CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
(CERPEN) Jangan Cintai Dia
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0d5b2ff4d6956362324443/cerpen-jangan-cintai-dia

(CERPEN) Jangan Cintai Dia


“Hei, ada apa denganmu? Aku sudah bilang, kau tidak boleh menyukainya.” Deni Collins terlihat berada di puncak kemarahan, karena Jenna Collins, adiknya, telah beberapa kali menceritakan kalau gadis itu menyukai sahabat Deni. Aaron Taylor.

Ruang tengah sore itu sedikit sesak, karena perdebatan kakak beradik itu. Deni yang memegang remote tivi, sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari acara yang ditontonnya. Mulutnya terus mengoceh untuk menghimbau pada Jenna agar menjauhi sahabat karibnya.

Sedang Jenna yang sejak tadi duduk di samping kakaknya sambil membolak balik majalah mulai gerah dengan sikap cerewet orang yang empat tahun lebih tua darinya itu.

“Kenapa, apa Aaron sudah punya kekasih?” Jenna bertanya dengan wajah kesal. Dahi terlipat dan bibirnya merengut. Kedua daerah dari wajah itu hampir menjadi satu di pusat hidung.

Deni berkeras mendebat adiknya, telunjuk laki-laki itu mengayun-ayun kecil di depan wajah Jenna. “Ya, jadi kau tidak boleh merebut kekasih orang lain. Apa semua laki-laki di bumi sudah punah?!”

“Ya ampun, kenapa kau begitu marah? Aku hanya menceritakan perasaanku. Kalau dia memang sudah punya kekasih, itu bukan masalah. Kau seperti kebakaran jenggot saja. Aneh sekali.” Jenna pergi dengan kesal. Dilemparnya majalah ke atas meja sambil berlalu meninggalkan ruang tengah yang biasa digunakan untuk bersantai dan nonton tv. Deni yang melihat sikap ketersinggungan adiknya, hanya tersenyum miring.

Aaron Taylor adalah sahabat Deni Collins. Sejak kuliah tiga tahun lalu keduanya menjalin persahabatan. Dan Jenna Collins langsung jatuh hati saat pertama kali diperkenalkan kakaknya pada laki-laki itu. Awalnya Jenna cukup bisa menahan perasaan, tapi karena Aaron sering datang ke rumah untuk menemui si kakak, akhirnya gadis itu tidak bisa lagi menutupi rasa berbunga-bunga di hatinya.

Curhat pun diluapkan gadis manis itu pada Deni, berharap si kakak dengan suka rela membantunya untuk lebih dekat pada tambatan hati, tapi bukan malah meluluskan keinginan si adik. Curhat yang terhitung lebih dari sepuluh kali dalam minggu itu berujung pada kemurkaan kakaknya.

Setelah pertengkaran kecil yang sempat terjadi. Keesokan harinya, saat matahari memposisikan diri di atas kepala, Aaron tiba di rumah Deni.

“Halo, apa kabar?” sapa Jenna ketika menemui laki-laki itu di ruang tamu.

“Hai, aku baik.”

“Deni ada di kamarnya, kenapa menunggu di sini?” Gadis itu duduk berseberangan di depan Aaron. Ia sangat bahagia saat bisa berduaan dengan laki-laki itu, karena selama ini Jenna hanya bisa memandangnya di kejauhan.

“Ya, Deni sudah memintaku ke atas, tapi aku ingin menunggunya di sini. Sebentar lagi kami akan pergi ke toko buku.” Aaron menjawab sambil melirik arloji di tangan kiri.

Jenna tersenyum datar. Hatinya serasa keriput mendengar Aaron akan pergi bersama kakaknya. Ia sangat berharap bisa ikut bersama mereka, bahkan berkeinginan hanya jalan berdua dengan Aaron, tapi otak Jenna sudah bisa memprediksikan akhir dari sikap kakaknya yang akan marah dengan membabi buta.

“Ya, Tuhan, Aaron. Aku sudah lama menunggu di atas, tapi kau tidak muncul juga. Aku bingung memilih baju.” Deni muncul dengan memprotes pelan sambil menuruni tangga, ia membuang tatapan kesal pada Jenna.

“Jenna, sedang apa kau di sini? Apa kau lupa dengan perkataanku semalam?” ketusnya hingga membuat Jenna marah. Tanpa menjawab pertanyaan Deni, gadis itu langsung menuju kamar dengan menghempaskan langkah-langkah kaki diiringi lirikan tajam ke arah laki-laki yang enam lima tahun lebih dulu lahir darinya itu.

