerasan di sana. Dokter nggak ada, puskesmas pembantu hanya dijaga perawat dan mantri, Mbak. Puskesmas itu sepi, jarang ada pasiennya.”

“Kenapa bisa begitu, Mas?”

“Maklum, Mbak, masyarakat sini masih percaya klenik.”

Deg! Ada yang berdentam dalam dada Ambar. Semacam ketakutan yang diam-diam muncul tanpa permisi. Gadis itu memandang sekeliling, hanya kebun tebu di sisi kiri, sementara di sisi kanan berupa semak belukar dan semacam hutan kecil. Pohon-pohonnya tinggi dan beragam jenis. Tiba-tiba Ambar merasa ada yang mengawasinya. Pandangannya memindai sekeliling. Hanya ada hijau tanaman. Namun entah mengapa firasatnya mengatakan hal buruk sedang mengintainya. Bulu kuduknya meremang. Dia memandang sang tukang ojek. Hatinya tenang ketika memandang spion, wajah itu masih wajah yang tadi dilihatnya.

“Berhenti di Puskesmas Pembantu, ya, Mas,” pinta Ambar ketika melihat tempat yang dituju sudah terlihat dari jauh.

“Baik, Mbak. O, iya, nama Mbak siapa?”

“Ambar, Mas.”

“Bidan Ambar. Ya, ya, harusnya saya memanggil dengan panggilan bisan Ambar,” kata tukang ojek. “Nama saya, Rahmat, Bu Bidan.”

“Oh, iya Mas Rahmat, terima kasih banyak informasinya.”

“Sama-sama, Bu,” kata Rahmat seraya menghentikan motornya di depan sebuah puskesmas pembantu. Ambar turun dan Rahmat membawakan tas besar Ambar hingga sampai di pintu puskesmas. Ambar memberikan ongkos kepada Rahmat dan pria itu mengucapkan berkali-kali terima kasih karena Ambar memberinya tip.

“Bu Bidan Ambar?” sambut perempuan yang papan namanya tertulis Yustini.

“Iya, Mbak, saya Ambar.”

“Selamat datang di Puskesmas Pembantu Wonosukmo,” kata Yustini, sang perawat. “O, ya, mau langsung saya antar ke rumah dinas?”

Ambar mengangguk. Gadis itu kemudian mengikuti langkah Yustini menuju sebuah bangunan kecil di belakang puskesmas pembantu. Sebuah rumah berukuran 6x4 meter, terlalu kecil untuk diseebut rumah. Konon itu sumbangan seseorang dermawaan untuk bidan di sana agar tak perlu mencari tempat kos.

Ambar memasuki rumah mungil yang dibuka Yustini. Tercium aroma bunga kenangan yang menyebar. Mungkin Yustini telah menyemprot pengharum ruangan, pikir Ambar. Sepertinya perawat iru sangat ramah dan menyenangkan. Semoga dia akan kerasan di sana.

Rumah itu hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur, yang kesemuanya serba mini. Namun, ruangannya sangat bersih. Di halamannya pun telah ditumbungi beberapa tanaman bunga. Tak jauh dari rumah dinas situ ada rumah Yustini, yang hanya terlihat bilaa Ambar berdiri di sisi selatan rumah itu. Setidaknya, dia tak jauh dari tetangga. Hatinya tenang. Meskipun lain dengan yang dirasa Yustini. Dia tak menyemprot ruangan itu dengan apapun. Dari mana harum kenanga itu bisa menyeruk indera penciumannya? Bulu kuduk Yustini mernding. Dia berharap, semoga Ambar tak kenapa-napa.

Bersambung di sini

Written by @cattleyaonly



Dendam Arwah dari Masa Lalu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cattleyaonly
Halaman 1 dari 5

INDEX LINK CERBUNG DENDAM ARWAH DARI MASA LALU (PROLOG--TAMAT)

profile-picture
rubyamora memberi reputasi
Diubah oleh cattleyaonly
Lihat 1 balasan

Dendam Arwah Dari Masa Lalu Part 1

Tak terasa, sudah tiga bulan Ambar tinggal di Wonosukmo sebagai bidan desa. Meskipun dia merasakan aura negatif rumah dinasnya, tetapi belum ada kejadian-kejadian aneh seperti yang di alami bidan-bidan terdahulu. Rasa takut terkadang mengganggunya, tetapi bisa ditepis dengan kehadiran Mbok Lasih, wanita tua yang merupakan petugas kebersihan di puskesmas.

Wanita tua itu sengaja dia minta untuk tinggal bersamanya. Kebetulan wanita itu janda dan anaknya sudah berkeluarga dan mempunyai rumah sendiri. Jika saja tidak ada Mbok Lasih, entah bagaimana keadaannya di situ. Mungkin Ambar akan sama dengan bidan-bidan sebelumnya, memilih pergi dan meninggalkan daerah pengabdian.

Sejauh ini, Ambar baik-baik saja, walau dia selalu merasa ada seseorang yang mengawasinya. Indra keenamnya berbicara. Meskipun pada kenyataannya, Ambar tak pernah melihat siapa-siapa

Namun kini, keadaan perlahan mulai berubah. Sejak kehadiram Seno dalam kehidupan baru Ambar. Seno adalah seorang guru SD yang berwajah tampan. Kadang Ambar merasa semua bagai mimpi. Di desa terpencil dekat hutan seperti itu, ada sosok pria menawan seperti Seno. Apakah dia dewa yang diturunkan dari kayangan untuknya?

Sejak Ambar dekat dengan Seno, perasaan takut perlahan itu memudar.
Mungkin, kekuatan cinta memang dahsyat.

Sebenarnya Seno bukanlah perjaka. Enam bulan yang lalu, istrinya yang sedang melahirkan dengan bantuan dukun beranak harus menemui ajal. Tapi bagi Ambar, status Seno yang duda itu tidaklah jadi masalah. Wanita itu terpesona pada Seno sejak pandangan pertama, ketika mereka bertemu pada kenduri yang diadakan kepala desa. Bukan hanya karena wajah Seno yang tampan, tapi juga sesuatu dalam mata pria itu membuat Ambar seakan tertarik ke dalam medan magnet. Semakin lama memandang, Ambar semakin terjebak dalam sesuatu mistis di matanya.

Ambar tak kuasa menghindar. Mereka pun berkenalan, kemudian terjadi beberapa kebetulan yang membuat keduanya semakin dekat. Sehingga tanpa disadari, Ambar sudah demikian jatuh cinta pada lelaki itu.

Ambar, wanita usia dua puluh dua tahun itu kini sedang memasuki ruang kerjanya. Dengan pelan dia membuka jendela, menikmati sepoi angin yang menyapa wajah.

“Ambar!” suara yang sangat dikenalnya memanggil. Wanita itu membalikkan badan. Dilihatnya Seno telah berdiri beberapa langkah di depannya, membawa seikat mawar yang tampak segar. Lelaki itu mengganti mawar kemarin yang sudah layu dalam vas di meja kerja Ambar. Dia tahu, kekasihnya sangat menyukai bunga itu. “Kita jadi pergi nanti siang?”

“Tentu saja, mas.” Ambar tersenyum. “Terima kasih mawarnya.”

“Sama-sama. Jadi, aku jemput sepulang kerja, ya?”

Ambar mengangguk. Seno berpamitan. Gadis itu memandang punggung sang kekasih yang menjauh. Rasanya waktu berjalan begitu cepat.

Waktu pun berlalu, Seno dan keluarganya melamar Ambar. Mereka telah memutuskan, akad nikah dan pesta pernikahannya diadakan di rumah Seno. Keputusan itu diambil agar orang tua Ambar yang tinggal seorang ibu tidak perlu repot. Orang tua Seno telah menyiapkan segalanya untuk perhelatan itu.

***

Siang itu Ambar dan Seno mengunjungi sebuah deretan toko perabot yang terletak di kota kecamatan. Entah kenapa, Ambar justru tertarik memasuki sebuah toko perabot bekas. Ada beberapa barang yang tampak istimewa di sana. Salah satunya adalah ranjang pengantin yang terbuat dari kayu jati berukir.

“Berapa ini, Pak?” tanya Ambar pada lelaki lima puluh tahunan, pemilik toko.

“Ini? Jika Bu Bidan mau, saya berikan gratis.”

Ambar terbelalak tak percaya. “Kok gratis, Pak? Apa nggak rugi?”

“Anggap saja ini hadiah pernikahan Bu Bidan dari saya.”

“Dari mana Bapak tahu saya mau menikah?”

Lelaki itu tertawa pelan. “Kita ini satu desa, Bu. Semua orang sudah tahu berita bahagia itu.”

“Oh, maaf.” Ambar mengerling pada Seno. Lelaki itu tersenyum.

“Ini Ki Barata, Mbar. Rumahnya dekat jalan menuju hutan,” kata Seno.
Ambar manggut-manggut. “Baiklah, Ki. Tapi jangan gratis ya? Sebut saja harganya,” kata Ambar merasa tidak enak. Ki Barata pun menyebutkan sebuah nominal yang sangat murah untuk ranjang jati yang cukup indah itu.

“Yakin, dengan pilihanmu, Sayang?” bisik Seno. Ambar mengangguk. Seno pun segera membayar ranjang itu.
Ambar tersenyum puas. Kemudian segera meninggalkan toko itu dengan riang.

Ki Barata memandang sejoli itu dengan senyum kebahagiaan. Mata yang biasanya menyorotkan rasa sedih itu kini tampak berbinar. Usahanya selama bertahun tahun sebentar lagi akan membuahkan hasil. Target telah masuk ke dalam perangkap.

***

Pernikahan Ambar dan Seno berlangsung meriah. Semua warga Desa Wonosukmo berduyun-duyun memberikan selamat kepada kedua mempelai. Ambar terlihat sangat bahagia. Beberapa kali dia mengerling pada Seno, pria tampan dan penyayang itu.

Ibu Ambar terharu dan sempat menitikkan air mata. Akhirnya anak semata wayangnya menikah. Tugasnya sebagai orang tua telah tuntas. Kini, andaipun meninggal, wanita tua itu rela.

Sore hari setelah akad nikah, wanita tua itu memutuskan untuk pulang meskipun Ambar menahannya. Rahmat mengantarkan wanita itu hingga mendapatkan angkutan umum.

Sementara itu, kamar pengantin Ambar dan seno, ranjang jati telah mengkilap dipelitur ulang. Untaian bunga tampak di sana sini. Seprei kuning gading menutup kasur busa di bawahnya.

Ambar duduk di depan meja rias, mengurai rambutnya yang lengket oleh hairspray. Membersihkan sisa-sisa make up kemudian mandi. Air di desa itu sangat dingin dan segar, membuat lelahnya sedikit berkurang.

Sehabis makan malam, ambar dan Seno duduk berhadapan di ranjang. Jodoh memang aneh. Hubungan Ambar yamg 3 tahun dengan kekasihnya dahulu kandas di tengah jalan. Justru di tempat terpencil, tempat dirinya melarikan diri dari kesedihan, dia menemukan orang yang benar-benar menyayanginya. "Cubit aku!" kata Ambar.

"Kenapa harus mencubit?"

"Ini bukan mimpi, kan?"

Seno mencium pipi Ambar. "Apa ini terasa?" tanyanya seraya menarik sang istri ke dalam pelukannya.

"Ayo kita beribadah." Seno mengedipkan sebelah matanya.

Ambar tersenyum dan memahami apa yang dimaksud sang suami. “Sebentar. Aku ke kamar mandi dulu,” kata Ambar sambil melepaskan pelukan sang suami.

“Jangan lama-lama,” kata Seno. Ambar mengangguk seraya keluar kamar. Sebagai bidan dia ingat betul nasehat dosennya untuk selalu mengosongkan kandung kemih ketika hendak berhubungan intim. Karena hal itu akan menurunkan risiko infeksi saluran kemih pada wanita.

Ambar memasuki kamar mandi. Ada aroma aneh yang tercium. Semakin lama, aroma itu semakin menyengat. Bergegas Ambar duduk di kloset, menuntaskan hajatnya.

***

Seno tersenyum melihat sosok yang menyerupai istrinya memasuki kamar. Tanpa banyak kata, lelaki itu mulai dicumbui sosok itu. Ambar jadi-jadian itu pun memberikan balasan yang tak kalah panas. Malam pertama pun berlangsung dengan menggairahkan. Tetesan darah menempel di seprei. Seno terkapar puas. Mata lelaki itu terpejam dengan senyum menghias bibirnya.

***

Ambar tersentak, seperti terbangun dari lamunan yang panjang. Entah sudah berapa lama dia duduk di kloset itu.
Bergegas dipencetnya tombol penyiram WC. Wanita itu tersenyum senang karena sang mertua menyiapkan rumah dengan fasilitas yang cukup mewah untuk ukuran sebuah rumah di kampung. Maklum, orang tua Seno termasuk salah satu orang kaya di desa itu.

Ambar berjalan ke kamarnya dan mendapati sang suami telah tertidur. Enggan membangunkan, dia pun segera naik ke ranjang. Tampak beberapa tetes darah menodai sepreinya. Keningnya berkerut hebat. Apa yang sebenarnya terjadi? Dilihatnya wajah sang suami yang tampak tersenyum dalam tidur. Ambar memutuskan untuk berbaring di sisi suaminya dengan tanya yang berkecamuk dalam dada

Bersambung DI SINI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cattleyaonly
Lihat 1 balasan
Reserved
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
Ada lanjutannya ga? Kok gantung ga sesuai judul..
Lihat 4 balasan
Ditunggu lanjutannya ijin bikin tenda
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Sangat di tunggu lanjutannya Budok. Gambarnya serem banget.emoticon-Takutemoticon-Takut
Eh, btw, ada bunga kenangan tuh di atas.😁
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Pulpen mana ini... Mau isi daftar antrean update-an nya emoticon-Big Grin
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Dendam Arwah dari Masa Lalu (Part 2)

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Seno membangunkan istrinya yang masih tertidur. “Bangun, Sayang,” bisiknya.

Ambar hanya menggeliat. Wanita itu tak kuasa membuka matanya. Dia baru tertidur dini hari karena perasaan gelisah.

Matahari sudah tinggi. Seno duduk di sisi Ambar dan terlihat sudah rapi. Aroma kayu manis tercium dari parfum yang dipakai Seno.

"Jam berapa sekarang?" tanya Ambar sambil meregangkan badannya, tangannya terentang ke samping.

"Jam tujuh. Mandilah, aku tunggu di meja makan."

"Kenapa kau tak membangunkanku? Aku kehilangan waktu Subuh."

"Maaf, aku tak tega membangunkanmu. Kelihatannya kau sangat lelap.

Dengan mata yang masih mengantuk Ambar menyeret langkah keluar kamar. Seno berjalan ke meja makan yang telah penuh dengan aneka makanan. Mungkin mertua atau kakak ipar Ambar yang menyiapkan itu semua. Rumah mereka bersebelahan.

Ambar segera mandi dan menyusul suaminya di meja makan. “Maafkan aku, Mas.” Ambar menghempaskan tubuhnya di kursi.

“Tak apa,” kata Seno sambil mengelus kepala sang istri. “Terima kasih yang tadi malam.” Seno tersenyum manis.

“Apa?” Mata Ambar membulat.

“Kamu sungguh hot.”

“Kamu mimpi!” Ambar bersungut-sungut.

“Mungkin.” Seno menjawil pipi ranum istrinya. “Kalau begitu, aku ingin tiap hari bermimpi seperti itu.” Seno tertawa menggoda. Ambar tampak manyun. Ada hal yang ingin ditanyakannya, tapi dia merasa sungkan.

Malam kedua pernikahan, Ambar pun mengalami hal yang sama. Seperti kehilangan kesadaran saat memasuki kamar mandi dan ketika masuk kamar mendapati sang suami telah tertidur dengan wajah kelelahan namun terlihat puas. Juga ada bercak darah di atas seprei.