Sambil berkacak pinggang, Deni memerhatikan sikap Jenna, hingga tubuh adiknya hilang di balik pintu. “Bodoh sekali dia. Apa masih tidak mengerti juga? Padahal aku sudah menjelaskan semuanya. Heran, kapan dia jadi dewasa?! Ayo, Aaron, kita pergi sekarang,” ajaknya lalu melangkah lebih dulu.

“Ada apa dengan Jenna?” tanya Aaron yang kemudian mengikuti Deni keluar rumah.

“Seperti biasa, anak perempuan. Keinginan mereka selalu aneh-aneh, aku jadi bingung.”

“Mungkin dia sedang mengalami masalah?”

“Datang bulan, maksudmu?” lirik Deni dengan wajah bingung.

“Hei, aku tak bilang begitu. Kau, kan tahu aku tak punya saudara perempuan, jadi aku tak mengerti.” Aaron tersenyum lucu sambil angkat bahu.

“Entahlah.” Deni menutup obrolan dengan raut wajah masa bodoh, padahal ia sangat tahu, kenapa adiknya memperlihatkan sikap se-emosional itu.

Malam minggu tiba. Langit Kalimantan terlihat cerah dengan hamparan bintang-bintang yang setia menemani bulan. Untuk kedua kalinya harapan Jenna agar bisa berdua dengan Aaron, terkabul.

Kebetulan, sebelum laki-laki itu datang, kakaknya sudah pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu, karena perjalanan yang menempuh jarak kurang lebih 20 menit, Jenna pun menggunakan waktu itu sebaik-baiknya. Oh, ya ampun lihatlah wajah gadis belia itu. Ia seperti di awang-awang, tersenyum seolah berada di dunia penuh bunga dan tampak jelas hatinya berkunang-kunang terang dengan warna indah.

Tentu saja, Jenna sadar kalau pangeran hatinya sudah punya kekasih, tapi saat itu ia hanya ingin sekedar bicara lebih dekat dengan Aaron dan sayangnya waktu seolah berjalan cepat, tanpa sepengetahuan Jenna, Deni langsung mendapati mereka sedang asyik nonton tv di ruang tengah sambil bercanda.

Deni heran menatap sahabatnya. “Aaron, kenapa kau tidak bilang kalau akan ke rumah?” tanyanya dengan nada kesal sambil melirik Jenna.

“Maaf, tadi buru-buru. Aku ke sini ingin meminjam buku kuliahmu,” jawab Aaron dengan senyum ramah yang ditujukan pada keduanya.

“Ya sudah, langsung ke atas saja,” ajak Deni sambil menarik paksa kerah baju laki-laki itu menuju kamar.

Melihat Aaron pasrah mengikuti langkah kakaknya, Jenna hanya memejam dengan amarah yang tertahan. Semakin lama gadis itu semakin heran dengan sikap Deni yang terlalu melindungi Aaron. 

                                                            

  ***

Kekesalan Jenna berlanjut saat Aaron kembali datang ke rumah keesokan harinya. Ia terlihat kesal sambil membolak balik majalah yang ada di tangan, lembaran-lembaran kertas itu sudah terlihat kumal dan hampir terbelah dua karena diremasnya. Acara nonton tivi sore itu tak bisa ia nikmati, karena ruang tengah sudah lebih dulu diisi Aaron dan Deni untuk bermain Game Playstation.

Sebenarnya tidak masalah kalau Jenna ikut menonton aksi dua laki-laki itu saat sedang repot menekan-nekan tombol stick, tapi lagi-lagi sikap kakaknya membuat rahang Jenna mengeras. Deni selalu mengusirnya dengan alasan mereka ingin bermain dengan tenang, padahal sudah jelas kalau Jenna tidak akan mengganggu. Gadis itu akhirnya mengalah dengan menjauhkan diri ke teras rumah bersama majalah yang sudah lama ia beli.

“Permisi! Apa benar ini rumah, Deni?” Seorang perempuan terlihat setengah berteriak di depan pintu pagar. Jenna yang melihat sosok itu, langsung meninggalkan majalahnya di atas kursi dan mendekat kearah perempuan itu.

“Maaf, ini rumah, Deni?” tanyanya kali kedua dengan nada yang lebih normal.

“Benar, Deni kakakku, ada apa?”

“Umm, apa Aaron ada di dalam? Tadi aku sudah ke rumahnya dan orang tuanya mengatakan kalau dia ada di sini. Aku ingin bertemu dengannya.” Perempuan itu tampak tegang. Tangannya meremas-remas tas yang menggantung di bahu kanannya.

“Maaf, kau siapa?” tanya Jenna.