Waktu terus berjalan. Sudah seminggu Ambar menikah dengan Seno, namun tak sekali pun dijamah oleh sang suami. Ambar tak tahan lagi menyimpan teka-teki yang membuatnya gundah. Wanita itu pun menceritakan semua pada Seno, bahwa dia sama sekali belum pernah melakukan itu dengan sang suami.

“Jadi, selama ini aku melakukannya dengan siapa?” Wajah Seno memucat. Lelaki itu merasakan kengerian yang sangat. Bulu kuduknya merinding membayangkan dirinya bercinta dengan sesuatu yang tak kasat mata.

Ambar menggeleng. “Tahukah Mas kenapa aku mengganti sepreinya tiap hari? Ada bekas noda darah di sana.”

Bulu kuduk Seno meremang hebat. “Ambar, bagaimana kalau kita jangan berhubungan dulu sampai misteri ini terkuak?”

Ambar mengangguk. Dia kini merasa gerak-geriknya diawasi. Pandangannya menerobos keluar jendela, tak ada siapa-siapa!

***

Rumah kecil di dekat hutan terlihat sepi. Pemiliknya, Ki Barata, sedang membakar dupa dan merapalkan mantra. Menghadap pada sebuah kerangka manusia yang diberinya gaun putih berenda. Sementara malam, bulan, dan lolongan srigala saling melengkapi sebentuk kengerian.

“Sebentar lagi, Nimas. Sebentar lagi kita akan bersatu kembali, seperti dulu.” Ki Barata berbicara pada kerangka istrinya, yang meninggal dua puluh lima tahun lalu.

Dengan ilmu yang telah didapatnya dari seorang pertapa sakti, Ki Barata akan menghidupkan kerangka istrinya. Mencuri jiwa sepasang pengantin yang mempunyai ciri yang cocok sebagai korban. Perlahan, kehidupan dalam diri Seno akan dihisap tubuh Nimas, melalui persetubuhan yang mereka lakukan di atas ranjang keramat mereka. Kerangka Nimas digerakkan oleh mantra sakti yang dirapalkan Ki Barata. Mantra itu juga bisa membuat Nimas bisa menyerupai sosok Ambar.

Malam mulai larut. Nimas sudah bangkit dari tidurnya. Memandang sang suami sekilas dan dalam sekejap mata sampai di kamar Ambar dengan menembus dinding-dinding yang ada.
Tampak oleh Nimas, Ambar dan Sena telah tidur berpelukan. Mantra sirep yang dikirim Ki Barata sebelum Nimas memasuki kamar telah bekerja sempurna. Dia tahu, sepasang suami istri itu masih ingin berjaga untuk menguak misteri sosok Ambar palsu. Namun kini mereka telah dibuat tidak berdaya.

Nimas melintas di depan kaca rias. Dia berhenti sejenak. Memandang wajahnya di cermin. Kerangkanya sudah mulai ditutupi daging. Matanya tampak melotot tanpa adanya kelopak dan kulit yang menutupi wajah serta seluruh tubuhnya. Dia harus bersabar. Sebentar lagi kekuatan dalam tubuh Seno akan direnggutnya, dan tubuhnya akan menjadi sempurna. Dengan tetesan darah Ambar, maka jiwanya akan terlahir kembali dengan sempurna.

Tak membuang waktu, dengan acungan telunjuknya, tubuh Ambar berpindah ke sofa. Nimas membangunkan Seno. Dengan kekuatan mistis, membuat lelaki itu tak bisa menguasai diri. Dia mencumbui tubuh Nimas dengan penuh gairah.
Setelah selesai peegumulan itu, Nimas mengembalikan tubuh Ambar di posisi semula. Sementara Seno merasa telah bermimpi bercinta dengan istrinya.

***

Ambar menatap wajah sang suami, pucat seperti kurang tidur, atau kurang darah. “Mas, kamu seperti nggak sehat.”

Seno memandang wajahnya di cermin. Sepertinya Ambar benar, dirinya tidak sehat. Tubuhnya pun terasa lemah.
Ambar segera memeriksakan suaminya ke dokter. Seno didiagnosis menderita anemia dengan penyebab yang belum dapat dipastikan. Lelaki itu tak mau dirawat di rumah sakit meski dokter menganjurkan.

Kini, Ambar hanya terpaku memandangi tubuh sang suami yang terbaring lemah di ranjang. Hatinya gelisah. Merasakan ada yang salah dalam pernikahan mereka. Bahkan sampai detik itu Ambar masih perawan dan suaminya menderita sakit yang aneh.

Orang tua Seno sangat kuatir dengan keadaan anaknya. Karena pengobatan medis tak menunjukkan hasil, mereka sepakat memanggil seorang paranormal.

Paranormal yang dipanggil orang tua Seno mengatakan, kalau lelaki itu sedang diguna-guna. Dia memberikan jampi-jampi dan penangkal di sekitar ranjang yang ditiduri Seno.

Penangkal yang mengelilingi ranjang Seno hanya membuat Nimas yang datang malam harinya merasa sedikit terganggu. Dengan kesaktian yang dimiliki Ki Barata, Nimas bisa menembus rintangan yang dibuat paranormal itu. Kembali makhluk itu bercinta dengan Seno dengan penuh kenikmatan. Tubuhnya menjadi bertambah segar. Namun, Seno hanya merasa bermimpi tengah bercinta dengan sang istri. Lelaki itu tak merasa aneh. Dia hanya mengira mimpi itu terjadi karena dirinya menahan keinginan bercinta dengan Ambar.
Di malam ke empat puluh, Nimas datang untuk menggenapi syarat. Seno pun menghembuskan nafas terakhir setelah bercinta dengan Nimas. Lelaki itu terbujur kaku kehabisan darah. Semua energi kehidupannya telah diambil dengan purna.

Pagi harinya, sang istri terkejut ketika mendapati Seno sudah tak bernyawa. Tangisnya pun pecah penuh kepiluan.
Segala keanehan yang terjadi diungkapkannya pada sang mertua. Namun, orang tua Seno tetap berpendapat bahwa semua itu karena guna-guna. Mereka berharap Ambar bersabar atas musibah itu.

“Ibu, besok pagi saya akan kembali ke kota,” kata Ambar pada sang mertua.

“Ambilah cuti beberapa waktu, sampai dirimu tenang,” kata sang mertua sambil membelai rambut Ambar.

“Maksud saya, saya ingin berhenti menjadi bidan di sini.”

Sang mertua memandang wajah Ambar dengan sendu. Wanita tua itu cukup memahami trauma yang dirasakan Ambar. “Semoga kamu kembali ke sini, Nak. Desa ini membutuhkanmu.” Sang mertua memeluk bidan muda itu. “Sekarang, tenangkan dulu hatimu.”
Ambar mengangguk. Terisak dalam pelukan ibu mertua.

***

Malam itu terasa sangat sunyi. Para pelayat dan orang-orang yang tahlilan sudah beberapa saat lalu pergi. Ambar membuka lemari dan mulai mengeluarkan baju-baju miliknya untuk dimasukkan ke dalam koper. Sejenak dia memandang foto pernikahannya. Wajah mereka tampak bahagia. Kini kebahagiaan itu telah direnggut paksa entah oleh siapa.

Ambar mendesah. Memandang sekilas jarum jam yang menunjukkan pukul dua belas malam. Dirinya baru saja hendak merebahkan badan ketika mendengar suara ketukan di pintu. Mungkin itu mama mertua yang malam ini tidur di rumahnya. Walau sebenarnya, rumah mertua hanya berada di sebelah.
Ambar turun dari ranjang dan membuka pintu. Tampak di depannya, sosok mengerikan dengan mata melotot tanpa kelopak dan otot-otot tubuhnya tak tertutup kulit. Ambar menjerit. Berusaha mendorong makhluk itu dengan kotak tisu yang secara serampangan diraih dari meja riasnya, kemudian berlari ke kamar sang mertua untuk mencari bantuan. Namun mama mertua tak membuka pintu meski gedoran di pintu cukup keras hingga tangannya sakit.
Merasa tak mungkin mengharapkan sang mertua, Ambar berlari menuju pintu belakang, keluar dan mulai berteriak-teriak, berharap para tetangga bangun. Namun, sampai serak suaranya, tak ada seorangpun yang keluar dari pintu tetangga. Sementara makhluk mengerikan itu mengikutinya dari belakang.

Ambar berlari ke arah pos ronda, tetapi sepi. Hasip yang biasa berjaga, tak kelihatan batang hidungnya. Ambar terus berteriak dalam keremangan malam yang disinari bulan purnama. Di pertigaan jalan, muncul Ki Barata dengan pedang terhunus dan sosok Seno yang menyerupai mayat hidup.
Ambar terus berlari dan berteriak. Meski teriakannya seperti angin lalu. Desa itu seperti desa mati tanpa penghuni. Langkahnya terseok. Lelah membuat otot-otot kakinya melemah, larinya melambat.

Tanpa terasa Ambar sampai di sisi hutan. Jalannya buntu. Satu-satunya tempat bersembunyi hanya hutan yang masih dipenuhi ular berbisa dan binatang buas lainnya. Wanita itu nekat memasuki hutan. Bibirnya tak lagi berteriak. Bidan muda itu mulai pasrah. Merapalkan doa-doa yang dihafalnya, sambil terus berjalan masuk hutan. Batang-batang tanaman perdu menggores kakinya. Perih tak lagi terasa. Kalah oleh rasa takut pada mahluk tanpa kulit yang mengerikan itu, juga Ki Barata yang membawa pedang serta mayat hidup yang mirip sang suami.

Dalam kepanikannya, bidan muda itu mencoba memahami apa yang terjadi. Namun nihil. Otaknya tak mampu memberikan jawaban atas semua keanehan ini. Perlahan, air matanya meleleh.

Ambar menghentikan langkahnya. Duduk di akar besar sebuah pohon. Kakinya tak kuat lagi berjalan. Wanita itu berusaha melihat sekeliling. Namun hanya kegelapan yang ada. Rimbun tanaman tak mampu ditembus cahaya bulan.

Setelah cukup beristirahat, Ambar kembali berjalan tak tentu arah. Kali ini dia berada di tempat yang pohonnya tak terlalu rimbun. Kini tampak di depannya sebuah jurang.
“Menyerahlah, Bu Bidan!” Suara itu mengejutkan Ambar. Wanita itu berbalik. Tampak di depan, Ki Barata dengan pedangnya yang berkilat ditimpa cahaya bulan.

“Apa yang kamu inginkan dariku?!” teriak Ambar.

“Aku hanya ingin nyawamu, untuk menghidupkan istriku!”

“Kau gila! Jadi monster itu istrimu?” Ambar kini mulai memahami apa yang terjadi. Tapi kenapa harus dirinya dan sang suami yang dijadikan tumbal?

“Diam! Serahkan saja nyawamu!”

“Tidak akan!”

Ki Barata tertawa. Meningkahi lolongan serigala di kejauhan. Tiba-tiba muncul makhluk tanpa kulit itu di sisi kirinya dan Seno yang sudah berwujud mayat hidup di sisi kanannya. Tak ada jalan bagi Ambar untuk melarikan diri, kecuali jurang di belakangnya.

“Bertaubatlah, Pak Tua, jalanmu sesat!” Ambar berusaha melawan dengan kata-katanya. Berharap keajaiban akan terjadi.

“Jangan mengajari orang tua!” Ki Barata mendengkus kesal. Perlahan dia mulai berjalan mendekati wanita yang ketakutan itu. Mayat hidup dan makhluk tak berkulit itu pun kian mendekat. Ambar merasakan tubuhnya gemetar dan dingin. Jantungnya berdetak cepat. Pandangannya tak sekejap pun lepas dari tiga mahkluk itu.
Dalam keadaan terdesak, Ambar cepat membuat keputusan, sebelum semua terlambat. “Ya Allah, ampunilah segala dosaku,” ucap Ambar sambil melompat ke jurang. Lebih baik dirinya mati di sana daripada menyerahkan hidupnya pada iblis.

Air mata wanita muda itu meleleh di pipi. Tubuhnya terus melayang ke bawah. Mungkin inilah akhir riwayatnya.

Bersambung DI SINI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cattleyaonly
Lihat 1 balasan
nyimak gan, cerita horor emoticon-Takut
emoticon-Sundul
profile-picture
profile-picture
nandeko dan cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Jejak di sini yaemoticon-Embarrassment
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
L a n j u t
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
seru juga nih cerita seremnya 😁
ijin meneduh ya gan
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Wahh ane paling merinding ketika mencium bau kembang setaman gan 🤧 ntah kenapa hawa nya langsung beda kalo ada bau kembang setaman
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
wahh.. serem nih
profile-picture
profile-picture
fikrionly dan cattleyaonly memberi reputasi

Dendam Arwah Dari Masa Lalu (Part 3)

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Ki Barata memandang tubuh Ambar yang melayang ke dalam jurang dengan keputusasaan dan amarah. Dia tak bisa meraih tubuh itu dengan mantranya. Kekuatan yang dimiliki telah terkuras selama empat puluh hari ritualnya. Di malam purnama itulah kesempatannya mengembalikan jiwa Nimas. Namun kesempatan itu kini musnah.

“Arrrggghhh!!!” Pria itu berteriak frustasi. Suaranya menggema dan membuat binatang-binatang malam berhenti berbunyi. Bahkan anjing-anjing hutan meringkuk ketakutan.

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Ki Barata menancapkan pedangnya dengan kasar ke tanah. Napasnya memburu. Sedangkan Seno berdiri dengan wajah datar dan mata yang mati. Sebentar lagi, bersama dengan munculnya sinar mentari, tubuh seno akan menghilang, sementara Nimas, akan kembali menjadi kerangka. Usaha Ki Barata sekian lama akan menjadi sia-sia.

Betapa tidak, lelaki tua itu telah memulai usaha dengan menakut-nakuti para bidan desa, agar bidan-bidan itu segera berganti dengan Ambar. Target yang diketahui dari penerawangannya. Bahkan, dia juga harus membunuh istri Seno ketika melahirkan, dengan mengirim guna-guna. Menciptakan kebetulan-kebetulan antara Seno dan Ambar, membuat dua orang itu saling jatuh cinta, serta membuat mereka tertarik untuk masuk tokonya.

Ki Barata terduduk di tanah. Peluhnya bercucuran meskipun udara sangat dingin. Dari ufuk timur muncur fajar. Tubuh Semo perlahan raib, sedangkan Nimas limbung ke tanah. Satu per satu otot Nimas menghilang. Menciptakan jerit kesakitan pada makhluk itu. Ki Barata menangis keras. Suaranya terdengar mirip lolongan serigala yang terluka. Bagaimana dia bisa melihat kekasih yang dicintainya menderita seperti itu?

Lelaki lima puluh tahunan itu memeluk tubuh istrinya yang telah kembali menjadi kerangka. Dia melepaskan sarung yang dikalungkan di lehernya kemudian memakaikan ke kerangka Nimas. Berjaga-jaga agar tak ada yang melihat kerangka Nimas. Siapa tahu ada warga desa yang berkeliaran di sekitar rumahnya.

“Nimas, maafkan aku,” bisik lelaki tua itu. Perasaan bersalah yang teramat besar pada Nimaslah yang membuatnya terjatuh dalam perbuatan Syirik. Mempelajari ilmu-ilmu sihir pada seorang pertapa dan bersekutu dengan iblis. Perjanjian yang tak pernah disesali, menghambakan diri pada makhluk yang diusir Tuhan dari syurga itu dengan imbalan istrinya dapat hidup kembali.

***

25 tahun yang lalu.
Nimas, gadis yang sangat cantik kala itu. Bahkan dialah gadis tercantik di desanya. Gadis itu memiliki hidung mancung, mata indah, rambut ikal dan panjang. Dia anak seorang tuan tanah di desanya. Ayahnya memiliki pegawai yang banyak untuk mengerjakan sawah. Termasuk Barata muda dan emaknya . Mereka telah lama menjadi buruh tani yang mengabdi pada Pak Jumadi, ayah Nimas.