“Umm, aku … katakan saja kalau, Cindy mencarinya,” jawabnya tersenyum getir, lalu terlihat meraih sebuah botol kecil dari dalam tas dan mengeluarkan beberapa pil di atas telapak tangan, kemudian langsung dilemparkan dengan pelan ke dalam mulut.

Seperti melihat situasi genting, Jenna berbalik dan berjalan cepat menuju ruang tengah setelah dia meminta perempuan itu menunggu di teras.

“Aaron, ada seseorang mencarimu. Dia sedang menunggu di depan,” lapornya.

“Siapa?” Sambil bertanya heran, Aaron berdiri dan meninggalkan stickgame di lantai. Ia berjalan menuju teras diikuti Deni dari belakang. Tiba-tiba saja pertengkaran antara perempuan itu dan Aaron pecah di halaman.

“Kau tidak menjelaskan apa-apa!” Perempuan itu terlihat sangat kecewa. Kalimatnya meninggi, dia tampak tak memedulikan keberadaan Deni dan Jenna yang menatap dengan bingung.

“Tapi sudah jelas kita putus!” Aaron pun terlihat menegaskan sesuatu.

“Tidak semudah itu mengatakannya lewat pesan, kau harus menjelaskannya dulu.”

“Kau harus memberiku waktu.”

“Sudah terlalu lama! Dua minggu aku menunggu, tapi kau tetap tak mau bicara. Sampai aku harus mencarimu ke kampus, ke rumahmu, ke mana pun kau pergi. Aku lelah!” Wajah perempuan itu tampak tak kuat lagi menahan beban hati. Dia menangis.

“Baiklah, nanti kita bicarakan,” ujar Aaron, berusaha menenangkan.

“Tidak, aku mau sekarang!” Perempuan itu memaksa. Tatapannya tajam ke arah Aaron dan dengan tegas mengusap air mata.

“Baiklah, akan kujelaskan, tapi tidak di sini. Kita cari tempat lain,” ucap Aaron untuk menghindari keributan. Perempuan itu pun berlalu pergi tanpa permisi.

Aaron lalu menghadap Deni dan Jenna. “Maaf, sudah membuat kalian terganggu, tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih,” pamitnya seraya berbalik mengambil langkah untuk mengejar perempuannya.

Setelah pintu ditutup, kedua bersaudara itu beriringan menuju ruang tengah. Dengan nada pelan, Jenna mengguman. “Jadi, dia kekasih, Aaron?” tanyanya pada diri sendiri di belakang bahu kakaknya.

Deni yang mendengar ucapan Jenna barusan, langsung berbalik dengan wajah emosi. “Ya itu kekasihnya, tapi perempuan itu terlalu nakal, jadi Aaron memutuskannya, paham?!” Deni membentak seolah ia yang bermasalah.

Setelah kedatangan perempuan itu, Jenna sudah tak tahu lagi bagaimana kabar Aaron, karena laki-laki itu tiba-tiba berhenti datang ke rumah. Ditahannya rasa rindu, karena ia tahu tidak mungkin menggapai sesuatu yang jelas-jelas bukan untuknya. 

***

Masa liburan kuliah tiba. Deni dan Aaron bersiap pergi ke Bandung untuk mengunjungi saudara sepupu Aaron yang sudah lama tidak ditemuinya. Kepergian mereka saat itu sekaligus mengisi liburan untuk menghilangkan kepenatan selama kuliah.

“Ibu, Ayah, aku pergi dulu.” Deni berpamitan sambil mencium tangan kedua orang tuanya.

Sebelum pamitan keluarga selesai, di kejauhan, Aaron datang dengan tas ransel yang melekat di bahu. Perempuan yang kemarin sempat bertengkar dengannya tampak mengikuti dari belakang, wajahnya terlihat sedih. Melihat Aaron sudah siap berangkat, Deni buru-buru menyelesaikan acara ritual pamitan pada adiknya.

Di menit-menit selanjutnya, dua sahabat itu mulai melangkah menuju pintu pesawat. Jenna hanya bisa menatap bahu Aaron yang kian menjauh. Ditariknya napas dalam-dalam, ia sadar harapan agar bisa menjalin hubungan dengan laki-laki itu hanya sekedar angan-angan. Sambil tertunduk, Jenna mengikuti langkah kedua orang tuanya meninggalkan bandara. Ketika berbalik, ia mendapati kekasih Aaron masih berdiri khusyuk di tempatnya. Pandangan perempuan itu seakan tak rela membiarkan Aaron pergi, padahal orang yang diantar telah hilang di balik pintu pesawat.