Kala itu, musim panen tiba. Nimas dengan riang berjalan di pematang sawah. Melihat-lihat para pegawai ayahnya memetik padi yang telah menguning. Mata gadis itu membulat indah ketika melihat sosok yang dicarinya.

“Mas Barata!” teriaknya.

Barata yang sedang memotong padi dengan ani-aninya mendongak, kemudian melemparkan seulas senyum. Lelaki muda itu bergegas menuju Nimas.

“Jangan temui dia, Le, kalau juragan Jumadi tahu, dia bisa marah.” Emak Barata yang berada tak jauh dari situ mengingatkan anaknya.

Barata hanya nyengir. Lelaki berumur dua puluh lima tahun itu baru sekali itu jatuh cinta. Untuk ukuran kampung, dia termasuk bujang lapuk. Sebenarnya banyak gadis yang menginginkannya, karena wajahnya cukup tampan, tapi dia hanya menyukai anak sang majikan yang baru berusia delapan belas tahun.

Barata telah berada di depan Nimas. Gadis itu tersenyum manis. Senyum yang membuat jantung lelaki muda itu berdegup lebih kencang.

“Kita ke sungai, yuk?” ajak Nimas.

“Ayo.”

Dari jauh, Mak Maesaroh--wanita yang melahirkan Barata-- menjadi gelisah. Dia tahu, ayah Nimas tak suka pada anaknya. Tidak sederajat, itulah alasan Pak Jumadi menolak kehadiran Barata dalam kehidupan Nimas. Wanita tua itu memaklumi sikap juragannya. Mungkin anaknya saja yang tidak tahu diri. Bagaimana mungkin anak orang miskin seperti dirinya bermimpi mempersunting anak seorang juragan? Emak Barata mendesah. Wanita itu merasakan firasat buruk, meski mencoba menepisnya dengan pikiran positif.

“Astaghfirullah ...,” desahnya sambil kembali memetik tangkai-tangkai yang dipenuhi bulir-bulir padi menguning. Barata dan Nimas telah hilang di balik jajaran pohon pisang yang memisahkan dua petak tanah beda pemilik.

Barata melihat ke sekitar. Tidak terlihat orang lain selain mereka berdua. Lelaki itu mencoba menyentuh tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat. Degub jantungnya bertalu. Apalagi ketika Nimas tersipu menyambut genggaman tangannya. Bujang lapuk itu ingin segera bisa memiliki gadis itu. Gadis yang selalu diimpikannya setiap malam.

Sungai yang membelah Desa Salam dan desa sebelahnya telah tampak. Air mengalir cukup tinggi karena beberapa hari ini turun hujan.

“Duduk di situ, yuk!” Nimas menunjuk sebuah batu cukup besar dan datar. Tangan lembutnya menarik Barata dengan mesra.
Sepasang insan yang sedang kasmaran itu duduk berdampingan, kaki mereka menjuntai ke air. Sejenak mereka terdiam, merasakan arus yang membelai kaki. Barata memandang batu-batu di tengah sungai yang tetap tegak berdiri meski terus-menerus diterpa arus. Ingin sekali dirinya bisa setegar batu-batu itu.

“Nimas ....” Nimas menatap wajah kekasihnya. “Tak malukah dirmu memiliki kekasih seperti aku?”

Nimas tersenyum. Senyuman yang membuat Barata rela melakukan apa saja untuk gadis itu.

“Untuk apa malu?” tanya Nimas lembut.

“Aku hanya seorang buruh.”

“Namun kamu pria lembut, penyayang, dan bertanggung jawab. Wanita manapun mendambakan pendamping seperti itu.”

“Aku takut tak bisa membahagiakanmu.” Wajah Barata tampak murung. Memandang kecipak air yang dimainkan oleh seekor ikan. “Sedari kecil dirimu dimanjakan oleh segala kemudahan. Bersamaku, apa engkau bisa bertahan?”

Nimas memandang wajah kekasihnya dengan lembut kemudian memeluknya. Merebahkan kepala di dada lelaki itu dan mendengar genderang bertalu di dalamnya.

“Aku sangat mencintaimu, apakah itu tidak cukup untuk membuat kita bahagia?”

Barata tidak menjawab. Tangannya yang kasar oleh kerasnya hidup membelai rambut Nimas yang lebut. Indra penciumannya menghirup wangi tubuh gadis itu yang membuatnya semakin dimabuk asmara. Dengan lembut diciumnya pipi putih merona gadis itu dengan lembut. Tubuh Nimas menggeletar oleh sentuhan itu. Namun tiba-tiba, sebuah tangan menampar Barata dengan cukup keras, sehingga pria itu tersentak. Pipinya terasa pedih. Pria itu mendongak. Dilihatnya Pak Jumadi berdiri dengan wajah merah padam.

“Kurang ajar kamu! Berani-beraninya mendekati anakku!” Dengan kasar Pak Jumadi menarik tangan anaknya. “Jangan coba-coba dekati anakku lagi, atau kamu akan terima akibatnya!”

Barata meringis, menahan pedih di pipi dan di hatinya. Lelaki itu tak menjawab, dia hanya memandang sendu kekasihnya yang mulai menangis.

“Kamu ini anak tidak tahu malu! Bukankah bapak sudah bilang, jangan pernah lagi berhubungan dengan lelaki gembel itu! Mau dikasih makan apa kamu sama dia? Rumput? Buat hidupnya saja dia kesusahan. Bagaimana dia bisa membahagiakan kamu?” Jumadi mengomel panjang lebar. Tangis Nimas semakin keras ketika tangan bapaknya menariknya pulang. Gadis itu menoleh ke belakang, melihat pria yang dicintainya dengan pandangan menyesal. Barata mencoba tersenyum padanya, walau bibir terasa kaku. Mata pria itu menyiratkan kesedihan dan amarah yang tak terkatakan.

Dengan gontai Barata melangkah turun ke sungai. Menceburkan dirinya di sana. Menenggelamkan kepala berkali-kali. Berharap dingin air sungai bisa meredam panas dalam hatinya. Pria itu bertekad untuk mendapatkan Nimas walau bagaimanapun caranya.
Senja mulai turun. Barata masih kuyup di tepi sungai. Pikirannya kalut. Tak mungkin dia bisa hidup tanpa Nimas. Gadis itu seperti udara dalam nafasnya.

Dengan nanar, dipandangnya mentari jingga di ufuk barat. Sinarnya berkilat-kilat menerpa wajahnya yang basah. Barata kemudian berdiri, berjalan gontai menuju rumah. Dia belum tahu apa yang akan dilakukannya besok.

***

Mak Maesaroh bangun dari tidurnya ketika terdengar adzan Shubuh berkumandang. Bergegas wanita tua itu kebelakang, menuju tempayan besar yang memiliki lubang pancuran. Dibasuhnya wajah, mengambil air wudlu. Dingin air tempayan membuat kantuknya hilang. Dengan langkah tergesa dia menuju kamar anaknya. Dilihatnya, sang anak masih tidur melingkar berselimutkan sarung.

“Bangun, Nak, sholat Shubuh,” kata Mak Maesaroh lembut.
Anaknya bergeming. Tangan keriputnya mengguncangkan tubuh pria dua puuh ima tahun itu.

Barata menggeliat. “Ada apa, sih, Mak?”

“Shubuh, Nak, sholat dulu.”

“Ah, malas, Mak.”

“Nak, sholat kok malas.”

Barata menarik sarungnya menutupi wajah. “Iya, Mak, sebentar lagi. Emak sholat saja dulu.”

Mak Maesaroh geleng-geleng kepala. Sudah beberapa lama Barata menjadi malas dan jarang sholat. Entah apa sebabnya. Wanita tua itu menjadi resah. Dia berdiri dan segera melangkah ke kamarnya.
Sepeninggal emaknya, Barata duduk. Matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya kembali dirasuki segala hal tentang Nimas. Semalaman dia telah menyusun rencana, akan membawa lari Nimas. Walaupun nyawa taruhannya.

Bergegas Barata melangkah ke luar. ‘Untuk apa sholat? Tuhan tak pernah ada untuknya,’ batin pria itu.

Sejak kecil, kesedihan selalu menjadi teman setianya. Sang Bapak pergi meninggalkan Emak dan dirinya, ketika Barata baru berumur lima tahun. Entah ke mana perginya lelaki tidak bertanggung jawab itu. Dengan segala kemiskinan, Mak Maesaroh membesarkannya. Berbagai penderitaan pernah dialaminya, tapi dia dan Emak berhasil melaluinya dengan tabah. Namun sekarang? Ketegarannya perlahan mulai runtuh. Pikirannya keruh. Menurutnya, Tuhan tak lagi bisa diandalkan. Karena itu, mulai sekarang, pria itu akan berhenti memuja Tuhan. Jika saja iblis bisa meluluskan permohonannya untuk bisa mendapatkan Nimas, dia akan memujanya!

***
Sinar mentari baru saja menyembul dari ufuk timur, tapi Barata telah berjalan di tengah pematang sawah. Dia terus melangkah hingga di pinggir sungai yang airnya deras dan keruh oleh hujan semalam. Lelaki itu mendesah dan terus berjalan menuju sebuah air terjun kecil dekat hulu sungai. Tempat yang sering didatanginya jika perasaannya gundah.

Ketika sampai di dekat air terjun, lelaki itu tertegun sejenak. Dia melihat sosok yang begitu dikenal telah berada di sana dan berdiri menyambut kedatangannya.

“Mas ....” Nimas menghambur dalam pelukannya. “Maafkan bapakku,” katanya.

Dada Barata dipenuhi gemuruh. Lelaki miskin itu memeluk tubuh kekasihnya dengan penuh haru. “Tak apa, aku mengerti keinginan bapakmu. Tapi ....” Kalimat Barata menggantung.

“Tapi apa?”

“Aku tetap ingin menikahimu!”

“Aku juga ingin menikah denganmu, tapi ....” Nimas tak melanjutkan kalimatnya. Ditatapnya wajah sang kekasih.

“Katakan, Nimas. Tapi apa?” Barata menjadi gusar.

“Bapak mau menjodohkanku dengan Agung.”

Barata melepaskan pelukannya. Terduduk di tanah dengan rasa sedih.

“Namun, aku tidak mau.” Lirih Nimas menjawab. Gadis cantik itu duduk di sebelah Barata. “Bagaimana kalau kita kimpoi lari?” Dipandangnya wajah lelaki pujaan hatinya itu dengan mata memohon. Hanya dengan lelaki itulah dia ingin hidup. Lelaki lembut yang membuatnya rela kehilangan segalanya.

“Kamu serius?” Mata Barata berbinar.

“Tentu saja!”

Mereka pun menyusun rencara. Hari ini Nimas akan menjual perhisan yang dimilikinya untuk bekal pelarian. Mereka tak akan menemui satu sama lain sebelum hari pelarian, tiga hari lagi. Agar bapak Nimas merasa mereka telah menuruti perkataannya dan membuat penjagaan pada diri Nimas melonggar.

Barata memandang air sungai yang keruh dan berarus deras. Kemudian berpaling pada gadis di sebelahnya. Sebuah ciuman penuh hasrat mendarat di bibir gadis yang baru mekar itu. Mereka saling tatap. Menahan gemuruh keinginan yang ingin dituntaskan.

“Pu-pulanglah dulu, Nimas,” kata Barata mengusir rasa grogi dalam dirinya. “Pulanglah dulu, agar tak ada yang curiga kita bertemu di sini.”

Nimas mengangguk. Melingkarkan pelukannya ke leher lelaki di sampingnya. Wajahnya menengadah, memandang sosok tampan itu. Barata mencium kekasihnya sekali lagi, sebelum gadis itu melangkah pergi. Lelaki itu tak tahu, apakah besok dia bisa bertemu lagi dengan gadis impiannya.

Nimas bergegas melangkah pulang. Senyum manis tersungging di bibirnya. Gadis itu mungkin telah dibutakan oleh cinta. Tapi menurutnya, cinta memang harus diperjuangkan.

***
Langit tampak gelap. Hujan rintik di malam itu membuat suasanya Desa Salam menjadi sangat sepi. Para penduduk memilih bergulung sarung di dalam rumah, sambil menghadap tungku dan meminum secangkir wedang jahe. Namun, di malam itulah, Nimas dan Barata menentukan pelariannya.

Lelaki dua puluh lima tahun itu mengendap-endap di samping jendela kamar Nimas, dengan pelan diketuknya jendela itu dengan ujung jari. Barata menunggu sejenak. Terdengar langkah pelan dari dalam. Nimas membuka jendela kamarnya. Wajah gadis itu tampak senang namun gelisah. Dengan dibantu Barata dia melompat dari jendela. Meninggalkan kamarnya yang gelap.

“Ayo, cepat,” bisik Barata. Mereka pun berjalan mengendap-endap menuju batas desa. Di sana, Barata telah menyiapkan sepeda kumbang tua miliknya. Dengan sepeda itu dia bisa membawa Nimas lebih cepat. Sepanjang malam Barata terus mengayuh sepedanya di jalanan yang becek dengan penerangan cahaya bulan. Ketika fajar tiba, mereka sampai di batas Desa Wonosukmo. Barata meninggalkan jalanan desa. Mencari tempat bersembunyi yang tak mungkin ditemukan bapak Nimas.
Kayuhan sepeda Barata mengantarkan mereka di pinggir sebuah hutan. Mereka beristirahat di sebuah gubuk satu kali dua meter persegi beratap rumbia. Mungkin itu gubuk tempat istirahat para pencari kayu atau madu di hutan. Tak jauh dari sana, ada mata air kecil yang mengalir dari sela-sela bebatuan.

“Nimas, tidurlah. Kita sudah cukup jauh dari desa kita. Kurasa mereka tidak akan menemukan kita.” Barata mengusap lembut rambut kekasihnya. “Aku akan ke pasar desa, mencari makanan untuk kita.

Nimas mengangguk, dan membiarkan lelaki itu pergi.

Mereka tidak tahu, ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka.

Bersambung
Ditulis oleh @cattleyaonly


Dendam Arwah dari Masa Lalu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 6 lainnya memberi reputasi
Sudah up date part 3 ya Agan Sista. Silakan disubscribe. Bakal di upload sampai tamat. Kagak kentangemoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
fikrionly dan ardian76 memberi reputasi
emoticon-2 Jempol
Terima kasih apdetannya
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Ijin baca sist
Moga ampe tamat ga kentang
emoticon-Toast
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Mantap ganemoticon-Cendol Gan
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
Lihat 2 balasan

DENDAM ARWAH DARI MASA LALU (PART 4)

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Barata mengayuh sepedanya menyusuri jalanan desa Wonosukmo yang masih cukup sepi. Hanya sesekali saja dia berpapasan dengan petani yang hendak ke sawah. Setelah bertanya pada salah satu dari mereka, akhirnya Barata sampai ke sebuah pasar kecil. Pandangannya diedarkan ke sekeliling, kemudian berjalan menyusuri pasar. Di sudut pasar dia menemukan penjual nasi pecel dan jajanan tradisional. Segera lelaki itu membeli makanan sesuai kebutuhannya. Beruntung sekali dirinya, pasar desa sepagi ini sudah ramai penjual.

Dendam Arwah dari Masa Lalu
Barata mempercepat langkahnya menuju sepeda kumbang yang diparkirnya di depan pasar. Dia tak ingin meninggalkan Nimas terlalu lama, takut terjadi apa-apa pada wanita yang dicintainya itu.

Sementara di gubuk kecil itu, Nimas menunggu dengan perasaan cemas. Sebuah bayangan muncul dari kejauhan. Gadis itu segera meloncat turun dan bersiaga. Ketika bayangan itu semakin mendekat, Nimas menghela nafas lega. “Syukurlah, Mas cepat kembali.”