“Hai, kau orang yang pernah datang ke rumahku saat mencari Aaron, ‘kan?” Jenna bertanya sambil memberi isyarat pada orang tuanya agar jalan lebih dulu.

“Iya.” Sambil menghapus air mata, perempuan itu mengangguk. Kemudian mengulurkan tangan. “Aku, Cindy,” ujarnya.

Jenna lalu menyambut uluran itu sambil menyebutkan nama. Gadis itu mulai membuka perbicaraan. “Maaf, kalau boleh tahu. Bagaimana hubunganmu dengan Aaron?” tanya Jenna. Keduanya lalu berjalan santai menuju tempat parkir.

“Kami putus.”

“Putus, kenapa?” Jenna bertanya dengan semangat, tapi Cindy diam.

“Pasti ada perempuan lain, iya, ‘kan?” tanyanya lagi, memberi spekulasi.

“Tidak, bukan karena perempuan lain,” jawab Cindy dengan tersenyum sedih.

“Kalau bukan karena itu, tidak mungkin karena laki-laki lain.” Jenna bercanda sambil tertawa kecil. Dia merasa konyol saat mengeluarkan kata-kata itu.

“Justru karena laki-laki lain, aku kalah,” jawab Cindy cepat, lalu menyambung kalimat.

“Awalnya aku tidak percaya, tapi Aaron mengatakan kalau dia sudah terlanjur sayang pada Deni. Mereka saling mencintai, hari ini adalah dua tahun hubungan mereka.”

Mendengar nama kakaknya disebut sebagai kekasih Aaron, Jenna terkejut dengan mulut setengah terbuka. Pantas saja selama ini kakaknya selalu marah dan uring-uringan kalau ia mendekati laki-laki itu. Bukan karena ingin melindungi, tapi karena cemburu.

Di kejauhan, Jenna hanya bisa terpaku melihat pesawat yang ditumpangi keduanya lepas landas di udara. Gadis itu tampak sangat shock.

Di dalam pesawat. Lewat jendela penumpang, Aaron menatap sungai Kalimantan dengan tersenyum senang. Beberapa kali bahunya terangkat perlahan mengambil napas seakan lepas dari kekangan. Deni yang duduk bersampingan dengannya di kursi penumpang terlihat asyik dengan majalah di tangan, tapi seolah tahu apa yang dipikirkan Aaron, Deni menegurnya tanpa memalingkan pandangan dari halaman majalah yang dibacanya.

“Kau senang?” tanyanya saat membalik halaman majalah.

“Ya, tentu saja. Ini adalah kebebasan yang luar biasa bagiku. Bayangkan saja dengan susah payah aku melepaskan diri dari Cindy. Aku kira ini tidak akan pernah terjadi,” ucap Aaron sambil sesekali menoleh ke arah sahabat di sampingnya.

     
Kali ini gantian Deni yang menarik napas, tapi tak tampak seperti ingin melepas kelegaan. “Sayang sekali kau harus berbohong padanya tentang hubungan kita. Kau mengatakan kita pasangan … gay.” Deni mengecilkan suara saat menyebut kata terakhir, tatapannya menyapu seluruh ruangan pesawat dengan waspada dan khawatir, ia tidak ingin ada seorang pun di pesawat itu yang mendengar hal sensitif yang baru saja dikatakannya.

“Dan itu membuatku merasa aneh,” sambungnya lagi sambil menghela napas dengan beberapa kali gelengan kepala.

“Itu karena aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar perempuan itu bisa melepaskanku. Kau tahu sendiri, kan kalau dia terlalu terobsesi padaku. Lihat saja obat anti depresi yang selalu dia bawa ke mana-mana. Tampak seperti pemandangan yang menyeramkan.”

“Ya dan kau tahu, adikku, Jenna ternyata menyukaimu.”

“Benarkah?” tanya Aaron, antusias. Sebenarnya sejak dulu laki-laki itu juga menyukai Jenna, hanya saja ia belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan perasaannya.

“Ya. Dan aku memarahinya,” ucap Deni santai sambil menutup majalah dan menyandarkan kepala di bahu kursi.

“Kenapa kau lakukan itu?”

Dengan tersenyum lucu Deni menjawab. “Aku hanya ingin menjahilinya.”

 

 

SELESAI


profile-picture
profile-picture
profile-picture
jnobasa dan 2 lainnya memberi reputasi
tapi cintai lah sajadah hhahaha
Lihat 1 balasan
Wawwww keren yaaa gann hehee kerem
Lihat 1 balasan
plot twist nya anjay emoticon-Betty (S)
Lihat 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di