Barata tersenyum, mengecup pipi gadis itu dengan mesra. “Makanlah. Nanti kita jalan-jalan ke desa. Sepertinya desa ini cukup nyaman untuk kita tinggali.”

Nimas mengangguk kemudian membuka bungkusan nasi pecel yang diulurkan Barata. Mereka makan dengan cepat. Ada kebahagiaan yang terbit di antara kegelisahan dan ketakutan.

Selesai sarapan mereka menuju mata air kecil untuk membersihkan badan. Udara pagi yang sejuk dan segar memenuhi paru-paru mereka. Namun, sampai kapan kedamaian ini bisa mereka rasakan?

Barata mendesah pelan. Ada keresahan yang tiba-tiba muncul, meskipun dia meyakini tindakannya ini sudah tepat.

“Ayo kita cari rumah sewa,” ajak Barata seraya menggenggam tangan Nimas dan mengajaknya kembali ke gubuk. Mereka segera mengemasi barang-barang dan bersepeda ke arah desa.

Nimas menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Gadis itu yakin, akan kerasan tinggal di sini. Namun, bagaimana jika orang-orang suruhan bapaknya menemukan mereka? Ada rasa takut yang menekan batinnya. Kenapa cintanya harus penuh pengorbanan seperti ini? Tak bisakah orang tua cukup mengamini keinginan putrinya?

Di dekat jalan masuk kampung, Barata dan Nimas melihat seorang kakek di halaman rumahnya. Pria itu badannya bungkuk sehingga ketika Barata menyapanya dia harus mendongak untuk melihat.

“Anak berdua ini siapa?” tanya Kakek itu sambil mengamati kedua wajah di depannya.

“Kami dari desa yang cukup jauh, Kek. Kami ingin mencari tempat tinggal di sini,” jawab Barata dengan sopan.

“Oh, kalau begitu ayo masuk ke rumah kakek.” Lelaki tua itu berjalan tertatih menuju rumahnya. Barata dan Nimas saling berpandangan, kemudian mengikuti sang Kakek tanpa banyak cakap.

Ruang tamu rumah lelaki tua itu hanya berisi dua bangku panjang. Di mejanya ada sebuah kendi dan dua cangkir dari tanah liat. Sementara di dinding ada hiasan kepala rusa dan kepala celeng—babi hutan--yang telah di awetkan.

Lelaki tua itu menuangkan air putih dari kendi untuk kedua tamunya kemudian berkata, “Minumlah. Kalian terlihat sangat lelah.”

“Terima kasih, Kek. Maaf, kami jadi merepotkan,” kata Nimas.

“Tidak apa-apa, Nak, hanya air putih.” Kakek itu tersenyum. “O, ya, bukankah tadi anak berdua ini butuh tempat tinggal? Jika kalian mau, tinggallah di sini bersama kakek.”

Nimas dan Barata berpandangan.
“Terima kasih, Kek. Berapakah sewanya kalau saya boleh tahu?” tanya Barata.

Lelaki tua itu terkekeh. “Kalian tak perlu bayar. Tinggalah sesuka kalian. Kakek ini tinggal hanya sendiri. Istri dan anak kakek sudah meninggal cukup lama. Terbawa air bah ketika mandi di sungai.” Wajah lelaki tua itu tampak sedih. Kedua tamunya jadi merasa bersalah.

“Maafkan kami, Kek, telah membuat kakek teringat hal yang menyedihkan,” ucap Barata.

“Tak apa. Itu sudah terjadi sangat lama. Kakek sudah mengikhlaskannya. Ayo, Kakek tunjukkan kamar kalian,” kata kakek tua itu seraya melangkah ke ruang dalam rumahnya. Di rumah itu hanya ada dua kamar.

“Ini kamar kalian.”

“Terima kasih, Kek. Tapi ....” Nimas ragu melanjutkan kalimatnya.

“Tapi apa, Nak?” Kakek memandang Nimas dan Barat bergantian dengan pandangan menyelidik.

“Kami belum menikah, Kek. Kami berharap bisa menikah di desa ini.” Barata menghela nafas berat.

Kini Lelaki tua itu mengerti, tamu seperti apa yang telah datang ke rumahnya. “Melarikan diri?” Kakek itu tersenyum. “Itu juga kakek lakukan dulu. Kakek dan Nenek juga kimpoi lari di desa ini, karena orang tua Nenek tidak setuju.” Kedua tamu memandang si empunya rumah tanpa berkedip. “Kalian tak usah kuatir, kakek akan mencarikan ustadz untuk menikahkan kalian.”

Senyum Barata dan Nimas terkembang. “Terima kasih, Kek,” kata mereka hampir berbarengan.

“Ya sudah, Kakek akan pergi ke rumah Ustadz Mansyur, nanti kakek akan bilang, cucu keponakan kakek yang yatim piatu akan menikah. O, ya, siapa nama kalian?”

“Saya Barata dan calon istri saya ini bernama Nimas.”

“Panggil kakek dengan sebutan Ki Respati.” Lelaki tua itu pun melangkah keluar rumah, menuju kediaman Ustadz Mansyur.

***

Malam itu, pernikahan Barata dan Nimas digelar di rumah Ki Respati dengan sangat sederhana. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh beberapa warga desa. Tapi itu tak menjadi soal bagi pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Yang penting mereka sah menjadi suami istri.

Seusai acara pernikahan, Ki Respati berpamitan, akan pergi ke rumah familinya di desa yang cukup jauh.
“Kalian tenang-tenanglah di sini menikmati bulan madu, anggap saja seperti rumah sendiri,” Ki Respati tersenyum.

“Hati-hati di jalan, Ki. Malam begitu gelap, apa tidak sebaiknya besok pagi saja perginya?” Nimas merasa khawatir akan keselamatan kakek renta yang bungkuk itu.

“Tak perlu khawatir, Nak, kakek sudah biasa melakukan perjalanan malam.”
Lelaki tua itu pun melangkah keluar, menembus kegelapan malam, diikuti pandangan sepasang pengantin baru dari belakang. Sampai di tepi hutan, Ki Respati mendongak, menatap bulan separuh. Tiba-tiba lelaki bongkok itu berdiri tegak. Tubuh renta itu berubah menjadi tubuh gagah berotot. Matanya bulat besar seperti sedang melotot tajam, dengan tulang pipi yang tinggi. Di bibir lelaki itu tersungging senyum kebahagiaan. Kini dia yakin telah menemukan seorang yang akan mewarisi ilmunya. Sejak melihat pasangan itu di pinggir hutan. Setelah ilmunya diwariskan, siksaan keabadian dapat dilepasnya. Betapa menyiksanya hidup begitu lama, tanpa orang yang dicintai. Berapa sekarang umurnya? Mungkin sudah lebih dari seratus empat puluh tahun. Tak ada seorang pun yang menghitungnya, termasuk Ki Respati sendiri.

Ki Respati melangkah masuk hutan yang gelap. Berjalan dengan menggunakan mata batinnya. Tak berapa lama, sampailah lelaki itu di depan sebuah gua, tempatnya bertapa.

***

Barata menutup pintu rumah setelah Ki Respati menghilang di kegelapan malam. Kemudian menggendong mempelainya ke kamar. Dibaringkannya sang istri di ranjang kayu jati yang berukir indah. Mulai melucuti pakaian yang melekat di badannya dan menuntaskan gejolak rasa yang sudah sekian lama di tahan. Malam pertama mereka terasa begitu indah.

“Bahagiakah engkau bersamaku, Nimas?” Barata membisikkan tanyanya dengan lembut di telinga sang istri. Napasnya masih terdengar memburu. Dikecupnya bibir indah di dekatnya.

“Tentu saja aku bahagia.”

Jika saja penerangan di kamar itu cukup terang, Barata akan dapat melihat pipi istrinya yang bersemu merah. Wajahnya sedikit kelelahan, namun memancarkan kebahagiaan.

“Tidurlah, Sayang. Sekarang, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita.” Barata membelai wajah istrinya. “Aku sayang kamu, Nimas.”

Nimas memejamkan mata, dalam pelukan Barata. Namun setelah beberapa lama, kantuknya belum juga datang. Ada kegelisahan yang mengusiknya. Dia tidak bisa membayangkan kemarahan bapaknya. Diliriknya sang suami, dia telah tertidur pulas.

***

Pagi ketika Nimas menghilang, Kemarahan Pak Jumadi terasa di ubun-ubun. Dia mengumpat dan menerjang barang-barang di dekatnya. Lelaki itu menyuruh beberapa centeng dan calon suami Nimas, Agung, untuk mencari keberadaan anaknya. Pertama yang dia datangi adalah rumah Barata.
Mak Maesaroh terkejut setengah mati ketika juragan mengatakan Barata telah membawa lari anaknya. Wanita tua itu sungguh tak mengerti, kenapa anaknya menjadi senekat itu.

“Mereka tidak di sini, Ndoro,” kata Mak Maesaroh sambil bersimpuh.
Pak Jumadi menyepak Mak Maesaroh hingga wanita tua itu terjatuh ke samping. “Siksa wanita ini hingga anaknya muncul!” perintahnya pada para centeng. Dengan sigap dua orang centeng mengikat tubuh Mak Maesaroh pada tiang kayu ruang tengah.

***

Agung yang mengetahui Nimas dan Barata tidak ada di rumah itu, segera mencari mereka ke luar desa. Setelah seharian mencari tanpa hasil, malam itu, dia beristirahat di sebuah kedai kopi di Desa Wonosukmo.

Seorang gadis pemilih kedai menghidangkan secangkir kopi pada Agung. “Tidak memesan makanan, Mas? Ada pisang dan jadah goreng.”

“Bawakan aku beberapa!”

Gadis berbadan sintal itu segera mengambilkan Agung apa yang dipesannya.

“Bisa temani aku ngobrol?” tanya Agung.
Gadis itu mengangguk dan duduk di depan Agung.

“Siapa namamu?” tanya Agung.

“Ratna.”

“Sudah punya pacar?”

Ratna tersipu. “Belum.”

“Kamu cantik dan seksi. Pasti banyak lelaki yang naksir kamu.” Agung yang mata keranjang mulai melancarkan rayuan gombalnya.

“Ah, bisa saja.” Ratna tetap berusaha sopan. “O, ya, Mas ini siapa? Ada perlu apa di desa ini?”

“Namaku Agung. Aku hanya sedang jalan-jalan. Barangkali bisa menemukan bunga desa yang sedang mekar.”
Ratna tersipu. Percakapan mereka terhenti ketika ada dua tamu yang masuk.

“Sebentar ya. Aku mau membantu Bapak,” kata Ratna.

Agung mengangguk. Lelaki itu memandang tamu yang datang dan duduk tak jauh dari tempatnya. Dua tamu itu sedang memperbincangkan pernikahan cucu keponakan Ki Respati. Meskipun kemungkinannya kecil, Agung harus memastikan yang baru saja menikah itu bukan Nimas dan Barata.

Ketika Ratna telah selesai melayani pesanan kedua tamu itu, dia kembali duduk di depan Agung.

“Kamu tahu, siapa nama cucu keponakan Ki Respati yang hari ini menikah?” tanya Agung.

“Kalau tidak salah namanya Nimas.”

Agung tersentak. Hatinya seketika dipenuhi kegelisahan dan amarah.

“Kata Bapak, kasihan cucu keponakan Ki Respati itu, dia telah yatim piatu.” Lanjut Ratna.

Entah kenapa Agung yakin, yang dimaksud dengan cucu keponakan Ki Respati itu Nimas, calon istrinya.
Dengan perasaan gelisah dia bertanya kepada Ratna di mana rumah Ki Respati. Gadis anak pemilik kedai itu pun menunjukkan arah ke rumah lelaki tua itu.

Ketika malam mulai larut Agung berjalan mengendap-endap menuju kediaman Ki Respati. Langkahnya berhenti ketika rumah yang dia intai telah cukup dekat.
Pintu rumah itu tertutup rapat. Dengan kesabaran, lelaki itu berdiam diri di tempatnya, bersandar pada sebatang pohon pisang. Kemudian dia duduk di tanah. Pandangannya tak lepas dari rumah Ki Respati.

Fajar pun mulai muncul dari ufuk timur. Hawa dingin yang menusuk tak membuat Agung menghentikan pengintaiannya dan mwncari kehangatan di warung kopi.

Agung tersentak ketika pintu rumah yang diintainya terbuka. Tampak wajah yang sudah sangat dikenalnya, Barata! Ingin rasanya lelaki itu mendatangi sang saongan dan memukuli membabi buta. Namun dia tak ingin merusak rencananya. Agung harus mengedepankan pikirannya jika ingin menang.

Lamat dia mendengar Barata berpamitan kepada Nimas. Lelaki saingannya itu akan pergi ke pasar membeli makanan untuk istrinya.
Setelah dirasa Barata sudah cukup jauh, Agung bangkit dari persembunyiannya. Dengan berhati-hati dia membuka pintu rumah Ki Respati dan masuk diam-diam.
“Mas, kaukah itu?” Terdengar suara Nimas dari dalam.

Agung terus mengendap-endap masuk. Dalam sekejap, lelaki itu telah berada di hadapan Nimas. Wanita itu terkejut.

“Keluar kamu! Atau aku berteriak!” Nimas berdiri, beringsut, berusaha mencari peluang untuk melarikan diri.

“Teriaklah, atau aku akan memberitahu bapakmu.” Agung menyeringai sinis.

“Apa maumu?”

“Mauku? Kamu masih bertanya apa mauku? Mauku sudah jelas, menjadikan kamu istriku. Tapi kesempatanmu untuk menjadi istriku sudah lewat. Aku tak mungkin menerima barang bekas.” Mata Agung menyala penuh amarah. Dia berjalan mendekat. Dengan cepat mencengkeram lengan Nimas dan menarik wanita itu dipelukannya. “Kalau kamu ingin aku tak memberitahukan keberadaan kalian di sini kepada bapakmu, kamu harus melakukan satu permintaanku.”

“Apa?”

“Layani aku!”

“Maksudmu?”

“Ya, kamu tahu maksudku!” Agung segera menarik Nimas di ranjang, menarik dengan kasar hingga kancing-kancingnya lepas, kemudian melampiaskan nafsu bejatnya kepada wanita yang belum lama menikah itu.

Rasa pedih menusuk relung hati Nimas. Kesuciannya telah dinodai. Bunga-bunga kebahagiaan yang belum mekar sempurna itu pun layu dan berguguran.
Nimas menangis tersedu di tepi ranjang berselimut sarung Barata. Sementara Agung merapihkan bajunya dan tersenyum puas. Pada saat itulah suami Nimas masuk ke kamar. Dalam sekejap, dia mengerti apa yang terjadi.

“Bedebah kamu, Gung!” teriak lelaki itu sambil menyerang Agung. Keduanya pun terlibat dalam perkelahian sengit. Agung berlari ke ruang tengah. Matanya menangkap bayangan keris yang terpajang di dinding kemudian dengan sigap tangannya meraih benda itu, menggunakannya untuk menyerang Barata. Perkelahian berlangsung tidak imbang. Barata terdesak, lawannya menggunakan kesempatan itu untuk segera memenangkan perkelahian. Dengan cepat Agung mengarahkan ujung keris ke dada Barata. Namun, sungguh tidak terduga, Nimas menghalangi dengan badannya. Jerit kesakitan terdengar dari bibir Nimas. Tubuh wanita itu pun limbung.

“Nimaaas!!!” teriak Barat sambil menangkap tubuh wanita itu. Tangisnya pecah bercampur amarah. Dia mendongak mencari pembunuh istrinya, namun Agung telah lenyap dalam sekejap.

Barata memeluk erat tubuh istrinya. Membiarkan kecamuk perasaannya menjadi tangis. Sungguh, baru kali ini dia menangis.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cattleyaonly
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di